Konsep dan Dalil Tawasul dan istighatsah

1,333 views
1,095 views

Published on

Tawasul dan istighatsah dalam pandangan NU

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,333
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Konsep dan Dalil Tawasul dan istighatsah

  1. 1. َ‫س‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫م‬ّ‫ل‬َ‫س‬ َ‫و‬ ّ‫ل‬َ‫ص‬ َّ‫م‬ُ‫ه‬ّ‫ل‬‫ل‬َ‫ا‬َََُُُِّ ََِّ‫ِي‬ ْ‫ي‬‫ت‬َ‫ل‬ْ‫ِي‬َ ْ‫ت‬َ‫ق‬ َ‫ض‬ َِْ‫ق‬ ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ي‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫ك‬ ِ‫ْر‬‫د‬َ‫أ‬ِ‫لل‬ ََ ْ‫ْو‬ AKTUALISASI TAWASUL DAN ISTIGHATSAH
  2. 2. KONTROVERSI SUNNI - WAHABI ِ‫للا‬ َ‫ل‬ْ‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ي‬ ِْ‫ِن‬ْ‫ك‬ِ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ (Tolonglah aku wahai Rasulullah [dengan didoakan kepada Allah]) Menurut mayoritas kaum Muslimin sejak generasi sahabat hingga kini, bacaan di atas adalah benar dan tidak syirik. Sementara menurut Ibn Taimiyah (abad ke-8 H.), dan menurut Wahabi (abad ke-12 Hijriah), redaksi tersebut tidak benar, syirik akbar, murtad dan masuk neraka selama-lamanya.
  3. 3. ِ‫للا‬ َ‫ل‬ْ‫و‬ ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫َا‬‫ي‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫ك‬ِ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ MENURUT SUNNI MENURUT WAHABI Bacaan di atas masuk dalam kategori tawasul dan istighatsah, yaitu berdoa kepada Allah dengan memanggil nama seorang yang mulia menurut Allah, dan hal ini telah berlangsung sejak generasi sahabat dan diajarkan oleh Rasulullah . Bacaan di atas masuk dalam kategori menyembah selain Allah, yang berarti syirik akbar, murtad dan pelakunya masuk neraka selama- lamanya, dan hal ini telah difatwakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah pada abad ke-8 H.
  4. 4. ABU JAHAL DAN ABU LAHAB LEBIH BERTAUHID DARIPADA UMAT ISLAM YANG BERTAWASSUL
  5. 5. ِ‫للا‬ َ‫ل‬ْ‫و‬ ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫َا‬‫ي‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫ك‬ِ‫ر‬ْ‫د‬َ‫أ‬ KAUM SUNNI KAUM WAHABI Membenarkan redaksi tersebut berdasarkan hadits Rasulullah , amaliah para sahabat, dan ulama salaf. Melarang dan mensyirikkan redaksi tersebut berdasarkan fatwa Syaikh Ibnu Taimiyah pada abad ke-8 H dan dipertegas oleh ijtihad Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi (pendiri aliran Wahabi) pada abad ke-12.
  6. 6. HADITS UTSMAN BIN HUNAIF Rasulullah mengajarkan laki-laki tuna netra yang ingin sembuh dari kebutaannya agar berdoa dengan disertai memanggil Nabi dalam doanya dengan redaksi “Ya Muhammad (Wahai Muhammad)”. Dalil-dalil Kaum Sunni
  7. 7. Sanad hadits Utsman bin Hunaif di atas, shahih diriwayatkan oleh banyak ulama antara lain: 1. Ahmad bin Hanbal 2. Abd bin Humaid 3. Al-Tirmidzi 4. Al-Nasa’i 5. Ibn al-Sunni 6. Ibn Majah dan lain- lain Takhrij (Otentisifikasi) Hadits Utsman bin Hunaif
  8. 8. HADITS USTMAN BIN HUNAIF DIAMALKAN SAMPAI HARI KIAMAT Dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah terdapat tambahan: “Apabila kamu mempunyai hajat, lakukanlah doa seperti itu.” Hal ini membuktikan bahwa doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad berlaku sampai hari kiamat, tidak terbatas ketika Nabi masih hidup.
