Travelling with Creativity
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Travelling with Creativity

on

  • 3,342 views

Ebook Travelling with Creativity kerjasama antara Twitalk, Indonesia Kreatif, dan Kementerian Perdagangan Indonesia.

Ebook Travelling with Creativity kerjasama antara Twitalk, Indonesia Kreatif, dan Kementerian Perdagangan Indonesia.

Statistics

Views

Total Views
3,342
Views on SlideShare
3,339
Embed Views
3

Actions

Likes
4
Downloads
466
Comments
1

2 Embeds 3

http://www.linkedin.com 2
http://www.techgig.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Travelling with Creativity Travelling with Creativity Document Transcript

  • TRAVELLING WITH CREATIVITY Pembina Mari Elka Pangestu Tim Pengarah Hesti Indah Kresnarini, Marthin, Dony Edward Penanggung Jawab Cokorda Dewi KoordinaTor Pungkas Riandika Tim Penulis & ediTing Ibnu Azis, Iswara N. Raditya, Oryza Aditama Tim riseTPanca Ardiansyah, Hanna Herlina, Tessi Fathia Adam alih bahasa Hanna Herlina desain samPul & ilusTrasi Rasefour, Silencer8 desain isi & TaTa leTaK Iswara N. Raditya KonTribuTor Twitalk Inc, Indonesia Kreatif Twitalk Inc www.twitalk.co.id @twitalkID Indonesia Kreatif www.indonesiakreatif.net @idkreatif Kementerian Perdagangan Republik Indonesia www.kemendag.go.id
  • PENGANTAR Kemampuan mencipta bukan bakat yang hanya dimi­liki oleh beberapa orang saja. Setiap manusia telah diberikemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi denganlingkungan sekitarnya. Bila kreativitas adalah keahlianyang bisa dilatih, maka setiap orang punya kesempatanyang sama untuk mengembangkan diri. Buku ini bercerita tentang empat sosok yang telah me­nempuh perjalanan panjang hingga titik produktif dankini terus aktif mengembangkan karya­karya mereka diberbagai saluran dan bidang baru. Prosesnya tidak pernahmudah dan rumusnya pun tidak pernah sama. Namun, ada yang menarik saat kita mengenal Adhi­tia Sofyan, Aulia Halimatussadiah (Ollie Salsabeela), EndaNasution, dan Leonard Theosabrata lebih akrab lagi. Mere­ka mempunyai pola yang sama sebagai creativepreneur.Keempat sosok ini gemar bepergian, baik untuk berlibur,bekerja, atau menuntut ilmu. Dari sana, mereka pulang keIndonesia dan menciptakan berbagai hal baru yang saatini bisa kita nikmati karyanya, kapanpun itu. Proses pen­carian inilah yang melahirkan ide baru melalui jaringan danpemikiran baru yang mereka bina selama bepergian. Mempelajari hikmah dari kisah mereka ternyata tidakmudah karena membutuhkan interaksi untuk memahamisudut pandang yang mendasari kisah suksesnya. Bidangkreatif yang mereka geluti adalah ranah multipersepsiyang takkan pernah habis diulas hikmahnya. Memasukisudut pandang keempat sosok ini untuk memahamibahwa kreativitas bukanlah posisi atau jabatan, melainkanstate of mind. Mari bepergian, lalu biarkan kreativitas mengantar kita.
  • Sinar Tenar SangMUSISI KAMAR
  • “Saya menulis dan merekam musik di kamar saya dan memberikannya untuk semua orang secara gratis di internet. Sama sekali tidak ada pen- dapatan dari itu. Saya suka menulis musik dan membagi- kannya untuk semua orang tanpa beban apapun.” adhitia.docM usik menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepas­ kan dari keseharian Adithia Sofyan, meskipun barangkali baru sebatas hobi dan bukan se­ bagai pilihan jalan hidup. Ia memang pernahberupaya merintis karir dari jalur musik, tapi ternyata saatitu Tuhan belum memberi izin. Walaupun begitu, gairahbermusik tidak pernah hilang dari detak nadi kehidupanAdithia Sofyan. Ia terus mencipta rangkaian nada sederha­na meskipun itu dilakoninya sembari meringkuk di dalamkamar dan sesekali dinyanyikan saat di kamar mandi. Bagi Adithia, kamar ibarat ruang mimpi sekaligus bi­lik studio sebagai tempat di mana ia mengejawantahkansemua yang diperolehnya. “Kamar sering diartikan seba­gai tempat untuk beristirahat, melepas penat, dan meng­urung diri. Tidak demikian halnya bagi saya, kamar bagisaya adalah ruang perenungan dan berkarya,” tuturnya.Dari dalam kamar pula, ia “memasarkan” lagu­lagunya.6
  • “Kamar bagi saya adalah ruang perenungan dan berkarya.” adhitia.doc Berbekal gitar, seperangkat alat rekam sederhana,komputer lipat yang tersambung dengan internet, danperabotan pendukung lainnya, Adithia mulai dikenal se­bagai musisi berkarakter. Julukan musisi kamar pun lantaslekat pada dirinya. Namun, ia menegaskan bahwa musisikamar bukanlah suatu profesi, apalagi dijadikan salahsatu jenis aliran musik. “Saya dikenal sebagai musisi kamartidur hanya karena saya bermain musik di kamar tidursaja,” jelasnya. Proses kreatif yang dilakoni Adithia Sofyan menda­pat respon positif dari publik. Lagu­lagu ciptaannya, yangdibagikan gratis lewat internet, memperoleh sambutanmeriah. Alhasil, Adithia terancam kondang berkat apresi­asi dari para penikmat musiknya. Namanya pun beranjak seja­jar dengan para musisi Indonesia yang memang mengadunasib di jalur nada. Tak jarang Adithia tampil sepanggungdengan para musisi itu. Berbagai penghargaan musik punsukses diraihnya. Boleh jadi, Adithia Sofyan adalah salahsatu musisi pertama di Indonesia yang meniti karir profe­sional dari dalam kamar, dan itu berhasil! 7
  • MUSISI INDEPENDEN tanpa tendensi “Musik adalah karya yang bernada.” adhitia.docS emua bermula dari kerinduannya menulis lagu. Pada medio tahun 2007 itu, Adithia Sofyan mengumpulkan kembali peralatan rekam yang dulu pernah diguna­ kannya. Cukup lama ia tidak lagi menyikapi musikdengan serius. Seingat Adithia, terakhir kali ia merekamlagu adalah pada tahun 1999, dan 8 tahun kemudian, iabaru menyentuh lagi alat­alat itu. Namun, ia sama sekalitidak ingin serius, modal dasarnya hanya gitar bolong dansuara yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Adithia Sofyan sepenuhnya sadar bahwa ia adalah ti­pikal manusia rumahan. Oleh sebab itu, ia belum berpikiranmembentuk band dalam menyalurkan jiwa bermusiknya.Sempat terlintas di benaknya untuk menyewa studio pro­fesional lengkap dengan sound engineer berpengalaman,8
  • “Saya dikenal sebagai musisi kamar tidur hanya karena saya bermain musik di kamar tidur saja.”akan tetapi niat itu tidak pernah ia lakukan. Ia tidak mauuntuk meninggalkan kenyamanan bersama keluarga ter­cinta di rumahnya yang terletak di Taman Rasuna, JakartaSelatan. Menurutnya, rekaman di rumah pun ia sudahefektif. “Saya pikir, rekaman di rumah saja bisa mendapat­kan hasil yang cukup listenable,” tutur penyuka kerupukini. adhitia.doc 9
  • Oleh karena itulah, Adithia Sofyan me­nikmati kehidupan bermusiknya dari dalamrumah, tepatnya dari kamar tidur yang justruberfungsi sebagai laboratorium proses kreatif­nya. Ditemani gitar dan secangkir kopi hangat,Adithia Sofyan mulai menjelma menjadi mu­sisi yang patut diperhitungkan. Padahal, ke­tika pertama kali mencipta dan merekam hasilkaryanya, lagu­lagu itu hanya untuk simpananpribadi atau diberikan kepada teman­teman Andre Harihandoyodekatnya. “Saya tidak punya rencana apa­apa adalah seorang musisiterhadap lagu­lagu ini,” akunya. Indonesia yang ber- sama 4 musisi muda Di saat permulaan itu, Adithia Sofyan ber­ lainnya membentukhasil mencipta 5 lagu. Ia menganggap, apa grup band The Sonicyang telah ia hasilkan itu hanya sekadar seba­ People pada 2006.gai proyek hobi. Ia memang pernah punya Andre Harihandoyokeinginan menjadi seorang musisi betulan, berperan sebagai gi-namun karena sesuatu dan lain hal, ia meng­ taris sekaligus vokalis.endapkan sejenak impiannya itu. Mereka mengusung Hingga pada suatu ketika, Adithia mene­ jenis musik yang menggabungkanrima kiriman album dari Andre Harihandoyo, country, blues, dankawannya yang juga seorang musisi. Adithia jazz. Selama kiprahnya, mereka su- dah melawat ke beberapa negara dan telah meng- hasilkan 3 album, yaitu: Room Session (2007), Two Sides For Every Story (2008), dan Good For The Soul (2009). sonicpeoplemusic.com10
  • adhitia.doc sedikit heran karena di dalam album itu hanya terdapat 5 lagu saja. “Kalau cuma 5 lagu sih aku juga punya,” pikir­ nya. Album Andre Harihandoyo itu memang berformat mini album atau Extended Play (EP). Dari situlah Adithia Sofyan mulai terpacu untuk untuk melakukan hal yang sama, meskipun masih sebatas main­ main. Malam itu juga, ia merancang desain cover untuk rencana album mininya itu. Lalu, ia menggandakan 5 lagu­ nya dan dikemas dalam bentuk kepingan CD. Namun, ia hanya ingin membagikan mini albumnya itu untuk kelu­ arga, kawan­kawan dekat, dan rekan­rekan sekantornya saja. Setelah cukup berbagi, masih tersisa CD sebanyak 70 keping yang kemudian disimpan di sebuah ruang gelap yang jarang dijamahnya. Waktu terus bergulir. Adithia Sofyan mulai tergoda untuk mengirimkan EP­nya ke radio untuk diputar jika memang ternyata layak. Tanpa pikiran aneh­aneh, ia mengi­ rimkan 2 lagunya ke chart NuBuzz di radio Prambors FM. Chart NuBuzz adalah sebuah program siaran di radio Prambors FM yang menerima lagu-lagu dari siapa saja untuk disiarkan secara on air apabila layak dan terpilih. 11
  • adhitia.doc “Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya!” Terus terang, apa yang dilakukannya itu hanya sebatas iseng saja, dan ia tidak berharap banyak dari itu. “Siapa yang mau mendengarkan chart indie selain orang yang mengirim demo itu sendiri?” pikirnya. Tidak disangka, gayung ternyata bersambut, 2 lagu­ nya, yakni “Adelaide Sky” dan “Memilihmu”, dikabarkan akan diputar di Prambors. Selain itu, kedua lagu itu akan dipakai untuk Ring Back Tone (RBT). Ia pun sedikit kaget karena Prambors juga menawari sejumlah kontrak sebe­ lum lagu­lagunya diperdengarkan di udara. Di satu sisi, Adithia memang hanya ingin menempat­ kan musik sebatas kesukaan dalam kesehariannya saja. Namun, di sisi lain, kesempatan ini adalah peluang bagi­ nya untuk merangkak ke lingkup yang lebih luas kendati ia tidak pernah mengharapkan apapun dari situ. Meski­ pun sedikit tak yakin, Adithia akhirnya mengiyakan ta­ waran menggiurkan dari Prambors itu. Pertaruhan nasib pun dimulai, lagu Adithia dilempar ke ajang Chart NuBuzz. “Adelaide Sky” start dari posisi ke­8, dan mulai beranjak naik dalam beberapa pekan, dari posisi ke­6, kemudian ke­4. Tidak disangka­sangka, “Adelaide Sky” sukses menduduki posisi puncak. “Senang sekali rasanya! Ternyata Tuhan tidak sepenuhnya menolak rencana bermusik saya!” ujarnya girang. 12
  • “Saya berusaha keras untuk tetap humble, lalu ber­ pegangan ekstra erat ke kursi, siapa tahu badan tiba­tiba melayang!” tambahnya. Tidak hanya itu, lagu “Memilih­ mu” masuk ke dalam album kompilasi NuBuzz 1.1 yang berisi lagu­lagu andalan Chart NuBuzz. Selain lagu karya Adithia Sofyan, lagu milik Sind3ntosca dan Drew juga ter­ himpun di album ini. Karya Adithia yang berkibar di Nubuzz dan juga mela­ lui siaran radio lainnya tak pelak menuai apresiasi. Salah satunya adalah lewat jejaring sosial MySpace di mana ba­ nyak orang memberikan kata selamat kepadanya. Adithia lantas teringat mini albumnya yang masih tersisa 70 ke­ ping itu. “Saya pasang gambar 70 keping EP saya di halaman MySpace. Saya mempersilahkan setiap orang yang berminat untuk meninggalkan alamat mereka untuk saya kirimi EPadhitia.doc “Berbagi gratis ternyata bisa sangat menyenangkan.” 13
  • saya ini,” tuturnya. Hebatnya, ia membagikannya secara gratis, bahkan ongkos kirim pun ditang­ gungnya. Kurang dari 2 bulan, mini albumnya laris. “Ternyata bagi­bagi gratis bisa sangat menyenang­ kan,” ujarnya bahagia. Sekali lagi, Adithia Sofyan “terpaksa” terjun ke dunia musik hanya demi kesenangan semata, sama sekali tidak ada kepentingan ekonomi, apalagi bermimpi ingin menjadi pesohor. ”Hanya karena saya suka menulis musik, bukan selalu berarti saya ingin menjadi terkenal,” demikian prinsip yang se­ lalu dianut Adithia Sofyan. adhitia.doc14
  • ”Hanya karena saya suka menulis musik, bukan selalu berarti saya ingin menjadi terkenal.”adhitia.doc Nama Adithia Sofyan sebagai musisi kamar yang suka berbagi ternyata sudah terlanjur dikenal. Tanggal 5 April 2008 mungkin menjadi hari yang paling mendebarkan dalam hidup Adithia. Pada hari itu, ia “dipaksa” keluar kamar, diundang tampil live dalam acara Art Fest di salah satu kampus terkemuka di ibukota: Universitas Atmajaya. Terang saja Adithia agak sedikit demam panggung. Ter­ akhir kali ia tampil bermusik di depan publik adalah pada tahun 2000, dan kini ia harus menghadapi situasi serupa di usia yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi. “Halo semua, gue Adhitia Sofyan, musisi kamar, agak grogi juga karena hari ini harus main di luar kamar,” sa­ panya kepada hadirin di Atmajaya, sedikit gugup. Pada penampilan perdananya di luar kamar itu, Adithia mem­ bawakan 4 lagu. Ternyata mereka suka, bahkan meminta lebih. “Sayang, saya cuma benar­benar prepare 4 lagu,” jelas Adithia mengenang saat­saat monumental itu. 15
  • Selepas penampilan manisnya di Atmajaya, nama Adithia semakin terangkat. Pada Agustus 2008, sepucuk pesan masuk ke inbox akun MySpace miliknya. Pesan itu ternyata dari Tyas A. Moein, produser film “Kambing Jan­ tan: The Movie”. Tyas menyatakan sangat tertarik dengan lagu “Adelaide Sky” untuk dijadikan salah satu lagu yang akan dimasukkan ke dalam filmnya. “Judul dan liriknya pas sekali dengan isi film ini,” ujar Tyas dalam pesannya. Adithia serasa mendapat durian runtuh. Salah satu lagu­ nya akan ikut ambil bagian dalam film yang diperankan langsung oleh Raditya Dika itu. “Kambing Jantan: The Movie” adalah film Indonesia yang diang- kat dari blog dan novel Raditya Dika. Film yang dirilis pada 5 Maret 2009 dan disutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini menampil-adhitia.doc kan Raditya Dika sebagai pemeran utama. 16
  • “Quiet adh itia .do c Downadalah pintu masuk saya kem- bali kemusik.” Sebenarnya, di waktu yang hampir bersamaan, Adithia sedang berusaha menyusun full album perdananya. Pihak NuBuzz pernah tertarik untuk memproduksi lagu­lagunya dalam format full album. Untuk mengisi komposisi album ini, ada 6 lagu baru yang akan digabungkan dengan 5 lagu yang telah diciptakannya sebelumnya. Ketika materi album sudah siap, ternyata NuBuzz, yang saat itu baru saja melepaskan diri dari Prambors, belum siap membuat full album. “Sebetulnya saya hanya menggantungkan ke NuBuzz untuk urusan full album ini,” keluhnya. Kendati demikian, Adithia memutuskan untuk jalan terus. Di bawah produksi sendiri, album perdana bertajuk Quiet Down: Bedroom Recordings Vol. 1 berhasil dilun­ curkan. Hebatnya lagi, proses pembuatan album itu dilaku­ kannya sendiri, dari menciptakan lagu, rekaman, mende­ sain sampul album, hingga memasarkan albumnya. Selain disebarkan gratis via internet, Quiet Down juga tersedia di toko­toko kaset dalam bentuk CD. 17
  • “Quiet Down adalah musik untuk santai atau istirahat,”komentar Adithia. Ia memang lebih nyaman bekerja padamalam hari ketika suasana tenang. “Jika dalam kondisitenang, kita mungkin akan mendengar atau mendapatsesuatu dengan lebih jelas,” tutur Adithia. Quiet Downkian menegaskan identitasnya sebagai musisi. Ia mulai ber­gairah lagi untuk melanjutkan mimpi yang sempat diku­burnya dalam­dalam. “Album ini adalah pintu masuk sayakembali ke musik,” tegasnya. Sinyal tenar Quiet Down ternyata terpancar sampai keJepang. Album ini dipasarkan secara resmi di Jepang olehsebuah label indie bernama Production Dessinee. Seorangpenikmat musik dari Jepang, Horiuchi Takashi, memberiapresiasi terhadap lagu­lagu Adithia Sofyan. “Sudah lama saya tak pernah menyimak album akus­tik senikmat ini,” tutur Takashi lewat tulisannya. “Sayatelah berprasangka buruk terhadap Indonesia. Saya tidakmengenal Adhitia Sofyan secara detil, tapi saya pernahdengar bahwa album (Quiet Down) ini direkam di kamar­nya, memadukan gitar dan nyanyian, menghasilkan am­bience yang merilekskan, hangat menenangkan persisseperti matahari, apalagi bila didengarkan oleh orangsakit yang sedang beristirahat di atas tempat tidur rumahsakit.” adhitia.doc18
  • Respon publik terha­ dap album pertamanya yang menggembirakan memacu Adithia kem­ bali masuk kamar untuk menggarap album lagi. Kali ini bersama label De­ majors, Adithia merilis album keduanya: Forget Your Plans, Bedroom Recor­ dings Vol. 2. Sedikit berbeda de­ ngan album sebelumnya yang hampir semua la­ gunya bercerita tentangadhitia.doc/repro relationship, tema untuk lagu­lagu di album kedua ini sedikit lebih beragam, ada yang berbicara tentang kota, kematian, dan tentu saja soal percintaan. Selain itu, atas saran seorang teman dari Demajors yang menilai lagu­lagu di Quiet Down terlalu seragam, maka di Forget Your Plans Adithia menambahkan beberapa ornamen alat musik seperti pianika, kulintang, xilophone, electric guitar, dan strings, agar album ini men­ jadi sedikit lebih riuh. Untuk distribusi, Adithia Harmoni adalah sebuah juga membuat album dalam bentuk fisik (CD) acara konser musik di supaya lebih resmi, selain tentu saja tetap kon­ Indonesia yang dikemas sisten menyediakan lagu­lagunya diunduh tan­ dalam nuansa orkestra pa bayar di internet. nan megah. Harmoni Sejak peluncuran Quiet Down hingga For­ yang disiarkan stasiun televisi nasional SCTV get Your Plans, Adithia sudah banyak tampil di sejak awal tahun 2010 panggung, baik on air maupun off air di berba­ menjadi perhelatan yang gai tempat di Indonesia. Tidak jarang ia tampil cukup bergengsi karena sepanggung, atau paling tidak di acara yang musiknya diaransemen sama, dengan para musisi nasional. oleh para komposer kenamaan Indonesia, Pada 20 Agustus 2010, Adithia mendapat seperti Andi Rianto dan kehormatan untuk ambil bagian dalam acara Purwacaraka. Harmoni di SCTV, di mana ia tampil bersama 19
