Your SlideShare is downloading. ×
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Hambatan belajar bio
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Hambatan belajar bio

5,555

Published on

1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
  • thaks ya... skrifsinya sangat membantu tugas saya.. trims...
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
5,555
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
77
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DAN CARA PEMECAHANNYA DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2004 BAGI GURU KELAS X SMA NEGERI SE-KABUPATEN SEMARANG SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Oleh Nama : Dyah Sulistiyawati NIM : 4401401023 Program Studi : Pendidikan Biologi Jurusan : Biologi Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006
  • 2. PENGESAHANSkripsi dengan judul: Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannya dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004 Bagi Guru Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten SemarangTelah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematikadan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Sabtu Tanggal : 1 April 2006 Panitia UjianKetua SekretarisDrs. Kasmadi I. S., M. S. Ir. Tuti Widianti, M. Biomed.NIP 130781011 NIP 130781009Pembimbing I Anggota PengujiDrs. Kukuh Santoso 1.Prof. Dr. Sri Mulyani E.S .,M.PdNIP. 130529949 NIP. 130515750Pembimbing IIDrs. Nugroho Edi K.,M.Si 2. Drs. Kukuh SantosoNIP 131863778 NIP. 130529949 3. Drs. Nugroho Edi K.,M.Si NIP. 131863778
  • 3. ABSTRAK Hambatan proses pembelajaran biologi dalam pelaksanaan kurikulum 2004merupakan segala sesuatu atau keadaan yang menghambat atau menyulitkandalam proses pembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004. Pelaksanaankurikulum 2004 di berbagai sekolah masih banyak mendapatkan hambatan, paraguru di banyak daerah belum begitu memahami apa, bagaimana, dan metodepembelajaran sekolah dengan menggunakan sistem kurikulum 2004. Gurumerupakan faktor yang secara langsung bertanggung jawab atas keberhasilanproses pembelajaran yang dikembangkan khususnya di kelas. Penulisan inibertujuan untuk mengetahui hambatan dan mengidentifikasi alternatif carapemecahan hambatan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran biologipada pelaksanaan kurikulum 2004. Penelitian ini menggunakan guru biologi kelas X SMA Negeri se-KabupatenSemarang sebagai populasi. Dalam penelitian ini menggunakan teknik samplingtotal sampel jadi seluruh populasi digunakan sebagai objek penelitian. Metodeyang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode dokumentasi, metodeangket dan metode wawancara. Data dianalisis secara deskriptif persentase. Berdasarkan analisis deskriptif persentase yang telah dilakukan dapatdiketahui bahwa guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarangmengalami hambatan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakankurikulum 2004. Adapun besarnya persentase dari masing-masing indikatoradalah sebagai berikut: penjabaran kompetensi 44,38%, alat dan bahan 47,40%,sumber belajar 46,48%, organisasi waktu 49,38%, faktor guru 45,88%, faktorsiswa 55,13%, serta evaluasi 43,15%. Walaupun demikian sebagian besar gurutelah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Simpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaanpembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004 di SMA Negeri di KabupatenSemarang menunjukkan adanya hambatan yang termasuk dalam kategorihambatan sedang. Alternatif cara pemecahan yang diperoleh antara lain: membuatsilabus dengan mengacu silabus dari pemerintah tetapi disesuaikan dengan kondisisekolah, menugaskan pada siswa untuk mengusahakan sendiri alat dan bahan yangdibutuhkan, memanfaatkan buku paket, buku pendamping dan lembar kerja siswa(LKS), koran/media massa dan alam sekitar sebagai sumber belajar, sertamembuat skala prioritas untuk materi yang akan disampaikan. Berdasarkan hasilpenelitian ini maka saran yang dapat disumbangkan adalah guru diharapkan lebihmengoptimalkan fungsi forum MGMP biologi agar dapat bertukar pengalamantentang pelaksanaan kurikulum 2004, sehingga jika ditemukan hambatan bisadicari pemecahannya bersama-sama.Kata Kunci: Hambatan, Kurikulum 2004
  • 4. MOTTO DAN PERSEMBAHANMOTTO Sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan, bersama kesusahan ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al Baqarah: 286). Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu menyesali kejadian yang telah menimpanya, melainkan orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Tetaplah melangkah walaupun selangkah demi selangkah, karena itu akan membuatmu mencapai tujuan.PERSEMBAHAN Dengan rendah hati karya sederhana ini kupersembahkan: Bapak dan Ibuku tercinta, yang selalu membantuku dengan doa, kasih sayang dan semangat. Kakak dan adikku (Mas Andhi, Mbak Mei, dan A’laa) serta keluargaku yang senantiasa memberi dukungan dan motivasi. Sahabat-sahabatku (Aning, July, Atik, Heni, Erwin, Woro) terimakasih untuk persahabatan, kasih sayang, bantuan dan semangatnya. Mas Dodo dan yanti yang telah memberikan perhatian, dukungan dan bantuan yang tidak ternilai harganya. Teman-teman eR-Ha kost terimakasih untuk persahabatan dan kasih sayang kalian. Teman-teman seperjuangan “Bio Smart 01” terimakasih atas kekompakan, kerjasama, dan kebersamaan kita. Almamaterku.
  • 5. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dankarunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul“Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannya dalamPelaksanaan Kurikulum 2004 Bagi Guru-guru Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang” tanpa suatu halangan apapun. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dariperan serta berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengu-capkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan ke- pada penulis untuk menyelesaikan studi di Unnes.2. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unnes yang telah memberikan kemudahan pelayanan administrasi dalam penyusunan skripsi.3. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unnes yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan skripsi.4. Drs. Kukuh Santoso, selaku Dosen Pembimbing I yang penuh kesabaran dalam membimbing dan memberi motivasi sehingga skripsi ini dapat selesai.5. Drs. Nugroho Edi K., M. Si, selaku Dosen Pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai.6. Prof. Dr. Sri Mulyani E.S., M.Pd, yang telah menguji dan memberi masukan terhadap penyusunan skripsi ini.
  • 6. 7. Semua Bapak/Ibu kepala Sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Semarang yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian.8. Semua Bapak/Ibu guru pengampu mata pelajaran Biologi SMA Negeri se- Kabupaten Semarang, atas bantuan dan kerja samanya selama dilaksanakan penelitian.9. Semua pihak dan instansi terkait yang telah membantu selama dilaksanakan- nya penelitian sampai selesainya penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sem-purna. Oleh karena itu dengan penuh rendah hati penulis akan menerima saran dankritik untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penu-lis khususnya dan bagi semua pihak pada umumnya. Semarang, Maret 2006 Penulis Dyah Sulistiyawati
  • 7. DAFTAR ISI HalamanHALAMAN JUDUL................................................................................................ iPENGESAHAN……………………..………………... ......................................... iiABSTRAK.... ......................................................................................................... iiiMOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................................... ivKATA PENGANTAR ............................................................................................ vDAFTAR ISI......................................................................................................... viiDAFTAR TABEL.................................................................................................. ixDAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xDAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................... xiBAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Permasalahan .......................................................................................... 4 C. Penegasan Istilah..................................................................................... 5 D. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6 E. Manfaat Penelitian .................................................................................. 6BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 7 A. Pembelajaran ........................................................................................... 7 B. Hambatan-hambatan dalam Proses Pembelajaran .................................. 9 C Mata Pelajaran Biologi.......................................................................... 12 D. Kurikulum 2004 .................................................................................... 20BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................... 26 A. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................... 26 B. Populasi dan Sampel ............................................................................. 26 C. Variabel Penelitian ................................................................................ 26 D. Rancangan Penelitian ............................................................................ 27 E. Prosedur Penelitian ............................................................................... 28 F. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 31 G. Metode Analisis Data............................................................................ 32BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 35
  • 8. A. Hasil Penelitian ..................................................................................... 35 B. Pembahasan........................................................................................... 45BAB V PENUTUP............................................................................................... 64 A. Simpulan ............................................................................................... 64 B. Saran...................................................................................................... 65DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 66
  • 9. DAFTAR TABELTabel Halaman1. Standar kompetensi Mata Pelajaran Biologi Kelas X .................................... 142. Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994 ..................................................... 253. Kriteria Tingkat Hambatan.............. .............................................................. 344. Hambatan dalam Penjabaran Kompetensi ..................................................... 355. Hambatan dalam Alat dan Bahan................................................................... 366. Hambatan dalam Sumber Belajar .................................................................. 377. Hambatan dalam Organisasi Waktu............................................................... 378. Hambatan dalam Faktor Guru........................................................................ 389. Hambatan dalam Faktor Siswa....................................................................... 3910. Hambatan dalam Evaluasi.............................................................................. 4011. Rekap Hasil Data Kuesioner .................................................................. ........4112. Rekap Hasil Kuesioner Terbuka.................................... ................................ 4213. Rekap Hasil Wawancara ................................................................................ 44
  • 10. DAFTAR GAMBARGambar Halaman1. Bagan Komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi. ..................................... 212. Histogram Hasil Data Kuesioner.................... ................................................ 41
  • 11. DAFTAR LAMPIRANLampiran Halaman1. Skor Responden. ......................................................................................... 682. Perhitungan Deskriptif Persentase................ .............................................. 703. Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket ............................................... .734. Perhitungan Validitas Angket................... .................................................. 765. Perhitungan Reliabilitas Angket ................................................................. 776. Kisi-kisi Angket Penelitian ......................................................................... 797. Surat Permohonan Penelitian ...................................................................... 808. Kuesioner Penelitian ................................................................................... 819. Pedoman Wawancara .................................................................................. 9010. Contoh Hasil Wawancara............................................................................ 9111. Rekap Hasil Wawancara ............................................................................. 9212. Rekap Hasil Kuesioner Terbuka ................................................................. 9313. Tingkat Hambatan Responden .................................................................... 9514. Daftar SMA Negeri di Kabupaten Semarang dan Jumlah Guru Biologi Kelas X ........................................................................................ 9615. Surat Ijin Penelitian..................................................................................... 9716. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian......................................... 100
  • 12. 1 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Dalam mewujudkan pembangunan di bidang pendidikan diperlukanpeningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan. Peningkatan danpenyempurnaan pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat, serta kebutuhanpembangunan. Pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan seiring denganperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama yang berkaitan dengankurikulum. Saat ini telah diberlakukan kurikulum 2004 yang merupakankurikulum berbasis kompetensi, untuk jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dansekolah kejuruan. Penyelenggaraan kurikulum 2004 secara serentak dilaksanakan mulai tahunajaran 2004/2005, dengan terlebih dahulu diawali pelaksanaan pilot project padabeberapa sekolah unggulan di berbagai daerah. Namun pelaksanaan kurikulum2004 di berbagai sekolah negeri ini banyak mendapatkan kendala yang sifatnyastruktural dan sosio-psiko kultural. Komponen strategis pembelajaran, yakni paraguru di banyak daerah, belum banyak memahami apa, bagaimana, dan metodepembelajaran sekolah dengan sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK)(Yulianto, 2004). 1
  • 13. 2 Beberapa hambatan struktural diantaranya belum adanya goodwill daripemerintah (pemerintah daerah), baik dari alokasi dana pendidikan atau bantuanteknis, untuk pengembangan kualitas guru dan sekolah (Yulianto, 2004). Sedangkan faktor sosio-kultural berkaitan dengan masih kuatnya budayafeodalisme dalam pola pendidikan di sekolah, yang membelenggu kreativitas danimajinasi intelektual guru. Guru sebagai komponen strategis dalam prosespembelajaran berpotensi menjadi titik lemah atau penghambat pokok dalamketercapaian proses pembelajaran berbasis kompetensi ketika tidak mampumencapai kematangan profesional. Menurut Maheri (2004) yang melaksanakan penelitian tentang penerapanKBK di salah satu sekolah uji coba mengungkapkan bahwa secara umumpembelajaran berjalan baik, tetapi belum semua guru mengembangkan secarakreatif baik materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar yang mengarahpada pengembangan life skills, maupun alternatif penilaian yang variatifdisamping sarana belajar yang sangat terbatas. Guru mengalami kesulitanmendeteksi karakteristik siswa secara individual, hal itu disebabkan karena jumlahsiswa yang relatif banyak dan penempatan siswa dalam rombongan belajar yangheterogen. Menurut Sugiaryo (dalam Yulianto, 2004) KBK pada hakikatnyamenekankan segi profesionalisme guru dalam menggali sumber bahan ajar yangmulti sumber. Dalam hal itu termasuk pengalaman di lapangan untukmenjalankan trifungsi edukatifnya, yaitu sebagai fasilitator, motivator, dandinamisator bagi perkembangan intelektual dan sosial anak didik.
