• Like
Dasar-dasar transaksi syari'ah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

Dasar-dasar transaksi syari'ah

  • 1,533 views
Published

Transaksi Syari'ah

Transaksi Syari'ah

Published in Economy & Finance
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,533
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
59
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. BMT HARAPAN UMMAT SIDOARJO Membangun Ekonomi Ummat Dalam Ridho Allah In House Training Prinsip-Prinsip Dasar Perbankan Syari’ah Sidoarjo, 27 Maret 2010
  • 2. Prinsip-prinsip Dasar Transaksi Perbankan Syariah  Titipan atau Simpanan (Depository/AlWadi’ah)  Bagi Hasil (Profit Sharing)  Jual Beli (Sale and Purchase)  Sewa (Financial Lease)  Jasa (Fee-Based Services)
  • 3. Titipan atau Simpanan (Depository/Al-Wadi’ah) Al Wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak kepada pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijagadan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. (Sayyid Sabiq)  Pada dasarnya, penerima simpanan adalah tidak bertanggungjawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipanselama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan. 
  • 4. Titipan atau Simpanan (Depository/Al-Wadi’ah)   “Jaminan pertanggungjawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak menyalahgunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan tersebut.” (Al-hadits) Dalam praktik perekonomian modern, si penerima simpanan tidak mungkin meng-idlekan aset tersebut, tetapi mempergunakannya dalam aktivitas ekonomi tertentu. Dengan demikian, ia menjadi penanggung/bertanggungjawab atas kehilangan/kerusakan yang terjadi pada barang tersebut.
  • 5. Titipan atau Simpanan (Depository/Al-Wadi’ah)  Aplikasi dalam perbankan, bank sebagai penerima simpanan dapat menggunakan al-wadi’ah untuk: 1. Current account (tabungan/giro) 2. Saving account (tabungan berjangka/deposito)
  • 6. Titipan atau Simpanan (Depository/Al-Wadi’ah) Nasabah Muwaddi’ (Penitip) 1. Titip Dana Bank Mustawda’ (Penyimpan) 4. Bagi Hasil 3. Bagi Hasil 2. Pemanfaata n Dana Users of Fund (Dunia Usaha)
  • 7. Bagi Hasil (Profit Sharing) Secara umum prinsip bagi hasil dalam perbankan syari’ah dapat dilakukan dalam 4 akad utama, yaitu almusyarokah, al-mudharobah, almuzaro’ah, dan al-musaqoh.  Namun dalam praktiknya yang sering dipakai adalah al-musyarokah dan almudharobah. Sedangkan al-muzaro’ah dan al-musaqoh dipakai khusus untuk plantation financing (pembiayaan pertanian) oleh beberapa bank. 
  • 8. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Musyarokah  adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.  Musyarokah akad terbagi menjadi, al’inan, al-mufawadhah, al-a’maal, dan al-wujuh.  Sebagian ulama’ juga memasukkan almudharobah dalam jenis musyarokah.
  • 9. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Musyarokah   Syirkah al-’inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Tiap pihak memberikan suatu porsi dana dan berpartisipasi dalam kerja. Tiap pihak berbagi keuntungan dan resiko sesuai kesepakatan. Porsi masing-masing, baik dalam dana maupun kerja, tidak harus sama melainkan sesuaikesepakatan. Syirkah al-mufawadhah hampir sama dengan al-’inan, tetapi porsi masingmasing pihak sama baik dalam dana, kerja, keuntungan, dan resiko.
  • 10. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Musyarokah   Syirkah al-a’maal adalah kontrak kerja sama dua orang atau lebih yang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Syirkah wujuh adalah kontrak kerja sama antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi (good will) dan prestise baik serta ahli dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan kemudian menjualnya kembali secara tunai. Mereka berbagi keuntungan dan resiko berdasarkan jaminan yang diberikan kepada supplier.
  • 11. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Musyarokah Aplikasi dalam perbankan biasanya dalam bentuk pembiayaan proyek dan modal ventura.  Untuk pembiayaan proyek, bank dan nasabah sama-sama menyediakan dana. Setelah proyek selesai, nasabah mengembalikan dana bank bersama bagi hasil yang disepakati untuk bank.  Al-musyarokah diterapkan dalam skema modal ventura untuk investasi dalam kepemilikan perusahaan. Penanaman modal dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan divestasi baik secara singkat maupun bertahap 
