Misi Da'wah dan Perubahan Sosial
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Misi Da'wah dan Perubahan Sosial

on

  • 4,405 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,405
Views on SlideShare
4,405
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
122
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Misi Da'wah dan Perubahan Sosial Document Transcript

  • 1. MISI DA’WAH DAN PERUBAHAN SOSIAL Oleh : Idrus Abidin, Lc., MA. Sumber : idrusabidin.blogspot.comPENDAHULUAN Istilah da’wah telah menjadi lazim di tengah komunitas Muslim, sebagaimana istilahmissionaris merupakan istilah baku bagi upaya penyampaian misi keagamaan dalam agamaKristen katolik dan protestan di Indonesia. Dalam kamus bahasa inggris, istilah missionarisdimaknai dengan dua makna ; (1) sejumlah orang yang dikirim oleh komunitas keagamaan untukmelakukan propaganda agama, (2) suatu organisasi agama atau lembaga keagamaan yangmemfokuskan aktivitas utamanya pada konversi agama.1 Kedua makna di atas jelaslah tidakbermakna dan tidak menunjukkan aktifitas agama tertentu. Hanya saja,dalam Islam istilahtersebut tidaklah digunakan mengingat bahwa Islam sendiri memiliki istilah khas dalam upayayang sama,yaitu ; da’wah. Dalam diskursus keIslaman, da’wah selama ini terkesan kompensional dengan hanyamengadalkan ceramah lisan di atas mimbar dengan retotika yang memukau dan pegajian lepasdalam bentuk kajian keIslaman. Padahal, pembentukan masyarakat Islam yang hendak dibanguntidaklah bisa terwujud tanpa adanya peran kemasyaraktan da’i yang bersifat langsung danberpihak kepada objek da’wah. Karenanya, da’wah perlu diorientasikan kepada dua arus utama.Pertama, da’wah yang bersifat kompensional dengan mengandalkan basis keilmuan yangmemadai dan yang kedua, da’wah yang mampu meningkatkan pemenuhan kebutuhanmasyarakat yang sangat mendasar, seperti peningkatan ekonomi keluarga dan advokasi terhadaphak-hak mendasar masyarakat yang belum diterima selama ini. Dalam kategori ini, hadirnyada’wah bisa dianggap penyelesaian yang memang sangat membantu masyarakat untuk keluardari problema yang di hadapi. Makala ini berusaha memotret bagaimana konsep da’wah yangdapat memberikan efek social terhadap social serta langkah yang telah ditempuh oleh masyarakatIndonesia dalam mewujudkan metodologi da’wah tersebut di atas. Sehingga diharapkan dapatmenegaskan kembali komitmen kita dalam mencari berbagai inovasi-inovasi yang dapatmenjangkau semua objek da’wah. Studi ini berusaha menelusuri penelitian yang dikembangkan1 John M Echol dan Hassan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, ( Jakarta : PT Gramedia), cet.24, th.1997, hal.383
  • 2. oleh beberapa ahli terkait peranan da’wah lisan dan da’wah sosial yang nampaknya belakanganini mulai melembaga sebagai institusi yang independen.PERAN MISSIONARIS (DA’I) DALAM PANDANGAN ANTROPOLOG. Sebelum mendeskripsikan lebih jauh tentang peran da’i dalam masyarakat, pertama-tamakajian akan diarahkan kepada perdebatan yang muncul seputar pandangan antropolog terhadapupaya da’i dalam rangka memperkenalkan nilai-nilai Islam yang berujung pada perubahan gayahidup dan budaya masyarakat tertentu. Menurut Erni Budiwanti, sebelum tahun 1960, beberapaantropolog yang mengikuti faham fungsionalisme sangat menentang dan bahkan sangatmemusuhi para missionaris atau da’i. Karena aktivitas mereka dianggap merusak budaya aslimasyarakat tertentu yang dijadikan objek da’wah.2 Memang jika kita memperhatikan secaraseksama, upaya dai untuk memperkenalkan Islam di tengah masyarakat memang berpotensimempengaruhi, merubah dan mengganti dengan sempurna kepercayaan, norma-norma lokal, dannilai-nilai budaya lokal yang telah diwariskan turun temurun oleh masyarakat setempat, dengannilai yang sama sekali berbeda dengan budaya asli masyarakat tradisional sebelumnya. Kegiatandemikian dianggap oleh antropolog sebagai aktivitas yang melanggar hak asasi. Karenamembatasi kebebasan penduduk asli untuk mengakses budayanya sendiri dan mempertahankankearifan lokal yang mereka bangun sebelumnya. Memang dalam ilmu sosilogi perubahann sosialsering dianggap sebngai aspek khusus dari aspek sosial, karena perubahan sosial merupakangejala yang bertentangan dengan tatanan sosial.3 Setelah tahun 1960, sikap antipati antropolog pengikut faham fungsionalisme mulaiberkurang. Bahkan sikap demikian mulai mendapatkan penentangan dari sejumlah antropologlain. Stipe, sebagaimana dikutip oleh Budiyanti, pada tahun 1980 berpendapat bahwa sikapantropolog yang memusuhi misi keagamaan dilandasi oleh pemikiran fungsionalisme. Dalampandangan aliran fungsionalisme, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang berusaha selalumempertahankan keharmoniannya dan keseimbangan sosial yang terbagun di dalamnya. Semuaelemen yang berfungsi dalam suatu system kemasyarakatakan dan kebudayaan saling terhubung,2 Erni Budiyanti, Misi dakwah dan transformasi sosial : Studi Kasus di Bayan, Lombok Barat, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, (Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan – LIPI), Vol.II, No.1, th.1998, hal.43.3 Mahmuddin dan Try Hadiyanto sasongko, Analisis Sosial, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia), th.2006, hal.5
