Mencari Asal Usul Kitab Suci(The Bible Came from Arabia)       Kamal Salibi, PhD.           April 1985
ii
Daftar Isi1 Pendahuluan                                52 Dunia Yahudi Kuno                         133 Masalah Metode    ...
iv                                                DAFTAR ISI13 Melchizedek: Petunjuk-Petunjuk Pada Sebuah Pan-   teon     ...
Daftar Gambar          v
vi   DAFTAR GAMBAR
Kata PengantarKetika mula-mula saya mengira bahwa tempat asal Kitab Bibel ituArabia Barat dan bukan Palestina, saya merasa...
2                                               DAFTAR GAMBARdalam tahap-tahap awal penyelidikan ini saya mendapatkan bimb...
DAFTAR GAMBAR                                                    3Jazirah Arabia yang lain: ’Atiq al-Baladi Mu’jam Ma’alim...
4   DAFTAR GAMBAR
Bab 1PendahuluanSaya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Sayayakin bahwa saya telah mendapatkan suatu penemu...
6                                     BAB 1. PENDAHULUANlenyap setelah adanya dukungan selanjutnya oleh para ahli.Tidak me...
7dan Maleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keaga-maan dan kesusastraan mengenai kebijaksanaan, Tulisan-tulis...
8                                       BAB 1. PENDAHULUANhan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dala...
9berdekatan. Kalau kita telah menguasai sebuah bahasa Semit, akanlebih mudah mempelajari yang lain.Terkadang, sebuah akar ...
10                                      BAB 1. PENDAHULUANbahasa Semit ditulis dalam bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Na...
11itu, dan agar mereka percaya bahwa perbandingan-perbandinganini dibuat menurut peraturan yang pantas bagi ilmu bahasa pe...
12   BAB 1. PENDAHULUAN
Bab 2Dunia Yahudi KunoAsal mula penyelidikan ini datang secara tidak sengaja. Pada su-atu hari saya menerima sebuah copy c...
14                              BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtersebut dengan lokasi tempat-tempat di Palestina, tempat yangdidu...
15adopsi oleh suku Israil, sebuah suku lokal, monoteisme dasar Ara-bia Barat ini lambat-laun berkembang menjadi sebuah aga...
16                                     BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOakan saya bicarakan dalam Bab 4,3 dapat dipastikan bahwa ba...
17menyebutnya ’Galed’ (dalam bahasa Ibraninya gl’d) dan ’Mizpah’(Ibraninya hmsph), yang berarti menara penjagaan. Ketiga n...
18                                  BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOArabi Barat yang terlibat dalam perdagangan ini. Penduduk baru...
19Ia menulis tentang kedua bangsa itu: ’Negara ini, menurut ceritamereka sendiri, dahulunya terletak di Laut Merah, tetapi...
20                                    BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOorang Israil dari Arabia Barat (dan mungkin kaum Yahudi dari...
21inan Galilee (glyl),9 Hermon (hrmwn)10 dan Yordan (h-yrdn, lihatBab 7), semuanya membenarkan hal ini. Di kebanyakan temp...
22                                     BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOmengungkapkan bahwa ekspedisi yang melibatkan seorang Raja ...
23Ekspedisi-ekspedisi militer pertama kerajaan Mesir sejak 2000 tahunS.M., yang selama ini diketahui sebagai penyerangan t...
24                                  BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtidak menyinggung nama-nama mereka, tetapi hal ini tidak terli...
25yang menyedihkan di Arabia Barat mungkin mendatangkan hara-pan kaum Yahudi di sana akan hidup lebih baik di koloni Yahu-...
26                                    BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOseekor keledai, Seekor keledai beban yang muda.18 (Zakharia ...
27Laut Merah dengan sungai Nil, membantu perdagangan maritimsecara merugikan perdagangan kafilah Arabia yang menuju ke arah...
28                                     BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOkitab-kitab karangan nabi-nabi yang kemudian, ditulis dalam...
29gkan Al-Zabyah adalah bentuk bahasa Arab dari kata yang sama(sby) dengan kata sandang tertentu bahasa Arab yang telah di...
30                                   BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOmereka. Pula, orang-orang Yahudi dari Arabia Barat ini hanya ...
31Perkembangan di Palestina agaknya berbeda dengan yang terjadi diArabia Barat. Sampai pada tahun 330 S.M., penjajahan Ale...
32                              BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOpada tahun 4 S.M.) sebagai raja. Herod ini kemudian memper-baiki k...
33adanya orang-orang Yahudi kuno di Arabia, tetapi ia tidak memberipenjelasan mengenai hal ini. Orang-orang Hasmonia mungk...
34                                   BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOini yang agaknya memang masuk akal. Berabad-abad kaum Yahu-di...
35letaknya pun tidak cocok dengan lokasi-lokasi di Palestina. Sebuahkejadian yang patut diperhatikan berkenaan dengan Beer...
36                                   BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOWalaupun banyak masalah seperti di atas yang masih kurang jel...
37dan mudah dimengerti. Kitab-kitab suci mereka, pada hakekatnyamerupakan potret diri bersejarah yang digambarkan secara j...
38                                    BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtersisa. Kalau kita menimbang kembali catatan-catatan kuno M...
39la bukti-bukti yang berupa dokumentasi-dokumentasi yang didapatdari luar Bibel Ibrani yang membuktikan adanya orang-oran...
40   BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNO
Bab 3Masalah MetodeDalam mempelajari sesuatu kita harus belajar melupakan; didalambidang penyelidikan Kitab Bibel ini sang...
42                                       BAB 3. MASALAH METODEhingga arti kata-kata itu masih dapat diperdebatkan.1 Oleh s...
43belum runtuhnya kerajaan Israil, yaitu paling lambat pada abad ke-5atau ke-6 S.M. Dugaan ini timbul dengan adanya kenyat...
44                                 BAB 3. MASALAH METODEoleh mereka yang taat dan setia dalam agama apa pun, sehinggahampi...
45nama tempat menurut Bibel, apa pun asal linguistiknya, terdapatpula di Arabia Barat yang sampai kini masih ada, sedangka...
46                                 BAB 3. MASALAH METODEBahasa tulisan (dengan cara menggunakan huruf-huruf abjad ataudeng...
47lama.Maka, dalam bahasa Arab, seperti yang tertulis aslinya, tidak se-mua konsonan yang terdengar dalam percakapan mempu...
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Mencari Asal Usul Kitab Suci
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Mencari Asal Usul Kitab Suci

2,297 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,297
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Mencari Asal Usul Kitab Suci

  1. 1. Mencari Asal Usul Kitab Suci(The Bible Came from Arabia) Kamal Salibi, PhD. April 1985
  2. 2. ii
  3. 3. Daftar Isi1 Pendahuluan 52 Dunia Yahudi Kuno 133 Masalah Metode 414 Tanah Asir 575 Mencari Gerar 656 Non-Temuan di Tanah Palestina 837 Bermula Dari Tehom 1018 Masalah Yordan 1119 Yudah Arabia 13110 Yerusalem dan Kota Daud 15111 Israil dan Samaria 16912 Rencana Perjalanan Ekspedisi Sheshonk 181 iii
  4. 4. iv DAFTAR ISI13 Melchizedek: Petunjuk-Petunjuk Pada Sebuah Pan- teon 19314 Orang-Orang Ibrani Hutan Asir 20515 Orang-orang Filistin Arabia 21316 Tanah Harapan 22517 Kunjungan Ke Eden 23518 Nyanyian Dari Pegunungan Jizan 24319 Epilog 255 19.1 Catatan Kaki: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 266 19.1.1 DUNIA YAHUDI KUNO . . . . . . . . . . . 266 19.1.2 MASALAH METODE . . . . . . . . . . . . . 273 19.1.3 TANAH ASIR . . . . . . . . . . . . . . . . . 276 19.1.4 MENCARI GERAR . . . . . . . . . . . . . . 277 19.1.5 BERMULA DARI TEHOM . . . . . . . . . . 277 19.1.6 MASALAH YORDAN . . . . . . . . . . . . . 279 19.1.7 YUDAH ARABIA . . . . . . . . . . . . . . . 282 19.1.8 YERUSALEM DAN KOTA DAUD . . . . . . 283 19.1.9 ISRAIL DAN SAMARIA . . . . . . . . . . . 285 19.1.10 RENCANA PERJALANAN EKSPEDISI SHESHONK285 19.1.11 MELCHIZEDEK: PETUNJUK-PETUNJUK PADA SEBUAH PANTEON . . . . . . . . . 288 19.1.12 ORANG-ORANG IBRANI HUTAN ASIR . . 288 19.1.13 ORANG-ORANG FILISTIN ARABIA . . . . 289 19.1.14 TANAH HARAPAN . . . . . . . . . . . . . . 290 19.1.15 KUNJUNGAN KE EDEN . . . . . . . . . . . 290 19.1.16 NYANYIAN DARI PEGUNUNGAN JIZAN 291
  5. 5. Daftar Gambar v
  6. 6. vi DAFTAR GAMBAR
  7. 7. Kata PengantarKetika mula-mula saya mengira bahwa tempat asal Kitab Bibel ituArabia Barat dan bukan Palestina, saya merasa memerlukan dukun-gan untuk memperdalam penyelidikan ini, atau lebih tepat lagi un-tuk memberanikan menulis sebuah buku tentang ini. Dukungan inidiberikan oleh sejumlah teman dan rekan saya, dan saya banggamenyatakan bahwa saya berutang budi kepada mereka. Di antaramereka, Dr. Wolfgang Koehler dan Prof. Gernot Rotter yang telahmemberi kesempatan pertama kepada saya untuk mengemukakanpenemuan-penemuan saya yang awal kepada para pendengar yangamat kritis di Deutche Orient Institut di Beirut. Prof. Rotter ju-galah yang membawa hasil penelitian saya kepada penerbit-penerbitJerman. Merekalah yang kemudian mempersiapkan penerjemahanbuku ini, yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, ke dalam be-berapa bahasa. Joseph Munro, Profesor Sastra Inggris di AmericanUniversity of Beirut, banyak membantu saya sejak awal berjalan-nya penyelidikan ini. Dia pula yang mempersiapkan naskah sayauntuk diterbitkan, serta melonggarkan jalan pemikiran saya yangterkadang sangat ingin menonjolkan keilmuan. Ia pun memperlem-but sifat tegas saya yang sering dogmatis dengan bentuk-bentukperumpamaan. Rasa gembira karena penemuan ini memaksa sayauntuk mengabaikan sikap berhati-hati.Sebagai pendatang baru dalam bidang studi Semit dan Keinjilan, 1
  8. 8. 2 DAFTAR GAMBARdalam tahap-tahap awal penyelidikan ini saya mendapatkan bimbin-gan dari dua orang rekan saya, Ramzi Baalbaki, yang membantusaya dalam memperlancar bahasa Ibrani saya, dan William Ward,yang menyisihkan waktunya untuk memperkenalkan saya pada liter-atur bidang keilmuan yang relevan dan memperingatkan saya akanadanya ke sulitan-kesulitan yang akan saya hadapi. Yang seorangrekan lagi, yaitu Charles Abu Chaar, yang telah memberi pengara-han kepada saya dalam hal-hal yang berkenaan dengan kehidupanflora Arabia. Profesor Otto Jastrow dari the University of Erlan-gen, sangat berbaik hati terhadap saya dalam memberi dukungandan pengarahan mengenai studi ini, dan secara khusus saya mengu-capkan terima kasih kepadanya. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya tujukan kepada Volkhard Windfuhr dari DerSpiegel, atas perhatiannya yang besar terhadap buku saya ini, dariawal sampai akhir. Peta-peta di dalam buku ini digambar oleh Ah-mad Shah Durranai, Dr. Elfried Soker dan Klaus Carstens, sedan-gkan naskah terakhir yang diketik dipersiapkan oleh Mufida Yacoub,Sayidah Ni’mah, Leila Salibi dan Margo Matta.Karena studi yang saya lakukan ini bersifat revolusioner, saya yakinsegenap penasihat saya akan gembira mendengar bahwa saya mem-bebaskan mereka dari segala tanggung jawab dan dari apa pun ke-salahan serta kesalahpahaman yang didapati oleh para pembaca kri-tis. Meskipun demikian, saya menghargai dukungan mereka selamabuku ini ditulis. Saya hanya dapat berharap antusiasme merekayang tak kunjung padam itu telah diterjemahkan menjadi sebuahbuku yang patut mendapatkan kerjasama yang begitu besar itu darimereka.Akhirnya, saya harus berterima kasih kepada sumber-sumber infor-masi yang tercetak yang menjadi studi saya ini sangat bergantung.Selain sebuah versi standar dari teks konsonan Injil Ibrani, saya telahmemanfaatkan katalog nama-nama tempat Arabia yang diterbitkanoleh Sheikh Hamad al-Jasir dari Riyad, Arab Saudi, yang berjudulAl-Mu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ’Arbiyyah as-Sa’udiyyah (Riyad,1977). Selain itu, saya telah memanfaatkan juga beberapa peta
  9. 9. DAFTAR GAMBAR 3Jazirah Arabia yang lain: ’Atiq al-Baladi Mu’jam Ma’alim’l-Hijaz(Taif, 1978). Muhammad al-’Aqili: Al-Almu’jam al-Jiughrafi li’l-Bilad’l ’Arabiyyah as-Sa’udiyyah; Muqata’at Jizan (Riyad, 1979);’Ali ibn Salih as-Siluk az-Zahrani, Al-Mu’jam al-Jiughrafi ...; Bi-lad Ghamid wa Zahran (Riyad, 1978); Hamad al-Jasir, Mu’jam,Qaba’il’l-Mamlakah al ’Arabiyyah as-Sa’udiyyah (Riyad, 1981); ’Atiqal-Baladi, Mu’jam Qaba’il’l-Hijaz (Mekah, 1979). Karya-karya ahliilmu bumi Arab klasik, terutama Mu’jam’l-Buldan karya Yaqut danSifat Jazirat’l-Arab karya al-Hamdani, juga membantu saya. Se-bagian besar sumber-sumber lain tempat saya mendapatkan segalaketerangan itu tertera dalam catatan teks.Guna membantu pembaca yang bukan spesialis, saya telah, menye-diakan beberapa catatan mengenai transliterasi Ibrani dan Arab,dan mengenai perubahan bentuk konsonan yang sering dijumpai an-tara kedua bahasa itu, yang terdapat tepat sebelum kata pengantarini.Beirut24 April 1985Kamal Salibi
  10. 10. 4 DAFTAR GAMBAR
