L O K A K A RYA R P J M N I I I – 2 0 1 5 - 2 0 1 9
B A P P E N A S , 1 1 S E P T E M B E R 2 0 1 3
PERAN PERKERETAAPIAN
D...
2
PERAN PERKERETAAPIAN
► MENDUKUNG SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL - TERINTEGRASI
DALAM MOBILITAS, LOGISTIK DAN KONEKTIVITAS
...
3
PERAN PERKERETAAPIAN
► KONSTRIBUSI SEKTOR TRANSPORTASI DAN JASA PENDUKUNG
(GUDANG DAN JASA KURIR) HANYA SEKITAR 3,3% DAR...
4
MODA KERETA API
MEMILIKI
KEUNGGULAN
KOMPARATIF SEBAGAI
ANGKUTAN MASAL
YANG HEMAT ENERGI
DAN RAMAH
LINGKUNGAN
0 100 200
1...
5
KEUNGGULAN KOMPARATIF
► BIAYA DAMPAK SOSIAL ANTAR MODA PER 1000 PENUMPANG-KM
6
6.30%
8.80%
10.20%
12.50%
0%
2%
4%
6%
8%
10%
12%
14%
>55% 40%-55% 25%-40% <25%
SOLUSI TRANSPORTASI
DARAT
PERTUMBUHAN
EKO...
7
DAYA SAING GLOBAL
► DAYA SAING GLOBAL : WORLD ECONOMIC FORUM 2013-2014
RANKING INDONESIA MENINGKAT MENJADI NO. 38
SUMBER...
8
VISI 2025 – MP3EI
► MENDUKUNG SEKTOR TRANSPORTASI – PENGUATAN DAYA
SAING, PERTUMBUHAN EKONOMI BERKELANJUTAN DAN
PEMBANGU...
9
PERTUMBUHAN PDB MENUJU VISI 2025
$3000.0 $5300.0
$9000.0
$14900.0
$22500.0 $30400.0
$38600.0
$46900.0
2010 2015 2020 202...
10
RIPNAS – MP3EI - RPJMN
RENCANA INDUK
PERKERETAAPIAN
NASIONAL
2030
RENCANA
PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR
MP3EI
RENCANA JANGK...
11
RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030)
VISI :
“Perkeretaapian yang berdaya
saing, berintegrasi, berteknologi, bersi...
12
RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030)
TARGET RIPNAS 2030 :
1. Share angkutan penumpang 11 – 13 % dan angkutan
bara...
13
RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030)
TARGET SHARE ANGKUTAN PNP
NASIONAL TAHUN 2030: 11%-13%
(929.500.000 ORG/THN)...
14
► PADA TH. 2025 INDONESIA
MEMILIKI PENDUDUK 273.6
JUTA ORANG.
► PENDUDUK KOTA IN JAWA
MENCAPAI 82.2% SEKITAR
120 JUTA.
...
15
INDONESIA 2030 – McKINSEY GLOBAL INSTITUTE
Source : MGI 2012
16
KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN
PERTUMBUHAN PEMBANGUNAN KERETA API PERKOTAAN
Sumber : Frost Sullivan
17
2
Semarang
1 KE Sumatera
2 KE Jawa
3 KE Kalimantan
4 KE Sulawesi
Pusat ekonomiPusat ekonomi mega Usulan lokasi KEK Usul...
18
KORIDOR EKONOMI JAWA : INFRASTRUKTUR KERETA API Rp. 222.2 TRILYUN
KOTA JAKARTA BANDUNG SEMARANG JOGYA SURABAYA MALANG
L...
19
RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014)
RENCANA STRATEGIS (RPJMN) PERKERETAAPIAN S/D 2014
TARGET JUMLAH ANGKUTAN PENUMPANG
20
RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014)
RENCANA STRATEGIS (RPJM) PERKERETAAPIAN S/D 2014
TARGET JUMLAH ANGKUTAN BARANG
21
RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014)
PERKEMBANGAN APBN SEKTOR PERKERETAAPIAN
Biaya 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL %
KEBUT...
22
MATA RANTAI NILAI TAMBAH DALAM
PENYELENGGARAAN PERKERETA APIAN
OPERASI
MANUFAK
TUR
PENGA
DAAN
RANCANG
BANGUN &
REKAYASA...
23
TEKNOLOGI SARANA PERKERETAAPIAN
23
ANGKUTAN
PENUMPANG
JARAK JAUH
ANGKUTAN
PENUMPANG
JARAK JAUH
ANGKUTAN
KOMUTER/
REGION...
24
VOLUMEPPAX/YEAR
QUALITY OF SERVICE : FASTER, BETTER, SAFE
JAKARTA-SURABAYA
HIGH SPEED TRAIN 350
KM/H, 6 - 10 SET TRAIN/...
25
KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN
KEBUTUHAN ANGKUTAN KERETA API PERKOTAAN
30km
Medan
Jabodetabek
Bandung Surabaya
Sumber:...
26
KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN
KEBUTUHAN ANGKUTAN KERETA API PERKOTAAN
PROGRAM JABODETABEK :
1.Pembangunan Double
Doub...
27
MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK
PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
28
MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK
PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
MEGAPROYEK M...
29
MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK
PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
JALUR LINGKA...
30
MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK
PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
JALUR KA BAN...
31
SOLUSI TRANSPORTASI JABODETABEK
PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
KA RINGAN
PERKOT...
32
LAMPUNG
RAILBUS
UU No. 23
TAHUN 2007
&
REVITALISASI
PERKERETAAPIAN
KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN
KEBUTUHAN ANGKUTAN E...
33
LINGKUP SARANA PERKERETAAPIAN
ANGKUTAN
BARANG
CURAH PADAT
ANGKUTAN
BARANG
CURAH CAIR
ANGKUTAN
BARANG
INTERMODA
ANGKUTAN...
34
JARINGAN LOGISTIK NASIONAL
PERKERETAAPIAN
PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL KHUSUS UNTUK KORIDOR
EKONOMI JAWA SEBAG...
35
JARINGAN LOGISTIK NASIONAL
PERKERETAAPIAN
PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL DIBUTUHKAN PERAN KERETA API
36
BANDUNG
Jawa Barat
JAKARTA
SERANG
SURABAYA
SEMARANG
DKI
Banten
Jawa Tengah
Jawa Timur
YOGYAKARTA
DIY
Merak
Bogor
Sukabu...
