Sosiologi pendidikan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sosiologi pendidikan

on

  • 1,957 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,957
Slideshare-icon Views on SlideShare
1,940
Embed Views
17

Actions

Likes
0
Downloads
20
Comments
0

1 Embed 17

http://alqurankitab.blogspot.com 17

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Sosiologi pendidikan Sosiologi pendidikan Document Transcript

    • 48 SOSIOLOGI PENDIDIKAN Ungkapan Soerjono Soekanto manusia tanpa manusia lain pasti mati,1 merupakan falsafah hidup manusia sebagai makhluk sosial. Dari asalnya manusia yang bernama Adam tidak bisa hidup tanpa orang lain, yaitu istrinya Hawa. Dari segi kelahiran manusia, tidak bisa lahir ke dunia tanpa melalui perantara sperma (suami) dan ovum (istri) yang membentuk janin dalam rahim ibu dan berkembang menjadi bayi dan lahir ke dunia. Secara fitrah manusia tidak bisa lahir tanpa bantuan ibu (proses mengandung dan melahirkan). Sejak manusia lahir yang dinamakan bayi telah memerlukan bantuan orang lain, yaitu ibu, (membutuhkan Air Susu Ibu atau ASI). Bayi membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang, seperti belajar makan, minum, dan berjalan bermain, berbahasa, bersopan santun, dan sebagainya. Selain itu manusia tidak cukup mempunyai fisik yang kuat untuk dapat hidup sendiri sejak dini, tidak seperti binatang, misalnya kambing, sapi, kerbau, hanya beberapa saat dari kelahiran sudah bisa berdiri, berjalan dan menyusu, tanpa bantuan induknya. Oleh karena itu manusia sejak lahir sudah mempunyai dua hasrat keinginan pokok, yaitu : a. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekitarnya, yaitu masyarakat. b. Keinginan menjadi satu dengan susana alam sekitarnya.2 Menurut JJ Rausseau, yang mendorong manusia hidup bergaul adalah kebutuhan hidupnya yang setiap saat, setiap hari diusahakan. C A Ellwood berpendapat yang menyebabkan manusia hidup sosial dan saling tergantung adalah 1. Dorongan untuk makan 2. Dorongan untuk mempertahankan diri 3. Dorongann untuk malangsungkan jenisnya.3 Semua dorongan manusia ini dapat terwujud ketika terjadi interaksi sosial.4 Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial,5 sedangkan unsur 1 Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, Cet 35, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003), 114 2 Ibid., 114-115 3 Zaenal Abidin Ahmad, Konsep Negara Bermoral, Menurut Imam Ghozali, (Jakarta, Bulan Bintang, 1975), 29 4 Dalam interaksi sosial terdapat dua faktor utama, yaitu individu dan sosial, di mana individu dan sosial saling mempengaruhi dan hubungan timbal balik antara individu dan
    • 49 lain dari proses sosial adalah perkembangan sosial, baik perkembangan individu maupun kelompok, yang termasuk dalam perkembangan sosial individu adalah perkembangan sosial anak. Yang dimaksud perkembangan sosial anak disini adalah pola tingkah laku sosial anak.6 Menurut teori interaksionisme simbolis, tindakan manusia di dasarkan pada tiga hal, yaitu : 1). Manusia bertindak terhadap suatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. 2). Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain. 3). Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi sosial berlangsung.7 Berdasarkan tiga hal tersebut maka tindakan manusia penuh dengan penafsiran dan pengertian. Individu akan mengetahui sesuatu, menilai, memberi makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu. Setiap tindakan berlajan dalam bentuk masyarakat. Dengan adanya interaksi, maka manusia sejak lahir telah mempengaruhi perilaku orang lain dan benda-benda yang ada disekitarnya. Seperti bayi yang baru lahir dalam keadaan lemah. Keadaan bayi ini mempengaruhi orang lain, seperti ibu dan perawat untuk menolong dengan penuh cinta kasih dan berhati-hati untuk merawatnya. Berbeda rasa cinta kasih ibu terhadap orang lain, seperti saudara bayi yang sudah besar. Abu Ahmadi, Sosiologi pendidikan, (Surabaya, PT Bina ILmu, 1982), 45 5 Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut, atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Dengan kata lain, proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalkan pengaruh sosial dan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum dan seterusnya. Dengan pengertian proses sosialisasi ini memungkinkan seseorang memperoleh pengertian mengenai segi yang dinamis dari masyarakat, atau gerak masyarakat. Dahulu banyak sarjana sosiologi yang menyamakan perubahan sosial dengan proses sosial, karena ingin melepaskan dari titik berat pandangan sarjana sosiologi klasik, yang lebih menitikberatkan pada struktur daripada masyarakat. Dewasa ini para sosiolog memperhatikan kedua segi masyarakat itu, yaitu segi statusnya/ struktur masyarakat serta segi dinamis atau fungsi masyarakat. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi, Ibid., 59-60 6 Tindakan adalah perilaku manusia yang mempunyai maksud subyektif bagi dirinya, Artinya tindakan tersebut merupakan perwujudan dari pola pikir individu yang bersangkutan. Tidak semua tindakann manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan baru dikatakan sebagai tindakan sosial apabila arti subyektifnya dihubungkan dengan individu-individu lain. Oleh karena itu tindakan sosial merupakan kenyataan sosial yang paling mendasar, yang menyangkut komponan-komponan dasarnya, yaitu tujuan, alat, kondisi, nilai dan norma. Sedangkan tindakan sosial dibedakan menjadi 1. Tindakan sosial yang bersifat instrumental, yaitu tindakan yang dilaksanakan dengan pertimbangan dan pilihan secara sadar, meliputi proses sosial yang sistematis untuk mencapai tujuan. 2. Tindakan sosial yang bersifat irrasional, yaitu suatu tindakan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan terlebih dahulu azas manfaat dan tujuan 3. Tindakan sosial yang bersifat tradisional, yaitu suatu tindakan yang dilaksanakan dengan memperhatikan unsur rasional dan kondisi atau tradisi sosial yang sudah baku tanpa memperhitungkan proses dan tujuan. Lihat Ishomuddin, Sosiologi Perspektif Islam, (Malang, UMM Press, 1997), 167-168 7 Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer, Terj. Tien Yosogama, (Jakarta, CV Rajawali, 1987), 261
