Universitas Kuningan  Disusun Oleh :  Ilah Nursilah 1d / Prodi Biologi 2010
PSIKOLOGI KONSELING <ul><li>PENGARANG :  </li></ul><ul><li>PROF. DR.H. MOHAMAD SURYA </li></ul><ul><li>JUMLAH HALAMAN : 21...
BAB I KONSEP DASAR KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Beberapa konsep konseling menurut : </li></ul><ul><li>-Morte...
<ul><li>Repleksi </li></ul><ul><li>Tinjauan saya  setelah mengamati hal tersebut diatas bahwa konseling adalah usaha untuk...
BAB II KONSELING SEBAGAI SATU  PENGALAMAN BARU <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>mengenal Konflik-konflik Internal : </li><...
Repleksi <ul><li>*  Tinjauan,  di dalam konseling  harus ada perubahan-perubahan prilaku yang dapat dilakukan sehingga bis...
BAB III KLIEN DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>1 Konsep “Psikologi” atau “Daya Psikologi” -> suatu kekuata...
Repleksi <ul><li>♠   Tinjauan,  bahwa orang yang masuk kedalam konselin pada dasarnya karena mengalami kekurangan, </li></...
BAB V KOGNISI DALAM KONSELIG <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>I.Kualitas Konselor </li></ul><ul><li>* Pengetahuan mengenai...
Repleksi <ul><li>♠   Tinjauan,  bahwa dalam melakukan konseling kita harus mengetahui kualitas konselornya terlebih dahulu...
BAB VI EMOSI DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap perilaku...
Repleksi <ul><li>♠   Tinjauan,  bahwa emosi adalah hal lumrah yang dimiliki oleh setiap orang. </li></ul><ul><li>♠ Ungkapa...
BAB VII MOTIVASI DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Salah satu aspek dalam konseling adalah motivasi yaitu m...
Refleksi <ul><li>Tinjauan, memahami motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para konselor dalam proses konse...
BAB VIII KOMUNIKASI DALAM KONSELING <ul><li>Konseling pada dasranya melibatkan komunikasi antara dua pihak yaitu konselor ...
Refleksi <ul><li>Tinjauan, komunikasi merupakan landasan bagi berlangsungnya suatu konseling. </li></ul><ul><li>Ungkapan t...
BAB IX TEKNIK-TEKNIK DALAM KONSELING <ul><li>Tiga hal yang harus diperhatikan oleh konselor dalam memulai  </li></ul><ul><...
Refleksi <ul><li>Tinjauan , keberhasilan konseling dapat ditentukan oleh ke efektifan konselor dalam berbagai teknik. </li...
BAB X MANAJEMEN RUANG DAN WAKTU UNTUK KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Pada dasarnya waktu adalah ruang hidup ma...
Refleksi <ul><li>Tinjauan , dengan adanya menejemen waktu segala sesuatunya dapat di upayakan, dan setiap individu dalam l...
BAB XI MODEL-MODEL KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Dalam konseling terdapat sejumlah model konseling yang berba...
Refleksi <ul><li>Ungkapan terakhir, bahwa masih perlu dikembangkan lagi satu model yang lebih pragmatis, karena model-mode...
BAB XII “WELNESS” KONSEP KESEHATAN MENTAL DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Nicholas dan Goble (1989) menge...