37
PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER
CONTOH: PENGEMBANGAN KA INTERMODA KONTENER DI JAWA – JALUR AKSES TANJUNG PRIUK
38
PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER
PERLU PENGEMBANGAN KA INTERMODA KONTENER DI JAWA – MANAJEMEN LOGISTIK
39
PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER
CONTOH PENGEMBANGAN KA INTERMODA DIPERKUAT DENGAN MANAJEMEN LOGISTIK
40
JARINGAN KA KALIMANTAN, SULAWESI, PAPUA
PENGEMBANGAN JARINGAN KA BARU UNTUK PRIORITAS BARANG DI LUAR PULAU JAWA
DIHARAP...
41
PENGEMBANGAN ANGKUTAN KA BATUBARA
PENGEMBANGAN KA BATUBARA KALIMANTAN TIMUR INISIATIF SWASTA
COAL RAILWAY DEVELOPMENT (...
42
PENGEMBANGAN ANGKUTAN BATU BARA
PENGEMBANGAN KA BATUBARA KALIMANTAN TENGAH INISIATIF PEMPROV
PHASE 1 : COAL RAILWAYS
TR...
43
PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP
PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA
• SKEMA PPI
KURANG
MENARIK
INVESTOR
• PER...
44
PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP
PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KA BATUBARA – ASPEK LEGAL DEREGULASI
45
PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP
PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA
46
PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP
PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA
47
BANDA ACEH
LAMPUNG
BESITANG
MEDAN
RANTAUPRAPAT
DURI
PEKANBARU
MUARO
JAMBI
PALEMBANG
484 km
1.353 km
196 km
400 km
KEBUT...
48
KONEKTIVITAS REGIONAL
ASEAN
49
ANGKUTAN BARANG ANGKUTAN PENUMPANG ANGKUTAN PERKOTAAN
LOKOMOTIF
GERBONG
BARANG
LOKOMOTIF
KERETA
PENUMPANG
KERETA REL
LI...
50
PENGEMBANGAN INDUSTRI KERETA API
BALLAST TRACK
TIDAK ADA INTEGRASI INDUSTRI PRASARANA – TERTINGGAL TEKNOLOGI
BALLASTLES...
51
PENGEMBANGAN INDUSTRI KERETA API
TIDAK ADA INTEGRASI INDUSTRI PRASARANA – TERTINGGAL TEKNOLOGI
INDUSTRI PERSINYALAN – P...
52
KERETA
EKONOMI
KERETA
ARGO
KERETA
EKSPOR
1982-2007
1995-2003
2002-2007
ANGKUTAN PENUMPANG
JARAK JAUH
ANGKUTAN
KOMUTER J...
53
HST EMU
TECHNODEVELOPMENT
ROADMAP PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KA
YEAR
2021-20252011-20202006-2010
EMU
DEMU
DMU
MRT EMU
MONOR...
54
PENGEMBANGAN LOKOMOTIF DIESEL ELEKTRIK
Backshop
INKA :
Platform, ca
b, tanks
Others
BARATA :
Bogie frame
casting
Assemb...
55
PENGEMBANGAN PIRAMIDA INDUSTRI
CONTOH: PENGEMBANGAN KA BATUBARA CURAH
DESAIN
ENGINEERING
LOGISTIC
FABRI-
CATION
FINISHI...
56
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN EPC - MONOREL
Infrastructure
Guideway
Pillar
Track Switch
Monorail
Operation
system
Station
M Fa...
57
PERMASALAHAN DUKUNGAN INDUSTRI KOMPONEN
KAJIAN DAYA SAING PRODUK NASIONAL TERHADAP PRODUK CINA
IMPOR DARI PABRIK CINA
►...
58
► UNTUK MENCAPAI INDONESIA SEBAGAI NEGARA MAJU MELALUI INDUSTRI,
DIPERLUKAN LANGKAH PENINGKATAN DAYA SAING MELALUI PEMB...
59
• Maska didirikan pada 11 maret 1993 atas prakarsa pribadi para wartawan
anggota PWI JAYA unit perhubungan dengan humas...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

PERAN PERKERETAAPIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN

1,921

Published on

PERAN PERKERETAAPIAN
DALAM PEMBANGUNAN
EKONOMI BERKELANJUTAN

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,921
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
189
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "PERAN PERKERETAAPIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN"

  1. 1. L O K A K A RYA R P J M N I I I – 2 0 1 5 - 2 0 1 9 B A P P E N A S , 1 1 S E P T E M B E R 2 0 1 3 PERAN PERKERETAAPIAN D A L A M P E M B A N G U N A N E K O N O M I B E R K E L A N J U T A N B A H A N M A S U K A N
  2. 2. 2 PERAN PERKERETAAPIAN ► MENDUKUNG SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL - TERINTEGRASI DALAM MOBILITAS, LOGISTIK DAN KONEKTIVITAS SISTEM LOGISTIK TRANSPORTASI BARANG KERETA API SEBAGAI MODA TRANSPORTASI UMUM YANG MAMPU MENGANGKUT DALAM JUMLAH BESAR (MASSAL), EFISIEN, MURAH, TERATUR, TERJADWAL, ANDAL, AMAN DAN BERDAMPAK LINGKUNGAN RENDAH MOBILITAS PENUMPANG KONEKTIVITAS NASIONAL-REGIONAL (TRANSPORT, IT, ENERGI) PENGUATAN DAYA SAING DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN
  3. 3. 3 PERAN PERKERETAAPIAN ► KONSTRIBUSI SEKTOR TRANSPORTASI DAN JASA PENDUKUNG (GUDANG DAN JASA KURIR) HANYA SEKITAR 3,3% DARI PDB NASIONAL (TAHUN 2011 SEKTOR TRANSPORTASI HANYA Rp. 254 TRILYUN DARI TOTAL PDB Rp. 7427 TRILYUN) ► SEDANGKAN KONSTRIBUSI PERKERETAAPIAN HANYA KURANG DARI 1% (Rp. 2,3 TRILYUN) DARI TOTAL PDB DARI SEKTOR TRANSPORTASI DAN JASA PENUNJANG KONTRIBUSI PERKERETAAPIAN SANGAT KECIL, TETAPI STRATEGIS
