Your SlideShare is downloading. ×
Kata yang sering salah dieja
Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI
(kecuali ...
70. risiko, resiko
71. saksama, seksama (Ingat!)
72. samudra, samudera
73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi
(=konsekuensi atas ...
PENALARAN DEDUKSI & INDUKSI
Proses berpikir manusia untuk menghubungkan hubungan data atau fakta yang ada
sehingga sampai ...
Contoh 1:
PU : Semua jenis parasit merugikan inangnya.
PK : Benalu tergolong parasit.
K : Benalu tentu merugikan inangnya....
PK : Diah orang yang ingin sukses hidupnya.
K : Diah harus bekerja keras.
Entimem:
Diah harus bekerja keras, karena ia ing...
C. HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
Hubungan sebab akibat dimulai dari beberapa fakta yang kita ketahui. Dengan
m,enghubungkan fakta ...
dari itu bahkan tidak mustahil kecelakaan menjadi sering terjadi. Keadaan tersebut pada
akhirnya akan menghambat perjalana...
lain:malabsorption--> malaserap; maladaption, maladjustment --> malasuai
maldistribution --> maladistribusi; malfunction -...
Hal lain yang perlu dicermati adalah penambahan hari ulang tahun (HUT) setelah
dirgahayu. Misalnya, ”Dirgahayu HUT RI Ke-6...
pula yang menyebutkan (b) Bagian Barat Waktu Indonesia. Kepanjangan (a) tidak
mengacu ke wilayah waktu. Selain itu, Bagian...
Kata anarkis anarchist berkelas nomina dan bermakna 'penganjur (penganut) paham
anarkis' atau 'orang yang melakukan tindak...
Petunjuk Praktis
Jam dan Pukul
Kata jam dan pukul masing-masing mempunyai makna sendiri, yang berbeda satu sama
lain. Hany...
Kata kurban dan korban berasal dari kata yang sama dari bahasa Arab, yaitu
>qurban ( ). Dalam perkembangannya, kata qurban...
Untuk mengetahui bentukan kata yang benar, kita perlu mengetahui kata dasar dari
bentukan itu. Untuk itu, kita dapat memer...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Gabungan

1,412

Published on

Catatan Bahasa Indonesia..

Published in: Education, Technology, Travel
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,412
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
30
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Gabungan"

  1. 1. Kata yang sering salah dieja Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan. 1. aktif, aktip 2. aktivitas, aktifitas 3. al Quran, alquran 4. analisis, analisa 5. Anda, anda 6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker) 7. asas, azas 8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik) 9. bus, bis 10. besok, esok 11. diagnosis, diagnosa 12. ekstrem, ekstrim 13. embus, hembus 14. Februari, Pebruari 15. frekuensi, frekwensi 16. foto, Photo 17. gladi, geladi 18. hierarki, hirarki 19. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva) 20. ibu kota, ibukota 21. ijazah, ijasah 22. imbau, himbau 23. indera, indra 24. indragiri, inderagiri 25. istri, isteri 26. izin, ijin 27. jadwal, jadual 28. jenderal, jendral 29. Jumat, Jum'at 30. kanker, kangker 31. karier, karir 32. Katolik, Katholik 33. kendaraan, kenderaan 34. komoditi, komoditas 35. komplet, komplit 36. konkret, konkrit, kongkrit 37. kosa kata, kosakata 38. kualitas, kwalitas, kwalitet 39. kuantitas, kwantitas 40. kuitansi, kwitansi 41. kuno, kuna 42. lokakarya, loka karya 43. maaf, ma'af 44. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah) 45. mazhab, mahzab 46. metode, metoda 47. mungkir, pungkir (Ingat!) 48. nakhoda, nahkoda, nakoda 49. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain) 50. nasihat, nasehat 51. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa) 52. November, Nopember 53. objek, obyek 54. objektif, obyektif/p 55. olahraga, olah raga 56. orang tua, orangtua 57. paham, faham 58. persen, prosen 59. pelepasan, penglepasan 60. penglihatan, pelihatan; pengecualian 61. permukiman, pemukiman 62. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK 63. pikir, fikir 64. Prancis, Perancis 65. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum) 66. provinsi, propinsi 67. putra, putera 68. putri, puteri 69. realitas, realita
