Your SlideShare is downloading. ×
0
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Paparan sosialisasi inisiatif baru bappenas

1,937

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,937
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
112
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide
  • So why are we tackling this now? As Indonesia emerges as a middle income country, donor funding is going to decrease and form less and less of the national budget. Even now, donor funding makes up a very small part of the APBN, as Indonesia strengthens. What this means is that there is an increasing need for Indonesia to make smart decisions about budget allocations and setting its own development strategy. Government decision makers need to be well-informed about the issues affecting public policy. Growing number of intellectuals – post-Soeharto era. Investment in scholarships: over 7250 have been given to Indonesians in the last 5 years. More public scrutiny of policy choices – advocacy needs to be backed up by strong analysis With decentralisation, a large part of Government decision-making has of course been transferred to the provincial and district level. Money is being spent a decisions made in areas relatively isolated from knowledge institutions, or universities. Provincial governments are needing to make decisions, with an increasing budget, about whether to invest in health care or education, understanding the trade-offs or why food security is linked to seasonal budgeting. These arms of government need well-informed analysis, based on evidence to ensure they make the best decisions.
  • Transcript

    • 1. SOSIALISASI PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS NO. 1 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU Jakarta , 28 Maret 201 1
    • 2. OUTLINE PAPARAN
    • 3. LANDASAN HUKUM <ul><ul><li>UU 25/2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Intervensi Kebijakan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Intervensi Anggaran </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>UU 17/2003 Tentang Keuangan Negara </li></ul></ul><ul><ul><li>PP 39/2006 Tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan </li></ul></ul><ul><ul><li>PP 40/2006 Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional </li></ul></ul><ul><ul><li>PP 20/2004 Tentang Rencana Kerja Pemerintah </li></ul></ul><ul><ul><li>PP 90/2010 (Revisi PP 21/2004) Tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga </li></ul></ul><ul><ul><li>Pasal 7 ayat 6 “Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Inisiatif Baru diatur dengan Peraturan Menteri Perencanaan” </li></ul></ul><ul><ul><li>Permen PPN/Ka. Bappenas No 1 tahun 2011 Tentang Tata Cara Penyusunan Inisiatif Baru </li></ul></ul>
    • 4. Lanjutan…… <ul><li>Reformasi Perencanaan &amp; Pengganggaran pada intinya adalah penerapan : </li></ul><ul><ul><li>Penganggaran Terpadu (Unified Budget) </li></ul></ul><ul><ul><li>Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) </li></ul></ul><ul><ul><li>Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (MTEF) </li></ul></ul>Untuk TA 2012 <ul><li>Dalam reformasi ini telah dilakukan: </li></ul>Untuk TA 2011
    • 5. KONSEP DASAR INISIATIF BARU DEFINISI TUJUAN SYARAT PENGAJUAN INISIATIF BARU LANDASAN KONSEPTUAL
    • 6. INISIATIF BARU DALAM PENERAPAN KPJM <ul><li>Penerapan KPJM pada proses penganggaran menghasilkan: </li></ul><ul><ul><li>Kerangka Fiskal Jangka Menengah (KFJM) </li></ul></ul><ul><ul><li>Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) </li></ul></ul><ul><ul><li>Dana cadangan baseline (termasuk dana cadangan APBN) </li></ul></ul>Ta hun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Dana Cadangan APBN Dana Cadangan (mengaman-kan baseline ) Ketersediaan Anggaran Tahun 4 KFJM Total Anggaran Baseline KPJM
