• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Pusat Sumber Belajar
 

Pusat Sumber Belajar

on

  • 2,354 views

Pusat

Pusat

Statistics

Views

Total Views
2,354
Views on SlideShare
2,354
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
74
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Pusat Sumber Belajar Pusat Sumber Belajar Document Transcript

    • Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal Dan Informal Penulis: Abdul Muis, S.Sos.,M.Pd. Drs. Dadang Sudarman Agus Gunawan., M.M.Pd. Karlan, SH, M.Pd. Dede Suherman, S.Pd. Abang Eddy Adriansyah, S.IP. DR. Yosal Iriantara Editor: Ir. Djajeng Baskoro., M.Pdii
    • Kata Pengantar Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal(PP PAUDNI) Regional I Bandung, merupakan salah satu Unit Pelaksana TeknisKementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana amanat PermendikbudNomor 18 Tahun 2012 mempunyai tugas Melaksanakan Pemetaan MutuPendidikan, Pengembangan Program dan Model Pendidikan, Supervisi, Fasilitasi,Penyusunan dan Pelaksanaan Program, Penerapan Model, dan PengembanganSumberdaya serta Kemitraan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini, PendidikanNonformal, dan Pendidikan Informal. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal yangdilaksanakan oleh PP PAUDNI esensinya adalah upaya meningkatkan mutusumberdaya manusia agar setiap insan Indonesia beriman, cerdas, profesionaldan berdaya saing agar cita-cita kemerdekaan bangsa tercapai guna mewujudkanbangsa Indonesia yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan. Sebagai institusi pendidikan berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsamelalui pendayagunaan sumberdaya pendidikan baik melalui jalur pendidikanformal, nonformal, dan informal. Pada jalur pendidikan nonformal dan informaltersedia layanan pendidikan melalui pendidikan konvensional maupun nonkonvensional agar setiap warga negara secara demokratis dapat memilih carabelajar yang sesuai dengan karakteristik dan harapannya untuk meningkatkanmutu kehidupan yang lebih baik. Pengadaan berbagai media pembelajaran baik tertulis maupun elektronikoleh PP PAUDNI Regional I Bandung dimaksudkan untuk menyediakan bahanpembelajaran bermutu, konstektual dan memotivasi setiap pembaca untukmeningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untukmemperluas wawasan, meningkatkan harkat dan martabat serta profesionalitassebagai warga negara Indonesia. Kami atas nama peminpin dan karyawan PP PAUDNI Regional I Bandungmengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah sudi menyumbangkanbuah pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan sebuah harapan masyarakatdengan menyediakan bahan-bahan pembelajaran dan informasi yang bermutu. Kepala PP PAUDNI Regional I Bandung, Band Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd. j j g , NIP. 196306251990021001 iii
    • Daftar IsiKata Pengantar ................................................................................................................ iiiDaftar Isi ........................................................................................................................... ivBAB 1 Pendahuluan ...................................................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Dasar ........................................................................................................... 5 C. Tujuan Penulisan ......................................................................................... 5 D. Sasaran Pengguna ...................................................................................... 5 E. Sistematika Penulisan ................................................................................. 6BAB 2 Kebijakan dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal ............................................. 7 A. Kebijakan .................................................................................................... 7 B. Program PAUDNI ......................................................................................... 9 C. Arah Pengembangan dan Pemanfaatan TIK ............................................... 11BAB 3 Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal ...................................................................................... 17 A. Pengertian Pusat Sumber Belajar ............................................................... 17 B. Fungsi dan Peran Pusat Sumber Belajar .................................................... 22 C. Tujuan Pusat Sumber Belajar ..................................................................... 23 D. Kelembagaan Pusat Sumber Belajar .......................................................... 24BAB 4 Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI ......................................................... 27 A. Penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis TIK ............................................ 28 B. Inovasi Pembelajaran dan Media Pembelajaran ......................................... 42BAB 5 Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI ............................... 53 A. Perubahan Lingkungan dan Kebutuhan Belajar .......................................... 54 B. Mengembangkan Etos Belajar ..................................................................... 59 C. Pembentukan Komunitas Pembelajar .......................................................... 63 D. Mengakrabi Teknologi Mutakhir ................................................................... 65 E. Komponen PSB PAUDNI ............................................................................. 67BAB 6 Manajemen PSB PAUDNI .................................................................................. 77 A. Manajemen PSB .......................................................................................... 80 B. Manajemen PSB PAUDNI ........................................................................... 93Daftar Pustaka ................................................................................................................. 104Biodata ............................................................................................................................ 106iv
    • BAB 1PendahuluanA. Latar Belakang Pendidikan Nonformal dan Informal sebagai subsistem pendidikan nasionalbertujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh berkembang sedinimungkin dan sepanjang hayatnya, guna meningkatkan martabat dan kualitaskehidupannya. Secara spesifik subsistem ini bertujuan membina warga belajaragar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untukmengembangkan diri, menjadi manusia, hingga melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PP PAUDNI) Regional IBandung merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Pusat, yang mengembantugas merumuskan kebijakan teknis bidang PAUDNI di wilayah koordinasi kerja,melakukan pengkajian dan pengembangan program dan model PAUDNI sebagaibahan masukan perumusan kebijakan dalam bidang PAUDNI, memfasilitasipengembangan sumberdaya bidang PAUDNI sesuai kebutuhan daerah, melakukanpemberian bimbingan dan evaluasi pelaksanaan program PAUDNI, melakukanpengembangan dan pengelolaan sistem informasi bidang PAUDNI di wilayahkoordinasi kerjanya maupun UPT di daerah seperti BPKB/SKB. UPTD BPKB/SKBsebagai unit pelaksana teknis dinas pendidikan yang berada di tingkat provinsi/kabupaten/kota inilah yang dimaksudkan sebagai lembaga mitra PP PAUDNIRegional 1 Bandung. Salah satu kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan nonformal daninformal adalah meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenis satuan dan Pendahuluan 1
    • program termasuk di dalamnya Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di daerah.Pendidikan bermutu merupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pendidikanbermutu menjadi prasyarat untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitasyang mampu bersaing pada tataran global. Untuk mewujudkan pendidikan bermutudiperlukan strategi dan langkah yang konkret dan operasional yang dilakukansecara berkesinambungan. Salah satu langkah konkret itu adalah penguatanUPTD. Diharapkan UPTD ini kelak mampu berperan sebagai subjek penyelenggarapendidikan, yang mempunyai kewenangan penuh dan peran luas dalam perancangandan pelaksanaan program pendidikan nonformal dan informal bagi warga belajar,sesuai potensi dan kondisi masing-masing wilayah, dengan mengacu pada StandarPendidikan Nasional. Sumber: Dokumentasi PP PNFI Reg.1 Bandung BPKB merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan SuratKeputusan Gubernur. Merujuk pada Surat Keputusan Mendikbud Nomor253/O/1997, BPKB mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan,bimbingan dan uji coba program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahragaberdasarkan kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda danOlahraga. Adapun fungsi BPKB terdiri dari: (a) pembuatan dan penyusunan modeldan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga; (b) pelaksanaan ujicoba model dan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga yangdikembangkan menurut kondisi daerah setempat; (c) penyebarluasan model danpengembangan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga hasil ujicoba ke daerah yang sesuai; (d) pemberian penyuluhan proses belajar mengajardan penilaian dalam rangka pengembangan program pendidikan luar sekolah, Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,2 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • pemuda dan olahraga; (e) pengembangan dan pelaksanaan uji coba model saranabelajar muatan lokal untuk mendukung program kegiatan belajar pendidian luarsekolah, pemuda dan olahraga (f) pelaksanaan bimbingan teknis kepada SKB ; (g)dan pengelolaan urusan tata usaha Balai. SKB merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan SuratKeputusan Bupati/Walikota. Merujuk pada Surat Keputusan Mendikbud Nomor 023/O/1997, SKB ini mempunyai tugas pokok melaksanakan program percontohan danpengendalian mutu program PAUDNI berdasarkan kebijakan Ditjen PAUDNI. SKBsecara teknis maupun administratif bertanggung jawab dan dibina langsung olehDinas Pendidikan Kabupaten/Kota, sedang menurut kedudukannya SKB berada ditingkat kabupaten/kota dengan wilayah kerja meliputi seluruh wilayah kabupaten/kota. Dengan melihat kebutuhannya, satu kabupaten/kota memungkinkan untukmempunyai lebih dari satu SKB. Dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagaimana tercantum dalam SuratKeputusan Mendikbud Nomor 023/O/1997, SKB memiliki fungsi sebagai : (a)pembangkitan dan penumbuhan kemauan belajar masyarakat dalam rangkaterciptanya masyarakat gemar belajar; (b) pemberian motivasi dan pembinaanmasyarakat agar mau dan mampu menjadi tenaga pendidik dalam pelaksanaanazas saling membelajarkan; (c) pemberian pelayanan informasi kegiatan pendidikannonformal; (d) pembuatan percontohan berbagai program dan pengendalianmutu pelaksanaan program PNF; (e) penyusunan dan pengadaan sarana belajarmuatan lokal; (f) penyediaan sarana dan fasilitas belajar; (g) pengintegrasian danpenyinkronisasian kegiatan sektoral dalam PNF; (h) pelaksanaan pendidikan danpelatihan tenaga pelaksana PNF; dan (i) pengelolaan urusan tata usaha Sanggar.Disamping tugas pokok dan fungsi tersebut, SKB memiliki tugas tambahan seiringdengan dicanangkannya otonomi daerah. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadapdaya dukung pemerintah daerah pada lembaga SKB. Kualitas pembelajaran pada setiap satuan maupun program PAUDNI dimasyarakat, sangat ditentukan oleh kualitas pendidik dan sumber belajar yangada di BPKB/SKB. Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionalpembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses interaksi antara peserta didikdengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menyimakdefinisi itu tampak jelas bahwasanya peran pendidik merupakan faktor utama yangmenentukan peningkatan mutu pembelajaran. Untuk pengoptimalisasian peranpendidik tersebut, maka pendidik harus diberi ruang untuk berkreasi, berinovasi danberkolaborasi dalam rangka melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Diperlukansumber belajar, baik berupa orang, data maupun benda yang telah dikemassedemikian rupa sehingga bisa menjadi bahan yang berguna dalam mendukungpengoptimalisasian peran dan kualitas pendidik, yang pada akhirnya diharapkanberbanding lurus dengan pencapaian kompetensi warga belajar yang dididiknya. Selain pendidik ataupun benda-benda sebagai sumber belajar lainnya,lingkungan belajar merupakan faktor lainnya yang berpengaruh terhadap mutupembelajaran PAUDNI di BPKB/SKB. Hal ini menandaskan bahwasannya, peserta Pendahuluan 3
    • didik hendaknya tidak hanya belajar dari para pendidiknya saja, melainkan dapatpula belajar dari berbagai sumber belajar yang tersedia pada lingkungannya. Denganmemanfaatkan apa-apa yang tersedia pada lingkungannya sebagai sumber belajar,kelak para peserta didik akan mampu mengangkat potensi-potensi lokal di daerahatau lingkungannya menjadi suatu produk unggulan yang mengandung nilai benefitdan nilai profit, bagi dirinya maupun lingkungan dimana ia bertinggal. Sumber: Dokumen Seksi Sarpras PP PNFI Reg.1 Bandung Untuk mendorong para pendidik dan para peserta didik bermampuan menggalidan mengangkat potensi-potensi lokalnya, maka dibutuhkan Pusat Sumber Belajar(PSB) yang berkualitas. Sumber belajar yang bermutu dalam pembelajaran kinimemang menuntut perhatian lebih demi kesuksesan pembelajaran pada BPKB/SKBpada masa yang akan datang, terutama dalam mendukung proses pembelajaranantara pendidik dan peserta didik untuk menggali dan mengangkat potensi lokalmenjadi produk unggulan daerah. Peran PSB pada BPKB/SKB demikian penting dan utama dalam prosespembelajaran dan transformasi ilmu pengetahuan pada unit-unit pelaksana teknisdaerah tersebut. Ironisnya, selama ini sumber-sumber belajar yang ada di setiapUPT belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Kendala yang dihadapi dalampemanfaatan sumber-sumber belajar selama ini adalah karena masih beragamnyapemahaman dan kemampuan para pendidik dalam mengelola sumber belajar. Oleh karena itu, diperlukan pemberdayaan setiap UPT Pusat maupun UPTdaerah, dalam rangka meningkatkan fungsinya sebagai Pusat Sumber Belajarbagi masyarakat melalui program-program unggulan berbasis kewilayahan. Untukmendukung pemberdayaan setiap UPT Pusat maupun UPT Daerah sebagaimanadipaparkan di atas disusun Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar (PSB). Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,4 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • B. Dasar Dasar penyusunan penulisan Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar iniadalah sebagai berikut:1. Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.2. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah.3. Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan.4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.5. Program Kerja Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (PP PAUDNI) Regional I Bandung Tahun 2011.C. Tujuan Penulisan Penulisan Standar Pusat Sumber Belajar ini dimaksudkan sebagai acuanbagi pembina dan penanggung jawab program PSB dalam memberikan bantuanteknis pada penyelenggara program PSB; menjadi penysusunan perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi penyelenggaraan PSB bagi calon penyelenggara PSB;dan acuan bagi pihak lain yang terkait. Sedangkan Tujuan Penulisan Standar PusatSumber Belajar untuk UPTD BPKB/SKB adalah sebagai panduan bagi:1. Memberikan pemahaman bagi pengelola tentang pengertian, tujuan dan fungsi PSB BPKB/SKB;2. Memberikan gambaran secara menyeluruh tentang penyelenggaraan PSB BPKB/SKB yang meliputi proses, pengorganisasian, tugas dan tanggung jawab, dan mekanisme penyelenggaraan;D. Sasaran Pengguna Pengguna Penulisan Standar Pengelolaan Pusat Sumber Belajar ini adalahsebagai berikut:1. Lembaga penyelenggara Pusat Sumber Belajar (PSB) program PAUDNI Unggulan berbasis potensi lokal di UPTD BPKB/SKB.2. Dinas Pendidikan Tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan serta Mitra terkait. Pendahuluan 5
    • E. Sistematika Penulisan Penulisan ini memuat beberapa bagian. Bagian pertama yang terdiri atas Bab IPendahuluan, Bab II Kebijakan dan Program Pusat Sumber Belajar untuk PAUDNI,dan Bab III membahas konsep Pusat Sumber Belajar. Bagian kedua yang terdiriatas Bab IV yang membahas Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI, dan BAB VImplementasi PSB untuk peningkatan mutu PTK PAUDNI. Bagian ketiga yang berisiBab VI tentang manajemen PSB. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,6 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • BAB 2Kebijakan dan Program PusatSumber Belajar Untuk PendidikanAnak Usia Dini, Nonformal & InformalA. Kebijakan Pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB) untuk Pendidikan Anak UsiaDini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) merupakan implementasi RencanaStrategis Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menjabarkan RencanaPembangunan Jangka Panjang. Sebagai rencana strategis, tentu memperhitungkanberbagai aspek termasuk perkembangan dan perubahan yang terjadi padalingkungan pendidikan. Dalam konteks perkembangan ilmu dan teknologi, khususnyaperkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) semua bidang dipengaruhiperkembangan ini dan berusaha memanfaatkannya. Dalam Renstra Kemendikbud dinyatakan, “Kondisi teknologi yang mempengaruhi pembangunan pendidikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang antara lain adalah (1) kesenjangan literasi TIK antarwilayah, (2) kebutuhan akan penguasaan dan penerapan iptek dalam rangka menghadapi tuntutan global, (3) terjadinya kesenjangan antara perkembangan teknologi dan penguasaan iptek di lembaga pendidikan, (4) semakin meningkatnya peranan TIK dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, (5) semakin meningkatnya kebutuhan untuk melakukan berbagi pengetahuan dengan memanfaatkan TIK, (6) perkembangan internet Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 7
    • yang menghilangkan atas wilayah dan waktu untuk melakukan komunikasi dan akses terhadap informasi, dan (7) perkembangan internet yang juga membawa dampak negatif terhadap nilai dan norma masyarakat serta memberikan peluang munculnya plagiarisme dan pelanggaran HAKI.” Sumber: http://csrsemengresik.com/wp-content/uploads/2011/11/2-paud-640x4271.jpg Akan halnya PAUDNI, ditetapkan ada sejumlah tujuan strategis yang haruisdicapai. Tujuan strategis untuk bidang PAUD adalah “tersedia dan terjangkaunyalayanan PAUD bermutu dan berkesetaraan di semua provinsi, kabupaten dan kota”.Sedangkan strategi pencapaiannya adalah sebagai berikut:1. Penyediaan pendidik PAUD berkompeten yang merata di seluruh provinsi, kabupaten/kota yang meliputi pemenuhan guru TK/TKLB berkompeten dan penyediaan tutor PAUD nonformal berkompeten;2. Penyediaan manajemen PAUD berkompeten yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan kepala satuan pendidikan, pengawas, dan tenaga administrasi;3. Penyediaan dan pengembangan sistem pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD;4. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana untuk penerapan sistem pembelajaran TK/TKLB berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota;5. Penyediaan subsidi untuk meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan TK/TKLB berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota;6. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran PAUD Nonformal berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,8 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sedangkan untuk pendidikan orang dewasa berkelanjutan, tujuan strategisnyaadalah “tersedia dan terjangkaunya layanan pendidikan orang dewasa berkelanjutanyang berkesetaraan, bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat”. Strategipencapaian tujuan tersebut adalah dengan:1. Penyediaan tutor berkompeten yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan tutor keaksaraan fungsional dan pendidikan kecakapan hidup;2. Penyediaan dan pengembangan sistem pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu pendidikan keaksaraan fungsional, pendidikan kecakapan hidup, homeschooling dan parenting education serta keterlaksanaan akreditasi satuan pendidikan penyelenggara pendidikan orang dewasa;3. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran pendidikan orang dewasa berkualitas yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota.B. Program PAUDNI Program PAUDNI ada dua hal yang menjadi titik perhatian yaitu penguatandan peluasan pendidikan nonformal dan informal serta penyelenggaraan programpendidikan nonformal dan informal untuk melayani kebutuhan pendidikan wargamasyarakat. Dalam penyelenggaraan program pendidikan nonformal dan informal ini,pendekatan perbaikan dan peningkatan mutu menjadi perhatian dan strategi untukpencapaian tujuan. Dengan demikian, pendekatan dan strategi yang dipergunakanadalah strategi mutu. Ada pun program yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.1. Penguatan dan Perluasan Pendidikan Nonformal dan Informal Program pendidikan nonformal dan informal sangat strategis dalam upayauntuk menurunkan buta aksara dan meningkatkan kecakapan hidup masyarakatberkesetaraan gender. Hal ini sejalan dengan komitmen internasional dalampemberantasan buta aksara. Selain itu, dalam upaya mewujudkan masyarakatberbasis pengetahuan perlu ditingkatkan budaya baca masyarakat. Penguatan danperluasan ini dilaksanakan antara lain melalui kebijakan-kebijakan sebagai berikut.a. Penguatan dan perluasan program pembelajaran langsung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM);b. Penguatan dan perluasan pendidikan kecakapan hidup untuk warga negara usia sekolah yang putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah dan bagi warga usia dewasa;c. Penguatan dan perluasan budaya baca melalui penyediaan taman bacaan, bahan bacaan dan sumber informasi lain yang mudah, murah, dan merata serta sarana pendukungnya; Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 9
    • d. Penguatan dan perluasan pendidikan nonformal dan informal untuk mengurangi disparitas antargender; e. Pemberian fasilitasi pelaksanaan peningkatan pengetahuan dan kecakapan keorangtuaan (parenting education) dan homeschooling. Sumber: Dokumen PP PNFI Regional I Bandung 2. Program Pendidikan Nonformal dan Informal Program ini dilakukan untuk mendukung tujuan sebagai berikut. a. Tersedia dan terjangkaunya layanan PAUD bermutu dan berkesetaraan di semua provinsi, kabupaten dan kota; b. Terjaminnya Kepastian Memperoleh Layanan Pendidikan Dasar Bermutu dan Berkesetaraan di Semua Provinsi, Kabupaten dan Kota; c. Tersedia dan Terjangkaunya Layanan Pendidikan Menengah yang Bermutu dan Relevan dan Berkesetaraan di Semua Provinsi, Kabupaten dan Kota; d. Tersedia dan Terjangkaunya Layanan Pendidikan Orang Dewasa Berkelanjutan yang Bermutu dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat. Dalam melaksanakan program ini, digunakan strategi sebagai berikut. a. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran PAUD Nonformal bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; b. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran Paket A dan B bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; c. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran Paket C bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota; d. Penyediaan subsidi pembiayaan untuk penerapan sistem pembelajaran pendidikan orang dewasa bermutu yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,10 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • C. Arah Pengembangan dan Pemanfaatan TIK Mengacu pada Permendiknas No. 38/2008 tentang Pengelolaan TeknologiInformasi dan Komunikasi di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional,dinyatakan aplikasi dan konten yang dikembangkan melalui TIK di lingkunganKementerian. Aplikasi yang dipergunakan adalah aplikasi-aplikasi untuk administrasi,konten pembelajaran, dan aplikasi informasi dan kebijakan pendidikan. Sedangkanuntuk jenis konten yang dikembangkan adalah konten administrasi (e-administrasi),konten pembelajaran (e-pembelajaran) serta konten informasi dan kebijakanpendidikan. Khusus untuk konten pembelajaran, Permendiknas itu menyebutkan duajenis konten pembelajaran yaitu bahan belajar berbasis kurikulum dan bahanbelajar untuk pengayaan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Khususuntuk konten pembelajaran berbasis kurikulum untuk satuan pendidikan dasardan menengah, konten pembelajarannya harus mendapatkan penilaian kelayakansebelumnya dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Sedangan untuk bidang sistem dan teknologi informasi, Renstra Kemendikbudyang mendasarkan diri pada Kemendiknas tadi, dikemukakan pengembangansistem dan teknologi informasi terpadu, yang menyatakan: “Dalam rangka mendukung tercapainya pemerataan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik, diperlukan sistem dan teknologi informasi secara terpadu yang mampu meningkatkan pelayanan dan mendukung penyediaan informasi dan pelaporan bagi penentu kebijakan pendidikan dan pemangku kepentingan serta penyelenggaraan pembelajaran secara tepat, transparan, akuntabel, dan efisien.” Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 11
    • Menteri 12 Sistem Pendukung Keputusan Kemendiknas P j b t Pejabat Eselon Satu P j b t Pejabat Eselon Dua Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-pembelajaran Pengawasan Kepegawaian Manajemen Dikti Aplikasi Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-knowledge Manajemen Keuangan Manajemen Asset Litbang sharing Dikdasmen Unit Kerja Aplikasi Aplikasi Aplikasi Aplikasi e-sumber Kemendiknas Perencanaan Kesekretariatan Manajemen PNFI Manajemen PMPTK belajarPendidikan Nonformal Dan Informal Terkait Aplikasi Non Kependidikan (e-manajemen e-layanan, e-pelaporan) Aplikasi plik (e-manajemen, e-layanan e-pelaporan) ma lap Aplikasi Kependidikan JARDIKNAS Data Data Data Data Data Data Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen PAUD Dikdas Dikmen Dikti Dikdewasa AssetPengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Data Data ata N an Pangkalan Data Non Kependidikan Kependidikan Warehousing Data Data Data Data Data Data Perencanaan Kepegawaian n Keuangan Kesekretariatan an Pengawasan n Litbang P Pangkalan k l Data Kependidikan Sumber: Renstra Kemendiknas 2010 - 2014 Gambar 2.1 Arsitektur Sistem dan Teknologi Informasi Terpadu
    • Untuk mengimplementasikan pengembangan Sistem danTeknologi InformasiTerpadu di lingkungan Kemendiknas perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:1. Strategi Pengembangan Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus selaras dengan Visi dan Misi Kemendiknas2. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mampu mendukung manajemen Kemendiknas dalam mengambil keputusan secara cepat,efisien dan efektif termasuk mengatur wewenang pendistribusian informasi.3. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus fleksibel untuk mengantisipasi berbagai perubahan termasuk dilakukannya reformasibirokrasi dan organisasi.4. Sistem dan Teknologi Informasi Kemendiknas harus menjamin keamanan dan kesahihan data serta menjamin efisiensi pengelolaan pangkalan data sehingga tidak terjadidata redundancy.5. Sistemdan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mampu menjadi sarana untuk mendukung pemberian layanan pendidikan termasuk e-pembelajaran,e- knowledge sharing dan e-sumber belajar6. Sistemdan Teknologi Informasi Kemendiknas harus mendukung tercapainya Sistem Tata Kelola Kemendiknas termasuk sistem pengawasan dan evaluasi, pelaporan yang handal,efektifdan efisien;7. Guna menjamin keterpaduan perlu dilakukan terlebih dahulu pembuatan Master Plan Sistem dan Teknologi Informasi Terpadu Kemendiknas yang selaras dengan Rencana Strategis Kemendiknas. Sedangkan pada tataran operasional yang dilaksanakan di wilayah kerja PPPAUDNI Regional I Jayagiri, implementasi TIK untuk meningkatkan mutu PAUDNIdilakukan dengan membangun PSB di UPTD/SKB. Pada tahun 2012 direncanakanterbentuk 20 PSB, pada tahun 2013 direncanakan terbangun 30 PSB dan pada tahun2014 sudah terbangun 46 PSB. Sejalan dengan pengembangan PSB itu, dilakukanpeningkatan mutu PAUDNI yang ditandai dengan jumlah lembaga PAUDNI yangterakreditasi dan PTK PAUDNI yang tersertifikasi. Perkembangan dan penetapansasaran tahunan tersebut divisualisasikan pada gambar berikut. Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 13
