Perbankan Syariah

12,055 views

Published on

1 Comment
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
12,055
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
35
Actions
Shares
0
Downloads
695
Comments
1
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perbankan Syariah

  1. 1. PERBANKAN SYARIAH
  2. 2. ISLAM: PANDANGAN HIDUP KOMPREHENSIF ISLAM AQIDAH SHARIAH AKHLAQ MUAMALAH IBADAH MAHDLAH SPECIAL RIGHTS PUBLIC RIGHTSCIVIL LAWS CRIMINAL LAWS INTERIOR AFFAIRS EXTERIOR AFFAIRS INT RELATIONPOLITICS ECONOMICS SOCIAL CULTURE ETC FINANCELEASING INSURANCE BANKING MORTGAGE VENTURE CAPITAL
  3. 3. • Al-Qashash: 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
  4. 4. Hadist Turmidzi 2341 dan Darimi 536
  5. 5. ARTINYA:• Dari Abu Barzah Al-Aslami berkata: bahwasanya Rasulullah SAW telah berkata: “Pada hari kiamat kelak seorang hamba tidak akan melangkahkan kakinya kecuali akan ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya sejauhmana ia mengamalkannya, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia pergunakan, serta tentang semua anggota
  6. 6. • QS. At-Taghabun 15: Sesungguhnya hartamu dan anak- anakmu hanyalah cobaan/fitnah (bagimu), dan di sisi Allahlah pahala yang besar, dan QS Al-’Anfaal: 28 (dan ketahuilah …)• Harta sebagai fitnah, Fitanah= – ‘Azab (Adz-Dzaariyaat: 14) – Cobaan (Thaahaa: 40) – Keberpalingan dari ibadah kepada Allah SWT (at-Taghaabun: 15) – Pemaksaan untuk tidak kembali kepada agama (al-Buruuj: 10) – Kesesatan (al-Muddatstsir: 31) – Kekufuran (al_baqarah: 19) – Dosa (at-Taubah: 49)
  7. 7. PROSES PENGELOLAAN HARTA BAGAIMANA CARA DIGUNAKAN HARTA MENDAPATKAN UNTUK APA YANG DIMILIKIa. HARAM a. ZIS ZATNYA b. BAYARb. HARAM BUKAN KEWAJIBAN ZATNYA c. INVESTASI/c. TIDAK SYAH TABUNGAN AKADNYA d. KONSUMSI
  8. 8. Sistem Produksi dalam Islam INPUT PROSES OUTPUT Halal Halal Halal Halal Haram Haram Haram Halal Haram Haram Haram HaramAPA CONTOHNYA?:1.2.3.4.
  9. 9. ISLAM DAN PERBANKANKAIDAH USHUL FIQH:Maa laa yatim al-wajib illa bihi fa huwa wajibSesuatu yang harus ada untuk mempurnakan yang wajib,maka ia wajib diadakan.Hadits:Antum a’lamu bi umuri al-dunyakum? (kalian lebih mengetahuitentang urusan dunia kalian)Masalah ekonomi dan perbankan adalah bab muamalah, makaselama ia memberikan perbaikan kehidupan umat manusiamaka wajib dijalankan dengan sesuai kaidah Islam
  10. 10. ALASAN PERLUNYA BANK SYARI’AHSecara praktis, sistem perbankan berbasis bunga atau konvensional mengandung beberapa kelemahan, sebagai berikut : Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan atau kewajaran bisnis. Tidak fleksibelnya sistem transaksi berbasis bunga menyebabkan kebangkrutan. Komitmen bank untuk menjaga keamanan uang deposan berikut bunganya membuat bank cemas untuk mengembalikan pokok dan bunganya. Sistem transaksi berbasis bunga menghalangi munculnya inovasi oleh usaha kecil. Dalam sistem bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan pendapatan bunga mereka.
  11. 11. Islam dan Perbankan Syari’ah  Al-Qur’ an memberikan nilai-nilai dalam menjalankan aktivitas perbankan syari’ ah  Pada masa Rasulullah telah didirikan lembaga keuangan : Baitul Mal; Wilayatul Hisbah; Pengembangan etika bisnis  Para khulafa’ urrasyidin melanjutkan mengembangkan baitul mal  Pada masa dinasti Islam, baitul mal terus dikembangkan dan mulai adanya pemikiran tentang ekonomi  Pada masa modern telah berdiri lo cal saving bank, I slamic De ve lo pme nt Bank, Bank Syari’ ah, dan lembaga keuangan non bank lainnya
  12. 12. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN NABIBank : lembaga yang melaksanakan 3 fungsi utama:• Menerima simpanan uang• Meminjamkan uang• Memberikan jasa pengiriman uangContoh yang dilakukan Nabi:Rasulullah saw dikenal sebagai al-amin, dipercaya masyarakatMekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat terakhirsebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayidina Alira. untuk mengembalikan semua titipan itu kepada yangmemilikinyaSahabat Rasul Zubair bin al-Awwam  lebih suka menerimauang dalam bentuk pinjaman
  13. 13. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN BANI UMAYYAH DAN BANI ABASIAHMulai ada orang yang memiliki keahlian di bidang keuangan, yang disebutdengan jihbiz :Jihbiz vs Bank: Persamaan dan Perbedaannya:Persamaannya:Jihbiz dan Bank sama-sama melakukan fungsi berikut: •To accept deposits •To channel financing •To tranfer moneyPerbedaannya: •Jihbiz dikelola oleh individu •Bank dikelola oleh institusi
  14. 14. EVOLUSI KEGIATAN PERBANKAN DALAM MASYARAKAT ISLAM 1. Individu (Nabi/sahabat melakukan suatu fungsi perbakan 2. Jihbiz (seorang melakukan suatu fungsi perbakan 3. Bank (sebuah institusi melakukan ketiga fungsi perbankan)  diadopsi oleh masyarakat Eropa abad pertengahan, namun kegiatannya mulai dilakukan dengan basis bunga 4. Bank syari’ah modern (sebuah institusi melakukan kegitiga fungsi perbankan dengan berlandaskan syari’ah Islam)
  15. 15. Perkembangan Bank Syari’ah di Luar NegeriMit Ghamr Bank  dirintis pada tahun 1960-an sebagai rural-so cial bank,berdiri di sekitar sungai Nil, didirikan oleh Prof. Dr. Ahmad NajjarIslamic development Bank,  dirintis pada sidang Menlu Negara OKI diKarachi Pakistan Desember 1970.Islamic Research and Training Institute  lembaga milik IDB yang bertugasmembantu melakukan riset dan pelatihan untuk pengembanganekonomi/bank syari’ ahPembantukan bank-bank syari’ ah di luar negeri : Kategori I  bank komersial Kategori II  lembaga investasi dalam bentuk inte rnatio nal ho lding co mpanie s
  16. 16. Perkembangan Landasan Hukum UU No 7/92 tentang PerbankanPP No 72/92 tentang Bank UU No 10/98 tentang Berdasarkan Bagi Hasil perubahan UU 7/92 UU No 21/08 tentang Dicabut dg PP perubahan UU 10/98 30/99 BANK SYARIAH
  17. 17. Definisi Bank dan Perbankan Syariah menurut UU No. 21 tahun 2008• Bank adalah badan usaha yang menghimpun d ana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuklainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.• Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya
  18. 18. Bank Syariah• Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah• Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran• Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariahyang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalamlalu lintas pembayaran