  • 12. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Musyarokah Nasabah Bank Asset Value Pembiaya an Proyek Usaha Bagi Hasil Sesuai Nisbah Bagi Hasil Sesuai Nisbah Keuntungan
  • 13. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Mudharobah    adalah akad kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan modal dan pihak kedua menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemodal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola. Secara umum mudharobah dibagi dua, yaitu mudharobah muthlaqoh dan
  • 14. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Mudharobah  Mudharobah muthlaqoh adalah bentuk kerja sama antara shohibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis.  Mudharobah muqoyyadah merupakan kebalikan dari mudharobah muthlaqoh, dimana mudharib dibatasi dengan jenis usaha, waktu, dan tempat usaha.
  • 15. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Mudharobah Aplikasi dalam perbankan, almudharobah bisa diterapkan dalam produk-produk penghimpunan dana dan pembiayaan.  Pada penghimpunan dana, almudharobah diterapkan pada tabungan dan deposito baik dengan mudharobah muthlaqoh maupun muqoyyadah.  Pada pembiayaan, mudharobah diterapkan untuk pembiayaan modal kerja (dagang dan jasa) serta 
  • 16. Bagi Hasil (Profit Sharing) Al-Mudharobah Perjanjian Bagi Hasil Nasabah (Mudharib ) Bank (Shahibul Maal) Keahlian / Ketrampila n Modal Usaha Proyek / Usaha Nisbah Bagi Hasil X% Laba Modal Nisbah Bagi Hasil Y% Pengembali an Pokok Modal
  • 17. Jual Beli (Sale and Purchase) Bentuk akad jual beli yang telah dibahas para ulama dalam Fiqih Muamalah Islamiah sangatlah banyak. Jumlahnya bisa mencapai belasan jika tidak puluhan.  Namun ada tiga jenis akad yang telah dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan investasi dalam perbankan syari’ah, yaitu bai’ al-murobahah, bai’ as-salam, dan bai’ al-istishna’. 
  • 18. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Murobahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan (profit margin) yang disepakati.  Bai’ al-murobahah dapat dilakukan untuk pembelian secara pemesanan dan biasa disebut sebagai murobahah Kepada Pemesan Pembelian (murobahah KPP).  Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’I menamai transaksi ini dengan istilah al-aamir bisy-syira. 
  • 19. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Murobahah  Pada dasarnya, dalam bai’ almurobahah KPP, jaminan bukanlah rukun atau syarat. Namun diperbolehkan untuk menjaga agar si pemesan (nasabah) tidak main-main dengan pesanannya. Si pembeli (bank) dapat meminta suatu jaminan untuk dipegangnya. Secara praktik, barang yang dipesan dapat menjadi salah satu jaminannya.
  • 20. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Murobahah  Secara prinsip, penyelesaian utang pemesan (nasabah) kepada pembeli (bank) dalam transaksi murobahah tidak ada kaitannya dengan transaksi yang dilakukan pemesan kepada pihak ketiga. Misalnya pemesan adalah pedagang, dia menjual kembali barang sebelum masa angsurannya selesai. Maka dia tetap wajib membayar utangnya sebesar nilai yang disepakati dalam murobahah tanpa melihat penjualannya untung atau rugi.
  • 21. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Murobahah Murobahah KPP umumnya diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestik maupun luar negeri melalui Letter of Credit (L/C).  Murobahah kurang sesuai untuk diterapkan secara berkelanjutan seperti pembiayaan modal kerja (dagang) karena murobahah merupakan kontrak jangka pendek. Akad mudharobah lebih sesuai untuk pembiayaan modal kerja 
  • 22. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Murobahah 1. Negosiasi dan Persyaratan Murobahah KPP Pembeli (Bank) 2. Akad Jual Beli 6. Bayar HPP & Margin yang Disepakati Pemesan (Nasabah ) 3. Pembelian Barang Penjual (Supplier) 5. Terima Barang 4. Kirim Barang
  • 23. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale) Dalam pengertian yang sederhana, bai’ as-salam berarti pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka.  Pelaksanaan bai’ as-salam harus memenuhi sejumlah rukun yang terdiri dari muslam (pembeli), muslam ilaihi (penjual), modal, muslam fiihi (barang), dan sighot (ucapan/akad). 
  • 24. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale) yang akan disupplai harus  Barang diketahui jenis, kualitas, dan jumlahnya.  Hukum awal pembayaran adalah bahwa ia harus berupa uang tunai. Kebanyakan ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak.  Pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk pembebasan utang yang harus dibayar oleh penjual. Hal ini untuk menghindari praktik riba dalam salam.