    • Thn. 2014 75% akreditasi & Thn. 2013 20% sertifikasi 50% akreditasi & 8 TUK, 46 PSB 15% sertifikasi 5 TUK, 30 PSB Thn. 2012 25% akreditasi & 10% sertifikasi 2 TUK, 20 PSB Gambar 2.2. Rencana Kerja Akreditasi Program, Sertifikasi PTK & TUK/PSB UPTD 2012 - 2014 Sejalan dengan itu, dilakukan juga upaya revitalisasi fungsi kelembagaan UPTD SKB sehingga SKB memainkan peran dalam upaya peningkatan mutu layanan PAUDNI. PSB menjadi wahana penting dalam upaya peningkatan mutu tersebut, karena dapat menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kompetensi PTK PAUDNI. Peningkatan mutu PTK PAUDNI ini merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu layanan PAUDNI. Mengingat peningkatan mutu pendidikan bagaimana pun tidak akan bisa dilepaskan dari membaiknya mutu PTK PAUDNI sendiri. Peran dan revitalisasi fungsi kelembagaan UPTD/SKB itu divisualisasikan seperti berikut: SKB Penjaminan PKBM LKP Percontohan (2195) (3650) Pusat TBM PAUD (564) (17054) Gambar 2.3. Revitalisasi Fungsi Kelembagaan UPTD SKB 2011-2014 Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,14 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Akan halnya penyelenggaraan pelatihan yang berbasis TIK akan menjadi bagianpenting dalam ikhtiar peningkatan mutu tersebut. Pelatihan yang diselenggarakantidak lagi hanya berbasis pelatihan konvensional yang mengharuskan pesertapelatihan meninggalkan tugasnya dan datang ke satu tempat kegiatan pelatihan,melainkan bisa dilakukan dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Tingginyafleksibilitas tersebut, karena e-pelatihan memungkinkan peserta pelatihan tidakperlu meninggalkan lokasi tempatnya bekerja dan bisa memanfaatkan perangkatteknologi yang dimilikinya. Selain itu, materi pembelajaran dalam pelatihan pun dapat dibuat fleksibeldisesuaikan dengan kebutuhan. Dengan kata lain, materi pembelajaran dapatdibuat tailor-made sesuai dengan kebutuhan setiap peserta pelatihan. Untuk materipembelajaran yang sudah dikuasai peserta pelatihan tidak perlu lagi diikuti. Pesertapelatihan hanya mengikuti metari pembelajaran yang dianggap penting dan belumdikuasainya. Model penyelenggaraan pelatihanberbasis e-pelatihan tersebut,divisualisasikan seperti berikut. e-training e-Administrasi e-Jadwal PTK Kurikulum e-Media e-Evaluasi Cms-Oms Media Pembelajaran P2PNFI Perangkat Tutorial dan dan Uji BPPNFI Kompetensi Koneksitas Mentor BPKB Desain Instruksional Pengembangan Sistem SKB-PSB-TUK Gambar 2.4. Model Penyelenggaraan e-Training di UPT-UPTD 2012 Kebijakan Dan Program Pusat Sumber Belajar Untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal 15
    • Dengan demikian, kemajuan TIK dimanfaatkan untuk peningkatan mutu layanan PAUDNI. Karena memang tidak bisa dipungkiri, perkembangan TIK mempengaruhi kehidupan kita, termasuk mempengaruhi kegiatan pendidikan pada berbagai jalur dan jenjang pendidikan. Dunia pendidikan tidak bisa menutup diri dari pengaruh TIK. Ada banyak hal yang diubah dalam dunia pendidikan karena perkembangan TIK ini. Mengikuti perkembangan dengan memanfaatkan TIK untuk sebesar-besar kebaikan dunia pendidikan sudah dilakukan di berbagai penjuru dunia. TIK sudah menjadi bagian penting dari sarana pendidikan dan memberikan bantuan besar dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah pemanfaatan TIK ini untuk peningkatan mutu pendidikan, termasuk pendidikan nonformal dan informal. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,16 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • BAB 3Konsep Pusat Sumber BelajarPendidikan Anak Usia Dini,Nonformal dan InformalA. Pengertian Pusat Sumber Belajar Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 17
    • Apakah Pusat Sumber Belajar (PSB) itu? Tempat, gedung, gagasan atau konsep? Ataukah PSB mencakup tempat, gedung, gagasan atau konsep yang di dalamnya menunjukkan adanya kegiatan pembelajaran pembelajaran? Pertanyaan dan penjelasan yang disampaikan Ducote (1970) Ducote bisa menjelaskan makna PSB. Selanjutnya Ducote menjelaskan, lebih tepat jika PSB dirumuskan sebagai integrasi media dan tempat untuk membangun lingkungan belajar. Dengan demikian, secara sederhana, PSB dapat diartikan sebagai ketersediaan informasi yang mudah diakses atau disimpan dalam berbagai media dan format. Sedangkan Centre for Educational Research and Innovation (2007:31-32) mengutip definisi yang dibuat UNESCO yang menyatakan PSB terbuka sebagai “menyajikan sumber belajar secara terbuka, yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, yang dipergunakan untuk konsultasi, dimanfaatkan dan dimodifikasi oleh komunitas pengguna untuk tujuan nonkomersial.” Namun, Centre for Educational Research and Innovation (2007:32) menegaskan, sekarang ini lebih banyak yang memaknai PSB sebagai “sumber pembelajaran terbuka yang berupa materi digital yang diberikan secara gratis dan terbuka untuk kalangan pendidik, siswa dan pembelajar mandiri untuk digunakan dan digunakan kembali dalam kegiatan pembelajaran dan penelitian.” PSB ini mencakup: 1. Konten pembelajaran, yang berupa materi pembelajaran, modul, bahan belajar, kumpulan tulisan dan jurnal 2. Perangkat lunak, yang menunjang pengembangan, penggunaan, pemanfaatan- ulang dan penyampaian bahan belajar termasuk penelusuran dan pengorganisasian konten, sistem manahemen pembelajaran dan bahan belajar, perangkat pengembangan konten, dan komunitas pembelajaran online. 3. Sumber implementasi, lisensi hak kekayaan intelektual untuk mendorong publikasi bahan belajar secara terbuka, desain prinsip-prinsip best practices dan muatan bahan belajar yang sesuai kebutuhan setempat. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,18 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sumber daya Perangkat Konten Implementasi Sistem Perangkat Sumber Referensi Perangkat Best Manajemen Pengembangan Belajar Berlisensi Practices Konten Koneksi Koleksi • Creative • Arsip internet Commons CMU Perangkat • Google • GNU Free Pembelajaran Schooler Document • MIT OCW • Library of • ParisTech Congress • Tapan • Wilkis Perangkat Sistem Sosial Manajemen • Wilkis Pembelajaran Objek Interoperabilitas • HQO • Moodie Belajar • CMS • OSLO • Sakai • MERLOT • SCQRM Research • Connections • OKJKonsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Sumber: Centre for Educational Research and Innovation (2007: 32) Gambar 3.1. Peta Konseptual Pusat Sumber Belajar Terbuka19
    • Sumber belajar dibedakan menjadi 2 jenis : (a) sumber belajar yang direncanakan, yaitu semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional yang memfasilitasi pembelajaran yang terarah dan bersifat formal dan ; (b) sumber belajar yang menjadi sumber belajar karena dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, yaitu sumber-sumber yang tidak didesain secara khusus untuk keperluan pembelajaran namun tersedia, diterapkan dan digunakan untuk keperluan belajar. Sedangkan sumber belajar sendiri dapat dimaknai secara sempit dan luas, seperti yang dikemukakan Sudjana (1989). Secara sempit sumber belajar terfokus pada bahan-bahan cetak, sedangkan secara luas mencakup berbagai macam sumber daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar-mengajar, baik secara langsung maupun tidak. Dalam pandangan Percival & Ellington (1988), sumber belajar yang dipakai dalam pendidikan atau pelatihan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat sehingga memungkinkan peserta didik belajar secara individual. Sumber belajar inilah yang disebut media pendidikan atau media instruksional. Untuk menjamin bahwa sumber belajar adalah sumber belajar yang cocok dan tepat, maka sumber belajar tersebut harus memenuhi 3 persyaratan, yaitu: (a) harus dapat tersedia dengan cepat; (b) harus dapat memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri; (c) harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagi kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,20 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sesungguhnya media pendidikan ini lebih dari sekedar sarana atau wahanauntuk menyimpan dan menyampaikan konten pendidikan. Dalam pandanganDanandjaja (2010:36) media pembelajaran ini sebenarnya mirip dengan mediadalam artian biotek yaitu tempat/bahan bertumbuhnya jaringan menjadi bibit. Jadidi sini, media sebenarnya menjadi wahana untuk perkembangan dan pertumbuhan.Bukan sekedar wahana untuk menyampaikan konten pendidikan. Dalam konsepPSB, oleh para pendidik media pembelajaran cenderung dipandang sebagai saranapembelajaran yang membuat kegiatan pembelajaran menjadi efektif. Menurut Seels & Richey (1994), sumber belajar adalah manifestasi fisik dariteknologi perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran, yang dapatdikategorikan dalam 4 jenis teknologi yaitu teknologi cetak, teknologi audiovisual,teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu. Masing-masing dari teknologitersebut dijabarkan sebagai berikut :1. Teknologi cetak, teknologi yang dipergunakan untuk memproduksi atau menyampaikan bahan seperti buku-buku dan bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis.2. Teknologi Audiovisual, teknologi yang dipergunakan memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyampaikan pesan-pesan audio dan visual3. Teknologi berbasis komputer, teknologi yang dipergunakan memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikroprosesor.4. Teknologi terpadu, teknologi yang dipergunakan untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih materipembelajaran yang akan dijadikan sumber belajar, yaitu:1. Siapa yang menggunakan sumber belajar tersebut2. Muatan bahan belajar3. Desain pembelajaran4. Desain teknis5. Pertimbangan sosial Untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat sumber belajar itu, makadiperlukan suatu Pusat Sumber Belajar sebagai suatu unit yang mengintegrasikanpotensi-potensi sumber belajar dalam rangka menopang kegiatan dalam suatulembaga pembelajaran. Terkait PSB ini, Pusat Teknologi Informasi dan KomunikasiDepartemen Pendidikan Nasional (Pustekom, 2008), mendefinisikannya sebagai: Pusat Sumber Belajar adalah suatu unit dalam suatu lembaga (khususnyasekolah/universitas/perusahaan) yang berperan mendorong efektifitas sertaoptimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi yangmeliputi fungsi layanan (seperti layanan media, pelatihan, konsultansi pembelajaran, Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 21
    • dan lain-lain), fungsi pengadaan/pengembangan (produksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Dalam kaitannya dengan Pusat Sumber Belajar (PSB) sebagai unit pada BPKB/SKB maka PSB merupakan suatu unit di dalam BPKB/SKB yang berperan mendorong efektivitas dan optimalisasi proses pembelajaran penyelenggaraan PAUDNI melalui berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan (seperti layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan, pemagangan perangkat pembelajaran: kurikulum, silabus, media, bahan ajar, evaluasi dan lain- lain), fungsi pengadaan/pengembangan (produksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektivitas dan efsiensi program PAUDNI terutama program unggulan sesuai potensi lokal. Sedangkan dalam kaitannya sebagai tempat pada BPKB/SKB, mengacu pada definisi yang disampaikan dalam makalah Pengembangan Pusat Sumber Belajar Di Sekolah, yaitu: A Resources Centre is a place (anything from a part of a room to an entire complex of buildings) that is set up specifically for the purpose of housing and using a collection of resources, usually in terms of instructional media. Resource centres may serve the needs of an individual department within a school or college, an entire institution, or even a collection of institutions, as for example, when several schools are served by a single central resources centre, ” (Sudarsono Sudirdjo, 2009) Dengan demikian, Pusat Sumber Belajar pada BPKB/SKB adalah tempat/ ruang/area khusus dalam sebuah BPKB/SKB yang didesain khusus untuk tujuan pemusatan dan pengumpulan berbagai sumber belajar yang terdiri dari media- media pembelajaran, layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan dan pemagangan. Pusat Sumber Belajar ini dalam aktivitas dan pengoptimalisasian fungsi dan manfaatnya dapat digunakan untuk melayani kebutuhan internal maupun eksternal BPKB/SKB. B. Fungsi dan Peran Pusat Sumber Belajar Fungsi dan peran PSB adalah sebagai berikut: 1. Tempat layanan konsultasi, pembelajaran, pelatihan, pembimbingan, pemagangan dan pengembangan program PAUDNI. 2. Tempat pengadaan, produksi, dan pemasaran berbagai bahan belajar serta media pembelajaran. 3. Media informasi dan komunikasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran/ pembimbingan/pelatihan/pemagangan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan warga belajar PAUDNI. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,22 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • 4. Wahana belajar melalui forum diskusi antar pendidik dan tenaga kependidikan serta warga belajar, pendidik dengan pendidik, warga belajar dengan warga belajar, satuan dengan satuan, UPTD BPKB/SKB dengan satuan, UPTD BPKB/ SKB dengan UPTD BPKB/SKB, UPTD BPKB/SKB dengan sektor lain, UPTD BPKB/SKB dengan masyarakat yang berkaitan dengan pembelajaran. PENDIDIK WARGA BELAJAR TENAGA KEPENDIDIKAN Gambar 3.2 Interaksi Antar Komponen PSB5. Media unjuk kinerja berbagai inovasi dalam proses pembelajaran, layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan, dan pemagangan.C. Tujuan Pusat Sumber Belajar Secara umum tujuan diselenggarakan PSB adalah untuk meningkatkan fungsiUPTD BPKB/SKB sebagai tempat rujukan tentang penyelenggaraan, pembelajaran,pembimbingan, pelatihan maupun pemagangan program PAUDNI unggulanyang berbasis potensi lokal melalui layanan konsultasi dan komunikasi denganpenyediaan berbagai sumber belajar secara terorganisir agar pengetahuan, sikapdan keterampilan masyarakat meningkat secara efektif dan efisien. Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 23
    • Adapun tujuan khusus dari penyelenggaraan PSB pada BPKB/SKB adalah : 1. Meningkatkan kinerja UPTD BPKB/SKB dalam menyelenggarakan program PAUDNI unggulan berbasis potensi lokal yang dapat dijadikan rujukan oleh masyarakat. 2. Mewujudkan jejaring dan pola komunikasi yang efektif dan efisien antar/ inter UPTD BPKB/SKB melalui pemanfaatan teknologi informasi. 3. Mewujudkan iklim kerja yang kondusif dalam mengembangkan inovasi PAUDNI melalui kebersamaan antar pendidik, tenaga kependidikan, dan warga belajar dalam berbagi pengalaman. 4. Menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan pendidik, tenaga kependidikan, dan warga belajar di UPTD BPKB dan UPTD SKB dalam mengembangkan, menerapkan, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada. D. Kelembagaan Pusat Sumber Belajar Program pengembangan PSB di UPTD BPKB dan UPTD SKB melibatkan berbagai sektor seperti: Direktorat Jenderal PAUDNI, Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota, PPPAUDNI Regional I Bandung, BPPAUDNI, BPKB, dan SKB serta mitra-mitra terkait. DITJEN PAUDNI KEBIJAKAN UPTD ORMAS BPKB MASYARAKAT DINAS FORUM DINAS FORUM PENDIDIKAN PTK PNR PENDIDIKAN PTK PROV PROVINSI PSB KAB/KOTA KAB/KOTA INSTANSI INSTANSI TERKAIT TERKAIT PEMODELAN P2PNFI Regional I Bandung Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,24 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • : Pembina : Pengguna antar lembaga : Pengguna perseorangan : Pengguna Forum PTK-PNFI Gambar 3.3. Mekanisme Organisasi PSB Mekanisme kerja antara sektor-sektor yang digambarkan dalam Gambar 2.3dijabarkan sebagai berikut :1. Ditjen PAUDNI memfasilitasi, dan memberikan pembinaan kebijakan dan mengkoordinasikan dengan dinas pendidikan propinsi dan kabupaten/kota.2. PP PAUDNI memfasilitasi, dan memberikan pembinaan teknis keberlangsungan PSB di UPTD BPKB/SKB dan mengkoordinasikan dengan UPTD propinsi dan UPTD kabupaten/kota lainnya di wilayah koordinasi kerja P2 PAUDNI Regional 1 Bandung.3. Dinas pendidikan propinsi memfasilitasi dan membina PSB di BPKB.4. Dinas pendidikan propinsi beserta BPKB mengkoordinasikan dan menyosialisasikan PSB kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.5. Dinas pendidikan kabupaten/kota memfasilitasi dan membina PSB UPTD SKB.6. Dinas pendidikan kabupaten/kota menyosialisasikan kepada Forum PTK PAUDNI, Dinas Terkait dan organisasi masyarakat.7. PSB BPKB/SKB memberikan layanan konsultasi penyelenggaraan, pembelajaran, pembimbingan, pelatihan dan pemagangan program PAUDNI kepada Dinas terkait, Organisasi Masyarakat, Forum PTK PAUDNI, tokoh masyarakat, warga belajar dan masyarakat.8. UPTD BPKB/SKB di Wilayah koordiansi kerja P2 PAUDNI Regional I Bandung menjadi mitra dan sumber belajar pada PSB di UPTD BPKB/SKB.9. UPTD BPKB/SKB mengembangkan program-program unggulan yang menjadi konten PSB. Secara konseptual, program-program yang dapat diwadahi melalui PSB inidivisualisasikan melalui Gambar 3.4. Pada gambar tersebut fungsi yang diembanPSB dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta situasi dankondisi kewilayahan, lingkungan dan sosial budaya. Dengan demikian, fungsi PSBdilaksanakan tanpa terasing dari lingkungannya. Selanjutnya dengan memperhatikankondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat tersebut, PSB menjadi penyediasumber belajar untuk bidang-bidang yang menjadi garapan PAUDNI, sepertidivisualisasikan berikut: Konsep Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal 25
    • PAUD PEMBERDAYAAN PKH/ PEREMPUAN WIRAUSAHA TU K E BU HA N YARAKAT MAS SO KU N GA N S IA L B U D AYA S PSB Layanan Konsultasi & Informasi Komunikasi: KESETARAAN KEAKSARAAN Pembelajaran, Pembimbingan, LING Pelatihan, Pemagangan Y Y Y Y Y KEW ILAYAHAN KEPEMUDAAN KELEMBAGAAN KURSUS Gambar 3.4. Program PAUDNI Yang Dapat Diselenggarakan di PSB Berbasis Potensi Wilayah Gambar 3.4. menunjukkan bagaimana PSB berbasis potensi wilayah dapat dikembangkan untuk menunjang program-program layanan PAUDNI. Karena berbasis potensi wilayah maka materi pembelajaran yang disediakan PSB akan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kewilayahan dalam lingkup wilayah layanan PAUDNI UPTD/SKB. Dengan demikian, maka PSB dapat menjadi pendorong perkembangan wilayah dan berperan penting dalam mengembangkan wilayahnya. PSB yang berbasis potensi lokal tersebut akan menyediakan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setenpat. Tidak terjebak dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat umum dan kurang membumi bagi satu wilayah. Bahan pembelajaran dapat dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata satu daerah sehingga bila terjadi pertukaran bahan pembelajaran antara satu PSB dengan PSB lain akan makin memperkaya khasanah pengetahuan dan bahan pembelajaran dalam konteksn PAUDNI. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,26 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • BAB 4Konsep PSB Berbasis TIK untukPAUDNI Kita hidup di dunia yang sering dilukiskan sebagai menghadapi ledakaninformasi. Pertumbuhan informasi yang dihasilkan manusia berlangsung sangatcepat. Kini berbagai informasi tersebut tersimpan dalam berbagai bentuk mediapenyimpanan, mulai dari media konvensional seperti kertas sampai media mutakhiryang menyimpan informasi digital. Pertumbuhan cepat informasi dan pengetahuantersebut membuat manusia tidak bisa lagi menggantungkan pada perolehaninformasi dari pembelajaran tatap-muka dengan narasumber, karena tak mungkinlagi ada manusia yang tahu segalanya dan semuanya. Oleh karena itu akan sangatdibutuhkan manusia yang memiliki pembelajar mandiri atau pembelajar independen.Pembelajar mandiri inilah yang akan merumuskan sendiri pengetahuan apa atauinformasi apa yang diperlukannya dan di mana menelusuri informasi tersebut. PSB menyediakan kebutuhan informasi penggunanya. Hubungan antara PSBdan penggunanya dan komunitas pengguna akan terjalin dengan baik bila kebutuhanpengguna mampu dipenuhi PSB. Kebutuhan belajar pengguna diakomodasi dandipenuhi begitu juga gaya belajar dan etos belajar pengguna diikuti dengan baikoleh PSB. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada dasarnyadipergunakan untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya pada pengguna PSB. Perkembangan TIK memang mendorong manusia melakukan banyakperubahan dalam praktik kehidupan kesehariannya termasuk dalam cara menelusuri,memperoleh dan menyimpan informasi dan pengetahuan yang diperlukannya. Adaperubahan cara manusia dalam mendapatkan pengetahuan. Tidak lagi bergantung Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 27
    • pada bertemu atau tidaknya dengan narasumber. Sekarang ini perolehan pengetahuan akan terkait pada kemampuan manusia terhubungan dengan pusat- pusat ilmu pengetahuan yang salah satu di antaranya adalah PSB. Oleh sebab itu, kini dikenal istilah sumber belajar digital yang secara sederhana bisa dirumuskan sebagai perangkat pendidikan yang dapat dipergunakan untuk tujuan kegiatan belajar-mengajar dan untuk itu TIK dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan pembelajaran melalui produk, layanan dan proses yang berada di dalamnya. Sumber: http://as4796.http.sasm3.net/files/88/20111119/1321664812.jpg Kehadiran TIK ini mendorong berlangsung inovasi dalam proses pembelajaran. Bukan hanya pembelajaran tatap-muka di antara pembelajar melainkan juga memungkinkan penggunaan berbagai perangkat TIK untuk meningkat mutu proses pembelajaran. Termasuk juga membukakan kemungkinan untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran yang pembelajarnya tersebar di berbagai tempat. A. Penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis TIK 1. E-Learning a. Pengertian dan perkembangan e-leraning e-Learning singkatan dari electronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar- mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. Kegiatan belajar mengajar yang secara tradisional dilakukan secara tatap muka, saat ini banyak yang dilakukan dengan memanfaatkan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,28 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • situs Web yang dikenal dengan sebutan e-Learning. Ada beberapa istilah serupauntuk e-Learning ini seperti on-line learning, internet-enabled learning, virtuallearning, atau web-based learning. Sumber: http://ibnuzaki.com/wp-content/uploads/2012/03/peta-sukses-belajar-1024x772.jpg Secara sederhana, e-Learning merupakan bagian pendidikan jarak jauh. Karenamerupakan pembelajaran jarak jauh maka akan diperlukan sarana atau media untukmenghubungkan pembelajar dan sumber belajar. Sarana untuk menghubungkanpembelajar dan sumber belajar itu dapat menggunakan internet, intranet atau mediajaringan komputer lain ( Hartley, 2001). Sedangkan menurut Rosenberg (2001),e-Learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan sejumlahmateri pembelajaran yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.Dengan demikian, dapatlah kita ringkaskan bahwa e-Learning itu pada dasarnyamerupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan perkembangan teknologiinformasi dan komunikasi. e-Learning sendiri sebenarnya merupakan istilah yang menunjukkan padasejumlah proses belajar secara elektronik yang berada di dalamnya. Sepertihalnya pembelajaran konvensional yang menggunakan ruang kelas dan bertatap-muka, yang di dalamnya ada sejumlah tujuan dan metode pembelajaran yangdipergunakan, begitu juga halnya dengan e-Learning. Dalam e-Learning ini dapatsaja diselenggarakan pelatihan yang biasa dinamakan e-Training. Bisa jugaberlangsung diskusi membahas satu masalah atau satu topik yang biasa dinamakane-Discussion. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 29
    • e-Learning e-Training i i e-Teaching T hi e-Discussion Di Gambar 4.1. e-Learning dan bagian kegiatannya Namun menurut batasan UNESCO, e-learning paling tidak harus didukung prasyarat yaitu ketersediaan software bahan belajar berbasis TIK, ketersediaan software aplikasi untuk menjalankan pengelolaan proses pembelajaran, ketersediaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang menguasai TIK, adanya infrastruktur TIK, ketersediaan akses internet, ketersediaan dukungan training, riset, dukungan daya listrik, dan dukungan kebijakan pendayagunaan TIK untuk pembelajaran. Apabila prasyarat ini telah tersedia, maka program dan pengelolaan e-learning akan dapat dijalankan. Pembelajaran jarak jauh sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Namun e-learning mulai berkembang pesat pada tahun 1990-an seiring dengan perkembangan TIK. Karena TIK mampu menghasilkan berbagai produk bahan ajar yang jauh lebih menarik untuk dipelajari peserta didik. Selain itu, TIK juga memungkinkan dilakukannya penyampaian bahan ajar pada peserta didik tanpa batasan jarak dan waktu. Sumber: http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/02/Internet.jpg xx Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,30 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Awal pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran ini ditandai denganberkembangnya model computer-based learning/training (CBL/CBT). Berbagaipelatihan atau kelas menyediakan bahan belajar yang berupa modul elektronikyang berupa software edukasi dan softcopy berbagai modul cetak yang sudah adasebelumnya, atau dalam bentuk multimedia (audio dan video) dalam format digitalseperti mp3, mpeg, avi atau mov. CBL/CBT ini umumnya memanfaatkan komputeryang tak terhubungan dengan internet. Setelah jaringan internet makmin luas jangkauannya maka terjadi perluasanakses terhadap materi pembelajaran CBL/CBT. Bahan ajar tak hanya didistribusikandalam bentuk CD tapi juga disimpan di server dan dapat diakses melalui komputerberjaringan lokal maupun internet. Ini merupakan jembatan menuju apa yangkemudian dinamakan sebagai web-based learning. Pada model web-based learning, materi pembelajaran tersebut diunggah(upload) melalui website dan dapat dibaca atau diunduh (download) siapa pun.Dengan demikian siapapun dapat mempelajari materi pembelajaran tersebut kapanpun dan dimana pun. Pada sisi lain, bagi penyelenggara pendidikan, web-basedlearning ini dipergunakan untuk meluaskan layanan pendidikan bagi siapa un yangmembutuhkan layanan pendidikan tersebut. Fasilitas pembelajaran melalui web-based learning ini memungkinkan kegiatanpembelajaran bersifat interaktif meski tidak langsung saling bertatap muka. Pesertadidik bisa mengunduh bahan pembelajaran, mendiskusikannya dengan peserta didiklain atau dengan fasilitator pembelajaran. Interaksi tersebut bisa dilakukan secaralangsung melalui berbagai fasilitas messanger online seperti Yahoo Messenger,GoogleTalk, fasilitas chatting di facebook atau bisa juga melalui sms. Bisa jugadilakukan secara tertunda melalui e-mail. Evaluasi pembelajaran pun dapat dilakukansecara online melalui ujian online. Sekarang ini, sejalan dengan perkembangan TIK dan hadirnya ponsel cerdas(smartphone) maka kegiatan e-pembelajaran atau e-learning ini tidak hanya bisadilakukan melalui komputer namun bisa juga melalui ponsel atau komputer tablet.Karena itu, kini setelah istilah e-learning muncul pula istilah m-learning (mobilelearning) yang memanfaatkan kehadiran perangkat mobile seperti laptop, notebook,ponsel dan komputer tablet. Pada kegiatan pembvelajaran melalui fasilitas m-learningini proses pembelajaran bisa dimulai dengan mendistribusikan materi pembelajaran.Dilanjutkan dengan diskusi melalui fasilitas chatting/messenger dan/atau e-mail. Surjono (2006) mengilustrasikan perkembangan pembelajaran jarak jauh danpemanfaatan TIK itu seperti visualisasi berikut. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 31