  19. 19. Perbedaan bank Syariah dan konvenSionalPermasalahan Bank Syariah Bank KonvensionalLandasan  Berdasarkan prinsip syariah Islam  Berdasarkan prinsip danoperassional  Uang sebagai alat tukar bukan nilai materialistis komoditi.  Uang sebagai komditi  Bunga dalam berbagai bentuknya yang diperdagangkan. dilarang  Bunga sebagai instrumen  Menggunakan prinsip bagi hasil dan imbalan terhadap pemilik keuntungan atas transaksi riel uang yang ditetapkan dimukaFungsi dan  Lembaga intermediari.  Lembaga intermediariPeran  Agen investasi /manager investasi.  Penghimpun dana  Investor masyarkat dan meminjamkan kembali  Penyedian jasa lalu lintas kepada masyarakat dalam pembayaran (tidak bertentangan kredit dengan imbalan syariah). bunga.  Pengelola dana kebajikan, ZIS, (fungsi sosial)  Penyedia jasa / lalu lintas pembayaran  Hubungan dengan nasabah adalah  Hubungan bank dengan hubungan kemitraan (investor timbal
  20. 20. Perbedaan Bank Syariah dan Bank KonvensionalPermasalahan Bank Syariah Bank KonvensionalRisiko Usaha  Dihadapi bersama antara bank  Risiko bank tidak terkait dengan nasabah dengan langsung dengan debitur , prinsip keadilan dan kejujuran. risiko debitur tidak terkait  Tidak mengenal kemungkinan langsung dengan bank. terjadinya selisih negatif  Kemungkinan terjadi (negatif spread) karena sistem selisih negatif antara yang digunakan. pendapatan bunga dan beban bungaSistem  Adanya dewan pengawas  Aspek moralitas sering kaliPengawasan syariah untuk memastikan terlanggar karena tidak operasional bank tidak adanya nilai-nilai religius menyimpang dari syariah yang mendasari disamping tuntutan moralitas operasional. pengelola bank dan nasabah sesuai dengan akhlakul kharimah
  21. 21. PERBEDAAN BUNGA DENGAN BAGI HASILBUNGA BAGI HASIL Dihitung dari pokok (uang  Dihitungan dari yg dipinjamkan) keuntungan Berubah sesuai kondisi  Nisbah tetap sesuai (bunga) pasar akad Nominal tetap sesuai suku  Nominal berubah bunga sesuai kondisi usaha Diragukan  Tidak ada keraguan
  22. 22. Karakteristik Bank Syariah• Berdasarkan prinsip syariah• Implementasi prinsip ekonomi Islam dg ciri: – pelarangan riba dalam berbagai bentuknya – Tidak mengenal konsep “time-value of money” – Uang sebagai alat tukar bukan komoditi yg diperdagangkan.• Beroperasi atas dasar bagi hasil• Kegiatan usaha untuk memperoleh imbalan atas jasa• Tidak menggunakan “bunga” sebagai alat untuk memperoleh pendapatan• Azas utama => kemitraan, keadilan, transparansi dan universal• Tidak membedakan secara tegas sektor moneter dan sektor riil=> dapat melakukan transaksi-2 sektor riil
  23. 23. Syarat transaksi sesuai syariah a.l : (pr 7)• Tidak mengandung unsur kedzaliman• Bukan riba• Tidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain.• Tidak ada penipuan (gharar)• Tidak mengandung materi-materi yg diharamkan• Tidak mengandung unsur judi (maisyir)
  24. 24. FIQH MUAMALAH UNTUK PERBANKAN
  25. 25. PRINSIP-PRINSIP MUAMALAH ISLAM Bidang yang diperbolehkan syari’ah Tadlis Bidang yang dilarangTaghrir Riba syari’ah Persaingan tidak sempurna Ikhtikar & bai’ najasy
  26. 26. PENYEBAB TRANSAKSI DILARANG Penyebab dilarangnya transaksi Haram zatnya Haram selain Tidak sah akadnya zatnya1. Darah 1. Tadlis 1. Rukunnya tidak2. Bangkai (kecuali ikan terpenuhi & belalang) 2. Ikhtikar 2. Syarat tidak3. Daging babi 3. Bai’ Najasy terpenuhi4. Binatang yang 4. Taghrir (Gharar) disembelih tidak 3. Terjadi Ta’alluq menyebut asma Allah 5. Riba 4. Terjadi “2 in 1”5. Khamer (minuman keras) 6. Risywah
  27. 27. HARAM ZATNYATransaksi dilarang karena obyek yang ditransaksikan jugadilarangMisalnya: minuman keras, bangkai (kecuali ikan dan belalang),babiTransaksi barang atau jasa yang demikian ini tetap haramwalaupun akad jual-belinya sah.Contoh:Pembelian minuman keras dengan akad murabahah melaluiBank Syari’ah.(Zat barangnya haram, namun akadnya sah)
  28. 28. HARAM SELAIN ZATNYA1. Tadlis (melanggar prinsip “an taraddin minkum” Setiap transaksi dalam Islam harus dilandasi pada prinsip kerelaan kedua pihak yang bertransaksi Mereka harus memiliki informasi yang sama tentang barang/jasa yang diperjual belikan, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan Unknown to one party dalam bahasa fiqh disebut tadlis. Tadlis terjadi karena empat hal: a. Kuantitas  pengurangan timbangan b. Kualitas  penyembunyian kecacatan obyek c. Harga  memanfaatkan ketidaktahuan harga pasar d. Waktu penyerahan  penjual tidak mengetahui secara pasti barang akan diserahkan kepada pembeli
  29. 29. HARAM SELAIN ZATNYAb. Taghrir (Gharar)Gharar adalah situasi dimana terjadi incomplete information karena adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi.Taghrir terjadi bila kita merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti menjadi tidak pasti.Gharar/taghrir terjadi karena empat hal, yaitu:1) Kuantitas  kasus ijon2) Kualitas  menjual sapi masih dalam perut induknya3) Harga  pengambilan margin 20% untuk 1 tahun atau 40% untuk 2 tahun4) Waktu penyerahan  menjual barang hilang seharga Rp. X dan disetujui oleh pembelinya
  30. 30. HARAM SELAIN ZATNYA2. Melanggar prinsip “la tazhlimuna wa la tuzhlamun” Jangan menzalimi dan jangan dizalimi S2Praktek yang melanggar prinsip ini adalah:a. Rekayasa pasar dalam Supply (Ikhtikar) S1 - Mengupayakan adanya kelangkaan barang P” dengan menimbun atau entry barier P’ - Menjual harga lebih tinggi dibandingkan harga sebelum munculnya kelangkaan D - Mengambil keuntungan lebih dibandingkan keuntungan sebelum kejadian I dan II Q2 Q1
  31. 31. HARAM SELAIN ZATNYAb. Rekayasa Pasar dalam demand (Bai’ Najasy)Rekayasa pasar dalam demand terjadi bila seorang produsen/ pembeli menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual S1 produk akan naik.Cara ini dapat dilakukan dengan cara: P”1) Penyerbaran isu P’ D22) Melakukan order pembelian D13) Pembelian pancingan sehingga tercipta sentimen pasar, bila harga sudah naik sampai level yang diinginkan, maka yang bersangkutan akan Q1 Q2 melakukan aksi ambil untung dengan melepas kembali obyek yang sudah dibeli
  32. 32. HARAM SELAIN ZATNYAd. RibaDalam ilmu fiqh dikenal jenis riba:1) Fadl (riba buyu’) riba karena pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin).2) Nasi’ah (riba duyun)  riba yang timbul akibat hutang-piutang yang tidak memenuhi kriteria untuk muncul renturn bersama risiko (al ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi la dhaman). Transaksi semisal ini mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban, hanya berjalannya waktu. Nasi’ah adalah memastikan sesuatu yang tidak pasti menjadi pasti3) Qard dan Jahiliyah  hutang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang ditetapkan.