  • 25. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale) Dalam praktik di perbankan, dikenal istilah salam paralel yang berarti melaksanakan dua transaksi salam antara bank-nasabah, dan antara bank-pemasok secara simultan.  Ulama mem-fatwa-kan salam pararel diperbolehkan dengan syarat pelaksanaan transaksi salam kedua tidak bergantung pada pelaksanaan akad salam pertama. 
  • 26. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale)  Beberapa ulama kontemporer memberikan catatan atas transaksi salam paralel, terutama jika dilakukan secara terus-menerus, diduga akan menjurus kepada riba.  Perbedaan mendasar bai’ as-salam dengan sistem ijon adalah pengukuran dan spesifikasi barang yang harus jelas di awal transaksi serta harga yang “fair” (adanya keridhoan yang utuh antara kedua pihak).
  • 27. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale) as-salam pararel biasa dipakai pada  Bai’  pembiayaan bagi petani dengan jangkaa waktu relatif pendek (2-6 bulan). Bank membeli hasil panen bukan untuk disimpan sebagai inventory, melainkan dijual kembali kepada bulog atau pedagang grosir. Akad ini juga bisa diaplikasikan pada pembiayaan untuk manufaktur misalnya garmen yang ukuran barangnya sudah dikenal umum.
  • 28. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ As-Salam (In-front payment sale) kasus: Contoh seorang petani memiliki sawah 2 hektar mengajukan pembiayaan salam sebesar Rp 5 juta. Beras hasil panennya, IR36, jika dijual berharga Rp 2.000/kg. Hasil panen biasanya 4 ton per hektar dalam waktu 3 bulan. Maka bank bisa membeli beras petani sebanyak 2,5 ton (Rp 5 juta : Rp 2.000). Beras tersebut biasanya dijual kepada pedagang grosir dengan harga Rp 2.400/kg. Sehingga bank memperoleh keuntungan Rp 1 juta (Rp 400/kg X 2,5 ton) atau setara dengan margin 20%.
  • 29. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Istishna’ (Purchase by Order) jumhur fuqoha, bai’ al Menurut istishna’ merupakan suatu jenis khusus dari akad bai’ as-salam. Biasanya jenis ini dipakai di bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan bai’ al-istishna’ mengikuti aturan dalam akad bai’ assalam.  Dalam sebuah kontrak bai’ alistishna’, bisa saja pembeli mengijinkan pembuat barang menggunakan
  • 30. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Istishna’ (Purchase by Order) jumhur fuqoha, bai’ al Menurut istishna’ merupakan suatu jenis khusu dari akad bai’ as-salam. Biasanya jenis ini dipakai di bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan bai’ alistishna’ mengikuti aturan dalam akad bai’ as-salam.  Dalam sebuah kontrak bai’ alistishna’, bisa saja pembeli mengijinkan pembuat barang menggunakan subkontraktor, sehingga dikenal
  • 31. Jual Beli (Sale and Purchase) Bai’ Al-Istishna’ (Purchase by Order) Contoh kasus: sebuah perusahaan konveksi meminta pembiayaan untuk pembuatan pesanan kostum tim sepak bola sebesar Rp 20 juta. Produksi ini akan dibayar oleh pemesan dua bulan mendatang. Harga pasar kostum adalah Rp 50 ribu/pasang dan pembuat sepakat menjual ke bank dengan harga Rp 45 ribu/pasang. Produsen tidak menghendaki diketahui harga pokok produksi, ia hanya ingin memberi keuntungan kepada bank sebesar Rp 5 ribu/pasang. Dengan demikian bank memperoleh keuntungan sekitar Rp 2 juta
  • 32. Sewa (Operational Lease and Financial lease)    Sewa dibagi menjadi dua, yaitu al-ijaroh (operational lease) dan al-ijaroh almuntahia bit-tamlik (financial lease with purchase option). Dalam praktik perbankan pada umumnya lebih banyak menggunakan bentuk kedua. Al-ijaroh al-muntahia bit-tamlik (financial lease with purchase option) adalah sejenis perpaduan antara kontrak jualbeli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa.
  • 33. Jasa (Fee-Based Service) Wakalah, berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat. Contoh: penagihan, pembayaran tagihan.  Kafalah, merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Contoh: asuransi, jaminan leasing.  Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain. Contoh: factoring. 
  • 34. Jasa (Fee-Based Service) Ar-rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Contoh: gadai  Al-qordh adalah pemberian harta kepada pihak lain yang dapat ditagih atau diminta kembali. Atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Contoh: dana talangan, dana bergulir 
  • 35. amanah dan profesional….., itu sudah!!!