Sejarah Politik Islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Sejarah Politik Islam

  • 1,985 views
Uploaded on

Oleh Novi Hendra, S.IP

Oleh Novi Hendra, S.IP

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • @BEAKYLEE OK
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • blessing_11111@yahoo.com

    My name is Blessing
    i am a young lady with a kind and open heart,
    I enjoy my life,but life can't be complete if you don't have a person to share it
    with. blessing_11111@yahoo.com

    Hoping To Hear From You
    Yours Blessing
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • blessing_11111@yahoo.com

    My name is Blessing
    i am a young lady with a kind and open heart,
    I enjoy my life,but life can't be complete if you don't have a person to share it
    with. blessing_11111@yahoo.com

    Hoping To Hear From You
    Yours Blessing
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
1,985
On Slideshare
1,985
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
119
Comments
3
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. PendahuluanPeradaban Islam dan kebudayaan Yunani merupakan dua hal yang sangat sulit untukdipisahkan. Mungkin keimpulan seperti itulah yang muncul ketika penulis membacabuku seorang kristenArab, Jamil Shaliba yang berjudul al-Falsafah al-Arabiyyah. Pilar-pilar peradaban Islam yang berhasil melahirkan filsuf, dokter, astronom, ahli matematikahingga hukum berkelas dunia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jasa-jasa ilmuan yangberasal dari kebudayaan pra-Islam, seperti kebudayaan Yunani, Persia dan India.Berangkat dari tesis itu, penulis sepakat untuk mengatakan bahwa kebudayaan Yunanitelah memberikan andil yang sangat besar bagi bangunan peradaban Islam klasik. Agaruraian tulisan ini tidak melebar terlalu jauh, penulis akan mengerucutkan wilayahperadaban Islam pada bidang filsafat. Filsafat sebagai khazanah Islam telahmembuktikan diri sebagai lokomotif utama bagi gerakan pengetahuan yang kemudianmenjadi fondasi bagi peradaban Islam. Keterbukaan umat Islam terhadap khazanah klasikpra-Islam memberikan ruang bagi proses penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani,Persia dan India. Proses penerjemahan ini memiliki pengaruh pengaruh yang sangat besarbagi perkembangan pengetahuan dalam dunia Islam. Filsafat dalam hal ini menjadibidang yang cukup digandrungi oleh sebagian intelektual Islam pada masa itu.Lantas bagaimanakah proses penyebaran dan pembentukan filsafat dalam dunia Islam?Filsafat yang berasal dari kata Yunani, Philosophia, berarti cinta kebijaksanaan. Kata inikemudian diserap ke dalam bahasaArab menjadi al-falsafah, sementara orang yangmenggeluti bidang ini disebut al-falasifah (para filsuf). Filsafat Islam dalam hal ini adalahsebuah produk dari proses pemikiran yang dihasilkan oleh para sarjana muslim klasiksetelah mengalami persinggungan dengan kebudayaan Yunani. Karena, seperti yangsudah penulis sampaikan, kata filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani mulai dikenaloleh umat Islam setelah membaca buku-buku pemikir dari Yunani. Orang Islam pertamayang dikenal sebagai filsuf Islam pertama adalah Abu Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi (Wafatsekitar 257 H/ 870 M).
  • 2. Uraian tentang transmisi kebudayaan Yunani dalam peradaban Islam ini akan penulismulai dengan perkenalan umat Islam akan kebudayaan-kebudayaan besar pra-Islam yangada di beberapa wilayah kekuasaan umat Islam yang sedang meluas saat itu. Perkenalanyang didasari atas semangat Islam yang menganjurkan untuk mempelajari pengetahuandari siapa pun berlanjut pada proses penerjemahan besar-besaran selama kurang lebih duaabad, dari awal abad ketujuh hingga akhir abad kedelapan. Proses penerjemahan inimeliputi dari berbagai kebudayaan, khususnya dari Yunani kemudian Persia dan India.Selama kurang dari dua abad ini, yang terjadi adalah sebuah proses penerjemahan yangmelibatkan banyak intelektual Kristen Nestorian yang kebetulan mahir dalam beberapabahasa penting saat itu, Yunani, Suryani danArab. Baru setelah banyak buku-buku darikebudayaan non-Islam diterjemahkan ke dalam bahasaArab, mulailah bermunculanproduk-produk pemikiran yang disebut filsafat Islam.Pertautan Dengan Kebudayaan Pra-IslamSetelah Nabi Muhammad Saw. wafat pada 632 M, para shahabat berkumpul di MajlisBani Tsaqifah untuk memilih seorang khalifah (pengganti Nabi). Melalui sebuah proseskonsensus yang cukup panas dan menegangkan akhirnya muncul Abu Bakar al-Siddiqsebagai khalifah pertama umat Islam. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan olehUmar ibn Khattab. Pada masa Umar terjadi gelombang ekspansi untuk pertama kalinya.Tahun 635 M, kota Damaskus jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Tahun 641, Aleksandriamenyerah pada tentara Islam di bawah pimpinan ‘Amr Ibn al-‘Ash. Singkat kata, denganterjadinya gelombang ekspansi pertama ini, semenanjungArab, Palestina, Suria, Irak,Persia dan Mesir sudah masuk dalam wilayah kekuasaan Islam. Paska Umar,kekhalifahan dilanjutkan oleh Utsman ibn Affan, mantu Nabi Muhammad Saw. Namunkarena terjadi kecemburuan kekuasaan akibat dari sikap nepotisme Utsman,kekuasaannya diakhiri dengan pembunuhan terhadap dirinya. Kekhalifahan umat Islamsaat itu betul-betul mengalami ujian berat. Kemudian tampil Ali sebagai penggantiUtsman. Namun kepemimpinan Ali telah membuat kecewa kubu Utsman karena tidakberhasil mengusut kematian Utsman hingga tuntas. Kepemimpinan Ali ini menjadipuncak dari sistem kekhalifahan dalam sejarah Islam yang kemudian akhirnya digantikandengan sistem dinasti.
