TRAVELLING WITH CREATIVITY                      Pembina                Mari Elka Pangestu                   Tim Pengarah  ...
PENGANTAR     Kemampuan mencipta bukan bakat yang hanya dimi­liki oleh beberapa orang saja. Setiap manusia telah diberikem...
Sinar Tenar SangMUSISI KAMAR
“Saya menulis dan merekam                                   musik di kamar saya dan                                memberi...
“Kamar bagi saya adalah  ruang perenungan dan             berkarya.”                                                      ...
MUSISI INDEPENDEN    tanpa tendensi                                         “Musik adalah karya                           ...
“Saya dikenal sebagai                    musisi kamar tidur hanya                       karena saya bermain               ...
Oleh karena itulah, Adithia Sofyan me­nikmati kehidupan bermusiknya dari dalamrumah, tepatnya dari kamar tidur yang justru...
adhitia.doc              sedikit heran karena di dalam album itu hanya terdapat 5              lagu saja. “Kalau cuma 5 la...
adhitia.doc                                          “Ternyata Tuhan                                         tidak sepenuh...
“Saya berusaha keras untuk tetap humble, lalu ber­               pegangan ekstra erat ke kursi, siapa tahu badan tiba­tiba...
saya ini,” tuturnya. Hebatnya, ia membagikannya     secara gratis, bahkan ongkos kirim pun ditang­     gungnya. Kurang dar...
”Hanya karena saya                                           suka menulis musik,                                          ...
Selepas penampilan manisnya di Atmajaya, nama                 Adithia semakin terangkat. Pada Agustus 2008, sepucuk       ...
“Quiet                                     adh                                        itia                                ...
“Quiet Down adalah musik untuk santai atau istirahat,”komentar Adithia. Ia memang lebih nyaman bekerja padamalam hari keti...
Respon publik terha­                                                        dap album pertamanya                          ...
Tantri “Kotak”, Anjie eks “Drive”, Sandy Sandoro, Rossa,      Vidi Aldiano, Kikan eks “Cokelat”, Andy “/Rif”, dan para    ...
adhitia.doc                                 Ini adalah kedua kalinya                             Adithia tampil di panggun...
Jalur musik “berbe­                                                   da” yang diusung Adi­                               ...
“Saya memang pernah berencana                 menjadikan musik sebagai pilihan                 hidup saya, tapi saya rasa ...
ad                                                hit                                                    ia.              ...
Namun, malam di kafe itu mengubah semuanya danbenar­benar menjadi malam yang istimewa bagi Adithia.Gitar yang dimainkan ol...
Sepekan setelah malam itu, Adithia Sofyan langsungikut kursus gitar di Yayasan Musik Indonesia di Solo. Na­mun, ia tidak l...
Begitu pula dengan cara Adi­thia dalam menulis lirik. Naturaldan apa adanya, mengalir begitusaja. Baginya, menulis musik i...
adhitia.doc    Adithia men­cintai gitar, bah­kan tanpa ia tahupenyebabnya.“Saya tidak bisamenjelaskan apaartinya gitar bu­...
masih 4 tahun. Adithia sangat beruntung karena ia meng­alami masa­masa kecil yang indah dan membahagiakan.Ia punya banyak ...
“Saya merasadiingatkan, kalau  mau bermusik    tidak perlu   harus lewatBerklee College.”                                 ...
“Mainkan saja apa yang                     terdengar...”adhitia.doc           Adithia menyadari bahwa karakter bermusiknya...
menyeberang ke Australia untuk menempuh studi di KvB                          Institute of Technology North Sydney dan men...
Pada pertengahan tahun 2002, Adithia mundur dari              Matari untuk menimba lebih banyak pengalaman lain. Se­      ...
Bersama sang istri, ia kemudian mendirikan biro kon­sultan online marketing bernama Virus CoMMuniCations. Pe­kerjaan Adith...
BUKAN siapapun, hanya IBUNDA      “Menangis di     depan Ka’bah  serasa membuat   saya kembali ke     umur 3 tahun.(Saya p...
Orangtua Adithia demokratis, mereka                        tidak membebaninya dengan bermacam                        tuntu...
bergerak yang diberikan oleh orangtuanya membentuk karakter serta             kepribadian Adithia saat dewasa. Ia menjadi ...
adhitia.doc    Meskipun tidak mengkultuskan sosok ter­tentu, namun bukan berarti Adithia tidakmemiliki musisi atau band ya...
adhitia.doc              Bahkan, saat mendengar kabar wafatnya MJ, Adithia              mengaku bersedih, dan ia pun khusu...
“Saya senang berbagi                            musik saya dengan                     orang-orang yang bersedia           ...
Apa saja yang sudah dicemplungkanke dalam labirin tanpa berujung bernamainternet, maka bersiap­siaplah itu telahmenjadi ha...
Beruntung Adithia sedari awal     sudah berprinsip bahwa ia tidak     mengharapkan apa­apa dari musik,     terlebih lagi s...
Tidak hanya menyediakan karya ciptanya untuk diun­duh secara gratis, Adithia bahkan mempersilahkan bagimereka yang ingin m...
“Still everyday I think about you. I know for a fact that’s not your problem.But if you change your mind you’ll find me.  ...
S                                                                  adhitia.doc       etelah merasakan peng­       alaman y...
Supaya bisa benar­benar fokus                                              di dunia musik yang kini dijala­               ...
rentalsoundsystem.com                             Adhitia berjanji, kebiasaannya berbagi tidak akan per­                  ...
Perempuan HANDAL  di Medan DIGITAL
M                enulis dan teknologi adalah dua hal penting                dalam karir dan perjalanan hidup Ollie Salsa­ ...
ollie.doc     “My passion is in book andwriting,” ucap Ollie sekali lagi.Ya, Ollie sangat gemar menu­lis. Tidak hanya di m...
Kisah lahirnya NulisBuku.com pun hampir serupa. Peng­alaman pahit karena naskahnya diabaikan penerbit men­jadikan semangat...
“Aku adalah seorang                                                  B penulis karena itulah                            E ...
ollie.doc    Minat menulis Ollie di jagatonline bermula ketika membacasebuah blog yang menarik danmenginspirasinya. “Jenis...
Di novelnya yang berjudul “Je M’appelle Lintang” (2006) kisahroman percintaan Lintang dalam mengejar cintanya hingga ke Pa...
Selepas lulus dari Universitas Gunadarma pada 2004, Ollie berga­bung dengan Plasmedia­Plexis, sebuah perusahaan IT ternama...
benar­benar berangkat dari nol,” kenang Ollie. Bersama Angelina,mereka bekerja rangkap: sebagai pemilik, CEO, OB, sekaligu...
nukman lutHfie, salah satu pelopor online marketing di Indonesia. Pendiri                                Virtual.Co.iD, Po...
Rentetan pertanyaan yang mem­ banjir ini memicu lahirnya TukuSolu­ tion.com, usaha jasa web developer yang awalnya khusus ...
“Aku ingin memberikan                   NulisBuku.com terlahir berkat kerjakesempatan besar bagi              sama apik an...
Sebenarnya NulisBuku.com berawal          “NulisBuku.com mem-dari ide yang sederhana, tapi sarat            berikan kesemp...
NulisBuku.com juga menjaga komunikasi dengan anggotanyadan membentuk komunitas penulis dengan memanfaatkan mediasosial. Fa...
#StartUpLokal adalah sebuah komunitas untuk para pemilik start up,penikmat dunia digital, developer, investor, dan media u...
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Travelling with Creativity
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Travelling with Creativity

3,189

Published on

Ebook Travelling with Creativity kerjasama antara Twitalk, Indonesia Kreatif, dan Kementerian Perdagangan Indonesia.

Published in: Education, Business
1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
3,189
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
472
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Travelling with Creativity"

  1. 1. TRAVELLING WITH CREATIVITY Pembina Mari Elka Pangestu Tim Pengarah Hesti Indah Kresnarini, Marthin, Dony Edward Penanggung Jawab Cokorda Dewi KoordinaTor Pungkas Riandika Tim Penulis & ediTing Ibnu Azis, Iswara N. Raditya, Oryza Aditama Tim riseTPanca Ardiansyah, Hanna Herlina, Tessi Fathia Adam alih bahasa Hanna Herlina desain samPul & ilusTrasi Rasefour, Silencer8 desain isi & TaTa leTaK Iswara N. Raditya KonTribuTor Twitalk Inc, Indonesia Kreatif Twitalk Inc www.twitalk.co.id @twitalkID Indonesia Kreatif www.indonesiakreatif.net @idkreatif Kementerian Perdagangan Republik Indonesia www.kemendag.go.id
  2. 2. PENGANTAR Kemampuan mencipta bukan bakat yang hanya dimi­liki oleh beberapa orang saja. Setiap manusia telah diberikemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi denganlingkungan sekitarnya. Bila kreativitas adalah keahlianyang bisa dilatih, maka setiap orang punya kesempatanyang sama untuk mengembangkan diri. Buku ini bercerita tentang empat sosok yang telah me­nempuh perjalanan panjang hingga titik produktif dankini terus aktif mengembangkan karya­karya mereka diberbagai saluran dan bidang baru. Prosesnya tidak pernahmudah dan rumusnya pun tidak pernah sama. Namun, ada yang menarik saat kita mengenal Adhi­tia Sofyan, Aulia Halimatussadiah (Ollie Salsabeela), EndaNasution, dan Leonard Theosabrata lebih akrab lagi. Mere­ka mempunyai pola yang sama sebagai creativepreneur.Keempat sosok ini gemar bepergian, baik untuk berlibur,bekerja, atau menuntut ilmu. Dari sana, mereka pulang keIndonesia dan menciptakan berbagai hal baru yang saatini bisa kita nikmati karyanya, kapanpun itu. Proses pen­carian inilah yang melahirkan ide baru melalui jaringan danpemikiran baru yang mereka bina selama bepergian. Mempelajari hikmah dari kisah mereka ternyata tidakmudah karena membutuhkan interaksi untuk memahamisudut pandang yang mendasari kisah suksesnya. Bidangkreatif yang mereka geluti adalah ranah multipersepsiyang takkan pernah habis diulas hikmahnya. Memasukisudut pandang keempat sosok ini untuk memahamibahwa kreativitas bukanlah posisi atau jabatan, melainkanstate of mind. Mari bepergian, lalu biarkan kreativitas mengantar kita.
