Pedoman penulisan-usul-penelitian-tesis-dan-artikel-ilmiah-final-2009

7,547 views
7,354 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,547
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
153
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pedoman penulisan-usul-penelitian-tesis-dan-artikel-ilmiah-final-2009

  1. 1. IV. TATA NASKAH Dalam penulisan usul penelitian, tesis, dan artikel ilmiah, setiap mahasiswa harus mengikuti tata naskah atau kaidah penulisan ilmiah, di samping tetap memperhatikan substansi atau isi tulisan. Setiap institusi dapat menyusun tata naskah sendiri yang harus digunakan sebagai pedoman penulisan. Secara umum, tata naskah mencakup dua hal, yaitu kaidah penulisan baku yang berlaku universal dalam penulisan ilmiah dan gaya selingkung yang menjadi ciri khas institusi. Bab ini membahas tata naskah penulisan usul penelitian dan tesis. A. Tata Naskah Usul Penelian 1. Kertas Kertas yang digunakan untuk membuat naskah usul penelitian adalah kertas HVS putih, ukuran kuarto (A4) 80 gram. 2. Pias Pias atau margin adalah bagian kertas yang dikosongkan pada sisi kiri, kanan, atas dan bawah. Pias kiri 4 cm sedangkan pias kanan, atas dan bawah 3 cm.
  2. 2. 3. Halaman Sampul Judul usul penelitian ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Jika judul lebih dari dua baris maka baris kedua dan seterusnya ditulis lebih pendek daripada baris pertama. Judul usul penelitian hendaknya tidak lebih dari dua puluh kata tidak termasuk kata hubung dan anak judul. Pada jarak yang cukup, di bawah judul dicantumkan lambang UNSOED (original) dengan ukuran diameter 3,5 cm. Di bawah lambang UNSOED ditulis kata “USUL PENELITIAN” (dengan huruf kapital seluruhnya, Times New Roman, font 16). Di bawahnya ditulis nama lengkap penulis dengan huruf kapital pada awal setiap unsur nama dan di bawah nama ditulis nomor induk mahasiswa, font 14. Paling bawah ditulis nama lengkap lembaga (ditulis dengan huruf kapital, font 14) dengan urutan: nama Program Studi, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan tahun usul penelitian dibuat. Semua huruf pada halaman sampul dicetak tebal (Bold). Halaman sampul dijilid soft cover.
  3. 3. 4. Halaman Judul Judul usul penelitian ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Jika judul lebih dari dua baris maka baris kedua dan seterusnya ditulis lebih pendek daripada baris pertama. Judul usul penelitian hendaknya tidak lebih dari dua puluh kata tidak termasuk kata hubung dan anak judul. Pada jarak yang cukup, di bawah judul ditulis kata “USUL PENELITIAN” (dengan huruf kapital seluruhnya, Font 16, Bold). Di bawahnya ditulis “sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian pada Program Studi ... (isi sesuai dengan nama program studi masing-masing)”. Di bawahnya ditulis nama lengkap penulis dengan huruf kapital pada awal setiap unsur nama dan di bawah nama ditulis nomor induk mahasiswa, font 14. Paling bawah ditulis nama lengkap lembaga (ditulis dengan huruf kapital, font 14) dengan urutan: nama Program Studi, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan tahun usul penelitian dibuat. Semua huruf pada halaman sampul dicetak tebal (Bold). 5. Penomoran Bagian-bagian usul penelitian yang meliputi bab, sub-bab, sub sub-bab dan seterusnya dan diberi nomor urut dengan huruf romawi. I. PENDAHULUAN II. PERUMUSAN MASALAH III. TUJUAN IV. MANFAAT PENELITIAN V. KERANGKA TEORI VI. METODE PENELITIAN A. Materi Penelitian / Sasaran Penelitian B. Rancangan Percobaan / Metode Pengambilan Sampel C. Variabel Penelitian dan Prosedur Pengukuran / Definisi Operasional D. Analisis Data E. Waktu dan Tempat DAFTAR PUSTAKA 6. Nomor Halaman Nomor halaman diletakkan di sebelah kanan atas menggunakan angka arab. Halaman yang memuat judul bab tidak dinomori tetapi halaman tersebut tetap diperhitungkan penomorannya. Nomor halaman- halaman bagian awal usul penelitian ditulis pada margin bawah di tengah
  4. 4. kira-kira 1,5 cm dari tepi bawah dengan menggunakan angka romawi kecil. Setiap pergantian bab tidak perlu berganti halaman. 7. Spasi Ketikan Jarak bab dengan sub-bab dua spasi. Jarak sub-bab dengan kalimat pertama dua spasi. Jarak baris dengan baris lainnya adalah satu setengah spasi. Jarak baris terakhir pada suatu sub-bab dengan sub-bab berikutnya sebesar dua spasi. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris dalam satu daftar pustaka berjarak satu spasi. Jarak judul kutipan dengan uraian dan akhir uraian dengan judul kutipan adalah dua spasi. Selanjutnya, judul kutipan dengan uraian sebelum dan sesudahnya ditulis dua spasi. a. Paragraf Bentuk penulisan paragraf terdiri atas bentuk bertakuk (indented style). Paragraf bentuk bertakuk ditulis mulai ketukan keenam dari garis pias kiri. Penulisan paragraf pada akhir halaman minimal dua baris. Jika hanya satu baris, dimasukkan pada halaman berikutnya. Dalam satu paragraf tidak boleh hanya satu kalimat. b. Tabel dan Gambar Tabel merupakan bentuk ilustrasi yang digunakan untuk memberikan informasi. Pada dasarnya tabel memberikan informasi singkat yang dapat dipahami oleh pembaca tanpa harus membaca tubuh tulisan karena di dalamnya terdapat pokok-pokok informasi. Tabel digunakan jika peubah / variabel yang diamati cukup banyak dan tidak sama satuannya. Tabel yang terlalu rumit perlu dihindari karena akan mengganggu pembahasan. Judul tabel dirumuskan dalam kalimat yang ringkas. Judul tabel diletakkan di atas tabel dengan jarak dua spasi dari baris terakhir kalimat di atasnya. Judul tabel ditulis dengan huruf kecil kecuali awal kalimat dan nama-nama spesies, kota, dan sebagainya. Akhir judul tabel tidak diberi tanda titik. Judul tabel yang lebih dari satu baris diketik dalam satu spasi. Antara judul tabel dengan tabel berjarak 6 poin (after
  5. 5. paragraf). Jarak antar baris dalam tabel satu spasi. Jarak antara tabel dengan keterangan tabel adalah satu spasi. Keterangan tabel ditulis dengan font berukuran 9. Setiap tabel diberi nomor urut dengan angka arab terdiri atas nomor bab dan diikuti nomor urut tabel pada bab yang bersangkutan. Tabel dibuat dengan sistem terbuka, tidak berbentuk sel-sel sebagai pertemuan antara baris dan kolom. Contoh tabel dengan sistem terbuka adalah: Tabel 3.1 Populasi Ternak di Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga Jenis Ternak Populas i* (eko Populasi ** (L Propor si (Sapi potong 271 271 8,86 Kerbau 65 65 2,13 Kambing 15.317 2.145 70,17 Domba 72 10 0,33 Kuda 1 1 0,03 Babi 27 11 0,36 Ayam dan Itik 55.418 554 18,12 *Sumber dari Monografi Kecamatan Kejobong (2006) **Livestock Unit, berasumsi pada populasi kategori kelompok umur dewasa Gambar dipakai dalam usul penelitian untuk memperjelas informasi dan pembahasan atau untuk memberikan gambaran konkret kepada pembaca tentang proses yang berlangsung. Gambar yang digunakan dapat berbentuk diagram alir, grafik, foto, dan gambar. Gambar diletakkan dengan jarak dua spasi dari kalimat terakhir di atasnya. Judul gambar ditulis rata tengah dengan huruf kecil kecuali awal kalimat dan nama-nama spesies, kota, dan sebagainya. Akhir judul gambar tidak diberi tanda titik. Judul gambar yang lebih dari satu baris
  6. 6. diketik dalam satu spasi dan rata kiri dengan urutan judul di atasnya. Kalimat pertama setelah gambar berjarak dua spasi dari judul gambar.