  33. 33. RINGKASAN MENGENAI RIBATipe Riba Faktor penyebab Cara Menghilangkan Faktor PenyebabRiba Fadl Gharar (uncertain Kedua belah pihak harus memastikan to both parties) faktor berikut: 1) Kuantitas; 2) Kualitas; 3) Harga; 4) Waktu penyerahanRiba Nasi’ah Return tanpa Kedua belah pihak membuat kontrak yang risiko, pendapatan merinci hak dan kewajiban masing-masing tanpa biaya untuk menjamin tidak adanya pihak manapun yang mendapatkan return tanpa menanggung risiko, atau menikmati pendapatan tanpa menanggung biayaRiba Jahiliyah Memberi pinjaman Jangan mengambil manfaat apapun dari sukarela secara akad kebaikan (tabarru) komersiil, karena Kalaupun ingin mengambil manfaat maka setiap pinjaman gunakan akad bisnis (tijarah), bukan akad yang mengambil kebaikan (tabarru) manfaat adalah riba
  34. 34. HARAM SELAIN ZATNYAe. Risywah Menyuap orang lain untuk meloloskan atau memudahkan urusan yang bersangkutan
  35. 35. TIDAK SAH/LENGKAP AKADNYASuatu transaksi yang tidak termasuk dalam kategori haram li dzatihi maupun haram li ghairihi, belum tentu serta merta menjadi halal.Sesuatu tersebut menjadi haram bila akad atas transaksi itu tidak sah atau tidak lengkap.Suatu transaksi dikatakan tidak sah atau tidak lengkap akadnya bila terjadi salah satu atau lebih faktor berikut:1) Rukun dan syarat tidak terpenuhi  Rukun jual beli meliputi: (a) Pelaku; (b) Obyek; © Ijab-qabul. Syarat jual beli, tidak: (a) Menghalalkan yang haram; (b) Mengharamkan yang halal; © Menggugurkan rukun; (d) Bertentangan dengan rukun; (e) Mencegah berlakunya rukun2) Terjadi Ta’alluq  Terjadi bila kita dihadapkan pada dua akad yang saling dikaitkan. Dengan maksud, berlakunya akad 1 tergantung pada akad ke 2. Dalam terminologi fiqh disebut bai’ al-’inah.3) Terjadi two in one  Satu transaksi mewadahi dua akad sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian. Dalam terminologi fiqh disebut: shafqatain fi al-shafqah. Two in one terjadi karena: (a) obyek sama; (b) pelaku sama; © jangka waktu sama. Bila salah satu dari faktor tersebut tidak ada maka tidak terjadi two in one
  36. 36. WA’AD DAN AQAD
  37. 37. ANTARA WA’AD DENGAN AQAD• Ada perbedaan antara wa’ad dengan aqad• Wa’ad – Wa’ad= janji (promis) antara satu pihak kepada pihak lainnya (hanya mengikat satu pihak = one way) – Terms and condition-nya tidak well-defined – Belum ada kewajiban yang ditunaikan oleh pihak manapun, walaupun term & condition-nya sudah well-defined• Aqad – Aqad mengingat kedua belah pihak yang saling bersepakat – Term & condition sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik – Ada sanksi bagi pihak yang tidak memenuhi kewajiban yang disepakati
  38. 38. ANTARA TABARRU’ DENGAN TIJARAH• Tabarru’ berasal dari kata birr = kebaikan• Tabarru’ = segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi nirlaba (not for profit transaction)• Tabarru’ merupakan transaksi yang dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan• Contoh: qard, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah, hibah, wakaf, shadaqah, hadiah
  39. 39. AQAD TABARRU’ Lending $ Lending $ Qard Lending $ + Collateral Rahn Lending $ to take over loan from Hiwalah other party Lending yourself Lending yourself now to do Wakalah something on behalf of other Wakalah, by specifying the job Wadi’ah Contingent wakalah, I.e preparing Hiwalah yourself to do something if something happens Giving something Hibah, shadaqah, waqf
  40. 40. ANTARA TABARRU’ DENGAN TIJARAH• Tijarah = perdagangan = comersiil• Tijarah = segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi yang mendatangkan keuntungan (for profit transaction)• Contoh: akad investasi, jual beli, sewa- menyewa, dll.• Aqad Tijarah dilihat dari kepastian hasil yang diperoleh: – Natural Uncertainty Contract – Natural Certainty Contract
  41. 41. AQAD TIJARAH Natural Certainty Contract Murabahah Salam Teori Istishna’ Pertukaran Ijarah Natural Uncertainty Contract Musyarakah: Wujuh, ‘inan, abdan, mufawadah) Teori Muzara’ah Percampuran Musaqah Mukhabarah
  42. 42. TEORI PERTUKARAN & PERCAMPURANBerdasarkan tingkat kepastian hasil yang diperoleh, kontrak bisnis dapat dibedakan menjadi1. Natural Certainty Contracts (Teori Pertukaran)2. Natural Uncertainty Contracts (Teori Percampuran)
  43. 43. TEORI PERTUKARAN DALAM ISLAMNatural Certainty Contracts/teori pertukaran, adalahkontrak dalam bisnis yang memberikan kepastianpembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu. Dalambentuk ini: Cash-flownya pasti atau sudah disepakati di awal kontrak Obyek pertukarannya juga pasti secara jumlah, mutu, waktu maupun harganya
  44. 44. TEORI PERTUKARAN ‘AYN (aset riil) BI ‘AYN (aset riil) OBYEK ‘AYN (aset riil) BI DAYN (asetPERTUKARAN keuangan) DAYN (aset keuangan) BI DAYN (aset keuangan) NAQDAN WAKTU (Sekarang/Tunai)PERTUKARAN GHAIRU NAQDAN (Masa YAD)
  45. 45. TEORI PERTUKARAN JENIS BEDA upah tenaga kerja yang dibayar dengan sejumlah beras Kasat Mata ‘AYN BI ‘AYN Kualitas dapat dibedakan Pertukaran kuda dengan kudareal asset (‘ayn) dengan real asset (‘ayn) JENIS SAMA Kasat Mata Kualitas tidak dapat dibedakan Jika tidak dapat dibedakan mutunya, pertukaran dibolehkan, jika: Sawa-an bi sawa-in (sama jumlahnya) Mistlan bi mistlin (sama mutunya) Yadan bi yadin (sama waktu penyerahannya)
  46. 46. TEORI PERTUKARAN Naqdan Salam Barang Order Al-Bai’ Istishna’ Mu’ajjal ‘AYN BI DAYNreal asset (‘ayn)dengan financial Ijarah asset (dayn) Jasa Al-Ijarah Ju’alah
  47. 47. TEORI PERTUKARAN Jenis sama Sawa-an bi sawa-in (sama jumlahnya) Uang Yadan bi yadin (diserahkan saat itu juga) Jenis Beda DAYN BI DAYN Yadan bi yadin (diserahkan saat itu juga)Pertukaran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn) Non-Uang Surat berharga
  48. 48. TEORI PERCAMPURAN DALAM ISLAMNatural Uncertainty Contracts/teori percampuran adalah kontrakdalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan, baikdari segi jumlah maupun waktunya. Tingkat returnnya bisa positif,negatif maupun nol.Kontrak-kontrak investasi ini secara sunatullah tidak menawarkan : Return yang tetap dan pasti. ` Sifatnya tidak fixed dan predetermined.Dalam kontrak jenis ini, pihak-pihak yang bertransaksi salingmencampurkan asetnya (baik real asset maupun financial assets)menjadi satu kesatuan, dan kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan.Dalam kontrak demikian ini, keuntungan dan kerugian ditanggungbersama.