  4. 4. 4 MODA KERETA API MEMILIKI KEUNGGULAN KOMPARATIF SEBAGAI ANGKUTAN MASAL YANG HEMAT ENERGI DAN RAMAH LINGKUNGAN 0 100 200 18.2 38.8 91.2 172.2 0% 50% 100% 003% 92% 92% 001% railway railway car car bus bus plane plane Energy efficiency (pass-km/kg oil eq.) Greenhouse gases emissions KEUNGGULAN KOMPARATIF HEMAT ENERGI DAN RAMAH LINGKUNGAN SESUAI DENGAN TUJUAN PERTUMBUNAN EKONOMI BERKELANJUAN
  5. 5. 5 KEUNGGULAN KOMPARATIF ► BIAYA DAMPAK SOSIAL ANTAR MODA PER 1000 PENUMPANG-KM
  6. 6. 6 6.30% 8.80% 10.20% 12.50% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% >55% 40%-55% 25%-40% <25% SOLUSI TRANSPORTASI DARAT PERTUMBUHAN EKONOMI MENINGKATKAN MOBILITAS DAN TARAF HIDUP - JUMLAH KENDARAAN PRIBADI MENINGKAT - MOTORISASI PEMBOROSAN ENERGI/BBM PENINGKATAN POLUSI KEMACETAN MENATA ULANG SISTEM ANGKUTAN PERKOTAAN AGAR SUSTAINABLE BIAYA EKSTERNAL (%GDP) ► PERKERETAAPIAN UNTUK SOLUSI PERMASALAHAN KEMACETAN INDUSTRI KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT & RODA DUA INVESTASI TRANSPORTASI MASSAL PERKOTAAN (KA YANG HEMAT ENERGI)
  7. 7. 7 DAYA SAING GLOBAL ► DAYA SAING GLOBAL : WORLD ECONOMIC FORUM 2013-2014 RANKING INDONESIA MENINGKAT MENJADI NO. 38 SUMBER : WEF 2013 ASEAN 5 2008- 09 2009- 10 2010- 11 2011- 12 2012- 13 2013- 14 INFRA STRUKTUR KERETA API SINGAPURA 5 3 3 3 2 2 5 10 MALAYSIA 21 24 26 21 25 24 25 18 THAILAND 34 36 38 39 38 37 61 72 INDONESIA 55 54 44 46 50 38 85 19 FILIPINA 71 87 85 75 65 59 98 89
  8. 8. 8 VISI 2025 – MP3EI ► MENDUKUNG SEKTOR TRANSPORTASI – PENGUATAN DAYA SAING, PERTUMBUHAN EKONOMI BERKELANJUTAN DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR VISI 2025 INDONESIA MENJADI NEGARA MAJU PENGUATAN DAYA SAING GLOBAL BERDASARKAN WEF : INDONESIA BERADA PADA MASA TRANSISI MENUJU EKONOMI YANG DIGERAKKAN MELALUI EFISIENSI. KELEMAHAN DAYA SAING YANG HARUS DIBANGUN ADALAH INFRASTRUKTUR DAN KESIA PAN TEKNOLOGI FACTOR DRIVEN ECONOMY EFFICIENCY DRIVEN ECONOMY INNOVATION DRIVEN ECONOMY PERTUMBUHAN EKONOMI BERKELANJUTAN UNTUK MENCAPAI VISI NEGERA INDUSTRI MAJU DIPERLUKAN PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI YANG INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN PEMBANGUNAN INFRASTUKTUR – MP3EI STRATEGI UTAMA MP3EI : PENGEMBANGAN 6 KORIDOR EKONOMI, PENGUATAN KONEKTIVITAS, PENGUATAN SDM DAN IPTEK NASIONAL
  9. 9. 9 PERTUMBUHAN PDB MENUJU VISI 2025 $3000.0 $5300.0 $9000.0 $14900.0 $22500.0 $30400.0 $38600.0 $46900.0 2010 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 PDB Nominal (US$ Miliar) 711 4,257 9,706 16,578 Populasi (Juta Jiwa) 237 PERSIAPAN AKSELERASI BERKELANJUTAN 6,7932,4161,335 12,989 286 319 353302269253 336 PDB Nominal per capita PERTUMBUHAN EKONOMI BERKELANJUTAN UNTUK MENCAPAI VISI NEGERA INDUSTRI MAJU DIPERLUKAN PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI YANG INKLUSIF DAN BERKELANJUTAN PENGUATAN DAYA SAING GLOBAL BERDASARKAN WEF : INDONESIA BERADA PADA MASA TRANSISI MENUJU EKONOMI YANG DIGERAKKAN MELALUI EFISIENSI. KELEMAHAN DAYA SAING YANG HARUS DIBANGUN ADALAH INFRASTRUKTUR DAN KESIA PAN TEKNOLOGI INDONESIA MENJADI NEGARA MAJU 2025 MELALUI SEKTOR INDUSTRI Sumber : KEN
  10. 10. 10 RIPNAS – MP3EI - RPJMN RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN NASIONAL 2030 RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MP3EI RENCANA JANGKA MENENGAH RPJMN 2015-2019 VISI, MISI ARAH KEBIJAKAN TARGET CAPAIAN 2030 INISIATIF STRATEGIS INFRASTRUK TUR TARGET PROGRAM 2025 PROGRAM INISIATIF TARGET PROGRAM 2019 UU NO. 17/2007 MEWUJUDKAN MASYARAKAT INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL, DA N MAKMUR Tahun 2025 PDB: ~ USD 4,0 – 4,5 triliun Pendapatan/kapita USD 14.250 – 15.500 Tahun 2015 Pendapatan/kapita USD 4.500 - 5.300 SDM BERKUALITAS PRASARANA SARANA TEKONOLOGI & INDUSTRI REGULASI REFORMASI
  11. 11. 11 RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030) VISI : “Perkeretaapian yang berdaya saing, berintegrasi, berteknologi, bersinergi dengan industri, terjangkau dan mampu menjawab tantangan perkembangan”. ARAH PENGEMBANGAN : 1. Pelayanan prasarana dan sarana perkeretaapian yang handal (prima), mengutamakan keamanan dan keselamatan (security and safety first), terintegrasi dengan moda lain, terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat serta tersebar di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. 2. Teknologi perkeretaapian yang modern, ramah lingkungan, daya angkut besar dan berkecepatan tinggi. 3. Penyelenggaraan perkeretaapian nasional yang mandiri dan berdaya saing, menerapkan prinsip-prinsip “good governance” serta didukung oleh SDM yang unggul, industri yang tangguh, iklim investasi yang kondusif, pendanaan yang kuat dengan melibatkan peran swasta.