  11. 11. Bab 1PendahuluanSaya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Sayayakin bahwa saya telah mendapatkan suatu penemuan penting yangseharusnya akan dapat mengubah pengertian kita tentang BibelIbrani, atau apa yang disebut oleh kebanyakan orang sebagai Perjan-jian Lama. Penemuan ini berupa dugaan kuat bahwa Kitab Bibelitu berasal dari Arabia Barat, dan bukan dari Palestina, sepertiyang sampai kini diduga oleh para ahli, berdasarkan pada perki-raan geografis. Bukti yang saya dapati untuk menentang perny-ataan ini akan dibahas pada bab-bab yang berikut. Dugaan sayaini didasarkan pada analisa linguistik dari nama-nama tempat yangtertera di dalam Kitab Bibel, yang menurut pendapat saya sam-pai sekarang terus menerus telah diterjemahkan secara tidak be-nar. Prosedur ini secara teknis disebut analisa onomastik, ataubarangkali lebih tepat analisa toponimik. Saya terus-terang men-gakui bahwa penemuan ini masih bersifat teoritis, sebelum diperkuatoleh penyelidikan-penyelidikan arkeologis. Akan tetapi bukti-buktiyang saya dapati sangatlah besar sehingga hanya akan disangsikanoleh orang-orang kolot saja, dan saya yakin kesangsian itu pun akan 5
  12. 12. 6 BAB 1. PENDAHULUANlenyap setelah adanya dukungan selanjutnya oleh para ahli.Tidak mengherankan, dalam membuka jalan baru, jika saya melakukanbeberapa kesalahan yang mungkin akan dijadikan kesempatan olehpara kritikus untuk menodai hasil-hasil penemuan saya ini. Tetapisaya yakin bahwa kesalahan itu tidak akan begitu besar sehinggadapat mempengaruhi hasil penemuan ini. Tidak diragukan lagi,banyak orang akan mengeluh bahwa referensi saya terhadap kepus-takaan yang luas mengenai geografi Bibel Ibrani itu hanya sepintassaja. Jawaban yang akan saya berikan singkat saja, yaitu bahwasaya samasekali tidak setuju dengan apa yang telah tertulis danmerasa tidak perlu membebani para pembaca dengan sanggahan-sanggahan mengenai penemuan-penemuan yang lalu satu persatu.Sebenarnya saya khawatir juga bahwa daftar nama-nama tempatyang menjadi dasar pokok argumentasi buku ini akan menimbulkankesulitan kepada pembaca yang tidak begitu biasa dengan translit-erasi abjad Ibrani dan Arab. Sementara saya harapkan para spe-sialis akan ikut bersabar bersama saya, saya sarankan pembaca bi-asa melewati saja bagian-bagian itu, dan memusatkan perhatianpada kesimpulan yang telah saya usahakan seringkas dan sejelasmungkin, dengan harapan hal ini dapat saya kemukakan dengansebaik-baiknya.Untuk membantu pembaca umum, beberapa pengetahuan dasar baikmengenai bahasa dalam Bibel Ibrani ataupun perbandingannya se-cara linguistik yang berhubungan dengan bahasa-bahasa Semit, barangkalimasih diperlukan. Ringkasnya, Kitab Bibel Ibrani kanonik itu terdiridari tiga puluh sembilan kitab yang dahulunya disusun dalam duapuluh empat buah gulungan. Lima kitab pertama, yaitu Pentateuch(atau Torah dalam bahasa Ibrani, yang berarti ’pelajaran’) terdiridari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Selanjut-nya, dua puluh satu kitab Kisah para Rasul: empat karya bersejarahYosua, Hakim-hakim, Samuel (2 kitab), Raja-raja (2 kitab); kitab-kitab Tiga Rasul utama Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel; kemudiandua belas kitab mengenai para nabi-nabi, yaitu: Hosea, Yoel, Amos,Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia
  13. 13. 7dan Maleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keaga-maan dan kesusastraan mengenai kebijaksanaan, Tulisan-tulisan,yang terdiri dari Mazmur, Amsal, Yob, Kidung Agung, Rut, Rata-pan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarikh (2kitab). Kecuali bagian-bagian Aramaik dari kitab Daniel (2:4b -7:28) dan kitab Ezra (4:8 - 6:18), semua karangan orisinalnya yangsampai kepada kita tertulis dalam bahasa Ibrani.Hal-hal yang bersangkutan dengan penanggalan dan penyusunankitab-kitab Bibel Ibrani itu terlalu rumit untuk dibahas secara rinci,dan tidaklah penting dalam argumentasi saya ini. Sejumlah kitab-kitab itu, misalnya, sudah dapat dipastikan sebagai karya-karya baruyang disusun berdasarkan naskah-naskah yang lebih tua, sehinggadapat diperkirakan baru tersusun pada sekitar abad ke-4 S.M., sete-lah runtuhnya kerajaan Israil kuno.Yang sudah pasti ialah bahwa bahasa Ibrani dalam Bibel secara ke-seluruhan mempunyai bentuk bahasa sehari-hari, tidak seperti hal-nya bahasa Ibrani yang dipakai oleh para rabbi (pendeta Yahudi)yang berfungsi khusus sebagai bahasa kesarjanaan. Dengan katalain, naskah-naskah Bibel Ibrani yang kita kenal telah ada sebelumabad ke-5 S.M., pada waktu Kerajaan Israil kuno mengalami kehan-curannya dan sewaktu bahasa Ibrani dan berbagai bentuk bahasaKanaan sudah tidak dipakai lagi. Ini berarti kita dapat memper-gunakan Bibel Ibrani itu, paling tidak dalam penelitian ini, sebagaidokumen yang berhubungan langsung dengan sejarah Israil, lepasdari soal-soal penanggalan, komposisi, atau siapa penulisnya.Karena hampir seluruh argumentasi ini dititikberatkan pada perki-raan saya bahwa Bibel Ibrani terus-menerus diterjemahkan dengantidak benar, maka patut diadakan suatu pembetulan. Singkatnya,seperti yang akan saya jelaskan secara lebih mendalam pada Bab2, bahasa Ibrani itu tidak lagi dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 S.M. Oleh sebab itu, jikaingin memahami Bibel Ibrani kita harus memilih satu di antaradua metode. Cara yang pertama ialah menerima saja terjema-
  14. 14. 8 BAB 1. PENDAHULUANhan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dalambahasa Ibrani, atau menyelidiki bahasa-bahasa Semit yang masihberhubungan erat dengan bahasa Ibrani, seperti bahasa Arab danbahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan peninggalan dari suatubentuk bahasa Aram kuno. Saya tidak menggunakan penterjema-han secara tradisional dalam bahasa Ibrani, karena para ahli Yahudiyang menterjemahkan dan memberi bunyi vokal pada Bibel Ibraniantara abad ke-6 dan ke-10 M. itu tidak dapat berbahasa Ibranisecara lisan dan mungkin mendasarkan rekonstruksi mereka padadugaan-dugaan saja. Jika memakai metode kedua, untuk menaf-sirkan bahasa Ibrani yang dipergunakan di dalam Bibel Ibrani, kitaharus melakukannya berkenaan dengan fonologi dan morfologi per-bandingan dari bahasa-bahasa Semit. Mengingat banyak pembacayang belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, sekali lagi saya akanmemberikan informasi dasar mengenai hal ini.Bahasa Semit pada umumnya dianggap sebagai anggota keluarga be-sar bahasa-bahasa Afro-Asia yang meliputi bahasa Mesir kuno danbahasa Berber serta Hausa modern. Dari bahasa-bahasa ini, yangtermasuk dalam cabang bahasa Semit ialah bahasa Akkadia (ba-hasa kuno Babilonia dan Asiria), bahasa Kanaan (bahasa Funisiakuno dan bahasa Ibrani kuno adalah suatu varian dari bahasa ini),bahasa Aram (bahasa Suryani) dan bahasa Arab. Salah satu cirikhas yang dimiliki bahasa-bahasa ini adalah sistem mendapatkanakar suatu kata yang biasanya terdiri dari tiga konsonan. Akar-akarkata ini biasanya dipahami sebagai kata kerja, dan ada seperangkatpola asal mula kata kerja ini yang telah membentuk kata kerja lain,dan juga kata benda dan kata sifat yang beraneka ragam. Ini meli-batkan beberapa cara pemberian tanda vokal pada akar kata denganmenambahkan huruf-huruf hidup, dan juga penambahan satu ataulebih konsonan pada akar kata yang asli. Dalam kamus-kamus stan-dar bahasa-bahasa Semit, kita biasanya mencari akar kata tertentu,yang kemudian diikuti oleh serangkaian kata jadian yang berasaldari akar kata itu. Sejumlah akar kata yang sama terdapat di be-berapa bahasa Semit, dengan arti yang sama atau dengan arti yang
  15. 15. 9berdekatan. Kalau kita telah menguasai sebuah bahasa Semit, akanlebih mudah mempelajari yang lain.Terkadang, sebuah akar kata yang ada pada dua atau lebih bahasaSemit tidak mudah dikenali sebagai akar kata yang sama oleh seseo-rang yang tidak berbahasa Semit sebagai bahasa ibu. Ini disebabkankarena satu atau lebih konsonan dalam akar kata itu dapat berubahdari satu bahasa ke bahasa yang lain. Dalam bahasa Ibrani, con-tohnya, akar kata yang berarti ’mendiami’ adalah hsr, sedangkandalam bahasa Arab akar kata itu adalah hdr. Penjelasannya adalahbahwa pemakai bahasa Semit secara naluriah mengenai hubunganfonologis antara pelbagai konsonan, yang dapat ditukar tempatnyadi antara berbagai bahasa-bahasa Semit. Misalnya, ’g’ di dalamsatu bahasa atau dialek (yang dapat diucapkan seperti huruf ’g’atau sebagai huruf ’j’) dapat berubah menjadi huruf ’q’ (qaf) atau’g’ (ghayn) dalam bahasa atau dialek yang lain. Maka kata Negebdalam bahasa Ibrani (sebagai sebuah nama tempat) berubah men-jadi Naqab atau Nagab dalam bahasa Arab.Perubahan konsonan di antara bahasa-bahasa Semit ini nampaknyamengikuti peraturan-peraturan tertentu, dan untuk mudahnya sayatelah tabulasikan perubahan-perubahan tersebut dari bahasa Ibranike bahasa Arab di bagian tepat sebelum Kata Pengantar buku ini.Ada pula masalah metatesis, atau perubahan dalam penempatankonsonan-konsonan dalam akar kata yang sama antara pelbagai ba-hasa Semit, misalnya akar kata acb, dapat berubah menjadi cab ataubca. Metatesis bukanlah suatu fenomena linguistik yang hanya dite-mui dalam bahasa-bahasa Semit. Kita dapat juga menjumpainyadalam bahasa-bahasa yang lain , walaupun metatesis sangat biasaterjadi di antara bahasa-bahasa Semit yang sama. Dalam sebuahdialek Arab, contohnya, zwg (diucapkan zawj), yang berarti ’sepa-sang’ dapat berubah menjadi gwz (diucapkan jawz), yang terakhiradalah bentuk yang biasa terdapat pada dialek Libanon yang sayapakai.Sama pentingnya, kalau tidak lebih, untuk mengingat bahwa bahasa-
  16. 16. 10 BAB 1. PENDAHULUANbahasa Semit ditulis dalam bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Na-mun, pada terjemahan-terjemahan Kitab Bibel dalam bahasa Ing-gris dan dalam bahasa-bahasa lainnya, nama-nama menurut Bibelitu dikemukakan dalam bentuk yang telah diberi huruf vokal, yangberasal dari penyuaraan kaum ’Masoret’ atau dari tradisi KitabBibel Ibrani, yang seperti telah saya katakan, mungkin salah, sepa-njang ahli-ahli Masoret itu perlu menyusun kembali bahasa Ibrani,yang sudah dipergunakan lagi secara umum. Agar membantu parapembaca, yang telah saya lakukan adalah memberikan baik kataIbrani yang diberi vokal secara tradisional maupun yang belum diberivokal, dan saya berusaha untuk menunjukkan bagaimana kata yangsama itu, jika diberi vokal dengan cara yang berbeda, dapat mem-punyai arti selain yang telah ditentukan menurut tradisi kaum Ma-soret. Mengenai kata-kata –terutama nama-nama tempat yang be-rasal dari catatan-catatan kuno Mesir, mustahil untuk mengetahuibagaimana semua itu disuarakan. Maka dari itu, apa yang telahsaya lakukan dalam contoh-contoh yang seperti itu adalah menge-mukakannya dalam bentuk konsonan mereka dan juga membuatagar mereka dapat dibandingkan dengan bentuk-bentuk konsonanIbrani. Seperti itu pula, jika saya mengutip kalimat-kalimat lengkapdari Bibel Ibrani, saya telah menuliskan kata-kata Ibrani yang tidakdiberi vokal ke dalam bentuk Latin yang belum diberi tanda vokalpula. Ini agaknya tidak banyak membantu dalam pembacaannya,tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, saya tidak melihat adanyaalternatif lain yang lebih baik.Untuk meringkaskan: apa yang sama dalam perbendaharaan katadari berbagai bahasa Semit adalah sejumlah besar akar kata konso-nan dan bentuk-bentuk kata yang berasal dari situ; yang terakhir initidak mempunyai perbedaan yang besar antara satu bahasa denganbahasa yang lain. Guna membandingkan kata-kata dalam berbagaibahasa Semit, kita perlu mengeja kata-kata itu hanya dalam bentukkonsonannya, kalau tidak demikian maka seluruh maknanya akanhilang. Maka dari itu saya harus memohon kepada pembaca agarmereka bersabar jika terdapat perbandingan-perbandingan seperti
  17. 17. 11itu, dan agar mereka percaya bahwa perbandingan-perbandinganini dibuat menurut peraturan yang pantas bagi ilmu bahasa per-bandingan.Berpaling pada metodologi, karena alasan-alasan yang kini telahjelas, saya mendasarkan studi saya ini pada teks konsonan BibelIbrani, membanding-bandingkan sebutan tertentu dengan nama-namatempat di Arabia Barat guna memberikan alternatif bagi penter-jemah tradisional. Kita tidak perlu membahasnya lebih jauh dariitu, karena masalah-masalah yang seperti ini akan saya bahas dalamBab 2. Namun, saya hanya ingin menambahkan bahwa selain meneli-ti buku-buku dan peta-peta, saya telah pula melakukan sebuah per-jalanan ke Arabia Barat, yang saya yakin adalah tanah asal KitabBibel, guna menjadi lebih akrab dengan lokasi-lokasi utama yangdisebutkan di dalam studi ini dan secara langsung mengamati bagaimanapelbagai lokasi yang telah saya sebutkan tadi itu berhubungan, baiksecara geografis maupun secara topografis.Di atas dasar-dasar inilah argumentasi buku saya ini berdiri. Apakahsaya berhasil atau tidak meyakinkan para ahli Bibel Ibrani itu masihharus disangsikan dahulu. Yang dapat saya katakan adalah bahwasaya yakin sepenuhnya atas hasil-hasil penemuan yang dihasilkanoleh analisa toponimis saya, dan saya menanti-nanti datangnya saatpara arkeolog menggali beberapa tempat peninggalan zaman pur-bakala yang telah saya sebutkan, dan semoga menghasilkan bukti-bukti yang lebih lanjut bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani adalahArabia, Barat, bukan Palestina.
