Bacharuddin Jusuf Habibie   Detik-Detik      yang   Menentukan  Jalan Panjang Indonesia     Menuju Demokrasi      THC Mand...
Detik-Detik yang Menentukan   Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi   Penulis: Bacharuddin Jusuf Habibie   Desain Kulit...
Daftar Isi        Pengantar                      i        Prolog                        1        Menjelangbab 1   Pengundu...
Pengantar    Sejumlah buku sudah terbit dan mengungkapkansejarah politik kontemporer Indonesia, khusus masalahirnya reform...
telah diambilnya dalam gaya penulisan inner dialog. Sebuahpercakapan dengan diri dan hati nuraninya dalammenghadapi sebuah...
mengatakan bahwa dalam sejarah politik di Indonesiareformasi telah terjadi, tetapi akan menjadi lain hasilnyatanpa kehadir...
karena apa yang dilakukannya tersebut merupakan bagianyang menentukan dari suatu proses demokratisasiIndonesia, yang masih...
bersama keluarga mendirikan The Habibie Center (THC),suatu lembaga kajian yang mandiri dan non-politik sebagaiwahana untuk...
bersejarah tersebut. Dengan demikian, terbukalah lebihbanyak prespektif yang akan memperkaya penulisansejarah Indonesia kh...
PrologP          rahara kembali menghantam bangsa Indonesia          dalam siklus 30 tahunan. Kemelut politik pada        ...
mendapat perhatian yang serius dari pemerintahan saat itu.Sementara dalam pembangunan perekonomian di Indonesia,tampak per...
Internasional (IMF), untuk membantu krisis pada 8 Oktober,tidak banyak membantu. Kebijakan pemerintah menutup 16bank membu...
kenyataan-kenyataan yang telah menimpa mereka. Ternyatapemerintah bukan saja tidak berhasil memberantas korupsi,justru seb...
ekonomi, melainkan menuntut perubahan kepemimpinannasional. Sejak itu, dari hari ke hari, tuntutan agar PresidenSoeharto m...
kembali menjadi presiden. Dalam sambutan tanpa teks,Presiden Soeharto menanggapi pencalonan itu dengan ceritaperwayangan t...
adalah perbuatan di luar dugaan, karena dilakukan sesamarakyat Indonesia yang sebelumnya terkenal dengankeramahan dan kesa...
puluhan bangunan dan kendaraan senilai 100 miliar rupiah,belum termasuk korban jiwa.     Tersangka kerusuhan tersebut menc...
Sabtu, 16 Mei l998, pukul 09.00, Presiden Soehartomenerima delegasi guru besar Universitas Indonesia yangdipimpin oleh Rek...
Alwi melanjutkan pernyataan Presiden Soeharto, “Sayabarangkali tidak dipercaya oleh rakyat, saya akan menjadipandito, akan...
nasional, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa,Pancasila dan UUD ‘45.    Untuk melaksanakan janji-janjinya tersebut, P...
pertanyaan dari pers. Namun, di depan pers Harmoko hanyamenjelaskan tanggapan Presiden bahwa reformasi akanjalan terus, ak...
Sebelum terjadi kerusuhan selama beberapa hari terakhiritu, dunia perbankan sedang mengalami kesulitan besar,akibat sejuml...
Akibat berbagai kerusuhan yang terjadi, rodaperekonomian mengalami kemacetan. Warga negara asingmenjadi takut tinggal di I...
mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat. Jumlah merekasemakin banyak di siang hari. Tuntutan reformasi totaltermasuk pengu...
Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas,    pimpinan dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua,    mengharapkan...
Dibyo Widodo; Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo Subianto;dan Danjen Kopassus, Mayjen TNI Muchdi PR. Hadir jugaSekjen Dephank...
melakukan berbagai tindakan yang nyata-nyata hanya akan   mengeruhkan suasana, bahkan tergiring untuk berhadapan   dengan ...
air, pimpinan DPR mengadakan Pertemuan Konsultasidengan pimpinan fraksi sekitar pukul 09.00. Rapat tersebutdilaksanakan se...
Presiden masih sangsi apakah pengganti —yang sesuaidengan konstitusi yaitu Wakil Presiden— dapat melanjutkantugas-tugasnya...
MPR, Soeharto lebih lanjut berjanji akan melaksanakan danmemimpin reformasi nasional secepat mungkin.    Presiden Soeharto...
rakyat masih menghendaki saya sebagai Presiden untuk masa bakti 1998−2003.      Baiklah, kalau demikian, tentu saya berter...
menjamin kehidupan kita dalam berbangsa danbermasyarakat.     Sedangkan kita memiliki dasar Pancasila dan UUD ‘45,berarti ...
kecil. Sehingga, untuk mengadakan rehabilitasi apalagi kelanjutan pembangunan, membutuhkan ketenangan, membutuhkan kesiapa...
daripada presiden asalkan bisa memberikan pengabdiankepada negara dan bangsa.     Jadi jangan dinilai saya sebagai penghal...
Anti-Korupsi, dan lainnya sesuai dengan keinginan   masyarakat.        Pemilihan Umum akan dilaksanakan secepat-cepatnya, ...
fraksi menyaksikan pernyataan tertulis Presiden Soehartomelalui televisi, pertemuan itu dilanjutkan.     Hasil pertemuan k...
Sementara itu, Wakil Presiden B.J. Habibie sedang menerimatamu didampingi Sekretaris Wakil Presiden, para AsistenWakil Pre...
dibicarakan dengan Presiden Soeharto. Ternyata hal tersebutbelum dilakukan Harmoko, karena pernyataan tersebutbersifat pri...
Hr. Republika           Mahasiswa dan masyarakat di Ibukota         di halaman Gedung DPR/MPR 18 Mei 1998                 ...
Sekneg.                 Upacara Pelantikan Presiden B.J. Habibie, 21 Mei 1998 di Istana NegaraHr. Republika               ...
Sekneg.Mantan Presiden Soeharto meninggalkan Istana Negara, 21 Mei 1998                                                   ...
Sekneg.          Bersama para Menteri Kabinet Reformasi Pembangunan                        di depan Istana NegaraSekneg.  ...
bab              1            Menjelang                                  Pengunduran Diri                                 ...
Musyawarah Nasional (Munas) Golkar pada bulanSeptember 1998 yang didahului oleh Musyawarah Daerah(Musda) Golkar di tiap pr...
Kunjungan itu bersifat rutin dan biasanya dilaksanakan ditempat dan waktu yang sama.    Sewaktu saya sedang mempelajari la...
Haryanto Dhanutirto, Justika Baharsjah, KuntoroMangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, RahardiRamelan, Subiakto Tjakraw...
Prabowo Subianto, Panglima Komando Cadangan StrategisAngkatan Darat (Kostrad) menemani saya. Pada kesempatanitu saya berta...
yang didampingi pula oleh Wakil Presiden. Semuanya agardipersiapkan sesuai prosedur yang berlaku, demikianinstruksi Presid...
kemampuan saya. Demikian sejumlah pertanyaanberkecamuk di benak saya.    Saya tahu persis Pak Harto sangat menyadari, bahw...
mengenakkan tersebut, maka saya mengalihkanpembicaraan dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah PakHarto sudah menerima surat...
pada Sidang Ad Hoc Kabinet Terbatas di kediaman saya diKuningan mulai pukul 22.00.    Dalam perjalanan dari Cendana ke Kun...
Doa tersebut berulang kali saya ucapkan dan berselingandengan membaca Al-Faatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.     S...
Pembangunan VII, saya menugaskan ADC untuk segeramenghubungkan saya dengan Presiden Soeharto.    Namun, sangat saya sayang...
MPR Harmoko yang menyampaikan bahwa ia dan parapimpinan DPR/MPR, bersama para Ketua Fraksi, dimintadatang ke Istana Merdek...
panutan dan idola anak bangsa sebagai seorang   profesional    Mendengar penjelasan dan ucapan Pak Harto tersebut,saya mem...
“Mau ke mana Pak Harto? Dan bagaimana nasib bangsa?” Dinamika gerakan protes dan demo yang tidak menentu sangat tinggi dan...
Penjelasan Pak Harto mengenai pengunduran dirinyasebagai Presiden RI, mungkin dapat saya peroleh padapertemuan empat mata ...
untuk mengelola dan mengambil keuntungan dari sumberdaya alam terbarukan dan tidak terbarukan.     Politik aparat pemerint...
Didukung oleh pengembangan sumber daya manusia,prasarana ilmu pengetahuan dan perekonomian, secarasistematis, transformasi...
Sejarah telah membuktikan bahwa para entrepreneurpaling banyak lahir dan dapat berkembang menjadi ungguldan andal dalam su...
kebijakan apa pun yang saya ambil mengandung risiko. Olehkarenanya, risiko itu harus diperhitungkan.     Setelah mempertim...
Gubernur Bank Indonesia dan Jaksa Agung selalu menjadianggota kabinet dan hadir pada semua sidang baik Paripurnamaupun Ter...
Bagaimana dengan pembangunan dalam bidang politik,bidang sosial, bidang budaya dan bidang-bidang yang bukanekonomi lainnya...
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Bj habibi   detik-detik yang menentukan
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bj habibi detik-detik yang menentukan

9,809 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
9,809
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
52
Actions
Shares
0
Downloads
212
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bj habibi detik-detik yang menentukan

  1. 1. Bacharuddin Jusuf Habibie Detik-Detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi THC Mandiri
  2. 2. Detik-Detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi Penulis: Bacharuddin Jusuf Habibie Desain Kulit: Anom Hamzah Layout: M. Ilyas Thaha Foto kulit: Harian Umum Republika/Sekneg Cetakan Pertama September 2006 Cetakan Kedua September 2006 Diterbitkan oleh: THC Mandiri Jl Kemang Selatan No. 98 Jakarta 12560 - Indonesia Tel: 6221 7817211, Fax: 6221 7817212 www.habibiecenter.or.id, E-mail: thc@habibiecenter.or.idPerpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi / Bacharuddin Jusuf Habibie. -- Jakarta, THC Mandiri, 2006. 549 hlm. ; 15 x 21 cmISBN: 979-99386-6-X 1. Demokrasi. 321.8 Hak Cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.