    • Pembelajaran Jarak Jauh Pembelajaran Bermedia e-Pembelajaran Pembelajaran Bermedia Pembelajaran Online Lingkungan Pembelajaran CAI, CAL, CBT Berbasis Web WBI, WBT, WBL Adaptive Hypermedia AEH Other AHS Applications Sumber: Surjono (2006) Gambar 4.2. Perkembangan e-Learning b. Fungsi e-learning Menurut Siahaan (2002) e-leraning ini memiliki 3 (tiga) fungsi terhadap kegiatan pembelajaran konvensional yang berlangsung di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi). » Suplemen Materi-materi pembelajaran yang disediakan dalam fasilitas e-learning bersifat pilihan atau opsional sehingga peserta didik dapat memilih untuk memanfatkan atau tidak materi pembelajaran yang disediakan sesuai kebutuhan dan keinginannya. » Komplemen (tambahan) Manakala materi pembelajaran dalam e-learning ini sengaja dibuat untuk melengkapi pembelajaran yang diperoleh melalui pembelajaran konvensional, maka berjalanlah fungsi e-learning sebagai komplemen. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (penguat) atau remedial bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran elektronik dapat dikatakan sebagai enrichment (pengayaan), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pembelajaran (fast learner) yang disampaikan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,32 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • melalui pembelajaran konvensional diberikan kesempatan mengakses materi pembelajaran elektronik yang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar makin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik atas materi pembelajaran yang disajikan secara konvensional di dalam kelas. Materi pembelajaran pun dapat dimanfaatkan sebagai program remedial. Peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pembelajaran (slow learner) yang disajikan secara tatap muka di kelas diberi kesempatan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang sirancang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan di kelas.» Substitusi (pengganti) Materi bahan belajar dalam e-learning dapat digunakan sebagai pengganti bahan ajar yang belum tersampaikan dalam kegiatan belajar tatap muka. Di samping itu, materi juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif model kegiatan pembelajaran bagi siswa/peserta didik. Tujuannya agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan belajarnya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain. Sumber: Dokumen Seksi Sarpras Uji Coba E-Training Pamong Belajarc. Bentuk interaksi dan komunikasi dalam e-learning TIK memang memfasilitasi terjadinya interaksi dan komunikasi antarmanusiatermasuk interaksi dan komunikasi dalam kegiatan dan proses pembelajaran. Dalamkonteks kegiatan e-learning bentuk interaksi antara manusia dan sistem dapatdikelompokan ke dalam tiga kategori, seperti berikut: Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 33
    • » Synchronous Learning » Self-directed Learning » Asynchronous (collaborative) Learning Menurut Widiartha, masing-masing kategori tersebut pada dasarnya mengacu pada bagaimana perasaan peserta didik pada saat melakukan proses belajar mengajar dengan fasilitas e-learning. Perasaan tersebut dapat berupa perasaan terisolasi atau menjadi bagian dari kelompok. • Synchronous Learning Pada pembelajaran synchronous kondisinya mirip dengan pembelajaran konvensional, hanya saja pada e-learning tidak ditandai dengan kehadiran secara fisik. Pada bentuk synchronous ini fasilitator, peserta didik dan rekan-rekannya melakukan pertemuan secara virtual (online) di internet, meski proses pembelajarannya seolah dilakukan seperti pada kelas konvensional. • Self-directed Learning Pada kategori ini peserta didik melakukan pembelajaran secara mandiri dengan mengakses berbagai referensi dan bahan ajar yang disediakan. Tidak ada fasilitator ataupun waktu khusus untuk berdiskusi dengan sesama peserta didik. Masing-masing peserta didik melakukan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing. • Asynchronous (collaborative) Learning Collaborative learning mengkombinasikan dua kategori di atas. Peserta didik belajar secara mandiri namun tetap berkomunikasi dengan peserta didik lainnya maupun dengan pendidik meski tidak dalam waktu khusus. Email, instan messagger, atau board pada forum digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi baik dengan pendidik atau sesama peserta didik. Ketiga kategori tersebut dengan karakteristiknya masing-masing dapat digunakan untuk situasi yang berbeda tergantung kebutuhan. Widiartha merinci detail karakteristik, kelebihan dan kelemahan masing-masing kategori di atas. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,34 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Tabel 4.1. Perbandingan Kategori Interaksi dan Komunikasi dalam e-Learning No Kategori Ciri Keunggulan Kelemahan 1 Synchronous • Dipandu • Mirip dengan • Memerlukan instruktur pembelajaran waktu khusus • Terjadwal konvensional • Ada biaya untuk • Kolaboratif • Adanya instruktur komunikasi antar • Memerlukan peserta didik bandwidth dan • Keberadaan kecepatan pendidik internet yang menjadikan memadai dan proses belajar setara untuk menjadi lebih semua peserta terjamin didik 2 Self-directed • Peserta didik • On demand • Tidak cocok belajar secara (proses belajar untuk peserta mandiri dapat dilakukan didik yang • Tidak terjadwal kapanpun) menyukai • Cocok untuk belajar secara peserta didik yang berkelompok memiliki rasa • Tidak adanya ingin tahun besar instruktur yang dan aktif mencari menjamin sumber belajar kualitas proses belajar 3 Asynchronous • Dipandu • Adanya instruktur • Tidak instruktur menjamin kualitas emndukung • Tidak terjadwal dari proses komunikasi sepenuhnya pembelajaran dengan cepat • Peserta karena tidak • Interaksi dan didik dapat adanya jadwal komunikasi tidak menentukan khusus. dalam waktu yang sama sendiri kebutuhan belajarnya dan referensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut • Masih memungkinkan pembelajaran secara kolaboratifSumber: Widiarta Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 35
    • Sedangkan dari sisi penyampaian pembelajaran ada dua hal yang penting diperhatikan. Pembelajaran dapat dilakukan melalui pemberian instruksi atau pengjaran. Namun juga dapat dilakukan dengan menyampaikan informasi yang akan memampukan pembelajaran untuk memahami apa yang dibelajarkan. Perbedaan di antara pengajaran dan pemberian informasi tersebut dapat dilihat pada ilustrasi berikut: Intruksi Informasi • Terfokus pada hasil belajar yang spesifik • Terfokus pada pengorganisasian konten yang spesifik • Tujuan pembelajaran dirumuskan oleh • Tujuan dirumuskan oleh pengguna perancang pembelajaran, para pengajar dan seterusnya • Didasarkan pada hasil diagnosis atas • Didasarkan pada karakteristik dari karakteristik dan kebutuhan pengguna, disiplin pengetahuan tertentu dan dan bertujuan untuk memenuhi pengguna yang menjadi sasaran kebutuhan spesifik tersebut • Dibuat menjadi beberapa bagian agar • Dibuat menjadi beberapa bagian agar bisa disimpan dalam memori secara menjadi acuan yang optimal optimal • Mengandung komponen-komponen • Terutama berpusat pada penyajian yang presentasi, praktik, umpan-balik, dan efektif penilaian Sumber: Rosenberg (2001:13) Gambar 4.5. Karakteristik Instruksi dan Informasi Dalam konteks e-Learning, penting untuk memperhatikan apa yang disarankan Rosenberg (2001 : 13) yang mengingatkan bahwa tantangan utama untuk kegiatan pembelajaran, terutama e-learning, adalah kemampuan membedakan kebutuhan atas informasi (manajemen pengetahuan) dan kebutuhan untuk pengajaran (pelatihan online). Selain itu juga perlu memahami bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan dan saling melengkapi. Oleh sebab itu, permasalahan berikutnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan e-learning adalah mana kebutuhan yang sesungguhnya yang harus dipenuhi. Apakah pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan atau pendekatan pembelajaran lain. 2. E-Training Bila pembelajaran dimaknai sebagai proses perolehan pengetahuan atau keterampilan baru untuk meningkatkan kinerja, maka pelatihan adalah salah satu pendekatan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kinerja. Melalui pelatihan dibentuk dan dipelajari keterampilan baru atau memanfaatkan pengetahuan baru dengan cara tertentu yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,36 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Menurut Rosenberg (2001:5) ada empat elemen pokok pelatihan, yaitu:a. Maksud penyelenggaraan pelatihan dalam meningkatkan kinerja yang biasanya dilakukan dengan terlebih dulu melakukan analisis kebutuhan dan tercermin dari rujuan pembelajaranb. Desain pelatihan yang tercermin dari strategi pembelajaranc. Sarana dan media yang menjadi wahana untuk menyampaikan pembelajarand. Assesment atau sertifikasi yang menunjukkan adanya akuntabilitas pelatihan Hal penting yang perlu diperhatikan mengenai pelatihan ini adalah terjadinyatransformasi pelatihan. Transformasi tersebut berlangsung sebagai akibatperkembangan dan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat, bisnis danteknologi yang membuat dampak pelatihan konvensional menjadi terbatas.Rosenberg (2001:7-9) menunjukkan transformasi tersebut sebagai berikut:a. Dari pelatihan menuju kinerja. Kini tidak lagi dinilai berapa banyak atau berapa lama pelatihan diikuti seseorang, karena kini yang diperhatikan adalah dampak pelatihan terhadap peningkatan kinerja.b. Dari pelatihan di dalam kelas menuju pelatihan yang berlangsung di mana dan kapan saja. Terjadi perubahan akses terhadap materi pelatihan. Tidak lagi hanya di dalam kelas melainkan pelatihan tersebut bisa berlangsung di mana pun dan kapan pun dengan memanfaatkan perkembangan TIK.c. Dari kertas menuju online. Kini kehidupan manusia makin bergantung pada apa yang tampak pada layar komputernya.d. Dari fasiulitas fisik ke fasilitas berjaringan. Sejalan dengan perkembangan era digital, maka jaringan digital menjadi berperan penting dalam penyelenggaraan pelatihan.e. Dari siklus waktu ke real time. Kini materi pelatihan bisa dimutakhirkan kapan saja sesuai dengan perkembangan, sehingga tidak ada lagi batas waktu antara perkembangan lingkungan dan penyelenggaraan pelatihan. Oleh sebab itu, maka kegiatan e-training atau e-pelatihan sekarang inimenjadi bagian penting dari kehidupan sebuah organisasi. Pengembanganfasilitas e-training akan diperlukan agar organisasi dan warga organisasitersebut dapat selalu terus meningkatkan kinerjanya. Prinsip e-training padadasarnya sama dengan prinsip e-learning, yang membedakan hanyalah tujuanpenyelenggaraannya saja. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kinerja stafmelalui pemberian pengetahuan baru yang diaplikasikan dalam kegiatan ataupelaksanaan pekerjaan selain memberikan keterampilan baru untuk meningkatkankemampuannya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Karena itu, dalam e-training berlaku juga apa yang dilakukan pada pelatihankonvensional atau pelatihan yang diselenggarakan di dalam kelas. Diawali denganmelakukan analisis kebutuhan pelatihan dilanjutkan dengan proses pelatihan dandiakhiri dengan penilaian hasil pelatihan. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 37
    • 3. Media Pembelajaran Pada dasarnya, media pembelajaran yang dipergunakan disusun dengan memperhatikan dan mempertimbangkan siapa pembelajarnya, bukan apa yang akan dibelajarkan melalui media pembelajaran tersebut. Oleh sebab itu, penggunaan media pembelajaran akan sangat dipengaruhi gaya belajar pembelajarnya. Dalam pembelajaran secara online, maka akan diperlukan informasi mengenai gaya belajar sebelum menentukan media pembelajaran yang akan dipergunakan. Di samping itu, penting juga memperhatikan karakteristik pembelajar masa kini. Menurut Oblinger (2004), pembelajar masa kini memiliki karakteristik: (a) melek teknologi digital, (b) perangkat komunikasi yang selalu on, (c) bersifat mobil, (d) eksperimental, dan (e) berorientasi pada komunitasnya. Dengan memperhatikan gaya belajar dan karakteristik pembelajarnya, maka kita bisa memperhatikan apa yang dinamaka Prinsip Multimedia. Prinsip Multimedia ini mempengaruhi desain dan pembelajaran mutimedia (Meyer, 2001:184). Prinsip Multimedia ini adalah sebagai berikut: a. Prinsip Multimedia: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik dengan adanya grafik atau gambar dibandingkan hanya dengan kata-kata. b. Prinsip hubungan spasial: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala hubungan kata-kata dan gambar disajikan berdekatan satu sama lain c. Prinsip hubungan temporal: Para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala hubungan kata-kata dan gambat disajikan secara bersamaan d. Prinsip koherensi: Para pembelajar dapat belajar secara lebih baik manakala kata-kata, gambar dan suara yang tidak saling berkaitan dihilangkan e. Prinsip modalitas: para pembelajar dapat belajar secara lebih baik dari namisasi dan narasi audio dibandingkan dengan animasi dan teks f. Prinsip redudansi: manusia memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses bahan belajar visual dan audio yang disajikan secara bersamaan, sehingga para pembelajar bisa belajar secara lebih baik dari animasi dan narasi dibandingkan dari kombinasi animasi dan teks yang tampil di layar g. Prinsip perbedaan-perbedaan individual: efek desain lebih kuat pada pembelajar berpengetahuan sedikit dibandingkan dengan pembelajar berpengetahuan banyak Sedangkan untuk penggunaan media pembelajaran, khususnya untuk pendidikan jarak jauh, penting untuk bisa mengenali taksonomi media pembelajaran. Dengan mengetahui dan memahami karakteristik masing-masing media dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat synchronous dan asynchronous, maka bisa ditetapkan mana media yang paling tepat atau paling sesuai dengan kebutuhan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Holden dan Westfall (2005:14) menunjukkan taksonomi media pembelajaran tersebut seperti pada berikut: Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,38 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sumber: http://media.web.britannica.com/eb-media/15/100415-004-88F039C2.jpg xxx Tabel 4.2. Taksonomi Media Pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh Synchronous Asynchronous Visual • Korespondensi (tertulis) (termasuk grafik) • Rekaman video Audio Konferensi audio Rekaman audio Visual & Audio • Televisi pendidikan satelit • Rekaman video e-learning • Pembelajaran berbasis • Telekonferensi video komputer • Pembelajaran berbasis • Pembelajaran berbasis web yang bersifat Web yang bersifat synchronous Asynchronous • Audiografis • Televisi pendidikan Selanjutnya Holden dan Westfall (2005:30-31) pun menunjukkan strategi-strategi pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajarandalam pembelajaran jarak jauh. Tabel berikut menyajikan strategi pembelajaranyang bisa dipergunakan dalam pembelajaran jarak jauh, yang tentunya juga akanmenggunakan media pembelajaran yang diperlukan untuk penyampaian materi.Lebih dari itu, media pembelajaran pun juga menjadi tempat untuk menyemaikanpotensi yang dimiliki peserta didik menjadi kompetensi yang diperlukannya dalammenjalai kehidupan profesional dan sosialnya serta pengembangan individualnya. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 39
    • Tabel 4.3. Strategi Pembelajaran Strategi Deskripsi Pembelajaran Deskripsi/Narasi Memungkinkan terjadinya transfer pembelajaran melalui pernyataan dan pengungkapan pengetahuan. Bila terjadi interaksi, strategi ini memungkinkan terjadinya peneguhan perialku, pertanyaan spontan, dialog dan interaksi sosial dengan umpan-balik langsung. Demonstrasi Alih keterampilan melalui penggambaran tugas-tugas prosedural, peristiwa, proses dan lain-lain. Permainan Peran Melibatkan penciptaan ulang situasi yang terkait dengan permasalahan dunia nyata sehingga peserta bertindak dengan menjalankan berbagai peran. Mendorong tumbuhnya pemahaman terhadap posisi dan sikap orang lain selian memahami prosedur yang perlu digunakan untuk mendiagnosa dan memecahkan permasalahan. Para pembelajar bisa saja mengasumsikan karakter, organisasi, jabatan profesional tertentu dan seterusnya.. Diskusi Terpandu Menunjang lingkungan pembelajaran dialektis atau synchronous, melalui pertukaran informasi secara spontan dan lepas. Mendorong pembelajaran yang aktif dan partisipatif yang menunjang alih pengetahuan melalui dialog. Para pembelajar membahas materi diskusi secara lebih mendalam, bertukar wawasan dan pengalaman serta menjawab pertanyaan. Simulasi Membuat replikasi atau meniru kenyataan dan memungkinkan terjadinya pengamatan yang berkesinambungan. Simulasi melahirkan model realistis dari satu lingkungan atau situasi nyata. Ilustrasi Menggambarkan konsep abstrak dengan contoh yang nyata, gamblang dan tegas. Membayangkan Membayangkan adalah visualisasi mental atas objek, kejadian, dan apa yang dilihat. Membayangkan memungkinkan dilakukan ointernalisasi citra visual yang terkait dengan informasi yang dipelajari. Membayangkan membantu menciptakan atau menciptakan kembali pengalaman dalam benak pembelajar. Membayangkan melibatkan indra- indra penglihatan, peraba, pendengaran, dan penciuman. Pemodelan Versi yang tertata rapi dan sederhana atas ciri-ciri yang menonjol dari satu objek atau konsep. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,40 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Strategi Deskripsi Pembelajaran Urun Pendapat Urun pendapat adalah metode pemecahan masalah yang cukup teruji dan efektif yang tidak mengkritik situasi malah mendorong uapaya memahami secara imajinatif satu situasi, sehingga diharapkan adanya perpaduan pendapat dari banyaknya pendapat dan upaya melakukan perbaikan dilakukan. Urun pendapat dapat berlangsung di antara individu atau kelompok, serta mendorong munculnya ide-ide untuk menemukan metode yang efektif dalam memecahkan masalah. Studi Kasus Strategi pemecahan masalah yang serupa dengan simulasi yang dilakukan dengan menyajikan situasi realistis yang menuntut para pembelajar untuk memberikan tanggapannya dan mencari kemungkinan-kemungkinan memecahkan masalah tersebut. Pelatihan dan Praktik Pengulangan tugas atau perilaku sampai tercapai hasil belajar yang diharapkan. Memungkinkan terjadinya alih pengetahuan dari memori kerja ke memori jangka panjang. Menurut Holden dan Westfall (2005:35), proses pemilihan media pembelajaranmerupakan proses dengan pendekatan sistematis yang didasari model desainsistem pembelajaran. Memilih media pembelajaran yang paling tepat untukpembelajaran jarak jauh, dilakukan memperhatikan berbagai aspek. Masalah-masalah mendasar yang berkaitan dengan pembelajaran adalah (a) identifikasikesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan; (b) perangkat pengukuran danpenilaian yang efektif, (c) taraf interaksi di antara pembelajar dan antara pembelajardan pendidik, (d) strategi pembelajaran yang dipergunakan, (e) kompleksitas kontenpembelajaran, dan (f) tingkat perubahan konten pembelajaran. Sedangkan masalahpenyampaian materi pembelajaran yang penting untuk diperhartikan adalah (a)ukuran jumlah pembelajar dan distribusinya, (b) biaya untuk penggunaan SDM yangdimiliki institusi atau menggunakan SDM dari luar, ketersediaan infrastruktur, danperangkat keras untuk penyampaian bahan belajar seperti peralatan telekonferensivideo, penerima satelit, sistem/konektivitas WAN/LAN, dan komputer/server, TVmonitor, dan peralatan display. Bailey (2002) menunjukkan kegiatan pembelajaran berbasis TIK merupakanbagian dari kegiatan pembelajaran mutakhir. Ada kelebihan dan kekurangan daripembelajaran berbasis TIK bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.Namun tidak bisa dipungkiri juga, dalam dunia pendidikan mutakhir, pembvelajaranberbasis TIK sudah menjadi bagian penting kegiatan pendidikan pada semua jalurdan jenjang pendidikan. Kelebihan dan kekurangan pembelajaran berbasis TIKdibandingkan dengan pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 41
    • Tabel 4.4. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis TIK Dibanding Pembelajaran Konvensional Kelebihan Kekurangan • Mengurangi kebutuhan untuk berada • Gangguan teknologi yang mengurangi pada tempat dan waktu yang sama. kemampuan pengguna untuk mengikuti Dengan adanya teknologi berbasis pembelajaran internet, para pembelajar bisa memiliki • Pembelajar perlu memiliki akses ke akses terhadap bahan belajar dan Internet dan World Wide Web akses pada perangkat komunikasi yang • Pembelajar harus memiliki kemampuan memungkinkan terkoneksi dengan teknis menggunakan perangkat untuk internet memanfaatkan keseluruhan bahan • Pembelajar dapat dengan cepat belajar bisa memperoleh umpan-balik dari • Kurangnya komunikasi tatap-muka penugasan yang diperolehnya mengurangi kemampuan bagi fasilitator • Meningkatkan kontak langsung antara untuk melihat pertanda verbal dan pembelajar-fasilitator dan sesama nonverbal serta membaca bahasa pembelajar tubuh. • Memberikan peluang belajar yang baru. Pembelajar dan fasilitator untuk bisa membangun pengetahuan baru yang tidak bisa dibuat tanpa adanya teknologi. • Memfasilitasi partisipasi berbagai kelompok belajar dengan memperluas kesempatan belajar pada individu- individu yang bisa saja bila dilaksanakan secara konvensional tidak bisa diikutinya. Memberi akses yang lebih besar pada sumber belajar. • Mendorong keterlibatan aktif pembelajar. • Memberikan lebih banyak waktu untuk memberi komentar dan memberi respons sehingga melahirkan kualitas interkasi yang lebih tinggi Sumber : Bailey (2002:14-15) B. Inovasi Pembelajaran dan Media Pembelajaran TIK menyediakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kegiatan pendidikan. Bukan hanya mempermudah penyampaian bahan pembelajaran kepada peserta didik melainkan juga memungkinkan kegiatan pembelajaran terjadi di mana saja dan kapan saja sejauh ada koneksi dengan tempat penyimpanan bahan belajar. Belajar bukan lagi kegiatan yang dilakukan di ruang dan waktu tertentu, karena TIK menyediakan kemungkinan untuk membangun fleksibilitas dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,42 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • TIK juga memungkinkan kegiatan pendidikan dan pelatihan yangmenggabungkan gaya pembelajaran konvensional yang berlangsung di dalam kelasdan pembelajaran mandiri dengan memanfaatkan TIK. TIK juga bisa membentukkelas-kelas virtual, yang tidak mengharuskan peserta pendidikan dan pelatihan adapada ruang yang sama. Melainkan cukup mengikuti kegiatan pada waktu yang samanamun berada pada lokasi atau ruang yang berbeda. Bisa juga dilakukan perpaduan antara kegiatan pembelajaran di dalam kelas,namun untuk pendalaman materi tertentu dilakukan pembahasan atau pembimbingansecara elektronik melalui e-mentoring. Dengan demikian, kegiaytan pembelajaranmenjadi tidak sepenuhnya merupakan kegiatan tatap-muka langsung di antarasesama pembelajar atau antara pembelajar dan pendidiknya. TIK menyediakan kemungkinan untuk membuat variasi pembelajaran yangtidak hanya berlangsung di dalam kelas atau pembelajaran konvensional yangmengharuskan pertemuan pembelajar dan pendidik berada pada ruang dan waktuyang sama. Ini membawa kita pada arsitektur pembelajaran. Salah satu arsitekturpembelajaran yang ditawarkan berasal dari model hipotetis yang dikembangkanRosenberg. Model hipotetis tersebut divisualisasikan seperti berikut. Pengalaman Lapangan Materi 1 Materi 2 Materi 3 Materi 4 Pelatihan di Kelas Pelatihan di Kelas Praktik e-Monitoring Praktik Situs Web Gambar 4.6. Model Hipotetis Arsitektur Pembelajaran Dimodifikasi dari Rosenberg (2001:123) Dalam arsitektur pembelajaran yang divisualisasikan pada Gambar 4.6.itu tampak ada penyampaian materi yang dilakukan di dalam kelas dan jugamemanfaatkan situs web. Artinya selain dilakukan pembelajaran konvensionaljuga dilakukan pembelajaran dengan menggunakan fasilitas TIK. Dalam arsitekturpembelajaran ini digunakan pendekatan paduan konvensional dan TIK karena modelpembelajarannya merupakan pengembangan dari pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, inovasi pembelajaran dapat dilakukan terus-menerus sehinggakegiatan pembelajaran dalam kegiatan pelatihan misalnya merupakan kegiatan yangtidak membosankan dan sesuai dengan karakteristik pembelajar dewasa. Dengenfleksibilitasnya yang tinggi, TIK memungkinkan terus menerus dilakukan perbaikandan penyempurnaan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada pembelajar.Fleksibilitas itu antara lain berkaitan dengan pengakuan atas perbedaan-perbedaanindividu pembelajar termasuk kemampuan dan kecepatan dalam memahami materipembelajaran dan mempraktikkannya dalam kehidupan profesionalnya. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 43
    • Dalam mengembangkan inovasi pembelajaran untuk kegiatan peningkatan mutu PTK PAUDNI, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Dengan memberikan perhatian pada hal-hal tersebut, maka kegiatan inovasi pembelajaran tidak dilakukan hanyha demi inovasi. Melainkan inovasi dilakukan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran sehingga menjadi kegiatan yang efektif, efisien dan produktif dalam konteks perbaikan dan peningkatan mutu PTK PAUDNI. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kebutuhan Belajar Pembelajar dan Institusi Sumber: http://mjeducation.co/wp-content/uploads/2011/12/karakter-siswa-sxc-jwarletta.jpg Dalam kegiatan pembelajaran untuk peningkatan mutu PTK PAUDNI, tentu ada dua kebutuhan belajar yang harus diperhatikan. Pertama, kebutuhan institusi PAUDNI sendiri, dan kedua kebutuhan belajar PTK PAUDNI. Kedua kebutuhan belajar ini titik temunya adalah kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi sehingga bisa memberikan pelayanan PAUDNI yang bermutu dan memenuhi harapan para stakeholder PAUDNI. Melalaui analisis kebutuhan belajar tersebut pada dasarnya dilakukan apa yang dinamakan sebagai penyelerasan (alignment) antara kebutuhan individu PTK PAUDNI dalam pengembangan diri dan kariernya dengan kebutuhan kompetensi SDM yang diharapkan oleh lembaga PAUDNI. Kegiatan pendidikan dan pelatihan pada dasarnya merupakan wahana untuk menyelaraskan antara kebutuhan individu dan institusi tersebut. Penyelerasan ini merupakan pokok penting dalam kegiatan manajemen sumber daya manusia yang diperlukan untuk peningkatan mutu layanan. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,44 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Kebutuhan individual PTK diidentifikasi melalui penilaian (assesment) yang dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan dan pelatihan yang biasa dinamakan dengan analisis kebutuhan diklat (AKD). Penilaian tersebut dapat dilakukan melalui pengisian form/angket secara online, sehingga tersedia cukup banyak waktu untuk menyusun materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta diklat. Sedangkan kebutuhan institusi atas pendidikan dan pelatihan akan bersumber dari adanya kesenjangan antara kompetensi yang diharapkan dengan kompetensi aktual/nyata. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu kemudian dikategorikan berdasarkan aspek-aspek yang dapat ditangani atau diatasi melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan. Identifikasi kebutuhan institusi ini pun dapat dilakukan melalui penyebaran form/angket secara online yang juga dapat diisi secara online. Kedua kebutuhan ini merupakan landasan untuk menyusun atau merancang desain pembelajaran. Hasil analisis atas kebutuhan individu dan institusi ini dipergunakan untuk menentukan “apa yang akan dibelajarkan” dan “bagaimana membelajarkannya”. Dengan TIK akan dimungkinkan para peserta diklat memperoleh materi pembelajaran atau apa yang dibelajarkan secara berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhan peserta diklat. Karena salah satu kelebihan yang dimiliki pembelajaran berbasis TIK adalah materi pembelajarannya yang tailor-made dan memperhatikan aspek perbedaan- perbedaan individu pembelajar. Dengan memanfaatkan TIK pula, para pembelajar dapat menelusuri sendiri materi pembelajaran yang dibutuhkannya. Tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran menjadi berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pembelajarnya namun dengan tetap mengacu pada tujuan pembelajaran yaitu pencapaian kompetensi tertentu yang diharapkan dimiliki PTK PAUDNI sesuai dengan kebutuhan institusi PAUDNI. Dengan demikian, peserta pembelajaran akan menentukan sendiri sampai sejauhmana atau sedalam apa pembelajaran akan dilakukannya.2. Kurikulum Kurikulum pembelajaran disusun untuk mencapai tujuan pencapaian kompetensi tertentu yang harus dimiliki peserta kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya, dari sisi materi pembelajaran. kegiatan pembelajaran dilaksanakan sama saja dengan kegiatan pembelajaran konvensional. Perbedaan antara pembeajaran konvensional dan pembelajaran berbasis TIK lebih pada metode pembelajarannya. Penggunaan media pembelajaran, cara penyampaian materi pembelajaran dan interaksi antara pendidik dan pembelajarlah yang membuat pembelajaran berbasis TIK lebih memungkinkan menyediakan keragaman. Kreatifitas perancang kegiatan pembelajaran menjadi sangat diperlukan untuk mampu menyajikan materi pembelajaran secara menarik, hidup, bertata-warna menarik dan mendorong semangat belajar. Pengembangan media pembelajaran menjadi kegiatan penting yang mempengaruhi proses pembelajaran berbasis TIK. PSB didorong untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bukan hanya Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 45
