Manajemen Perencanaan

18,926 views
18,558 views

Published on

Oleh Novi Hendra, S. IP

Published in: Education
0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
18,926
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
350
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Manajemen Perencanaan

  1. 1. PAPER Azas-azas manajemen MANAJEMEN PERENCANAAN Oleh : 1. Novi Hendra (06193058) 2. Fredy Lazarus (06193040) 3. Nanda Kurniawan (06193052) 4. M. Fajar Assyari (06193080) 5. Abdi Purwandi (06193019) JURUSAN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2009
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Dalam sebuah negara, perusahan, atau organisasi mempunyai berbagai macam program untuk melaksanakan tujuan-tujuannya, baik tujuan jangka panjang, jangka menegah ataupun jangka pendek. Untuk mewujudkannya maka diperlukan berbagai macam strategi agar program-program yang ditetapkan berjalan dengan lancar. Program- program tersebut diawali dengan sebuah perencanaan. Perencanaan mengenai apa-apa metode, cara, dan strategi yang hendak dilakukan. Hal ini dikarenakan perencanaan merupakan hal pokok dalam melaksanakan sebuah tujuan. Dengan perencanaan yang matang maka akan didapatkan hasil yang sangat baik, begitupun sebaliknya apabila perencanaan tidak tersusuk secara matang, maka hasil yang diharapkan tidak mencapai target yang ditentukan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan target sebuah progran hendaknya memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukan yang semuanya itu dapat terangkum dalam sebuah perencanaan. Dengan demikian, kualitas seorang maneger dalam mengelola organisasi, perusahaaan, atau bahkan negara ditentukan bagaimana ia menyusun sebuah perencanaan. Hal ini dikarenakan seorang manager adalah orang yang bertanggung jawab atas perusahaan, organisasi, dengan program yang ia tetapkan. Dengan kualitas seorang manager yang memiliki perencanaan yang matang, tentunya setiap fungsi yang ada dalam sebuah perusahaan, organisasi, atau pun negara akan berjalan dengan semestinya dan menghasilkan sebuah tujuan bersama sesuai yang ditargetkan dan yang diharapkan. Melihat pada uraian di atas dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah hal mutlak yang harus dilakukan dalam menjalankan sebuah program. Perencanaan yang baik akan berjalan dengan hasil yang baik begitupun sebaliknya. Hasil yang didapatkan tersebut berjalan sesuai dengan bagaimana melaksanakan sebuah fungsi manajemen perencanaan.
  3. 3. I. 2. Rumusan Masalah a. Menjelaskan pengertian dari perencanaan b. Menjelaskan bagaimana perencanaan yang baik dan efektif beserta hambatannya c. Menjelaskan bagaimana kriteria penilaian yang efektif perencanaan I.3. Tujuan Penulisan Penulisan paper ini bertujuan untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Azas-azas Manajemen, selain itu penulisan ini bertujuan untuk : 1. Secara ilmiah, penulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau referensi tambahan bagi peneliti lain yang akan meneliti terkait dengan permasalahan dalam penulisan ini. 2. Secara praktis, hasil penulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan bagi penulis atau pembaca tentang permasalahan dalam penulisan ini. I.4. Kajian Literatur/Kajian Pustaka Perencanaan dapat dikatakan hal penting menentukan kualitas sebuah perusahaanan, karena dari perencanaanlah berbagai macam program atau kegiatan dilakukan. Tanpa sebuah perencanaan akan nihil jika sebuah kegiatan atau program dapat dilakukan, karena perencanaan posisinya adanya sebagai letak awal dari tujuan perusahaan seperti yang dikatakan oleh Stephen Robbins dan Mary Coulter. Disini juga harus adanya teori-teori yang dipakai ataupun konsep-konsep untuk sebuah perencanaan dapat melaui pendekatan yang digunakan untuk mencapai: a. Pendekatan tradisional. Pendekatan tradisional merupakan pendekatan yang memandang pada sejarah historis sebuah perusahaan atau organisasi, atau lebih banyak dikatakan pendekatan yang