  2. 2. 70. risiko, resiko 71. saksama, seksama (Ingat!) 72. samudra, samudera 73. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah) 74. saraf, syaraf 75. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi) 76. sekretaris, sekertaris 77. sekuriti, sekuritas 78. segitiga, segi tiga 79. selebritas, selebriti 80. sepak bola, sepakbola 81. silakan, silahkan (Ingat!) 82. sintesis, sintesa 83. sistem, sistim 84. sorga, surga, syurga 85. subjek, subyek 86. subjektif, subyektif/p 87. Sumatra, Sumatera 88. standar, standard 89. standardisasi, standarisasi 90. tanda tangan, tandatangan 91. tahta, takhta 92. teknik, tehnik 93. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon 94. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical) 95. terampil, trampil 96. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) -- sepertinya kedua- duanya berlaku 97. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang) 98. wali kota, walikota 99. Yogyakarta, Jogjakarta 100. zaman, jaman
  3. 3. PENALARAN DEDUKSI & INDUKSI Proses berpikir manusia untuk menghubungkan hubungan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan disebut penalaran. Dalam karangan penalaran berarti penggunaan pikiran untuk suatu kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk tertulis. Dengan penalaran yang tepat, hal-hal yang akan dituangkan dalam karangan menjadi kuat. Penyajian materi karangan akan sesuai dengan jalan pikiran yang tepat. Oleh karena itu, setiap pengungkapan harus dipertimbangkan terlebih dahulu agar hal-hal yang tidak tepat tidak masuk dalam karangan. Penalaran yang baik berarti ketepatan pengorganisasian dan penyajian semua gagasan. Segala pernyataan benar-benar kuat dan dapat dipertanggung jawabkan, tanpaa meragukan pembaca. Alasan-alasan yang dikemukakan merupakan hal yang dapat diterima. Ada dua macam penalaran yang biasa dilakukan dalam menarik suatu kesimpulan, yakni penalaran induksi dan penalaran deduksi. PENALARAN INDUKSI Dalam penalaran induksi/induktif kita mulai dengan menyebutkan peristiwa atau keterangan atau data yang khusus untuk menuju kepada kesimpulan umum yang mencakup semua peristiwa khusus itu. 1. PENALARAN DEDUKSI A. SILOGISME Penalaran deduksi yang biasa digunakan ialah silogisme. Silogisme disebut juga penalaran deduksi secara tidak langsung. Dalam silogisme kita dapati dua premis dan satu premis kesimpulan. Kedua premis itu adalah premis umum/premis mayor dan premis khusus/premis minor. Dari kedua premis tersebut kesimpulan dirumuskan. Premis umum (=PU) : menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (=semua A) memiliki sifat atau hal tertentu (=B). Premis khusus (=PK) : menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang (=C) adalah anggota golongan tertentu itu (=A). Kesimpulan (=K) : menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang (=C) memiliki sifat atau hal tersebut pada B (=B) Jika ketentuan-ketentuan di atas kita rumuskan, rumus itu akan berbunyi sebagai berikut: PU : semua A = B PK : C = A K : C = B
  4. 4. Contoh 1: PU : Semua jenis parasit merugikan inangnya. PK : Benalu tergolong parasit. K : Benalu tentu merugikan inangnya. Contoh 2: PU : Binatang menyusui melahirkan anak dan tidak bertelur. PK : Ikan paus binatang menyusui. K : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur. Silogisme Negatif Silogisme negatif adalah silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif. Silogisme jenis ini biasanya di salah satu premisnya ditandai dengan kata-kata ingkar, yaitu tidak atau bukan. Contoh PU : Semua penderita diabetes tidak boleh banyak makan tepung-tepungan. PK : Paman penderita doabetes. K : Paman tidak boleh banyak makan tepung-tepungan. B. ENTIMEM Penggunaan silogisme dalam kehidupan sehari-hari atau karang-mengarang terasa sangat kaku. Oleh karena itu, silogisme dapat diperpendek dengan tidak menyebutkan premis umumnya. Kita dapat langsung mengetengahkan kesimpulan, dengan premis khusus sebagai penyebabnya. Bentuk silogisme yang demikian disebut entimem. Entimem merupakan penalaran deduksi secara langsung. Entimem dapat dirumuskan: C = B, karena C = A. Contoh 1: Silogisme: PU : Pegawai yang baik tidak mau menerima suap. PK : Budiman pegawai yang baik. K : Budiman tidak mau menerima suap. Entimem: Budiman tidak mau menerima uang suap, karena ia pegawai yang baik. Contoh 2: Silogisme: PU : Orang yang ingin sukses hidupnya harus bekerja keras.