    • dalam bentuk penyampaian bahan pembelajaran melainkan juga bahan belajar yang menarik, mudah dipahami dan mendorong pembelajar untuk mendalami secara mandiri materi pembelajarannya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam metode pembelajaran adalah memperhatikan bentuk komunikasi di antara pendidik dan pembelajar serta di antara sesama pembelajar. Apakah bentuk komunikasinya synchronous atau asynchronous. Bila interaksi angtara pendidik dan pembelajarnya bersifat synchronous maka ineteraksi berlangsung seperti pada komunikasi tatap-muka. Tidak ada umpan-balik atau interaksi yang tertunda. Hal yang membedakan dengan komunikasi tatap muka adalah karena komunikasinya yang bermedia dan terkadang mengandalkan kekuatan komunikasi menggunakan teks karena menggunakan fasilitas chatting atau messenger. Bila komunikasinya bersifat asynchronous, maka komunikasinya tertunda sehingga interaksinya tidak seketika melainkan berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Sumber: http://dzumar.files.wordpress.com/2010/02/internet-cafe.jpg Perbedaan tersebut tentu sedikit banyak akan mempengaruhi kegiatan pembelajaran, khususnya dalam kecepatan penuntasan materi pembelajaran tertentu. Pada kegiatan pembelajaran yang synchronous, karena interaksinya tidak tertunda tentu akan bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran yang asynchronous. Terkait dengan metode pembelajaran, akan dipengaruhi juga oleh etos belajar para pembelajarnya sendiri. Bila para pembelajarnya menunjukkan etos belajar yang tinggi yang ditandai dengan keinginan menguasai materi pembelajaran dan kemampuan belajar mandiri yang tinggi maka materi pembelajaran akan dengan lebih cepat dikuasi pembelajar. Etos belajar merupakan salah satu dimensi dari diri pembelajar yang harus diperhatikan oleh perancang kurikulum dalam pembelajaran berbasis TIK. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,46 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Pada sisi lain, kita juga menyaksikan apa yang biasa dinamakan sebagai “implikasi web 2.0”. Hadirnya situs-situs web yang dibuat oleh publik seperi wilkipedia, memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan di antara publik. Pengetahuan tidak lagi bersumber dari pendidik yang menuliskannya secara sistematis dan tertata baik yang dipublikasikan melalui berbagai media. Melainkan di antara publik sendiri terjadi daling membelajarkan karena terjadi pertukaran informasi melalui situs-situs web. Orang bisa membagian pengetahuannya melalui artikel yang ditulis di situs-situs jejaring sosial seperti facebook atau PSB yang kontennya dikembangkan sendiri oleh publik seperti wilkipedia atau membuat situs blog sendiri yang menjadi sarana tempat bertukar gagasan di antara publik. Saling membelajarkan di antara publik ini merupakan kekuatan belajar yang berkembang di kalangan masyarakat pengguna TIK. Ada keinginan untuk saling berbagi pengetahuan dan bertukar pengetahuan. Adakalanya juga terjadi diskusi-diskusi yang menambah pemahaman dan pengetahuan yang pada gilirannya berdampak terhadap peningkatan kompetensi.3. Desain Pembelajaran Desain pembelajaran untuk kegiatan pembelajaran yang berbasis TIK yang dikembangkan untuk kebutuhan PSB tentunya akan berbeda dengan kegiatan pembelajaran yang merupakan kegiatan tatap-muka dalam pembelajaran konvensional. Dalam pembelajaran berbasis TIK, banyak materi pembelajaran akan disampaikan secara tekstual dengan dukungan ilustrasi berupa gambar diam maupun gambar hidup baik berupa gambar dunia nyata maupun animasi. Secara anatomis, desain pembelajaran untuk setiap pokok bahasan atau mata pelatihan dalam pelatihan berbasis TIK adalah sebagai berikut: a. Penjelasan tujuan pembelajaran yang menjelaskan kompetensi yang diharapkan bisa dikuasai setelah mempelajari pokok bahasan/mata pelatihan tertentu. b. Pendahuluan. Berisikan penjelasan yang merupakan orientasi awal yang mendorong pembelajar untuk selaras (tune-in) dengan kegiatan pembelajaran. c. Pembahasan. Berisikan pokok-pokok materi yang menjadi fokus pembahasan dalam mata pelatihan. Biasanya, untuk memudahkan pemahaman diberikan iluustri berupa memberikan perhatian pada konsep pokok, menyediakan gambar/grafik/skema atau animasi dan gambar bergerak. d. Kesimpulan. Berisi butir-butir pokok dari pembahasan dengan memberikan penakanan pada bagian-bagian yang dianggap penting. Namun yang terpenting pada bagian kesimpulan ini adalah menghubungkan konsep/ materi pembelajaran dengan dunia nyata PTK PAUDNI. e. Evaluasi pembelajaran. Biasanya berisikan butir-butir soal yang harus dijawab pembelajar. Pembelajar bisa memeriksa sendiri hasil pembelajarannya itu dengan membandingkan jawaban atas butir-butir soal dengan kunci jawaban yang tersedia. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 47
    • Struktur pembalajaran untuk setiap mata pelatihan tersebut didesain untuk menjadi materi pembelajaran yang ramahpengguna (user’s friendly) atau ramah pembelajar (learner’s friendly). Karena salah satu prinsip penting dalam pembelajaran berbasis TIK adalah kegiatan belajar yang berorientasi pembelajar (learner-oriented) sehingga penyajian semua materi pembelajaran harus memperhatikan karakteristik pembelajarnya, Oleh sebab itulah, PSB yang berbasis budaya lokal menjadi sangat penting sekaligus menjadi kekuatan untuk mengembangkan materi pembelajaran yang berorientasi pada pembelajarnya dan sangat memerpahtikan karakteristik pembelajarnya. Karakterik pembelajar itu bukan hanya memperhatikan karakteristik pembelajar sebagai pembelajar dewasa, melainkan juga karakteristik pembelajar sebagai bagian dari satu komunitas profesi dan sosialnya. Misalnya karakteristik yang berkaitan dengan kecenderungan belajar dengan menggunakan daya auditifnya atau daya visualnya. Dengan PSB yang berbasis keunggulan lokal juga memungkinkan materi pembelajaran yang dikembangkan lebih banyak menyajikan ilustrasi yang berisfat lokal. Karakteristik kawasan, seperti kawasan industri atau pertanian akan sangat mempengaruhi penyajian ilustrasi dalam bahan belajar. Ilustrasi menjadi benar-benar membawa pada pemahaman pembelajar terhadap materi pembelajaran dan bukan sekedar pereda kejenuhan atau kebosanan dalam mempelajari materi pembelajaran. 4. Media Pembelajaran Seperti yang dikemukakan sebelumnya, media pembelajaran pada dasarnya bukan sekedar wahana yang dipergunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran. Media pembelajaran lebih merupakan wahana tempat menumbuhkembangkan potensi pembelajar. Media pembelajaran merupakan wahana untuk mengubah potensi pembelajar menjadi kompetensi yang diperlukan untuk melakasanakan kegiatan profesionalnya sebagai PTK PAUDNI. Setelah memasuki era digital dan mulai dilakukan pengembangan PSB digital, maka media pembelajaran yang tersedia pun makin kaya. Bukan lagi sekedar media yang hanya mengembangkan komunikasi satu arah tetapi merupakan media pembelajaran yang bersifat interaktif. Para pembelajar bisa lebih merasa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran karena sifat interaktif yang dibangun melalui media pembelajaran yang bersifat digital. Ada dua bentuk media pembelajaran digital ini. Pertama, digitalisasi bahan belajar konvensional. Buku, poster, gambar atau bahan bacaan didigitalkan sehingga menjadi lebih mudah, murah dan cepat didistribusikan. Materi belajar yang merupakan digitalisasi bahan belajar konvensional dapat disimpan di PSB yang kemudian bisa diunduh (download) oleh para pembelajar yang membutuhkannya. Buka misalnya, diubah ke dalam format pdf sehingga bisa disimpan dalam media penyimpanan digital seperti harddisk komputer atau CD. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,48 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Kedua, bahan belajar yang sengaja dikembangkan dengan memanfaatkanperkembangan teknologi digital. Misalnya, sengaja membuat bahan belajaryang didesain secara interaktif dan menggunakan ilustrasi yang berupa gambarbergerak. Dalam menggambarkan sebuah proses, bisa divisualisasikandengan menggunakan animasi sehingga prosesnya menjadi lebih mudahdipahami dan menarik.Namun, bagaimana pun bentuk media pembelajarannya, yang terpentinguntuk diingat bahwa media tersebut mampu menumbuhkembangkanpotensi pembelajar menjadi komptensi. Kriteria terpenting dari mediabelajar adalah kemampuannya mendorong kegiatan pembelajaran yangmenumbuhkembangkan kemampuan pembelajar.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaranadalah sasaran pengguna media tersebut. Hukum dasar media adalahmenyesuaikan diri dengan kebiasaan penggunaan media oleh penggunanya.Artinya, kita tidak bisa lepas dari prinsip pembelajaran berorientasi pembelajardalam mengembangkan media pembelajaran dan memilih media pembelajaran.Media pembelajaran diadakan untuk membantu pembelajar memahamimateri pembelajaran, bukan untuk menunjukkan kepiawaian pengembangmedia pembelajar atau sekedar menunjukkan kreatifitas pengembang mediapembelajaran dalam mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yangdisediakan media pembelajaran digital. Singkatnya, media pembelajarandipergunakan untuk kepentingan pembelajar bukan oleh pendidik yangmengembangkan media pembelajaran.Media pembelajaran yang menumbuhkembangkan potensi menjadikompetensi itu tentunya merupakan media pembelajaran yang diorientasikankepada pembelajar. Kebutuhan belajar pembelajar dipenuhi melalui materipembelajaran yang disajikan melalui media pembelajaran tertentu. Hasratmemperdalam pengetahuan dilayani dengan baik oleh media pembelajaranyang dikembangkan. Media pembelajaran mendorongsetiap pembelajar untukmenelusuri sendiri dan memperdalam apa yang sudah diketahuinya melaluiberbagai sumber dan media belajar lain.Media pembelajaran digital memang menyediakan kemungkinan-kemungkinanbaru yang menjadi bagian dari inovasi proses pembelajaran. Mediapembelajaran ini bukan hanya memudahkan penyampaian dan penyajianmateri pembelajaran namun juga memungkinkan terjadinya interaksi di antarasesama pembelajar dan di antara pendidik dan pembelajar. Media pembelajarandigital pun menyediakan ruang yang cukup besar untuk mewujudkan danmengekspresikan kreativitas pengembangan media pembelajar melaluitampilan warna, jenis huruf, suara, animasi dan gambar.Salah satu kelebihan media pembelajaran digital adalah terlaksananya prinsipkonvergensi. Pembelajaran berbasis TIK merupakan contoh nyata bagaimanakonvergensi yang terjadi di antara media dan sumber belajar, sistem komputerdan sistem telekomunikasi. Media pembelajaran digital juga menyajikankonvergensi antara berbagai komponen seperti gambar, teks, suara dan sistem Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 49
    • komputer. Oleh sebab itu, tersedia berbagai kemungkinan untuk memanfaatkan dan mempergunakan media pembelajaran sebagai wahana pembelajaran yang efektif dan efisien. Oleh sebab itu, satu hal yang penting untuk ditekankan dalam inovasi pembelajaran melalui media pembelajaran digital adalah proses pembelajaran tetap berorientasi pada pembelajar. Jangan sampai kreativitas pengembangan media pembelajaran dilakukan hanya demi kreativitas itu sendiri atau hanya demi kepuasan mereka yang membuat media pembelajar. Melupakan satu hal yang mendasar, dalam konteks pembelajaran berorientasi pembelajar maka media pembelajar pada dasarnya ditujukan untuk melayani kebutuhan belajar para pembelajar. Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi yang dikembangkan tetaplah berada dalam kerangka melayani kebutuhan belajar pembelajar. Selain itu, penting juga untuk mengetahui pola umum kegagalan media pembelajaran. Seperti yang dikemukakan Westera (tt:5), pola umum kegagalan itu berawal dari ekspektasi dan antusiasme yang sedemikian besar terhadap teknologi baru yang dapat dipergunakan untuk melakukan inovasi pendidikan. Namun kemudian, tulis Westera selanjutnya, penelitian-penelitian yang dilakukan gagak menunjukkan perbedaan antara pembelajaran konvensional dan pembelajaran dengan menggunakan teknologi baru tersebut. Praktik pendidikan yang berlangsung pun dengan sendirinya menjadi dipengaruhi oleh hasil penelitian tersebut sehingga muncul ketidakyakinan akan keampuhan teknologi dalam menunjang atau mendorong kegiatan pembelajaran. Westera sendiri memandang, untuk menghadapi hal tersebut ada 3 hal yang penting diperhatikan yaitu kreativitas, inovasi kolaboratif dan daya saing. Ketiga hal tersebut juga akan mendorong terjadinya peningkatan kebutuhan belajar yang makin tinggi, makin beragam dan makin menuntut adanya penyesuaian dengan kebutuhan pembelajar (kustomisasi), personalisasi dan cara penyampaian bahan belajar yang fleksibel. 5. Penilaian Hasil Pembelajaran Kegiatan pembelajaran merupakan sebuah sistem, yang di dalamnya terkandung komponen-komponen masukan, proses dan keluaran. Dengan memandang pembelajaran sebagai sistem maka dengan sendirinya manakala dilakukan evaluasi pembelajaran akan dilakukan evaluasi atas masukan, proses dan keluaran dari pembelajaran tersebut. Misalnya dalam melakukan evaluasi masukan dilakukan evaluasi atas karakteristik pembelajar, sarana dan prasarana yang dibutuhkan, kurikulum, media pembelajaran dan fasilitator kegiatan pembelajaran. Sedangkan pada evaluasi atas proses pembelajaran dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di PSB. Sedangkan evaluasi hasil belajar dilakukan untuk melihat pencapaaian atau prestasi pembelajar dalam penguasaan kompetensi yang diharapkan dimiliki setelah mengikuti pembelajaran. Biasanya, dalam melakukan evaluasi terhadap pembelajaran ada dua aspek penting yang diperhatikan dan menjadi objek evaluasi yaitu proses pembelajaran Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,50 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • hasil pembelajaran. Kedua hal ini selalu dipandang sebagai bagian pentingdalam kegiatan pembelajaran dan yang menjadi ukuran atau kriteria darikeberhasilan belajar. Antara proses pembelajaran dan hasil pembelajarandipandang ada keterkaitan yang cukup erat. Proses belajar yang baik akanmemberikan hasil belajar yang baik atau bermutu tidaknya hasil pembelajaranakan sangat ditentukan proses pembelajaran yang baik. Akan halnya penilaian terhadap hasil belajar pada dasarnya akan melihatstandar kompetensi dengan kompetensi yang dikuasai setelah mengikutiproses pembelajaran. Dengan evaluasi hasil belajar tersebut dapat diketahuibagaimana pencapaian pembelajaran dalam penguasaan kompetensi untukbisa memenuhi standar kompetensi seperti yang ditetapkan dalam PP19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Oleh sebab itum, evaluasi hasilpembelajaran merupakan pokok penting dari rangkaian pembelajaran sehinggadinamakan evaluasi substantif. Dalam melakukan evaluasi pembekajaran bisa saja dilakukan denganmelakukan evaluasi terhadap diri sendiri (self-evaluation) yang dilakukanpada setiap akhir mata pelatihan berbasis TIK. Selain itu juga bisa dilakukansecara online, sehingga pada dasarnya PSB tidak hanya menyediakan materipembelajaran namun juga sudah mempersiapkan materi evaluasi. Sedangkan untuk evaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan memberikaninstrumen evaluasi yang menilai kesesuaian materi dengan kebutuhannyata pembelajar. Juga disampaikan soal tingkat kesulitan atau kemudahanmemahami materi pembelajaran dan dukungan bahan belajar untuk mencapaitingkat kompetensi yang diharapkan. Apa yang disampaikan pembelajartersebut akan menjadi bahan masukan yang penting untuk memperbaiki mutubahan pembelajaran sebagai bahan pembelajaran yang didesain sebagaibahan pembelajaran yang berorientasi pembelajar. Konsep PSB Berbasis TIK untuk PAUDNI 51
    • Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,52 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • BAB 5Implementasi PSB UntukPeningkatan Mutu PTK PAUDNI Pusat Sumber Belajar (PSB) dibentuk dan diselenggarakan untukdidayagunakan oleh semua pengguna yang membutuhkan. PSB akan dimanfaatkanmanakala para penggunanya merasakan manfaat PSB atau PSB memamng didesainuntuk memenuhi kebutuhan penggunanya. PSB bukan didirikan untuk memenuhikebutuhan pendirinya melainkan difokuskan untuk melayani dan memenuhikebutuhan stakeholder pendidikan, yang dalam hal ini adalah stakeholder PAUDNI. Oleh karena itu, dengan sendirinya menjadi sangat penting bagi pengelolaPSB PAUDNI untuk memperhatikan siapa penggunanya. Memperhatikan siapapenggunanya akan mempengaruhi model operasional PSB yang dikembangkannya.Oleh sebab memperhatikan kebutuhan penggunanya, maka PSB biasanya akansangat memperhatikan 3 K dalam konteks kebutuhan pengguna yaitu konten,konektivitas dan komunitas. Konten PSB merupakan aspek penting pemanfaatanPSB oleh para stakeholder-nya. PSB juga bila memenuhi kebutuhan penggunanyaakan menjadi perangkat/institusi komunitas yang dipergunakan sebaga wahanasaling bertukar dan berikirm pengetahuan di antara sesama warga komunitasnya.Sedangkan konektivitas berkaitan dengan bagaimana pengguna terhubungandengan sumber belajar yang tersimpan di PSB atau dengan sesama wargakomunitas pembelajaran. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 53
    • A. Perubahan Lingkungan dan Kebutuhan Belajar Lingkungan alam, lingkungan sosial-budaya, dan lingkungan teknologi mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut ada yang berlangsung cepat ada pula yang berlangsung lambat, selain itu ada yang disadari dan ada pula yang tidak disadari. Perubahan-perubahan tersebut dengan sendirinya melahirkan perubahan dalam menanggapi terjadinya perubahan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan. Pertama, perubahan-perubahan tersebut melahirkan kebutuhan baru pada apa yang dibelajarkan. Kedua, perubahan-perubahan tersebut dengan sendirinya melahirkan cara-cara baru dalam belajar baik yang bersifat komplementer, substitusi maupun suplemen terhadap kegiatan pembelajaran konvensional. Perubahan yang terjadi yang kita alami bersama akhirnya menuntut kita untuk belajar kembali dan terus belajar. Hadirnya teknologi baru menuntut kita belajar untuk bisa memanfaatkan atau mengoperasikan teknologi tersebut. Contoh sederhana, manakala kita memiliki pesawat telepon seluler baru akan menuntut kita belajar untuk bisa mengoperasikannya. Ada kebutuhan belajar yang baru yang muncul sebagai akibat dari perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi dan berlangsung di sekeliling kita. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,54 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • P R O Pengetahuan - Jasa D U K T Manufaktur I V Pertanian/ Kerajinan Tangan I T A S Abad 17 18 19 20 Sumber : US Army Corps of Engineer (2003:6) Gambar 5.1. Dikontinuitas Cara Berproduksi Gambar 5.1. menunjukkan bagaimana perubahan pada lingkungan melahirkanjuga perubahan belajar. Pada masyarakat dengan cara berpoduksi yang bersifatpertanian/kerajinan kegiatan belajar terfokus pada individu-individu. Pada masaini orang bekerja masing-masing, dengan keluarganya atau dalam kelompok kecil.Selanjutnya, ada pembelajaran menggunakan perkakas sederhana yang berupaperkakas tangan sebagai alat bantu melakukan pekerjaan. Pada masa industri/manufaktur, mulai terjadi perubahan. Karena orang bekerja dalam kelompokbesar atau menggunakan pembagian kerja. Pembelajaran pun meski terfokuspada individu untuk meningkatkan keterampilannya untuk bgisa menjalankanfungsi atau penguasaan teknis bidangnya masing-masing. Sedangkan, sejaktahun 1980-an, berpikir dengan menggunakan pengetahuan dan layanan jasamulai mempengaruhi cara manusia berproduksi. Manajemen modern mulaidipergunakan. Fokus pembelajaran bukan lagi pada individu-individu melainkanterfokus pada kelompok-kelompok kerja. Ini kemudian membawa pada konseppembelajaran berkelanjutan yang dilakukan organisasi untuk meningkatkankompetensi dan efektivitas organisasi. Perubahan-peruabahan cara berproduksi manusia yang mempengaruhikegiatan pembelajaran untuk masing-masing babak dalam sejarah perkembangancara berproduksi tersebut diringkaskan pada Tabel 5.1. berikut: Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 55
    • Tabel 5.1. Cara Manusia Berproduksi dan Kebutuhan Belajar Cara Berproduksi Tujuan Belajar Proses Belajar Pertanian/Kerajinan Individual – Teknik-teknik Cakap - Mahir Tangan manual Perkakas Tangan Manufaktur Individual Pelatihan Keterampilan Perkakas Elektromekanis Kemampuan dalam bidang Kelas dengan siswa dan teknis pendidik Kelompok Kerja Kendali Proses Statistik & Manajemen Mutu Terpadu Kemampuan dalam Tim Best Practices, Kami dan kerja Tim Lain Pengetahuan – Jasa Organisasi Pembelajaran Strategis Pengtetahuan dan Perkakas Solusi Untuk Pengguna Dialog Interkatif: Elektronik Membentuk Budaya • Berdasar (7s: Strategi, Struktur, konteks:wawasan dan Sistem, Shared Values/ analisis Nilai Bersama, Stakeholder • Dengan nilai-nilai dan Values/Nilai Pemangku tujuan stakeholders Kepentingan, Skills/ • Dengan kustomer: Keterampilan, dan Style Sukses dan strategi Of Leadership/Gaya • Hikmah yang bisa diambil Kepemimpinan) dan studi kasus Pengetahuan Sistemik Pembelajaran Operasional Teknis, Kepemimpinan • Kajian pasca tindakan • Umpan-balik kustomer Inovasi Pembelajaran Teknis • Produk/jasa • Pembelajaran sambil • Proses bertindak • Relasi • Kajian kegiatan yang • Organisasi gagal atau berhasil Sumber : US Army Corp of Enginner (2003: 7-8) Apa yang baru yang dipelajari itu, terkadang mudah sehingga cukup melalui pembelajaran informal dengan bertanya pada orang yang dianggap memahami dalam suasana santai. Namun adakalanya juga rumit dan pelik sehingga membutuhkan panduan dari orang yang dianggap ahli atau pakar untuk bisa mempelejarinya. Kegiatan pembelajarannya pun tidak sederhana melainkan membutuhkan waktu khusus. Misalnya, saat mempelajari cara mengolah data statistik dengan menggunakan perangkat lunak SPSS. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,56 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Begitu juga manakala terjadi perubahan kebijakan, seperti perubahan kebijakanpendidikan akan melahirkan kebutuhan baru untuk belajar. Kebijakan standarisasipendidikan nasional menuntut semua insan yang terlibat pada semua jalur danjenjang pendidikan untuk belajar kembali, baik melalui kegiatan pembelajaran formal,nonformal maupun informal. Misalnya kebijakan tentang kualifikasi pendidikan dankompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melahirkan kebutuhan belajar. Kebutuhan belajar muncul sebagai akibat perubahan yang terjadi. Kebutuhantersebut bukan hanya akan dirasakan oleh individu-inidividu pendidik dan tenagakependidikan tetapi juga dirasakan oleh institusi yang menaungi pendidik dan tenagakependidikan tersebut. Oleh sebab itu, pengembangan SDM pendidik dan tenagakependidikan akan terus dilakukan dan akan merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Kebutuhan akan pembelajaran berkelanjutan atau belajar sepanjang hayatyang dialami para pendidik dan tenaga kependidikan pada semua jalur dan jenjangpendidikan tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan-perubahan yangterjadi. Manakala intensitas perubahannya makin cepat maka kebutuhan belajartersebut akan makin menguat. Karena pada dasarnya semua manusia memilikikebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang berlangsung di tengahlingkungannya. Artinya, pembelajar pun akan mengalami perubahan kebutuhanakibat perubahan yang berlangsung di sekelilingnya. Perubahan sosial juga mendorong meningginya aspirasi pendidikan masyarakat.Bukan hanya aspirasi supaya bisa mengikuti kegiatan pembelajaran melainkanjuga aspirasi yang makin meningkat terhadap pembelajaran yang bermutu. Orangtidak lagi sekedar belajar atau bisa belajar melainkan menginginkan memperolehpembelajaran yang bermutu sehingga pembelajaran tersebut bisa berdampakterhadap peningkatan mutu kehidupannya. Perubahan aspirasi masyarakat terhadap dunia pendidikan pada umumnyaini berdampak pada aspirasi masyarakat atau ekspektasi masyarakat terhadapkualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Sesungguhnya,perubahan ekspekatsi dan tuntutan terhadap kualifikasi dan kompetensi pendidik dantenaga kependidikan tersebut merupakan tuntutan untuk memperoleh pendidikanyang bermutu. Mutu pendidikan atau mutu pembelajaran menjadi perhatian karenapendidikan atau pembelajaran yang bermutu dipandang merupakan cara terbaikuntuk meningkatkan mutu kehidupan individu dan masyarakat, seperti makin baiknyaproduktivitas individu melalui tindakan yang efektif dan efisien. Pada sisi lain, selain terjadi perubahan kebutuhan belajar juga terjadi perubahancara manusia belajar. Pembelajaran tidak selalu dimaknai secara konvensionalsebagai kegiatan mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas atau belajar mandirimelalui sumber belajar yang biasanya bahan pembelajaran tercetak seperti buku.Hadirnya perangkat multifungsi seperti komputer dan telepon genggam mengubahcara manusia untuk memperoleh materi pembelajaran dan cara mempelajarinya. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 57