Refleksi <ul><li>Tinjauan, Dalam konseling juga harus memperhatikan kesehatan mental. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir,...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Power Point

5,828

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,828
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
72
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Power Point

  1. 1. Universitas Kuningan Disusun Oleh : Ilah Nursilah 1d / Prodi Biologi 2010
  2. 2. PSIKOLOGI KONSELING <ul><li>PENGARANG : </li></ul><ul><li>PROF. DR.H. MOHAMAD SURYA </li></ul><ul><li>JUMLAH HALAMAN : 210 halaman </li></ul><ul><li>PENERBIT : </li></ul><ul><li>PUSTAKA BANI QURAISY </li></ul>
  3. 3. BAB I KONSEP DASAR KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Beberapa konsep konseling menurut : </li></ul><ul><li>-Mortensen,1964:301-> suatu proses antar-pribadi, dimana satu orang dibantu oleh orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. </li></ul><ul><li>-Jones,1970:96-> suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien </li></ul><ul><li>-Mortensen,1964:301-> suatu proses antar-pribadi, dimana satu orang dibantu oleh orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. </li></ul><ul><li>-Brammer dan shostrom, 1982:8 ->suatu perencanaan yang lebih rasional, pemecahan masalah, pembuatan keputusan intensionalitas, pencegahan terhadap munculnya masalah, penyesuaian diri dan memberikan dukungan dalam menghadapi tekanan-tekanan situsional dlm kehidupan sehari-hari bagi orang2 normal. </li></ul>
  4. 4. <ul><li>Repleksi </li></ul><ul><li>Tinjauan saya setelah mengamati hal tersebut diatas bahwa konseling adalah usaha untuk membantu seseorang dalam menolong dirinya. </li></ul><ul><li>Penilaian saya terhadap konseling merupakan hubungan yang bersifat umum dan unik. Disini jelas adanya keseimbangan tanggungjawab. </li></ul><ul><li>Konseling berkembang sebagai gerakan yang dinamis Para pelopor dalam sejarah konseling berusaha dengan keras membangunnya dengan suatu kepastian . </li></ul><ul><li>Ungkapan perasaan terakhir “ setiap orang pasti butuh pemahaman dan pengarahan diri “ . </li></ul>
  5. 5. BAB II KONSELING SEBAGAI SATU PENGALAMAN BARU <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>mengenal Konflik-konflik Internal : </li></ul><ul><li>1 Penilaian negatif terhadap diri sendiri </li></ul><ul><li>2 Keharusan psikologis </li></ul><ul><li>3 Konflik kebutuhan </li></ul><ul><li>menghadapi Realitas : </li></ul><ul><li>a Menghindar </li></ul><ul><li>b Keharusan psikologis </li></ul><ul><li>c Menyalahkan </li></ul><ul><li>mengembangkan tilikan : </li></ul><ul><li>Kesan Palsu </li></ul><ul><li>Saringan psikologis </li></ul><ul><li>Kebingungan </li></ul>
  6. 6. Repleksi <ul><li>* Tinjauan, di dalam konseling harus ada perubahan-perubahan prilaku yang dapat dilakukan sehingga bisa membantu memecahkan masalah. </li></ul><ul><li>* Ungkapan, “ Konseling bisa dikatakan sebagai pengalaman baru ” </li></ul>
  7. 7. BAB III KLIEN DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>1 Konsep “Psikologi” atau “Daya Psikologi” -> suatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dalam keseluruhan hidupnya, termasuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. </li></ul><ul><li>2. Pemenuhan Kebutuhan </li></ul><ul><li>a. Memberi dan menerima kasih-sayang </li></ul><ul><li>b. Kebebasan </li></ul><ul><li>c. Memiliki kesenangan </li></ul><ul><li>d. Menerima stimulasi </li></ul><ul><li>e. Perasaan mencapai prestasi </li></ul><ul><li>f. Memiliki kesenangan </li></ul><ul><li>g. Memiliki tujuan hidup secara nyata </li></ul><ul><li>3. Kompetensi Intra-pribadi </li></ul><ul><li>a. Pengetahuan diri </li></ul><ul><li>b. Pengarahan diri </li></ul><ul><li>c. Harga diri </li></ul><ul><li>4. Kompetensi Antar-pribadi </li></ul><ul><li>- Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain </li></ul><ul><li>- Ketegasan diri </li></ul><ul><li>- Menjadi nyaman dengan diri sendiri dan orang lain </li></ul><ul><li>- Harapan yang realistik terhadap diri sendiri dan orang lain </li></ul><ul><li>- Perlindungan diri dalam situasi Antar-pribadi </li></ul>