  3. 3. Daftar Isi Pengantar i Prolog 1 Menjelangbab 1 Pengunduran Diri Pak Harto 31bab 2 100 Hari Pertama Menghadapi Masalah Multikompleks dan Multidimensi 69 Antara 100 Hari Pertamabab 3 dan 100 Hari Terakhir, Sebelum Pemilihan Presiden ke-4 RI 159 Seratus Hari Sebelumbab 4 Pemilihan Presiden ke-4 RI 301 Epilog 447 Lampiran 510 Akronim 523 Glosari 529 Indeks 536 Biodata 546
  4. 4. Pengantar Sejumlah buku sudah terbit dan mengungkapkansejarah politik kontemporer Indonesia, khusus masalahirnya reformasi yang ditandai dengan mundurnyaPresiden Soeharto dari gelanggang politik di Indonesia.Buku-buku tersebut —beberapa di antaranya ditulis olehpelaku sejarah— telah membantu kita menelaah sejarahperpolitikan di Indonesia, dalam sebuah kurun waktutertentu. Tetapi, sejujurnya, buku yang ditulis secaradeskriptif dengan berbagai sumber-sumber utama dansekunder itu, belum lengkap mengungkapkan apa yangsebetulnya telah terjadi. Dengan kehadiran buku Detik-Detik YangMenentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi,ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI,semakin melengkapi khazanah sejarah politik kontemporerIndonesia. Bacharuddin Jusuf Habibie, salah seorang pelakuutama sejarah pada masa lahirnya reformasi di Indonesia.Fakta yang dihadirkan dalam buku ini otentik, berdasarkancatatan dan pengalaman pribadi pelaku sejarah yangbelum pernah diungkapkan. Fakta yang ada, tidak diberi“hiasan” dan “warna”, tetapi disampaikan seperti apaadanya. Selain memberikan fakta-fakta sejarah, penulis punmelakukan analisis apa yang telah terjadi. Penulismemberikan penilaian dan penjelasan tentang langkah-langkah serta gagasan maupun keputusan penting yang i Pengantar
  5. 5. telah diambilnya dalam gaya penulisan inner dialog. Sebuahpercakapan dengan diri dan hati nuraninya dalammenghadapi sebuah peristiwa atau kejadian yangdihadapinya. Tidak hanya itu, beberapa bagian tulisan,disuguhkan berupa “dramatisasi” beberapa peristiwa,selain suspensi, dengan gaya khas penulisnya membuatpembaca buku ini seperti membaca sebuah novel. Dengan latar belakang profesi penulis sebagai insinyur,ditambah pengalaman sebagai salah seorang tokoh sentraldalam pemerintahan lebih dari dua dekade, BacharuddinJusuf Habibie, mendemonstrasikan secara unik, bahwapemikiran dan analisis yang menghasilkan kebijakanpenting pada masa-masa pemerintahannya, berlandaskansejumlah “model” yang dikembangkannya sendiri. Model-model itulah yang menuntun dan menjadi pegangannyadalam membuat analisis sebelum menentukan sebuahtindakan dan kebijakan. Kerena itu, pelaku sejarah iniyakin, tidak satu pun kebijakan yang diambilnya dilakukansecara acak atau random. Itulah sebabnya, BacharuddinJusuf Habibie melaksanakan tugas-tugasnya secarakonsisten dan konsekuen. Tindakan tersebut terbentuk olehmotivasi yang dilandasi nilai agama dan budaya yang telahmelekat pada dirinya. Nilai itu pula telah menjadi prinsiphidup dan menjadi karakter pribadinya. Dalam episode sejarah pemerintahannya, pelakusejarah selamat mentransformasi sistem kekuasaan otoriterke sistem demokrasi. Menyelamatkan negara dan bangsaIndonesia dari ancaman —seperti yang ditulis dalam bukuini— proses “Balkanisasi” dan “perang saudara”,sebagaimana yang terjadi pada beberapa negara danbangsa lain, yang harus membayar reformasi dandemokratisasi dengan amat mahal, pecah berkeping-kepingoleh perang saudara. Karena itu, tidak berlebihan untuk Detik-Detik yang Menentukan ii
  6. 6. mengatakan bahwa dalam sejarah politik di Indonesiareformasi telah terjadi, tetapi akan menjadi lain hasilnyatanpa kehadiran Bacharuddin Jusuf Habibie. Bacharuddin Jusuf Habibie baru mengungkapkansebagian kecil dalam buku ini. Sebagai pelaku utama sejarahpada masa kelahiran reformasi, ribuan halamanan lainnya—yang masih dalam bentuk tulisan tangan— masihdisimpannya dan hanya akan dikeluarkan pada suatu masakelak. Fakta dan ungkapan yang ada dalam buku ini, hanyalah“detik-detik” yang dianggap penting dan bisadipublikasikan, tanpa dampak politik yang akanmemengaruhi jalannya reformasi di Indonesia. Buku iniditulis berdasarkan catatan harian yang menjadikebiasaannya sejak kecil, serta laporan yang diterimanya. Mengenai judul buku “Detik-detik yang Menentukan: JalanPanjang Menuju Demokrasi”, menurut penulis dipilihberdasar pertimbangan bahwa semasa menjabat sebagaipresiden, penulis menyadari bahwa Indonesia sedangberada pada “persimpangan jalan”, suatu keadaan yangkritis, yang kalau ia mengambil kebijakan (jalan) yangsalah, akan dapat berakibat perang saudara ataubalkanisasi. Ia memilih suatu proses evolusi yang dipercepatdengan perencanaan yang matang, sebagai upayapenyelamatan bangsa dari situasi kritis tersebut. Penulis banyak mengambil keputusan yang tidakpopular, baik yang bersifat irreversible —seperti masalahTimor Timur, kemandirian Bank Indonesia, dsb.— maupunyang bersifat reversible. Keputusan tersebut diambil dengancepat dangan memperhitungkan sekecil mungkin risikoyang mungkin terjadi. Itulah mengapa Penulis memilihistilah “Detik-detik yang Menentukan”. Sementara “Jalan Panjang Menuju Demokrasi” dipilih iii Pengantar
  7. 7. karena apa yang dilakukannya tersebut merupakan bagianyang menentukan dari suatu proses demokratisasiIndonesia, yang masih dan akan terus berlangsung sampaitata-kehidupan yang dicita-citakan bangsa Indonesiaterapai. Isi buku ini —sebagai bagian dari catatan pribadi pelakusejarah— akan menjadi sebuah unit sejarah yang penting,bagian dari “mosaik” episode sejarah bangsa Indonesia yangpanjang dan berkelanjutan. Struktur buku ini terdiri dari dua bagian utama. Tulisaninti terdapat pada Bab I sampai dengan Bab IV, selebihnyaProlog dan Epilog. Bab I sampai Bab IV dibuat olehpenulisnya sebagai pelaku sejarah, sementara Prolog danEpilog, ditulis oleh sebuah tim, berdasarkan fakta dariberbagai sumber tertulis, serta pendapat dan analisis darisejumlah pelaku sejarah lain yang terlibat langsung dalamreformasi. Mengapa baru enam tahun lebih setelah masakepresidenannya Penulis mempublikasikan catatannya? Dari penjelasan penulis, diketahui ada dua alasanmengapa buku ini baru diterbitkan. Pertama, Penulis ingin agar buku ini dapat ikutmembantu terciptanya situasi kondusif bagi prosestranformasi bangsa menuju kehidupan demokrasi.Mengingat sebagian isinya dapat “mengganggu” apabiladiterbitkan terlalu dini, maka penulis memilih waktu yangtepat untuk menerbitkannya, yaitu tatkala proseskonsolidasi demokrasi bangsa telah semakin mantap, yangantara lain ditandai dengan terlaksananya pemilihanpimpinan (nasional dan daerah) secara langsung olehrakyat, melalui pemilihan yang jujur dan adil. Kedua, sebagaimana diketahui, kurang dari sebulansetelah menyelesaikan tugas sebagai presiden, penulis Detik-Detik yang Menentukan iv
  8. 8. bersama keluarga mendirikan The Habibie Center (THC),suatu lembaga kajian yang mandiri dan non-politik sebagaiwahana untuk —bersama-sama dengan para koleganya—ikut mengawal proses transformasi bangsa menuntaskanreformasi. Itulah sebabnya THC memfokuskan kegiatannyapada kajian dan advokasi bagi tegaknya kehidupandemokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. Begitubesarnya harapan penulis pada lembaga yang didirikannyaini, sampai-sampai penulis menunda beberapa bulan untukmengantar istrinya berobat ke Jerman, guna meyakinkanlembaga yang didirikannya itu telah benar-benar berfungsisebagaimana yang diharapkan. Dan THC inilah —melaluisalah satu sayap kegiatannya, PT THC Mandiri— yangdipercaya penulis untuk menerbitkan buku ini. Melalui penerbit, penulis menyampaikan penghargaandan terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat dalampenulisan buku ini. Terutama kepada tim editor: AndiMakmur Makka dan Ahmad Watik Pratiknya, serta kepadatim “reader” yang juga memberi masukan untuk penulisanProlog dan Epilog, yaitu: Satrio B. Joedono, Muladi, DewiFortuna Anwar, Abdul Malik Fadjar, Sofian Effendi,Haryanto Dhanutirto, Wardiman Djojonegoro, Umar Juoro.Terima kasih penulis juga disampaikan kepada RyaasRasyid, Quraish Shihab, Hermawan K. Dipojono, HidayatNurwahid, Robert Elson, dan Bilveer Singh.Begitu pulakepada segenap staf The Habibie Center yang telah turutberpartisipasi mempersiapkan penerbitan buku ini Buku ini disumbangkan kepada khazanah sejarahIndonesia. Namun, penulis berkeinginan pula mengetahui,bagaimana reaksi orang lain mengenai apa yang telahdiungkapkannya. Dengan harapan, buku ini akan memberimotivasi dan stimulus bagi siapa pun untuk menuliskanpula apa yang mereka ketahui dan alami pada masa-masa v Pengantar
  9. 9. bersejarah tersebut. Dengan demikian, terbukalah lebihbanyak prespektif yang akan memperkaya penulisansejarah Indonesia khususnya masa reformasi. Kami menyadari, buku ini belumlah sempurna, karenaitu, kami mengharapkan masukan dan saran dari pembacauntuk lebih menyempurnakannya pada edisi-edisimendatang.Terima kasih.Penerbit Detik-Detik yang Menentukan vi
  10. 10. PrologP rahara kembali menghantam bangsa Indonesia dalam siklus 30 tahunan. Kemelut politik pada pertengahan dekade 1960-an kembali berulang menjadi krisis multidimensional yang diawalidengan adanya krisis moneter pada pertengahan 1997. Salah urus kenegaraan memasuki tahun 1960-an, telahmembawa Indonesia dalam kesulitan ekonomi yang sangatberat. Inflasi mencapai 650 persen. Korupsi merajalela.Barang kebutuhan pokok sehari-hari mengalami kelangkaandi mana-mana. Kondisi buruk tersebut diperparah oleh krisispolitik yang akhirnya memuncak pada tragedi nasionaldengan korban jiwa banyak orang pada tanggal 30September 1965. Melalui usaha keras disertai bantuan negara-negaradonor, Indonesia akhirnya berhasil bangkit kembali. Selamatiga dasawarsa berikutnya, Indonesia menikmatipertumbuhan ekonomi yang mengesankan, bahkan disebutsebagai Negara Asia Berkinerja Tinggi oleh Bank Dunia. Memasuki dasawarsa 1990-an, pemerintahan Orde Barumulai menampakkan kekurangan-kekurangannya yangmendapat kritik tajam, karena pemerintahan yang terlalusentralistis, serta munculnya korupsi, kolusi, dan nepotismesecara signifikan. Tetapi, semua kritik tersebut tidak 1 Prolog
  11. 11. mendapat perhatian yang serius dari pemerintahan saat itu.Sementara dalam pembangunan perekonomian di Indonesia,tampak pertumbuhan yang sangat pesat, bahkan dalamlaporan tahunan 1997, Bank Dunia masih meramalkanpertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat rata-rata 7,8persen. Dalam pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, padapertengahan 1997, timbullah krisis moneter di mana situasisemakin tidak terkontrol dan berkembang menjadi krisismultidimensional berkepanjangan di berbagai bidang.Efeknya sangat menyengsarakan rakyat. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia adalah efekdomino dari krisis serupa yang dimulai dengan menurunnyanilai mata uang Thailand baht terhadap dolar AS pada 2Juli 1997, dari 24,7 baht per dolar AS menjadi 29,1 baht perdolar AS. Puncak krisis moneter di Thailand tersebut adalahpenutupan 56 dari 58 lembaga keuangan utama pada 8Desember 1997. Krisis penurunan nilai mata uang bath diikuti negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya, sepertiFilipina, Malaysia, Indonesia, dan Korea Selatan. Negara-negara ini diperkirakan memiliki struktur perekonomiantidak jauh berbeda dengan Thailand. Krisis memicu pelarianmodal asing dari negara-negara tersebut, membuat sistemperbankan di negara-negara tersebut ambruk satu demi satu. Di Indonesia, tanda-tanda adanya krisis terjadi padaminggu kedua Juli 1997, ketika kurs rupiah merosot dariRp2.432 per dolar AS menjadi sekitar Rp3.000 per dolar AS.Bank Indonesia berusaha membuat sejumlah kebijakandengan melebarkan rentang kendali rupiah, namun krisismoneter, yang diikuti dengan semakin menipisnya tingkatkepercayaan, membuat nilai rupiah semakin sulit dikontrol. Langkah Presiden Soeharto mengundang Dana Moneter Detik-Detik yang Menentukan 2
  12. 12. Internasional (IMF), untuk membantu krisis pada 8 Oktober,tidak banyak membantu. Kebijakan pemerintah menutup 16bank membuat pelaku usaha semakin hilang arah. Nilairupiah semakin terperosok pada level Rp5.097 per dolar AS.Pada 8 Januari 1998, rupiah semakin lemah menjadi Rp9.800per dolar AS dan mencapai Rp11.050 pada akhir Januari1998. Dampak krisis moneter mengakibatkan sistem perbankandi Indonesia tidak berfungsi dengan baik dalam waktu cukuplama, sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhansektor riil dan dunia usaha. Kegiatan bisnis mengalamistagnasi. Persediaan barang, khususnya kebutuhan bahanpokok, mengalami hambatan, baik untuk kebutuhandomestik maupun ekspor. Krisis pangan dan penyediaansembako (sembilan bahan pokok) pun tidak dapat dihindari. Macetnya dunia usaha mengakibatkan perusahaanmelakukan pemutusan hubungan kerja, semakinmemperbanyak jumlah pengangguran yang meningkat sejak1995. Di samping itu, Indonesia juga dihadapkan padapertambahan 3,2 juta jiwa angkatan kerja baru tiap tahun.Mereka yang tidak tertampung dalam dunia formal akhirnyabergerak di sektor informal dengan produktivitas yangrendah. Krisis moneter itu menyebabkan peningkatan jumlahpengangguran terbuka, dari 4,68 juta orang pada 1997,menjadi 5,46 juta orang pada 1998. Demikian pula jumlahsetengah pengangguran, meningkat dari 28,2 juta jiwa pada1997 menjadi 32,1 juta jiwa pada 1998. Pertambahan jumlahpenganggur dan setengah penganggur tersebutmengakibatkan penurunan pendapatan masyarakat,selanjutnya berimplikasi pada krisis sosial di berbagai bidangdan memengaruhi keamanan masyarakat. Ekses lebih jauh, masyarakat mulai resah dan takut akan 3 Prolog