  7. 7. 76 Rataan tinggi pinggul jantan (cm) 74 72 70 68 66 64 62 Lokasi (Desa) Gambar 3.2 Rataan tinggi pinggul kambing jantan di Kecamatan Kejobong Setiap gambar diberi nomor urut dengan angka arab terdiri atas nomor bab dan diikuti nomor urut gambar pada bab yang bersangkutan. Gambar dibuat dengan sistem terbuka. B. Tata Naskah Tesis 1. Kertas Kertas yang digunakan untuk membuat naskah tesis adalah kertas HVS putih, ukuran kuarto (A4), 80 gram 2. Pias Pias atau margin adalah bagian kertas yang dikosongkan pada sisi kiri, kanan, atas dan bawah. Pias kiri 4 cm sedangkan pias kanan, atas dan bawah 3 cm. 3. Halaman Sampul Judul tesis ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Jika judul lebih dari dua baris maka baris kedua dan seterusnya ditulis lebih pendek daripada baris pertama. Judul tesis hendaknya tidak lebih dari dua puluh kata tidak termasuk kata hubung dan anak judul. Pada jarak yang cukup, di bawah judul dicantumkan lambang UNSOED (original) dengan ukuran diameter 3,5 cm. Di bawah lambang UNSOED ditulis kata “TESIS” (dengan huruf kapital seluruhnya, Font 16). Di bawahnya ditulis nama
  8. 8. lengkap penulis dengan huruf kapital pada awal setiap unsur nama dan di bawah nama ditulis nomor induk mahasiswa, font 14. Paling bawah ditulis nama lengkap lembaga (ditulis dengan huruf kapital, font 14) dengan urutan: nama Program Studi, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan tahun lulus. Semua huruf pada halaman sampul dicetak tebal (Bold). Halaman sampul dijilid dengan hard copy. 4. Halaman Judul Judul tesis ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Jika judul lebih dari dua baris maka baris kedua dan seterusnya ditulis lebih pendek daripada baris pertama. Judul tesis hendaknya tidak lebih dari dua puluh kata tidak termasuk kata hubung dan anak judul. Pada jarak yang cukup, di bawah judul ditulis kata “TESIS” (dengan huruf kapital seluruhnya, Font 16, Bold). Di bawahnya ditulis “sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Studi ... (isi sesuai dengan nama program studi masing-masing)”. Di bawahnya ditulis nama lengkap penulis dengan huruf kapital pada awal setiap unsur nama dan di bawah nama ditulis nomor induk mahasiswa, font 14. Paling bawah ditulis nama lengkap lembaga (ditulis dengan huruf kapital, font 14) dengan urutan: nama Program Studi, Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan tahun lulus. Semua huruf pada halaman sampul dicetak tebal (Bold). 5. Penomoran Bab Bagian-bagian tesis yang meliputi bab, sub-bab, sub sub-bab dan seterusnya diberi nomor. Judul bab ditulis rata tengah menggunakan huruf kapital, dicetak tebal diberi nomor dengan angka romawi tanpa kata bab. Sub bab ditulis rata kiri menggunakan huruf biasa kecuali huruf pertama pada setiap kata. Sub bab dan sub sub-bab diberi nomor dengan angka arab berupa nomor bab dan diikuti nomor sub bab dan sub-sub bab. Contoh penomoran bab dan sub bab disajikan sebagai berikut. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Perumusan Masalah C. Tujuan dan Manfaat
  9. 9. II. TELAAH PUSTAKA III. METODE PENELITIAN IV. Dan seterusnya 6. Nomor Halaman Nomor halaman diletakkan di sebelah kanan atas menggunakan angka arab. Halaman yang memuat judul bab tidak dinomori tetapi halaman tersebut tetap diperhitungkan penomorannya. Nomor halaman- halaman bagian awal tesis ditulis pada pias bawah di tengah kira-kira 1,5 cm dari tepi bawah menggunakan angka romawi kecil. Setiap pergantian bab perlu berganti halaman. 7. Spasi Ketikan Jarak antara bab dan sub-bab dua spasi. Jarak sub-bab dengan kalimat pertama dua spasi. Jarak baris dengan baris lainnya adalah satu setengah spasi. Jarak baris terakhir pada suatu sub-bab dan sub-bab berikutnya sebesar dua spasi. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris dalam satu daftar pustaka berjarak satu spasi. Jarak judul kutipan dengan uraian dan akhir uraian dengan judul kutipan adalah dua spasi. Selanjutnya, judul kutipan dengan uraian sebelum dan sesudahnya ditulis dua spasi. a. Paragraf Bentuk penulisan paragraf terdiri atas bentuk bertakuk (indented style). Paragraf bentuk bertakuk ditulis mulai ketukan kelima dari garis margin kiri. Penulisan paragraf pada akhir halaman minimal dua baris. Jika hanya satu baris, lebih baik baris tersebut dimasukkan pada halaman berikutnya. Dalam satu paragraf tidak boleh hanya satu kalimat. b. Tabel dan Gambar Tabel merupakan bentuk ilustrasi yang digunakan untuk memberikan informasi. Pada dasarnya tabel memberikan informasi singkat yang dapat dipahami oleh pembaca tanpa harus membaca tubuh tulisan karena di dalamnya terdapat pokok-pokok informasi. Tabel digunakan jika peubah / variabel yang diamati cukup banyak dan tidak
  10. 10. sama satuannya. Tabel yang terlalu rumit perlu dihindari karena akan mengganggu pembahasan. Judul tabel dirumuskan dalam kalimat yang ringkas. Judul tabel diletakkan di atas tabel dengan jarak dua spasi dari baris terakhir kalimat di atasnya. Judul tabel ditulis dengan huruf kecil kecuali awal kalimat dan nama-nama spesies, kota, dan sebagainya. Akhir judul tabel tidak diberi tanda titik. Judul tabel yang lebih dari satu baris diketik dalam satu spasi. Antara judul tabel dengan tabel berjarak 6 poin (after paragraf). Jarak antar baris dalam tabel satu spasi. Jarak antara tabel dengan keterangan tabel adalah satu spasi. Keterangan tabel ditulis dengan font berukuran 9. Setiap tabel diberi nomor urut dengan angka arab terdiri atas nomor bab dan diikuti nomor urut tabel pada bab yang bersangkutan. Tabel dibuat dengan sistem terbuka, tidak berbentuk sel-sel sebagai pertemuan antara baris dan kolom. Contoh tabel dengan sistem terbuka adalah: Tabel 3.1 Populasi Ternak di Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga Jenis Ternak Populasi* (ekor) Populasi** (LU) Proporsi (%) Sapi potong 271 271 8,86 Kerbau 65 65 2,13 Kambing 15.317 2.145 70,17 Domba 72 10 0,33 Kuda 1 1 0,03 Babi 27 11 0,36 Ayam dan Itik 55.418 554 18,12 *Sumber dari Monografi Kecamatan Kejobong (2006) **Livestock Unit, berasumsi pada populasi kategori kelompok umur dewasa Gambar dipakai dalam tesis untuk memperjelas informasi dan pembahasan atau untuk memberikan gambaran yang lebih jelas kepada pembaca tentang proses yang berlangsung. Gambar yang digunakan dapat berbentuk diagram alir, grafik, foto, dan gambar. Gambar diletakkan dengan jarak dua spasi dari kalimat terakhir di atasnya. Judul gambar ditulis rata tengah dengan huruf kecil kecuali awal kalimat dan
  11. 11. nama-nama spesies, kota, dan sebagainya. Akhir judul gambar tidak diberi tanda titik. Judul gambar yang lebih dari satu baris diketik dalam satu spasi dan rata kiri dengan urutan judul di atasnya. Kalimat pertama setelah gambar berjarak dua spasi dari judul gambar. 76 Rataan tinggi pinggul jantan (cm) 74 72 70 68 66 64 62 Lokasi (Desa) Gambar 3.2 Rataan tinggi pinggul kambing jantan di Kecamatan Kejobong Setiap gambar diberi nomor urut dengan angka arab terdiri atas nomor bab dan diikuti nomor urut gambar pada bab yang bersangkutan. Gambar dibuat dengan sistem terbuka. Apabila gambar diambil dari pustaka, sumber pustaka ditulis setelah judul gambar dalam tanda kurung. C. Teknik Penulisan Kutipan Pustaka Kutipan yang diambil harus dicantumkan sumbernya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kode etik keilmuan yang berlaku dan untuk menghargai karya orang lain. Pencantuman sumber kutipan terdiri atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Jika nama pengarang ditulis sebelum kutipan, yang ditulis dalam tanda kurung adalah tahun penerbitan dan nomor halaman sedangkan setelah nama pengarang tidak diberi tanda koma. Apabila pengarang lebih dari dua orang maka yang ditulis adalah nama belakang pengarang pertama diikuti tulisan et al.
  12. 12. Kutipan dapat ditulis secara langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung digunakan jika penulis mengutip tulisan apa adanya tanpa mengubah sedikitpun, baik ide maupun bahasanya sedangkan kutipan tidak langsung digunakan jika penulis mengutip idenya saja dan dinyatakan dengan bahasa penulis. Kutipan langsung kurang dari empat baris ditulis satu setengah spasi. Jika empat baris atau lebih maka kutipan ditulis satu spasi. Penulisan baris pertama kutipan yang lebih dari empat baris dimulai dari ketukan kelima dari garis margin kiri seperti memulai paragraf bertakuk sedangkan baris berikutnya dimulai dari margin kiri. Penulisan kutipan langsung diberi tanda petik ganda (“...”). Unsur-unsur sumber kutipan yang perlu dicantumkan dalam kutipan langsung dan catatan kaki adalah nama belakang pengarang, tahun penerbitan dan nomor halaman. Unsur-unsur tersebut ditulis dalam tanda kurung (….), antara nama pengarang dan tahun diberi tanda koma (,) dan antara tahun dan nomor halaman diberi tanda titik dua (:). Aturan-aturan tersebut tidak berlaku dalam penulisan kutipan tidak langsung. Contoh kutipan langsung kurang dari empat baris. Rusyana (1984:182) menyatakan, “Karangan ilmiah merupakan wujud penggunaan laras atau ragam bahasa tersendiri yaitu ragam bahasa ilmiah”. Contoh kutipan langsung empat baris atau lebih. Weinreich (1970:1) memberikan penjelasan kontak bahasa yang menimbulkan kedwibahasaan dan interferensi, yaitu : “The practice of alternately using two languages will be called bilingualism and the persons involved bilingual. Those instances of deviation from the norms of either language which occur in the speech of bilinguals as a result of their familiarity with more than one language, i.e. as a result of language contact, will be referred to as interference phenomena”. Contoh kutipan tidak langsung dari pustaka yang dikarang oleh satu orang. Latar belakang masalah hendaknya memuat teori, fakta, norma… (Muchtar, 1998) atau Muchtar (1998) menyatakan bahwa latar belakang masalah…..
  13. 13. atau Muchtar (1998) mengemukakan bahwa latar belakang masalah... Contoh kutipan tidak langsung dari pustaka yang dikarang oleh dua orang. Muchtar dan Jahi (1998) menyatakan bahwa latar belakang masalah..... atau Muchtar dan Jahi (1998) mengemukakan bahwa latar belakang masalah … Contoh kutipan tidak langsung dari pustaka yang dikarang oleh Ali Muchtar, Abdul Jahi dan Daniel Amerta (pengarang tiga orang atau lebih). Latar belakang masalah… (Muchtar et al., 1998) atau atau Muchtar et al. (1998) menyatakan bahwa latar… Muchtar et al. (1997) mengemukakan bahwa latar… Pedoman tersebut berlaku untuk penulisan sumber kutipan dalam format catatan kaki. Contoh beberapa teknik penulisan kutipan pustaka: Nama penulis terpadu di dalam naskah: 1. Butler dan Day (2005) mengatakan bahwa enzim pengurai lignin juga akan menguraikan melanin jamur. 2. Shetty et al. (2004) dan Subbarao et al. (2005) melaporkan bahwa pembenaman dengan bahan organik segar kr dalam tanah akan … 3. Shetty et al. (2004); Subarno (2007) dan Subbarao et al. (2006) melaporkan bahwa pembenaman dengan bahan organik segar kr dalam tanah akan … 4. Semangun (2006) menyatakan jamur tular tanah mempunyai inang luas. Semangun (2003) menyatakan jamur tular tanah mempunyai inang luas.