  12. 12. 12 RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030) TARGET RIPNAS 2030 : 1. Share angkutan penumpang 11 – 13 % dan angkutan barang 15 – 17 % 2. Jaringan KA 10.000 km, double track dan elektrifikasi pada lintas utama 3. Jaringan perkeretaapian “Trans Sumatera” 4. Sebagai tulang punggung transportasi perkotaan 5. Pengoperasian “Argo Cahaya” (Kereta Api Cepat) di Pulau Jawa 6. Perkeretaapian sebagai tulang punggung angkutan barang di Kalimantan, Sulawesi dan Papua 7. Pelayanan yang terintegrasi, aman, nyaman, handal dan terjangkau
  13. 13. 13 RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN (RIPNAS 2030) TARGET SHARE ANGKUTAN PNP NASIONAL TAHUN 2030: 11%-13% (929.500.000 ORG/THN) UNTUK ANGKUTAN PNP DIBUTUHKAN: LOKOMOTIF : 2.840 UNIT KA ANTAR KOTA : 28.335 UNIT KA PERKOTAAN : 6.020 UNIT TARGET SHARE ANGKUTAN BARANG NASIONAL TAHUN 2030: 15%-17% (995.500.000 TON/THN) UNTUK ANGKUTAN BARANG DIBUTUHKAN: LOKOMOTIF : 1.985 UNIT GERBONG : 39.645 UNIT TARGET 2030 TARGET : ANGKUTAN DAN KEBUTUHAN SARANA RIPNAS – 2030 DIPERLUKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERKERETAAPIAN, PENGEMBANGAN TEKONOLOGI DAN INDUSTRI PERKERETAAPIAN
  14. 14. 14 ► PADA TH. 2025 INDONESIA MEMILIKI PENDUDUK 273.6 JUTA ORANG. ► PENDUDUK KOTA IN JAWA MENCAPAI 82.2% SEKITAR 120 JUTA. ► PADA GDP PER KAPITA US$ 13,000-16,000 MOBILITAS MENINGKAT TAJAM. PROYEKSI ANGKUTAN PENUMPANG PROYEKSI ANGKUTAN PENUMPANG (ORANG/TAHUN) 2006 2010 2015 2020 2025 Jawa 127.519.723 155.158.347 184.299.294 214.417.082 244.673.991 Sumatera 2.566.924 4.366.143 6.401.799 8.653.562 11.103.851 Kalimantan - - 479.468 781.226 1.120.520 Sulawesi - - 2.483.369 3.902.371 5.406.375 TOTAL 130.086.647 159.524.490 193.663.930 227.754.241 262.304.737 0 20 40 60 80 JAWA BALI KAL. SUM. SUL. MAL. PAP. % PENDUDUK PERKOTAAN SOURCES : RAILWAYS MASTER PLAN 2009 (DRAFT)
  15. 15. 15 INDONESIA 2030 – McKINSEY GLOBAL INSTITUTE Source : MGI 2012
  16. 16. 16 KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN PERTUMBUHAN PEMBANGUNAN KERETA API PERKOTAAN Sumber : Frost Sullivan
  17. 17. 17 2 Semarang 1 KE Sumatera 2 KE Jawa 3 KE Kalimantan 4 KE Sulawesi Pusat ekonomiPusat ekonomi mega Usulan lokasi KEK Usulan lokasi KEK yang merupakan FTZ Mataram Denpasar Medan Kendari Gorontalo Manokwari Jayapura 1 3 4 Manado IMT-GT BIMP-EAGA Merauke Kupang Sofifi Sorong Ambon Pontianak Samarinda Palu Banda Aceh Pekanbaru Padang Jogjakarta Palembang Bengkulu Serang Tj. Pinang Jambi Palangkaraya Pkl. Pinang Banjarmasin Lampung Jakarta Surabaya 6 Wamena 6 KE Papua – Maluku Mamuju Makassar 5 5 KE Bali – Nusa Tenggara KOMITMEN DALAM MP3EI – PERKERETAAPIAN ► RENCANA NILAI INVESTASI KERETA API Rp. 305.2 TRILYUN INVESTASI INFRASTRUKTUR PERKERETAAPIAN SUMATERA : Rp. 43.2 TRILYUN JAWA : Rp. 222.2 TRILYUN KALIMANTAN : Rp. 39.8 TRILYUN
  18. 18. 18 KORIDOR EKONOMI JAWA : INFRASTRUKTUR KERETA API Rp. 222.2 TRILYUN KOTA JAKARTA BANDUNG SEMARANG JOGYA SURABAYA MALANG LUAS (KM2) 5789.11 164.91 365.30 32.25 1221.55 110.03 PANJANG (KM) 890 150 230 70 410 130 ANGKUTAN KA PERKOTAAN PADA TAHUN 2025 TOTAL ROUTE LENGTH IN 2030 : 6.800 KM ANGKUTAN KA KECEPATAN TINGGI PADA TAHUN 2025 : 685 KM KOMITMEN DALAM MP3EI – PERKERETAAPIAN
  19. 19. 19 RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014) RENCANA STRATEGIS (RPJMN) PERKERETAAPIAN S/D 2014 TARGET JUMLAH ANGKUTAN PENUMPANG
  20. 20. 20 RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014) RENCANA STRATEGIS (RPJM) PERKERETAAPIAN S/D 2014 TARGET JUMLAH ANGKUTAN BARANG
  21. 21. 21 RENSTRA PERKERETAAPIAN (2011-2014) PERKEMBANGAN APBN SEKTOR PERKERETAAPIAN Biaya 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL % KEBUTUHAN 3.738.000 9.588.000 12.860.00 0 24.203.00 0 31.670.000 82.059.000 45,28 DIPA 3.916.862 4.954.023 8.818.214 9.372.028 10.097.915 37.159.042 0 5 10 15 20 25 30 35 2010 2011 2012 2013 2014 Juta KEBUTUHAN DIPA
  22. 22. 22 MATA RANTAI NILAI TAMBAH DALAM PENYELENGGARAAN PERKERETA APIAN OPERASI MANUFAK TUR PENGA DAAN RANCANG BANGUN & REKAYASA PERAWA TAN JASA ANGKUTAN ANGKUTAN BARANG ANGKUTAN PENUMPANG ANGKUTAN PERKOTAAN LOKOMOTIF GERBONG BARANG LOKOMOTIF KERETA PENUMPANG KERETA REL LISTRIK/DIESEL MONOREL/ LRV/AGV ANGKUTAN INTERMODAL ANGKUTAN BULK ANGKUTAN ANTAR KOTA JARAK JAUH ANGKUTAN ANTAR KOTA JARAK DEKAT KA SUPER CEPAT MAGLEV/ HST KOMUTER & KAPASITAS TINGGI KAPASITAS SEDANG LINGKUP PERKERETAAPIAN INDUSTRI MANUFAKTUR OPERATOR & PENYEDIA JASA