  49. 49. TEORI PERCAMPURAN ‘AYN BI ‘AYN OBYEKPERCAMPURAN ‘AYN BI DAYN DAYN BI DAYN NAQDAN WAKTUPERCAMPURAN GHAIRU NAQDAN
  50. 50. TEORI PERCAMPURAN ‘AYN BI ‘AYN BI DAYN BI ‘AYN DAYN DAYNMenyumbangkankeahlian Syirkah Jasa/keahlian (real asset) Percampuran financial asset ‘Abdan dicampur dengan uang (financial (dayn) dengan financial asset asset) Bentuk percampuran ini (dayn) disebut syirkah mudharabah Jika percampuran antara uang Seorang penyandang dana dengan uang dengan jumlah memberikan dana dan yang lain sama disebut syirkah memberikan reputasinya mufawadah; atau jumlah uang Bentuk percampuran ini disebut yang dipercampurkan syirkah wujuh jumlahnya berbeda disebut syirkah ‘inan.
  51. 51. APLIKASI AKADDALAM PRODUK – PRODUK BANK SYARIAH BANK SYARIAH PENGHIMPUNAN DANA PENYALURAN DANA JASA PRINSIP WADIAH PRINSIP JUALBELI - Giro - Murabahah - Wakalah - Tabungan - Istishna - Kafalah - Salam - Sharf - Ijarah - Rahn - Hiwalah PRINSIP MUDHARABAH PRINSIP BAGIHASIL -Giro - Mudharabah -Tabungan - Musyarakah - Deposito 53
  52. 52. 54
  53. 53. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:GIRO SYARIAHLANDASAN HUKUM:Fatwa DSN – MUI No.01/DSN-MUI/IV/2000,Tanggal 1 April 2000. GIRO SYARIAH GIRO GIRO WADIAH MUDHARABAH  Bersifat titipan  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Mal  On call  Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal  Keuntungan dan kerugian dari tidak melanggar prinsip syariah penyaluran dana wadiah menjadi  Dana giro harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang hak milik atau ditanggung bank.  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah  Tidak ada imbalan (bonus) yang  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan dipersyaratkan nasabah tanpa persetujuan nasabah 55
  54. 54. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:GIRO SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA GIRO WADIAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Wadi’ah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi giro Nasabah Pembyn B Nasabah Giro Bank Syariah Wadi’ah Dapat diberikan imbalan atau bonus Pendapatan 7 6 bank namun tidak boleh diperjanjikan Nasabah Pembyn C 56
  55. 55. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:GIRO SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA GIRO MUDHARABAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi giro Nasabah Giro Nasabah Pembyn B Mudharabah Bank Syariah Distribusi Bagihasil sesuai nisbah Pendapatan 7 6 yang disepakati yang akan dibagikan Nasabah Pembyn C 57
  56. 56. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:TABUNGAN SYARIAHLANDASAN HUKUM:Fatwa DSN – MUI No.02/DSN-MUI/IV/2000,Tanggal 1 April 2000. TABUNGAN SYARIAH TABUNGAN TABUNGAN WADIAH MUDHARABAH  Bersifat titipan  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Maal  On call  Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha, asal tidak  Keuntungan dan kerugian dari melanggar prinsip syariah penyaluran dana wadiah menjadi  Dana tabungan harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang hak milik atau ditanggung bank.  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah  Tidak ada imbalan (bonus) yang  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah dipersyaratkan tanpa persetujuan nasabah 58
  57. 57. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:TABUNGAN SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA TABUNGAN WADIAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Wadiah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Setoran tabungan 8 Penarikan tabungan Nasabah Pembyn BNasabah Pemilik Dana Bank Syariah Tabungan Wadiah 7 Dapat diberikan imbalan atau bonus Pendapatan namun tidak boleh diperjanjikan 6 Bank Nasabah Pembyn C 59
  58. 58. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:TABUNGAN SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA TABUNGAN MUDHARABAH 4 Pooling Fund 5 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran awal 3 Mutasi tabungan Nasabah Pembyn B Nasabah Pemilik Dana Tabungan Mudharabah Bank Syariah Distribusi Bagihasil sesuai nisbah 6 7 Pendapatan yang yang disepakati akan dibagikan Nasabah Pembyn C 60
  59. 59. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:DEPOSITO SYARIAHLANDASAN HUKUM:Fatwa DSN – MUI No.03/DSN-MUI/IV/2000,Tanggal 1 April 2000. DEPOSITO SYARIAH DEPOSITO DEPOSITO MUDHARABAH MUDHARABAH MUTLAQAH MUQAYYADAH  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul  Bank selaku Mudharib, Nasabah selaku Shahibul Maal Maal  Mudharib boleh melakukan berbagai macam  Mudharib hanya boleh melakukan usaha yang usaha, asal tidak melanggar prinsip syariah dipersyaratkan oleh nasabah  Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai  Dana deposito harus dinyatakan jelas, tunai bukan piutang bukan piutang  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam  Pembagian keuntungan dinyatakan dalam Nisbah Nisbah  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah  Tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah 61
  60. 60. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:DEPOSITO SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUTHLAQAH 3 Pooling Fund 4 Penyaluran pembiayaan 1 Akad Mudharabah Nasabah Pembyn A 2 Setoran Deposito 7 Pencairan Deposito Nasabah Pembyn BNasabah pemilik dana Bank SyariahDeposito Mudharabah Muthlaqah Distribusi Bagihasil sesuai 6 Pendapatan yang nisbah yang disepakati 5 akan dibagikan Nasabah Pembyn C 62
  61. 61. PRODUK PENGHIMPUNAN DANA:DEPOSITO SYARIAH (Lanjutan...) SKEMA DEPOSITO MUDHARABAH MUQAYYADAH 3 Penyaluran pembiayaan sesuai dengan persyaratan nasabah deposan Akad Mudharabah 1 Muqayyadah Nasabah Pembyn A 2 Setoran Deposito 6 Pencairan Deposito Nasabah Pembyn BNasabah pemilik dana Bank SyariahDeposito Mudharabah Muqayyadah Distribusi Bagihasil sesuai 5 Pendapatan yang nisbah yang disepakati 4 akan dibagikan Nasabah Pembyn C 63
  62. 62. 64
  63. 63. PEMBIAYAAN MURABAHAHDEFINISIMurabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinyakepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagailaba.(Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000)LANDASAN HUKUMa. No. 04/DSN-MUI/IV/2000, Tanggal 1 April 2000, tentang Murabahah;b. No. 13/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Uang Muka Dalam Murabahah;c. No. 16/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Diskon dalam Murabahah;d. No. 17/DSN-MUI/IX/2000, Tanggal 16 September 2000, tentang Sanksi atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran;e. No.43/DSN-MUI/VIII/2004, Tanggal 11 Agustus 2004, tentang Ganti Rugi (Ta’widh). 65