  • 3. mempengaruhi, dan karenanya saling bergantung satu sama lain untuk menciptakan harmoni.Semua elemen ini bekerja dan berfungsi secara integral dalam rangka menciptakan danmempertahankan keseimbangan dan harmoni sosial yang telah ada. Asumsi di atas inilah yang menjadi landasan pengikut fungsionalisme dalamanggapannya bahwa setiap unsur yang berubah dalam masyarakat dapat mengancam hormaniyang telah terbagun antara elemen dalam mempertahankan hormoni sosial. Dengan demikian,perubahan dianggap mengancam stabilitas hubungan masing-masing elemen yang telahterintegrasi dalam keseimbangannya. Namun asumsi ini, bagi Abu Riho, dianggap telahmengabaikan perubahan itu sendiri. Dan untuk memahami perubahan yang terjadi, terlebihdahulu kita harus mengetahui masyarkat dalam kondisinya yang serba statis. Sikap iniberimplikasi pada upaya untuk melihat perubahan pada aspek struktur semata dan bukan padaproses yang terjadi di masyarakat.4MISI KEAGAMAAN DALAM ISLAM. Kegiatan pengembangan da’wah dalam Islam diibaratkan seperti mata rantai yang terusterhubung hingga akhir zaman. Masing-masing periode dalam Islam dianggap kelanjutan dariperide sebelumnya. Yang mana, masing-masing periode diharapkan dapat mentransmikian Islamsebagaimana yang pernah ada di zaman awal yang dida’wahkan oleh Rasulullah saw. Dalammata rantai ini, Rasulullah saw sebagai pembawa missi pertama.5 Setelah Rasul, muncullahsahabat, tabi’in, ulama, dan ummat secara umum untuk mengemban misi da’wah pada masa dantempat mereka berada. Kelanjutan misi keagamaan dalam Islam yang diibaratkan sebagai matarantai ini mendapatkan legalitas dari al-qur’an yang pada intinya menjelaskan bahwa Allahsendiri menjaga keaslian al-qur’an hingga akhir zaman. Mata rantai yang berkesinambungan secara simbolik juga bermakna bahwa setiapMuslim memliki tanggun jawab untuk melanjutkan praktek-praktek keIslaman di mana pun dankapan pun mereka berada. Da’wah tidaklah dimaskdukan untuk merubah mereka-mereka yangtelah memiliki indentitas keagaamaan tertentu agar mereka masuk Islam. Tetapi da’wah dalam4 Abu Ridho, Problematika Da’wah : Problem visi dan Implementasinya, dalam Adi Sasono dkk, “Solusi Islam atas Problematika Ummat, (Jakarta : Gema Insani Press), th.1998, hal.221.5 Abdul Karim Zaidan, Ushul al-Da’wah, ( Baerut : Maktabah al-Risalah), cet.3, th.1988, hal.307
  • 4. terminologi ini diharapakan dapat memperkuat integritas keislaman para penganut agama Islamitu sendiri. Dalam bahasa lain, da’wah merupakan upaya konsolidasi ke dalam yang nantinyadapat memperbaiki kualitas kehidupan keberagamaan ummat Islam sendiri. Pada intinya, da’wahmengajak ummat Islam untuk menganut Islam secara menyeluruh dan memerintahkan ummatuntuk memerangai kemungkaran dan saling mengingatkan untuk menegakkan kebaikan dankeadilan. Pada perkembangan sekarang, da’wah menjadi kegiatan yang terorganisir denganmelibatkan tenaga-tenga propesional yang dirintis oleh seorang ahli agama yang disebut kiyai diJawa, ajengan di Jawa Barat dan Tuan Guru di Lombok. Secara umum mereka disebut sebagaiulama. Dalam Islam, ulama merupakan mata rantai penyebar agama Islam yang dianggapsebagai pewaris nabi.PENGERTIAN DA’WAH Dakwah secara etimologis dapat diartikan mengajak, menyeru, dan memanggil.6Sedangkan, bila diartikan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi dakwah dapat diartikansebagai berikut : “Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah),menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia didunia dan akhirat”. (Syaikh Ali Mahfudh, Hidayah al-Mursyidin). Dakwah berasal dari bahasaarab yang berarti mengundang, mengajak dan mendorong. Konotasi yang lazim adalah mengajakdan mendorong sasaran untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejelekan atau "amar marufnahi munkar". Dakwah berarti juga mengajak sasaran menuju jalan Allah, yakni agama Islam. Ada berbagai macam rumusan mengenai pengertian dakwah. Syeh Ali Mahfudzmisalnya, mendefinisikan dakwah sebagai usaha memotivisir orang-orang agar tetapmenjalankan kebajikan dan memerintahkan mereka untuk berbuat ma’ruf serta melarangmereka berbuat mungkar, agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia akherat. 7 Senadadengan Syeh Ali Mahfudz, Profesor Thoha Yahya Umar mengartikan dakwah adalah6 Ibrahim Mustafa dkk, al-Mu’jam al-Wasith, (Turki : al-Maktabah al-Islamiyah), vol.1, cet.3, tth, hal.2867 M. Masyhur Amin, Metoda Da’wah Islam Dan Beberapa Keputusan Pemerintah Tentang Aktivitas Keagamaan, (Yogyakarta : Sumbangsih), th.1980.
  • 5. mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintahTuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akherat. Menggunakanrumusan lain, Syeh Bahi al-Khuly berpendapat bahwa dakwah adalah memindahkan umatdari satu situasi ke situasi yang lain yang lebih baik. Sedang secara operasional AdnanHarahap memberikan pengertian dakwah adalah suatu usaha merubah sikap dan tingkah lakuorang dengan jalan menyampaikan informasi tentang ajaran Islam, dan menciptakan kondisiserta situasi yang diharapkan dapat mempengaruhi sasaran dakwah, sehingga terjadiperubahan ke arah sikap dan tingkah laku positif menurut norma-norma agama.8 Secara umum, makna pokok yang menjadi simpul dari pengertian dakwah yangberbeda-beda itu terletak pada tiga hal : 1. Amar ma’ruf nahi mungkar. Seluruh kegiatan dakwah pada dasarnya bertujuan untuk merealisasikan kebaikan (al-khoir) dan mengeliminasi segala hal yang menyebabkan orang semakin jauh dari jalan Tuhan Allah SWT. 2. Ishlah. Makna ishlah dari dakwah ini nampak kuat pada upaya dakwah untuk meningkatkan kualitas kebaikan dan menurunkan kadar keburukan di dalam masyarakat. Dalam makna ini dakwah dipahami sebagai segala upaya yang bertujuan untuk merubah kondisi negatif ke kondisi yang positif atau untuk memperbaharui dalam makna meningkatkan kondisi yang positif ke kondisi yang lebih positif lagi. 3. Dengan demikian dakwah pada dasarnya adalah bersifat taghyir (pengubah) dari realitas sosial yang tidak/belum ilahiyah menjadi berkondisi atau berwatak ilahiyah9. Menurut Amrullah Ahmad eksistensi dakwah Islam selain berperan sebagai pengubahterhadap realitas sosial yang ada kepada realitas sosial yang baru, juga sesungguhnyadipengaruhi oleh perubahan sosio-kultural yang terjadi. Dengan demikian dakwah perlu8 Adnan Harahap, Dakwah Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta : Sumbangsih), th.1980. hal.259 Nasruddin Harahap dkk., Dakwah Pembangunan, (Yogyakarta : DPD Golkar DIY), th.1992.