  13. 13. kenyataan-kenyataan yang telah menimpa mereka. Ternyatapemerintah bukan saja tidak berhasil memberantas korupsi,justru sebaliknya malah menyuburkannya. Ini terjadi dalamlingkungan pemerintahan pusat dan daerah, dari lapisjabatan tertinggi sampai yang paling bawah. Kolusi yangmenyuburkan monopoli telah melebarkan jurang antarakaya–miskin, karena hanya sekelompok orang saja yangmenikmati kesempatan dan fasilitas-fasilitas khusus dibidang ekonomi, sementara bagian terbesar rakyat tetaphidup di bawah garis kemiskinan. Konsentrasi pembangunanpun masih banyak di Jawa, sementara daerah-daerah luarJawa tetap saja tertinggal. Globalisasi dan perkembangan masyarakat dunia yangtransparan dan sarat informasi, mendorong berlangsungnyaperubahan-perubahan pesat, telah memicu banyakperubahan di dunia. Rakyat Indonesia menanggapinyadengan menuntut kebebasan, transparansi, keadilan,demokrasi, dilandaskan pada nilai-nilai hak asasi manusia,tanggung jawab asasi, serta keamanan umat manusia (humansecurity) dalam waktu sesingkat-singkatnya. Rakyat sudah memiliki lebih banyak kebebasan,transparansi lebih besar, lebih berani, tetapi sekaligus jugamakin kebingungan, lebih pesimistis tentang masa depanmereka, bahkan lebih abai. Ketidakpastian adalah akibat dari perubahan-perubahancepat seperti itu dan ketidakpastian pulalah yang mengubahkredibilitas politik maupun ekonomi. Kecemasan masyarakat itu akhirnya terefleksikan dalamaksi-aksi unjuk rasa, terutama dimotori kalangan mahasiswa.Pada mulanya, belum terdengar tuntutan agar Presidenmengundurkan diri. Namun selanjutnya, semakin tampakdukungan rakyat kepada pemerintah mulai surut. Akhirnya,unjuk rasa bukan lagi menuntut perubahan politik dan Detik-Detik yang Menentukan 4
  14. 14. ekonomi, melainkan menuntut perubahan kepemimpinannasional. Sejak itu, dari hari ke hari, tuntutan agar PresidenSoeharto mengundurkan diri semakin nyaring. Pada malam resepsi HUT Golkar ke-33 20 Oktober 1997,Presiden Soeharto tidak serta-merta menerima pencalonankembali dirinya oleh Golkar menjadi Presiden (periode 1998-2003). Pencalonan Golongan Karya ini sangat penting,mengingat Golkar memiliki 567 kursi dari 1000 kursi di MPR.Pemilihan Umum tahun 1997 menempatkan Golkar sebagaipemenang dengan 74,51 persen, sehingga memperoleh 325kursi di DPR. Sesuai ketentuan perundangan yang ada,maka Fraksi Golkar di MPR kemudian mendapat tambahan242 kursi, sehingga menjadi 567 kursi atau 56,7 persen. Seperti diketahui, sistem politik yang berlaku saat itumenjadikan Presiden mempunyai kekuasaan yang amatbesar. Sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar dan sebagaiPresiden, Presiden Soeharto mengendalikan Fraksi Golkardan Fraksi ABRI di DPR maupun Fraksi Golkar, Fraksi ABRI,dan Utusan Daerah di MPR, melalui seorang KoordinatorHarian Keluarga Besar Golkar dan beberapa orangkoordinator harian pengganti. Dengan demikian, di DPR Presiden dapatmengendalikan 400 kursi (325 kursi Fraksi Golkar dan 75kursi Fraksi ABRI) atau sebesar 80 persen; dan di MPRmengendalikan 829 kursi (576 kursi Fraksi Golkar, 113 kursiFraksi ABRI dan 149 kursi Utusan Daerah) atau sebesar 83persen. Dengan konsep Keluarga Besar Golkar tersebut,memang presiden mempunyai pengaruh yang amat besardan amat menentukan tiap keputusan yang dibuat oleh DPRmaupun MPR. Meskipun demikian, Presiden Soeharto meminta agarproses pencalonannya kembali dicek lagi, apakah benarsemua jajaran Keluarga Besar Golkar menghendaki dirinya 5 Prolog
  15. 15. kembali menjadi presiden. Dalam sambutan tanpa teks,Presiden Soeharto menanggapi pencalonan itu dengan ceritaperwayangan tentang seorang prabu (raja) yang akan turundari singgasana dan siap menjadi pandito. Rakyat membaca siratan kisah tersebut sebagai isyaratbahwa Presiden Soeharto tidak mau dicalonkan kembalisebagai presiden pada periode berikutnya. Karena itu, setelahterpilih kembali dalam Sidang Umum MPR 11 Maret 1998,dalam setiap demonstrasi mahasiswa di kota-kota besar diJawa, seruan pengunduran diri Presiden mulai terdengar. Kegalauan masyarakat juga terungkap dalampemberitaan media massa. Jika media massa sebelumnyadibatasi oleh berbagai ketentuan dalam pemberitaan,sekonyong-konyong menampakkan keberanian danindependensinya. Media massa mulai bebas menurunkanpemberitaan dan opini yang menyuarakan aspirasi rakyat.Euforia pers nasional tersebut kian mendapat tempat,dengan adanya kebijakan lunak dari pemerintah, seiringdengan tuntutan reformasi. Rangkaian aksi kerusuhan mencapai puncaknya ditandaidengan meletusnya Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Padawaktu itu, mahasiswa Universitas Trisakti sedangmelancarkan aksi unjuk rasa, namun mereka dihadang olehaparat keamanan, dan terjadilah bentrokan yangmenewaskan empat orang mahasiswa akibat tembakanpeluru tajam. Tragedi ini menjadi bagian pemicu bagirangkaian kerusuhan yang lebih besar pada tanggal 13-15Mei. Kerusuhan juga berlangsung di beberapa daerah, telahmenimbulkan korban ratusan jiwa dan harta benda. Aksi-aksi kekerasan massa, perusakan, pembakaran, penjarahan,hingga tindakan asusila, menimbulkan kesedihan dan lukayang mendalam bagi bangsa Indonesia. Aksi kekerasan itu Detik-Detik yang Menentukan 6
  16. 16. adalah perbuatan di luar dugaan, karena dilakukan sesamarakyat Indonesia yang sebelumnya terkenal dengankeramahan dan kesantunannya. Ketika puncak peristiwa kerusuhan ini terjadi, PresidenSoeharto sedang berada di Kairo, Mesir, untuk mengadakanpertemuan G-15 pada tanggal 13-14 Mei l998. Melihat semuaperistiwa yang memilukan ini, Wakil Presidenmenyampaikan pernyataan keprihatinan pemerintah yangamat mendalam dan seruan kepada masyarakat agarmenahan diri. Pernyataan dan seruan ini dibacakan di IstanaWakil Presiden pukul 23.00 pada hari Rabu malam. Di Jakarta, korban-korban akibat kerusuhan telahberjatuhan. Pemerintah Daerah Tangerang mencatat lebihseratus jenazah hangus terbakar di sebuah komplekspertokoan. Pemda Bekasi juga menemukan puluhan mayatkorban kerusuhan. Pusat Penerangan ABRI melaporkanjumlah korban jiwa mencapai 500 orang. Belum lagi korbankerusuhan yang terjadi di Surakarta Jawa Tengah danbeberapa daerah lain, diperkirakan korban melebihi jumlahtersebut. Gubernur DKI Jaya, Sutiyoso, kepada persmengumumkan, sedikitnya 4.939 bangunan rusak dibakar,1.119 mobil pribadi hangus, angkutan umum 66 buah, dan821 sepeda motor hangus terbakar. Rumah penduduk yangterbakar mencapai 1.026 buah. Jumlah bank yang dirusaksebanyak 64, terdiri 313 kantor cabang, 179 kantor cabangpembantu, dan 26 kantor kas. Total kerugian fisik bangunanditaksir mencapai 2,5 triliun rupiah lebih, belum termasukisinya. Kerugian akibat kerusuhan Mei 1998 jauh lebih burukdibandingkan kerusuhan Malapetaka 15 Januari 1974(Malari) di Jakarta yang telah merusak 144 bangunan ataudibandingkan Kasus 27 Juli 1996, yang menghancurkan 7 Prolog
  17. 17. puluhan bangunan dan kendaraan senilai 100 miliar rupiah,belum termasuk korban jiwa. Tersangka kerusuhan tersebut mencapai sekitar 1.000orang yang sempat ditangkap aparatur. Mereka adalah parapelaku kerusuhan dan pejarahan di Jakarta dan sekitarnya. Setelah Presiden Soeharto selesai mengikuti KonferensiTingkat Tinggi (KTT) kelompok G-15 di Kairo Mesir, 13–14Mei 1998, Presiden Soeharto mengadakan acara silaturahmidengan masyarakat Indonesia di Kairo. Sebagaimanadikutip beberapa media, Presiden Soeharto mengatakan, bilarakyat tidak lagi memberi kepercayaan dirinya sebagaipresiden, maka ia siap mundur dan tidak akanmempertahankan kedudukannya dengan kekuatan senjata.Ia selanjutnya akan mengundurkan diri dan mendekatkandiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu. Namun, Presiden Soeharto menekankan bahwa semuaitu harus dilakukan secara konstitusional, sebab jikadilakukan secara inkonstitusional, berarti mengkhianatiPancasila dan UUD ‘45. Soeharto mengungkapkankeputusannya tersebut dalam bahasa Jawa yang terkenaldengan istilah lengser keprabon mandeg pandito. Istilah inibermakna, berhenti dari jabatan yang diemban dankemudian beralih menjadi pandito. Selesai KTT G-15 di Kairo Mesir, pada tanggal 15 Meil998, Presiden Soeharto kembali ke tanah air dan mendaratdi lapangan Halim Perdanakusuma di Jakarta, subuh dinihari. Menjelang siang hari, Presiden Soeharto menerima WakilPresiden B.J. Habibie dan sejumlah pejabat tinggi negaralainnya. Presiden Soeharto meminta laporan perkembanganterakhir mengenai keadaan tanah air, dan menjelaskanpemberitaan mengenai keinginannya untuk mundur. Detik-Detik yang Menentukan 8
  18. 18. Sabtu, 16 Mei l998, pukul 09.00, Presiden Soehartomenerima delegasi guru besar Universitas Indonesia yangdipimpin oleh Rektor UI Asman Budisantoso di JalanCendana Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Kepala Negaramenegaskan bahwa menjadi presiden bukanlahkeinginannya, tetapi sebagai wujud rasa tanggung jawabsebagai mandataris MPR. Tujuan pertemuan dengan sejumlah guru besarUniversitas Indonesia tersebut adalah penyampaian hasilsimposium “Kepedulian UI terhadap Tatanan Masa DepanIndonesia”. Dalam pertemuan tersebut, hadir Wakil PresidenB.J. Habibie, para menteri koordinator, dan Sekretaris Negara. Pertemuan selesai pukul 10.45. Presiden Soehartoselanjutnya menerima pimpinan DPR yang sebelumnyasudah berada di Jalan Cendana untuk mengadakan rapatkonsultasi dengan Presiden. Pertemuan dengan pimpinan DPR, yang terdiri atasHarmoko (ketua), Ismail Hasan Metareum, Fatimah Ahmad,Syarwan Hamid, Abdul Gafur (wakil) dan Sekretaris JenderalDPR RI, Afif Maroef dimulai pukul 11.00. Presiden Soeharto mengawali pertemuan ini denganmenanggapi pemberitaan pers, yang menjelaskan bahwa iasiap mundur dari jabatan presiden, adalah tidak benar. Apayang telah menjadi berita utama media ternyata tidak sesuaidengan maksudnya. Bantahan serupa sebelumnya memangtelah dikemukakan oleh Menteri Penerangan Alwi Dahlan. Menurut Alwi, Presiden Soeharto tidak pernahmengatakan “akan mundur”. Menpen selanjutnyamengulangi kata demi kata apa yang telah diucapkan PresidenSoeharto di Kairo tersebut. Presiden, jelas Alwi, mengatakan,“Kalau masyarakat tidak lagi memberikan kepercayaan,sebenarnya tidak ada masalah. Kalau tidak percaya ya sudah.Saya tidak akan mempertahankan dengan kekuatan senjata.” 9 Prolog
  19. 19. Alwi melanjutkan pernyataan Presiden Soeharto, “Sayabarangkali tidak dipercaya oleh rakyat, saya akan menjadipandito, akan mendekatkan diri dengan Tuhan. Membimbinganak-anak supaya menjadi orang yang baik, kepadamasyarakat bisa memberikan nasihat, bagi negara tut wurihandayani.” Pada awalnya, Pimpinan DPR bermaksud mengadakanklarifikasi atas pernyataan Presiden Soeharto di Kairo, tentangkeinginannya siap mundur sebagai Presiden. Tetapi, materikonsultasi itu berubah dan Pimpinan DPR menyampaikandua hal. Pertama, Dewan akan menyampaikan AgendaReformasi. Kedua, Dewan menyampaikan aspirasi masyarakatyang datang ke DPR. Dalam pertemuan antara Presiden Soeharto danPimpinan DPR tersebut, Presiden mengenakan safari coklat,tampak ceria dan tidak terlihat adanya tanda-tandakelelahan walau ia baru saja tiba di Jakarta dari Kairo. Harmoko, yang berbicara atas nama Pimpinan DPR/MPR, menyampaikan sejumlah tuntutan reformasi yangsemakin mengalir deras. Tuntutan reformasi itu pada intinyadapat disimpulkan menjadi tiga hal. Pertama, perlunyamelaksanakan reformasi total. Kedua, menyampaikankeinginan rakyat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri.Ketiga, mendesak dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR. Dalam pertemuan dengan Pimpinan DPR yangberlangsung 1 jam 30 menit tersebut, Presiden Soehartoselanjutnya meminta penilaian DPR. Ia juga bertanya,apakah DPR dengan fraksi-fraksinya juga menilai dirinyaakan mengundurkan diri. Presiden Soeharto menambahkan, ia mengerti adanyakegelisahan rakyat dan adanya kerusakan. Karena itu, iamenegaskan akan melindungi harta benda rakyat, aset Detik-Detik yang Menentukan 10