    • Kini semakin banyak dan semakin terbiasa orang saling bertukar pengetahuan melalui fasilitas jejaring sosial di internet. Orang yang merasa memiliki pengetahuan dalam satu bidang menuliskannya dan kemudian diunggah ke internet, sehingga terjadi diskusi di antara sesama pembaca. Orang pun makin terbiasa mengisi waktu dengan membaca melalui telepon genggamnya berbagai informasi dan pengetahuan. Pengetahuan yang dipertukarkan melalui internet pun makin beragam mulai dari pengetahuan faktual yang berisikan fakta tentang peristiwa pada masa lalu dan kini, pengetahuan konseptual yang berupa konsep-konsep yang diperlukan untuk memahami keadaan dan peristiwa sampai pada pengetahuan prosedural yang berkenaan dengan cara melakukan sesuatu atau cara berbuat. Pedagogical al Te on c hn si itu ol og st In ic al Interface Ethical Design E-Learning R n es pp tio Su ou or ua rc t al e Ev Management Cara belajar yang berbasis komputer seperti computer-based learning atau e-learning makin hari makin banyak dipergunakan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan. Dengan demikian, kesempatan belajar pun makin terbuka dan makin mudah tersedia. Tinggal sejauhmana pembelajar mau memanfaatkan cara-cara belajar baru tersebut. Perubahan pada cara belajar dan munculnya kebutuhan belajar yang baru ini melahirkan kebutuhan untuk mengembangkan fasilitas pembelajaran yang baru pula. PSB yang dikembangkan bukan sekedar pusat yang menyediakan media pembelajaran berbasis teknologi cetak atau audio-visual belaka melainkan sudah berkembang menjadi PSB digital yang memungkinkan pembelajaran interaktif dengan memanfaatkan perkembangan TIK. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,58 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • TIK sudah mengubah operasi dan konsep PSB konvensional yang sangatbergantung pada teknologi cetak dan audio-visual seperti buku, televisi pendidikanatau siaran radio pendidikan. TIK menyediakan kemungkinan untuk mengintegrasikanbahan belajar yang bersifat auditif, visual dan teks sekaligus. Bahkan TIK menyediakankemungkinan baru yakni pembelajaran bermedia yang interaktif sehingga melahirkanruang-ruang pembelajaran virtual yang bisa melibatkan banyak orang sekaligus.B. Mengembangkan Etos Belajar Manakala teknologi diterapkan untuk kegiatan pembelajaran, maka setidaknyaada dua hal yang sama namun biasa dibedakan yang mempengaruhi kegiatanbelakar yaitu etos belajar dan budaya belajar. Etos belajar pada dasarnya merupakansemangat belajar karena dilandasi nilai-nilai tertentu seperti memandang belajarsebagai satu kebajikan dan harus dilakukan. Sedangkan budaya belajar merupakanakibat dari pengaruh budaya terhadap budaya belajar. Itu sebabnya, kedua hal inisebenarnya saling berkaitan dan bisa dikatakan seperti dua sisi dari satu mata uang.Budaya memberikan landasan nilai-nilai tentang pembelajaran dan belajar yangmelahirkan etos belajar dan budaya juga membentuk budaya belajar. Dalam pandangan Swierczek dan Bechter (tt:292), budaya merupakan pola-polaberpikir, merasakan dan bertindak manusia yang tampil dalam bentuk program mental.Lebih dari itu, budaya pun mempengharuhi cara manusia belajar. Karena manusiabelajar dengan menggunakan program mentalnya sendiri untuk mengkonstruksipengetahuan. Pada sisi lain, nilai-nilai budaya juga akan mempengaruhi kegiatanpembelajaran yang dilakukan pembelajar. Supaya pembelajaran bisa efektif makaperlu memperhatikan konteks budaya pembelajarnya. Swierczek dan Bechter (tt:293) menunjukkan bagaimana karakteristik budayadan perilaku memanfaatkan internet seperti digambarkan berikut: Tabel 5.2. Karakteristik Budaya dan Perilaku Penggunaan Internet Karakteristik Budaya Dampak Penghindaran ketidakpastian yang tinggi Korelasi negatif dengan penggunaan internet Kurang mengadopsi TIK Tidak mahir berbahasa Inggris Kurang bisa menerima bahasa asing Jarak kekuasaan yang tinggi Kurang mengadopsi internet Penghindaran ketidakpastian yang rendah Sangat tinggi pemanfaatan internet secara inovatif Individualisme yang tinggi Tinggi adopsi internetnya Tinggi pemanfaatan internetnya Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 59
    • Tabel di atas menunjukkan, mereka yang berada dalam lingkungan budaya yang cenderung menghindari ketidakpatian maka pembelajaran dengan menggunakan TIK tidak begitu mendapat tanggapan yang menggembirakan. Mereka merasa pembelajaran konvensional lebih memberikan kepastian dan mereka cenderung memelihara dengan baik zona nyamannya dan tidak mau keluar dari zone tersebut. Sebaliknya, bila mereka berada dalam lingkungan budaya yang terbiasa berhadapan dan menghadapi ketidakpastian akan sangat terbuka terhadap inovasi termasuk pemanfaatan TIK untuk kegiatan pembelajaran. Dalam konteks PSB digital, hal tersebut berarti pengelola PSB mesti memperhatikan masalah budaya pengguna PSB. Karena budaya itulah yang akan mempengaruhi budaya belajar dan etos belajar yang berdampak pada sejauhmana TIK dimanfaatkan para pembelajar dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru untuk meningkatkan kompetensinya sebagai PTK PAUDNI. Lebih lanjut, Swierczek dan Bechter (tt: 295) menunjukkan bagaimana dimensi- dimensi budaya itu dalam hubungannya dengan e-learning, seperti dikemukakan pada tabel berikut: Tabel 5.3. Dimensi-dimensi budaya dan e-learning Dimensi Karakteristik Individualistik Berorientasi pada hasil, argumentatif, faktual, spesifik Kolektivistik Berorientasi pada kesepakatan, diskusi, keseimbangan, bisa digeneralisasikan Jarak Kekuasaan Tinggi Dari atas ke bawah, struktur, direktif, satu arah, otoritas Jarak Kekuasaan Rendah Lateral, dari bawah ke atas, eksploratoris, proses, multi arah, kebersamaan Maskulin Berorientasi pada prestasi, kompetitif Feminim Berorientasi pada afiliasi, kepuasan Orientasi Jangka Panjang Berorientasi masa depan, adaptif Orientasi Jangka Pendek Berorientasi masa lalu, tradisi Penghindaran Ketidakpastian Tinggi Terbimbing, terstruktur, akhir yang jelas Penghindaran Ketidakpastian Rendah Mandiri, spontan, terbuka Simbolisme Tinggi Tidak langsung, simbolik, visual, emosional Simbolisme Rendah Langsung, rasional, formal, logis Universal Teori, diambil generalisasi Partikular Eksploratoris, spesifik Netral Objektif, berbasis fakta Perasaan Subjektif, berbasis nilai Spesifik Analistis, berbeda Tersebar Sintetis, samar Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,60 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Tabel 5.3. menjelaskan bagaimana karakteristik pembelajar dikaitkandengan dimensi-dimensi budaya yang mempengaruhi pembelajran. Mereka yangdikategorikan individualistik, misalnya kegiatan pembelajarannya berorientasi padahasil. Karena itu, sangat penting bagi mereka yang berdimensi yang menonjolindividualistik dalam budayanya akan sangat memperhatikan hasil pembelajaranyang diikutinya. Biasanya, bukan hanya hasil dalam bentuk peningkatan pengetahuannamun juga akan memperhitungkan manfaat praktis yang diperolehnya. Dalam mengembangkan etos atau budaya belajar para pembelajar pentingsekali memperhatikan dimensi-dimensi dan karakterstiknya tersebut. Dengan begitu,maka PSB bukan hanya menyediakan materi pembelajaran yang sesuai dengankebutuhan namun juga sesuai dengan budayanya. Kesesuaian ini diharapkanakan mendorong peningkatan etos belajar. Peningkatan etos belajar tersebutsangat diperlukan dalam menghadapi berbagai perubahan yang berlangsung padalingkungan kehidupan manusia. Kultur/etos belajar berkaitan dengan semangat, jiwa, memandang pentingkegiatan belajar dalam komunitas belajar atau membentuk kegiatan pembelajarankolektif. Etos belajar ini merupakan dimensi tak kasat mata yang selain motivasibelajar akan mendorong manusia untuk bersemangat untuk belajar baik karenamanfaat dari belajar itu maupun juga karena dorongan nilai-nilai yang diyakininyasebagai nilai yang benar dan baik yang harus diwujudkan dalam kehidupannya. Termasuk ke dalam etos belajar ini adalah kemampuan belajar mandiri tanpapengawasan orang lain. Belajar dilakukannya karena merupakan kebutuhan dirinyadan memandang merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh siapa punsebagai satu kebajikan sebagai buah dari kewajiban individu dan kolektif. Orangyang memiliki etos belajar yang tinggi pun biasanya akan mendorong sesamanyauntuk membentuk komunitas pembelajaran sehingga berlangsung kegiatan salingmembelajarkan dalam kelompok. Dalam kaitannya dengan e-training/e-learning ada beberapa permasalahanyang perlu diantisipasi para pengelola PSB untuk menghindari ketidakbermaknaanPSB. Permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:1. Kemampuan belajar mandiri. Dalam lingkungan pembelajaran berbasis TIK, kemampuan belajar mandiri yang terwujud dalam bentuk kemandirian dalam memilih bahan belajar dan belajar tanpa pengawasan pihak lain menjadi sangat penting. Selain itu, kemandirian ini terwujud juga dalam bentuk kemampuan menilai kemampuan diri sendiri dalam penguasaan bahan belajar. Kemampuan belajar mandiri inilah yang menjadi prasyarat penting dalam memanfaatkan materi pembelajaran yang disediakan PSB.2. Memanfaatkan ketersediaan pengetahuan dalam jaringan. Terkait dengan kemampuan belajar mandiri itu adalah rasa ingin tahu yang tinggi sehingga menjadi dorongan untuk memanfaatkan pengetahuan yang tersedia dalam jaringan pembelajaran termasuk dalam jaringan digital yang disediakan PSB. Jaringan di sini termasuk juga jaringan profesionalnya atau jaringan komunitas Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 61
    • pembelajaran yang terbentuk karena kesamaan pekerjaan, profesi atau minat belajar. Ketidakmampuan memanfaatkan ketersediaan pengetahuan ini menjadi salah satu hambatan yang perlu diatasi dalam pengembangan PSB. 3. Mensistematisasikan pengetahuan. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi pada masa sekarang ini adalah kemampuan mensistematisasikan pengetahuan yang dimiliki. Kemudahan memperoleh pengetahuan, tidak dengan sendirinya mendorong berlangsungnya proses sistematisasi pengetahuan. Pembelajaran, khususnya pada pembelajaran orang dewasa, pada dasarnya merupakan upaya mensistematisasikan pengetahuan yang dimiliki. Dengan kemampuan sistematisasi pengetahuan maka pemilik pengetahuan bisa melihat hubungan pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya, konteks pengetahuan yang dimilikinya dalam konteks yang lebih besar seperti pembelajaran dan konteks pendidikan. Sistematisasi pengetahuan ini bisa dilakukan dengan bantuan fasilitator pembelajaran. Fasilitator itulah yang membantu para pembelajar untuk mensistematisasikan pengetahuannya sehingga menjadi pengetahuan yang bermakna bagi diri dan kehidupan profesionalnya. Sistematisasi pengetahuan ini dapat juga dilakukan melalui kegiatan pertukaran pengetahuan pada komunitas pembelajaran, baik komunitas nyata maupun komunitas virtual. 4. Merasa asing dengan pembelajaran maya (virtual). Karena sudah sangat terbiasa dengan pembelajaran konvensioanl yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kontak langsung antara pendidik dan pembelajar serta di antara sesama pembelajar, maka manakala pembelajaran dilakukan secara maya akan merasa terasing. Karena kontak langsung dalam pembelajaran maya memang sangat minimal. Apalagi bila pembelajarnya sendiri kurang begtiu mengakrabi TIK maka perasaan terasing itu akan menjadi semakin tinggi. Dengan demikian akan terjadi dua bentuk keterasingan. Pertama, keterasingan karena minimnya kontak dan interaksi langsung seperti dalam pembelajaran konvensional. Kedua, keterasingan psikologis yang terbentuk karena kurang mampu memanfaatkan TIK. 5. Merasa kurang interaktif. Sungguh pun dalam pembelajaran yang synchronous yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung dan tidak tertunda di antara sesama pembelajar atau antara pendidik dan pembelajar yang berbeda ruang, namun secara psikologis pembelajaran yang menggunakan TIK dipandang kurang interaktif. Karena dimensi manusiawinya (human touch) tidak sebesar pembelajaran konvensional. Diperlukan pembiasaan untuk bisa merasa nyaman dengan situasi pembelajaran berbasis TIK yang minim dimensi manusiawinya itu. Ketidakbiasaan akan membuat pembelajar yang membentuk kelompok dan berada pada ruang yang sama tidak begitu tekun memperhatikan materi pembelajaran karena merasa tidak diawasi langsung oleh pendidiknya. Tentu saja, pengelola PSB selain mesti mempersiapkan infrastruktur dan perangkat teknologi yang diperlukan juga harus memperhatikan dimensi budaya ini. Keberhasilan pembelajaran melalaui e-learning/e-training bukan hanya Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,62 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • ditentukan oleh ketersediaan perangkat teknis melainkan juga oleh aspek budayapembelajarnya. Perangkan teknis dan infrastruktur akan membantu membentukstruktur pembelajaran modern dengan menyediakan fasilitas pembelajaran berbasisTIK. Namun struktur di mana pun akan selalu berdampingan dengan kultur. Perluada upaya untuk menyelaraskan antara struktur dan kultur pembelajaran sehinggakehadiaran dan ketersediaan PSB digital yang berbasis TIK ini dapat bermanfaatbagi peningkatan mutu PTK PAUDNI.C. Pembentukan Komunitas Pembelajar Dalam upaya mengatasi permasalahan kegiatan pembelajaran berbasis TIKdan mengektifkan pemanfaatan PSB digital ini, pembentukan kelompok belajarmerupakan langkah yang penting. Keberadaan kelompok-kelompok pembelajaranini bukan hanya akan membantu upaya sistematisasi pengetahuan yang dimilikimelainkan juga untuk meringankan beban psikologis seperti merasa terasing danminimnya interaksi. Oleh sebab itu, membentuk kelompok-kelompok pembelajaran merupakanbagian penting dari kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan TIK. Kelompokpembelajaran itu memang ada beragam bentuk dan jenisnya. Ada yang dinamakansebagai kelompok diskusi, ada pula yang dinamakan kegiatan kerja kelompok.Namun dalam konteks pembelajaran berbasis TIK, kelompok pembelajaran yangdipandang sesuai dengan kebutuhan adalah apa yang dinamakan dengan lingkaranpembelajaran (learning circles) dan ada pula yang menamakannya dengan istilahcan group. Lingkaran pembelajaran adalah sekelompok idnidvidu dengan minat yangsama yang menyelenggarakan pertemuan secara berkala untuk membahastopik yang ditentukan sendiri berdasarkan kesepakatan kelompok (Keane, tt:3).Selanjutnya Keane menjelaskan, lingkaran pembelajaran itu bersifat fleksibel, dankegiatan pembelajarannya diarahkan oleh sesama. Dalam lingkaran pembelajaran,anggota lingkaran dipandang sudah memiliki pengetahuan yang memadai yangdapat dipertukarkan atau disampaikan pada pertemuan kelompok sehinggaterjadi proses saling membelajarkan. Lingkaran pembelajaran ini bertujuan untukmengarahkan tindakan dan perubahan. Karena itu, tujuan pembelajaran dalamlingkaran pembelajaran adalah bagaimana mewujudkan tindakan dan perubahanberdasarkan kesepakatan kelompok. Satu hal yang penting diperhatikan dalam lingkaran pembelajaran ini adalahadanya fasilitator yang biasanya menjadi pimpinan lingkaran pembelajaran.Fasilitator itu bisa dipilih dari kalangan anggota lingkaran pembelajaran sendiri ataubisa juga datang dari luar. Tugas fasilitator adalah memimpin diskusi, menyusunagenda diskusi atau mendorong diskusi mencapai hasil tertentu. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 63
    • Lingkaran pembelajaran ini berbeda dengan kelompok diskusi. Perbedaannya sendiri sesungguhnya tidak begitu besar dan menonjol. Namun harus diakui antara lingkaran pembelajaran dan kelompok diskusi. Menurut Keane (tt:4), perbedaan antara lingkaran pembelajaran dan kelompok diskusi tampak (a) lingkaran pembelajaran seringkali lebih terfokus dibandingkan dengan kelompok diskusi; (b) lingkaran pembelajaran didasarkan pada sumber belajar yang sama yang bisa saja tidak terjadi dalam kelompok diskusi; dan (c) lingkaran pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang biasanya tidak ada dalam kelompok diskusi. Secara umum, ciri lingkaran pembelajaran –menurut Keane (tt:3)– adalah sebagai berikut: 1. Merupakan kelompok kecil dan yang beragam orangnya dengan jumlah antara 8 - 10 orang. 2. Mengadakan pertemuan secara berkala, bisa mingguan atau bulanan 3. Menetapkan aturan main untuk mendorong terjadinya diskusi yang saling menghargai dan produktif 4. Biasanya dipimpin seorang fasilitator yang tidak memihak namun membentuk mengelola proses pembelajaran yang berlangsung 5. Melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang 6. Berperan sebagai wahana untuk mengungkapkan, berbagai dan menyampaikan pengetahuan 7. Pembelajaran dimulai dengan membuat anggotanya berkembang dan mendorong perkembangan 8. Menunjukkan proses spiral aksi dan refleksi Refleksi Aksi Refleksi Aksi Refleksi Aksi Refleksi Aksi Aksi Refleksi Gambar 5.2. Spiral Aksi dan Refleksi Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,64 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Khusus yang berkenaan dengan proses spiral aksi refleksi yang menjadi bagianpenting menghubungkan pengetahuan dan tindakan divisualisasikan dalam gambar5.1. Proses diskusi yang berlangsung dalam lingkaran pembeleajaran mendorongterjadi refleksi atas apa yang dilakukan selama ini. Kemudian dikaji kekuatan dankelemahan atau kelebihan kekurangannya untuk kemudian dirumuskan apa yangsebaiknya dilakukan. Hasil refelsksi tersebut selanjutnya diwujudkan dalam tindakan.Tindakan tersebut kemudian direfleksikan lagi untuk melakukan upaya perbaikan.Dengan demikian, proses bukan merupakan siklus namun lebih merupakan spiralyang mendorong perbaikan berkelanjutan sesuai dengan prinsip perbaikan mutu. Dukungan kehadiran komunitas pembelajaran dalam bentuk lingkaranpembelajaran mendorong maksimalisasi pemanfaatan PSB. Dengan demikian, tugasUPTD/SKB adalah mendorong tumbuh dan berkembangnya lingkaran-lingkaranpembelajaran yang merupakan bagian dari strategi peningkatan mutu berkelanjutanPTK PAUDNI. UPTD/SKB mendorong pertumbuhan lingkaran pembelajaran inimelalui forum-forum PTK PAUDNI yang ada di wilayahnya dan menjadikan faorum-forum tersebut sebagai mitra strategis untuk meningkatkan mutu PTK PAUDNI danperbaikan mutu pelayanan pendidikann pada jalur PAUDNI. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, lingkaran pembelajaran ini meskimemiliki kesamaan dengan kelompok diskusi namun pada dasarnya memilikiperbedaan. Oleh karena itu, pihak UPTD/SKB bertugas bukan untuk membentukkelompok diskusi melainkan membentuk kelompok pembelajaran yang akanmenndorong pemanfaatan PSB. Materi pembelajaran yang tersedia di PSBdan menjadi bagian mata pelatiahan dari paket pelatihan tertentu dalam bentuke-learning/e-training menjadi acuan pembahasan yang dilakukan dalam lingkaranpembelajaran. Namun, pembahasan tersebut dilakukan dalam konteks melakukanperubahan dan perbaikan mutu pendidikan khususnya pada jalur PAUDNI.D. Mengakrabi Teknologi Mutakhir Implementasi TIK dalam kegiatan pembelajaran tentu saja tidak akan berjalanmulus atau akan diterima begitu saja oleh semua stakeholder PAUDNI. Bila mengacupada konsep difusi inovasi dari Rogers, inovasi akan membutuhkan waktu sebelumditerima sepenuhnya oleh semua warga masyarakat yang menjadi kelompoksasaran untuk menerima inovasi. Tentu akan demikian pula halnya pada inovasipembelajaran/pelatihan dengan menggunakan TIK ini. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh pengelola PSB pada UPTD/SKB bahwapenerimaan kelompok sasaran pengguna tidak akan langsung terjadi. Akan adakelompok yang menerima langsung, namun ada juga yang menolak. Tapi adajuga yang akan menerima setelah melihat apa yang terjadi pada kelompok yangmenerima. Adopsi terhadap inovasi bisa saja terhalang bukan oleh kelompoksasaran melainkan juga pada pimpinan formal institusi yang memandang pesimisterhadap inovasi. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 65
    • Dengan demikian, skenario yang disusun untuk implementasi TIK dalam kegiatan pembelajaran untuk peningkatan mutu PTK PAUDNI ini pun akan harus memperhitungkan kemungkinan terjadinya penolakan baik penolakan yang bersifat nyata dan jelas maupun penolakan tersamar. Visualisasi berikut menunjukkan bagaimana tahapan dalam proses implementasi TIK dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan gambar 5.2. itu bisa dilihat, pada awal implementasinya bisa saja terjadi penolakan, yang nyata maupun tersamar. Kebiasaan mengikuti pembelajaran melalui pembelajaran konvensional akan mempengaruhi persepsi terhadap kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Namun karena melihat adanya manfaat yang diberikan pembelajaran melalui TIK ini, akhirnya penolakan berubah menjadi ketidaksetujuan. Artinya, PSB yang menyediakan pembelajaran berbasis TIK bisa diterima namun tidak menyetujui proses pembelajaran yang dilakukan. Seiring perjalanan waktu, lama-lama ketidaksetujuan ini berubah menjadi keengganan. Ada rasa enggan mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Meski setelah melalui rentang waktu tertentu dan melihat adanya manfaat dan kepraktisan pembelajaran berbasis TIK akhirnya muncul penerimaan. Ketidaksetujuan Penerimaan Keengganan Penolakan Gambar 5.3. Alur Penerimaan e-learning/e-training Perubahan sikap tersebut memang bisa terjadi dengan sendirinya, namun akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, pengelola PSB perlu menyusun langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan berupa penolakan, ketidaksetujuan atau keengganan menggunakan atau mengikuti pembeljaran berbasis TIK ini. Dengan menyusun langhah-langkah tersebut maka rentang waktu yang diperlukan untuk sampai pada penerimaan tidak begitu panjang dan lama. Kehadiran PSB digital pun dengan segera dapat dimanfaatkan. Perkembangan teknologi dan berbagai perubahan yang berlangsung di sekeliling lingkungan pendidikan akan dan pasti mempengaruhi dunia pendidikan. Dikehendaki atau tidak perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya akan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,66 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • mempengaruhi pula proses pembelajaran yang berlangsung pada semua jenjangdan jalur pendidikan.Tentu saja kita tidak mungkin menutup diri atau menutup mataterhadap berbagai perubahan yang terjadi, karena kita dituntut untuk memberikanrespons terhadap perubahan-perubahan tersebut. Penolakan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu yang baru, sepertipembelajaran yang memanfaatkan TIK, memang bisa dipandang sebagai hal yangalamiah. Penolakan dan ketidaksetujuan itu bisa saja merupakan respons awal dariinteraksi pertama dengan pembelajaran yang memanfaatkan TIK. Karena padaakhirnya askan terjadi penerimaan dan akan memandang merupakan kebutuhanuntuk bisa belajar dengan memanfaatkan perkembangan TIK. Hal ini membawa implikasi, setiap UPTD/SKB mesti menyusun langkah-langkahoperasional untuk mempercepat penerimaan pembelajaran berbasis digital padapara pengguna PSB. Setiap kabupaten/kota tentu akan berbeda permasalahannya,sehingga tidak memungkinkan menyusun strategi yang seragam dalam mengatasipermasalahan tersebut. Karena setiap daerah memiliki sumber daya PTK PAUDNIyang berbeda latar belakang dan pengalamannya. Hanya yang terpenting, setiapUPTD/SKB mampu menyusun langkah-langkah operasional untuk mengoptimalkanpemanfaatan PSB dengan mempercepat penerimaan PSB digital untuk menunjangpeningkatan kapasitas dan peningkatan mutu PTK PAUDNI.E. Komponen PSB PAUDNI Pada dasarnya ada tiga komponen utama yang harus dimiliki PSB, yaituhardware, software dan brainware. Secara sederhana, hardware yang diperlukanadalah komputer dan perangkat penunjang untuk menyimpan dan menyebarluaskanbahan pembelajaran. Pada hardware ini tercakup juga mesin pengolah data(server), media penyimpan data (storage), dan perangkat jejaring (network device).Sedangkan softwareyang diperlukan adalah sistem dan aplikasi yang digunakanyang bersifat proprietary dan/atau non-proprietary (open source). Sistem danaplikasi yang bersifat proprietary adalah sistem dan aplikasi yang dilindungi merkdagang, paten atau hak cipta yang dibuat atau dikembangkan dan didistribusikanoleh seseorang atau lembaga yang memiliki hak eksklusif. Sedangkan yang bersifatnon-proprietary/open source atau sistem terbuka kode-kode sistem dan aplikasiyang bersifat terbuka untuk digunakan, dikembangkan, dan atau dimodifikasimenjadi sistem dan aplikasi lain, yang dilakukan oleh individu-individu yang salingbekerjasama dalam memanfaatkan kode-kode tersebut, dan tidak diatur oleh suatulembaga tertentu. Sedangkan brainware adalah sumberdaya manusia yang memiliki kompetensitertentu yang membuat software dan hardware menjadi sarana yang berguna. Dalamkonteks PSB, brainware ini adalah sumberdaya manusia yang memiliki komptensiuntuk mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Aplikasi pembelajaranyang dimiliki PSB dapat didayagunakan untuk peningkatan mutu PTK PAUDNIdengan kompetensi brainware tersebut. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 67
    • Sumber: http://www.jayagiriedu.net/ Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,68 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Secara umum, ada beberapa unsur yang penting untuk diperhatikan dalampengelolaan PSB. Unsur-unsur tersebut mencakup:1. Pesan (message), yaitu informasi pembelajaran yang disimpan dan disebarluaskan melalui PSB. Informasi tersebut dapat berupa fakta, data, konsep, ide, kebijakan, nilai, dan keterampilan teknis. Informasi tersebut biasanya berupa pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural.2. Manusia (people), yaitu manusia yang dengan kompetensi yang dimilikinya melakukan kegiatan pencarian, pengolahan, penyimpanan, dan penyajian pesan atau informasi dan pengetahuan pembelajaran.3. Bahan (materials/software), yaitu perangkat lunak (software) yang menjadi wahana untuk pengumpulan, pengolahan, penyebaran dan penyajian bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran tersebut biasanya disajikan dengan menggunakan perlatan atau media tertentu sehingga mudah diakses dan mudah pula disebarluaskan kepada para pembelajar yang membutuhkan.4. Perangkat keras (devices/hardware), yaitu alat (hardware) yang digunakan untuk menyajikan pesan yang tersimpan dalam media pembelajaran yang umumnya merupakan media digital atau media konvesional yang sudah didigitalisasi.5. Teknik (technique), yaitu prosedur, mekainsme atau langkah-langkah yang disusun dalam pemanfaatan media pembelajaran, komunikasi di antara pembelajar dan fasilitator atau pembelajar dengan pembelajar, prosedur mengakses, mengunggah atau mengunduh bahan pembelajaran. Termasuk pula di dalamnya mekanisme dalam penyusunan bahan pembelajaran yang diperlaukan untuk kegiatan pembelajaran tertentu.6. Latar (setting), yaitu situasi dan lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung. Para pembelajar bisa berada pada ruang yang sama, bisa juga berada pada tempat yang berbeda. Para pembelajar dapat menggunakan fasilitas komputer yang disediakan PSB atau mempergunakan komputer miliknya sendiri atau menggunakan telepon seluler yang memiliki fitur mengakses internet. Selanjutnya dibahas secara khusus, komponen-komponen yang diperlukandalam pengelolaan PSB sehingga kehadiran PSB menjadi efektif, efisien danproduktif dalam upaya peningkatan mutu layanan pendidikan, khususnya untukpeningkatan mutu PTK PAUDNI. Selain itu, pengelolaan yang transparan danakuntabel pun dapat terlaksana karena mekanisme dan prosedurnya sudah jelasdan orang-orang yang mengelolanya memiliki kompetensi yang baik dengankualifikasi keahlian yang memadai.1. SDM Sumber daya manusia atau brainware yang diperlukan PSB memiliki kualifikasikeahlian tertentu. Kualifikasi kehalian tersebut bisa tercermin dari latar belakangdan jenjang pendidikanya, namun bisa juga tercermin dari portofolio pekerjaannya. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 69