  • 14. 3 Dalam pembelajaran biologi, adanya interaksi antara siswa denganlingkungannya merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan. Hal lain yangharus disadari oleh guru dalam mengembangkan pembelajaran biologi adalahmencakup pengetahuan, proses investigasi/eksplorasi, dan nilai yang dapatdiaplikasikan serta dikembangkan dalam kehidupan nyata. Peningkatan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai apabila semuakomponen dalam pendidikan yaitu peserta didik, pendidik, sarana sertakurikulum saling berinteraksi dengan baik. Diantara faktor-faktor tersebut, gurumerupakan faktor yang secara langsung bertanggung jawab atas keberhasilanproses pembelajaran yang dikembangkan khususnya di kelas. Guru memegang peranan penting dalam hal menyediakan fasilitas belajarbagi siswa. Fasilitas belajar tersebut dapat berupa variasi pendekatanpembelajaran, penyediaan media pembelajaran yang kreatif serta yang tidak kalahpentingnya adalah pemberian kesempatan pada siswa untuk melakukanpengamatan, dan eksplorasi. Sarana dan prasarana juga dapat mempengaruhi secara langsungkeberhasilan proses belajar siswa, kelengkapan sarana dan prasarana akan lebihmemudahkan guru untuk berkreasi dan memodifikasi kegiatan pembelajaran.Sedangkan kurikulum merupakan salah satu faktor yang berperan dalammenentukan tujuan pembelajaran. Dengan adanya kurikulum, seorang siswa akanlebih terarah dalam mencapai kompetensi tertentu. Salah satu daerah yang mulai melaksanakan KBK di tahun 2004/2005adalah Kabupaten Semarang. Di Kabupaten tersebut terdapat 11 SMA Negeri
  • 15. 4yang telah melaksanakan KBK pada tahun ajaran 2004/2005. SMA Negeri yangada di Kabupaten Semarang memiliki letak geografis, latar belakang siswa,maupun kelengkapan sarana dan prasarana yang berbeda. Berdasarkan bera-gamnya kondisi SMA Negeri di Kabupaten tersebut, dapat dijadikan dasarpenelitian untuk mengetahui hambatan-hambatan apakah yang dialami oleh gurubiologi dan upaya apa sajakah yang telah dilakukan untuk mengatasi hambatandalam proses pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2004. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan mengambiljudul “Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannyadalam Pelaksanaan Kurikulum 2004 bagi Guru Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang”.B. Permasalahan Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahansebagai berikut.1. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se- Kabupaten Semarang dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004?2. Bagaimanakah alternatif cara pemecahan hambatan-hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang?C. Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul skripsi yang diajukan,maka diperlukan adanya penjelasan yang terperinci, sebagai berikut.
  • 16. 51. Analisis Analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan, perbuatan) untuk mengetahui apa sebab-sebabnya, bagaimana duduk perkaranya. (Poerwadarminta, 2002). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan analisis adalah penguraian dan penelaahan hambatan proses pembelajaran biologi dan alternatif cara mengatasinya dalam pelaksanaan kurikulum 2004.2. Hambatan Hambatan berarti halangan, rintangan (Poerwadarminta, 2002), hambatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesuatu atau keadaan yang menghambat atau menyulitkan dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004.3. Pembelajaran Biologi Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pembelajaran biologi adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar biologi.4. Kurikulum 2004 Kurikulum 2004 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002a).5. Cara Pemecahan Pemecahan adalah cara memecahkan (Poerwadarminta, 2002), cara pemecahan yang dimaksud dalam penelitian adalah upaya atau cara untuk mengatasi
  • 17. 6 hambatan yang terjadi pada proses pembelajaran biologi dengan sistem kurikulum 2004 yang dilaksanakan di SMA.D. Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai adalah:1. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se- Kabupaten Semarang dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004.2. Untuk mengidentifikasi alternatif cara pemecahan hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam proses pem- belajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004.E. Manfaat penelitian Dengan teridentifikasinya hambatan serta berbagai macam alternatif carapemecahannya maka akan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalampelaksanaan proses pembelajaran biologi periode berikutnya, maupun untukperencanaan dan pengembangan kurikulum oleh Depdiknas.
  • 18. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Pembelajaran1. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran merupakan istilah lain untuk proses belajar mengajar.Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000).Menurut Nasution (1994), pembelajaran merupakan suatu usaha untuk men-ciptakan kondisi-kondisi atau mengatur sedemikian rupa, sehingga terjadiinteraksi antara murid dengan lingkungan, termasuk guru, alat pelajaran dansebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan pelajaran yangditentukan. Pengertian pembelajaran sebagaimana tercantum dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah suatuproses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatulingkungan belajar. Jadi dapat disimpulkan pembelajaran adalah usaha sadar guruuntuk membantu siswa atau anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengankebutuhan dan minatnya.2. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran adalah sifat atau keadaan yang khas dimiliki olehkegiatan pembelajaran, dengan demikian ciri-ciri pembelajaran akan membedakan 7
  • 19. 8pembelajaran dengan kegiatan lain yang bukan pembelajaran. Ciri-ciripembelajaran adalah sebagai berikut.a. Pembelajaran dilaksanakan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.f. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.3. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran adalah membantu pada siswa agar memperolehberbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambahbaik kuantitas maupun kualitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi penge-tahuan keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendalisikap dan perilaku siswa.4. Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran merupakan unsur-unsur yangdiperlukan dalam pembelajaran yang keadaannya dapat berubah-ubah, meliputi:a. motivasi dan upaya peningkatannyab. bahan belajar dan upaya peningkatannya
  • 20. 9c. alat bantu dan upaya penyediannyad. kondisi siswa dan upaya peningkatannyae. suasana belajar dan upaya pengembangannyaB. Hambatan-hambatan dalam Proses Pembelajaran1. Hambatan dalam Pembelajaran Proses belajar mengajar merupakan suatu rangkaian kegiatan gunamenumbuhkan organisasi proses belajar mengajar yang efektif. Kegiatan dalamproses pembelajaran meliputi kompetensi yang harus dicapai, pengaturanpenggunaan waktu luang, pengaturan ruang dan alat perlengkapan pelajaran dikelas serta pengelompokkan siswa dalam belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat 2 hal yang ikut menentukankeberhasilan yaitu pengaturan proses belajar mengajar, dan pengajaran itu sendiri,dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. Kemampuanmengatur proses belajar mengajar yang baik akan menciptakan situasi yangmemungkinkan anak belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan prosespengajaran. Menurut Djamarah dan Aswan Zain (1996) berbagai kesulitan, hambatanyang biasa dihadapi oleh guru jika disesuaikan dengan KBK adalah:a. kompetensi apa yang mau dicapaib. materi pelajaran apa yang diperlukanc. metode, alat mana yang harus dipakaid. prosedur apa yang akan ditempuh untuk melakukan evaluasi
  • 21. 10 Menurut Sudjarwo (1989), hambatan yang dihadapi guru dalammelaksanakan tugasnya berkaitan dengan proses pembelajaran sebagai berikut.a. Kekurangan alat praktikum, alat peraga, dan media.b. Kekurangan buku pegangan, buku-buku tentang kependidikan dan buku sumber.c. Motivasi yang kurang dari siswa.d. Dukungan administrasi yang kurang. Menurut Mulyati (dalam Tusimah, 2003), unsur-unsur yang terdapat dalampengajaran ada tiga yaitu:a. manusia, dalam hal ini adalah guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajara. institusi, yaitu lembaga atau sekolah sebagai penyedia sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pengajaranb. pengajaran, yaitu berkaitan dengan kurikulum yang merupakan pedoman materi yang akan diajarkanKetiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi satu dengan yang lainnya salingterkait. Proses pengajaran yang melibatkan ketiga unsur tersebut dalamkenyataannya tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan, karenaberbagai hambatan yang dialami pada salah satu unsur pengajaran diatas akanberpengaruh pada unsur lain. Hal ini karena adanya keterkaitan ketiga unsurpengajaran tersebut. Hambatan yang dihadapi oleh guru berkaitan dengan pengajaran yangdilaksanakan yakni berkaitan dengan perencanaan yang meliputi kompetensi yang
  • 22. 11harus dicapai, metode mengajar yang digunakan dan evaluasi. Hambatan yangdihadapi institusi dalam hal ini sekolah adalah ketersediaan alat dan bahan,sumber belajar seperti media, alat peraga dan buku serta fasilitas pendukung.2. Hambatan dalam Penerapan Kurikulum 2004 Hambatan utama penerapan KBK adalah didominasi sikap mental dan caraberpikir pelaku pendidikan, baik kepala sekolah maupun guru yang terbelenggurutinitas dan hanya mengejar target kurikulum, di samping itu pihak sekolah jugamasih terbelenggu dengan anggapan peningkatan mutu diawali dari membangunfisik sekolah yang baik (Syamsyudin dalam Sarnapi 2004). Ketimpangan rasio guru dan jumlah murid dalam kelas biasa menjadihambatan tersendiri dalam penerapan kurikulum 2004. Seorang guru melayani 40siswa merupakan suatu hal yang tidak efektif, jika kurikulum tersebutmenargetkan aspek kompetensi pada murid untuk setiap mata pelajaran. Dalamkurikulum 2004 tugas guru menjadi lebih berat, guru tidak lagi hanya berceramahdi depan kelas dengan setumpuk buku tapi guru harus kreatif mengarahkan danmengasuh siswanya sampai benar-benar kompeten terhadap materi pelajaran. Menurut Wardana (2003), beberapa kendala yang diprediksi akan menjadi‘pekerjaan rumah’ utama bagi lembaga pendidikan adalah:a. pengalaman guru yang masih minimb. alat penunjang kegiatan kegiatan belajarc. kemandirian lembaga dalam memformat KBK dalam proses jadwal belajard. buku penunjang dan perangkat administrasi lainnya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan guru dan siswa
  • 23. 12 Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan kurikulum 2004 disalah satu sekolah uji coba (Maheri, 2004) sebagai berikut.a. Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa urutan materi yang kurang tepat (banyak prasyarat yang belum dipelajari siswa).b. Sarana dan prasarananya belum banyak tersedia dan yang sudah ada belum digunakan secara optimal.c. Dalam pengembangan silabus, jika tidak ada kontrol/pembanding mungkin akan dapat menyimpang/keluar dari kompetensi yang diharapkan karena terlalu banyak pengembangan. Pembanding dapat berasal dari silabus yang dibuat musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) biologi di wilayah setempat.d. Dalam sistem pengujian, guru selalu dituntut tugas yang lebih berat dari pada sistem pengujian yang lalu, sehingga diperlukan adanya pelatihan.e. Beban guru/wali kelas menjadi lebih banyak dalam menyusun raport.C. Mata Pelajaran Biologi1. Pengertian Mata Pelajaran Biologi Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan,sikap, dan nilai, serta tanggung jawab sebagai seorang warga negara yangbertanggungjawab kepada lingkungan, masyarakat, bangsa, negara yang berimandan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alamsecara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulanpengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi
  • 24. 13juga merupakan suatu proses penemuan. Pelajaran biologi diharapkan dapatmenjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alamsekitarnya. Pengajaran biologi menekankan pada pemberian pengalaman secaralangsung. Karena itu, siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlahketerampilan proses supaya mereka mampu menjelajahi dan memahami alamsekitar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati denganseluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benardengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan,menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secaraberagam, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk mengujigagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Pada dasarnya, pelajaran biologi berupaya untuk membekali siswa denganberbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan cara mengerjakan yang dapatmembantu siswa untuk memahami alam sekitar secara mendalam.2. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Biologi Mata pelajaran biologi berfungsi untuk menanamkan kesadaran terhadapkeindahan dan keteraturan alam sehingga siswa dapat meningkatkan keyakinanterhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai warga negara yang menguasai sains danteknologi untuk meningkatkan mutu kehidupan dan melanjutkan pendidikan(Depdiknas, 2003a). Depdiknas (2003a) menyatakan bahwa mata pelajaran biologi bertujuanuntuk:a. memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya
  • 25. 14b. mengembangkan keterampilan dasar biologi untuk menumbuhkan nilai serta sikap ilmiahc. menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusiad. mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan dalam kejadian sehari-harie. meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkunganf. memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan3. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi di SMA Standar kompetensi menggambarkan kemampuan siswa yang sifatnyaterukur, yang harus dikembangkan selama proses pembelajaran dari kelas Xsampai kelas XII. Memperhatikan kedudukan jenjang pendidikan anak,perkembangan mental anak, karakteristik dan cakupan biologi sebagai ilmupengetahuan, maka dapat dirumuskan 12 butir standar kompetensi biologi untukSMA dan 5 butir pertama merupakan standar kompetensi untuk kelas X. Standar kompetensi untuk kelas X (Depdiknas, 2003b) disajikan pada Tabel1 berikut.Tabel 1. Standar Kompetensi Kelas X Mata Pelajaran Biologi. No Standar Kompetensi 1. Siswa mampu merencanakan, melaksanakan serta mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah dengan menerapkan sikap ilmiah dalam bidang biologi. 2. Siswa mampu memahami hakikat biologi sebagai ilmu, menemukan obyek dan ragam persoalan dari berbagai tingkat organisasi kehidupan yang ada di lingkungan sekitar. 3. Siswa mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup untuk mempelajari keanekaragaman dan peran keanekaragaman hayati bagi kehidupan. 4. Siswa mampu menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. 5. Siswa mampu menjelaskan bioteknologi, prinsip-prinsip, peran, dan implikasinya bagi sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (salingtemas).