  64. 64. POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAHFATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/20001. PELAKU BANK membeli barang yang diperlukan NASABAH atas nama BANK sendiri dan pembelian ini harus sah dan bebas riba (Ps 1: 4) BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6)2. OBJEK Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam (Ps 1: 2)3. HARGA HARGA BELI … Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan (Ps 1: 6) HARGA JUAL BANK kemudian menjual barang tersebut kepada NASABAH (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya (Ps 1: 6) Fatwa DSN No.16/IX/2000: Harga dalam jualbeli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan (Ps.1:1) 66
  65. 65. POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAHFATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...) 4. AKAD Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank. (Ps. 1:9) Jika Bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerimanya (membelinya) sesuai dengan perjanjian yang disepakati, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat: kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli (Ps 2: 2,3) 5. UANG MUKA Dalam jualbeli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menadatangani kesepakatan awal pemesanan (Ps. 2 : 4) 6. JAMINAN Jaminan dalam murabahah dibolehkan agar nasabah serius dengan pesanannya (Ps.3:1) 7. DISCOUNT Jika dalam jualbeli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier, harga sebenarnya adalah harga setelah diskon; karena itu diskon adalah hak nasabah Jika pemberian diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. (Ps 1:3-4, Fatwa No. 16/2000) 67
  66. 66. POKOK-POKOK ATURAN MURABAHAHFATWA DSN-MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 (Lanjutan...)8. PELUNASAN DINI Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati, LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut, dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. Besar potongan sebagaimana dimaksud diatas diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan LKS (Ps.1:1-2, Fatwa No.23/2002)9. DENDA / SANKSI Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani Dana yang berasal dari denda diperuntukan sebagai dana sosial (Ps.1:3-6, Fatwa No.17/2000)6. TA’WIDH (Fatwa No.43/2004) • Sengaja atau lalai menyimpang dari akad dan menimbulkan kerugian • Kerugian riil adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yang seharusnya diterima • Real Lost not Opportunity Lost • Besarnya gantirugi tidak boleh dicantumkan dalam akad 68
  67. 67. APLIKASI PERBANKANJENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN KENDARAAN MULTIGUNA BERMOTOR MURABAHAH KOMBINASI AKAD : PEMBIAYAAN -LINE FACILITY MODAL KERJA - 2 STEP FINANCING -JOINT FINANCING - TAKEOVER -Dll PEMBIAYAAN INVESTASI 69
  68. 68. SKEMA MURABAHAHUNTUK PEMBIAYAAN KENDARAAN BERMOTOR 1 Negosiasi butuh beli mobil ) (nasabah dan Persyaratan Wa’ad beli 2 Penandatanganan akad jual beli 6 Bayar angsuran atau tempo 9 Bank Syariah Nasabah NASABAH Bank Syariah mewakilkan 3 ke Nasabah untuk beli mobil ke Dealer 7 Nasabah sebagai Bank Syariah wakil mewakilkan ke Dealer 4 Bank Syariah , beli Bank Syariah 5 untuk serahkan mobil ke mobil ke Dealer bayar pembelian Nasabah mobil 8 Mobil dikirim langsung oleh dealer atau Bank Syariah DEALER Akad Murabahah 70
  69. 69. SKEMA MURABAHAHUNTUK PEMBIAYAAN RUMAH Akad Murabahah 1. Permohonan dan pemenuhan persyaratan 2. Wa’ad beli 4. Akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah Developer 71
  70. 70. SKEMA MURABAHAHUNTUK PEMBIAYAAN MULTIGUNA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (mis : pembelian komputer) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 5. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan komputer kepada Nasabah. Supplier 72
  71. 71. SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAHUNTUK PEMBIAYAAN MULTIGUNA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (mis : pembelian komputer) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan ke Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Nasabah Bank Syariah 6. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan komputer ke Nasabah. Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 73
  72. 72. SKEMA MURABAHAHUNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (Misal pembelian barang dagangan untuk stock penjualan) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah Supplier 74
  73. 73. SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAHUNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Pembelian barang dagangan untuk stock penjualan) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 6. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan barang kepada Nasabah. Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 75
  74. 74. SKEMA MURABAHAHUNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lif t) 2. Wa’ad beli 4. Pelaksanaan akad Murabahah 7. Bayar angsuran atau tempo Bank Syariah Nasabah 5. Bank Syariah mewakilkan ke supplier untuk serahkan f ork lif t ke Nasabah. Supplier 76
  75. 75. SKEMA MURABAHAH DENGAN WAKALAHUNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI Akad Murabahah 1. Pengajuan dan Pemenuhan Persyaratan (misal Nasabah butuh sarana penunjang usaha berupa f ork lift) 2. Wa’ad beli 3. Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan transaksi dengan supplier 5. Pelaksanaan akad Murabahah 8. Bayar angsuran atau tempo Nasabah Bank Syariah Supplier KETERANGAN: Dalam prakteknya, alur nomor 4 menjadi nomor 5 dan nomor 5 menjadi nomor 4. 77
  76. 76. PEMBIAYAAN ISTISHNA’Istishna’ adalah jual beli dalam bentuk pemesananpembuatan barang tertentu dengan kriteria danpersyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan(pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’).(Fatwa DSN No. 06/DSN-MUI/IV/2000) 78
  77. 77. POKOK-POKOK ATURAN ISTISHNA 1. PELAKU Jika LKS melakukan transaksi Istishna untuk memenuhi kewajibannya kepada NASABAH ia dapat melakukan istishna lagi dengan PIHAK LAIN pada objek yang sama, dengan syarat istishna pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada istishna kedua (Ps 1;1, Fatwa No. 22/2002) 2. OBJEK  Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.  Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.  Penyerahan dilakukan kemudian.  Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan  Pembeli (mustashni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. (Ps.2:1-5, fatwa No.06/2000) 3. HARGA LKS selaku mustashni tidak diperkenankan untuk memungut MDC (margin during construction) dari nasabah (shani) karena hal ini tidak sesuai dengan prinsip syariah (Ps.1:2, Fatwa No.22/2002) 4. PEMBATALAN Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki PESANAN dua pilihan : a. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya. b. Menunggu sampai barang tersedia. (Fatwa No..05/2000, Ps. 4:5) 79