    • 7. LANJUTAN ... Penghematan Baseline Baru Ta hun 0 Tahun 1 <ul><li>PERUBAHAN BASELINE : </li></ul><ul><li>Sumber Pendanaan: </li></ul><ul><li>Penghematan dari pelaksanan Program </li></ul><ul><li>Cadangan ( contingency reserves ) yang tidak terpakai </li></ul><ul><li>Peningkatan pendapatan dan peningkatan pembiayaan </li></ul><ul><li>Pemanfaatan Dana: </li></ul><ul><li>P erubahan makro ekonomi (mis. inflasi) </li></ul><ul><li>Perubahan keluaran yang bukan karena perubahan kebijakan </li></ul><ul><li>Pemanfaatan untuk inisiatif baru </li></ul>Ruang Gerak Fiskal bagi Inisiatif Baru Tambahan anggaran Baseline Awal
    • 8. PRIORITAS NASIONAL RPJMN 2010 – 2014 &amp; INISIATIF BARU 2012 Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat RKP 2010 RKP 2011 PENEKANAN SESUAI TEMA “ PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKEADILAN DIDUKUNG PEMANTAPAN TATA KELOLA DAN SINERGI PUSAT DAERAH” RKP 2012 RKP 2013 RKP 2014 RPJMN 2010-2014 1 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola 2 Pendidikan 3 Kesehatan 4 Penanggulangan Kemiskinan 5 6 Infrastruktur 7 Iklim Investasi dan Iklim Usaha 8 Energi 9 Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana 10 Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, &amp; Pasca-konflik 11 Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi 12 13 14 <ul><li>Sudah jelas dan konkrit sasaran dan K/L Pelaksana : </li></ul><ul><li>Program </li></ul><ul><li>Kegiatan </li></ul><ul><li>Outcome </li></ul><ul><li>Output </li></ul><ul><li>Pendanaan Indikatif </li></ul>Ketahanan Pangan PEMULIHAN PEREKONOMIAN NASIONAL DAN PE MELIHARAAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DITENTUKAN DALAM PROSES PENYUS UNAN RKP 2012 DITENTUKAN DALAM PROSES PENYUS UNAN RKP 2013 DITENTUKAN DALAM PROSES PENYUSU NAN RKP 2014 <ul><li>Inpres 1/2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional </li></ul><ul><li>Inpres 3/2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan </li></ul>NEW INITIATIVES 2012
    • 9. KATEGORI INISIATIF BARU <ul><ul><ul><li>PROGRAM/OUTCOME/KEGIATAN/OUTPUT BARU </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Berupa penambahan: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Program Baru / Fokus Prioritas Baru </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Outcome Baru </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Kegiatan Baru </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Output Baru </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Yang membawa konsekuensi dibutuhkannya penambahan anggaran atau perubahan baseline </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>PENAMBAHAN VOLUME TARGET </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Berupa penambahan volume target. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>PERCEPATAN PENCAPAIAN TARGET </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Berupa penambahan target baru yang bersifat percepatan, sehingga membutuhkan penambahan anggaran, tetapi pagu baseline jangka menengah awal tidak boleh berubah. </li></ul></ul></ul>Perubahan/penambahan KOMPONEN tidak termasuk Inisiatif Baru Semua Inisiatif Baru diatas harus sesuai dengan Arah Kebijakan &amp; Prioritas Pembangunan Nasional yang ditetapkan Presiden (di awal tahun berjalan)
    • 10. 1.A PROGRAM BARU/FOKUS PRIORITAS BARU <ul><li>Penambahan PROGRAM BARU/FOKUS PRIORITAS BARU, yang disebabkan oleh: </li></ul><ul><li>P erubahan struktur </li></ul><ul><li>organisasi </li></ul><ul><li>P enugasan terkait dengan </li></ul><ul><li>kebijakan baru </li></ul><ul><li>P erubahan k ebijakan yang bersifat memperkuat pencapaian kebijakan berjalan </li></ul>OUTPUT OUTCOME KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM LAMA PROGRAM BARU/FOKUS PRIORITAS BARU KEGIATAN KOMPONEN
    • 11. 1.B OUTCOME BARU OUTPUT LAMA OUTCOME OUTPUT BARU <ul><li>Penambahan OUTCOME BARU, yang disebabkan oleh: </li></ul><ul><li>P erubahan struktur </li></ul><ul><li>organisasi </li></ul><ul><li>P erubahan TUPOKSI </li></ul><ul><li>organisasi </li></ul><ul><li>P enugasan terkait dengan </li></ul><ul><li>kebijakan baru </li></ul><ul><li>P erubahan k ebijakan yang bersifat memperkuat pencapaian kebijakan berjalan </li></ul>KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM LAMA PROGRAM LAMA KOMPONEN Outcome Baru pada tingkat Fokus Prioritas (Lintas K/L) yang merupakan akuntabilitas Kabinet dapat diusulkan oleh K/L, dengan memberikan gambaran yang jelas terhadap peranan dan target capaian dari masing-masing K/L terkait. KEGIATAN BARU KEGIATAN LAMA