  18. 18. 12 BAB 1. PENDAHULUAN
  19. 19. Bab 2Dunia Yahudi KunoAsal mula penyelidikan ini datang secara tidak sengaja. Pada su-atu hari saya menerima sebuah copy cetakan indeks ilmu bumi ArabSaudi, diterbitkan di Riyad pada tahun 1977, dan ketika saya sedangmemeriksanya untuk nama-nama tempat yang tidak berasal dari ba-hasa Arab yang terletak di Arabia Barat, ketika itulah saya menyadaribahwa nama-nama tempat di Arabia Barat juga merupakan nama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab Perjanjian Lama, atauyang saya sebut Bibel Ibrani. Pada mulanya saya meragukan per-samaan ini, tetapi setelah bukti-bukti yang memperkuat itu terkumpul,saya merasa yakin bahwa persamaan antara nama-nama itu bukan-lah suatu kebetulan belaka. Hampir semua nama tempat kunoyang saya dapati di dalam Bibel berpusat pada daerah dengan pan-jang sekitar 600 kilometer dan selebar 200 kilometer, yang padazaman ini meliputi Asir (bahasa Arabnya ’Asir) dan bagian sela-tan Hijaz (al-Higaz). Semua koordinat tempat-tempat yang dise-butkan di dalam Kitab Bibel Ibrani dapat dicocokkan dengan se-buah tempat di wilayah ini, suatu fakta yang sangat penting, sedan-gkan belum ada bukti-bukti yang mencocokkan koordinat-koordinat 13
  20. 20. 14 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtersebut dengan lokasi tempat-tempat di Palestina, tempat yangdiduga sebagai tanah asal Kitab Bibel. Saya tidak menemukansekelompok nama tempat kuno, dalam bentuk Ibraninya yang masihasli di daerah-daerah lain di Timur Dekat. Saya merasa berkewa-jiban untuk memikirkan adanya sebuah kemungkinan yang sangatmenakjubkan: yaitu bahwa Yudaisme bukan berasal dari Palesti-na, melainkan dari Arabia Barat, dan bahwa seluruh sejarah bangsaIsrail kuno berlangsung di daerah ini, bukan di tempat lain.Sudah tentu, jika menganggap bahwa dugaan saya ini benar, bukanberarti bahwa tidak ada orang Yahudi yang tinggal menetap diPalestina pada zaman Bibel itu atau di negara lain di luar wilayahini. Yang dimaksud ialah bahwa Kitab Bibel Ibrani itu pada dasarnyaialah suatu catatan mengenai sejarah pengalaman bangsa Yahudidi Arabia Barat. Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang dap-at menjelaskan bagaimana Yudaisme dapat didirikan di Palestinapada zaman dahulu itu. Tetapi kita dapat saja memberikan suatuperkiraan berdasarkan bukti-bukti yang ada.Di antara agama-agama Timur Dekat yang diketahui, agama Yahu-di berada dalam golongan tersendiri; belum ada usaha-usaha yangberhasil menjelaskan asal usulnya dalam pengertian agama-agamakuno Mesopotamia, Suria atau Mesir, kecuali dalam tingkat bayan-gan mitos-mitos. Salah satu contoh yang demikian ini ialah kisahair bah, yang mungkin juga terdapat dalam kitab ’Epik Gilgamesh’dari mesopotamia kuno, dan mitos-mitos kuno lainnya, bahkan salahsatu di antaranya berasal dari Cina. Walaupun dengan adanyacontoh-contoh ini, kita tidak dapat memastikan asal-mulanya mitos-mitos ini serta apa yang dibawa dan dari siapa. Tetapi, seperti yangakan kita lihat dalam Bab 12, sangat masuk di akal untuk men-gandaikan bahwasanya asal mula agama Yahudi mungkin terbentukkarena adanya kecenderungan terhadap monoteisme di Asir kunotempat sejumlah dewa-dewa gunung seperti Yahweh, El Sabaoth, ElShalom, El Shaddai, El Elyon dan yang lain entah bagaimana yangakhirnya diakui sebagai dewa tertinggi, mungkin dengan adanyapembauran di antara suku-suku setempat. Karena kemudian di-
  21. 21. 15adopsi oleh suku Israil, sebuah suku lokal, monoteisme dasar Ara-bia Barat ini lambat-laun berkembang menjadi sebuah agama den-gan jalan pemikiran yang tinggi, yang mempunyai sebuah kitabkeagamaan tetap, yang mengandung gagasan yang rumit tentangsifat ketuhanan dan mempunyai tema kemasyarakatan dan etikatersendiri. Agama itu dengan mudah menarik peminat-peminat dariluar daerah asalnya, khususnya dari daerah-daerah yang telah men-genal ketatasusilaan dan yang telah mempunyai tingkat pemikiranyang cukup tinggi. Karena agama itu mempunyai kitab dan dikem-bangkan oleh orang-orang yang dapat menulis dan membaca, agamaitu mudah untuk disebarluaskan.Bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab Yahudi ini biasanya disebutIbrani, dan agaknya merupakan dialek sebuah bahasa Semit yangdahulunya merupakan bahasa sehari-hari yang dipakai di pelbagaidaerah di Arabia Selatan, Barat dan Suria (termasuk Palestina).1Seseorang dapat menyimpulkan hal ini melalui penyelidikan etimol-ogis dan dari nama-nama tempat di wilayah Timur Dekat, memper-timbangkan pula distribusi geografis mereka. Karena memerlukankata yang lebih tepat, maka bahasa kuno ini kini disebut bahasaKanaan, menurut nama sebuah bangsa menurut Bibel yang meng-gunakan bahasa ini.2Di samping bahasa Kanaan, ada satu lagi bahasa yang dipakai dijazirah Arab dan Suria, bahasa ini adalah bahasa Aram, diberi namaini menurut nama bangsa Aram dari Bibel. Tanpa memperdulikansiapa itu sebenarnya bangsa Kanaan dan Aram, suatu topik yang 1 Istilah ’Semit’, dipakai untuk menggambarkan bangsa yang berhubungandengan bangsa Ibrani dan bahasa-bahasa mereka, pertama kali diperkenalkanoleh A. L. Schlozer dalam tahun 1781. Istilah ini berasal dari kata Shem (sm)dalam Bibel, putra Nabi Nuh dan yang dianggap sebagai leluhur orang-orangIsrail dan bangsa-bangsa lain menurut Bibel. Bibel Ibrani berbicara mengenaibangsa-bangsa keturunan Shem tanpa menggambarkan mereka sebagai orang-orang ’Semit’. 2 Bahasa tersebut mungkin disebut dengan nama ini pada masa silam. Sebuahsebutan Bibel, yaitu Yesaya 19:18, menyebutkan ’bahasa Kanaan’ (spt kn’n),agaknya berarti bahasa Ibrani.
  22. 22. 16 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOakan saya bicarakan dalam Bab 4,3 dapat dipastikan bahwa bahasaKanaan (atau bahasa Ibrani) dan bahasa Aram pernah dalam wak-tu yang bersamaan digunakan oleh berbagai masyarakat Arab dariwilayah Barat, seperti halnya di Suria. Sebuah ayat pendek dariKitab Bibel, jika dilihat kembali dari segi nama-nama tempat diArabia Barat yang masih ada sejak dari zaman kuno, jelas men-gungkapkan hal ini.Sebutan ini adalah Kejadian 31:47-49. Di sini dapat kita bacamengenai sebuah timbunan tanah yang disebut ’timbunan batu’,didirikan untuk menjadi saksi atas persetujuan antara Yakub, se-orang Yahudi, dengan paman dari pihak ibunya, seorang bangsaAram dan ayah mertuanya, yaitu Laban. Laban menyebutnya ’Yegar-sahadutha’ (dalam bahasa Aram adalah ygr shdwt’), tetapi Yakub 3 Kemudian akan ditunjukkan melalui analisa toponimis bahwa tanah Kanaanmenurut Bibel terletak di sisi maritim Asir, bukan di Palestina dan pesisir Suria,seperti yang biasanya diduga. Mendasarkan hampir sebagian besar argumentasimereka pada bukti-bukti dalam Bibel, yang ditafsirkan dengan salah, para ahlitelah menganggap bahwa bangsa Aramaea (Aram) pada mulanya merupakanpenghuni daerah Suria bagian utara di sebelah barat sungai Efrat. Namun, se-buah penelitian kembali atas bukti-bukti menurut Bibel menunjukkan kepadakita bahwa yang disebut oleh Bibel Ibrani sebagai Aram (konsonan ’rm) sebe-narnya adalah Arabia Barat. Aram Naharim (’rm nhrym, Kejadian 28:2 dansebagainya), contohnya, jelas bukan Mesopotamia, tetapi merupakan Naharin(nhryn) kini di dekat Taif (al-Ta’if), di Hijaz bagian selatan. Maka dari itu,kita harus menyimpulkan bahwa Paddan-aram (pdn ’rm, Kejadian 28:2 dan se-bagainya) adalah Dafinah (dpn) di dekatnya, di daerah sekitar Mekah, bukanMesopotamia. Begitu pula beberapa nama yang lain yang oleh Bibel Ibrani dia-sosiasikan dengan Aram Beth-rehob, Aram Zobah dan bahkan Damaskus (DhaMisk di Arabia Barat, atau d msk, bandingkan dengan kata Ibrani dmsq) -mungkin kini dapat ditemui namanya di Hijaz dan Asir. Wadi Waram (wrm)juga memakai nama Aram kuno di sana. Kebetulan juga, Iram (’rm, Qur’an89:7) di dalam Qur’an, sebagai nama tempat, secara konsonan sama denganAram dalam Bibel, yang juga adalah ’rm. Qur’an menghubungkan tempat inidengan Dhat al-’Imad. Al-’Imad kini merupakan sebuah desa di dataran tinggiZahran (Zahran), sebuah daerah di sebelah selatan Taif, dan di sini sebuah daer-ah Aram setempat bertahan sebagai desa Aryamah (’rym). Terus-terang saja,kita tidak dapat mengatakan dengan pasti sampai seberapa jauh luas tanah diArabia Barat menurut Bibel itu, tetapi tanah ini jelas mencakup daerah-daerahselatan Hijaz.
  23. 23. 17menyebutnya ’Galed’ (dalam bahasa Ibraninya gl’d) dan ’Mizpah’(Ibraninya hmsph), yang berarti menara penjagaan. Ketiga namaini kini masih dipakai oleh tiga buah desa yang tidak begitu terke-nal, yang letaknya berdekatan, di daerah maritim Asir, di kawasanRijal Alma’ (Rigal Alma’), di sebelah barat Abha (Abha). Nama-namanya adalah: Far’at Al-Shahda (’l shd’), yang berarti ’Tuhanadalah saksi’ atau ’Tuhan dari saksi’, dalam bahasa Arabnya pr’tatau pr’h, yang berarti bukit atau timbunan, sama artinya dengankata Aram ygr; al-Ja’d (’l-g’d), yang merupakan sebuah metatesisyang telah diarabkan dari kata gl’d; dan al-Madhaf (mdp; band-ingkan dengan msph).Begitulah persamaan antara pemakai bahasa Kanaan dengan pe-makai bahasa Aram di Arabia Barat menurut Bibel, sehingga menu-rut hemat saya orang-orang Israil itu bingung dari kelompok manamereka berasal. Walau mereka menganggap sebagai bangsa Ibrani(lihat Bab 13), tetapi menurut Ulangan 26:5 leluhur mereka adalahseorang yang berasal dari suku Aram. Pertentangan ini telah lamamembingungkan para ahli, tetapi jika anggapan saya benar, hal itumemang masuk akal.Kemungkinan besar awal tersebarnya agama Yahudi dari tanah asal-nya di Arabia Barat ke Palestina dan ke daerah-daerah lain itu ialahdengan mengikuti jalur (route) kafilah perdagangan antar Arabia.Pada zaman kuno, wilayah Asir di Arabia Barat merupakan tem-pat pertemuan kafilah-kafilah yang membawa barang-barang dagan-gan dari berbagai negara di kawasan teluk Samudera Hindia seper-ti India, Arabia Selatan serta Afrika Timur, dari satu arah, dandari Persia-Mesopotamia, dan negara-negara di Laut Tengah bagianTimur, terutama Suria, Mesir dan dunia Aegea, dari arah yang lain(lihat Peta 1).Palestina, yang terletak di sudut Selatan Suria, dekat Mesir, meru-pakan ujung penghabisan dari jalur perdagangan kuno Arabia Baratpertama yang bertolak menuju arah ini. Penduduk Yahudi yang per-tama mestinya adalah pedagang-pedagang dan kafilah-kafilah dari
  24. 24. 18 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOArabi Barat yang terlibat dalam perdagangan ini. Penduduk baruini kemudian dengan mudah menarik penduduk lokal untuk mema-suki agama mereka, yang dalam hal kecanggihan intelektualnya jauhlebih tinggi dibandingkan dengan cara-cara pemujaan setempat danbahkan agama-agama tinggi kerajaan Mesir dan Mesopotamia. Carayang persis seperti inilah yang dipergunakan oleh pedagang-pedagangIslam di berbagai tempat di Asia dan Afrika Timur pada waktu-waktu yang kemudian. Mereka menarik umat baru untuk memelukagama Islam di mana pun mereka singgah di antara penduduk ituyang memandang agama Islam sebagai suatu agama yang lebih baikdaripada agama mereka sendiri.Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudiitulah yang merupakan penduduk pertama Arabia Barat di Palesti-na. Mestinya bangsa Filistin yang menurut Bibel (lihat Bab 14)dari Arabia Barat itulah yang terlebih dahulu menetap di daerahitu sebelum mereka, mengingat bahwa merekalah yang memberi na-ma kepada negara ini. Begitupun halnya dengan bangsa Kanaandari Arabia Barat (lihat catatan 3) yang tampaknya telah ’terse-bar’ (Kejadian 10:18) sejak dahulu, dan memberi nama pada tanahKanaan (kn’n) yang terletak di sepanjang pantai Suria, di sebelahutara Palestina. Daerah ini disebut Phoenicia oleh bangsa Yunani(mengenai Faniqa atau ’Phoenicia’ di Asir, lihat Bab 14 ). Bah-wasanya Phoenicia sebenarnya disebut Kanaan oleh penduduknyadapat diketahui dari sekeping uang logam Yunani dari Beirut yangmenceritakan dalam bahasa Funisia (Phoenicia), bahwa kota ini ter-letak ’di Kanaan’ (b-kn’n), dan dalam bahasa Yunani bahwa kotaini terletak ’di Phoenicia’.4 Menulis mengenai ’bangsa Phoenicia’dan ’bangsa Suria dari Palestina’ pada abad ke-5 S.M., sejarawanYunani Herodotus yakin bahwa mereka berasal dari Arabia Barat. 4 Zellig S. Harris, A Grammar of the Phoenician Language (New Haven,Conn., 1936), halaman 7, catatan 29. Harris menyebutkan bukti-bukti selan-jutnya yang menandakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia), di sepanjang pan-tai Suria dan di tempat-tempat lain, sebenarnya menyebut diri mereka bangsaKanaan.