    • Keahlian yang dikembangkan secara informal melalui pendidikan dan pelatihan, belajar mandiri dan pengalaman biasanya mematangkan kemampuan yang dimiliki seseorang. Memang yang termudah menilai keahlian seseorang adalah berdasarkan latar belakang pendidikannya, khususnya pendidikan tingginya. Namun masalahnya, tidak setiap daerah kota/kabupaten memiliki sumberdaya dengan kualifikasi keahlian berdasarkan jenjang pendidikan yang sesuai. Kebutuhan minimal sumberdaya manusia untuk operasional PSB dan menjaga kesinambungan PSB melalui pemutakhiran konten secara berkala dideskripsikan pada tabel berikut. Tabel tersebut menunjukkan, kualifikasi keahlian yang diperlukan untuk setiap jabatan yang ada dalam PSB tersebut. Kualifikasi keahlian tersebut idealnya bersandingan dengan kualifikasi pendidikan. Namun untuk mengatasi masalah kemungkinan tidak tersedianya sumberdaya manusia yang memiliki kaulifikasi pendidikan tertentu, maka kriterianya lebih ditekankan pada kualifikasi keahliannya. Tabel 5.4. Kualifikasi Keahlian SDM PSB PAUDNI No Jabatan Kualifikasi Keahlian 1 Penanggung Jawab PSB • Kemampuan memimpin • Memahami konsep proses pembelajaran berbasis TIK • Mampu menyusun rencana, mengimplementasikan dan mengevaluasi program dan kegiatan • Mengembangkan jaringan dengan komunitas pengguna PSB dan komunitas praktisi PAUDNI 2 Koordinator Pelaksana • Mampu memimpin dan membagi tugas pelaksanaan pekerjaan • Mampu mengatur lalu-lintas pekerjaan dan mendistribusikannya (traffic manager) pada pengembang konten pembelajaran • Memahami konsep dasar proses pembelajaran berbasis TIK • Menjalankan dan mengelola jaringan kemitraan dan kerjasama dengan semua komunitas PAUDNI 3 Admin PSB • Memahami TIK dan pendayagunaannya untuk kepentingan pendidikan khususnya pembelajaran • Mampu membuat, memelihara dan mengembangkan situs untuk kepentingan pembelajaran 4 Teknisi PSB • Memamahi perangkat lunak dan perangkat keras PSB • Mampu melakukan kegiatan pemeliharan dan pemutakhiran aplikasi pembelajaran PSB Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,70 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • No Jabatan Kualifikasi Keahlian 5 Pengembang Konten • Menguasai bidang tertentu PAUDNI sebagai Pembelajaran spesialisasinya • Mampu menyusun bahan belajar berbasis TIK • Mampu mengembangkan bahan belajar yang menarik dan menumbuhkan minat belajar dengan menggunakan fitur TIK dan perangkat lunak yang tersedia • Bekerjasama dengan para praktisi dan forum PTK PAUDNI 6 Pengembangan Media/ • Mampu membuat media pembelajaran yang Web Master menumbuhkan minat belajar dengan memanfaatkan teknologi digital • Mampu mengembangkan bahan belajar berdasarkan naskah yang disusun pengembang konten pembelajaran • Mampu membuat tayangan situs yang menarik dan akrab pengguna (user-friendly) Meski tidak menunjukkan secara langsung kualifikasi pendidikan SDM PSB,namun untuk pengembang konten pembelajaran yang diambil dari para tutor dengansendirinya mesti memiliki kualifikasi pendidikan seperti yang dipersyaratkan untuktenaga pendidik dalam Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, yang minimalberpendidikan S-1 dalam bidangnya.Begitu juga halnya dengan pengembang mediaberpendidikan minimal S-1 karena akan berkaitan dengan konten pembelajaransebagai konten utama PSB yang akan dimanfaatkan baik oleh pembelajar umummaupun pembelajar dari kalangan PTK PAUDNI.2. Struktur Organisasi Sedangkan struktur organisasi PSB pada dasarnya disusun berdasarkananalisis kebutuhan personalia PSB dan hierarki jabatannya. Kebutuhan personalia inidisusun berdasarkan kebutuhan belajar yang dilayani melalui program dan kegiatanPAUDNI. Baik untuk pendidikan kepada sasaran program dan kegiatan PAUDNImaupun untuk PTK PAUDNI guna peningkatan kompetensi dan mutu PTK PAUDNIdengan memanfaatkan TIK. Dengan demikian, struktur yang dikembangkan padadasarnya merupakan struktur fungsional dan menggambarkan hubungan fungsionaldi antara jabatan-jabatan yang ada dalam struktur tersebut. Sedangkan untuk deskripsi tugas pada setiap jabatan disusun berdasarkananalisis tugas yang menunjukkan beban pekerjaan dan kegiatan yang dilaksanakanuntuk menjalankan jabatan-jabatan tersebut. Beban pekerjaan dan kegiatantersebut merupakan cerminan dinamika pekerjaan dan kegiatan yang berlangsungdalam sistem PSB. Uraian jabatan tersebut menjadi penunjang berjalannya strukturorganisasi agar PSB bisa berjalan dan melaksanakan fungsinya seperti yangdimaksudkan dengan pendirian PSB. Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 71
    • Struktur organisasi PSB di UPTD/SKB adalah sebagai berikut. Penanggung Jawab Koordinator Pelaksana Bidang TIK Bidang Konten Bidang Pengembangan Pembelajaran/Fasilitator Media Pembelajaran Admin Penanggung Jawab Web Master PSB Konten Keaksaraan Teknisi TIK Penanggung Jawab Konten Keaksaraan Penanggung Jawab Konten PAUD Penanggung Jawab Konten Kursus Gambar 5.4. Struktur Organisasi PSB PAUDNI Struktur organisasi seperti ini, dengan difasilitasi PP PAUDNI memungkinkan terjadinya pertukaran konten di antara PSB. Sekaligus juga selalu menjalin hubungan koordinatif dan hubungan fungsional dengan PP PAUDNI Regional I Bandung. Pengayaan konten yang dilakukan pertukaran konten merupakan mekanisme kerja antar PSB guna mendorong makin banyaknya khasanah bahan belajar dan makin mutakhirnya bahan pembelajaran sehingga sealalu sesuai kebutuhan dan sejalan dengan perkembangan. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,72 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sedangkan deskripsi tugas untuk PSB PAUDNI ini diuraikan pada tabelberikut. Tabel 5.5. Deskripsi Tugas SDM PSB PAUDNI No Jabatan Deskripsi Tugas 1 Penanggung Jawab a. memberikan acuan dan arahan terhadap Program pelaksanaan program PSB. b. menyelenggarakan program dan kegiatan PSB c. pertukaran konten PSB dengan PSB lain d. melaporkan kegiatan PSB secara berkala kepada Kepala P2PAUDNI Regional I Jayagiri 2 Koordinator Pelaksana a. bertanggung jawab langsung kepada Penanggung Jawab Program b. mengadakan review berkala tentang keterlaksanaan program PSB c. menentukan/merekomendasi penerima surat keterangan pengisi konten Situs PSB berdasarkan usulan PJP Mata Pelajaran kepada penanggung jawab program PSB d. melaporkan secara berkala perkembangan Situs PSB kepada Penanggung Jawab Program e. menyusun rencana tindak lanjut program PSB f. menjawab posting dari Situs PSB berkaitan dengan kebijakan dan program kegiatan 3 Admin PSB a. bertanggung jawab langsung kepada koordinator pelaksana b. bertanggung jawab atas operasional Situs PSB c. bertanggung jawab atas penambahan fitur dan struktur PSB d. melakukan review fitur dan struktur Situs PSB secara berkala, minimal 1 bulan sekali 4 Teknisi TIK a. Bertanggung jawab langsung kepada Admin PSB b. melakukan kegiatan monitoring secara berkala terhadap server co-location c. melakukan penjadwalan perawatan dan melaporkan kegiatan perawatan kepada Admin PSB d. melakukan penggantian peralatan sesuai permintaan Admin PSB 5 Penanggung Jawab a. melakukan review terhadap konten bahan ajar Konten Pembelajaran yang diterima dari Koordinator Pelaksana PSB atau pengisi konten (pihak lain) yang meliputi: disain,substansi, sumber/referensi dan histori Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 73
    • No Jabatan Deskripsi Tugas b. bertanggung jawab terhadap bahan ajar yang dikirim oleh Koordinator Pelaksana PSB atau pihak lain untuk diunggah ke Situs PSB (split file, membuat viewer berupa flash) c. memberikan saran untuk melakukan revisi kepada pengisi konten terhadap bahan ajar yang disusun pengisi konten d. melakukan penjadwalan dan inventarisasi bahan ajar yang siap kirim e. melakukan koordinasi dengan Web Master berkenaan dengan jumlah dan sebaran bahan ajar yang berdasarkan SK/KD f. memberikan usulan/masukan penerima surat keterangan pengisi konten PSB kepada Koordinator Pelaksana g. bertanggung jawab langsung kepada Web Master/ Web Administrator 6 Pengembang Media a. bertanggung jawab langsung kepada Admin PSB Pembelajaran/Web b. bertanggung jawab terhadap konten Situs PSB Master c. bertanggung jawab terhadap bahan ajar yang dikirim oleh Penanggung Jawab Konten Pembelajaran untuk diunggah ke Situs PSB (split file, membuat viewer berupa flash) d. melaporkan kepada Admin PSB jika terjadi permasalahan teknis (overload data, IP blacklist, dll) terhadap Situs PSB e. Menyusun laporan rekapitulasi konten Situs yang sudah diunggah di Situs PSB f. Melaporkan posting yang tidak dapat dijawab/ diselesaikan oleh Web Master dan atau Penanggung Jawab Konten Pembelajaran kepada Koordinator Pelaksana Uraian tugas tersebut tentu saja dapat disesuaikan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang. Peningkatan intensitas kegiatan PSB tidak dengan sendirinya akan meningkatkan kebutuhan terhadap jumlah SDM yang ada melainkan dengan melakukan penambahan tugas baru pada SDM yang tersedia. Namun, manakala jumlah pekerjaan yang harus dijalankan semakin banyak, maka dengan sendirinya akan dilakukan penambahan SDM dengan tidak melakukan perubahan mendasar pada bidang penugasan masing-masing SDM. Uraian tugas yang dikemukakan pada Tabel 5.4. hanyalah merupakan rujukan bagi penyelenggara PSB. Namun karena tingkat pertumbuhan dan perkembangan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,74 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • setiap PSB pasti akan berbeda-beda, sehingga ada yang berkembang pesat adapula yang berkembangnya lambat, maka dengan sendirinya akan beragam pulakebutuhan setiap PSB terhadap pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan PSB. Olehsebab itu, dimungkinkan untuk melakukan penyesuaian sejalan dengan tingkatperkembangan dan kebutuhan setiap PSB. Makin pesan tingkat pertumbuhan danperkembangannya tentu akan makin pesat juga kebutuhan terhadap bentuk danjenis pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan, selain bisa juga makin meningkat pulakebutuhan terhadap ketersediaan SDM yang memiliki kualifikasi keahlian. Desain uraian tugas tersebut merupakan desain tumbuh, sehingga apa yangdiuraikan pada dasarnya merupakan kebutuhan minimal untuk bisa mengoperasikanPSB secara optimal. Dengan desain tumbuh ini maka menjadi sangat memungkinkanuntuk dilakukan penambahan fungsi kegiatan tertentu dalam jabatan tertentu.Desain tumbuh ini dipergunakan dengan mempertimbangkan kondisi lokal saat inidan perkembangan pada masa depan yang memungkinkan terjadinya pertumbuhandan perkembangan yang berbeda pada setiap PSB.3. Spesifikasi Teknis Infratruktur PSB Secara teknis, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untukPSB PAUDNI dideskripsikan pada tabel berikut. Pada dasarnya ada 2 aspek pentingdari infrastrukutr PSB ini seperti yang dirinci pada Tabel 5.5. infrastruktur utamayang terdiri atas perangkat keras dan perangkat lunak serta infrastruktur penunjang.Infrastruktur penunjang ini sebagian di antaranya merupakan perlengkapan yangbersifgat digital seperti e-book dan webcam. Tabel 5.6. Spesifikasi Teknis Perangkat Keras dan Lunak PSB Komponen Elemen Perangkat Keras • Komputer jenis desktop (CPU) minimal 5 (lima) buah dengan memori 1 GB, HDD 250 GB, processor 2.1 GHz • Mouse 5 (lima) buah • Modem 1 (satu) buah • Hub 1 (satu) buah • Access Point 1 (satu) buah untuk menunjang • Fasilitas wi-fi • Monitor CPU minimal 5 buah • HardDisk External 1 TerraByte minimal 1 (satu) buah • Printer Berwarna 1 (satu buah) • Kabel jaringan 20 meter • RJ 45 Connector 1 (satu) bungkus • Terminal 5 (lima) buah • Stabilizer 5 (lima) buah • UPS 1 (satu) buah • Kabel Roll 2 (dua) buah dengan panjang min. 12 meter Implementasi PSB Untuk Peningkatan Mutu PTK PAUDNI 75
    • Komponen Elemen Perangkat Lunak • OS minimal Microsoft XP • Web Browser rekomendasi Mozilla Firefox all version Infrastruktur Penunjang • Ruangan belajar (e-training) untuk peserta • minimal 5 orang • Air Conditioner (A/C) • Sound System • Webcam minimal 5 buah • Karpet ruangan • ATK • Perpustakaan mini untuk penunjang e-training • Koleksi e-book untuk penunjang kegiatan e-learning dan e-training Infrastruktur dengan spesifikasi teknis seperti yang dikemukakan pada tabel tersebut merupakan spesifikasi minimal. Oleh sebab itu, sangat dimungkinkan bila spesifikasi teknis yang melebihi dari kebutuhan minimal ini sehingga akan membuat fasilitas yang dimiliki PSB juga semakin baik dan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Untuk infrastruktur penunjang seperti e-book pada dasarnya merupakan infrastruktur yang bisa saling dipertukarkan di antara sesama PSB. Koleksi untuk perpustakaan digital PSB ini dapat dipertukarkan sehingga memungkinkan terjadinya penambahan koleksi e-book untuk setiap PSB. Pertimbangan pemilihan dan penyediaan koleksi e-book ini didasari pada kebutuhan belajar para pembelajar bukan hanya sekedar untuk menambah daftar koleksi saja. Karena pada dasarnya, konten e-book disediakan untuk penunjang kegiatan pembelajaran bukan untuk menunjukkan kelengkapan koleksi yang dimiliki PSB. Terlalu banyak e-book yang tidak dimanfaatkan pun hanya akan menambah beban memori server dengan konten yang tidak memenuhi kebutuhan pengguna PSB. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,76 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • BAB 6Manajemen PSB PAUDNI Mutu tidaklah muncul dengan sendirinya. Mutu hnaya terwujud melalui ikhtiardan upaya manajerial. Begitu juga dengan pembentukan PSB yang dimaksudkanuntuk peningkatan mutu PAUDNI, diperlukan manajemen PSB yang baik. Tanpamanajemen yang baik, PSB yang dibangun hanya akan terbentuk untuk sesaatnamun tidak bisa berjalan secara berkesinambungan dan terus memberikanpelayanan pendidikan pada para pengguna PSB. Oleh sebab itu, diperlukan pengelolaan PSB yang mengacu pada prinsip-prinsip manajemen sehingga efektivitas, efisiensi dan produktivitas PSB bisadipertanggungjawabkan oleh pengelola PSB pada semua stakeholder PSBtersebut. Dengan demikian maka pengelolaan PSB akan berpegang juga padaprinsip akuntabilitas dan transparansi. Manajemen yang baik bukan hanyaterwujud dalam tata kelola yang baik namun juga terwujud dalam transparansidan akuntabilitas pengelolaannya. Transparansi di sini berkaitan dengankejelasan pengelolaan bukan hanya penggunaan anggaran melainkan jugakeseluruhan proses kegiatannya. Sedangkan akuntabilitas berkaitan denganbisa dipertanggungjawabkannya semua kegiatan yang diselenggarakan PSBdalam memenuhi dan melaksanakan semua fungsi yang diembannya denganmenggunakan semua sumberdaya yang diperlukan. Produktivitas PSB akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pengelolamenyelenggarakan PSB secara efektif dan efisien. Produktivitas ini, bukan hanyasekedar diukur berdasarkan jumlah pembelajar atau pembelajar yang berhasilmenyelesaikan satu proses pembelajaran namun yang terpenting adalah dampakdari pembelajaran tersebut terhadap kinerjanya. Oleh sebab itu, ukuran produktivitas Manajemen PSB PAUDNI 77
    • menjadi tidak hanya sekedar menggunakan indikator kuantitatif melainkan juga kriteria kualitatif. Dengan standar produktivitas yang menggukakan ukuran kuantitatif dan kriteria kualitatif ini maka akan terwujud transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan yang dilakuan PSB dalam upaya peningkatan mutu PAUDNI. Pengelolaan Sarana Prasarana Isi Tenaga Kependidikan n Pe pila Pengelolaan Pengelolaan Pro n am ge Pendidik tah ses ter SKL ua Ke n Pe Sikap nil aia n Biaya Pengelolaan Sumber: Buku managemenet mutu Dengan manajemen yang baik, maka PSB dapat memberikan pelayanan pendidikan yang (a) memberikan hasil (output) dan dampak (outcome) pendidikan yang terbaik bagi semua pembelajar, (b) mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan mutu, memperbaiki layanan pendidikan dan mencapai keunggulan, (c) bisa mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukan sehingga sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan (d) memenuhi persyaratan untuk memberikan pembelajaran yang terbaik dan pengelolaan yang efektif dan efisien. Secara skematis, manajemen PSB PAUDNI ini divisualisasikan melalui Gambar 6.1. berikut. Gambar tersebut menunjukkan tiga komponen pokok penunjang kegiatan PSB pada umumnya dan PSB PAUDNI pada khususnya yang terdiri atas (a) komunitas pengguna atau penerima manfaat PSB PAUDNI, (b) pembentukan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,78 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • jaringan pembelajaran yang melibatkan semua stakholder PSB PAUDNI, dan (c)pengembangan PSB PAUDNI dengan menyediakan fasilitas pembelajaran berbasisweb yang menyediakan kemudahan mengakses bahan belajar yang disediakanPSB PAUDNI. Komunitas Pengguna Pusat Sumber Belajar Jaringan Pembelajaran Kerjasama dengan Komunitas Praktisi Jaringan Pembelajaran Berbasis Web (e-learning/e-training) Gambar 6.1. Operasional Pusat Sumber Belajar Uraian pada bab ini, pada dasarnya menggunakan kerangka berpikir sepertipada Gambar 6.1. Berdasarkan Gambar 6.1. itu menunjukkan hal pertama yangterpenting untuk dikembangkan adalah terbentuknya komunitas pengguna ataukomunitas pembelajar yang akan memanfaatkan bahan belajar yang tersediadan dikelola PSB. Setelah itu dikembangkan jaringan pembelajaran yang selainmelibatkan pembelajar dan pengisi/pengembang konten pembelajaran yangdisimpan dan dipersipkan PSB melainkan juga jaringan dengan para praktisi yangdalam konteks PAUDNI bisa berupa jaringan dengan forum-forum PTK PAUDNI danstakholder PAUDNI yang memberikan masukan dan saran, membuat bahan belajaratau berbagi pengalaman sebagai narasumber dalam pembelajaran. Selanjutnya,PSB juga membentuk jaringan pembelajaran berbasis web, sehingga memungkinkanPSB pun menyelenggarakan kegitan e-learning/e-training. Dengan demikian, semangat partisipatif dalam pengembangan PSB PAUDNItercermin dalam proses manajerial PSB. Pembahasan berikutnya akan berkaitandengan ketiga aspek seperti yang digambarkan pada Gambar 6.1. Dimensimanajerial menjadi fokus pembahasan pada subbab-subbab berikut. Manajemen PSB PAUDNI 79
    • A. Manajemen PSB Dalam upaya menjadikan PSB sebagai wahana kegiatan pembelajaran yang efektif, efisien dan produktif tentunya diperlukan pengelolaan yang baik. Oleh sebab itu pendekatan manajemen diperlukan dalam mengelola PSB sehingga kehadiran PSB dapat mendorong peningkatan mutu pembelajaran dalam PAUDNI. Manajemen yang baik menjadi prasyarat bagi agar PSB bisa menjalankan fungsi-fungsinya. Dalam manajemen PSB ini juga dikembangkan sistem penjaminan mutu yang diperlukan guna menjamin mutu penyelenggaraan pembelajaran. Sistem penjaminan mutu ini merupakan komponen penting yang harus diperhatikan, sehingga kehadiran PSB yang dimaksudkan untuk peningkatan mutu PTK PAUDNI diawali dengan pemeliharaan dan peningkatan mutu yang dilakukan PSB sendiri. Oleh sebab itu, dalam PSB dikembangkan juga instrumen pengendalian dan penjaminan mutu. Dalam manajaman PSB ini, pendekatan yang digunakan tahapan-tahapan dalam manajemen yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian/ pemantauan dan evaluasi. Karena dipergunakan juga sistem penjaminan mutu, maka pada setiap tahap tersebut dilakukan juga kegiatan pengendalian mutu (quality control), yang bila keseluruhan tahapnya sudah dilakukan kegiatan pengendalian mutu maka sistem penjaminan mutu tersebut menjadi penjaminan mutu terpadu. Apa yang dikelola PSB ini adalah bisnis inti (core business) PSB yaitu penyelenggaraan pembelajaran dengan pendekatan e-learning/e-training. Gambar 6.1. Operasional pusat sumber belajar Hal lain yang penting diperhatikan dalam manajemen PSB ini adalah pendekatan yang dipergunakan dalam pengelolaan PSB itu bersifat partisipatif. Artinya semua kelompok dari satkeholder PSB terlibat. Ada forum PTK PAUDNI, UPTD/ SKB, P2PAUDNI Regional I Jayagiri dan pengguna lain dilibatkan dalam proses Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,80 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • manajemen. Pendekatan partisipatif ini dipergunakan karena mempertimbangkankeberlanjutan PSB sendiri. Dengan pendekatan partisipatif, semua pihak akanmerasa dilibatkan sekaligus merasa memiliki terhadap PSB sehingga masing-masing memiliki tanggung jawab dalam pengembangan dan pemanfaatan PSB untukprogram pengembangan profesional PTK PAUDNI. Dengan pendekatan partisipatifini membuat pendayagunaan PSB menjadi tanggung jawab bersama baik pengelolamaupun pengguna PSB. Rincian untuk masing-masing tahapan dalam manajemen PSB ini adalahsebagai berikut.1. Perencanaan Perencanaan secara sederhana dimaknai sebagai kegiatan untuk menentukanalokasi berbagai sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan yangditetapkan atau yang hendak dicapai melalui program dan/atau kegiatan. Secaraumum, kegiatan perencanaan tersebut akan menentukan hal-hal yang hendakdicapai seperti berikut:a. Hasil dan dampak pendidikan yang hendak diperolehb. Pemenuhan kebutuhan semua stakeholder PAUDNIc. Penyampaian materi dalam proses pembelajarand. Pengelolaan kegiatan pembelajarane. Kepemimpinan dalam kegiatan pembelajaranf. Perbaikan kapasitas PTK PAUDNI Untuk memudahkan dalam menyusun landasan bagi kegiatan perencanaantersebut, maka dikumpulkan informasi melalui form seperti berikut ini: Tabel 6.1. Form Pengumpulan Informasi Untuk Perencanaan No Aspek Informasi 1 Hasil dan dampak a. Hasil Pembelajaran pendidikan ................................................................................ ................................................................................ b. Dampak Pembelajaran ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ Manajemen PSB PAUDNI 81
    • No Aspek Informasi 2 Kebutuhan stakeholder ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ 3 Materi pembelajaran I. Materi Pembejalaran a. ........................................................................... b. ........................................................................... c. ........................................................................... d. ........................................................................... e. ........................................................................... f. ........................................................................... g. ........................................................................... h. dan seterusnya II. Metode Penyampaian ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ ................................................................................ 4 Pengelolaan kegiatan I. Kebijakan Pembelajaran pembelajaran II. Personalia a. Ketua b. Sekretaris c. Bendahara d. Seksi-seksi III. Narasumber/Fasiulitator Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,82 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • No Aspek Informasi 5 Kepemimpinan dalam Siapa yang memimpin keseluruhan kegiatan kegiatan pembelajaran pembelajaran? 6 Perbaikan kapasitas PTK Kapasitas yang diharapkan dimiliki: PAUDNI ...................................................................................... ...................................................................................... ...................................................................................... ...................................................................................... Untuk panduan umum dalam menelusuri informasi yang diperlukan untukkegiatan perencanaan bisa dilihat pada Tabel 6.2 berikut. Tentu saja, informasiyang dikumpulkan untuk perencanaan tersebut bisa saja ditambah atau dilengkapidengan bentuk dan jenis informasi lain. Karena informasi yang diperlukan satu PSBakan disesusaikan dengan kebutuhan nyata masing-masing PSB. Panduan jenisinformasi berikut ini hanyalah contoh dan panduan untuk informasi dasar. Tabel 6.2. Jenis Informasi Untuk Perencanaan No Aspek Informasi 1 Hasil dan dampak pendidikan a. Apa hasil utama pembelajaran yang diharapkan/diinginkan? b. Apa dampak utama pembelajaran yang diharapkan/diinginkan? 2 Kebutuhan stakeholder a. Hasil/dampak pembelajaran pada pengguna layanan PAUDNI b. Hasil/dampak pada PTK PAUDNI c. Hasil/dampak pada masyarakat secara umum 3 Materi pembelajaran a. Materi pembelajaran b. Metode penyampaian materi pembelajaran 4 Pengelolaan kegiatan a. Kebijakan pembelajaran pembelajaran b. Pengela dan staf pembelajaran c. Narasumber/fasilitator 5 Kepemimpinan dalam kegiatan Kepemimpinan yang mengarahkan pembelajaran keseluruhan kegiatan pembelajaran 6 Perbaikan kapasitas PTK Kapasitas PTK PAUDNI yang diharapkan PAUDNI dimiliki dan dikembangkan melalui pembelajaran Manajemen PSB PAUDNI 83
    • Sedangkan komponen-komponen penting dalam kegiatan perencanaan meliputi: a. Kajian awal, untuk mengumpulkan berbagai informasi yang akan dipergunakan dalam perencanaan program dan kegiatan pembelajaran, seperti kebutuhan belajar, budaya belajar, materi pembelajaran yang diperlukan dan teknik evaluasi pembelajaran yang dipergunakan. b. Pengkomunikasian program kepada berbagai pihak terkait dan calon pembelajar untuk mendorong partisipasi dalam kegiatan pembelajaran. c. Rekruitmen pembelajar, yang dilakukan dengan mengidentifikasi pembelajar yang memenuhi persyaratan atau kriteria untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. d. Pengembangan kurikulum pembelajaran, yang merumuskan tujuan dan hasil pembelajaran yang diharapkan, penentuan proses pembelajaran dan fasilitator yang dilibatkan dalam proses pembelajaran, dan penetapan materi/konten pembelajaran. e. Pengembangan dan pembuatan media pembelajaran, dengan memilih topik yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar dan penyediaan bahan belajar. f. Evaluasi pembelajaran, yang menentukan kriteria/indikator keberhasilan belajar. Untuk operasionalisasi komponen-komponen utama perencanaan tersebut kita dapat merincinya seperti berikut ini: a. Informasi yang dikumpulkan melalui Tabel 5.1. dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memperoleh informasi dalam kajian awal. Informasi yang dikumpulkan melalui panduan penelusuran informasi seperti yang tertuang dalam Tabel 5.1. merupakan informasi awal perencanaan. Dengan mengetahui hasil apa yang diharapkan dan dampak pembelajaran apa yang diharapkan, maka kita bisa menyusun langkah-langkah pencapaian apa yang diharapkan tersebut. Berdasarkan informasi tersebut, langkah selanjutnya adalah menyusun program/kegiatan yang dijalankan untuk mewujudkan hasil dan dampak pembelajaran yang diharapkan. b. Setelah program/kegiatan pembelajaran diputuskan maka langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana pengkomunikasian program/ kegiatan tersebut kepada berbagai pihak yang terkait. Pengkomunikasian tersebut diperlukan agar program/kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga dapat dilaksanakan dengan baik. Perencanaan pengkomunikasian tersebut mencakup perencanaan informasi program/kegiatan yang akan disebarluaskan, media penyebaran informasi dan mekanisme umpan-balik dari pengkomunikasian tersebut. Tentu saja, pengkomunikasian tersebut akan dilakukan juga pada mereka yang akan mengambil manfaat (beneficieries) dari penyelenggaraan program/kegiatan yang dalam hal ini adalah PTK PAUDNI. Satu hal yang penting dalam perencanaan pembelajaran ini adalah mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi pembelajar dalam keseluruhan proses pembelajaran. Oleh sebab itu, maka mendesain pembelajaran yang mendorong partisipasi menjadi bagian penting dalam perencanaan pembelajaran. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,84 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • c. Perencanaan selanjutnya berkaitan dengan rekruitmen peserta pembelajaran. Dalam perencanaan rekruitmen itu, pertama-tama ditetapkan kriteria pembelajar yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran tertentu. Kemudian dilakukan identifikasi pembelajar. Misalnya, pembelajar di mana saja dan bekerja dalam bidang PAUDNI apa saja yang akan dilibatkan dalam program/kegiatan pembelajaran. Barulah langkah terakhir adalah menyusun langkah teknis apa yang dilakukan untuk mengundang pembelajar agar ikut serta dalam program/ kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.d. Dalam mengembangkan kurikulum, informasi yang dikumpulkan pada butir a tadi dapat dijadikan acuan atau landasan untuk penyusunan kurikulum pembelajaran. Informasi yang diperoleh sebelumnya yang berkaitan dengan hasil dan dampak pembelajaran yang diharapkan menjadi landasan untuk menyusun kurikulum pembelajaran. Begitu juga dengan kebutuhan stakeholder dapat dijadikan rujukan untuk menentukan materi dan kurikulum pembelajaran. Dengan demikian dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum ini, setidaknya ada dua landasan yaitu (a) kebutuhan stakeholder dan (b) hasil dan dampak pembelajaran yang diharapkan. Dengan cara yang demikian maka bisa dikembangkan kurikulum dengan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada pembelajar. Termasuk ke dalam pengembangan kurikulum ini adalah menetapkan skenario pembelajaran yang harus diikuti pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.e. Merencanakan kebutuhan media dan materi pembelajaran merupakan langkah berikutnya setelah kurikulum tersusun. Apa saja yang akan tercakup dalam konten kurikulum bisa diketahui seteah kurikulum tersusun. Untuk selanjutnya dengan konten yang sudah ditetapkan akan tergambarkan kebutuhan media pembelajaran. Dalam mengembangkan media pembelajaran tersebut pertimbangan utamanya adalah kesesuaian dengan kebutuhan para pembelajar. Sekaligus dengan mengingat media pembelajaran bukan sekedar wahana untuk menyampaikan materi atau konten pembelajaran melainkan yang terpenting merupakan wahana untuk menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki pembelajar sehingga hasil dan dampak pembelajaran akan meningkatkan mutu pembelajaran PAUDNI. Dalam mengembangkan media pembelajaran pun hendaknya diingat bahwa untuk pengembangannya diperlukan kreativitas pengembang media pembelajaran. Namun, kreativitas tersebut jangan sampai melupakan prinsip media pembelajaran sebagai wahana untuk menumbuhkembangkan potensi pembelajar sekaligus juga merupakan tujuan utama media pembelajaran untuk mendorong terjadinya kegiatan pembelajaran.f. Teknik evaluasi yang dipergunakan untuk menilai hasil pembelajaran. Metode dan teknik evaluasi pembelajaran menjadi bagian penting dalam perencanaan. Pada dasarnya evaluasi yang dilakukan adalah (a) evaluasi formatif, yaitu evaluasi selama pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk memperoleh umpan-balik bagi fasilitator dan pembelajar, (b) evaluasi sumatif yang biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran untuk menilai hasil pembelajaran sehingga Manajemen PSB PAUDNI 85