  • 6. mengenal dan memahami perubahan-perubahan itu, sehingga metode dan materi dakwahdapat diselaraskan dengan suasana dan keadaan masyarakat yang berubah.10 Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa da’wah pada dasarnya merupakansuatu usaha yang dilakukan secara sadar dan disengaja oleh pelaku dakwah (da’i) untukmemberikan motivasi kepada individu atau kelompok (sasaran dakwah) untuk mencapai tujuandi atas yaitu, bahagia di dunia dan akhirat. Jadi bisa diperhatikan bahwa materi dakwah selalubepijak pada 2 hal: 1. Dakwah yang berorientasi keakhiratan. 2. Ajakan untuk meningkatkan perihal keduniawianManusia pada umumnya ingin memenuhi kebutuhan yang bersifat keduniaan sebagai berikut : a. Kebutuhan fisik b. Kebutuhan keamanan c. Kebutuhan sosial d. Kebutuhan penghargaan, dan e. Kebutuhan aktualisasi diri Menurut Al-quran, dalam melakukan dakwah harus berdasarkan prinsip bahwa manusiayang dihadapi (maduw) adalah makhluk yang terdiri dari unsur jasmani, akal dan jiwa dengandemikian mereka harus dipandang dan diperlakukan dengan keseluruhan unsur-unsur tersebutsecara simultan dan serentak. Pembangunan di Indonesia yang fokus pada pertumbuhan danpemerataan ekonomi, cenderung mengalienasikan aspek spiritual. Hal ini mengacu padapembentukan nilai dan norma ekonomis. Dan akan menimbulkan gerakan ekonomi yang berjalanbebas (tanpa spiritualitas dan melahirkan sikap kompetitif) yang bila tidak didukung oleh aspekspritual, akan cenderung ke arah individualisme, materialisme, dan konsumerisme. Pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada peningkatan kualitas keislamandan juga kualitas kehidupan masyarakatnya, dalam hal ini dari aspek ekonominya. Karenadakwah tidak hanya memasyarakatkan hal-hal yang religius Islami, namun juga menumbuhkanetos kerja. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh dakwah bil hal yang sering disebutkan oleh10 Amrullah Ahmad Ed., Dakwah Islam Dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta : PLP2M), th.1985.
  • 7. para mubalig. Dakwah bil hal ini tidak meninggalkan maqâl (ucapan lisan dan tulisan),melainkan lebih ditekankan pada sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatan nyata yang secarainteraktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya, yang secara langsung atau tidaklangsung dapat mempengaruhi peningkatan keberagamaan. Pola pengembangan dakwah seperti ini, merupakan alih teknologi sosial yang sangatdibutuhkan oleh masyarakat Indonesia sebagai imbangan alih teknologi meteriil yang tidak akanberhenti dengan segala dampaknya. Keseimbangan antara dua teknologi itu setidaknya akanmenjanjikan ketentraman hati serta gejolak sosial, yang terkadang berakibat terhadap meluasnyakesenjangan sosial dan stress di kalangan masyarakat awam. Keseimbangan yang dimaksud akanmengacu ke arah tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Melihat kepada kebutuhan-kebutuhan di atas, perlu diperhatikan pemilahan sasaran dakwah secara jeli agar tujuan dakwahdapat mencapai hasil yang maksimal. Selain itu, bila dakwah berorientasi pada pemenuhankebutuhan kelompok, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang partisipatif.Dengan pendekatan ini, kebutuhan digali oleh motivator dakwah (kader) bersama-sama dengankelompok sasaran yang akan diberdayakan. Pemecahan masalah direncanakan dan dilaksanakanoleh kader bersama dengan kelompok sasaran.Dengan demikian, perencanaan tidak dilakukansecara top down tetapi botom up. Dakwah jenis inilah yang dapat dikatakan dakwah yangmemberdayakan masyarakat atau disebut juga Dakwah bil hal. Banyak yang menyebut bahwadakwah bil hal, merupakan koreksi dari dakwah yang telah ada selama ini yang lebih banyakterfokus pada dakwah mimbar yang monoton, sementara dana dan daya habis tanpa adanya suatuperubahan yang berarti. Akan lebih baik, jika ada keseimbangan diantara keduanya. Sehinggapada akhirnya ada semacam perubahan yang berarti dalam masyarakat.11 Kegiatan dakwah Islamiah itu sendiri tidak dapat lepas dari lima unsur yang harus berjalanserasi dan seimbang. Karena pada dasarnya kegiatan dakwah merupakan proses interaksi antarapelaku dakwah (da’i) dan sasaran dakwah (masyarakat) dengan strata sosialnya yangberkembang. Antara sasaran dakwah dan si pelaku dakwah keduanya saling mempengaruhi,dimana mereka sama menuntut porsi materi, media, dan metode tertentu.11 Adnan Harahap, Dakwah Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta : Sumbangsih), th.1980. hal.43.
  • 8. Strategi dakwah akan berhasil jika kelima unsur tersebut berjalan dengan seimbang. Iniberarti, kegiatan dakwah bukan bukan sekedar memberikan pengajian di atas mimbar di hadapanmasyarakat yang luas serta heterogen. Namun lebih dari itu, dakwah menuntut tumbuhnya suatukesadaran bagi masyarakat yang mendengarkan dakwah tersebut agar pada gilirannya mampumelakukan perubahan positif dari pengamalan dan wawasan agamanya. Kita tidak bisamengukur keberhasilan sebuah kegiatan dakwah dari banyaknya jumlah pengunjung yangmelimpah pada suatu forum pengajian dan hebatnya mubalig yang lucu, dan kocak. Sementarabiaya yang keluar relatif banyak tanpa diimbangi dengan evaluasi dari massapengunjungnya.Pengembangan dakwah Islamiah merupakan proses interaksi dari serangkaiankegiatan terencana yang mengarah pada peningkatan kualitas keberagamaan umat Islam.Kualitas itu meliputi pemahaman ajaran Islam secara utuh dan tuntas, wawasan keberagamaan,penghayatan, dan pengamalannya. Sebagai suatu proses maka tuntutan dasarnya adalahperubahan sikap dan perilaku yang diorientasikan pada sumber nilai yang Islami.12 Efektifitas dakwah mempunyai dua strategi yang saling mempengaruhi keberhasilannya.Pertama, peningkatan kualitas keberagamaan. Kedua, dengan mendorong terjadinya perubahansosial. Ini berarti memerlukan pendekatan partisipatif di samping pendekatan kebutuhan.Dakwah bukan lagi menggunakan pendekatan yang hanya direncanakan secara sepihak olehpelaku dakwah dan bukan pula hanya pendekatan tradisional, yang mengutamakan besarnyamassa.Pendekatan partisipatif menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam perencanaandakwah, bahkan dalam penggalian permasalahan dan kebutuhan. Disinilah akan tumbuh dimensiide dan gagasan baru, di mana para da’i berperan sebagai pemandu dialog-dialog keberagamaanyang mincul dalam mencari alternatif pemecahan masalah. Dakwah Islamiah dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada posisi pendamai dan pemberimakna terhadap konflik dalam kehidupan manusia, akibat globalisasi di segala bidang. Dengandemikian, ajaran Islam menjadi alternatif bagi upaya mencari solusi pengembangan sumber dayamanusia seutuhnya. Dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat ada dua halyang dapat dilakukan. Pertama, memberi motivasi kepada kaum Muslimin yang mampu untuk12 Amrullah Ahmad Ed., Dakwah Islam Dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta : PLP2M), th.1985.