  8. 8. Repleksi <ul><li>♠ Tinjauan, bahwa orang yang masuk kedalam konselin pada dasarnya karena mengalami kekurangan, </li></ul><ul><li>♠ Penilaian terhadap Psikologi konseling, sangatlah bagus karna didalamnya terdapat suatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan termasuk berbagai masalah yang dihadapinya. </li></ul><ul><li>♠ Ungkapan terakhir, Peranan konseling dalam kehidupan sehari-hari sangatlah berguna </li></ul>
  9. 9. BAB V KOGNISI DALAM KONSELIG <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>I.Kualitas Konselor </li></ul><ul><li>* Pengetahuan mengenai diri sendiri (self knowledge) </li></ul><ul><li>* Kesehatan psikologi yang baik </li></ul><ul><li>* Dapat dipercaya </li></ul><ul><li>* Kejujuran </li></ul><ul><li>* Kekuatan atau daya (Strength) </li></ul><ul><li>* Kehangatan (warmth) </li></ul><ul><li>* Pendengar yang aktif </li></ul><ul><li>* Kesabaran </li></ul><ul><li>* Kepekaan </li></ul><ul><li>* Kebebasan </li></ul><ul><li>* kesadaran holistik atau utuh </li></ul><ul><li>II. hal-hal yang harus diperhatikan oleh konselor pemula </li></ul><ul><li>- Kesehatan psikologis </li></ul><ul><li>- Merugikan klien </li></ul><ul><li>- Tanggungjawab konselor </li></ul><ul><li>- Kepedulian dan Penerimaan </li></ul><ul><li>- kurang pengalaman </li></ul><ul><li>- Kegagalan </li></ul>
  10. 10. Repleksi <ul><li>♠ Tinjauan, bahwa dalam melakukan konseling kita harus mengetahui kualitas konselornya terlebih dahulu. </li></ul><ul><li>♠ Penilaian terhadap konselor, konselor haruslah orang yang benar-benar mengerti dan memiliki dedikasi di bidang konseling. </li></ul><ul><li>♠ Ungkapan terakhir, menurut saya menjadi seorang konselor tidaklah semudah dan segampang membalikkan telapak tangan. </li></ul>
  11. 11. BAB VI EMOSI DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap perilaku individu, yang berupa perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi situasi tertentu. Interaksi antara kognisi, emosi dan tindakan mencerminkan satu sistem hubungan sebab akibat. </li></ul>
  12. 12. Repleksi <ul><li>♠ Tinjauan, bahwa emosi adalah hal lumrah yang dimiliki oleh setiap orang. </li></ul><ul><li>♠ Ungkapan terakhir, bila kita berada dalam situasi yang banyak masalah sebaiknya meminta bantuan kepada konselor. </li></ul>
  13. 13. BAB VII MOTIVASI DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Salah satu aspek dalam konseling adalah motivasi yaitu memberikan dorongan kepada klien agar mampu melaksanakan prilaku dalam upaya memecahkan masalahnya secara efektif dan produktif </li></ul><ul><li>Teori jenjang kebutuhan (A. MAslow) </li></ul><ul><li>Teori motif berprestasi ( Mc. Celland) </li></ul><ul><li>Teori Penguatan (Skinner) </li></ul><ul><li>Prinsip-prinsip motivasi : </li></ul><ul><li>Prinsip kompetensi </li></ul><ul><li>Prinsip pemacu </li></ul><ul><li>Prinsip Ganjaran dan hukukman </li></ul><ul><li>Kejelasan dan kedekatan tujuan </li></ul><ul><li>Pemahaman hasil </li></ul><ul><li>Pengembangan minat </li></ul><ul><li>Lingkungan yang kondusif </li></ul>
  14. 14. Refleksi <ul><li>Tinjauan, memahami motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para konselor dalam proses konseling. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir, menurut saya motivasi merupakan suatu dorongan untuk mewujudkan prilaku yang terarah kepada suatu tujuan tertentu. </li></ul>
  15. 15. BAB VIII KOMUNIKASI DALAM KONSELING <ul><li>Konseling pada dasranya melibatkan komunikasi antara dua pihak yaitu konselor dan klien yang berlangsung dalam situasi konseling. Untuk dapat melaksanakan komunikasi dialogis dengan baik, diperlukan penguasaan materi masalah yang akan dikomunikasikan dalam proses konseling. Disamping itu diperlukan pula penguasaan berbagai keterampilan berkomunikasi secara efektif. </li></ul>
  16. 16. Refleksi <ul><li>Tinjauan, komunikasi merupakan landasan bagi berlangsungnya suatu konseling. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir, komunikasi penting bukan hanya dalam konseling, tetapi dalam kehidupan sehari-haripun komunikasi harus tetap berjalan dngan baik. </li></ul>