  3. 3. Sinar Tenar SangMUSISI KAMAR
  4. 4. “Saya menulis dan merekam musik di kamar saya dan memberikannya untuk semua orang secara gratis di internet. Sama sekali tidak ada pen- dapatan dari itu. Saya suka menulis musik dan membagi- kannya untuk semua orang tanpa beban apapun.” adhitia.docM usik menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepas­ kan dari keseharian Adithia Sofyan, meskipun barangkali baru sebatas hobi dan bukan se­ bagai pilihan jalan hidup. Ia memang pernahberupaya merintis karir dari jalur musik, tapi ternyata saatitu Tuhan belum memberi izin. Walaupun begitu, gairahbermusik tidak pernah hilang dari detak nadi kehidupanAdithia Sofyan. Ia terus mencipta rangkaian nada sederha­na meskipun itu dilakoninya sembari meringkuk di dalamkamar dan sesekali dinyanyikan saat di kamar mandi. Bagi Adithia, kamar ibarat ruang mimpi sekaligus bi­lik studio sebagai tempat di mana ia mengejawantahkansemua yang diperolehnya. “Kamar sering diartikan seba­gai tempat untuk beristirahat, melepas penat, dan meng­urung diri. Tidak demikian halnya bagi saya, kamar bagisaya adalah ruang perenungan dan berkarya,” tuturnya.Dari dalam kamar pula, ia “memasarkan” lagu­lagunya.6
  5. 5. “Kamar bagi saya adalah ruang perenungan dan berkarya.” adhitia.doc Berbekal gitar, seperangkat alat rekam sederhana,komputer lipat yang tersambung dengan internet, danperabotan pendukung lainnya, Adithia mulai dikenal se­bagai musisi berkarakter. Julukan musisi kamar pun lantaslekat pada dirinya. Namun, ia menegaskan bahwa musisikamar bukanlah suatu profesi, apalagi dijadikan salahsatu jenis aliran musik. “Saya dikenal sebagai musisi kamartidur hanya karena saya bermain musik di kamar tidursaja,” jelasnya. Proses kreatif yang dilakoni Adithia Sofyan menda­pat respon positif dari publik. Lagu­lagu ciptaannya, yangdibagikan gratis lewat internet, memperoleh sambutanmeriah. Alhasil, Adithia terancam kondang berkat apresi­asi dari para penikmat musiknya. Namanya pun beranjak seja­jar dengan para musisi Indonesia yang memang mengadunasib di jalur nada. Tak jarang Adithia tampil sepanggungdengan para musisi itu. Berbagai penghargaan musik punsukses diraihnya. Boleh jadi, Adithia Sofyan adalah salahsatu musisi pertama di Indonesia yang meniti karir profe­sional dari dalam kamar, dan itu berhasil! 7
  6. 6. MUSISI INDEPENDEN tanpa tendensi “Musik adalah karya yang bernada.” adhitia.docS emua bermula dari kerinduannya menulis lagu. Pada medio tahun 2007 itu, Adithia Sofyan mengumpulkan kembali peralatan rekam yang dulu pernah diguna­ kannya. Cukup lama ia tidak lagi menyikapi musikdengan serius. Seingat Adithia, terakhir kali ia merekamlagu adalah pada tahun 1999, dan 8 tahun kemudian, iabaru menyentuh lagi alat­alat itu. Namun, ia sama sekalitidak ingin serius, modal dasarnya hanya gitar bolong dansuara yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Adithia Sofyan sepenuhnya sadar bahwa ia adalah ti­pikal manusia rumahan. Oleh sebab itu, ia belum berpikiranmembentuk band dalam menyalurkan jiwa bermusiknya.Sempat terlintas di benaknya untuk menyewa studio pro­fesional lengkap dengan sound engineer berpengalaman,8
  7. 7. “Saya dikenal sebagai musisi kamar tidur hanya karena saya bermain musik di kamar tidur saja.”akan tetapi niat itu tidak pernah ia lakukan. Ia tidak mauuntuk meninggalkan kenyamanan bersama keluarga ter­cinta di rumahnya yang terletak di Taman Rasuna, JakartaSelatan. Menurutnya, rekaman di rumah pun ia sudahefektif. “Saya pikir, rekaman di rumah saja bisa mendapat­kan hasil yang cukup listenable,” tutur penyuka kerupukini. adhitia.doc 9
  8. 8. Oleh karena itulah, Adithia Sofyan me­nikmati kehidupan bermusiknya dari dalamrumah, tepatnya dari kamar tidur yang justruberfungsi sebagai laboratorium proses kreatif­nya. Ditemani gitar dan secangkir kopi hangat,Adithia Sofyan mulai menjelma menjadi mu­sisi yang patut diperhitungkan. Padahal, ke­tika pertama kali mencipta dan merekam hasilkaryanya, lagu­lagu itu hanya untuk simpananpribadi atau diberikan kepada teman­teman Andre Harihandoyodekatnya. “Saya tidak punya rencana apa­apa adalah seorang musisiterhadap lagu­lagu ini,” akunya. Indonesia yang ber- sama 4 musisi muda Di saat permulaan itu, Adithia Sofyan ber­ lainnya membentukhasil mencipta 5 lagu. Ia menganggap, apa grup band The Sonicyang telah ia hasilkan itu hanya sekadar seba­ People pada 2006.gai proyek hobi. Ia memang pernah punya Andre Harihandoyokeinginan menjadi seorang musisi betulan, berperan sebagai gi-namun karena sesuatu dan lain hal, ia meng­ taris sekaligus vokalis.endapkan sejenak impiannya itu. Mereka mengusung Hingga pada suatu ketika, Adithia mene­ jenis musik yang menggabungkanrima kiriman album dari Andre Harihandoyo, country, blues, dankawannya yang juga seorang musisi. Adithia jazz. Selama kiprahnya, mereka su- dah melawat ke beberapa negara dan telah meng- hasilkan 3 album, yaitu: Room Session (2007), Two Sides For Every Story (2008), dan Good For The Soul (2009). sonicpeoplemusic.com10
  9. 9. adhitia.doc sedikit heran karena di dalam album itu hanya terdapat 5 lagu saja. “Kalau cuma 5 lagu sih aku juga punya,” pikir­ nya. Album Andre Harihandoyo itu memang berformat mini album atau Extended Play (EP). Dari situlah Adithia Sofyan mulai terpacu untuk untuk melakukan hal yang sama, meskipun masih sebatas main­ main. Malam itu juga, ia merancang desain cover untuk rencana album mininya itu. Lalu, ia menggandakan 5 lagu­ nya dan dikemas dalam bentuk kepingan CD. Namun, ia hanya ingin membagikan mini albumnya itu untuk kelu­ arga, kawan­kawan dekat, dan rekan­rekan sekantornya saja. Setelah cukup berbagi, masih tersisa CD sebanyak 70 keping yang kemudian disimpan di sebuah ruang gelap yang jarang dijamahnya. Waktu terus bergulir. Adithia Sofyan mulai tergoda untuk mengirimkan EP­nya ke radio untuk diputar jika memang ternyata layak. Tanpa pikiran aneh­aneh, ia mengi­ rimkan 2 lagunya ke chart NuBuzz di radio Prambors FM. Chart NuBuzz adalah sebuah program siaran di radio Prambors FM yang menerima lagu-lagu dari siapa saja untuk disiarkan secara on air apabila layak dan terpilih. 11
  10. 10. adhitia.doc “Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya!” Terus terang, apa yang dilakukannya itu hanya sebatas iseng saja, dan ia tidak berharap banyak dari itu. “Siapa yang mau mendengarkan chart indie selain orang yang mengirim demo itu sendiri?” pikirnya. Tidak disangka, gayung ternyata bersambut, 2 lagu­ nya, yakni “Adelaide Sky” dan “Memilihmu”, dikabarkan akan diputar di Prambors. Selain itu, kedua lagu itu akan dipakai untuk Ring Back Tone (RBT). Ia pun sedikit kaget karena Prambors juga menawari sejumlah kontrak sebe­ lum lagu­lagunya diperdengarkan di udara. Di satu sisi, Adithia memang hanya ingin menempat­ kan musik sebatas kesukaan dalam kesehariannya saja. Namun, di sisi lain, kesempatan ini adalah peluang bagi­ nya untuk merangkak ke lingkup yang lebih luas kendati ia tidak pernah mengharapkan apapun dari situ. Meski­ pun sedikit tak yakin, Adithia akhirnya mengiyakan ta­ waran menggiurkan dari Prambors itu. Pertaruhan nasib pun dimulai, lagu Adithia dilempar ke ajang Chart NuBuzz. “Adelaide Sky” start dari posisi ke­8, dan mulai beranjak naik dalam beberapa pekan, dari posisi ke­6, kemudian ke­4. Tidak disangka­sangka, “Adelaide Sky” sukses menduduki posisi puncak. “Senang sekali rasanya! Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya!” ujarnya girang. 12
  11. 11. “Saya berusaha keras untuk tetap humble, lalu ber­ pegangan ekstra erat ke kursi, siapa tahu badan tiba­tiba melayang!” tambahnya. Tidak hanya itu, lagu “Memilih­ mu” masuk ke dalam album kompilasi NuBuzz 1.1 yang berisi lagu­lagu andalan Chart NuBuzz. Selain lagu karya Adithia Sofyan, lagu milik Sind3ntosca dan Drew juga ter­ himpun di album ini. Karya Adithia yang berkibar di Nubuzz dan juga mela­ lui siaran radio lainnya tak pelak menuai apresiasi. Salah satunya adalah lewat jejaring sosial MySpace di mana ba­ nyak orang memberikan kata selamat kepadanya. Adithia lantas teringat mini albumnya yang masih tersisa 70 ke­ ping itu. “Saya pasang gambar 70 keping EP saya di halaman MySpace. Saya mempersilahkan setiap orang yang berminat untuk meninggalkan alamat mereka untuk saya kirimi EPadhitia.doc “Berbagi gratis ternyata bisa sangat menyenangkan.” 13
  12. 12. saya ini,” tuturnya. Hebatnya, ia membagikannya secara gratis, bahkan ongkos kirim pun ditang­ gungnya. Kurang dari 2 bulan, mini albumnya laris. “Ternyata bagi­bagi gratis bisa sangat menyenang­ kan,” ujarnya bahagia. Sekali lagi, Adithia Sofyan “terpaksa” terjun ke dunia musik hanya demi kesenangan semata, sama sekali tidak ada kepentingan ekonomi, apalagi bermimpi ingin menjadi pesohor. ”Hanya karena saya suka menulis musik, bukan selalu berarti saya ingin menjadi terkenal,” demikian prinsip yang se­ lalu dianut Adithia Sofyan. adhitia.doc14