  9. 9. HADITS UTSMAN BIN HUNAIF DIAMALKAN PADA MASA SAHABAT Doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad ternyata diamalkan pada masa sahabat, sesudah wafatnya Nabi .
  10. 10. PENGAMALAN HADITS UTSMAN BIN HUNAIF PADA MASA SAHABAT Doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad ternyata diamalkan pada masa sahabat, sesudah wafatnya Nabi . Hal ini membatalkan tesis Wahabi yang membatasi doa tersebut pada zaman Nabi .
  11. 11. PENGAMALAN HADITS UTSMAN BIN HUNAIF PADA MASA SAHABAT Doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad ternyata diamalkan pada masa sahabat, sesudah wafatnya Nabi , dan haditsnya dinilai shahih oleh al- Imam al- Thabarani.
  12. 12. HADITS UTSMAN BIN HUNAIF DIAMALKAN PADA MASA SALAF Doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad ternyata diamalkan pada masa ulama salaf (tabi’in), sesudah generasi sahabat, dan tidak dianggap sebagai perbuatan syirik.
  13. 13. IBNU TAIMIYAH MENGAKUI PENGAMALAN HADITS UTSMAN BIN HUNAIF PADA MASA SALAF Ibn Taimiyah (panutan Wahabi) mengakui bahwa doa yang mengandung tawasul Ya Muhammad ternyata diamalkan pada masa ulama salaf (tabi’in), sesudah generasi sahabat, dan tidak dianggap sebagai perbuatan syirik.
  14. 14. Sahabat Nabi Beristighatsah Pada Masa Khulafaur Rasyidin Seorang sahabat datang ke makam Nabi lalu berkata: “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan bagi umatmu, mereka sedang menghadapi kelaparan.” Ini menjadi bukti bahwa beristighatsah dengan orang yang sudah wafat bukanlah syirik menurut sahabat.
  15. 15. Sahabat Nabi Beristighatsah Pada Masa Khulafaur Rasyidin Istighatsah sahabat dengan Nabi pada masa Khalifah Umar, dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Katsir.
  16. 16. Sahabat Nabi Beristighatsah Pada Masa Khulafaur Rasyidin Istighatsah sahabat dengan Nabi pada masa Khalifah Umar, dinilai shahih oleh al- Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 2 hal. 572.
  17. 17. Istighatsah Sahabat Dengan Nabi Pada Masa Khulafaur Rasyidin Istighatsah sahabat dengan Nabi pada masa Khalifah Umar, dinilai shahih oleh al- Hafizh Ibnu Hajar.
  18. 18. Sahabat Nabi Beristighatsah Ketika Kakinya Mati Rasa Abdurrahman bin Sa’ad berkata, “Kaki Ibnu Umar mati rasa (tidak dapat digerakkan)”. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “Panggil orang yang paling kamu cintai”. Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad”.
  19. 19. Sahabat Yang Sedang Sakit Beristighatsah Dengan Nabi Abu Sa’id berkata, “Aku berjalan bersama Ibnu Umar, tiba-tiba kakinya mati rasa (tidak dapat digerakkan), sehingga ia duduk”. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “Panggil orang yang paling kamu cintai”. Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammadah”. Maka iapun dapat berdiri dan berjalan.