  20. 20. nasional, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa,Pancasila dan UUD ‘45. Untuk melaksanakan janji-janjinya tersebut, PresidenSoeharto menegaskan tiga hal. Pertama, mempersilakankelanjutan jalannya reformasi. Kedua, memperbaiki kinerjapemerintahan dengan melakukan reshuffle kabinet. Danterakhir, Presiden akan menggunakan wewenang untukmelindungi keamanan rakyat dengan Tap MPR No. 5/1998. Menanggapi penjelasan Presiden Soeharto tersebut,Ketua DPR Harmoko menanyakan tentang aspirasi rakyatyang menghendaki pengunduran diri Presiden. Presiden Soeharto pun menjawab, “Ya, itu terserah DPR.Kalau Pimpinan DPR/MPR menghendaki, ya saya mundur,namun memang tidak ringan mengatasi masalah ini.” Harmoko pun langsung merespons, apakah hal tersebuttidak sebaiknya dilakukan oleh Fraksi MPR, sebab FraksiMPR lah yang mengangkat Presiden. Menanggapi usulan Ketua DPR tersebut, PresidenSoeharto menjawab, “Tidak perlu, karena anggota DPR yangberanggotakan 500 orang, sudah mencerminkan anggotaMPR.” Pernyataan Presiden Soeharto kepada rombonganPimpinan DPR, kurang lebih sama dengan yang sudahdisampaikan kepada delegasi pimpinan UniversitasIndonesia, di tempat yang sama. Presiden Soeharto sudah mengatakan, jika rakyatmemang menginginkan dia diganti, ia mempersilakan, asaldilakukan secara konstitusional, dan hal itu sepenuhnyaberada di tangan DPR/MPR. Jabatan yang diembannyasekarang, tegas Soeharto, tidak atas kemauan sendiri, tetapiatas kehendak rakyat yang disalurkan melalui DPR/MPR,sehingga semuanya terserah kepada DPR. Seusai pertemuan, Harmoko mendapat berbagai 11 Prolog
  21. 21. pertanyaan dari pers. Namun, di depan pers Harmoko hanyamenjelaskan tanggapan Presiden bahwa reformasi akanjalan terus, akan ada reshuffle kabinet, dan akan digunakanTap MPR No. 5/1998 untuk melindungi rakyat. Adapun tentang pernyataan pengunduran diri Presiden,tidak dikemukakan Harmoko, karena hal tersebut belumdibahas dengan fraksi-fraksi. Namun, media khususnyasurat kabar yang terbit sore, telah memberitakan bahwaPresiden Soeharto akan mengundurkan diri jika adapermintaan dari rakyat dan permintaan itu harus disalurkanmelalui DPR. Berita media tersebut dikutip dari pernyataandelegasi UI.Ahad, 17 Mei l998 Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita, sebelum menemuiPresiden Soeharto di Jalan Cendana, memaparkan kepadapers, bahwa di DKI Jakarta sedikitnya terdapat lima ratussatuan usaha yang mengalami gangguan. Jika satu usahamenyerap 10 pekerja, maka akan terdapat 50.000 orang yangmengalami gangguan, belum termasuk keluarganya. Ketika bertemu Presiden Soeharto, Menko Ekuin datangbersama Menhankam/Pangab, Wiranto; Mentamben,Kuntoro Mangkusubroto; Menteri Perhubungan, Giri Suseno;Menperindag, Muhammad Hasan; Gubernur BI, SjahrilSabirin; Kepala Bulog, Beddu Amang; Gubernur DKI Jakarta,Sutiyoso; dan Pangdam Jaya, Mayjen TNI SjafrieSjamsoeddin. Ginandjar menambahkan, kerugian material kerusuhanitu, juga menyebabkan terganggunya sistem perekonomian,terutama dalam jangka panjang. Kerusuhan tidak hanyamengganggu pusat perdagangan besar, tapi juga kegiatanhulu hingga hilir. Detik-Detik yang Menentukan 12
  22. 22. Sebelum terjadi kerusuhan selama beberapa hari terakhiritu, dunia perbankan sedang mengalami kesulitan besar,akibat sejumlah bank ditutup. Pemerintah telahmenempatkan sejumlah bank di bawah pengawasan BadanPenyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Menurut Gubernur BI, Sjahril Sabirin, ada 501 kantorbank dan 220 ATM mengalami kerusakan akibatpembakaran, perusakan, dan penjarahan. Pada 14 dan 15Mei, sejumlah bank tidak bisa beroperasi, sehingga BImeniadakan kliring. Tetapi Bank Indonesia kondisinya sudahnormal dan mulai beroperasi secara penuh sejak Senin, 18Mei 1998. Sementara itu, untuk mengantisipasi kekhawatiran akankelangkaan bahan pokok kebutuhan sehari-hari, pemerintahmengimbau agar masyarakat tidak membeli barang secaraberlebihan, setelah pada beberapa hari terakhir munculkelangkaan bahan pokok, akibat tertutupnya sejumlah besartoko-toko. Isu kelangkaan bahan kebutuhan pokok sehari-hari ini semakin menggelisahkan rakyat. Untuk menghilangkan kegelisahan tersebut,Menperindag Bob Hasan mengumumkan bahwa pemerintahakan menjamin persediaan barang, dan mengimbaumasyarakat untuk tidak memborong berbagai kebutuhansehari-hari. Tetapi, masyarakat sudah terlanjur panik.Mereka tetap membeli bahan kebutuhan pokok secaraberlebihan. Susu bubuk untuk bayi dan beberapa barangkebutuhan pokok keseharian menghilang dari toko danpusat-pusat perbelanjaan. Sementara itu, Menteri Pertambangan KuntoroMangkusubroto menjelaskan kerugian yang dideritaPertamina akibat rusaknya sejumlah pompa bensin di Jakarta.Kendati demikian, papar Kuntoro, Pertamina dan PLN tetapmenjamin penyediaan BBM serta listrik bagi masyarakat. 13 Prolog
  23. 23. Akibat berbagai kerusuhan yang terjadi, rodaperekonomian mengalami kemacetan. Warga negara asingmenjadi takut tinggal di Indonesia, terutama Jakarta.Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkanagar 8.000 warganya di Jakarta segera meninggalkanIndonesia pada Jumat, 15 Mei 1998. Juru bicara KedutaanBesar Amerika Serikat di Jakarta mengumumkan, bila warganegara mereka tidak memperoleh kursi di penerbangankomersial, akan dibantu dicarikan alternatif transportasi. Pemerintah Jerman juga telah melarang warganya yanghendak berwisata ke Bali dan wilayah Indonesia. Laranganserupa, juga dikeluarkan pemerintah Taiwan, China,Australia, dan Filipina. Sebuah peristiwa langka selama pemerintahan PresidenSoeharto terjadi keesokan harinya. Menteri Pariwisata, Seni,dan Budaya, Abdul Latief melakukan langkah mengejutkanpada Ahad, 17 Mei 1998. Ia mengajukan surat pengundurandiri kepada Presiden Soeharto dengan alasan masalahkeluarga, terutama desakan anak-anaknya. Rapat Menteri bidang Polkam juga digelar menanggapimeluasnya gejolak aksi unjuk rasa pada 17 Mei 1998.Gelombang aksi unjuk rasa tersebut menuntut penurunanharga BBM, penurunan harga kebutuhan pokok, danpenurunan Presiden Soeharto. Rapat merekomendasikanpenurunan harga BBM dan komoditas lainnya kepadaPresiden, dan tidak menyarankan perombakan kabinet.Namun, rapat menko akhirnya juga meminta petunjukPresiden untuk mengatasi perkembangan yang cenderungsemakin memburuk.Senin, 18 Mei 1998 Sejak pagi, Gedung DPR/MPR mulai dipadati Detik-Detik yang Menentukan 14
  24. 24. mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat. Jumlah merekasemakin banyak di siang hari. Tuntutan reformasi totaltermasuk pengunduran diri Presiden Soeharto semakinmengeras disuarakan mahasiswa dari seluruh penjuru tanahair. Pimpinan DPR yang telah berkumpul di dalam gedungmengadakan rapat untuk menyampaikan sebuahKeterangan Pers. Keputusan ini diambil setelah mencermatikeadaan semakin panas dan sangat membahayakankesatuan bangsa. Setelah berjam-jam merundingkan konsep redaksionaldan mengonsultasikannya dengan pimpinan fraksi,“Keterangan Pers” tersebut akhirnya dibacakan oleh KetuaDPR RI Harmoko. Ia didampingi Wakil Ketua SyarwanHamid (FABRI), Abdul Gafur (FKP), Ismail Hasan Metareum(FPP) dan Fatimah Achmad (FPDI). Keterangan Pers Ketua DPR/MPR tersebut selengkapnyasebagai berikut: Keterangan Pers Ketua DPR/MPR Pimpinan dewan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) telah mempelajari dengan cermat dan sungguh-sungguh perkembangan dan situasi nasional yang sangat cepat yang menyangkut aspirasi masyarakat tentang reformasi, termasuk Sidang Umum MPR dan pengunduran diri Presiden. Untuk membahas masalah tersebut, direncanakan esok harinya, tanggal 19 Mei 1998, pimpinan dewan akan melaksanakan pertemuan dengan pimpinan fraksi-fraksi, dan hasilnya akan disampaikan kepada Presiden Soeharto. Mekanisme tersebut ditempuh sesuai dengan peraturan Tata Tertib DPR karena dalam mengambil keputusan pimpinan dewan harus bersama-sama pimpinan fraksi-fraksinya. 15 Prolog
  25. 25. Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri. Pimpinan dewan menyerukan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, menahan diri, menjaga persatuan dan kesatuan serta mewujudkan keamanan dan ketertiban supaya segala sesuatu dapat berjalan secara konstitusional. Keterangan pers Pimpinan DPR/MPR disambutgemuruh hadirin yang terdiri atas wartawan danmahasiswa. Kejadian ini kemudian ditayangkan melaluisiaran televisi, sehingga langsung mendapatkan tanggapandari fraksi-fraksi di DPR. Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) HamzahHaz mengatakan bahwa soal permintaan Presiden Soehartomundur juga merupakan aspirasi FPP. Sedangkan FraksiPartai Demokrasi Indonesia (FPDI), menurut Ketua FraksiFPDI Budi Hardjono, telah menerima masukan dari berbagaipihak. Budi menjelaskan FPDI sepakat meminta PresidenSoeharto mempertimbangkan untuk mengundurkan diri,dengan penuh hormat dan dilaksanakan secarakonstitusional demi kepentingan bangsa dan negara. Pukul 19.50, sebagai reaksi atas keterangan pers pimpinanDPR/MPR, pimpinan ABRI, melalui Menhankam/PangabJenderal Wiranto menyampaikan pernyataan pers sebagaitanggapan pernyataan pers pimpinan DPR/MPR. Iamengadakan jumpa pers di Jakarta pada malam harinya,dihadiri wartawan asing dan dalam negeri. Hadir antara lain para Kepala Staf ABRI: KSAD JenderalTNI Subagyo; KSAL, Laksamana TNI Arief Kusharyadi;KSAU, Marsekal TNI Sutria Tubagus; Kapolri, Jenderal Pol. Detik-Detik yang Menentukan 16
  26. 26. Dibyo Widodo; Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo Subianto;dan Danjen Kopassus, Mayjen TNI Muchdi PR. Hadir jugaSekjen Dephankam, Kapuspen, Kadispenad, Kadispenau,Kadispenal, dan Kadispenpolri. Isi lengkap pernyataan pers ABRI yang dibacakanJenderal Wiranto di Jalan Merdeka Barat adalah sebagaiberikut: Saudara-saudara sekalian, Masih hangat dalam ingatan kita peristiwa pembakaran dan penjarahan massal yang dilakukan secara kalap oleh masyarakat yang lupa diri, termakan ajakan, hasutan, dan dorongan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Akibat dari kejadian itu, kita saksikan sungguh sangat menyedihkan, di samping korban jiwa ditambah angka kerugian material yang sangat tinggi, kita juga masih merasakan akibat berantai dari kejadian tersebut dalam waktu yang cukup lama. Betapa berat dan mahal risiko dari sebuah komunitas yang sudah kehilangan kontrol sesaat atas dirinya, mengingkari agama, mengingkari hukum dan etika. Belum dingin bara api yang melalap bangunan pemerintah, toko- toko, dan rumah penduduk, belum selesai para keluarga meratapi para familinya yang menjadi korban kerusuhan massa. Mereka terdorong oleh arus kebebasan yang berlebihan sehingga mengganggu kebebasan orang lain, bahkan mengancam keselamatan jiwa, harta masyarakat, dan fasilitas umum. Oleh karena itu, ABRI sebagai bhayangkari negara yang tetap konsisten akan peranannya sebagai stabilisator yang berarti membela dan menjaga konstitusi serta stabilitas nasional, mengharapkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap melakukan kegiatan dalam rambu- rambu hukum dan peraturan yang berlaku. Dengan tidak terpengaruh dan terhasut untuk 17 Prolog
  27. 27. melakukan berbagai tindakan yang nyata-nyata hanya akan mengeruhkan suasana, bahkan tergiring untuk berhadapan dengan aparat keamanan, ABRI mengingatkan bahwa bangsa yang tidak menghormati dan mengingkari konstitusinya, niscaya tidak akan pernah tenang. Bahkan akan sangat mudah terjerumus ke dalam lembah kehancuran. Maka bagi pihak yang ingin menghasut, mendorong rakyat untuk bertindak anarkis, saya serukan agar memikirkan dan menghentikan kegiatannya itu. Saudara-saudara sekalian, Terhadap pernyataan pimpinan DPR RI yang baru saja kita dengarkan bersama, maka ABRI berpendapat dan memahami bahwa pernyataan pimpinan DPR RI agar Presiden Soeharto mengundurkan diri adalah sikap dan pendapat individual, meskipun disampaikan secara kolektif. Sesuai dengan konstitusi, pendapat seperti itu tidak memiliki ketetapan hukum. Pendapat DPR harus diambil oleh seluruh anggota dewan melalui Sidang Paripurna DPR. ABRI masih berpendapat bahwa tugas dan kewajiban mendesak pemerintah yang menjadi tangung jawab Presiden adalah melaksanakan reshuffle kabinet, melaksanakan reformasi secara menyeluruh, dan mengatasi krisis. Ini penting dilakukan agar bangsa Indonesia segera dapat keluar dari masa krisis ini. Agar reformasi yang hendak dilakukan dapat berjalan dengan baik, ABRI menyarankan agar dibentuk Dewan Reformasi yang beranggotakan unsur pemerintah dan masyarakat, terutama kampus dan tokoh-tokoh kritis. Dewan ini akan berdampingan dengan DPR dan bekerja sama secara intensif.Selasa, 19 Mei l998 Mengantisipasi semakin maraknya aksi demonstrasi, baikdi gedung DPR/MPR maupun di berbagai penjuru tanah Detik-Detik yang Menentukan 18
  28. 28. air, pimpinan DPR mengadakan Pertemuan Konsultasidengan pimpinan fraksi sekitar pukul 09.00. Rapat tersebutdilaksanakan sesuai dengan Tata Tertib DPR, karena seluruhkeputusan pimpinan dewan harus bersama-sama denganpimpinan fraksi. Dari jajaran pimpinan DPR hadir Harmoko,Abdul Gafur, Ismail Hasan Metareum, Fatimah Achmad, danSyarwan Hamid. Hasil rapat memutuskan mendesakPresiden Soeharto mengundurkan diri secara konstitusional. Pada saat yang sama, pada tanggal 19 Mei 1998, daripukul 09.00 hingga pukul 11.32, di Ruang Jepara, IstanaMerdeka, Presiden Soeharto mengundang sejumlah tokoh.Pertemuan tersebut disiarkan langsung melalui jaringantelevisi. Pertemuan konsultasi pimpinan DPR dan pimpinanfraksi terpaksa ditunda sebentar untuk mendengarkanpenjelasan Presiden Soeharto melalui siaran televisi. Para tokoh masyarakat yang diundang hadir berasal darikalangan cendekiawan dan ulama. Mereka adalah: KetuaUmum PB Nahdlatul Ulama (PB NU), K.H. AbdurrahmanWahid; budayawan, Emha Ainun Najib; Direktur YayasanParamadina, Nurcholish Madjid; Ketua Majelis UlamaIndonesia (MUI), K.H. Ali Yafie; H. Abdul Malik Fajar danH. Sutrisno Muhdam (Muhammadiyah); K.H. CholilBaidlowi (DDII); K.H. Ma’ruf Amin dan H. Ahmad Bagja(NU); serta Pembantu Asisten Khusus Mensesneg Yusril IhzaMahendra. Pertemuan ini juga dihadiri beberapa pejabatABRI. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Soehartomengemukakan bahwa jabatan presiden bukanlah hal yangmutlak. Karena itu, menurut Presiden Soeharto, tidakmasalah jika ia harus mundur. Hanya saja, ia mengingatkanapakah dengan kemundurannya sebagai presiden akanmembuat keadaan genting akan segera bisa diatasi. 19 Prolog