    • 12. 1.C KEGIATAN BARU OUTPUT BARU OUTCOME LAMA KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM LAMA PROGRAM LAMA KEGIATAN LAMA KEGIATAN BARU KOMPONEN <ul><li>Penambahan KEGIATAN BARU, yang disebabkan oleh: </li></ul><ul><li>P erubahan struktur </li></ul><ul><li>organisasi </li></ul><ul><li>P enugasan terkait dengan </li></ul><ul><li>kebijakan baru untuk pencapaian suatu outcome </li></ul><ul><li>P erubahan k ebijakan yang bersifat memperkuat pencapaian outcome berjalan </li></ul>
    • 13. 1.D OUTPUT BARU OUTPUT BARU OUTCOME LAMA KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM LAMA PROGRAM LAMA KEGIATAN LAMA KOMPONEN OUTPUT LAMA KOMPONEN <ul><li>Penambahan OUTPUT BARU, yang disebabkan oleh: </li></ul><ul><li>P erubahan TUPOKSI </li></ul><ul><li>organisasi </li></ul><ul><li>P enugasan terkait dengan </li></ul><ul><li>kebijakan baru </li></ul><ul><li>P erubahan k ebijakan yang bersifat memperkuat pencapaian kinerja kegiatan berjalan </li></ul>
    • 14. 2. PENAMBAHAN VOLUME TARGET Contoh: Penambahan volume target Output = panjang jalan yang akan dibangun (km) KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT (PENAMBAHAN VOLUME TARGET) KEGIATAN TARGET 2011 2012 2013 (PM 1) 2014 (PM 2) 2015 (PM 3) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Target Awal </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2011) </li></ul>50 km (Rp 50) 100 km (Rp 100) 150 km (Rp 150) 200 km (Rp 200) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Penambahan </li></ul><ul><li>Target </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2012) </li></ul>50 km (Rp 50) 120 km (Rp 120) 170 km (Rp 170) 220 km (Rp 220) 250 km (Rp 250)
    • 15. 3. PERCEPATAN PENCAPAIAN TARGET Contoh: Output = panjang jalan yang akan dibangun (km) <ul><li>Percepatan target tidak boleh merubah total target (450 Km) dan alokasi (Rp 450 M) baseline jangka menengah awal </li></ul>KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT (PERCEPATAN PENCAPAIAN TARGET) KEGIATAN TARGET 2011 2012 2013 (PM 1) 2014 (PM 2) 2015 (PM 3) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Target Awal </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2011) </li></ul>50 km (Rp 50) 100 km (Rp 100) 150 km (Rp 150) 200 km (Rp 200) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Percepatan </li></ul><ul><li>Target </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2012) </li></ul>150 (Rp 150) 125 (Rp 125) 175 (Rp 175) 250 (Rp 250) BASELINE JANGKA MENENGAH AWAL BASELINE JANGKA MENENGAH BARU
    • 16. KATEGORI BUKAN INISIATIF BARU <ul><ul><li>Penyesuaian anggaran terhadap parameter ekonomi </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Inflasi, kurs </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Penyesuaian anggaran terhadap parameter non-ekonomi </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Perubahan SBU &amp; SBK selama tidak merubah total pagu K/L dan tetap menjaga output dan outcome yang sudah ditetapkan </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Perubahan target tanpa me ng ubah anggaran yang telah ditetapkan (diluar prioritas nasional , prioritas bidang dan prioritas K/L) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Perubahan target program dan kegiatan non-prioritas </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Penambahan target yang disebabkan tidak tercapainya target tahun sebelumnya, sehingga target tahun ini ditambahkan, tapi total pagu anggaran unit kerja tidak berubah </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Luncuran (carried over) target yang tidak tercapai pada tahun sebelumnya </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Jenis-jenis perubahan kebijakan/anggaran Lainnya </li></ul></ul>
    • 17. PENYESUAIAN: PARAMETER EKONOMI PROGRAM A, KEGIATAN B OUTPUT ANGGARAN Anggaran 2011 PM 1 2012 PM 2 2013 PM 3 2014 OUTPUT 1 1. Komponen A 2. Komponen B (Baseline 2011, Inflasi 10%) 200 100 300 220 110 330 242 121 363 256 133 389 OUTPUT ANGGARAN Realisasi 2011 Anggaran 2012 PM 1 2013 PM 2 2014 PM 3 2015 OUTPUT 1 1. Komponen A 2. Komponen B (Baseline 2012, Inflasi 15%) 200 100 300 230 115 345 265 132 397 304 152 456 350 175 525 KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT
    • 18. PENYESUAIAN: PARAMETER NON-EKONOMI SBU untuk Komponen A &amp; B = 50 SBU untuk Komponen A &amp; B = 75 OUTPUT ANGGARAN Anggaran 2011 PM 1 2012 PM 2 2013 PM 3 2014 OUTPUT 1 1. Komponen A 2. Komponen B (Baseline 2011) 200 100 300 250 100 350 300 150 450 350 200 550 OUTPUT ANGGARAN Realisasi 2011 Anggaran 2012 PM 1 2013 PM 2 2014 PM 3 2015 OUTPUT 1 1. Komponen A 2. Komponen B (Baseline 2012) 200 100 300 375 150 525 450 225 675 525 300 825 600 150 750 KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT
    • 19. PERUBAHAN TARGET TANPA MENGUBAH ANGGARAN (Diluar Prioritas Nasional, Bidang &amp; K/L) Contoh: Penurunan Target Output = Pengelolaan &amp; Pembinaan Pegawai (orang) KEGIATAN (diluar prioritas nasional) TARGET 2011 2012 2013 (PM) 2014 (PM) 2015 (PM) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Target Awal </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2011) </li></ul>5.000 (Rp 50) 8.000 (Rp 100) 9.000 (Rp 150) 10.000 (Rp 200) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Penurunan </li></ul><ul><li>Target </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2012) </li></ul>6.000 (Rp 100) 9.000 (Rp 150) 10.000 (Rp 200) 11.000 (Rp 250) KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT: PENURUNAN VOLUME TARGET
    • 20. PENAMBAHAN TARGET TANPA MERUBAH ANGGARAN (Luncuran target tahun sebelumnya) Contoh: Output = panjang jalan yang akan dibangun (km) KEGIATAN TARGET 2011 2012 2013 (PM) 2014 (PM) 2015 (PM) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Target Awal </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2011) </li></ul>50 km (Rp 50) 100 km (Rp 100) 150 km (Rp 150) 200 km (Rp 200) <ul><li>Kegiatan A </li></ul><ul><li>Penambahan </li></ul><ul><li>Target </li></ul><ul><li>Anggaran </li></ul><ul><li>(Baseline 2012) </li></ul>40 km (Rp 40) 110 km (Rp 100) 150 (Rp 150) 200 (Rp 200) 250 (Rp 250) KEMENTERIAN/ LEMBAGA PROGRAM KEGIATAN KOMPONEN OUTPUT: PENAMBAHAN VOLUME TARGET
    • 21. SUMBER PENDANAAN INISIATIF BARU <ul><li>Sumber pendanaan Inisiatif Baru yang diusulkan oleh K/L dapat berasal dari: </li></ul><ul><ul><li>Tambahan Anggaran (On Top) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merupakan tambahan alokasi yang dapat berupa Rupiah murni, Pinjaman atau Hibah. Penambahan anggaran ini akan menyebabkan bertambahnya anggaran baseline. </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Realokasi Anggaran </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>2.1 Realokasi Tahun Direncanakan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Realokasi dengan mengambil anggaran dari program/kegiatan lain pada tahun yang direncanakan, tanpa merubah total anggaran tahun direncanakan. Syaratnya target program/kegiatan yang direalokasi tidak boleh berubah. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>2.2 Realokasi Antar Tahun </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Realokasi dengan mengambil anggaran program yang sama di tahun selanjutnya. Syaratnya target jangka menengah tidak berubah. Pendanaan ini digunakan untuk mendanai usulan Inisiatif Baru jenis Percepatan Pencapaian Target. </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Kombinasi On Top dan Realokasi Anggaran </li></ul></ul>
    • 22. ARAH KEBIJAKAN PADA TINGKAT K/L ARAH KEBIJAKAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ARAH KEBIJAKAN BARU PERUBAHAN KEBIJAKAN EKSISTING KEBIJAKAN EKSISTING INISIATIF BARU PROGRAM BASELINE ARAH KEBIJAKAN BARU PERUBAHAN KEBIJAKAN EKSISTING KEBIJAKAN EKSISTING INISIATIF BARU PROGRAM BASELINE NASIONAL K / L X K / L Y