  • 9. menumbuhkan solidaritas soial. Kedua, yang paling mendasar dan mendesak adalah dakwahdalam bentuk aksi-aksi nyata dan program-program yang langsung menyentuh kebutuhan. Dakwah dalam bentuk ini sebenarnya sudah banyak dilaksanakan oleh kelompok-kelompok Islam, namun masih masih sporadis dan tidak dilembagakan, sehingga menimbulkanefek kurang baik, misalnya, dalam mengumpulkan dan membagikan zakat. Akibatnya fakirmiskin yang menerima zakat cenderung menjadi thama’ (tergantung). Dalam rangkamemberdayakan masyarakat Indonesia, dalam hal ini yang masih hidup di bawah gariskemiskinan. Kita tidak dapat hanya memberi saja (zakat). Namun, juga diberikan semacammodal, pengetahuan serta skill yang cukup agar mereka dapat mulai memberdayakan diri. Jika kita melihat lembaga-lembaga sosial yang ada maka ditemukan ada 3 macam:1. Lembaga yang bersifat karikatif, dalam bentuk bantuan, jasa atau barang.2. Lembaga yang bersifat pengembangan swadaya masyarakat yang dibantu.3. Lembaga yang berbicara tentang konsep, ideology atau strategi alternatif pembangunan. Walaupun yang diugkapkan ini berelevansi lebih ke global, tetapi pemkiran yang ia kemukakan dapat juga diterapkan di Indonesia. Dakwah dapat juga dalam bentuk pengembangan masyarakat. Diantara keduanya terdapatpersamaan yang cukup mendasar. Karena pengembangan atau pemberdayaan masyarakatmerupakan proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dankesejahteraan masyarakat. Kesamaan antara keduanya yaitu bahwa dakwah dan pengembanganmasyarakat sama-sama ingin mencapai kesejahteraan serta sama-sama meningkatkan kesadaranberperilaku dari yang tidak baik kepada perilaku baik. Hasil dari usaha dakwah bil hal ini juga memiliki implikasi atau pengaruh terhadappengembangan masyarakat, yaitu :1. Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, pendapatannya bertambah untuk membeiayai pendidikan, atau memperbaiki kesehatan;2. Dapat menarik partisipasi masyarakat dalam pembangunan, karena masyarakat tersebut terlibat dari tahap perencenaan sampai pelaksanaan dakwah bil hal;3. Dapat mengembangkan swadaya masyarakat dan dalam proses jangka panjang dapat menumbuhkan kemandirian;
  • 10. 4. Dapat mengembangkan kepemimpinan daerah setempat, dan terkelolanya sumber daya yang ada. Karena kelompok sasaran tidak hanya menjadi objek tetapi juga menjadi subjek kegiatan;5. Terjadinya proses belajar-mengajar antar sesama warga yang terlibat dalam kegiatan. Sebab kegiatan direncanakan dan dilakukan secara bersama hal ini menyebabkan adanya sumbang saran secara timbal balik. Melihat sasaran dakwah yang begitu luas, yang meliputi segenap lapisan masyarakat makauntuk lebih dapat menjalankan dakwah secara lebih menyebar, penggunaan media sertakecanggihan teknologi merupakan suatu hal yang wajib. Karena kita tentunya tidak ingindikatakan ketinggalan jaman. Dakwah secara konvensional harus mulai melakukan strategi-startegi yang sesuai kemajuan teknologi agar penampilan dari dakwah itu sendiri mendapattempat di hati kelompok sasaran dakwah. Tradisi baru LSM Muslim dalam bentuk bank syari’ah dan organisasi penggalangan SIZyang digagas dan dibangun oleh oleh kalangan intelektual Muslim telah meretas sebuah rumusanbaru da’wah Islam di Indonesia. Jika diletakkan dalam perkembangan gerakan Islam diIndonesia, lembaga-lembaga tersebut semakin memperkaya organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan Islam. Dan jika diletakkan dalam konteks da’wah dan permberdayaan masyarakat,lembaga-lemnbaga tersebut telah membumikan konsep da’wah bi al-hal yang selama inimencari-cari bentuk penerapan.13DA’WAH TRANSFORMATIF Da’wah dengan mengandalkan dua tipe tersebut merupakan da’wah yang transformatif.Yaitu da’wah yang tidak menjadikan aspek verbal sebagai sayap utama dalam penyampaianmateri-materi keislaman terhadap objek da’wah, tetapi berusaha mengadakan internalisasi nila-nilai Islam ke dalam ruang lingkup masyarakat secara nyata. Baik yang bersifat pendampingan,seperti desa binaan, maupun advokasi terhadap hak-hak masyarakat untuk mendapatkan aksesekonomi yang lebih baik. Jika ini dilakukan dengan baik, da’wah tidak hanya dikenal mampumemberdayakan tingakat relijiusitas masyarakat, tetapi juga dapat menegaskan kemapanan sosialmereka yang pada gilirannya akan melahirkan perubahan sosial.13 Arief Subhan, Da’wah dan pemberdayaan masyarakat, dalam Kusmana (Ed), Bunga Rampai Islam dan Kesejahteraan sosial, (Jakarta : IAIN Indonesian Sosial Equity Project), cet.1, th.2006, hal.26-27.