  • Tantri “Kotak”, Anjie eks “Drive”, Sandy Sandoro, Rossa, Vidi Aldiano, Kikan eks “Cokelat”, Andy “/Rif”, dan para musisi papan atas lainnya. Selain itu, dalam konser “A Flava As You Like It” yang digelar di 4 kota besar di Indonesia pada pertengahan ta­ hun 2011, nama Adithia Sofyan sejajar dengan band atau musisi top Indonesia seperti Naif, Ipang, Mike’s Aparte­ ment, Pure Saturday, Ernest “Cokelat”, J­Rocks, dan masih banyak yang lainnya. Dari kamar pula, Adithia Sofyan bisa melenggang ke Asia. Albumnya yang sudah resmi diedarkan di Jepang mulai merambah ke negara­negara Asia lainnya. Tidak ha­ nya itu, ia pun didapuk untuk tampil di Singapura dalam pergelaran akbar Singapore’s Mosaic Music Festival. Adithia, bersama The Trees and The Wild dan Sarasvati, datang dari Indonesia dalam festival musik internasional yang di­ langsungkan di esplanaDe-theatres on the Bay pada tanggal 16­17 Maret 2011 itu. adhitia.doc Singapore’s Mosaic Music Festival merupa- Esplanade-Theatres on the Bay adalah pusat kan perhelatan musisi independen tahunan kesenian terbesar di Singapura, mencakupakbar di Singapura yang mengundang musisi seluruh cabang seni: musik, tari, teater, hingga terpilih dari negara-negara Asia lainnya. seni visual, yang fokus pada budaya Asia. 20
  • adhitia.doc Ini adalah kedua kalinya Adithia tampil di panggung megah Esplanade. Sebelum­ nya, tanggal 16­18 Juli 2010, ia manggung di tempat yang sama dalam perhelatan musik bertajuk Rocking the Region. Untuk Singapore’s Mosaic Music Festival, Adithia berang­ kat ke Negeri Singa lebih awal, yakni pada 13 Maret 2011. Ia datang cepat kare­ na harus berlatih bersama biduan tuan rumah, Ling Kai, dan Mia Palencia dari Malay­ sia, yang direncanakan tam­ pil bersamanya. Adithia Sofyan memang akan tampil penuh selama 2 hari. Pada 16 Maret 2011,ia berduet dengan Ling Kai dan Mia Palencia. Lalu dihari kedua, ia bermain bersama sesama musisi Indonesia,Sarasvati, selain tampil solo di atas pentas. 21
  • Jalur musik “berbe­ da” yang diusung Adi­ thia Sofyan membuat­ nya untuk melompat lebih tinggi. Ia diganjar penghargaan Indone­ sia Cutting Edge Musicadhitia.doc Awards (ICEMA) 2010. Dua kategori sukses di­ rengkuh Adithia, yakni Favorite Singer­Songwriter dan Favorite Solo Artist. Raihan ini semakin menegaskan kualitas Adithia di belantika musik Indonesia. Di ajang iCeMa 2010, terdapat nama­nama beken yang memperoleh penghargaan untuk masing­masing ka­ tegori. Sebut saja Maliq N D’Essential, Superman is Dead, Efek Rumah Kaca, The Sigit, Jiung, Barry Likumahuwa, Goodnight Electric, Gugun and Blues Shelter, Killing Me Inside, J Flow, DJ Riri Mestika, Tompi, Shaggy Dog, PAS Band, hingga sang legenda Fariz RM yang memperoleh Lifetime Achivement. Begitulah, cita­cita tertunda Adithia Sofyan untuk menjadi seorang musisi sejati mulai terwujud. Namanya pun sejajar dengan sederet jagoan musik Indonesia. Adi­ thia pantas berbangga hati karena ia dinilai ICEMA meru- pakan ajang mampu berbareng ber­ penghargaan gerak bersama para mu­ pertama di sisi kelas wahid Indone­ Indonesia sia. Dari ruang mimpi di kepada para sudut kamarnya, Adithia musisi yang Sof yan menapak karir konsisten di mu sik menuju jalan yang jalur non- terancam terang. mainstream. ICEMA diberi- kan untuk- mereka yang bersemangat pembaha- ruan dengan bentuk-bentuk ekspresi baru. lemahsinyal.blogspot.com 22
  • “Saya memang pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup saya, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan.” P ada suatu malam, Adithia kecil diajak orangtua­ nya untuk makan bersama di sebuah kafe di Solo. Kebetulan, malam itu sedang ada sajian live music di kafe tersebut. Kelompok musik yang tampil ada­ lah sebuah band top 40. Saat hendak menikmati hidangan yang tersedia, tiba­tiba Adithia terhenyak. Grup band itu mulai beraksi dengan memainkan salah satu hits Michael Jackson, raja musik pop yang memang sedang kondang di awal dekade 1990­an itu. >>>MEMBANGKITKAN MIMPI YANG TERKUBUR 23 adhitia.doc
  • ad hit ia. do c Adithia terkesima saat mendengar cabikan gitar yangmemainkan intro tembang Black or White. Ia terbengongdan berdecak kagum melihat permainan sang gitaris itu.Tanpa disadari, detik­detik itulah yang menjadi momenpencerahan bagi Adithia Sofyan, bahwa ia telah jatuhcinta kepada makhluk cantik nan merdu yang bernamagitar. Ia bertekad untuk lebih mengenal gitar lebih dekat.Sebenarnya ia sudah punya alat musik petik itu di rumah.Namun, selama ini, gitar itu hanya dimainkan sekenanyasaja, atau paling tidak untuk action semata. Di depan cer­min, ia sering bergaya bak gitaris handal, menimang gitartanpa irama sambil mendengarkan lagu­lagu kesukaan­nya. Mulanya, Adithia memang tidak begitu antusias me­nyambut kehadiran gitar pemberian ibundanya itu. Bukankarena tak suka, melainkan karena ia sendiri bingungbagaimana cara memainkan perangkat musik genjrengtersebut. Alih­alih memetik senar gitar dan menghasilkanirama lagu sederhana, untuk sekadar menyelaraskan nada­nada saja ia masih kesulitan karena jari­jari mungilnyasama sekali belum terlatih.24
  • Namun, malam di kafe itu mengubah semuanya danbenar­benar menjadi malam yang istimewa bagi Adithia.Gitar yang dimainkan oleh sang gitaris yang tampil malamitu berbeda dengan gitar miliknya. “Itu elektrik gitar,dengan suara distorsinya yang heboh, dimainkan live didepan mata dan telinga saya!” seru Adithia mengenangapa yang dirasakannya di malam bersejarah itu. Raungan gitar yang membahana karena terhubungdengan arus listrik itu seolah­olah menyengat kesadaran­nya, bahwa sepertinya ia telah menemukan tujuan hidupyang sesungguhnya. Tanpa pikir panjang, ia berkata man­tap kepada sang ibunda, “Mama, aku ingin les gitar elek­trik!” “Saya tidak bisa men- jelaskan apa artinya gitar buat saya. Gitar adalah saya!” 25 adhitia.doc
  • Sepekan setelah malam itu, Adithia Sofyan langsungikut kursus gitar di Yayasan Musik Indonesia di Solo. Na­mun, ia tidak lama belajar di tempat les itu. “Setelah se­tahun, saya merasa sudah cukup ilmu, setidaknya buatgenjrang­genjreng di kamar sendiri,” ujarnya. Permainan gitar Adithia memang terkesan naturaldan apa adanya. Ia tidak memaksakan diri untuk mema­hami sesuatu yang memang di luar jangkauannya. Bahkan,Adithia sendiri mengakui bahwa tidak semua chord dalamlagu­lagunya yang benar­benar dime ngerti olehnya. Ketika banyak di antara penikmat musiknya yang me­minta chord gitar lagu­lagunya, dijawabnya dengan jujurbahwa ia sendiri tidak tahu nama chord­chord itu. Ia mereka­reka sendiri seperti apa bunyinya, asal terdengar nyamandi telinga. “Saya selalu membiarkan jari­jari saya menelusuri neckgitar dan membentuk formasi­formasi seenak saya saja. itia .do c hBentuk­bentuk chord yang cocok di kuping lalu sering saya admainkan, sampai akhirnya saya terbiasa dengannya,” aku­nya polos. “Menulis musik itu sepert i menulis buku harian...”26
  • Begitu pula dengan cara Adi­thia dalam menulis lirik. Naturaldan apa adanya, mengalir begitusaja. Baginya, menulis musik ibaratmenulis buku harian di mana iaharus menjaga serpihan emosi danmenyimpannya baik­baik di dalamhati. “Seperti menulis diary, tidakada yang mengatur, tidak ada yangbilang jelek, bagus, salah, dan se­bagainya,” katanya. Ia tidak per­nah menghafal lirik lagu yang telahditulisnya. Menurutnya, lirik lagubeda dengan rumus kimia. “Jangandihafal, dibiasakan biar kenal dandinikmati,” pesannya. Bahkan tak sekadar itu, menu­rut Adithia, menulis musik adalahhal yang sangat pribadi dan ter­kadang hampir seperti sesuatuyang spiritual. “Musik adalah karyayang bernada,” demikian definisimusik menuru Adithia. Ia menulis adhitia.docmusik hanya menuruti mood. Ia mengaku tidak menggantungkaninsipirasi dari manapun. Musik datang semaunya, ia tinggal mene­ rima yang datang itu. Adithia punya modal berharga, yakni bahwa ia sangat mencintai gi­ tar. Ya, Adithia adalah seorang satria bergitar, dan ia punya alasan je­ las mengenai itu. “Gitar akustik adalah kenda­ raan paling simple untuk membuat lagu, terde­ ngar lebih spontan, ju­ jur, dan apa adanya,” jelasnya. 27 adhitia.doc
  • adhitia.doc Adithia men­cintai gitar, bah­kan tanpa ia tahupenyebabnya.“Saya tidak bisamenjelaskan apaartinya gitar bu­at saya. Gitar adalah saya!” katanya lugas. Tidak bisa dipungkiri, kecintaannya pada gitar bermuasal dari“malam pencerahan” yang terjadi di kafe saat ia remaja dulu. Sejakitulah, Adithia menetapkan cita­citanya: ia ingin menjadi musisi,Apalagi menyanyi adalah salah satu hobinya sejak kecil di mana iasudah senang bersenandung sambil mendengarkan lagu­lagu yangdiputar di radio. Terkadang, Adhit kecil iseng­iseng merekam suaranya sendiridengan tape recorder. Saat itu, ia paling suka menyanyikan lagu­lagu milik Bon Jovi, atau tembang­tembang musisi Indonesia yangsedang populer kala itu, Ikang Fawzi atau Farid Harja misalnya. Ru­mah orangtuanya yang berlokasi di Perumahan Fajar Indah Solopun tidak pernah sepi dari tingkah polah Adhit kecil yang enerjik. Adithia Sofyan tumbuh dan dibesarkan di Surakarta, Jawa Tengah,meskipun ia bukan anak asli Solo. Adithia dilahirkan di titik sen­trum Tanah Sunda, yaitu di Bandung, pada 6 November 1977. Iadan keluarga pindah ke Solo pada tahun 1981, atau ketika usianya 28
  • masih 4 tahun. Adithia sangat beruntung karena ia meng­alami masa­masa kecil yang indah dan membahagiakan.Ia punya banyak teman sepermainan di solo. Ia pun cukupdekat dengan ayahnya, dan terutama dengan ibundanya. Ia menikmati masa kecil sekaligus usia mudanya dipusat peradaban Jawa itu sejak usia Taman Kanak­kanakhingga SMA. Adithia bersekolah di TK Taman Putra Solo,lalu di SD Negeri Bromantakan 56 Solo. Saat menginjakremaja, ia menempuh pendidikan menengah pertama di mahdimuhammad.docSMP Negeri 1 Solo sebelum melanjutkan ke jenjang yanglebih tinggi, yakni di SMA Negeri 4 Solo. Masa studi di SMA Negeri 4 Solo ternyata tidak iahabiskan. Di tahun ketiga, ia pindah sekolah ke AmerikaSerikat. Di negeri Paman Sam inilah naluri bermusiknyasemakin menguat, ia ingin mewujudkan cita­citanya seba­gai musisi. Tahun 1996, atau ketika usianya menginjak 19tahun, ia mencoba peruntungan dengan mendaftarkandiri ke sekolah musik Berklee College of Music di Boston. 29
  • “Saya merasadiingatkan, kalau mau bermusik tidak perlu harus lewatBerklee College.” nisa mak mur. doc Sayang, ia gagal diterima menjadi siswa di sana karena pengetahuan musiknya dinilai belum memenuhi syarat. Adithia sedikit terpukul menerima kenyata­ an itu, ia ke Amerika memang bertujuan untuk serius di bidang musik. “Memang saya pernah berencana menjadikan musik sebagai pilihan hidup, tapi saya rasa rencana itu sudah ditolak Tuhan,” kenangnya mengingat peristiwa di Bos­ ton. Namun ia tetap lapang dada. Kelak, keikhlasan dan kesabarannya akan membuahkan hasil. Kuburan impiannya ternya­ ta masih bisa dibangkitkan. “Saya merasa di­ ingatkan, kalau mau bermusik tidak perlu harus Berklee College lewat Berklee College. Oleh Tuhan, saya diminta of musiC adalah menunggu sampai tahun 2007 di mana saya bisa sebuah sekolah membuat lagu yang tidak memalukan, cukup tinggi musik baik, dan layak dengar,” ungkapnya. terkemuka di Boston, Amerika Serikat, yang didirikan oleh Lawrence Berk pada lebih dari setengah abad yang lampau. 30
  • “Mainkan saja apa yang terdengar...”adhitia.doc Adithia menyadari bahwa karakter bermusiknya sela­ ma ini memang tidak berlandaskan rumus­rumus teori. Ia lebih suka langsung praktek daripada harus mempela­ jari tetek bengek teori. Ia mengaku tidak pernah terpaku pada chord. “Mainkan saja apa yang terdengar,” begitu resepnya. Saat kursus di Yayasan Musik Indonesia di Solo, misalnya, ia sudah “menolak” hal­hal yang berbau teori. Maka tidak heran jika permainan gitar Adithia tidak me­ ngandung chord­chord yang justru bisa memusingkan. Definisi kreativitas bagi Adithia adalah kebiasaan, jadi tidak usah terlalu pusing menjaga kreativitas itu. “Kalau sudah menjadi kebiasaan tidak usah dijaga, sudah nature­ nya,” ungkap penyuka nasi rawon dan nasi liwet ini. Play by ear, demikian Adithia menyebut metode bermusiknya. Pemahaman seperti ini masih dianutnya hingga sekarang, dan pada akhirnya memang membuahkan hasil positif kendati ia harus menunggu cukup lama dan nyaris meng­ ubur mimpinya untuk berkecimpung di belantika musik. Terpental dari ujian masuk di Berklee College of Music di Boston membuat Adithia Sofyan sejenak mengalihkan konsentrasinya ke ranah desain grafis. Adhitia memutuskan >>> 31
  • menyeberang ke Australia untuk menempuh studi di KvB Institute of Technology North Sydney dan mengambil ju­ rusan Graphic Design and Multimedia. Setelah lulus tahun 1999, ia langsung pulang kampung ke Solo. Di Kota Bengawan, gairah bermusiknya kembali mun­ cul. Bersama sejumlah karibnya, Adhitia membentuk band dan sering diundang ke acara­acara kampus. Tak hanya itu, ia dan kawan­kawan juga membuat demo album yang disebarkan ke berbagai stasiun radio di Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Karya mereka mendapat respon positif. Tawaran manggung pun semakin banyak.priyadiimannurcahyo.doc adhitia.doc Di tengah kesenangannya menikmati hidup sebagai musisi, ternyata Adithia dihadapkan pada pilihan lain: ia mendapat panggilan ke Jakarta untuk bekerja sebagai de­ sainer grafis. Pada November 2000, ia memutuskan untuk melangkah ke seberang menuju ibukota dan bergabung dengan perusahaan Matari Advertising. Jauh­jauh sekolah desain hingga ke Negeri Kanguru ternyata tidak sia­sia. Tidak sampai 2 tahun bergelut di ranah desain grafis, ia sudah mencapai level Junior Art Director. 32
  • Pada pertengahan tahun 2002, Adithia mundur dari Matari untuk menimba lebih banyak pengalaman lain. Se­ lama 6 bulan, ia menetap di Singapura untuk mengikuti portfolio course di Singapore Institute of Advertising dan selesai akhir tahun itu juga. Ia juga mendapat kesempatan untuk magang di biro iklan Lowe Singapore. Sebenarnya Adithia ingin mencoba bekerja di Singa­ pura, “... namun ternyata bekal saya dari Matari belum cukup untuk menaklukkan negeri jiran yang satu ini,” ungkapnya. Kebetulan, di waktu yang sama, ia menda­ pat tawaran dari biro iklan JWT di Jakarta untuk menjadi Art Director. Maka, pada Januari 2003, ia pun kembali ke Jakarta. Segera setelah itu, Adithia menikahi perempuan yang dicintainya, Iim Fahima Jachja.adhitia.doc Selama di JWT, Adithia menorehkan pres­ dd.doc tasi gemilang. Nyaris tiap tahun ia meraih crea­ tive award, seperti Citra Pariwara atau ADOI Awards, yang di antaranya diraih berkat kerja tim. Ia bertahan di JWT hingga mencapai po­ sisi sebagai Senior Art Director dan mundur pada September 2005, “Saya meninggalkan hiruk­ pikuk panggung periklanan nasional dan hijrah ke industri online advertising,” tuturnya. 33
  • Bersama sang istri, ia kemudian mendirikan biro kon­sultan online marketing bernama Virus CoMMuniCations. Pe­kerjaan Adithia sebenarnya masih sama dengan semasa didunia iklan, yakni membuat ide­ide kreatif untuk kampa­nye iklan klien, “Namun, ada satu hal fundamental yangsangat berbeda: medan tempur saya adalah internet,” ka­tanya. virtual.co.id Virus Communications adalah biro kon- sultan di bidang online marketing yang kemudian menjadi divisi baru di perusa- haan yang sudah mapan sebelumnya, Virtual Consulting, yang digawangi oleh Nukman Lutfie. Begitulah, internet menjadi pegangan baru Adithiadalam perjalanan karirnya hingga saat ini. Berkat inter­net pula ia dapat kembali menemukan atensinya di jalurmusik yang sempat terlupakan. Kini, setelah secara me­nyerahkan kepada sang istri untuk mengendalikan bisnismereka, Adithia bisa lebih berkonsentrasi untuk mem­bangkitkan mimpinya yang terkubur meskipun tujuanyang dikejarnya bukanlah soal materi atau ketenaran se­mata. Atas nama cinta, Adithia Sofyan kembali ke duniamusik, dunia yang selalu ada di dalam hari dan hatinya.34