  5. 5. PK : Diah orang yang ingin sukses hidupnya. K : Diah harus bekerja keras. Entimem: Diah harus bekerja keras, karena ia ingin sukses hidupnya 2. Penalaran Induksi Ada tiga jenis penalaran induksi : A. GENERALISASI Generalisasi adalah proses penalaran yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus untukl diambil kesimpulan yang bersifat umum. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain. Contoh: Pemakain bahasa Indonesia di seluruh daerah di Indonesia dewasa ini belum dapat dikatakan seragam. Perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, ucapan terlihat dengan mudah. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. Di lingkungan persuratkabaran, radio, dan TV pemakaian bahasa Indonesia belum lagi dapat dikatakan sudah terjaga baik. Para pemuka kita pun pada umumnya juga belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia yang terjaga baik. Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan. B. ANALOGI Analogi adalah penalaran yang membandingkan dua hal yang memiliki banyak persamaan sifat. Cara ini didasarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi, maka akan ada persamaan pula dalam bidang/hal lainnya. Contoh: Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu, seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung untuk mencapai puncaknya. Penalaran secara analogi memiliki peluang untuk salah apabila kita beranggapan bahwa persamaan satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi-segi yang lain.
  6. 6. C. HUBUNGAN SEBAB AKIBAT Hubungan sebab akibat dimulai dari beberapa fakta yang kita ketahui. Dengan m,enghubungkan fakta yang satu dengan fakta yang lain, dapatlah kita sampai kepada kesimpulan yang menjadi sebab dari fakta itu atau dapat juga kita sampai kepada akibat fakta itu. Penalaran induksi sebab akibat dibedakan menjadi 3 macam: 1. Hubungan sebab – akibat Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi sebab, kemudian ditarik kesimpulan yang berupa akibat. Contoh penalaran hubungan sebab akibat: Belajar menurut pandangan tradisional adalah usaha untuk memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan. “Pengetahuan” mendapat tekanan yang penting, oleh sebab pengetahuan memegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan. Siapa yang memiliki pengetahuan, ia mendapat kekuasaan. 2. Hubungan akibat – sebab Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal yang menjadi akibat, selanjutnya ditarik kesimpulan yang merupakan penyebabnya. Contoh penalaran hubungan akibat sebab: Dewasa ini kenakalan remaja sudah menjurus ke tingkat kriminal. Remaja tidak hanya terlibat dalam perkelahian-perkelahian biasa, tetapi sudah berani menggunakan senjata tajam. Remaja yang telah kecanduan obat-obat terlarang tidak segan-segan merampok bahkan membunuh. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua, pengaruh masyarakat, dan pengaruh televisi dan film yang cukup besar. 3. Hubungan sebab – akibat 1 – akibat 2 Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama menjadi sebab hingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi sebab yang menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya. Contoh penalaran hubungan sebab – akibat 1 – akibat 2: Setiap menjelang lebaran arus mudik sangat ramai. Seminggu sebelum lebaran jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan umum maupun pribadi yang mengangkut penumpang yang akan pulang ke daerahnya masing-masing. Banyaknya kendaraan tersebut mau tidak mau mengakibatkan arus lalu lintas menjadi semrawut. Kesemrawutan ini tidak jarang sering menimbulkan kemacetan di mana-mana. Lebih