  • 26. 154. Pendekatan Belajar dalam Biologi Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)Sains (biologi), sudah semestinya mendudukkan siswa sebagai pusat perhatianutama. Peranan guru dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan olehdidaktik-metodik apa yang akan digunakan, melainkan pada bagaimanamenyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak. Pengalaman belajaryang diperoleh melalui serangkaian kegiatan dengan mengeksplorasi lingkunganmelalui interaksi aktif. Ada 5 pendekatan yang perlu diperhatikan dalam KBM dikelas, (Depdiknas, 2003a) sebagai berikut.a. Empat Pilar Pendidikan Learning to do, learning to know, learning to be, and learning to livetogether yang dicanangkan oleh UNESCO merupakan salah satu pendekatan yangperlu digunakan di dalam pembelajaran sains di kelas. Pembelajaran sains tidakseharusnya hanya mendudukkan siswa sebagai pendengar ceramah dengan gurumemerankan diri sebagai pengisi ‘air informasi’ ke kepala siswa yang dianggapsebagai botol kosong yang perlu diisi dengan ilmu pengetahuan. Siswa harusdiberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalamanbelajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkunganfisik dan sosialnya, sehingga mampu membangun pemahaman danpengetahuannya terhadap dunia di sekitarnya (learning to know). Diharapkan hasilinteraksi dengan lingkungannya dapat membangun pengetahuan dan kepercayaandiri dan sekaligus membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksidengan berbagai individu atau kelompok individu yang bervariasi akanmembentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan
  • 27. 16sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup(learning to live together).b. Inkuiri Lingkungan anak menyediakan fenomena alam yang menarik dan penuhmisteri. Anak mempunyai rasa keingintahuan (curiousity) yang tinggi. Agar anakdapat menuju ke arah yang diharapkan, maka perlu ditumbuhkembangkankemampuan-kemampuan untuk menggunakan keterampilan proses antara lainmengajukan pertanyaan, menduga jawabannya, merancang penyelidikan, mela-kukan percobaan, mengolah data, mengevaluasi hasil, dan mengkomunikasikantemuannya kepada orang lain dengan berbagai cara. Pendekatan inkuiri sains adalah sesuatu yang sangat menantang danmelahirkan interaksi antara yang diyakini anak sebelumnya terhadap suatu buktibaru untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, melalui proses dan metodeeksplorasi untuk menurunkan, dan menguji gagasan-gagasan baru. Sudah barangtentu hal tersebut melibatkan sikap-sikap untuk mencari penjelasan danmenghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis,jujur, kreatif, dan berpikir lateral.c. Konstruktivisme Pada dasarnya, salah satu sasaran belajar sains adalah membangun gagasansaintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, daninformasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikansains mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai
  • 28. 17dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan danperistiwa/gejala alam di sekitarnya. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalahmemulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa. Guru tidak dapatmengindoktrinasi gagasan saintifik supaya peserta didik mau mengganti danmemodifikasi gagasannya yang non-saintifik menjadi gagasan/pengetahuansaintifik. Dengan demikian, arsitek perubah gagasan peserta didik adalah pesertadidik sendiri dan guru hanya berperan sebagai fasilitator penyedia kondisi supayaproses belajar dapat berlangsung. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuaidengan filosofi constructivism antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatanagar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan penelitiansederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lainyang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya.d. Sains, Teknologi dan Masyarakat Pendekatan sains teknologi dan masyarakat yang di dalam bahasa Inggrisdisebut science technology and society merupakan suatu pendekatan terpaduantara sains, teknologi, dan isu teknologi yang ada di masyarakat. Denganpendekatan ini, peserta didik dikondisikan agar mau dan mampu menerapkanprinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang diikuti denganpemikiran untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul dari munculnyaproduk teknologi.
  • 29. 18e. Pemecahan Masalah Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan manusia di dalam kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhannya.Atas dasar hal tersebut sejak dini anak sudah mulai dilatih untuk mengatasimasalah-masalah yang dihadapinya agar memiliki kemampuan-kemampuan yangbermanfaat bagi kehidupan dewasanya. Pembelajaran sains harus memberikan sumbangan terhadap terbentuknyakemampuan-kemampuan yang antara lain sebagai berikut.1) Mengidentifikasi masalah dan merencanakan penyelidikan.2) Memilih teknik, alat, dan bahan.3) Mengorganisasi dan melaksanakan penyelidikan secara sistematik.4) Menginterpretasikan dan mengevaluasi pengamatan dan hasil penyelidikan.5) Mengevaluasi metode dan menyarankan perbaikan.D. Kurikulum 2004 Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah penyempurnaankurikulum. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menetapkan kebijakanuntuk menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yangdiberlakukan mulai awal tahun pelajaran 2004/2005. Kurikulum 2004 bertolakpada kompetensi yang seharusnya dimiliki peserta didik setelah menyelesaikanpendidikannya, bukan saja pengetahuan, tetapi juga keterampilan, nilai serta polaberpikir dan bertindak sebagai refleksi dari pemahaman dan penghayatan atasapa yang sudah dipelajari dalam kehidupan masyarakat.
  • 30. 19 Indikator keberhasilan pembaruan kurikulum ditunjukkan oleh adanyaperubahan pada pola kegiatan belajar mengajar, memilih media pendidikan,menentukan pola penilaian, dan pengelolaan kurikulum yang menentukan hasilbelajar. Pembaruan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahanpengelolaan kurikulum yang dengan sendirinya akan mengubah praktik-praktikpembelajaran (KBM) di kelas. Selama ini sumberdaya manusia yang ada didaerah dan sekolah kurang diberdayakan dalam pengelolaan kurikulum.Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah diarahkan untuk memberdayakan sumberdaya yang ada di daerah dan sekolah dalam mengelola Kurikulum BerbasisKompetensi (Depdiknas, 2002a).1. Pengertian Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi Menurut McAshan (dalam Mulyasa, 2003), kompetensi merupakan per-paduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalamkebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan,keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadibagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif,afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-sebaiknya. Finch & Crunkilton (dalamMulyasa, 2003) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatutugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keber-hasilan. Hal tersebut menunjukkan kompetensi mencakup tugas, keterampilan,sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik agar dapat melak-sanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan
  • 31. 20demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik disekolah dengan dunia kerja. Berdasarkan pengertian kompetensi diatas, KBK dapat diartikan sebagaisuatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuanmelakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehinggahasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadapseperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2003). KBK diarahkan untukmengembangkan pengetahuan, pemahaman kemampuan, nilai, sikap, dan minatpeserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan,dan keberhasilan dengan penuh bertanggung jawab. KBK memfokuskan pada kompetensi-kompetensi tertentu yang diperolehpeserta didik. Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, danseperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehinggapencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan pesertadidik sebagai suatu kriteria keberhasilan (Mulyasa, 2003).2. Kurikulum Berbasis Kompetensi Sebagai Sistem Kurikulum Nasional Sebagai suatu sistem kurikulum nasional, KBK mengakomodasikanberbagai perbedaan secara tanggap budaya dengan memadukan beragamkepentingan dan kemampuan daerah. KBK menerapkan strategi yang mening-katkan kebermaknaan pembelajaran untuk semua peserta didik terlepas dari latarbelakang budaya, etnik, agama, dan jender melalui pengelolaan kurikulum ber-basis sekolah (Depdiknas, 2002a).
  • 32. 21 Ada empat komponen utama dalam KBK, dimana satu sama lain salingterkait. Untuk lebih jelasnya, keterkaitan antar komponen KBK disajikan padagambar 1 berikut. Pengelolaan Kurikulum dan Kurikulum Hasil Belajar Berbasis Sekolah Kurikulum Berbasis Kompetensi Penilaian Berbasis Kegiatan Belajar Kelas MengajarGambar 1. Bagan Komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2002a) Rekonseptualisasi kurikulum ini mewujudkan Kurikulum BerbasisKompetensi yang berfokus pada: (a) kejelasan kompetensi dan hasil belajar siswa,(b) penilaian berbasis kelas, (c) kegiatan belajar mengajar yang merupakankesatuan perangkat utuh sebagai standar nasional, dan (d) pengelolaan kurikulumberbasis sekolah yang merupakan kesatuan pengembangan perangkat utuh dalamdesentralisasi kurikulum di daerah. Pengembangan ini terdiri dari pengembangansilabus, penetapan dan pengembangan materi yang diperlukan di sekolah atau
  • 33. 22daerah, pelaksanaan kurikulum, dan pengembangan sistem pemantauan(Depdiknas, 2002a). Menurut Depdiknas (2002b), sistem kurikulum nasional dalam kurikulumberbasis kompetensi mencakup dua inovasi pendidikan yaitu:a. berfokus pada standar kompetensi dan hasil belajar, danb. mendesentralisasikan pengembangan silabus dan pelaksanaannya. Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikanterutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikandengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi daerah. Dengan demikian, daerah atau sekolah memiliki cukup kewenangan untukmerancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, pengelolaan pengalamanbelajar, cara mengajar, dan menilai keberhasilan suatu proses belajar mengajar.3. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Karakteristik KBK antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai,spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaiankompetensi, dan pengembangan sistem pembelajaran. KBK memiliki sejumlahkompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, penilaian dilakukanberdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yangditunjukkan oleh peserta didik, dapat dinilai kompetensinya kapan saja bilamereka telah siap, dan dalam pembelajaran peserta didik dapat maju sesuaidengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Mulyasa (2003) mengidentifikasi enam karakteristik kurikulum berbasiskompetensi, yaitu: (a) sistem belajar dengan modul; (b) menggunakan keselu-
  • 34. 23ruhan sumber belajar; (c) pengalaman lapangan; (d) strategi individual personal;(e) kemudahan belajar; dan (f) belajar tuntas.a. Sistem Belajar dengan Modul KBK menggunakan modul sebagai sistem pembelajaran. Dalam hal inimodul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalamanbelajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantupeserta didik mencapai tujuan belajar. Modul adalah suatu proses pembelajaranmengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis,operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai denganpedoman pengunaannya untuk para guru. Tujuan utama sistem modul adalahuntuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran di sekolah, baik waktu,dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.b. Menggunakan Keseluruhan Sumber Belajar Secara sederhana sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatuyang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperolehsejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam prosesbelajar mengajar. Dari berbagai sumber belajar yang ada dan mungkin dikem-bangkan dalam pembelajaran pada garis besarnya dikelompokkan sebagai berikut,yaitu: manusia, bahan, lingkungan, peralatan, dan aktifitas.c. Pengalaman Lapangan Kurikulum berbasis kompetensi lebih menekankan pada pengalamanlapangan untuk mengakrabkan hubungan antara guru dengan peserta didik.Keterlibatan tim guru dalam pembelajaran di sekolah memudahkan mereka untuk
  • 35. 24mengikuti perkembangan yang terjadi selama peserta didik mengikutipembelajaran.d. Strategi Belajar Individual Personal Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik,sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan pesertadidik antara lain: bakat, minat dan kemampuan (personalisasi).e. Kemudahan Belajar Kemudahan belajar dalam KBK diberikan melalui kombinasi antarapembelajaran individual personal dengan pengalaman lapangan, dan pembelajaransecara tim. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi yangdirancang untuk itu, seperti video, televisi, radio, buletin, jurnal dan surat kabar.f. Belajar Tuntas Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakandidalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua pesertadidik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secaramaksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari.4. Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994 Menurut Mulyasa (2003), perbedaan KBK dengan kurikulum 1994 disajikandalam Tabel 2. Perbedaan kurikulum 1994 dengan KBK dapat dilihat padapendekatan pembelajaran yang digunakan, standar akademis yang digunakan,pengembangan kurikulum, materi pembelajaran, fungsi guru, proses pembelajarandan cara penilaian.