  78. 78. MEKANISME PEMBIAYAAN ISTISHNA Akad Istishna’ 1 Negosiasi dan Persyaratan 1 (nasabah butuh renovasi rumah yang dikerjakan oleh kontraktor) Penandatanganan Akad Istishna’ 2 Bayar secara cicilan (taqsith) atau tangguh (muajjal) 8 BankSyariah Form Wakalah ke Nasabah untuk NASABAH negosiasi dengan kontraktor 3 6 4 Nasabah sebagai Bayar secara Form Wakalah ke Kontraktor termin 5 wakil Bank Syariah , untuk serahkan rumahyang renovasi rumah ke telah direnovasi ke Nasabah Kontraktor 7 Penyerahan rumah yang telah direnovasi oleh Kontraktor atau Bank Syariah Akad Istishna’ 2 KONTRAKTOR 80
  79. 79. APLIKASI PERBANKAN:JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH SIAP BANGUN PEMBIAYAAN RENOVASI PROJECT RUMAH FINANCING ISTISHNA PEMBIAYAAN MODAL KERJA PEMBIAYAAN INVESTASI 81
  80. 80. PEMBIAYAAN IJARAH Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. (Fatwa DSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000) 82
  81. 81. POKOK-POKOK ATURAN IJARAHFATWA DSN – MUI No. 09/DSN-MUI/IV/20001. PELAKU Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) terdiri atas pemberi sewa (lessor, pemilik asset, LKS) dan penyewa (lessee, pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset, nasabah)2. OBJEK Objek kontrak : pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset (Ps 1: 2)3. HARGA Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijarah (Ps 2: 8) Ketentuan (flexibility) dalam menetukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran, waktu tempat dan jarak (Ps. 2:9)4. AKAD Sighat Ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak, baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent, dengan cara penawaran dari pemilik asset (LKS) dan penerimaan yang diyatakan oleh penyewa (nasabah) (Ps:1:5)5. PEMELIHARAAN Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa : ASET b. Menanggung biaya pemeliharaan asset Kewajiban nasabah sebagai penyewa : a. Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan asset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak b. Menanggung biaya pemeliharaan asset yang sifatnya ringan 83
  82. 82. PEMBIAYAAN MULTIJASA IJARAHFATWA DSN NO.44/DSN/MUI• Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah.• Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah.• Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah.• Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee.• Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. 84
  83. 83. MEKANISME PEMBIAYAAN IJARAH Negosiasi dan Persyaratan 1 (nasabah butuh alat-alat berat) Akad Ijarah 2 Bayar angsuran sewa 8 Akad Ijarah 2 Bank Syariah NASABAH Wakalah ke Nasabah untuk cari 3 penyewaan alat2 berat Barang diserahkan 5 Transaksi 4 7 langsung oleh pemilik atau melalui Wakalah ke Pemilik Pembayaran Nasabah sebagai Bank Syariah barang untuk serahkan 6 wakil Bank barang sewa ke Nasabah Syariah, melakukan transaksi sewa Akad Ijarah 1 PEMILIK OBJEK SEWA 85
  84. 84. APLIKASI PERBANKAN:JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK) PEMBIAYAAN MULTIJASA PEMBIAYAAN -Biaya pendidikan MULTIGUNA MANFAAT - Kesehatan BARANG - Wisata, dll IJARAH PEMBIAYAAN KOMBINASI AKAD MODAL KERJA -SHARIA CARD 86
  85. 85. PEMBIAYAAN IJARAH MUNTAHIA BIT TAMLIK (IMBT) Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) adalah perjanjian sewa-menyewa yang disertai dengan opsi pemindahan hak milik atau benda yang disewa, kepada penyewa setelah selesai masa sewa. (Fatwa DSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000). 87
  86. 86. POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN IMBT FATWADSN – MUI No. 27/DSN-MUI/III/2000 Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah (fatwa No.09/2000) berlaku pula dalam akad IMBT (Ps. 1:1) AKAD Pihak yang melakukan IMBT harus melaksanakan akad Ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan baik dengan jualbeli atau pemberian hanya dapat dilakukan setelah masa Ijarah selesai Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad Ijarah adalah waad yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janji itu ingin dilaksanakan maka harus ada pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa Ijarah selesai (Ps. 2: 1-2) 88
  87. 87. POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN IMBT FATWADSN – MUI No. 56/DSN-MUI  Review Ujrah boleh dilakukan antara para pihak yang melakukan akad Ijarah apabila memenuhi syarat-syarat sbb:  Terjadi perubahan periode akad Ijarah;  Ada indikasi sangat kuat bahwa bila tidak dilakukan review, maka akan timbul kerugian bagi salah satu pihak;  Disepakati oleh kedua belah pihak.  Review atas besaran ujrah setelah periode tertentu :  Ujrah yang telah disepakati untuk suatu periode akad Ijarah tidak boleh dinaikkan;  Besaran ujrah boleh ditinjau ulang untuk periode berikutnya dengan cara yang diketahui dengan jelas (formula tertentu) oleh kedua belah pihak;  Peninjauan kembali besaran ujrah setelah jangka waktu tertentu harus disepakati kedua pihak sebelumnya dan disebutkan dalam akad.  Dalam keadaan sewa yang berubah-ubah, sewa untuk periode akad pertama harus dijelaskan jumlahnya. Untuk periode akad berikutnya boleh berdasarkan rumusan yang jelas dengan ketentuan tidak menimbulkan perselisihan. 89
  88. 88. MEKANISME PEMBIAYAAN IMBT Akad Hibah 1 Negosiasi dan persyaratan (nasabah butuh beli rumah) Wa’ad IMBT 2 Penandatanganan akad 4 Bayar sewa bulanan 7 hibah rumah (pada akhir masa sewa) 8 BankSyariah NASABAH Akad Ijarah 5 5 wakalah ke developer Untuk serahkan rumah ke nasabah Beli dan bayar ke developer 3 6 Obyek sewa (rumah) untuk disewa oleh nasabah Diserahkan oleh Developer atau Bank Syariah DEVELOPER 90
  89. 89. APLIKASI PERBANKAN:JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK) KPR SYARIAH (Jangka Panjang) IMBT PEMBIAYAAN INVESTASI (Jangka Panjang) 91
  90. 90. PEMBIAYAAN MUDHARABAHMudharabah adalah akad kerjasama suatu usaha antara dua piakdimana pihak pertama (malik, shahib al-mal, LKS) menyediakanseluruh modal, sedangkan pihak kedua (‘amil, mudharib,nasabah) bertindak selaku pengelola, dana keuntungan usahabagi diantara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalamkontrak.(Fatwa DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000). 92