  • 3. Setelah terjadi perang saudara antara Ali dan Mu’awiyah yang menjadi gubernurDamaskus saat itu, konflik kekuasaan di tubuh kekhalifahan memuncak hingga akhirnyaAli pun dibunuh oleh kelompok yang berasal dari kubunya sendiri karena telah menerimatahkim (arbitrase) dari pihak Mu’awiyah. Pada 661 M, Mu’awiyah membangun dinastiBani Umayah dan dimulailah gelombang ekspansi yang kedua. Perluasan kekuasaan yangsudah dimulai sejak zaman Umar dilanjutkan kembali setelah beberapa lama banyakmengurusi masalah internal.Namun konflik internal kembali terjadi di lingkungan dinasti yang menyebabkankekuasaan Bani Umayah hanya berlangsung selama kurang lebih sembilanpuluh tahundan kemudian diambil alih oleh Bani ‘Abbasiyah (keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muttallib – Paman Nabi). Bani Abbasiyah diwarisi kekuasaan yang cukup luas, meliputiSpanyol, Afrika Utara, Suriah, SemenanjungArabia, Irak, sebagian dari Asia Kecil,Persia, Afganistan dan sebagian wilayah Asia Tengah. Di beberapa wilayah kekuasaanitu merupakan pusat kebudayaan besar seperti Yunani, Suryani, Persia dan India.Karenanya beberapa khalifah pada masa Bani Abbasiyah lebih memusatkan padapengembangan pengetahuan.Semangat agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, terekspresi pada masakekuasaan Bani ‘Abbasiyah, khususnya pada waktu khalifah al-Ma’mun (berkuasa sejak813-833 M). Penerjemahan buku-buku non-Arab ke dalam bahasaArab terjadi secarabesar-besaran dari awal abad kedua hingga akhir abad keempat hijriyah. Perpustakaanbesar Bait al-hikmah didirikan oleh khalifah al-Ma’mun di Baghdad yang kemudianmenjadi pusat penerjemahan dan intelektual. Sebuah perpustakaan yang sangat bagussekali yang tidak didapatkan contohnya di dalam kebudayaan Eropa Barat. Parapenerjemah yang pada umumnya adalah kamu Nasrani dan Yahudi bahkan penyembahbintang digaji dengan harga yang sangat tinggi.Buku-buku yang ditejemahkan terdiri dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa Yunani,Suryani, Persia, Ibrani, India, Qibti, Nibti dan Latin. Keberagaman sumber pengetahuandan kebudayaan inilah yang kemudian membentuk corak filsafat Islam selanjutnya. Danperlu dikui bahwa di antara banyak pengetahuan dan kebudayaan yang ditejemahkan ke
  • 4. dalam bahasaArab, karya-karya klasik Yunani adalah yang paling banyak menyitaperhatian. Khususnya karya-karya filsuf besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles.Beberapa karya dari kebudayaan Persia dan India hanya meliputi masalah-masalahastronomi, kedokteran dan sedikit tentang ajaran-ajaran agama. Seperti karya Al-Biruni(w. 1048), sejarahwan dan astronom muslim terkemuka, Tahqiq ma li Al-Hind minMaqulah (Kebenaran Ihwal Kepercayaan Rakyat India). Dalam tulisannya itu iamenguraikan kepercayaan fundamental orang-otang Hindu dan menyejajarkannya denganfilsafat Yunani. Atau terjemahan Ibn Al-Muqaffa’ (w. 759) yang berjudul Kalilah waDimnah (Fabel-fabel Tentang Guru) diterjemahkan dari bahasa Sanskerta yangmerupakan penegetahuan sastra Persia.Seperti yang dikatakan oleh Shaliba dalam bukunya, Al-falsafah Al-‘arabiyah,terbentuknya filsafat Islam terjadi dalam dua tahap. Pertama tahap penerjemahan dankedua tahap produksi pengetahuan atau pemikiran. Setelah melewati tahap penerjemahanmaka mulailah bermunculan filsuf-filsuf Islam yang mengambil jalur metode filsafatYunani seperti yang dimulai dari