  • 36. 25Tabel 2. Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994NO KURIKULUM 1994 KBK 1. Menggunakan pendekatan penguasaan Menggunakan pendekatan kompe- ilmu pengetahuan, yang menekankan tensi yang menekankan pada pema- pada isi atau materi, berupa penge- haman, kemampuan atau kompetensi tahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, tertentu disekolah, yang berkaitan sintesis, dan evaluasi yang diambil dari dengan pekerjaan yang ada di ma- bidang-bidang ilmu pengetahuan. syarakat.2. Standar akademis yang diterapkan se- Standar kompetensi yang memper- cara seragam bagi setiap peserta didik. hatikan perbedaan individu, baik ke- mampuan, ketepatan belajar maupun konteks sosial budaya. 3. Berbasis konten sehingga peserta didik Berbasis kompetensi, sehingga pe- dipandang sebagai kertas putih yang serta didik berada dalam proses per- perlu ditulisi dengan sejumlah ilmu kembangan yang berkelanjutan dari pengetahuan (transfer of knowledge). seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan. 4. Pengembangan kurikulum dilakukan Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas secara desentralisasi, sehingga peme- memonopoli pengembangan ide dan rintah dan masyarakat bersama-sama konsepsi kurikulum. menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum. 5. Materi yang dikembangkan dan di- Sekolah diberi keleluasaan untuk me- kembangkan di sekolah sering kali tidak nyusun dan mengembangkan silabus sesuai dengan potensi sekolah, ke- mata pelajaran sehingga dapat meng- butuhan dan kemampuan peserta didik, akomodasi potensi sekolah, kebu- serta kebutuhan masyarakat di sekitar tuhan dan kemampuan peserta didik, sekolah. serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. 6. Guru merupakan kurikulum yang me- Guru sebagai fasilitator yang ber- nentukan segala sesuatu yang terjadi di tugas mengkondisikan lingkungan dalam kelas. untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik. 7. Pengetahuan, katerampilan, dan sikap Pengetahuan, keterampilan, dan si- dikembangkan melalui latihan, seperti kap di kembangkan berdasarkan pe- latihan mengerjakan soal. mahaman yang akan membentuk kompetensi individual. 8. Pembelajaran cenderung hanya dila- Pembelajaran yang dilakukan men- kukan di dalam kelas atau dibatasi oleh dorong terjadinya kerjasama antara empat dinding kelas. sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam bentuk kompetensi peserta didik. 9. Evaluasi nasional yang tidak dapat me- Evaluasi berbasis kelas yang mene- nyentuh aspek-aspek kepribadian pe- kankan pada proses dan hasil belajar. serta didik.
  • 37. 26 BAB III METODE PENELITIANA. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang padabulan Januari tahun 2006.B. Populasi dan Sampel1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah guru biologi Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang yang terdiri atas 16 orang dari 11 SMA Negeri yang ada diKabupaten Semarang.2. Sampel Penelitian ini menggunakan teknik sampling total sampel, seluruh populasidigunakan sebagai objek penelitian.C. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah hambatan proses pembelajaran biologidalam pelaksanaan kurikulum 2004 yang dikelompokkan dalam tiga kategorisebagai berikut.1. Hambatan dalam Persiapan Pembelajaran yang meliputi: a. Penjabaran kompetensi 26
  • 38. 27 b. Alat dan bahan c. Sumber belajar yang digunakan d. Organisasi waktu2. Hambatan dalam Pelaksanaan Proses Pembelajaran a. Faktor Guru b. Faktor Siswa3. Hambatan dalam Evaluasi PembelajaranD. Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian ex post facto yang bersifat eksploratif yangbertujuan menggambarkan keadaan/status fenomena, dan juga merupakanpenelitian kualitatif, dimana penelitian ini untuk mengetahui hambatan-hambatanyang dihadapi guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalammelaksanakan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data penelitian berupakuesioner dan lembar wawancara. Sebelum kuesioner disebarkan kepadaresponden terlebih dahulu dilakukan ujicoba instrumen terhadap 10 orang gurubiologi di luar populasi, hasilnya dianalisis untuk mengetahui validitas danreliabilitas soal. Sumber data penelitian ini adalah semua guru biologi kelas XSMA Negeri se-Kabupaten Semarang.
  • 39. 28E. Prosedur Penelitian1. Penyusunan Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini berupa angket/kuesioner. Penelitian inimenggunakan kuesioner dengan mempertimbangkan berbagai faktor yaitu waktu,jumlah data yang cukup banyak dan tersebar secara geografis. Dalam hal inidigunakan kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup merupakan bentukkuesioner dimana responden tinggal memilih jawaban dari alternatif jawaban yangsudah disediakan. Kuesioner tertutup digunakan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran biologi padapelaksanaan kurikulum 2004. Sedangkan kuesioner terbuka digunakan untukmengetahui cara pemecahan yang dilakukan oleh guru. Langkah-langkah pembuatan kuesioner meliputi penyusunan kisi-kisikuesioner yang dilanjutkan dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan dan bentukjawaban yang diinginkan berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun. Jumlahpertanyaan dalam kuesioner uji coba sebanyak 55 butir. Setelah diuji cobakandiperoleh 48 butir pertanyaan yang valid yang kemudian digunakan sebagaipengambil data penelitian. Setiap pertanyaan tersedia 4 alternatif jawaban, yaitu berupa pernyataantentang tingkat kesulitan yang dialami oleh responden berupa skor dari 1-4 danresponden tinggal memilih salah satu jawaban dengan memberi tanda cek (√)pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, setiapoption mempunyai kategori yang berbeda yaitu sebagai berikut.
  • 40. 29Skor 1 = tidak kesulitanSkor 2 = agak kesulitanSkor 3 = kesulitanSkor 4 = sangat kesulitan2. Uji Coba Instrumen Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, terlebih dahulu dilakukan ujicoba. Uji coba dilakukan di luar populasi penelitian terhadap 10 orang responden.Hal ini dilakukan untuk menentukan tingkat validitas dan reliabilitasnya.a. Validitas Angket Pada penelitian ini validitas data diperoleh dengan menjumlahkan skorangka yang diperoleh dari jawaban pertanyaan pada angket yang diajukan padaresponen. Analisis validitas angket menggunakan rumus korelasi produk momen,pengujian validitas dilakukan dengan cara menentukan validitas item. Untuk mencari validitas masing-masing butir angket digunakan rumuskorelasi produk momen yang dikemukakan oleh Pearson (dalam Arikunto, 1997): N ∑ XY − (∑ X )(∑Y ) rxy = {N ∑ X 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑Y 2 − (∑Y ) 2 } Keterangan: rxy = koefisien korelasi antara x dan y N = jumlah peserta x = nilai item tertentu y = nilai item total
  • 41. 30 Untuk menentukan valid tidaknya instrumen suatu item adalah denganmengkorelasikan hasil perhitungan koefisien korelasi (r) pada taraf signifikan 5 %atau taraf kepercayaan 95%.b. Reliabilitas Angket Untuk menguji reliabilitas rumus yang digunakan adalah rumus alpha,karena skor instrumen merupakan rentangan antara 1 sampai 4 (Arikunto, 1997).Sebab rumus lain hanya bisa untuk menghitung reliabilitas instrumen dengan skor0 atau 1. Rumusnya: ⎡ k ⎤⎡ ∑δ b ⎤ 2 r11 = ⎢ ⎢1 − ⎥ ⎣ k − 1⎥ ⎢ ⎦⎣ δ t2 ⎥⎦ Keterangan: r11 = reliabilitas instrumen K = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal Σ δb2 = jumlah varian butir δt2 = varian total (Arikunto, 1997) Untuk mencari varian butir adalah sebagai berikut: (∑ x) 2 ∑x − N2 Varian butir = N
  • 42. 31 Untuk mencari varian totalnya adalah: (∑ y) 2 ∑y − N 2 Varian total = N Keterangan: x = skor butir y = skor total N = jumlah sampel (Arikunto, 1997) Hasil perhitungan uji coba kuesioner menunjukkan dari 55 butir pertanyaanyang diujicobakan, diperoleh 7 pertanyaan yang tidak valid, yaitu butir nomor 5,12, 22, 25, 27, 48, dan 52. Sehingga 7 pertanyaan tidak valid tersebut dibuang dan48 pertanyaan valid yang digunakan untuk pengambilan data penelitian disajikandalam lampiran 3 halaman 73. Hasil perhitungan uji coba kuesioner menunjukkan nilai reliabilitas sebesar0,978. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner reliabel secara statistik, karena r11<r tabel. Hasil perhitungan selengkapnya mengenai validitas dan reliabilitasdisajikan dalam lampiran 4 dan 5 halaman 76 dan 77.F. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang analisishambatan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya dalam pelaksanaankurikulum 2004 bagi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang adalahsebagai berikut.
  • 43. 321. Metode Dokumentasi Metode ini digunakan untuk memperoleh daftar SMA Negeri se-KabupatenSemarang dan data tentang nama guru biologi kelas X SMA Negeri se-KabupatenSemarang sebagai populasi penelitian.2. Metode Angket atau Kuesioner Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket sebagai alat pengumpuldata pokok tentang analisis hambatan proses pembelajaran biologi dan carapemecahannya dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 bagi guru SMA Negeri se-Kabupaten Semarang.3. Metode WawancaraWawancara dilakukan secara tatap muka dengan responden, untuk menggali lebihluas tentang hambatan proses pembelajaran biologi dalam pelaksanaan kurikulum2004.G. Metode Analisis Data Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut.1. Mengkuantitatifkan jawaban item pertanyaan dengan memberikan tingkat- tingkat skor untuk masing-masing jawaban.2. Menghitung frekuensi untuk tiap-tiap kategori jawaban yang ada pada masing- masing faktor.3. Menghitung skor yang diperoleh ke dalam bentuk persentase. Teknik ini sering disebut dengan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase.
  • 44. 33 Adapun rumus untuk analisis deskriptif persentase menurut Ali (1992) adalah: n % = x100 N Keterangan: n = nilai yang diperoleh responden N = nilai yang semestinya diperoleh responden % = persentase kesulitan/hambatan4. Menganalisis data penelitian dengan menggunakan analisis persentase. Hasil perhitungan dalam bentuk persentase diinterpretasikan dengan tabel kriteria tingkat hambatan, kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif. Untuk mengetahui kriteria hasil perhitungan dibuat tabel. Diketahui: Jumlah responden : 16 Skor maksimal :4 Skor minimal :1 Jumlah pertanyaan : 48 Jumlah skor maksimal : 3072 Jumlah skor minimal : 768 Rentang skor : 768 – 3072 Persentase maksimal : 100% Persentase minimal : 25% Kelas Interval :4 Panjang kelas : 576
  • 45. 34 Tabel 3. Kriteria Tingkat Hambatan Rentangan skor Interval Kriteria 2497 – 3072 81.25% < % ≤ 100% Sangat tinggi 1921 – 2496 62.50% < % ≤ 81.25% Tinggi 1345 – 1920 43.75% < % ≤ 62.50% Sedang 768 - 1344 25% < % ≤ 43.75% Rendah5. Jawaban dari angket terbuka dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan cara pemecahan yang dilakukan oleh guru, sehingga dapat ditentukan alternatif pemecahan yang tepat.6. Hasil wawancara dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan jawaban yang telah diperoleh melalui kuesioner.7. Membuat kesimpulan dari hasil penelitian deskriptif, hambatan-hambatan apakah yang dihadapi guru-guru kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam melaksankan pembelajaran biologi dengan menggunakan kurikulum 2004 dan bagaimanakah alternatif cara pemecahannya.
  • 46. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Hasil Penelitian Penelitian tentang hambatan proses pembelajaran biologi dan carapemecahannya dalam pelaksanaan kurikulum 2004 bagi guru-guru kelas X SMANegeri se-Kabupaten Semarang diperoleh hasil sebagai berikut.1. Persiapan Pembelajarana. Penjabaran Kompetensi Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor penjabarankompetensi disajikan dalam Tabel 4.Tabel 4. Hambatan dalam Penjabaran Kompetensi Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 1 Menjabarkan standar kompetensi 9 5 2 - menjadi silabus. 2 Merencanakan pengalaman belajar. 9 4 3 - 3 Mengidentifikasi kompetensi. 3 8 5 - 4 Menjabarkan materi pokok pembe- 8 3 5 - lajaran. 5 Mengembangkan indikator. 6 8 2 - Jumlah 35 28 17 - % 43.75 35.2 21.25 -Analisis data menunjukkan tidak ada guru yang menyatakan sangat kesulitandalam menjabarkan kompetensi menjadi silabus, 21,25% guru menyatakankesulitan, 35% guru menyatakan agak kesulitan dan 43,75% guru menyatakantidak kesulitan. Secara keseluruhan hambatan dalam penjabaran kompetensi yang 35
  • 47. 36dialami guru biologi adalah 44,38% dan termasuk kategori hambatan sedang(dapat dilihat dalam lampiran 2, halaman 69).b. Alat dan Bahan Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor alat dan bahandisajikan dalam Tabel 5.Tabel 5. Hambatan dalam Alat dan Bahan Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 6 Menyediakan alat dan bahan pendukung 8 6 - 2 pembelajaran. 7 Ketersediaan alat dan bahan untuk kegi- 4 9 1 2 atan praktikum. 8 Menyiapkan alat dan bahan dalam prak- 7 6 1 2 tikum. Jumlah 19 21 2 6 % 39.58 43.75 4.17 12.5Analisis data menunjukkan 12,5% guru menyatakan sangat kesulitan dalam alatdan bahan, 4,17% guru menyatakan kesulitan, 43,75% guru menyatakan agakkesulitan dan 39,58% guru menyatakan tidak kesulitan. Secara keseluruhanhambatan dalam alat dan bahan yang dialami guru biologi adalah 47,40% dantermasuk kategori hambatan sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2, halaman 70).c. Sumber Belajar Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor sumber belajardisajikan dalam Tabel 6.