  25. 25. 19Ia menulis tentang kedua bangsa itu: ’Negara ini, menurut ceritamereka sendiri, dahulunya terletak di Laut Merah, tetapi dari sanamereka menyeberang dan menetapkan diri di pesisir Suria, dan disana mereka masih menetap’ (7:89; lihat juga ibid. 1:1).5Berapa pun umurnya perkampungan orang-orang dari Arabia Baratyang tertua di daerah pesisir Suria,6 migrasi orang-orang Filistindan Kanaan ke sana mestinya bertambah besar. Menurut kitab-kitab dalam Bibel Ibrani, kerajaan Israil sudah dipastikan berdiridi Arabia Barat, yang dihuni antara lain oleh bangsa Filistin danKanaan, antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., yang se-bagian besar merugikan bangsa Filistin dan Kanaan. Karena patahsemangat dan berturut-turut dikalahkan oleh bangsa Israil, makaorang-orang Filistin dan Kanaan ini kemungkinan memperderas arusmigrasi mereka ke daerah pesisir Suria pada waktu yang sama. DiPalestina, nampaknya bangsa Filistin menamakan perkampungan-perkampungan mereka (seperti Gaza dan Askalon) menurut kota-kota di Arabia Barat yang mereka tinggalkan. Dusun Bayt Da-jan di Palestina (’kuil’ dgn, atau ’dagon’) di Palestina, dekat Jaffa,masih memakai nama dewa agama yang mereka anut sewaktu diArabia Barat (lihat Bab 14). Di sebelah utara Palestina, bangsaKanaan juga memberi nama-nama yang berasal dari Arabia Baratkepada perkampungan-perkampungan mereka - nama-nama sepertiSur (Tyre), Sidon, Gebal (dalam bahasa Yunani = Byblos), Arwad(dalam bahasa Yunani = Arados), atau Libanon.7 Pada saat orang- 5 Bukti Herodotus mengenai hal ini, seperti mengenai hal-hal lain yang berke-naan dengan sejarah Timur Dekat kuno, biasanya tidak ditanggapi dan dianggaptidak berharga oleh para sejarawan dan para ahli purbakala modern di daerahitu. Tentunya mereka secara sombong memperlakukannya dengan demikian,karena bukti-bukti ini tidak cocok dengan anggapan-anggapan mereka yang se-bagian besar berdasarkan pada penafsiran yang salah atas bahan-bahan geografisdan topografis Bibel Ibrani. Gagasan bahwa Laut Merah Herodotus bukanlahLaut Merah, melainkan Teluk Parsi tidak perlu dipercaya, karena hanya sedikitsekali bukti yang ada guna mendukungnya. 6 Herodotus (2:44) melaporkan, mengenai kekuasaan pendeta-pendeta kotaFunisia Tyre pada zamannya, bahwa kota ini didirikan 2.300 tahun sebelumnya. 7 Tyre menurut Bibel (bahasa Ibrani sr) bukanlah sebuah kota di tepi ’laut’
  26. 26. 20 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOorang Israil dari Arabia Barat (dan mungkin kaum Yahudi dari Ara-bia Barat lainnya) memulai migrasi mereka ke arah Utara untukmenetap di Palestina, yang tak dapat ditentukan tahunnya, mere-ka juga memberikan nama-nama yang berasal dari daerah merekayang dahulu kepada tempat-tempat pemukiman mereka atau kepa-da tempat-tempat pemujaan penduduk setempat yang diambil aliholeh mereka dan menggabungkannya dengan kuil-kuil Yahudi mere-ka. Di antara yang paling kentara dan yang paling terkenal adalah:Yerusalem (yrwslm, lihat Bab 9), Bethlehem (byt lhm, lihat Bab8), Hebron (hbrwn, lihat Bab 13? Carmel (krml),8 dan kemungk-(bahasa Ibrani ym), tetapi apa yang kini merupakan oase utama Zur (zr), yangbernama Zur al-Wadi’ah, di wilayah Najran, berdiri di ujung daerah Yam (ym),berbatasan dengan gurun Arabia Tengah. ’Kapal-kapal’-nya (bahasa Ibraninyaialah ’wnywt) sebenarnya adalah kafilah-kafilah binatang beban (bahasa Arab-nya ’nyt, ’kantung-kantung pelana’), dan tempat-tempat mereka berdagang da-pat dikenali melalui nama-nama mereka di pelbagai bagian Arabia. Kitab Bibelberbicara mengenai Raja Hiram (hyrm) dari sr, atau ’Tyre’; tidak ada raja kunodengan nama ini yang diakui untuk kota Tyre di Libanon, karena nama Phoeni-cia Ahiram (hrm bukan hyrm) adalah seorang raja Byblos, yang merupakantempat yang lain samasekali Gebal (gbl atau qbl) termasuk dalam nama-namatempat yang sering dipakai di Arabia Barat, sebuah Gebal tertentu, dekat TyreBibel, adalah Al-Qabil (qbl), di wilayah Najran. Arwad di Arabia Barat kiniadalah Riwad (rwd), di dataran tinggi Asir; Sidon dalam Bibel dibahas dalamBab 4. Menurut para ahli Geografi Arab, Lubaynan (lbynn, tanpa vokal lbnn,atau ’Libanon’) adalah nama dataran tinggi yang kini berada di tengah-tengahperbatasan antara Asir dan Yaman. Di kaki perbukitan pantai daerah ini, se-buah desa yang bernama Lubayni (lbyny) masih tetap ada. Pohon-pohon araz(cedar) Libanon yang tertulis dalam Bibel mestinya adalah tumbuhan jeneverraksasa Lubaynan di Arabia Barat, dan salju Libanon yang dikatakan dalamKitab itu, tidak disangkal lagi adalah salju setempat (lihat Bab 2). 8 Carmel di Arabia Barat adalah Kirmil (juga krml), yang disebutkan dalamkamus geografi Arab Yaqut (4:448) sebagai sebuah punggung bukit pesisir diujung selatan Asir, berbatasan dengan Yaman, sehingga terletak tepat di sebelahbarat Libanon Arabia Barat (lihat Catatan 7). Ini menjelaskan mengapa Gu-nung Carmel kadang-kadang disebutkan sehubungan dengan Gunung Libanondalam teks-teks Bibel, salah satu di antaranya yang tidak terduga adalah Yesaya29:17, sb lbnwn l-krml, yang dianggap berarti ’Libanon akan diubah menja-di ladang yang subur’, tetapi sebenarnya berarti ’Libanon akan berubah (ataukembali) menjadi Carmel’.
  27. 27. 21inan Galilee (glyl),9 Hermon (hrmwn)10 dan Yordan (h-yrdn, lihatBab 7), semuanya membenarkan hal ini. Di kebanyakan tempat didunia, pada suatu waktu, imigran-imigran yang rindu sering mena-makan kota-kota, daerah-daerah, pegunungan, sungai-sungai, ataubahkan suatu negara atau pulau-pulau dengan nama-nama yangmereka bawa dari tanah yang mereka tinggalkan. Mengingat pa-da zaman dahulu bahasa yang dipergunakan di daerah Suria danArabia Barat adalah sama, kita tidak dapat meniadakan adanyakemungkinan besar bahwa beberapa tempat di kedua wilayah itudahulunya mempunyai nama-nama yang sama, terutama jika berke-naan dengan ciri-ciri topografis, hidrologis atau ekologis tertentu,atau berkenaan dengan pemujaan terhadap dewa yang sama. Dalamcorak kebudayaan tradisional, seperti dalam halnya bahasa, Suriadan Palestina tidak pernah jauh berbeda.Dalam setiap tahap, emigrasi dari Arabia Barat menuju Suria danPalestina (dan mungkin juga daerah-daerah lain) didukung olehfaktor-faktor luar. Sebagai daerah yang kaya akan bahan baku alam,dan lagi pula sebagai daerah yang menguasai salah satu bandarperdagangan pada zaman kuno (lihat Bab 3), Arabia Barat sudahsemestinya merupakan sebuah target untuk penjajahan ke kerajaansejak masa lampau. Dalam Bab 11, akan dibuktikan, melalu bukti-bukti toponimik, bahwa ekspedisi yang dilakukan oleh raja MesirSheshonk I terhadap Yudah, pada akhir abad ke-10 S.M., seper-ti yang dikisahkan dalam Bibel Ibrani dan didukung oleh bukti-bukti dari catatan-catatan kuno Mesir, ditujukan kepada ArabiaBarat, bukan terhadap Suria dan Palestina seperti yang sampai kinidiperkirakan. Sebuah penyelidikan yang dilakukan secara mendalamatas sebuah lagi ekspedisi kerajaan Mesir yang disebut dalam BibelIbrani, yaitu ekspedisi Raja Necho II pada akhir abad ke-7 S.M., 9 Nama-nama tempat yang sepadan dengan kata Ibrani glyl (berarti ’lerenganyang berteras-teras’) adalah biasa di dataran tinggi Arabia Barat. Salah satu diantaranya adalah Wadi Jalil (glyl) di Hijaz Selatan, di sebelah Tenggara Taif. 10 Hrmwn dalam Bibel (dalam metatesis dari hrmn atau hmrn) bertahan seba-gai nama tidak kurang dari lima tempat di Hijaz bagian selatan dan Asir yangbernama Hamran atau Khamran.
  28. 28. 22 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOmengungkapkan bahwa ekspedisi yang melibatkan seorang Raja Yu-dah dan orang-orang Babilonia, juga diarahkan ke Arabia Barat.Pertempuran Karchemis (krkmys, Tawarikh 2 - 35:20; Yesaya 10:9;Yeremia 46:2), antara pasukan Mesir dan Babilonia, terjadi di dekatTaif, di sebelah Selatan Hijaz, di tempat itu dua buah pedesaan yangberdekatan, Qarr (qr) dan Qamashah (qms), masih berdiri.Dengan demikian, saya yakin ’Karchemis’ yang tertulis dalam Bibelitu bukanlah Kargamesa bangsa Hittit, yang sekarang merupakanJerablus di tepi sungai Furat (Efrat) seperti yang sampai kini diperki-rakan.11 11 Wadi Adam, yang bersumber di dataran tinggi mengalir ke arah Laut Mer-ah, kadang-kadang disebut di dalam Bibel Ibrani sebagai nhr prt, yang mem-buatnya mudah dikelirukan dengan Furat (Efrat) Mesopotamia. Kebingunganini diperbesar oleh deskripsi nhr prt sebagai h-nhr h-gdwl, ’sungai besar’ dalamKitab Bibel, dan Wadi Adam merupakan salah satu wadi yang mengalir ke lautyang terbesar di Arabia Barat. Sebenarnya nama menurut Bibel Wadi ini berasaldari nama desa yang kini adalah Firt (prt), di wilayah yang sama. Seperti halnyapertempuran Karchemis, pertempuran Karkara (atau lebih tepatnya Qarqara),yang dilakukan oleh bangsa Assyria melawan raja-raja Amat dan Imerisu dansekutu mereka Gindibu’ dari Aribi dan Ahab dari Israil (Ahabu Sir’ila) di perten-gahan abad kesembilan S.M., sebenarnya terjadi di Arabia Barat, bukan di sepa-njang sungai Orontes di Suria seperti yang biasanya diduga. Amat, yang hinggakini dianggap merupakan sebuah referensi kepada Hamah di lembah Orontes, diutara Suria, sebenarnya kini adalah desa Amt (’mt), dekat Taif, dan tidak jauhdari Karchemis dalam Bibel. Imerisu bukanlah Damaskus Suria, seperti yangdiduga tanpa berdasarkan pada alasan apa pun. Di antara beberapa alternatiflainnya di Arabia Barat, diperkirakan Marasha (mrs), di dataran tinggi selatanAsir lah (wilayah Dhahran al-Janub, lihat Bab 3) yang paling besar kemungk-inannya. Gindibu’ dari Aribi biasanya dianggap sebagai seorang kepala sukuArab dari gurun pasir Suria. Sebenarnya sebuah suku yang bernama Banu Jun-dub (gndb) masih menempati dataran tinggi Asir Tengah, dan Aribi mestinyakini merupakan ’Arabah (’rbh), sebuah desa di dataran tinggi tempat Banu Jun-dub masih dapat dijumpai. Karkara sendiri, dalam hal ini, mestinya adalah Qar-qarah atau Qarqara (qrqr) masa ini, di pesisir Asir, di pedalaman Qunfudhah, disebelah Selatan Lith. Ada tiga tempat lainnya yang bernama Qarqar (qrqr) jugadi Arabia Barat, dan tidak satu pun yang terletak di wilayah Orontes di Suria.Jika ada kesangsian sehubungan dengan onomastics (ilmu asal kata dan nama)yang berkenaan dengan Pertempuran Karkara, seperti yang telah ditafsirkansecara geografis, lihat catatan-catatan dalam James B. Pritchard, ed., AncientNear Eastern Texts Relating to the Old Testament (Princeton, 1969; dari sini
  29. 29. 23Ekspedisi-ekspedisi militer pertama kerajaan Mesir sejak 2000 tahunS.M., yang selama ini diketahui sebagai penyerangan terhadap Suriadan Palestina, jika kita teliti kembali melalui catatan-catatan kunoMesir dengan bantuan nama-nama tempat dari Arabia Barat yangmasih terdapat di sana12 , akan terlihat bahwa tindakan-tindakanmiliter itu lebih cenderung ditujukan kepada Arabia Barat. Seba-gai bangsa kerajaan, orang-orang Mesir kuno benar-benar tertarikuntuk menguasai Arabia Barat dan jalur-jalur perdagangannya,13seperti halnya bangsa Assyria dan Babilonia pada masa kejayaanmereka. Mestinya, setelah setiap penjajahan kerajaan atas tanahmereka, dari arah mana pun, sebuah gelombang migrasi baru berto-lak dari Arabia Barat ke daerah-daerah seperti Palestina.Persis pada saat kerajaan Mesir menyudahi masa penghematan an-tara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., kerajaan Israilberdiri di bukit-bukit daerah pesisir Asir (lihat Bab 8-10), di bawahpimpinan Saul, kemudian dikembangkan oleh Daud dan mencapaipuncak kejayaan dan kemakmurannya di bawah raja Sulaiman (Salo-mo). Andaikata Daud dan Sulaiman pada masa mereka benar-benarmemimpin sebuah kerajaan Suria yang menguasai daerah strategisyang memisahkan Mesir dan Mesopotamia, seperti yang diduga (li-hat 1 Raja-raja 4:21 dalam terjemahan standar mana pun), makacatatan-catatan Mesir dan Mesopotamia sudah semestinya palingdisebut Pritchard), hal 278-279. 12 Penterjemahan catatan-catatan Mesir (seperti catatan-catatan dalamPritchard) membingungkan masalah ini dengan jalan mengenali secara tidakteliti nama-nama yang disebutkan dengan nama-nama tempat Palestina danSuria yang telah diketahui, dan bukan menterjemahkan aslinya, seperti yangseharusnya dilakukan. Sama halnya (seperti dalam Pritchard) dengan catatan-catatan Mesopotamia dan yang lain-lain. Pencarian tempat-tempat yangdibicarakan harus dilakukan dengan bantuan catatan-catatan asli, bukan ter-jemahannya. 13 Bangsa Mesir juga tertarik untuk menggunakan kayu jenever Asir (bukankayu jenis cemara (cedar) Libanon) sebagai bahan bangunan, dan guna mem-bangun kapal-kapal mereka, karena kayu cemara (cedar) tidak begitu cocok un-tuk pekerjaan ini. Untuk melihat kebingungan antara cedar dan jenever, lihatsebutan-sebutan yang relevan dalam Alessandra Nibbi, Ancient Egypt and SomeEastern Neighbours (ParkRidge, N.J. 1981).