    • 50 prosesual dan masing-masing saling berkaitan dengan tindakan-tindakan prosesual dari orang lain. Tindakan prosesual dapat dimulai dari perkembangan sosial individu dan perkembangan sosial individu dapat dimulai dari perkembangan sosial anak. A. Teori Perkembangan Sosial Anak Istilah perkembangan sangat jarang ditemukan dalam kamus sosiologi. Istilah yang biasa digunakan dalam bidang sosiologi adalah evolusi8 (evolution), kemajuan (progress) dan perubahan (change).9 Sedangkan perkembangan (development) sering dipakai dalam bidang pendidikan dan psikologi, sosiologi pendidikan adalah gabungan dua disiplin ilmu yang berbeda, kiranya sah-sah saja untuk menggunakan istilah perkembangan (development) yang mempunyai makna sama dengan istilah perubahan (change) dan evolusi (evolution). Yang dimaksud dengan teori perkembangan sosial anak disini adalah teori yang dipakai dalam bidang filsafat dan sosiologi tentang perkembangan manusia. Jika dalam psikologi pendidikan dibahas tentang perkembangan manusia dari sisi psikologis, maka dalam sosiologi pendidikan dibahas tentang perkembangan manusia dilihat dari segi sosiologi.10 Teori perkembangan sosial anak dalam 8 Teori evolusi yang sangat terkenal adalah evolusi Darwin mengenai terjadinya makhluk manusia. Darwin (1809-1882) mengajukan teori yang akan mengubah konsepsi alam itu sendiri. Sebagian orang sangat tersinggung karena nenek moyang mereka ternyata sejenis kera. Lihat Robert C Solomon A History of Philosophy, Terj. Saut Pasaribu, (Yogyakarta, Bintang budaya, 2002), 420. Di sisi lain teori evolusi Darwin menjangkit pada ilmu-ilmu sosial, pertama- tama para sosiolog yang dipelopori oleh Ginew dan Spencer. Lihat Abu Ahmadi, Sosiologi. Ibid., 28 9 Dengan demikian apa yang dimaksud dengan perubahan sosial yang dalam bahasa Inggris disebut change ialah suatu keadaan yang menunjukkan perbedaan antara situasi sebelum dan sesudahnya. Jika suatu keadaan (situasi) atau benda mengalami perbedaan dalam kurun waktu tertentu atau dari suatu tempat ketempat yang lain, maka sesuatu atau benda itu dikatakan mengalami perubahan. Kalau sesuatu atau benda tersebut sama (tetap), dari waktu ke waktu dari suatu tempat ke tempat, maka sesuatu atau benda tersebut tidak mengalami perubahan. Lihat, Ishomuddin, Ibid., 132. 10 Dalam dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan disiplin ilmu lain, Pendidikan memerlukan psikologi pendidikan, dan sosiologi pendidikan yang berasal dari disiplin ilmu psikologi dan ilmu sosiologi. Kedua disiplin ilmu ini dibutuhkan dalam pengembangan pendidikan untuk mencari jalan dalam menentukan dan memberikan arah terhadap efek sekolah bagi tingkah laku individu. Kedua ilmu tersebut merupakan alat untuk merealisasi tujuan pendidikan, Dalam rangka untuk merealisasikan tujuan pendidikan, kedua ilmu ini mempunyai cara yang berbeda. Psikologi pendidikan adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan teknik bagi pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru dalam diri anak melalui pendekatan-pendekatan hukum dari ilmu jiwa praktis untuk mencari, mengumpulkan dan mengevaluasi pengalam-pengalaman tentang belajar,
    • 51 sosiologi pendidikan oleh Abu Ahmadi diketagorikan sebagai teori proses sosial.11 Sedangkan teori perkembangan sosial anak adalah : 1. Teori Natisisme Teori natisisme dipelopori oleh Schopenhover12 yang mengatakan bahwa manusia akan berkembang seperti apa sangat tergantung dari pembawaan. Jika pembawaan pandai akan menjadi manusia yang pintar dan jika pembawaannya bodoh, maka akan menjadi bodoh. Perkembangan manusia bukan dipengaruhi oleh orang lain, lingkungan, budaya, dan termasuk pendidikan. Perkembangan sosial manusia telah ada bersama pembawaan sejak lahir. Teori nativisme menafikan pengaruh interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan tidak berarti apa apa dalam perkembangan manusia, apa yang dikerjakan apa yang diucapkan dan apa yang dipikirkan merupakan kecakapan yang dibawa sejak lahir. Proses kehidupan manusia tergantung dengan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi nativisme tidak menjelaskan bagaimana seseorang lahir dengan membawa potensi, apakah potensi itu mempunyai hubungan sangat erat dengan kondisi orang tua atau tidak, selama ini tidak pernah ada penjelasan. Apabila orang tua mempunyai IQ tinggi atau mempunyai IQ rendah akan dapat berpengaruh kepada anaknya. Dalam beberapa penelitian menyimpulkan bahwa anak sangat dipengaruhi oleh keadaan orang tua, baik keadaan fisik, psikis, maupun sosial-ekonominya. 2. Teori Empirisme Teori empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704)13 yang menyatakan bahwa bayi ketika lahir ibarat kertas yang masih putih bersih, dan Sedangkan sosiologi pendidikan berhubungan dengan masalah implikasi sosiologi, seperti pembuatan kurikulum, organisasi kelas, dan metode mengajar. Sekolah dalam kenyataannya adalah sebagai lembaga sosial. Lihat, Abu Ahmadi, Sosiologi, Ibid., 47 11 Ibid., 90 12 Schopenhauer (1788-1860) dikenal dengan teori pesimisnya dan gayanya yang tidak ramah. Schapenhauer berpendapat bahwa kehendak tidak khas (ada) bagi agen-agen manusia dan tidak semua agen mempunyai kehendak sendiri-sendiri. Yang ada hanya kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Sesuatu yang ada di dunia fenomenal mewujudkan kehendak Tuhan. Robert C Solomon, Sejarah, Ibid., 505-409 13 John Locke (1632-1704) dianggap sebgai Nabi revolusi yang paling moderat dan paling berhasil dari evolusi yang ada. Pikiran pikiran Locke sangat dipengaruhi oleh filsafat Descartes. Teori empiris Locke didasarkan pada tidak ada gagasan tanpa kesan yang mendahuluinya. Kesan dianggap masuk akal apabila memiliki sebab-sebab dari luar. Lihat Bertran Rousell, Sejarah Filsafat Barat, Terj. Sigit Jatmiko, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002), 803
    • 52 akan tumbuh dan berkembang seorang anak sangat tergantung pengaruh dari luar yang datang. Jadi perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada faktor lingkungan, sedangkan pembawaan tidak ada pengaruhnya. Dasar yang dipakai aliran empirisme adalah bahwa bayi pada saat dilahirkan dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi, sehingga akan ditulisi apa tergantung pada penulisnya. Hal ini berarti baik dan buruknya anak tergantung pada baik dan buruknya pendidikan yang diterimanya. Menurut Jean Jaques Rausseau (1712-1778)14 bahwa manusia itu pada dasarnya baik sejak ia dilahirkan. Jadi kalau ada manusia yang jahat bukan karena benihnya, tetapi dikembangkan setelah ia lahir, yakni setelah ia hidup di masyarakat dan setelah terpengaruh oleh lingkungan serta kebudayaan. Menurut Mensius (372-289 SM), yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, sehingga cinta pada dasarnya lebih dari pengertian yang dangkal. Menurut H Sun Tzu15 (289-230 SM) bahwa manusia pada dasarnya adalah jahat, akan tetapi untunglah manusia juga cerdas dan dengan kecerdasannya ia dapat mengolah kebaikan yang ada pada dirinya. Ia menjadi manusia yang baik karena ia bergaul dengan masyarakat. Jadi manusia itu menjadi baik bukan karena benihnya, tetapi karena hidup dan bergaul dengan masyarakat. 3. Teori Konvergensi Teori ini dipelopori oleh William Stern yang merupakan perpaduan antara teori empirisme dan teori nativisme. Teori konvergensi menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia tergantung pada dua faktor : yaitu bakat atau pembawaan dan lingkungan atau sekolah. Teori konvergensi mengakui bahwa manusia lahir telah membawa bakat atau potensi-potensi dasar 14 JJ Rousseau di lahirkan di Jerman pada tahun 1712 dan didik sebagai coevimis ortodok. Ayahnya tergolong miskin yang bekerja sebagai perajin arloji dan guru dansa dan ibunya meninggal pada saat ia masih bayi. Dia tidak lagi sekolah setelah berumur 12 tahun dan pada umur 16 tahun meninggalkan Jenewa menuju Sovoy. Tanpa perantara dan fasilitas hidup ia pergi ke seorang pendeta Katolik dan menyatakan diri sebgai orang Katolik. Dan pembabtisan dilaksanakan di Turen. Kemiskinan membawa dia untuk bekerja. Pada awalnya ingin menjadi prajurit bayaran, kemudian akhirnya menjadi pesuruh seorang wanita bernama Madame de Vercelli. Dan ia menjadi pelayan hanya tiga bulan, karena Madame keburu meninggal. Pada saad Madam meninggal ia kedapatan menyimpan pita yang merupakan milik Madame yang diperoleh melalui mencuri. Ia tidak mau dituduh mencuri dengan alasan pita itu diberi oleh seorang pelayan wanita. Orang percaya pada dia dan wanita itu dihukum. Rousseau merasa tindakan menuduh wanita malang adalah perbuatan kejam dan jahat. Bertran Russell. Ibid., 896 15 Robert C Solomon, Sejarah, Ibid., 174