  29. 29. Presiden masih sangsi apakah pengganti —yang sesuaidengan konstitusi yaitu Wakil Presiden— dapat melanjutkantugas-tugasnya. Bahkan, papar Presiden Soeharto, tidaktertutup kemungkinan penggantinya kelak bakal didemooleh para demonstran. Karena itu, ia tetap memutuskanuntuk meneruskan tugasnya sampai selesai. Nurcholish Madjid mengatakan, bahwa PresidenSoeharto sempat berkelakar, “Saya ini kapok jadi presiden.” Hal itu, ungkap Cak Nur, dikatakan Pak Harto sampaitiga kali. Pernyataan Pak Harto tersebut, menurut Cak Nur,dalam bahasa orang Jombang, bukannya kapok tapi tuwuk(kekenyangan). Presiden Soeharto juga mengumumkan akanmelaksanakan pemilihan umum (pemilu) secepat-cepatnya,berdasarkan Undang-Undang (UU) Pemilu yang baru. Iajuga menegaskan, tidak bersedia lagi dicalonkan sebagaipresiden. Pada kesempatan itu, Presiden Soeharto mengemukakanakan segera membentuk Komite Reformasi yang bertugasmenyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susunan danKedudukan MPR, DPR, dan DPRD, UU Anti-Monopoli, danUU Anti-Korupsi, sesuai dengan keinginan masyarakat. Anggota komite terdiri atas unsur masyarakat,perguruan tinggi, dan para pakar. Presiden mengambilkeputusan ini setelah mendengar saran-saran dan pendapatdari para ulama, tokoh-tokoh masyarakat dari berbagaiorganisasi kemasyarakatan, dan ABRI. Keputusan membentuk Komite Reformasi, menurutPresiden Soeharto, demi untuk menyelamatkan negara danbangsa, pembangunan nasional, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta persatuan dan kesatuan bangsa.Kebijakan tersebut, lanjut Presiden, sesuai dengan wewenangyang diberikan oleh MPR. Sebagai Presiden Mandataris Detik-Detik yang Menentukan 20
  30. 30. MPR, Soeharto lebih lanjut berjanji akan melaksanakan danmemimpin reformasi nasional secepat mungkin. Presiden Soeharto juga mengatakan akan mengubahsusunan Kabinet Pembangunan VII menjadi KabinetReformasi. Adapun tentang Sidang Umum MPR, Presidenmenjelaskan akan melaksanakan pada tahun 2000 denganagenda memilih Presiden dan Wakil Presiden baru.Selanjutnya Presiden Soeharto menegaskan bahwa dirinyatidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi Presiden. Seusai pertemuan dengan para tokoh masyarakat,Presiden Soeharto membacakan pernyataan sebagai berikut: Hari ini saya mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh ulama dan tokoh masyarakat dan juga pimpinan ABRI. Antara lain, saya minta beberapa pandangan dan nasihat untuk menghadapi keadaan negara yang sama-sama telah kita alami dan kita bersama telah mengetahui sekarang. Tentu semua ini adalah keprihatinan bagi kita yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keselamatan negara dan bangsa ini. Antara lain, ada keinginan-keinginan agar saya mundur dari kedudukan sebagai Presiden. Bagi saya, sebetulnya mundur tidaknya itu tidak jadi masalah. Yang perlu kita perhatikan apakah dengan kemunduran saya kemudian segera keadaan ini akan bisa diatasi. Sebab, bagi saya soal kedudukan presiden adalah bukan hal yang mutlak. Saudara-saudara tentu juga ingat proses pemilihan dan pelantikan presiden pada waktu saya akan dicalonkan menjadi Presiden untuk 1998-2003 oleh kekuatan sosial politik dan disampaikan kepada fraksi-fraksi dalam MPR. Sebelumnya saya sudah mengatakan apakah benar rakyat Indonesia masih percaya pada saya, karena saya sudah 77 tahun. Saya minta supaya dicek benar-benar semuanya itu. Dan ternyata semua kekuatan sosial politik: PPP, PDI, Golkar maupun ABRI mengatakan memang benar sebagian besar 21 Prolog
  31. 31. rakyat masih menghendaki saya sebagai Presiden untuk masa bakti 1998−2003. Baiklah, kalau demikian, tentu saya berterima kasih dengan rasa tanggung jawab. Jadi, saya terima bukan karena kedudukan, tetapi karena tanggung jawab, lebih-lebih pada saat kita menghadapi kesulitan akibat berbagai krisis tersebut. Rasanya kalau saya meninggalkan begitu saja, lantas bisa dikatakan, tinggal gelanggang colong playu. Artinya meninggalkan keadaan yang sebenarnya saya masih harus turut bertanggung jawab. Karena itu, pada waktu itu, sekali lagi saya terima dengan rasa tanggung jawab semata-mata terhadap negara dan bangsa Indonesia. Sekarang, ternyata baru saja timbul suara yang tidak seluruhnya mendukung dan percaya. Mereka telah melakukan unjuk rasa bahwa mereka sudah tidak percaya lagi kepada saya, sehingga lantas mengajukan tuntutan supaya saya mundur. Bagi saya, mundur itu sekali lagi tidak masalah, karena saya sudah punya pendirian untuk tidak menjadi Presiden dan saya bertekad ngamandito. Dalam arti, saya akan mendekatkan diri dengan Tuhan, kemudian mengasuh anak- anak dengan sebaik-baiknya supaya menjadi warga negara yang baik. Kepada masyarakat saya akan memberikan nasihat, kepada negara dengan sendirinya tut wuri handayani, menggunakan segala apa yang kita miliki untuk membantu negara. Sekarang, kalau tuntutan pengunduran diri itu saya penuhi secara konstitusional, maka harus saya serahkan kepada Wakil Presiden. Kemudian timbul apakah ini juga merupakan jalan penyelesaian masalah dan tidak akan timbul lagi masalah baru. Nanti jangan-jangan Wakil Presiden juga lantas harus mundur lagi. Kalau begitu terus- menerus dan itu menjadi preseden atau menjadi kejadian buruk dalam kehidupan kita berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, dengan sendirinya negara dan bangsa kita akan kacau, seolah-olah tidak mempunyai landasan dalamDetik-Detik yang Menentukan 22
  32. 32. menjamin kehidupan kita dalam berbangsa danbermasyarakat. Sedangkan kita memiliki dasar Pancasila dan UUD ‘45,berarti kita memiliki konstitusi. Kalau konstitusi itu olehsetiap warga negara dan kita tidak dipegang teguh, tentunegara dan bangsa akhirnya akan menjadi tidak langgengberdirinya. Bahkan mungkin ganti-berganti yangkemungkinan juga berakibat ada yang setuju dan ada yangtidak, yang berarti pula akan mengakibatkan pertentanganyang lebih tajam, mungkin sampai pada perang saudara,dan lain sebagainya. Kalau ini terjadi, siapa yang rugi, tentu juga bangsa kitasendiri. Sedangkan negara RI yang diproklamasikan pada17 Agustus 1945, kemudian dengan diiringi lahirnyaPancasila dan UUD ‘45 sehari sesudahnya, merupakanwarisan dari pejuang-pejuang kita yang telah gugur, untukdijadikan landasan yang baik bagi bangsa kita yang sangatmajemuk dalam kehidupan berbangsa, bernegara, danbermasyarakat, sehingga negara Republik Indonesia benar-benar akan terus-menerus dapat dipertahankan, dan kita bisahidup sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan jugadiakui oleh bangsa-bangsa yang lain. Sekali lagi bahwa soal mundur bagi saya tidak masalah.Hanya masalahnya, rasa tanggung jawab saya. Perludipikirkan bagaimana negara dan bangsa kita. Jadi, sayaandai kata belum mengambil keputusan mundur, tidak, tapibagaimana agar dengan kemunduran saya ini negara danbangsa benar-benar tetap terjaga. Konstitusi kita tetap bisadilaksanakan dengan sebaik-baiknya, berarti bahwaPancasila dan UUD ‘45 pun juga akan tetap dilaksanakan. Karena itulah, saya harus mengambil langkah yangtidak meninggalkan konstitusi, tapi yang bisa digunakansebagai landasan untuk menyelesaikan persoalan,mengatasi berbagai krisis kepercayaan. Perusakan-perusakan yang terjadi akhir-akhir ini dengan sendirinyamenambah kemampuan bangsa dan negara menjadi lebih 23 Prolog
  33. 33. kecil. Sehingga, untuk mengadakan rehabilitasi apalagi kelanjutan pembangunan, membutuhkan ketenangan, membutuhkan kesiapan untuk perencanaan maupun juga pelaksanaannya. Untuk itulah, saudara-saudara sekalian sebangsa dan setanah air, kita harus memikirkan betul-betul agar ada satu fase yang bisa menjamin kelangsungan negara dan bangsa, di mana tidak menimbulkan kerusuhan, tapi apa yang diinginkan, ialah reformasi dan sebagainya itu, bisa berjalan dengan baik. Sekali lagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hendaknya kita benar-benar meresapkan, pikirlah nasib negara dan bangsa Indonesia, pikirlah keselamatan rakyat dan bangsa Indonesia. Jangan sampai karena emosi tidak terkendali, kemudian bangsa kita akan menjadi lebih miskin dan lebih menderita. Sedangkan, cita-cita perjuangan kita untuk memproklamasikan negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD ‘45 adalah untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Kita berjuang untuk mengisi kemerdekaan dan membangun agar masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu benar-benar akan bisa terwujud. Sekali lagi, maksud saya dalam mengambil jalan yang saya kemukakan tadi, semata-mata untuk menyelamatkan negara dan bangsa. Segala sesuatu harus kita laksanakan berdasarkan konstitusi kita. Saya harapkan, semuanya itu dapat dimengerti dan tidak perlu lagi khawatir, saya tidak akan mempertahankan untuk menjadi Presiden, sama sekali tidak. Ada yang mengatakan, apabila saya tidak menjadi presiden, kembali menjadi anggota masyarakat biasa, saya masih bisa berguna bagi masyarakat dan bangsa, dan masih banyak pengabdian yang bisa saya berikan. Jadi demikianlah ada juga yang mengatakan terus terang saja dalam bahasa Jawanya, tidak menjadi presiden tidak akan patheken. Kembali menjadi warga negara biasa tidak kurang terhormatDetik-Detik yang Menentukan 24
  34. 34. daripada presiden asalkan bisa memberikan pengabdiankepada negara dan bangsa. Jadi jangan dinilai saya sebagai penghalang, tidak samasekali. Semata-mata karena tanggung jawab saya untukmembuat keselamatan bangsa dan negara, kita harusmengambil langkah-langkah yang konstitusional, tetapi jugadiridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa, dengan menempuhjalan yang benar. Saya mengharap semua pernyataan saya bisa dimengertioleh rakyat seluruhnya, sehingga lantas hentikanlah segalakegiatan yang akhirnya membawa akibat penderitaan rakyatkita. Hentikanlah menghasut, dan lantas mendorong rakyatuntuk berbuat salah. Sebenarnya, rakyat tidak mempunyaijiwa untuk berbuat salah, tapi jika sampai rakyat berbuatsalah, itu karena dihasut, didorong sampai lantas lupa. Danmemang ini harus kita akhiri, karena bisa memengaruhinama dan martabat pada bangsa kita. Sekali lagi, terima kasih atas perhatian para wartawandan juga saudara-saudara ulama. Setelah mendengar saran-saran dan pendapat dari paraulama, tokoh-tokoh masyarakat, berbagai organisasikemasyarakatan, dan pendapat dari Angkatan BersenjataRepublik Indonesia (ABRI), maka untuk menyelamatkannegara dan bangsa, pembangunan nasional, Pancasila danUndang-Undang Dasar 1945, serta persatuan dan kesatuanbangsa, saya mengambil keputusan, sesuai denganwewenang yang diberikan oleh Majelis PermusyawaratanRakyat (MPR), sebagai Presiden mandataris MPR, saya akanmelaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepatmungkin. Untuk itu, saya akan membentuk Komite Reformasi, yanganggota-anggotanya terdiri atas tokoh masyarakat dan parapakar dari dunia perguruan tinggi. Tugas komite ini segera menyelesaikan UU Pemilu, UUKepartaian, UU Susunan dan Kedudukan MPR, DPR danDPRD, Undang-Undang Anti-Monopoli, Undang-Undang 25 Prolog
  35. 35. Anti-Korupsi, dan lainnya sesuai dengan keinginan masyarakat. Pemilihan Umum akan dilaksanakan secepat-cepatnya, berdasarkan Undang-Undang Pemilu yang baru. Melaksanakan Sidang Umum MPR hasil pemilihan tersebut, antara lain untuk menetapkan GBHN, memilih presiden dan wakil presiden, dan ketetapan-ketetapan lainnya. Saya dengan ini menyatakan bahwa saya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai Presiden. Untuk melaksanakan tugas-tugas yang sangat berat karena berbagai krisis, di bidang ekonomi, politik, dan hukum, maka saya segera melaksanakan reshuffle kabinet, sehingga Kabinet Pembangunan VII berubah menjadi kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi. Saya minta ABRI menjaga kewaspadaan dan keselamatan nasional, menciptakan keamanan dan ketertiban, bersama-sama dan bergandengan tangan dengan seluruh masyarakat. Kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban peristiwa Trisakti dan keluarga korban kerusuhan yang terjadi. Semoga arwah para korban diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan sebaik-baiknya. Kepada sanak keluarga korban kiranya diberikan kekuatan iman dan ketabahan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya atas dukungan masyarakat dalam melaksanakan reformasi nasional yang sedang kita laksanakan. Semoga Allah melindungi bangsa dan negara Republik Indonesia. Demikian pernyataan Presiden Soeharto yang disiarkanmelalui televisi. Sementara itu, di Gedung DPR/MPR, setelah pesertapertemuan konsultasi antara Pimpinan DPR dan pimpinan Detik-Detik yang Menentukan 26
