Uploaded on

Presentasi sederhana tentang iklan-iklan tv "unik" (kalau tidak dibilang "gokil") di Indonesia, dibaca dengan pendekatan intertekstualitas.

Presentasi sederhana tentang iklan-iklan tv "unik" (kalau tidak dibilang "gokil") di Indonesia, dibaca dengan pendekatan intertekstualitas.

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,123
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
20
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MEMBACA IKLAN, MEMAKNAI TONTONAN Oleh : Hesti Rahayu, S.Sn., MA.
  • 2. Iklan sebagai teks kebudayaan
    • Model yang digunakan  bahasa
    • Asumsinya : bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa sebagai “teks yang dibaca”
    • Iklan diasumsikan sebagai “teks yang digunakan untuk berkomunikasi dan untuk dibaca”
  • 3. Membaca Iklan
    • Ada beberapa cara yang dapat ditawarkan dalam pembacaan teks kebudayaan :
      • Semiotika
      • Hermeneutika
      • Intertekstualitas
      • Strukturalisme
      • Dekonstruksi
    • Dalam pemaparan ini, karena terbatasnya waktu, saya hanya akan membahas dalam 2 sisi saja, yaitu tinjauan secara intertekstualitas dan maknanya sebagai tontonan
  • 4. Intertekstualitas Iklan Gokil
    • Sebenarnya semua gambar ’dikutip’ dari, dipinjam dari, bersinggungan dengan gambar-gambar lain secara historis atau kontemporer. Hubungan teks dengan teks tersebut disebut dengan ’intertekstualitas’ oleh teoritisi sastra.
    • Intertekstualitas merupakan konsep semiotik era tahun 80-an yang dikemukakan oleh Julia Kristeva.
    • Dia melihat teks sebagai rangkaian/ jaringan intertekstualitas. Setiap teks mengutip teks2 yang lain. Setiap teks adalah jaringan tanda2, tidak ada teks yang berdiri sendiri.
    • Setiap teks merupakan “a tissue of quotation”.
  • 5.
    • Dengan munculnya konsep ini, yang digugat adalah ilusi kita tentang originalitas. Tak ada lagi yang origin/ asli. Semuanya adalah salinan/ kutipan.
    • Iklan2 gokil yang kita bahas pada hari ini :
      • Iklan Tori-tori Cheese Cracker
      • Iklan Telkom gaya 80-an
      • Iklan Roncar
      • Iklan permen Mintz
    • Bermain2 dengan “jaring2 kutipan2 visual”. Justru ketidak-orisinalan inilah yang sengaja dimain2kan.
  • 6.
    • Iklan Tori-tori, selain merupakan plagiasi dari iklan Spreetz Stick dari Jepang, iklan ini sukses mempermainkan persepsi penonton dengan jaring2 “kutipan” visual yang sengaja dirajutnya.
  • 7.  
  • 8.  
  • 9.
    • Iklan Telkom juga dengan sengaja mengutip citra2 visual era 80-an.
  • 10.  
  • 11.
    • Analisis yang lengkap menggunakan cara intertekstualitas, dapat dilakukan dengan menguraikan satu-persatu jaring-jaring kutipan visual tersebut dan penafsiran maknanya.
    • Tetapi secara sederhana, secara komunikatif yang diharapkan dari iklan tsb, penonton yang “sebel” justru akan menggunjingkan iklan ini dimana-mana.
    • Disitulah letak kesuksesan iklan ini.
  • 12. Iklan sebagai Tontonan Suatu Simulakrum (Menurut Baudrillard)
    • Budaya tontonan yang sangat kuat di tengah masyarakat  terciptanya opini publik yang dibentuk oleh media, media sebagai referensi terhadap realita.
    • Opini publik dibentuk oleh suatu simulasi realitas (kebenaran dan fakta) yang disuguhkan oleh media, yang semuanya sesungguhnya tak lebih dari realitas artifisial  simulakrum
    • Iklan seperti Tori2 misalnya  berusaha menciptakan simulakrum di tengah penontonnya.
    • Yang tadinya tidak ada referensi real bahwa makan cracker sambil jalan mengangkang, kini berlaku sebaliknya, yaitu penonton disetir oleh perilaku dalam media.
      • Bukti : video ttg anak2 sekolah yang dihukum gurunya dengan disuruh menirukan adegan iklan Tori2
      • Olok2 anak sekolah/ di kampus2 terhadap orang2 tertentu yang agak gemuk dengan proporsi kaki yang pendek.
  • 13. Kritik terhadap Iklan2 Gokil
    • Orisinalitas memang hanyalah ilusi, tetapi bila kemudian yang terjadi adalah plagiasi, maka hal itu sama saja dengan menghancurkan kreativitas.
    • Hiperealitas media (salah satu indikasinya dengan adanya simulakrum), mengandung konsekuensi (Piliang, 2004)  banalitas informasi. Iklan, dan juga berbagai informasi yang disajikan tanpa interupsi oleh berbagai media kontemporer adalah informasi remeh-temeh, informasi yang tidak ada yang dapat diambil hikmah darinya (banality of information).
    • Akan tetapi ironisnya, informasiitu terus saja diproduksi, meski setiap orang tahu bahwa informasi tersebut tidak berguna, karena tidak mempunyai kredibilitas.
    • Ironisnya, apa yang kini dikejar setiap orang dari media tidak lagi makna tersebut, melainkan ekstasi menonton media itu sendiri.
    • Bila demikian adanya…alangkah menyedihkan !
  • 14. SEKIAN TERIMA KASIH