    • 53 yang dapat dikembangkan. Proses pengembangn sangat tergantung pada lingkungan masyarakat dan sekolah. Misalnya seseorang yang lahir dengan membawa potensi cerdas akan bisa menjadi cerdas apabila dikembangkan, baik melalui pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah (formal). Akan tetapi potensi cerdas tersebut akan tetap ada pada diri manusia dan tidak berkembang, apabila tidak bergaul dan hidup dengan masyarakat dan sekolah. Sesuai dengan corak dan karakteristik sosiologi, diantara tiga teori perkembangan sosial diatas yang sangat mendukung adalah teori empirisme. Di Amerika telah diselidiki seorang anak bernama Anna yang hidup terpencil di daerah Attic Pensyilvanea di rumah seorang petani sejak umur 6 bulan sehingga umur 5 tahun. Setelah dipindah ke rumah biasa, Anna mulai belajar bahasa, mulai tertarik dengan anak lain dan turut bermain dengan anak-anak normal lainnya.16 Perubahan tingkah laku Anna karena berhubungan dengan lingkungannya dan pengalaman Anna sebelum dipindah ke rumah yang normal juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat. B. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Anak Pertanyaan yang sangat menarik dari Sanapiah Faisal yang berkaitan dengan perkembangan sosial anak adalah kenapa para sosiolog ikut-ikut memusingkan diri dengan soal kepribadian ? Bukankah soal tersebut lebih sesuai menjadi bidang para psikolog ? Jawabannya adalah dikembalikan kepada penyelidikan para sosiolog tentang pola-pola tingkah laku sosial. Tingkah laku sosial perlu dicari penyebabnya, yaitu terbentuknya kepribadian individu. Hal ini merupakan hubungan yang tak terpisahkan anatara ilmu sosiologi dengan ilmu- ilmu yang lain, terutama psikologi sosial.17 Faktor-faktor yang menyebabkan 16 Di Indonesia dengan kasus yang sama seperti Anna di Amerika pernah ditemukan 2 orang anak pada tahun 1920 yang dipelihara oleh singa. Kemudian ditemukan oleh Mrs Singh dan dibawa ke rumah. Anak pertama berumur dua tahun dan diberi nama Amala dan anak kedua berumur 8 bulan dan diberi nama Kamala. Setiba di rumah Singh, kedua anak tersebut berjalan merangkak, mengeluarkan suara yang tidak beraturan, makan daging, minum milk seperti anjing dan singa. Amala bertahan hidup selama setahun dan Kamala bertahan hidup sampai 9 tahun. Selama waktu ini Kamala belajar berjalan tegak, dapat menguasai bahasa seumur anak 5 tahun dan dapat menerima pola tingkah laku yang normal,termasuk harga diri. Lihat Abu Ahmadi, Ibid., 91. 17 Psikologi sosial adalah studi sosial ilmiah tentang proses mental manusia sebagai makhluk sosial. Obyek psikologi sosial adalah tingkah laku manusia di masyarakat sebagai
    • 54 terjadinya tingka laku manusia adalah : 1). Struktur sosio-kultural, yaitu pola tingkah laku ideal yang diharapkan. 2). Faktor situasi, yaitu semua kondisi fisik dan sosial dimana berada dan diterapkan sesuai dengan sistem sosial. 3). Faktor kepribadian, yaitu semua faktor psikologis dan biologis yang mempengaruhi tingkah laku para pelaku secara perseorangan. Dilihat dari aspek-aspek perkembangan sosial anak tampak dalam dua aspek, yaitu : 1). Aspek biologis, makan, minum dan perlindungan yang telah dapat mengubah bayi menjadi manusia yang dewasa jasmaniyah. 2). Aspek personal sosial, yaitu pengalaman dan pengaruh manusia lain telah mengubah anak menjadi pribadi sosial dan warga masyarakat yang bertanggungjawab.18 Dari kedua aspek perkembangan sosial anak tersebut, pembahasan ini akan difokuskan pada faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan sosial anak dalam aspek personal sosial saja. Proses perkembangan sosial anak atau sebagai makhluk sosial yang berkepribadian dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal (yang berasal dari dalam diri anak) maupun faktor eksternal (yang berasa dari luar diri anak). Menurut FG Robins ada lima faktor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian anak, yaitu sifat dasar, lingkungan pre-natal, perbedaan individual, lingkungan dan motivasi.19 1. Sifat Dasar Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar ini terbentuk pada saat konsepsi, yaitu momen bertemunya sel jantan (ayah) dan sel betina (ibu) pada saat pembuahan. Menurut Hasan Langgulung, pada saat mengembuskan (meniupkan) pada diri manusia, maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuk yang sempurna) mempunyai sebagian sifat ketuhanan.20 Sebagian sifat ungkapan proses mental kejiwaan yang meliputi keamanan, minat, reaksi, emosional dan kecerdasan. Sikap mental seseorang, reaksi emosional, kemauan dan perhatiannya merupakan dorongan dan gejala kejiwaan, tetapi semua itu tidak harus semata-mata menunjukkan ungkapan proses mentalnya, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungannya (alam, sosial, budaya, ). Lihat, D Cruchfild Krech, Individual in Society, (Tokyo, Mc Graw Hill Kogakruser, 1962), 478-483 18 ST Vembriarto, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta, Andi Offset, 1990), 24 19 Abu Ahmadi, Sosiologi, Ibid., 141-144 20 Hasan Langgulung Manusia Dan Pendidikan, (Jakarta, Pustaka al-Husna, 1986), 5
    • 55 ketuhanan inilah yang dalam perkembangan manusia disebut sifat dasar/fitrah manusia. Potensi bawaan yang dimiliki oleh manusia yang paling penting antara lain : a.Sifat dasar beragama b.Sifat dasar berakal budi c.Kebersihan dan kesucian d.Bermoral dan berakhlak e.Kebenaran f. Keadilan g. Persamaan dan kesatuan h.Individual i. Sosial j. Seksual k.Ekonomi l. Politik, dan m. Seni. 2. Lingkungan Pre-natal Yang dimaksud dengan lingkungan prenatal adalah lingkungan dalam kandungan ibu, sel telur yang telah dibuahi pada saat konsepsi berkembang sebagai embrio dalam lingkungan pre-natal. Dalam lingkungan prenatal ini individu mendapatkan pengaruh secara tidak langsung dari ibu. Pengaruh- pengaruh tersebut adalah : a. Beberapa jenis penyakit, seperti diabetes, kanker, HIV, dan sebagainya. Penyakit-penyekit tersebut mempunyai pengaruh dalam pertumbuhan mental penglihatan dan pendengaran bayi dalam kandungan. b. Gangguan edokrin dapat mengakibatkan keterbelakangan perkembangan anak, seperti keterbelakangan mental dan emosional. c. Struktur tubuh ibu (terutama daerah pinggul) merupakan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan. Beberapa ahli berpendapat bahwa cacat pada kaki, kidal, berhubungan dengan posisi anak dalam kandungan ibu.