  13. 13. ”Hanya karena saya suka menulis musik, bukan selalu berarti saya ingin menjadi terkenal.”adhitia.doc Nama Adithia Sofyan sebagai musisi kamar yang suka berbagi ternyata sudah terlanjur dikenal. Tanggal 5 April 2008 mungkin menjadi hari yang paling mendebarkan dalam hidup Adithia. Pada hari itu, ia “dipaksa” keluar kamar, diundang tampil live dalam acara Art Fest di salah satu kampus terkemuka di ibukota: Universitas Atmajaya. Terang saja Adithia agak sedikit demam panggung. Ter­ akhir kali ia tampil bermusik di depan publik adalah pada tahun 2000, dan kini ia harus menghadapi situasi serupa di usia yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi. “Halo semua, gue Adhitia Sofyan, musisi kamar, agak grogi juga karena hari ini harus main di luar kamar,” sa­ panya kepada hadirin di Atmajaya, sedikit gugup. Pada penampilan perdananya di luar kamar itu, Adithia mem­ bawakan 4 lagu. Ternyata mereka suka, bahkan meminta lebih. “Sayang, saya cuma benar­benar prepare 4 lagu,” jelas Adithia mengenang saat­saat monumental itu. 15
  14. 14. Selepas penampilan manisnya di Atmajaya, nama Adithia semakin terangkat. Pada Agustus 2008, sepucuk pesan masuk ke inbox akun MySpace miliknya. Pesan itu ternyata dari Tyas A. Moein, produser film “Kambing Jan­ tan: The Movie”. Tyas menyatakan sangat tertarik dengan lagu “Adelaide Sky” untuk dijadikan salah satu lagu yang akan dimasukkan ke dalam filmnya. “Judul dan liriknya pas sekali dengan isi film ini,” ujar Tyas dalam pesannya. Adithia serasa mendapat durian runtuh. Salah satu lagu­ nya akan ikut ambil bagian dalam film yang diperankan langsung oleh Raditya Dika itu. “Kambing Jantan: The Movie” adalah film Indonesia yang diang- kat dari blog dan novel Raditya Dika. Film yang dirilis pada 5 Maret 2009 dan disutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini menampil-adhitia.doc kan Raditya Dika sebagai pemeran utama. 16
  15. 15. “Quiet adh itia .do c Downadalah pintu masuk saya kem- bali kemusik.” Sebenarnya, di waktu yang hampir bersamaan, Adithia sedang berusaha menyusun full album perdananya. Pihak NuBuzz pernah tertarik untuk memproduksi lagu­lagunya dalam format full album. Untuk mengisi komposisi album ini, ada 6 lagu baru yang akan digabungkan dengan 5 lagu yang telah diciptakannya sebelumnya. Ketika materi album sudah siap, ternyata NuBuzz, yang saat itu baru saja melepaskan diri dari Prambors, belum siap membuat full album. “Sebetulnya saya hanya menggantungkan ke NuBuzz untuk urusan full album ini,” keluhnya. Kendati demikian, Adithia memutuskan untuk jalan terus. Di bawah produksi sendiri, album perdana bertajuk Quiet Down: Bedroom Recordings Vol. 1 berhasil dilun­ curkan. Hebatnya lagi, proses pembuatan album itu dilaku­ kannya sendiri, dari menciptakan lagu, rekaman, mende­ sain sampul album, hingga memasarkan albumnya. Selain disebarkan gratis via internet, Quiet Down juga tersedia di toko­toko kaset dalam bentuk CD. 17
  16. 16. “Quiet Down adalah musik untuk santai atau istirahat,”komentar Adithia. Ia memang lebih nyaman bekerja padamalam hari ketika suasana tenang. “Jika dalam kondisitenang, kita mungkin akan mendengar atau mendapatsesuatu dengan lebih jelas,” tutur Adithia. Quiet Downkian menegaskan identitasnya sebagai musisi. Ia mulai ber­gairah lagi untuk melanjutkan mimpi yang sempat diku­burnya dalam­dalam. “Album ini adalah pintu masuk sayakembali ke musik,” tegasnya. Sinyal tenar Quiet Down ternyata terpancar sampai keJepang. Album ini dipasarkan secara resmi di Jepang olehsebuah label indie bernama Production Dessinee. Seorangpenikmat musik dari Jepang, Horiuchi Takashi, memberiapresiasi terhadap lagu­lagu Adithia Sofyan. “Sudah lama saya tak pernah menyimak album akus­tik senikmat ini,” tutur Takashi lewat tulisannya. “Sayatelah berprasangka buruk terhadap Indonesia. Saya tidakmengenal Adhitia Sofyan secara detil, tapi saya pernahdengar bahwa album (Quiet Down) ini direkam di kamar­nya, memadukan gitar dan nyanyian, menghasilkan am­bience yang merilekskan, hangat menenangkan persisseperti matahari, apalagi bila didengarkan oleh orangsakit yang sedang beristirahat di atas tempat tidur rumahsakit.” adhitia.doc18
  17. 17. Respon publik terha­ dap album pertamanya yang menggembirakan memacu Adithia kem­ bali masuk kamar untuk menggarap album lagi. Kali ini bersama label De­ majors, Adithia merilis album keduanya: Forget Your Plans, Bedroom Recor­ dings Vol. 2. Sedikit berbeda de­ ngan album sebelumnya yang hampir semua la­ gunya bercerita tentangadhitia.doc/repro relationship, tema untuk lagu­lagu di album kedua ini sedikit lebih beragam, ada yang berbicara tentang kota, kematian, dan tentu saja soal percintaan. Selain itu, atas saran seorang teman dari Demajors yang menilai lagu­lagu di Quiet Down terlalu seragam, maka di Forget Your Plans Adithia menambahkan beberapa ornamen alat musik seperti pianika, kulintang, xilophone, electric guitar, dan strings, agar album ini men­ jadi sedikit lebih riuh. Untuk distribusi, Adithia Harmoni adalah sebuah juga membuat album dalam bentuk fisik (CD) acara konser musik di supaya lebih resmi, selain tentu saja tetap kon­ Indonesia yang dikemas sisten menyediakan lagu­lagunya diunduh tan­ dalam nuansa orkestra pa bayar di internet. nan megah. Harmoni Sejak peluncuran Quiet Down hingga For­ yang disiarkan stasiun televisi nasional SCTV get Your Plans, Adithia sudah banyak tampil di sejak awal tahun 2010 panggung, baik on air maupun off air di berba­ menjadi perhelatan yang gai tempat di Indonesia. Tidak jarang ia tampil cukup bergengsi karena sepanggung, atau paling tidak di acara yang musiknya diaransemen sama, dengan para musisi nasional. oleh para komposer kenamaan Indonesia, Pada 20 Agustus 2010, Adithia mendapat seperti Andi Rianto dan kehormatan untuk ambil bagian dalam acara Purwacaraka. Harmoni di SCTV, di mana ia tampil bersama 19
  18. 18. Tantri “Kotak”, Anjie eks “Drive”, Sandy Sandoro, Rossa, Vidi Aldiano, Kikan eks “Cokelat”, Andy “/Rif”, dan para musisi papan atas lainnya. Selain itu, dalam konser “A Flava As You Like It” yang digelar di 4 kota besar di Indonesia pada pertengahan ta­ hun 2011, nama Adithia Sofyan sejajar dengan band atau musisi top Indonesia seperti Naif, Ipang, Mike’s Aparte­ ment, Pure Saturday, Ernest “Cokelat”, J­Rocks, dan masih banyak yang lainnya. Dari kamar pula, Adithia Sofyan bisa melenggang ke Asia. Albumnya yang sudah resmi diedarkan di Jepang mulai merambah ke negara­negara Asia lainnya. Tidak ha­ nya itu, ia pun didapuk untuk tampil di Singapura dalam pergelaran akbar Singapore’s Mosaic Music Festival. Adithia, bersama The Trees and The Wild dan Sarasvati, datang dari Indonesia dalam festival musik internasional yang di­ langsungkan di esplanaDe-theatres on the Bay pada tanggal 16­17 Maret 2011 itu. adhitia.doc Singapore’s Mosaic Music Festival merupa- Esplanade-Theatres on the Bay adalah pusat kan perhelatan musisi independen tahunan kesenian terbesar di Singapura, mencakupakbar di Singapura yang mengundang musisi seluruh cabang seni: musik, tari, teater, hingga terpilih dari negara-negara Asia lainnya. seni visual, yang fokus pada budaya Asia. 20
  19. 19. adhitia.doc Ini adalah kedua kalinya Adithia tampil di panggung megah Esplanade. Sebelum­ nya, tanggal 16­18 Juli 2010, ia manggung di tempat yang sama dalam perhelatan musik bertajuk Rocking the Region. Untuk Singapore’s Mosaic Music Festival, Adithia berang­ kat ke Negeri Singa lebih awal, yakni pada 13 Maret 2011. Ia datang cepat kare­ na harus berlatih bersama biduan tuan rumah, Ling Kai, dan Mia Palencia dari Malay­ sia, yang direncanakan tam­ pil bersamanya. Adithia Sofyan memang akan tampil penuh selama 2 hari. Pada 16 Maret 2011,ia berduet dengan Ling Kai dan Mia Palencia. Lalu dihari kedua, ia bermain bersama sesama musisi Indonesia,Sarasvati, selain tampil solo di atas pentas. 21
  20. 20. Jalur musik “berbe­ da” yang diusung Adi­ thia Sofyan membuat­ nya untuk melompat lebih tinggi. Ia diganjar penghargaan Indone­ sia Cutting Edge Musicadhitia.doc Awards (ICEMA) 2010. Dua kategori sukses di­ rengkuh Adithia, yakni Favorite Singer­Songwriter dan Favorite Solo Artist. Raihan ini semakin menegaskan kualitas Adithia di belantika musik Indonesia. Di ajang iCeMa 2010, terdapat nama­nama beken yang memperoleh penghargaan untuk masing­masing ka­ tegori. Sebut saja Maliq N D’Essential, Superman is Dead, Efek Rumah Kaca, The Sigit, Jiung, Barry Likumahuwa, Goodnight Electric, Gugun and Blues Shelter, Killing Me Inside, J Flow, DJ Riri Mestika, Tompi, Shaggy Dog, PAS Band, hingga sang legenda Fariz RM yang memperoleh Lifetime Achivement. Begitulah, cita­cita tertunda Adithia Sofyan untuk menjadi seorang musisi sejati mulai terwujud. Namanya pun sejajar dengan sederet jagoan musik Indonesia. Adi­ thia pantas berbangga hati karena ia dinilai ICEMA meru- pakan ajang mampu berbareng ber­ penghargaan gerak bersama para mu­ pertama di sisi kelas wahid Indone­ Indonesia sia. Dari ruang mimpi di kepada para sudut kamarnya, Adithia musisi yang Sof yan menapak karir konsisten di mu sik menuju jalan yang jalur non- terancam terang. mainstream. ICEMA diberi- kan untuk- mereka yang bersemangat pembaha- ruan dengan bentuk-bentuk ekspresi baru. lemahsinyal.blogspot.com 22
  21. 21. “Saya memang pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup saya, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan.” P ada suatu malam, Adithia kecil diajak orangtua­ nya untuk makan bersama di sebuah kafe di Solo. Kebetulan, malam itu sedang ada sajian live music di kafe tersebut. Kelompok musik yang tampil ada­ lah sebuah band top 40. Saat hendak menikmati hidangan yang tersedia, tiba­tiba Adithia terhenyak. Grup band itu mulai beraksi dengan memainkan salah satu hits Michael Jackson, raja musik pop yang memang sedang kondang di awal dekade 1990­an itu. >>>MEMBANGKITKAN MIMPI YANG TERKUBUR 23 adhitia.doc