  91. 91. POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUDHARABAHFATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 1. PELAKU DAN MODAL  LKS sebagai shahibul maal membiayai 100% kebutuhan suatu proyek, sedangkan pengusaha bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha (Ps.1:1)  Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai (Ps.2:3b)  Modal tdk dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada Mudharib, baik secara bertahap maupun tidak, (Ps.2:3c) 2. NISBAH Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Perurubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. (Ps.2:4b) 3. KEUNTUNGAN Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya satu pihak saja (Ps.2:4a) 4. KERUGIAN Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah, kecuali diakibatkan kesalahan disengaja, kelalaian atau pelanggaran. (Ps.2:4c) 5. JAMINAN Pada prinsipnya dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ke3. Jaminan hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah dispekati bersama (Ps.1: 7) 93
  92. 92. POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUDHARABAHFATWA DSN – MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 6. MANAJEMEN …LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan d an pengawasan (Ps 1:4) 7. JANGKA WAKTU Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu (Ps 3:1) 94
  93. 93. MEKANISME PEMBIAYAAN MUDHARABAH Negosiasi dan Persyaratan 2 (nasabah butuh modal kerja 75 unit mobil) Kontrak Penyewaan Mobil Akad Mudharabah 3 1 Nasabah bayar sewa Bank Syariah Menyerahkan Perusahaan ABC modal Mengelola 4 5 Nisbah Nisbah 7 9 8 Usaha Nasabah Bank Pendistribusan Pengembalian Pokok Modal & Keuntungan 6 Tingkat Keuntungan Modal 95
  94. 94. APLIKASI PERBANKAN:JENIS PENGGUNAAN (BERDASARKAN PRODUK) VARIASI MUDHARABAH: -LINE FACILITY - 2 STEP FINANCING -JOINT FINANCING -Dll MUDHARABAH PEMBIAYAAN MODAL KERJA 96
  95. 95. PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Musyarakah adalah pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. (Fatwa DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000). 97
  96. 96. POKOK-POKOK ATURAN PEMBIAYAAN MUSYARAKAHFATWA DSN – MUI No. 08/DSN-MUI/IV/20001. PELAKU DAN MODAL Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. (Ps.2b)2. NISBAH Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra (Ps.3c.3)3. KEUNTUNGAN Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya satu pihak saja (Ps2:4a)4. KERUGIAN Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal (Ps3d)5. JAMINAN Pada prinsipnya dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun menghindari terjadinya penyimpangan LKS dapat meminta jaminan (Ps 3:a3)6. MANAJEMEN Setiap mitra memiliki hak untuk mengelola asset musyarakah dalam proses bisnis normal (ps.2c) 98
  97. 97. 99
  98. 98. PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH AKAD PRODUK WAKALAH Kliring, Inkaso, Transfer SHARF Transaksi Valas KAFALAH Bank Garansi HIWALAH Anjak Piutang IJARAH & WADIAH Safe Deposit Box QARDH & IJARAH (RAHN) Gadai 100
  99. 99. PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:KAFALAH – BANK GARANSI SKEMA KAFALAH (BANK GARANSI) 2. Negosiasi dan Persyaratan 3 . Akad Kaf alah 5. Ujrah dan jaminan Bank Syariah Nasabah Pemilik Proyek 101
  100. 100. PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:SAFE DEPOSIT BOX SKEMA IJARAH/WADIAH (SAFE DEPOSIT BOX) 1. Negosiasi dan Persyaratan (Nasabah butuh Safe Deposit Box) 2 . Akad Ijarah 4. Bayar sewa Safe Deposit Box Bank Syariah Nasabah 3. Bank serahkan Safe Deposit Box ke nasabah untuk disewa 102
  101. 101. PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH:GADAI SYARIAH SKEMA QARDH DAN IJARAH (RAHN) 1. Negosiasi dan Persyaratan. 2. Pelaksanaan Akad Qard dan Ijarah 3 . Nasabah serahkan barang berupa emas (marhun) 4. Bank memberikan pinjaman dana 5. Nasabah bayar sewa penyimpanan barang (ujrah) 6. Setelah jatuh tempo, Nasabah mengembalikan dana pinjaman 7. Bank mengembalikan marhun kepada nasabah Bank Syariah Nasabah 103
  102. 102. SISTEM OPERASIONAL BANK SYARIAH
  103. 103. Konsep & Sistem Perbankan Konsep & Sistem PerbankanFungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat lain yang memerlukan Proses Penghimpunan Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Proses Pengguna Dana Penyaluran Dana
  104. 104. Konsep & Sistem Konsep & Sistem Bank Konvensional Bank Konvensional Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Pengguna Dana Penetapan Imbalan Penetapan Beban
  105. 105. Konsep & Sistem Konsep & Sistem Perbankan Syariah Perbankan Syariah BAGI HASIL Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Pengguna Dana BAGI HASIL Konsep Penyaluran Dana : Konsep Penghimpunan Dana : 1. Bagi Hasil (Mudharabah & 1. Al Wadiah Musyarakah) 2. Mudharabah 2. Jual Beli (Murabahah, Istishna & Salam) 3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah Bitamlik)
  106. 106. alur kerja Pembayaran bagi hasil Bank Syariah Menerima pendapatan Tergantung pendapatan / hasil yg diterima Bagi hasil / Hanya dana mudharabah Margin Shahibul maal MudharibShahibul Maal Mudharib Penyaluran Penghimpunan dana dana Deposan Bank Nasabah debitur Membayar bunga tetap Menerima bunga tetap Tidak ada pengaruh pendapatan yang diterima BANK KONVENSIONAL
  107. 107. Struktur Organisasi Annual Shareholders Meeting Sharia Board of Supervisory Board Commissioners President Director Internal Audit Group Assistant Director Compliance & BusinessCorporate Support Director Director Direktur Muda Financing Compliance StaffCorporate Support Financing Business Administration Business Group Group Units Group Development Group
  108. 108. Contoh Bagan Organisasi Bank Umum Syariah RUPS / Rapat Anggota Dewan Komisaris Dewan Pengawas Syariah Dewan Audit Dewan DireksiDivisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan Divisi / Urusan Kantor Cabang Kantor Cabang Kantor Cabang
  109. 109. Struktur Organisasi BPRS Rapat Umum Pemegang Saham Dewan Dewan Pengawas Komisaris Syariah Dewan Direksi Internal Audit Bidang Bagian Bidang Marketing Umum Operasional Financing Customer Service Sekretariat Funding Teller Kerumahtangga an Accounting (Pembukuan) Administrasi
  110. 110. Job Description• Tugas dan Kewajiban – Dewan Pengawas Syariah – Dewan Komisari – Dewan Direksi – Bagian Pemasaran – Bagian Operasional – Internal Audit
  111. 111. TEORI BAGI HASIL DAN PROFIT MARGIN
  112. 112. Konsep & Sistem Perbankan Konsep & Sistem PerbankanFungsi Bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat lain yang memerlukan Proses Penghimpunan Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Proses Pengguna Dana Penyaluran Dana