  • 48. 37Tabel 6. Hambatan dalam Sumber Belajar Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 9 Memilih media. 4 11 1 - 10 Menggunakan media pengajaran. 6 8 2 - 11 Memberikan pengalaman belajar lang- 4 8 3 1 sung di luar laboratorium. 12 Ketersediaan buku pelajaran biologi. 8 3 5 - Jumlah 22 30 11 1 % 34.37 46.68 17.19 1.56Analisis data menunjukkan 1,56% guru menyatakan sangat kesulitan dalamsumber belajar, 17,19% guru menyatakan kesulitan, 46,68% guru menyatakanagak kesulitan dan 34,37% guru menyatakan tidak kesulitan. Secara keseluruhanhambatan dalam sumber belajar yang dialami guru biologi adalah 46,48% dantermasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2,halaman 70).d. Organisasi Waktu Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor organisasi waktudisajikan dalam Tabel 7.Tabel 7. Hambatan dalam Organisasi Waktu Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 13 Menentukan alokasi waktu untuk mem- 5 7 4 - pelajari materi. 14 Melaksanakan praktikum. 2 10 3 1 15 Memberikan teori. 6 10 - - 16 Mengatur alokasi waktu presentasi. 7 4 5 - 17 Mencapai semua kompetensi. 2 8 6 - Jumlah 22 39 18 1 % 27.5 48.75 22.5 1.25
  • 49. 38Analisis data menunjukkan 1,25% guru menyatakan sangat kesulitan dalamorganisasi waktu, 22,5% guru menyatakan kesulitan, 48,75% guru menyatakanagak kesulitan dan 27.5% guru menyatakan tidak kesulitan. Secara keseluruhanhambatan dalam sumber belajar yang dialami guru biologi adalah 49,38% dantermasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2,halaman 70).2. Pelaksanaan Proses Pembelajarana. Faktor Guru Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor guru disajikan dalamTabel 8.Tabel 8. Hambatan dalam Faktor Guru Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 18 Memilih metode pembelajaran. 7 8 1 - 19 Menggunakan metode yang berpusat 7 6 3 - pada peserta didik. 20 Menggunakan metode yang menuntut 9 4 2 1 siswa bekerjasama. 21 Mengintegrasikan siswa ke dalam ke- 4 10 2 - lompok-kelompok yang efektif. 22 Menggunakan mketode yang menuntut 7 6 3 - siswa melakukan pengamatan. 23 Mengkondisikan siswa selama prak- 4 7 5 - tikum. 24 Memilih model pembelajaran. 6 6 4 - 25 Memeragakan model pembelajaran. 5 7 4 - 26 Mengkaitkan materi dengan dunia 7 8 1 - nyata. 27 Mengarahkan siswa pada pokok ma- 5 10 1 - salah. 28 Menciptakan kondisi siswa aktif mem- 2 8 6 - bangun pengetahuannya sendiri. Jumlah 63 80 32 1 % 35.8 45.45 18.18 0,57
  • 50. 39Analisis data menunjukkan 0,57% guru menyatakan sangat kesulitan dalampelaksanaan pembelajaran, 18,18% guru menyatakan kesulitan, 45,45% gurumenyatakan agak kesulitan dan 35,8% guru menyatakan tidak kesulitan. Secarakeseluruhan hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran yang dialami guru biologiadalah 45,73% dan termasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalamlampiran 2).b. Faktor Siswa Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor siswa disajikandalam Tabel 9.Tabel 9. Hambatan dalam Faktor Siswa Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 29 Membimbing siswa dalam kelas besar. 2 6 7 1 30 Mengelola siswa dalam kelas besar. 3 7 6 - 31 Membangkitkan motivasi belajar siswa. 3 11 2 - 32 Meningkatkan keaktifan siswa. 3 9 4 - 33 Mengembangkan kreatifitas siswa. 3 6 7 - 34 Mendeteksi karakeristik siswa. - 11 4 1 35 Memberikan pelayanan perbedaan indi- 2 10 3 1 vidual siswa. Jumlah 16 60 33 3 % 14,39 53.57 29,96 2,68Analisis data menunjukkan 2,68% guru menyatakan sangat kesulitan dengansiswa, 29,96% guru menyatakan kesulitan, 53,57% guru menyatakan agakkesulitan dan 14,39% guru menyatakan tidak kesulitan. Secara keseluruhanhambatan yang dialami guru biologi dalam faktor siswa adalah 55,13% dantermasuk kategori hambatan sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2, halaman 71).
  • 51. 403. Evaluasi Pembelajaran Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang evaluasi pembelajarandisajikan dalam Tabel 10.Tabel 10. Hambatan dalam Evaluasi Pembelajaran Item Keterangan Frekuensi 1 2 3 4 36 Menyusun kisi-kisi penilaian. 10 5 1 - 37 Memilih bentuk instrumen. 7 7 2 - 38 Menentukan jenis tagihan. 7 7 2 - 39 Menentukan panjang instrumen. 8 6 2 - 40 Melakukan penilaian ranah kognitif. 9 7 - - 41 Melakukan penilaian ranah afektif. 5 7 4 - 42 Melakukan penilaian ranah psikomo- 9 5 2 - torik. 43 Memberikan penugasan yang berka- 3 9 4 - itan dengan life skill siswa. 44 Melakukan penilaian portofolio. 3 9 4 - 45 Melakukan penilaian performans. 5 8 2 1 46 Menyusun instrumen non tes. 3 10 3 - 47 Memberikan tindak lanjut dari hasil 6 10 - - evaluasi. 48 Mengetahui tingkat ketercapaian hasil 10 6 - - belajar siswa. Jumlah 85 96 26 1 % 40.87 46.15 12.50 0,48Analisis data menunjukkan 0,48% guru menyatakan sangat kesulitan dalamevaluasi pembelajaran, 12,50% guru menyatakan kesulitan, 46,15% gurumenyatakan agak kesulitan dan 40,87% guru menyatakan tidak kesulitan. Secarakeseluruhan hambatan dalam evaluasi pembelajaran yang dialami guru biologiadalah 43,15% dan termasuk kategori hambatan rendah (dapat dilihat dalamlampiran 2, halaman 71).
  • 52. 41 Hasil yang diperoleh dari data kuesioner disajikan dalam Tabel 11. Hasilselengkapnya dari data kuesioner dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 67,sedangkan perhitungan data kuesioner dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 69.Tabel 11. Hasil Data Kuesioner Variabel Butir Jumlah Skor Jumlah Persen Kategori Pertanyaan Item Maksimum Skor (%) Hambatan Penjabaran 1-5 5 320 142 44,38 Sedang Kompetensi Alat dan 6-8 3 192 91 47,40 Sedang BahanSumber Belajar 9 - 12 4 256 119 46,48 Sedang Organisasi 13 - 17 5 320 158 49,38 Sedang Waktu Guru (Strategi 18 - 28 11 704 323 45,73 Sedang Pembelajaran) Siswa 29 - 35 7 448 247 55,13 Sedang Evaluasi 36 - 48 13 832 359 43,15 Rendah Total 1 - 48 48 3072 1439 46,84 Sedang Hasil data kuesioner dapat diperjelas dengan histogram. Histogram dari hasildata kuesioner ditampilkan di bawah ini: 60,00% 47,01% 50,43% 46,84% Tingkat hambatan 50,00% 43,15% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Variabel Persiapan pembelajaran Pelaksanaan proses pembelajaran Evaluasi pembelajaran Total Gambar 2. Histogram hasil data kuesioner
  • 53. 42Berdasarkan tabel dan histogram di atas, persentase tertinggi terdapat padavariabel siswa sebesar 55,13% dan persentase terendah pada variabel evaluasisebesar 43,15%. Secara umum, hasil perhitungan yang diperoleh dari datakuesioner menunjukkan hambatan yang dihadapi oleh guru-guru biologi kelas Xdalam proses pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2004 di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang sebesar 46,84% dan termasuk kategori sedang. Dari kuesioner terbuka diperoleh data mengenai upaya-upaya yang telahdilakukan oleh guru untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi. Hasil yangdiperoleh dari data kuesioner terbuka disajikan dalam Tabel 12.Tabel 12. Rekap Hasil Kuesioner Terbuka No. Variabel Upaya 1. Penjabaran kompetensi a. Membuat silabus dengan mengacu silabus dari pemerintah. b. Membuat silabus sesuai dengan kondisi sekolah. c. Berusaha mengenal karakteristik siswa. d. Menyederhanakan materi. 2. Alat dan bahan a. Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan pra- sarana yang tersedia di sekolah. b. Menugaskan siswa untuk membawa dari rumah alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembe- lajaran. c. Pemakaian laboratorium secara bergantian. d. Mengganti metode praktikum dengan metode demonstrasi. e. Melakukan kegiatan pembelajaran di luar ru- angan. f. Mengusulkan kepada sekolah agar melengkapi sarana dan prasarana yang ada di sekolah. 3. Sumber belajar a. Mengoptimalkan penggunan media yang sudah ada. b. Memanfatkan media asli (alam sekitar). c. Memberikan contoh-contoh kajian di luar labo- ratorium yang berhubungan dengan pembelajaran (lingkungan sekitar siswa). d. Mengajak siswa untuk observasi ke lingkungan sekitar baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • 54. 43 e. Memanfatkan buku paket yang ada di per- pustakaan. f. Memanfaatkan buku paket, buku pendamping, lembar kerja siswa (LKS), koran/media massa.4. Organisasi waktu a. Membuat skala prioritas (materi yang penting disampaikan dengan porsi waktu yang lebih banyak) b. Memberi tugas pada siswa untuk materi-materi yang banyak. c. Menyederhanakan materi. d. Memberikan tugas pada siswa dihubungkan dengan kemampuannya kemudian dilakukan pembahasan bersama di dalam kelas. e. Memilih materi-materi yang penting untuk di- praktikumkan. f. Memilih siswa yang benar-benar mampu dan siap untuk melakukan presentasi. g. Menyelaraskan waktu sesuai dengan silabus dan kalender pendidikan.5. Faktor guru (strategi a. Mengenali dulu karakteristik peserta didik pembelajaran) kemudian baru menetapkan metode yang akan digunakan. b. Menentukan metode dengan melihat kondisi siswa dan sarana yang ada. c. Guru bertindak sebagai fasilitator, jika diskusi sudah mulai menyimpang maka guru mem- benahi. d. Meningkatkan hubungan kekeluargaan antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.6. Faktor siswa a. Membuat kelompok-kelompok kecil. b. Memberikan tugas mandiri pada siswa. c. Memberikan latihan berupa soal-soal. d. Memberikan tugas pada siswa. e. Membiasakan siswa untuk berdiskusi. f. Mengenal karakteristik tiap anak. g. Mengaitkan materi pembelajaran dengan imtaq. h. Menugaskan siswa untuk membuat kliping.7. Evaluasi a. Melakukan pengamatan secara intensif ter-hadap peserta didik. b. Membuat buku pribadi anak disertai dengan foto untuk membantu mengenal siswa. c. Tiap KD dilakukan tes pencapaian kompetensi. d. Melatih siswa untuk membuat laporan ilmiah setelah melakukan praktikum. e. Mengamati tiap siswa pada saat melakukan praktikum. f. Melaksanakan program pengayaan dan re-midial. g. Melakukan analisis penilaian.