  7. 7. dari itu bahkan tidak mustahil kecelakaan menjadi sering terjadi. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menghambat perjalanan. RELAWAN atau SUKARELAWAN Dalam bahasa Indonesia imbuhan –wan berasal dari bahasa Sanskerta. Penggunaan akhiran itu digunakan bersama kata benda, seperti bangsawan ‘orang yang memiliki bangsa’, hartawan ‘orang yang memiliki harta’, dan rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’. Dalam perkembangannya, arti –wan meluas. Hal itu ditemukan pada kata ilmuwan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu’, negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu negara’, dan fisikawan ‘orang yang ahli dalam bidang fisika’. Jadi, -wan dalam contoh itu berarti orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya. Pada kata seperti olahragawan, peragawan, dan usahawan, imbuhan –wan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya’. Jadi, olahragawan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang olahraga’, peragawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang peragaan’ , dan usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu). Berdasarkan contoh tersebut, imbuhan –wan tidak pernah melekat pada kata kerja, seperti pada kata rela. Oleh karena itu, kata yang benar adalah sukarelawan yang berarti ‘orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa’. MALPRAKTIK atau MALAPRAKTIK Bentuk mal- dalam bahasa Inggris mula-mula berarti ‘buruk’, kemudian bermakna juga ‘tidak normal, salah, mencelakakan, jahat’. Dalam bahasa Jawa Kuna terdapat bentuk mala- yang diserap oleh bahasa Melayu karena memang sesuai dengan bentuk mal- Inggris dan maknanya ‘noda, cacat, membawa rugi, celaka, sengsara.’ Dalam bahasa Indonesia, mala- merupakan unsur terikat yang tidak dapat berdiri sendiri berfungsi sebagai sebuah kata dengan arti tertentu. Oleh karena itu, urutan unsurnya pun tetap. Dengan demikian, padanan istilah Inggris malpractice adalah malapraktik, bukan malpraktik, praktik mala atau praktik mala. Berikut contoh yang
  8. 8. lain:malabsorption--> malaserap; maladaption, maladjustment --> malasuai maldistribution --> maladistribusi; malfunction --> malafungsi; malnutrition --> malagizi; malposition --> malasikap JADWAL atau JADUAL Penggunaan kata jadwal yang dituliskan menjadi jadual, seperti jadual penerbangan dan jadual pelajaran, tidaklah benar. Kata jadual dengan (u) hendaknya dituliskan dengan jadwal (w) karena di dalam bahasa asalnya, bahasa Arab, kata itu dituliskan dengan . Huruf pada kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi w, bukan u. Dengan demikian, penulisan yang benar jadwal, bukan jadual. Begitu pula, gabungan kata yang penulisannya benar adalah jadwal penerbangan dan jadwal pelajaran, bukan jadual penerbangan dan jadual pelajaran. Contoh lain, takwa dan fatwa, bukan takua dan fatua. Penulisan kata jadual dengan (u) tampaknya beranalogi pada kata kualitas. Penulisaan kata kualitas memang sudah tepat karena huruf /u/ pada kata itu memang berasal dari bahasa asalnya, Inggris, quality. Jika ada penulisan kwalitas, penulisan itu justru tidak benar. Contoh lain adalah kuantitas, bukan kwantitas. DIRGAHAYU Kata dirgahayu diserap dari bahasa Sanskerta dirgahayuh; dirgahayusa yang berarti ’berumur panjang’. Kata dirgahayu sering digunakan untuk menyatakan ungkapan selamat berulang tahun. Penggunaan ”Dirgahayu Republik Indonesia Ke-60”, berdasarkan makna dirgahayu, jelas tidak logis. Ketidaklogisan itu terungkap dari penambahan Ke-60 yang pengertiannya belum jelas. Dengan penambahan Ke-60, ada dua pengertian yang terkandung, yakni Ke-60 menerangkan dirgahayu atau Republik Indonesia, baik menerangkan dirgahayu maupun menerangkan Republik Indonesia sama-sama tidak logis. <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> Ketidaklogisan yang pertama terjadi karena panjang umur dinyatakan dengan Ke-60. Selain itu, ada ketidakjelasan Ke-60 itu, apakah maksudnya Ke-60 tahun atau Ke-60 hari. Ketidaklogisan yang kedua terjadi karena berdasarkan ungkapan itu ada 60 buah Republik Indonesia. Hal itu berarti pula masih ada 59 RI lagi. Tentu saja yang demikian tidak logis karena Republik Indonesia hanya satu, yakni yang kita rayakan itu. Dengan demikian, ungkapan tersebut di samping tidak logis juga termasuk taksa (ambigu).