  • 11. Setidaknya ada lima (5) indikator yang mesti melekat dalam dakwah transformatif dalampandangan Khamami Zada : 1. Dari aspek materi dakwah; ada perubahan yang berarti; dari materi ubudiyah ke materi sosial. Dalam kerangka ini, seorang da’i diharapkan mampu mengambangkan materi- materi da’wahnya hingga mencakup isu-isu sosial yang berkembang dan dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai contoh, materi-materi seperti korupsi, kemiskinan, dan penindasan layak untuk disosialisaikan lebih jauh kepada mereka. Seorang juru da’wah tidak lagi terlalu terpokus pada upaya mendiskreditkan agama lain jika terjadi permalasahan dalam masyarakat. Tetapi berusaha mengambil langkah nyata yang bisa mengangkat citra masyarakat Muslim menjadi lebih baik dan lebih beriorientasi ke depan. 2. Dari aspek metodologi terjadi perubahan; dari model monolog ke dialog. Dalam hal ini, metodologi penyampaian juru da’wah tidak lagi bertumpu pada podium dengan retorika yang menarik serta pendengar yang hanya bisa menilai baik buruknya tampilan sang da’i. Tetapi, dalam bentuk da’wah seperti ini, keterlibatan masyarakat dalam mengungakap permasalahan menjadi menonjol. Karena da’i tidak lagi monolog dalam penyampaiannya tetapi telah beralih kepada proses dialog yang memperlihatkan keakraban masyarakat dengan juru da’wahnya. Jika kita menela’ah da’wah Rasulullah saw, tampak bahwa perubahan sosial yang terjadi dengan da’wahnya lebih disebabkan oleh tampilnya Rasul dalam lingkup kemasyarakatan lebih luas. Terhitung dalam sepekan, da’wah Rasulullah yang bersifat formal hanya ditemukan ketika hari jum’at dalam khotbahnya saja. Selebihnya mengarah kepada dialog maupun pertanya yang timbul akibat adanya permasalahan yang dihadapai oleh masyarakat. 3. Menggunakan institusi yang bisa diajak bersama dalam aksi. Selama ini, da’wah lebih banyak dilakukan secara personal sehingga efek sosial yang ditimbulkan cendrung minimal. Walaupun memang tidak dipungkiri bahwa juru da’wah personal juga berasal dari intitusi pendidikan tertentu. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa personalitas mereka lebih menonjol dibanding kehadirannya dalam institusi da’wah tertentu. Institusi sebagai basis gerakan diharapakan dapat memberikan legitimasi yang lebih kuat kepada juru da’wah. Jaringan dan sumber daya tidak hanya milik sendiri,
  • 12. melainkan juga ada pada orang lain, karena itu, institusi menjadi sesuatu yang penting untuk menjadi basis dari gerakan sosial. Itu sebabnya, agar para juru dakwah lebih mudah melakukan pendampingan masyarakat, mereka perlu menggunakan institusi yang kuat. 4. Ada wujud keberpihakan pada mustad’afin. Rasa empati sosial merupakan prasyarat bagi juru dakwah yang menggunakan pendekatan transformatif. Dengan empati ini, juru da’wah tampil dibaris depan untuk merencanakan berbagai upaya yang bisa bernilai ekonomis bagi masyarakatnya. Kehadiran BMT yang kita saksikan saat ini dapat dimanfatkan secara maksimal sehingga usaha-usaha yang dilakukan masyarakat dapat terbantu denga suntikan modal yang difasilatasi oleh sang da’i. 5. para juru dakwah melakukan advokasi dan pengorganisasian masyarakat terhadap suatu kasus yang terjadi di daerahnya agar nasib para petani, nelayan, buruh, dan kaum tertindas lainnya didampingi. Inilah puncak dari para juru dakwah yang menggunakan pendekatan transformatif. Hasil akhir dari dakwah transformatif adalah mencetak para juru dakwah yang mampu melakukan pendampingan terhadap problem-problem sosial yang dihadapi masyaraat.14EFEK PERUBAHAN SOSIAL DA’WAH Perubahan sosial menurut Henry Pratt dan Fairchild, sebagaimana dikutip oleh Simuh15,adalah sebuah variasi aatu modifikasi dalam beberapa aspek baik mengenai proses, pola danbentuk soisal. Terdapat tiga pendekatan terhadap perubahan sosial kumulatif, yaitu : (1)Pendekatan yang memandang pola-pola yang bisa digeneralisir dalam hal bagaiman semua aspekperubahan terjadi.(2) Pendekatan yang mencari penjelasan terhadap semua pola komulasi yangdidasrkan poada teori evolusi. (3)pendektan yang berpendapat bahwa tidak ada evolusi tunggalbagi semua perubahan dalam sejarah manusia.1614 Khamami Zada, Da’wah Transformatif : Mengantar da’i sebagai pendamping masyarakat, (Jakarta : PP Lakpesdam NU), cet.1, th.2006, hal.15 Simuh, Islam Tradisonal dan Perubahan Sosial, dalam Islam dan Hegemoni Sosial, Drs Khaeroni dkk (ed), (Jakarta : Media Cita), Cet.1, th.2001, hal.5.16 Edgar Borgotta & Marie L. Borgotta (ed), Ensklopedia Of Sociology, ( New York : Macmillan Publishing Company ), th1992.
  • 13. Terjadinya perubahan sosial biasanya melalui peroses, Pertama : upaya masyarakat untukmengkuti perubahan yang pada pase awal dianggap sebagai penyimpangan. Kedua : penyediansaluran yang mendukung terjadinya perubahan soisal dalam masyakat yang terwujud padalembaga-lembaga, baik lembaga ekonomi, da’wah ataupun lembaga pendidikan. Ketiga :terjadinya reorganisasi sosial. Yakni adanya pelemahan terhadap unsur tradisi lama yangkemudian digantikan oleh tradisi baru sesuia dengan system yang dipersiapkan.17MODEL PERUBAHAN Ada dua pilihan metode untuk melahirkan sebuah kondisi baru sebagai sebuah terapi bagikondisi yang hendak di perbaiki tadi, pertama dengan cara evolusi dan kedua dengan cararevolusi181. Model Evolusi Cara evolusi merupakan cara yang paling mudah di lakukan, aman bagi jalannya sistem yang sedang berlaku tapi dari sisi waktu tempuh akan banyak menghabiskan hitungan yang tidak sedikit. Proses perubahan seperti ini juga cenderung hanya “melingkar” di tingkat elit saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit yang selama ini berkuasa. Konsekunsi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim yang sedang asyik berada dalam tampuk kekuasaanya dengan leluasa memilih agenda-agenda perubahan yang ada berdasarkan “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.19 Perkembangan masyarakat secara umum sebagaimana digambarkan oleh teori evolusi seperti berikut: (1) bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah layaknya garis lurus. Dalam hal ini, masyarakt dipandang bergerak dari bentuk primitif menuju bentuk modern. Ringkasnya, bentuk dunia ke depan dapat diprediksi bahwa dalam beberapa waktu ke depan kemajua pasti akan diperoleh, (2) teori evolusi membaurkan antara pandangan subjektifnya tentang nilai dan tujuan akhir perubahan sosial. Perbuahan menuju masyrakat moderen17 Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Persfektif Sosio Kultural, (Jakarta : Lantabora Press), cet.3, th.2005, hal.16.18 Nana Sudiana, Islam dan perubahan sosial politik, (http://nsudiana.wordpress.com/2007/12/24/Islam-dan- perubahan-sosial-politik/. Diakses pada hari senen tanggal 20 juli 2009.19 Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia), cet.1, th.2001, hal.198.
