Model Komunikasi Politik

  • 1,876 views
Uploaded on

 

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,876
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
50
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUANI.1 Latar Belakang Model adalah representasi suatu fonomena, baik nyata maupun abstrak, dengan menonjolkan unsure-unsur terpenting fonomena tersebut. Dan sebagai alat untuk menjelaskan fonomena komunikasi, modal mempermudah penjelasan tersebut.hanya saja monel tersebut sekaligus mereduksi fonomena komunikasi:artinya ada nuansa komunikasi lain yang mungkin terabaikan dan tidak terjelaskan oleh model tersebut. Menurut sereno dan mortense, model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Modal komunikasi merepresentasikan secara abstrak cirri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan menurut B. Aubrey dan Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsure, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori. Dengan kata lain, model adalah teori yang lebih disederhanakan. Seperti yang dikatakan Werner G. Severin dan James W, Tankard, GR model membantu merumuskan teori dan menyarankan hubungan, oleh karena itu hubungan antara model dan teori sangan erat. Model sering dicampuradukkan dengan teori. Suatu model mengimplikasikan teori mengenai fenomena yang di teorikan. Model dapat berfungsi sebagai basis bagi teori yang lebih kompleks, alat untuk menjelaskan teori dan menyarankan cara-cara untuk memperbaiki konsep-konsep. Kita dapat menggunakan kata-kata, angka, symbol, dan gambar untuk melukiskan model suatu objek, teori dan proses. Apa fungsi suatu model member teoretikus suatu struktur untuk menguji temuan mereka dalam dunia nyata. Gordon wiseman dan larry barker mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyai tiga fungsi: 1. Melukiskan proses komunikasi
  • 2. 2. Menunjukan hubungan visual 3. Membantu dalam menemukan dalam memperbaikan kemacetan komunikasi Deutsch menyebutkan bahwa model mempunyai empat fungsi, yang mengorganisasikan kemiripan data dan hubungan yang terjadi tidak teramati yang sesua dengan fakta-faktadan metode baru yang tidak di ketahui. Irwin D. J. Bross menyebutkan beberapa keuntungan model. Model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah, bila model awal tidak berhasil memprediksi. Model mungkin menyarankan kesenjangan informasional yang tidak segera tampak dan konsekuensinya dapat menyarankan tindakan yang berhasil. Keuntungan lain pembuatan model, menurut bross adalah terbukanya problem abstraksi. Dunia nyata adalah lingkungan yang sangat rumit. Mengunakan pendapat Raymond S. ross, model memberi anda penglihatan yang lain, berbeda, dan lebih dekat dan menyediakan rangkaian informasional.I.2 Perumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sekaligus sebagai perumusan masalah, sebagai berikut: 1. Apa sajakah model – model komunikasi yang diterapkan dalam berpolitik dan relevan saat ini?I.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian Dengan memahami rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui model – model komunikasi yang relevan yang diterapkan dalam berpolitik saat ini.
  • 3. BAB II PEMBAHASANII.1 Model – model komunikasi yang diterapkan dalam berpolitik 4. Model interaksional Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwansosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik , dengan tokoh utamanya George Herbert Mead yang salah seorang muridnya adalah Herbert Blumer. Perspektif interaksi simbolik lebih dikenal dalam sosiologi, meskipun pengaruhnya juga menembus disiplin – disiplin lain seperti sosiologi, ilmu komunikasi, dan bahkan antropologi. Model interaksional sebenarnya sangat sulit untuk digambarkan dalam model diagramatik, karena karakternya yang kualitatif, non sistematik, non linier. Model verbal lebih sesuai untuk melikiskan model ini. Model transaksional tidak mengklasifikasikan fenomena komunikasi menjadi berbagai unsure atau fase seperti yang dijelaskan dalam model – model komunikasi yang ;linier atau mekanistik. Komunikasi digambarkan sebagai pembentukan makna (penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain) Oleh peserta komunikasi ( komunikator). Beberapa konsep penting yang digunakan adalah : diri ( self), diri yang lain( other), symbol, makna, penafsiran dan tindakan. Menurut model interaksi simbolik, orang – orang sebagai peserta komunikasi bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, manampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif , perilaku ini ditentukan oleh kekuatan – kekuatan atau struktur di luar dirinya. Dalam konteks ini Blumer mengemukakan tiga premis yang menjadi dasar model ini:
  • 4. • Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya.• Makna berhubungan langsung dengan interaksi social dengan lingkungan sosialnya.• Makna diciptakan, dipertahankan, dan diubah lewat proses yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena individu terus berubah, masyarakatpun berubah melalui interaksi. Jadiinteraksilah yang dianggap variable penting yang menentukan perilaku manusia, bukanstruktur masyarakt. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang – orang yangmengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi social, tepatnya melaluipengambilan peran orang lain . Diri ( self ) berkembang lewat interaksi dengan orang lain,dimulai dengan lingkungan terdekatnya seperti keluarga dalam suatu tahap yang disebuttahap permainan dan terus berlanjut hingga ke lingkungan luas dalam suatu tahap yangdisebut tahap pertandingan. Dalam interaksi itu individu selalu melihat dirinya melaluiperspektif ( peran) orang lain. Model komunikasi ini dapat kita lihat dalam kasus: Dalam masa- masa kampanye 2009/2014 yang terselenggara, dimana para calonlegislatif melakukan berbagai bentuk interaksi dengan masyarakat luas untukmensosialisasikan diri mereka. Hal ini dapat kita saksikan berbagai macam aksi, sepertimenyantuni masyarakat miskin, berperan sebagai badut agar memberikan kesan yangmenarik dan akrab dengan masyarakat, berdiskusi langsung dengan masyarakat, bahkanberusaha melakukan apa yang menjadi profesi bagi beberapa masyarakat dan pemasanganbaliho / foto-foto besar dijalanan dan tempat-tempat umum. Hal seperti itulah adalah bentukinteraksi yang dilakukan oleh para calon legislatif untuk bisa mempengaruhi masyarakatluas terhadap pilihan mereka. Dan interaksi ini, merupakan interaksi yang simbolik, kreatif,reflektif, dan aktif serta penuh makna yang terselubung.
  • 5. Aristoteles Model komunikasi ini dapat kita lihat dalam kasus Demonstrasi: Dimana dalam melakukan aksi ini, yang terlibat adalah para aktivis dan politikus. Merekamengikut sertakan masa dengan semangat dan berbagai emosional, dan argument. Dengan aksitersebut mereka berusaha mempengaruhi khalayak dan sasaran aksi mereka dengan persuasipidato yang berapi-api di tengah –tengah masyarakat. Hal ini merupakan salah satu bentukkomunikasi yang yang sangat relevann di Indonesia dan Negara lainnya. Dimana untukmengkomunikasikan pesan mereka, para actor menggunakan persuasi pidato untuk yang penuhsemangat, emosional, dan argument untuk bisa mempengaruhi dan mengajak khalayak unutkikut terlibat dengan aksi dan tujuan yang ingin mereka capai. Lasswell Model komunikasi ini dapat kita lihat dalam kasus sosialisasi politik: Dimana dalam kasus ini, yang bisa dianalisis sehingga merupakan salah satu bentuk komunikasi Lasswell adalah bahwa dalam mensosialisasikan perpolitikan Indonesia khususnya hal tentang pemilihan umum/ cara memilih atau yang lebih dikenal sekarang adalah “mencontreng” para calon legislative. Yang menjadi variable siapa” who” yang berkomunikasi disini adalah para politikus, para actor politik dan institusi terkait. Dimana agar, masyrakat sebagai orang yang dituju “ to whom” mereka memperkenalkan para calon legislative, partai mana yang mengangkatnya, dalam urutan mana, dan apa atributnya, serta bagaimana memilih mereka agar pilihan jatuh pada meraka yang merupakan apa yang disampaikan “ says what”, para actor politik ini melakukan h al tersebut melalui berbagai media sebagai “ in which channel” seperti media massa ( koran, majalah, pamphlet, stiker, foto-foto dll), media alektronik ( TV, radio, internet, dsb) bahkan melibatkan orang lain untuk menyampaikan sosialisasi tersebut. Dengan tujuan masyarakat dapat menentukan pilihan, dan memilih caleg yang mereka inginkan, dan mampu melakukan pemilihan secara benar sebagai tujuan yang merupakan “with what effect” dalam komunikasi menurut Lasswell ini.
  • 6. Gudikant Model komunikasi ini dapat kita lihat dalam contoh: Indonesia merupakan sebuah Negara yang plural, memiliki berbagai macam ras danbudaya. Tapi salah satu yang menggambarkan bangsa inidonesia baik dalam perpolitikan, socialbudaya dan aspek lainnya, bangsa Indonesia dicirikan oleh budaya dan norma yang kuat.Khususnya Indonesia memiliki batik, cara hidup dan berpakaian “ yang lebih dominanmenggunakan peci “ dalam berbagai bentuk acara formal dan non forma. Diamana contoh kecilini, merupakan contoh yang memiliki pengaruh besar bagi bangsa Indonesia. Dan karena contohbudaya inilah, perpolitikan Indonesia juga terdorong dalam hubungan antar Negara dan antarbudaya, serta antar actor politik. Melalui contoh tersebut, mencermikan bahwa bangsa Indonesiamerupakan bangsa yang sopan dan beragama yang kuat dengan peci , dan bangsa yangberkharisma dengan batiknya. Sehingga merupakan salah satu daya tarik bangsa Indonesiamampu berhubungan dan menjalin kerja sama dengan Negara dan actor politk lainnya.
  • 7. DAFTAR PUSTAKA Herry Bahrizal Tanjung dan Zaiyardam Zubir, Profil Anggota KonsorsiumPengembangan Masyarakat Madani ( KPMM) dalam Konteks MembangunTransparansi dan Akuntabilitas Publik. Padang. 2002.hlm. 73-83. DR.Afrizal,MA. Sosiologi Konflik Agraria: Protes – protes agraria dalamMasyarakat Indonesian Kontemporer. Andalas University Press. Padang. 2006. Hlm.64-65. Oleh Novi Hendra S.IP ex-Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas Padang (novi_hendra24@yahoo.co.id)