  22. 22. ad hit ia. do c Adithia terkesima saat mendengar cabikan gitar yangmemainkan intro tembang Black or White. Ia terbengongdan berdecak kagum melihat permainan sang gitaris itu.Tanpa disadari, detik­detik itulah yang menjadi momenpencerahan bagi Adithia Sofyan, bahwa ia telah jatuhcinta kepada makhluk cantik nan merdu yang bernamagitar. Ia bertekad untuk lebih mengenal gitar lebih dekat.Sebenarnya ia sudah punya alat musik petik itu di rumah.Namun, selama ini, gitar itu hanya dimainkan sekenanyasaja, atau paling tidak untuk action semata. Di depan cer­min, ia sering bergaya bak gitaris handal, menimang gitartanpa irama sambil mendengarkan lagu­lagu kesukaan­nya. Mulanya, Adithia memang tidak begitu antusias me­nyambut kehadiran gitar pemberian ibundanya itu. Bukankarena tak suka, melainkan karena ia sendiri bingungbagaimana cara memainkan perangkat musik genjrengtersebut. Alih­alih memetik senar gitar dan menghasilkanirama lagu sederhana, untuk sekadar menyelaraskan nada­nada saja ia masih kesulitan karena jari­jari mungilnyasama sekali belum terlatih.24
  23. 23. Namun, malam di kafe itu mengubah semuanya danbenar­benar menjadi malam yang istimewa bagi Adithia.Gitar yang dimainkan oleh sang gitaris yang tampil malamitu berbeda dengan gitar miliknya. “Itu elektrik gitar,dengan suara distorsinya yang heboh, dimainkan live didepan mata dan telinga saya!” seru Adithia mengenangapa yang dirasakannya di malam bersejarah itu. Raungan gitar yang membahana karena terhubungdengan arus listrik itu seolah­olah menyengat kesadaran­nya, bahwa sepertinya ia telah menemukan tujuan hidupyang sesungguhnya. Tanpa pikir panjang, ia berkata man­tap kepada sang ibunda, “Mama, aku ingin les gitar elek­trik!” “Saya tidak bisa men- jelaskan apa artinya gitar buat saya. Gitar adalah saya!” 25 adhitia.doc
  24. 24. Sepekan setelah malam itu, Adithia Sofyan langsungikut kursus gitar di Yayasan Musik Indonesia di Solo. Na­mun, ia tidak lama belajar di tempat les itu. “Setelah se­tahun, saya merasa sudah cukup ilmu, setidaknya buatgenjrang­genjreng di kamar sendiri,” ujarnya. Permainan gitar Adithia memang terkesan naturaldan apa adanya. Ia tidak memaksakan diri untuk mema­hami sesuatu yang memang di luar jangkauannya. Bahkan,Adithia sendiri mengakui bahwa tidak semua chord dalamlagu­lagunya yang benar­benar dime ngerti olehnya. Ketika banyak di antara penikmat musiknya yang me­minta chord gitar lagu­lagunya, dijawabnya dengan jujurbahwa ia sendiri tidak tahu nama chord­chord itu. Ia mereka­reka sendiri seperti apa bunyinya, asal terdengar nyamandi telinga. “Saya selalu membiarkan jari­jari saya menelusuri neckgitar dan membentuk formasi­formasi seenak saya saja. itia .do c hBentuk­bentuk chord yang cocok di kuping lalu sering saya admainkan, sampai akhirnya saya terbiasa dengannya,” aku­nya polos. “Menulis musik itu sepert i menulis buku harian...”26
  25. 25. Begitu pula dengan cara Adi­thia dalam menulis lirik. Naturaldan apa adanya, mengalir begitusaja. Baginya, menulis musik ibaratmenulis buku harian di mana iaharus menjaga serpihan emosi danmenyimpannya baik­baik di dalamhati. “Seperti menulis diary, tidakada yang mengatur, tidak ada yangbilang jelek, bagus, salah, dan se­bagainya,” katanya. Ia tidak per­nah menghafal lirik lagu yang telahditulisnya. Menurutnya, lirik lagubeda dengan rumus kimia. “Jangandihafal, dibiasakan biar kenal dandinikmati,” pesannya. Bahkan tak sekadar itu, menu­rut Adithia, menulis musik adalahhal yang sangat pribadi dan ter­kadang hampir seperti sesuatuyang spiritual. “Musik adalah karyayang bernada,” demikian definisimusik menuru Adithia. Ia menulis adhitia.docmusik hanya menuruti mood. Ia mengaku tidak menggantungkaninsipirasi dari manapun. Musik datang semaunya, ia tinggal mene­ rima yang datang itu. Adithia punya modal berharga, yakni bahwa ia sangat mencintai gi­ tar. Ya, Adithia adalah seorang satria bergitar, dan ia punya alasan je­ las mengenai itu. “Gitar akustik adalah kenda­ raan paling simple untuk membuat lagu, terde­ ngar lebih spontan, ju­ jur, dan apa adanya,” jelasnya. 27 adhitia.doc
  26. 26. adhitia.doc Adithia men­cintai gitar, bah­kan tanpa ia tahupenyebabnya.“Saya tidak bisamenjelaskan apaartinya gitar bu­at saya. Gitar adalah saya!” katanya lugas. Tidak bisa dipungkiri, kecintaannya pada gitar bermuasal dari“malam pencerahan” yang terjadi di kafe saat ia remaja dulu. Sejakitulah, Adithia menetapkan cita­citanya: ia ingin menjadi musisi,Apalagi menyanyi adalah salah satu hobinya sejak kecil di mana iasudah senang bersenandung sambil mendengarkan lagu­lagu yangdiputar di radio. Terkadang, Adhit kecil iseng­iseng merekam suaranya sendiridengan tape recorder. Saat itu, ia paling suka menyanyikan lagu­lagu milik Bon Jovi, atau tembang­tembang musisi Indonesia yangsedang populer kala itu, Ikang Fawzi atau Farid Harja misalnya. Ru­mah orangtuanya yang berlokasi di Perumahan Fajar Indah Solopun tidak pernah sepi dari tingkah polah Adhit kecil yang enerjik. Adithia Sofyan tumbuh dan dibesarkan di Surakarta, Jawa Tengah,meskipun ia bukan anak asli Solo. Adithia dilahirkan di titik sen­trum Tanah Sunda, yaitu di Bandung, pada 6 November 1977. Iadan keluarga pindah ke Solo pada tahun 1981, atau ketika usianya 28
  27. 27. masih 4 tahun. Adithia sangat beruntung karena ia meng­alami masa­masa kecil yang indah dan membahagiakan.Ia punya banyak teman sepermainan di solo. Ia pun cukupdekat dengan ayahnya, dan terutama dengan ibundanya. Ia menikmati masa kecil sekaligus usia mudanya dipusat peradaban Jawa itu sejak usia Taman Kanak­kanakhingga SMA. Adithia bersekolah di TK Taman Putra Solo,lalu di SD Negeri Bromantakan 56 Solo. Saat menginjakremaja, ia menempuh pendidikan menengah pertama di mahdimuhammad.docSMP Negeri 1 Solo sebelum melanjutkan ke jenjang yanglebih tinggi, yakni di SMA Negeri 4 Solo. Masa studi di SMA Negeri 4 Solo ternyata tidak iahabiskan. Di tahun ketiga, ia pindah sekolah ke AmerikaSerikat. Di negeri Paman Sam inilah naluri bermusiknyasemakin menguat, ia ingin mewujudkan cita­citanya seba­gai musisi. Tahun 1996, atau ketika usianya menginjak 19tahun, ia mencoba peruntungan dengan mendaftarkandiri ke sekolah musik Berklee College of Music di Boston. 29
  28. 28. “Saya merasadiingatkan, kalau mau bermusik tidak perlu harus lewatBerklee College.” nisa mak mur. doc Sayang, ia gagal diterima menjadi siswa di sana karena pengetahuan musiknya dinilai belum memenuhi syarat. Adithia sedikit terpukul menerima kenyata­ an itu, ia ke Amerika memang bertujuan untuk serius di bidang musik. “Memang saya pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan,” kenangnya mengingat peristiwa di Bos­ ton. Namun ia tetap lapang dada. Kelak, keikhlasan dan kesabarannya akan membuahkan hasil. Kuburan impiannya ternya­ ta masih bisa dibangkitkan. “Saya merasa di­ ingatkan, kalau mau bermusik tidak perlu harus Berklee College lewat Berklee College. Oleh Tuhan, saya diminta of musiC adalah menunggu sampai tahun 2007 di mana saya bisa sebuah sekolah membuat lagu yang tidak memalukan, cukup tinggi musik baik, dan layak dengar,” ungkapnya. terkemuka di Boston, Amerika Serikat, yang didirikan oleh Lawrence Berk pada lebih dari setengah abad yang lampau. 30
  29. 29. “Mainkan saja apa yang terdengar...”adhitia.doc Adithia menyadari bahwa karakter bermusiknya sela­ ma ini memang tidak berlandaskan rumus­rumus teori. Ia lebih suka langsung praktek daripada harus mempela­ jari tetek bengek teori. Ia mengaku tidak pernah terpaku pada chord. “Mainkan saja apa yang terdengar,” begitu resepnya. Saat kursus di Yayasan Musik Indonesia di Solo, misalnya, ia sudah “menolak” hal­hal yang berbau teori. Maka tidak heran jika permainan gitar Adithia tidak me­ ngandung chord­chord yang justru bisa memusingkan. Definisi kreativitas bagi Adithia adalah kebiasaan, jadi tidak usah terlalu pusing menjaga kreativitas itu. “Kalau sudah menjadi kebiasaan tidak usah dijaga, sudah nature­ nya,” ungkap penyuka nasi rawon dan nasi liwet ini. Play by ear, demikian Adithia menyebut metode bermusiknya. Pemahaman seperti ini masih dianutnya hingga sekarang, dan pada akhirnya memang membuahkan hasil positif kendati ia harus menunggu cukup lama dan nyaris meng­ ubur mimpinya untuk berkecimpung di belantika musik. Terpental dari ujian masuk di Berklee College of Music di Boston membuat Adithia Sofyan sejenak mengalihkan konsentrasinya ke ranah desain grafis. Adhitia memutuskan >>> 31
  30. 30. menyeberang ke Australia untuk menempuh studi di KvB Institute of Technology North Sydney dan mengambil ju­ rusan Graphic Design and Multimedia. Setelah lulus tahun 1999, ia langsung pulang kampung ke Solo. Di Kota Bengawan, gairah bermusiknya kembali mun­ cul. Bersama sejumlah karibnya, Adhitia membentuk band dan sering diundang ke acara­acara kampus. Tak hanya itu, ia dan kawan­kawan juga membuat demo album yang disebarkan ke berbagai stasiun radio di Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Karya mereka mendapat respon positif. Tawaran manggung pun semakin banyak.priyadiimannurcahyo.doc adhitia.doc Di tengah kesenangannya menikmati hidup sebagai musisi, ternyata Adithia dihadapkan pada pilihan lain: ia mendapat panggilan ke Jakarta untuk bekerja sebagai de­ sainer grafis. Pada November 2000, ia memutuskan untuk melangkah ke seberang menuju ibukota dan bergabung dengan perusahaan Matari Advertising. Jauh­jauh sekolah desain hingga ke Negeri Kanguru ternyata tidak sia­sia. Tidak sampai 2 tahun bergelut di ranah desain grafis, ia sudah mencapai level Junior Art Director. 32