    • 23. PENGUSULAN INISIATIF BARU <ul><li>Usulan Inisiatif Baru dapat dilakukan pada 3 kesempatan dalam siklus perencanaan/penganggaran, yaitu: </li></ul><ul><ul><li>Sebelum Pagu Indikatif (Pengusulan I) – Januari/Februari </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diusulkan setelah dikeluarkannya SE Menteri PPN </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Sebelum Pagu Anggaran (Pengusulan II) – Mei/Juni </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diusulkan untuk mengakomodasi arahan presiden dan usulan yang muncul dalam musrenbangnas. </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Sebelum Alokasi Anggaran (Pengusulan III) – Agustus/September </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diusulkan untuk mengakomodasi arahan Presiden dan hal-hal yang belum tertampung dalam dua kali pengusulan sebelumnya </li></ul></ul></ul><ul><li>Setiap K/L dapat mengusulkan proposal inisiatif baru lebih dari satu proposal dimana setiap proposal hanya boleh diajukan satu kali dalam 3 kesempatan tersebut. </li></ul><ul><li>Setiap K/L bisa mengusulkan Inisiatif Baru yang terkait dengan Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Penetapan usulan yang akan disetujui sebagai Inisiatif Baru dilakukan melalui sistem kompetisi dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran. </li></ul><ul><li>Mekanisme Inisiatif Baru : Penyesuaian perencanaan untuk tahun direncanakan </li></ul><ul><li>Mekanisme APBN-P : Penyesuaian perencanaan untuk tahun berjalan </li></ul>
    • 24. PROSES PENGUSULAN INISIATIF BARU
    • 25. PERHITUNGAN ANGGARAN PROPOSAL INISIATIF BARU <ul><li>Perhitungan anggaran proposal Inisiatif Baru adalah sebagai berikut: </li></ul><ul><li>Perhitungan Anggaran Tahun Direncanakan. </li></ul><ul><li>Perhitungan anggaran Inisiatif Baru dilakukan sampai ke level komponen yang digunakan untuk mencapai suatu output dari kegiatan. </li></ul><ul><li>Perhitungan Anggaran Prakiraan Maju </li></ul><ul><li>Setelah anggaran Inisiatif Baru dibuat, dilakukan prakiraan maju, bagi Inisiatif Baru yang mempunyai konsekuensi anggaran lebih dari 1 tahun. Perhitungan anggaran prakiraan maju Inisiatif Baru dilakukan sampai tingkat output. Anggaran Inisiatif Baru dan hasil prakiraan majunya akan ditetapkan menjadi baseline (Inisiatif Baru). </li></ul>
    • 26. PENDEKATAN PERHITUNGAN ANGGARAN PROPOSAL INISIATIF BARU
    • 27. PERANAN MASING-MASING INSTITUSI <ul><li>A. Kabinet </li></ul><ul><li>Presiden menetapkan Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional (di awal tahun) yang menjadi dasar pengusulan Inisiatif Baru. </li></ul><ul><li>Kabinet memutuskan usulan Inisiatif Baru yang layak didanai. </li></ul><ul><li>Sidang Kabinet Terbatas setidaknya diikuti oleh Presiden, Wakil Presiden, 3 Menteri Koordinasi, Kementerian Perencanaan/Bappenas dan Kementerian Keuangan. </li></ul><ul><li>B. Kementerian/Lembaga </li></ul><ul><li>KL merupakan pihak pengusul proposal Inisiatif Baru. Semua KL berhak mengusulkan proposal Inisiatif Baru, sepanjang sesuai dengan batasan yang telah diberikan.   </li></ul>
    • 28. LANJUTAN ... <ul><li>C. Kementerian Perencanaan </li></ul><ul><li>Mengkoordinasikan pengusulan Inisiatif Baru </li></ul><ul><li>Mengeluarkan Surat Edaran mengenai arah usulan Inisiatif Baru (diawal tahun) </li></ul><ul><li>Melakukan penilaian atas kelayakan proposal Inisiatif Baru, terutama dari sisi kebijakan (policy) </li></ul><ul><li>Menyusun Daftar Usulan Inisiatif Baru  </li></ul><ul><li>Menjaga konsistensi pencapaian target pembangunan nasional   </li></ul><ul><li>D. Kementerian Keuangan </li></ul><ul><li>Melakukan penilaian atas kelayakan proposal Inisiatif Baru, terutama dari sisi anggaran </li></ul><ul><li>Melakukan penilaian atas kemampuan penyerapan anggaran dan saving yang dilakukan KL. </li></ul><ul><li>Melakukan pengecekan kepatutan sesuai dengan kebijakan anggaran </li></ul>
    • 29. PERAN KEMENTERIAN KEUANGAN &amp; KEMENTERIAN PERENCANAAN DALAM EVALUASI &amp; PEMBUATAN DAFTAR USULAN ISIATIF BARU <ul><li>UTAMANYA </li></ul><ul><li>EVALUASI </li></ul><ul><li>RUMUSAN: </li></ul><ul><li>Tujuan </li></ul><ul><li>Masalah </li></ul><ul><li>Cakupan </li></ul><ul><li>Penerima Manfaat </li></ul><ul><li>Strategi </li></ul><ul><li>Indikator Kinerja </li></ul><ul><li>Target </li></ul><ul><li>UTAMANYA </li></ul><ul><li>EVALUASI ANGGARAN </li></ul><ul><li>Kesesuaian Anggaran </li></ul><ul><li>Kepatutan Anggaran </li></ul><ul><li>Sumber Anggaran </li></ul>