  30. 30. 24 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtidak menyinggung nama-nama mereka, tetapi hal ini tidak terlihat.Sewaktu kerajaan Mesir bangkit kembali pada abad ke-10, intervensibaru yang dilakukannya di Arabia Barat menyebabkan terpecahnyakerajaan Israil menjadi dinasti ’Yudah’ dan dinasti ’Israil’ yang sal-ing bersaingan (lihat Bab 10). Perang saudara antara Israil ini,yang berkobar pada dasawarsa terakhir abad itu, kemungkinan be-sar mengakibatkan migrasi secara besar-besaran yang pertama kenegara-negara lain, terutama Palestina. Penjajahan yang dilang-sungkan oleh bangsa Mesopotamia atas Arabia Barat antara abadke-9 dan ke-6 S.M., pertama-tama oleh bangsa Assyria dan kemudi-an oleh orang-orang Babilonia (yang sudah merupakan bangsa Neo-Babilonia), hanya memperbesar arus migrasi ini.Pada tahun 721 S.M. kerajaan ’Israil’ di Arabia Barat itu dihan-curkan oleh Raja Assyria, Sargon II, yang menduduki ibukotanya,yaitu Samaria, (smrwn, yang kini masih berdiri dengan nama Shim-ran, lihat Bab 10) dan membawa penduduk terkemukanya ke Persiasebagai tawanan.14 Kemudian, pada tahun 586 S.M., penguasa Ba-bilonia, Nebuchadnezzar, memusnahkan kerajaan ’Yudah’ di Ara-bia Barat dan membawa ribuan penduduknya kembali ke Babiloniasebagai tawanan. Begitu besar hasrat orang-orang Babilonia un-tuk menjaga kekuasaan mereka atas Arabia Barat dan untuk mem-pertahankan tanah jajahan mereka itu dari usaha-usaha perebutankembali kekuasaan atas koloni itu oleh kerajaan Mesir (seperti yangpernah dicoba oleh Necho II, seperempat abad sebelumnya), sampai-sampai pengganti Nebuchadnezzar, yaitu Nabodinus, memindahkanibukotanya dari Babilonia ke Teima (Tayma’) di Hijaz Utara danseperti yang kita ketahui, ia lebih lama menjalankan pemerintahan-nya di daerah itu.Sampai pada waktu itu, kemungkinan kehadiran orang-orang Yahu-di di Palestina telah bersifat permanen. Keadaan orang-orang Israil 14 Perlu dicatat di sini bahwa para sejarawan Arab pada zaman permulaanIslam, yang karya-karya mereka mengabadikan tradisi-tradisi Arab yang berhakmenerima perhatian serius, menegaskan bahwa Nebuchadnezzar adalah pe-nakluk Arabia dan menceritakan kisah-kisah penaklukannya di sana.
  31. 31. 25yang menyedihkan di Arabia Barat mungkin mendatangkan hara-pan kaum Yahudi di sana akan hidup lebih baik di koloni Yahu-di yang baru - di ’putri Zion’ dan ’putri Yerusalem’ (dengan katalain, Zion dan Yerusalem baru di Arabia Barat, lihat Bab 9) sepertihalnya orang-orang Eropa yang pada abad ke-17 dan ke-18 kece-wa akan kehidupan mereka di daratan Eropa, dan mengharapkanakan kehidupan yang lebih baik di koloni mereka yang baru, yaituAmerika. Pengharapan orang-orang Eropa pada waktu itu dike-mukakan oleh Goethe dalam kalimat-kalimatnya yang sering dikutip:Amerika, engkau memiliki yang lebih baik Daripada yang dimilikibenua kami, yang lama. Jauh sebelumnya, mungkin orang-orangYahudi di Arabia Barat menyuarakan pengharapan yang serupa,pada suatu waktu antara abad ke-8 dan ke-5 S.M., membicarakan,barangkali, tentang dunia baru mereka di Palestina, seperti yangberikut ini: Dan engkau, wahai Menara Kawanan Domba, Hai Bukitputri Zion, Kepadamu akan datang Dan akan kembali pemerintahanYang dahulu, Kerajaan putri Yerusalem. (Mikha 4:9)15 Dan jugadalam kata-kata ini: Putri gadis Zion Membencimu,16 memperolok-olokkan engkau Dan putri Yerusalem Menggeleng-gelengkan kepaladi belakangmu Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yu-dah Yaitu orang-orang yang tertinggal, Akan berakar ke bawah,Dan menghasilkan buah ke atas; Sebab dari Yerusalem akan kelu-ar orang-orang yang tertinggal, Dan dari Gunung Zion orang-orangyang terluput; Semangat Penguasa Sabaoth,17 akan melakukan halini. (Yesaya 37:22b, 31-32; juga 2 Raja-raja 19:21b, 30-31) Danmungkin dalam ini pula: Bergembiralah, wahai putri Zion; Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putri Yerusalem Lihat, rajamu datangkepadamu; Ia jaya dan menang, Ia rendah hati dan mengendarai 15 Dinilai melalui Mikha 1:1, ungkapan harapan di ’putri Yerusalem’ bertang-galkan abad kedelapan S.M. Sampai kini, ahli-ahli Bibel telah menganggapungkapan-ungkapan puitis pada Zion dan Yerusalem, sehingga meniadakan ke-harusan adanya informasi bersejarah yang lebih jauh lagi. 16 Kata-kata itu ditujukan kepada Sennacherib, raja Assyria (704-681 S.M.). 17 Mengenai Sabaoth menurut Bibel sebagai kuil pemujaan Yahweh utama didataran tinggi Asir (kini desa al-Sabayat, bandingkan dengan ’lhy sb’wt atauyhwh sb’wt dalam bahasa Ibrani), lihat Bab 12.
  32. 32. 26 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOseekor keledai, Seekor keledai beban yang muda.18 (Zakharia 9:9)Jika ada harapan yang tertinggal untuk mendirikan kembali sebuahpemerintahan Israil yang mampu bertahan seusainya penjajahanoleh bangsa-bangsa Assyria dan Babilonia, maka harapan ini pudarsecara tidak langsung dengan munculnya kerajaan Persia, Achaemenes,pada akhir abad ke-6 S.M. Pada tahun 538 S.M., bangsa Persiamenaklukkan Babilonia; dan pada tahun 525, mereka telah men-galahkan Suria dan menduduki Mesir dan untuk pertama kalinyamempersatukan semua negara yang terletak di kawasan Timur Dekatkuno, di bawah sebuah pemerintahan kekerajaan yang efisien. Kekuasaanbangsa Persia ini juga kemudian meliputi hampir seluruh, bahkanmungkin semua, daerah Semenanjung Arabia, tetapi aksi-aksi penja-jahan mereka di Utara sangat merugikan perdagangan kafilah antar-Arabia yang merupakan aliran utama komunitas Israil dan komunitas-komunitas kuno lainnya di Arabia Barat. Jalan-jalan besar yangdiawasi, dibuat oleh Achaemenes guna menghubungkan Persia danMesopotamia dengan Mesir melalui Suria, berakibatkan secara lang-sung tergesernya jalur-jalur utama perdagangan menjauhi Arabia,hingga menyebabkan kemacetan ekonomi wilayah Jazirah Arab be-serta jaringan perdagangannya. Pada awal abad berikutnya, didirikan-nya sebuah terusan oleh orang-orang Persia guna menghubungkan 18 Karir kenabian Zakaria bertepatan dengan awal kekuasaan raja AchaemenidDarius I (522-486 S.M.), ini jelas diketahui dengan disebutnya Darius dan tahun-tahun kekuasaannya dalam teks ramalan-ramalan Zakaria. Karena Zakaria 9:13berbicara mengenai ywn, yang dianggap sebagai suatu referensi pada Yunani(bahasa Yunani laones), bab ini dan bab-bab berikutnya dalam Zakaria di-hubungkan oleh para kritikus dengan seorang penulis lain dari zaman yang lebihbaru (akhir zaman Achaemenid atau awal zaman Hellenis). Sebenarnya, kataIbrani ywn hanya dapat merupakan sebuah referensi pada Yunani dalam Daniel.Di tempat lain dalam Bibel Ibrani, kata ini berkenaan dengan apa yang kiniadalah desa-desa Yanah (yn), dekat Taif, di sebelah selatan Hijaz. atau desaWaynah (wyn) di lereng barat Asir, di wilayah Bani Shahr. Zakaria tampaknyaadalah salah seorang Israil yang kembali dari Persia atau Babilon ke ArabiaBarat pada awal zaman Achaemenid (lihat teks). Kecewa dengan apa yangia temukan di sana, mungkin menyebabkan ia mengalihkan perhatiannya dariZion dan Yerusalem lama di Arabia Barat ke suatu impian sebuah Zion danYerusalem yang baru di Palestina yang lebih menguntungkan.
  33. 33. 27Laut Merah dengan sungai Nil, membantu perdagangan maritimsecara merugikan perdagangan kafilah Arabia yang menuju ke arahsana. Akibat kesemuanya ini, secara menyeluruh, berkenaan denganArabia Barat, mestinya sangat merusak.Agaknya bangsa Persia sama sekali tidak bersifat memusuhi kaumYahudi; malah kita mengetahui bahwa mereka membela kaum itu.Maka dari itu, dengan mendapatkan izin dari pemerintah Persia,sekitar 40.000 orang keturunan tawanan-tawanan Israil di Persiadan Mesopotamia kembali ke Arabia Barat dengan membawa per-abot rumah tangga mereka, dengan tujuan untuk membangun kem-bali perkampungan mereka di sana. Tetapi malang bagi mereka,orang-orang Israil ini kecewa dengan apa yang mereka temukan disana, di mana-mana sekeliling mereka terdapat kemiskinan dan ke-hancuran yang menyedihkan. Yang terjadi selanjutnya hanya dapatmenurut perkiraan saja, karena sampai di sini Kitab Bibel Ibraniitu tidak melanjutkan lagi kisah-kisah yang bersejarah. Tetapi adasuatu hal yang dapat dipastikan, yaitu belum ada perkampunganIsrail yang berhasil didirikan kembali di tanah asal mereka di Ara-bia Barat, meskipun agama Yahudi tetap ada di sana dan di Ara-bia Selatan, bahkan sampai kini. Sebagian besar orang-orang Israilyang kembali pada periode Achaemenid mestinya berhasil kembalike Mesopotamia dan Suria, atau berpencar. Sejak saat itu sampaidengan dihancurkannya Yerusalem di Palestina oleh bangsa Rumawipada tahun 70 M., arus utama sejarah kaum Yahudi terpusatkan disekitar Palestina. Mengenai asal mulanya Yudaisme di Arabia Baratagaknya telah dilupakan.Kemungkinan besar terhapusnya kenangan mengenai sejarah merekadi Arabia Barat dalam jangka waktu yang relatif singkat –mungkintak lebih dari dua atau tiga abad– disebabkan oleh adanya suatu pe-rubahan bahasa, yang pada abad ke-6 S.M. telah menguasai Arabia,Suria dan Mesopotamia. Seperti kita ketahui, dialek-dialek bahasaKanaan sebagai bahasa Bibel Ibrani, telah banyak dipakai di Ara-bia Barat dan Suria masa itu bersama-sama dengan dialek-dialekbahasa Aram. Kitab-kitab suci Yahudi, kecuali beberapa bagian
  34. 34. 28 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOkitab-kitab karangan nabi-nabi yang kemudian, ditulis dalam ba-hasa Ibrani, bukan bahasa Aram. Tetapi, setelah kira-kira tahun 500S.M., bahasa Kanaan telah jarang dipergunakan, bahkan mungkintelah punah di Arabia dan Suria; tergeser oleh ballasa Aram yangtelah menyebar sampai ke Mesopotamia. Di bawah Achaemenes ba-hasa Aram bahasa resmi pemerintahan kerajaan Persia dan menjadilingua franca wilayah Timur Dekat. Pergantian bahasa di kawasanini terus berlanjut sampai pada abad-abad berikutnya, yang sebe-gitu jauh sebagai logat bahasa Semit yang mulai bersaing denganbahasa Aram di berbagai kawasan di Timur Dekat.19 Sampai pa-da abad-abad permulaan zaman penyebaran agama Nasrani, bahasaArab, yang pada mulanya merupakan bahasa suku-suku penggem-bala padang pasir Syro-Arabia, telah menggantikan bahasa Aram disebagian besar Arabia dan Suria serta Mesopotamia, dan pada abadke-7 atau ke-8 M. hanya tinggal beberapa tempat saja yang masihmemakai bahasa di daerah itu. Di Arabia Barat kedua penggeseranbahasa itu dapat dilihat melalui beberapa nama tempat, terutamakota kuno Zeboiim (sbym atau sbyym, bentuk jamak sby, dalambahasa Ibrani, yang berarti ’gazelle’ (semacam kijang), tergantungpada penyuaraannya). Kota Zeboiim, seperti yang akan dibahaspada Bab 4, menandakan dua kota kembar di daerah pesisir Jizan(Gizan) di daerah pantai sebelah Asir selatan. Kedua kota ini kinimasih ada dengan nama Sabya (sby) dan Al-Zabyah (zby). Sabyaadalah bentuk bahasa Aram yang telah ditambah akhiran. Sedan- 19 Pergeseran bahasa yang berturut-turut, yang mempengaruhi negara-negaradi Timur Dekat yang mengelilingi gurun Suria-Arabia yang luas itu, mestinyaberhubungan dengan serangkaian gelombang pendudukan oleh suku-sukupengembara dari gurun tengah di daerah-daerah tetap di sekelilingnya. Ba-hasa Kanaan, tampaknya, adalah bahasa populasi kesukuan dan tetap yang aslidi dataran tinggi Barat di tepian gurun Suria-Arabia, di Suria, seperti halnya diArabia. Penduduk baru gurun, sejak dahulu, memperkenalkan bahasa Aram disana, dan juga di Mesopotamia. Perkampungan-perkampungan yang menyusuldi daerah-daerah sama yang didirikan oleh berbagai suku gurun yang berba-hasa Arab memperkenalkan bahasa Arab. Sebagai sebuah bentuk bahasa indukSemit, bahasa Kanaan, bahasa Aram dan bahasa Arab dapat dipandang seba-gai bahasa-bahasa yang sama tuanya, walaupun secara linguistik bahasa Arabdipandang sebagai yang tertua di antara ketiganya.
