Toga i'm coming

230 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
230
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Toga i'm coming

  1. 1. TOGA I’AM COMINGKARYA : HENI HANDAYANIToga, itulah benda yang selama ini aku impikan. Dialah yangmenjadi penyemangatku untuk bangun pagi, untuk melangkahkan kaki kekampusku tercinta. Rasanya memang bukan aku saja yangmenginginkannya. Setiap orang yang menempuh pendidikan di bangkukuliahpun aku yakin memiliki tujuan yang sama sepertiku. Namun, yangmembedakan mereka denganku adalah perjuangan dalam mencapai itusemua. Perjuanganku memang tak semulus teman-temanku. Memangbanyak orang yang mengalami nasib sepertiku. Bagi orang sepertiku, kuliahmemerlukan suatu perjuangan besar. Masih teringat jelas betapa besarnyaperjuanganku untuk masuk di perguruan tinggi negeri. Aku bangunsebelum ayam berkokok untuk mandi dan bergegas menuju ibukota propinsiuntuk menempuh ujian masuk. Tak hany aku yang merasakan perjuanganitu, kedua orang tuaku pun merasakan hhal yang sama. Bahkan ayahkurela tak tidur semalaman hanya karena ingin mengantarkanku seleksi. Jikamengingat itu semua sering kali air mataku tak terbendung lagi. Ini semuatak berarti bagiku jika aku berasal dari keluarga mampu. Namun,kenyataannya tak demikian. Aku tidak dibesarkan dari keluarga yangberharta melimpah. Aku tak pernah menyesali keadaanku sekarang. Aku takingin menyalahkan takdir. Lagi pula aku masih sangat bersyukurmempunyai keluarga yang selalu mendukungku, termasuk saat akuterpuruk sekalipun. Saat aku tak diterima di universitas tersebut, hatikubegitu sakit. Aku memang kecewa dengan hasil seleksi tersebut. Namun,yang lebih menyesakkan hati bukanlah demikian. Aku lebih sakit karenaaku merasa telah mengecewakan orang tuaku. Aku merasa telahmengancurkan impian mereka. Di saat seperti itu mereka adalah orang yang
  2. 2. senantiasa menemaniku. Bahkan, kekasihkupun tega meninggalkanku saatitu. Dia lebih memilih untuk mendekati anak seorang koramil. Aku sadarbahwa aku tak pantas di sejajarkan dengan gadis itu. Sejak saat itu akumenjadi lebih berhati-hati dengan pria. Aku takut sakit hati, tapi aku lebihtakut jika aku mengecewakan orang tuasku untuk yang ke sekian kali.Oleh karena itu, aku akkan menunda untuk berhubungan dengan seorangpria dulu. Setelah aku dapast membahagiakan orang tuaku, barulah akuakan mencoba membuka hati.Setelah tak diterima sebagai salah satu mahasiswa di universitasnegeri tersebut, aku sempat putus asa untuk kuliah. Akupun tak beranimeminta kepada orang tuaku untuk membiayaiku kuliah. Jadi sejakijazahku keluar, ku putuskan untuk mencoba mencari pekerjaan. Akumengurus segala kelengkapan melamar tanpa sepengetahuan orang tuaku.Aku tak ingin membuat mereka iba terhadapku. Aku tak ingin merekakhawatir padaku. Baru setelah aku mendapat pekerjaan, aku akanmengatakan hal ini pada mereka. Bahkan ketika harus bolak balik ke kantorkecamatan untuk membuat KTP, aku beralasan pada mereka kalau aku keSMA untuk cap tiga jari. Mereka percaya dengan alasanku itu. Ya memangmasuk akal alasan yang ku katakana karena memang letak SMAku dankantor kecamatan bersebelahan. Setelah semua kelengkapan terselesaikan, kulayangkan surat lamaranku ke berbagai perusahaan yang ku tahu dariKoran. Beberapa hari kemudian, aku menerima surat balasan untukwawancara. Sialnya, yang menerima surat itu adalah ibuku. Seketika itubeliau marah dan menangis sambil memelukku. Aku tak kuat melihat ibumenangis. Apalagi karena kesalahanku. Setelah kejadian itu, beliaumenelpon bapakku yang tengah bekerja di Jakarta. Mereka mendiskusikanuntuk menguliahkanku. Dan keputusannya, mereka akan memasukkanku