  23. 23. 23 TEKNOLOGI SARANA PERKERETAAPIAN 23 ANGKUTAN PENUMPANG JARAK JAUH ANGKUTAN PENUMPANG JARAK JAUH ANGKUTAN KOMUTER/ REGIONAL ANGKUTAN PERKOTAAN EKONOMI EKSEKUTIF EKONOMI EKONOMI 1 2 3 4 ANGKUTAN PENUMPANG DENGAN MENUJU SUSTAINABLE TRANSPORT ANGKUTAN JARAK JAUH UNGGULAN ANGKUTAN KOMUTER /REGIONAL & KOTA •EKONOMI •EKSEKUTIF/ARGO • EKONOMI
  24. 24. 24 VOLUMEPPAX/YEAR QUALITY OF SERVICE : FASTER, BETTER, SAFE JAKARTA-SURABAYA HIGH SPEED TRAIN 350 KM/H, 6 - 10 SET TRAIN/HOUR SUSTAINABLE INTERCITY TRANSPORT ROADMAP PENGEMBANGAN KA DI JAWA SUSTAINABLE URBAN TRANSPORT JAKARTA MRT & COMMUTER SURABAYA LRT & COMMUTER 80 KM/H, HEADWAY 5-15 MIN REGIONAL TRAIN 100 KM/H 244,6 JUTA PENUMPANG DI JAWA 2025 SPEED (KM/H)
  25. 25. 25 KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN KEBUTUHAN ANGKUTAN KERETA API PERKOTAAN 30km Medan Jabodetabek Bandung Surabaya Sumber: Kemenhub, 2012
  26. 26. 26 KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN KEBUTUHAN ANGKUTAN KERETA API PERKOTAAN PROGRAM JABODETABEK : 1.Pembangunan Double Double Track & Elektrifikasi Manggarai – Cikarang 2.Pembangunan Jalur Ganda antara Serpong – Maja – Rangkasbitung 3.Pembangunan Jalur Ganda antara Duri - Tangerang 4.Pembangunan KA Bandara Soekarno Hatta (Commuter Line & Express Line) 5.Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) North – South & East - West 6.Pembangunan Jalur KA Lingkar Luar Jabodetabek 7.Pembangunan Monorail Jabodetabek .
  27. 27. 27 MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG
  28. 28. 28 MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG MEGAPROYEK MRT - JAKARTA 1. Pembangunan MRT North – South Line antara Lebak Bulus – Jakarta Kota (Tahap 1 antara Lebak Bulus – Bundaran HI, Tahap 2 antara Bundaran HI – Jakarta Kota); 2. Pembangunan MRT West – East Line antara Bekasi – Tangerang.
  29. 29. 29 MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG JALUR LINGKAR LAYANG - JAKARTA
  30. 30. 30 MASTERPLAN TRANSPORTASI JABODETABEK PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG JALUR KA BANDARA – JAKARTA SOEKARNO HATTA
  31. 31. 31 SOLUSI TRANSPORTASI JABODETABEK PERLU INTEGRASI TRANSPORTASI DENGAN KERETA API SEBAGAI TULANG PUNGGUNG KA RINGAN PERKOTAAN MONOREL E-MAC BUS TRAM/LRV RAILBUS INOBUS GEA KA KOMUTER KRL-I BUSWAY INVESTASI TERJANGKAU BAGIPEMDA INVESTASI MAHAL BAGIPEMDA KRD- I/KRDE KAPASITAS PENUMPANG SARANA DAN PRASARANA PERLU DUKUNGAN PEMERINTAH PRASARANA PERLU DUKUNGAN PEMERINTAH TEKNOLOGI SARANA SUDAH DIKEMBANGKAN INKA BISNIS EPC & TEKNOLOGI AKAN DIKEMBANGKAN INKA TINGGIRENDAH
  32. 32. 32 LAMPUNG RAILBUS UU No. 23 TAHUN 2007 & REVITALISASI PERKERETAAPIAN KEBUTUHAN JARINGAN KA PERKOTAAN KEBUTUHAN ANGKUTAN EKONOMI KOMUTER & REGIONAL
  33. 33. 33 LINGKUP SARANA PERKERETAAPIAN ANGKUTAN BARANG CURAH PADAT ANGKUTAN BARANG CURAH CAIR ANGKUTAN BARANG INTERMODA ANGKUTAN GENERAL CARGO CEPAT BATUBARA MINYAK SAWIT KONTENER, SEMEN ELEKTRONIK, CONSUMER GOODS 1 2 3 4 PERUBAHAN BISNIS ANGKUTAN BARANG DENGAN SOLUSI TERPADU ANGKUTAN KOMODITAS UNGGULAN ANGKUTAN MULTIMODAL LOGISTIK NASIONAL •MINYAK SAWIT (NO. 1 DUNIA) •BATUBARA (NO. 2 DUNIA)
  34. 34. 34 JARINGAN LOGISTIK NASIONAL PERKERETAAPIAN PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL KHUSUS UNTUK KORIDOR EKONOMI JAWA SEBAGAI ZONA ARUS BARANG TERPADAT DIBUTUHKAN JALUR KERETA API
  35. 35. 35 JARINGAN LOGISTIK NASIONAL PERKERETAAPIAN PENGEMBANGAN SISTEM LOGISTIK NASIONAL DIBUTUHKAN PERAN KERETA API
  36. 36. 36 BANDUNG Jawa Barat JAKARTA SERANG SURABAYA SEMARANG DKI Banten Jawa Tengah Jawa Timur YOGYAKARTA DIY Merak Bogor Sukabumi Cikampek Padalarang Cirebon Banjar Kroya Tegal Purwokerto Pekalongan Solo Madiun Kertosono Blitar Malang Bangil Sidoarjo Bojonegoro Jember Banyuwangi Bojonegoro Gambringan Bojonegoro Gundih Prupuk Kutoarjo BANDUNG Jawa Barat JAKARTA SERANG SURABAYA SEMARANG DKI Banten Jawa Tengah Jawa Timur YOGYAKARTA DIY Merak Bogor Sukabumi Cikampek Padalarang Cirebon Banjar Kroya Tegal Purwokerto Pekalongan Solo Madiun Kertosono Blitar Malang Bangil Sidoarjo Bojonegoro Jember Banyuwangi Bojonegoro Gambringan Bojonegoro Gundih Prupuk Kutoarjo CIREBON SURABAYAKROYA KUTOARJO YOGYA SOLO MADIUN SELESAI•Partial Double Track (Selesai 2016) •Perkiraan Biaya : Rp. 4,3 T •Desain (2010) •Pembebasan Lahan (2011) •Pembangunan (mulai 2012) •Biaya:Rp. 4,5 T 156 km 160 km 97 km76 km 166 km •Desain (2011-2012) •Pembebasan Lahan (2012-2013) •Pembangunan (mulai 2013) •Perkiraan Biaya : Rp. 5,0 T KEBUTUHAN JALUR GANDA PANTURA - JAWA