  31. 31. Pada pertengahan tahun 2002, Adithia mundur dari Matari untuk menimba lebih banyak pengalaman lain. Se­ lama 6 bulan, ia menetap di Singapura untuk mengikuti portfolio course di Singapore Institute of Advertising dan selesai akhir tahun itu juga. Ia juga mendapat kesempatan untuk magang di biro iklan Lowe Singapore. Sebenarnya Adithia ingin mencoba bekerja di Singa­ pura, “... namun ternyata bekal saya dari Matari belum cukup untuk menaklukkan negeri jiran yang satu ini,” ungkapnya. Kebetulan, di waktu yang sama, ia menda­ pat tawaran dari biro iklan JWT di Jakarta untuk menjadi Art Director. Maka, pada Januari 2003, ia pun kembali ke Jakarta. Segera setelah itu, Adithia menikahi perempuan yang dicintainya, Iim Fahima Jachja.adhitia.doc Selama di JWT, Adithia menorehkan pres­ dd.doc tasi gemilang. Nyaris tiap tahun ia meraih crea­ tive award, seperti Citra Pariwara atau ADOI Awards, yang di antaranya diraih berkat kerja tim. Ia bertahan di JWT hingga mencapai po­ sisi sebagai Senior Art Director dan mundur pada September 2005, “Saya meninggalkan hiruk­ pikuk panggung periklanan nasional dan hijrah ke industri online advertising,” tuturnya. 33
  32. 32. Bersama sang istri, ia kemudian mendirikan biro kon­sultan online marketing bernama Virus CoMMuniCations. Pe­kerjaan Adithia sebenarnya masih sama dengan semasa didunia iklan, yakni membuat ide­ide kreatif untuk kampa­nye iklan klien, “Namun, ada satu hal fundamental yangsangat berbeda: medan tempur saya adalah internet,” ka­tanya. virtual.co.id Virus Communications adalah biro kon- sultan di bidang online marketing yang kemudian menjadi divisi baru di perusa- haan yang sudah mapan sebelumnya, Virtual Consulting, yang digawangi oleh Nukman Lutfie. Begitulah, internet menjadi pegangan baru Adithiadalam perjalanan karirnya hingga saat ini. Berkat inter­net pula ia dapat kembali menemukan atensinya di jalurmusik yang sempat terlupakan. Kini, setelah secara me­nyerahkan kepada sang istri untuk mengendalikan bisnismereka, Adithia bisa lebih berkonsentrasi untuk mem­bangkitkan mimpinya yang terkubur meskipun tujuanyang dikejarnya bukanlah soal materi atau ketenaran se­mata. Atas nama cinta, Adithia Sofyan kembali ke duniamusik, dunia yang selalu ada di dalam hari dan hatinya.34
  33. 33. BUKAN siapapun, hanya IBUNDA “Menangis di depan Ka’bah serasa membuat saya kembali ke umur 3 tahun.(Saya pernah) me- adhitia.doc rengek di pang- kuan ibu karena sakit sewaktu K terjatuh, atau ebiasaan Adithia Sofyan sedari kecil yang doyan berdendang lan­ karena rindu saja tang sepertinya tidak luput dari pada ibu kenapa perhatian sang ibunda. Sang ma­ ma tentunya punya alasan mengapa mem­beliau lama sekali berikan gitar untuk anak tercintanya, saat Adhit masih berusia 14 tahun. pulang dari kan- Mengapa gitar? Mengapa bukan alattor, sementara ibu musik atau jenis barang lainnya? Tidak hanya tersenyum perlu dijawab, karena bagaimanapun juga, seorang ibu adalah orang yang pa­ sambil mengelus- ling mengerti tentang anaknya. Berkat naluri jitu ibunda, Adithia menjadi manu­ elus punggung sia yang suka bermusik, dan kini dikenal saya.” sebagai sosok musisi unik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bukan tidak mungkin Adithia menempatkan sang ibunda sebagai sosok terhebat dalam hidupnya. Pelukan sang ibunda ibarat ruang yang menyamankan bagi Adithia. Saat bibirnya mengaduh karena terjatuh dan terluka semasa kecil, misalnya, ia akan menangis sem­ bari menahan rasa sakit di pangkuan sang ibunda. Sementara sang ibu dengan senyum sabar berusaha memberikan ketenangan sambil mengelus­elus punggung mungilnya. Saking sayangnya kepada sang ibunda, Adithia mengaku tidak pernah malu mengumbar air mata ke­ tika ia merasa sang ibunda lama sekali pulang dari tempat kerja se­ masa ia masih bocah dulu. 35
  34. 34. Orangtua Adithia demokratis, mereka tidak membebaninya dengan bermacam tuntutan. Selama berjalan di arah yang benar, ibu dan ayah Adithia enggan tu­ rut campur meskipun kewajiban orangtua untuk membimbing dan mengingatkan tidak pernah ditinggalkan. Jalan menuju masa depan diserahkanadhitia.doc/repro sepenuhnya kepada sang anak. Terbukti,jalur hidup yang dipilih Adithia bukan jalan umum yang dilewatibanyak orang, bukan bidang­bidang yang biasanya dikehendaki,bahkan tak jarang dipaksakan, oleh kebanyakan orangtua kepa­da anak­anaknya. Dunia seni bukan sektor yang “menjanjikan” bagi sebagianbesar orang. Namun, Adithia dengan sadar memilih jalur khususyang tidak biasa ini. Seni musik dan desain yang dipilih Adithiauntuk kendaraan hidupnya tidak menjadi persoalan berarti bagiorangtuanya. Dan, Adithia berhasil membuktikan bahwa apayang dipilihnya bukan suatu kesalahan meskipun orangtuanyatidak pernah memerlukan pembuktian itu. Berkat sang ibunda, Adithia mengenal dan mencintai alatmusik gitar. Bisa dibilang, Adithia tidak bisa dipisahkan dari ke­beradaan gitar di sisinya, dan itu justru karena sang ibunda yangselalu mengingatkannya. “Setiap kali saya akan meninggalkanrumah selama beberapa hari bersama teman, ibu saya selalu ber­tanya: Apa kamu yakin tidak membawa gitar?” ujar pemilik gitarberjenis Cole Clark FL2A, Larrivee OM3R, dan Guild GAD50 ini. Bukan hanya bakat musik saja yang di­cermati sang mama. Adithia kecil juga ge­mar menggambar. Memang dua hal itulahyang menjadi pilihan hidup Adithia: me­nyanyi dan menggambar. Maka tidak heran,sang ibunda justru bangga saat Adithiaberkelana hingga ke Amerika untuk bela­jar musik dan ke Australia demi memper­dalam kemampuan desain grafisnya. Kebebasan berpikir dan keleluasaan 36
  35. 35. bergerak yang diberikan oleh orangtuanya membentuk karakter serta kepribadian Adithia saat dewasa. Ia menjadi manusia yang alami, apa adanya namun sangat kompetitif dan efektif dalam memaksimalkan apa yang diperolehnya. Adithia adalah sosok yang tidak pelit untuk berbagi, ia justru merasa bahagia apabila bisa membuat orang lain merasakan kegembiraan. Adithia juga tak ambil pusing atas penilaian orang terhadapnya. Yang terpenting, ia sudah bekerja maksimal dengan kualitas yang tetap terjaga. Mau dibilang apapun, ia menyerahkan sepenuhnya ke­ pada khalayak, termasuk penilaian orang terhadap lagu­lagu yang dibuatnya “Saya menulis lagu murni karena kecintaan pada musik. Pendengar dari lagu yang saya tulis adalah saya sendiri untuk saya dengarkan, nikmati, lalu senyum­senyum sendiri,” kelakarnya. Musik adalah bagian dari kebahagiaan dalam hidupnya, tidak dituju­ kan untuk kepentingan yang bersifat duniawi. “Saya bukan berasal dari industri musik, saya mem­ buat musik hanya untuk kesenangan sendiri saja,” paparnya. “Ada atau tidak orang yang mau mendengarkan, saya akan terus menulis lagu karena itu membu­ at saya bahagia dan me­adhitia.doc/repro menuhi kebutuhan saya untuk berkarya,” imbuh Adhitia. Lagu­lagu Adhitia adalah murni ciptaannya. Ia sendiri tak pernah tahu bagaimana lagu­lagu itu tercipta, bagaimana lirik­lirik yang di­ anggap syahdu oleh banyak orang itu bisa terangkai menjadi irama yang ternyata disukai. Ia hanya menimang gitar, menjajal dentingan dawainya sembari menyeruput kopi hangat, dan terciptalah bait­bait lagu sederhana namun menawan hati. Baginya, inspirasi akan datang begitu saja, namun sering pula tidak. Saat memetik gitar, lirik­lirik itu akan berseliweran di otak dengan sendirinya. 37
  36. 36. adhitia.doc Meskipun tidak mengkultuskan sosok ter­tentu, namun bukan berarti Adithia tidakmemiliki musisi atau band yang menjadi in­fluence dalam lagu­lagunya. Teitur, Iron andWine, City and Color, The Swell Season, FionnRegan, Jack Johnson, Bon Jovi, hingga JohnMayer, sedikit banyak mempengaruhi warnamusiknya. Bahkan, beberapa orang bilang,petikan gitar Adithia mirip dengan JohnMayer. Selain itu, ia juga sempat menyebutStevie Ray Vaughan dan Kurt Cobain. Selama ini Adithia memang dikenal seba­gai musisi spesialis pelantun lagu melankolisalias lagu cengeng karena lirik­liriknya yangbernuansa galau. Ia sendiri mengakui itu. “La­gu­lagu saya terbukti membantu orang bisatidur,” katanya. Namun siapa sangka, aliranmusik Adithia di masa mudanya lebih con­dong ke jalur musik metal. Saat masih diSolo, ia mengaku sering mendengarkan danmemainkan lagu­lagu keras milik band­bandcadas kelas dunia, sebut saja Sepultura, IcedEarth, Manowar, Prong, Sevendust, Megadeth,Kreator, dan semacamnya. Ia juga punya bandmetal lokal favorit, yakni Melancholic Bitchdari Jogja. Dalam riwayat bermusik Adithia, sempatterselip nama Michael Jackson (MJ). Sepertiyang telah disinggung sebelumnya, keterta­rikan Adithia terhadap gitar dimulai ketika iamendengar desingan gitar yang memainkanintro Black and White yang dipopulerkanoleh MJ. Meskipun bersikeras bahwa ia tidakmerasakan ada hubungan yang kuat antaragaya bermusik MJ dan musik yang ia main­kan, namun ia tidak bisa memungkiri bahwanama besar MJ pernah hadir dalam karir ber­musiknya. “Yang membuat saya ingin bermaingitar bukanlah lagu dari (Eric) Clapton atauVan Halen, melainkan lagunya MJ,” akunya. nisamakmur.doc 38