al-Kindi hingga Ibnu Khaldun. Menurut FazlurRahman, yang disebut filsafat Islam dalam hubungannya dengan filsafat Yunani harusdilihat dalam konteks hubungan “bentuk-materi.” Jadi filsafat Islam sebenarnya adalahadalah filsafat Yunani secara material namun diaktualkan dalam bentuk sistem yangbermerk Islam. Sehingga dengan demikian tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwafilsafat Islam hanya merupakan carbon copy dari filsafat Yunani atauHelenismeSementara Shaliba yang kurang lebih sependapat dengan pendapat Rahman, iamengatakan bahwa salah satu perbedaan filsafat Islam dengan Yunani ada pada maksuddan tujuannya. Menurutnya, tujuan dari filsafat Yunani adalah lebih dilatarbelakangi nilaiestetis sementara dalam filsafat Islam karena dorongan ajaran agama (Islam).Penerjemah dan Buku-buku Yang DiterjemahkanPerpustakaan Bait al-Hikmah yang didirikan oleh khalifah al-Ma’mun berisi parapenerjemah yang terdiri dari orang Yahudi, Kristen dan para penyembah Bintang. Diantara para penerjemah yang cukup terkenal dengan produk terjemahannya itu adalahYahya ibn al-Bitriq (wafat 200 H/ 815 M) yang banyak menerjemahkan buku-buku
  • 5. kedokteran pemikir Yunani, seperti Kitab al-hayawan (buku tentang makhluk hidup) danTimaeus karya Plato. Al-Hajjaj ibn Mathar yang hidup pada masa pemerintahan al-Ma’mun dan telah menerjemahkan buku Euklids ke dalam bahasaArab serta menafsirkanbuku al-Majisti karya Ptolemaeus. Abd al-Masih ibn Na’imah al-Himsi (wafat 220 H/835 M) yang menerjemahkan buku Sophistica karya Aristoteles. Yuhana ibn Masawaihseorang dokter pandai dari Jundisapur (Wafat 242 H/ 857 M) yang kemudian diangkatoleh khalifah al-Ma’mun sebagai kepala perpustakaan bait al-hikmah, banyakmenerjemahkan buku-buku kedokteran klasik.Seorang penerjemah yang sangat terkenal karena banyak terjemahan yang dilahirkannyaadalah Hunain ibn Ishaq al-Abadi yang merupakan seorang Kristen Nestorian (194-260H/ 810-873 M). Ia adalah seorang penerjemah yang dikumpulkan oleh Yuhana IbnMasawaih dan kemudian belajar ilmu kedokteran darinya. Ia menguasai beberapa bahasapenting saat itu karena memuat banyak kebudayaan besar, seperti bahasa Persia, Yunani,Yunani dan bahasaArab. Hasil terjemahan Hunain ini dihargai emas oleh khalifahsetimbang dengan berat buku yang diterjemahkannya. Buku-buku yang besar saat itu iaringkas sehingga dapat dibaca dengan mudah oleh orang yang menggelutinya. Di antarabuku yang ia terjemahkan ke dalam bahasaArab adalah buku Politicus, Timaues karyaPlato dan Etika serta fisika karya Aristoteles. Masih banyak penerjemah yang lain yangtelah menyumbangkan kemahiran dan penguasaan pengetahuan mereka bagi khazanahperpustakaan Bait al-Hikmah.Di antara buku-buku filsafat terpenting yang diterjemahkan ke dalam bahasaArab olehtim yang terdiri atas Hunain, Hubaisy sepupu Hunain dan Isa ibn Yahya murid Hunainadalah Analytica posteriora karya Aristoteles, Synopsis of the Ethics karya Galen sertaringkasan karya-karya Plato seperti Sophist, Permenides, Politicus, Republic dan Laws.Sementara karya-karya Aristoteles seperti Categories, Hermeneutica, Generation andCorruption, Nichomachean Ethics diarabkan oleh Ishaq ibn Hunain dari bahasa Suryani.Selain proses penerjemahan, masih cukup banyak juga buku-buku Yunani dan Suryaniyang ditafsirkan atau diringkas oleh para penerjemah yang kebetulan menguasaipengetahuan tentang isi buku tersebut.