  • 14. adalah perkembangan yang tidak bisa dihindari dalam teori ini. Karenanya semua kebaikan seperti kemajuan dan kemanusiaan dan modernitas dianggap sebagai hasil dari perkembangan masyarakat yang selalu dicita-citakan.20 Tidaklah mengherankan model ini kurang populer, apalagi di negara-negara Dunia Ketiga yang perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang cukup kharismatik atau terkenal dalam model ini, karena sepenuhnya kewenangan hendak kemana arah perubahan yang terjadi terletak di tangan penguasa sendiri. Elit penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam merumuskan berbagai persoalan yang ada, yang tentu saja sangat bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons-respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal adalah melakukan pressure, itu pun jika ada ruang kebebasan yang cukup untuk melakukan hal itu.2. Model Revolusi Revolusi merupakan upaya perubahan ide-ide secara mendasar yang disertai dengan perubahan struktur-struktur social.21 Cara ini dipandang cukup popular mengignat kalangan gerakan social atau gerakan pembebesan terkadang memilih cara-cara seperti ini. Jika dilihat dari aspek waktu yang dibutuhkan, tampak memang bahwa revolusi adalah metode tercepat. Sekaki pun korban yang dibutuhkan juga banyak karena perubahan yang demikian ekstrim mensyaratkan terjadinya perubahan struktur social secara mendasar. Padahal struktur social yang terbentuk adalah merupakan bagian dari proses panjang yang melibatkan partisipasi beragam kepentingan dan tujuan. Maka tidaklah nengherankan jika antropolog aliran fungsionalisme tidak mendukung terjadinya revolusi social sebagimana disinggung pada bagian awal makalah ini. Cara ini, jika berhasil memang dengan cepat dapat diukur tingkat keberhasilannya. Karena memang pola yang digulirkan adalah mengikuti alur yang serba instant. Perubahan dengan model rovolusi ini biasanya menjadikan politik sebagai medium utama dan kekuasaan sebagai target akhirnya. Pemikiran tentang revolusi sendiri memiliki banyak varian pengertian dan pada umumnya berangkat dari sebuah proses kegelisahan, kecemasan serta ketidakpastian akan kondisi yang sedang terjadi. Saat kita membicarakan tentang perubahan sosial secara20 Suwarsono dan Alvin Y. So, Perubahan Sosial dan Pembangunan, (Jakarta :PT Pusataka LP3ES), cet.3, th.2000, hal.10.21 Haque, Ziaul, Wahyu dan Revolusi, (Yogyakrta : LKiS), cet.1, th.2000, hal.17
  • 15. revolutif, maka kita hampir tidak akan bisa memisahkan diri dari kaitannya dengan masalah politik di sebuah negara. Sebelum sebuah revolusi sosial terjadi, biasanya terjadi suatu proses alienasi kekuasaan. Alienasi ini terjadi karena kekuasaan yang ada semakin meninggalkan kepentingan-kepentingan rakyat dan justeru seolah menjadi bagian lain dari pranata yang ada.22 Revolusi sosial yang terjadi di Barat kondisinya berbeda dengan apa yang terjadi di Timur. Barat cenderung menunjukkan nilai-nilai perubahan itu berawal dari terancamnya nilai-nilai kebebasan individu atau kelompok oleh sebuah sistem yang dominan dan atau sedang berkuasa. Sedangkan revolusi di dunia Timur justru berawal dari adanya sistem atau kekuatan dominan yang berlaku sewenang–wenang dengan mengabaikan kepentingan mayoritas yang ada. Kondisi obyektif golongan mayoritas yang sedang berada di bawah pengaruh kekuatan dominan ini sama sekali tidak memiliki political bargaining yang cukup sehingga hanya jadi obyek eksploitasi tirani minoritas yang sedang berkuasa. Selain kondisi ini, Timur juga memiliki “nilai tambah” yang lain dalam sisi sumber energi yang menumbuhkan kekuatan untuk bergerak dan melakukan perlawanan di kalangan mereka, yakni agama. Dunia Timur, sebagai dunia yang secara historis tidak bisa dilepaskan dengan pertumbuhan serta perkembangan agama-agama besar dunia, memiliki energi dan semangat yang cukup kuat untuk tetap bertahan dan kemudian bangkit melawan kekuatan yang mendominasinya, apalagi kekuatan itu merupakan kekuatan asing yang memiliki perbedaan yang tegas dari sisi nilai-nilai agama.3. Model Reformasi Kedua pilihan tadi pada dasarnya tidak akan terlepas dari sejumlah kelebihan dan kekurangan, paling tidak masih ada cara Ketiga yang ternyata banyak negara menggunakannya untuk merombak sistem yang sedang berjalan. Cara ini pun sebenarnya bukan cara yang bersih dari bakal adanya korban yang jatuh tapi, dalam beberapa hal cara ini merupakan cara kompromis antara penguasa dengan rakyatnya. Cara ini kalau bisa berjalan dengan baik akan menjembatani kehawatiran-kehawatiran yang muncul berkaitan dengan prediksi akan adanya korban yang ada. Dalam konteks Indonesia, pilihan terhadap22 Nana Sudiana, Islam dan perubahan sosial politik, (http://nsudiana.wordpress.com/2007/12/24/Islam- dan-perubahan-sosial-politik/. Diakses pada hari senen tanggal 20 juli 2009.
  • 16. cara ini bisa kita saksikan dalam rentang perjalanan sejarah bangsa ini saat mengambil middle way sebagai sebuah pilihan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep jalan tengah ini ter-representasikan saaat TNI meluncurkan sebuah paradigma baru dalam menata dirinya dengan wujud Dwi Fungsi ABRI, ternyata cara seperti ini pula yang pada akhirnya–dengan kesadaran atau terpaksa–banyak mengilhami kalangan terbesar bangsa ini dalam mereformasi dirinya pada peristiwa puncak reformasi di bulan Mei 1998 sebagai sebuah momentum perubahan besar bangsa. Islam tidaklah mementingkan perubahan yang mana dari ketiga bentuk di atas yanghendak diterapkan. Dalam Islam, faktor yang terpenting adalah bagaimana sebuah perubahanterjadi dan berjalan dalam koridor keislaman yang seharusnya. Namum demikian, jika kitaberkca kepada kenyataan bahwa para nabi dating dengan konsep wahyu tentang realitas, makadipastikan bahwa perubahan yang mereka usung bersifat revolusioner. 23 Sebagai contoh,pertentangan antara Nabi Muhammad saw. dengan kaum Quraysy Jahiliyyah, memiliki duaaspek yang berhubungan erat yaitu aspek keagamaan dan aspek sosial. Aspek keagamaanbermuara pada kepercayaan tentang Tuhan dengan keharusan meninggalkan ritual sesembahanmasing-masing qabilah untuk kemudian beralih menyembah Allah yang Esa. Ditambah lagidengan kepercayaan tentang alam akhirat yang menjadi tempat pertanggungjawaban perbuatanmanusia yang belum pernah didengar oleh orang Quraisy dari nenek moyangnya. Ternyata,aspek keagamaan yang dianut oleh suku-suku Jahiliyyah ini sekaligus menjadi sebuah ikatansosial yang mepersatukan anggota-anggota dari masing-masing suku. Sehingga, menganut ajaranIslam berarti dianggap keluar dari ikatan kesukuan yang telah ada dan mengubah tatanankekuasaan pada masyarakat Jahiliyyah. Dengan demikian, tampak bahwa da’wah nabiMuhammad, jka dilihat dari paket perubahan yang ditawarkan dan penolakan kaum Quraisy,merupakan da’wah denga semangat revolusi yang dikemudian hari terbukti merombak tatananjahiliah yang berjouis dan anti terhadap kaum proletar.24 Ada beragam penelitian kualitatif yang dikembangkan dalam rangka menunjukkanperanan da’wah dalam perubahan sosial masyarakat. Erni budiyandti misalnya, berupaya23 Haque, Ziaul, Wahyu dan Revolusi, (Yogyakrta : LKiS), cet.1, th.2000, hal.24 Sulhani Hermawan, Masyarakat Jahiliyah : Studi Historis Tenang Karakter Egaliter Hukum Islam, http://74.125.153.132/search? q=cache:_tEhfyVFANMJ:www.ditpertais.net/annualconference/ancon06/makalah/Makalah%2520Sulhani %2520Hermawan.doc+islam+dan+perubahan+sosial&cd=51&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. Diakses pada hari senen tanggal 20 juli 2009.
