Embriologi usus depan dan kelainan usus depan

3,263 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,263
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
91
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Embriologi usus depan dan kelainan usus depan

  1. 1. EMBRIOLOGI USUS DEPANBESERTA KELAINANNYA Oleh : dr. F.X. ALEXANDER HASTIN FK UNTAN West Borneo
  2. 2. PENDAHULUANPerkembangan usus primitif dibagi dalam empat bagianyaitu :• usus faringeal mulai dari membrana bukofaringeal hingga ke divertikulum trakeobronkialis• usus depan di sebelah kaudal tabung faring tersebut, serta membentang ke kaudal hingga ke tunas hati• usus tengah dari sebelah kaudal tunas hati sampai ke suatu titik pertemuan dua pertiga kanan dan sepertiga kiri kolon tranversum• usus belakang yang membentang dari sepertiga kiri kolon transversum hingga ke membrana kloakalis
  3. 3. ESOFAGUS Mudigah minggu ke-IV Mudigah minggu ke-V Usus depan ventral (primordium pernapasan) Usus depan dorsal (esofagus)
  4. 4. ESOFAGUS Tahapan perkembangan septum esofagotrakeal dimulai minggu ke-III Gangguan pembentukan septum → trakeo- oesofageal fistula
  5. 5. LAMBUNG• Lambung primitif berbentuk fusiformis• Perkembangan mulai minggu ke-IV• Lambung mengalami rotasi dan putaran searah jarum jam• Dinding belakang membentuk kurvatura mayor• Dinding depan membentuk kurvatura minor
  6. 6. LAMBUNG
  7. 7. DUODENUM• Bagian paling distal usus depan• Bentuk duodenum dipengaruhi rotasi lambung• Duodenum menjadi tempat perkembangan tunas hati dan pankreas• Duodenum dan pankreas ditekan ke retroperitoneal oleh mesoduodenum dorsal• Mesoduodenum dorsal dan peritoneum bagian dorsal tubuh menyatu
  8. 8. DUEDONUM
  9. 9. HATI DAN KANDUNG EMPEDU• Primordium hati tampak pada pertengahan minggu ke-III pada ujung distal usus depan• Hubungan antara divertikulum hepatis dan usus depan (duodenum) menyempit, sehingga membentuk saluran empedu• Epitel korda hati saling berbelit dengan vena vitellina dan vena umbilikalis, membentuk sinusoid-sinusoid hati
  10. 10. PANKREAS• Pankreas dibentuk oleh dua tunas yang berasal dari lapisan endoderm duodenum• Tunas pankreas ventral dan dorsal bersatu saat proses rotasi lambung dan duodenum (minggu ke-VI)
  11. 11. ATRESIA ESOFAGUS• Deviasi posterior septum trakeoesofageal atau akibat faktor mekanis yang mendorong dinding dorsal usus depan kearah anterior• Fistula dan non-fistula• Etiologi : genetik, idiopatik• Neonatus yang mengalami kesulitan makan dan distres nafas pada hari-hari pertama kehidupannya -> curiga atresia esofagus
  12. 12. ATRESIA ESOFAGUS• Bayi terlihat lapar• Mulut tampak banyak buih atau air liur• Sering tersedak• Napas berbunyi• Distres pernapasan• Sianosis• Muntah-muntah
  13. 13. Klasifikasi Atresia Esofagus (AE) dan Trakeoesofageal Fistula (TEF) Vogt
  14. 14. Klasifikasi Atresia Esofagus (AE) dan Trakeoesofageal Fistula (TEF) Vogt
  15. 15. Pemeriksaan penunjang• Pemasangan selang radioopak• Foto polos thoraks PA/Lateral untuk konfirmasi posisi• Udara dalam lambung menunjukkan adanya fistula di distal• Dalam keadaan ragu pembuatan esofagogram dengan syarat: menggunakan kontras yang water soluble (gastrografin, lipiodol), volume kontras disesuaikan dengan volume esofagus proksimal
  16. 16. ATRESIA dan STENOSIS DUODENUM• Atresia duodenal terjadi 1 diantara 5000-10.000 kelahiran• 30% bayi dengan sindroma Down disertai atresia duodenum, 75% pada bayi dgn hidramnion• Etiologi ?• Resiko tinggi aspirasi, dehidrasi, hiponatremia, hipokalemia karena muntah-muntah.• Muntah empedu• Kembung setelah makan atau minum• Tidak ada mekonium (atresia)