  36. 36. fraksi menyaksikan pernyataan tertulis Presiden Soehartomelalui televisi, pertemuan itu dilanjutkan. Hasil pertemuan konsultasi pimpinan DPR dan pimpinanfraksi akan disampaikan langsung kepada Presiden Soeharto.Keputusan ini dilakukan karena DPR menginginkan adanyakesetaraan fungsi dan peranan dengan lembaga tingginegara, yaitu Presiden. Kepekaan DPR sangat dibutuhkansaat itu untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuankonsultasi itu adalah sebagai berikut: Mengenai Reformasi. Bahwa aspirasi masyarakat dantuntutan masyarakat mengenai reformasi dilakukan secaramenyeluruh, sebagaimana diserap oleh dewan dilaksanakansecara berkelanjutan. Untuk itu dewan mempercepatpelaksanaan agenda reformasi itu. Kesimpulan awalmenambahkan reformasi dalam bidang politik, ekonomi, danhukum yang akan diimplementasikan dalam masa sidangini. Mengenai Pengunduran diri Presiden. Berkenaan denganadanya aspirasi dari masyarakat yang menghendaki Presidenmengundurkan diri, sebagaimana yang telah disampaikanpimpinan dewan kepada Presiden, fraksi-fraksi sepenuhnyadapat memahami dan sepakat untuk dilaksanakan secarakonstitusional. Hasil konsultasi pimpinan DPR dan pimpinan fraksitersebut pada tanggal 19 Mei l998, hari itu juga disampaikanpimpinan DPR kepada masyarakat melalui konperensi pers.Hasil konsultasi tersebut, membenarkan dan mengukuhkanketerangan pers pimpinan dewan yang disampaikan padatanggal l8 Mei, sehari sebelumnya. Sekitar pukul 10.00, di Istana Wakil Presiden, beberapastaf Wakil Presiden juga menyaksikan pertemuan PresidenSoeharto dengan para tokoh masyarakat di layar televisi. 27 Prolog
  37. 37. Sementara itu, Wakil Presiden B.J. Habibie sedang menerimatamu didampingi Sekretaris Wakil Presiden, para AsistenWakil Presiden, Akbar Tandjung dan Abdul Latief. Tiba-tiba salah seorang asisten Wakil Presidenmemberitahu B.J. Habibie tentang pertemuan di IstanaMerdeka tersebut. Pertemuan segera dihentikan. WakilPresiden bersama para tamu, asisten, serta Akbar Tandjunglangsung melihat dan mendengarkan keterangan Presidentersebut. Penjelasan Presiden Soeharto di depan pers disambutkekecewaan oleh para pejabat dan staf Wakil Presiden,bahkan Asisten Wakil Presiden Ahmad Watik Pratiknyamengatakan Pak Harto telah “mengkhianati” B.J. Habibiesekaligus mengabaikan berlakunya Pasal 8 UUD 1945,karena tidak memercayai Wakil Presiden, dan disampaikansecara terbuka kepada masyarakat bahwa Presiden sangsiapakah Wakil Presiden dapat melanjutkan tugas-tugasnya,apakah tidak akan menjadi sasaran demonstrasi, apakahnanti juga harus mengundurkan diri. Malam harinya, B.J. Habibie yang sekaligus menjabatsebagai Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar,menghadap Presiden Soeharto di Jalan Cendana pada pukul20.30 untuk membahas berbagai keadaan yang telahberkembang. Sebelumnya, sekitar pukul 18.00, B.J. Habibie telahmenerima telepon dari Ketua DPR/MPR Harmoko yang jugamenjabat sebagai Ketua Umum Golkar. Harmokomenjelaskan hasil pertemuan antara pimpinan DPR danpimpinan fraksi lainnya. Intinya, demi persatuan dankesatuan bangsa, secara arif dan bijaksana, Presiden Soehartosebaiknya mengundurkan diri. Wakil Presiden B.J. Habibie pun bertanya kepadaHarmoko, apakah keputusan tersebut sudah pernah Detik-Detik yang Menentukan 28
  38. 38. dibicarakan dengan Presiden Soeharto. Ternyata hal tersebutbelum dilakukan Harmoko, karena pernyataan tersebutbersifat pribadi dan sulit untuk melakukan hubungandengan Presiden Soeharto. Karena itulah, Harmoko mengaku perlu meneleponWakil Presiden B.J. Habibie, agar hal tersebut disampaikankepada Presiden Soeharto. Selain itu, melalui Wakil Presiden,Harmoko mengharapkan kesediaan Presiden meluangkanwaktu untuk mendengarkan penjelasan langsung darinya. Menanggapi permintaan Harmoko tersebut, B.J. Habibiemenyarankan agar Harmoko dan Abdul Gafur selakupimpinan Golkar dan pimpinan DPR memberikan laporantertulis kepada Presiden Soeharto selaku Ketua DewanPembina Golkar. Usulan B.J. Habibie itu pun disetujuiHarmoko. 29 Prolog
  39. 39. Hr. Republika Mahasiswa dan masyarakat di Ibukota di halaman Gedung DPR/MPR 18 Mei 1998 Hr. RepublikaMassa yang memenuhi jalanan Ibukota pasca Soeharto lengser
  40. 40. Sekneg. Upacara Pelantikan Presiden B.J. Habibie, 21 Mei 1998 di Istana NegaraHr. Republika Pengambilan Sumpah Presiden B.J. Habibie, 21 Mei 1998 di Istana Negara
  41. 41. Sekneg.Mantan Presiden Soeharto meninggalkan Istana Negara, 21 Mei 1998 Sekneg. Pelantikan Menteri Kabinet Reformasi Pembangunan, 23 Mei 1998
  42. 42. Sekneg. Bersama para Menteri Kabinet Reformasi Pembangunan di depan Istana NegaraSekneg. Meninjau daerah kerusuhan di Jakarta
  43. 43. bab 1 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto Kekuasaan adalah amanah dan titipan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bagi mereka yang percaya atas eksistensi-Nya. Bagi mereka yang tidak percaya atas eksistensi-Nya, kekuasaan adalah amanah dan titipan rakyat. Pemilik Kekuasaan tersebut, tiap saat dapat mengambil kembali milik Nya dengan cara apa saja.SRabu, 20 Mei l998 aya sedang mempersiapkan materi untuk dilaporkan kepada Presiden sesuai rencana di rumah pribadi Cendana, pukul 19.30 pada tanggal 20 Mei 1998. Bahan masukan saya peroleh dari SekretariatKoordinator Harian Keluarga Besar Golkar. Perlu saya sampaikan bahwa Keluarga Besar Golkarterdiri dari Golkar, ABRI, dan Utusan Daerah. Masing-masing diwakili oleh Ketua Golkar, Panglima ABRI (Pangab),dan Menteri Dalam Negeri. Jabatan sebagai KoordinatorHarian Keluarga Besar Golkar, saya emban untuk keduakalinya yakni pada tahun 1993 dan 1998. Dalam mekanisme politik saat itu, peran KoordinatorHarian Keluarga Besar Golkar amat menentukan. TugasKoordinator Harian bertujuan untuk menyukseskanpelaksanaan rencana Sidang MPR pada awal Maret 1998, 31 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  44. 44. Musyawarah Nasional (Munas) Golkar pada bulanSeptember 1998 yang didahului oleh Musyawarah Daerah(Musda) Golkar di tiap provinsi dan dimulai bulan April 1998sampai September 1998. Biasanya Koordinator Harianbekerja sama dengan seorang atau beberapa orangKoordinator Harian Pengganti. Keputusan untukmengangkat saya sebagai Koordinator Harian KeluargaBesar Golkar tahun 1998 tanpa pengganti, saya terima padatanggal 31 Desember 1997 malam hari. Keadaan yang tidak menentu dan kritis sebagai akibatkrisis ekonomi moneter di Thailand, di Indonesia sudah mulaiterasa sejak bulan Agustus 1997. Dalam keadaan yang tidakmenentu dan kritis itu, timbul pertanyaan pada diri saya,mengapa justru saya yang mendapat kehormatan dankepercayaan untuk menjadi Koordinator Harian tanpaPengganti? Saya tidak pernah berhasil mendapat jawabanatas pertanyaan ini, begitu pula alasan dan maksudtujuannya. Presiden serta Presiden yang baru terpilih, sebelum dansetelah Sidang Umum MPR berhasil diselesaikan, bersamaKoordinator Harian, mengambil kebijakan politik setelahmempelajari masukan dan pandangan tiga jalur KeluargaBesar Golkar. Demikian pula penyusunan KabinetPembangunan yang dibentuk setelah Sidang Umum (SU)MPR, adalah hasil penilaian dan analisis Presiden terpilihbersama Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar. Sepertiyang telah saya alami pada tahun 1993, bukan WakilPresiden terpilih yang diajak Presiden terpilih untuk bersamamenyusun Kabinet Pembangunan, melainkan KoordinatorHarian Keluarga Besar Golkar. Kunjungan saya ke kediaman Presiden Soeharto diCendana, adalah dalam posisi sebagai Koordinator HarianKeluarga Besar Golkar dan bukan sebagai Wakil Presiden. Detik-Detik yang Menentukan 32
  45. 45. Kunjungan itu bersifat rutin dan biasanya dilaksanakan ditempat dan waktu yang sama. Sewaktu saya sedang mempelajari laporan masukandari tiga jalur, sekitar pukul 17.00 pada tanggal 20 Mei l998,ADC Kolonel (AL) Djuhana, datang ke ruang kerja sayamelaporkan bahwa Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmitaminta berbicara melalui telepon. Ginandjar juga menjabat sebagai salah satu SekretarisKoordinator Harian Golkar di samping Akbar Tandjung,Rahardi Ramelan, Giri Suseno, Letnan Jenderal Gatot danibu Sulasikin Murpratomo. Karena saya sedang menilai keadaan di lapangan danmengecek data masukan Keluarga Besar Golkar (ABRI,Utusan Daerah dan Golkar), keinginan GinandjarKartasasmita berbicara dengan saya, saya kaitkan dengankemungkinan adanya koreksi data yang sudah saya miliki. Ternyata laporan yang saya peroleh, adalah pernyataanbahwa Menko Ekuin bersama 13 menteri yang berada dalamkoordinasinya, tidak bersedia lagi untuk duduk di dalamKabinet Reformasi yang anggotanya sedang disusun. Tetapi,sebagai anggota Kabinet Pembangunan VII, mereka akantetap melaksanakan tugas masing-masing, sampai KabinetReformasi terbentuk. Pertanyaan saya singkat, “Apakah Anda sudahbicarakan dengan Bapak Presiden?” Jawaban Ginandjar, “Belum, tetapi keputusan itu sudahditandatangani bersama sebagai hasil rapat kami diBappenas dan sudah dilaporkan secara tertulis, kepadaBapak Presiden, melalui Tutut, putri tertua Pak Harto.” Demikian Ginandjar Kartasasmita. Saya bertanya, “Mengapa harus begini?” Empat belas menteri tersebut adalah: Akbar Tandjung,A.M. Hendropriyono, Ginandjar Kartasasmita, Giri Suseno, 33 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  46. 46. Haryanto Dhanutirto, Justika Baharsjah, KuntoroMangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, RahardiRamelan, Subiakto Tjakrawerdaya, Sanyoto Sastrowardoyo,Sumahadi, Theo L. Sambuaga, dan Tanri Abeng. Saya juga bertanya kepada Ginandjar, siapa saja menteriyang tidak hadir? Ginandjar kemudian menyebut satu persatu nama menteri tersebut. Saya katakan, supaya hasil rapatdisampaikan juga kepada mereka, agar pendapat merekabisa didengar. Setelah menerima laporan Ginandjar, saya sampaikankepada ADC bahwa sementara saya tidak mau diganggulagi. Sekitar pukul 17.45, ADC melaporkan, bahwa MenteriKeuangan Fuad Bawazier terus mendesak untuk melaporkansesuatu yang penting. Melalui telepon Fuad Bawazier bertanya, “Apakah isuyang berkembang, bahwa Pak Habibie bermaksudmengundurkan diri sebagai Wakil Presiden, benar?” Saya jawab, “Isu tersebut tidak benar. Presiden yangsedang menghadapi permasalahan multikompleks, tidakmungkin saya tinggalkan. Saya bukan pengecut!” Fuad Bawazier menjawab bahwa ia sendiri tidak yakinberita itu benar, karena itu, ia ingin langsung mendengarpenjelasan dari saya. Kemudian saya balik bertanya kepadaFuad Bawazier mengenai rapat yang diadakan oleh MenkoEkuin Ginandjar Kartasasmita di Bappenas. Jika belum tahu,saya minta ia menghubungi Menko Ekuin untuk mendengarhasil rapat tersebut. Saya kemudian berangkat ke kediaman Presiden di JalanCendana. Sekitar pukul 19.30, saya tiba di Cendana, dandipersilakan menunggu sebentar. Pak Harto sedangmenerima mantan Wakil Presiden Sudharmono. Siti Hediyati Prabowo, putri kedua Pak Harto, istri Detik-Detik yang Menentukan 34
  47. 47. Prabowo Subianto, Panglima Komando Cadangan StrategisAngkatan Darat (Kostrad) menemani saya. Pada kesempatanitu saya bertanya, “Mengapa Prabowo yang sejak tiga harisaya cari tidak datang ke Kuningan? Apakah dia sedangberada di luar negeri?” Siti Hediyati Prabowo menyampaikan bahwa suaminyaberada di dalam negeri dan pesan saya akan segeradisampaikan kepada yang bersangkutan. Setelah pertemuan Pak Sudharmono dengan Pak Hartoselesai, saya dipersilakan masuk ke ruang kerja presiden.Sambil membuka sehelai kertas besar yang berisi nama-namaanggota Kabinet Reformasi, Pak Harto menyatakan agarsaya bersama beliau mengecek ulang nama-nama tersebut. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk mengusulkanbeberapa perubahan. Karena ada perbedaan pandanganmenyangkut beberapa nama, maka terjadilah perdebatanyang cukup hangat. Saya menyadari bahwa Pak Hartomempunyai alasan tersendiri yang sudah diapertimbangkan. Sebaliknya saya juga mempunyai alasanyang rasional dan sesuai aspirasi masyarakat yangberkembang. Akhirnya, karena tidak ada titik temu, makasaya persilakan Pak Harto memutuskan apa yang terbaik,karena penyusunan anggota kabinet adalah hak prerogatifpresiden. Akhirnya Kabinet Reformasi terbentuk. Tidak beberapa lama kemudian, Pak Harto memanggilMenteri Sekretaris Negara, Saadilah Mursyid, untuk segeramembuat Keputusan Presiden mengenai Susunan KabinetReformasi yang baru saja dibentuk. Menurut rencana, esok harinya, hari Kamis tanggal 21Mei 1998 di Istana Merdeka, Presiden didampingi oleh WakilPresiden akan mengumumkan susunan Kabinet Reformasi.Selanjutnya, pada hari Jumat tanggal 22 Mei l998, paraanggota Kabinet Reformasi akan dilantik Presiden Soeharto 35 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  48. 48. yang didampingi pula oleh Wakil Presiden. Semuanya agardipersiapkan sesuai prosedur yang berlaku, demikianinstruksi Presiden. Saadilah Mursyid meninggalkan ruang kerja itu,sementara saya dan Pak Harto masih berada di ruangantersebut meneruskan pembicaraan. Setelah mempersilakan saya meminum teh, Pak Hartomenyampaikan bahwa pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998,ia bermaksud mengundang Pimpinan DPR/MPR untukdatang ke Istana Merdeka. Pernyataan Pak Harto tersebutsaya sambut dengan menyampaikan bahwa pertemuan itusudah lama mereka nantikan. Pimpinan DPR/MPR inginlangsung dapat memberi pendapat dan penilaian mengenaikehendak rakyat. Begitu pula mengenai keadaan di lapanganyang sedang berkembang dan berubah tiap detik. Pak Harto tampaknya sama sekali tidak memerhatikanucapan saya dan mengatakan, bahwa ia bermaksudmenyampaikan kepada Pimpinan DPR/MPR untukmengundurkan diri sebagai Presiden setelah KabinetReformasi dilantik. Namun yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah,Pak Harto sama sekali tidak menyampaikan alasan mengapabeliau mundur, padahal baru saja disusun KabinetReformasi, bahkan setelah melalui dialog yang cukup seru.Demikian pula Pak Harto sama sekali tidak menyinggungmengenai kedudukan Wakil Presiden selanjutnya. Menyadari cara berfikir Pak Harto yang telah saya kenalpuluhan tahun, tidak disebutnya kedudukan Wakil Presidentersebut jelas mempunyai alasan tertentu. Apa yangsebenarnya dikehendaki Pak Harto tentang saya? Apakahsaya juga diminta ikut mundur? Pertanyaan ini munculkarena pernyataan Pak Harto sehari sebelumnya di hadapansejumlah tokoh masyarakat seolah “meragukan” Detik-Detik yang Menentukan 36