  20. 20. Sahabat Yang Sedang Sakit Beristighatsah Dengan Nabi Abdurrahman bin Sa’ad berkata, “Kaki Ibn Umar mati rasa (tidak dapat digerakkan)”. Aku berkata: “Kenapa dengan kaki Anda?” Beliau menjawab: “Uratnya berkumpul”. Aku berkata: “Panggil orang yang paling kamu cintai”. Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka kakinya sembuh seketika itu.
  21. 21. Sahabat Yang Sedang Sakit Beristighatsah Dengan Nabi Ibn Taimiyah (panutan Wahabi) menganjurkan istighatsah seperti yang dilakukan Ibn Umar.
  22. 22. Sahabat Yang Sedang Sakit Beristighatsah Dengan Nabi Seorang yang pernah berguru kepada Ibn Umar berkata, “Kaki Ibn Umar mati rasa (tidak dapat digerakkan)”. Lalu seorang laki- laki berkata kepadanya: “Panggil orang yang paling kamu cintai”. Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad”.
  23. 23. Tadlisnya Abu Ishaq al-Sabi’i Diselamatkan Oleh Riwayat Imam Syu’bah Darinya Al-Albani (Wahabi) mendhaifkan atsar Ibn Umar tersebut, karena Abu Ishaq yang mudallis meriwayatkannya secara mu’an’an. Tetapi tadlis tersebut menjadi hilang, karena atsar tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Syu’bah dari Abu Ishaq.
  24. 24. Tadlisnya Abu Ishaq al-Sabi’i Diselamatkan Oleh Riwayat Imam Syu’bah Darinya Al-Albani (Wahabi) mendhaifkan atsar Ibn Umar tersebut, karena Abu Ishaq yang mudallis meriwayatkannya secara mu’an’an. Tetapi tadlis tersebut menjadi hilang, karena atsar tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Syu’bah dari Abu Ishaq.
  25. 25. Tadlisnya Abu Ishaq al-Sabi’i Diselamatkan Oleh Riwayat Imam Syu’bah Darinya Abu Abdillah Mushthafa bin al- ’Adawi (ulama Wahhabi) menegaskan bahwa riwayat Imam Syu’bah dari Abi Ishaq al- Sabi’i yang dikenal perawi mudallis dapat menyelamatkan haditsnya dari kedha’ifan sebab mu’an’an.
  26. 26.  Para Imam Ahli Hadits, yaitu al- Imam al- Thabarani, al- Imam Abu al- Syaikh al- Ashibhani dan al-Imam al- Thabarani beristighatsah dengan Nabi . (Tadzkirat al- Huffazh, Juz 3 hal. 974.) PARA IMAM AHLI HADIS BERISTIGHATSAH DENGAN NABI
  27. 27. GENERASI SALAF JUGA BERISTIGHATSAH DENGAN NABI Abu al-Khair al-Aqtha’, tidak makan lima hari, lalu beristighatsa h dengan Nabi
  28. 28. Ibnu Abi Zur’ah al-Thabari bersama ayahnya ber-istighatsah dengan Nabi ketika kelaparan pada saat ada di Madinah. AHLI HADITS JUGA BERISTIGHATSAH DENGAN NABI
  29. 29. Nabi Mengetahui Shalawat Yang Kita Baca Dari Tempat Yang Dekat Dan Jauh Rasulullah : “Barang siapa yang membaca shalawat di dekat makamku, maka aku mendengar- nya. Dan barang siapa yang membaca shalawat dari tempat yang jauh, maka aku mengetahuinya”.
  30. 30. Nabi Mengetahui Shalawat Yang Kita Baca Dari Tempat Yang Dekat Dan Jauh Rasulullah : “Barang siapa yang membaca shalawat di dekat makamku, maka aku mendengarnya. Dan barang siapa yang membaca shalawat dari tempat yang jauh, maka aku mengetahuinya”. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar.
  31. 31. Nabi Mengetahui Shalawat Yang Kita Baca Dari Tempat Yang Dekat Dan Jauh Rasulullah : “Barang siapa yang membaca shalawat di dekat makamku, maka aku mendengarnya. Dan barang siapa yang membaca shalawat dari tempat yang jauh, maka aku mengetahuinya”. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh al- Ghumari.

×