  9. 9. Hal lain yang perlu dicermati adalah penambahan hari ulang tahun (HUT) setelah dirgahayu. Misalnya, ”Dirgahayu HUT RI Ke-60”. Penambahan itu juga tidak logis. HUT tidak mungkin berumur panjang karena masanya hanya satu hari. Yang dapat kita ucapkan berumur panjang adalah Republik Indonesia atau kemerdekaannya. Jadi, ungkapan yang tepat adalah ”Dirgahayu Republik Indonesia” atau ”Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia”. Sementara itu, apabila Ke-60 akan digunakan, penempatannya harus tepat. Ada dua pilihannya, yakni Hari Ulang Tahun Ke-60 Republik Indonesia (HUT Ke-60 RI) atau Ulang Tahun Ke-60 Republik Indonesia. Baik contoh pertama maupun contoh kedua menjelaskan unsur HUT atau ulang tahunnya. Ada satu cara lagi yang dapat digunakan untuk menambahkan Ke-60, yaitu apabila unsur Ke-60 ditempatkan setelah Republik Indonesia (RI). Caranya adalah dengan menambahkan tanda hubung di antara ”Hari Ulang Tahun” dan ”Republik Indonesia”, yakni ”Hari Ulang Tahun-Republik Indonesia Ke-60 (HUT-RI Ke-60)”. Tanda hubung digunakan agar dua unsur HUT dan RI menjadi padu. Penulisan angka 60 boleh juga digunakan dengan angka Romawi, LX, tetapi tanpa diberi awalan ke- karena angka Romawi sudah menyatakan bilangan tingkat. Selain ungkapan di atas, ada pilihan yang dapat digunakan untuk menyatakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu sebagai berikut: Dirgahayu Kemerdekaan Kita Dirgahayu RI HUT Ke-60 RI HUT LX RI Selamat Ulang Tahun Ke-60 Republik Indonesia Peringatan Ulang Tahun LX Republik Indonesia WIB atau BBWI? Sejalan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1987, wilayah waktu di <?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft- com:office:smarttags" />Indonesia dibagi menjadi tiga yang masing-masing dikenal oleh masyarakat dengan singkatan WIB, Wita dan WIT. Bentuk kepanjangannya masing- masing adalah Waktu style="mso-bidi-font-style: normal">Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Timur. Pada ungkapan itu kata barat, tengah, dan timur menerangkan kelompok kata waktu Indonesia dan bukan hanya menerangkan kata Indonesia. Dengan demikian, harus ditafsirkan bahwa yang dibagi adalah wilayah waktu, bukan wilayah (pemerintahan) Indonesia menjadi Indonesia Barat, Indonesia Tengah, ataupun Indonesia Timur. Dalam penggunaannya di masyarakat muncul singkatan BBWI, alih-alih WIB. Ada yang menyebutkan kepanjangannya (a) Bagian Barat Wilayah Indonesia dan ada
  10. 10. pula yang menyebutkan (b) Bagian Barat Waktu Indonesia. Kepanjangan (a) tidak mengacu ke wilayah waktu. Selain itu, Bagian Barat Wilayah Indonesia dapat ditafsirkan ‘daerah yang terletak di sebelah barat di luar wilayah Indonesia’ karena dalam urutan kata seperti itu kelompok kata bagian barat diterangkan oleh kelompok kata wilayah Indonesia. Kepanjangan (b) lebih kacau lagi tafsirannya karena kelompok kata bagian barat yang diterangkan oleh kelompok kata waktu Indonesia sulit dipahami maknanya. Dalam hal itu terjadi pembalikan urutan diterangkan-menerangkan. Sehubungan dengan hal tersebut, Pusat Bahasa menganjurkan agar masyarakat pemakai bahasa Indonesia untuk tetap menggunakan ungkapan yang lazim dan benar menurut kaidah bahasa Indonesia. Dengan demikian, di dalam hal pembagian (wilayah) waktu di Indonesia, penggunaan