  • BUKAN siapapun, hanya IBUNDA “Menangis di depan Ka’bah serasa membuat saya kembali ke umur 3 tahun.(Saya pernah) me- adhitia.doc rengek di pang- kuan ibu karena sakit sewaktu K terjatuh, atau ebiasaan Adithia Sofyan sedari kecil yang doyan berdendang lan­ karena rindu saja tang sepertinya tidak luput dari pada ibu kenapa perhatian sang ibunda. Sang ma­ ma tentunya punya alasan mengapa mem­beliau lama sekali berikan gitar untuk anak tercintanya, saat Adhit masih berusia 14 tahun. pulang dari kan- Mengapa gitar? Mengapa bukan alattor, sementara ibu musik atau jenis barang lainnya? Tidak hanya tersenyum perlu dijawab, karena bagaimanapun juga, seorang ibu adalah orang yang pa­ sambil mengelus- ling mengerti tentang anaknya. Berkat naluri jitu ibunda, Adithia menjadi manu­ elus punggung sia yang suka bermusik, dan kini dikenal saya.” sebagai sosok musisi unik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bukan tidak mungkin Adithia menempatkan sang ibunda sebagai sosok terhebat dalam hidupnya. Pelukan sang ibunda ibarat ruang yang menyamankan bagi Adithia. Saat bibirnya mengaduh karena terjatuh dan terluka semasa kecil, misalnya, ia akan menangis sem­ bari menahan rasa sakit di pangkuan sang ibunda. Sementara sang ibu dengan senyum sabar berusaha memberikan ketenangan sambil mengelus­elus punggung mungilnya. Saking sayangnya kepada sang ibunda, Adithia mengaku tidak pernah malu mengumbar air mata ke­ tika ia merasa sang ibunda lama sekali pulang dari tempat kerja se­ masa ia masih bocah dulu. 35
  • Orangtua Adithia demokratis, mereka tidak membebaninya dengan bermacam tuntutan. Selama berjalan di arah yang benar, ibu dan ayah Adithia enggan tu­ rut campur meskipun kewajiban orangtua untuk membimbing dan mengingatkan tidak pernah ditinggalkan. Jalan menuju masa depan diserahkanadhitia.doc/repro sepenuhnya kepada sang anak. Terbukti,jalur hidup yang dipilih Adithia bukan jalan umum yang dilewatibanyak orang, bukan bidang­bidang yang biasanya dikehendaki,bahkan tak jarang dipaksakan, oleh kebanyakan orangtua kepa­da anak­anaknya. Dunia seni bukan sektor yang “menjanjikan” bagi sebagianbesar orang. Namun, Adithia dengan sadar memilih jalur khususyang tidak biasa ini. Seni musik dan desain yang dipilih Adithiauntuk kendaraan hidupnya tidak menjadi persoalan berarti bagiorangtuanya. Dan, Adithia berhasil membuktikan bahwa apayang dipilihnya bukan suatu kesalahan meskipun orangtuanyatidak pernah memerlukan pembuktian itu. Berkat sang ibunda, Adithia mengenal dan mencintai alatmusik gitar. Bisa dibilang, Adithia tidak bisa dipisahkan dari ke­beradaan gitar di sisinya, dan itu justru karena sang ibunda yangselalu mengingatkannya. “Setiap kali saya akan meninggalkanrumah selama beberapa hari bersama teman, ibu saya selalu ber­tanya: Apa kamu yakin tidak membawa gitar?” ujar pemilik gitarberjenis Cole Clark FL2A, Larrivee OM3R, dan Guild GAD50 ini. Bukan hanya bakat musik saja yang di­cermati sang mama. Adithia kecil juga ge­mar menggambar. Memang dua hal itulahyang menjadi pilihan hidup Adithia: me­nyanyi dan menggambar. Maka tidak heran,sang ibunda justru bangga saat Adithiaberkelana hingga ke Amerika untuk bela­jar musik dan ke Australia demi memper­dalam kemampuan desain grafisnya. Kebebasan berpikir dan keleluasaan 36
  • bergerak yang diberikan oleh orangtuanya membentuk karakter serta kepribadian Adithia saat dewasa. Ia menjadi manusia yang alami, apa adanya namun sangat kompetitif dan efektif dalam memaksimalkan apa yang diperolehnya. Adithia adalah sosok yang tidak pelit untuk berbagi, ia justru merasa bahagia apabila bisa membuat orang lain merasakan kegembiraan. Adithia juga tak ambil pusing atas penilaian orang terhadapnya. Yang terpenting, ia sudah bekerja maksimal dengan kualitas yang tetap terjaga. Mau dibilang apapun, ia menyerahkan sepenuhnya ke­ pada khalayak, termasuk penilaian orang terhadap lagu­lagu yang dibuatnya “Saya menulis lagu murni karena kecintaan pada musik. Pendengar dari lagu yang saya tulis adalah saya sendiri untuk saya dengarkan, nikmati, lalu senyum­senyum sendiri,” kelakarnya. Musik adalah bagian dari kebahagiaan dalam hidupnya, tidak dituju­ kan untuk kepentingan yang bersifat duniawi. “Saya bukan berasal dari industri musik, saya mem­ buat musik hanya untuk kesenangan sendiri saja,” paparnya. “Ada atau tidak orang yang mau mendengarkan, saya akan terus menulis lagu karena itu membu­ at saya bahagia dan me­adhitia.doc/repro menuhi kebutuhan saya untuk berkarya,” imbuh Adhitia. Lagu­lagu Adhitia adalah murni ciptaannya. Ia sendiri tak pernah tahu bagaimana lagu­lagu itu tercipta, bagaimana lirik­lirik yang di­ anggap syahdu oleh banyak orang itu bisa terangkai menjadi irama yang ternyata disukai. Ia hanya menimang gitar, menjajal dentingan dawainya sembari menyeruput kopi hangat, dan terciptalah bait­bait lagu sederhana namun menawan hati. Baginya, inspirasi akan datang begitu saja, namun sering pula tidak. Saat memetik gitar, lirik­lirik itu akan berseliweran di otak dengan sendirinya. 37
  • adhitia.doc Meskipun tidak mengkultuskan sosok ter­tentu, namun bukan berarti Adithia tidakmemiliki musisi atau band yang menjadi in­fluence dalam lagu­lagunya. Teitur, Iron andWine, City and Color, The Swell Season, FionnRegan, Jack Johnson, Bon Jovi, hingga JohnMayer, sedikit banyak mempengaruhi warnamusiknya. Bahkan, beberapa orang bilang,petikan gitar Adithia mirip dengan JohnMayer. Selain itu, ia juga sempat menyebutStevie Ray Vaughan dan Kurt Cobain. Selama ini Adithia memang dikenal seba­gai musisi spesialis pelantun lagu melankolisalias lagu cengeng karena lirik­liriknya yangbernuansa galau. Ia sendiri mengakui itu. “La­gu­lagu saya terbukti membantu orang bisatidur,” katanya. Namun siapa sangka, aliranmusik Adithia di masa mudanya lebih con­dong ke jalur musik metal. Saat masih diSolo, ia mengaku sering mendengarkan danmemainkan lagu­lagu keras milik band­bandcadas kelas dunia, sebut saja Sepultura, IcedEarth, Manowar, Prong, Sevendust, Megadeth,Kreator, dan semacamnya. Ia juga punya bandmetal lokal favorit, yakni Melancholic Bitchdari Jogja. Dalam riwayat bermusik Adithia, sempatterselip nama Michael Jackson (MJ). Sepertiyang telah disinggung sebelumnya, keterta­rikan Adithia terhadap gitar dimulai ketika iamendengar desingan gitar yang memainkanintro Black and White yang dipopulerkanoleh MJ. Meskipun bersikeras bahwa ia tidakmerasakan ada hubungan yang kuat antaragaya bermusik MJ dan musik yang ia main­kan, namun ia tidak bisa memungkiri bahwanama besar MJ pernah hadir dalam karir ber­musiknya. “Yang membuat saya ingin bermaingitar bukanlah lagu dari (Eric) Clapton atauVan Halen, melainkan lagunya MJ,” akunya. nisamakmur.doc 38
  • adhitia.doc Bahkan, saat mendengar kabar wafatnya MJ, Adithia mengaku bersedih, dan ia pun khusus menulis kesan ten­ tang MJ di blog pribadinya, AdhitiaSofyan.wordpress.com. Untuk musisi dalam negeri, Adithia memang tidak per­ nah menegaskan secara gamblang, meskipun mengakui bahwa ia dulu suka menikmati lagu­lagu Ikang Fawzi dan Farid Harja yang sangat populer di akhir era 1980­an dan di awal dekade 1990­an itu. Ada juga yang berpendapat bahwa gaya bermusik Adithia mirip dengan Ebiet G. Ade. Sekali lagi, Adithia tidak secara tegas mengiyakan pendapat itu, namun ia menyebut sosok Ebiet sebagai seorang legend. Dan tam­ paknya, Adithia pernah “berbisnis” dengan begawan musik balada Indonesia itu. “Salah satu gitar yang pernah saya punya ada pada beliau sekarang,” paparnya. Terlepas dari seabrek nama musisi yang secara lang­ sung atau tidak pernah hadir dan memberi warna dalam perjalanan musiknya, namun sang ibunda tetaplah men­ jadi satu­satunya sosok yang paling berpengaruh baginya. Jika naluri sang ibunda tidak tepat sasaran, mustahil Adithia tetap konsisten menjaga gairahnya terhadap musik hingga kini. Jika sang mama tidak berinisiatif membe­ likan gitar, bukan tidak mungkin ia tak akan pernah jatuh cinta pada musik, dan bisa saja minatnya akan beralih ke hal­hal lain seiring dengan proses kehidupannya. Bagi se­ orang Adithia Sofyan, ibunda adalah yang utama. Bukan karena siapa­siapa, hanya ibunda saja. 39
  • “Saya senang berbagi musik saya dengan orang-orang yang bersedia mendengarkan.” D unia internet ada- lah dunia maya. Dunia yang tanpa batas, lintas di- mensi, ruang dan waktu. Batas-batas “kode etik” yang dipatuhi di alam nyata barangkali tidak lagi diin- dahkan jika sudah masuk Berkarya ke ruang-ruang digital. Apapun bisa didapatkan dari internetuntuk BERBAGI Koridor hukum untuk mengatur tata kehidupan di negeri internet memang sudah lama dibahas dan mulai diterapkan. Namun, lagi-lagi itu belum maksi- mal dan efektif, apalagi sampai “mengancam” ke- amanan seseorang. Jika- pun “ancaman” itu benar adanya, orang tidak akan ambil pusing karena ban- yak rongga di internet un- c tuk berkelit dari jerat-jerat .do adh itia hukum itu. 40
  • Apa saja yang sudah dicemplungkanke dalam labirin tanpa berujung bernamainternet, maka bersiap­siaplah itu telahmenjadi hak milik bersama. Jika pahamcaranya, semua orang tanpa terkecualibisa menikmati apapun yang ditimbun diinternet secara cuma­cuma. Hasil dari proses panjang yang telahditempuh sangat mungkin bisa langsungdilahap habis dengan gratis di meja sajiinternet. Oleh karena itu, banyak musi­si, penulis, jurnalis, fotografer, peneliti,atau pembuat film yang geram karenahasil jerih payah mereka seolah­olahmenjadi “tidak berarti” bila sudah mas­uk ke internet. Hasil karya mereka bisadibajak, disadap, ditiru, diklaim, ataupun adhitia.docdikomersilkan oleh mereka yang memang belum tahu,atau tidak mau tahu, bahwa di internet pun terdapat eti­ka yang harus ditaati. Adithia Sofyan tampaknya jeli melihat fenomena itu.Diyakini, gejala massal seperti itu masih akan berlangsungdalam waktu yang cukup lama. Apalagi di Indonesia inter­net belum begitu memasyarakat sampai ke semua lapisan.Apabila internet sudah menjadi salah satu kebutuhanpokok sebagian besar orang di Indonesia, apa yang akanterjadi? Fenomena pencarian dan pemenuhan kebutuhansecara cuma­cuma pastinya akan kian merajalela. Satu­satunya solusi yang dapat dilakukan adalah mempelajariilmu ikhlas. Oleh karena itu, Adithia Sofyan sengaja menggratis­kan karya­karyanya untuk dinikmati oleh semua orang le­wat internet. Malahan, ia sendiri yang menyediakan lagu­lagunya untuk diunduh gratis agar khalayak ramai dapatmenikmatinya. Masih sedikit musisi di Indonesia yang mem­punyai “kesadaran” untuk mengikhlaskan karya ciptanyamenjadi santapan publik tanpa mengharapkan pamrihberupa materi. Namun, hal itu memang wajar, karenabagaimanapun juga, proses kreatif seseorang harus di­hargai dan diapresiasi dengan cara­cara yang patut. 41
  • Beruntung Adithia sedari awal sudah berprinsip bahwa ia tidak mengharapkan apa­apa dari musik, terlebih lagi soal duit. Ia tidak ada kepentingan penuh untuk hidup dari musik. “Saya tidak punya niat untuk menjadi seorang musisi yang serius dan berdedikasi. Saya mendedikasikan hidup saya untuk bersama istri dan putri saya,” tegas­ nya. Oleh sebab itulah ia tidak ragu menyebarkan lagu­lagunya via in­ ternet dan seluruhnya free. Semua orang boleh mengunduh lagu­lagu­ nya tanpa harus membayar. Menurutnya, berbagi gratis jus­ tru mempercepat brand building serta mempermudah lagu­lagunya terse­ bar dan dibicarakan orang. Selain itu, kesa­ daran untuk berbagi merupakan tren baru bagi penikmat musik yang nyaris tidak bisa dihindari karena per­ kembangan teknologi yang sangat cepat. adhitia.doc/repro42
  • Tidak hanya menyediakan karya ciptanya untuk diun­duh secara gratis, Adithia bahkan mempersilahkan bagimereka yang ingin memainkan ulang lagu­lagunya, de­ngan catatan, hal itu dilakukan tanpa muatan komersial. Lagipula, Adithia rasa tidak sendirian dalam hal ber­bagi ini, setidaknya untuk level global karena berbagi kar­ya gratis belum menjadi sebuah kelaziman di Indonesia.Di tataran internasional, banyak musisi yang sudah mela­kukannya. Adithia sendiri merasa bahwa berbagi adalahsesuatu yang menyenangkan. Ia senang bisa berbuat se­suatu yang bermanfaat bagi orang lain. “Sharing is fun,mudah, dan Insya Allah berpahala,” tuturnya. Alhasil, lagu­lagu Adithia menyebar cepat. Publik me­respon, menulis tentangnya di blog mereka, mencantumkannamanya di berbagai jejaring sosial, bahkan merekomen­dasikan lagunya ke teman­teman mereka. Bagi Adithia,mereka ini justru berjasa karena secara sukarela menyebar­luaskan karya­karyanya, dan diakui atau tidak, namanyapun meroket cepat, ia jadi dikenal lebih banyak orang. Soal hak cipta, untuk saat ini Adithia tidak begitu mem­persoalkan, karena memang beginilah kondisinya. “Ke­jelasan tentang hak cipta agaknya masih kurang clear diIndonesia. Lagu­lagu yang ada hak ciptanya juga dibajaksini. Apakah ada yang mencegah dan menanggulangi?”ujarnya balik bertanya. Prinsip tidak pelit berbagi gratis dan penerapan ilmuikhlas seperti dilakoni Adithia Sofyan tampaknya perlumulai dibiasakan, di samping juga harus terus mengupa­yakan tindakan­tindakan untuk menghargai karya cipta.Bukan tidak mungkin tren seperti ini akan tetap kekal se­ lama internet masih dibutuhkan dan selama manusia masih dapat berkelit dari aturan­aturan main di du­ nia digital yang masih dicari formula terbaiknya. So, selamat datang di rimba bebas hambatan! “Orang-orang yang bekerja di dunia kreatif harus bisa mendatangkan ide dalam kondisi apapun.” 43
  • “Still everyday I think about you. I know for a fact that’s not your problem.But if you change your mind you’ll find me. Hanging on to the place. Where the big blue sky collapse.” Bertahan di Tempat di Mana LANGIT RUNTUH c .do itia adh 44
  • S adhitia.doc etelah merasakan peng­ alaman yang mengesan­ kan dalam kehidupan bermusiknya yang sem­pat mati suri, Adithia Sofyanmulai berpikir untuk menjadimusisi yang tidak sekadar ama­tir lagi. Tetap tanpa tendensi ma­teri dan semata­mata hanya adhitia.docsebagai pelampiasan hasratmusikalnya saja, Adithia ber­tekad untuk serius bermusik.Ia memang berusaha profe­sional dalam setiap tanggungjawabnya, dari desain grafis,periklanan konvensional danmarketing online, serta akhirnyakembali ke belantika musik. “Ada atau tidak ada orang yang mau mendengarkan, saya akan terus menulis lagu karena itu membuat saya bahagia dan memenuhi kebutuhan saya untuk berkarya.”adhitia.doc 45
  • Supaya bisa benar­benar fokus di dunia musik yang kini dijala­ ninya, Adithia meilmpahkan pe­ ngelolaan perusahaannya kepada sang istri. Namun, sebenarnya ia masih tetap berada di situ meski­ pun lebih sering di balik layar. Ia sudah terbiasa bekerja di tengah tekanan dengan tetap menjaga standar kualitas. Baginya, mereka yang memi­ lih berkecimpung di dunia kre­ atif harus mampu menghasilkanadhitia.doc/repro gagasan segar dalam kondisi se­ perti apapun. Begitu pula dengan tanggung jawabnya kini yang boleh dibilang ganda. Ia harus bisa seimbang dan profesional di dua alam yang berbeda, di usaha on­ line marketing dan di ranah musik yang tengah digelutinya sekarang ini. Adithia Sofyan tidak ingin moment kebangkitan ini terbuang sia­sia. Oleh karena itu, ia wajib membawa ker­ ja­kerja musikalnya ke tahap yang lebih matang. Semua perencanaan, termasuk persoalan yang terkait dengan bisnis dan mitra dalam bermusiknya harus jelas. >>> “Saya mendedikasikan hidup saya untuk bersama istri dan putri saya.” adhitia.doc 46
  • rentalsoundsystem.com Adhitia berjanji, kebiasaannya berbagi tidak akan per­ nah dihilangkan karena dengan itulah ia bisa menjadi se­ perti sekarang ini. Ia tidak keberatan bakal “merugi” jika dengan berbagi bisa menyenangkan orang lain. Adithia Sofyan memilih berdiam di tempat di mana ia pernah berteduh. Meskipun ia sempat didera kecewa di tempat itu, ia tetap bertahan di tempat di mana langit runtuh. nisamakmur benablog 47
  • Perempuan HANDAL di Medan DIGITAL
  • M enulis dan teknologi adalah dua hal penting dalam karir dan perjalanan hidup Ollie Salsa­ beela. Perempuan kelahiran Yogyakarta yang bernama asli Aulia Halimatussadiah ini tidak hanya piawai memainkan jemarinya dan merangkai kata­ kata. Pengetahuan dan pengalamannya di ranah teknolo­ gi dan informasi telah mentasbihkan dirinya sebagai ju­ ragan di 6 perusahaan online atau start up dan menjadi penulis belasan buku. Semua ini berhasil digapai Ollie di usia yang relatif masih muda, 28 tahun. Menulis nyaris menjadi segalanya buat Ollie. Hampir setiap waktunya se­ lalu diselingi dengan aktivitas menulis. Kendati Ollie sudah cukup sukses di bidang industri teknologi informasi, namun ia tetap humble. Ia merasa le­ bih nyaman dikenal sebagai seorang penulis dan memang itulah jiwa se­ jati yang sesungguhnya tertanam di dalam dirinya. “Aku adalah seorang penulis karena itulah sebenarnya that’s me!” tegasnya. “I have a dream, and i haveanother dream. Sebuah mimpi mengantarkan aku ke mimpi yang lain untuk digapai. So, cita-citaku menjadi saudagar dunia maya.” 50 ollie.doc