  14. 14. (Apabila ada pernyataan oleh seorang pengarang dengan beberapa edisi, digunakan edisi yang baru) 5. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (2000), produksi kacang tanah Indonesia rendah. Nama penulis dan tahun di dalam kurung: a) Penghambatan spora jamur di dalam tanah dipengaruhi oleh difusi gas- gas beracun (Ko dan Lockwood, 2007). b) Gas-gas di dalam tanah misalnya karbon disulfida, etilen, metana dan aldehida (Tsutsuki dan Ponnamperuma, 2001 dalam Blok, 2007). c) Daya tahan jamur di dalam tanah dipengaruhi oleh pemataharian tanah (Katan, 2003; Gamliel dan Stapleton, 2006). d) Ledakan hama dipengaruhi kondisi mistis petani (Burhan, 2002). e) Predator wereng coklat banyak dijumpai di sawah (Untung, 2006). Sebagaimana disebut di atas, pencantuman sumber referensi juga dapat dilakukan dengan catatan kaki atau dikenal pula dengan sebutan footnote. Cara pencantuman sumber referensi melalui fotetnote ditulis secara lengkap apabila sumber referensi baru pertama kali disebut atau dicantumkan. Cara penulisannya: nama pengarang/penulis, tahun terbit, judul buku (dengan cetak miring atau huruf italic), edisi (bila ada), penerbit, kota penerbit, dan halaman yang diacu. Font: Times New Roman, size: 10, line spacing: single (1 spasi). Angka penulisan fotenote bersambung dari bab 1 hingga bab terakhir. Contoh: 1 John Harding, 1982. Victims and Offenders: Needs and Responsibilities, Bedford Square Press, NCVO, London, UK. Hal.1.2 Andrew, Karmen 1984. Crime Victim An Introduction to Victimology, Books/Cole Publishing Company Monterey, California. Hal. 3.3 Sudikno Mertokusumo, 1986. Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta. Hal. 110.4 Stephen Schafer, 1968, The Victim and his Criminal a Study in Functional Responsibility. Published by Random House Inc., in New York and simultanneously in Toronto, Canada, by Random House of Canada Limited. Hal. 40.
  15. 15. Sumber referensi dalam fotenote tidak ditulis lengkap apabila sudah pernah disebutkan secara lengkap. Penulisan selanjutnyadipersingkat dengan mempergunakan singkatan : ibid., op. cit., dan loc. cit. Ibid, kependekan dari ibidem, = “pada tempat yang sama” dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang sama dengan yang langsung mendahuluinya dengan tidak disela oleh sumber lain. Op. cit., kependekan dari opere citato artinya ”dalam karangan yang telah disebut”, dipakai untuk menunjuk kepada suatu buku yang telah disebut sebelumnya dengan lengkap pada halaman lain dan telah diselingi oleh sumber-sumber lain. Dengan demikian yang dicantumkan nama pengarang, op. cit., dan nomor halaman. Apabila dari seorang penulis atau pengarang telah disebut dua macam buku atau lebih, maka harus ditambahkan nama buku untuk menghindarkan kekeliruan. Loc. cit. kependekan dari loco citato artinya “pada tempat yang telah disebut” dipergunakan untuk menunjuk kepada halaman yang sama dari suatu sumber yang telah disebut. Dengan demikian yang dicantumkan: nama akhir pengarang, loc. cit.. Nomor halaman tidak perlu dicantumkan, sebab dengan sendirinya sama dengan halaman dalam buku yang telah disebut sebelumnya. Contoh pemakaian: ibid., op. cit., dan loc. cit. 5 Andrew Karmen, Crime Victim An Introduction to Victimology, Books/Cole Publishing Company Monterey, California, 1984, hal.9.6 Ibid., hal. 27 (berarti: dikutip dari buku yang tersebut di atas).7 John Harding, Victims and and Offenders Needs and Responsibilities, Bedford Square PressNCVO, 1982, hal.16.8 Emilio C. Viano, Victims and Society, Visage Press Inc.Washington D.C., 1976, hal. 626.9 Andrew Karmen, op. cit.., hal. 186. (buku yang telah disebut di atas).10 John Harding, loc.cit. (buku yang telah disebut di atas pada halaman yang sama, yakni hal. 16).11 Andrew Karmen, loc. cit., menunjuk kepada halaman yang sama dengan yang tersebut terakhir, yakni hal. 186. Fotenote dapat dipakai juga sebagai komentar atau penjelasan yang berkaitan dengan kontens atau isi pada suatu tulisan. Penggunanan fotenote ini bertujuan agar komentar atau penjelasannya tidak mengganggu secara keseluruhan isi tulisan utama.
  16. 16. Contoh: 12 Herbert L. Packer, 1968. The Limits of the Criminal Sanction, Stanford University Press, Stanford, California. hal. 17. Lebih lanjtut Packer menyatakan “These three concept symbolize the three basic problems of substance (as opposes to procedure) in the criminal law: (1) what conduct should be designated as criminal; (2) what determinations must be made before a person can be found to have committed a criminal offense; (3) what should be done with persons who are found to have committed criminal offenses. 13 Pengertian paradigma pada hemat penulis dapat dilihat dari dua perspektif yakni perspektif keilmuan dan perspektif umum. Dalam perspektif keilmuan paradigma antara lain dapat dimengerti dari pendapat Thomas Kuhn dan Liek Wilarjo. Kuhn mendefinisikan paradigma diantaranya sebagai ". . . recognized scientific achievements that for a time 4.2.1 Cara Menulis Daftar Pustaka Acuan Daftar pustaka acuan merupakan daftar yang terdiri atas buku, makalah, artikel atau bahan lainnya yang dikutip secara tertulis dalam tesis. Pustaka primer yang diacu seyogyanya yang terbaru atau 5 tahun terakhir. Semua tulisan dilakukan dengan aturan baku yaitu ukuran font 12 dengan tipe huruf Times New Roman dan tidak ditebalkan. Secara garis besar, bagian yang harus ditulis di dalam daftar pustaka acuan adalah: provide model problems and solutions to a community of practitioners” (Arief Sidarta, 1998. Paradigma Ilmu Hukum Indonesia Dalam Perspektif Positivis. Makalah disajikan dalam Simposium Nasional tentang Paradigma dalam Ilmu Hukum Indonesia, UNDIP Semarang. hal.1) Sedangkan Wilardjo mengartikan paradigma sebagai model yang dipakai ilmuwan dalam kegiatan keilmuannya untuk menentukan jenis-jenis persoalan yang perlu digarap, dan dengan metode apa serta melalui prosedur yang bagaimana penggarapan itu harus dilakukan.(Liek Wilardjo, 1998. Peran Paradigma dalam Perkembangan Ilmu. Makalah disajikan dalam Simposium Nasional tentang Paradigma dalam Ilmu Hukum Indonesia, UNDIP Semarang. hal.1) 14 Dalam perspektif umum sebagaimana tampak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia paradigma antara lain diartikan sebagai model dalam teori ilmu pengetahuan; kerangka berfikir (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.) Dalam konteks penulisan ini maka pengertian paradigma mengacu pada perspektif keilmuan. D.Cara Menulis Daftar Pustaka Acuan Daftar pustaka acuan merupakan dafataryang terdiri atas buku,makalah,artikel atau bahan lainnyayang dikutip secara tertulis dalam tesis pustaka primer yang diacu seyogyanya yang terbaru atau 5 tahun terakhir. Semua tulisan dilakukan dengan aturan baku yaitu ukuranfont 12 engan tipe
  17. 17. huruf times new roman dan tidak ditebalkan. Secara garis besa,bagian yang harus ditulis didalam daftar pustaka acuan adalah sebagai berikut. • Nama penulis, yang ditulis dengan urutan nama akhir diikuti koma, singkatan nama awal dan nama tengah diakhiri titik, tanpa gelar akademik atau gelar apapun lainnya. Jika penulisnya lebih dari satu, cara penulisannya adalah penulis pertama ditulis nama belakang diikuti singkatan nama depan dan nama tengah, sedangkan penulis selanjutnya ditulis dengan singkatan nama depan, nama tengah dan ditulis lengkap nama belakangnya. Semua nama penulis suatu tim harus dicantumkan. • Tahun penerbitan, • Judul, termasuk sub judul yang ditulis dengan huruf miring atau italic • Nama penerbit • Kota tempat penerbitan • Halaman atau jumlah halaman yang diacu. Bagian tersebut dapat beragam bergantung jenis sumber pustakanya. Jika yang diacu berupa buku cukup mencantumkan halaman yang diacu saja, jika yang diacu artikel atau jurnal dicantumkan semua halaman yang memuat artikel tersebut.