  • 17. memformulasikan aktifitas da’wah yang dilakukan oleh Tuan Guru di Lombok Barat. Dalampenelitian tersebut, Bayan diperkenalkan sebagai basis Waktu Telu yang lambat laun mereduptradisi keberagamaannya akibat pengaruh da’wah yang dilakukan oleh Waktu Lima. Waktu Teludi sini adalah sebuah keyakinan masyarakat Islam yang dipengaruhi elemen-elemen lokalsetempat. Semenatara Waktu Lima adalah kumpulan orang Muslim yang menjadikan Islamortodoks sebagai panduan keberagamaannya. Da’wah yang dikembangkan oleh Tuan Guru,berdasarkan penelitian Erni, berkisar pada beberapa aspek, berupa da’wah di masjid, sepertikhutbah, pengajian biasa, pendirian madarasah dll25 Kedatangan Islam ke Lombok berwal pada abad ke-13 setelah kejatuhan kerajaan HinduMajapahit. Dengan silih bergantinya penguasa yang berpengaruh di Lombok dengan pengaruhagama yang dibawah masing-masing, pada akhirnya masyarakat Sasak terpolarisasi menjadi duakelompok : Islam sasak Waktu Telu dan Waktu Limo. Setelah era wali dari Jawa, khusunya abadke-19 perkembagan da’wah di Lombok dipelopori oleh Tuan Guru. Tuan Guru merupakanpemimpin setempat yang kharismatik. Pengaruh mereka telah lama meluas sebelum Belandamenjajah Lombok. Pengaruh Tuan Guru makin meluas setelah mereka pergi haji ke Makkah.Setelah menunaikan haji, beberapa orang tidak langsung pulang ke tanah air, tetapi merekamelanjutkan pendidikan di Makkah dan sekitarnya untuk beberapa tahun. Setelah merekakembali ke Lombok, banyak anggota masyarakat yang berusaha berguru kepada mereka tentangperaktek keislaman. Murid-murid mereka makin hari makin bertambah sehingga rumah tempattinggal Tuan Guru tidak lagi memadai untuk menampung para pelajar tersebut. Sehinggamunculllah ide pendirian pondok pesantren di sekitar rumah. Lambat laun sekolah rumahtersebut berubah menjadi sekolah formal layaknya SD, SMP dan SMA.26 Adapun strategi pengembangan da’wah yang dilakukan oleh Tuan Guru di antaranyaadalah penggunanaan kekuatan ghaib yang berbau mistis. Hal ini mirip dengan strategipengembangan da’wah yang dilakukan oleh para wali di Jawa sebelumnya. Beberapa Tuan Gurudikenal di Lombok pernah memperagakan tehnik ini dalam berda’wah. Tuan Guru Mutawalli,pimpinan pondok pesantren Darul Yatama Wa al-Masakin, pada tahun 1960 pernah menanpilkankekuatan ghoibnya, setelah sebelumnya mempelajari tokoh karismatik dan dianggap memiliki25 Erni Budiwanti, Islam Sasak : Wetu Telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta : LKiS), Cet.1, th.200026 Erni Budiwanti, Misi dakwah dan transformasi sosial : Studi Kasus di Bayan, Lombok Barat, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, (Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan – LIPI), Vol.II, No.1, th.1998, hal.43.
  • 18. kekuatan ghaib yang sangat dikagumi oleh penganut Waktu Telu. Namun memasuki abad 20,strategi demikian tidak lagi dipergunakan oleh Tuan Guru. Tetapi, Budiwanti melihat strategiyang dikembangkan kemudian adalah kerjasama dengan penguasa lokal maupun lembaga swastadan luar negeri untuk membantu misi da’wahnya. Selain itu, desa tertinggal dijadikan sebagaipenyebaran misi da’wah oleh Tuan Guru tertentu dengan berusaha memperhatiakan aspek sosialkemasyarakatan. Sebagai hasil kerjasma dengan pemerintah, Tuan Guru mendapatkan bantuandari Depsos untuk membiayai program pelatihan da’i yang dibekali dengan keterampilan sepertipertukangan, pertanian, reparasi mesin, perbengkelan dan tehnik listrik. Selain itu, mereka jugadibekali ilmu psikologi dan komunikasi. Di Bayan misalnya, para dai terlibat dalam mengatasimasalah sanitasi, program KB dan program pendirian toilet umum bagi masyarakat. Sementara itu, dalam konteks lebih luas, da’wah yang dipelopori oleh ulama Indonesiayang berusaha membentuk jaringan dengan intelektual timur tengah pada abad 17-18 dikupasdenga seksama oleh Azyumardi Azra. Tokoh seperti Nuruddin al-Raniri, Abdul Ra’uf al-Sinkilidan Muhammad Yusuf al-Makassari ditelaah dengan seksama sehingga akar pembaharuanpendidikan Islam pada zaman modern terlihat dengan sangat jelas berdasarkan penelusurangeneologi keilmuan ulama Indonesia tersebut.27 Jika kita melihat penomena pasca terjadinya reformasi di Indonesia, munculnya perhatianlembaga-lembaga keagamaan yang berusaha merokonstruksi ekonomi kaum lemah dengansistem ekonomi syari’ah semakin menjamur. Zakat merupakan salah satu instrumen yangmenjadi agenda dalam hal ini. Sirojuddin Abbas berusaha melihat bagaimana eksperimenlembaga-lembaga zakat di Indonesia dalam mengumpulkan dan menyalurkan dana sosial kepadamasyarakat. Dalam penelitiannya, Sirojuddin mencatat bahwa pada tahun 2003 telah terbentuksatu BAZIZ tingkat nasional, 24 tingkat propensi, 277 tingakat kabupaten, 3160 tingkatkecamatan dan 38.117 tingkat kelurahan. Ini belum termasuk lembaga-lembaga serupa yangberbasis LSM, Masjid, dan pesantren. Gejala ini memberikan indikasi bahwa masyarakat MuslimIndonesia telah memberikan kepercayaan terhadap sistem kesejahteraan sosial yang ada dalamtradisi Islam.2827 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVIII & XVIII, (Jakarta : Prenada Media), edisi Revisi, th.2004.28 Sirojuddin Abbas, Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Investasi Sosial, dalam arief Subhan dan Yusuf Kilun (ed) “Islam yang Berpihak :filantropi Islam dan Kesejahteraan Sosial”, (Jakarta : Da’wah Press), th.2007, hal.22 (catatan kaki).