    • 30. KRITERIA PENILAIAN PROPOSAL <ul><ul><li>Terdapat 10 Aspek dan 25 Sub-aspek, sebagai panduan K/L menyusun proposal yang baik </li></ul></ul><ul><ul><li>Jml sub-aspek dalam tiap aspek menunjukkan bobot masing-masing aspek </li></ul></ul>ASPEK JML SUB-ASPEK BOBOT 1. Tujuan 2 8 % 2. Masalah 2 8 % 3. Cakupan 2 8 % 4. Penerima Manfaat 3 12 % 5. Strategi 4 16 % ASPEK JML SUB-ASPEK BOBOT 6. Indikator Kinerja 2 8 % 7. Target 2 8 % 8. Kesesuaian Anggaran 3 12 % 9. Kepatutan Anggaran 3 12 % 10. Sumber Pendanaan 2 8 %
    • 31. TEKNIS EVALUASI PROPOSAL <ul><ul><li>PENGUSULAN I </li></ul></ul><ul><ul><li>A. PENILAIAN PROPOSAL </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>PENILAIAN SUB-ASPEK </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Sub-aspek akan dinilai: Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>KONVERSI </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Setiap nilai sub-aspek tsb akan dikonversi dengan faktor pengali, yaitu: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>“ Sangat Tinggi” x 4 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>“ Tinggi “ x 3 </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Kemudian dijumlahkan, didapat total nilai akhir proposal. </li></ul></ul><ul><ul><li>NILAI AKHIR </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Berdasarkan total nilai, proposal dikategorikan sebagai berikut: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>&gt; 70 : BAIK </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>&gt; 50 - &lt;= 70 : CUKUP </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>&lt;= 50 : KURANG </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>“ Sedang” x 2 </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>“ Rendah “ x 1 </li></ul></ul></ul>
    • 32. Lanjutan . . . <ul><ul><li>B. PERANGKINGAN </li></ul></ul><ul><ul><li>Proposal yang membutuhkan dana tambahan (On Top dan Realokasi Antar Tahun). </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Semua proposal (yang membutuhkan dana tambahan) dengan nilai BAIK dan CUKUP kemudian dirangking berdasarkan nilai akhir. Penentuan jumlah proposal yang akan didanai berdasarkan pagu anggaran yang tersedia (ruang gerak Inisiatif Baru + 20%). </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kategori hasil perangkingan adalah: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>LAYAK = proposal akan didanai, masuk dalam DUIB I </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>DIPERTIMBANGKAN = proposal tidak cukup didanai dari pagu anggaran yang tersedia </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Sedangkan untuk proposal KURANG, otomatis masuk dalam kategori TIDAK LAYAK </li></ul></ul></ul></ul>
    • 33. ILUSTRASI PERANGKINGAN PROPOSAL YANG MEMBUTUHKAN TAMBAHAN ANGGARAN Misal: Pagu anggaran tersedia (ruang gerak Inisiatif Baru) = 1000 M Daftar proposal yang akan diajukan = 1000 + (20%)1000 = 1200 M Kategori proposal LAYAK adalah A-F, yaitu proposal dengan nilai &gt; 70 dan masuk dalam pagu anggaran tersedia + 20%. Proposal ini akan didanai. Kategori proposal DIPERTIMBANGKAN adalah G-M, yaitu proposal dengan nilai &gt; 50 tapi tidak bisa didanai dengan anggaran tersedia. Proposal ini akan diikutkan pada Pengusulan selanjutnya. Kategori proposal TIDAK LAYAK adalah N – O, yaitu proposal dengan nilai &lt; 50.
    • 34. <ul><ul><li>Proposal yang tidak membutuhkan dana tambahan (Realokasi Tahun Direncanakan). </li></ul></ul><ul><ul><li>Semua proposal (Realokasi Tahun Direncanakan) dengan nilai BAIK kemudian dimasukkan dalam DUIB I. </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Sedangkan untuk proposal (Realokasi Tahun Direncanakan) CUKUP dan KURANG, otomatis masuk dalam kategori TIDAK LAYAK </li></ul></ul></ul>
    • 35. ILUSTRASI DAFTAR PROPOSAL YANG TIDAK MEMBUTUHKAN TAMBAHAN ANGGARAN (REALOKASI TAHUN DIRENCANAKAN) Kategori proposal LAYAK adalah A-J, yaitu proposal dengan nilai &gt; 70. Proposal ini disetujui sebagai Inisiatif Baru. Kategori proposal TIDAK LAYAK adalah K - N , yaitu proposal dengan nilai &lt;70. Proposal ini tidak disetujui sebagai Inisiatif Baru.