    • 56 d. Shock pada saat melahirkan, luka pada saat kelahiran merupakan kondisi yang dapat menyebabkan berbagai kelainan, seperti cerebral, palsi dan lemah pikiran. Tindakan orang tua yang berpengaruh terhadap anak dalam kandungan ada yang bersifat religius, seperti dalam Islam banyak beribadah kepada Allah, banyak membaca Al-Qur'an, banyak berdo'a dan berbudi pekerti yang baik. Ada juga yang bersifat ilmiah, seperti, memberi makanan yang halal, dan bergizi, menjaga kesehatan (senam hamil), dan kebersihan, menciptakan kedamaian dan ketenangan dalam rumah tangga, mempelajari ilmu-ilmu umum dan agama dalam rangka mendidik anak kelak setelah lahir dan sebagainya. 3. Perbedaan Individual Perbedaan individual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak sejak anak dilahirkan, akan tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik,21 yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individu ini terletak pada : a. Perbedaan fisik, seperti bentuk badan, warna kulit, rambut dan sebagainya. b. Perbedaan psikologis, seperti IQ, emosional, mental, motivasi dan sebagainya. Perannan faktor perbedaan ini menyangkal faham determinisme kultur. Menurut faham ini kepribadian manusia itu dibentuk oleh kebudayaan masyarakatnya. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa meskipun individu itu hidup dalam masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan, namun dia tetap merupakan pribadi yang bersifat unuk. 4. Lingkungan Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah kondisi di luar individu yang mempengaruhi perkembangan sosial anak. Lingkungan dapat dibedakan 21 Keunikan individu dapat dilihat dari segi pola tingkah laku sosialnya. Individu adalah seorang yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga memiliki kepribadian serta pola tiungkah laku spesifik dirinya. Keunikan individu terlihat dalam tiga hal yaitui : aspek organik jasmani, aspek psikis rohani, dan aspek sosial kebersamaan. Dalam kenyataanya seorang individu dalam bertingkah laku ternyata menurut pola pribadinya. Ishomuddin, Ibid., 146
    • 57 menjadi : 1. Lingkungan alam, yaitu tanah, iklim, flora dan fauna, disekitar individu. 2. Kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat dimana tempat individu hidup. Kebudayaan mempunyai aspek material, seperti rumah, perlengkapan hidup, hasil teknologi dan sebagainya dan aspek non materiil, seperti, nilai- nilai, pandangan hidup, adat istiadat, norma dan sebagainya. 3. Manusia dan masyarakat diluar individu. Diantara ketiga lingkungan ini yang bersentuhan langsung dengan anak dalam proses pendidikan adalah tipe ketiga. Lingkungan alam dan kebudayaan akan bermanfaat sebesar-besarnya jika digerakkan oleh manusia dan masyarakat, karena pada hakekatnya alam dan kebudayaan adalah pasif tanpa ada mobilisasi dari manusia dan masyarakat. 5. Motivasi Motivasi adalah kekuatan diri dalam individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi dibedakan antara dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah keadaan ketidaksimbangan dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan dari luar indiviudu yang mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali atau adaptasi. Dalam diri manusia terdapat dorongan makan, minum, menghindarkan diri dari bahaya, bekerja dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal sosial dan kultur. Kebutuhan manusia yang terpenting adalah : a. Kebutuhan untuk bersama orang lain b. Kebutuhan untuk berprestasi c. Kebutuhan afeksi d. Kebutuhan bebas dari rasa takut e. Kebutuhan bebas dari rasa bersalah f. Kebutuhan untuk turut serta dalam mengambil keputusan mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya g. Kebutuhan akan kepastian ekonomi, dan h. Kebutuhan akan terintegrasinya sikap, keyakinan dan nilai-nilai. C. Proses Perkembangan Sosial Anak
    • 58 Perkembangan sisal anak dapat melalui dua cara, yaitu proses belajar sosial (proces of learning) atau sosialisasi dan proses pembentukan kesetiaan sosial (formation of social loyalities). 1. Process of Learning (Proses Belajar Sosial) Proses belajar sosial dapat ditemukan dalam sosiologi dengan istilah sosialisasi. Belajar sosial berarti belajar memahami dan mengerti tentang perilaku dan tindakan masyarakat melalaui interaksi sosial. Oleh karena itu yang dibahas dalam process of learning disini adalah sosialisasi yang mempnyai arti yang sama dengan belajar. a. Konsep sosialisasi Konsep dasar sosialisasi berasal dari ilmu biolgi yang disebut adaptasi (adaptation) yang artinya penyesuaian diri. Adaptasi dijadikan dasar oleh teori evolusi Darwin. Menurut teori evolusi hanya organisme (fisik) yang berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungannya sajalah yang dapat tetap hidup. Penekanan adaptasi adalah segi fisik, bukan dari seri tingkah laku. Dalam ilmu psikologi penyesuaian diri disebut dengan adjusment yang mencakup masalah-maslah kebiasaan, perangai, ide-ide, sikap dan nilai-nilai sosialisasi menurut sosiologi adalah proses yang membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan secara menyeluruh, baik diri tentang cara-cara kehidupan maupun cara-cara berpikir kelompok agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.22 Tingkah laku mansuia dapat dipahamkan sebagai reaksi dari tuntutan atau tekanan dari lingkungannya. Tuntutan itu ada yang bersifat fisik, seperti di daerah yang dingin, manusia harus berpakaian yang tebal untuk memenuhi tuntunan lingkungan iklim, untuk menghindarkan diri dari hujan dan terik matahari, serta dinginnya udara malam, manusia membangun rumah yang dilengkapi dengan lembah dan atap yang kuat. Untuk menghindari bahaya banjir, tanah longsor, serbuan binatang buas, manusia membangun rumah yang tinggi dan kuat, sebagai tuntunan dari lingkungan 22 Choalalthe Buchler, Psycology of Contemporary Living, ( New York, Delta Book Publishing, tt), 172
    • 59 Selain tingkah laku manusia sebagai reaksi dari tuntutan lingkungan fisik manusia juga menghadapi tuntutan sosial masyarakat. Pada seorang masih bayi atau anak-anak, orang tua memberi tuntutan terhadapnya agar dapat menerima nilai-nilai dan memiliki pola-pola tingkah laku yang baik. Di sekolah dia mendapat tuntutan dari kepala sekolah, guru dan teman-temannya untuk dapat bertingkah laku yang dapat diterima oleh mereka. Dan setelah dewasa dia tidak terlepas pula dari tuntutan orang lain untuk bertingkah laku yang dapat diterima oleh mereka. Gambaran dari berbagai tuntutan tersebut di atas, baik yang bersifat tuntutan lingkungan fisik maupun tuntutan lingkungan sosial, dialami oleh setiap orang dalam hidup bermasyarakat. Jika dapat memenuhi tuntutan fisik, maka dia dapat dikatakan belum menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Cara penyesuaian diri seperti ini disebut adaptasi. Jika dapat memenuhi tuntutan lingkungan sosial, maka dia dikatakan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Cara penyesuaian diri seperti ini dinamakan adjusment. Jika dapat mememnuhi tuntutan lingkungan fisik dan tuntutan lingkungan sisial, yakni kedua model tuntutan itu dapat dipenuhi, maka dia dikatakan dapat menyesuaikan diri. Cara penyesuaian diri seperti ini disebut sosialisasi (socialization). E Evertt M Rogers dalam bukunya Social Change in Rurel Societies menggunakan istilah socialization. Rogers mengatakan socialization is the proces by wich an idividual's personality is shaped the transmition of culture to individual (sosialisasi adalah suatu proses di mana kepribadian individu di bentuk melalui transmisi (pemindahan) budaya terhadap individu tersebut).23 Tuntutan atau tekanan terhadap individu dalam konsep sosialisasi ada yang bersifat internal dan eksternal. Tuntutan internal adalah tuntutan yang berupa dorongan atau kebutuhan yang timbul dari dalam, baik yang bersifat fisik, maupun sosial, seperti kebutuhan makan, minum, seks, 23 Evertt M Rogers, et. al, Social Change in BRiral Societies, (Englewood Cliffs An Hall, 1988), 50