  49. 49. kemampuan saya. Demikian sejumlah pertanyaanberkecamuk di benak saya. Saya tahu persis Pak Harto sangat menyadari, bahwaPresiden dan Wakil Presiden tidak dipilih sebagai satu paket.Sebagaimana UUD ‘45 menyatakan bahwa jikalau Presidenberhalangan melaksanakan tugasnya, maka Wakil Presidenberkewajiban untuk melanjutkan. Keinginan Pak Harto, untuk lengser dan mandito ataumundur sebagai Presiden, menjadi seorang negarawansangat saya pahami dan hormati. Namun, apakah dengancara demikian pelaksanaanya? Beberapa saat saya diam, dengan harapan mendapatpenjelasan mengenai alasan beliau mundur, serta beberapapertanyaan yang mengganggu pikiran tersebut. Namunternyata tidak diberikan. Walaupun saya sangat memahamiKetetapan MPR mengenai kedudukan dan kewajibanpresiden dan wakil presiden, saya terpaksa bertanya, “PakHarto, kedudukan saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?” Pak Harto spontan menjawab, “Terserah nanti. Bisa hariSabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akanmelanjutkan tugas sebagai Presiden.” Jawaban Pak Harto sungguh di luar dugaan saya. Segeramuncul dalam pikiran saya, bukankah kevakuman dalampimpinan negara dan bangsa tidak boleh terjadi? Jikalaudemikian yang dikehendaki Pak Harto, tidakkah hal itu tidaksesuai dengan UUD ‘45 dan Ketetapan MPR? Bagaimana kedudukan saya, sebagai Koordinator HarianKeluarga Besar Golkar tanpa pengganti? Begitulah, dalamsuasana pertemuan yang “tidak lazim”, serta suasana dilapangan yang tidak menentu dan cukup mengkhawatirkan,muncul berbagai pertanyaan yang amat mengganggupikiran saya. Untuk mengakhiri suasana pembicaraan yang tidak 37 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  50. 50. mengenakkan tersebut, maka saya mengalihkanpembicaraan dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah PakHarto sudah menerima surat pernyataan dari Menko EkuinGinandjar Kartasasmita dan empat belas menteri di bawahkoordinasi Menko Ekuin?” Pak Harto menyampaikan bahwa ia sudah dengar dariTutut, tetapi belum membaca suratnya. Kemudian Pak Hartomengulurkan tangannya untuk saya jabat, sebagai isyaratbahwa ia menghendaki diakhirinya pertemuan tersebut. Pak Harto memeluk saya, dan mengatakan agar sayasabar dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pak Hartojuga meminta agar saya menyelesaikan masalah Ginandjardan kawan-kawan dengan baik. Saya mengatakan, “Akan saya usahakan, dan semuanyaini tidak tepat dan tidak perlu terjadi.” Pak Harto mengatakan, “Laksanakan tugasmu danwaktu tidak banyak lagi.” Saya segera meninggalkan ruang kerja Pak Harto,dengan perasaan yang tidak menentu dan pikiran yangdipenuhi tanda tanya. Bukan sekali ini saya berbedapendapat dengan orang yang amat saya hormati ini. Bahkanmungkin perbedaan pendapat yang terjadi sebelumnya, jauhlebih “seru”. Namun, keadaan yang saya alami malam itusungguh berbeda! Pertama, karena Pak Harto seolahmeninggalkan “misteri” pertanyaan menyangkut masalahbangsa yang tidak sederhana; dan kedua, karena hal ituterjadi pada saat bangsa ini sedang mengalami keadaan yangamat kritis. Di dalam mobil, dalam perjalanan ke Kuningan, sayatugaskan ADC Kolonel (AL) Djuhana segera berhubungandengan empat Menko dan semua menteri di bawahkoordinasi Menko Ekuin, dan meminta agar mereka hadir Detik-Detik yang Menentukan 38
  51. 51. pada Sidang Ad Hoc Kabinet Terbatas di kediaman saya diKuningan mulai pukul 22.00. Dalam perjalanan dari Cendana ke Kuningan, sayapanjatkan doa dengan bahasa yang tulus, dengan getaranhati dan jiwa, ikhlas datang dari hati sanubari saya sebagaiberikut: “Tuhan, berilah Pak Harto kekuatan dan petunjuk mengambil jalan yang benar dalam memimpin bangsa Indonesia sesuai kehendak-Mu. Berilah Pak Harto, kesabaran dan kesehatan yang beliau butuhkan. Ampunilah segala dosa Pak Harto, yang sengaja ataupun tidak sengaja.” Saya lanjutkan dengan doa untuk diri saya dalam bahasayang tulus, ikhlas pula sebagai berikut: “Oh Tuhan, saya tidak bertanya mengapa, kenapa, dan bagaimana, semua ini dapat terjadi. Karena saya berkeyakinan bahwa semua ada artinya, yang sekarang saya belum memahami tetapi kelak saya ketahui. Jikalau saya diperkenankan memohonkan sesuatu, maka berilah saya kekuatan, kesabaran untuk menghadapi semuanya dengan tenang dan menyelesaikan semua persoalan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia dengan baik. Berilah saya petunjuk untuk mengambil jalan yang benar, sesuai kehendakmu. Ampunilah dosa saya.” Sambil memanjatkan doa tersebut, saya dalam keadaanseperti dihipnotis tiba di Kuningan dan disambut oleh salahseorang Asisten Wakil Presiden, Jimly Asshiddiqie, yangmengantar saya ke pendopo. Di pendopo, saya tergeletakduduk beberapa menit dan seolah-olah dalam keadaantrance. Kemudian saya masuk melalui ruang makan, di manaistri saya sedang membaca kitab suci Alquran. Di kamartidur, setelah mengambil wudhu dan melaksanakan shalat,saya mengucapkan doa yang sama seperti di dalam mobil. 39 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  52. 52. Doa tersebut berulang kali saya ucapkan dan berselingandengan membaca Al-Faatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. Sekitar pukul 21.45, istri saya datang ke kamar tiduruntuk menyampaikan bahwa di pendopo semua Menko danbanyak menteri hadir. Istri saya bertanya, “Ada apa?” Saya jawab, “Saya panggil mereka.” Dihadapan 4 menko dan 14 menteri yang hadir dipendopo, saya jelaskan bahwa Kabinet Reformasi telahdibentuk oleh Pak Harto dengan memerhatikan masukandari Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar. Esok harinya, tanggal 21 Mei 1998 Kabinet Reformasiakan diumumkan oleh Presiden. Pada hari Jumat tanggal22 Mei 1998, anggota kabinet akan dilantik oleh Pak Hartodi Istana Negara. Hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, Pak Hartoakan menerima Pimpinan DPR/MPR di Istana Merdeka danakan menyatakan mundur sebagai Presiden. Oleh karena beberapa Menteri dari KabinetPembangunan VII masih dibutuhkan untuk duduk dalamKabinet Reformasi, maka atas nama Pak Harto, saya mohonagar para menteri yang telah menandatangani pernyataanbersama tersebut dapat mempertimbangkan untuk menarikkembali pernyataan mereka dan ikut memperkuat KabinetReformasi. Penjelasan saya menimbulkan diskusi yang hangat dansekitar pukul 22.45, hasilnya dapat disepakati sebagaiberikut: Susunan Kabinet Reformasi diterima sebagai kenyataan. Menyetujui Keputusan Presiden ditandatangani oleh Pak Harto. Pelantikan dilaksanakan oleh Pak Habibie. Untuk melaporkan hasil Sidang Ad Hoc terbatas Kabinet Detik-Detik yang Menentukan 40
  53. 53. Pembangunan VII, saya menugaskan ADC untuk segeramenghubungkan saya dengan Presiden Soeharto. Namun, sangat saya sayangkan bahwa Pak Harto ketikaitu tidak berkenan berbicara dengan saya. Ia hanyamenugaskan Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyiduntuk menyampaikan keputusan bahwa esok harinya pukul10.00 pagi, Pak Harto akan mundur sebagai Presiden. SesuaiUUD ‘45, Pak Harto menyerahkan kekuasaan dan tanggungjawab kepada Wakil Presiden RI di Istana Merdeka.Pengambilan sumpah Wakil Presiden menjadi Presiden akandilaksanakan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapanpara Anggota Mahkamah Agung lainnya. Saya sangat terkejut dan meminta agar segera dapatberbicara dengan Pak Harto. Permintaan tersebut tidak dapatdikabulkan, dan ajudan Presiden menyatakan akandiusahakan pertemuan empat mata dengan Pak Harto diCendana besok pagi sebelum ke Istana Merdeka. Setelah pembicaraan melalui telepon dengan SaadilahMursyid selesai, saya kembali ke pendopo untuk menjelaskaninformasi yang baru saja saya peroleh. Semua terkejut mendengar berita tersebut. Kemudiansaya meminta agar para menteri yang hadir, dan juga paraAsisten Wakil Presiden yang berada di ruang sebelahpendopo, untuk memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.Saya minta Jimly Asshiddiqie untuk memimpin doa. Istri sayajuga diminta untuk hadir. Setelah para menko dan menteri Kabinet Pembangunanbidang Ekuin meninggalkan Kuningan, saya langsung pergike ruang kerja. Dengan melalui internet, saya memantauperkembangan gerakan masyarakat di Indonesia padaumumnya, khususnya di Jakarta, dan reaksi luar negeriterhadap situasi di Indonesia yang terus memanas. Sementara itu, saya menerima telepon dari Ketua DPR/ 41 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  54. 54. MPR Harmoko yang menyampaikan bahwa ia dan parapimpinan DPR/MPR, bersama para Ketua Fraksi, dimintadatang ke Istana Merdeka besok pada tanggal 21 Mei 1998pukul 10.00 pagi. Ia menanyakan alasan undangan tersebut. Saya menjelaskan informasi dari Mensesneg danmemohon agar pimpinan DPR/MPR mengecek kembali,apakah keputusan Pak Harto untuk mengundurkan dirisebagai Presiden memiliki dasar hukum. ADC yang bertugas, Kol. (AL) Djuhana, melaporkanbahwa Panglima ABRI Jenderal Wiranto mohon waktu untukbertemu. Saya belum bersedia menerima siapa pun, karenaharus merenungkan keadaan tanah air yang sangatmemprihatinkan dan sudah di ambang pintu revolusi. Mencermati keadaan yang berkembang, saya teringatpesan Pak Harto pada hari Senin tanggal 28 Januari 1974,pukul 19.30 di ruang kerja Presiden di Cendana: Saya sudah menentukan, Habibie membantu saya untuk mempersiapkan kerangka tinggal landas bangsa Indonesia memasuki abad yang akan datang Saudara Habibie dapat berbuat apa saja dan insya Allah dalam batas kemampuan saya, akan saya selalu berusaha mengamankan kebijakan saudara Kepentingan rakyat harus saudara utamakan di atas kepentingan golongan, partai, kawan, keluarga, dan kepentingan saudara sendiri Tidak boleh terjadi suatu revolusi lagi di bumi Indonesia karena rakyat tidak dapat mengatasinya Yang dikehendaki rakyat adalah ketenteraman, masa depan, dan hari depan yang cerah bagi anak cucu mereka Yang susah diatur adalah pimpinan pada umumnya khususnya partai politik, karena itu, Habibie harus bekerja keras agar pada suatu hari dapat menjadi Detik-Detik yang Menentukan 42
  55. 55. panutan dan idola anak bangsa sebagai seorang profesional Mendengar penjelasan dan ucapan Pak Harto tersebut,saya memberanikan diri untuk bertanya, “Mengapa saya?Banyak orang yang lebih senior, lebih pintar, lebih pandaidan lebih berpengalaman dari diri saya. Mengapa harussaya?” Pak Harto meletakkan setumpuk surat dan dokumen diatas meja sambil berkata, “Ini semua informasi mengenaiDr. Habibie!” Pertemuan pertama dengan Pak Harto sebagai PresidenRepublik Indonesia malam itu berlangsung dua jam danmelahirkan beberapa gagasan nasional antara lain: Gagasan mengenai pembentukan Industri Pesawat Terbang sebagai ujung tombak Industri Strategis Gagasan mengenai pembentukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Gagasan mengenai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Setelah merenungkan kejadian 24 tahun sebelumnyatersebut, kemudian saya kembali pada persoalan yang sedangsaya hadapi. Pesan Pak Harto tersebut terus-menerusmemengaruhi dan mendominasi proses pemikiran sayadalam mencari jawaban yang tepat atas beberapapertanyaan yang terus timbul dalam diri saya. Mengapa Pak Harto memutuskan untuk segera meletakkan jabatan sebagai Presiden RI? Mengenal Pak Harto sebagai seorang pemimpin yang berpengalaman dan telah teruji dalam merencanakan dan melaksanakan strategi, maka timbul pertanyaan, 43 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  56. 56. “Mau ke mana Pak Harto? Dan bagaimana nasib bangsa?” Dinamika gerakan protes dan demo yang tidak menentu sangat tinggi dan memprihatinkan, tentunya berdampak negatif terhadap laju inflasi. Akibatnya free fall nilai rupiah sulit dihentikan, sehingga dapat terjadi, hiperinflasi yang mempersulit kehidupan pada umumnya dan khususnya meningkatkan penderitaan rakyat Hiperinflasi dapat pula mengakibatkan bangkrutnya perusahaan, pengangguran secara besar-besaran terjadi dan modal asing yang lari ke luar negeri bertambah. Akhirnya keadaan berkembang menjadi suatu khaos yang bersifat anarkis yang dapat bergulir menjadi revolusi Aliran ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, dapat memanfaatkan kesempatan untuk memperjuangkan terlaksananya program politik mereka masing-masing dan mengganti UUD ‘45, Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan konstitusi yang baru. Perang saudara dapat terjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia terancam eksistensinya. “Balkanisasi” Indonesia di ambang pintu Langkah kebijakan yang salah berakibat fatal, dan dapat memulai proses yang tidak kita ingini, berlangsung dengan kecepatan tinggi dan sulit dikendalikan lagi Perubahan tiap detik dengan permasalahan yang multidimensi dan multikompleks, terus terjadi dan terus berkembang Informasi dari Pak Harto mengenai inti permasalahan tidak saya miliki sedikit pun. Apa yang harus saya laksanakan, selain yang sudah diatur dalam UUD ‘45 dan Ketetapan MPR?Detik-Detik yang Menentukan 44