  • 6. Namun demikian, proses penerjemahan yang terjadi secara besar-besaran ini tidaksemuanya berhasil mancapai hasil yang sukses sebagai sebuah terjemahan yang layak.Ada beberapa buku terjemahan yang bahkan menyulitkan pembaca untuk memahami isibuku. Di antara orang yang menderita akibat buruknys mutu sebuah terjemahan adalahIbnu Sina. Menurut Jamil Shaliba, Ibnu Sina pernah membaca buku terjemahanMetafisika Aristoteles sebanyak empat puluh kali, tetapi ia sama sekali tidak dapatmengerti maksud dari tulisan tersebut. Hal ini setidaknya dikarenakan dua hal, pertamakarena memang sulit dan begitu dalamnya tulisan Aristoteles tentang Metafisika dankedua karena kesulitan proses penerjemahannnya ke dalam bahasaArab. Buruknyabeberapa mutu terjemahan juga dikarenakan metode terjemahan yang terlalu harfiah daribahasa non-Arab ke dalam bahasaArab. Ibnu Abi Usbu’aih pernah mengkategorikantingkat mutu terjemahan ketika itu, yakni tingkat baik seperti terjemahan Hunain ibnIshaq dan anaknya Ishaq Ibn Hunain, tingkat sedang ada pada terjemahan Ibnu Na’imahdan Tsabit ibn Qurrah. Dan tingkat yang ketiga adalah buruk, seperti yang ada padaterjemahan Ibn al-Bitriq.Motivasi Gerakan PenerjemahanSetidaknya ada dua motivasi yang mendorong gerakan penerjemahan yang sudah dimulaisejak zaman Bani Umayah dan kemudian menemukan puncaknya pada dinasti Bani‘Abbasiyah. Pertama motovasi praktis dan kedua motivasi kultural. Pada motivasi yangpertama (ba’its ‘amali), ada kebutuhan pada bangsaArab saat itu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berasal dari luar Islam. Pengetahuan-pengetahuan tersebut secara praktis dapatmembantu meringankan urusan-urusan yang berkenaan dengan hajat hidup umat Islamketika itu. Yang dimaksud dengan pengetahuan-pengetahuan luar yang dibutuhkan olehumat Islam saat itu adalah seperti ilmu-ilmu Kimia, kedokteran, fisika, matematika, danfalak (astronomi). Ilmu-ilmu ini secara praktis memang langsung berhubungan denganhajat hidup umat Islam dalam menyelesaikan masalah-masalah seperti penentuan waktuShalat, hukum faraidl (pembagian harta waris), masalah kesehatan dan lain sebagainya.Motivasi yang kedua adalah motivasi kultural (ba’its tsaqafi). Ada kebutuhan padamasyarakat Islam untuk mempelajari kebudayaan-kebudayaan Persia, Yunani untuk
  • 7. menguatkan sistem hukum Islam dan menangkal aqidah yang datang dari luar Islam.Ketika terjadi gelombang kebudayaan luar dalam dunia Islam yang meliputi aqidah kaumMajusi (penyembah api) dan kaum Dahriah, kekhalifahan ‘Abbasiyah mengangap perlubagi kaum muslim untuk mempelajari ilmu-ilmu logika serta sistem berpikir rasionalislainnya untuk menangkal aqidah yang datang dari luar itu. Umat Islam dianjurkan untukmempelajari logika Aristoteles, agar dapat berdebat dengan keyakinan yang datang dariluar.Selain itu ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibn al-Nadim tentang motivasipenerjemahan buku-buku filsafat pada masa kekuasaan khalifah al-Ma’mun. Iamenceritakan bahwa pada suatu malam, khalifah al-Ma’mun bermimpi berjumpa denganseorang laki-laki yang memakai pakaian putih, jidatnya botak, alisnya menyambung danmata agak kebiru-biruan. Laki-laki ini duduk di atas singgasana khalifah al-Ma’mun.Kemudian khalifah al-Ma’mun bertanya kepada laki-laki itu, “siapa engkau?”. Laki-lakiitu menjawab “aku Aristoteles.” Dalam mimpi itu, khalifah al-Ma’mun merasa sangatsenang karena dapat bertemu dengan filsuf yang menjadi pujaannya. Kemudian al-Ma’mun bertanya kepada laki-laki yang mengaku sebagai Aristoteles, “wahai sang filsuf,aku ingin bertanya, apa itu ‘baik’?” Laki-laki itu menjawab: “baik itu adalah apa yangbaik menurut akal.” “Kemudian apa lagi wahai sang filsuf ?”, khalifah bertanya lagi. “apayang baik menurut syari’at” laki-laki itu menjawab lagi. “Kemudian apa lagi wahai sangfilsuf?” khalifah bertanya lagi. “Apa yang baik menurut kebanyakan (jumhur)” laki-lakiitu menjawab, dan tidak ada setelah itu.Sepintas lalu mungkin kita akan menyimpulkan bahwa mimpi khalifah al-Ma’mun ituhanya sekedar bagian dari kembang tidur semata. Namun Ibn al-Nadim, dalam bukunyaal-Fihrist, sangat meyakini bahwa mimpi itu menjadi motivator yang cukup kuat bagi al-Ma’mun untuk menggerakkan penerjemahan pada masa kekuasaannya. Sampai-sampai iamengirim surat kepada raja Romawi untuk meminta izinnya agar buku-buku yang ada dikerajaan Romawi dapat diterjemahkan oleh para penerjemah yang ada di perpustakaanBait al-Hikmah. Namun dalam catatan yang lain, gerakan penerjemahan itu buka semata-mata karena mimpi yang dialami oleh sang khalifah, melainkan lebih dikarenakan darihasil renungan atas mimpi itu bahwa proses penerjemahan yang ia lakukan itu baik dari
