Ulumul Qur'an (2)

12,026 views
11,792 views

Published on

Semoga ia menjadi ilmu yang bermanfa'at buat kita bersama.

Published in: Education
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
12,026
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
435
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ulumul Qur'an (2)

  1. 1. ULUMUL QUR’AN: Oleh: Ustaz Idris Bin Hj Ahmad Pentauliahan Guru Pengajian Qur’an (QTRS) Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)
  2. 2. ULUMUL QUR’AN: <ul><li>Muqaddimah Ulum Al-Quran </li></ul><ul><li>Pendahuluan </li></ul><ul><li>Pengertian Ulum Al-Qur’an </li></ul><ul><li>Tahap Perkembangan Ulum Al-Qur’an </li></ul><ul><li>Penulisan Ulum Al-Qur’an dan Tokoh Ulama’ </li></ul><ul><li>Bidang & Skop Perbahasan Ulum Al-Qur’an </li></ul><ul><li>Faedah Mempelajari Ulum Al-Qur’an </li></ul>
  3. 3. Pengertian Ulum:
  4. 4. <ul><li>Menurut Syeikh Ali Tantawi : </li></ul><ul><li>manusia dalam menghadapi persoalan </li></ul><ul><li>terbahagi kepada 5 urutan: </li></ul><ul><li>1) Jahil (0%) </li></ul><ul><li>2) Syak (50%) </li></ul><ul><li>3) Zhon (60%) </li></ul><ul><li>4) Ghalabatul zhon (75%) </li></ul><ul><li>5) Ilmu yakin (100%) </li></ul>
  5. 5. Pengertian Al-Qur’an: <ul><li>Sedangkan kata al-Qur’ān, secara bahasa, berasal dari kata qara’a - yaqra’u yang memiliki makna al-jam‘ dan al-dhamm (keduanya berarti mengumpulkan). </li></ul><ul><li>Sedangkan kata qur’ān pada asalnya adalah seperti qirā’ah, karena keduanya merupakan mashdar dari qara’a, dengan wazn (rumus kata) fu’lān ( فعلان ), seperti kata ghufrān dan syukrān.  </li></ul>
  6. 6. Pengertian Al-Qur’an: <ul><li>Sedangkan dalam pengertian istilah, menurut Mannā’ al-Qaththān, al-Qur’an dapat didefinisikan sebagai berikut: </li></ul><ul><li>  كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته   </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Selain itu, al-Qur’an didefinisikan sebagai firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw dan diterima oleh umat Islam secara mutawatir.   </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Beberapa pendapat menambahkan dalam pengertian tersebut dengan “ditulis dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fātihah dan diakhiri dengan surat </li></ul><ul><li>al-Nās.”  </li></ul>
  9. 9. <ul><li>Dari beberapa definisi di atas, </li></ul><ul><li>maka al-Qur’an memiliki beberapa unsur </li></ul><ul><li>atau batasan, yakni: </li></ul><ul><li>(1) kalām (firman/perkataan) Allah. </li></ul><ul><li>(2) melalui perantara Malaikat Jibril, </li></ul><ul><li>(3) diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. </li></ul><ul><li>(4) mempunyai kemampuan i‘jāz, </li></ul><ul><li>(5) membacanya bernilai ibadah, </li></ul><ul><li>(6) diriwayatkan secara mutawātir, </li></ul><ul><li>(7) ditulis dalam mushaf, </li></ul><ul><li>(8) diawali dengan surat al-Fātihah dan </li></ul><ul><li>diakhiri dengan surat al-Nās. </li></ul>
  10. 10. Pengertian Ulumul Qur’an: <ul><li>Menurut Manna Qathan: </li></ul><ul><li>“ Sesuatu ilmu yang mencakupi pelbagai kajian yang berhubungkait dengan kajian-kajian Al-Quran seperti perbahasan tentang Asbab an-Nuzul, Jam’ul Quran, Makkiyah dan Madaniyah, Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabihat dan lain-lain lagi. </li></ul>
  11. 11. Menurut Muhammad ‘Ali al-Shabuni: <ul><li>Pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an al-Majīd yang abadi, baik dari segi penyusunannya, pengumpulannya, sistematikanya, perbedaan antara surat makkiyyah dan madaniyyah, pengetahuan tentang nāsikh dan mansūkh, pembahasan tentang muhkamat dan mutasyābihat, serta pembahasan-pembahasan lain yang berhubungan dengan al-Quran.  </li></ul>