    • dapat diketahui ketercapaian hasil pembelajaran, (c) evaluasi diagnostik, yang dilakukan untuk mengetahui kesulitan pembelajaran dalam menguasai materi pembelajaran sehingga bisa ditentukan upaya-upaya perbaikannya, dan (d) eveluasi selektif yang dilakukan misalnya untuk memilih pembelajar yang akan diikutikan dalam program pembelajaran tertentu, atau untuk mengetahui jenjang pembelajaran yang akan diikuti dan yang paling tepat untuk pembelajar. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perencanaan pembelajaran yang dilaksanakan PSB yang ada di UPTD/SKB pada dasarnya merupakan perencanaan partisipastif untuk kegiatan pembelajaran yang beroeintasi/berpusat pada pembelajar dengan memperhatikan aspek-aspek apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya dan bagaimana cara mengevaluasi pencapaian dalam pembelajaran. Selain itu, dalam perencanaan juga ditetapkan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. 2. Pelaksanaan Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa skenario proses pembelajaran yang dapat dipilih. Skenario tersebut pada dasarnya merupakan paduan antara belajar terstruktur dan belajar mandiri. Belajar terstruktur berupa pembeian pengalaman belajar dengan magteri/konten pembelajaran yang sudah dipersiapkan secara terbimbing yang dilakukan dengan metode pembelajaran tertentu seperti diskusi kelas atau penulisan makalah. Pembelajaran mandiri yang dilakukan oleh pembelajar baik secara individual maupun berkelompok Dalam e-learning/e-training, kemampuan belajar mandiri merupakan unsur penting keberhasilan pembelajaran. Pembelajar dapat menentukan sendiri kecepatan belajarnya dan menetapkan sendiri pendalaman materi pembelajaran. Kemampuan belajar mandiri ini akan berkait erat dengan etos belajar atau kultur belajar yang dimiliki seseorang. Makin mandiri seseorang dalam belajar akan makin berhasil dalam mengiktui kegiatan pembelajaran dalam e-learning/e-training. Skenario pembelajaran yang disusun berkaitan dengan interaksi pembelajaran yang berlangsung, baik belajar terstruktur maupun belajar mandiri. Secara umum, skenario pembelajaran ini merupakan pengembangan arsitektur pembelajaran seperti yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Skenario pembelajaran yang disusun dapat dipilih dari alternatif skenario berikut: 1 Skenario I Belajar Terstruktur Belajar Mandiri Belajar Terstruktur 2 Skenario II Belajar Mandiri Belajar Terstruktur Belajar Mandiri 3 Skenario III Belajar Terstruktur Belajar Terstruktur Belajar Terstruktur 4 Skenario IV Belajar Mandiri Belajar Mandiri Belajar Mandiri 5 Skenario V Belajar Terstruktur Belajar Terstruktur Belajar Terstruktur Gambar 6.1. Skenario Pembelajaran Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,86 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Pilihan skenario mana yang akan dipergunakan akan sangat ditentukan olehkebutuhan belajar. Oleh sebab itu, bisa saja ada perbedaan skenario belajar yangditawarkan satu PSB dan PSB lainnya. Hanya yang jelas, pembelajaran terstrukturakan membutuhkan bahan belajar yang dipersiapkan dengan baik dan disesuaikandengan kebutuhan belajar para pembelajarnya. Bahan belajar tersebut memilikisejumlah kriteria seperti yang dikemukakan pada subbab Manajemen Evaluasi. Karena perbedaan kebutuhan belajar para pembelajarnya itulah maka PSBdapat menyediakan skenario sebagai menu pembelajaran yang berbeda. Bisa sajaPSB tersebut menyediakan kegiatan belajar e-learning/e-training yang sepenuhnyamerupakan pembelajaran terstruktur. Bisa juga merupakan paduan antarapembelajaran mandiri dan terstruktur selain dapat pula sepenuhnya menyediakanbahan belajar untuk mendorong pembelajaran mandiri sepenuhnya. Pada dasarnya, dalam kerangka peningkatan mutu PTK PAUDNI, ada tigasumber pembelajaran yang bisa diambil, seperti yang dikemukakan pada babsebelumnya. Pertama, pembelajaran strategis yang bersumber dari dialog yangterus berlangsung atau berkesinambungan dengan nilai-nilai dan tujuan parastakeholder, mitra dan pihak yang dilayani PTK PAUDNI. Kedua, bersumber darikegiatan operasional pelayanan PTK PAUDNI keseharian yang membuat kita bisamempelajari apa yang sudah baik dilakukan dan apa yang belum baik dilakukansertabagaimana cara memperbaikinya. Ketiga, dari aspek teknis kegiatan pelayanan PTKPAUDNI yang akan bersentuhan dengan permasalahan nyata yang dihadapi dalammemberikan pelayanan PAUDNI yang bermutu dan upaya untuk memperbaikinya.Kita bisa belajar dan keberhasilan atau kegagalan pembelarian layanan PAUDNIyang dilakukan PTK PAUDNI dalam kerangka peningkatan mutu PAUDNI. Oleh sebab itu, bisa dikembangkan strategi dan skenario pembelajaran yangbiasa dinamakan strategi pembelajaran hibrida atau strategi paduan, yang berartimemadukan pendekatan tradisional tatap muka dalam kegiatan pembelajaranterstruktur dan pembelajaran jarak jauh yang membutuhkan kegiatan pembelajaranmandiri. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini, ada dua aspek yang pentinguntuk diperhatikan yaitu apa yang dipelajari dan bagaimana bahan ajar tersebutdisampaikan atau disajikan kepada pembelajar. Pada saat proses pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan antarapendekatan konvensional dan pendekatan online, maka ada beberapa hal yangpenting untuk diperhatikan. Hal-hal penting tersebut merupakan komponen ataubagian dari proses pembelajaran yang memadukan pembelajaran konvensionaldan pembelajaran online. Komponen-komponen yang perlu diperhatikan adalahsebagai berikut:» Sesi pembelajaran di ruang kelas sebagai sesi orientasi atau waktu untuk tanya jawab» Unsur-unsur online yang mempersiapkan pe,mbelajar untuk mengikuti sesi tatap-muka Manajemen PSB PAUDNI 87
    • » Pembelajaran online yang harus diselesaikan individu pembelajar di ruang kelas dan dipandu oleh fasilitator saat berada di ruang kelas » Materi pembelajaran online sebagai satu cara penyajian bahan ajar, yang memungkinkan fasilitator memanfaatkan bahan belajar berbasis web untuk menyampaikan bahan ajar di ruang kelas. Satu hal yang penting diperhatikan dalam menjalankan kegiatan pembelajaran onlineatau e-learning/e-training adalah pengembangan partisipasi pembelajar. Karena partisipasi pembelajar merupakan kata kunci untuk keberhasilan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran berbasis TIK. Ada tiga partisipasi yang harus ditumbuhkembangkan selama proses pembelajaran melalui penyediaan peluang untuk berpartisipasi, meningikatkan partisipasi dan mengharuskan pertisipasi pembelajar. Secara lebih rinci, partisipasi tersebut meliputi: (a) memungkinkan adanya partisipasi pembelajar dalam keseluruhan proses pembelajaran, (b) mendorong munculnya pembelajar dalam proses pembelajaran, dan (c) mempersyaratkan adanya partisipasi pembelajar dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, partisipasi pembelajar merupakan hal pokok yang harus diperhatikan. Fasilitator pembelajaran online atau e-learning/e-training bertugas mendorong, menjaga dan mengupayakan partisipasi pembelajar dalam keseluruhan proses pembelajaran. Tanpa adanya partisipasi pembelajar, desain media pembelajaran sebagus apa pun atau situs pembelajaran yang dirancang semenarik mungkin pun menjadi tidak berguna. Media pembelajaran hanya akan menjadi sarana yang menarik perhatian namun tidak mendorong terjadinya pembelajaran. 3. Monitoring dan Evaluasi Dalam kerangka peningkatan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI, maka kegiatan monitoring (pemantauan) kegiatan/program dilakukan untuk melakukan perbaikan saat kegiatan/program sedang berlangsung. Tujuannya, untuk melakukan perbaikan proses dan mencegah adanya penyimpangan dari tujuan program/ kegiatan. Dengan demikian, pemantauan dilakukan dalam upaya untuk melakukan perbaikan sedini mungkin manakala dijumpai ada kekeliruan atau kesalahan. Ada 3 aspek yang dipantau yaitu (a) apa yang dibelajarkan, (b) bagaimana membelajarkannya, dan (c) bagaimana partisipasi pembelajar dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, instrumen monitoring yang dikembangkan setidaknya akan mengandung ketiga aspek mendasar dalam proses pembelajaran. Apa yang dibelajarkan menjadi perhatian karena materi pembelajaran merupakan titik sentral dalam kegiatan pembelajaran di mana pun termasuk pembelajaran yang menggunakan pendekatan e-learning/e-training. Sedangkan bagaimana membelajarkannya akan berkaitan juga dengan bagaimana partisipasi pembelajar dalam proses pembelajaran. Dalam bagaimana membelajarkan ini akan dilihat efektivitas danb efisiensi penggunaan media pembelajaran dan interaksi pembelajaran yang berlangsung di antara fasilitator dan pembelajar serta di antara sesama pembelajar sendiri. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,88 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Dalam melakukan monitoring ini, acuan utama adalah pencapaian tujuanprogram. Tabel 6.3. Format Monitoring Pembelajaran PSB Komponen Catatan No Aspek/Dimensi Pembelajaran Monitoring 1 Materi Pembelajaran • Kesesuaian dengan kebutuhan pembelajar • Kesesuaian dengan peningkatan mutu PTK PAUDNI • Kesesuaian dengan peningkatan mutu layanan PAUDNI 2 Metode Pembelajaran • Pilihan metode pembelajaran (diskusi, simulasi, dialog dan lain-lain) • Pilihan cara penyampaian bahan ajar secara online • Sajian media pembelajaran • Umpan balik untuk fasilitator dan pengembang bahan belajar 3 Partisipasi Pembelajar • Tingkat partisipasi pembelajar untuk setiap metode pembelajaran: - Diskusi - Dialog - Simulasi - Studi kasus - Dan lain-lain • Tingkat partisipasi pembelajar dalam pembelajaran terstruktur di dalam kelas • Tingkat partisipasi pembelajar dalam pembelajaran mandiri 4 Catatan Perbaikan: Seperti yang dibahas pada bab sebelumnya, pendekatan partisipatif dipergunakandalam manajemen PSB ini. Oleh sebab itu, dalam melakukan pemantauan terhadapproses pembelajaran yang diselenggarakan PSB pun menggunakan pendekatanpartisipatif. Oleh sebab itu, maka semua pihak yang terlibat dalam program/kegiatane-learning/e-training yang diselenggarakan PSB akan terlibat juga dalam kegiatanpemantauan ini. Setidaknya, pemantauan kegiatan akan melibatkan pengelola PSB,fasilitator, pengembang bahan ajar dan pembelajar sendiri. Format seperti padaTabel 6.3. diisi oleh setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran yangdiselenggarakan PSB. Manajemen PSB PAUDNI 89
    • Masukan dari hasil pemantauan tersebut dapat dipergunakan untuk dua kepentingan, yaitu (a) perbaikan proses dan (b) evaluasi program/kegiatan. Monitoring tersebut dilakukan pada saat proses berlangsung. Bisa dilakukan pada setiap sesi pembelajaran, bisa pula dilakukan setiap hari pada hari-hari pembelajaran. Tujuannya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan agar program/kegiatan pembelajaran berlangsung efektif, efisien dan produktif. Sedangkan evaluasi program/kegiatan dilakukan pada akhir program/kegiatan. Bahan dari hasil monitoring dapat juga dipergunakan untuk keperluan evaluasi program/kegiatan. Evaluasi sendiri dapat dilakukan terhadap (a) program/kegiatan secara keseluruhan, (b) penyelenggaraan program/kegiatan, (c) hasil pembelajaran yang dicapai para pembelajar yang berpartisipasi pada satu program/kegiatan e-learning/e-training, dan (d) hasil dari program dan kegiatan dalam konteks peningkatan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program/kegiatan, acuan utama evaluasi adalah peningkatan dan perbaikan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Pertanyaan yang diajukan dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program/kegiatan adalah “apakah program/kegiatan tersebut berdampak pada peningkatan dan perbaikan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI?” dan “apakah kelebihan dan kekurangan program/kegiatan tersebut dalam konteks peningkatan dan perbaikan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI?” Dengan demikian, evaluasi menyeluruh terhadap program/kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat dampak program/kegiatan dan proses penyelenggaraan program/kegiatan. Untuk pertanyaan mengenai proses penyelenggaraan program/kegiatan bisa dilakukan segera setelah program/kegiatan tersebut selesai dilaksanakan. Para pengelola program/kegiatan bersama dengan pembelajar dan fasilitator bisa melakukan evaluasi setelah program/kegiatan e-learning/e-training selesai diselenggarakan. Masing-masing memberikan pandangan dan pendapatnya tentang penyelenggaraan program/kegiatan. Sedangkan evaluasi terhadap dampak penyelenggaraan program/kegiatan baru dapat dilakukan selang beberapa waktu setelah penyelenggaraan program/kegiatan tersebut berakhir. Misalnya, baru dilakukan 2 atau 4 bulan setelah penyelenggaraan program/kegiatan. Misalnya melihat apakah ada peningkatan kinerja atau perbaikan mutu penyelenggaraan layanan PAUDNI yang diberikan PTK PAUDNI. Masukan dari evaluasi ini dapat dipergunakan oleh mereka yang bertugas dalam sistem penjaminan mutu PSB yang bersangkutan. Sistem penjaminan mutu akan melihat pencapaian dari e-learning/e-training dari perspektif standar yang ditetapkan. Apabila ternyata diketahui ada yang masih di bawah standar –dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan– maka akan dilakukan langkah perbaikan. Sedangkan apabila sudah melebihi standar yang ditetapkan akan dirumuskan upaya-upaya untuk terus mempertahankan mutu. Ada pun evaluasi hasil pembelajaran pada umumnya dilakukan melalui instrumen tes atau nontes. Evaluasi hasil pembelajaran tersebut akan berkaitan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,90 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • dengan pencapaian hasil belajar pembelajar dan untuk kepentingan pemberian nilaidan sertifikat pembelajaran/pelatihan yang akan diterbitkan. Berdasarkan evaluasihasil pembelajaran tersebut maka ditetapkan juga pada mata pelatihan apa sajaseorang pembelajar masih harus mengulang atau belajar kembali untuk mengikutikegiatan perbaikan pembelajaran. Pada dasarnya evaluasi hasil belajar menjawabpertanyaan “bagaimana pencapaiuan hasil belajar para pembelajar?” Masukandari evaluasi hasil pembelajaran ini dapat dipergunakan untuk memperbaiki danmenyempurnakan bahan belajar dan metode pembelajarannya. Sedangkan evaluasi hasil pembelajaran terhadap peningkatan mutu PTKPAUDNI dan layanan PAUDNI dilakukan untuk mengetahui sejauhmana hasil belajarditerapkan pembelajar dalam kegiatan profesionalnya memberikan layanan PAUDNIdi tengah masyarakat. Evaluasi ini melihat kebermanfaatan hasil belajar terhadappelaksanaan tugas keseharian PTK PAUDNI dalam konteks peningkatan mutupendidikan yang standarnya sudah ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.Masukan dari hasil pembelajaran ini dapat dipergunakan untuk memperbaikikurikulum dan konten pembelajaran. Masukan dari evaluasi tersebut kemudian dipergunakan untuk perencanaanprogram/kegiatan pembelajaran berikutnya. Informasi yang diperoleh dari evaluasitersebut sangat berharga untuk menyusun rencana pembelajaran yang sesuaidengan kebutuhan pembelajar dan peningkatan mutu PTK PAUDNI dan layananPAUDNI. Informasi tersebut juga penting sebagai umpan-balik yang diperlukanpengelola PSB dalam menyelenggarakan e-learning/e-training. Dengan melihat fungsi dan peran evaluasi yang seperti demikian itu, makatidak selayaknya bila evaluasi dipandang sebagai upaya untuk mencari-carikelemahan dan kekurangan satu program/kegiatan. Evaluasi diperlukan dalamproses manajemen mana pun dan untuk manajemen program/kegiatan apa puntermasuk program/kegiatan pembelajaran. Bila pun dari hasil evaluasi ditemukanadanya kekurangan atau kelemahan maka kekurangan dan kelemahan tersebutdipergunakan sebagai masukan untuk melakukan upaya perbaikan.4. Pelaporan Sudah menjadi keharusan dalam manajemen apa pun dibuat laporan tertulis.Oleh karena itu, keseluruhan proses dalam manajemen pembelajaran melaluie-learning/e-training ini pun harus dibuatkan pelaporannya. Pelaporan tersebutmerupakan dokumen manajemen yang penting yang bisa dipelajari siapa pun yangmengelola PSB. Meski demikian secara formal pelaporan tersebut disampaikan sesuaidengan hierarki dalam manajamen PSB. Misalnya, palaporan dari penyelenggarakegiatan pembelajaran dalam e-learning/e-training tertentu pada koordinator PSB.Untuk selanjutnya pelaporan tersebut disampaikan juga pada pimpinan PP PAUDNIRegional I Bandung. Pela[oran-pelaporan yang harus disampaikan pengelola PSB PAUDNImeliputi: Manajemen PSB PAUDNI 91
    • a. Pelaporan operasional kegiatan PSB PAUDNI secara berkala (bulanan, dwibulanan atau triwulanan). Pelaporan ini berisikan kegiatan operasional PSB PAUDNI yang meliputi pelaksanaan program/kegiatan pembelajaran, kondisi sumberdaya manusia dan kegiatan administratif. Dalam pelaporan ini selain sajian dekrripsi kondisi dan kegiatan operasional pembelajaran dan administratif juga disajikan permasalahan yang dihadapi. Dalam uraian permasalahan yang dihadapi PSB juga disampaikan solusi yang dilakukan terhadap permasalahan tersebut dan hasil dari pemberian solusi tersebut. b. Pelaporan pelaksanaan program/kegiatan. Pelaporan ini menyampaikan pelaksanaan program/kegiatan secara menyeluruh mulai dari perencanaan sampai evaluasi kegiatan. Pelaporan ini menyajikan juga permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program/kegiatan dan solusi yang diberikan untuk mengatasi permasalahan tersebut. c. Pelaporan hasil belajar. Pelaporan ini menyampaikan hasil belajar khususnya yang berkaitan dengan pencapaian hasil belajar para pembelajar yang mengikuti pembelajaran melalui e-learning/e-training. Dalam pelaporan ini disajikan kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. d. Pelaporan dampak pembelajaran. Pelaporan ini menyampaikan dampak pembelajaran terhadap peningkatan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Fokus pelaporan ini adalah bagaimana pembelajaran yang dilakukan melalui e-learning/e-trainingberdampak terhadap peningkatan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Sistematika pelaporan dapat disusun seperti berikut ini: 1 Bab I : Pendahuluan, yang berisi latar belakang, maksud/tujuan, personalia, waktu penyelenggaraan, hasil yang diharapkan dan indikator/kriteria keberhasilan 2 Bab II : Pelaksanaan Program/Kegiatan/Pembelajaran, yang berisi informasi mengenai perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program/ kegiatan/ pembelajaran. 3 Bab III : Permasalahan dan Solusi, yang menguraikan permasalahan- permasalahan yang dihadapi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program/kegiatan dan atau pembelajaran dan solusi yang diberikan terhadap permasalahan serta akibat dari pelaksanaan solusi tersebut. 4 Bab IV : Analisis, yang menyampaikan pembahasan terhadap keseluruhan program/kegiatan dan atau pembelajaran dalam konteks peningkatan dan perbaikan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI 5 Bab V : Kesimpulan/Rekomendasi/Tindak Lanjut, yang menyajikan kesimpulan dari laporan, rekomendasi yang diberikan serta tindak lanjut yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,92 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Sistematika pelaporan yang diuraikan di atas dapat saja disesuaikan dengankebutuhan. Hanya yang penting, pelaporan yang dibuat memuat informasi mengenaiprogram/kegiatan dan atau pembelajaran, pelaksanaan kegiatan, permasalahan yangdihadapi dan pemberian rekomendasi dan tindak lanjut. Intinya, pelaporan tersebutakan memudahkan pihak yang menerima pelaporan bisa memahami apa yangberlangsung dan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki program/kegiatan danatau pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan e-learning/e-training. Sedangkan tebal laporan berkisar antara 15-25 halaman, termasuk daftar isidan rangkuman eksekutif. Pelaporan ditulis dengan huruf ukuran 12 untuk jenishuruf Times New Roman atau Garamond atau ukuran 11 untuk jenis huruf Arial.Sedangkan ukuran spasi yang dipergunakan adalah 1,5 spasi. Format pelaporan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:a. Sampulb. Rangkuman Eksekutifc. Kata Pengantard. Daftar Isie. Bab If. Bab IIg. Bab IIIh. Bab IVi. Bab VB. Manajemen PSB PAUDNI1. Manajemen Konten Pembelajaran Urusan utama (core business) PSB PAUDNI adalah memberikan layananpembelajaran kepada para pembelajar. Oleh karena itu, pengelolaan kontenpembelajaran menjadi pehatian utama PSB PAUDNI. Dengan demikian, makamenjaga konten pembelajaran agar tetap mutakhir dan sesuai dengan kebutuhanpembelajarnya menjadi perhatian utama pengelola PSB. Pemutakhiran bahanbelajar dilakukan secara berkala dan peninjauan agar bahan belajar tersebut sesuaidengan kebutuhan pembelajarnya dilakukan secara berkala pula. PSB PAUDNI dapatmelakukan peninjauan setiap bulan atau lebih singkat lagi sehingga para pembelajarmerasa kebutuhan belajarnya terpenuhi oleh PSB dan memiliki minat untuk terusbelajar melalui fasilitas e-learning/e-training yang dikelola PSB PAUDNI. Dengan menggunakan pendekatan fungsi manajemen, maka untuk manajemenkonten PSB PAUDNI ini pun akan memiliki tahapan perencanaan, pelaksanaan,pemantauan dan evaluas untuk konten pembelajaran. Bila memungkinkan, Manajemen PSB PAUDNI 93
    • ketersediaan dukungan Sistem Informasi Manajemen (SIM) akan sangat baik untuk menunjang keseluruhan tahapan dalam manajamen konten ini. Adanya SIM ini akan memudahkan pengembang bahan belajar dan media pembelajar untuk membuat desain bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Dengan adanya SIM juga akan menunjang pengambilan keputusan yang berdasarkan data dan fakta, sehingga perencanaan misalnya tidak dilakukan berdasarkan asumsi saja. Dalam perencanaan konten pembelajaran, tentu yang diperlukan adalah informasi tentang siapa yang akan memanfaatkan dan menggunakan bahan belajar tersebut dalam kegiatan e-learning/e-training. Konten pembelajaran memang ditujukan dan dimaksudkan untuk menjadi bahan belajar bagi pembelajar sehingga sangat penting memperhatikan siapa yang akan menggunakan bahan belajar tersebut. Sudah menjadi semacam aturan dasar bahwa pengguna dan pemanfaat konten dan media belajar adalah orang yang merasa kebutuhannya terpenuhi oleh konten dan bahan belajar itu. Dengan demikian, informasi faktual mengenai siapa yang akan menggunakan bahan belajar itu sangat penting. Selain memperhatikan kebutuhan pembelajar, juga konten yang dikembangkan berkait dengan kebutuhan institusional yang dalam hal ini adalah insitusi pemberi layanan PAUDNI. Institusi pemberi layanan PAUDNI ini memiliki kebutuhan untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu layanan PAUDNI. Karena sebagai bagian dari dunia pendidikan di Indonesia, PAUDNI pun dituntut untuk memberikan layanan pendidikan yang bermutu selarasa dengan Standar Nasional Pendidikan. Oleh sebab itu, diperlukan pula informasi kebutuhan perbaikan dan peningkatan mutu layanan PAUDNI. Dalam konteks ini, akan dirasakan pentingnya melibatkan stakeholder PAUDNI dalam menyediakan konten PSB PAUDNI. Karena itu, membentuk jaringan dengan stakeholder PAUDNI merupakan salah satu yang harus dilaksanakan oleh pengelola PSB PAUDNI. Karena konten yang dikembangkan dapat diperkaya dan disempurnakan berdasarkan pengalaman praktis dari PTK PAUDNI atau forum- forum PTK PAUDNI. Kepakaran para praktisi yang tumbuh dari pengalaman praktis dapat dimanfaatkan untuk menjadi konten pembelajaran dan membuat konten pembelajaran yang disediakan sesuai dengan kebutuhan nyata PTK PAUDNI. Dengan demikian, dalam perencanaan konten ini, ada dua kebutuhan belajar yang harus diperhatikan yaitu kebutuhan individual PTK PAUDNI dan kebutuhan institusional pembeiarn layanan PAUDNI yang bermutu. Namun demikian, kebutuhan yang harus diperhatikan memang tidak hanya terbatas pada dua pihak tersebut melainkan juga harus diperhatikan kebutuhan stakeholder PAUDNI. Hanya saja, yang terpenting adalah memperhatikan kebutuhan individual PTK PAUDNI dan kebutuhan institusional layanan pendidikan PAUDNI. Karena bila kebutuhan kedua pihak tersebut terpenuhi oleh konten pembelajaran yang disedikan PSB, maka kebutuhan stakholders PAUDNI pun akan terpenuhi dengan sendirinya. Sedangkan dalam pelaksanaan penyusunan konten yang akan dikelola PSB PAUDNI akan terlibat komponen sumberdaya manusia, ketersediaan anggaran, sarana dan prasarana, bahan belajar, dan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,94 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • dalam perencanaan konten pembelajaran selain memperhatikan kebutuhan belajarjuga memperhatika kelima aspek tadi. Perencanaan tersebut akan mencakup jugakomponen-komponen berikut ini:a. Sumberdaya manusia, yaitu kebutuhan sumberdaya manusia baik untuk mengembangkan bahan ajar maupun media pembelajaran serta sumberdaya manusia yang akan mengelola bahan belajar digital untuk kegiatan e-learning/ e-training.b. Anggaran, yang diperlukan untuk membiayai keseluruhan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi pembelajaran melalui e-learning/ e-training.c. Sarana dan prasana, yang diperlukan untuk menunjang operasionalisasi PSB dan kegiatan pembelajaran yang dilaksakan PSB melalui e-learning/e- training.d. Bahan belajar, yang disusun berdasarkna kebutuhan belajar PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI yang bermutu.e. Metode pembelajaran, yang merumuskan bagaimana bahan belajar disampaikan pada pembelajar, termasuk metode evaluasi hasil pembelajarannya. Setelah menyusun perencanaan, langkah berikutnya adalah melaksanakanrencana tersebut. Apa yang sudah disusun dalam perencanaan akan dilaksanakandi dunia nyata dan terwujud dalam bentuk penyelenggaraan pembalajaran. Bisasaja apa yang sudah direncanakan dengan baik tidak berjalan sebagaimana yangdiharapkan, selain itu bisa juga apa yang berjalan dalam kenyataan lebih baik dariapa yang direncanakan. Berbagai kemungkinan tersebut bukan berarti membuatperencanaan menjadi tidak bermakna lagi. Dokumen perencanaan yang disusunmenjadi acuan untuk menilai apakah dan bagaimanakah pelaksanaan rencanatersebut berjalan. Pada pelaksanaan program/kegiatan dan atau pembelajaran, sumberdayamanusia, anggaran, sarana dan prasarana, bahan belajar dan metode pembelajaransecara bersama-sama menjadi bagian penting dari pelaksanaan program/kegiatandan atau pembelajaran. Oleh sebab itu, bila ditemukan ada ketidaksesuaian denganperencanaan maka bisa dilihat pada salah satu komponen dari kelima komponentersebut. Bisa saja sumber daya manusianya tidak sesuai dengan yang direncanakanatau ketersediaan anggaran tidak seperti yang direncanakan. Artinya, kelimakomponen tersebut bisa beragam tingkat kesesuaiannya dengan perencanaan. Karena itulah maka diperlukan kepemimpinan yang baik dalam memanfaatkansumber-sumberdaya yang tersedia, baik sumberdaya manusia maupun sumberdayafinansial dan sumberdaya pembelajaran, untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.Kepemimpinan itulah yang akan berperan dalam mengatasi berbagai permasalahankekurangan dan keterbatasan sumberdaya. Fokus utama pelaksanaan adalahbagaimana mewujudkan tujuan yang ditetapkan, bukan mengeluhkan berbagaikekurangan dan hambatan yang diaalami dan terjadi selama proses mewujudkantujuan yang sudah ditetapkan. Manajemen PSB PAUDNI 95