    • 36. Lanjutan . . . <ul><ul><li>PENGUSULAN II &amp; PENGUSULAN III </li></ul></ul><ul><ul><li>A. PENILAIAN PROPOSAL </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Langkah sama dengan pada PENGUSULAN I </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>B. PERANGKINGAN PROPOSAL </li></ul></ul><ul><ul><li>Proposal yang membutuhkan dana tambahan (On Top dan Realokasi Antar Tahun). </li></ul></ul><ul><ul><li>Langkah sama dengan pada PENGUSULAN I, hanya perangkingan dilakukan terhadap semua proposal dengan nilai BAIK dan CUKUP, ditambah daftar proposal DIPERTIMBANGKAN dari pengusulan sebelumnya </li></ul></ul>
    • 37. ALUR PENETAPAN PROPOSAL
    • 38. DOKUMEN TERKAIT INISIATIF BARU <ul><ul><li>Proposal Inisiatif Baru </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merupakan dokumen usulan yang disusun oleh K/L </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penyusunan Proposal menggunakan aplikasi komputer yang telah disediakan </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Rekapitulasi Penilaian Proposal (Blue Note) </li></ul></ul><ul><ul><li>Ringkasan hasil penilaian untuk setiap usulan yang meliputi hasil penilaian atas kebijakan dan anggaran </li></ul></ul><ul><ul><li>Proses penilaian di dukung oleh sistem E-Planning </li></ul></ul><ul><li>Daftar Usulan Inisiatif Baru </li></ul><ul><ul><li>Daftar seluruh usulan yang telah dievaluasi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Disampaikan ke sidang kabinet terbatas untuk dibahas dan diputuskan pendanaannya </li></ul></ul>
    • 39. PROPOSAL INISIATIF BARU <ul><li>I. Formulir I: Penjelasan Umum </li></ul><ul><li>Berisi: nama proposal, kementerian/Lembaga yang mengusulkan, program terkait dan kegiatan terkait, jenis Inisiatif Baru yang diusulkan, sumber anggaran, dan besaran anggaran yang diusulkan. </li></ul><ul><li>II. Formulir II: Penjelasan Usulan </li></ul><ul><li>Berisi: (i) Tujuan; (ii) Masalah; (iii) Cakupan; (iv) Penerima Manfaat ; (v) Strategi; (vi) Indikator Kinerja; dan (vii) Target </li></ul><ul><li>III. Formulir III: Penjelasan Anggaran </li></ul><ul><li>Berisi: (i) Rencana Anggaran; (ii) Sumber Pendanaan </li></ul>
    • 40. REKAPITULASI PENILAIAN PROPOSAL <ul><li>Merupakan hasil penilaian per-masing-masing proposal, yang berisi: </li></ul><ul><ul><ul><li>Hasil evaluasi bagian kebijakan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hasil evaluasi bagian anggaran </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hasil akhir keputusan: BAIK/CUKUP/KURANG </li></ul></ul></ul>
    • 41. DAFTAR USULAN INISIATIF BARU <ul><li>Merupakan dokumen berisi rekapitulasi proposal Inisiatif Baru yang masuk kategori LAYAK atau bisa didanai, untuk disampaikan dan dibahas pada Sidang Kabinet dan Pembahasan bersama DPR. Dokumen ini berisi: </li></ul><ul><ul><ul><li>Rekapitulasi proposal terdanai </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Nama usulan, tujuan, KL pengusul, anggaran </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hasil evaluasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keputusan hasil sidang kabinet </li></ul></ul></ul>
    • 42. TERIMA KASIH
    • 43. LAMPIRAN
    • 44. &nbsp;
    • 45. &nbsp;
    • 46. &nbsp;
    • 47. &nbsp;
    • 48. &nbsp;
    • 49. &nbsp;
    • 50. &nbsp;
    • 51. &nbsp;
    • 52. &nbsp;
    • 53. &nbsp;
    • 54. FORMULIR PENILAIAN USULAN INISIATIF BARU No Aspek Penilaian Sub-Aspek Penilaian Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah 1 TUJUAN 1 Tujuan jelas dan rasional Tujuan usulan dirumuskan dengan sangat jelas dan rasional, dan menunjukkan keterkaitan erat dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Tujuan usulan dirumuskan cukup jelas dan bisa dimengerti, dan menunjukkan keterkaitan cukup erat dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Perumusan tujuan usulan kurang jelas dan tetapi bisa dimengerti, dan kurang menunjukkan keterkaitan dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Perumusan tujuan usulan sangat tidak jelas dan atau tidak rasional, dan tidak menunjukkan keterkaitan dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. 2 Hasil yang ingin dicapai jelas dan terkait Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional Hasil yang ingin dicapai telah dicantumkan dengan sangat jelas, dan menunjukkan keterkaitan erat dengan Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Hasil yang ingin dicapai telah dicantumkan dengan cukup jelas, dan menunjukkan keterkaitan cukup erat dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Hasil yang ingin dicapai tidak dicantumkan, atau dicantumkan tetapi kurang jelas, dan tidak menunjukkan keterkaitan dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional. Tidak ada rumusan hasil yang ingin dicapai, atau dicantumkan tetapi tidak jelas, dan tidak menunjukkan keterkaitan erat dengan Arah kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional.