    • 60 penghargaan sosial, persahabatan, cinta, perhatian, kasih sayang, dan sebagainya. Sedangkan tuntutan eksternal adalah tuntutan yang datang dari luar diri individu, seperti keadaan iklim, cuaca, lingkungan alam, individu lain dan masyarakat. Dalam memenuhi suatu tuntutan, individu tidak selalu serasi, kerapkali individu mengalami konflik-konflik tuntutan. Hal-hal yang menyebabkan konflik antara lain : 1. Perbedaan antara individu dengan individu yang berupa pendirian dan perasaan. 2. Perbedaan kebudayaan. Perbedaan kepribadian dari orang perorang tergantung pada pola kebudayaan yang menjadi latar belakang pembentukan dan perkembangan kepribadian. Seseorang dengan cara sadar atau tidak sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh pola-pola pemikiran dan pola-pola pendirian dari kelompoknya. 3. Perbedaan kepentingan. Perbedaan kepentingan antar individu atau antar kelompok merupakan sumber lain dari konflik. Wujud kepentingan bisa bermacam-macam, seperti kepentingan sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. 4. Perubahan sosial. Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat untuk sementara waktu akan mengubah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya beda pendirian.24 Tuntutan yang tidak serasi akan menyebabkan konflik-konflik. Ada tiga pola konflik yaitu : 1. Konflik antara tuntutan internal dengan tuntutan internal lainnya. Misalnya, seseorang yang ingin mendapatkan prestasi atau status sosial, seseorang harus bersaing atau bertentangan dengan teman- temanya sendiri. 2. Konflik antara tuntutan eksternal yang satu dengan tuntutan eksternal yang lain. Seperti seorang laki-laki mendapatkan tuntutan dari ayahnya untuk menjadi olahragawan, sementara ibunya menuntutnya agar dia 24 Leopold Von Wiese, at. all, Sistematic Sociology, (New York, 1932)
    • 61 menjadi seniman. Di satu sisi anak akan menghadapi tuntutan yang keras, berlatih kasar untuk menjadi olahragawan, disisi lain untuk menghadapi tuntutan lembut dan harus untuk menjadi penari. 3. Konflik antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Seperti tuntutan seks dan tuntutan di masyarakat, di pihak lain agar kebutuhan seksual dapat disalurkan melalui proses perkawinan. b. Pengertian Sosialisasi Berdasarkan konsep sosialisasi di atas, para tokoh sosiolog memberiakan pengertian sosialisasi sebagai berikut : 1. Thomas Ford Hoult, sosiologi adalah almost always denotes the process were by individual lean to behave willingly in accordance with the prevailling standards of their culture (Sosialisasi adalah proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat). 2. G H Mead, Sosialisasi adalah : taking over of another person's habit's, attitut and ideas and reorganising of then into one's own system. (dalam proses sosialisasi individu mengadopsi kebiasaan sikap dan ide-ide dari orang lain dan menyusunnya kembali sebagai suatu sistem dalam diri pribadi. 3. Evert M Rogers, sosialisasi diartikan : socialization is the process by wihich an individual personality is sheped though the transmission of culture to individual. (sosialisasi adalah suatu proses dimana kepribadian seorang individu dibentuk melalui transmisi (pemindahan) budaya terhadap individu tersebut. 4. Havighurst, sosialisasi diartikan : socialization is the process by which children learn the ways of their society and make these ways part of their own personalities. (proses sosialisasi adalah proses belajar yang bersifat khusus) Dari beberapa devinisi di atas, dapat ditarik pemahaman sosialisasi sebagai berikut :
    • 62 1. Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu proses akomodasi dimana individu menahan dan mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil oper cara hidup masyarakatnya. 2. Dalam proses sosialisasi, individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide- ide, pola nilai dan tingkah laku dengan standar tingkah laku dimana ia hidup. 3. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu, kemudian disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadinya. Sosialisasi adalah proses belajar segala sesuatu yang dipelajari individu harus di pelajari dari anggota masyarakat lainnya. Secara sadar apa yang diajarkan oleh orang tuanya, saudara-saudara, anggota keluarga lainnya dan di sekolah oleh gurunya adalah telah melakukan sosialisasi. Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Proses sosialisasi terjadi melalui conditioning oleh lingkungan yang menyebabkan individu mempelajari pola kehidupan yang fundamental, seperti bahasa, cara berjalan, duduk, makan, apa yang dimakan, berkelakuan sopan, mengembangkan sikap yang dianut dalam masyarakat, seks orang yang lebih tua, pekerjaan, rekreasi dan segala sesuatu yang perlu bagi warga masyarakat yang baik. Dengan interaksi anak dengan lingkungan, lambat laun akan mendapat kesadaran akan dirinya sendiri sebagai pribadi. Anak memandang dirinya sebagai obyek seperti orang lain memandang dirinya. Anak dapat membayangkan kelakuan apa yang diharapkan orang lain pada dirinya, sehingga anak akan mampu mengatur kelakuannya seperti yang diharapkan orang lain. Dengan menyadari dirinya sebagai pribadi, anak akan dapat menempatkan diri dalam struktur sosial, baik akibat dari berkelakuan dari menuruti norma maupun akibat melanggar norma. c. Teori sosialisasi
    • 63 Teori yang dominan dalam membahas sosialisasi adalah teori fungsionalisme struktural Talcott Parsan. Dia berpendapat bahwa realitas sebagai suatu sistem sosial, dimana bagian-bagiannya berkaitan dengan keseluruhannya dan dijelaskan berdasarkan fungsi sistem bagi keseluruhan. Semua tindakan harus diarahkan kepada tujuan (goal oriented) dan memperhatikan tujuan orang lain. Semua tindakan diarahkan pada 5 dilema (pattern variabless) 1. Affectivity versus affective neutrality (afektifitas dan netralitas afektif), yaitu memandang tindakan kita sebagai tujuan diri sendiri atau bagian dari rencana yang lebih luas. 2. Spesivity versus diffuseness (kekhususan dan kebenaran), yaitu memandang tindakan individu yang lebih spesifik seperti pelayan toko atau memandang yang lebih luas, seperti sahabat karib. 3. Univesalisme versus partikularisme. 4. Self orientation versus collectivity. 5. Achievement versus ascription (prestasi dan bawaan). Kelima dilema Talcott Parsons diatas berorientasi pada nilai yang dihadapkan pada tiga masalah umum. Menurut Kluckhohn ada tiga masalah umum yang berkaitan dengan dilema Parsons. 1. Orientasi kodrat manusia yang pada dasarnya jahat, tetapi dapat diubah menjadi baik, atau manusia pada dasarnya baik, tetapi dapat berubah menjadi jahat. 2. Orientasi alam, ada yang melihat pekerjaan alam di luar kontrol manusia dan ada yang memandang pekerjaan alam di bawah kontrol manusia. 3 Orientasi waktu, ada yang menekankan pada masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Seperti orang yang akan memperoleh pekerjaan baik, maka harus terus belajar. Hal ini menekankan pada masa depan, sehingga mereka tidak melihat latar belakang orang tua yang misalnya sebagai petani, atau tidak melihat masa sekarang yang belum mempunyai pekerjaan. Pendidikan dilihat
    • 64 dan diyakini mempunyai harapan untuk merubah nasib mereka, sehingga mereka berkeyakinan jika terus belajar, maka akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Berdasarkan pemikiran di atas, kemudian muncul teori sosialisasi. Dalam pembahasan ini ada tiga teori sosialisasi, yaitu sosialisasi pasif, sisialisasi aktif, dan sosialisasi radikal. Teori sosialisasi menitikberatkan pada struktur sosial, funngsi dan peran. 1. Teori sosialisasi pasif Dalam perkembangan sosial, anak akan tumbuh dan menjadi matang dalam proses terus menerus mengalami frustrasi dalam pencapaian tujuan. Untuk mengatasi rasa frustrasi tersebut anak mulai menggunakan siasat baru dalam upaya terus menerus dalam mencapai tujuan. Dan juga anak menggunakan sifat-sifat baru untuk memenuhi tuntutan-tuntutan barunya. Teori sosialisasi pasif berasumsi bahwa anak hanya akan memberi respon rangsangan orang tua, disisi lain anak mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dalam dirinya sehingga anak akan mengalami konflik-konflik, misalnya anak merasa bersalah ketika orang tua melarang bepergian, sedangkan menurut anak tindakan yang paling layak ialah ia harus pergi. Menurut Parson kepribadian dasar yang sekali diletakkan dalam masa kanak-kanak bersifat relatif stratis selama hidup. Jadi teori sosialisasi pasif adalah proses penyesuaian diri ketika mendapat rangsangan dari individu lain, ketika tidak ada rangsangan tidak akan terjadi sosialisasi. Berdasarkan abservasi yang dilakukan oleh Kohl, dari 24 anak dari keluarga kebanyakan (umum) maka ditemukan separuh dari mereka sudah puas dengan keadaan dan cara hidup mereka sekarang, sedangkan separuhnya menginginkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Kelompok keluarga yang sudah puas dengan keadaan dan cara hidup sekarang adalah contoh sosialisasi pasif. Dalam struktur keluarga, istri adalah ibu rumah tangga yang mengatur proses perekonomian keluarga, sedangkan