  37. 37. 37 PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER CONTOH: PENGEMBANGAN KA INTERMODA KONTENER DI JAWA – JALUR AKSES TANJUNG PRIUK
  38. 38. 38 PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER PERLU PENGEMBANGAN KA INTERMODA KONTENER DI JAWA – MANAJEMEN LOGISTIK
  39. 39. 39 PENGEMBANGAN ANGKUTAN KONTENER CONTOH PENGEMBANGAN KA INTERMODA DIPERKUAT DENGAN MANAJEMEN LOGISTIK
  40. 40. 40 JARINGAN KA KALIMANTAN, SULAWESI, PAPUA PENGEMBANGAN JARINGAN KA BARU UNTUK PRIORITAS BARANG DI LUAR PULAU JAWA DIHARAPKAN UNTUK ANGKUTAN BARANG / LOGISTIK EKSPOR. MEMPERGUNAKAN SEPUR STANDAR 1435 MM INISIATIF PEMDA DAN SWASTA
  41. 41. 41 PENGEMBANGAN ANGKUTAN KA BATUBARA PENGEMBANGAN KA BATUBARA KALIMANTAN TIMUR INISIATIF SWASTA COAL RAILWAY DEVELOPMENT (PPP) : a. Special railways by PT. Trans Kutai Kencana; b. Length of track : 150 Km; c. Route: Muara Wahau - Lubuk Tutung (Kutai Timur Province - East Kalimantan Province); d. Project Investment Cost: US$ 5.5 Billion. SELATM AKASSAR L A U T S U L U Tg. Bila Tg. Belimbing Tg. Keluang Tg. Bawang Tg. Datu Tg. Selatan Tg. Puting Tg. Buaya Tg. Mangkok Tg. Kurong Tg. Layar Tg. Mandi Tg. Mangkalihat Tg. Bahe Tg. Labuhanbini Tg. Sisi Tg. Bayur Tg. Pemarung Tl.Sangkulirang S. Kapu as S.Pembuang S.Barit o S.Men da wai S .M ahakam S. Kapu as D. Belida W. Riamkanan BRUNEI DARUSSALAM M A L A Y S I A PONTIANAK PALANGKARAYA BANJARMASIN SAMARINDA P. Kabung P. Telokair P. Maya KEP. KARIMATA P. Karimata P. Rayung P. LAUT P. Sebuku P. Gelam P.Sebatik P. Nunukan P. Mandul P. Bunyu P. Tarakan P. Maratua P. Sipadan P. Ligitan P . K A L I M A N T A N Singkawang Mempawah Ketapang Telukbatan Tanjungsatai Sukadana Telukmelano Sei Ambang Sei Raya Telukpekedai Teranyu Seikakap Terentang Kubu Tanjungpadangtikar Tayan KaranganManjalin Toho Sei Penyu Mondor Pahauman Barit Sei kunyit Sanggau LedoSelakau Semelantan Serimbu Monterado Sungaid Bengkayang Liku Paloh Sekura Sentebang Sejangkung Sambas Seluas Tebas Beduay Kebayan I - 5 I - 6 I - 7 Sampit Kualakapuas Marabahan Rantau Martapura Pelaihari Kandangan Barabai Amuntai Buntok Tanjung Tanahgrogot Kotabaru Muarateweh Tenggarong Balikpapan Sanggau Sintang Putussibau Tarakan Tanjungredeb Tanjungselor Marau Manismata Airhitam Kualajelai Sukamara Balairiam Kotawaringin Kendawangan Pangkalanbun Nangatayap Tanjung Tumbangtiti Sukadana Sandai Airkuning Senduruhan Teranyu Batangtarang Pusatdamai Meliu Nangamahap Ngabang Entikong Beduay Noyan Bonti Kebayan Sosok Senaning Nangameraka Nangaketunggau Sungaiayak Nangakantuk Semitau Nasilat Lanjak Nangabadau Kandawangan Nangaembal Silimbau Seliram Nangabunut Jongkong Nangamentepah Nangadangkan Pemuar Nangamau Nangabidak Serawai Menukung Nangatayan Nangapinuh NangadedaiRawak Nangatanam Kotabaru Kotabaru Tumbangmanjul Nangasokan Pangkut Tapibini Nangabulik Rantaupulut Longloerang Lumbis Malinau Bangalan Tidungpale Atap Longbawan Longkemuat Longlaai Muara Tanjungpolas Bengara Longbia Gunungtabur Telukbayur Longpujungan Datadian Longnawan Kubumesai Lasan Longboh Longpahangai Longkai Ujongbilang Muaramadu Muarawahau Muaralasan Muaraancalong Tabang Longiram Muarabangka Sebuku Muarakaman Kembangjanggut Kotabangun Samboja Palaran Handil Sangsanga Loakolu Anggana Longikis Waru Sesum Muarakoman Kuara Batukajang Muarauya Pasirbelengkong Longkali TanjungaruJengeru Muarakedang Muaraamuntai Tanjungsui Lembeng Melak Muaraperahu PanyinggahanDamai Barongtangkok Tumbanglahung Tumbangkuyi Muaralaung Purukcahu Saripui Kintap JorongTakisung Satui Sungaibali Tanjungsloka Losung Pagatan Stagen Semaras Pasir Tanjungbatu Pudi Pantai Sungaikupang Samalantakan Alabio Birayang Pulangpisau Sungaitatas Palingkau Lupakdalam Bahaurhilir Serapat Berimba Bambulung Hayaping