  37. 37. adhitia.doc Bahkan, saat mendengar kabar wafatnya MJ, Adithia mengaku bersedih, dan ia pun khusus menulis kesan ten­ tang MJ di blog pribadinya, AdhitiaSofyan.wordpress.com. Untuk musisi dalam negeri, Adithia memang tidak per­ nah menegaskan secara gamblang, meskipun mengakui bahwa ia dulu suka menikmati lagu­lagu Ikang Fawzi dan Farid Harja yang sangat populer di akhir era 1980­an dan di awal dekade 1990­an itu. Ada juga yang berpendapat bahwa gaya bermusik Adithia mirip dengan Ebiet G. Ade. Sekali lagi, Adithia tidak secara tegas mengiyakan pendapat itu, namun ia menyebut sosok Ebiet sebagai seorang legend. Dan tam­ paknya, Adithia pernah “berbisnis” dengan begawan musik balada Indonesia itu. “Salah satu gitar yang pernah saya punya ada pada beliau sekarang,” paparnya. Terlepas dari seabrek nama musisi yang secara lang­ sung atau tidak pernah hadir dan memberi warna dalam perjalanan musiknya, namun sang ibunda tetaplah men­ jadi satu­satunya sosok yang paling berpengaruh baginya. Jika naluri sang ibunda tidak tepat sasaran, mustahil Adithia tetap konsisten menjaga gairahnya terhadap musik hingga kini. Jika sang mama tidak berinisiatif membe­ likan gitar, bukan tidak mungkin ia tak akan pernah jatuh cinta pada musik, dan bisa saja minatnya akan beralih ke hal­hal lain seiring dengan proses kehidupannya. Bagi se­ orang Adithia Sofyan, ibunda adalah yang utama. Bukan karena siapa­siapa, hanya ibunda saja. 39
  38. 38. “Saya senang berbagi musik saya dengan orang-orang yang bersedia mendengarkan.” D unia internet ada- lah dunia maya. Dunia yang tanpa batas, lintas di- mensi, ruang dan waktu. Batas-batas “kode etik” yang dipatuhi di alam nyata barangkali tidak lagi diin- dahkan jika sudah masuk Berkarya ke ruang-ruang digital. Apapun bisa didapatkan dari internetuntuk BERBAGI Koridor hukum untuk mengatur tata kehidupan di negeri internet memang sudah lama dibahas dan mulai diterapkan. Namun, lagi-lagi itu belum maksi- mal dan efektif, apalagi sampai “mengancam” ke- amanan seseorang. Jika- pun “ancaman” itu benar adanya, orang tidak akan ambil pusing karena ban- yak rongga di internet un- c tuk berkelit dari jerat-jerat .do adh itia hukum itu. 40
  39. 39. Apa saja yang sudah dicemplungkanke dalam labirin tanpa berujung bernamainternet, maka bersiap­siaplah itu telahmenjadi hak milik bersama. Jika pahamcaranya, semua orang tanpa terkecualibisa menikmati apapun yang ditimbun diinternet secara cuma­cuma. Hasil dari proses panjang yang telahditempuh sangat mungkin bisa langsungdilahap habis dengan gratis di meja sajiinternet. Oleh karena itu, banyak musi­si, penulis, jurnalis, fotografer, peneliti,atau pembuat film yang geram karenahasil jerih payah mereka seolah­olahmenjadi “tidak berarti” bila sudah mas­uk ke internet. Hasil karya mereka bisadibajak, disadap, ditiru, diklaim, ataupun adhitia.docdikomersilkan oleh mereka yang memang belum tahu,atau tidak mau tahu, bahwa di internet pun terdapat eti­ka yang harus ditaati. Adithia Sofyan tampaknya jeli melihat fenomena itu.Diyakini, gejala massal seperti itu masih akan berlangsungdalam waktu yang cukup lama. Apalagi di Indonesia inter­net belum begitu memasyarakat sampai ke semua lapisan.Apabila internet sudah menjadi salah satu kebutuhanpokok sebagian besar orang di Indonesia, apa yang akanterjadi? Fenomena pencarian dan pemenuhan kebutuhansecara cuma­cuma pastinya akan kian merajalela. Satu­satunya solusi yang dapat dilakukan adalah mempelajariilmu ikhlas. Oleh karena itu, Adithia Sofyan sengaja menggratis­kan karya­karyanya untuk dinikmati oleh semua orang le­wat internet. Malahan, ia sendiri yang menyediakan lagu­lagunya untuk diunduh gratis agar khalayak ramai dapatmenikmatinya. Masih sedikit musisi di Indonesia yang mem­punyai “kesadaran” untuk mengikhlaskan karya ciptanyamenjadi santapan publik tanpa mengharapkan pamrihberupa materi. Namun, hal itu memang wajar, karenabagaimanapun juga, proses kreatif seseorang harus di­hargai dan diapresiasi dengan cara­cara yang patut. 41
  40. 40. Beruntung Adithia sedari awal sudah berprinsip bahwa ia tidak mengharapkan apa­apa dari musik, terlebih lagi soal duit. Ia tidak ada kepentingan penuh untuk hidup dari musik. “Saya tidak punya niat untuk menjadi seorang musisi yang serius dan berdedikasi. Saya mendedikasikan hidup saya untuk bersama istri dan putri saya,” tegas­ nya. Oleh sebab itulah ia tidak ragu menyebarkan lagu­lagunya via in­ ternet dan seluruhnya free. Semua orang boleh mengunduh lagu­lagu­ nya tanpa harus membayar. Menurutnya, berbagi gratis jus­ tru mempercepat brand building serta mempermudah lagu­lagunya terse­ bar dan dibicarakan orang. Selain itu, kesa­ daran untuk berbagi merupakan tren baru bagi penikmat musik yang nyaris tidak bisa dihindari karena per­ kembangan teknologi yang sangat cepat. adhitia.doc/repro42
  41. 41. Tidak hanya menyediakan karya ciptanya untuk diun­duh secara gratis, Adithia bahkan mempersilahkan bagimereka yang ingin memainkan ulang lagu­lagunya, de­ngan catatan, hal itu dilakukan tanpa muatan komersial. Lagipula, Adithia rasa tidak sendirian dalam hal ber­bagi ini, setidaknya untuk level global karena berbagi kar­ya gratis belum menjadi sebuah kelaziman di Indonesia.Di tataran internasional, banyak musisi yang sudah mela­kukannya. Adithia sendiri merasa bahwa berbagi adalahsesuatu yang menyenangkan. Ia senang bisa berbuat se­suatu yang bermanfaat bagi orang lain. “Sharing is fun,mudah, dan Insya Allah berpahala,” tuturnya. Alhasil, lagu­lagu Adithia menyebar cepat. Publik me­respon, menulis tentangnya di blog mereka, mencantumkannamanya di berbagai jejaring sosial, bahkan merekomen­dasikan lagunya ke teman­teman mereka. Bagi Adithia,mereka ini justru berjasa karena secara sukarela menyebar­luaskan karya­karyanya, dan diakui atau tidak, namanyapun meroket cepat, ia jadi dikenal lebih banyak orang. Soal hak cipta, untuk saat ini Adithia tidak begitu mem­persoalkan, karena memang beginilah kondisinya. “Ke­jelasan tentang hak cipta agaknya masih kurang clear diIndonesia. Lagu­lagu yang ada hak ciptanya juga dibajaksini. Apakah ada yang mencegah dan menanggulangi?”ujarnya balik bertanya. Prinsip tidak pelit berbagi gratis dan penerapan ilmuikhlas seperti dilakoni Adithia Sofyan tampaknya perlumulai dibiasakan, di samping juga harus terus mengupa­yakan tindakan­tindakan untuk menghargai karya cipta.Bukan tidak mungkin tren seperti ini akan tetap kekal se­ lama internet masih dibutuhkan dan selama manusia masih dapat berkelit dari aturan­aturan main di du­ nia digital yang masih dicari formula terbaiknya. So, selamat datang di rimba bebas hambatan! “Orang-orang yang bekerja di dunia kreatif harus bisa mendatangkan ide dalam kondisi apapun.” 43
  42. 42. “Still everyday I think about you. I know for a fact that’s not your problem.But if you change your mind you’ll find me. Hanging on to the place. Where the big blue sky collapse.” Bertahan di Tempat di Mana LANGIT RUNTUH c .do itia adh 44
  43. 43. S adhitia.doc etelah merasakan peng­ alaman yang mengesan­ kan dalam kehidupan bermusiknya yang sem­pat mati suri, Adithia Sofyanmulai berpikir untuk menjadimusisi yang tidak sekadar ama­tir lagi. Tetap tanpa tendensi ma­teri dan semata­mata hanya adhitia.docsebagai pelampiasan hasratmusikalnya saja, Adithia ber­tekad untuk serius bermusik.Ia memang berusaha profe­sional dalam setiap tanggungjawabnya, dari desain grafis,periklanan konvensional danmarketing online, serta akhirnyakembali ke belantika musik. “Ada atau tidak ada orang yang mau mendengarkan, saya akan terus menulis lagu karena itu membuat saya bahagia dan memenuhi kebutuhan saya untuk berkarya.”adhitia.doc 45
  44. 44. Supaya bisa benar­benar fokus di dunia musik yang kini dijala­ ninya, Adithia meilmpahkan pe­ ngelolaan perusahaannya kepada sang istri. Namun, sebenarnya ia masih tetap berada di situ meski­ pun lebih sering di balik layar. Ia sudah terbiasa bekerja di tengah tekanan dengan tetap menjaga standar kualitas. Baginya, mereka yang memi­ lih berkecimpung di dunia kre­ atif harus mampu menghasilkanadhitia.doc/repro gagasan segar dalam kondisi se­ perti apapun. Begitu pula dengan tanggung jawabnya kini yang boleh dibilang ganda. Ia harus bisa seimbang dan profesional di dua alam yang berbeda, di usaha on­ line marketing dan di ranah musik yang tengah digelutinya sekarang ini. Adithia Sofyan tidak ingin moment kebangkitan ini terbuang sia­sia. Oleh karena itu, ia wajib membawa ker­ ja­kerja musikalnya ke tahap yang lebih matang. Semua perencanaan, termasuk persoalan yang terkait dengan bisnis dan mitra dalam bermusiknya harus jelas. >>> “Saya mendedikasikan hidup saya untuk bersama istri dan putri saya.” adhitia.doc 46
  45. 45. rentalsoundsystem.com Adhitia berjanji, kebiasaannya berbagi tidak akan per­ nah dihilangkan karena dengan itulah ia bisa menjadi se­ perti sekarang ini. Ia tidak keberatan bakal “merugi” jika dengan berbagi bisa menyenangkan orang lain. Adithia Sofyan memilih berdiam di tempat di mana ia pernah berteduh. Meskipun ia sempat didera kecewa di tempat itu, ia tetap bertahan di tempat di mana langit runtuh. nisamakmur benablog 47
  46. 46. Perempuan HANDAL di Medan DIGITAL