  35. 35. 29gkan Al-Zabyah adalah bentuk bahasa Arab dari kata yang sama(sby) dengan kata sandang tertentu bahasa Arab yang telah diberiakhiran. Dengan demikian itulah nama-nama tempat itu menghen-tikan segala proses sejarah.Suatu hal yang sama pentingnya dengan kesimpulan yang telah sayatarik mengenai identitas nama-nama tempat di Arabia Barat dan dinegeri-negeri yang dijangkau Bibel ialah dengan punahnya bahasaBibel Ibrani sebagai bahasa lisan maka pembacaan kitab-kitab su-ci Yahudi itu menjadi suatu problema. Bahasa Ibrani, seperti ke-banyakan bahasa Semit, ditulis dalam bentuk konsonan dan harusdiberi tanda-tanda vokal jika kita hendak memahaminya, sepertisudah saya sebutkan. Suatu kekecualian adalah bahasa Akkadia,yaitu bahasa Mesopotamia kuno, yang tulisan kuneiformnya ditulismenurut suku kata bukan menurut alfabet. Perlu diingatkan bah-wa bahasa Ibrani kuno harus dimengerti terlebih dahulu sebelumdiberi vokal menggunakan tanda-tanda vokal yang tepat dan den-gan menggunakan konsonan-konsonan ganda. Oleh sebab itu, padapermulaan era Achaemenid orang-orang Yahudi Palestina dan Ba-bilonia, karena mereka tidak mengetahui bagaimana tulisan-tulisanIbrani itu seharusnya dibaca, tampaknya mereka mendasarkan be-berapa penambahan vokal terhadap tulisan-tulisan itu kepada ba-hasa Aram yang mereka pakai.20 Di dalam teks-teks yang mere-ka akui terdapat banyak nama tempat yang berhubungan denganlokasi-lokasi di Arabia Barat yang asing bagi mereka. Terlebih lagi,di Arabia Barat sendiri, kaum Yahudi pada sekitar tahun 500 S.M.telah mengalami kemunduran, sehingga tidak ada lagi orang-orangyang cukup terpelajar di antara mereka untuk membenarkan sesamakaum Yahudi dari Palestina dan Babilonia dalam tafsiran geografis 20 Sebuah tanda dari ini (di samping bunyi-bunyi vokal) adalah pemakaianpelunakan dari k tidak bersuara dalam bahasa Aram, jika didahului oleh sebuahvokal, menjadi bunyi desahan h (dgn topi bawah) tidak bersuara, yang tidakpernah diakui kebenarannya oleh penyuaraan yang sebenarnya dari nama-namatempat menurut Bibel di Arabia Barat yang bertahan, yang menempatkan h(dgn topi bawah) selalu merupakan suatu pengucapan alternatif dari bunyi de-sahan yang lain, yaitu h (dgn titik bawah).
  36. 36. 30 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOmereka. Pula, orang-orang Yahudi dari Arabia Barat ini hanya be-ragama Yahudi saja dan tidak merupakan kelompok etnis ataupunmempunyai pandangan politik orang-orang Israil; dan mereka tidaklagi berbahasa Ibrani kuno, dan dalam waktu yang singkat bahasamereka berubah menjadi bahasa Arab. Sudah pasti orang-orangYahudi di Arabia Barat masih mempunyai kenangan mengenai ke-hidupan mereka yang dahulu sebagai bangsa Israil; 21 akan tetapimenjelang akhir era Achaemenid, hubungan mereka dengan kaumYahudi lainnya di luar Arabia tidak teratur dan mereka mengala-mi kesulitan dalam menyampaikan secara efisien apa yang mere-ka ingat. Pada waktu umat-umat Yahudi Palestina dan Babiloniamenetapkan bentuk-bentuk pembacaan Kitab Bibel Ibrani denganmempergunakan tanda-tanda vokal, yang dimulai pada sekitar abadke-16 M. (lihat Bab 2), telah lama orang meninggalkan pemakaianbahasa Ibrani atau dialek-dialek bahasa Kanaan lainnya, dan asalmula Yudaisme di Arabia pun telah lama dilupakan.Faktor lain yang mungkin menyebabkan kaum Yahudi melupakansejarah mereka di Arabia Barat bersangkutan dengan perkemban-gan politik di Arabia Barat dan juga di Palestina setelah runtuh-nya kerajaan Israil kuno. Di Arabia Barat, kemunduran yang di-alami kerajaan Achaemenid yang sudah mulai terlihat pada tahun400 S.M., mendorong munculnya perkumpulan-perkumpulan poli-tik baru, terutama perkumpulan politik bangsa Minaean (Ma’in), didaerah tempat kerajaan Israil pernah berjaya. Karena tersebar diantara perkumpulan-perkumpulan politik baru ini, yang beberapa diantaranya dibentuk secara politis sebagai kerajaan-kerajaan, kaum-kaum Yahudi Arabia Barat kehilangan sifat nasionalisme mereka. 21 Sejumlah suku Arabia Barat, yang kini bukan merupakan kaum Yahudi,menegaskan bahwa kemungkinan kecil mereka pada mulanya merupakan orang-orang Yahudi, dan ada keyakinan setempat bahwa tanah Bibel para nabi terletakdi sana. Adat dan pengetahuan kesukuan Arab mengingatkan bahwa kaumYahudi menempati pegunungan Hijaz (sic) sewaktu bangsa Arab masih beradadi gurun pasir, dan bahwa kaum Yahudi-lah yang pertama kali memelihara unta.Lihat Alois Musil, The Manners and Customs of the Rwala Bedouins (New York,1928), hal. 329-330.
  37. 37. 31Perkembangan di Palestina agaknya berbeda dengan yang terjadi diArabia Barat. Sampai pada tahun 330 S.M., penjajahan Alexan-der Agung telah menghancurkan kerajaan Persia; setelah wafat-nya Alexander panglima-panglimanya mendirikan kerajaan-kerajaanbaru di daerah yang dahulunya merupakan wilayah-wilayah kekuasaankerajaan Achaemenid. Salah satu dari kerajaan Hellenis ini adalahkerajaan Ptolemi dengan pusatnya di Mesir yang beribukotakanAlexandria. Satu lagi kerajaan yang terbentuk adalah kerajaan Se-leucid, yang akhirnya berpusatkan di daerah Suria dan ibukotanyadi Antioch. Penguasaan atas Palestina pada mulanya diperebutkanantara, kerajaan Ptolemi dan Seleucid, dan akhirnya jatuh ke tangankerajaan Seleucid; akan tetapi kerajaan Ptolemi tidak putus hara-pan dalam tekadnya untuk menguasai kembali atau mempengaruhinegara itu. Pada abad ke-2 S.M., orang-orang Yahudi Palestinamempergunakan kesempatan yang ada selagi adanya pertikaian atastanah mereka, dan mereka mengadakan suatu pemberontakan (yangdimulai pada tahun 167 S.M.) dan berhasil memerdekakan negaramereka dari kekuasaan pemerintahan kerajaan Seleucid pada tahun142 atau 141 S.M. Para pemimpin pemberontakan ini, yang berasaldari perkumpulan kependetaan Hasmonia (Hasmonaean), mengam-bil alih kekuasaan atas Yerusalem Palestina; di tempat ini terdapatkuil yang pada waktu itu mungkin sudah dianggap kaum Yahudisedunia sebagai tempat perlindungan yang tersuci. Dengan berg-erak melalui serangkaian aksi-aksi militer yang sukses, orang-orangHasmonia ini juga memperluas wilayah kekuasaan kaum Yahudi diPalestina, sehingga akhirnya tidak hanya seluruh negeri itu saja yangdikuasainya, bahkan juga bagian Selatan Galilee di Utara dan daer-ah perbukitan sebelah Timur sungai Yordan dan Laut Mati.Orang-orang Hasmonia ini, pada era mereka, menganggap diri mere-ka sebagai keturunan sah bangsa Israil kuno, dan kerajaan mere-ka bertahan sampai pada kedatangan bangsa Rumawi pada tahun37 S.M., yang menyusun kembali daerah kekuasaan mereka seba-gai ’client-kingdomnya’ kerajaan Rumawi dengan nama ’Judaea’yang artinya ’tanah kaum Yahudi’, dengan Herod Agung (wafat
  38. 38. 32 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOpada tahun 4 S.M.) sebagai raja. Herod ini kemudian memper-baiki kuil Yerusalem Palestina, yang kemudian dihancurkan olehbangsa Rumawi sewaktu mereka merampok kota itu pada tahun 70M., dan mengakibatkan tersebarnya penduduk Judaea. Tak lamakemudian, bangsa Rumawi, di bawah pimpinan Hadrian, memban-gun kembali kota ini dan menamakannya Aelia Capitolina, namaAelius diambil dari salah satu nama Hadrian. Akan tetapi ada pu-la kemungkinan bahwa nama ini adalah bentuk Semit dari namaAelia, yang merupakan nama asli tempat ini sebelum diberi namaYerusalem, untuk mengingatkan kembali pada kota Yerusalem diArabia Barat. Aelia, dalam bentuk Semit aslinya dapat berarti’benteng’ (bandingkan dengan kata ’yl dalam bahasa Ibrani, yangberarti kekuatan), walaupun ini belum dapat dipastikan. Namun,yang dapat dipastikan adalah bahwa orang-orang Arab pada zamandahulu mengenal kota ini bukan dengan nama Yerusalem, melainkanIliya (’yly’) sebelum mereka memanggilnya ’tempat suci’, Bayt al-Muqqadas, Bayt al-Maqdis ataupun hanya al-Quds.Tanpa mempermasalahkan nama asli kota Yerusalem Palestina, ko-ta ini kemudian telah dikenal sebagai kota Yerusalem Daud danSulaiman yang asli pada era Hasmonia dan bahkan mungkin jauhsebelumnya. Sama halnya dengan Palestina yang pada waktu yangsama telah dikenal sebagai tanah asal Bibel Ibrani. Dan pada saatitu pun sudah ada anggapan yang kuat bahwa lokasi-lokasi geografisdari cerita-cerita bersejarah dalam Kitab Bibel sebagian besar hanyamencakup bagian Utara dari daerah Timur Dekat, yaitu MesopotamiaSuria dan Mesir, bukan Arabia Barat.Ada kemungkinan sebuah kerajaan Yahudi di Arabia pada era orang-orang Hasmonia, yaitu kerajaan Himyar di Yaman yang mengalamikemakmuran dari tahun 115 S.M. sampai abad ke-6 M. Dua orangraja Himyar terakhir diketahui sebagai penganut-penganut agamaYahudi, tetapi kesalahan mereka sampai kini belum dapat dijelaskansecara meyakinkan. Tidak ada bukti-bukti bahwa mereka adalahumat Yahudi, seperti apa yang dikatakan oleh tradisi kuno Arab.Sejarawan Flavius Josephus, akan kita bicarakan nanti, sadar akan
  39. 39. 33adanya orang-orang Yahudi kuno di Arabia, tetapi ia tidak memberipenjelasan mengenai hal ini. Orang-orang Hasmonia mungkin senga-ja menafsirkan kembali lokasi-lokasi geografis dalam Bibel berkenaandengan Palestina guna mengesahkan status mereka sebagai orangYahudi, jika status mereka diragukan oleh para raja Yahudi Ara-bia di Himyar. Tentu saja ini hanya merupakan sebuah dugaansaja, akan tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, hal ini sangatmungkin terjadi.Apakah adanya sebuah kerajaan Yahudi di Yaman atau tidak, bukan-lah hal yang amat penting, tetapi dari kitab Septuaginta, yaitu ter-jemahan kitab-kitab Yahudi ke dalam bahasa Yunani yang dibuatpada era kerajaan Yunani Kuno dan pada awal era kerajaan Ru-mawi, jelas terbukli bahwa pada zaman Hasmonia itu Arabia Barattidak lagi dipandang sebagai tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Ini je-las terlihat dalam bagaimana nama-nama topografis Arabia Baratseperti ksdym, nhrym, prt dan msrym, berubah masing-masing men-jadi Kaldia (Chaldaean), Mesopotamia, Efrat dan Mesir. 22 Lebihlagi, kita dapat mendapatkan bukti-bukti tambahan untuk mem-perkuat dugaan ini melalui gulungan-gulungan kertas dari Laut Mati(Dead Sea scrolls). Di sini kita menemukan suatu karya orangAram yang mendetil dari sebuah tulisan di dalam Kitab Bibel yangmenyebutkan nama-nama tempat di sebelah Utara daerah TimurDekat.Karena begitu besar kesuksesan politik kaum Yahudi di Palestina,yang berlangsung selama 200 tahun, maka dalam waktu yang singkatsaja telah terhapus semua kenangan mengenai tanah Arabia Baratsebagai tanah asal Israil. Josephus, dalam karyanya The Antiqui-ties of the Jews –yang merupakan bangsanya sendiri– tidak lamasetelah tahun 70 M., menganggap Palestina adalah tanah asal mere-ka, dan sejak waktu itu tidak ada yang menyimpang dari dugaan 22 Mengenai nhrym dan prt, lihat di atas, Catatan 3 dan 11. Mengenai ksdym,lihat Bab 13. Walaupun msrym dalam Bibel kadang-kadang menunjukkan Mesir,lebih sering kata ini menandakan sebuah kota atau wilayah di Arabia Barat, dipedalaman Asir, lihat Bab 4, 13 dan 14.
  40. 40. 34 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOini yang agaknya memang masuk akal. Berabad-abad kaum Yahu-di dan Kristen yang berziarah mengikuti jejak pengembaraan paranabi dan nenek moyang Israil mereka melintasi tanah bagian UtaraTimur Dekat, antara sungai Furat dan sungai Nil, dan mengenalilokasi-lokasi bersejarah menurut Bibel dengan kota-kota atau rerun-tuhan di Palestina. Saat ini arkeologi Bibel didasarkan pada daerahyang sama, dan para sejarawan masih melanjutkan penelitian mere-ka terhadap sejarah dunia Bibel pada zaman Bibel –yang bertentan-gan dengan sejarah kaum Yahudi, di Palestina dan bukan di ArabiaBarat.Sebagai akibat, jika seseorang meneliti kembali kepustakaan yangtelah dibuat oleh para sarjana dan ahli-ahli purbakala dalam 100tahun belakangan ini, kita sadar akan adanya suatu ironi: bebera-pa teks Bibel Ibrani tetap diperdebatkan, namun geografinya tidakdiganggu gugat lagi. Jadi kenyataannya, biarpun daerah Utarawilayah Timur Dekat telah diselidiki dengan seksama oleh serangka-ian generasi ahli-ahli purbakala, dan setelah adanya penemuan, peneli-tian dan penanggalan atas peninggalan-peninggalan dari berbagaiperadaban yang telah dilupakan, belum ada bukti yang jelas yangdiketemukan yang berhubungan langsung dengan sejarah dunia Bibel.23Lagi pula dari ribuan nama tempat yang tertera dalam Kitab BibelIbrani, hanya beberapa di antaranya yang secara linguistik dapatdiidentifikasikan. Ini sangatlah luar biasa, mengingat nama-namatempat di sana, seperti di seluruh Suria, selama sebagian besarzaman kuno adalah dalam bentuk bahasa Kanaan dan Aram danbukan dalam bentuk bahasa Arab. Bahkan dalam beberapa kasustempat-tempat di Palestina memakai nama-nama menurut Bibel,koordinat tempat-tempat tersebut menurut perhitungan jarak atau 23 Pekerjaan para ahli purbakala Keinjilan di Palestina sebenarnya menjadisasaran kecaman-kecaman keras. Menulis pada tahun 1965, Frederick V. Winnetmengatakan bahwa ’fondasi dari beberapa gedung besar yang didirikan oleh parasarjana Perjanjian Lama baru-baru ini ... berada dalam keadaan yang burukdan memerlukan reparasi yang ekstensif’. (Journal of Biblical Literature, 84(1965); halaman 1-19). Pandangan Profesor Winnet didukung oleh beberapaahli Keinjilan ternama lainnya seperti J. Maxwell Miller dan H.J. Franken.