Mengkatip Mantangai Bingkuang Jenamas Ampah Tamianglayang Ketapang Tumpunglaung Pendang Tambakkanilan Timpah Benangin Lampeong Telagapulang Bapinanghulu Samuda Pegatan Kualapembuang Bawan Bukitrawi Petakbohandang Kotabesi Tangkiling Kasongan Tumbangsamba Tumbangtalaken Buntutbali Pendahara Tumbangmiri Tewah Tumbangtujuh Sungaihanyu Pujon Kualakurun Tumbangkam Tumbangsanamang Tumbanghiran Kumai Pembuanghulu Pasararba Sangata Bontang II - 2 Nunukan Nunukan Sendawar L A U T J A W A 1701 PROPINSI KALIMANTAN TIMUR PROPINSI KALIMANTAN SELATAN PROPINSI KALIMANTAN TENGAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT G. Niut PEGKA PUASH ILIR G. Lawit PEG. SCHWANER PEG. MULLER G. Batubrok G. Batuatau G. Kongkemul G. Kalung G. Harun G. Menyapa G. Raya G. Baka G. Berangin G. Batutilan G. Gemaru PEGKAPUASHILIR PEGKAPU ASHULU 1608 1758 G. Saran 1671 2272 1770 1681 1546 1706 1662 1847 1724 2160 2000 To Kuc hing To Sandakan
  42. 42. 42 PENGEMBANGAN ANGKUTAN BATU BARA PENGEMBANGAN KA BATUBARA KALIMANTAN TENGAH INISIATIF PEMPROV PHASE 1 : COAL RAILWAYS TRACK ALIGNEMENT: PURUK CAHU – BANGKUANG TRACK DISTANCE : + 185 KM TRANSPORT CAPACITY: 20.000.000 TON/YEAR OPERATION SYSTEM : 24 HOURS/DAY LOADING SYSTEM AT PURUKCAHU UNLOADING SYSTEM AT BANGKUWANG RIVER PORT, TRANSFER BY BARGES TO LUPAK DALAM SEA PORT 1 1 2 2 3
  43. 43. 43 PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA • SKEMA PPI KURANG MENARIK INVESTOR • PERLU ADA PENYEDERHA NA-AN BIROKRASI • DUKUNGAN LEGAL DAN GARANSI INVESTASI JANGKA PANJANG
  44. 44. 44 PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KA BATUBARA – ASPEK LEGAL DEREGULASI
  45. 45. 45 PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA
  46. 46. 46 PENGEMBANGAN KA SWASTA - PPP PENGEMBANGAN PERKERETAAPIAN KHUSUS – KA BATUBARA
  47. 47. 47 BANDA ACEH LAMPUNG BESITANG MEDAN RANTAUPRAPAT DURI PEKANBARU MUARO JAMBI PALEMBANG 484 km 1.353 km 196 km 400 km KEBUTUHAN JARINGAN KA SUMATERA CONTOH: PENGEMBANGAN KA TRANS SUMATERA TERKAIT DENGAN KONEKTIVITAS ASEAN
  48. 48. 48 KONEKTIVITAS REGIONAL ASEAN
  49. 49. 49 ANGKUTAN BARANG ANGKUTAN PENUMPANG ANGKUTAN PERKOTAAN LOKOMOTIF GERBONG BARANG LOKOMOTIF KERETA PENUMPANG KERETA REL LISTRIK/DIESEL MONOREL/ LRV/AGV ANGKUTAN INTERMODAL ANGKUTAN BULK ANGKUTAN ANTAR KOTA JARAK JAUH ANGKUTAN ANTAR KOTA REGIONAL KA SUPER CEPAT MAGLEV/ HST KOMUTER & KAPASITAS TINGGI MRT LRT LINGKUP INDUSTRI PERKERETAAPIAN ANGKUTAN ANTAR KOTA JARAK JAUH BIGGER HEAVIER SIMPLE LIGHTER FASTER COMPLEXSARANA PERKERETA APIAN PRASARANA PERKERETA APIAN RAIL & FASTENING TRACK STRUCTURE TRAIN CONTROL SIGNAL TELECOM POWER SUBSTATION BRIDGE TUNNEL HANDLING TERMINAL STATION E-TICKET CIVIL ARCHITECT ELECTRONIC IT PT. INKA PT. LEN INDUSTRIPT. PINDAD WIKA, ADHI. MODERN
  50. 50. 50 PENGEMBANGAN INDUSTRI KERETA API BALLAST TRACK TIDAK ADA INTEGRASI INDUSTRI PRASARANA – TERTINGGAL TEKNOLOGI BALLASTLESS TRACK U – SHAPE PRE CAST
  51. 51. 51 PENGEMBANGAN INDUSTRI KERETA API TIDAK ADA INTEGRASI INDUSTRI PRASARANA – TERTINGGAL TEKNOLOGI INDUSTRI PERSINYALAN – PT. LEN INDUSTRI PERLU WAKTU LAMA MODERNISASI SINYAL MEKANIK MENUJU SINYAL INTERLOCKING MODERN, PEMASANGAN ATP DAN CBTC
  52. 52. 52 KERETA EKONOMI KERETA ARGO KERETA EKSPOR 1982-2007 1995-2003 2002-2007 ANGKUTAN PENUMPANG JARAK JAUH ANGKUTAN KOMUTER JABOTABEK KRL EKONOMI PROTOTIP KRL-I AC 1993-2001 1997-1998 1999-2002 PRODUKSI 40 UNIT KRL-I AC 2008-2011 TAHAP I TAHAP II ANGKUTAN KOMUTER REGIONAL TAHAP III RAILBUS SUMSEL JAWA KRD-I JAWA & ACEH KRDE PRAMEKS JOGYA KRDE PUSH PULL SURABAYA 2005-2007 2007-2009 2008-2010 PENGEMBANGAN INDUSTRI KERETA API
  53. 53. 53 HST EMU TECHNODEVELOPMENT ROADMAP PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KA YEAR 2021-20252011-20202006-2010 EMU DEMU DMU MRT EMU MONORAIL LRT COMMUTER & REGIONAL TRAIN URBAN TRANSPORT SYSTEM NEW TRANSPORT HST INNOVATIVE LRT 1 2 3
  54. 54. 54 PENGEMBANGAN LOKOMOTIF DIESEL ELEKTRIK Backshop INKA : Platform, ca b, tanks Others BARATA : Bogie frame casting Assembling oleh GE Lokindo Backshop INKA : Platform, cab, tanks Bogie frame Fabricated & Loco assembly Oleh INKA Assembling Oleh INKA BOMBARDIER TRAXX ASIA INKA as locobuilder Double Cab AC-AC 1996-2001 2006-2011 2012- 2015 GE LOKINDO (1996-2002) *) U20 CC 203 type (DC-DC) : •35 locos KAI (local) •3 locos TEL (private local) •1 loco ICTSI (Manila export) GE + INKA (2006-2009) U20 EMI/EFI CC 204 type(AC-DC) : • 10 locos KAI (2006-9) • 20 locos KAI (2010-11) • 40 locos KAI (2013- 2014) double cab design *) JV CO-PRODUCTION WITH GE, USA