    • 65 bapak adalah pelaku ekonomi keluarga. Peran ibu sebagai pengatur ekonomi keluarga, selalu mengadakan sosialisasi antara kebutuhan dan in come keluarga. 2. Teori sosialisasi aktif Sosialisasi pasti akan terjadi pada diri manusia, nilai-nilai diintegrasikan, pelaku berubah, anak hanya memberi respon pada tekanan-tekanan pada dirinya dan tidak diberi kesempatan untuk menciptakan dunianya sendiri. Itulah garis-garis sosialisasi pasif yang sangat terbatas pada perannya masing-masing. Dalam teori sosialisasi aktif tindakan dibangun dalam usaha mengatasi kesulitan-kesulitan dan tidak sekedar untuk merespon struktur sosialisasi saja. Manusia tidak sekedar memberi respon kepada peran yang diberikan kepadanya, kepada orientasi nilai atau struktur ekonomi, melainkan secara aktif menciptakan perannya. Menurut Cicorel, nilai-nilai dan norma-norma perilaku merupakan bentuk-bentuk permukaan dan proses sosialisasi merupakan proses memperoleh prosedur-prosedur interpretatif, atau berkembangnya aturan-aturan yang membimbing pikiran kita atas perilaku-perilaku yang patut di dalam situasi-situasi yang berbeda. Yang dimaksud dengan prosedur interpretatif adalah aturan-aturan yang mengenai atuaran-aturan.25 Contoh, ketika kita mengendarai mobil pikiran kita adalah bahwa setiap orang mengendarai mobil di sebelah kiri jalan. Ada kesempatan dimana orang dapat menggunakan sebelah kanan jalan. Untuk menggunakan sebelah kanan jalan ada norma secara resmi, seperti di jalan satu arah (jalan tol) dan ada yang tidak resmi, seperti jalan di luar kota. Pada situasi jalan sepi dari kendaran lain orang dapat menggunakan seluruh jalan. Mengetahui sebagian aturan untuk mengendarai mobil adalah mengenal aturan- aturan mengenai aturan-aturan, sedangkan menguasai jalan dalam kondisi sepi dari kendaraan dan dinilai aman adalah prosedur interpretatif. 25 Philip Robinsons, Sosiologi Pendidikan, Terj. Hasan Basari, (Jakarta, CV Rajawali, 1986), 68
    • 66 Jadi teori sosialisasi aktif adalah sosialisasi yang dilakukan individu terhadap pengembangan peran sosial menjadi penciptaan peran sosial dan pengembangan dari aturan-aturan mengenai aturan- aturan menjadi prosedur interpretatif. 3. Teori sosialisasi radikal Teori sosialisasi radikal berlangsung dalam suatu masyarakat yang berlapis-lapis.26 Teori ini melihat kelas sosial dipandang sebagai suatu variabel deskriptif yang independen dari latar belakang proses anak- anak menjadi dewasa dan tidak merupakan bagian integral dari proses itu sendiri. Menurut Clarke, sosialisasi adalah sosialsisasi kelas kaum muda mewarisi dari orang tua mereka. Suatu orientasi kultural terhadap masalah-masalah umum yang mungkin akan menimbang, membentuk, dan menunjukkan makna-makna yang kemudian akan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan sosial mereka,27 sehingga posisi kelas seseorang menentukan perilakunya. Pada hakekatnya suatu analisis kelas sosial merupakan suatu analisis mengenai distribusi suatu kekuasaan dalam masyarakat, dimana sementara orang mempunyai kekuasaan yang kecil sekali atas gaya hidup mereka sendiri. Hal yang demikian ini sangat mempenagruhi proses sosialisasi. Clarke berpendapat bahwa pola tingkah laku sosial dipengaruhi oleh bertambahnya kemakmuran. Di Inggris selama kurun waktu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960 terjadi perubahan sosial, dimana kelompok dominan mempertahankan kekuasaan mereka dengan jalan mencuatkan gaya hidup mereka 26 Ukuran atau kriteria yang bisa dipakai untuk menggolongkan masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah : 1. ukuran kekayaan. Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut dapat dilihat dalam bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadi, cara-cara menggunakan pakaian dan kualitas bahan pakaian. Kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya. 2. Ukuran kekuasaan. Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau wewenang yang terbesar, menempati lapisan paling tinggi. 3. Ukuran kehormatan. Orang yang paling dihormati dan disegani, mendapat tempat paling atas, ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional 4. Ukuran ilmu pengetahuan. Tidak semua masyarakat menggunakan ukuran ini. Hal yang sering terjadi adalah bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah barang tentu hal yang demikian ini memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar, Lihat, Soerjono Soekanto, Sosiologi, Ibid., 237-238 27 Philip Robinson, Sosiologi, Ibid., 70
    • 67 seolah-olah nampak sebagai bagian keadaan yang wajar. Banyak dari kelompok keluarga biasa untuk berusaha meiliki mesin cuci otomatis, pesawat televisi berwarna, mobil mutakhir, rumah sendiri dan berlibur panjang di Spanyol. Anak kelas keluarga buruh melanjutkan kuliah diperguruan tinggi dan akhirnya memperoleh pekerjaan yang bermartabat tinggi. Clarke melihat fenomena sosial ini sebagai tipuan (confidunce trik), sebagaimana yang telah disebutkan oleh Berger dan Luckmann dalam hubungan diantara kelas-kelas sosial. Lebih lanjut Clarke melihat mereka sedang menyerbu keadaan sebenarnya.28 Dengan demikian teori sosialisasi radikal adalah berbasis pada kelas dan lapisan sosial, yang dapat menentukan, membimbing dan mengarahkan perilaku individu. Apabila terjadi fenomena sosial yang tidak sesuai dengan norma dan aturan kelas sosial, dianggap sebagai tipuan (confidence trick) dan menyembunyikan kondisi yang sebenarnya. Pandangan teori sosial radikal telah banyak dikritik orang. Ada yang berpendapat bahwa teori ini sangat cocok pada waktu masa lalu, dimana terjadi perubahan sosial sepihak, antara penguasa dan rakyat. Antara keturunan berdarah biru dan rakyat jelata, anatar kaum tuan tanah dan kaum buruh. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah merubah paradigma kehidupan masyarakat modern. Era globalisasi dan pasar bebas menuntut adanya kompetisi profesional, kompetisi dan keahlian, tidak ada warisan kekuasaan dan menghargai hak asasi manusia. d. Interaksi sebagai dasar sosialisasi Pengertian tentang interaksi sosial berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat, karena interaksi merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Dengan kata lain interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama.29 Pengertian interaksi sosial 28 Ibid ., 70 29 Kimball Young dan Raimond, W Mack, Sociology and sosiallife, (New York, American Book and Company, 1959), 137
    • 68 menurut H Bonner adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.30 Pengartian lainnya dirumuskan oleh Gillin dan Gillin, interaksi sosial adalah merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis mencakup hubungan antara orang perorang, antara kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia.31 Menurut Abu Ahmadi, interaksi sosial adalah pengaruh timbal balik antara individu dengan golongan dalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya dan dalam usaha untuk mencapai tujuan.32 Dari beberapa definisi ini dapat dipahamkan bahwa interaksi sosial terjadi karana ada dua individu atau lebih yang menjalin hubungan dan saling mempengaruhi dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencapai tujuan. Unsur-unsur pokok dalam intraksi sosial mencakup : 1. Adanya hubungan 2. Hubungan tersebut dilakukan oleh dua orang atau lebih 3. Interaksi dilakukan untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. Terjadinya interaksi sosial disebabkan dua hal, pertama adanya kontak33 sosial dan kedua, adanya komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu : 1. Antara orang perorang, seperti anak kecil mempelajari kebiasaan- kebiasaan dalam keluarga 2. Antara orang perorang dengan kelompok manusia, seperti apabila manusia merasakan bahwa tindakannya berlawanan dengan norma- norma masyarakat. 30 Karel Veger, dkk, Pengantar sosiologi, (Jakarta, Grafindo, 1992), 62-63 31 Gillin dan Gillin, Cultural Sociology, A Revition of An Introduction to Sociology, (New York, The McMilan Company, 1954) 489 32 Abu Ahmadi, Sosiologi, Ibid., 95 33 Kata kontak berasal dari bahasa Latin "con" atau "cum" yang artinya bersama-sama dan tangan yang menyentuh. Jadi kontak adalah berarti bersama-sama menyentuh. Secara fisik kontak terjadi apabila terjadi hubungan badaniyah. Secara non fisik kontak terjadi dengan mengadakan hubungan tanpa menyentuhnya, seperti berbicara dengan pihak lain cukup dengan suara, atau dengan menggunakan fasilitas seperti telepon, telegram, radio, surat, internet, telewicara, dan sebgainya, Soerjono Soekanto, Sosiologi Ibid., 65