  12. 12. Pengertian Istilah: <ul><li>Ilmu yang membahaskan tentang </li></ul><ul><li>Al-Qur’an dari aspek: </li></ul><ul><li>Penurunannya </li></ul><ul><li>Bacaannya </li></ul><ul><li>Pengumpulannya </li></ul><ul><li>Penyusunannya </li></ul><ul><li>Penulisannya </li></ul><ul><li>Pentafsirannya </li></ul>
  13. 13. <ul><li>I’jaznya </li></ul><ul><li>Nasikh mansukhnya </li></ul><ul><li>Sebab nuzulnya </li></ul><ul><li>Ayat Makki Madaninya </li></ul><ul><li>I’rabnya </li></ul><ul><li>Gharibnya </li></ul><ul><li>Adab-adabnya </li></ul><ul><li>Dan apa saja yang berkaitan dengannya </li></ul>
  14. 14. Tahap Perkembangan Ulum Al-Qur’an: <ul><li>Perkembangannya melalui 3 tahap: </li></ul><ul><li>1) Tahap sebelum dibukukan </li></ul><ul><li>2) Tahap persediaan ke arah pembukuan </li></ul><ul><li>3) Tahap penulisan dan pembukuan </li></ul>
  15. 15. Tahap sebelum dibukukan: <ul><li>Zaman Rasulullah saw dan para sahabat. </li></ul><ul><li>Bermula semenjak al-Quran diturunkan pertama kalinya. </li></ul>
  16. 16. Menurut Dr Musaid Sulaiman al-Thayyar :
  17. 17. <ul><li>Antara ulumul Qur’an pada zaman </li></ul><ul><li>itu adalah: </li></ul><ul><li>Membaca </li></ul><ul><li>Menghafal </li></ul><ul><li>Wahyu </li></ul><ul><li>Penurunan wahyu </li></ul><ul><li>Tafsir </li></ul>
  18. 18. Doa Rasulullah saw untuk Ibnu Abbas :
  19. 21. <ul><li>Abu Abdirrahman As-Sulami </li></ul><ul><li>meriwayatkan bahwa orang-orang </li></ul><ul><li>yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; Apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.” </li></ul><ul><li>(HR. Abdurrazaq dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir) </li></ul>
  20. 22. Rasulullah saw mentafsir:
  21. 23. Tahap persediaan ke arah pembukuan: <ul><li>Bentuk tulisan dalam media buku belum berkembang. Namun, salinan-salinan mushaf yang ditulis pada masa ‘Utsmān yang dikirim ke beberapa wilayah dianggap sebagai permulaan dari ilmu rasm al-Qur’an.  </li></ul><ul><li>Begitu pula, upaya pemberian harakat dalam tulisan al-Qur’an yang dilakukan oleh Abū al-Aswad al-Du’alī dengan kaidah Nahwu dapat dianggap sebagai permulaan ilmu I‘rāb al-Qur’an.  </li></ul>
  22. 24. Pengajian tafsir Al-Quran oleh para sahabat: <ul><li>Diantara para mufasir yang terkenal di kalangan para shahabat Nabi adalah empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin az-Zubair. </li></ul>
  23. 25. <ul><li>Yang termasyhur dalam bidang tafsir: </li></ul><ul><li>1) Abdullah bin Abbas (Makkah) </li></ul><ul><li>2) Abdullah bin Mas’ud (Kufah/Iraq) </li></ul><ul><li>3) Ubay bin Ka’ab (Madinah) </li></ul>
  24. 26. <ul><li>Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al Yamani dan Atha’ bin Rabah. </li></ul>
  25. 27. <ul><li>Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al Qurazhi.  </li></ul>
  26. 28. <ul><li>Di Iraq terdapat beberapa murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu Alqamah bin Qais, Masruq bin al-Alda’, Aswad bin Yazid, Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi. </li></ul>
  27. 29. <ul><li>Adapun jenis ilmu yang diriwayatkan dari mereka itu mencakup: ilmu tafsir, ilmu gharib al-Qur’an, ilmu asbab an-nuzul, ilmu makkiyah dan madaniyah dan ilmu nasikh-mansukh. </li></ul>
  28. 30. <ul><li>Metode penyampaian ilmu pengetahuan pada waktu itu, yang berlangsung sejak abad pertama hingga abad ke-2 sampai abad ke-3 Hijriah, lebih banyak mengandalkan metode sima‘ī (pendengaran), musyāfahah (penyampaian secara oral/lisan). </li></ul>
  29. 31. Tahap penulisan dan pembukuan: <ul><li>Penyampaian ilmu-ilmu al-Qur’an melalui tulis-menulis dalam arti pembukuan, diperkirakan baru muncul sekitar abad ke-3 atau ke-4 Hijriah. </li></ul>