  4. 4. sering digunakan pada masa lampau. Pada pendekatan ini, manajer puncak memberikan tujuan-tujuan umum, yang kemudian diturunkan oleh bawahannya menjadi sub-tujuan (subgoals) yang lebih terperinci. Bawahannya itu kemudian menurunkannya lagi kepada anak buahnya, dan terus hingga mencapai tingkat paling bawah. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa manajer puncak adalah orang yang tahu segalanya karena mereka telah melihat gambaran besar perusahaan. Kesulitan utama terjadi pada proses penerjemahan perencananaan sebagai tujuan atasan oleh bawahan. Seringkali, atasan memberikan sasaran yang cakupannya terlalu luas seperti "tingkatkan kinerja," "naikkan profit," atau "kembangkan perusahaan," sehingga bawahan kesulitan menerjemahkan sasaran ini dan akhirnya salah mengintepretasi maksud sasaran itu. b. Pendekatan management by objective Pendekatan ini merupakan cara baru yang ditempuh sebuah perusahaan atau organisasi, dimana keberadaan pendekatan ini memanfaatkan segala kemungkinan yang ada untuk mencapai tujuan. Pada pendekatan ini, sasaran dan tujuan organisasi tidak ditentukan oleh manajer puncak saja, tetapi juga oleh karyawan. Manajer dan karyawan bersama-sama membuat tujuan-tujuan yang ingin mereka capai. Dalam pendekatan ini karyawan akan merasa dihargai sehingga produktivitas mereka akan meningkat. Namun ada beberapa kelemahan dalam pendekatan MBO, anatara lain adanya negosiasi dan pembuatan keputusan yang membutuhkan banyak waktu, sehingga kurang cocok bila diterapkan pada lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Adanya kecenderungan karyawan untuk bekerja memenuhi tujuannya tanpa mempedulikan rekan sekerjanya, sehingga kerjasama tim berkurang. Perencanaan yang matang juga harus memakai teori koordinasi, artinya koordinasi diajdikan sebagai proses pemaduan tujuan dan kegiatan unit-unit yang terpisah dari departemen atau bidang-bidang fungsional dalam suatu perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan secara efesien. Tanpa koordinasi, orang-orang atau departemen akan kehilangan pandangan tentang peranan mereka dalam perusahaan. Dan jika demikian halnya, maka mereka mungkin akan mulai mengejar kepentingan mereka sendiri, yang akan mengorbankan tujuan perusahaan secara keseluruhan.
  5. 5. I.5. Metode dan Cara Mendapatkan Data Penulisan tentang manajemen perencanaan ini sumber datanya didapatkan dengan cara studi pustaka yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber tertulis seperti dari buku, internet, dan literatur yang berhubungan dengan permasalahan penulisan ini. Penulisan ini dapat dikatakan sebagai penulisan kualitatif karena dalam pengambilan data tidak menggunakan kuesionar dan tidak memakai angka-angka sebagai olahan data. Pengolahan data dilakukan dengan mengambil atau merangkum bagian terpenting yang berhubungan dengan permasalahan penulisan serta disajikan dalam bentuk sebuah paper
  6. 6. BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN A. DEFINISI DAN PENGERTIAN PERENCANAAN Perencanaan dalam sebuah perusahaan dan oprganisasi merupakan hal penting yang harus dilakukan agar program-program tersebut dapat menunjang terlaksananya tujuan dari perusahaan atau organisasi yang tentunya ditentukan bagaimana cara seorang manager menyusun sebuah perencanaan tersebut. Seperti halyang yang dikatakan oleh Stephen Robins dan Mary Coulter perencanaan adalah sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi. Menurut Robbins dab Coulter perencanaan tersebut ada dua macam bentuknya yaitu : a. Rencana formal adalah rencana tertulis yang telah ditetapkan dan harus dilaksanakan suatu perusahaan atau organisasi dalam jangka waktu tertentu dan merupakan rencana bersama anggota korporasi. Maksunya setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu agar tujuan dapat diwujudkan. Rencana formal ini dibentuk untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan untuk tujuan bersama sebuah organisasi atau perusahaan. b. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Rencana informal ini biasanya mencakup pada kemampuan anggota dalam hubungannya dengan seorang manager. Maksudnya tidak tertulis disini adalah rencana yang tidak ada dalam ADRT sebuah perusahaan atau organisasi, rencana ini bersifat tidak tetap hanya berada pada kondisi tertentu saja.