  41. 41. 35letaknya pun tidak cocok dengan lokasi-lokasi di Palestina. Sebuahkejadian yang patut diperhatikan berkenaan dengan Beersheba diPalestina (lihat Bab 4), sebuah kota yang namanya terkemuka didalam kisah-kisah kitab Kejadian, dan karena itu asal mula kotaini mestinya paling tidak dari akhir Zaman Perunggu, tempat peng-galian arkeologis menemukan persis di tempat itu barang-barangkuno yang bertanggal paling tidak dari akhir periode kerajaan Ru-mawi.Karena seluruh sejarah Timur Dekat kuno sebagian besar diselidikiberhubungan dengan penelitian atas Bibel Ibrani, maka sejarah inisampai sekarang masih banyak mengandung ketidakpastian, sepertihalnya dengan ’Ilmu Pengetahuan Bibel’ modern. Catatan-catatankuno Mesir dan Mesopotamia, jika dibaca dengan bantuan teks-teksKitab Bibel yang kiasan-kiasan topografisnya dianggap berhubun-gan dengan Palestina, Suria, Mesir atau Mesopotamia, telah se-cara teliti disesuaikan dengan prasangka-prasangka para ahli sejarahKitab Bibel. Cara yang sama seperti itu juga diterapkan dalampenterjemahan catatan-catatan kuno (seperti catatan-catatan kunodari Ibla, di sebelah utara Suria), yang oleh para arkeolog masihditemukan di negara-negara di Timur Dekat. Bangsa-bangsa kunoTimur Dekat seperti bangsa Filistin, bangsa Kanaan, bangsa Aram,bangsa Amorite, bangsa Horite, bangsa Hittit (berbeda dengan bangsakuno dari Suria Utara dengan nama yang sama) dan bangsa-bangsalainnya, tanpa adanya bukti-bukti yang kuat telah ditentukan se-cara geografis pada daerah-daerah yang bukan merupakan wilayah-wilayah mereka. Lebih lagi, sejumlah bangsa ini, yang namanyaberasal dari teks-teks Bibel, di tentukan secara tidak benar sebagaipemakai bahasa-bahasa yang sebenarnya tidak mereka pakai, atausebaliknya. Sarjana-sarjana modern tetap bersikeras, misalnya, bah-wa bangsa Filistin dalam Bibel merupakan orang-orang laut ’non-Semit’ yang misterius, dan hal ini sangatlah aneh mengingat bahwanama-nama kepala suku dan bahwa dewa mereka, Dagon, (dgn, yangberarti ’jagung, padi’) di dalam teks-teks Bibel adalah nama-nama’Semit’ (yang jelas merupakan nama-nama Ibrani).
  42. 42. 36 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOWalaupun banyak masalah seperti di atas yang masih kurang jelasdan masih dapat diperdebatkan, namun ada dua hal yang sudah da-pat dipastikan. Pertama, belum diketemukan bukti-bukti mengenaiasal mulanya orang-orang Iberani di Mesopotamia dan dugaan men-genai adanya migrasi orang-orang ini dari Mesopotamia menuju kePalestina dengan jalan melewati Suria Utara. Kedua, sampai kinibelum ada tanda-tanda yang ditemukan mengenai adanya tawananorang-orang Israil di Mesir, walaupun pernah adanya dalam sejarah,suatu emigrasi besar-besaran orang-orang Israil dari Mesir.24 Kitajuga dapat mencatat, secara sepintas, bahwa para ahli Bibel itumasih memperdebatkan masalah keluarnya kaum Israil dari Mesirmenuju ke Palestina melewati Sinai yang belum terbukti secaramemuaskan (mengenai hal ini, lihat observasi terhadap Gunung Horeb,Bab 2).Dengan penemuan-penemuan yang telah saya dapati, ini bukan-lah suatu hal yang mengagetkan. Para ahli Bibel telah mencaribukti-bukti di tempat yang salah. Mereka menganggap geografiBibel Ibrani benar dan meragukan kebenarannya sebagai kitab se-jarah. Menurut hemat saya, cara yang lebih produktif ialah den-gan membenarkan isi sejarah Bibel Ibrani dan meragukan isi ge-ografinya, seperti yang telah saya lakukan pada halaman-halamanyang berikut. Di antara golongan-golongan orang Timur Dekat,nampaknya hanya kaum Israil saja yang mempunyai kesadaran ta-jam akan sejarah, atau setidak-tidaknya merupakan satu-satunyayang memahami dan menceritakan sejarah mereka secara lengkap 24 Goshen (gsn), Pithon (ptm), dan Raamses (r’mss) yang disebut dalam kitabKejadian dan kitab Keluaran sehubungan dengan menetapnya masyarakat Israildi tanah msrym belum pernah ditempatkan secara memuaskan di Mesir (lihatcatatan dalam J. Simons, The Geographical annd Topographical Texts of the OldTestament... (Leiden, 1959; seterusnya disebut Simons), yang melakukan beber-apa pengenalan percobaan). Ada dua kemungkinan untuk Goshen (Ghatan,gtn, dan Qashanin, qsnn, jamak dari qsn), sebuah Pithom (Al Futaymah, ptym,tanpa vokal ptm) dan sebuah Raamses (Masas, mss) masih dapat dijumpai dipedalaman Asir, di wilayah msrym Arabia Barat. R’ yang pertama dalam r’mss(Raamses) mungkin adalah nama seorang dewa. Dalam bentuk Ra’ atau Ra’i,r’ itu tampil sebagai bagian pertama dari sejumlah nama tempat Arabia Barat.
  43. 43. 37dan mudah dimengerti. Kitab-kitab suci mereka, pada hakekatnyamerupakan potret diri bersejarah yang digambarkan secara jelas danmendetil. Memang benar bahwa kisah-kisah dalam kitab Kejadianlebih bersifat proto-historikal daripada historikal, dan lebih meru-pakan catatan-catatan tentang orang Israil dan anggapan merekasebagai bangsa itu daripada tentang asal mula mereka. Tapi tidak-lah mustahil bahwa leluhur Ibrani orang-orang Israil itu pada suatuwaktu berasal dari sebuah suku yang terperangkap dan dipaksa kerjadi suatu tempat yang bernama msrym –yang mungkin bukan Mesir;kalau mereka mengadakan migrasi besar-besaran dari tempat itu, dibawah seorang pemimpin yang bernama Musa yang mengatur mere-ka dalam suatu kelompok keagamaan dan memberi mereka hukum-hukum yang harus diperhatikan oleh mereka; kalau mereka melintasisebuah tempat yang bernama h-yrdn –yang mungkin bukan sungaiYordan– di bawah pimpinan seseorang yang bernama Yosua, un-tuk menetap di suatu tempat dan di situ mereka akhirnya mencapaisuatu penguasaan politik atas daerah itu; kalau mereka tinggal disana untuk beberapa waktu sebagai suatu konfederasi yang longgardari suku-suku di bawah pimpinan kepala-kepala suku yang dise-but ’Hakim-hakim’, dan terus menerus berperang dengan suku-sukudan kelompok-kelompok lain yang tinggal di antara mereka, kalaumereka pada akhirnya tersusun secara politis menjadi sebuah ’ker-ajaan’ di bawah pimpinan Saul; kalau kerajaan ini dikembangkandan diberi suatu penyusunan dasar oleh Daud, yang selain seorangprajurit yang ulung juga merupakan seorang penyair, dan mencapaipuncak kejayaannya di bawah Sulaiman anak Daud, seseorang yangterkenal akan kearifan dan kepandaiannya. Memang semestinya jikatidak ada orang yang meragukan bahwa seluruh sejarah Israil, sete-lah wafatnya Sulaiman, berjalan seperti yang tertulis dalam KitabBibel Ibrani. Tetapi jika kita menganggap bahwa segenap kejadiandalam sejarah ini berlangsung di Palestina, dan mempelajari Bibelmenurut anggapan ini, maka akan timbul kebingungan dan sejum-lah pertanyaan yang tak mampu terjawab akan tak terhitung lagibanyaknya. Kalau saja kita menggeser geografi dalam Bibel dariPalestina ke Arabia Barat, maka tidak banyak kesukaran yang akan
  44. 44. 38 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNOtersisa. Kalau kita menimbang kembali catatan-catatan kuno Mesir,Babilonia dan Suria menurut konteks geografi ini, maka semuanyaakan cocok pada tempat mereka. Panorama sejarah dalam BibelIbrani yang sendirinya menceritakan kisah lengkap sebuah bangsaTimur Dekat, menjadi petunjuk terhadap penyelesaian teka-teki ru-mit sejarah Timur Dekat kuno,25 dan bukan panorama sejarah itusendiri yang merupakan sebuah teka teki yang rumit.Seluruh argumentasi dalam bab pengenalan ini berpusat pada dalilyang menyatakan bahwa tanah asal Israil dan tanah kelahiran Yu-daisme adalah Arabia Barat, bukan Palestina. Dalam buku ini con-toh teks-teks dari Kitab Bibel akan diuraikan dengan cara menye-lidiki nama-nama tempat secara toponimis guna membuktikan kebe-naran dalil ini –suatu fakta yang semoga sewaktu-waktu akan dap-at diperkuat oleh penemuan-penemuan arkeologis pada lokasi-lokasitersebut. Secara ideal, seluruh teks Bibel Ibrani seharusnya diu-raikan dengan cara yang sama seperti di atas, akan tetapi ini memer-lukan jangka waktu yang sangat lama sekali. Andaikata para pem-baca bingung dengan apa yang dikatakan oleh buku ini, perlu dije-laskan bahwa walaupun Bibel Ibrani menceritakan sejarah orang-orang Israil kuno di Arabia Barat, bukan berarti agama Yahuditidak mempunyai dasarnya di Palestina, karena sebenarnya dasarnyaadalah di sana. Kitab Bibel Ibrani yang ditulis di Arabia Barat lebihbanyak berkenaan dengan urusan-urusan kaum Israil di daerah itu,dan bukan dengan kaum Yahudi di tempat-tempat lain.Seperti yang telah dikatakan tadi, ada petunjuk-petunjuk dari KitabBibel mengenai tumbuhnya sebuah pemukiman Yahudi yang kuatdi Palestina yang dimulai pada sekitar abad ke-10 S.M. Ada pu- 25 Lain dari Bibel Ibrani, yang mengisahkan cerita lengkap kaum Israil kunodari asal mulanya yang legendaris sampai pada abad ke-5 S.M., catatan-catatan bersejarah lainnya dari pelbagai negara di Timur Dekat hanya menceri-takan potongan-potongan sejarah –daftar-daftar para raja, kisah-kisah ekspedisimiliter tertentu, perjanjian-perjanjian perdamaian dan hal-hal yang seperti itu–dan tak pernah mengisahkan cerita-cerita lengkap mengenai suatu bangsa, ne-gara atau kerajaan tertentu.
  45. 45. 39la bukti-bukti yang berupa dokumentasi-dokumentasi yang didapatdari luar Bibel Ibrani yang membuktikan adanya orang-orang Yahu-di di negara-negara Timur Dekat –seperti daerah Utara Mesir26 –sejak zaman kuno. Teks-teks kanonik Bibel Ibrani, yang merekamembicarakan cukup mendetil tentang orang-orang Yahudi di luarArabia Barat, hanya melakukannya sehubungan dengan penawananorang-orang Israil oleh kerajaan Babilonia. Rekonstruksi sejarahYahudi yang mula-mula di Palestina tidak mungkin didapat melaluiteks-teks ini, ataupun melalui catatan-catatan lain yang ada sampaisekarang. 26 Lihat terjemahan papirus-papirus Aram dari abad ke-5 S.M. yang berkenaandengan masyarakat Yahudi Elephantine (nampaknya sebuah koloni militer darizaman Achaemenid) dalam Pritchard, hal. 491-493, 548-549. Sejumlah papirustersebut menyinggung masalah orang-orang Yahudi yang berbahasa Aram yangmenetap di sana pada zaman purbakala. Yang menarik adalah bahwasanyapapirus-papirus ini berbicara mengenai orang-orang Yahudi, bukan orang-orangIsrail.