  30. 32. <ul><li>Dalam bidang ilmu asbāb al-nuzul, tercatat nama ‘Alī Ibn al-Madinī </li></ul><ul><li>(234 H)—guru Imam al-Bukhārī—yang mengarang asbāb al-nuzūl </li></ul><ul><li>Abū ‘Ubaid al-Qāsim ibn Salām yang menulis tentang al-Nāsikh wa al-Mansūkh. </li></ul><ul><li>Ibn Qutaybah (276 H) menyusun tentang musykilah (problematika) al-Qur’an.  </li></ul>
  31. 33. <ul><li>Sedangkan dari ulama-ulama abad ke-4 Hijriah, dan seterusnya, masing-masing tercatat nama-nama: </li></ul><ul><li>Abū Bakr al-Sijistānī (330 H) dalam bidang Gharīb al-Qur’ān, </li></ul><ul><li>Abū Bakr al-Baqilānī (403 H) menyusun I’jāz al-Qur’ān, </li></ul><ul><li>‘ Alī ibn Sa‘īd al-Hūfī (430 H) dalam bidang I‘rāb al-Qur’ān, </li></ul><ul><li>al-Māwardī (450 H) menulis tentang amtsāl al-Qur’ān, </li></ul>
  32. 34. <ul><li>Abū al-Qāsim ‘Abd al-Rahmān </li></ul><ul><li>yang lebih populer dengan sebutan al-Siblī (abad ke-6) dalam bidang Mubhamat al-Qur’an, </li></ul><ul><li>al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salām (660 H) dalam bidang majāz al-Qur’ān, dan </li></ul><ul><li>‘ Alam al-Dīn al-Sakhāwī (643 H) dalam bidang ‘ilm al-qirā’āt dan aqsām al-Qur’ān.   </li></ul>
  33. 35. <ul><li>Khususnya dalam bidang tafsir, </li></ul><ul><li>orang pertama sebagai penulis kitab tafsir al-Qur’an dalam bentuk karangan yang sesungguhnya ialah: </li></ul><ul><li>Muhammad ibn Jarīr al-Thabari </li></ul><ul><li>(w. 310 H) dengan karya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Himpunan penjelasan dalam tafsir a-Quran).  </li></ul>
  34. 36. <ul><li>Menurut al-Zarqānī, istilah ini berdasarkan opini masyarakat umum baru muncul pada abad ke-7 Hijriah. Di perpustakaan Dār al-Kutub al-Mishriyyah, al-Zarqānī menjumpai sebuah kitab yang ditulis oleh ‘Ali Ibn Ibrāhīm Ibn Sa‘īd al-Hūfī (w. 330 H) yang diberi nama al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān sebanyak 30 jilid. </li></ul>
  35. 37. <ul><li>Dengan demikian, istilah ‘ulūm al-Qur’ān telah lahir sekitar dua abad lebih lama, yakni abad ke-5 atau bahkan abad ke-4 dari pada pendapat umum. </li></ul>
  36. 38. <ul><li>Pada abad ke-6 Hijriah: </li></ul><ul><li>Ibn al-Jauzī (w. 597 H), menyusun dua kitab Funūn al-Afnān fī-‘Ulūm al-Qur’ān </li></ul><ul><li>al-Mujtabā fī ‘Ulūm Tata‘allaq bi al-Qur’ān. </li></ul><ul><li>Alam al-Sakhāwī (w. 641 H) menyusun buku Jamāl al-Qurrā’, </li></ul><ul><li>Abū Syāmah (w. 665 H) mengarang kitab al-Mursyid al-Wajīz fī mā Yata‘allaq bi al-Qur’ān al-‘Azīz. </li></ul>
  37. 39. <ul><li>Pada abad ke-8: </li></ul><ul><li>Badr al-Dīn al-Zarkasyī menyusun </li></ul><ul><li>al-Burhān fī-‘Ulūm al-Qur’ān, </li></ul><ul><li>al-Bulqinī menyusun karya besar Mawāqi‘ al-‘Ulūm min Mawāqi‘ al-Nujūm. </li></ul>
  38. 40. Pada abad ke-9 Hijriah: <ul><li>Jalāl al-Dīn al-Suyūthī (w. 911 H) menyusun al-Itqān fī-‘Ulūm al-Qur’ān. </li></ul><ul><li>Kemudian, Syaikh Thāhir al-Jazairī menyusun al-Tibyān fī-‘Ulūm al-Qur’ān (1335 H). </li></ul><ul><li>Manāhil al-‘Irfān fī-‘Ulūm al-Qur’ān ditulis Muhammad ‘Abd al-‘Azhīm al-Zarqānī. </li></ul>
  39. 41. <ul><li>Dikalangan para ulama kontemporer lahir </li></ul><ul><li>beberapa buku tentang ilmu ilmu Al Qur’an semisal: </li></ul><ul><li>Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya Muhammad Shubhī al-Shālih, </li></ul><ul><li>Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān tulisan Mannā’ al-Qaththān, </li></ul><ul><li>Min Rawāi‘ al-Qur’ān buah pena Muhammad Sa‘īd Ramadhān al-Būthī, </li></ul><ul><li>al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’an karya Muhammad ‘Ālī al-Shābūnī, dan lain-lain.  </li></ul>