  7. 7. Pada sebuah rencana formal atau rencana bersama tentunya memiliki tujuan tertentu agar mengikat anggota untuk tetap berada pada komitmen menjalankan sebuah tugas bersama. Oleh karena itu perencanaan tersebut memiliki tujuan seperti yang dikemukakan lagi oleh Robbins dan Coulter yaitu : a. Pengarahan Pada Manager dan Anggota atau Karyawannya Melalui sebuah perencanaan, anggota sebuah organisasi atau karyawan sebuah perusahaan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Perencanaan menghasilkan usaha yang terkoordinasi, dimana dengan sebuah perencanaan seorang manager dengan sendirinya akan bekerja sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan termasuk dalam mengarahkan anggotanya dalam target yang ditentukan. Sehingga anggota dan karyawan bekerja sesuai arah koordinasi seorang manager yang tidak terlepas dari perencanaan awal. Karyawan dan anggota pun akan melakukan apaupun untuk mencapai sasaran program. b. Pengurangan Ketidakpastian Perencanaan yang dibuat dapat mengurangi ketidakpastian dengan mendorong seorang manajer untuk melihat arah kedepan. Artinya seorang manager dapat mengantisipasi perubahan, mempertimbangkan dampak perubahan, dan menyusun tanggapan yang tepat terhadap perubahan tersebut. Perencanaan juga dapat menjelaskan akibat dari berbagai tindakan yang mungkin dilakukan oleh manajer dalam rangka menanggapi perubahan. Meskipun perencanaan tidak dapat menghapuskan perubahan, merencanakan supaya dapat mengantisipasi perubahan dan membuat tanggapan yang paling efektif dan tepat. c. Peminimalisiran Pemborosan. Perencanaan yang terarah dan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan maka anggota atau karyawan akan bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Perencanaan juga dapat mengurangi kegiatan-kegiatan yang tumpang tindih dan sia-sia.
  8. 8. Jika berbagi kegiatan kerja dikoordinasikan perencana yang mapan, pemborosan waktu dan sumber daya serta berbagai kegiatan rangkap dapat diminimalkan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakefesiensian dalam perusahaan. d. Penetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya Perencanaan juga bertujuan agar dalam menentukan standar pada tahap selanjutnya berjalan dengan baik, karena melaui perencanaan yang matang secara tidak langsung akan ditemukan proses pengontrolan dan pengevaluasian yang matang pula. Perencanaan digunakan sebagai sasaran atau standar untuk mengendalikan. Apabila kita tidak pasti mengenai apa yang ingin kita capai, kita tidak akan mengetahui apakah kita sudah benar-benar mencapainya atau belum. Dalam perencanaan, kita menyusun sasaran dan rencana itu. Kemudian melalui fungsi pengendalian, kita memperbandingkan kinerja aktual terhadap sasaran tersebut, mengindentifikasi setiap penyimpangan yang besar, dan mengambil tindakan koreksi yang perlu. Tanpa perencanaan tidak akan ada cara untuk mengendalikan. B. PERENCANAAN YANG BAIK DAN EFEKTIF Perencanaan yang baik dan efektif akan berjalan baik dan baik atau tidaknya menurut George R Terry dapat diketahui melalui pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai perencanaan, yaitu 5W+1H : 1. What (apa), Membicarakan masalah tentang apa yang menjadi tujuan sebuah perencanaan dan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan perencanaan tersebut. 2. Why (mengapa), Membicarakan masalah mengapa tujuan tersebut harus dicapai dengan mengapa beragam kegiatan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut 3. Where (dimana), Membicarakan masalah dimana program dalam perencanaan tersebut dilaksanakan 4. When (kapan),