  18. 18. a. Acuan dari Buku Cara penulisan pustaka dari buku: nama pengarang/penulis, tahun terbit, judul buku (dengan huruf italic), edisi (kalau ada), penerbit, kota tempat terbit dan halaman yang diacu. Contoh: Hadi, S. 2001. Patologi Hutan, Perkembangan di Indonesia. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Gams, W., E.S. Hoekstra and A. Aptroot, 1998. CBS Course of Mycology 4 th ed. Centraalbereu voor Schimmelcultures, barn. Apabila ada beberapa buku yang diacu dengan tahun penerbitan yang sama dan ditulis oleh penulis yang sama maka penulisan tahun penerbitannya ditulis urut kronologi atau berdasar abjad judul bukunya. Misalnya: Cornet, L. and K. Weeks. 1995a. Career Ladder Plans. Career Ladder Clearinghouse, Atlanta. . 1995b. Planning Career Ladders. Career Ladder Clearinghouse, Atlanta. b. Acuan dari Kumpulan Makalah Kumpulan makalah yang dimaksud adalah buku atau artikel yang berisi lebih dari satu makalah dan ada editor atau penyuntingnya. Nama editor ditulis seperti di atas dengan diberi keterangan (Ed) jika hanya seorang editor atau (Eds) jika lebih dari satu editor. Judul buku atau artikel tersebut ditulis miring atau italic. Contoh: Marasas, W.F.O. and S.J. Van Rensburg. 1979. Mycotoxins and their medical and veterinary effect. In: J.G. Horsfall and E.B. Coeling (Eds.), Plant Desease: An Advanced Treatis. Vol. 4. pp. 357-380. Academic Press, New York. Mukhadis, H.A. 2000. Tata Tulis Artikel Ilmiah. Dalam: H.A. Saukah dan M.G. Waseso (Eds.), Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah. Hal. Acuan dari Jurnal atau Makalah 51-65.Universitas Negeri Malang, Malang c. Acuan dari Jurnal atau Makalah
  19. 19. Judul jurnal dan makalah dicetak miring dengan huruf kapital pada awal kata, secara lengkap, kemudian diikuti penulisan volume (tahun) dan halaman. Contoh: Butler, M.J. and A.W. Day. 1998. Fungal Melanin: A. Reriew. Canadian Journal of Microbiology. 44:1115-1136. Suryadarma, S.V.C. 1990. Prosesor dan Interface: Komunikasi Data. Info Komputer 4 (4): 46-48 d. Acuan Jurnal dari CD-ROM Penulisannya sama yaitu nama penulis, tahun, judul naskah ditulis biasa, nama jurnal atau majalah ditulis miring, ditambah penulisan CD- ROM-nya di dalam tanda kurung. Contoh: Mitchell, R. and M. Alexander. 1962. Microbiological Changes in Flooded Soils. Soil Science 93: 413-149 (CD-ROM: Soil Science-Digital, 1995) e. Acuan dari Prosiding atau Buku Kumpulan Abstrak Acuan dari Skripsi, Tesis, Disertasi atau Laporan PenelitianPenulisan prosiding atau buku kumpulan abstrak dengan huruf miring. Contoh: Ishihara, H. and S. Tsuyumu. 2000. Cloning and Analyses of the Gene from Xanthonomonas citri Involved in Plant Growth. Proceedings of the First Asian Conference of Plant Pathology. August 26-28. Beijing. p10. Paplomatas, E.J., S. Tzalavaras, and J.E. Devay. 1997. Use of Verticillium tricorpus As a Biocontrol of Rhizoctania Solani on Cotton Seedlings. Book of Abstract of 7 th International Verticillium Symposium, October 6-10, Cape Sounion, Athens. f. Acuan dari Skripsi, Tesis, Disertasi atau Laporan Penelitian Penulisan tesis, disertasi dan laporan penelitian dengan huruf miring
  20. 20. dan pada bagian akhir ditambahkan tidak dipublikasikan diantara tanda kurung. Contoh:
  21. 21. Haryanto, R. 2002. Uji Pseudomonas sp. Sebagai Agensia Pengendali Hayati Sclerotium rolfsii Pada Kacang Merah. Tesis. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. (Tidak dipublikasikan). Mujiono, Tarjoko, dan A. Manan. 1999. Kajian Penerapan Pestisida Nabati Pada Ulat Grayak. Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. (Tidak dipublikasikan) g. Acuan dari Lembaga yang Ditulis Atas Nama Lembaga Tersebut Nama lembaga penanggungjawab langsung ditulis paling awal, diikuti tahun terbit, judul karangan yang dicetak miring, nama lembaga penanggungjawab atas penerbitan tersebut dan nama tempat penerbitan. Contoh: Direktorat Perlindungan Tanaman Perkebunan (Dipertanbun), 1983. Petunjuk Pengenalan dan Pengendalian Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Kelapa. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta. Biro Pusat Statistik (BPS), 2007. Indonesia dalam Angka. h. Acuan dari Karya Terjemahan Cara Penulisannya yaitu: nama penulis asli, diikuti tahun penerbitan karya asli, judul terjemahan yang ditulis miring, diikuti kata “Terjemahan oleh…”, nama penerjemah, tahun terjemahan diterbitkan, nama penerbit dan tempat penerbit terjemahan. Contoh: Ary, D., L.C Jacobs, and A. Razavieh. Pengantar Penelitian Pendidikan. Acuan dari Makalah yang Disajikan dalam Seminar atau Kongres Terjemahan oleh Arief Furchan. 2004. Usaha Nasional, Surabaya. i. Acuan dari Makalah yang Disajikan dalam Seminar atau Kongres Nama penulis ditulis paling awal, diikuti tahun, judul makalah dengan cetak miring dan diikuti tulisan “Makalah disajikan dalam…”, nama pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat dan waktu penyelenggaraan seminar atau kongres tersebut.
  22. 22. Contoh: Rahayu, M. 2001. Pemanfaatan Bahan Nabati untuk Pengendalian Penyakit Layu Bakteri pada Kacang Tanah. Makalah disampaikan dalam Kongres XVI dan Seminar Nasional PFI, IPB, Bogor, 22-24 Agustus 2001 j. Acuan Artikel dari Internet Penulisan Artikel berasal dari jurnal ditulis: nama penulis, diikuti oleh tahun, judul, nama jurnal (cetak miring), keterangan on-line dalam tanda kurung, volume dan nomor dan diakhiri dengan alamat sumber disertai kapan akses dilakukan. Contoh: May, S. 1995. The Origin of Landsberg, Columbia and C24. (On-line), Protocols of NASC, http://nasc. Nott. Ac. Uk/protocols/ler.html diakses 2 September 1999 Apabila artikel berasal dari e-mail pribadi hasil konsultasi dengan pakar di bidang ilmunya maka penulisannya adalah nama pengirim, alamat e-mail diantara tanda kurung, waktu (tanggal, bulan, tahun), topik isi bahan ditulis dengan cetak miring, nama yang dikirimi dengan alamat e-mailnya di antara tanda kurung. Contoh: Garcia, M. (garcia@genome.stanford.edu). 1 September 1999. arabidopis ecotypes. E-mail kepada L Soetanto (Loekas,soetanto@medew. fyto.wau.nl)
  23. 23. V. KEBAHASAAN Penggunaan bahasa dalam karangan ilmiah, termasuk tesis, memiliki ciri tertentu berbeda dengan bahasa tulis pada umumnya. Bahasa tulis keilmuan memerlukan kelengkapan unsur kalimat, komunikatif, menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar, jelas, efisien, efektif dan tidak bermakna ganda. Bahasa tulis ilmiah dapat memenuhi fungsinya apabila informasi yang disampaikan penulis dapat dimengerti oleh pembaca. Pilihan kata dalam bahasa tulis ilmiah berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan yang dibicarakan. Kata- kata yang digunakan bersifat denotatif yaitu memiliki makna lugas dan tepat dalam pengungkapannya. Berdasarkan uraian di atas bahasa dalam karangan ilmiah hendaknya, mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. menggunakan bahasa resmi atau baku, b. mematuhi ejaan yang berlaku dan menggunakan tatatulis yang sudah lazim, c. menggunakan makna denotatif, d. menggunakan kata dan istilah yang tepat, e. menggunakan kalimat-kalimat yang efektif, dan f. menghindari penggunaan kata-kata beremosi. Bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah yang berlaku dan selalu dikaitkan dengan situasi resmi sehingga bahasa tersebut juga disebut sebagai bahasa resmi. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menggambarkan ide atau pikiran yang sesuai dengan ide atau pikiran penulisnya. A. EJAAN 1. Pemakaian Huruf Ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sekarang adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Di dalamnya diatur mengenai pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan. a. Huruf Kapital 1) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  24. 24. 2) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  25. 25. Contoh: Rusyana (1984:82) menyatakan, “Karangan ilmiah merupakan wujud penggunaan laras atau ragam bahasa tersendiri yaitu ragam bahasa ilmiah” 3) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh: Allah Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen, Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya, Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan. 4) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama diri, gelar kehormatan, gelar keturunan/kebangsawanan dan keagamaan yang diikuti nama orang dan jika tidak diikuti nama orang tidak perlu memakai huruf kapital. Contoh: Sir Alex Ferguson, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Kyai Haji Agus Salim. 5) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat. Contoh: Perdana Menteri Mahatir Muhammad, Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda, Gubernur Jawa Tengah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Jika tidak diikuti nama orang, nama instansi atau nama tempat, tidak perlu memakai huruf kapital. Contoh: Ia baru saja dilantik menjadi menteri. 6) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, bahasa, tahun, bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah, takson makhluk hidup. Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  26. 26. Contoh: Bangsa Indonesia, Suku Dayak, Bahasa Indonesia, Idul Fitri, hari raya Galungan, Perang Diponegoro. 7) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur geografi yang diikuti nama. Contoh: Asia Tenggara, Kabupaten Banyumas, Bukit Barisan, Danau Toba, Gunung Slamet, Jalan Diponegoro, Selat Sunda, Tanjung Intan. Unsur geografi yang tidak diikuti unsur nama tidak menggunakan huruf kapital, misalnya: aula kabupaten, halaman kecamatan, jalan raya dan nama geografi sebagai jenis, misalnya garam inggris, gula jawa, pisang ambon. 8) Huruf kapital digunakan unsur pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan. Contoh: Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pertanian, Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak, Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57, Tahun 1972. 9) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk kata ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan serta dokumen resmi. Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Rancangan Undang- Undang Kepegawaian. 10) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan kecuali kata seperti dan, yang, untuk, di, ke, dari, daripada, dalam, terhadap, sebagai, tetapi, antara yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh: Pedoman Identifikasi dan Determinasi Tumbuhan Tingkat Tinggi. 11) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama penulisan nama orang pada hukum, dalil, uji, teori dan metode, misalnya: hukum Dalton, uji Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  27. 