  17. 17. BAB IX TEKNIK-TEKNIK DALAM KONSELING <ul><li>Tiga hal yang harus diperhatikan oleh konselor dalam memulai </li></ul><ul><li>proses konseling yaitu : </li></ul><ul><li>(1). Membentuk kesiapan untuk konseling </li></ul><ul><li>(2). Memperoleh informasi riwayat kasus dan </li></ul><ul><li>(3). Evaluasi psikodiagnostik </li></ul><ul><li>untuk melaksanakan tekhnik-tekhnik hubungan dalan proses konseling, diperlukan suatu tekhnik membantu klien untuk mengembangkan tilikan. Tahapan-tahapan interpretasi : </li></ul><ul><li>- Repleksi perasaan </li></ul><ul><li>- Klarifikasi </li></ul><ul><li>Repleksi </li></ul><ul><li>konprontasi </li></ul><ul><li>Interpretasi </li></ul>
  18. 18. Refleksi <ul><li>Tinjauan , keberhasilan konseling dapat ditentukan oleh ke efektifan konselor dalam berbagai teknik. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir, jika kita mengharapkan sesuatu maka dibutuhkan teknik-teknik guna pencapaian segala sesuatunya itu. </li></ul>
  19. 19. BAB X MANAJEMEN RUANG DAN WAKTU UNTUK KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Pada dasarnya waktu adalah ruang hidup manusia dimana didalamnya mereka berprilaku. Waktu meripakan unsur yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam lingkungan kerja. Ruang waktu ini mencakup pengaturan waktu, jadwal kerja dan pengaturan istirahat. Manajemen waktu dalam konselingmerupakan suatu tindakan dalam memanfaatkan dan mengendalikan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mencapai hasil yang seoptimal mugkin. </li></ul>
  20. 20. Refleksi <ul><li>Tinjauan , dengan adanya menejemen waktu segala sesuatunya dapat di upayakan, dan setiap individu dalam lingkungan konseling dapat menunjukan prilaku secara efektif dalam suasana yang menyenangkan sehingga pada giliranya dapat mencapai tujuan konseling. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir, setelah membaca bab ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa kita harus dapat memenejemen waktu sebaik-baiknya. </li></ul>
  21. 21. BAB XI MODEL-MODEL KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Dalam konseling terdapat sejumlah model konseling yang berbasis pada teori dan pendekatan tertentu. </li></ul><ul><li>Contoh model konseling yaitu : </li></ul><ul><li>1). Rancangan klasifikasi Diagnostik </li></ul><ul><li>2). Elektrik sistimatis, dan </li></ul><ul><li>3). Penggunaan silogisme dalam konseling terapi </li></ul><ul><li> rasional emotif </li></ul>
  22. 22. Refleksi <ul><li>Ungkapan terakhir, bahwa masih perlu dikembangkan lagi satu model yang lebih pragmatis, karena model-model yang ada belum sepenuhnya dapat memadukan teori-teori konseling yang berkembang dewasa ini. </li></ul><ul><li>Tinjauan, model-model konseling sangat berguna bagi para petugas propesional dalam komunikasinya tentang klien. </li></ul>
  23. 23. BAB XII “WELNESS” KONSEP KESEHATAN MENTAL DALAM KONSELING <ul><li>Esensi </li></ul><ul><li>Nicholas dan Goble (1989) mengemukakan sistem model “Wellness” yang multidimensional menekankan empat prinsip yaitu : </li></ul><ul><li>Sehat itu multidimensional </li></ul><ul><li>Sehat itu variabel/ dinamis dan tidak statis </li></ul><ul><li>Sehat itu mengatur sendiri dalam setiap dimensi kehidupan </li></ul><ul><li>Sehat itu mengatur sendiri antar diensi kehidupan. </li></ul><ul><li>Archer Probert, dan Gage (1987) mendefinisikan “Wellness” sebagai proses dan keadaan suatu pencapaian fungsi-fungsi manusiawi secara maksimum yang mencakup aspek badan, jiwa dan kesadaran. </li></ul><ul><li>Model “Wellness” dan prevensi dalam seluruh lingkup kehidupan merupakan keterpaduan konsep teoritis dan sikologi, antropologi, sosiologi religi dan pendidikan. </li></ul>
  24. 24. Refleksi <ul><li>Tinjauan, Dalam konseling juga harus memperhatikan kesehatan mental. </li></ul><ul><li>Ungkapan terakhir, menurut saya bahwa kesehatan mempengaruhi jalannya suatu konseling. </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×