  • 8. perspektif nalar maupun syariat. Selain itu mungkin saja terjadinya mimpi itu jugadikarenakan oleh kecenderungan sang khalifah pada mazhab mu’tazilah.Di balik gencarnya penerjemahan buku-buku Yunani yang dilakukan oleh umat Islampada masa itu, ada sebuah bidang yang tidak terlalu diminati, yakni bidang sastra, sepertikarya Homerus. Mengapa? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Di antaranya adalahkarena adanya keyakinan dalam masyarakatArab bahwa sastraArab bersifat selfsufficient, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan buku-buku sastra yang adadalam bahasa Yunani. Selain itu sastra juga tidak memberikan pengaruh apa pun tehadapproses penguatan aqidah umat Islam. Namun argumentasi ini tidak terlalu kuat karenapada sisi yang lain umat Islam cukup gemar menerjemahkan buku-buku sastra yangberasal dari kebudayaan Persia dan India yang kebetulan beragama Majusi dan Dahriah.Sehingga muncul alasan yang lain bahwa tidak adanya minat umat Islam untukmenerjemahkan karya sastra Yunani lebih dikarenakan tidak cocoknya karya sastraYunani bagi masyarakatArab bila dibandingkan dengan karya sastra dari Persia danIndia. Sehingga dengan demikian, alasan tidak berkembangnya penerjemahan sastraYunani tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja.Pengaruh Karya-karya TerjemahanProses penerjemahan yang berlangsung selama kurang lebih dua abad telah menjadiberkah yang besar bagi umat Islam saat itu. Hal ini dapat dipahami karena prosespenerjemahan ini menjadi mediator dalam dialog antara kebudayaan pengetahuan pra-Islam dengan umat Islam yang sedang haus ilmu. Khazanah kebudayaan besar yangmeliputi Yunani, Persia dan India sedang mengalami kesepian di negerinya sendiri, didunia Islam, karya-karya tersebut mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa. Sampai-sampai seorang khalifah mau membayar sebuah buku yang sudah diterjemahkan dengannilai emas seberat buku tersebut. Selain itu, motivasi ini juga dilatarbelakangi olehkeyakinan umat Islam saat itu bahwa peradaban hanya dapat dibangun dengan ilmupengetahuan yang kuat. Dan dalam melakukan proses itu, Islam yang baru saja berdiritidak dapat melakukan tugas itu sendirian, melainkan harus dibantu dengan khazanahkebudayaan besar yang ada sebelumnya.
  • 9. Pengaruh dari proses penerjemahan ini dapat kita lihat pada perkembangan duniakedokteran, astronomi, matematika, hukum (qiyas dalam ilmu fiqih), politik dan filsafatitu sendiri. Dalam kedokteran, kita mengenal Ibnu Sina, politik pada al-Farabi,matematika pada al-Biruni, astronomi pada Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, sejarahperadaban pada Ibnu Khaldun dan masih banyak lagi para sarjana muslim klasik yangtelah menorehkan tinta emasnya bagi peradaban Islam karena bersentuhan dengan karya-karya kebudayaan pra-Islam yang sudah diterjemahkan. Dalam proses penerjemahan itujuga terjadi penyerapan bahasa Yunani yang kemudian menjadi bahasaArab. Seperti kataal-falsafah, al-musiqy, al-kimya, al-jigrafiyah dan lainnyaPerpaduan antara semangat umat Islam dengan kebudayaan pra-Islam melahirkan sebuahsintesa yang tidak sederhana. Sintesa yang dihasilkan bukan hanya sekedar penjiplakanpengetahuan sebelumnya yang kemudian diberi label Islam karena telah diterjemahkan kedalam bahasaArab. Lebih dari itu, sintesa ini juga meliputi proses reproduksi yang giatdilakukan oleh para ilmuan muslim. Karya-karya filsafat yang diterjemahkan dari bahasaYunani tidak berhenti hanya pada hasil terjemahan namun telah merangsang paraintelektual muslim untuk mengomentari atau sekedar memberikan sebuah penafsiran ataskarya-karya filsuf Yunani itu.Warna kebudayaan ilmiah pra-Islam yang dominan pada pandangan dunia umat Islamdapat kita lihat dalam bentuk corak berpikir rasional atau dalam metode historis yangdikembangkan oleh para periwayat hadits. Dalam teks-teks yang ditulis pada masa itu,cukup banyak metode atau tradisi filosofis yang tersaji dalam kajian-kajian ilmu alam.Terutama pada kajian-kajian yang mendasarkan diri pada matematika. Hukum qiyas atauanalogi adalah salah satu pengaruh logika yang dapat kita lihat dalam wilayah fikih.Pengaruh-pengaruh ini menjadi inheren dalam kebudayaan Islam sehingga dalam prosessejarah yang panjang kadang kita sulit untuk membedakan mana yang mempengaruhi danyang dipengaruhi.