  • 55. 44 Untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner maka dilakukan jugawawancara. Wawancara dilaksanakan dengan semua responden yang terdiri dari16 guru. Hasil wawancara dapat dilihat pada Tabel 13.Tabel 13. Rekap Hasil Wawancara No Pertanyaan Kunci Jawaban Frekuensi Persentase 1. Pelaksanaan kurikulum a. Ya 10 62,50% 2004 mengalami kesulitan b. Tidak 6 37,50% atau tidak 2. a. Ketersediaan laborato- a. Ada 4 25% rium Biologi b. Tidak ada (Lab. 12 75% IPA) b. Tidak ada laboratorium a. Tidak 5 41,67% biologi menghambat b. Menghambat 7 58,33% atau tidak 3. Media pembelajaran yang a. Chart/Gambar 16 34,78% digunakan b. CD Pembelajaran 10 21,74% c. OHP 4 8,70% d. Media asli 16 34,78% 4. a. Pendekatan pembela- a. Kontekstual 16 57,14% jaran yang digunakan b. Inkuiri 6 21,43% c. Konstruktivisme 3 10,71% d. Pemecahan masalah 3 10,71% b. Metode pembelajaran a. Ceramah 16 30,77% yang digunakan b. Diskusi/tanya jawab 16 30,77% c. Praktikum 15 28,85% d. Observasi 4 7,69% e. Demonstrasi 1 1,92% 5. Kesulitan dalam pembela- a. Sarana dan prasa- 11 34,36% jaran Biologi dengan kuri- rana kulum 2004 b. Kondisi Siswa 10 31,25% c. Alokasi waktu 9 28,13% d. Evaluasi 2 6,25% 6. Upaya mengatasi hambatan a. Mengoptimalkan 11 29,73% yang dihadapi sarana yang ada b. Menyederhanakan 12 32,43% materi c. Menggunakan me- 2 5,41% tode yang bervariasi d. Memilih materi yang 6 16,21% penting untuk di- praktikumkan e. Memanfaatkan media 6 16,21% asli (alam sekitar)
  • 56. 45 Berdasarkan tabel di atas, 62,50% guru mengalami kesulitan dan 37,50%guru tidak mengalami kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran biologi denganmenggunakan kurikulum 2004. Hambatan yang dialami guru dalam melaksanakankurikulum 2004 adalah dalam hal sarana prasarana sebesar 34,36%, kondisi siswasebesar 31,25%, alokasi waktu sebesar 28,13% dan evaluasi sebesar 6,25%. Hasilwawancara juga menunjukkan bahwa upaya yang telah dilakukan oleh guru untukmengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah mengoptimalkan sarana yang adasebesar 29,73%, menyederhanakan materi sebesar 32,43%, menggunakan metodeyang bervariasi sebesar 5,41 %, memilih materi yang penting untuk diprakti-kumkan sebesar 16,21% dan memanfaatkan media asli (alam sekitar) sebesar16,21%.B. Pembahasan Berdasarkan analisis hasil kuesioner, dapat diketahui bahwa guru-gurubiologi kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam melaksanakanproses pembelajaran biologi dengan menggunakan kurikulum 2004 mengalamihambatan dalam kategori sedang dengan persentase 46,84%. Persentase inicenderung mendekati hambatan rendah. Persentase masing-masing faktorpenghambat adalah sebagai berikut.1. Penjabaran kompetensi : 44,38%2. Alat dan bahan : 47,40%3. Sumber belajar : 46,48%4. Organisasi waktu : 49,38%
  • 57. 465. Faktor guru : 45,73%6. Faktor siswa : 55,13%7. Evaluasi : 43,15%Faktor-faktor penghambat di atas dapat dijabarkan sebagai berikut.1. Penjabaran Kompetensi Analisis hasil penelitian menunjukkan hambatan yang dialami guru dalampenjabaran kompetensi sebesar 44,38% termasuk dalam kategori hambatan sedangyang mendekati kategori rendah. Hambatan yang dialami adalah kesulitanmenjabarkan standar kompetensi menjadi silabus yaitu dalam merencanakanpengalaman belajar siswa, mengidentifikasi kompetensi-kompetensi sesuaidengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh siswa, serta menjabarkanmateri pokok pembelajaran, karena pengalaman belajar yang akan diberikandisesuaikan dengan kemampuan/ keterampilan dan kreatifitas tiap-tiap guru yangberbeda, kondisi/kesiapan siswa untuk melaksanakan pengalaman belajar yangakan dilakukan, sarana prasarana yang ada seperti media, alat dan bahan, sertaalokasi waktu yang tersedia. Menurut Suwarja (2004), guru harus mampumenyusun suatu rencana pembelajaran yang tidak saja baik tetapi juga mampumemberikan kesempatan pada peserta didik untuk mencari, membangun, mem-bentuk serta mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupannya. Untuk mengatasi kesulitan atau hambatan dalam penjabaran kompetensi,sebagian guru telah melakukan upaya antara lain: membuat silabus denganmengacu silabus dari pemerintah, berusaha mengenal karakteristik siswa untukmengembangkan indikator pencapaian kompetensi yang relevan dengankebutuhan siswa.
  • 58. 47 Dalam menjabarkan materi pokok pembelajaran, kesulitan yang dialamicenderung dikarenakan alokasi waktu yang kurang, dan upaya yang telah dila-kukan oleh guru adalah dengan menyederhanakan materi. Upaya tersebut masihkurang tepat karena menyederhanakan materi bisa menyebabkan materi tidak bisaberkembang ataupun kompetensi yang diharapkan tidak bisa tercapai. Sebagaisaran sebaiknya guru mengubah strategi pembelajaran yaitu yang semulamenekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan menjadi strategi pembelajaranyang menekankan pada kompetensi, sehingga materi pembelajaran bisadikembangkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kompetensi yangdiharapkan bisa tercapai. Selain itu diharapkan pada guru-guru untuk lebihmemanfaatkan forum MGMP biologi untuk membuat dan mengembangkanperangkat pembelajaran bersama seperti silabus dan rencana pengajaranberdasarkan masukan dari para guru dan faktor lain seperti biaya, sarana danprasarana, lingkungan, dan kondisi siswa. Silabus yang terbentuk bisa dijadikankontrol/pembanding bagi silabus-silabus yang dikembangkan oleh guru dimasing-masing sekolah, jadi pengembangan yang dilakukan oleh guru tidak akanmenyimpang dari kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendapat Mulyasa(2004), pengembangan silabus harus dilakukan secara sistematis, dan mencakupkomponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai kompetensi dasaryang telah ditetapkan.2. Alat dan Bahan Analisis hasil penelitian menunjukkan hambatan yang dialami guru dalammenyediakan alat dan bahan tergolong hambatan sedang dengan persentasesebesar 47,40%. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara, dimana guru
  • 59. 48mengalami kesulitan dalam hal sarana dan prasarana, khususnya ketersediaanlaboratorium biologi sendiri dan kelengkapan alat dan bahan di dalamnya. Dari 11sekolah, hanya 3 sekolah yang memiliki laboratorium biologi sedangkan 8sekolah lainnya hanya memiliki laboratorium IPA. Dari 12 orang guru yangsekolahnya tidak memiliki laboratorium biologi sendiri, 5 orang diantaranya tidakmerasa terhambat, sedangkan 7 orang guru yang lain merasa terhambat. Guruyang menyatakan tidak mengalami hambatan dalam sarana prasarana adalah guruyang mengajar di sekolah-sekolah unggulan, walaupun ada juga yang bukan darisekolah unggulan tetapi guru di sekolah tersebut mampu berkreasi untukmenggantikan pembelajaran di dalam ruang laboratorium. Sedangkan guru yangmenyatakan mengalami hambatan dalam hal sarana prasarana merupakan guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah yang belum unggulan dan ada sekolahyang baru 2 tahun didirikan, dimana sarana dan prasarana yang ada memangmasih belum memadai. Guru kesulitan memperoleh alat dan bahan yang dibutuhkan siswa untukmelakukan kegiatan praktikum karena alat dan bahan yang dibutuhkan tersebutbelum tersedia di sekolah. Contohnya jumlah mikroskop/alat-alat praktikum lainbelum sesuai dengan jumlah siswa dan zat-zat kimia yang disediakan jumlahnyasedikit. Selain itu ruangan laboratorium biologi, fisika dan kimia belumdipisahkan dan masih dalam satu ruangan. Kondisi ini menyulitkan guru dalammembagi waktu, jika ingin menggunakan laboratorium guru harus mengkon-
  • 60. 49firmasikan dulu dengan guru mata pelajaran lain, dan penggunaan laboratoriumkurang maksimal untuk pelajaran biologi. Dari hasil wawancara guru-guru yang tidak terhambat dengan tidak adanyalaboratorium, dikarenakan guru-guru tersebut telah melakukan berbagai upayaantara lain: mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang telah tersediadi sekolah, menugaskan pada siswa untuk membawa dari rumah alat dan bahanyang dibutuhkan dalam pembelajaran, pemakaian laboratorium secara bergantiandengan membuat jadwal yang terorganisir, mengganti praktikum dengan metodedemonstrasi, melakukan kegiatan pembelajaran di luar ruangan laboratoriummisal di halaman atau kebun sekolah karena dalam biologi laboratorium tidakhanya dalam ruangan saja. Dengan demikian saran yang bisa diberikan pada guru-guru lain yangmerasa terhambat dengan tidak adanya laboratorium biologi di sekolah yaitudiharapkan guru-guru tersebut juga melakukan upaya-upaya seperti yang telahdilakukan oleh 7 guru di atas, karena upaya-upaya tersebut dapat membantumengatasi hambatan dalam pembelajaran yang disebabkan oleh minimnya sarana-prasarana. Upaya dengan melibatkan siswa dalam penyediaan alat dan bahan yangdibutuhkan dalam pembelajaran tidak hanya perlu dilakukan oleh sekolah yangsarana-prasarananya terbatas tetapi juga untuk sekolah yang sudah memilikisarana-prasarana memadai, karena upaya ini merupakan cara yang baik untukmemotivasi siswa dan melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadappembelajaran yang dilaksanakan. Penggantian praktikum dengan metodedemonstrasi juga bisa diambil sebagai alternatif pemecahan jika memang kegiatan
  • 61. 50praktikum benar-benar tidak bisa dilakukan lagi karena peralatan dan waktu yangsangat terbatas. Selain itu perlu juga dipertimbangkan upaya lain yang bisa membantumengatasi hambatan dalam hal sarana prasarana yaitu sekolah diharapkanmelengkapi sarana dan prasarana belajar yang memadai, seperti perpustakaan,laboratorium dengan perlengkapannya, perlengkapan teknis, dan perlengkapanadministrasi, serta ruang pembelajaran yang memadai. Sarana dan prasaranamemang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan pembelajaranmenggunakan kurikulum 2004, tetapi kondisi sarana prasarana yang kurangmemadai tidak boleh dijadikan alasan oleh guru untuk tidak melaksanakankurikulum 2004 secara utuh, karena dalam kurikulum 2004 guru dituntut untuklebih kreatif memodifikasi pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas yangsudah ada. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa (2004) kreativitas diperlukan,bukan semata-mata karena keterbatasan fasilitas dan dana dari pemerintah, tetapimerupakan kewajiban yang harus melekat pada setiap guru untuk berkreasi,berimprovisasi, berinisiatif, dan inovatif.3. Sumber Belajar Hasil kuesioner menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam halsumber belajar (media, buku, dan lingkungan sekitar) memperoleh persentasesebesar 46,48% dan dapat dikategorikan tingkat hambatan sedang tetapi yangmendekati rendah. Dalam hal ini kesulitan yang dialami adalah dalam memilihdan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang ingindicapai, memberikan pengalaman belajar langsung yang diselenggarakan di luar
  • 62. 51laboratorium, serta kesulitan dalam menyampaikan materi sehubungan denganketersediaan buku pegangan mata pelajaran biologi di sekolah. Dalam kurikulum2004 sumber belajar tidak hanya dari guru, melainkan dapat diperoleh dari manasaja misalnya buku-buku referensi, majalah, koran, jurnal penelitian, televisi, CDpembelajaran, internet serta dari lingkungan sekitar. Fasilitas dan sumber belajarperlu dikembangkan untuk mendukung suksesnya implementasi kurikulum 2004. Media pembelajaran merupakan salah satu sumber belajar, meskipundemikian penggunaan media tidak boleh sembarangan. Pemilihan media harusdisesuaikan dengan materi dan kompetensi yang harus dicapai siswa. Sesuaipendapat Mulyasa (2004), fasilitas dan sumber belajar dipilih dan digunakandalam proses belajar apabila sesuai dan menunjang tercapainya kompetensi dasar.Masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam memilih dan menggunakanmedia, sehingga banyak media di sekolah yang tidak termanfaatkan dan hal inisangat disayangkan. Berdasarkan hasil wawancara media yang sering digunakan oleh guru-guruadalah chart/bagan sebesar 34,78%, CD pembelajaran 21,74%, OHP sebesar8,70%, dan media asli sebesar 34,78%. Hambatan tersebut bisa diatasi denganguru lebih banyak lagi belajar tentang media pembelajaran serta berlatih untukmenggunakan media, sehingga media yang sudah ada bisa dimanfaatkan untukpembelajaran. Tujuan media pembelajaran adalah untuk membantu bukanmempersulit jadi guru tidak perlu takut jika siswa akan kesulitan jikapembelajaran dibantu dengan media lain selain buku. Selain itu dengan adanya
  • 63. 52media pembelajaran justru akan menarik perhatian siswa terhadap materi yangsedang mereka pelajari. Upaya yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan dalam halmedia yaitu mengoptimalkan penggunaan media yang sudah ada, memanfaatkanmedia asli (lingkungan sekitar) sebagai sumber belajar. Untuk sekolah-sekolahyang terletak di daerah-daerah cenderung memanfatkan media asli sebagai sumberbelajar. Hal ini sangat baik karena siswa akan mendapatkan pengalaman belajaryang menarik. Dalam mengembangkan fasilitas dan sumber belajar, guru disamping harusmampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, juga harus berinisiatifmendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebihkonkrit. Memanfaatkan sumber belajar bisa dilakukan dengan membawa sumberbelajar ke dalam kelas dan membawa siswa ke lapangan dimana sumber belajarberada. Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar sebaiknya tidakhanya dilakukan oleh sekolah yang berada di desa saja, sekolah yang letaknya dikota juga perlu belajar dari alam sekitar ataupun media asli. Guru bisamembawakan contohnya ataupun siswa diberi tugas untuk mencarinya, hal iniakan lebih menarik keingintahuan siswa. Selain itu sekolah yang letaknya di kotabisa memanfaatkan multi media. Ada sekolah yang sudah memiliki mediainternet, hal itu merupakan kesempatan bagus bagi siswa untuk bisa belajar lebihbanyak lagi. Informasi-informasi yang tidak ada di buku bisa dicari di mediatersebut. Diharapkan dengan semakin berkembangnya teknologi dapat lebihmempermudah jalannya proses pembelajaran.