  55. 55. 55 PENGEMBANGAN PIRAMIDA INDUSTRI CONTOH: PENGEMBANGAN KA BATUBARA CURAH DESAIN ENGINEERING LOGISTIC FABRI- CATION FINISHING TEST & COMMIS-- IONING AFTER SALES & MAINTENANCE COMPONENT LOCAL INDUSTRY IMPORT BOGIE CAST BOGIE : BARATA ASSEMBLING: INKA WHEEL, BEARING, SPRING CARBODY STEEL MATERIAL : KS CKD FABRICATION : BBI MAIN FABRICATION & ASSEMBLING: INKA FITTINGS BRAKE SYSTEM : PINDAD, COUPLER : BARATA, SLACK ADJUSTER INKA SEBAGAI INTEGRATOR, SATU2NYA INDUSTRI KA DI ASEAN 1ST TIER COMPONENT VENDOR SATU2NYA DI INDONESIA LOCAL CONTENT 55.05% BOGIE & COUPLER: BARATA SISTEM REM : PINDADSTEEL : KS
  56. 56. 56 PENGEMBANGAN KEMAMPUAN EPC - MONOREL Infrastructure Guideway Pillar Track Switch Monorail Operation system Station M Facility Integration system Bogie Power Line Signal/CBTC SCADA OCC Communicati on Security system Car Body Propulsion Brake Interior ADHI KARYA INKA LEN INDUSTRI
  57. 57. 57 PERMASALAHAN DUKUNGAN INDUSTRI KOMPONEN KAJIAN DAYA SAING PRODUK NASIONAL TERHADAP PRODUK CINA IMPOR DARI PABRIK CINA ► MENGURANGI DEVISA ► SELISIH KURS TIDAK DIEVALUASI (ANTARA JUAL DAN BELI) Rp. 1000,- PER 1 USD – SEKITAR Rp. 140 MILYAR ► BIAYA L/C YANG TIDAK DIEVALUASI ► MENGURANGI JASA ANGKUTAN DALAM NEGERI ► RESIKO KUALITAS PRODUK CINA TIDAK ADA DUKUNGAN PURNA JUAL DAN PERAWATAN PENGGUNAAN PRODUK INKA ► PEMANFAATAN INDUSTRI NASIONAL DENGAN TKDN (TINGKAT KANDUNGAN DALAM NEGERI) 55% (TRIPPLE DOWN EFFECT) ► PENYERAPAN TENAGA SELAMA 3 TAHUN ► DUKUNGAN PURNA JUAL DAN PERAWATAN ► PEMASUKAN PAJAK (PPn DAN PPh)
  58. 58. 58 ► UNTUK MENCAPAI INDONESIA SEBAGAI NEGARA MAJU MELALUI INDUSTRI, DIPERLUKAN LANGKAH PENINGKATAN DAYA SAING MELALUI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENINGKATAN MOBILITAS PERKOTAAN, SISTEM LOGISTIK DAN KONEKTIVITAS MELALUI PROGRAM MP3EI DENGAN AKSELERASI DAN BERKELANJUTAN. ► KERETA API MERUPAKAN SOLUSI MODA TRANSPORTASI YANG TEPAT UNTUK PERKOTAAN. KERETA API DIHARAPKAN DAPAT MENGATASI MASALAH MENINGKATNYA PENDUDUK KOTA DI PULAU JAWA YANG AKAN MENCAPAI 82% PADA TAHUN 2025 ATAU SEKITAR 120 JUTA. ► INDUSTRI PERKERETAAPIAN NASIONAL PERLU DIKEMBANGKAN DENGAN VISI DAN STRATEGI TRANSFORMASI BAIK DALAM PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MAUPUN MENYESUAIKAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI. OLEH KARENA ITU PERLU KEBERPIHAKAN INDUSTRI NASIONAL. ► UNTUK PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SARANA PERKERETAAPIAN DIPERLUKAN KEBUTUHAN DASAR YANG DAPAT DIPENUHI MELALUI PROGRAM PEMERINTAH DENGAN DANA APBN KE KEMENTRIAN PERHUBUNGAN. SELANJUTNYA DAYA SAING DIKEMBANGKAN UNTUK MENANGKAP KERJASAMA PEMERINTAH SWASTA (PPP). DIPERLUKAN REFORMASI BIROKRASI DAN DUKUNGAN GARANSI PEMERINTAH. HARAPAN
  59. 59. 59 • Maska didirikan pada 11 maret 1993 atas prakarsa pribadi para wartawan anggota PWI JAYA unit perhubungan dengan humas perumka. Sejak berdirinya maska terlibat dalam sosialisasi uu no. 13 tahun 1992 tentang perkeretaapian melalui berbagai kegiatan baik seminar nasional, workshop, panel diskusi, sosialisasi dan kajian sampai dengan terwujudnya uu no. 23 tahun 2007 untuk menampung aspirasi daerah dalam turut serta mendorong perkeretaapian yang tumbuh dan berkembang. • Peran MASKA mengacu pada uu no. 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian pasal 172 butir A yakni masyarakat berhak memberi masukan kepada pemerintah, penyelenggara prasarana perkeretaapian, dan penyelenggara sarana perkeretaapian dalam rangka pembinaan, penyelenggaraan, dan pengawasan perkeretaapian. • Visi MASKA adalah terciptanya komunitas insan pecinta kereta api yang kreatif untuk melestarikan dan mendorong perkeretaapian indonesia menjadi angkutan massal yang handal. • Salah satu misi MASKA adalah melalui kemitraan, menciptakan dan mengembangkan komunikasi positif antara regulator, operator dan pengguna jasa. SINGKAT TENTANG MASKA
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×