  3. 3. ke salah satu universitas swasta yang letaknya tak jauh dari tempattinggalku.Kini pendidikanku di bangku kuliah telah berjalan hampir tigatahun. Kini aku telah menjadi mahasiswa semester lima jurusan pendidikanbahasa Inggris. Tinggal menunggu setahun lebih aku akan diwisuda. Tapi,rasanya waktu berjalan begitu lama. Itu mungkin hanya perasaanku saja.Barangkali ini disebabkan karena banyaknya tugas yang selalu menungguuntuk ku selesaikan. Sempat aku lelah dengan ini semua. Tapi, raut wajahorang tuakulah yang mampu menghapus lelahku. Perjalananku di kasmpusini memang tak seindah yang ku kira. Aku sadar bahwa aku memang takberhak menikmati keindahan itu saat ini. Semua itu karena aku bukan darikeluarga mampu. Aku memang tak pernah membedakan untuk bergauldengan siapapun. Tapi mereka ? Apakah mereka akan menerimaku dengantangan terbuka melihat kondisi keluargaku yang demikian ? Aku takyakin mereka dapat bersikap demikian. Tapi memang inilah yang terjadipadaku. Di kelas aku tergolong mahasiswa yang tak banyak bicara. Bukankarena tak ingin bersosialisasi, melainkan karena aku tak tahu apa yangharus aku bicarakan dengan mereka. Mereka asyik dengan pembicaraanmasing-masing. Ada yang berbincang tentang gadget, fashion, tempesthiburan, dan segala hal yang tak bisa aku pahami. Namun, aku masih patutbersyukur karena mereka tak membenciku. Kadang ada dua orang temankuyang mau mendekatiku. Bahkan tak jarang salah satu dari merekamengajakku berjalan-jalan. Mereka berasal dari keluarga mampu. Hanyadengan mereka aku tak segan untuk bersikap dan berperilaku sebagaimanaaku yang sebenarnya. Awalnya memang sempat aku minder dengankeadaanku yang jauh berbeda dengan mereka. Namun, sikap mereka yangbegitu hangat padaku, meruntuhkan prasangka burukku itu. Mereka
  4. 4. bernama Imah dan Naya. Aku begitu nyaman bergaul dengan merekaberdua.Keharmonisan itu makin lama ku rasa makin memudar. Tapi, akumencoba menepis itu semua. Mungkin itu hanya pikiranku saja. Tapikenyataannya mereka jarang mengajakku bicara. Awalnya akku tak tahualasannya. Namun,lama kelamaan akupun sadar. Itulah satu-satunyapenyebab yang membuat mereka bersikap demikian. Akupun takmenyalahkan mereka. Tiada yang patut aku salahkan karena tak ada yangsalah atas keadaan demikian. Namun, yang begitu mengiris hatiku adalahbahwa setiap pagi aku harus membohongi orang tuaku. Ketika merekabertanya mengenai hubunganku dengan teman-teman, ku bilang merekasangat baik padaku. Dan di kampus aku mempunyai banyak teman.Hampir dapat dapast ku pastikan bahwa air mataku akan mengalir derassetelah menutup pembicaraan dengan orang tuaku. Semua ini aku lakukanagar mereka tak merasa khawatir dengan keadaanku.Aku semakin tak mengerti dengan sikap kawanku itu. Pagi ini akuberencana pulang kampung. Aku sudah sangat rindu dengan ibu danadikku. Seperti biasa, aku minta bantuan Naya untuk mengantarku sampaiterminal yang memang terletak di dekat rumahnya.“Nay, nanti aku bisa bareng kamu pulang nggak ?” Tanyaku“Ya.” Jawabnya singkat.Sebenarnya dengan jawaban yang demikian, aku merasa agaktersinggung. Namun, apalah dayaku. Aku tak punya cukup kekuatanuntuk mengungkapkan kekesalanku. Sampai di akhir perkuliahan, akusegera mengikutinya ke parkiran untuk mengambil motor. Sesampainyadisana, ia tak segeras menghampiri motornya. Ia justru asyik bercanda