singkatan yang benar adalah WIB (bukan BBWI). Elit atau Elite Banyak orang mengatakan, baik para politisi, penyiar, pejabat maupun masyarakat umum menggunakan kata elite di dalam berbagai kesempatan, tetapi pengucapan kata tersebut beragam. Ada yang mengucapkan /elit/ dan ada pula /elite/. Dari kedua cara pengucapan itu, mana yang baku? Kata elite berasal dari bahasa Latin /eligere/ yang berarti 'memilih' dalam bahasa Indonesia kata elite berarti 'orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok' atau 'kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, cendekiawan, dsb.). Dalam bahasa latin huruf /e/ pada akhir kata mustinya diucapakan. Oleh karena itu, kata elite harus diucapkan /elite/, bukan /elit/. Begitu juga dengan bonafide harus diucapkan /bonafide/, bukan /bonafid/ atau faksimile harus diucapkan /faksimile/, bukan /faksimil/,/feksimil/ atau /feksemail/. Anarkis atau Anarkitis? Dalam berbahasa, kata anarkis tampaknya lebih banyak digunakan daripada kata anarkistis. Kedua kata itu, sering kali digunakan dalam pengertian yang tertukar. Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkis. Kata anarkis pada kalimat itu tidak tepat. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu memahami pengertian kata anarkis.
  11. 11. Kata anarkis anarchist berkelas nomina dan bermakna 'penganjur (penganut) paham anarkis' atau 'orang yang melakukan tindakan anarki'. Dari pengertian tersebut ternyata kata anarkis bermakna 'pelaku', bukan 'sifat anarki'. Padahal, kata yang diperlukan dalam kalimat tersebut adalah kata sifat untuk melambangkan konsep 'bersifat anarki'. Dalam hal ini, kata yang menyatakan 'sifat anarki' adalah anarkistis, bukan anarkis. Kata anarkis sejalan dengan linguis 'ahli bahasa' atau pianis 'pemain piano' sedangkan anarkistis sejalan dengan optimistis 'bersifat optimis' dan pesimistis 'bersifat pesimis'. Dengan demikian, kata anarkis pada kalimat tersebut lebih baik diganti dengan kata anarkistis sehingga kalimatnya menjadi sebagai berikut. Para demonstran diharapkan tidak melakukan tindakan yang anarkistis. Lalu, bagaimanakah penggunaan kata anarkis yang tepat? Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, kata anarkis bermakna 'pelaku', yaitu 'orang yang melakukan tindakan anarki'. Oleh karena itu, penggunaannya yang tepat adalah untuk menyatakan 'pelaku' atau 'orang yang melakukan tindakan anarki'. Contohnya dapat disimak pada kalimat berikut. Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak berlaku sebagai anarkis dalam melakukan unjuk rasa. Perlu pula diketahui kata anarki bermakna (1) hal tidak adanya pemerintahan, undang- undang, peraturan, atau ketertiban';(2)'kekacauan (dalam suatu negara)'. Anarkisme bermakna 'ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dalam undang-undang'. Debet atau Debit Komunikasi di bidang ekonomi atau perbankan tidak jarang menggunakan istilah debet, misalnya pada lajur debet dan lajur kredit. Frekuensi penggunaan istilah lajur debet cukup tinggi, tetapi bentuk istilah yang benar adalah lajur debit, kata debit diserap secara utuh dari kata Inggris debit Bentuk istilah itu merupakan gabungan dua kata, yaitu lajur dan debit yang membentuk istilah baru lajur debit. Dari bentuk istilah debit dapat dibentuk paradigma istilah yang