Your SlideShare is downloading. ×
Teori kelas marx
Teori kelas marx
Teori kelas marx
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Teori kelas marx

1,545

Published on

Oleh Novi Hendra S. IP …

Oleh Novi Hendra S. IP
(novi_hendra24@yahoo.co.id)

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,545
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
23
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Teori Kelas Marx dan kritikannya Teori kelas didasarkan pada asumsi bahwa suatu kesatuan sosial dapat terbentuk ketika muncul suatu jaringan hubungan (struktur sosial) yang menghubungkan antara individu yang saling terpisah dengan adanya komunikasi dan interaksi serta kesamaan- kesamaan yang dimiliki oleh anggotanya. Jaringan hubungan ini mengisyaratkan bahwa ada berbagai faktor-faktor yang membentuk ikatan sosial antara berbagai individu yang dalam pengkategoriannya memiliki ciri-ciri yang sama dan dapat dibedakan dengan individu-individu yang lain yang berbeda ciri-cirinya dengan membentuk kehidupan kolektif. Ciri-ciri tersebut dalam artian, terdapat suatu kesamaan-kesamaan tertentu yang dimiliki oleh individu tersebut seperti dalam kategori penggolongan status ekonomi, pekerjaan, dan lainnya. Individu-individu tersebut baru dapat dikatakan membentuk kehidupan kolektif apabila sudah ada kebersamaan diantara mereka dengan membentuk hubungan sosial (Sosiologi Perubahan Sosial. Piötr Sztompka :199). Basis ikatan sosial terpenting menurut Marx ialah situasi kepemilikan dalam arti kesamaan derajat pemilikan alat produksi : tanah, bangunan, mesin, peralatan, bahan mentah, dan kapital. Basis tersebut dikatakan penting dikarenakan kepemilikan unsur-unsur tersebut dapat menjamin pemuasan kebutuhan lain pemiliknya dan selanjutnya meningkatkan derajat mereka. Pemilikan unsur-unsur ini juga dapat menentukan posisi individu dimata masyarakat. Fakta akan pemilikan alat produksi dan adanya vested interest untuk mempertahankan kondisi sosial yang menguntungkan akan menciptakan ikatan sosial dikalangan pemiliknya. Dan begitu pula sebaliknya, kelompok yang tidak mempunyai kepemilikan alat produksi juga akan menciptakan hubungan/ikatan sosial diantara anggota senasibnya yang merupakan kelompok yang paling tidak diuntungkan terhadap posisi yang dimilikinya dalam masyarakat dan dalam kegiatan ekonomi. Selanjutnya, dalam kelompok-kelompok yang tidak diuntungkan dalam situasi tersebut timbul kepentingan untuk mengubah kondisi sosial yang merugikan itu secara radikal. Perbedaan-perbedaan kelas ini mengasumsikan adanya antagonisme yang fundamental. Munculnya ikatan-ikatan sosial tersebut kemudian memunculkan adanya kelas-kelas
  • 2. sosial. Kemudian menurut Marx, ikatan sosial tersebut membagi masyarakat dalam dua kutub-kutub kelas yang saling berlawanan, yaitu kelas yang memiliki alat produksi dan tidak memiliki alat produksi, atau yang dikemukakan oleh Marx: Kelas Borjuis dan kelas Proletar. Jadi, dapat dikatakan bahwa kelas Sosial ditentukan oleh pengelompokkan individu berdasarkan pemilikan pribadi atas alat produksi Contoh yang ditemukan di masyarakat, kelas borjuis yang memiliki alat produksi, kaya, dan makmur; sedangkan dipihak lain terdapat kelas proletariat yang tidak memiliki alat produksi seperti buruh, yang miskin, dan sengsara. Ada kelompok yang bergelimangan kesenangan, dan ada kelompok yang miskin dan kesusahan; majikan dan budak, tuan tanah dan petani miskin, pengusaha dan buruh upahan. Weber mengkritik argumentasi Marx mengenai teori kelas yang dikemukakan oleh Marx bahwa teori tersebut terlalu berat sebelah (Johnson: 237). Keadaan berat sebelah ini dikarenakan argumentasi Marx terlalu menekankan pengaruh ekonomi dan materi dan menyangkal bahwa ide-ide yang lain dapat mempunyai pengaruh yang independen sifatnya terhadap perilaku manusia (dikaitkan dengan argumentasinya mengenai infrastruktur ekonomi dan suprastruktur sosial budaya bahwa unsur-unsur/ide- ide sosial budaya tunduk pada kenyataan ekonomi). Weber menekankan bahwa orang selain mempunyai kepentingan materil juga mempunyai kepentingan ideal. Kepentingan yang ideal ini berkaitan dengan motivasi manusia dengan cara mempengaruhi motivasi tersebut secara independen, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan materilnya. Dan Weber juga menjelaskan akan adanya pengaruh timbal-balik antara kepentingan ideal dan kepentingan materil yang menekankan terhadap pemahaman subyektif individu, apakah kepentingan materil ataukah kepentingan ideal itu yang dominan dalam diri individu tersebut. Contoh yang dikemukakan disini ialah setiap orang berbeda pandangan terhadap kepentingan yang menjadi dasar dalam interaksinya dalam masyarakat. Kepentingan yang dominan ini menjadi latar belakang perilakunya. Seorang pemuka agama lebih mementingkan pemenuhan kepentingannya untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat untuk bekal dirinya serta mengerjakan amal sebanyak-banyaknya meskipun
  • 3. dalam kegiatan yang dilakukan bertentangan dengan kepentingan materilnya ( seperti tidak mengharapkan bayaran saat sedang mengajarkan ilmu agama (meskipun sedikit sekali pemuka agama yang punya pendirian seperti ini)), bahkan mengorbankan uangnya untuk berkunjung ke tempat-tempat ibadah, berwakaf, naik haji, menyantuni fakir miskin, shodakoh, zakat, dan lainnya. Kepentingan ideal dalam diri individu tersebut bersifat independen dan dominan yang berbeda dari motivasi terhadap materi. Kritik yang lain diluar argumantasi Weber adalah pandangan bahwa Marx tidak mempertimbangkan kedepan terhadap perkembangan akan inovasi-inovasi yang dilakukan oleh kapitalis yang dapat memperbesar kenaikan dalam kapasitas produksi yang terus menerus dihasilkan oleh industri. Kenaikan kapasitas ini dalam perusahaan yang sangat berkembang berimplikasi menciptakan standar upah yang lebih baik. Jadi ramalan bahwa buruh akan terus menerus tertekan rupanya tidak terjadi. Perbaikan- perbaikan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan situasi kerja yang kondusif yang dapat meningkatkan kinerja dan keselamatan buruh untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan berkembangnya tanggung jawab sosial perusahaan dalam ilmu manajemen rupanya tidak dipertimbangkan oleh Marx. Dan juga antisipasi para borjuis dalam melindungi faktor produksi dari kemungkinan bahaya laten seperti perusakan alat produksi dari pekerja yang tidak puas dengan situasi kerja dan upah yang sangat rendah juga kurang diperhatikan dalam analisisnya.

×