  • 10. Beberapa Aliran Filsafat Dalam IslamCukup sulit untuk mengklasifikasikan kecenderungan filsafat Islam dalam satu aliranyang rigid. Sebagai contoh, paham Neoplatonisme yang berkembang di kalangan filsufIslam dianggap sebagai titik temu ajaran Plato dan Aristoteles. Padahal, pada saat ini kitamengetahui bahwa dua filsuf ini memiliki jalan yang berbeda dengan Neoplatonismeyang dimaksud. Buku yang dianggap sebagai karya Aristoteles saat itu adalah Theology.Namun belakangan diketahui bahwa buku tersebut adalah karya tambahan dari Enneads-nya Plotinus. Karenanya akan lebih aman bila kita mengatakan bahwa ada banyak corakNeoplatonisme dari pada hanya ada satu corak Neoplatonisme. Hal serupa jugadinyatakan oleh cak Nur dalam bukunya, Islam Doktrin dan Peradaban, bahwa pahamNeoplatonisme yang sampai dan berkembang di kalangan filsuf Islam sudah tercampurdengan penafsiran Aristotelianisme. Sementara ajaran Aristoteles yang dipelajari olehpara filsuf Islam sebenarnya sudah bukan ajaran Aristoteles yang murni melainkanajaran-ajaran dari para penafsir Aristoteles. Sehingga dengan demikian bukan Aristotelessendiri yang berpengaruh dalam filsafat Islam melainkan AristotelianismeUntuk meneropong beberapa kecenderungan aliran dalam filsafat Islam, penulismenyajikan dua aliran yang menjadi kecenderungan sebagian besar filsuf Islam, yaknialiran Peripatetik dan aliran Iluminasi. Pada umumnya gaya berfilsafat peripatetikmenjadi kecenderungan para filsuf Islam yang berada di wilayah barat seperti Andalusia.Sementara pada aliran Iluminasi, mereka yang mencoba memadukan filsafat Yunanidengan kebijaksanaan timur (oriental wisdom), pada umumnya berdiam di wilayahbagian timur seperti Persia dan Suriah.PeripatetismeFilsafat peripatetik dapat kita lihat pada gejala Aristotelianisme. Para filsuf Islam yangmasuk dalam kategori filsuf peripatetik diantaranya adalah Ibnu Bajjah (wafat 533 H/1138 M), Ibnu Tufail (wafat 581 H/ 1185 M) dan Ibnu Rushd (520-595 H/1126-1198 M).Abad ke-11 menjadi saksi atas munculnya sejumlah ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar ilmiah yang genuine. Puncak dari perjalanan ini ada pada kelahiran kembali
  • 11. Aristotelianisme. Peripatetik yang dalam bahasaArab dikenal dengan nama al-Masyai’yyah berarti orang yang berjalan diambil dari kebiasaan Aristoteles yang selaluberjalan-jalan dalam mengajar.Untuk melihat corak filsafat peripatetik, ada baiknya bila kita melihat beberapa filsufyang berasal dari wilayah barat ini sekilas. Ibnu Bajjah yang dikenal Avempace dalambahasa latin telah menempatkan diri sebagai filsuf yang berdiri pada tradisi Neoplatonik-Peripatetik yang diperkenalkan oleh al-Farabi. Bagi Ibnu Bajjah, al-Farabi adalah satu-satunya guru logika, politik dan metafisika yang berasal dari wilayah timur. TampaknyaIbnu Bajjah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan filsuf wilayah timur yang satuini. Hal ini dapat kita lihat juga pada karya Ibnu Bajjah yang berjudul Tadbir al-Mutawahhid yang mendasarkan pada pemikiran al-Farabi dengan cukup kental.Kedekatannya dengan al-Farabi yang dikenal sebagai guru kedua dalam filsafat di managuru pertamanya adalah Aristoteles telah memberi warna tersendiri bagi metode filsafatIbnu Bajjah.Salah satu pemikiran Ibnu Bajjah adalah tentang empat tipe mahluk spiritual. Tipepertama adalah bentuk-bentuk dari benda-benda langit (forms of the heavenly bodies)yang sama sekali bersifat imateriil. Ibnu Bajjah menyamakan tipe ini dengan akal-akalterpisah (separate intelligences) yang dalam kosmologi Aristotelian dan Islam diyakinisebagai penggerak benda-benda langit. Tipe kedua adalah akal capaian (mustafad) atauakal aktif yang juga bersifat immateriil. Tipe ketiga adalah bentuk-bentuk materiil yangdiabstraksikan dari materi. Sedangkan tipe yang keempat adalah representasi-representasiyang tersimpan dalam tiga daya jiwa: sensus communis, imajinasi dan memori. Sepertibentuk-bentuk materiil, bentuk-bentuk ini juga dinaikkan ke tingkat spiritual melaluifungsi abstraktif yang terdapat pada jiwa manusia. Puncak dari fungsi abstraktif ini ialahpemikiran rasional.Tokoh filsafat perpatetik lainnya adalah Ibnu Tufail yang lahir di Wadi ‘Asy dekatGranada. Salah satu karya yang cukup terkenal dari Ibnu Tufail adalah sebuah romanyang berjudul Hayy ibn Yaqzhan. Judul karya ini memang sama dengan dengan karyayang telah dibuat sebelumnya oleh Ibnu Sina. Dalam buku ini, Ibnu Tufail menekankan