  5. 5. dengan temanku yang lain. Akupun ikut duduk disampingnya dengan tasransel yang masih bergelantung di punggungku. Melihatku mengenakantas yang tak biasa ku pakai, Mita, temanku yang lainpun bertanya.“Mau kemana kamu Sin ? Kok kayakmasu naik gunung aja sih.” tanyanyasetengash mengejek, diikuti gelak tawa teman yang lain.“Ini mau pulang kampung, Mit.” Jawabku dengan tersenyum.“Terus ngapain disini ?” Tanyanya lagi.“Ini nungguin Naya. Aku mau bareng dia.” Jawabku masih dengan senyummengembang.“Sebenarnya sih bareng aku juga bisa Sin. Tapi kamu nggak punya helmsih. Jadi ya nggak mungkin bisa. Makanya cari helm dulu, nanti baru bolehbareng aku.” Katanya ketus.“Bener tuh Sin. Kamu cari helm dulu biar bisa bareng dia. Kan jadi lebih irit.Uangmu kan mepet to ?” sambung Naya.“kan biasanya nggak usah pake, nggak apa-apa Nay.” Balasku.“kamu itu dibilangin kok susah banget sih. Kamu nggak punya uang kan.Jadi biar lebih irit kan kamu bareng aja Mita. Jadi biar bisa bareng, kamuharus cari helm dulu.” Kata Naya dengan nada membentak.Aku merasa tak punya harga diri di depan mereka. Hatiku merasateriris. Hampir saja air mataku menetes jika tak segera ku tahan. Akhirnyaku putuskan untuk naik angkutan saja agar tak merepotkan mereka. Ya,aku memang telah salah meminta bantuan pada orang yang tak bersediamenolongku.
  6. 6. “Maaf, aku memang takpunya helm. Jadi, sebaiknya aku pulang naikangkutan aja.” Kataku sembari menahan air mata.“Ya udah. Dibilangin nggak percaya. Nggak punya uang aja kebanyakangaya.” Kata Naya.Ya, memang benar kata Naya bahwa aku memang tak punya banyakuang. Tapi aku punya harga diri dan tak seorangpun dapat menginjak-injaknya. Akhirnya aku kembali ke kosku untuk menunggu angkutan didepannya. Hatiku begitu sakit. Aku merasa telah dipermalukan. Memangbenar yang mereka katakan. Aku tak seberuntung mereka. Aku bukanberasal dari keluarga mampu. Tapi, aku mempunyai keluarga yang jauhlebih berharga dari apapun, keluarga yang setia menemani danmendukungku kapanpun aku butuh. Aku duduk sendiri di depan kosku.Seperti biasa, untuk menunggu angkutan yang mengantarku pulangkampung memang sangat sulit. Jadi di butuhkan kesabaran untukmenunggunya. Di sela-sela penantian itu, tak sadar air hangat menetes dipipiku. Itu adalah air mataku. Ternyata aku tak kuasa lagi memendamkesedihanku. Akhirnya tangisku tak terbendung lagi. Perkataan merekamasih saja menggema di lubuk hatiku. Bahkan di sepanjangperjalanankupun kata-kata itu masih terukir jelas dan sepertinya sulitterhapuskan.Dua hari aku berada di rumah sepertinya belum cukup untukmengobati rasa rinduku pada keluargaku. Namun, waktu yang membuatkuharus kembali ke kampus untuk melanjutkan perkuliahan. Senin fajar akutelah sampai di terminal daerahku untuk menunggu bus yang akanmengantarkanku ke kota tempat kampusku berada. Perjalanan dari rumahke kampus memakan waktu sekitar dua jam.