    • 55. Lanjutan . . . No Aspek Penilaian Sub-Aspek Penilaian Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah 2 MASALAH 3 Definisi masalah jelas Masalah yang akan dipecahkan oleh inisiatif baru telah didefinisikan dengan sangat baik dan dapat dipahami, disertai dengan data-data yang lengkap akurat. Masalah yang akan dipecahkan oleh inisiatif baru telah didefinisikan dengan cukup baik, disertai dengan data-data yang cukup lengkap dan akurat. Masalah yang akan dipecahkan oleh inisiatif baru kurang terdefinisikan, dan kurang disertai dengan data-data yang akurat. Masalah yang akan dipecahkan oleh inisiatif baru tidak didefinisikan dengan jelas, dan tidak disertai dengan data-data yang akurat. 4 Tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada Proposal telah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana masalah yang menjadi latar belakang inisiatif baru belum di intervensi oleh program yang ada, dan tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada, sehingga perlu diajukan inisiatif baru Proposal memberi penjelasan cukup mengenai bagaimana masalah yang menjadi latar belakang inisiatif baru belum di intervensi oleh program yang ada, dan tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada, sehingga perlu diajukan inisiatif baru Proposal tidak cukup menjelaskan bagaimana masalah yang menjadi latar belakang inisiatif baru belum di intervensi oleh program yang ada, dan tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada, sehingga mengundang pertanyaan apakah perlu diajukan inisiatif baru Tidak ada penjelasan bagaimana masalah yang menjadi latar belakang inisiatif baru sudah atau belum di intervensi oleh program yang ada, atau ternyata penjelasan menunjukkan masalah tersebut bisa diintervensi oleh program yang ada, sehingga tidak perlu mengajukan inisiatif baru.
    • 56. Lanjutan . . . No Aspek Penilaian Sub-Aspek Penilaian Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah 3 CAKUPAN 5 Cakupan usulan nasional atau daerah tertentu Proposal menyebutkan dengan sangat jelas mengenai penerapan inisiatif baru yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu. Jika hanya di beberapa daerah tertentu, proposal dengan jelas telah menyebutkan cakupan didaerah mana saja usulan akan diimplementasikan. Proposal menyebutkan cukup jelas mengenai penerapan inisiatif baru yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu. Jika hanya di beberapa daerah tertentu, proposal cukup jelas menyebutkan cakupan didaerah mana saja usulan akan diimplementasikan. Proposal kurang jelas menyebutkan apakah penerapan inisiatif baru bersifat nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu. Bila hanya di beberapa daerah, proposal juga kurang jelas menyebutkan didaerah mana saja usulan akan diimplementasikan. Proposal tidak menyebutkan dengan jelas mengenai penerapan inisiatif baru yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu, dan atau proposal tidak menyebutkan didaerah mana saja usulan akan diimplementasikan. 6 Alasan pemilihan cakupan/daerah jelas Proposal menguraikan dengan sangat jelas alasan cakupan yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu tersebut. Jika proposal bertujuan mengakomodir suatu usulan tertentu dalam Musrenbang, proposal telah menjelaskan kaitan proposal dengan usulan (Musrenbang) tersebut. Proposal menguraikan cukup jelas alasan cakupan yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu tersebut. Jika proposal bertujuan mengakomodir suatu usulan tertentu dalam Musrenbang, proposal telah cukup jelas menjelaskan kaitan proposal dengan usulan (Musrenbang) tersebut. Proposal kurang jelas menguraikan alasan cakupan yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu tersebut. Jika proposal bertujuan mengakomodir suatu usulan tertentu dalam Musrenbang, proposal kurang bisa menjelaskan kaitan proposal dengan usulan (Musrenbang) tersebut. Proposal tidak menguraikan alasan cakupan yang sifatnya nasional atau hanya dilaksanakan di beberapa daerah tertentu tersebut. Jika proposal bertujuan mengakomodir suatu usulan tertentu dalam Musrenbang, proposal tidak telah menjelaskan kaitan proposal dengan usulan (Musrenbang) tersebut.

    ×