  17. 17. Patofisiologi• Akibat kegagalan rekanalisasi duodenal pada fase padat intestinal bagian atas, terdapat oklusi vascular dalam duodenum• Terdapat hubungan kelainan perkembangan khususnya dengan pankreas dalam bentuk baji yang interposisi antara bagian proksimal dan distal atresia (pankreas anulare) sehingga menyebabkan duodenum tidak tumbuh normal sehingga bisa terjadi stenosis atau atresia.
  18. 18. RadiologiFoto polos abdomen :• Tampak 2 bayangan gelembung udara (double bubble), gelembung lambung dan duodenum proksimal atresia• Tampak 2 bayangan gelembung udara besar dengan gelembung-gelembung kecil di bagian distalnya (stenosis duodenum)
  19. 19. PenatalaksanaanPersiapan prabedah: • Dekompresi dengan Nasogastrik tube, dilakukan pengisapan udara dan cairan untuk mencegah muntah dan aspirasi • Resusitasi cairan dan elektrolit, koreksi asam basa, hiponatremia dan hipokalemiaTindakan pembedahan: • Pelebaran kanal/ lumen duodenum (stenosis) • Anastomosis duodeno-duodenostomi atau anastomosis duodeno-yeyunostomi (Whipple surgery)
  20. 20. STENOSIS PILORUS HIPERTROFIK• Penyempitan lumen pilorus karena hipertrofi sfingter• Etiologi ?• Stenosis pilorik hipertrofi disebabkan kegagalan perkembangan atau proses degenerasi ganglion dan serabut saraf• Faktor familier herediter• Insiden stenosis pilotik hipertrofi terdapat satu di antara 300- 900 kelahiran.• Wanita : pria = 1:4
  21. 21. Gejala dan TandaTiga gejala pokok yang penting :1. Muntah proyektil mulai pada umur 2-3 minggu. Muntah tidak pernah berwarna hijau2. Kegagalan pertumbuhan dan kehilangan berat badan.3. ObstipasiDua tanda yang bisa ditemukan pada pemeriksaan fisik :1. Kontur dan peristaltik lambung terlihat di abdomen bagian atas2. Teraba tumor di daerah epigastrium atau hipokondrium kanan
  22. 22. Gejala dan TandaGejala dan tanda lain yang perlu diperhatikan:• Bayi selalu rewel dengan kesan lapar dan selalu ingin minum lagi setelah muntah• Hematemesis akibat perdarahan kecil karena gastritis dan pecahnya pembuluh darah kapiler lambung.• Pada stadium lanjut bayi dalam keadaan dehidrasi malnutrisi – hipokalemia dan alkalosis hipokloremik.• Hipoalbuminemia
  23. 23. Pemeriksaan Radiologi• Pemeriksaan foto barium dilakukan bila pada palpasi tidak teraba tumor• Pada foto barium akan terlihat saluran pylorus kecil dan memanjang disebut sebagai string sign• Pada fluoroskopi tampak pengosongan lambung terlambat. Lambung membesar dan jelas terlihat gambaran peristaltis.
  24. 24. Pemeriksaan Radiologi
  25. 25. TerapiPersiapan prabedah :• Pemasangan nasogastrik tube• Lambung dibilas dengan NaCl• Resusitasi cairan dan elektrolit, koreksi asam basa, hiponatremia dan hipokalemia.Tindakan pembedahan :• Piloromiotomi
  26. 26. ATRESIA SALURAN EMPEDUEtiologi :• Atresia saluran empedu adalah kelainan kongenital yang tidak diketahui etiologinya.• Berhubungan dengan kolangiohepatitis intra uteri yang mungkin disebabkan oleh virusBentuk klinis :• Ada dua jenis atresia saluran empedu, yaitu ektrahepatik dan intrahepatik.• Bentuk intrahepatik lebih jarang dibandingkan ekstrahepatik
  27. 27. ATRESIA SALURAN EMPEDU
  28. 28. Gejala dan Tanda Ikterik pada seluruh tubuh Sklera ikterik kuning pekat kehijauan Gatal-gatal pada kulit Hepar membesar Ascites Hernia umbilikalis Feces akolik steatorhea Urine kuning pekat
  29. 29. Diagnosis• Hiperbilirubinemia• Rasio bilirubin direk yang lebih tinggi• Pemeriksaan lain yang membantu diagnosis , yaitu memasukkan pipa lambung sampai ke duodenum, lalu cairan duodenum diaspirasi.• Diagnosis atresia ditegakkan bila tidak terdapat cairan empedu
  30. 30. PenatalaksanaanPersiapan prabedah : • Perbaiki keadaan umum • Resusitasi cairan dan elektrolit, koreksi asam basa, hiponatremia dan hipokalemia • Penggunaan susu formula MCT (Medium Chain Triglyseride)Tindakan pembedahan : • Bedah kasai (porto-enterostomi)

×