  7. 7. Akhirnya aku tiba di kosku juga. Hari itu aku punya jadwal kuliahpagi. Jadi, tanpa berlama-lama lagi segera kuganti pakaianku denganseragam wajib fakultasku. Setiap kali aku mengenakannya, terbesit rasabangga dalam hatiku. Dari perasaan itulah aku terpacu untuk meraih apayang memang seharusnya aku raih. Ya, aku ingin menjadi guru. Itulahyang aku impikan sejak aku masih duduk di bangku SD. Seusaisemuanya siap, akupun bergegas ke kampus. Entah mengapa, tiba-tiba sajadadaku terasa sesak. Seperti ada yang menyesak di saluran pernapasanku.Kakiku terasa berat melangkah menuju ruang kelas. Aku mulai mengertidengan perasaanku kini. Ya, rasa sakit itu masih ada. Begitu sakit.Awalnya aku tak kuasa memasuki ruangan itu. Namun, aku juga takseharusnya berada di luar kelas. Akhirnya kuputuskan untuk memaksakakiku melangkah ke dalam ruangan itu. Kulihat telah ada Naya danganknya duduk manis disana. Aku tak kuasa melihat kea rah mereka. Akutak tahu mereka masih ingat kejadian dua hari yang lalu atau tidak. Tapi,aku tak mau air mataku menetes ketika melihat mereka. Dan benar sajamereka tak menyapaku. Jangankan menyapa, melihat kehadirankupunmungkin tidak. Rasa sakit itu begitu menyesakkan dada. Sempat rasanyanapasku terhenti ketika rasa sakit itu muncul. Aku merasa tak berhargalagi. Tapi, segera ku tepis semua pandangan itu. Aku tak bolehmengecewakan orang tuaku. Aku harus dapat membanggakan mereka.Satu tahun berlalu,kini aku semester tujuh. Langkahku untuk segeramengenakan toga semakin dekat. Kini aku tengah PPL di salah satu SMPNegeri di Kudus. Tanpa sepengetahuan teman-temanku, aku telahmengajukan judul skripsi. PPL berlangsung tiga bulan. Setelah itu, akudisibukkan dengan KKN. Setelah KKNlah aku baru bisa mengerjakanskripsiku. Aku memilih untuk observasi di SMPku dulu. Sungguhberuntungnya aku, pihak sekolah menyambutku dengan baik sehingga aku
  8. 8. tak butuh waktu lama untuk observasi. Selang beberapa bulan, akupun telahdapat mendaftarkan diri untuk mengikuti sidang skripsi.Suasana ruangan siang itu kurasa begitu horror. Bulu kudukkumerinding dan tubuhku di basahi oleh cucuran keringat dingin. Tapi, iniharus aku lalui. Dengan menyebut nama Allah, kumulai presentasi sidingskripsiku. Setelah sekitar 15 menit aku menyampaikan materi, para dosenpengujipun mengajukan pertanyaan terkait denganjudul yang ku paparkan.Sungguh tak kusangka, pertanyaan itu sungguh duliar dugaanku. Merekajustru menanyakan pengalamanku ketika observasi di sekolah. Setelahpertanyaan itu, tak ada lagi pertanyaan yang muncul dan aku dinyatakanlulus dengan nilai A. kakiku serasa lemas mendengarsnya. Tapi aku yakinini nyata.Setelah keluar ruang sidang, aku segera menelpon keluargaku untukmengabarkan kabar gembira ini. Merekapun turut merasakan apa yang akurasa. Selang beberapa minggu, acara wisuda itupun tiba. Aku memangmenantikan acara itu. Acara wisuda dimulai pukul tujuh tepat. Hatikuberdebar menunggu namaku dipanggil. Tak berapa lama namaku dipanggil.Hari ini aku diwisuda. Akhirnya akupun mengenakan toga. Benda yangselama ini aku impikan. Tapi sekarang aku tak perlu mimpi lagi. Ini sebuahkenyataan. Pengeorbananku selama ini berbuah manis. Dulu memang akutak bisa mengendarai motor,bahkan helpun aku tak punya sehingga teman-temanku suka berbicara sekenanya tanpa memikirkan perasaanku. Tapisekarang aku yakin dan bertekad untuk bisa menghadiahkan sebuah motoruntuk orang tuaku. Walaupun sebenarnya aku yakin mereka takmengharapkan itu. Mereka hanya berharap aku sukses kelak. Tapi, aku telahbertekad untuk melakukan itu. Selain itu, aku bertekad untuk membiayaisekolah adikku. Aku tak mau dia bernasib sepertiku. Aku tak mau dia
  9. 9. merasakan sakit yang aku rasakan dulu. Aku ingin dia mengenakan togaseperti aku kini dan merasakan kebahagiaan yang aku rasa saat ini.TOGA, I HAVE COME TO YOU.

×