  • 12. kebijaksanaan timur yang dapat diidentifikasikan sebagai tasawuf yang saat itu banyakditolak oleh banyak filsuf, termasuk Ibnu Bajjah. Melalui karyanya ini, Ibnu Tufailmengaku dapat memecahkan pertentangan yang timbul antara filsafat dan agama atauakal dan iman. Dua hal yang bertentangan ini dapat diumpamakan sebagai kebenaraninternal dan kebenaran eksternal yang pada prinsipnya sama-sama kebenaran. Namun duamacam kebenaran ini tidak bisa digeneralisasikan untuk siapa saja tanpa melihatkecerdasan yang dimiliki oleh orang bersangkutan. Karena kebenaran filsafat hanya dapatdicapai oleh orang-orang khusus yang memiliki kecerdasan yang tinggi maka ia tidakbisa diberikan begitu saja kepada orang awam. Sementara kebenaran agama yang melaluikitab suci Alquran yang menggunakan bahasa inderawi dan makna-makna harfiah akandapat dengan mudah difahami oleh orang pada umumnya (awam).Ibnu Rushd merupakan tokoh puncak dalam aliran filsafat peripatetik. Karenaperkembangan filsafat paska Ibnu Rushd sudah mengambil jalan yang lain, yakniIluminasi. Ia lahir pada 1126 M di Kordoba dan mempelajari banyak bidang, mulaibahasaArab, fikih, kalam hingga kedokteran. Seorang khalifah pernah memerintahkannyauntuk menjelaskan karya-karya Aristoteles karena sangat sulit untuk dipahami. IbnuRushd menulis komentar secara komprenhensif mengenai karya-karya Aristoteles kecualipolitics. Karya Aristoteles, Physics, Metaphysics, De Anima, De Coelo dan Analyticaposteriora dikomentari oleh Ibnu Rushd dalam tiga versi, “komentar lengkap”, “komentarsedang” dan “komentar singkat.” Karya-karya Ibnu Rushd yang lebih orisinal dapat kitabaca pada polemiknya dengan Imam al-Ghazali tentang kesesatan para filsuf padaTahafut al-Tahafut (kerancuan dari buku Tahafut karya al-Ghazali). Atau pada Fashl al-Maqal dan al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah yang menyerang teologi al-Asy’ary danmenjelaskan hubungan filsafat dan agama yang sangat hangat pada saat ituDalam perdebantannya dengan para teolog mengenai penciptaan, Ibnu Rushd banyakdiinspirasikan oleh pandangn Aristoteles. Menurut Ibnu Rushd, ‘penciptaan’ merupakantindakan menggabungkan materi dengan bentuk atau teraktualisasinya potensi menjadiaktus. Jadi penciptaan bukanlah sesuatu yang berasal dari ketiadaan (creatio ex nixilo).Pandangan Ibnu Rushd yang ia petik dari buah pikiran Aristoteles ini berimplikasi padaproses tergabungnya bentuk dengan materi. Tuhan dalam hal ini menjadi pencipta unsur-
  • 13. unsur dari gabungan itu sendiri, yang tak lain adalah alam semesta. Pengabungan inidapat berlangsung secara terus-menerus atau sekaligus. Bagi Ibnu Rushd, hanyapenciptaan yang terus-menerus (ihdats da’im), seperti yang ia katakan dalam Tahafut al-Tahafut yang layak bagi penciptaan alam.IlluminasionismeFilsafat iluminasi yang dalam bahasa Arab disebut dengan Hikmat al-Isyraq dapat kitaikuti jejaknya mulai dari al-Maqtul Syihab al-Din al-Suhrawardi. Ia lahir di Aleppo,Suriah pada 1154 dan dihukum mati oleh Shaladin pada 1191 atas tuduhan kafir sepertiyang diklaim oleh para teolog dan fuqaha. Dalam banyak risalah, al-Suhrawardimenyatakan bahwa pendapat-pendapatnya sesuai dengan metode peripatetikkonvensional yang ia sebut sebagai metode diskursif yang baik. Namun metode tersebuttidak lagi memadai bagi mereka yang berusaha mencari Tuhan atau bagi yang inginmemadukan metode diskursif dengan pengalaman batin sekaligus. Menurut al-Suhrawardi, agar dapat melakukan tugas ini, seseorang dapat mengambil jalur filsafatiluminasi atau Hikmat al-Isyraq.Inti dari ajaran hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi adalah tentang sifat dan pembiasancahaya. Cahaya ini, menurutnya, tidak dapat didefinisikan karena merupakan realitasyang paling nyata dan yang menampakkan segala sesuatu. Cahaya ini juga merupakansubstansi yang masuk ke dalam komposisi semua substansi yang lain. Segala sesuatuselain “Cahaya Murni” adalah zat yang membutuhkan penyangga atau sebagai substansigelap. Objek-objek materil yang mampu menerima cahaya dan kegelapan sekaligusdisebut barzakh.Dalam hubungannya dengan objek-objek yang berada di bawahnya, cahaya memiliki duabentuk, yakni cahaya yang terang pada dirinya dan cahaya yang menerangi yang lain.Cahaya yang terakhir ini merupakan penyebab tampaknya segala sesuatu yang tidak bisatidak beremanasi darinya. Di puncak urutan wujud terdapat cahaya-cahaya murni yangmembentuk anak tangga menaik. Pada bagian tertinggi dari urutan anak tangga inidisebut Cahaya di atas Cahaya yang menjadi sumber eksistensi semua cahaya yang ada di