  47. 47. M enulis dan teknologi adalah dua hal penting dalam karir dan perjalanan hidup Ollie Salsa­ beela. Perempuan kelahiran Yogyakarta yang bernama asli Aulia Halimatussadiah ini tidak hanya piawai memainkan jemarinya dan merangkai kata­ kata. Pengetahuan dan pengalamannya di ranah teknolo­ gi dan informasi telah mentasbihkan dirinya sebagai ju­ ragan di 6 perusahaan online atau start up dan menjadi penulis belasan buku. Semua ini berhasil digapai Ollie di usia yang relatif masih muda, 28 tahun. Menulis nyaris menjadi segalanya buat Ollie. Hampir setiap waktunya se­ lalu diselingi dengan aktivitas menulis. Kendati Ollie sudah cukup sukses di bidang industri teknologi informasi, namun ia tetap humble. Ia merasa le­ bih nyaman dikenal sebagai seorang penulis dan memang itulah jiwa se­ jati yang sesungguhnya tertanam di dalam dirinya. “Aku adalah seorang penulis karena itulah sebenarnya that’s me!” tegasnya. “I have a dream, and i haveanother dream. Sebuah mimpi mengantarkan aku ke mimpi yang lain untuk digapai. So, cita-citaku menjadi saudagar dunia maya.” 50 ollie.doc
  48. 48. ollie.doc “My passion is in book andwriting,” ucap Ollie sekali lagi.Ya, Ollie sangat gemar menu­lis. Tidak hanya di media on­line, semisal blog, namun jugamenulis buku. Belasan bukutelah tertulis dari jemari lin­cahnya. Ollie termasuk sedikit orangyang beruntung bisa merasa­kan manisnya blog pada masaitu. Blog pertama Ollie adalahphotoBlog yang berisi kegiatansehari­harinya. Kecintaan Ollie terhadapbuku dan hobi menulisnyamerambah ke jagat maya,khususnya industri teknologiinformasi. Berbekal penge­tahuannya di bidang IT danbantuan dari beberapa temandekat, Ollie menggebrak in­ PHotoBlog adalahdustri perbukuan tanah air dengan dua amunisi: sebuah berbagi fotoonline book store yang kemudian dikenal dengan nama Ku­ melalui mediatuKutuBuku.com dan situs online self publishing yang ia diri­ semacam Blog.kan bersama seorang karibnya pada Oktober 2010 yang Ini sedikitdiberi nama NulisBuku.com. berbeda dengan Blog biasa yang “Saya merasa kesulitan untuk belanja di online book umumnya hanyastore yang ada. Saya sangat cinta buku dan suka belanja fokus pada teks.banyak buku. Ketika menemukan masalah, sebagai pe­ PHotoBlogginglaku industri web saya bertanya pada diri sendiri: Menga­ (tindakan postingpa tidak dibenahi?” tutur Ollie. Ia sangat ingin membuka foto ke PHotoBlog)toko buku, tetapi ia Ollie tidak punya cukup uang untuk mulai marak pada awal tahunmendirikan toko buku yang besar. Solusinya adalah toko 2000-an denganbuku online, dan lahirlah KutuKutuBuku.com. Bisa dibilang, munculnya moBileini adalah salah satu toko buku online pertama yang ada Blogging dandi Indonesia pada masa itu. CameraPHones. 51
  49. 49. Kisah lahirnya NulisBuku.com pun hampir serupa. Peng­alaman pahit karena naskahnya diabaikan penerbit men­jadikan semangat Ollie terbakar untuk meluncurkan on­line self publishing pertama di Asia Tenggara. “Di NulisBuku.com, saya tidak hanya menerbitkan buku impian saya,namun juga mewujudkan mimpi­mimpi penulis lain,” je­las Ollie. “Situs ini adalah layanan gratis untuk online selfpublishing­print on demand,” tambahnya. Berpikir selangkah di depan, jeli melihat peluang,dan menyukai tantangan, merupakan syarat­syarat untukmenjadi seorang entrepreneur. Ollie yang sesungguhnyaadalah seorang penulis tidak hanya mampu memadukanprinsip­prinsip kewirausahaan ke dalam profesi writerpre­neur, namun ia juga piawai mengawinkan teknologi infor­masi di ruang­ruang menulis dan dunia usaha. Di Indonesia, sosok perempuan yang bergelut di du­nia teknologi informasi masih sangat sulit dijumpai, danOllie salah satu wanita perkasa yang eksis di ranah itu. Ya,Ollie Salsabeela adalah sosok Kartini modern yang mela­koni perjuangan di medan digital. ollie.doc52
  50. 50. “Aku adalah seorang B penulis karena itulah E sebenarnya aku!” R J I dengan BB AU K K UUA ktivitas menulis Ollie sebenarnya te­ lah ia lakukan sejak usia remaja. Ia mulai menulis ketika masih SMP di mana pada saat itu ia gemar menuliskomik. Keahlian menulis Ollie tentunya tidakdidapatkan secara instan. Proses yang dijalani­nya memakan waktu yang tidak sebentar, bah­kan bertahun­tahun. Waktu duduk di bangkuSMA, Ollie sudah menulis berkali­kali meskipuntulisan­tulisan itu dirasanya belum berkualitasbaik. Tapi Ollie terus mencoba hingga ia tahucaranya dan pada akhirnya membuahkan hasil. 53
  51. 51. ollie.doc Minat menulis Ollie di jagatonline bermula ketika membacasebuah blog yang menarik danmenginspirasinya. “Jenis web­site yang isinya curhat­curhatanorang dan dengan layout yang ba­gus ini sebenarnya namanya apa?”tanya Ollie penuh rasa ingin tahu. Ollie mengenal dunia bloggingsejak tahun 2003 saat ia masih me­netap di daerah Depok, dekat Ja­karta. Ollie memakai layanan blogdi internet, semacam TextAmerica,Tabulas, Multiply, Wordpress, Blog­spot, dan akhirnya menggunakandomain serta hosting sendiri: Sal­sabeela.com. Bersama Multiply, Ollie tidakhanya sekadar nge­blog, namunjuga memulai bisnis online kecil­kecillan. Multiply adalah salah satu pioner blogging platform primadona di tanah air. Fiturnya sangat lengkap. Tidak hanya untuk menulis saja (blogging) namun juga sharing photo, video, reviews, guestbook, dan lain se­ bagainya. Dengan memanfaatkan Multiply, Ollie mencoba membuka toko online. Tidak hanya berhasil, toko online Ollie bahkan berhasil menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Momen inilah yang membuat Penerbit Mediakita memintanya untuk men­ ulis buku “Membuat Toko Online dengan Multiply”, terbit tahun 2008. “Buku itu men­ jadi buku how to pertama saya dan menjadi buku best seller,” tutur Ollie. Nama Ollie tidak asing di telinga para konsumen buku. Tercatatlebih dari belasan buku yang telah ditulisnya. Mulai dari buku yangberjenis novel, buku inspirasi, how to atau panduan, motivasi, bahkankuliner. Khusus untuk novel, ada salah satu novel Ollie yang menarikdan banyak menyita perhatian publik. 54
  52. 52. Di novelnya yang berjudul “Je M’appelle Lintang” (2006) kisahroman percintaan Lintang dalam mengejar cintanya hingga ke Parismengundang decak kagum. Bagaimana bisa seorang Ollie yang be­lum pernah menjamah ibukota Prancis itu mampu melukiskan sua­sana Paris secara detail seolah­olah pernah tinggal lama di sana?“Jawabannya cuma satu: riset!” kata Ollie. Pengalaman menulisnovel ini dijadikan Ollie sebagai pemicu dirinya ketika menuliskanbuku inspirasi dan motivasi berjudul “Inspirasi.net” (2008). Kembali ke soal blog. Ollie meng­ubah Salsabeela.com, menjadi blogmotivasi. Ia mengakui, pada awalaktif sebagai blogger, blog­nya berisihal­hal yang bersifat personal danpengalaman pribadi, laiknya sebu­ah online diary. Sejak tahun 2007, Ollie beru­saha untuk mengubah mindset ba­gaimana cara nge­blog. “Sekaranglebih berpikir jika mau nge­post. Ber­pikir apa untungnya buat oranglain dan inginnya bisa memotivasidan inspire others,” tekadnya. Blog Ollie bagai etalase apa yangada pada dirinya. Pengunjung bisamelihat rekaman keseharian, ide­ide, dan beragam usaha yang kinisedang ia jalankan. ollie.doc Atas jerih payah Ollie dalam mengins­ pirasi orang lain, Koran Sindo mengganjar Salsabeela.com sebagai Blog of the Week (2009). Tak hanya itu saja, Salsabeela.com juga diulas di salah satu kolom di CHIC Magazine (Desember 2008). Jauh­jauh hari sebelum belajar IT di Universitas Gunadarma, Ollie telah akrab dengan teknologi sejak SMA. Ia aktif berinternet sejak tahun 1997. “Awalnya lihat orang bikin Geocities, akhirnya bela­ jar sendiri. Waktu SMA, aku pernah bikin website company untuk KalongDesign.com. Setelah itu bikin website untuk guruku dan band sekolah,” tutur Oliie. 55
  53. 53. Selepas lulus dari Universitas Gunadarma pada 2004, Ollie berga­bung dengan Plasmedia­Plexis, sebuah perusahaan IT ternama berskalanasional di Jakarta. Ollie menjabat sebagai web developer, posisi yang bisadibilang sangat nyaman baginya. Ia senang sekali karena aktivitasnyayang selama ini ia lakoni hanya sebatas sebagai hobi ternyata dihargaidengan cukup baik. Di Plasmedia inilah awal bertemunya Ollie dengan Angelina An­thony, sosok sentral lain di balik layar lahirnya KutuKutuBuku.com. Olliebersama Angelina bak kembar siam yang susah dipisahkan. Mereka ber­dua bahu­membahu dan saling mengisi di setiap project yang datang.Ada banyak kesamaan antara Ollie dan Angelina. Khususnya dalamhobi mereka: buku. Mereka sama­sama suka membaca buku dan gemarberbelanja buku. Maka, muncullah gagasan untuk membuat online book store, yangkemudian dinamakan KutuKutuBuku.com. “Kutunya dua karena ada duaorang pecinta buku di belakangnya,” seloroh Ollie. Pada awal berdi­rinya, KutuKutuBuku.com tidak langsung dapat menggebrak di industriperbukuan. Meskipun gaduh internet telah mewabah di tanah air, na­mun budaya e­comerce masih belum terbiasa untuk diterapkan. Tidakhanya bagi calon konsumen, tapi juga untuk produsen alias penerbit. KutuKutuBuku.com yang hadir untuk memperpendek jarak antarapenerbit dan pembaca harus berjuang keras dalam mengenalkan dan men­gajarkan apa itu e­comerce, khususnya di pihak penerbit. Banyak darimereka yang kurang mengerti dan enggan beradaptasi dengan budayajual beli online. “Kita menerangkan apa itu toko online, bagaimana bekerja samadengan kita selain bekerjasama dengan penerbit konvensional. Kita “My passion is in book and writing.” 56