27. Duncan, analisis Fourier. Huruf pertama penamaan rancangan, proses, Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  28. 28. uji atau metode yang tidak diikuti orang ditulis dengan huruf kecil sedangkan singkatannya ditulis dengan huruf kapital. Contoh: uji morfometri, rancangan acak lengkap (RAL), metode imunodifusi ganda (MIG), proses hierarki analitik (PHA). 12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangka dan sapaan. Contoh: Prof. Profesor Dr. Doktor Ph.D. phylosophy of doctor M.A. master of arts M.P. magister pertanian M.M. magister manajemen M.H. magister hukum M.Si. magister sains S.E. sarjana ekonomi S.S. sarjana sastra S.Si. sarjana sains dr. dokter Tn. Tuan Ny. Nyonya Sdr. saudara b. Huruf Miring Huruf miring disebut juga huruf Italic. Huruf tersebut digunakan pada kondisi sebagai berikut: 1) Menuliskan judul buku dan terbitan berkala serta prosiding atau workshop yang terdapat dalam teks dan dalam daftar pustaka. 2) Menuliskan kata atau istilah asing yang masih asli baik tulisan maupun ucapannya. Contoh: ad hoc, et al., in vitro, status quo, grass root. Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  29. 29. 3) Menuliskan nama ilmiah seperti genus, spesies, varietas dan forma makhluk. Contoh: Garcinia mangostana, Salacca zalacca var. Amboinense. Akan tetapi nama ilmiah di atas tingkat genus tidak ditulis dengan huruf miring. Misalnya: Felidae, Moraceae, Mucorales. c. Huruf Tebal Huruf tebal digunakan untuk judul atau tajuk (heading). Huruf ini dapat digunakan untuk menulis nama takson yang baru ditemukan atau diusulkan pertamakali, vektor atau matriks dalam matematika. Huruf tebal juga digunakan untuk menulis kata atau kalimat yang mendapat penekanan khusus (highlight). 2. Penulisan Kata Dalam bahasa Indonesia terdapat bentuk kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, gabungan kata, bentuk singkatan dan akronim. Penulisan kata dasar dan kata berimbuhan pada umumnya tidak banyak menimbulkan persoalan bagi pemakai bahasa. Karena itu kedua hal tersebut tidak dibahas secara tersendiri disini. Yang akan dibahas pada bab ini adalah pemenggalan kata, penulisan kata ulang, gabungan kata, penulisan kata depan, partikel dan kata bilangan. a. Pemenggalan Kata 1) Jika di tengah kata dasar ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalan kata dilakukan diantara kedua huruf vokal tersebut kecuali huruf diftong. Contoh: ma-ut, ku-at, sau-da-ra, san-tai 2) Jika di tengah kata dasar ada dua buah huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan kata dilakukan diantara kedua huruf konsonan tersebut. Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu fonem tidak pernah diceraikan. Contoh: swas-ta, cup-lik, Ap-ril, pang-sa, makh-luk, ikh-las. Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  30. 30. 3) Jika ditengah kata dasar ada huruf konsonan termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah vokal, pemenggalan kata dilakukan sebelum huruf konsonan. Contoh: la-wan, ba-pak, de-ngan. 4) Jika di tengah kata dasar ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan kata dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dengan huruf konsonan yang kedua. Contoh: in-fra, ul-tra, in-stru-men, bang-krut. 5) Imbuhan awalan dan akhiran, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Contoh: mem-butuh-kan, me-nyisir, bagaimana-kah, walau-pun. 6) Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan di antara unsur-unsur tersebut atau sesuai dengan kaidah- kaidah di atas. Contoh: fotografi ----- foto-grafi, fo-to-gra-fi introspeksi--- intro-speksi, in-tro-spek-si pascapanen---pasca-panen, pas-ca-pa-nen b. Penulisan Kata Ulang Kata ulang ditulis lengkap dengan menggunakan tanda hubung (-). Kata ulang dapat berupa pengulangan kata dasar, misalnya: macam- macam, buku-buku, pengulangan kata berimbuhan, misalnya: berjalan- jalan, berkejar-kejaran, ditepuk-tepuk, pengulangan gabungan kata, misalnya: meja-meja tulis, rumah-rumah sakit dan pengulangan yang berubah bunyi, misalnya: ramah-tamah, bolak-balik, sayur-mayur. c. Penulisan Gabungan Kata Penulisan gabungan kata sering bervariasi, ada yang menuliskan terpisah dan ada yang menuliskan serangkai. Variasi penulisan ini Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  31. 31. terjadi karena beberapa hal antara lain, penulis tidak memahami kaidah Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  32. 32. penulisan yang benar atau kesalahan dalam penulisan dianggap tidak menjadi soal, yang penting informasi dapat dipahami oleh pembaca. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa ada pembenahan di bidang tata tulis. Kaidah penulisan gabungan kata adalah sebagai berikut: 1) Gabungan kata, termasuk yang lazim disebut kata majemuk, bagian-bagiannya dituliskan terpisah. Contoh: bina usaha, daur ulang, industri hilir, jasa marga, kerja sama, serah terima, tata laksana, terima kasih, uji coba. 2) Gabungan kata yang sudah padu benar, sudah senyawa, maknanya tidak dapat dikembalikan kepada makna unsur-unsurnya ditulis serangkai. Contoh: kata daripada dan barangkali. Maknanya tidak dapat dikembalikan kepada dari dan pada, barang dan kali. Kata daripada berfungsi untuk mempertentangkan dan kata barangkali merupakan modalitas yang bermakna ‘tidak pasti’. Contoh lain: apabila, bilamana, bumiputra, padahal, matahari, hulubalang, segitiga. Ada gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata yang mengandung arti penuh. Unsur ini hanya muncul dalam kombinasi, misalnya unsur antar, catur, daca, maha, non, pasca, peri, sub, tuna dan sebagianya. Misalnya: amoral, asusila, antardaerah, caturwatga, mahasiswa, nonfosfat, perilaku, subbagian, tunadaksa, pascapanen, pancausaha tani. Catatan: Jika unsur terkait seperti itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu dibubuhkan tanda hubung (-), misalnya: non-RRC, non-Indonesia, antar-SMU. 3) Unsur maha dan peri sebagai gabungan kata ditulis seringkali dengan unsur berikutnya yang berupa kata dasar. Akan tetapi, jika unsur berikutnya kata berimbuhan, penulisan maha dan peri terpisah. Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  33. 33. Contoh: mahakasih, mahasiswa, mahaguru, perilaku, peribahasa, maha pengasih, maha pemurah, peri kemanusiaan. Kata esa ditulis terpisah dalam Ketuhanan Yang Maha Esa 4) Kalau gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung (-). Contoh: diujicobakan, dibudidayakan, melatarbelakangi, pertanggungjawaban, penandatanganan. 5) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubungan untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda. d. Penulisan Kata Depan Kata depan di dan ke dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya sedangkan awalan di- dan ke- dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. Perbedaan kedua hal tersebut dapat dilihat ciri-cirinya seperti berikut ini: 1) Kata depan di dan awalan di- Ciri yang pertama, kata depan di selalu diikuti kata benda yang menyatakan arah atau tempat, sedangkan di- sebagai awalan selalu diikuti kata kerja. Ciri yang kedua, di sebagai kata depan dapat diganti dengan kata dari, sedangkan di- sebagai awalan tidak dapat diganti dengan kata dari. Ciri yang ketiga, di sebagai kata depan tidak dapat dioposisikan dengan awalan me-, sedangkan di- sebagai awalan dapat dioposisikan dengan awalan me-. Perhatikan contoh berikut. di (kata depan) di- (awalan) Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  34. 34. di atas (dari atas) di bidang (dari bidang) di depan (dari depan) di jalan (dari jalan) diatur (*dari atur) dibunuh (*dari bunuh) dicuci (*dari cuci) didera (*dari dera) Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  35. 35. di luar (*meluar) di muka (*memuka) dimakan (memakan) dipukul (memukul) * suku kata di depan kata dasar berupa awalan bukan kata depan 2) Kata depan ke dan awalan ke Kata depan ke juga selalu diikuti kata benda yang menyatakan arah atau tempat sedangkan awalan ke- tidak demikian. Awalan ke- membentuk kata benda dari kata lain. Awalan ke- yang berkombinasi dengan akhiran –kan menghasilkan kata kerja perintah. Ciri lainnya, kata depan ke dapat diganti dengan dari sedangkan awalan ke- tidak dapat diganti dengan dari. Perhatikan contoh berikut ini: ke (kata depan) a) Ke mana saja kamu selama ini? b) Dia pergi ke kantor setiap hari kerja c) Mereka menuju ke arah yang sama d) Pada waktu saya ke depan, ia malah lari ke belakang Ke- (awalan) a) Ia diangkat menjadi Ketua Senat Mahasiswa tahun ini b) Kesampingkan dulu pekerjaan itu dan kerjakan tugas yang satu ini c) Demonstrasi itu merupakan kehendak mahasiswa sebagai bentuk protes kepada pemerintah e. Penulisan Partikel Partikel yang sering menimbulkan kesimpangsiuran dalam penulisan ilmiah adalah pun dan per sedangkan partikel yang lain yaitu kah, lah dan tah tidak menimbulkan persoalan. 1) Partikel pun Pada dasarnya, partikel pun setelah kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dituliskan terpisah karena pun yang seperti itu merupakan kata utuh yang memiliki makna penuh. Misalnya: Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  36. 36. a) Karena krisis moneter, harga-harga pun membumbung tinggi Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED
  37. 37. b) Apa pun yang dimakan, ia tetap kurus c) Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak jika badan sedang sakit d) Mereka pun pasti berharap agar harga bahan pokok kembali normal Penulisan pun berikut ini harus ditulis serangkai: adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, ataupun, kendatipun, maupun, meskipun, sungguhpun, walaupun dan sekalipun (yang berarti “walaupun”) 2) Partikel per Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’ dan ‘tiap’ dituliskan terpisah dari bagian-bagian kalimat yang mendampinginya. Misalnya: a) Semua orang yang ditahan diperiksa satu per satu b) Akibat krisis moneter, harga susu naik Rp 7.500,00 per kaleng c) Upah pekerja kasar sekarang Rp 8.000,00 per hari Bentuk per yang menunjukkan bilangan pecah ditulis serangkai. Tiga persepuluh, delapan perlima belas, tujuh dua pertiga. f. Penulisan Bentuk Singkat, Singkatan dan Akronim 1) Singkatan nama resmi lembaga resmi pemerintah, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya: DPR, PGRI, PT, GBHN, KTP, APBN. 2) Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf, setiap hurufnya diikuti dengan titik, misalnya: a.n. (atas nama), u.b. (untuk beliau), d.a. (dengan alamat) 3) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik, misalnya: dsb. (dan sebagainya), sda. (sama dengan atas), Yth. (yang terhormat) 4) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik, misalnya: A.S. Kartasasmita, Muh. Imran, Bpk. (bapak), Kol. (kolonel), S.E. (sarjana ekonomi), M.Sc. (master of science).