bersistem debitor. Istilah debit juga digunakan dengan pengertian 'jumlah air yang di pindahkan dalam suatu satuan waktu tertentu pada titik tertentu di sungai terusan, atau saluran air' (seperti dalam debit air) Kenyataan adanya bentuk polisemi--sebuah bentuk kata yang maknanya lebih dari satu-- itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengganti istilah debit menjadi debet. Dalam bidang ekonomi badan perbankan pun debit memiliki makna lebih dari satu: (1) 'uang yang harus ditagih dari orang lain; piutang'; (2) 'catatan pada pos pembukuan yang menambah nilai aktiva atau mengurangi jumlah kewajiban; jumlah yang mengurangi deposito pemegang rekening pada banknya'.
  12. 12. Petunjuk Praktis Jam dan Pukul Kata jam dan pukul masing-masing mempunyai makna sendiri, yang berbeda satu sama lain. Hanya saja, sering kali pemakaian bahasa kurang cermat dalam menggunakan kedua kata itu, masing-masing sehingga tidak jarang digunakan dengan maksud yang sama. Kata jam menunjukkan makna 'masa atau jangka waktu', sedangkan kata pukul mengandung pengertian 'saat atau waktu'. Dengan demikian, jika maksud yang ingin diungkapkan adalah 'waktu atau saat', kata yang tepat digunakan adalah pukul, seperti pada contoh berikut. Rapat itu akan dimulai pada pukul 10.00 Sebaliknya, jika yang ingin diungkapkan itu 'masa' atau 'jangka waktu', kata yang tepat digunakan adalah jam, seperti pada kalimat contoh berikut. Kami bekerja selama delapan jam sehari Selain digunakan untuk menyatakan arti 'masa' atau jangka waktu', kata jam juga berarti 'benda penunjuk waktu' atau 'arloji', seperti pada kata jam dinding atau jam tangan. Juara dan Pemenang Adakah perbedaan makna kata juara dan pemenang? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan itu, kita perlu mengetahui makna kedua kata itu. juara (1) 'orang (regu) yang mendapat kemenangan dalam pertandingan terakhir (2) 'ahli; terpandai dalam sesuatu (pelajaran dan sebagainya)' (3) 'pendekar; jagoan' (4) 'pengatur dan pelerai dalam persabungan ayam' (5) 'pemimpin peralatan (pesta dan sebagainya)'. pemenang 'orang (pihak) yang menang' Kata pemenang dapat dipakai untuk orang yang menang bertanding atau berlomba, tetapi tidak dapat dipakai untuk menyatakan orang terpandai di kelas. Misalnya, Didi adalah juara I di kelasnya, tetapi tidak pernah dikatakan Didi adalah pemenang I di kelasnya. Sebaliknya, kata juara dipakai untuk orang atau regu yang menang bertanding atau berlomba ataupun orang terhebat dalam sesuatu (pelajaran dan sebagainya). Namun, kata juara tidak dipakai untuk menyebut orang yang memenangi undian. Misalnya, Dia pemenang I undian berhadiah itu, tetapi tidak pernah dikatakan Dia juara pertama undian berhadiah itu. KURBAN dan KORBAN
  13. 13. Kata kurban dan korban berasal dari kata yang sama dari bahasa Arab, yaitu >qurban ( ). Dalam perkembangannya, kata qurban diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan dan dengan perkembangan makna, yaitu sebagai berikut: Kurban [ kurban] berarti ‘persembahan kepada Tuhan (seperti kambing, sapi, dan unta yang disembelih pada Lebaran Haji)’ atau ‘pemberian untuk menyatakan kesetiaan atau kebaktian’. Korban [korban] berarti orang atau binatang yang menderita atau mati akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Contoh penggunaan dalam kalimat: 1) Menjelang Lebaran Haji harga ternak kurban naik. 2) Sebagian korban kecelakaan itu dapat diselamatkan.