  113. 113. Konsep & Sistem Konsep & Sistem Bank Konvensional Bank Konvensional Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Pengguna Dana Penetapan Imbalan Penetapan Beban
  114. 114. Konsep & Sistem Konsep & Sistem Perbankan Syariah Perbankan Syariah BAGI HASIL/Profit Margin/Pndpt Sewa Proses Proses Penghimpunan Dana Penyaluran Dana Masyarakat MasyarakatPemilik Dana Pengguna Dana BAGI HASIL/Bonus Konsep Penyaluran Dana : Konsep Penghimpunan Dana : 1. Bagi Hasil (Mudharabah & 1. Al Wadiah Musyarakah) 2. Mudharabah 2. Jual Beli (Murabahah, Istishna & Salam) 3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah Bitamlik)
  115. 115. Alur Operasional Bank Syariah Mudharib Tabel Bagi hasiPenghimpunan dana Penyaluran dana Pendapatan l POOLING DANA Wadiah yad dhamanah Prinsip bagi hasil Bagi hasil/laba Mudharabah Mutlaqah Prinsip Ujroh Sewa (Investasi Tdk Terikat) Lainnya (modal dsb) Prinsip jual beli Margin TabelLaporan Laba RugiPendapatan Mdh Mutlaqah(Investasi Tidak Terikat) Agen : Mdh Muqayyadah / investasi terikatPendapatan berbasisimbalan (fee base income) Jasa keuangan: wakalah, kafalah, sharf
  116. 116. SISTEM DAN PERHITUNGAN BAGI HASIL• Dari sudut pandang Nasabah sebagai Investor – Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet (Chanelling) – Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet (Executing) – Mudharabah Mutlaqah• Dari sudut Pandangan Bank – Perhitungan Saldo Akhir Bulan – Perhitungan Saldo Rata-rata Harian
  117. 117. SKEMA-SKEMA MUDHARABAHSkema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet (Channelling) Satu Nasabah Satu Pelaksana Investor Usaha Bank Syari’ahSkema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasarsektor Pertanian Satu Nasabah Bank Syari’ah Investor Manufaktur JasaSkema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (executing) berdasarakad yg digunakan Penjualan Cicilan Satu Nasabah Bank Syari’ah Investor Penyewaan Cicilan Kerjasama Usaha
  118. 118. SKEMA-SKEMA MUDHARABAHSkema Mudharabah Mutlaqah On Balance Sheet Penjualan 1 Nasabah 1 Penjualan 2 Jual Nasabah 2 . Penjualan n Nasabah 3 Bank Penyewaan 1 . Syari’ah Sewa Penyewaan 2 . . Nasabah n Penyewaan n Kerjasama 1 Kerjasama Kerjasama 2 Usaha . Kerjasama n
  119. 119. KASUS MENGHITUNG BUNGAKASUS:Pada tanggal 1 Mei 2002, Bapak Johanes membuka depositosebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satu bulan, dengan tingkatbunga 9% p.a. Berapa bunga yang diperoleh pada saat jatuhtempo?JAWABBunga yang diperoleh bapak Johanes adalah:Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438
  120. 120. KASUS BAGI HASIL DEPOSITOBapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp. 10.000.000, jangka waktu satubulan (tanggal 1 Mei s/d 1 Juni 2003), nisbah bagi hasil antara nasabah danbank 57% : 43%. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satubulan per 31 Mei 2003 adalah Rp. 20.000.000 dan total deposito jangka waktusatu bulan adanya Rp. 950.000.000, berapa keuntungan yang diperoleh bapakAhmad?JAWABBunga yang diperoleh bapak Johanes adalah:Rp. 10.000.000 x 31 hari x 9% / 365 hari = Rp. 76.438JAWABBagi hasil yang diperoleh bapak Ahmad adalah:(Rp. 10 juta/Rp. 950 juta) x Rp. 20 juta x 57% = Rp. 120.000
  121. 121. KASUS MENGHITUNG BAGI HASIL FUNDING
  122. 122. TABEL DISTRIBUSI PENDAPATAN (BAGI HASIL) Rata-rata Saldo Rata- Distribusi Jenis Sebulan rata Saldo Tertimbang* Penyimpan Dana Bank Produk Bobot* Distri-busi Harian ) *) Porsi Pendapatan Porsi Pendapatan (0) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (A) (B) (A)x(B) = (C) (D) (E) (F)=(D)x(E) (G) (H)=(D)x(G)Rekening 10000000 0,700 7000000 D1 0,250 F1 0,750 H1GiroRek. 60000000 1,000 60000000 D2 0,550 F2 0,450 H2TabunganDeposito 10000000 0,800 8000000 D3 0,570 F3 0,430 H3Mudharabah1 bulan3 bulan 20000000 0,850 17000000 D4 0,600 F4 0,400 H46 bulan 5000000 0,900 4500000 D5 0,580 F5 0,420 H512 bulan 10000000 1,000 10000000 D6 0,570 F6 0,430 H6Grand 115000000 (B) 106500000 (D) (F) (H)Total 20000000Keterangan : D1=C1/Grand Total C x Grand Total D, dst *) Bobot = 1 – (GWM + Excess Reserve + Floating)
  123. 123. MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN• Saldo rata-rata harian untuk jenis produk funding di bank syari’ah ditentukan sebagai berikut: 1. Menentukan tanggal berapa keuntungan yang diperoleh dari penempatan dana akan dibagi-hasilkan. Misalnya setiap buLan ditentukan pada tanggal 25 bulan ybs, maka pendapatan yang akan dibagihasilkan kepada penyimpan dana adalah pendapatan yang diperoleh sejak tanggal 26 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 25 pada bulan di mana pendapatan tersebut dibagi hasilkan 2. Jumlah hari yang dihitung dalam satu bulan adalah sesuai dengan hitungan kalender. Oleh karena itu, saldo rata-rata harian per bulan dihitung sejak tanggal 26 sampai dengan tanggal 25 bulan berikutnya.
  124. 124. MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN• Contoh kasus : – Tuan Amir adalah nasabah Bank Syari’ah at- Taqwa, berupa tabungan Mudharabah. Catatan kartu tabungannya menunjukkan transaksi sebagai berikut: Tanggal Debet Kredit Saldo 26/6/02 575.000 575.000 02/7/02 125.000 450.000 10/7/02 250.000 700.000 15/7/02 100.000 600.000 21/7/02 400.000 1.000.000
  125. 125. MENGHITUNG SALDO RATA-RATA HARIAN• Hitungan saldo rata-rata harian per bulan pada tanggal 25 Juli 2002, sebagai berikut: 1. Tgl. 26/6/02 s/d tgl. 1/7/02 = 6 hari x 575.000 = 3450000 2. Tgl. 02/7/02 s/d tgl. 9/7/02 = 8 hari x 450.000 = 3600000 3. Tgl. 10/7/02 s/d tgl. 14/7/02 = 5 hari x 700.000 = 3500000 4. Tgl. 15/7/02 s/d tgl. 20/7/02 = 6 hari x 600.000 = 3600000 5. Tgl. 21/7/02 s/d tgl. 25/7/02 = 5 hari x 1.000.000= 5000000 Jumlah = 30 hari = 19150000 Saldo rata-rata harian = 19.150.000/30 = 638.333•Cara perhitungan di atas, juga digunakan untuk menghitung jenis simpanan yang lain.•Jika terjadi penutupan rekening, maka saldo rata-rata yang dihitung adalah sejaktanggal 26 sampai tanggal penutupan rekening tersebut, kemudian dihitung berapabagi hasilnya
  126. 126. PERHITUNGAN BAGI HASIL POLA BARU Penetapan Pendapatan yang Perhitungan Hasil akan dibagihasikan: Investasi untuk Jenis dan Jumlah setiap rupiah 1000 Distribusi ke tiap dana nasabah nasabahKelebihan cara ini: Penyertaan dana shohibul maal dalam investasi dikoreksi dengan GWM Bobot dihilangkan/diseragamkan = 1 Cara perhitungan relatif lebih mudah Mempermudah perencanaan Penggunaan ekuivalent rate hasil investasi per-Rp. 1000 dana nasabah

×