  38. 38. 5) Singkatan satuan ukuran, takaran, satuan mata uang dan lambang unsur kimia tidak diberi tanda titik, misalnya: kg (kilogram), cm (sentimeter), l (liter), ha (hektar), Rp (rupiah), Ca (kalsium), Cl (klorida), Zn (seng). 6) Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. • Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), LAN (Lembaga Administrasi Negara), PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), SIM (surat ijin mengemudi). • Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya: Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Kowani (Konggres Wanita Indonesia) • Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu (pemilihan umum), radar (radio detecting and ranging), rapim (rapat pimpinan), rudal (peluru kendali), tilang (bukti pelanggaran), siskamling (sistem keamanan lingkungan). g. Penulisan Angka dan Lambang Bilangan Penulisan lambang bilangan ada dua cara yaitu dengan angka arab atau angka romawi dan dengan huruf. 1) Lambang bilangan dituliskan dengan angka jika berhubungan dengan ukuran seperti panjang, luas, isi, berat, satuan waktu (pergunakan sistem satuan internasional), nilai uang atau yang digunakan untuk menandai nomor jalan, rumah, kamar pada alamat yang bukan pada dokumen resmi.
  39. 39. Bentuk dihindari Bentuk dianjurkan lima sentimeter 5 sentimeter (5cm) sepuluh meter persegi 10 meter persegi (10m2 ) dua puluh lima liter 25 liter (25L) lima ribu rupiah Rp5.000,00 2) Bilangan dalam perincian dituliskan dengan angka 3) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata dituliskan dengan huruf dan yang dinyatakan lebih dari dua kata dituliskan dengan angka. Bentuk yang dihindari • Selama seminggu jumlah penderita muntaber berjumlah 3.000 orang • Rumah sakit itu sudah menyediakan 12 tenda tambahan • Menurut catatan Depkes, jumlah pasien yang 21 orang per hari, lima orang penderita demam, delapan orang penderita TBC, enam orang penderita penyakit dalam dan tiga orang penderita darah tinggi Bentuk yang dianjurkan • Selama seminggu jumlah penderita muntaber berjumlah tiga ribu orang • Rumah sakit itu sudah menyediakan dua belas tenda tambahan • Menurut catatan Depkes, jumlah pasien yang masuk 21 orang per hari, 5 orang penderita demam, 8 orang penderita TBC, 6 orang penderita penyakit dalam dan 3 orang penderita darah tinggi 4) Lambang bilangan pada awal kalimat dituliskan dengan huruf. Bentuk yang dihindari • 28 orang ditahan dalam kerusuhan tersebut • 10 kambing dijadikan materi dalam penelitian Bentuk yang dianjurkan • Sebanyak 28 orang ditahan dalam kerusuhan tersebut • Sepuluh kambing dijadikan materi dalam penelitian itu 5) Kata bilangan yang mendapat akhiran –an ditulis seperti berikut ini: Tahun ’50-an atau tahun lima puluhan Uang 5000-an atau uang lima ribuan Lima uang 1000-an atau lima uang seribuan
  40. 40. 6) Bilangan yang ditulis dalam dokumen resmi, seperti akta, kuitansi, wesel pos dan cek dapat menggunakan angka dan huruf sekaligus. • Telah dijual sebidang tanah seluas 100 (seratus) meter persegi dengan harga Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) • Telah diterima uang sejumlah Rp 7.500.000 (tujuh juta lima ratus rupiah) untuk melunasi faktur No. 231/PB/II/1998 7) Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan sebagai berikut: • Pendidikan Perpajakan Angkatan IV dimulai tanggal 1 Juni 1998 • Pendidikan Perpajakan Angkatan Ke-4 dimulai tanggal 1 Juni 1998 • Pendidikan Perpajakan Angkatan Keempat dimulai tanggal 1 Juni 1998 8) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan digunakan secara berturut-turut, seperti dalam perincian atau pemaparan. Misalnya: Di antara 72 orang anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju dan 5 orang memberikan suara blangko. Kendaraan yang ditempah untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo. 9) Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya: Saya lampirkan anda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah). Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah. 3. Tanda Baca 1) Tanda Titik • Singkatan umum yang menggunakan huruf kapital tidak menggunakan tanda titik, sedangkan singkatan gelar akademik dan singkatan nama orang harus menggunakan tanda titik. • Tanda titik digunakan untuk menutup kalimat yang bukan kalimat tanya atau kalimat seru.
  41. 41. • Tanda titik mengikuti nomor daftar atau rangkaian. Untuk nomor yang sudah mengandung titik di dalamnya tidak diberi titik pada bagian akhir. Contoh: 1. Tujuan 2. Sasaran • Tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan dan seterusnya sedangkan pada angka yang tidak menyatakan jumlah tidak perlu digunakan tanda titik. Contoh: 10.000 orang 2.345 mahasiswa NIP 130938296 Nomor telepon (0821) 32315 Nomor rekening 23144233 2) Tanda Koma (,) • Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. a) Perusahaan itu bergerak di bidang pariwisata, pos dan telekomunikasi b) Kita butuh aparat yang jujur, bersih dan berwibawa • Tanda koma digunakan untuk memisahkan kalimat setara perlawanan yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh tetapi, melainkan, dan sedangkan. a) Mereka bukan pemain yang berbakat, melainkan pemain yang ulet dan rajin. b) Daerah Lampung penghasil utama lada, sedangkan Sulawesi penghasil kopra c) Ia sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi pendapatannya tidak cukup untuk biaya hidup sekeluarga.
  42. 42. • Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat. a) Kalau hari hujan, saya tidak datang b) Karena ada tugas penting yang harus dikerjakan, ia terpaksa membatalkan perjalanannya ke luar kota. • Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya: Oleh karena itu, Jadi, Lagi pula, Meskipun begitu, akan tetapi, a) Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. b) Meskipun demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti untuk pengembangan ilmu pengetahuan. • Tanda koma digunakan di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Suhardi, M.Sc. Subiyakto, S.H. • Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi. Keterangan tambahan adalah keterangan yang diselipkan dalam kalimat yang sudah lengkap dan bagian ini dibuang pun tidak mengganggu makna dalam kalimat tersebut. Keterangan aposisi adalah keterangan yang sifatnya saling menggantikan. a) Menteri Luar Negeri Indonesia, Hasan Wirayuda, memberikan keterangan kepada para wartawan sehubungan dengan hasil kunjungannya ke Jepang b) Edy Kancil, koruptor kelas kakap yang melakukan korupsi miliaran rupiah, sampai sekarang masih tetap dicari oleh pihak kepolisian. 3) Tanda Titik Koma (;) a) Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Contoh: Kegunaan kelapa banyak sekali, yaitu daging buah kelapa dapat dibuat minyak goreng; sabut kelapanya dapat dibuat tali, sikat, keset, dan
  43. 43. permadani kasar; tempurungnya dapat dijadikan kayu bakar; pohonnya dapat dijadikan tiang rumah atau jembatan. b) Tanda titik koma digunakan pada rincian ke bawah yang unsur- unsurnya berupa kelompok kata yang panjang atau berupa kalimat. Dalam hal ini, sebelum rincian akhir tidak dibubuhkan kata dan. Contoh: Krisis bidang keuangan saat ini menimbulkan berbagai masalah di bidang perekonomian, seperti • menurunnya daya beli masyarakat; • kebangkrutan di bidang usaha sehingga menyebabkan PHK; • utang swasta yang semakin membengkak • kerawanan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat 4) Tanda Titik Dua (:) a) Tanda titik dua digunakan pada kalimat lengkap yang diikuti rincian berupa kata atau frasa. Contoh: Air mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: • mengalir dari tempat yang tinggi • selalu rata/mendatar • sesuai dengan bentuk wadahnya • memberikan tekanan ke semua arah • meresap melalui celah kecil • melarutkan zat lain. b) Tanda titik dua tidak digunakan sebelum rincian yang merupakan pelengkap kalimat atau kalimat yang pengantarnya belum lengkap. Misalnya: Sifat-sifat air adalah • mengalir dari tempat yang tinggi • selalu rata/mendatar • sesuai dengan bentuk wadahnya • memberikan tekanan ke semua arah • meresap melalui celah kecil
  44. 44. • melarutkan zat lain. c) Titik dua harus diganti menjadi titik satu pada kalimat lengkap yang diikuti suatu rincian berupa kalimat lengkap pula, dan tanda akhir rincian harus tanda titik. Contoh: Sifat-sifat air adalah sebagai berikut. • Air mengalir dari tempat yang tinggi. • Permukaannya rata/mendatar. • Bentuknya sesuai dengan wadah yang ditempatinya. • Air memberi tekanan ke semua arah. • Air dapat meresap melalui celah kecil. • Air dapat melarutkan berbagai zat d) Tanda titik dua digunakan memisahkan nomor jilid dan halaman dalam daftar pustaka, memisahkan tahun dan halaman kalau pengacuan halaman dilakukan pada sistem nama-tahun dalam teks dan menandai kutipan langsung. Contoh: Agrin 2: 27-35, (Hartoko, 2001: 234) 5) Tanda Petik Ganda (“...”) Tanda petik ganda digunakan sebagai berikut. a) Mengurung kutipan langsung. Ia berkata, “ Saya akan pergi.” b) Mengurung kata atau bentukan kata yang dipinjam dari bahasa lain, kata yang digunakan dengan cara khusus, dan kata percakapan sehari- hari • Pria itu selalu berpakaian “trendy”. • Makan itu “diserbu” oleh para pengungsi • para pengunjuk rasa mendesak presiden untuk segera “lengser” dari jabatan. c) Mengurung judul cerpen, artikel, ceramah, bab sebuah buku, dan yang sejenis.
  45. 45. Dalam ceramahnya yang berjudul “Kebijaksanaan Moneter”, ia kurang sependapat dengan program CBS. 6) Tanda Petik Tunggal (‘...’) a) Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan atau kutipan yang tersusun di dalam kutipan lain. Contohnya “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?” b) Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing (survive ‘sintas’, feed back ‘balikan’). 7) Tanda Hubung (-) a) Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang (buku-buku, bersama-sama) dan suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Misalnya: Dalam pembahasan ini diuraikan beberapa hu- kum alam yang baru. Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung atau pangkal baris. Beberapa pendapat mengenai amandemen i- tu telah disampaikan para ahli. (tidak tepat) Beberapa pendapat mengenai amandemen itu telah disampaikan para ahli (tepat) Pada masa kini, banyak mahasiswa tidak ma- u meneliti masalah kemiskinan. (tidak tepat) Pada masa kini, banyak mahasiswa tidak mau meneliti masalah kemiskinan (tepat) b) Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Contohnya: Kedua anak muda itu berkelana dengan cara meng- arungi laut yang luas.