    • 69 3. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, seperti antara dua partai politik mengadakan kerjasama untuk mengalahkan partai politik lainnya dalam pemilihan umum. Dilihat dari realitas terjadinya kontak ini, maka kontak dapat terjadi secara langsung. Seperti bertatap muka, berjabat tangan, saling senyum, saling menyapa dan memberi isyarat. Kontak seperti ini disebut dengan kontak primer. Kontak sosial juga bisa terjadi dengan suatu perantara, (tidak bertemu langsung) seperti perantara orang ketiga, alat kontak dan sebagainya, kontak seperti ini disebut dengan kontak sekunder. Sebab yang lain, terjadinya kontak sosial adalah adanya komunikasi. Arti komunikasi adalah seseorang memberikan penafsiran pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut. Seperti seorang gadis menerima seikat bunga, dia akan memandang dan mencium bunga tersebut. Tetapi ada perasan dalam diri gadis tersebut, siapa yang mengirim bunga tersebut, apa yang menyebabkan dia mengirim bunga tersebut. Apa bunga tersebut dikirim untuk kado hari ulang tahun, atau untuk memenuhi suatu janji untuk mengucapkan selamat tinggal atau tanda cinta kasih dan sebagainya. Apabila gadis belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka ia tidak pernah tahu mengenai apa yang akan dikatakan dan selama itu juga belum terjadi proses komunikasi.34 Berdasarkan pengetian dan sebab-sebab terjadinya interaksi di atas, maka dapat dikelompok macam-macam interaksi sosial sesuai dengan sudut pandanganya. Dilihat dari sudut subyeknya, interaksi bisa terjadi : 1. Interaksi antar orang perorang 2. Interaksi antar orang dengan kelompoknya 3. Interaksi antar kelompok. Dilihat dari sisi caranya, ada yang dinamakan intraksi langsung (direct interaction). Dilihat dari segi bentuknya, Soerjono Soekanto membagi interaksmi asosiatif dan intraksi 34 Kingsley Davis, Human Sociology, (New York, McMilan Company, 1960), 140-150
    • 70 disosiatif, dan dilihat dari segi sifatnya ada interaksi positif dan interaksi negatif. Dalam pembahasan ini akan menggunakan model-model interaksi Soerjono Soekanto35 yang dianggap sederhana dan mudah dipahami. Interaksi asosiatif mencakup pembahasan tentang akomodatif kooperatif, dan asimilasi. Pertama, akomonatif (kerjasama) adalah merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial yang pokok. Menurut Charles H Cooley36 kerjasama itu timbul karena orang menyadaari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan- kepentingan tersebut. Kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama yang berguna. Bentuk-bentuk kerjasama yang lazim dan berkembang di masyarakat adalah : a. Kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong menolong b. Bersaing, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang- barang dan jasa antara dua organisasi dan lebih c. Kooptasi, yaitu suatu proses peneriamaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan untuk menghindari kegoncangan dan stabilitas politik. d. Koalisi, yaitu, kombinasi antara dua organisasi atau lebih juga mempunyai kesamaan tujuan e. Join ventrue, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu. Kedua, akomodasi. Menurut Gillin dan Gillin yang disebut akomodasi adalah pengetian yang dipergunakan unutk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial. Dengan kata lain akomodasi adalah suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Bentuk-bentuk akomodasi itu adalah : 35 Soerjono Soekanto, Sosiologi, Ibid ., 72-100 36 C H Croley, Sociology theori and Social Resarch, (New York, Hewy Holt Company, 1930) 176
    • 71 a. Coercian, yaitu akomodasi yang dilaksanakan karena terpaksa b. Kompromis, akomodasi yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terlibat saling menguasai tuntunannya untuk saling menyesuaikan suatu perselisihan c. Arbitartion, adalah suatu cara untuk mencapai kompromi, apabila pihak-pihak yang terlibat tidak sanggup mencapainya sendiri d. Mediation, artinya hampir sama dengan arbitration e. Conciliation, usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan yang sama f. Teleration, persetujuan tanpa bentuk formal (tidak resmi) g. Stalemante, dimana pihak-pihak yang bertentangan saling mempunyai kekuatan yang sama dan berhenti pada titik tetentu dalam melakukan pertentangan h. Adjudication, suatu penyelesaian perkara-perkara di pengadilan. Ketiga, asimilasi, adalah usaha untuk mengurangi perbedaan yang terdapat antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia. Usaha- usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Asimilasi timbul bila ada kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan, adanya hubungan secara intensif antara orang perorang sebagi warga kelompok, dan berbagai kebudayaan kelompok yang berubah dan saling menyesuaikan diri. Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi adalah toleransi kesempatan yang seimbang dibidang ekonomi, sikap menghargai orang asing dan kebudayaan, sikap yang terbuka dari golongan penguasa dalam masyarakat, persamaan dalam unsur kebudayaan, perkawinan campuran, dan adanya musuh bersama dari luar. Interaksi disosiatif mencakup competition (persaingan), contravention (kontravensi) dan conflict (pertentangan). Pertama, competition (persaingan) adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari
    • 72 keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.37 Bentuk-bentuk persaingan antara lain : a. persaingan ekonomi, yaitu persaingan terjadi karena terbatasnya kesediaan barang apabila dibandingkan dengan jumlah konsumen b. Persaingan kebudayaan, mencakup bidang keagamaan, lembaga kemasyarakatan dan pendidikan c. Persaingan kedudukan dan peran, terjadi karena dalam diri seseorang atau dalam diri kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan yang terpandang d. Persaingan ras, seperti perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, corak rambut, bahasa dan sebagainya, mempunyai kesadaran menjunjung tinggi ciri khas suatu ras di banding dengan ras yang lain dalam bidang agama, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Kedua, kontravensi, adalah suatu bentuk proses sosial dengan adanya ketidak pastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikannya dan kebencian atau keragu- raguan terhadap kepribadian seseorang. Bentuk-bentuk kontravensi antara lain : a. Kontravensi umum, seperti penolakan keengganan, perlawanan, perbuatan, menghalang-halangi protes, gangguan, perbuatan, kekerasan dan mengacaukan rencana pihak lain. b. kontravensi sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang lain dimuka umum, mencaci maki melalui surat selebaran mencerca menfitnah dan sebagainya. c. Kontravensi intensif mencakup menghasud, menyebarkan desas-desus dan mengecewakan pihak lain. 37 Gillin dan Gillin, Cultural, Ibid., 590
    • 73 d. kontravensi rahasia, mencakup mengumumkan rahasia pihak lain dan penghianatan. e. Kotravensi taktis, seperti mengejutkan lawan, membingungkan pihak lain, memaksa pihak lain, menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, intimidasi, dan sebagainya. Ketiga, conflict, (pertikaian) adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha unutk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak dengan ancaman atau kekerasan. Sebab-sebab terjadinya konflik antara lain perbedaan antara individu dengan individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial. Bentuk bentuk dan model-model pertentangan (konflik) antara lain : a. Perbedaan pribadi b. Pertentangan rasial c. Pertentangan antara kelas-kelas sosial d. Pertentangan politik e. Pertentangan internasional. 2. Formation of Social Loyalities (Pembentukan Kesetiaan Sosial) Perkembangan kesetiaan sosial ini muncul berkat kesadaran individu terhadap kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat sumber kesetiaan bagi anggotanya. Sebab-sebab munculnya kesediaan sosial diantaranya adalah partisipasi sosial, komunikasi dan kerjasama, individu dalam kehidupan kelompok. Anak kecil yang hadir di tangah-tengah kehidupan masyarakat secara sepontan diterima sebagai anggota baru. Sebagai anggota baru, anak belum mengetahui pola dan sistem perilaku orang yang ada di sekelilingmya. Seperti anak yang baru bisa berjalan, setiap anggota masyarakat menyapa, menggandeng dan ikut membantu berjalan anak. Respon anak adalah kemesraan dan afeksi (kepuasan) sehingga berjumpa lagi dengan orang tersebut si anak langsung tersenyum dan bergerak mendekatinya.