  46. 46. 40 BAB 2. DUNIA YAHUDI KUNO
  47. 47. Bab 3Masalah MetodeDalam mempelajari sesuatu kita harus belajar melupakan; didalambidang penyelidikan Kitab Bibel ini sangat mutlak. Karena bahasayang dipakai dalam Bibel Ibrani telah lama tidak dipergunakan la-gi, beberapa waktu setelah abad ke-6 atau ke-5 S.M., maka tidakmungkin kita mengetahui pengucapan serta pemberian tanda vokalaslinya seperti yang dipergunakan orang-orang dahulu itu. Kita puntidak mengetahui apa-apa tentang orthografi, tatabahasa, sintaksisserta langgam suaranya. Perbendaharaan kata di Kitab Bibel Ibraniyang kita ketahui sangat terbatas pada kata-kata yang tertera dalamteks-teks Kitab Bibel itu.Memang benar, bahasa Ibrani para rabbi (pendeta Yahudi) telahmemperlengkapi kita dengan perbendaharaan kata dari Bibel Ibraniyang sebagian didasarkan pada perbendaharaan kata kuno KitabBibel dan sebagian lagi dipinjam dari bahasa Aram dan bahasa-bahasa lain. Akan tetapi kita harus mengingat bahwa bahasa Ibranipara rabbi Yahudi itu bukanlah suatu bahasa lisan; bahasa ini meru-pakan suatu bahasa kesarjanaan saja. Lagi pula, banyak kata didalam Kitab Bibel yang hanya timbul sekali atau dua kali saja se- 41
  48. 48. 42 BAB 3. MASALAH METODEhingga arti kata-kata itu masih dapat diperdebatkan.1 Oleh sebabitu, untuk membaca dan mengerti Bibel Ibrani kita harus melakukan-nya menurut tradisi para pendeta Yahudi atau dengan cara mem-pelajari bahasa-bahasa Semit lainnya yang masih dipakai. Sayatelah memakai cara yang kedua, mendasarkan penafsiran saya padabahasa Arab, dan dalam beberapa hal pada bahasa Suryani, yangmerupakan bentuk modern bahasa Aram kuno. Pendeknya, sayatelah memperlakukan bahasa Ibrani sebagai bahasa yang sebenarnyasudah tak dikenal lagi dan yang perlu diungkapkan kembali, bukanlagi sebagai bahasa yang teka-teki dasarnya telah dipecahkan.Berkat kejujuran kesarjanaan kaum Masoret atau tradisional Yahu-di, teks-teks dalam bentuk konsonan Bibel Ibrani itu telah ditu-runkan kepada kita dari zaman kuno dalam keadaan yang hampirdalam keadaan utuh. Sayang, sarjana-sarjana modern jarang yangmenghargai hal ini. Seringkali, bila mereka gagal dalam memaha-mi sebuah kutipan dari Kitab Bibel, karena prasangka-prasangkaterhadap konteks geografisnya, mereka dengan salah menganggapbahwa teks-teks itu telah diubah, seperti halnya seorang pekerjayang tidak terampil menyalahkan alat-alatnya. Memang benar, be-berapa kitab dalam Bibel Ibrani itu merupakan kumpulan sumbernaskah yang lebih tua dan yang telah disusun kembali. Ini tidak di-ragukan lagi. Tetapi mungkin saja berbagai kitab teks Bibel kanon-ik yang ada pada kita, telah dalam bentuknya yang sekarang ini se- 1 Slg dalam Bibel contohnya, yang timbul tidak kurang dari 18 kali dalampelbagai teks Bibel, biasanya dianggap berarti ’salju’, kecuali dalam Ayub 9:30,kata ini tidak jarang diterjemahkan sebagai bahan pembersih atau obat pe-mutih, mungkin sejenis tanaman (soapwort). Yang terakhir ini kemungkinanadalah konotasi dari slg dalam sebutan-sebutan Bibel yang lain, terutama dalamMazmur 51:9. Dalam konteks ini, ’Bersihkanlah aku dengan Hyssop, dan akuakan menjadi lebih putih dari salju (tkbsny w-m-slg ’lbyn)’ mungkin seharus-nya secara lebih tepat diterjemahkan menjadi: ’Engkau akan membersihkan akudengan hyssop, dan aku akan menjadi bersih; engkau akan memandikan aku,dan dari tanaman ’soapwort’ aku akan menjadi putih’. Dua buah pembersih–pembersih hyssop dan akar-akar pencuci dari tanaman ’soapwort’– jelas adalahapa yang dibicarakan baris ini. Mengenai tanaman ’soapwort’ Arab, lihat dibawah.
  49. 49. 43belum runtuhnya kerajaan Israil, yaitu paling lambat pada abad ke-5atau ke-6 S.M. Dugaan ini timbul dengan adanya kenyataan bahwaBibel Ibrani telah diterjemahkan secara keseluruhan ke dalam ba-hasa Aram (kitab-kitab Targum) pada zaman Achaemenid, dan kedalam bahasa Yunani (kitab Septuaginta) pada awal periode Helle-nis. Gulungan kertas Laut Mati, yang telah begitu banyak menarikperhatian dalam dasawarsa belakangan ini, jauh lebih muda diband-ingkan dengan kedua terjemahan itu. Oleh sebab itu gulungan ker-tas Laut Mati mungkin dapat berguna dalam studi mengenai aga-ma Yahudi Palestina pada zaman Rumawi; akan tetapi tidak akandapat banyak menolong dalam pemecahan teka-teki Kitab BibelIbrani.Kita kini mengetahui bahwa Bibel Ibrani yang mula-mula ditulisdalam bentuk konsonan. Kemudian diberi vokal, dengan memper-gunakan tanda-tanda vokal khusus, oleh kaum Masoret Palestinadan Babilonia antara abad ke-6 dan ke-9 atau ke-10 tahun Masehi.Dengan kata lain, mereka yang melakukan ini sebenarnya menyusunkembali sebuah bahasa yang telah tidak dipergunakan lagi sela-ma seribu tahun atau lebih. Kaum Masoret ini apakah merekaberbahasa Aram atau tidak, melakukan tugas mereka dengan selu-ruh pengetahuan yang mereka miliki. Karena mereka menghor-mati Bibel sebagai kitab suci, maka dapat dipastikan bahwa merekaberhati-hati agar tidak mengubahnya, dan membiarkan teks kon-sonannya seperti apa adanya, sekalipun mereka menemukan sebuahkutipan yang menurut mereka tidak masuk akal. Mereka hanya men-catat bilamana ada atau sepertinya ada kejanggalan-kejanggalandalam ejaan atau tata bahasa, dan tampaknya tidak ada usaha-usaha yang disengaja untuk membetulkan kejanggalan-kejanggalanitu. Ironisnya, jika para ahli Bibel modern berhati-hati seperti hal-nya para leluhur Masoret mereka, maka Ilmu Pengetahuan Bibelmodern tidak akan membingungkan seperti sekarang ini, dan prosesmempelajari yang sebenarnya bidang ini tidak perlu begitu banyakmelupakan apa yang telah diketahui.Teks-teks suci, pada umumnya, dipelihara dalam bentuk aslinya
  50. 50. 44 BAB 3. MASALAH METODEoleh mereka yang taat dan setia dalam agama apa pun, sehinggahampir tidak berubah. Diturunkan melalui tradisi, seperti halnyateks-teks suci, nama-nama tempat juga jarang berubah, paling tidakdalam struktur dasarnya, beberapa pun lamanya proses penurunanini berlangsung. Jarang sekali nama-nama itu diubah, akan tetapijika ini terjadi, nama-nama tua itu tetap dikenang oleh masyarakat,dan lebih sering dipergunakan kembali pada suatu saat.Bertahannya nama-nama tempat inilah yang memungkinkan sayauntuk melakukan suatu analisa toponimis, dan terkadang memberilebih banyak informasi mengenai geografi Bibel Ibrani daripada yangdapat kita peroleh melalui arkeologi. Dalam hal-hal tertentu, studimengenai nama-nama tempat dan arkeologi mempunyai tujuan yangsama kecuali dalam satu perbedaan yang penting. Kalau penemuan-penemuan arkeologis itu bisu, jika terdapat inskripsi-inskripsi apapun adanya, maka nama-nama tempat dapat berbicara dengan jelas.Maksud saya, bukan hanya memberitahu kita apa sebenarnya nama-nama tempat itu, bagaimana diucapkan, apa arti dan dari bahasaatau jenis bahasa mana asalnya. Tanpa adanya inskripsi, penemuan-penemuan arkeologi sangatlah sulit untuk ditafsirkan, begitu sulit-nya sampai-sampai pertengkaran di antara para arkeolog, mengenaiarti sejarah suatu penemuan tertentu, seringkali memburuk menja-di permusuhan pribadi. Walaupun nama-nama tempat tidak mem-berikan informasi sebanyak yang dihasilkan oleh penggalian-penggalianarkeologis, namun apa yang diberikan paling tidak merupakan suatukepastian yang relatif atau mutlak.Saya akan mengemukakan sebuah contoh. Kalau seseorang mene-mukan sekelompok nama-nama tempat di Arabia Barat yang be-rasal dari sebuah bahasa yang bentuk konsonannya sama denganbahasa Yahudi yang dipakai dalam Bibel atau bahasa Aram yangdipakai dalam Bibel, maka orang itu dapat menyimpulkan bahwabahasa-bahasa yang sama atau serupa dengan bahasa Aram atauYahudi Bibel pernah dipergunakan di Arabia Barat, meskipun ba-hasa Arablah yang merupakan bahasa sehari-hari di sana selama2000 tahun. Kalau dapat lebih jauh lagi dibuktikan bahwa nama-
  51. 51. 45nama tempat menurut Bibel, apa pun asal linguistiknya, terdapatpula di Arabia Barat yang sampai kini masih ada, sedangkan hanyasedikit yang tertinggal di Palestina, maka dapat dimaklumi jika kitabertanya: apakah Bibel Ibrani lebih merupakan catatan mengenaiperkembangan sejarah di Arabia Barat daripada di Palestina?Dalam suatu usaha untuk menjawab pertanyaan itu, strategi yangsaya pergunakan pada halaman-halaman berikutnya adalah denganmembandingkan sekelompok nama-nama tempat Semit kuno, yangdalam Kitab Bibel ditulis dalam ejaan Ibrani, dengan nama-namatempat yang benar-benar ada di Asir dan selatan Hijaz, yang olehkamus-kamus geografi Arab Saudi modern ditulis dalam ejaan Arab.Kira-kira sudah 3000 tahun waktu yang memisahkan bentuk Bibelitu dari nama-nama tempat ini dengan persamaannya yang kinimasih ada. Ini merupakan jangka waktu yang sangat lama, lebihdari satu pergeseran bahasa yang mestinya terjadi di daerah-daerahdi Timur Dekat, apalagi dengan adanya peralihan dialek-dialek padasetiap tahap. Maka dari itu, bagi saya yang mengherankan adalahbukan kenyataan bahwa nama-nama tempat menurut Bibel telahmengalami perubahan; tetapi bahwasanya nama-nama itu tetap adadalam bentuk Arab yang mudah dikenali.Adalah wajar jika nama-nama tempat menurut Bibel di ArabiaBarat telah mengalami perubahan pada fonologi dan morfologinya,setelah hampir 3000 tahun. Pada awal buku ini, sebuah catatan yangberjudul ’Perubahan bentuk Konsonan, menunjukkan bagaimanakonsonan-konsonan tertentu dalam bahasa Ibrani dapat menjadikonsonan-konsonan lain dalam bahasa Arab dan sebaliknya. Catatanyang sama memperlihatkan pula seringnya terjadi metatesis (pin-dahnya huruf-huruf konsonan dalam suatu kata) antara bahasa-bahasaSemit dan bahkan antara dialek-dialek dalam bahasa yang sama.Sebagai tambahan dari perubahan yang disebabkan oleh peralihan-peralihan bahasa dan dialek-dialek ini, kita perlu memperhatikanpula distorsi yang disebabkan oleh ditulisnya nama-nama tempattersebut dalam bahasa Ibrani Bibel dan dalam bahasa Arab mod-ern.
  52. 52. 46 BAB 3. MASALAH METODEBahasa tulisan (dengan cara menggunakan huruf-huruf abjad ataudengan cara lain) hanya dapat mengira-ngira saja fonetik dari se-buah percakapan saja. Inilah sebabnya mengapa para ahli bahasaberpaling pada penggunaan begitu banyak simbol-simbol yang bukanabjad dalam pekerjaan mereka, karena mereka tahu benar bahwasimbol-simbol yang ruwet ini pun tidak dapat mewakili dengan aku-rat bunyi-bunyi yang sebenarnya.Bagaimana nama-nama tempat, yang ada dalam bab ini dan ditem-pat lain sebenarnya diucapkan pada zaman Bibel, tidak dapat dike-tahui. Untuk mengetahui persis bagaimana diucapkan sekarang akanmemerlukan penelitian lapangan yang sangat luas. Akan tetapidalam memperbandingkan bentuk-bentuk tertulis nama-nama ini,baik dalam bahasa Ibrani Bibel maupun dalam bahasa Arab mod-ern, kita harus mengingat tabiat abjad Semit itu. Pada mulanyaabjad ini mengenal tidak lebih dari 22 konsonan (termasuk glottalstop yang menurut bahasa-bahasa Semit merupakan sebuah konso-nan, dan dua buah semi-vokal, yaitu w dan y), walaupun bahasalisan Semit yang sebenarnya sejak dahulu memakai lebih dari ini.Dalam bahasa Ibrani yang dipakai para rabbi Yahudi, sebuah konso-nan tambahan ditambahkan pada abjad aslinya dengan cara mem-beri titik pada huruf sin, yang dapat disuarakan sebagai s atau s(dengan topi atas). Maka (s) mewakili huruf s, dan v menandakans (dengan topi atas). Bahasa Arab, yang meminjam tulisannya daribahasa Semit lainnya, menggunakan 22 abjad dasar mereka, pa-da awalnya. Tetapi lama kelamaan enam huruf lagi ditambahkanpada huruf-huruf yang telah ada. Maka t (ta’) diberi satu lagititik menjadi huruf t (tsa’); h (ha) diberi titik menjadi huruf h(kho’); d (dal) diberi titik menjadi huruf d (dzal); s (shod) diberititik menjadi huruf s (dlod); t (tho’) diberi titik menjadi huruf z(dho’); dan ’ayn (ain) diberi titik menjadi huruf g (ghoin) (lihat’Kunci Transliterasi bahasa Ibrani dan Arab’ pada awal buku ini).Dalam keenam contoh di atas, huruf-huruf baru yang ditambahkanini mewakili konsonan-konsonan yang secara fonologis berhubun-gan dengan konsonan-konsonan yang diwakili oleh huruf-huruf yang
  53. 53. 47lama.Maka, dalam bahasa Arab, seperti yang tertulis aslinya, tidak se-mua konsonan yang terdengar dalam percakapan mempunyai huruftersendiri dalam abjad untuk mewakili mereka. Saya yakin bah-wa begitu juga halnya dengan bahasa Ibrani Bibel, yang dalam ba-hasa lisan dalam berbagai dialeknya mestinya terdapat konsonan-konsonan yang dalam tulisan diwakili oleh huruf-huruf yang mewak-ili konsonan lain. Contohnya, tidak ada alasan untuk mengang-gap pemakai bahasa Ibrani di Arabia Barat atau ditempat lain un-tuk tidak mengucapkan h maupun h yang masih saling berhubun-gan, sambil menggunakan h untuk mewakili kedua konsonan itudi dalam tulisan. Dalam pengucapan bahasa Ibrani rabbi (yangmencerminkan pengaruh bahasa Aram), b dapat diucapkan sebagaib dan v; g sebagai g dan g (dengan titik di atas); k sebagai k danh; sebagai p dan p (atau f); t sebagai t dan t. Ada kemungkinanbesar para pemakai bahasa Ibrani kuno (paling tidak dalam bebera-pa dialek) juga mengucapkan konsonan-konsonan seperti d, d dan zyang tidak mempunyai huruf-huruf yang mewakili mereka dalam ab-jad Ibrani. Bagaimana pemakai-pemakai bahasa Ibrani kuno dapatmembedakan dalam percakapan antara s (s, atau sin) dan s (j, atausamek) adalah suatu pernyataan yang bagus sekali. Kemungkinan,s mewakili sebuah gabungan bunyi s, s dan z.Mengingat semua ini, persamaan antara pengucapan nama-namatempat di Arabia Barat dalam bahasa Ibrani kuno dan bentuk Arabmodern mungkin lebih dekat daripada yang kita duga. Sebuah studilapangan secara mendalam mengenai bagaimana nama-nama Arabitu sebenarnya diucapkan sekarang ini pasti akan dapat membantumemecahkan persoalan ini. Namun yang sudah pasti ialah bahwaabjad Arab, dengan enam buah huruf tambahannya, telah diper-lengkapi untuk menghasilkan perkiraan yang lebih dekat kepada ben-tuk asli konsonan nama-nama itu daripada abjad Ibrani.Sudah tentu, suatu persesuaian yang dapat diperlihatkan antaranama-nama tempat Bibel dengan nama-nama tempat di Arabia sendiri

×