    • Kepemimpinan pembelajaran menjadi penting dalam upaya peningkatan mutu karena kepemimpinan itulah yang membuat segenap komponen dalam pelaksanaan kegiatan tetap menjaga fokusnya pada pencapaian tujuan. Fungsi dan peran dari kepemimpinan yang seperti itu merupakan bagian penting dari upaya peningkatan dan perbaikan mutu PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Kepemimpinan pembelajaran yang memiliki komitmen pada pencapaian tujuan itulah yang akan membuat pelaksanaan program/kegiatan yang dilaksanakan PSB melalui e-learning/ e-training bisa berdampak pada peningkatan mutu. Pemantauan dilakukan pada dasarnya terhadap kelima komponen tersebut, untuk melihat bagaimana dukungan masing-masing komponen terhadap pelaksanaan program/kegiatan dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu, pemantauan juga dilakukan untuk melihat apakah secara keseluruhan apa yang sudah berjalan masih tetap berada pada jalur untuk mencapai tujuan. Pemantauan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan atau kekeliruan tindakan sejak dini sehingga bisa dilakukan dan diambil langkah-langkah perbaikan. Dalam melakukan pemantauan dilihat aspek kualitatif dan kuantitif kelima komponen tersebut. Melihat aspek kualitatif dan kuantitatif tersebut diperlukan karena diperlukan pemantauan yang komperehensif dalam upaya perbaikan mutu. Karena bisa saja, apa yang secara kuantitatif memadai namun secara kualitatif tidak memadai. Misalnya, jumlah SDM yang terlibat cukup memadai dan sesuai dengan rencana. Namun secara kualitatif SDM tersebut bekerja tidak sungguh-sungguh dan sering beban tugasnya dialihkan pada orang lain sehingga berpengaruh pada kualitas hasil kerjanya. Oleh sebab itu, selain mengumpulkan data/informasi kuantitatif dalam melakukan pemantauan dikumpulkan juga data/informasi kualitatif. Bila data kuantitatif dilihat dengan mengacu pada inidkator yang sudah ditetapkan, maka data kualitatif dilihat berdasarkan kriteria tertentu yang menjadi acuan keberhasilan kegiatan. Permasalahan yang ditemui dan dihadapi akan terlihat setelah data kualitatif dan kuantitatif diperolah. Permasalahan yang diidentifikasi pun bukan sesuatu yang diasumsikan sebagai masalah melainkan memang masalah yang secara faktual dihadapi dalam pelaksanaan program/kegiatan dan atau pembelajaran yang difasilitas PSB melalui e-learning/e-training. Dalam pemantauan tersebut juga dikumpulkan informasi mengenai solusi yang diberikan untuk masalah yang dihadapi disertai dengan hasil atau dampak dari implementasi solusi tersebut. Sedangkan evaluasi dilakukan terhadap keseluruhan tahapan dan proses program/kegiatan dan atau pembelajaran yang diselenggarakan PSB. Evaluasi tersebut dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti untuk pengambilan keputusan tentang kegiatan/program dan atau pembelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi bisa ditetapkan (a) kelanjutan program/kegiatan dan atau pembelajaran, (b) penyempurnaan pada bagian atau aspek tertentu dari program/kegiatan dan atau pembelajaran, atau (c) penghentian sama sekali program/kegiatan dan atau pembelajaran tersebut. Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,96 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Dengan fungsi evaluasi seperti dikemukan tersebut maka evaluasi bukansekedar kegiatan yang dilaksanakan setelah program/kegiatan dilakukan. Justru,evaluasi merupakan komponen program/kegiatan yang penting karena berkaitandengan perencanaan program/kegiatan selanjutnya. Informasi yang diperolehmelalui kegiatan evaluasi menjadi informasi yang penting dan berharga untukmenyusun perencanaan. Karena, antara perencanaan, pelaksanaan, dan monitoringdan evaluasi merupakan sebuah siklus sehingga ada keterakitan yang erat di antaratahapan-tahapan tersebut.2. Manajemen Pengguna PSB PAUDNI Sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada pembelajar makamanajemen pengguna menjadi bagian penting dari PSB PAUDNI ini. Oleh sebabitu, sangat penting memperhatikan karakteristik pengguna. Pengembangan kontendan media pembelajaran selayaknya memperhitungkan dengan baik karakteristikpembelajarnya. Di samping itu, juga memperhatikan ketersediaan fasilitaspembelajaran yang diperlukan. Fasilitas pembelajaran itulah yang akan membuatpembelajar merasa nyaman dan berkeinginan terus belajar. Manajemen pengguna di sini pada dasarnya adalah mengelola komunitaspengguna PSB PAUDNI. Karena mengelola komunitas pengguna, maka halpenting yang pertama dilakukan dalam manajemen pengguna ini adalahmembentuk komunitas-komunitas pembelajaran yang akan memanfaatkan fasilitaspembelajaran di PSB PAUDNI. Komunitas pembelajaran tersebut bisa dikembangkandari stakeholder PAUDNI dan forum-forum PTK PAUDNI yang tentunya akanmembutuhkan peroleh informasi dan pembelajaran mengenai layanan PAUDNI. Terbentuknya komunitas-komunitas pembelajaran yang bisa diibartkan miripdengan kelompok pendengar dan pemirsa (kelompencapir) pada tahun 1980-andan 1990-an, akan memudahkan pengelola PSB PAUDNI memperoleh data daninformasi yang lebih akurat dan lebih mudah dikumpulkan tentang kebutuhan belajarpara pengguna PSB PAUDNI. Karena komunitas-komunitas pembelajaran itu akanmenyampaikan apa yang diperlukan dan apa yang perlu disediakan dari dan olehPSB PAUDNI. Fasilitas dan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan e-learning/e-trainingmemperhatikan karakteristik pembelajarnya. Ada pun karakteristik pembelajarnyaadalah seperti berikut ini:a. Belajar sambil menjalankan pekerjaannya sehingga harus diperhitungkan betul tingkat kebugaran pembelajar yang sudah menjalankan kegiatan pembelajaran. Informasi tentang kapan pembelajar menekuni kegiatan pembelajarannya diperlukan dalam menyusun bahan dan media pembelajaran sehingga bisa ditemukan bahan dan media pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan pembelajarnya.b. Para pembelajarnya selain memikul tugas profesional sebagai PTK PAUDNI juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikan kepada keluarga dan kehidupan rumah tangganya. Para pembelajar bukanlah orang yang Manajemen PSB PAUDNI 97
    • sepenuhnya menyediakan waktunya untuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, desain pembelajaran pun disusun dan disesuaikan dengan kondisi para pembelajarnya yang merupakan orang dewasa yang sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan serta tanggung jawab dalam melakukan berbagai kegiatan khususnya kegiatan profesional dan sosialnya. c. Para pembelajar sudah menyadari pentingnya melakukan pembelajaran yang berkelanjutan. Kebutuhan profesional sebagai PTK PAUDNI mendorongnya untuk terus belajar baik belajar mandiri maupun terstruktur. Oleh sebab itu, konten pembelajaran yang dikembangkan memperhitungkan kebutuhan belajar tersebut. d. Hasil pembelajaran yang diharapkan pembelajar adalah yang bersifat segera dan dapat langsung diterapkan dalam kegiatan keseharian sebagai PTK PAUDNI. Meski bukan berarti mengabaikan pengetahuan konseptual, namun PTK PAUDNI pada umumnya lebih menyukai untuk mempelajari apa yang bisa langsung diterapkan dalam melaksanakan kegiatannya. Namun, hal ini bukan berarti konten pembelajaran yang disajikan sepenuhnya bersifat teknis melainkan akan merupakan paduan antara pengetahuan yang bersifat teoretis-konseptual, pengetahuan tentang kebijakan dan pengetahuan teknis operasional dalam menjalankan kegiatan sebagai PTK PAUDNI dan untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya sebagai PTK PAUDNI. e. Dengan mengingat pembelajarnya adalah orang yang harus menjalankan berbagai peran sebagai individu yaitu peran profesional dan peran sosialnya, maka pembelajar cenderung akan menentukan sendiri apa dan kapan belajar. Oleh sebab itu, biasanya pembelajar menjadi manajer kegiatan pembelajarannya sendiri. Meski demikian, bukan berarti pembelajar ini dapat dibiarkan begitu saja tanpa pengendalian. Mekanisme pengendalian kegiatan pembelajaran tetap diperlukan misalnya melalui mekanisme penyelenggaraan tes untuk mengevaluasi hasil belajar atau memantau perkembangan belajar pembelajar. Dengan memperhatikan karakteristik pembelajar atau pengguna PSB seperti dikemukakan di atas, maka dalam mengembangkan bahan belajar dan media pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik pembelajar. Misalnya kegiatan pembelajaran didesain untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar yang berbeda pada setiap pembelajar. Di samping itu, bahan belajar dan media pembelajaran yang dikembangkan pun sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Fleksibel, yang berarti pembelajar bisa melewati bagian dari bahan belajare yang sudah dikuasainya dengan baik. Oleh sebab itu, desain pembelajarannya disusun dengan tidak mengharuskan pembeljar mengikuti semua bahan belajarnya. Pembelajar bisa saja melompat ke bagian lain pembelajaran, apabila bahan belajarnya sudah dikuasai dan diketahuinya dengan baik. b. Bisa diadaptasi, yaitu bahan belajar yang dikembangkan dapat diadaptasi dan diterapkan untuk situasi lokal/setempat. Pengetahuan yang bersifat konseptual biasanya merupakan generalisasi dari fakta, sehingga diperlukan kemampuan Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,98 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • pembelajar untuk melakukan adaptasi dan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi tempatnya mengabdi sebagai PTK PAUDNI.c. Merupakan simulasi dunia nyata/dunia kerja, bahan belajar dan media pembelajaran yang dikembangkan merupakan simulasi dari dunia nyata. Karena para pembelajar pada e-learning/e-training PSB PAUDNI merupakan para praktisi dan profesional di bidang PAUDNI maka pembelajar yang diperolehnya diharapkan bisa langsung diterapkan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Oleh sebab itu maka materi pembelajaran dan media pembelajaran yang diperolehnya merupakan simulasi dari dunia nyata. Misalnya, studi kasus diangkat dari kasus nyata yang dialami PTK PAUDNI di daerahnya sendiri atau daerah lain sehingga pembelajarnnya tidak berpaling daru dunia nyata dan dunia kerja PTK PAUDNI.d. Menyenangkan, dengan meningat karakteristik pembelajarnya maka bahan belajar dan media pembelajaran yang menyenangkan menjadi pertimbangan penting. Bahan belajar dan media pembelajaran yang menyenangkan akan mendorongnya untuk terus mengikuti pembelajaran dan bahkan akan mendorong untuk terus belajar.e. Menarik, selain menyenangkan tentu saja bahan belajhar dan media pembelajarannya dibuat semenarik mungkin. Kriteria kemenarikan itu sederhana saja, misalnya membuat pembelajar ingin melihatnya atau bangkit keinginannya untuk mengikuti lebih lanjut bahan belajarnya. Kemenarikan itu bisa dibangun dengan tata letak (lay-out) bahan dan media belajar, bisa juga dengan tata warna dan ilustrasi. Dalam manajemen pengguna, dapat dipergunakan pendekatan fungsimanajemen seperti yang juga dipergunakan bagian sebelumnya pada bab ini. Olehkarena itu, pembahasan pada subbab ini pun akan melihat mulai dari perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi pengguna fasilitas e-learning/e-training. Setelahmemperhatikan karakteristik pengguna serta materi dan media pembelajaran yangdikembangkan, maka langkah berikutnya adalah sebagai berikut:a. Perencanaan. Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan siapa pengguna materi dan media pembelajaran. Kemudian menyusun informasi kebutuhan belajar pengguna. Berdasarkan hal tersebut kemudian disusun konten pembelajaran seperti apa yang harus dipersiapkan, dukungan sumberdaya manusia seperti apa yang diperlukan untuk menyusun dan memutakhirkan konten pembelajaran tersebut. Barulah setelah itu disusun rencana yang meliputi rencana kebutuhan sumberdaya manusia yang menyusun, mengolah dan memutakhirkan konten pembelajaran, anggaran untuk pembuatan konten pembelajaran, sarana dan prasarana yang diperlukan untuk membuat, menyimpan dan mendistribusikan konten pembelajaran, materi pembelajaran yang disajikan dan metode pembelajaran untuk konten pembelajaran tersebut.b. Pelaksanaan. Dilakukan kegiatan untuk membuat, mengembangkan, dan memutakhirkan konten pembelajaran yang diperlukan pembelajar. Selanjutnya, konten pembelajaran tersebut disimpan di PSB untuk dipergunakan Manajemen PSB PAUDNI 99
    • para pembelajar. Selain itu, konten yang tersimpan tersebut juga secara berkala dimutakhirkan sehingga aktualitasnya terjaga dan terus mengikuti perkembangan kebutuhan pembelajar. c. Monitoringdanevaluasi. Dalam melakukan pemutakhiran konten pembelajaran dipergunakan informasi yang diperoleh dari hasil monitoring. Informasi tersebut merupakan salah satu umpan-balik yang penting yang dipergunakan untuk mengoreksi atau melakukan reposisi terhadap konten yang disajikan untuk para pembelajar. Sedangkan evaluasi terhadap konten pembelajaran dilakukan oleh para stakeholder PAUDNI agar konten pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan nyata PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI. Tahapan-tahapan yang dikemukakan pada butir a sampai c di atas merupakan sebuah siklus manajemen, sehingga antara satu tahapan dengan tahapan lain akan terus saling terkait selama PSB PAUDNI berjalan. Oleh karena itu, perencanaan konten pembelajaran mendapatkan informasi yang diperlukan dari hasil monitoring dan evaluasi. Selain itu, untuk perencanaan juga memperoleh masukan dari informasi pelaksanaan penyusunan, pembuatan, pengembangan dan pemutakhiran konten pembelajaran. Siklus manajemen seperti ini bisa dijalankan dengan baik di bawah kepemimpinan pembelajaran yang mengarahkan organisasi PSB PAUDNI pada tujuannya. 3. Manajemen Evaluasi PSB PAUDNI Seperti dikemukakan sebelumnya, binsi utama (core business) PSB adalah pembelajaran, sehingga titik sentral kegiatan evaluasi adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran tersebut. Tentu saja agar evaluasi yang diselenggarakan oleh PSB untuk kepentingan perbaikan mutu PSB dan layanan e-learning/e-training yang diberikannya, dengan sendirinya akan diperlukan evaluasi yang bermutu juga. Untuk mencapai evaluasi yang bermutu akan diperlukan manajemen evaluasi yang bermutu. Manajemen evaluasi yang disusun menggunakan pendekatan fungsi manajemen, seperti juga pembahasan sebelumnya. Dalam manajemen evaluasi tersebut mencakup perencanaan evaluasi, pelaksanaan evaluasi dan evaluasi atas evaluasi. Evaluasi di sini bukan bermakna mencari kesalahan masa lalu. Tapi evaluasi dimaknai sebagai tindakan untuk melakukan tindakan yang lebih baik pada masa depan. Karena, informasi yang diperoleh dari evaluasi merupakan informasi yang penting dan diperlukan untuk penyusunan rencana. Misalnya, dalam mengevaluasi pembelajaran kita bisa menggunakan format seperti yang tertuang pada Tabel 6.4. Informasi yang dikumpulkan melalui format ini dapat dipergunakan untuk menyusun rencana kegiatan pembelajaran dan juga bisa dipergunakan untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan PSB PAUDNI melalui e-learning/e-training. Tabel 6.4. ini hanya mengumpulkan informasi sederhana dan tidak begitu mendalam yang berkaitan dengan pembelajaran. Untuk jelasnya dapat dilihat tabel berikut: Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,100 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Tabel 6.4. Contoh Lembar Evaluasi Pembelajaran PSB PAUDNI Evaluasi No Bahan Belajar Ya Tidak 1 Apakah bahan belajar yang disajikan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan dunia nyata/dunia kerja? 2 Apakah bahan belajar yang ada memiliki keterkaitan dengan pengetahuan dan pengelaman belajar yang sudah dimiliki pembelajar sebelumnya? 3 Apakah bahan belajarnya disajikan melalui berbagai metode penyampaian? 4 Apakah ada kesempatan bagi pembelajar untuk mempraktikkan pengetahuan atau keterampilan barunya? 5 Apakah pembelajar didorong mengamalkan atau mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan barunya dalam kegiatan sehari-hari? 6 Apakah bahan belajarnya disusun berdasar topik atau tema pembelajaran tertentu? 7 Apakah dalam bahan belajar disampaikan berbagai kasus yang selanjutnya disimpulkan atau digeneralisasikan? 8 Apakah pembalajar didorong bersentuhan dengan bidang kepakaran tertentu? 9 Apakah secara bertahap ada kegiatan yang mengajak pembelajar untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang menantang? 10 Apakah bahan belajar mendorong para pembelajar melakukan evaluasi diri secara berkala? Dalam manajemen evaluasi ini, pada dasarnya sama saja dengan manajemenbidang lainnya yang dilaksanakan PSB PAUDNI, yaitu mengikuti tahap-tahap dalamsiklus manajerial yakni perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi.Secara rinci, masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut:a. Perencanaan. Pada perencanaan evaluasi, disusun langkah-langkah atau prosedur evaluasi yang akan dilakukan terhadap program/kegiatan pembelajaran. Selain itu disusun juga kriteria keberhasilan belajar atau indikator keberhasilan belajar untuk program/kegiatan pembelajaran melalui e-learning/ e-training yang difasilitasi PSB. Untuk kegiatan monitoring ditetapkan juga aspek-aspek yang akan dimonitoring selama pelaksanaan program/kegiatan, khususnya kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan. Tabel 6.4. bisa menunjukkan kriteria yang ditetapkan untuk keberhasilan belajar yaitu (a) kesesuaian dengan kebutuhan nyata dunia kerja PTK PAUDNI dan layanan PAUDNI, (b) proses pembelajaran yang berlangsung, (c) bahan ajar yang disajikan PSB, dan (d) dampak pembelajaran yang mendorong pembelajar Manajemen PSB PAUDNI 101
    • untuk terus belajar. Keempat aspek dalam pembelajaran tersebut bisa dijadikan acuan sebagai aspek-aspek yang akan dimonitoring dan evaluasi. Di samping itu, penting juga untuk mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam perencanaan ini juga disusun instrumen yang akan dipergunakan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Instrumen tersebut dapat berupa instrumen tes dan juga instrumen untuk pemantauan dan wawancara. b. Pelaksanaan. Pelaksanaan monitoring dilakukan bisa dengan menggunakan instrumen yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Begitu juga dengan kegiatan evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen yang sudah disusun sebelumnya. Dengan mengingat sifat partisipatif dalam manajemen pembelajaran yang dikelola PSB PAUDNI, maka kegiatan evaluasi ini melibatkan sebanyak mungkin berbagai pihak. Bukan hanya pembelajar dan fasilitator melainkan juga semua stakholder PAUDNI dan pengelola PSB, termasuk koordinator PSB PAUDNI dan web master. Dengan demikian akan diperoleh gambaran yang utuh dan terpadu mengenai penyelenggaraan program/kegiatan yang dilaksanakan PSB dalam bentuk pembelajaran melalui e-learning/e-training. Pandangan dan pendapat berbagai pihak tersebut akan memperkaya informasi yang sangat penting, yang akan dipergunakan dalam kegiatan perencanaan program/kegiatan yang diselenggarakan PSB PAUDNI. c. Monitoringdanevaluasi. Dalam manajemen monitoring dan evaluasi ini pun tetap diperlukan monitoring dan evaluasi terhadap monitoring dan evaluasi yang kita laksanakan. Ada yang menyebut, evaluasi atas evaluasi itu sebagai metaevaluasi. Namun dalam konteks pembelajaran melalui e-learning/e-training yang diselenggarakan PSB PAUDNI ini hal terpentingnya bukanlah apa istilah untuk evaluasi atas evaluasi, melainkan bagaimana monitoring dan evaluasi atas monitoring dan evaluasi program/kegiatan itu bisa berjalan efektif, efisien dan produktif. Hasil dari monitoring dan evaluasi itu berdampak pada upaya memperbaiki mekanisme, prosedur dan instrumen monitoring dan evaluasi yang disusun untuk memonitoring dan mengevaluasi program/kegiatan. Oleh sebab itu, melalui monitoring terhadap kegiatan monitoring dan evaluasi itu dilakukan penilaian kesesuaian format dan prosedur evaluasi yang dilakukan dengan kebutuhan monitoring dan evaluasi program. Bisa saja dijumpai ketidaksesuaian instruimen yang dipergunakan dengan kebutuhan informasi dari hasil monitoring dan evaluasi untuk perencanaan program/kegiatan. Untuk evaluasi hasil belajar yang dilakukan secara online misalnya mungkin menemui kendala teknis seperti kesulitan mengakses instrumen evaluasi atau materi evaluasinya tidak sesuai dengan kebutuhan dan maksud pelaksanaan evaluasi. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan dan penyempurnaan mekanisme, prosedur dan instrumen monitoring dan evaluasi yang disusun sebelumnya. Manajemen PSB PAUDNI yang diuraikan pada bab ini pada dasarnya menggunakan pendekatan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi terhadap komponen-komponen manajemen yaitu Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,102 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • sumberdaya manusia, dana/anggaran, sarana dan prasarana pembelajaran, materipembelajaran dan metode pembelajaran. Kelima komponen tersebut, dalam StandarNasional Pendidikan sudah ditetapkan standarnya. Oleh sebab itu, e-learning/e-training untuk peningkatan mutu PAUDNI dan layanan PAUDNI yang memperhatikanmanajemen kelima komponen tersebut pada dasarnya akan selaras dengan StandarNasional Pendidikan. Bab ini pun menunjukkan manajemen PSB PAUDNI supayakegiatan e-learning/e-training yang dijalankan dapat menjadi kegiatan yang efektif,efisien dan produktif sehingga dengan sendirinya menjadi kegiatan pembelajaranyang bermutu dan berdampak pada peningkatan mutu. Manajemen PSB PAUDNI 103
    • Daftar Pustaka Bailey, K.D. (2002) The Effects of Learning Strategies onStudent Interaction nnd Student Satisfaction. Disertasi dalam bidang Pendidikan dan Pengembangan Angkatan Kerja, The Pennsylvania State UniversityThe Graduate SchoolCollege of Education Burke, A. (1999). Communication & Development: A Practical Guide. London: Social Development Division Department for International Development Centre for Educational Research and Innovation (2007) Giving Knowledge for Free:The Emergence of Open Educational Resources Paris: OECD Dananjaya, U. (2010) Media Pembelajaran Aktif. Bandung: Nuansa Cendikia dan Institute for Education Reform Universitas Paramadina Ducote, R. (1970) The Learning Resources Center: Concepts and Designs. Makalah yang disajikan pada pertemuan “The Learning Resource Center of the Two Year College,I, 6 Juni – 10 Juli 1970, Appalachian State University, Boone,North Carolina HMIE (2006) Quality Management in Education: Self-Evaluation for Quality Improvement. Livingstone: HM Inspectorate of Education Holden, J.T. dan Westfall, P.J.L. (2005) An Instructional Media Selection Guide for Distance Learning. Washington, D.C. : United States Distance Learning Association Keane, B. (tt) The Learning Circle in Culture Change:Why Use It?Sierra Health Foundation Mayer, R. (2001). Multi-Media Learning. Cambridge: Cambridge University Press. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.No 38 tahun 2008. Rencana Strategi Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014. Jakarta: Lementerian Pendidikan Nasional Rogers, E.M. (1982) Diffusion of Innovations. 3rd ed. New York: The Free Press Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,104 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Rosenberg, M.J. (2001) E-Learning: Strategies for Delivering Knowledge in the Digital Age.New York: McGraw-HillSenter for IKT I UT Danningen, Quality Criteria for Digital Learning Resources Version 1.0.Smith, C.D. dan Whiteley, H.E. (tt) Learners, Learning Styles and Learning Media dalam The New Educational Benefits of ICT in Higher EducationSurjono, H. D. (2006). Development and Evaluation of an Adaptive Hypermedia System Based on Multiple Student Characteristics. Unpublished doctoral dissertation, Southern Cross UniversitySwierczek, F.W.dan Bechter, C. (tt) Cultural Features of e-Learning A Euro-Asian Case StudyUS Army Corps of Engineer (2003) Learning Organization Doctrine: Roadmap for TransformationWestera, W. (tt) The Eventful Genesis of Educational Media. Herleen: CELSTEC - Centre for Learning Sciences and Technologies Open University of the NetherlandsWidhiarta, P. A. (2008).Memahami Lebih Lanjut tentang e-Learning. Portal: www.ilmukomputer.com 105
    • Biodata Penulis Nama : Abdul Muis Tempat, Tanggal Lahir : Sumatera Utara, 19 Desember 1961 Riwayat Pendidikan : • S-1, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Garut, Jurusan Administrasi Negara Tahun 1997 • S-2, Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Program Studi PLS 2005 • S-3, Program Doktor Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung, Program Studi Manajemen Pendidikan 2008 Riwayat Pekerjaan : • BPKB Jayagiri Bandung (1983 - Sekarang) sebagai Staf Subbag Tata Usaha (1983 - 2003) dan staf Seksi FSD (2006 - 2008). • Pada tahun 2008 dilantik sebagai Kepala Seksi Fasilitasi Sarana Prasarana Bidang Fasilitasi Sumber Daya PP PNFI Regional I Bandung. Nama : Dadang Sudarman T. Tempat, Tanggal Lahir : Lebak, 06 Mei 1963. Riwayat Pendidikan : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah IKIP Bandung, pada tahun 1986. Riwayat Pekerjaan : • Tenaga Lapangan pada Program Penguatan Keswadayaan Masyarakat dalam rangka Pembangunan Desa Terpadu (PDT), yang merupakan program kerjasama antara Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dengan UNICEF. • Program Penguatan Sistem Pelaksanaan Program Keaksaraan Fungsional dan Pengembangan Bahan Belajar Berorientasi pada Lingkungan Setempat Bagi Warga Belajar Program Keaksaraan Fungsional di Jawa Barat. Pada tahun 2000, beliau diundang mengikuti International Training Course on Reproductive Health/Family Planning di Korea Selatan. Nama : Agus Gunawan Tempat, Tanggal Lahir : Bandung Riwayat Pendidikan : - Riwayat Pekerjaan : • Staf Seksi Fasilitasi Sarana Dan Prasarana Pada Bidang Fasilitasi Sumber Daya • Salah Satu Anggota Sistem Pengawasan Internal pada PP PNFI Regional I Bandung • Mengelola STKIP Siliwangi dan sebagai Pelatih Pramuka Kwarcab Kota Bandung Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,106 Pendidikan Nonformal Dan Informal
    • Nama : Karlan HerdianaTempat, Tanggal Lahir : Subang, 11 April 1961Riwayat Pendidikan : • D-1, PLS IKIP Bandung Tahun 1982. • S-1, Fakultas Hukum, Universitas Islam Jember (1996) • S-2, Program Pascasarjana Universitas Wijayaputra Surabaya, Program Magister Administrasi Publik (2005)Riwayat Pekerjaan : • Lama bertugas di SKB Jember (1983 - 1997), sebelum menjabat sebagai Kepala SKB Gudo (1998 - 2009).Nama : Eddy AdriansyahTempat, Tanggal Lahir : Bandung, 24 Maret 1976Riwayat Pendidikan : • S-1, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran • S-2, Jurusan Manajemen Pemasaran, Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas PadjadjaranRiwayat Pekerjaan : • Managing Director pada Daarun Nisaa, MQ Fashion, AdMQ, MQ Multimedia dan CyberMQ. • Aktif sebagai Creative Director Freelance pada perusahaan- perusahaan periklanan Kota Bandung dan Jakarta • Saat ini bekerja sebagai Staf Seksi Sarana dan Prasarana P2 PNFI Regional I Bandung, Direktorat Jenderal PAUDNI, Kementerian Pendidikan Nasional RINama : Yosal IriantaraTempat, Tanggal Lahir : Sukabumi, 25 April 1962Riwayat Pendidikan : • S-1, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung • S-2, Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Islam Nusantara Bandung • S-3, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.Riwayat Pekerjaan : • Mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi dan Program Pascasarjana Universitas Islam Nusantara Bandung. • Mengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Bandung dan Jakarta. • Bekerja juga sebagai Konsultan di beberapa Kementerian. 107
    • Pengembangan Pusat Sumber Belajar Pendidikan Anak Usia Dini,108 Pendidikan Nonformal Dan Informal