  • ollie.doc “My passion is in book andwriting,” ucap Ollie sekali lagi.Ya, Ollie sangat gemar menu­lis. Tidak hanya di media on­line, semisal blog, namun jugamenulis buku. Belasan bukutelah tertulis dari jemari lin­cahnya. Ollie termasuk sedikit orangyang beruntung bisa merasa­kan manisnya blog pada masaitu. Blog pertama Ollie adalahphotoBlog yang berisi kegiatansehari­harinya. Kecintaan Ollie terhadapbuku dan hobi menulisnyamerambah ke jagat maya,khususnya industri teknologiinformasi. Berbekal penge­tahuannya di bidang IT danbantuan dari beberapa temandekat, Ollie menggebrak in­ PHotoBlog adalahdustri perbukuan tanah air dengan dua amunisi: sebuah berbagi fotoonline book store yang kemudian dikenal dengan nama Ku­ melalui mediatuKutuBuku.com dan situs online self publishing yang ia diri­ semacam Blog.kan bersama seorang karibnya pada Oktober 2010 yang Ini sedikitdiberi nama NulisBuku.com. berbeda dengan Blog biasa yang “Saya merasa kesulitan untuk belanja di online book umumnya hanyastore yang ada. Saya sangat cinta buku dan suka belanja fokus pada teks.banyak buku. Ketika menemukan masalah, sebagai pe­ PHotoBlogginglaku industri web saya bertanya pada diri sendiri: Menga­ (tindakan postingpa tidak dibenahi?” tutur Ollie. Ia sangat ingin membuka foto ke PHotoBlog)toko buku, tetapi ia Ollie tidak punya cukup uang untuk mulai marak pada awal tahunmendirikan toko buku yang besar. Solusinya adalah toko 2000-an denganbuku online, dan lahirlah KutuKutuBuku.com. Bisa dibilang, munculnya moBileini adalah salah satu toko buku online pertama yang ada Blogging dandi Indonesia pada masa itu. CameraPHones. 51
  • Kisah lahirnya NulisBuku.com pun hampir serupa. Peng­alaman pahit karena naskahnya diabaikan penerbit men­jadikan semangat Ollie terbakar untuk meluncurkan on­line self publishing pertama di Asia Tenggara. “Di NulisBuku.com, saya tidak hanya menerbitkan buku impian saya,namun juga mewujudkan mimpi­mimpi penulis lain,” je­las Ollie. “Situs ini adalah layanan gratis untuk online selfpublishing­print on demand,” tambahnya. Berpikir selangkah di depan, jeli melihat peluang,dan menyukai tantangan, merupakan syarat­syarat untukmenjadi seorang entrepreneur. Ollie yang sesungguhnyaadalah seorang penulis tidak hanya mampu memadukanprinsip­prinsip kewirausahaan ke dalam profesi writerpre­neur, namun ia juga piawai mengawinkan teknologi infor­masi di ruang­ruang menulis dan dunia usaha. Di Indonesia, sosok perempuan yang bergelut di du­nia teknologi informasi masih sangat sulit dijumpai, danOllie salah satu wanita perkasa yang eksis di ranah itu. Ya,Ollie Salsabeela adalah sosok Kartini modern yang mela­koni perjuangan di medan digital. ollie.doc52
  • “Aku adalah seorang B penulis karena itulah E sebenarnya aku!” R J I dengan BB AU K K UUA ktivitas menulis Ollie sebenarnya te­ lah ia lakukan sejak usia remaja. Ia mulai menulis ketika masih SMP di mana pada saat itu ia gemar menuliskomik. Keahlian menulis Ollie tentunya tidakdidapatkan secara instan. Proses yang dijalani­nya memakan waktu yang tidak sebentar, bah­kan bertahun­tahun. Waktu duduk di bangkuSMA, Ollie sudah menulis berkali­kali meskipuntulisan­tulisan itu dirasanya belum berkualitasbaik. Tapi Ollie terus mencoba hingga ia tahucaranya dan pada akhirnya membuahkan hasil. 53
  • ollie.doc Minat menulis Ollie di jagatonline bermula ketika membacasebuah blog yang menarik danmenginspirasinya. “Jenis web­site yang isinya curhat­curhatanorang dan dengan layout yang ba­gus ini sebenarnya namanya apa?”tanya Ollie penuh rasa ingin tahu. Ollie mengenal dunia bloggingsejak tahun 2003 saat ia masih me­netap di daerah Depok, dekat Ja­karta. Ollie memakai layanan blogdi internet, semacam TextAmerica,Tabulas, Multiply, Wordpress, Blog­spot, dan akhirnya menggunakandomain serta hosting sendiri: Sal­sabeela.com. Bersama Multiply, Ollie tidakhanya sekadar nge­blog, namunjuga memulai bisnis online kecil­kecillan. Multiply adalah salah satu pioner blogging platform primadona di tanah air. Fiturnya sangat lengkap. Tidak hanya untuk menulis saja (blogging) namun juga sharing photo, video, reviews, guestbook, dan lain se­ bagainya. Dengan memanfaatkan Multiply, Ollie mencoba membuka toko online. Tidak hanya berhasil, toko online Ollie bahkan berhasil menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Momen inilah yang membuat Penerbit Mediakita memintanya untuk men­ ulis buku “Membuat Toko Online dengan Multiply”, terbit tahun 2008. “Buku itu men­ jadi buku how to pertama saya dan menjadi buku best seller,” tutur Ollie. Nama Ollie tidak asing di telinga para konsumen buku. Tercatatlebih dari belasan buku yang telah ditulisnya. Mulai dari buku yangberjenis novel, buku inspirasi, how to atau panduan, motivasi, bahkankuliner. Khusus untuk novel, ada salah satu novel Ollie yang menarikdan banyak menyita perhatian publik. 54
  • Di novelnya yang berjudul “Je M’appelle Lintang” (2006) kisahroman percintaan Lintang dalam mengejar cintanya hingga ke Parismengundang decak kagum. Bagaimana bisa seorang Ollie yang be­lum pernah menjamah ibukota Prancis itu mampu melukiskan sua­sana Paris secara detail seolah­olah pernah tinggal lama di sana?“Jawabannya cuma satu: riset!” kata Ollie. Pengalaman menulisnovel ini dijadikan Ollie sebagai pemicu dirinya ketika menuliskanbuku inspirasi dan motivasi berjudul “Inspirasi.net” (2008). Kembali ke soal blog. Ollie meng­ubah Salsabeela.com, menjadi blogmotivasi. Ia mengakui, pada awalaktif sebagai blogger, blog­nya berisihal­hal yang bersifat personal danpengalaman pribadi, laiknya sebu­ah online diary. Sejak tahun 2007, Ollie beru­saha untuk mengubah mindset ba­gaimana cara nge­blog. “Sekaranglebih berpikir jika mau nge­post. Ber­pikir apa untungnya buat oranglain dan inginnya bisa memotivasidan inspire others,” tekadnya. Blog Ollie bagai etalase apa yangada pada dirinya. Pengunjung bisamelihat rekaman keseharian, ide­ide, dan beragam usaha yang kinisedang ia jalankan. ollie.doc Atas jerih payah Ollie dalam mengins­ pirasi orang lain, Koran Sindo mengganjar Salsabeela.com sebagai Blog of the Week (2009). Tak hanya itu saja, Salsabeela.com juga diulas di salah satu kolom di CHIC Magazine (Desember 2008). Jauh­jauh hari sebelum belajar IT di Universitas Gunadarma, Ollie telah akrab dengan teknologi sejak SMA. Ia aktif berinternet sejak tahun 1997. “Awalnya lihat orang bikin Geocities, akhirnya bela­ jar sendiri. Waktu SMA, aku pernah bikin website company untuk KalongDesign.com. Setelah itu bikin website untuk guruku dan band sekolah,” tutur Oliie. 55
  • Selepas lulus dari Universitas Gunadarma pada 2004, Ollie berga­bung dengan Plasmedia­Plexis, sebuah perusahaan IT ternama berskalanasional di Jakarta. Ollie menjabat sebagai web developer, posisi yang bisadibilang sangat nyaman baginya. Ia senang sekali karena aktivitasnyayang selama ini ia lakoni hanya sebatas sebagai hobi ternyata dihargaidengan cukup baik. Di Plasmedia inilah awal bertemunya Ollie dengan Angelina An­thony, sosok sentral lain di balik layar lahirnya KutuKutuBuku.com. Olliebersama Angelina bak kembar siam yang susah dipisahkan. Mereka ber­dua bahu­membahu dan saling mengisi di setiap project yang datang.Ada banyak kesamaan antara Ollie dan Angelina. Khususnya dalamhobi mereka: buku. Mereka sama­sama suka membaca buku dan gemarberbelanja buku. Maka, muncullah gagasan untuk membuat online book store, yangkemudian dinamakan KutuKutuBuku.com. “Kutunya dua karena ada duaorang pecinta buku di belakangnya,” seloroh Ollie. Pada awal berdi­rinya, KutuKutuBuku.com tidak langsung dapat menggebrak di industriperbukuan. Meskipun gaduh internet telah mewabah di tanah air, na­mun budaya e­comerce masih belum terbiasa untuk diterapkan. Tidakhanya bagi calon konsumen, tapi juga untuk produsen alias penerbit. KutuKutuBuku.com yang hadir untuk memperpendek jarak antarapenerbit dan pembaca harus berjuang keras dalam mengenalkan dan men­gajarkan apa itu e­comerce, khususnya di pihak penerbit. Banyak darimereka yang kurang mengerti dan enggan beradaptasi dengan budayajual beli online. “Kita menerangkan apa itu toko online, bagaimana bekerja samadengan kita selain bekerjasama dengan penerbit konvensional. Kita “My passion is in book and writing.” 56
  • benar­benar berangkat dari nol,” kenang Ollie. Bersama Angelina,mereka bekerja rangkap: sebagai pemilik, CEO, OB, sekaligus admin. Meskipun ide membuat KutuKutuBuku.com muncul pada Desember2005, namun baru resmi diluncurkan pada Februari 2006. Salah satumomen yang mendukung terangkatnya KutuKutuBuku.com adalahterbitnya salah satu seri buku JK Rowling yang fenomenal itu, HarryPotter. “Kami memperoleh peluang bagus waktu itu, karena Harry Pot­ter baru launching,” tutur Ollie. Setelah 1,5 tahun menjalankan usaha, Ollie dan Angelina tiba disebuah persimpangan. Di satu sisi, bisnis mereka berjalan dan terusberkembang. Namun di sisi lain, mereka masih terikat kewajibandengan perusahaan di mana mereka bekerja. Dengan penuh per­timbangan, termasuk meminta saran dari maestro online marketingIndonesia, Nukman Luthfie, Ollie dan Angelina undur diri dari Plas­media setelah 2,5 tahun mengabdi di sana. “Keputusan untuk resign dari kantor sebetulnya sudah dipikir­kan lama. Tapi untuk eksekusi kami selalu merasa belum mampu.Sampai akhirnya aku dan Angel pergi makan dengan bapak nylenehIndonesia, salah satu panutan di bidang online marketing,” canda Olliemenyebut salah seorang pembimbingnya, Nukman Luthfie. 57
  • nukman lutHfie, salah satu pelopor online marketing di Indonesia. Pendiri Virtual.Co.iD, PortalHr.Com, Juale.Com, gilamotor.Com, musikkamu.Com, dan pecinta kopi hitam. Ollie dan Angelinamenumpahkan kece­masan mereka. Tak di­duga, Nukman Luthfiecuma berkata enteng,“Jadi, kapan mau re­sign?” Ollie dan Angelinabengong mendengarjawaban sekaligus per­tanyaan yang bernadalangsung tembak itu.Ternyata , Nukman Lu­ vivanews.comthfie langsung memberi “jaminan” atas kebimbangan yang Ollie dan Ange­lina rasakan. “Nanti saya tunjukkan jalannya,” janji sang guru meyakinkan. Kendati sempat sedikit shock, akhirnya dua srikandi ini menurutiapa yang disimpulkan oleh Nukman Luthfie. Mereka memutuskan danbertekad akan memilih jalan mandiri demi mengembangkan KutuKutu­Buku.com. Ollie dan Angelina resmi mengundurkan diri dari Plasmediapada 30 Agustus 2007. Untuk membuang perasaan stres, mereka berduakemudian melakukan tour keliling Asia Tenggara. Sepulang dari perjalanan yang menyenang­ kan sekaligus melenakan itu, Ollie dan Angeli­ na harus turun ke bumi. Ternyata, menjalankan operasional KutuKutuBuku.com sangat berat. Di “kantor” dengan ruangan sempit seukuran kamar kost, Ollie dan Angelina mengejar mimpi. Mereka pantang putus asa dan tetap beru­ saha kendati sering terbentur kendala finansi­ al. Akhirnya, KutuKutuBuku.com berhasil punya kantor baru yang lebih kondusif, yakni di Pan­ coran, dekat Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Keberhasilan KutuKutuBuku.com menggebrak tradisi belanja buku konvensional ke jalur on­ line menyita perhatian publik. Banyak yang mulai bertanya, bagaimana membuat toko on­ line, bagaimana memulainya, bagaimana kunci sukses dalam e­comerce, dan sebagainya. 58
  • Rentetan pertanyaan yang mem­ banjir ini memicu lahirnya TukuSolu­ tion.com, usaha jasa web developer yang awalnya khusus menangani soal e­comerce. Nama TukuSolution. com sendiri tercetus begitu saja. Uniknya, kata “tuku” didapatkan da­ ri kata “kutu” yang dibalik. Ollie belum berhenti bergerak. Obsesi untuk memaksimalkan dunia digital merangsang Ollie untuk ber­ buat lebih. Kali ini Ollie menggaet adik kandungnya untuk membangun sebuah produk baru. Karena sang adik doyan main game, maka mereka membuat sebuah start up games stu­ dio yang khusus menggarap games flash, mobile games, dan social games. TempeLabs.com, itulah nama karya dari duet kakak­beradik ini. Naluri penulis sekaligus pe­ bisnis Ollie terus berlanjut. Ber­ dasarkan pengalaman yang per­ nah ia alami bahwa seringkali tulisannya ditolak oleh penerbit, dan ia mengalami kekecewaan karenanya, maka ia digagaslah NulisBuku.com. Online self publi­ shing pada Oktober 2010. ini adalah wadah bagi para penulis yang naskahnya ditolak penerbit. Di sini, mereka bisa menerbitkan buku. “Aku ingin memberikan kesempatan besar bagi semua orang untuk mener­ bitkan karyanya!” ujarnya.ollie.doc 59
  • “Aku ingin memberikan NulisBuku.com terlahir berkat kerjakesempatan besar bagi sama apik antara Ollie dan Angelina, serta dibantu oleh 2 rekan lain, yakni semua orang untuk Oka Pratama dan Blilian Yotanega.menerbitkan karyanya.” NulisBuku.com adalah online self pub­ lishing pertama di Asia Tenggara. Kehadiran NulisBuku.com sejatinya tidak lepas dari kekecewaan Ollie saat naskah ditolak. ia merasa naskahnya layak untuk diterbitkan. Namun apa daya, penerbitlah yang berkuasa. Selain alasan “emosional” itu, Ollie sendiri ingin memiliki penerbitan. Melihat nama sendiri tertulis di sampul sebuah buku bagi seorang pe­nulis adalah kebahagiaan yang tidak ternilai. Namun, tak semua penulisbisa merasakan itu, tak semua penulis bisa menerbitkan naskahnya menjadibuku. Sistem penerbitan konvensional dan birokrasi yang rumit membuatpara penulis pemula sulit bersaing dengan para penulis mapan yang su­dah terjamin pangsa pasarnya. Mereka sulit menembus penerbit besar danakhirnya mengubur impian menerbitkan buku. Ollie yang tidak asing di industri perbukuan sadar akan ekosistem yangseperti itu. Bersama Angelina dan kali ini dibantu oleh dua orang mitranyayang lain, Oka Pratama dan Blilian Yotanega, Ollie melakukan revolusi didunia penerbitan. “Kita tidak hanya dapat menjadi seorang penulis, namunjuga dapat menerbitkan sendiri buku secara gratis!” ungkapnya bersemangat. 60
  • Sebenarnya NulisBuku.com berawal “NulisBuku.com mem-dari ide yang sederhana, tapi sarat berikan kesempatanmakna, khususnya bagi mereka yangingin menerbitkan bukunya sendiri. sebesar-besarnya ke-Konsep yang ditawarkan berbeda de­ pada para penulis tanpangan model pembuatan buku denganpenerbitan yang rumit, lama, dan me­ meninggalkan nilai-nilaimiliki potensi kendala soal harga dan komersial.”royalti. Di ranah cetak, satu buku minimalharus menyediakan dana Rp 25 juta,karena per buku harus dicetak 3000eksemplar sesuai tuntutan distributor.“Sedangkan jika lewat online self pub­lishing, penulis tidak harus mengeluar­kan dana namun tetap dapat royalti,”ujar Ollie. Sebesar 60% dari keuntungan ro­yalti diberikan untuk penulis. “NulisBuku.com memberikan kesempatan sebesar­besarnya kepada para penulis tanpameninggalkan nilai­nilai komersial,”tutur Ollie. Sejak berdirinya, Nulis­Buku.com telah mengalamilonjakan pengunjung hing­ga 300%, sampai Juni 2011.Anggota yang terdaftar se­banyak 6000 orang lebih. NulisBuku.com telah mem­publikasikan 400 judul bukudari berbagai genre dengantotal buku yang terjual lebihdari 9000 per eksemplar. Pen­jualan buku rata­rata tiap bu­lan adalah 1000 hingga 1500 “Saya tidak hanya mener-buku. bitkan buku impian saya, namun juga mewujudkan mimpi-mimpi penulis lain.” 61
  • NulisBuku.com juga menjaga komunikasi dengan anggotanyadan membentuk komunitas penulis dengan memanfaatkan mediasosial. Facebook dan Twitter selalu di­updates oleh admin dengan in­formasi­informasi seputar dunia penulisan seperti event gathering,lomba­lomba, tips menulis, sampai sekadar memantau kehidupanpribadi anggota yang membutuhkan dukungan. Atas kerja keras ini, NulisBuku.com berhasil menyabet penghar­gaan sparxup awarD 2010 untuk kategori Best E­comerce hanya selangsatu bulan setelah didirikan! Oleh karena itu, kiranya tidak berlebi­han apabila 4 orang punggawa NulisBuku.com, yakni Ollie, Angel,Oka, dan Brilian, dikenal dengan julukan “The Dream Team”. Selain KutuBuku.com, TukuSolution.com, TempaLabs.com, dan Nulis­Buku.com, Ollie juga mengelola karya online lainnya seperti Langsing­Mulus.com, sebuah web yang bergerak di bidang Weight Loss PruductRetail dan HearyBoutique.com. Yang disebut terakhir ini adalah butikonline yang khusus dipersembahkan untuk mengisi hari­hari sangibunda tercinta yang pensiun dini. Selain jualan baju lewat online,HearyBoutique.com juga punya butik di jalur darat alias offline. Tidak hanya itu, Ollie juga tercatat sebagai salah satu pemilikGantiBaju.com, situs yang memberikan kemudahan bagi para ang­gotanya untuk mendesain, mencetak, dan menjual baju sesuai de­ngan selera sendiri. Namun, pada Februari 2010, Ollie mengundur­kan diri dari keterlibatannya di GantiBaju.com. Aktif berbisnis juga diimbangi Ollie untuk aktif bersosialisasi. Iaterdaftar di berbagai komunitas dari aneka minat dan kesukaan,sebut saja Fresh, Girls in Tech Indonesia, Bincang Edukasi, Tangan di Atas,Jakarta Daily Photo, dan #StartUpLokal. Di berbagai komunitas itu, Ol­lie bertindak sebagai committee. Bahkan, di #StartUpLokal, ia duduksebagai inisiator bersama Natalie Ardianto, Nuniek Tirta, dan SannyGaddafi. sParxuP awarD adalah ajang kompetisi web bagi para digital startuP di Indo- nesia. sParxuP hadir untuk membuka kesempatan bagi para digital startuP di 62 Indonesia supaya lebih maju dan dapat terus berkarya.