  • 64. 53 Ada beberapa guru yang mengalami kesulitan dalam KBM disebabkan olehketerbatasan referensi buku yang dimiliki siswa, dan buku-buku pelajaran biologiyang tersedia di sekolah juga masih terbatas. Padahal dalam mencapai kompetensidasar, siswa diharapkan belajar mandiri sehingga dibutuhkan buku yang ber-variasi. Buku memang masih menjadi sumber belajar yang utama dalam pem-belajaran sehingga keberadaanya sangat dibutuhkan. Untuk mengatasi hal ini bisadilakukan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai komponen pendidikansalah satunya orangtua siswa, yaitu dengan memberikan sosialisasi dan pengertiankepada mereka agar mendukung pelaksanaan kurikulum 2004. Salah satudiantaranya dengan memenuhi kebutuhan belajar anak, menyediakan fasilitas bagianak sehingga anak merasa termotivasi. Pengadaan buku tidak harus denganmembeli, siswa diperbolehkan meminjam kepada kakak kelas, siswa tidak harusmemiliki buku yang baru. Selain itu sesuai dengan karakteristik KBK yaitupembelajaran dengan modul. Sistem modul bertujuan untuk meningkatkanefisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas,maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal. Guru diharapkan membuatmodul yang nantinya dapat membantu siswa mendapatkan informasi mengenaiapa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan sumber belajar apa yangharus digunakan.4. Organisasi Waktu Hasil kuesioner menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam halorganisasi waktu tergolong kategori hambatan sedang, dengan persentase sebesar49,38% yaitu persentase yang mendekati tingkat hambatan rendah. Hal ini
  • 65. 54diperkuat oleh wawancara yang menyatakan kesulitan yang dialami guru salahsatunya adalah dalam hal alokasi waktu sebesar 28,13%. Kesulitan yang dialamiadalah dalam hal menentukan alokasi waktu untuk mempelajari suatu materi,mengatur alokasi waktu untuk presentasi siswa, melaksanakan praktikum danmencapai semua kompetensi yang telah ditetapkan sesuai dengan alokasi waktuyang telah disediakan. Kurikulum 2004 memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkanmateri sesuai dengan keadaan dan kebutuhan peserta didik, tetapi jika materiterlalu banyak pengembangan, kompetensi-kompetensi yang ditargetkan tidaksemua bisa tercapai karena waktu yang disediakan terbatas. Dalam kurikulum2004 siswa dituntut untuk mengalami sendiri dan salah satu cara agar siswa dapatmengalami sendiri adalah dengan praktikum, tetapi untuk melakukan praktikumdan memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan presentasi gurumengalami kesulitan dalam mengatur waktunya karena waktu yang tersediaterbatas. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh sebagian guru adalah denganmenyederhanakan materi, memilih materi-materi tertentu untuk dipraktikumkan,memilih siswa-siswa tertentu yaitu siswa yang benar-benar siap untuk melakukanpresentasi. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh sebagian guru tersebut adayang sudah tepat tetapi ada juga yang masih belum tepat. Untuk upayamenyederhanakan materi tanpa tindak lanjut apapun maka kurikulum 2004 initidak akan berarti apa-apa karena pelaksanaanya akan seperti kurikulumsebelumnya. Sebaiknya guru menyampaikan hal-hal yang penting atau pokoksedangkan siswa tetap diberi tugas untuk mengembangkan materi yang diberikan
  • 66. 55oleh guru. Guru perlu mengkaji materi-materi yang diperkirakan sulit dipahamisiswa, materi tersebut diprioritaskan untuk dibahas secara tatap muka dikelas/laboratorium. Sedangkan materi yang dianggap mudah dipahami oleh siswadapat dijadikan tugas/pekerjaan rumah. Hal ini perlu dilakukan agar guru tidakhanya berusaha menyederhanakan materi saja untuk mengantisipasi waktu yangtidak cukup untuk menjabarkan materi, karena dikhawatirkan kompetensi yangdiharapkan tidak bisa tercapai. Memilih materi-materi tertentu untukdipraktikumkan merupakan usaha yang tepat, karena memang tidak mungkinsemua materi bisa dipraktikumkan bila dikaitkan dengan alokasi waktu yangdisediakan, tetapi yang perlu diperhatikan adalah dalam pemilihan materi yangdipraktikumkan haruslah tepat. Materi yang dipilih harus sudah dapat mewakilipokok materi, dan siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Selain itu perlu dipertimbangkan upaya lain untuk mengatasi kesulitanwaktu yaitu dengan media by design yaitu mendesain sendiri media yang akandigunakan untuk pembelajaran, disesuaikan dengan alokasi waktu yangdisediakan. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengatur alokasi waktu untukpresentasi adalah jika waktu yang tersedia sedikit maka dilakukan denganmemilih siswa-siswa tertentu untuk melakukan presentasi yaitu siswa yangdianggap cakap untuk mengkomuniksikan hasil. Dengan ini diharapkan jawabanyang diberikan tepat atau tidak menyimpang jauh dari yang diharapkan. Tetapijika waktu yang tersedia lebih banyak maka diusahakan semua siswa bisamelakukan presentasi agar guru juga bisa melihat kemampuan siswa untukmengkomunikasikan hasil. Guru harus memiliki dokumen siswa-siswa yangmelakukan presentasi, karena dokumen atau catatan tersebut berguna juga untukpenilaian.
  • 67. 565. Faktor Guru Berdasarkan hasil kuesioner hambatan yang dialami guru dalam hal strategipembelajaran adalah sebesar 45,73% tergolong hambatan sedang. Dalam hal inihambatan yang dialami dalam hal pemilihan serta penerapan metode, model danpendekatan dalam pembelajaran. Menurut Mulyasa (2004), guru harus menguasaiprinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan metode mengajar,memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan pembelajaran. Dalam halmetode pembelajaran hambatan yang dialami adalah memilih metode yang sesuaidengan kompetensi yang ingin dicapai, menggunakan metode yang berpusat padapeserta didik, menuntut siswa bekerjasama dengan temannya, menuntut siswamelakukan pengamatan, mengintegrasikan siswa ke dalam kelompok-kelompokbelajar yang efektif, melakukan pengawasan selama kegiatan diskusi berlangsungserta mengkondisikan siswa selama praktikum. Untuk mengatasi hambatan dalam pemilihan dan penggunaan metode,beberapa guru telah melakukan upaya antara lain: berusaha melihat dan mengenalkarakteristik peserta didik agar bisa memilih metode yang tepat, menentukanmetode dengan melihat kondisi siswa dan sarana yang ada, menjadi fasilitatordalam proses pembelajaran, serta meningkatkan hubungan antara pihak sekolahdengan orang tua siswa. Hasil wawancara menunjukkan metode pembelajaranyang sering digunakan adalah ceramah 30,77%, diskusi 30,77%, praktikum28,85%, observasi 7,69%, dan demonstrasi 1,92%. Dari hasil tersebut terlihatbahwa guru-guru biologi di kabupaten Semarang telah menggunakan berbagaimacam metode pembelajaran. Untuk metode ceramah, diskusi dan praktikum
  • 68. 57hampir seluruh guru telah mempraktekkannya. Dalam proses pembelajaran gurutidak hanya berpatok pada satu metode saja, guru telah menggunakan metodeyang bervariasi. Untuk metode demonstrasi hanya dilakukan oleh satu orang gurukarena kondisi sarana prasarana yang tidak memungkinkan untuk melakukanpraktikum. Untuk metode observasi juga hanya dilakukan oleh sebagian kecilguru saja, karena metode ini membutuhkan banyak waktu. Upaya-upaya yangtelah dilakukan oleh guru-guru tersebut sudah cukup baik karena telah membuatproses belajar mengajar berjalan dengan baik dan siswa dapat mencapaikompetensi yang diharapakan. Hambatan yang dialami dalam hal model pembelajaran adalah pemilihandan penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran. Adabeberapa guru yang belum memahami model-model pembelajaran yang ada,sehingga mengalami kesulitan dalam pemilihan maupun pemeragaan modelpembelajaran tersebut. Untuk mengatasi ini guru-guru perlu diikutkan sosialiasasi,pelatihan atau lokakarya tentang kurikulum 2004, karena di situ guru akanmendapatkan informasi yang lebih banyak tentang model-model pembelajaran.Selain itu guru harus lebih banyak membaca buku-buku tentang model-modelpembelajaran, menonton CD tentang penerapan model-model pembelajaran, me-ngikuti pelatihan tentang model pembelajaran, diskusi dengan teman sejawat sertamelakukan latihan penerapan model pembelajaran. Hasil wawancara tentang pendekatan pembelajaran kurikulum 2004menunjukkan pendekatan yang sudah dipakai oleh guru adalah kontekstualsebesar 57,14%, konstruktivisme sebesar 10,71%, inkuiri sebesar 21,43%, danpemecahan masalah sebesar 10,71%. Pendekatan yang lebih banyak digunakan
  • 69. 58adalah kontekstual, hal ini disebabkan karena guru masih kesulitan dalammenggunakan pendekatan yang lain. Guru masih kesulitan untuk mengarahkansiswa pada suatu pokok masalah, oleh karena itu masih jarang guru yangmenggunakan pendekatan pemecahan masalah, guru juga masih kesulitan dalammenciptakan kondisi siswa untuk aktif membangun pengetahuan danpemahamannya sendiri, sehingga masih sedikit guru yang menggunakanpendekatan konstruktivisme. Saran yang bisa diberikan untuk mengatasi hambatan dalam pemilihan danpenerapan metode serta pendekatan pembelajaran adalah guru harus lebih banyakmencari informasi mengenai metode dan pendekatan-pendekatan dalam pem-belajaran serta mencoba untuk menerapkannya. Penerapan bisa dilakukan padakelas unggulan terlebih dahulu, baru kemudian pada kelas yang lain. Selain perlulebih banyak latihan menerapkan metode dan pendekatan pembelajaran, guru jugaharus banyak berdiskusi dengan guru lain tentang metode dan pendekatan dalampembelajaran serta penerapannya. Dengan sering diterapkannya suatu metode ataupendekatan maka semakin lama siswa juga akan terbiasa, sehingga guru tidak lagimenyalahkan siswa karena belum siap melaksanakan pembelajaran denganmenggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Gurulah yang bertanggungjawabatas kesiapan siswa, jika guru belum memahami bagaimana pembelajaran denganberbasis kompetensi maka siswa pun juga tidak akan paham bagaimana carabelajar yang seharusnya dalam kurikulum berbasis kompetensi.6. Faktor Siswa Berdasarkan hasil analisis penelitian hambatan yang dialami dari faktorsiswa adalah sebesar 55,13% tergolong hambatan sedang, diperkuat dengan hasil
  • 70. 59wawancara tentang kesulitan yang dialami guru dalam pelaksanaan kurikulum2004 salah satunya adalah kondisi siswa sebesar 31,25 %. Hambatan dalam faktorsiswa adalah berkaitan dengan jumlah siswa dalam satu kelas adalah lebih dari 30orang sehingga termasuk kelas besar, guru mengalami kesulitan dalammembimbing dan mengelola siswa, mendeteksi karakteristik individual siswa,serta memberikan pelayanan individual siswa. Selain itu guru juga mengalamikesulitan dalam membangkitkan motivasi belajar, meningkatkan keaktifan, danmengembangkan kreativitas siswa. Berbagai upaya telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatantersebut antara lain: membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil sehinggalebih memudahkan untuk membimbing dan mengontrol siswa pada saat diskusimaupun praktikum. Selain itu guru juga menerapkan kedisiplinan belajar, disiplindi sini bukan berarti guru bersikap keras pada siswa tetapi membiasakan siswauntuk menaati apa yang sudah disepakati, misalnya jika ada siswa yang tidakmembawa tugas yang diberikan maka siswa tersebut diperbolehkan mengikutipelajaran jika sudah membawa tugas yang diberikan. Untuk meningkatkankeaktifan siswa beberapa guru mengupayakan dengan menggunakan metodediskusi sehingga siswa akan aktif bertukar pikiran atau bekerjasama dengantemannya. Untuk membangkitkan kreativitas siswa guru berupaya denganmenggunakan strategi pembelajaran yang menarik, ada juga guru yangmempraktekkan model pembelajaran tutor sebaya. Upaya lain yang telahdilakukan adalah memberi tugas siswa untuk observasi ke home industry,memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar, dan melatihanak untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, untuk memperluas
  • 71. 60materi pembelajaran. Upaya yang telah dilakukan oleh guru-guru tersebutmerupakan usaha yang cukup bagus, karena dengan memberikan strategi yangtepat siswa akan merasa tertarik dan termotivasi untuk belajar, apalagi denganpemberian tugas berupa observasi di lapangan akan melatih siswa untukmenemukan sendiri konsep atau ilmu juga melatih siswa untuk bekerjasamadengan teman ataupun masyarakat. Ada juga guru yang berusaha mengkaitkanpembelajaran dengan iman dan taqwa, hal ini sangat membantu siswa untukmemperoleh kecakapan hidup yaitu sadar sebagai makhluk Tuhan. Guru-guruyang lain diharapkan juga bisa menerapkan upaya-upaya tersebut, jika semuaupaya yang sudah disampaikan dilaksanakan oleh semua guru maka pelaksanaankurikulum 2004 di Kabupaten Semarang tidak akan mengalami kesulitan. Faktorjumlah dan kondisi siswa tidak lagi menjadi penghambat dalam pelaksanaanpembelajaran berbasis kompetensi. Sebagai pertimbangan guru perlu memanfaatkan forum MGMP biologiuntuk saling bertukar informasi dan pengalaman, baik masalah yang ditemukanmaupun upaya yang telah dilakukan. Sehingga jika salah seorang guru mengalamihambatan dalam faktor tertentu dan guru lain tidak mengalami hambatan, makaguru yang masih mengalami hambatan bisa melakukan hal yang sama seperti apayang telah dilakukan oleh guru-guru lain yang tidak mengalami hambatan dalamfaktor tersebut. Sebenarnya hambatan KBK tidak mutlak disebabkan karenakondisi fisik sekolah yang belum memadai tetapi karena kualitas atau kondisisumber daya manusia (SDM) baik siswa maupun guru yang masih rendah.