<?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft- com:office:office" /> Mengapa standardisasi, bukan standarisasi? Dalam komunikasi sehari-hari, baik lisan maupun tulis, kita sering menemukan penggunaan bentuk kata standarisasi di samping kata standar. Penggunaan bentuk tersebut terjadi karena sebagian orang menganggap bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata standar yang dapat dibentuk menjadi standarisasi setelah ditambah akhiran –isasi. Anggapan seperti itu menimbulkan pertanyaan apakah dalam bahasa Indonesia ada akhiran –isasi. Jawabannya adalah tidak ada. Akhiran –isasi, dari bahasa Inggris –ization, masuk ke dalam bahasa Indonesia bersama dengan kata dasarnya. Perhatikan contoh penyerapan berikut ini. Organization menjadi organisasi Mobilization menjadi mobilisasi Jadi, kata organisasi berasal dari bahasa Inggris organization, bukan dari kata dasar organ ditambah akhiran –isasi dan kata mobilisasi berasal dari mobilization, bukan dari kata dasar mobil ditambah akhiran –isasi meskipun kita tahu kata organ dan mobil ada dalam khazanah kata bahasa kita. Dari kedua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk standarisasi tidak benar. Bentuk yang benar adalah standardisasi karena bentuk tersebut diserap dari bahasa Inggris standardization. Sementara itu, kata standard diserap menjadi standar. Jadi, kedua bentuk itu, standar dan standardisasi sama-sama diserap ke dalam bahasa Indonesia. Menyolok atau Mencolok? Kata menyolok dan mencolok sama-sama sering digunakan oleh pemakai bahasa Indonesia. Meskipun demikian, di antara keduanyahanya satu bentukan yang sesuai dengan kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia.
  14. 14. Untuk mengetahui bentukan kata yang benar, kita perlu mengetahui kata dasar dari bentukan itu. Untuk itu, kita dapat memeriksanya di dalam kamus. Dalam kamus bahasa Indonesia, terutama Kamus Besar Bahasa Indonesia, ternyata hanya ada kata dasar colok. Tampaknya, perbedaan bentukan kata itu timbul karena adanya perbedaan pemahaman mengenai proses terjadinya bentukan kata itu. Sesuai dengan kaidah, kata dasar yang berawal dengan fonem /c/, jika mendapat imbuhan me-, bentukannya menjadi mencolok, bukan menyolok, karena fonem /c/ pada awal kata dasar tidak luluh. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia bentuk kata yang baku adalah mencolok bukan menyolok. Nominator dan Nomine Dalam setiap perlombaan atau festival hampir selalu ada beberapa orang yang diunggulkan untuk dicalonkan sebagai pemenang. Orang atau sesuatu yang dicalonkan sebagai pemenang itu sering disebut nominator. Kata nominator berasal dari kata kerja nominate (Inggris), berarti 'mengusulkan atau mengangkat (seseorang) sebagai calon pemenang atau penerima hadiah', dan nominator berarti 'orang yang mengusulkan calon pemenang'. Oleh karena itu, penggunaan kata nominator untuk menyatakan makna 'calon yang diunggulkan sebagai pemenang' tidak tepat. Untuk menyatakan 'orang yang dicalonkan atau yang diunggulkan sebagai pemenang', lebih tepat digunakan kata nomine , bukan nominator. Selain itu, kata unggulan juga dapat digunakan untuk mengungkapkan makna itu

×