  • #StartUpLokal adalah sebuah komunitas untuk para pemilik start up,penikmat dunia digital, developer, investor, dan media untuk bertemudan berkesempatan berkolaborasi. Komunitas yang aktif sejak April2010 ini semakin menunjukkan taringnya. Selain dukungan media, in­ vestor dari luar negeri pun ber­ minat menanamkan investasi. Bahkan, pada Maret 2011, para inisiator #StartUpLokal, termasuk Ollie, diundang ke Irlandia oleh Enterprise Ireland, sebuah inku­ bator start up yang berpusat di Dublin. Dublin, ibukota Irlandia, di­ gadang­gadang sebagai Silicon Valley­nya Eropa. Di sana, para inisiator #StartUpLokal melaku­ kan studi banding, belajar, dan mencoba mengadaptasi berba­ gai hal yang terjadi dari kema­ juan start up di Irlandia. Ollie sendiri mengaku memi­ liki mimpi khusus terhadap ko­ munitas yang digagasnya ter­ sebut dan berpengaruh positif terhadap Indonesia. “Suatu saat nanti, Indonesia mampu untuk menjadi Silicon Valley­nya Asia Tenggara,” itulah impian Ollie. 63
  • “Aku pernah ke mana-mana, ikut Ayah bertugas.Itulah yang mem- Anakbentuk karakterku dari kecil hingga sekarang.” SERIBU PULAU A ulia Halimatussadiah atau lantas lebih dikenal dengan nama Ollie Salsabeela, lahir di Yogyakarta, tanggal 17 Juni 1983. Namun, sejatinya, putri sulung dari pasangan Moch. Isnaini dan Harti ini adalah anak seribu pulau. Banyak wilayah di Indonesia yang mempengaruhi perkembangan karakter Ollie. Jogja, Makassar, Kupang, Banjarmasin, Bengkulu, Depok, dan Jakarta pernah dihuninya. Dari SD hingga SMA, Ollie berpindah­pin­ dah rumah, mengikuti tuntutan kerja sang ayah. Sedikit berbeda dengan sekarang, Ollie di masa kecil dikenal sebagai seorang gadis pemalu. Dulu, tubuhnya kurus namun ber­ postur tinggi. Gara­gara posturnya yang terlampau tinggi untuk anak seusianya, Ollie pernah “disingkirkan” dari tim penari yang pernah diikutinya saat sekolah di SD di Makassar. Tapi bagi Ollie, peristiwa itu hanyalah sekadar kenangan meskipun tentunya ia sempat menyimpan kekecewaan karena kejadian tersebut. Dari Makassar, Ollie yang saat itu masih kelas 6 SD, harus turut pindah ke Kupang untuk mengikuti ayahnya. Kehidupan di Kupang yang keras dan tanpa basa­basi mengharuskan Ollie untuk cepat beradaptasi dan mengubah sifat pemalunya. Di Kupang inilah Ol­ lie memasuki masa remajanya. Saat SMP, bakat Ollie di dunia pena 64
  • mulai muncul. Kegemaran membaca komikmembuatnya tertarik menggambar tokoh­tokoh komik kesukaannya. Di usia inilah Ollie mulai terpacu untuk menguasai ba­hasa Inggris. Keinginan itu sebenarnya bermula dari rasageramnya karena pernah dibilang “stupid” oleh seorang te­man. “Kata stupid itu membuat aku shocking!” kenang Ollie.Mulai sejak itu ia bertekad bahwa ia harus mahir berbahasaInggris, “Itulah yang membuat aku ingin masuk jurusan Sas­tra Inggris saat kuliah nanti!” ollie.doc Masih di umur SMP, Ollie pindah lagi, kali ini ke Borneo, tepatnya ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa tahun menetap di sana, Ollie kembali hijrah, kali ini ke salah satu daerah di Sumatera, yaitu Beng­ kulu. Di sini, tampaknya Ollie sudah cukup matang seiring usianya yang menginjak tingkat SMA. Di saat­saat itulah Ollie menjadi gadis primadona, iamulai berani muncul ke permukaan dan tampak bersinardi antara teman­temannya. Selain itu, Ollie remaja semakinmenyenangi dunia tulis­menulis. Ia menyukai mata pelaja­ran Bahasa Indonesia. Sebaliknya, ia alergi dengan pelaja­ran yang berbau ilmu pasti, semacam Fisika dan Matematika. Setelah lulus SMA, Ollie pulang ke tanah kelahirannya,Yogyakarta, untuk kuliah. Awalnya, sesuai dengan tekadnyawaktu kecil dulu, Ollie masuk ke jurusan Sastra Inggris diUniversitas Sanata Dharma Yogyakarta. Namun, di saat­saatterakhir, Ollie memutuskan beralih ke lain jurusan karenaia mulai tertarik dengan teknologi informasi yang nantinyaakan membawanya ke dunia lain yang bernama internet. 65
  • Ollie sepenuhnya sadar bahwa teknologiadalah tujuan akhirnya. “Dulu, jika disuruhmemilih, aku inginnya belajar Sastra Inggrisdan menulis puisi setiap hari. Namun aku sa­dar bahwa teknologi adalah katalis, alat untukmempercepat meraih tujuanku. Maka dari itu,aku memperdalam kemampuanku di bidangitu,” jelasnya. Demi mewujudkan misi itu, Olliepun terbang ke ibukota. Jurusan Teknologi Informasi adalah pintuyang dipilih Ollie untuk memperdalam kemam­puannya. Selama 4 tahun, sejak 2000­2004, iatercatat sebagai mahasiswa Universitas Guna­darma. Di masa­masa awal kuliah inilah namapanggilan Ollie mulai disematkan kepadanya.“Ada teman satu kelas yang namanya juga Lia,sama dengan namaku, Aulia. Supaya tidak ter­jadi kebingungan, akhirnya aku mengalah, danmengganti panggilanku menjadi Ollie sampaisekarang,” kisahnya. Kisah tentang asal­usul nama masih berlan­jut. Aulia Halimatussadiah kini dikenal dengannama Ollie Salsabeela. Nama belakang ini mun­cul terinspirasi dari nama cucu seorang tan­tenya. “Kebetulan (waktu itu) cucu tantekulahir dan namanya Salsabila,” ujar Ollie. Seba­gai pembeda, Ollie menulis nama belakangnyadengan huruf “e” ganda, bukan “Salsabila” tapi“Salsabeela”. Jadilah sejak itu ia lekat dengannama Ollie Salsabeela. Saat memasuki dunia dewasa seiring denganusia kuliahnya, Ollie memutuskan untuk menge­nakan jilbab. Ia mengaku, tidak ada paksaanatau permintaan dari siapapun untuk berjilbab.”Tidak ada suruhan dari orangtua dan tidak adacerita yang ‘aneh­aneh’ di balik keputusan itu.It’s just feel right saja. Tidak proses berpikir lama­lama,” ujarnya. 66
  • Selaras dengan kedewasaannya yang mulai tertata, Ollie tertarik untuk berbisnis. Ia berga­ bung dengan sebuah Multi Level Marketing semasa awal kuliah. Namun, kegiatan bisnis Ollie sebe­ narnya sudah dimulai ketika masih SD. Di usia se­ belia itu, Ollie pernah berdagang parsel Lebaran yang dijual kepada teman­teman sekolahnya. Di era kuliah pula Ollie mulai mencoba menu­ lis secara online. Ia kenal blog pada pertengahan 2003. Ollie penasaran dengan blog berpenampi­ lan menarik yang diisi beragam postingan yang inspiratif. “Aku mencoba membuat engine blog sendiri. Waktu itu aku coba upload ke hosting gra­ tisan,” kenangnya. TextAmerica adalah layanan blog pertama yang dimanfaatkan Ollie. Ia mengisi kontennya de­ ngan beragam foto. ia kemudian beralih ke Tabu­ las. Selama 2,5 tahun bersama Tabulas, Ollie me­ rangkai kisah hidupnya yang disusun rapi dalamollie.doc tiap postingan. Akhirnya, pada 2007, Ollie memu­ tuskan menggunakan domain dan hosting sendiri untuk mengakomodir kebutuhannya. Maka, la­ hirlah Salsabeela.com. Di blog pribadinya, pada awalnya Ollie ha­ nya menulis postingan yang terkait dengan kisah hidupnya sehari­hari. Pengalaman tersebut baik berupa foto, video, maupun tulisan. Namun, Ollie mulai sadar jika tulisannya tidak hanya untuk mengekspresikan jati dirinya, namun juga harus menginspirasi dan membantu orang lain. Mu­ lailah ia menggarap Salsabeela.com dengan lebih serius. textameriCa adalah salah satu album foto online pertama atau situs moBile Blogging yang memungkinkan pengguna untuk meng- unggah gambar langsung dari kamera digital/kamera ponsel atau gambar dimanipulasi dengan perangkat lunak pengedit foto untuk halaman pribadi. 67
  • Berkat ketekunan Ollie yang kemudian membuatSalsabeela.com menjadi blog yang cukup digandrungi ba­nyak orang, sejumlah pengharhaan pun diraihnya, sepertiBubu Award dalam kategori “Tourism Blog Writing Com­petition” tahun 2009 dan New Wave Marketing Picture dariMarkPlus pada 2008. Ollie pribadi juga pernah memper­oleh sejumlah penghargaan, misalnya penetapannya se­bagai salah satu dari 10 Beautifull Women in IndonesianIT World 2011 versi majalah Info Komputer. Ollie yang awalnya adalah gadis pemalu telah men­jelma menjadi perempuan yang handal dan mandiri.Karakternya yang keras, tanpa basa­basi, dan just go withit, merupakan hasil dari perjalanan hidupnya yang seringberpindah. “Sebagai anak seribu pulau, aku pernah kemana­mana, ikut Ayah bertugas. Itulah yang membentukkarakterku dari kecil hingga sekarang,” ujarnya Menjadi pemilik sejumlah perusahaan online yang se­dang beranjak sukses dan menjadi penulis yang produktif,apa lagi yang sebenarnya ingin dicapai oleh Ollie? Ternyatamasih ada, bahkan masih banyak! “I have a dream, and ihave another dream. Sebuah mimpi mengantarkan aku kemimpi yang lain untuk digapai. So, cita­citaku ya menjadisaudagar dunia maya,” tutur Ollie. BuBu awarD adalah ajang penghargaan untuk industri digital tanah air yang telah dimulai sejak tahun 2011. Kategorinya antara lain: Digital CamPaign, weB awarD, moBile aPPliCation awarD, Digital talent awarD. ollie.doc68
  • Benang MERAH yang .do c Mencerahkanollie K oalisi bidadari kembar, Ollie dan Angelina, se­ benarnya berawal dari pertemuan mereka saat keduanya bekerja di perusahaan yang sama. Ya, di tahun 2004, dua perempuan hebat ini sama­ sama sedang meniti karir di Plas­ media­Plexis, sebuah perusahaan teknologi dan informasi di Ja­ karta. Ollie dan Angelina punya kemiripan, termasuk dalam per­ “Teknologi adalah soalan hobi: keduanya adalah kutu buku. katalis. Maka dari itu, aku memperdalam kemampuan di bidang itu.“ 69
  • Di balik kesamaan itu ternyata terdapat perbedaan yang justrubisa saling melengkapi. Angelina lebih suka membaca buku fiksi,sedangkan Ollie cenderung gemar menyuntuki buku yang sedikitlebih serius. Meskipun beda jurusan, namun keduanya sama­samapenggila buku, dan dari sinilah kisah sukses itu bermula. Memiliki kesamaan minat membuat Ollie dan Angelina seringberdiskusi soal buku. Selain itu, lantaran sama­sama mengembanpekerjaan yang selalu berhubungan dengan internet, mereka bah­kan sering berkhayal, membayangkan seandainya bekerja di Ama­zon.com, sebuah toko buku online terkemuka di jagat maya. Siapa sangka, khayalan itu mendekati kenyataan. Keduanya me­mang tidak kemudian dipekerjakan oleh Amazon.com, namun jus­tru lebih dari itu. Mereka bahkan mampu merintis toko buku onlinesendiri. Pada Februari 2006, KutuKutuBuku.com resmi diluncurkan dibawah asuhan duet Ollie dan Angelina. Ollie dan Angelina memang sepasang partner yang bukan seka­dar mitra kerja, lebih dari itu. Bisa dibilang, perjalanan karir Olliedi dunia digital tidak dapat lepas dari peran Angelina, demikianpula mungkin sebaliknya. Intinya, kedua Kartini modern ini salingmengisi dan saling melengkapi dalam mewujudkan mimpi mereka. Angelina, Sarjana Multimedia dari Universitas Victoria di Mel­bourne, Australia, selalu ada di sisi Ollie, di setiap ide dan gagasanyang mereka cetuskan dan kemudian dijalankan. Keduanya punpernah merajut kerja sama di sebuah web consultan di mana Ollieberperan sebagai project officer, sedangkan Angelina selaku web de­signer. 70
  • Angelina bukan hanya sekadar teman kerja bagi Ollie. Angelina akan selalu ada saat Ollie membutuhkannya sebagai se­ orang sahabat dekat, bahkan sebagai tem­ pat pelampiasan curhat. “Angel is my ‘girl love’. I take her picture and upload to my blog sejak tahun 2006,” tulis Ollie dengan tulus di blog pribadinya. Memang, terdapat perbedaan karakter di antara keduanya. Ollie mengakui, ada beberapa sifat dari dirinya yang bertolak belakang dengan Angelina. “Angelina itu tidak banyak omong, berbeda dengan aku yang unintovert,” ujarnya. Sederet karya di gelanggang digital mulus berkembang berkat kerja keras Ollie dan Angelina. Mereka selalu berpedomanollie.doc just go with it dalam setiap lini online yang mereka garap. Mereka tidak perlu banyak waktu untuk berpikir. Begitu tercetus ide, langsung eksekusi. Memang pada fakta­ nya, duet ini kerap membuahkan hasil manis. Dan, secara tidak langsung, Ollie menunjuk Angelina sebagai salah satu orang yang pa­ ling berperan dalam perjalanan karirnya. Kedua orangtua Ollie juga memiliki pe­ ran yang tak kalah penting dalam hidup­ nya. Ollie memang sempat mencemaskan reaksi orangtuanya atas pilihan hidup yang akan dijalaninya. Ayahanda dan ibunda Ollie bekerja sebagai pegawai negeri sipil yang hidup hanya dari gaji mereka saja, tanpa ada sumber pendapatan yang lain. “Apakah mereka akan mengerti dengan keputusan anaknya yang akan terjun ke lembah yang masih gelap?” Ollie resah. Setelah berbincang, orangtua Ollie ternyata me­ ngerti, bahkan mendukung jalan hidup yang dipilih pu­ tri mereka tercinta itu. 71
  • “Kita pasti akan bisa jika terbiasa!” Masih ada nama Nukman Luthfie sebagai salah satu sosok yang turut berpartisipasi dalam proses pembentukan jiwa kreatif Ollie. Orang inilah yang menjadi “penasihat spritual” bagi Ollie, dan Angelina, ketika harus memilih anta­ ra tetap berkarir sebagai orang kantoran atau menjalani hidup sebagai pribadi yang kreatif dan mandiri. Selain itu, nama­nama seperti Ndoro Ka­ kung, Budiono Darsono, Paman Tyo, dan Goe­ nawan Mohamad diakui oleh Ollie sebagai tokoh­tokoh yang menjadi inspirasinya. Ollie menjelaskan, tokoh­tokoh tersebut sebenarnya terhubung oleh sehelai benang merah yang di­ namakan being creative. Ollie tercatat sebagai Professional Blogger (Pro Blogger). Ollie pernah di­rekrut oleh sebuah perusahaan dari Amerika Serikat. Selama 3 bulan, iadiminta membuat quality post dalam bahasa Inggris selama 3 jam dalamseminggu. Topiknya beragam sesuai tema yang mereka butuhkan, danOllie menerima imbalan sesuai dengan jumlah postingan yang ia tulis. Ternyata, keputusan Ollie untuk menerima tawaran sebagai Pro Blog­ger ini diinspirasi oleh Budi Putra, mantan wartawan Tempo dan formercountry editor Yahoo! Indonesia. “Mas Budi Putra bisa dibilang sebagaipelopor Pro Blogger Indonesia. Beliau resign dari pekerjaannya di majalahTempo (hanya) untuk nge­blog,” salut Ollie terhadap Budi Putra. Ollie sekarang menjelma sebagai sosok perempuan yang handal ber­tarung di medan digital. Dengan dukungan banyak orang, Ollie mam­pu memadukan hobi dan teknologi menjadi bekalnya dalam memasukigerbang kegelimangan. Ollie berharap, kelak banyak perempuan Indonesia yang mau danberani bersinggungan dengan kemajuan zaman. Jangan takut untukmenjamah dunia baru. Pandangan miring yang meragukan kemampuanperempuan untuk mampu mengakrabkan diri dengan teknologi harus di­hapus. “Kita pasti akan bisa jika terbiasa!” seru Ollie dengan tegas. 72
  • Membaca&MEMBUDAYAKAN Menulis “Aku tidak membutuhkanmood untuk menulis. I called it a mechanical writer!” 73
  • oll ie. do c “Aku mempunyai mimpi ingin menjadikan Jakarta sebagai pusat wisata buku dan menulis!” Meskipun telah cukup sukses dengan berbagai perusahaan online­nya, Ollie tetap merasa bangga dipanggil sebagai seorang penulis. Berkali­kali ditegaskannya bahwa ia sangat suka menulis. Lebih rinci, Ollie me­ nyebut dirinya sebagai seorang mechanical writer. Ibarat mesin, ia sama sekali tidak butuh mood dalam menulis. Ia bisa menulis di mana dan kapan saja, dalam kondisi apapun! Ollie prihatin dengan budaya baca tulis yang memudar. Minim­ nya perhatian pemerintah dan kurangnya minat baca tulis di masya­ rakat membuatnya miris. Ia pun membandingkan Indonesia dengan di Irlandia yang pernah dikunjunginya. “Di Indonesia paling banyak 18000 buah buku setahun untuk 240 juta penduduk. Di Dublin yang notabene hanya berpenduduk 5 juta orang, mampu men­supply 7000 buku/tahun,” keluhnya. Bersama KutuKutuBuku.com dan NulisBuku.com, Ollie sejatinya telah menjawab berbagai masalah terkait dengan mulai pudarnya tradisi membaca dan menulis di Indonesia. Orang yang enggan mem­ beli buku dengan alasan jauhnya lokasi dan minimnya toko buku kini bisa dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan mela­ lui KutuKutuBuku.com tanpa harus meninggalkan tempat. Sedangkan bagi para penulis pemula yang mulai frustasi karena naskahnya dito­ lak penerbit, Ollie menyediakan NulisBuku.com sebagai wadah untuk mempublikasikan karya­karya mereka, dengan royalti pula! Kendati sudah berjuang keras di medan digital demi kecerdasan anak bangsa, namun Ollie merasa itu masih kurang, belum cukup mampu menumbuhkan ekosistem baca­tulis yang ideal. “Aku mem­ punyai mimpi ingin menjadikan Jakarta sebagai pusat wisata buku 74
  • ollie.doc dan menulis!” kata Ol­ lie. Cara untuk mewu­ judkannya bisa berma­ cam­macam, mi sal nya dengan mendirikan pu­ sat membaca dan me­ nulis, atau menggelar festival writer dan book di Jakarta. Lebih jauh lagi, Ollie ingin supaya Indonesia bisa menjadi salah satu pusat buku dan industri tulis­me­ nulis, khususnya di level Asia Tenggara dan semoga juga mampu berbicara di tataran internasional. Namun, apabila hasrat membaca dan menulis masya­ rakat Indonesia tidak dilatih secara dini, maka akan sulit menumbuhkan ekosistem yang diinginkannya itu. Yang terpenting bagi Ollie adalah membangun kesadaran dulu. Jika orang sudah mulai terbiasa melakukan kegiat­ an membaca dan menulis, maka jalan itu akan semakin mudah. Medianya pun bisa bermacam­macam, tak harus hanya kertas, e­book juga bisa. “Tapi untuk memulai itu semua harus latihan dari sekarang,” lanjutnya. Ollie berencana menggenjot gairah kaum penulis dan calon penulis agar semakin bersemangat dan gigih dalam menghasilkan karya. Hal ini dilakukannya demi menum­ buhkan ekosistem membaca dan menulis di masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu bentuk realisasinya, ber­ollie.doc sama Raditya Dika, penulis nyentrik yang cukup fenomenal, Ol­ lie akan meluncurkan sebuah kelas menulis online. 75
  • “Dalam 10 tahun ke depan, KuTuKuTu- buKu.com akan mem- bantu pemerintah dalam mencerdaskan masyarakat Indonesia dengan buku.” ollie.doc Untuk menumbuhkan ekosistemmembaca, Ollie punya agenda ber­sama KutuKutuBuku.com. “Dalam 10tahun ke depan, KutuKutuBuku.comakan membantu pemerintah dalammencerdaskan masyarakat Indone­sia dengan buku dan mendirikanKutuKutuBuku Foundation,” ung­kapnya. Kegia t an yang akan dilakukanpun beragam, misalnya dengan men­dirikan penerbitan buku gratis untukanak­anak Indonesia yang kurangmampu, membuka Rumah Baca Ku­tuKutuBuku di daerah­daerah yang “Perfect ismasih di bawah garis kemiskinan, meng­ a journey.upayakan pemberantasan buta huruf Just do yourdengan Sekolah KutuKutuBuku, danmemasyarakatkan internet dengan best!”mendirikan Rumah Internet KutuKutuBuku. Bukan tidak mungkin, segala cita­cita yang dibarengi dengan doadan upaya dari Ollie dan semua pihak yang mendukungnya, ekosistembaca­tulis di tanah air tidak hanya sekadar tumbuh, namun akan dapatdipetik buahnya bagi kemajuan anak bangsa. Ollie adalah satu darisedikit sosok yang peduli akan moralitas dan kecerdasan bangsa iniyang semakin terpuruk, meskipun untuk mewujudkannya membutuh­kan waktu yang tidak sebentar dengan prosesnya yang tidak bisa lang­sung jadi. “Perfect is a journey. Just do your best!” demikian pesan Ollie. 76
  • Ambil Peluang dan ollie.doc BERAKSILAH! D ari rangkaian kisah per­ jalanan hidup Ollie, ada beberapa titik penting dalam meraih semua hasil yang digapainya saat ini. “Menulis itu bukan Ollie Salsabeela adalah anak se­ ribu pulau yang selalu berpindah bakat, menulis bisa tempat. Namun, di setiap lokasidilakukan oleh semua yang ia singgahi, satu hal pasti yang selalu dilakukannya ialah orang tanpa kecuali. mengambil pengalaman terbaik. Jika kita bisa berbi- >>>cara, maka kita pasti bisa menulis.” 77
  • Yogyakarta, yang memang dikenal seba­ gai kota buku, menjadi tempat kelahiran Ollie yang kelak ternyata ju­ ga mencintai buku. Ku­ pang mengajarkan Ol­ lie harus berdiri tegak dan menjadi sosok yang tegar. Banjarmasin me­ nyum bangkan pro ses kematangan baginya.ollie.doc Sedangkan semasa di Bengkulu Ollie mendapat moment un­ tuk menanggalkan sifat pemalunya dan memotivasinya untuk berubah menjadi seorang pemberani, dan setelah hijrah ke ibu­ kota Ollie mendapat berbagai pengetahuan yang ber­ harga, karir mandiri yang gemilang, sekaligus arti persahabatan. Ollie tidak menutup mata dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Melihat kenda­ la yang muncul ketika ingin berbelanja buku, ia pun menggebrak industri buku tanah air. Ollie sendiri tidak memung­ kiri bahwa oportunis menjadi salah satu sifat yang membentuk jatidirinya. Namun tak sekadar oportunis, Ollie lebih tepat disebut orang yang lihai dan piawai ketika melihat celah di sela­sela tantangan. Ambil peluang dan beraksilah, just go with it! Itulah yang selalu dipegang teguh Ollie. Ia terbiasa bertindak cepat, tak ter­ lalu lama mengambil keputusan. KutuKu­ tuBuku.com langsung hadir hanya 2 bulan setelah gagasan untuk itu muncul. Tuku­ Solution.com meluncur tangkas untuk men­ jawab berbagai pertanyaan. Ide Tempe­ Labs.com terpikirkan setelah melihat passion sang adik. Akhirnya, NulisBuku.com menjadi luapan “emosi” Ollie yang kecewa berat karena naskahnya ditolak penerbit. 78
  • Di samping itu, Ollie mengakui bahwa dirinya adalahtipikal orang yang tidak terlalu banyak berharap lebih.“I never expect something. When you expect something youwill dispointed. Perfect is a journey,” tandasnya. Ia sangatbersyukur karena dikelilingi oleh orang­orang yang selalusiap membantu ketika dibutuhkan ataupun tidak. Olliesendiri selalu menanamkan kepada dirinya untuk bela­jar dari yang terbaik dan berteman serta berbagi denganorang­orang yang berjiwa kreatif dan mandiri. Sebagai seorang manusia biasa, Ollie pun pernah mera­sa terpuruk. Namun, ia tidak ingin berlarut­larut dalamketerpurukan itu. Dalam waktu singkat, Ollie mampubangkit. Salah satu resepnya adalah dengan banyak ber­interaksi, berteman, dan tidak pelit berbagi. Ollie dikenalaktif di berbagai komunitas, dan lewat Salsabeela.com,Ollie memberikan inspirasi sekaligus motivasi yang ber­manfaat bagi orang lain. “Dengan membantu orang lain,sama saja dengan membantu diri kita sendiri,” tandasnya. Mengambil pengalaman terbaik,mengiyakan peluang yang ditemui,sedikit berpikir dan langsung bertin­dak, belajar dari yang terbaik, gemarberinteraksi serta tidak pelit berbagi,dan memiliki road map yang jelas ten­tang rencana di masa depan, adalahsedikit dari beberapa sifat Ollie yangpatut diteladani. Seorang entrepreneur sejati ada­lah orang yang berani meninggal­kan zona nyaman dan mengikutinalurinya. Ollie telah melakukan tin­dakan itu, bahkan ia m a m p u m e ­nyelipkan prinsip kewirausahaan kedalam karir dan hobinya. Akhir kata,ambil peluang dan beraksilah untukmenuju gerbang sukses yang terang­benderang! ollie.doc 79
  • Bapak Blogger Indonesia
  • E nda Nasution pantas merasa kecewa sekaligus takjub karena artikelnya yang mengupas tuntas tentang blog ditolak mentah­mentah oleh sejumlah media massa di tanah air. Kecewa karena ia merasa buah karyanya itu cukup lengkap sehingga sudah layak untuk dipublikasikan. Enda pun merasa takjub bin heran karena ternyata negeri ini masih saja gagap dengan sinyal­sinyal peruba­ han. Boleh jadi penolakan tersebut disebabkan karena pada kala itu, kebanyakan orang Indonesia masih tidak mengerti –atau tidak mau mengerti– tentang apa itu blog. Akan tetapi, apa yang terjadi beberapa tahun kemudi­ an? Makhluk bernama blog yang ingin dikenalkan oleh Enda namun ternyata tidak dianggap itu kini menjadi ajang un­ juk gigi yang dinilai paling mutakhir dan efektif. Kendati sedikit terlambat, Enda akhirnya mendapat ganjaran setimpal atas jerih payahnya selama ini: ia di­ daulat sebagai Ba pak Blog ger Indonesia. “Kehadiran blog adalah peluang untuk menyingkirkan segala keter- batasan yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan informasi yang seluas-luasnya.”Blog adalah singkatan dari weBlog, yang cenderung mengacukepada weBsite pribadi seseorang. Oleh para pemiliknya, Blogumumnya dapat difungsikan dengan berbagai macam bentuk,seperti catatan harian, media publikasi, kampanye politik,profil usaha, dan untuk memasarkan barang dagangan. 82
  • Meraih Berkah Berkat JERIH PAYAH enda.doc “Kreatif adalah mengkombinasikan pengetahuan dan informasi dari segala bidang untuk menjadi sebuah ide baru.”T ulisan berjudul “Apa itu Blog?” karya Enda bisa dianggap sebagai artikel berbahasa Indonesia perta­ ma yang paling komplit mengulassemua tentang blog. Enda mengibaratkanblog layaknya hewan kesayangan yangmemerlukan perhatian dan perawatan.Dunia blog bukan dunia antah­berantahseperti yang ada di benak banyak orangselama ini. Meskipun gayung tak bersam­but, Enda terus berupaya memberikan pe­nyuluhan kepada publik agar tidak raguuntuk menggauli blog. 83
  • Dengan tekun, Enda tidak pernahberhenti mengenalkan apa itu blog,tahap demi tahap, mulai dari hal yangpaling remeh dan mendasar hinggake level yang lebih tinggi. Enda me­mandu jalan untuk menyusuri labirinblog yang saat itu masih asing bagiorang Indonesia. Ketekunan Enda tampaknya tidaksia­sia. Hingga kini, artikel “Apa ituBlog?” yang dipajang di blog pribadiEnda, Enda.GoblogMedia.com, telahdianggap sebagai semacam kitab sucibagi para blogger se­Indonesia Raya,saking banyaknya orang yang mem­baca artikel karya Enda itu. Sebelum kiprahnya yang memu­kau di semesta blog nasional, Endasempat meniti karir sebagai copywriter di Ogilvy & Mather Jakarta.Perusahaan agensi bertaraf internasional yang berdiri sejak 1948 inibergerak di bidang advertising, marketing, dan public relation. Di belantika iklan dan marketing ini pun Enda tampil memuaskan,bahkan sukses menorehkan catatan manis. Tahun 2001 dan 2002,karya Enda untuk iklan Dancow dan Sampoerna A Mild berhasil men­yabet Indonesian Ad Award. Enda juga termasuk sebagai finalis dalamajang Clio Advertising Award 2002. Tak hanya itu, gelar The Hottest Cretive Person se­Asia tahun 2002dan 2003 dari Campaign Brief Asia pun tersemat di dadanya. Cam­paign Brief Asia adalah majalah yang mengulas segala bentuk kreativ­itas yang dibuat oleh orang­orang kreatif untuk dinikmati oleh parakaum kreatif pula. Sejak diluncurkan pada 1998, Campaign Brief Asiatelah mengukuhkan diri sebagai salah satu majalah creative advertisingtrade paling berpengaruh di Asia. Clio Advertising Award pertama kali digagas pada 1959 oleh Wallace A Ross, CamPaign Brief asia adalah majalah advertising kreatif untuk memberikan penghar- yang paling berpengaruh di Asia. Sejak pertama kali gaan bagi para pegiat dunia diluncurkan pada 1998, kini majalah ini telah memiliki periklanan dan desain di versi website yang mulai dirilis sejak 2008. Amerika. Sejak 1965, ajang ini mulai menerima berbagai karya dari luar Amerika. Hingga saat ini Clio Advertising Award rata-rata menerima 10.000 karya, dengan jumlah 65% berasal 84 dari luar Amerika.