  • 72. 61Sehingga yang perlu diperbaiki tidak hanya fisik sekolahnya saja melainkanSDMnya juga.7. Evaluasi Hasil kuesioner menunjukkan tingkat hambatan dalam evaluasi/penilaianmemperoleh persentase sebesar 43,10% dan dapat dikategorikan hambatanrendah, diperkuat dengan wawancara juga menunjukkan hambatan dalam evaluasitermasuk kategori rendah karena memperoleh persentase sebesar 6,25%. Untukmenyusun kisi-kisi penilaian banyak guru tidak mengalami kesulitan. Guru-gurutelah melakukan penilaian yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.Dari ketiga ranah ini yang paling banyak mengalami kesulitan adalah padapenilaian ranah afektif. Hal ini dikarenakan tidak adanya standar skor yang jelasuntuk penilaian ranah afektif, sehingga guru mengalami kesulitan untuk memberinilai yang tepat. Akibatnya penilaian ranah afektif masih cenderung bersifatsubyektif. Guru juga mengalami kesulitan untuk memantau siswa secarakontinyu, jumlah siswa yang banyak menyebabkan guru sulit mengenal nama-nama siswa. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan melakukan pengamatanintensif, membuat buku pribadi anak untuk memudahkan guru mengenalkarakteristik siswa serta pemakaian nama dada memudahkan guru mengetahuinama siswa. Sebagian besar sekolah telah menerapkan pemakaian nama dada.Pengamatan intensif memang diperlukan untuk benar-benar mengetahui sikap dankeadaan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Sebaiknya setiap kalimelakukan KBM guru mempunyai catatan tentang siswa-siswa yang bersikapbaik dan tidak baik, guru juga bisa menggunakan lembar observasi.
  • 73. 62 Berdasarkan hasil wawancara, guru juga sudah mengenal penilaianportofolio, dan beberapa guru sudah melakukan penilaian portofolio. Portofoliomerupakan kumpulan hasil karya, tugas, atau pekerjaan siswa yang disusunberdasarkan urutan kategori tertentu. Penilaian portofolio patut diterapkan jugaoleh guru-guru yang lain, karena portofolio ini berguna untuk mengetahuiperkembangan hasil belajar siswa. Portofolio ini berguna untuk penilaianpsikomotorik, sehingga guru tidak mengalami kesulitan untuk melakukanpenilaian ranah psikomotorik. Selain dari portofolio, sumber lain yang digunakanuntuk menilai psikomotorik adalah pada saat siswa melakukan praktikum, gurujuga melakukan pengamatan, walaupun tidak menggunakan lembar observasi,tetapi siswa yang cakap dapat terlihat dan guru mendokumentasikannya. Penilaian otentik (authentic assesment) mendasari penilaian dalam kuri-kulum 2004. Sesuai dengan karakteristiknya, penerapan kurikulum 2004 diiringioleh sistem penilaian yang sebenarnya, yaitu penilaian berbasis kelas. Data yangdikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasitentang belajar siswa melainkan untuk memastikan bahwa siswa mengalamiproses pembelajaran dengan benar. Jadi data yang dikumpulkan guru harusdiperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan oleh siswa pada saat melakukanproses pembelajaran. Kalau ada kesulitan dalam penilaian lebih disebabkan karena pemerintahkurang mengkondisikan pelaksanaan kurikulum 2004 dalam hal proses penilaianitu sendiri. Ujian akhir nasional (UAN) merupakan kebijakan pemerintah dalambidang pendidikan untuk menentukan standar proses penilaian. UAN lebihmengutamakan hasil akhir dengan mengabaikan segi proses penilaian terhadap
  • 74. 63perkembangan kemampuan peserta didik. Hal ini sangat berbeda dengan penilaiankurikulum 2004 yang lebih mengutamakan penilaian terhadap proses peserta didikdalam mengembangkan kompetensi. Guru menganggap penilaian hasil akhir bisajadi tidak menggambarkan keseluruhan potensi yang berkembang pada anakdidik. Hal ini menyulitkan guru dalam merencanakan maupun melaksanakanpembelajaran. Hasil kuesioner menunjukkan secara umum tingkat hambatan yang dialamiguru-guru biologi kelas X dalam proses pembelajaran pada pelaksanaankurikulum 2004 di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang sebesar 46,84%termasuk dalam kategori hambatan sedang yang mendekati rendah. Hal inidiperkuat dengan hasil wawancara yang menunjukkan guru yang tidakmengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum 2004 lebih sebesar 37,50%dan yang menyatakan kesulitan adalah sebesar 62,50%. Guru sebaiknya lebihmengoptimalkan fungsi forum MGMP agar para guru bisa bertukar pengalamantentang pelaksanaan kurikulum 2004, sehingga jika ditemukan kendala bisa dicaripenyelesaiannya secara bersama-sama. Selain itu diperlukan bantuan alokasianggaran pendidikan yang ditujukan kepada sekolah-sekolah yangmengimplementasikan kurikulum 2004. Bantuan yang diberikan tidak hanyauntuk keperluan pembangunan prasarana fisik gedung sekolah dan sebagianya,tetapi juga harus ada bantuan bimbingan berupa pelatihan keahlian profesi bagiguru yang dilakukan secara kontinyu. Sesuai pendapat Wardana (2004) bahwaguru harus mampu mengembangkan kemampuan kompetensi dirinya sendirisebelum mampu membelajarkan peserta didik mencari, menggali, danmenemukan kompetensinya.
  • 75. 64 BAB V PENUTUPA. Simpulan Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh simpulanbahwa dalam pelaksanaan pembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004 diSMA Negeri se-Kabupaten Semarang menunjukkan adanya hambatan padapenjabaran kompetensi, alat dan bahan, sumber belajar, organisasi waktu, guru,siswa dan evaluasi. Secara keseluruhan hambatan yang dialami sebesar 46,84%dan termasuk dalam kategori hambatan sedang. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa alternatif cara mengatasi hambatanyang dihadapi yaitu:1. penjabaran kompetensi: silabus yang ada disesuaikan dengan kondisi sekolah2. alat dan bahan: menugaskan pada siswa untuk membawa sendiri alat dan bahan yang dibutuhkan3. sumber belajar: memanfaatkan seoptimal mungkin berbagai sumber belajar dalam proses pembelajaran antara lain: buku paket, buku pendamping, lembar kerja siswa (LKS), koran/media massa dan alam sekitar sebagai sumber belajar.4. organisasi waktu: menata kembali alokasi waktu dari seluruh materi yang akan disampaikan dalam pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa dan sarana prasarana.5. guru: menentukan metode dengan memperhatikan kondisi siswa dan sarana- prasarana yang ada. 64
  • 76. 656. siswa: mengorganisasikan kegiatan belajar mengajar siswa dalam bentuk kegiatan belajar kelompok7. evaluasi: kegiatan evaluasi lebih diintensifkan khususnya untuk ranah afektifB. Saran Berdasarkan uraian di atas saran-saran yang dapat diberikan dari hasil pene-litian ini adalah sebagai berikut.1. Guru diharapkan menyesuaikan strategi pembelajaran yang telah diterapkan sehingga materi dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.2. Guru diharapkan lebih banyak melakukan pembelajaran di luar kelas seperti laboratorium ataupun lingkungan sekitar.3. Guru diharapkan membuat bahan ajar berupa buku yang dapat membantu siswa.4. Guru diharapkan mampu mendesain sendiri media yang akan digunakan untuk pembelajaran, disesuaikan dengan alokasi waktu yang disediakan.5. Guru diharapkan meningkatkan kemampuannya dengan berbagai kegiatan.6. Guru diharapkan lebih mengoptimalkan fungsi forum MGMP untuk bertukar pengalaman tentang pelaksanaan, hambatan dan cara pemecahannya dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004.
  • 77. 66 DAFTAR PUSTAKAAli, M. 1992. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa.Arikunto,S. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Bina Aksara.Darsono, M. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.Depdiknas. 2002a. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.________. 2002b. Kurikulum Berbasis Sekolah. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.________. 2003a. “Kurikulum 2004”. http://www.puskur.or.id/data/2004/Standar %20Kompetensi/Standar%Kompetensi20SMA-MA/14.%20Biologi.pdf. 10 September 2004.________. 2003b. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan Nasional.Djamarah & Aswan Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.Maheri, S. 2004. Pelaksanaan Uji Coba Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di SMU. Semarang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang.Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.__________. 2004. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nasution. 1994. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.Poerwadarminta, W.J.S. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.Sarnapi. 2003. “KBK, Implementasi dan Sikap Mental Guru”. Artikel. www.pikiran_rakyat.com/cetak/1203/20/11.htm-14K. 5 Agustus 2004.Sudjarwo. 1989. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.
  • 78. 67Suwarja, D. 2003. “KBK, Tantangan Profesionalitas Guru?”. Artikel. http://www.artikel.us/dsuwarja.html-9k. 5 Agustus 2004.Suyanto. 2003. ”Persoalan Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Artikel. http://.www.kompas.com/kompas_cetak/0310/06/Didaktika/604355.htm.838 K. 5 Agustus 2004Tusimah. 2003. “Analisis Hambatan dalam Proses Pembelajaran Kimia Pokok Bahasan Larutan bagi Guru-guru Kelas 2 SMU Negeri se-Kabupaten Purworejo dan Cara Pemecahannya”. Skripsi. Semarang: Fakultas MIPA Unnes.Wardana, E. 2003. “Menimbang Pendidikan Berbasis Kompetensi”. Artikel. http://.www.puskur.or.id./2 kurikulum.shtml.26k. 5 Agustus 2004Yulianto, T. 2004. “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Artikel http://.www.puskur.or.id./2kurikulum.shtml.26K. 5 Agustus 2004.

×