  9. 9. Membicarakan masalah kapan kegiatan tersebut akan dilaksanakan dan diakhiri. 5. Who (siapa), Membicarakan masalah siapa yang akan melaksanakan program tersebut. 6. HOW (bagaimana). Membicarakan masalah bagaimana cara melaksanakan program yang direncanakan tersebut. Dengan melakukan kategori di atas, maka seorang manager akan mudah dalam melaksanakan program atau kegiatan yang direncanakannya. Hal ini dikarenakan, metode yang dilakukannya terpola secara baik dan berkesinambungan yang melibatkan berbagai macam objek penunjang pelaksanaan program atau kegiatan. Perencanaan yanf Efektif mencakup dua hal penting: 1. Penentuan Tujuan Tujuan merupakan hasil utama yang diinginkan sebuah perusahaan atau organisasi, baik itu dalam bentuk apapun seperti tujuan perusahaan atau organisasi (visi dan misi), tujuan program, atau tujuan berjangka. Tujuan dijadikan arah bagi semua keputusan manajemen dan membentuk kriteria yang digunakan untuk mengukur hasil pencapaian kerja. Jika tidak mengetahui apa target atau hasil yang inginkan, maka tidak akan bisa menetapkan rencana untuk mencapainya. Untuk menetukan sebuah tujuan maka tujuan tgersebut harus diklasifikasikan agar tidak terjadi percampuran tujuan yang tidak sesuai dengan program yang tel;ah direncanakan. Tujuan tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tujuan yang dinyatakan (stated goals) dan tujuan riil. Stated goals merupakan tujuan yang dinyatakan organisasi kepada masyarakat luas. tujuan seperti ini dapat dilihat di piagam perusahaan, laporan tahunan, pengumuman humas, atau pernyataan publik yang dibuat oleh manajemen. Seringkali stated goals ini bertentangan dengan kenyataan yang ada dan dibuat hanya untuk memenuhi tuntutan stakeholder perusahaan. Sedangkan tujuan riil adalah sasaran yang benar-benar dinginkan oleh perusahaan yang hanya dapat diketahui
  10. 10. dari tindakan-tindakan organisasi beserta anggota atau karyawan sebuah perusahaan atau organisasi. 2. Penentuan Rencana Untuk menentukan sebuah rencana yang baik dan efektif, maka diperlukan sebuah penentuan rencana yang merupakan hal pokok sebuah perusahaan atau organisasi. Hal ini dikarenakan rencana adalah dokumen yang merangkum cara mencapai sasaran dan biasanya menggambarkan alokasi sumber daya, penyusunan jadwal, dan tindakan lain yang diperlukan untuk mencapai sasaran itu. Ketika para manajer merencana, mereka membuat sasaran dan sekaligus rencana. Efisiensi rencana diukur berdasarkan jumlah kontribusinya kepada maksud dan sasaran setelah biaya ditutupi dan berdasarkan konsekuensi lainnya yang tidak dicari, yang diperlukan untuk memformulasi dan mengoperasikannya. Adapun jenis-jenis rencana menurut menurut Stoner dan Wenkel adalah rencana strategis (strategic plan) dan rencana operasional (operational plan). Rencana strategis merupakan rencana yang ditentukan untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih luas yang memuat visi dan misi organisasi atau perusahaan. Sedangkan rencana operasional adalah rencana yang berfungsi sebagai pelaksanaan dari rencana strategis. rencana operasional juga merupakan rencana sekali pakai (single use plan); dikembangkan untuk mencapai tujuan khusus dan dibubarkan bila rencana ini telah selesai dilaksanakan, dan juga termasuk rencana tetap (standing plan); untuk menangani keadaan yang selalu berulang-ulang dan dapat diperkirakan seperti legitimasi, undang-undang sebagai sebuah peraturan dan prosedur-prosedur lainnya. Perencanaan yang efektif dan baik memiliki langkah-langkah sebagai berikut 1. Menyadari adanya perluang. Artinya, kesadaran akan suatu kesempatan merupakan titik awal yang sebenarnya dari perencanaan. Hal itu meliputi suatu pandangan pendahuluan terhadap kemungkinan adanya peluang-peluang di hari depan dan kemampuan untuk melihatnya dengan jelas dan lengkap, suatu pengetahuan tentang dimana kita berdiri pada sudut kekuatan dan kelemahan kita, suatu pengertian tentang
  11. 11. mengapa kita ingin memecahkan ketidakpastian, dan suatu visi tentang apa yang menurut harapan kita akan kita dapatkan. 2. Menentukan tujuan. Artinya, tujuan-tujuan yang menentukan hasil-hasil yang diharapkan menggambarkan hal-hal akhir yang harus dilakukan, dimana penekanan penting harus ditempatkan, dan apa yang harus dicapai oleh jaringan strategi, kebijakan, prosedur, peraturan, anggaran dan program-program. 3. Menentukan Premis. Artinya, Premis adalah asumi-asumi perencanaan. Dengan kata lain, lingkungan yang diharapkan dari rencana-rencana yang sedang dilaksanakan. Apabila premis perencanaan yang konsekuen makin dipahami oleh perencana, maka akan semakin terkoordinasilah perencanaan perusahaan itu. 4. Menentukan arah tindakan alternatif. Artinya, langkah keempat di dalam perencanaan adalah mencari dan memeriksa arah-arah alternatif dalam tindakan, khususnya yang tidak nampak dengan segera. 5. Mengevaluasi arah tindakan alternatif. Artinya, dalam langkah ini, tindakan dan kegiatan yang telah dilakukan perlu dilakukan evaluasi kekurangan dari tindakan alternative yang diambil dan dirasa menghambat atau menggangu jalannya kegiatan tujuannya agar tidak terjadi kesalahan para tahap-tahap selanjutnya dari kegiatan tersebut 6. Memilih satu arah tindakan, artinya langkah yang terakhir dari perencanaan ini merupakan langkah yang paling menentukan untuk melanjutkan pada proses pelaksanaan. Dilain hal, sebeuh perencanaan yang baik dan efektif haruslah memiliki criteria- kriteria sebagai berikut : 1. Logis dan Rasional. Artinya, apa yang dirumuskan dapat diterima oleh akal, dan oleh sebab itu maka perencanaan tersebut bisa dijalankan. 2. Komprehensif. Perencanaan yang baik juga harus memenuhi syarat komprehensif. Artinya menyeluruh dan mengakomodasi aspek-aspek yang terkait langsung terhadap perusahaan. Perencanaan yang baik tidak hanya terkait dengan bagian yang harus kita jalankan, tetai juga dengan mempertimbangkan koordinasi dan integrasi dengan bagian lain di perusahaan.