  • politikana.com Meskipun sudah terbilang gemilang di ranah iklan, Enda ru­panya masih ingin belajar lebih banyak. Pada 2001, ia berkeputus­an untuk merambah dunia baru dan mengenalkannya kepadamasyarakat di negeri ini. Di tahun itulah Enda menulis artikel“Apa itu Blog?” yang apesnya pada saat itu ternyata tidak laku. Enda pantang menyerah dan terus berproses di alam baru­nya itu. Pemilihan Umum 2004 menjadi salah satu moment pen­ting dalam hidup Enda di jalan blog. Ia berinisiatif membuat blogpertama di Indonesia yang khusus mengulas tentang hiruk­pikukPemilu 2004, bernama Blog Pemilu 2004, dengan alamat di www.Pemilu2004.GoblogMedia.com. Postingan pertama untuk Blog Pemilu 2004 mengangkat tajuk“Posting perdana: Some Ground Rules”. Dalam siar perdana ini,Enda menyampaikan kabar bahwa Blog Pemilu 2004 dibuat de­ngan tema sentral tentang Pemilu 2004, serta menyajikan berba­gai postingan yang bersifat informasi. Kemudian, 5 hari sebelum digelarnya Pemilu Pemilihan Ang­gota Legislatif yang dihelat 5 April 2004, Enda memposting tu­lisan berjudul “Informasi tentang Pencoblosan” yang dilengkapidata survei dengan maksud agar pembaca semakin paham ten­tang tata cara Pemilu. 85
  • Lebih menariknya, dalam artikel ber­ judul “Tentang Pilihan Golput”, Enda mengajak agar jangan menjadi Golput (Golongan Putih yang memilih tidak berpartisipasi dalam Pemilu). Dengan memaksimalkan logika matematis, Enda berusaha meyakin­ kan kepada publik bahwa bagaima­ napun juga, keputusan untuk men­ jadi Golput justru akan merugikan diri sendiri. “Suara Golput tidak akan berpe­ ngaruh hanya disebabkan satu hal, yaitu jika seorang yang Golput tersebut memang tidak mempu­ nyai hak memilih,” seru Enda dalam blog­nya. “Jika partai yang leading ada­ lah partai busuk, maka mereka yang Golput itu, dengan tanpa memilih, se­ betulnya telah ikut memilih partai busuk itu!” lanjutnya. Terlepas dari berhasil atau tidak ajakan Enda, setidaknya ia telah memberikan sumbangsih yang cukup massif dalam upaya penyadaran politik bagi rakyat Indone­ sia. “Suara Golput tidak akan berpengaruh hanya di- sebabkan satu hal, yaitu jika seorang yang Golput tersebut memang tidak mempunyai hak memilih.”86
  • “Jika partai yang leading adalah partai busuk, maka mereka yang Golput itu, dengan tanpa memilih, sebetulnya telah ikut memilih partai busuk itu!” Tidak hanya gejolak politik saja yang menjadi perhatian Enda. Gelombang bencana alam, dari tsunami yang meluluh­ lantakkan Aceh pada 2004, disusul gempa bumi Yogyakarta pada 2006, membuat Enda tergerak untuk mencipta sebuah blog berbahasa Inggris bernama “Indonesia Help­Earthquake and Tsunami Victims” yang dapat diakes melalui www.Indone­ siaHelp.Blogspot.com. Blog ini mengusung tagline “Online information about re­ sources, aid and donations for quake and tsunami victims in Aceh & North Sumatra and now in Yogyakarta (May 2006) (In­ donesia)”. Lewat blog ini, Enda tidak sekadar menyuguhkan informasi aktual mengenai pertolongan untuk korban dan perkembangan daerah bencana alam, namun juga menyerta­ kan data komplit, termasuk alamat, nomor telepon, faksimili, dan rekening bank, apabila para pembaca dari seluruh dunia ingin menyalurkan bantuan. Bisa jadi karena sepak­terjangnya itu, Enda dilirik oleh kaum blogger sejagat raya. Pada Desember 2005, Enda diun­ dang untuk menghadiri pertemuan blogger dari seluruh du­ nia dalam Global Voice 2nd Summit yang digelar di Kantor Pusat Reuters di London, Inggris. Global Voice Online adalah sebuah proyek yang digagas oleh Berkman Center for Internet & Society dari Fakultas Hukum Universitas Harvard, Amerika Serikat. Acara itu berhasil mengumpulkan sedikitnya 80 orang, yang terdiri atas para blogger dari seluruh dunia, perwakilan NGO, dan sejumlah awak media papan atas seperti BBC dan The Guardian. Enda patut berbangga hati dengan peristiwa monumental dalam perjalanan hidupnya itu. Pengalaman berharga tersebut dituangkan Enda dalam blog pribadinya le­ wat artikel singkat yang berjudul “Sedikit Cerita tentang GVO Summit di London”.Berkman Center for Internet & Society bermula dari The BerkmanCenter yang dibentuk pada 1998, sebuah pusat riset di dalamUniversitas Harvard yang khusus mengkaji internet. The BerkmanCenter kemudian mengilhami beberapa lembaga pendidikan lain 87untuk membuat lembaga serupa.
  • Enda kembali di­ undang dalam acara bertaraf internasio­ nal pada bulan No­ vember 2006, Asia 21 Young Leader Summit di Seoul, Korea Sela­ tan. Enda bertemu dengan anak­anak muda berprestasi dari berbagai negara. Me­ reka ini berasal dari beraneka ragam pro­edratna fesi. Dalam acara ini, Enda berkesempatan menjadi panelis pada sesi khusus tentang Citizen Journalism dan Blogging. Kiprah Enda sebagai pakarnya blogger Indonesia semakin man­ tap ketika ia didapuk menjadi chairman dalam Pesta Blogger 2007, event nasional tahunan para blogger Indonesia yang kala itu baru pertama kali diselenggarakan. Pada tahun­tahun berikutnya, Enda tetap dipercaya sebagai anggota Steering Committee Pesta Blogger. Sepak terjang Enda di alam maya semakin nyata. Bersama Komu­ nitas Langsat, ia menancapkan taringnya di ranah online. Pada April 2009, mereka membuat situs tentang politik bernama www.Politi­ kana.com. Sebelumnya, Enda dan Komunitas Langsat sudah meng­ elola sejumlah web, seperti www.DagDigDug.com, www.Ngerumpi. com, www.CuriPandang.com, www.BicaraFilm.com, dan lainnya. Semua situs itu berprinsip sama, yakni situs partisipatif yang diisi para penggunanya sendiri. Inilah intisari dari peran dan fungsi blog sebagai ujung tombak citizen journalism. Menurut Enda, ide ini belum populer di Indonesia. Untuk lebih mengoptimalkan sumber daya, akhirnya situs­situs itu ke dalam satu wadah besar yang ber­ nama www.SalingSilang.com. Situs inilah yang menjadi salah satu masterpiece Enda Nasution di jagat cyber. asia 21 Young leaDer summit adalah pertemuan para anak muda Asia yang dinilai unggul di bidang masing-masing. Gerakan ini bertujuan untuk mempersiapkan para pemimpin masa depan yang memiliki semangat global dan 88 berpikiran kreatif .
  • politicana.com Tahun 2009, Enda Nasution bersama Komunitas Lang­sat mempelopori perjuangan pembebasan Prita Mulyasa­ri, seorang ibu rumah tangga yang ditahan atas tuduhanpelanggaran Undang­undang Informasi dan Transaksi Ele­ktronik (UU ITE). Bahkan, mereka juga turut andil dalam“Gerakan Koin Keadilan untuk Prita Mulyasari” sebagaiupaya untuk memperjuangkan keadilan bagi Prita. Sepak terjang Enda masih terus berlanjut. Tahun 2011,Kantor Berita Jerman, Deutsche Welle, memilih Enda selakusalah seorang perwakilan blogger yang dipercaya sebagaijuri dalam blog award (penghargaan blog) dengan tajukThe BOBs. Merunut perjalanan Enda kian memperkuat keyakinanbahwa perannya di belantika blog nasional memang ter­hitung mumpuni. Enda tidak pernah patah arang untukterus mengkampanyekan internet kepada seluruh wargaIndonesia. Oleh karena itu, pantaslah kiranya jika gelarBapak Blogger Indonesia disematkan kepada Enda Nasu­tion, sebagaimana bunyi dari artikel di The Jakarta Postyang berjudul “Enda Nasution: The ‘Father’ of IndonesianBloggers”. bicarafilm.com 89
  • SANG AKTIVIS “Seorang blogger pada dasarnya adalah seorang aktivis online.”E nda Nasution, pria yang kelahiran Bandung, Jawa Barat, pada 29 Juli 1975, ini pertama kali berjumpa dengan kom­ puter ketika usia 10 tahun. Dapatlah dibayangkan seperti apa rupa komputer pada tahun 1985 itu. Tak hanya itu,pengoperasian komputer pada waktu harus dengan bahasa pro­gram yang memusingkan. Namun justru di sinilah keistimewaanseorang Enda di masa kecilnya. Adalah sebuah hal yang menarikapabila ada seorang anak berusia 10 tahun berminat untuk ber­gaul dengan benda asing yang bernama komputer itu. Setelah lulus SMA, Enda melanjutkan pendidikannya di Insti­tut Teknologi Bandung (ITB). Di salah satu kampus papan atasdi Indonesia itu, Enda diterima di Fakultas Teknik Sipil. Di masainilah Enda mulai bersinggungan dengan teknologi baru ber­nama internet. Seperti pengakuan Enda, fase awal di mana iamengenal internet terjadi pada era tahun 1995­1996. “Pada saatpertama kali dapat yang namanya akses internet, ya kebetulandulu awal­awal ketika saya masih di Kampus ITB,” kenang Enda.Fasilitas internet di Indonesia pada saat itu masih sangat terbatas,tidak mudah, dan tentunya tidak murah. Enda cukup beruntung karena kampusnya menyediakanfasilitas internet, meskipun hanya bisa diakses di tempat­tempattertentu, salah satunya adalah lewat komputer yang teronggokdi laboratorium. Pada jam­jam kerja, komputer berinternet itutidak pernah lowong dari pengguna. Namun Enda tidak habisakal, ia nekat masuk ke laboratorium ketika ruangan sepi, yaknidi malam hari. “Saya datang ke laboratorium dari jam 10 malamsampai pagi,” ungkap Enda.90
  • Demi aktualisasi informasi dan tidak ingin ketinggalanteknologi, Enda rela menghabiskan malam demi malam di ru­angan laboratorium yang sunyi. Enda memberanikan diri untukmenyambangi rimba digital yang saat itu masih sangat asingbaginya. Enda menjelajahi alam dunia maya tanpa berbekalpeta. Ke mana kaki akan melangkah, di situlah jemari Enda me­nari di atas keyboard untuk mengetikkan alamat­alamat baruyang entah berisi apa. Dengan telaten, Enda melahap informasi demi informasi, si­tus demi situs, dan, hasilnya, ia pun memperoleh banyak tambahanwawasan dan pengetahuan baru. “Saya terus saja browsing sanabrowsing sini sampai pagi. Setelah itu pulang untuk tidur. Malamberikutnya balik lagi seperti itu,” seloroh Enda mengenang masa­masa mudanya itu. Tidak hanya di dunia maya saja Enda bergerak, di dunia nya­ta pun Enda terbilang militan. Ia tercatat sebagai seorang aktiviskampus dan dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai KetuaHimpunan Mahasiswa Sipil ITB. Saat itu, kondisi perpolitikan diIndonesia sedang bergolak menjelang runtuhnya rezim OrdeBaru. Gejolak yang sama ternyata juga dirasakan oleh Enda, iamerasa bahwa menjadi seorang insinyur sipil bukanlah jalanhidup yang harus ia pilih. Enda mengaku lebih tertarik dengan proses sosial hubunganantar manusia dan masyarakat. Maka, dengan tidak ragu lagi,Enda membaurkan diri ke dalam arus gelombang reformasi yangmenginginkan negeri ini bergerak ke arah yang lebih baik. Men­jelang lengsernya Soeharto, yakni pada kurun 1997­1998, Endatermasuk anak bangsa yang berani mengepung Gedung DPR/MPR demi terwujudnya cita­cita perubahan. “Kita punya keterbatasan untuk bertemu orang dan menerangkan apa sebenarnya ide kita, tapi begitu tulisan atau ide itu kita tuangkan dalam sebuah blog, maka ia akan menyebarkan dirinya sendiri.” enda.doc 91
  • Perubahan yang didam­bakan itu akhirnya menjadikenyataan pada Mei 1998.Orde Baru usai dan digan­tikan oleh era yang baru,era reformasi yang kononkatanya adalah era kebe­basan. Ternyata benar, je­bolnya dinding tebal OrdeBaru membuat gelombangkebebasan membanjiri ibupertiwi, termasuk dalamaspek akses informasi. Perlahan­lahan, inter­net mulai dikenal meski­pun masih banyak orangIndonesia yang tetap sajakukuh dengan kekolotan­nya, mereka alergi terhadapbarang asing itu. Namuntidak bagi Enda, bahkan genkanai/flickrnalurinya seolah menga­takan bahwa inilah lorong yang diperlukannya untukmenggapai masa depan. Hingga akhirnya, garis takdir mempertemukannyadengan sosok blog yang dianggapnya sangat fenomenal.Inilah media yang dibutuhkan Enda, media tanpa batas!Apalagi Enda sudah menggemari dunia tulis­menulis jauhsebelum mengenal internet. Bahkan, sedari usia SMP,Enda sudah punya kebiasaan menulis buku harian. Berkaitan dengan dunia pena ini, Enda berpendapatbahwa blogging dapat meningkatkan kemampuan tulis se­seorang dengan sendirinya. Blogging juga sanggup untukmengusung misi dan tujuan tertentu yang ingin disampai­kan dan dilihat banyak orang. Internet adalah tempat dimana kekuatannya berada pada sebuah dunia teks yangsangat luas. “Seorang blogger pada dasarnya adalah se­orang aktivis online,” tutur Enda. “Kehadiran blog adalah peluang untuk menyingkirkansegala keterbatasan yang menghalangi seseorang untukmendapatkan informasi yang seluas­luasnya,” tegas Enda.92
  • Lewat sebuah blog, lanjutnya, seseorang dapat mengisi blog­nya itu dengan segala konten yang dapat diakses oleh khalayak demi mencapai tujuannya. “Kita punya keterbatasan untuk bertemu orang dan menerangkan apa sebenarnya ide kita, tapi begitu tulisan atau ide itu kita tuangkan dalam sebuah blog, maka ia akan menyebarkan dirinya sendiri,” terang Enda. Kekuatan blog di internet memang mahadahsyat, ia adalah kekuatan baru bagi konsep media sosial. Ketertarikan pada dunia digital inilah yang menguat­ kan hati Enda bahwa ia harus berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Enda menyatakan pensiun dari segala daya dan upayanya untuk menjadi seorang insinyur sipil dan memilih berkecimpung di alam semesta maya. Petualangan Enda pada akhirnya sampai pada sebuah ti­ tik manakala ia bekerjasama dengan Komunitas Langsat. Banyak kegiatan yang kemudian muncul, seperti acara “Obrolan Langsat” alias Obsat, sebuah diskusi sederhana yang mengulas berbagai fenomena di dunia maya. Bah­ kan, berawal dari Obsat inilah akhirnya ketidakadilan yang menimpa Prita Mulyasari bisa dimunculkan ke permukaan dan menjadi booming di berbagai media.obrolanlangsat.com 93
  • “Internet adalah tempat di mana kekuatannya berada pada sebuah dunia teks yang sangat luas.” salingsilang.com Terakhir, masih bersama Komunitas Langsat, Enda ter­us mengembangkan proyek kreatifnya, www.SalingSilang.com. Portal ini merupakan situs partisipatif yang konten­nya dibuat sendiri oleh para penggunanya sekaligus mer­upakan penggabungan dari beberapa situs tematik yangsebelumnya telah dikembangkan Enda dan KomunitasLangsat. Diharapkan, penggabungan ini akan memberikemudahan untuk menciptakan kekuatan yang lebih be­sar dari para pengguna internet. Demikianlah, Enda memulai dantidak pernah berhenti memperjuang­kan apa yang telah menjadi obsesinya.Kini, Enda menikmati kehidupan ber­sama istri dan putri tercintanya di Ta­man Rasuna Apartemen Residence,Kuningan, Jakarta Pusat. Dari sanalahmungkin ide­ide baru yang selanjutnyaakan bermunculan dari pemikiran kre­atif Enda Nasution. enda.doc94
  • Aneka NilaiPembangun Jiwa “Jangan menyesal dan jangan pernah sekalipun menyalahkan lingkungan, menyalahkan takdir, atau bahkan mungkin menyalahkan Tuhan atas apapun yang terjadi pada diri kita.” E nda Nasution merasa bahwa Tuhan tidak memberi­ kan jalan hidup menjadi seorang insinyur kepadan­ ya. Enda mengaku bahwa jiwa yang ada dalam dirinya sedikit banyak terbentuk akibat pengaruh dari beberapa bacaan yang ia gemari sejak masa SMA dan awal kuliah. Asal tahu saja, di usia­usia rentan masa penemuan jati diri itu, Enda sangat menggemari karya­karya Umar Kayam dan Goenawan Mohamad. Dua tokoh terkemuka di Indonesia itu diakui Enda telah memberikan sumbang­ sih yang tidak sedikit bagi proses pembentukan identitas dirinya. Mangan Ora Mangan Kumpul karya Umar Kayam sangat Enda kagumi karena mengajarkan banyak falsafah hidup. Sedangkan Goenawan Mohamad “memberikan” Catatan 95
  • Pinggir kepada Enda yangperlahan tapi pasti telahmembentuknya untuk lebihberjiwa humanis. Enda juga sangat mena­ruh hormat kepada parakontributor di berbagai si­tus yang telah mengajarkandan memberikan pengeta­huannya kepada masyarakatluas secara bebas dan tanpapamrih. Salah satu contoh, Endamenyampaikan kekaguman­nya kepada para pengisidan penulis artikel di situsensiklopedi gratis www.Wiki­pedia.com. “Si pembuat atau enda.docpengisi artikel di Wikipedia jarang disebutkan namanya.Bahkan, satu produk halamannya pun tidak bisa diakuisebagai produk seseorang karena semuanya berasal darikontribusi banyak orang,” salut Enda untuk Wikipediayang telah menyebarkan manfaat ke seluruh penjuru du­nia itu. Enda melihat bahwa kontributor tulisan di Wikipediaadalah rombongan orang­orang yang menyebarkan ilmudan pengetahuan dengan tulus dan nyaris tanpa pamrih.Itulah yang kemudian membuat Enda selalu mengagumimereka yang dengan sukarela menyumbangkan karyademi orang lain. Enda angkat topi untuk orang­orangyang justru melewatkan dirinya sendiri untuk mengerukkeuntungan pribadi. Menurut Enda, dirinya hanyalah seorang yang sukamengalir saja dalam hidup. Ia cenderung spontan dalammengambil keputusan. Enda mencontohkan, ketika di­rinya diajak bergabung secara penuh di Komunitas Lang­sat dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai seorangprofesional di sebuah perusahaan, Enda langsung saja96