  57. 57. Penjelasan Pak Harto mengenai pengunduran dirinyasebagai Presiden RI, mungkin dapat saya peroleh padapertemuan empat mata yang sedang diatur oleh protokoldan ADC Presiden. Begitu pula, penjelasan dasar hukum pengunduran diriPak Harto, mungkin dapat saya peroleh dari hasil sidangPimpinan DPR/MPR dan Mahkamah Agung, besok pagi diIstana Merdeka, sebelum penyerahan resmi kekuasaan dariPresiden ke Wakil Presiden. Keadaan yang tidak menentu, ketidakstabilan politik danturunnya kredibilitas pemerintah adalah penyebab utama“krisis moneter”, “krisis-ekonomi”, dan “krisis politik”. Mengapa semuanya ini terjadi? Apa penyebabnya? Apa benar keadaan tidak menentu yang terjadi tersebutkarena “krisis moneter”, “krisis ekonomi”, dan “krisispolitik” adalah penyebab utama? Pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sekitar53 tahun yang lalu, yang menjadi pemersatu bangsaIndonesia adalah sejarah yang sama, yakni “dijajah selama350 tahun oleh penjajah yang sama”. Bukan budaya, bukan agama, bukan ras, dan bukankelompok etnik yang mempersatukan kita, tetapi nasibdijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Perasaan senasibakibat penjajahan Belanda tersebut adalah pemersatu danperekat bangsa. Karena itu, yang diproklamasikan sebagai wilayahRepublik Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda,wilayah Hindia Belanda. Kualitas kehidupan dan tingkat keterampilan rakyat,pada waktu itu, sangat rendah karena pengaruh dandampak negatif kolonalisme yang hanya menitikberatkanpada pembangunan prasarana ekonomi. Begitu pulapembangunan sumber daya manusia hanya diperuntukkan 45 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  58. 58. untuk mengelola dan mengambil keuntungan dari sumberdaya alam terbarukan dan tidak terbarukan. Politik aparat pemerintah yang dikendalikan olehkekuasaan penjajah mengutamakan ketertiban danpengamanan, demi untuk menekan biaya dalam pengambilankekayaan bangsa Indonesia, bagi pembangunan di Belanda. Lembaga-lembaga kebudayaan dan tradisional secarasistematis digerogoti demi kepentingan eksploatasi ekonomi.Lembaga-lembaga perekonomian dirancang untuk menjaminaturan-aturan perdagangan yang dipaksakan oleh kaumpenjajah. Oleh karena itu, keadaan masyarakat Indonesiamenjelang proklamasi kemerdekaan, tidak memiliki aparaturataupun lembaga administrasi dan birokrat yang dapatdiandalkan. Untuk mencegah terjadinya perpecahan bangsa Indonesiayang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, makaterpaksa pimpinan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) melaksanakan kepemimpinan yang sifatnya otoriter. Walaupun pada waktu Proklamasi KemerdekaanRepublik Indonesia dalam Mukadimah UUD ‘45,menyebutkan nilai-nilai yang berakar pada hak asasimanusia, kebebasan, dan kemerdekaan, namun dalamkenyataannya belum dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia. Hal itu terjadi karena lebih dari 95 persen pendudukIndonesia pada waktu itu, masih buta huruf, dibandingsekarang yang kurang dari 15 persen. Selain pendidikan,kebutuhan dasar manusia seperti makanan bergizi, airminum, perawatan kesehatan, dan lapangan pekerjaanmenjadi perhatian utama. Dengan bantuan organisasi multilateral dan negara-negara maju, Indonesia untuk pertama kalinya sejak 1968,selama lebih dari tiga dasawarsa, mampu menciptakan danmenerapkan program pembangunan yang berkelanjutan. Detik-Detik yang Menentukan 46
  59. 59. Didukung oleh pengembangan sumber daya manusia,prasarana ilmu pengetahuan dan perekonomian, secarasistematis, transformasi Indonesia menjadi sebuah negaraindustri dimulai. Menjelang akhir abad milenium pertama, pengaruhindustri media massa dan proses globalisasi semuanyaberdampak positif pada proses pengembangan sumber dayamanusia di Indonesia. Proses keterbukaan dan demokratisasi, yangdikembangkan oleh pemerintah dan Pimpinan Nasional,terlalu lambat dibandingkan dengan tuntutan masyarakatIndonesia. Simbiosis antara pimpinan yang otoriter denganlingkungan yang sudah berjalan dan membudaya sejak 53tahun, mengakibatkan distorsi informasi politik yangmenurunkan kualitas kebijakan Presiden sebagai pusatkekuasaan. Sistem otoriter yang selama ini diterapkan, tidakmampu lagi mencegah dan mengatasi krisis demi krisis. Di sisi lain, keberhasilan sistem pendidikan ditambahdengan tersedianya sistem informasi yang terus berkembang,telah berhasil meningkatkan kualitas SDM. Kesadaran hak asasi manusia (HAM) dalam suatu sisteminformasi yang makin sempurna, walaupun belum dapatdiimbangi oleh kewajiban asasi manusia (KAM) baik globalmaupun regional, meningkatkan tuntutan masyarakat untukmemperoleh kebebasan total di atas kemerdekaan. Saya sangat menyadari bahwa tuntutan rakyat tersebutadalah wajar, karena kebebasan dan kemerdekaan tak dapatdipisahkan, bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama.Derivatif dari kebebasan dan kemerdekaan adalah antaralain hak asasi manusia dan demokrasi. Bagaimana dengan‘kewajiban asasi manusia’ yang harus mengimbangi hakasasi manusia? 47 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  60. 60. Sejarah telah membuktikan bahwa para entrepreneurpaling banyak lahir dan dapat berkembang menjadi ungguldan andal dalam suatu masyarakat yang bebas total (bebasdari dogma), merdeka, dan demokratis. Para entrepreneur adalah salah satu penggerak utamauntuk meningkatkan produktivitas dan daya saing suatumasyarakat. Oleh karena itu, adalah sangat wajar jikalaudalam era globalisasi dan informasi ini, tuntutan rakyatdipenuhi. Permasalahannya, bagaimana memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut tanpa mengakibatkan suatu revolusi atauperang saudara yang jelas merugikan rakyat? Ini harus disadari oleh semua pimpinan nasional, bahwahanya melalui suatu masa peralihan dengan pengorbananyang minimal dan dalam waktu sesingkat-singkatnya,kebebasan yang diimbangi oleh tanggung jawab harusdiberikan kepada rakyat. Namun, gerakan dan tuntutan masyarakat sudah tidaksabar menantikan kebebasan secara total. Presiden danpemerintah tidak mendapat kepercayaan yang diperlukan.Presiden Soeharto tidak memiliki kredibilitas lagi, dandemikian pula saya yang telah mendampingi Pak Hartoselama seperempat abad. Bukankah kredibilitas dan prediktabilitas, erat kaitannyadengan transparansi? Bukankah transparansi itumempermudah pengawasan? Bukankah pengawasan olehmasyarakat, erat kaitannya dengan kebebasan pers? Namun, apakah kebebasan pers dapat jugadisalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,untuk lebih mengeruhkan dan mempersulit penyelesaianmasalah multidimensi dan multikompleks? Pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan tersebut, terusmemengaruhi proses kebijakan saya. Saya menyadari, Detik-Detik yang Menentukan 48
  61. 61. kebijakan apa pun yang saya ambil mengandung risiko. Olehkarenanya, risiko itu harus diperhitungkan. Setelah mempertimbangkan dan memerhatikanpemikiran tersebut, maka saya memutuskan untukmembenarkan setiap orang mengeluarkan pendapatnya,terlepas dari rasa takut. Saya berkeyakinan bahwa orang-orang dalam suatu masyarakat yang bebas bergerak danbebas mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut, akanmampu meningkatkan produktivitas dan kualitasmasyarakatnya. Kita harus pandai-pandai belajar daripengalaman dan kesalahan masyarakat lain, yang melaluiproses reformasi dan proses demokratisasi yang panjang,sudah dapat menikmati produktivitas dan kualitas hidupyang tinggi. Oleh karena itu, saya memutuskan, agar supaya perssegera diberi kebebasan untuk mengeluarkan pendapatdengan segala konsekuensinya. Kelak rakyat akan menilaikualitas pemberitaan itu. Mereka yang membuatpemberitaan tidak bermutu, jelas tidak laku dan tidakmungkin dapat mempertahankan keberadaannya. Semuapemberitaan, harus sesuai UUD dan UU yang berlaku. Sejak Presiden RI Pertama dan dilanjutkan oleh PresidenRI Kedua, dari tahun 1945 sampai sekarang, selama 53tahun, beberapa kekuatan atau institusi yang sangatberpengaruh “dikendalikan” oleh Presiden. Kebiasaan yangsudah menjadi budaya kepemimpinan ini, jelas merugikanobjektivitas dan kualitas kebijakan. Institusi dan kekuatan yang dimaksud adalah: BankIndonesia, dunia pers, lembaga yudikatif (seperti MahkamahAgung, Hakim Agung, Kejaksaan Agung dan Jaksa Agung),lembaga legislatif (DPR, MPR), dan ABRI. Selama saya menjadi Anggota Kabinet PembangunanIII, IV, V, VI dan VII, lebih dua puluh tahun lamanya, 49 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto
  62. 62. Gubernur Bank Indonesia dan Jaksa Agung selalu menjadianggota kabinet dan hadir pada semua sidang baik Paripurnamaupun Terbatas. Tradisi pelaksanaan sidang Kabinet Pembangunan, yangdipimpin oleh Presiden Soeharto hanya berlangsung sebulansekali. Para menteri dalam bidang ekonomi, keuangan danindustri, melaporkan mengenai inflasi, masalah lapangankerja, pangan, impor/ekspor dan sebagainya, kemudiandiakhiri dengan petunjuk Presiden. Petunjuk tersebutsebelumnya, telah dipersiapkan Presiden bersama paramenko dan menteri bersangkutan sebelum sidang dimulai. Tindak lanjutnya di bidang Ekuin, dipersiapkan oleh paramenko dan menteri dalam sidang koordinasi bidang ekonomiyang dipimpim oleh Menko Ekuin. Diskusi secara terbuka, dengan Presiden selama sidangberlangsung, tidak pernah terjadi. Apalagi dengan paramenteri yang bukan anggota Kabinet Bidang Ekuin. Selama20 tahun lamanya, saya selalu harus hadir pada hari Rabupertama tiap bulan mengikuti Sidang Kabinet TerbatasBidang Ekuin. Sebelum dan sesudah sidang Kabinet Terbatas, tiap saatpara menteri dapat bertemu untuk melaporkan danmembicarakan suatu masalah dengan Presiden. Demikianpula saya, pembahasan dengan Presiden tersebut, terbatasdalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yanglangsung atau tidak langsung terkait dengan bidang ekonomidan pembangunan. Tujuannya adalah agar kualitaskebijakan bidang ekonomi dan pembangunan menjadi tinggidan profesional, sehingga pertumbuhan dan stabilitasekonomi dapat terjamin berkesinambungan. Akibat sistem dan mekanisme tersebut, kedudukanPresiden semakin kuat, menentukan, dan cenderung otoriter.Feodalisme dalam bentuk baru lahir dan terus berkembang. Detik-Detik yang Menentukan 50
  63. 63. Bagaimana dengan pembangunan dalam bidang politik,bidang sosial, bidang budaya dan bidang-bidang yang bukanekonomi lainnya? Apakah masalah yang timbul dapat diselesaikan secarapragmatis dengan menghadap dan meminta arahan dariPresiden atau melalui suatu sidang paripurna yang hanyasatu kali setahun dilaksanakan tanpa diskusi? Bagaimanakualitas dan objektivitas kebijakan? Dapatkah sistem otoriterditerima masyarakat yang lebih berpendidikan dan dapatmenerima informasi melalui TV internasional dalam prosesglobalisasi yang terus berkembang? Pendekatan demikian, memang dalam keadaan normalberjalan lancar, meyakinkan dan menjadikan kedudukanPresiden sebagai pusat kekuasaan semakin kuat danmenentukan. Tradisi demikian, pada awal kemerdekaan dapatdipahami, karena memang diperlukan untuk memeliharapersatuan dan kesatuan bangsa yang multietnik,multiagama, dan multibudaya. Bhinneka Tunggal Ika atau “satu dalam kebinekaan”bukanlah secara kebetulan menjadi dasar kehidupan bangsa,tetapi benar mencerminkan kehidupan nyata masyarakat. Kenyataan bahwa 90 persen rakyat Indonesia belumdapat menikmati pendidikan minimum yang wajar ketikakemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17Agustus 1945, telah menjadi pertimbangan utama untukmenunda pemberian kebebasan total. Untuk mencegah perpecahan akibat siasat adu dombakaum penjajah, maka budaya gotong-royong di bumiIndonesia diterjemahkan seperti skenario di atas, yaituskenario yang menghasilkan suatu sistem yang otoriter. Selama 53 tahun di bawah dua Presiden yang otoriter,menyebabkan institusi kepresidenan semakin menjadi pusat 51 Menjelang Pengunduran Diri Pak Harto

×