    • 74 Dengan demikian perkembangan kesetiaan sosial mengikuti pola sebagai berikut : kerjasama menimbulkan kepuasan dan dari kepuasan menimbulkan kesetiaan sosial. Bentuk keseitaan sosial berkembang menjadi semakin komplek kepada kelompok yang makin besar. Kesetiaan sosial dimulai dari keluarga, teman sebaya dan sekolah. Biasanya kelompok ini disebut dengan kelompok primer, dimana setiap anggota kelompok dapat berinteraksi secara langsung dan face to face. Kemudian kesetiaan sosial berkembang seiring dengan perkembangan kedewasaan seseorang, semakin dewasa seseorang semakin berkembang kesetiaan sosialnya kepada kelompok pekerjaan, kelompok agama, perkumpulan (organisasi), baik kemasyarakatan maupun bangsa. Perkembangan yang lebih luas dan besar ini disebut lingkungan sekunder, dimana seluruh anggota kelompok mencerminkan seorang individu yang komplek. D. Aspek-Aspek Perkembangan Sosial Anak Perkembangan soisial anak bersumber dari dua hal, yaitu : 1. Perkembangan biologis seperti makanan, minuman, dan perlindungan yang mengubah bayi menjadi orang dewasa. 2. Perkembangan personal sosial, yaitu pengalaman dan pengaruh manusia lain telah mengubah anak menjadi pribadi sosial dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Perkembangan sosial anak dapat dilihat dari fisik dan psikis dalam bentuk tingkah laku sosial, sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya. Brearly berpendapat bahwa masa kanak-kanak38 merupakan pribadi unik dan individualis, sehingga mereka harus selalu diakui dan dihormati.39 Aries (1973) mengidentifikasi dua konsep mengenai masa kana-kanak.40 Pertama, masa kanak-kanak mempunyai ciri manja (codding) sampai batas yang jelas anatara 38 Penggunaan nama-nama sekarang berbeda dengan penggunaan dari periode-periode historis sebelumnya. Sesungguhnya kita dapat mengatakan dengan jelas bahwa masa kanak-kanak (childrend) dan masa remaja, keduanya merupakan fenomena baru, Aries (1973) menunjukkan bagaimana konsep masa kanak-kanank telah berubah dalam perjalanan waktu. Titik ekstrim perubahan itu terjadi mulai abad ke 10 M. Dimana para seniman tidak mampu menggambarkan seorang anak, kecuali sebagai seorang dewasa dalam ukuran kecil. Philip Robinson, Sosiologi, Ibid., 72 39 Brerley M, Fundamentals in The First School, (Okford, Basil Blakwell, 1969), 159 40 Philip Robinson, Sosiologi, Ibid., 72
    • 75 dunia orang dewasa dan dunia kanak-kanak. Ciri masa kanak-kanak dimanjakan adalah diperhatikan dan kasih sayang yang terus menerus dari ibunya, ibunya memberlukan asuhan yang cermat, ketergantungan dari orang lain, dipegang- pegang, dibelai dan diajak bermain. Ciri yang kedua menurut Aries adalah mengenai nilai moral, yakni anak adalah makhluk Tuhan yang rapuh yang perlu dijaga dan diubah. Artinya anak harus dilindungi terhadap kejahatan masyarakat yang lebih luas, sementara ia harus dibersihkan dari dosa asalnya sendiri. Scherell (1979)41 menyatakan bahwa masa kanak-kanak ditandai dengan perlindungan, pemisahan, ketergantungan dan tanggungjawab yang ditangguhkan. Dari sisi perlindungan, Platt (1969) menyatakan bahwa para penyelamat anak merupakan kaum probilasionis, yang percaya bahwa kaum remaja memerlukan perlindungan dari kecenderungan-kecenderungan kejahatan masyarakat. Model perkembangan manusia merupakan inspirasi dari pergerakan penyelamatan anak. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak menjadi jahat sebagai akibat dari lingkungan yang jahat, oleh sebab itu yang diperlukan adalah kesempatan bagi anak-anak untuk pergi ke ladang-ladang yang hijau, kebukit-bukit dengan disertai minat petualangan. Anak-anak harus dilindungi dari kejahatan-kejahatan masyarakat industri di kota. Ciri masa kanak-kanak yang lain adalah masa dimana anak suka melawan, masa kebebasan dan tidak bertanggungjawab. Hal ini dibuktikan dari perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak dengan kesadaran akan kebebasan dirinya. Anak-anak remaja suka mengenakan pakaian yang serupa, mendengarkan musik 41 Menurut Scherell dengan melihat masa kanak-kanak sebagai suatu asumsi ideologi kelas menengah yang dominan kita memperoleh suatu pengertian yang lebih jelas mengenai gerakan untuk melembagakan semua anak ke dalam suatu masa kanak-kanak yang universal. Pertumbuhan sekolah rakyat (common School) merupakan tempat masyarakat yang paling banyak hiasannya bagi konsep masa kanak-kanak. Lihat Philip Robinson, Ibid ., 73. Ada perbedaan makna dan batasan masa remaja di nagara maju dan negara sedang berkembang. Masa remaja dimulai sejak berumur 15 tahun dan berakhir pada saat memasuki masa dewasa. Di Inggris, masa remaja berjalan selama enam tahun yang dimulai sejak masa pubertas sampai menginjak masa dewasa, sekitar umur 18 tahun. Dengan demikian maka masa pubertas, di Inggris dimulai sejak anak berumur 12 tahun. Demikian juga dengan masa dewasa. Apabila masa remaja antara negara sedang berkembang disamakan dengan negara Eropa, yaitu selama 6 tahun, maka masa dewasa baru dimulai sejak anak umur 15 tahun ditambah 6 berarti usia 21 tahun. Menurut Philip Robinson, batasan-batasan tersebut berbahaya karena dengan batasan tersebut mengarah kepada individu, kepada remaja dengan mengabaikan struktur sosial. Philip Robinson, Ibid., 75.
    • 76 pop yang sama dan menikmati kebebasan yang relatif besar untuk bergaul dengan anggota-anggota seks yang lain. Secara terperinci, perkembangan sosial anak sangat bermanfaat bagi perkembangan dan pertumbuhan institusi-institusi masyarakat, seperti keluarga, kelompok masyarakat dan pendidikan. Khususnya bagi kepentingan pendidikan, perkembangan sosial anak sangat membantu untuk mengembangkan potensi peserta didik. Selama ini bagi guru dalam mengembangkan potensi adalah sangat dibantu oleh ilmu psikologi, seperti psikologi pendidikan dan ilmu jiwa perkembangan, ilmu jiwa perkembangan melihat perkembangan anak dari sisi psikisnya, sedangkan perkembangan anak dari sosialnya, sementara ini menjadi bagian integral dari sosiologi pendidikan, walau tidak menutup kemungkinan di masa-masa yang akan datang juga akan muncul ilmu perkembangan sosial anak. Secara bertahap, perkembangan sosial anak-anak dapat dibagi sesuai dengan umur anak : 1. Umur 0-2 Tahun disebut dengan tahap permainan solider, dimana anak suka bermain sendiri. Semua benda yang disekitarnya dianggap senagai permainan Anak usia ini memperlakuakan teman sebayanya sebagai benda. Rasa ego sangat besar, sehingga pertengkaran merupakan ciri utama pada tahap ini. 2. Umur 2-3 Tahun disebut dengan tahap semi solider, atau permainan paralel. Pada tahap ini anak masih suka bermain sendiri, meskipun ada teman disekitarnya. 3. Umur 3-4 tahun, disebut sebagi tahap permainan kooperatif, yaitu permainan dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua, tiga atau lebih, semua anggota kelompok melakukan permainan bersama-sama. 4. Umur 4-5 tahun, disebut tahap permainan khayal, yaitu permainan yang dilakukan dengan meniru peran manusia dewasa. Anak-anak telah melihat perilaku orang dewasa dan mulai tumbuh kesadaran bahwa kelak mereka juga akan menjadi dewasa seperti mereka, maka anak suka meniru peran orang tua, seperti, guru, dokter, supir, ibu, bapak, dan sebagainya. Melalui permaian peranan ini pada diri anak berkembang konsep tentang diri sendiri dan orang
    • 77 lain . Peranan-peranan yang dipermainkan anak pada fase permainan khayal ini bersifat tidak konsisten, mudah berubah dan tidak realistis. 5. Umur 5-10 tahun, disebut permaianan keteraturan, dimana permainan dilakukan secara kelompok dan lebih teratur. Fase ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari fase-fase sebelumnya. Ciri pokok pada fase ini adalah kepatuhan pada pemimpin dalam bermain. 6. Umur 10-14 tahun disebut dengan permainan kelompok terorganisir, seperti permainan dalam kegiatan pramuka. Kelompok pada fase ini sudah lebih terorganisasi, mempunyai peraturan-peraturan upacara-upacara, bermacam- macam atribut bagi anggotanya dan sebagainya. Fase ini merupakan fase kehidupan kelompok yang sangat penting bagi perkembangan sikap kooperatif dan partisipasi sosial kelak dalam kehidupan masyarakat setelah dewasa.