  • setuju. Baginya, melakukan pekerjaan yang ia sukai secarafulltime adalah sebuah tawaran yang tidak akan mungkindapat ditolak kendati ia mungkin saja harus memper­taruhkan banyak hal. Meskipun demikian, Enda selalu berpegang teguhpada prinsip bahwa setiap manusia harus dapat bertang­gung jawab atas apa yang telah dilakukan dan dipilihnya.Jangan menyesal dan jangan pernah sekalipun menyalah­kan lingkungan, menyalahkan takdir, atau bahkan mung­kin menyalahkan Tuhan atas apapun yang terjadi. “Begitu gagal atau mengalami sebuah tragedi, ser­ingkali kita mencari kekuatan dan kenyamanan justru didalam pembenaran­pembenaran yang dibungkus dengansikap menyalahkan pihak lain,” tutur Enda. Menurutnya,sikap pengecut seperti itu justru membuat seseorangtidak akan pernah dapat belajar dan mengambil hikmahdari situasi atau kegagalan yang pernah menimpa. 97
  • enda.doc Internet, Ujung Tombak Masa Depan “Semakin banyak dan semakin aktif orang Indonesia menggunakan internet untuk ber- bicara satu sama lain, berbicara terbuka dan transparan, maka tentu dampaknya akan baik bagi Indonesia secara keseluruhan.” 98
  • E nda Nasution mempunyai catatan tersendiri ten­ tang perkembangan dunia maya di tanah air. Na­ mun, Enda yakin bahwa semakin banyak pengguna internet di Indonesia akan berdampak positif bagiperkembangan dan kemajuan negeri ini. Enda menggaris­bawahi bahwa konsep komunikasi dua arah yang terjadilewat internet secara tidak langsung akan membawa per­satuan bangsa ini menjadi semakin kuat. “Semakin banyak dan semakin aktif orang Indonesiamenggunakan internet untuk berbicara satu sama lain,berbicara terbuka dan transparan, maka tentu dampak­nya akan baik bagi Indonesia secara keseluruhan,” tegasEnda seraya menambahkan, “Dulu, yang strategis itu in­dustri pesawat terbang karena untuk menyatukan seluruhpulau­pulau secara fisik, tapi justru ide kebangsaan sebe­narnya bisa didapat dan dicapai ketika kita semua salingberinteraksi lebih intens satu sama lain.” Enda mengharapkan agar di masa yang akan datang,panduan berinternet yang baik dapat dimasukkan ke kuri­kulum pendidikan dasar. Dengan begitu, anak­anak dangenerasi muda di negeri ini memiliki bekal yang cukupuntuk menggunakan fasilitas internet dengan bijak demikemajuan diri dan bangsanya. Enda juga menyayangkan karena Indonesia belummemiliki perencanaan yang baik untuk mengembangkanjaringan internet. “Dari Sabang sampai Merauke berapabanyak sih yang sudah terjangkau oleh akses internet?Berapa orang? Di Indonesia, kita tidak punya blue printberapa banyak yang harus ditingkatkan untuk dapat di­jangkau internet,” keluhnya. Enda menambahkan bahwanegeri tetangga, Malaysia, ternyata sudah memiliki blueprint tentang perkembangan jaringan broadband internetdari waktu ke waktu di negara itu. Khusus untuk para blogger di tanah air, Enda mengha­rapkan agar mereka dapat lebih jeli dalam menggali anekaragam kearifan lokal yang ada di daerah masing­masing.“Yang pasti, di Indonesia, dunia online peluangnya masihsangat banyak bagi mereka yang agak cerdas, tekun, dan 99
  • mau bekerja keras,” kata Enda yang lantas menambah­kan, “Dari sisi konten saja, masih banyak yang belum ter­sedia, misalnya informasi lengkap tentang daerah, travel­ling, makanan, kesehatan, obat alternatif di daerah lokal,dan lain­lain.” Enda menekankan bahwa sudah ada atau tidaknya se­buah tema konten blog seharusnya tidak dijadikan alasanoleh para blogger untuk tidak terus berkarya. Pada intinya,konten yang belum tersentuh adalah sebuah peluang,demikian pula dengan konten lain yang mungkin telahdisajikan, karena hal itu masih dapat berpeluang untukdibuat yang lebih lengkap dan lebih baik lagi. Akhir kata, Enda berpesan kepada blogger se­Indone­sia supaya jangan pernah menyerah dan berhenti berkar­ya, serta perbanyak interaksi dengan bermacam komuni­tas untuk meningkatkan jaringan dan pengetahuan kita.“Peluangnya masih banyak, jangan khawatir sudah kepe­nuhan, dan banyaklah bergaul di komunitas­komunitas,”pungkas Enda.100
  • Kekuatan untuk Sebuah Keyakinan “Peluang dunia online di Indonesia masih sangat banyak bagi mereka yang agak cerdas, tekun, dan mau bekerja keras!” D alam episode kehidupan Enda Nasution, ada hal­hal terpenting pada karakter dirinya yang kemudian me­ ngantarkan Enda hingga akhirnyaenda.doc mampu mencapai level seperti se­ karang ini. Enda adalah seorang yang memiliki keyakinan kuat atas apa yang telah ia percayai. Coba bayangkan, apa jadinya jika di masa mudanya dulu Enda ternyata memilih jalan hidup untuk menjadi seorang insinyur? Apa yang bakal terjadi jika Enda ke­ mudian berpikir logis dan berkeputusan untuk bergelut dalam bidang teknik sipil sesuai dengan disiplin ilmu dan ijazah yang ia peroleh dari ITB? Apabila semua itu terjadi, mungkin kita tidak akan pernah mengenal Enda Nasution sebagai Bapak Blogger Indonesia. Sejak awal bersinggungan dengan dunia maya, Enda berkeyakinan kuat bahwa internet beserta segala yang 101
  • termuat di dalamnya, tentunya termasuk blog, adalahujung tombak masa depan. Enda melihat bahwa internetakan mampu mengubah seluruh segmen kehidupan ma­nusia menjadi lebih mudah. Oleh karena itu, Enda tidakpernah ragu untuk berbelok arah menjadi seorang pegiatinternet, dan mengabaikan peluang yang mengarahkan­nya untuk menjadi insinyur. Enda yakin bahwa hanya dengan berbekal cara ber­pikir kreatif, ia dapat menangkap peluang di dalam inter­net sebagai media untuk meraih apa yang ia dambakan.“Kreatif adalah mengkombinasikan pengetahuan daninformasi dari segala bidang untuk menjadi sebuah idebaru,” ujarnya. Selain itu, Enda adalah seorang yang tidak pelit untukberbagi. Ia dengan senang hati akan membagi pengeta­huan dan ilmu yang dimilikinya dengan siapa pun. Artikel“Apa itu Blog?” yang ditulis sendiri oleh Enda merupakansalah satu wujud nyata bahwa ia tidak ragu untuk me­nyebarkan apa yang diketahuinya kepada orang banyak.Enda memungut tiap­tiap butir informasi tentang blogyang terserak di luasnya alam maya. Dengan tekun, sabar, dan teliti, ia mengumpulkan danmerangkai hal­ihwal mengenai blog dari berbagai situsyang sebagian merupakan situsbuatan orang luar negeri. Rang­kaian informasi yang telah dike­mas dengan cukup matang dalambahasa Indonesia itu, lantas iaberikan dengan penuh keikhla­san kepada semua saudaranyasebangsa dan setanah air. Tanpadisangka­sangka, tulisan “Apa ituBlog?” tersebut justru menjadibahan wajib bagi orang­orangingin tahu atau bergelut di duniablog.102
  • Enda pun rajin berkampanye untuk menjelaskan ten­ tang manfaat blog bagi orang lain dan diri sendiri. Semangat dan sifat Enda yang suka memberi dan bertukar informasi kepada semua orang ini juga pernah ia wujudkan dengan membuat situs Pemilu 2004 dan situs berbahasa Inggris yang menyediakan tentang semua informasi tentang ben­ cana alam di Indonesia. Tidak mengherankan apabila kemudian Enda me­ naruh respek terhadap para pegiat Wikipedia yang mem­ berikan ilmunya secara gratis. Enda melihat bahwa kebe­ saran yang diperoleh Wikipedia sekarang ini justru tidak lepas dari kebijakan mereka yang menggratiskan infor­ masi yang telah mereka himpun.enda.doc “Jika tidak diberikan secara gratis, mungkin (Wikipe­ dia) tidak akan sebesar sekarang,” timpal Enda. Apa yang Enda rumuskan itu tampaknya memang benar. Mereka yang ikhlas memberi justru akan mendapat imbalan yang bahkan tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Itu­ lah sosok Enda Nasution, sosok yang rela memberi tanpa harus menerima, karena ia punya kekuatan untuk sebuah keyakinan. 103
  • Seniman KURSI Sarat PRESTASI
  • P enampilannya rapi dengan gaya rambut yang disisir minimalis namun tetap kelihatan artistik. Sosok­ nya juga identik dengan kacamata yang selalu ter­ pasang melindungi kedua bola matanya. LeonardTheosabrata, seorang desainer kondang Indonesia yangmungkin namanya lebih populer di luar negeri ketimbangdi negeri sendiri. Berbekal pendidikan dalam bidang pro­duct design di Art Center College of Design, Pasadena, Cali­fornia, Amerika Serikat, Leo berhasil menghasilkan berba­gai karya unik dan istimewa yang membuatnya dikenaldunia. Hebatnya, karya pertama Leo langsung berhasil me­lejitkan namanya. Itu terjadi ketika ia berhasil membuatsebuah produk kursi dengan memadukan fungsi akupunturdalam kemasan desain yang unik. Kursi bikinan Leo inikemudian dinamai dengan Accupunto. Nama Accupuntoinilah yang lantas dicomotnya untuk brand usahanya.Bersama sang ayah, Yos Theosabrata, Leonard mulai me­masarkan karya furniture ciptaannya sejak tahun 2002. Wujud kursi Accupunto ciptaan Leonard Theosabratamemperlihatkan dengan jelas bahwa ia hendak meng­hasilkan karya yang berbeda, unik, kreatif, namun tetapmempertahankan nuansa kesederhanaan. KeistimewaanAccupunto terlihat dari bentuk lekuk­lekuknya yang me­nyesuaikan dengan kenyamanan posisi duduk. Itulah yangkemudian dipadukan dengan fungsi akupuntur lewat ber­bagai tonjolan karet dan plastik di nyaris seluruh permu­kaan kursi. “Saya bisa membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada.”106
  • Kursi bersensasi akupuntur ini punya struktur bantalan flek­ sibel yang unik karena dapat bergerak mengikuti gerak tubuh di atasnya. Tersedianya ruang terbuka di antara pin juga mem­ berikan sirkulasi udara yang cu­ kup bagi orang yang mendu­ dukinya. Kursi Accupunto ada beberapa jenis: lounge chair, foot stool, stackable chair, tatami chair, barstool, sunbed, visitor chair, spin lounger, hingga bench.ACCUPUNTO, , Jalan Gemilang Sang Maestro accupunto.com 107
  • miCHael Young adalah seorang desainer berpengaruh yang memiliki basis di Hongkong. Young memiliki pemahaman bahwa tingkat kesadaran dan penghargaan atas seni desain dapat ditingkatkan ketika sebuah konsep desain berada lebih dekat ke fasilitas produksi.accupunto.com Bersama kursi Accupunto, Leonard Theosabrata berhasil menya­ bet banyak prestasi. Berbagai gelar bergengsi dari kompetisi interna­ sional sukses diraihnya. Tahun 2003, ia sukses meraih Red Dot Design Award, sebuah ajang penghargaan yang diselenggarakan di Jerman dan diikuti oleh 1.494 produk desain dari 28 negara. Selain itu, ia juga memperoleh Good Design Award Japan pada tahun 2005 di Jepang. Di Italia, Leonard diganjar dengan penghargaan Well Tech Award 2006 yang membuat karyanya dipajang dalam ajang Science and Technology Museum di Milan pada rangkaian acara “Milan Fair 2006”. Tidak hanya itu, kursi ajaib Accupunto ciptaan Leonard juga masuk dalam daftar 10 produk terbaik pada pameran internasional tahun 2009 yang dilangsungkan di Koln, Jerman. Leonard juga mendapat anugerah penghargaan atas sebuah karya yang digarapnya bersama seorang kolega, Michael Young, yakni dalam ajang Wallpaper Design Award 2009. Michael Young adalah seorang desainer produk asal Ing­ gris namun memusatkan basis usahanya di Hongkong. Leonard Theo­ sabrata sendiri akhirnya merangkul Michael Young untuk bersama­ sama membesarkan nama usahanya dengan label Accupunto. Nama Accupunto tampaknya melimpahkan hoki bagi Leonard. Selain kursinya mendulang banyak prestasi, gerai milik Leonard yang juga diberi label Accupunto pun mengalami nasib baik. Pada Novem­ ber 2010, Accupunto memperoleh penghargaan Primaniyarta dari 108
  • “Sedari awal, target kita adalah dunia, bukan hanya Indonesia!”Pemerintah Republik Indonesia untuk kategori Eksportir Barang danJasa Ekonomi Kreatif. Leonard Theosabrata tercatat sebagai: aktivis D­Form, sebuah fo­rum desainer produk yang digalang oleh para arsitek muda. Ia jugasalah satu penggerak Brightspot Market, sebuah konsep retail berbagaiproduk desain unik berkelas premium yang digelar secara periodikdi berbagai tempat di Indonesia. Dunia maya pun mulai dirambahLeonard lewat sebuah website tentang gaya hidup, www.whiteboard­journal.com. Berbekal semangat kreativitas yang ada pada dirinya dan sederetprestasi, pada 2009, Djarum Black menunjuk Leonard sebagai salahsatu juri pada ajang adu kreativitas bertajuk “Black Inovation Award2009”. Nama Leonard Theosabrata juga masuk dalam buku terbitanKementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang ber­judul “Catatan Emas”, sebuah buku yang mengulas tentang 30 anakmuda Indonesia berprestasi. Prestasi Leonard Theosabrata yang menjulang lebih banyak dite­rimanya dari luar negeri, bahkan itu diperoleh Leonard pada masaawal karirnya. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena “atur­an” yang berlaku di ranah domestik itu sendiri. Agar bisa masuk kepasar lokal dalam negeri, produk desain seseorang harus mendapat 109
  • pengakuan terlebih dulu dari luar negeri, terutama dari negara­ne­gara Eropa. Tidak adanya kepercayaan konsumen terhadap kualtiasdesainer lokal justru merugikan Indonesia sendiri karena seseorangharus berjuang lebih keras untuk mendapat pengakuan dari luar se­belum dihargai di negeri sendiri. Fenomena aneh tersebut diungkapkan Leonard dalam satu epi­sode Kick Andy yang disiarkan di Metro TV. Kalangan luar negeri,terutama Eropa, lebih bisa menerima sesuatu yang baru dan segarketimbang di negeri sendiri yang masih mengidap alergi terhadapproduk­produk jenis baru yang justru dianggap asing. “KebetulanEropa lebih bisa menerima karya­karya baru,” ungkap Leonard. Daripasar Eropa, umumnya sebuah produk akan lebih mudah masuk keAmerika dan Australia, berikutnya Jepang dan Korea, dan terus ber­lanjut hingga akhirnya baru bisa diterima di pasar domestik. Setelah berhasil merengkuh banyak prestasi dari luar negeri,nama Leonard Theosabrata baru mendapat pengakuan dari dalamnegeri. Kini, berbagai macam produk Accupunto sering menjadi san­tapan berbagai majalah furniture kelas dunia. Leonard bersama Accu­punto pun kerap diundang untuk memajang produk­produknya diberbagai pameran furniture bertaraf internasional. Hingga sekarang, sejumlah hotel dan kafe ternama di Dubai,Maladewa, Amerika Serikat, dan negara­negara Eropa, banyak yangtelah menggunakan produk furniture keluaran Accupunto di manaLeonard Theosabrata selalu ada di balik penciptaan produk­produkberkelas dunia itu. com nto. upu acc 110
  • B akat seni yang dimiliki Leonard Theosabrata pernah membuah­ kan sebuah sepeda BMX di saat ia masih sangat belia. Saat masih duduk di kelas 3 SD, Leonard berhasil memenangi perlombaan gambar tingkat anak­anak, dan sepeda itulah yang menjadi hadi­ah utamanya. Mulai detik itu, Leonard kecil yakin bahwa ia memiliki ke­mampuan dan ketertarikan dalam seni dan desain. “Saat masih sekolah,saya hanya mengerti dua hal dalam mata pelajaran, yaitu bahasa Inggrisdan menggambar. Yang lain, jeblok!” terang Leonard sambil tertawa. Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Juli 1977, Leonard Theosabratamerupakan anak kedua dari keluarga Yos Theosabrata. Ayah Leonard ada­lah salah seorang pengusaha papan atas Indonesia yang telah berkecim­pung dalam bisnis furniture selama lebih dari 30 tahun. Sejak kecil, bakatseni memang sudah terlihat dalam diri Leonard. Tidak jarang, Leonardkeluar sebagai pemenang dalam berbagai kompetisi menggambar ting­kat anak­anak. “Sejak menang lomba gambar di kelas 3 SD, saya sadar telah memiliki passion dalam art dan creative design.” Memahami SENI Sejak Usia Dini accupunto.com 111
  • Leonard sendiri tampaknya cukup sadardengan kemampuan seni dan desain yang adadalam dirinya. Ia selalu menjawab ingin men­jadi arsitek ketika ditanya tentang cita­citanya.“Dari SD sampai SMP, kalau ditanya orang in­gin jadi apa, saya selalu menjawab, ingin men­jadi arsitek!” paparnya mengenang masa­masakecil itu. Ketika memasuki jenjang SMP, Leonard mu­lai tertarik dengan dunia seni lain yang jugaumum digandrungi oleh mayoritas anak­anakremaja di masa itu, yaitu musik. Hari­hari Leon­ard banyak dihabiskannya dengan bermain sunvisualmusik. Bahkan saat SMA, Leonard juga sempat membentuksebuah grup band bersama kawan­kawannya. Weezer, salah Weezer adalahsatu band beraliran alternative dari Amerika Serikat yang sebuah bandsempat populer pada era 1990­an, menjadi band idola Leon­ beraliran rock alternatif dariard ketika itu. “Saya sangat tertarik pada musik. Ketika SMP Amerika. Sejaksampai SMA, musik adalah very big part of my life,” terang dibentuk padaLeonard. 1992, grup band Meskipun di masa remaja Leonard larut dalam kese­ ini telah berhasilnangannya di ranah musik, namun kemampuan dan hobi merilis 9 album, dan hingga kinimenggambarnya tidak lantas luntur dan dilupakan begitu album merekasaja. Hal itu terbukti ketika lulus SMA dan hendak melanjutkan telah terjual lebihke bangku kuliah, Leonard tanpa ragu untuk memasuki bi­ dari 9 juta kopi,dang grafik desain sebagai pilihan studinya. “Saat mau kuli­ hanya untukah di luar negeri, my first instinc mengatakan grafik desain!” pasar Amerikategas Leonard dengan mantap. Akhirnya, selepas lulus SMA, saja.Leonard memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya diArt Institute of Houston, Texas, Amerika Serikat. Leonard Theosabrata menghabiskan 2 tahun untuk bela­jar sekaligus bekerja di Houston. Ternyata, selama menjalaniaktivitas sebagai pekerja desain grafis di Negeri Paman Samitu Leonard mulai mengalami rasa jenuh, bahkan, ia sempatmerasa tidak cocok berkecimpung di bidang grafik desain.Leonard memang tidak serta­merta mendakwa grafik desainsebagai satu­satunya alasan kejenuhannya itu. 112