  54. 54. benar­benar berangkat dari nol,” kenang Ollie. Bersama Angelina,mereka bekerja rangkap: sebagai pemilik, CEO, OB, sekaligus admin. Meskipun ide membuat KutuKutuBuku.com muncul pada Desember2005, namun baru resmi diluncurkan pada Februari 2006. Salah satumomen yang mendukung terangkatnya KutuKutuBuku.com adalahterbitnya salah satu seri buku JK Rowling yang fenomenal itu, HarryPotter. “Kami memperoleh peluang bagus waktu itu, karena Harry Pot­ter baru launching,” tutur Ollie. Setelah 1,5 tahun menjalankan usaha, Ollie dan Angelina tiba disebuah persimpangan. Di satu sisi, bisnis mereka berjalan dan terusberkembang. Namun di sisi lain, mereka masih terikat kewajibandengan perusahaan di mana mereka bekerja. Dengan penuh per­timbangan, termasuk meminta saran dari maestro online marketingIndonesia, Nukman Luthfie, Ollie dan Angelina undur diri dari Plas­media setelah 2,5 tahun mengabdi di sana. “Keputusan untuk resign dari kantor sebetulnya sudah dipikir­kan lama. Tapi untuk eksekusi kami selalu merasa belum mampu.Sampai akhirnya aku dan Angel pergi makan dengan bapak nylenehIndonesia, salah satu panutan di bidang online marketing,” canda Olliemenyebut salah seorang pembimbingnya, Nukman Luthfie. 57
  55. 55. nukman lutHfie, salah satu pelopor online marketing di Indonesia. Pendiri Virtual.Co.iD, PortalHr.Com, Juale.Com, gilamotor.Com, musikkamu.Com, dan pecinta kopi hitam. Ollie dan Angelinamenumpahkan kece­masan mereka. Tak di­duga, Nukman Luthfiecuma berkata enteng,“Jadi, kapan mau re­sign?” Ollie dan Angelinabengong mendengarjawaban sekaligus per­tanyaan yang bernadalangsung tembak itu.Ternyata , Nukman Lu­ vivanews.comthfie langsung memberi “jaminan” atas kebimbangan yang Ollie dan Ange­lina rasakan. “Nanti saya tunjukkan jalannya,” janji sang guru meyakinkan. Kendati sempat sedikit shock, akhirnya dua srikandi ini menurutiapa yang disimpulkan oleh Nukman Luthfie. Mereka memutuskan danbertekad akan memilih jalan mandiri demi mengembangkan KutuKutu­Buku.com. Ollie dan Angelina resmi mengundurkan diri dari Plasmediapada 30 Agustus 2007. Untuk membuang perasaan stres, mereka berduakemudian melakukan tour keliling Asia Tenggara. Sepulang dari perjalanan yang menyenang­ kan sekaligus melenakan itu, Ollie dan Angeli­ na harus turun ke bumi. Ternyata, menjalankan operasional KutuKutuBuku.com sangat berat. Di “kantor” dengan ruangan sempit seukuran kamar kost, Ollie dan Angelina mengejar mimpi. Mereka pantang putus asa dan tetap beru­ saha kendati sering terbentur kendala finansi­ al. Akhirnya, KutuKutuBuku.com berhasil punya kantor baru yang lebih kondusif, yakni di Pan­ coran, dekat Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Keberhasilan KutuKutuBuku.com menggebrak tradisi belanja buku konvensional ke jalur on­ line menyita perhatian publik. Banyak yang mulai bertanya, bagaimana membuat toko on­ line, bagaimana memulainya, bagaimana kunci sukses dalam e­comerce, dan sebagainya. 58
  56. 56. Rentetan pertanyaan yang mem­ banjir ini memicu lahirnya TukuSolu­ tion.com, usaha jasa web developer yang awalnya khusus menangani soal e­comerce. Nama TukuSolution. com sendiri tercetus begitu saja. Uniknya, kata “tuku” didapatkan da­ ri kata “kutu” yang dibalik. Ollie belum berhenti bergerak. Obsesi untuk memaksimalkan dunia digital merangsang Ollie untuk ber­ buat lebih. Kali ini Ollie menggaet adik kandungnya untuk membangun sebuah produk baru. Karena sang adik doyan main game, maka mereka membuat sebuah start up games stu­ dio yang khusus menggarap games flash, mobile games, dan social games. TempeLabs.com, itulah nama karya dari duet kakak­beradik ini. Naluri penulis sekaligus pe­ bisnis Ollie terus berlanjut. Ber­ dasarkan pengalaman yang per­ nah ia alami bahwa seringkali tulisannya ditolak oleh penerbit, dan ia mengalami kekecewaan karenanya, maka ia digagaslah NulisBuku.com. Online self publi­ shing pada Oktober 2010. ini adalah wadah bagi para penulis yang naskahnya ditolak penerbit. Di sini, mereka bisa menerbitkan buku. “Aku ingin memberikan kesempatan besar bagi semua orang untuk mener­ bitkan karyanya!” ujarnya.ollie.doc 59
  57. 57. “Aku ingin memberikan NulisBuku.com terlahir berkat kerjakesempatan besar bagi sama apik antara Ollie dan Angelina, serta dibantu oleh 2 rekan lain, yakni semua orang untuk Oka Pratama dan Blilian Yotanega.menerbitkan karyanya.” NulisBuku.com adalah online self pub­ lishing pertama di Asia Tenggara. Kehadiran NulisBuku.com sejatinya tidak lepas dari kekecewaan Ollie saat naskah ditolak. ia merasa naskahnya layak untuk diterbitkan. Namun apa daya, penerbitlah yang berkuasa. Selain alasan “emosional” itu, Ollie sendiri ingin memiliki penerbitan. Melihat nama sendiri tertulis di sampul sebuah buku bagi seorang pe­nulis adalah kebahagiaan yang tidak ternilai. Namun, tak semua penulisbisa merasakan itu, tak semua penulis bisa menerbitkan naskahnya menjadibuku. Sistem penerbitan konvensional dan birokrasi yang rumit membuatpara penulis pemula sulit bersaing dengan para penulis mapan yang su­dah terjamin pangsa pasarnya. Mereka sulit menembus penerbit besar danakhirnya mengubur impian menerbitkan buku. Ollie yang tidak asing di industri perbukuan sadar akan ekosistem yangseperti itu. Bersama Angelina dan kali ini dibantu oleh dua orang mitranyayang lain, Oka Pratama dan Blilian Yotanega, Ollie melakukan revolusi didunia penerbitan. “Kita tidak hanya dapat menjadi seorang penulis, namunjuga dapat menerbitkan sendiri buku secara gratis!” ungkapnya bersemangat. 60
  58. 58. Sebenarnya NulisBuku.com berawal “NulisBuku.com mem-dari ide yang sederhana, tapi sarat berikan kesempatanmakna, khususnya bagi mereka yangingin menerbitkan bukunya sendiri. sebesar-besarnya ke-Konsep yang ditawarkan berbeda de­ pada para penulis tanpangan model pembuatan buku denganpenerbitan yang rumit, lama, dan me­ meninggalkan nilai-nilaimiliki potensi kendala soal harga dan komersial.”royalti. Di ranah cetak, satu buku minimalharus menyediakan dana Rp 25 juta,karena per buku harus dicetak 3000eksemplar sesuai tuntutan distributor.“Sedangkan jika lewat online self pub­lishing, penulis tidak harus mengeluar­kan dana namun tetap dapat royalti,”ujar Ollie. Sebesar 60% dari keuntungan ro­yalti diberikan untuk penulis. “NulisBuku.com memberikan kesempatan sebesar­besarnya kepada para penulis tanpameninggalkan nilai­nilai komersial,”tutur Ollie. Sejak berdirinya, Nulis­Buku.com telah mengalamilonjakan pengunjung hing­ga 300%, sampai Juni 2011.Anggota yang terdaftar se­banyak 6000 orang lebih. NulisBuku.com telah mem­publikasikan 400 judul bukudari berbagai genre dengantotal buku yang terjual lebihdari 9000 per eksemplar. Pen­jualan buku rata­rata tiap bu­lan adalah 1000 hingga 1500 “Saya tidak hanya mener-buku. bitkan buku impian saya, namun juga mewujudkan mimpi-mimpi penulis lain.” 61
  59. 59. NulisBuku.com juga menjaga komunikasi dengan anggotanyadan membentuk komunitas penulis dengan memanfaatkan mediasosial. Facebook dan Twitter selalu di­updates oleh admin dengan in­formasi­informasi seputar dunia penulisan seperti event gathering,lomba­lomba, tips menulis, sampai sekadar memantau kehidupanpribadi anggota yang membutuhkan dukungan. Atas kerja keras ini, NulisBuku.com berhasil menyabet penghar­gaan sparxup awarD 2010 untuk kategori Best E­comerce hanya selangsatu bulan setelah didirikan! Oleh karena itu, kiranya tidak berlebi­han apabila 4 orang punggawa NulisBuku.com, yakni Ollie, Angel,Oka, dan Brilian, dikenal dengan julukan “The Dream Team”. Selain KutuBuku.com, TukuSolution.com, TempaLabs.com, dan Nulis­Buku.com, Ollie juga mengelola karya online lainnya seperti Langsing­Mulus.com, sebuah web yang bergerak di bidang Weight Loss PruductRetail dan HearyBoutique.com. Yang disebut terakhir ini adalah butikonline yang khusus dipersembahkan untuk mengisi hari­hari sangibunda tercinta yang pensiun dini. Selain jualan baju lewat online,HearyBoutique.com juga punya butik di jalur darat alias offline. Tidak hanya itu, Ollie juga tercatat sebagai salah satu pemilikGantiBaju.com, situs yang memberikan kemudahan bagi para ang­gotanya untuk mendesain, mencetak, dan menjual baju sesuai de­ngan selera sendiri. Namun, pada Februari 2010, Ollie mengundur­kan diri dari keterlibatannya di GantiBaju.com. Aktif berbisnis juga diimbangi Ollie untuk aktif bersosialisasi. Iaterdaftar di berbagai komunitas dari aneka minat dan kesukaan,sebut saja Fresh, Girls in Tech Indonesia, Bincang Edukasi, Tangan di Atas,Jakarta Daily Photo, dan #StartUpLokal. Di berbagai komunitas itu, Ol­lie bertindak sebagai committee. Bahkan, di #StartUpLokal, ia duduksebagai inisiator bersama Natalie Ardianto, Nuniek Tirta, dan SannyGaddafi. sParxuP awarD adalah ajang kompetisi web bagi para digital startuP di Indo- nesia. sParxuP hadir untuk membuka kesempatan bagi para digital startuP di 62 Indonesia supaya lebih maju dan dapat terus berkarya.
  60. 60. #StartUpLokal adalah sebuah komunitas untuk para pemilik start up,penikmat dunia digital, developer, investor, dan media untuk bertemudan berkesempatan berkolaborasi. Komunitas yang aktif sejak April2010 ini semakin menunjukkan taringnya. Selain dukungan media, in­ vestor dari luar negeri pun ber­ minat menanamkan investasi. Bahkan, pada Maret 2011, para inisiator #StartUpLokal, termasuk Ollie, diundang ke Irlandia oleh Enterprise Ireland, sebuah inku­ bator start up yang berpusat di Dublin. Dublin, ibukota Irlandia, di­ gadang­gadang sebagai Silicon Valley­nya Eropa. Di sana, para inisiator #StartUpLokal melaku­ kan studi banding, belajar, dan mencoba mengadaptasi berba­ gai hal yang terjadi dari kema­ juan start up di Irlandia. Ollie sendiri mengaku memi­ liki mimpi khusus terhadap ko­ munitas yang digagasnya ter­ sebut dan berpengaruh positif terhadap Indonesia. “Suatu saat nanti, Indonesia mampu untuk menjadi Silicon Valley­nya Asia Tenggara,” itulah impian Ollie. 63

×