  • 19. Contoh kasus yang diangkat Sirojuddin adalah Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF)Surabaya. Lembaga ini menerapkan cara yang unik dalam menjaring dana dari masyarakat.Dengan pro aktif mereka menghubungi para calon investor melalui surat penawaran bantuanpenghitungan dan pengumpulan dana zakat atau dengan mendatangi perkantoran untukprersentasi di hadapan para calon donor. Selanjutnya, lembaga ini mengembangkan sistem basisdata sebagai wujud pertanggungjawaban dan pemutakhiran informasi yang dilakukan. Denganini, YDSF berhasil mengembangkan jumalah muzakkinya dari tahun ke tahun. Cara inikemudian dikembangkan oleh LSM Muslim lainnya. Bahkan dalam tataran yang lebih massif,cara demikian dilakukan oleh Dompet Dhuafa Republika. Dengan jangkauan pemberitaan yangdigarap oleh Republika, DD dengan mudah melaporkan perkembangan dana yang terkumpul,setelah sbelumnya meliput da’erah miskin yang sedang dibiayai. Selain itu, kerjasama yangdilakukan dengan sejumlah stasiun telepisi nasional telah memperluas cakupan muzakki yangbisa dijaring oleh DD. Pada tahun 2004 saja, DD mampu mengumpulkan dana lebih dari Rp 20milyar.29KESIMPULAN Berdasrkan paparan di atas maka bisa kita disimpulkan bahwa da’wah sebagai sebuahupaya untuk menawarkan Islam sebagai alternatif bagi kehidupan masyarakat memiliki kekuatanyang mampu merubah kondisi yang sebelumnya statis dengan ketidakberdayaan sebagai cirinyamenjadi masyarakat yang memilki orientasi ke depan. Peranan da’i yang mulai meleburkan diridengan beragam permasalahan masyarakat lemah dapat menjadi solusi yang diharapakan.Apalaai dengan wujudnya lembaga-lembga keislaman yang memberikan konstribusi signifikanpada pembelaan kaum marjinal dengan mempbilisasi zakat dari perkotaan menuju kantong-kantong kemiskinan. Apa yang terjadi dibayan, sekalipun yang menjadi sasarannya adalahkelompok keberagamaan yang berciri khas sinkretisme, bisa menjadi bukti bahwa da’wahdengan segala keruwetannya mampu mendatangkan perubahan positif bagi objek da’wah itusendiri.29 Sirojuddin Abbas, Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Investasi Sosial, dalam arief Subhan dan Yusuf Kilun (ed) “Islam yang Berpihak :filantropi Islam dan Kesejahteraan Sosial”, (Jakarta : Da’wah Press), th.2007, hal.17-18.
  • 20. DAFTAR PUSTAKAJohn M Echol dan Hassan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, ( Jakarta : PT Gramedia), cet.24, th.1997.Erni Budiyanti, Misi dakwah dan transformasi sosial : Studi Kasus di Bayan, Lombok Barat, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, (Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan – LIPI), Vol.II, No.1, th.1998.Mahmuddin dan Try Hadiyanto sasongko, Analisis Sosial, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia), th.2006.Abu Ridho, Problematika Da’wah : Problem visi dan Implementasinya, dalam Adi Sasono dkk, “Solusi Islam atas Problematika Ummat, (Jakarta : Gema Insani Press), th.1998.Abdul Karim Zaidan, Ushul al-Da’wah, ( Baerut : Maktabah al-Risalah), cet.3, th.1988.Ibrahim Mustafa dkk, al-Mu’jam al-Wasith, (Turki : al-Maktabah al-Islamiyah), vol.1, cet.3, tth. .M Kholis Hamdi, Da’wah dan permberdayaan masyarakat, http://pmii-ciputat.or.id/Islam-a- keagamaan/157-dakwah-dan-pemberdayaan.html (diakses pada hari senen tanggal 20 juli 2009.)Arief Subhan, Da’wah dan pemberdayaan masyarakat, dalam Kusmana (Ed), Bunga Rampai Islam dan Kesejahteraan sosial, (Jakarta : IAIN Indonesian Sosial Equity Project), cet.1, th.2006.Khamami Zada, Da’wah Transformatif : Mengantar da’i sebagai pendamping masyarakat, (Jakarta : PP Lakpesdam NU), cet.1, th.2006.Simuh, Islam Tradisonal dan Perubahan Sosial, dalam Islam dan Hegemoni Sosial, Drs Khaeroni dkk (ed), (Jakarta : Media Cita), Cet.1, th.2001.Edgar Borgotta & Marie L. Borgotta (ed), Ensklopedia Of Sociology, ( New York : Macmillan Publishing Company ), th1992.Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Persfektif Sosio Kultural, (Jakarta : Lantabora Press), cet.3, th.2005.Nana Sudiana, Islam dan perubahan sosial politik, (http://nsudiana.wordpress.com/2007/12/24/Islam-dan-perubahan-sosial-politik/.
  • 21. Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia), cet.1, th.2001.Suwarsono dan Alvin Y. So, Perubahan Sosial dan Pembangunan, (Jakarta :PT Pusataka LP3ES), cet.3, th.2000.Haque, Ziaul, Wahyu dan Revolusi, (Yogyakrta : LKiS), cet.1, th.2000.Erni Budiwanti, Islam Sasak : Wetu Telu Versus Waktu Lima, (Yogyakarta : LKiS), Cet.1, th.2000Budiwanti, Misi dakwah dan transformasi sosial : Studi Kasus di Bayan, Lombok Barat, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, (Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan – LIPI), Vol.II, No.1, th.1998.Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVIII & XVIII, (Jakarta : Prenada Media), Edisi Revisi, th.2004.Sirojuddin Abbas, Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Investasi Sosial, dalam arief Subhan dan Yusuf Kilun (ed) “Islam yang Berpihak :filantropi Islam dan Kesejahteraan Sosial”, (Jakarta : Da’wah Press), th.2007.Amrullah Ahmad Ed., Dakwah Islam Dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta : PLP2M), th.1985.M. Masyhur Amin, Metoda Da’wah Islam Dan Beberapa Keputusan Pemerintah Tentang Aktivitas Keagamaan, (Yogyakarta : Sumbangsih), th.1980.Adnan Harahap, Dakwah Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta : Sumbangsih), th.1980.M Kholis Hamdi, Da’wah dan permberdayaan masyarakat, http://pmii-ciputat.or.id/Islam-a- keagamaan/157-dakwah-dan-pemberdayaan.htmlNana Sudiana, Islam dan perubahan sosial politik, (http://nsudiana.wordpress.com / 2007/12/24/Islam-dan-perubahan-sosial-politik/Sulhani Hermawan, Masyarakat Jahiliyah : Studi Historis Tenang Karakter Egaliter Hukum Islam, http://74.125.153.132/search? q=cache:_tEhfyVFANMJ:www.ditpertais.net/annualconference/ancon06/makalah/Makal ah%2520Sulhani %2520Hermawan.doc+islam+dan+perubahan+sosial&cd=51&hl=id&ct=clnk&gl=id&cli ent=firefox-a.