  • accupunto.com Ia merasa bahwa rasa tidak cocok yang dialaminya itu dise­ babkan oleh ritme dan ling­ kungan tempat kerjanya. Keje­ nuhan dan alur hidup yang monoton itu pada akhirnya mencapai titik didihnya. “Saat itu saya merasa bahwa kemam­ puan saya dalam grafik desain telah mandeg,” kata Leonard. Saat berada di lingkaran ke­ bimbangan itulah Yos Theosa­ brata muncul dengan sebuah ta­ waran solusi yang menarik. Sang ayah menawarkan kepada Leo­ nard supaya beralih ke bidang desain produk. Leonard segera mengiyakan saran sang ayah ka­ rena ia memang sudah sangat jenuh dengan kehidupannya saat itu. Leonard kemudian bertekad mencari lembaga pendidikan ter­ baik sebagai tempatnya untuk memperdalam bidang product design. Kampus terbaik yang ketika itu terbayang­bayang di dalam benak Leonard adalah Art Center College of Design Pasadena, California, Amerika Serikat. Akhirnya, pada 1999, Leonard Theosabrata diterima sebagai salah seorang mahasiswa di Art Center College of Design Pasadena. Keberhasilannya itu disebabkan karena ia mampu menyelesaikan 3 macam proyek sebagai syarat portofolio untuk rekruitmen ma­ suk ke sekolah seni terkemuka di Amerika Serikat tersebut. Selama lebih kurang 3 tahun ia menuntut ilmu Pasadena, Leonard sempat memenangkan beberapa kompetisi desain. art Center College of Design adalah perguruan tinggi khusus bidang desain di Pasadena, California, yang dikenal sebagai salah satu dari 60 sekolah desain terbaik di dunia. 113
  • Catatan manis Leonard di Pasadena semakin pan­jang ketika ia masuk dalam salah seorang anggotatim proyek yang menggawangi desain interior pesa­wat Airbus 383 yang disponsori oleh Singapore Air­lines. Leonard juga termasuk sebagai salah satu siswayang berkesempatan magang di perusahaan manu­faktur mainan terkemuka dunia asal Jepang, yaitu diBandai yang bermarkas di Tokyo. Sebenarnya, saat masih sekolah di Pasadena, Le­onard Theosabrata pernah mendapat tawaran untukbergabung di perusahaan terkemuka dunia yang ber­pusat di Amerika Serikat, Apple. Akan tetapi, sema­ngat dan sifat kemandirian Leonard membuatnyamelewatkan peluang yang sangat menggiurkan itu.Ia lebih memilih untuk kembali ke Indonesia selepaslulus dari Art Center College of Design Pasadena padaakhir tahun 2002. Di Indonesia, Leonard Theosabrata sempat kagetkarena sulitnya mencari kawan atau mitra yang sebi­dang pekerjaan dengannya. “Mau cari teman yangseprofesi susahnya setengah mati,” ingatnya meng­enang saat­saat itu. Perjuangan Leonard pada masaawal kepulangannya ke Indonesia itu memang terbi­lang cukup berat. Hampir semua pekerjaan yang ber­hubungan dengan desain pernah dijajalnya. Ia per­nah menjadi art director, melakukan aktivitas brandingproject, menggarap interior project, hingga menjadi se­orang konsultan. Akhirnya, Leonard Theosabrata memutuskan un­tuk berkolaborasi bersama sang ayah. Bersama­sama,ayah dan anak itu membangun sebuah brand furni­ture tersendiri. Nama yang dipilih adalah Accupunto. BanDai adalah perusahaan produsen mainan dan video game dari Jepang yang menduduki peringkat terbesar ketiga di dunia. Bandai didirikan pada 5 Juli 1950, dengan markas pusatnya di Taito, Tokyo. Jenis mainan produksi Bandai yang cukup populer di antaranya adalah Gundam, Tamagochi, dan Digimon. 114
  • Produk furniture yang dihasilkan oleh Accupunto memangsangat unik, terutama aneka macam kursi unik yangdibuat dengan menggabungkan unsur akupuntur. Accupunto telah berhasil mentansformasikan metodepengobatan akupuntur ke dalam sebuah produk furnitureyang menarik sehingga menghasilkan sebuah kursi yangselain nyaman juga bermanfaat bagi kesehatan. Kursi­kursi berjuluk Accupunto inilah yang kemudian melejit­kan nama Leonard Theosabrata ke dunia internasional. Leonard Theosabrata bertekat untuk terus berusahamenciptakan karya­karya yang unik dan gagasan­gagasanbaru yang diharapkan dapat memberikan kegunaan bagimasyarakat Indonesia dan dunia pada umumnya. Kini,Leonard Theosabrata hidup berbahagia dengan sang istritercinta, Irene Yuliana, dan kedua buah hatinya, River danSkye. m co to. pun accu 115
  • “Ayahlah yang mendorong dan mengarahkan kepada saya bahwa bidang yang tepat bagi saya adalah product design.”DUET MAUTAyah dan Anak T anpa ada dorongan dari sang ayah, Leonard Theosabrata mungkin belum mampu mencapai apa telah berhasil ia capai sekarang ini. Ayah Leonard, Yos Theosabrata, adalah sosok utama yang melihat bakat sang anak akan lebih bermakna jika dialihkan ke bidang desain produk, setelah sebelumnya Leo­ nard merasakan titik jenuh di ranah grafik desain yang selama ini digelutinya. Siapa sangka naluri tajam seorang ayah telah mampu menunjukkan jalan bagi anaknya untuk menjadi seorang product designer yang mumpuni. Tak bisa dipungkiri bahwa Yos Theosabrata, yang juga adalah Ketua Indonesian Furniture Club, merupakan sosok figur yang pa­ ling berpengaruh di belakang kesuksesan Leonard. Yos Theosabrata sebenarnya telah mengetahui bahwa anaknya memiliki bakat seni. Namun, Yos cenderung hanya memonitor saja dari jauh, dan seja­ tinya ia berharap jangan sampai Leonard tumbuh dengan jiwa yang terlalu condong ke arah seni. Yos menilai bahwa seorang seniman itu tidak akan pernah pandai dalam berbisnis. Yos mengharapkan agar Leonard, selain tetap berjiwa seni, juga mampu menjalankan bisnis secara profesional. Jiwa seni yang di­ maksud adalah bahwa Leonard masih diharapkan piawai dalam 116
  • bidang desain, karena keahlian dan kreativi­ tas desain seseorang akan bisa menciptakan sesuatu yang berman­ faat dan bernilai jual. Lebih dari itu, ke­ mampuan seni desainbaltyra.com akan mampu meng­ antarkan sang anak selangkah lebih dekat ke arah dunia bisnis. Antara seni murni dengan desain memang sedikit memiliki ketidaksamaan. Leonard sendiri meyakini hal itu, “Seni dan desain itu berbeda, desain lebih dekat ke arah creative entreprenenurship.” Sang ayah juga selalu menasehati Leonard supaya be­ lajar dari pengalaman orang lain. Setiap pengalaman orang lain, entah itu berakhir sukses atau tidak, dapat di­ manfaatkan untuk pembelajaran diri sendiri. Oleh karena itulah, Yos selalu bersemangat mendorong Leonard untuk rajin mengikuti berbagai seminar ataupun acara talk show tentang berbagi pengalaman dari orang­orang yang telah sukses di bidangnya. “Ayah selalu bilang bahwa kamu harus datang ke se­ minar orang­orang sukses, karena intisari pengalaman sukses seseorang selama puluhan tahun akan kita dapat­ kan hanya dalam waktu 2 jam saja,” ujar Leonard. Dari accupunto.com 117
  • “Ayah saya mendidik secara ekstrim tapi liberal.”blackxperience.com itulah, sampai sekarang Leonard masih menganggap bahwa ia masih dalam proses belajar dan akan terus bela­ jar menjadi lebih baik lagi. “Tidak ada ruginya ikut semi­ nar orang­orang sukses,” tambahnya. Leonard Theosabrata membenarkan bahwa ia memi­ liki sifat seperti ayahnya dalam bekerja. Ketika menda­ patkan sesuatu hal yang dianggapnya menantang, maka ia sanggup bekerja selama 24 jam penuh demi menye­ lesaikan tantangan itu. Kekaguman Leonard terhadap sang ayah disebabkan karena karakter kuat yang dimiliki ayahnya. Sang ayah bagi Leonard adalah sosok yang se­ lalu dipenuhi oleh ide­ide besar. Bahkan, Leonard menyebut sang ayah sebagai seo­ rang industrialis dan inventor yang sangat berpengaruh, termasuk terhadap dirinya. Karakter dan kepribadian sang ayah, dalam bahasa Leonard, sangat hitam putih. “Beliau mendidik secara ekstrim tapi liberal,” lanjut Leo­ nard masih tentang sosok sang ayah yang menjadi panut­ an sekaligus idolanya itu. Ekstrim karena sang ayah cenderung “mengarahkan” anak­anaknya dengan cara yang khusus, yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Soal selera, misalnya, sang ayah juga “mengarahkan” dengan caranya sendiri, 118
  • yaitu dengan mendekatkan anak­anaknya pada hal­halyang terbaik. Leonard mencontohkan, ia pernah diajaksang ayah berkeliling dunia dengan segala fasilitas nomorsatu selama perjalanan itu. Selain ekstrim, namun Yos Theosabrata ternyata jugaseorang penganut liberal dalam mendidik anak­anaknya,misalnya dengan “membiarkan” anak­anaknya untukmemilih jalan sendiri, namun tetap dengan pengawasanmeskipun itu dilakukan dari jauh dan tidak melakukankontrol secara berlebihan. Jika si anak dinilai sudah agak kehilangan arah, ataumengalami kebuntuan seperti yang pernah dialami Leo­nard, maka sang ayah akan langsung turun tangan, mem­bimbing anaknya untuk kembali menemukan kegairahandalam menjalani hidup agar berguna bagi diri sendiri, ter­lebih bagi orang lain. Leonard ingin mengikuti jejak sang ayah dan jalanke arah itu tampaknya sudah mulai terlihat. Buktinya,perpaduan ayah dan anak ini berhasil membuat Accu­punto menjadi perusahaan yang patut diperhitungkan dibidangnya dan berkembang dengan sangat pesat hing­ga mampu mencapai kegemilangan seperti yang terlihatsekarang ini. accup unto.c om 119
  • Saatnya INDONESIA BERBICARAA da satu hal penting dalam pandangan Leonard Theosabrata yang mungkin dapat dijadikan mo­ tivasi bagi para pegiat furniture tanah air. Angin trend dunia tampaknya tengah mengarah ketimur Ya, inilah saatnya kebangkitan furniture beraromaAsia. Sebagai salah satu bangsa timur, Indonesia harus da­pat bergerak cepat untuk memanfaatkan momentum inidengan sebaik­baiknya. Leonard juga sangat berharap agar semua pegiat crea­tive entrepreneur untuk lebih giat lagi dalam bekerja danjeli dalam membaca peluang. Di saat trend Eropa tengahmenurun, tidak ada lagi momentum yang lebih baik darisekarang untuk meraih pasar dunia. “Episentrumnya adadi sini karena di Eropa sudah mulai going down hill. Mung­kin tidak akan selamanya karena mereka pasti akan bang­kit lagi. Tapi untuk saat ini, the action ada di sini,” ujarLeonard bersemangat. Berkaca pada gejala tersebut, para insan kreatif In­donesia dituntut untuk dapat menggali dan mentrans­formasikan kearifan lokal yang ada di dalam berbagaibudaya daerah ke dalam produk desain yang bernilaijual. Meskipun demikian, jangan lantas terlalu terfokuske dalam diri sendiri hingga mengabaikan peluang yangada di luar local wisdom milik sendiri. Pada intinya adalahraih setiap peluang dan jangan biarkan peluang tersebutmenguap begitu saja.120
  • accupunto.com Leonard mencontohkan ba­ gai mana Jepang bisa suk ses ha nya dengan “meniru” pada awalnya. Namun, kata Leonard, tindakan “meniru” oleh Jepang dilakukan dalam hal positif, yaitu memodifikasi sebuah produk menjadi lebih bermutu dan lebih bernilai jual. Bahkan dalam beberapa ka­ sus, Jepang mampu mengha­ sil kan berbagai produk mo­ di fikasinya itu menjadi lebih bercita­rasa Jepang. “Mereka (Je­ pang) telah mengcopy berbagai merk terkenal untuk di kem­ bangkan,” ungkap Leonard. Pada prinsipnya, lanjutnya, Jepang telah menciptakan sebu­ ah produk baru, namun tidak se mata­ma ta meniru secara mem babi­buta sehingga malah lebih condong ke arah plagiat. 121
  • “Sekarang adalah saatnya bagi Indonesian creative entrepreneur untuk bersinar. Dua atau tiga tahun dari sekarang, Indonesia bisa menjadi pemain yang luar biasa.” Leonard sangat mengapre­ siasi berbagai karya desain kre­ atif dari para desainer pendatang baru di Indonesia yang menu­ rut penilaiannya cukup unggul dalam tataran regional. Meski­ pun produk desain dari Thailand juga cukup baik, tapi menu­ rutnya mereka masih kalah jika dibandingkan dengan para de­ sainer dari tanah air.accupunto.com Leonard menambahkan, ba­ nyak orang luar negeri yang kagum dengan perkembangan produk desain di Indonesia, ter­ utama dari karya para pendatang baru. “Orang luar negeri sam­ pai bengong ketika menjumpai bahwa di Indonesia ada tempat yang 90% isinya adalah brand pendatang baru yang berada da­ lam satu atap. Bahkan di New York pun tak ada yang seperti itu,” ujarnya. Leonard juga menegaskan, sekecil apapun karya dari para creative entrepreneur di Indone­ sia pasti akan membawa dam­ pak positif bagi perkembangan bangsa ini. accupunto.com 122
  • “... yang terpenting adalah lakukan tindakan nyata, dan kamu akan sukses!”accupunto.com Belajar dan Bergerak! L eonard Theosabrata adalah orang yang sangat meng­ hargai tindakan nyata. Ia bukanlah tipikal orang yang suka bertele­tele dan terbuai dengan teori­ teori yang belum tentu bisa membuktikan sesuatu. “Kalkulatif dan solid foundation memang harus, tapi yang terpenting adalah lakukan tindakan nyata, dan kamu akan sukses!” tegasnya. Leonard percaya bahwa mempelajari atau memahami sesuatu akan lebih baik jika dilakukan dan mengalaminya sendiri. Baginya, sebuah tanggung jawab harus diemban dengan totalitas yang tegas. Proses kurasi yang dilakukan Leonard Theosabrata di Brightspot Market, misalnya, harus punya objektivitas yang jelas dan juga mengandung unsur edukasi. Bright­ spot Market sendiri merupakan sebuah konsep retail ber­ bagai produk desain unik berkelas premium yang digelar 123
  • secara periodik di berbagai tempat di Indonesia di manaLeonard Theosabrata berperan sebagai salah satu mo­tornya. “Akan selalu ada proses pembelajaran pada kurasiyang dilakukan di Brightspot,” ujarnya. Leonard melihat bahwa proses pembelajaran sebuahvendor untuk meningkatkan mutu produk akan dapat di­lakukan dengan baik ketika karya­karyanya masuk dalamproses kurasi. Ketika proses kurasi itulah Leonard akanmemberi masukan dan saran kepada para vendor produk­produk mana saja yang terbilang bagus, produk yangharus lebih ditingkatkan, serta produk yang dianggapkurang bernilai. “Dari situlah kemudian timbul mentoringproses. Kita melakukan itu karena kita merasa bertang­gung jawab terhadap sebuah produk,” jelas Leonard. Mengingat besarnya perputaran uang yang terjadidalam Brightspot Market, yaitu mencapai 45 milyar hanyadalam 4 hari saja, maka Leonard pun harus semakin sele­ktif dalam menilai produk dan vendor yang ingin masuk.Jangan sampai citra Brightspot menjadi turun dan halitu malah dapat berimbas negatif ke vendor­vendor lain.“Education dan curation adalah proses penting dalam bisnisini,” Leonard menegaskan. Memang benar, dalam dunia kreatif, semua orangyang terlibat di dalamnya tidak boleh berhenti belajardan berkarya, seperti yang masih dan akan terus dilaku­kan oleh Leonard Theosabrata hingga saat ini dan sampaikapanpun. Seperti kata Leonard, belajarlah dari contoh­contoh yang baik dan berbuatlah sesuatu yang nyata. Be­lajar, bergerak, dan sukses! com nto. upu acc124
  • #Twitalk#Twitalk adalah sebuah program wawancara live semacamtalk show melalui media Twitter. Program ini on air perta­ma kali pada Kamis, 29 Mei 2010, dengan menghadirkanTriawan Munaf sebagai narasumbernya. #Twitalk berawaldari potensi yang terbaca dari karakter #FollowFriday yangkemudian berlanjut pada diskusi bersama rekan­rekanpengguna Twitter di timeline. Program #Twitalk dapat disi­mak di setiap hari Kamis jam 21.00 WIB dengan mengkliktanda pagar #Twitalk serta mem­follow akun @TwitalkIDdan narasumber yang dihadirkan. Semua interaksi yangberlangsung di #Twitalk terangkum dan terasip di lamanresminya: www.Twitalk.co.id.
  • Indonesia KreatifIndonesia Kreatif adalah portal tentang perkembanganekonomi dan industri kreatif terkini di Indonesia. IndonesiaKreatif mencoba mensinergikan antara para pelaku kreatif,pelaku bisnis, dan pemangku kebijakan demi percepatanpengembangan industri kreatif di Indonesia. Indonesia Kre­atif menyajikan tentang cerita sukses dan inspiratif parapelaku kreatif, kalender kreatif, direktori pelaku kreatifIndonesia, dan materi resmi dari pemerintah. Terdapatdua fitur utama di Indonesia Kreatif, yaitu (1) Showcase untukmemamerkan karya­karya kreatif baik dalam bentukgambar, video, dan animasi, serta (2) Bazaar untuk mencaripeluang kerjasama antar pelaku kreatif. Indonesia Kreatifdapat diakses melalui www.IndonesiaKreatif.net.