  46. 46. Para pedagang di Pasar Baru sedang me- ngarungi beras. Akhiran –i tidak dipenggal supaya tidak terdapat satu huruf pada pangkal baris. c) Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Jawa Tengah), ke- dengan angka (ke-22), angka dengan –an (tahun 40-an), singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata (mem-PHK-kan, sinar-X), merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan bahasa asing (di-smash) 8) Tanda Elipsis (...) Tanda elipsis digunakan untuk menunjukkan bahwa ada bagian yang dihilangkan pada kutipan langsung. (“Pola konsumsi daging ... sesuai kebutuhan”, “... sangat dipengaruhi tingkat kesuburan tanah...”) 9) Tanda Kurung ((...)) a) Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. b) Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya dalam kalimat dapat dihilangkan. c) Tanda kurung (atau tanda kurung tutup) mengapit angka atau huruf yang merinci suatu urutan keterangan. Contohnya : Faktor produksi menyangkut masalah (1) alam, (2) tenaga kerja, dan (3) modal. 10) Tanda Garis Miring (/) a) Tanda garis miring digunakan di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. b) Tanda garis miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, dan tiap. B. Penulisan Unsur Serapan Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia banyak menyerap kosakata dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa
  47. 47. asing. Berdasarkan integrasinya, unsur serapan tersebut dapat dibagi atas dua golongan. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle, cock. Unsur-unsur tersebut pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisan disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan adalah sebagai berikut: aa (Belanda) menjadi a paal pal baal bal ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e aerobe aerob aerodinamics aerodinamika ae jika bervariasi dengan e, menjadi e haemoglobin hemoglobin haematite hematit ai tetap ai trailer trailer caison kaison au tetap au audiogram audiogram hydraulic hidraulik c dimuka e, i, oe, dan y menjadi s central sentral circulation sirkulasi c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k cubic kubik construction konstruksi classification klasifikasi crystal kristal cc di muka e dan i menjadi ks accent aksen accessory aksesori vaccine vaksin cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k saccharin sakarin machine mesin
  48. 48. ch yang lafalnya c menjadi c check cek China Cina ς (sansekerta) menjadi s ςabda sabda ςast ra sastr a e tetap e effect efek syntesis sinte sis ea tetap ea idealist idealis habe as habe as ee (Belanda) menjadi e stratosfeer stratosfer systeem sistem eu tetap eu neutron neutron europium europium gh menjadi g sorghum sorgum ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i politiek politik riem rim oo (Belanda) menjadi o komfoor kompor provoost provos oo (Inggris) menjadi u cartoon kartun proof pruf ou menjadi u jika lafalnya u gouverneur gubernur coupon kupon ph menjadi f phase fase physiology fisiologi q menjadi k aquarium akuarium
  49. 49. frequency frekuensi rh menjadi r rhapsody rapsodi rhytem ritme sc di muka a, o, u dan konsonan menjadi sk scandium skandium scriptie skripsi sc di muka e, i, dan y menjadi s scenography senografi schphistoma sififtoma sch di muka vokal menjadi sk schema skema scholaticism skolatisime t di muka i menjadi s jika lafalnya s ratio rasio action aksi th menjadi t theocracy teokrasi thrombosis trombosis uu menjadi u prematuur prematur vacuum vakum x pada posisi awal kata tetap x xanthate xantat xenon xenon x pada posisi lain menjadi ks executive eksekutif taxi taksi xc di muka e dan i menjadi ks exception eksepsi excess ekses xc di muka a, o, u dan konsonsan menjadi ksk
  50. 50. excavation ekskavasi exclusive eksklusif y menjadi i jika lafalnya i yttrium itrium dynamo dinamo kata seperti standarsiasi, efektif fan implementasi diserap secara utuh disamping kata standar, efek, dan implemen. - aat (Belanda) menjadi –at advokaat advokat - age menjadi –ase percentage persentase etalage etalase al, eel, (Belanda), aal (Belanda) menjadi al structural, structureel struktural formal, formeel formal normal, normaal normal ant menjadi an accountant akuntan archy, archie (Belanda) menjadi arki anarchy, anarchie anarki ary (Inggris), air (Belanda) menjadi er complementary komplementer eel, aal (Belanda) menjadi al ideaal ideal formeel formal eel (Belanda) yang tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris menjadi il principieel prinsipil ic, ics, ique, iek, ica (Belanda) menjadi ik, ika logic, logica logika phonetics fonetik physics, physica fisika technique teknik
  51. 51. ic, isch (Belanda) menjadi is economical, economisch ekonomis practical, practisch praktis ile, iel menjadi il mobile, mobiel mobil ive, ief (Belanda) menjadi if descriptive, descriptief deskriptif logue menjadi log analoog analog epiloog epilog oir(e) menjadi oar trottoir trotoar repertoir repertoar or, eur (Belanda) menjadi ur, ir direktor, direkteur direktur amateur amatir ty, teit (Belanda) menjadi tas university, universiteit universitas ure, uur (Belanda) menjadi ur structure, struktuur struktur premature, prematuur prematur C. Pemilihan Kata dan Istilah Dalam memilih kata hendaknya diperhatikan tiga hal, yaitu (1) ketepatan, (2) kesesuaian, dan (3) kebenaran. Kata yang tepat adalah kata yang mempunyai makna yang dapat mengungkapkan atau sesuai dengan gagasan pemakai bahasa. Kesesuaian menyangkut kecocokan antara kata-kata yang digunakan dalam situasi dan keadaan pembaca. Kebenaran berhubungan dengan penerapan kaidah-kaidah kebahasaan yang meliputi kaidah morfologi, sintaksis, dan ejaan.
  52. 52. D. Kalimat Efektif Sebuah kalimat yang baik harus mengandung gagasan atau ide pokok yang jelas dan penyusunannya harus memenuhi persyaratan gramatikal. Kalimat disusun berdasarkan kaidah kebahasaan yang berlaku. Kaidah itu meliputi (1) cara memilih kata, (2) unsur-unsur yang harus ada di dalam kalimat, dan (3) aturan-aturan ejaan yang berlaku. Seorang penulis hendaknya dapat menuangkan gagasannya dalam kalimat-kalimat yang efektif. Kalimat efektif harus disusun secara sadar sehingga informasi yang disampaikan oleh penulis dapat diterima secara utuh oleh pembaca. Beberapa hal yang menjadi ciri-ciri kalimat efektif, yaitu: (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran, (3) penekanan dalam kalimat, (4) kehematan dalam mempergunakan kata, dan (5) kevariasian dalam struktur kalimat (Akhadiah, Arsyad, dan Ridwan, 1991:116). Kebanyakan penulis masih belum memperhatikan penulisan frase buku dalam kalimat bahasa Indonesia. Mereka masih menggunakan frase yang tidak baku, seperti Bentuk tidak baku Bentuk baku terdiri dari terdiri atas tergantung pada bergantung pada bertujuan untuk x bertujuan x berdasarkan kepada berdasarkan pada membicarakan tentang x berbicara tentang x atau membicarakan x antara x dengan y antara x dan y dalam menyusun dalam penyusunan dibanding dibandingkan dengan walau / meskipun, tetapi ... walau / meskipun, ... (tanpa kata tetapi) Penulis juga sebaiknya menghindari kata yang berlebihan seperti (se)rangkaian, (se)kumpulan, kelompok yang diikuti oleh kata ulang. Penulisan yang salah Penulisan yang benar (se)rangkaian molekul-molekul serangkaian molekul para responden-responden para responden beberapa sampel-sampel beberapa sampel banyak unsur-unsur banyak unsur Kata yang bersinonim sebaiknya dihindari pemakaiannya secara bersamaan. Bentuk salah Bentuk benar disebabkan karena disebabkan oleh
  53. 53. agar supaya agar atau supaya dalam rangka untuk dalam rangka ..., atau untuk ... setelah..., contoh jenis bantuan misalnya ... contoh bantuan ialah ... atau misalnya ..., baik ... ataupun ... ... baik maupun ... E. Paragraf Paragraf dalam sebuah tulisan merupakan penggalan teks. Hal itu ditandai oleh (1) baris pertama biasanya bertakuk dan (2) selalu dimulai dengan baris baru. Sebuah paragraf merupakan penggalan yang utuh dari pikiran penulis. Paragraf sebagai penggalan pikiran, sebuah paragraf terpisah dari paragraf yang lain. Gagasan yang terkandung dalam setiap paragraf merupakan bagian dari runtunan pikiran yang berhubungan. Setiap paragraf merupakan bagian dari keseluruhan karangan secara utuh. Kalimat-kalimat dalam satu paragraf saling terkait secara utuh dan padu sehingga terbentuk satu kesatuan pikiran.