  40. 42. <ul><li>Di Indonesia pun terbit beberapa buah buku </li></ul><ul><li>‘ ulum al-Qur’an. Di antaranya adalah: </li></ul><ul><li>Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an / Tafsir dan Ilmu-Ilmu al-Qur’an karya tulis M. Hasbi Ash-Shiddieqy, </li></ul><ul><li>Pengantar ‘Ulumul Qur’an karangan Masyfuq Zuhdi, </li></ul><ul><li>Sejarah al-Qur’an karya Abu Bakar Aceh, </li></ul><ul><li>al-Qur’an dari Masa ke Masa buah pena KH. Munawar Khalil, dan lain-lain.  </li></ul>
  41. 43. Bidang & Skop Perbahasan Ulum Al-Qur’an: <ul><li>1) Tafsir dan Ta’wil </li></ul><ul><li>2) I’rab al-Qur’an </li></ul><ul><li>3) Qira’at </li></ul><ul><li>4) Nasikh dan Mansukh </li></ul><ul><li>5) Asbab al-Nuzul </li></ul><ul><li>6) Makki dan Madani </li></ul><ul><li>7) Fadaail al-Qur’an </li></ul><ul><li>8) Nuzul al-Qur’an </li></ul>
  42. 44. <ul><li>9) Gharib al-Qur’an </li></ul><ul><li>10) Amthal al-Qur’an </li></ul><ul><li>11) Majaz Al-Qur’an </li></ul><ul><li>12) Muhkamat dan Mutasyabihat </li></ul><ul><li>13) Jadal al-Qur’an </li></ul><ul><li>14) Aqsam al-Qur’an </li></ul>
  43. 45. Tujuan mempelajari ulumul Quran Muhammad ‘Ali al-Shabuni: <ul><li>Dua macam; yakni tujuan dalaman dan luaran. Tujuan dalaman, seperti di kemukakan ialah: </li></ul><ul><li>(1) untuk memahami kalam Allah (al-Qur’an), menurut tuntunan, keterangan dan penjelasan dari Rasulullah saw, serta riwayat yang dinukilkan dari para sahabat dan para tābi‘īn tenang penafsiran mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an; </li></ul>
  44. 46. <ul><li>(2) mengetahui cara dan gaya yang dipergunakan oleh para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh mufasir ternama berikut kepiawaian mereka;   </li></ul>
  45. 47. <ul><li>(3) mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan al-Qur’an; </li></ul><ul><li>(4) mengetahui ilmu-ilmu lain </li></ul><ul><li>yang diperlukan untuk itu. </li></ul>
  46. 48. <ul><li>Adapun tujuan luaran ialah untuk membentengi kaum muslmin dari kemungkinan usaha-usaha pengaburan al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengimani atau bahkan memusuhi al-Qur’an. Dengan ilmu-ilmu ini, kaum muslimin dapat memelihara dan mempertahankan keaslian dan keabadian kitab sucinya. </li></ul>
  47. 49. An Introduction to ’Uloom al-Qur‘an Abu Ammar Yasir al-Qadhi: <ul><li>Pertama, ia membolehkan pembaca untuk mewujudkan kekayaan pengetahuan dan wawasan yang ada berhubung dengan kitab Allah.  </li></ul><ul><li>As some of the scholars of the past said, &quot;True knowledge is to know one's ignorance.&quot; </li></ul><ul><li>Only when a person realizes what he does not know will he appreciate how little he does know. </li></ul>
  48. 50. <ul><li>Kedua, membolehkan seorang pelajar untuk lebih memahami Qur’an, dalam hal dia akan akrab dengan sejarah wahyu dan pengumpulannya, dan pelbagai aspek yang dapat membantu pemahaman tersebut. </li></ul>
  49. 51. <ul><li>Ketika ia membaca buku-buku </li></ul><ul><li>tafsir, ia akan dapat memahami </li></ul><ul><li>istilah yang digunakan, dan mengambil manfaat dari pengetahuan itu ke tahap yang lebih besar. Dengan kata lain, ia akan diperlengkapi untuk lebih meningkatkan pengetahuannya dan untuk belajar tentang agamanya. </li></ul>
  50. 52. <ul><li>Ketiga, meningkatkan keimanan seseorang, kerana ia akan menyedari keindahan Al-Qur’an dan keberkatan yang besar melalui wahyu tersebut. Dia tidak akan tertipu oleh tuntutan musuh-musuhnya yang menyesatkan, dan hatinya merasa tenteram dengan keasliannya. </li></ul>
  51. 53. <ul><li>Keempat, ia akan mampu mempertahankan Al-Qur’an terhadap musuh-musuhnya, kerana ia akan dilengkapi dengan pengetahuan yang benar dan murni dari Qur’an, murni oleh prasangka lawannya. </li></ul>

×