  12. 12. 3. Fleksibel. Artinya, perencanaan yang baik diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan dimasa yang akan datang, tapi bukan berarti perencanaan itu dapat diubah seenaknya. 4. Komitmen. Perencanaan yang baik harus merupakan dan melahirkan komitmen terhadap seluruh anggota organisasi untuk bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen dapat dibangun dalam sebuah perusahaan jika seluruh anggota di perusahaan beranggapan bahwa perencanaan yang dirumuskan telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi. 5. Realistis, perencanaan yang baik perlu memenuhi persyaratan realistis. Artinya, apa yang dirumuskan oleh perusahaan sesuai dengan fakta dan wajar untuk dicapai dalam kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan. Hambatan Perencanaan Yang Efektif Dan Baik a. Seorang manajer bertindak otoriter Manajer disini, tidak memikirkan kebutuhan karyawan hanya megutamakan aturan yang mengikat karyawan dalam membuat perencanaan b. Kurangnya koordinasi Kurangnya koordinasi antara atasan dengan bawahan sehingga menyebabkan perncanaan kurang terarah c. Kurangnya sumber daya manusia Sumber daya manusia dalam kategori jumlah dan keterampilan d. Kurangnya sumber daya modal e. Karyawan atau anggota lebih memikirkan kebutuhan pribadi f. Penyusunan rencana yang lamban seringkali membuat fungsi-fungsi dari setiap bagian perusahan tidak berjalan dengan smestinya. C. KRITERIA PENILAIAN YANG BAIK PERENCANAAN Perencanaan yang baik dapat dinilai jika adanya : 1. Perencanaan disusun sesuai dengan tujuan perusahaan 2. Tepat sasaran
  13. 13. 3. Manager menjalankan fungsinya sebagai seorang coordinator 4. Anggota atau karyawan berada dalam satu koordinasi 5. Anggota atau karyawan menjalankan fungsinya sesuai dengan perencanaan program 6. Adanya peningkatan kualitas kerja karyawan atau anggota 7. Perencanaan berhasil membuat sebuah pelaksanaan 8. Adanya pembagian sub-sub koordinasi untuk menjalankan sebuah program 9. Adanya kesepahaman antara manager dengan karyawan atau anggotanya dalam membuat sebuah perencanaan Dengan kriteria-kriteria tersebut seorang manager akan dapat melakukan dan melaksanakan dari perencanaan yang telah disusun, dan menjadi patokan bagi perusahaan, organisasi, kelompok, atau individu lain sebagai penilaian yang baik terhadap perusahaan atau organisasi dalam menyusun sebuah perencanaan
  14. 14. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Perencanaan adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam menjalankan sebuah program atau kegiatan karena pada perencanaan terdapat banyak unsur-unsur yang menjadi tujuan-tujuan perusahaan. Unsur-unsur tersebut dilakukan dengan berbagai macam cara seorang menager dalam menyusun sebuah perencanaan agar terciptanya perencanaan yang baik dan efektian sehingga dapat dijadikan sebagai penilaian yang baik terhadap perencanaan oleh perusahaan atau organisasi itu sendiri atau pihak lain. Dengan demikian, kualitas seorang maneger dalam mengelola organisasi, perusahaaan, atau bahkan negara ditentukan bagaimana ia menyusun sebuah perencanaan. Hal ini dikarenakan seorang manager adalah orang yang bertanggung jawab atas perusahaan, organisasi, dengan program yang ia tetapkan. Dengan kualitas seorang manager yang memiliki perencanaan yang matang, tentunya setiap fungsi yang ada dalam sebuah perusahaan, organisasi, atau pun negara akan berjalan dengan semestinya dan menghasilkan sebuah tujuan bersama sesuai yang ditargetkan dan yang diharapkan. B. SARAN Sebaiknya pada sebuah perencanaan seorang manager haruslah : 1. Melihat target kedepan yang menjadi tujuan dari perusahaan atau organisasi 2. Melihat akan kebutuhan karyawan 3. Menjadikan dirinya sebagai koordinator terhadap pelaksanaan perencanaan 4. Seharusnya karyawan menjalakan fungsinya masing-masing agar tujuan perusahaan atau organisasi dalam perencanaan yang telah disusun tercapai sesuai kebutuhan.
  15. 15. DAFTAR PUSTAKA James A.F Stoner. Manajemen Eisi Kedua, jilid I. Erlangga, Jakarta. 1996 www.wikipedia.com. Perencanaan, diakses tanggal 30 Oktober 2009 Stephen P Robbins & Mary Coulter, Manajemen, Jakarta, Indeks Group Garamedia. 2004 Susmitro, Andi. 2007. Manajemen perencanaan. Jakarta. www.wikepedia.com diakses tanggal 01 November 2009

×