  54. 54. VI. ARTIKEL ILMIAH Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal ilmiah atau buku kumpulan artikel ilmiah yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah. Artikel ilmiah dapat berupa hasil penelitian maupun gagasan ilmiah (review). Hasil penelitian ataupun gagasan / pemikiran ilmiah akan lebih bermanfaat apabila telah diaplikasikan ataupun disampaikan kepada publik. Jurnal ilmiah merupakan suatu sarana yang efektif untuk mempublikasikan hasil penelitian bagi kalangan yang lebih luas atau publik. Artikel ilmiah seyogyanya dirancang dengan menyesuaikan petunjuk penulisan jurnal yang dituju. Hampir semua jurnal ilmiah mengeluarkan petunjuk /patokan yang harus diikuti jika ingin naskah kita dimuat di dalamnya. Jumlah halaman artikel dalam jurnal biasanya dibatasi dan umumnya tidak lebih dari 15 halaman, sudah termasuk gambar dan tabel. Dengan demikian hanya hal-hal yang sangat perlu saja yang dapat dimuat dalam halaman yang jumlahnya terbatas tersebut. Kebanyakan jurnal tidak menghendaki Tinjauan Pustaka (Literature Review). Hal-hal yang berkaitan dengan survei pustaka dipadukan dalam Pendahuluan (Introduction Background). Pemilihan dan pemilahan menjadi amat penting dalam penulisan artikel ilmiah. Dalam banyak kasus, metode dibuat seringkas-ringkasnya oleh penulis. A. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian tidak ditulis secara menyeluruh seperti laporan teknis resmi hasil penelitian. Artikel hasil penelitian hanya berisi tentang hal- hal yang penting dari kegiatan penelitian yang dilakukan. Hal-hal pokok yang harus ada dalam artikel ilmiah ini adalah sebagai berikut. 1. Judul Judul artikel ilmiah hendaknya ringkas, informatif, lengkap, tidak terlalu panjang atau pendek yaitu antara 5-20 kata. Judul artikel memuat variabel-variabel yang diteliti atau kata kunci yang menggambarkan masalah yang diteliti. Artikel ilmiah dapat diangkat dari tesis. Pemilihan
  55. 55. judul hendaklah yang menarik, padat makna dan mampu mencirikan keseluruhan isi naskah. 2. Nama Penulis Nama penulis artikel ditulis tanpa mencantumkan gelar akademik atau gelar lain. Semua pengarang harus ditulis lengkap, tidak boleh hanya et al. Di belakang nama ditulis nama dan alamat lembaga dimaksudkan untuk keperluan korespondensi. Hanya satu nama yang diberi tanda untuk maksud korespondensi. Tuliskan nama negara bila naskah diterbitkan dalam majalah internasional. Artikel ilmiah yang diangkat dari tesis, penulis tesis sebagai peneliti utama sedangkan pembimbing ditulis berikutnya. 3. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat dan menjelaskan seluruh isi tulisan dan umumnya disajikan dalam satu paragraf. Abstrak berisi masalah pokok dan alasan dilakukannya penelitian serta sasaran yang akan dicapai. Nyatakan pendekatan dan metode serta bahan yang dipakai, serta ungkapkan hasil dan kesimpulan penting yang diperoleh. Dalam abstrak hindari informasi atau kesimpulan yang tidak ada dalam makalah, singkatan yang tidak dijelaskan dan merk dagang. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan panjang maksimum 300 kata (pada beberapa jurnal mensyaratkan tidak lebih dari 200 kata) dan ditulis dengan jarak satu spasi. Kata kunci juga ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kata kunci diperlukan untuk mempermudah penelusuran artikel. Pilih istilah yang membantu artikel anda mudah ditelusuri. Kata kunci tersebut merupakan istilah dasar dari pemikiran/gagasan dalam laporan asli yang berupa kata tunggal atau gabungan kata dan berjumlah 2 – 5 kata. 4. Pendahuluan Bagian pendahuluan menyajikan secara ringkas berisi tentang tiga gagasan: latar belakang, masalah penelitian dan rumusan tinjauan penelitian. Penulisan kajian pustaka harus singkat dan hanya memuat teori-teori
  56. 56. maupun rujukan yang secara ringkas, padat dan langsung berhubungan dengan masalah penelitian. Alur logika penyajian mulai dari latar belakang diatur sedemikian rupa sehingga mengarahkan pembaca ke perumusan masalah dan cara pemecahannya. 5. Metode Metode menguraikan cara mengumpulkan, sumber dan analisis data. Pada bagian ini dapat dijelaskan tentang lokasi dan lama penelitian, rancangan, model yang digunakan, variabel serta cara penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian. Penelitian yang menggunakan alat dan bahan perlu ditulis secara spesifik. Acuan wajib dicantumkan pada metode yang kurang dikenal. 6. Hasil dan Pembahasan Hasil dan pembahasan disajikan secara singkat dan jelas, dan dapat dibantu dengan tabel, gambar dan grafik atau foto yang diberi komentar. Bagian ini memuat hasil analisis data, bukan data mentah atau pun analisis ragamnya sedangkan prosesnya tidak disajikan. Pembahasan bertujuan untuk menjawab masalah penelitian atau menunjukkan bagaimana tujuan yang sesuai dengan permasalahan penelitian. Bagian ini dapat pula memuat penafsiran temuan-temuan mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang mapan dan menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang ada. Pembahasan selalu mengacu kepada pustaka yang terkait. 7. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan merupakan pernyataan singkat dan akurat dari hasil pembahasan, bukan hasil penelitian yang ditulis ulang namun makna yang didapatkan dari hasil penelitian. Kesimpulan dapat merupakan pembuktian singkat akan kebenaran hipotesis. Kesimpulan yang baik adalah menjawab permasalahan dan tujuan penelitian yang telah disusun. Saran yang dikemukakan seharusnya berkaitan dengan pelaksanaan atau hasil penelitian.
  57. 57. 8. Persantunan Persantunan biasanya ditujukan kepada semua pihak yang membantu jalannya penelitian, misalnya pemberi sumber dana/kelembagaan sponsor, konsultan, teknisi dan oakar yang membantu menelaah naskah. Ucapan hendaknya disampaikan secara formal. 9. Daftar Pustaka Daftar pustaka harus lengkap sesuai dengan acuan dan harus sudah disebut di dalam batang tubuh artikel ilmiah. Sistematika penulisan pustaka dapat dilihat pada pedoman untuk penulisan pada jurnal yang bersangkutan. 10. Lampiran (bagi yang memerlukannya) Lampiran biasanya memuat hal-hal yang dapat membantu memperjelas isi naskah ilmiah tetapi jika dimasukkan ke dalam naskah akan mengganggu kejelasan isi. Lampiran dapat berupa data mentah, gambar atau perhitungan data yang mendukung. B. Artikel Ilmiah yang Berupa Gagasan Ilmiah/Review Artikel ilmiah yang berupa gagasan ilmiah/review antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori, konsep atau prinsip mengembangkan suatu model, mendeskripsi kenyataan atau fenomena tertentu, menilai suatu produk maupun hal lainnya. Seperti penulisan artikel ilmiah hasil penelitian, penulisan artikel ilmiah juga menggunakan sistematika tanpa angka atau abjad. Ditulis melanjut, artinya tidak perlu ditulis pada halaman baru. Hal-hal pokok yang harus ada dalam artikel ini adalah sebagai berikut: 1. Judul Judul artikel ilmiah hendaknya ringkas, informatif, lengkap, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek yaitu 5-20 kata. Judul mencerminkan uraian yang terkandung di dalam artikel dan juga pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagi pembaca. 2. Nama Penulis Lihat ketentuan di dalam bagian yang sama pada artikel ilmiah hasil penelitian.
  58. 58. 3. Abstrak dan Kata Kunci Abstrak berisi ringkasan isi artikel yang dituangkan secara padat. Hal lainnya dapat dilihat dalam artikel ilmiah hasil penelitian. 4. Pendahuluan Bagian ini berisi uraian yang mengantar pembaca kepada topik utama yang akan dibahas sehingga bagian ini harus dapat menarik pembaca untuk mendalami bagian selanjutnya. Bagian pendahuluan sebaiknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas. 5. Bagian Inti Judul atau sub judul bagian inti sangat beragam bergantung pada topik yang dibahas. Pengorganisasian isi bagian inti meliputi langkah- langkah: a. mengidentifikasi tipe isi yang akan di deskripsi dalam artikel; b. menetapkan struktur c. menata isi ke dalam strukturnya d. menata urutan isi e. mendeskripsi isi sesuai urutan yang telah ditetapkan Pemaparan isi dimulai dari tingkat umum ke rinci secara bertahap atau isi yang paling penting dipaparkan lebih dahulu. Tingkat sajian yang lebih umum akan menjadi dasar bagian isi yang lebih rinci. Setiap paparan selalu berkaitan dengan bagian isi lainnya. 6. Penutup atau Kesimpulan Bagian ini merupakan bagian akhir sebuah artikel yang umumnya berupa simpulan. 7. Daftar Pustaka (Lihat bagian yang sama untuk artikel ilmiah hasil penelitian).
  59. 59. 59 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 1995. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. PT. Rineka Cipta, Jakarta. 335 hlm. Amirin, T.M. 1995. Menyusun rencana penelitian. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 172 hlm. Balai Pustaka, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka, Jakarta. 1382 hlm. Bynum, W.F., and R. Porter. 2002. Oxford Dictionary of Scientific. Oxford University Press. 736 pages Evans, D. and P. Gruba. 2002. How to write a better thesis. 2nd Edition. Melbourne University Press, Australia. 198 pages. Fahmy M.H. and P, Volland-Nail. 2000. Publishing research results. In: AGA (Ed), International Conference on Goats. 19-21 March 2000, Poitiers, France. pp. 963-965. Gustavii, B. 2003. How to write and illustrate a scientific paper. Cambridge University Press, UK. 152 pages. Ibrahim, H. 1998. Guidelines to communication. In: H. Ibrahim (Ed), Small Ruminant Production Tehniques. ILRI Manual 3. International Livestock Research Institute, Nairobi, Kenya. 207 pages. Keraf, G. 1991. Tata Bahasa Indonesia. Penerbit Nusa Indah, NTT. 188 hlm. Lindsay, D. 1988. Penuntun Penulisan Ilmiah [A guide to scientific writing]. Diterjemahkan oleh S.S. Ahmadi. UI-Press, Jakarta. 101 hlm. Matthews, J.R. J.M. Bowen, and R.W. Matthews. 1996. Successful scientific writing: A step-by-step guide for biological and medical sciences. Cambridge University Press, Cambridge, UK. 256 pages Nazir, M. 1998. Metode penelitian. PT. Ghalia Indonesia, Jakarta. 597 hlm. Pamungkas, 2000. Pedoman umum Bahasa Indonesia yang disempurnakan. PT. Giri Singa, Surabaya. 67 hlm. Sakri, A. 1994. Petunjuk bagi Pengarang, Penyunting dan Korektor. Seri Pembinaan Bahasa Tulis. Penerbit ITB, Bandung. Sakri, A. 1994. Bibliografi. Seri Pembinaan Bahasa Tulis. Penerbit ITB, Bandung. 21 hlm. Singarimbun, M. dan S. Effendi, 1998. Metode penelitian survei. LP3ES, Jakarta.
  60. 60. 60 Yang, J.T. 1995. An outline of scientific writing. World Scientific Publishing Co. Pre. Ltd., Singapore. 166 pages.

×