  • 14. bawahnya, baik yang bersifat murni maupun campuran. Oleh al-Suhrawardi cahaya inijuga disebut Cahaya Mandiri, Cahaya Suci atau Wajib al-Wujud.Filsuf yang juga banyak diinspirasikan oleh Hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi namunkemudian memodifikasinya ajaran tersebut sedemikian rupa sehinga menjadi ilm al-huduri (knowledge by presence) adalah Mulla Shadra. Mulla Shadra lahir di Syiraz,Persia pada tahun 1572 dan belajar pada guru-guru Isyraqi yang pada saat itu sedangmenggejala di dalam tradisi filsafat Persia. Karya yang menjadi magnum opus MullaShadra adalah Hikmat al-Muta’aliyah (hikmat transendental) yang lebih dikenal denganal-asfar al-arba’ah (empat perjalanan). Empat perjalanan yang dimaksud oleh MullaShadra dikemukakan dalam al-asfar al-arba’ah sebagai berikut: pertama perjalanan darimakhluk menuju Tuhan, kedua perjalanan menuju Tuhan melalui bimbingan Tuhan,ketiga perjalanan dari Tuhan menuju makhluk melalui bimbingan Tuhan, dan yangkeempat adalah perjalanan di dalam makhluk melalui bimbingan Tuhan.Salah satu pemikiran Mulla Shadra yang sampai kini masih fenomenal dalam tradisifilsafat di Persia (baca: Iran - saat ini) adalah tentang ‘ilm al-huduri atau knowledge bypresence. Ilmu ini biasanya dipertentangkan dengan knowledge by representation (‘ilmal-husuli). Menurut Mulla Shadra perbedaan antara ‘ilm al-huduri dengan ‘ilm al-Husuliada pada hubungan antara subjek penahu dengan objek yang diketahui. Dalam ‘ilm al-husuli (knowledge by representation), hubungan antara subjek dengan objek jelasterpisah sehingga ada konsep dualisme di dalamnya. Sementara pada ‘ilm al-huduri(knowledge by presence) dualisme itu hilang. Yang ada adalah kesatuan antara subjekpenahu dan objek yang diketahui. Salah seorang pakar ‘ilm al-huduri kontemporer,Mehdi Ha’iri Yazdi menulis sebuah buku khusus tentang ‘ilm al-huduri dalam ThePrisnciple of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence.PenutupSeperti yang telah penulis utarakan di muka, gelombang kebudayaan pra-Islam tidaklahdapat dipisahkan dari perkembangan peradaban Islam klasik yang banyak disebut olehsejarahwan muslim sebagai masa-masa kejayaan Islam atau golden age. Proses
  • 15. penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India hanya salah satu pintudialog antar peradaban, sementara tanpa proses reproduksi, penerjemahan hanya menjaditumpukan karya yang sudah dialihbahasakan belaka. Karenanya, dukungan penguasa saatitu dan dengan gairah keilmuan umat Islam yang luar biasa menjadikan gelombangkebudayaan ini tidak sia-sia. Segala upaya, baik materil maupun semangat juang yangtelah ditorehkan dalam bentuk maha karya telah menjadi pilar-pilar peradaban Islam yangsangat menentukan.Bila peradaban Islam klasik banyak ditopang oleh kebudayaan sebelumnya, hal yangsama juga dialami oleh bangsa Barat pada abad kelimabelas. Semangat kelahiran kembali(renaissans) yang dikobarkan oleh masyarakat Eropa Barat tidak bisa dilepaskan dariperan ilmuwan muslim yang telah menularkan semangat pengetahuan pada masayarakatEropa saat itu. Khusus dalam bidang filsafat, Jamil Shaliba pernah memberikancatatannya atas pengaruh pemikir Islam di dunia Barat (Eropa). Menurutnya pengaruhperadaban Islam klasik bagi peradaban Barat Modern masih lebih besar dibandingkandengan pengaruh peradaban Yunani bagi peradaban Islam klasik. Pada saat ini, setelahterjadi kebangkitan di dunia Islam, umat kembali harus banyak belajar dari para pemikirbarat yang sudah jauh meninggalkan dunia Islam.Sejarah Singkat Kaum Syi’ahIde tentang hak Ali beserta anak keturunannya atas jabatan Khalifah atau Imam telah adasejak saat wafatnya Nabi. Dalam pertemuan di Tsaqifah Bani Saidah, yang berlangsungbegitu Nabi wafat sudah ada usul bahwa yang diinginkan untuk menjadi khalifah atauimam adalah dari kalangan Ahlul Bait.Riwayat lain menceritakan, bersamaan waktunya dengan pertemuan di Tsaqifah BaniSaidah itu berlangsung pula rapat di rumah Fatimah binti Rasulullah yang dipimpin Alidan dihadiri oleh seluruh keluarga Bani Hasyim. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan,Abbas paman Nabi telah mendesak ali untuk meminta kepastian Nabi siapa yang akanditunjuk menjadi pengganti beliau. Ali menolak permintaan Abbas itu, karena beliaukhawatir Nabi menunjuk orang lain, sehingga tertutup kemungkinan baginya untuk
  • 16. menjadi khalifah. Apalagi Ali sendiri tidak yakin, sakit Nabi itu akan menyebabkankewafatannya.Jadi pada saat wafatnya Nabi, masyarakat muslim Madinah terpecah kepada tigakelompok : 1. Bani Hasyim, termasuk Ali yang menghendaki hak legitimasi itu untuk mereka (ahlul bait). 2. Muhajirin, yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar dan menghendaki hak kekhilafahan itu untuk kelompok Muhajirin. 3. Ansor, yang dipimpin oleh Ubadah ibn Shamit dan menginginkan jabatan khalifah itu untuk golongan mereka.Pemikiran ketiga kelompok tersebut dalam masalah kepemimpinan negara akhirnyadikembangkan oleh tiga golongan, Syi’ah mengembangkan pemikiran kelompokpertama, Sunni mengembangkan ide kelompok kedua dan ide kelompok ketigadikembangkan oleh Khawarij.