Bab ii kelarutan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
3,438
On Slideshare
3,438
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
112
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Larutan Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua ataulebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarutatau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat laindalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarutdalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan prosespencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atausolvasi. Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalamcairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat puladilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selainitu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain.Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu(Martin, 1990).B. Tipe Larutan Tipe larutan yang paling umum kita temui adalah larutan yang terdiri atassolut yang terlarut dalam zat cair. Larutan yang berbentuk cair dapat dibuatdengan melarutkan zat padat dalam zat cair (contohnya NaCl dalam air),melarutkan zat cair dalam zat cair (contohnya etilen-glikol dalam air, larutan antibeku), atau melarutkan gas dalam zat cair (contohnya CO2 dalam air,efferfescens). Selain larutan cair adapula larutan gas seperti atmosfer yang mengelilingidunia dan larutan padat. Larutan padat antara lain “alloy” (campuran dari logam-logam) sebagai contohnya yaitu larutan padat substitusional dan larutan padatinterstisial. Larutan padat substitusional terjadi apabila atom-atom, molekul-molekul, atau ion-ion dari suatu zat padat mengambil tempat di antara partikel-partikel zat padat lain di dalam kisi kristalnya. Larutan padat interstisial 3
  • 2. merupakan tipe lain dan terbentuk karena atom-atom zat padat satu menempativoid-void atau “intertices” yang ada di antara atom-atom kisi zat padat lainnya(Moechtar, 1989).C. Konsentrasi Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut danpelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandinganjumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalamperbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuankonsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm).Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai encer(berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).D. Jenis-Jenis Larutan Larutan dapat diklasifikasikan misalnya berdasarkan fase zat terlarut danpelarutnya. Tabel berikut menunjukkan contoh-contoh larutan berdasarkan fasekomponen-komponennya. Zat terlarutContoh larutan Gas Cairan Padatan 4
  • 3. Bau suatu zat padat Udara (oksigen yang timbul dari Uap air di udara Gas dan gas-gas lain larutnya molekul (kelembapan) dalam nitrogen) padatan tersebut di udara Sukrosa (gula) Etanol dalam air, dalam air, natriumPelarut Air terkarbonasi campuran berbagai klorida (garam Cairan (karbon dioksida hidrokarbon (minyak dapur) dalam air, dalam air) bumi) amalgam emas dalam raksa Hidrogen larut Air dalam arang aktif, Aloi logam seperti Padatan dalam logam, uap air dalam kayu baja dan duralumin misalnya platina Berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, larutan dapat dibedakansebagai larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Larutan elektrolitmengandung zat elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik, sementaralarutan non-elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.E. Pelarutan Ion natrium tersolvasi oleh molekul-molekul air. Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Pada prosespelarutan, tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengantarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarutsama-sama polar, akan terbentuk suatu struktur zat pelarut mengelilingi zatterlarut. Hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetapstabil. Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut,pada suatu titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi.Misalnya, jika zat terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, padasuatu titik padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. 5
  • 4. Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannyadisebut sebagai larutan jenuh. Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangatdipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan, dankontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapatterlarut dalam pelarut tertentu) sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlakupada zat padat, walaupun ada perkecualian. Kelarutan zat cair dalam zat cairlainnya secara umum kurang peka terhadap suhu daripada kelarutan padatan ataugas dalam zat cair. Kelarutan gas dalam air umumnya berbanding terbalikterhadap suhu.F. Larutan Ideal Bila interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besardengan interaksi antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaanmurni, terbentuklah suatu idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan idealmematuhi hukum Raoult, yaitu bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepatlurus dengan fraksi mol pelarut dalam larutan. Larutan yang benar-benar idealtidak terdapat di alam, namun beberapa larutan memenuhi hukum Raoult sampaibatas-batas tertentu. Contoh larutan yang dapat dianggap ideal adalah campuranbenzena dan toluena. Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahantepat volume komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal,penjumlahan volume zat terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama denganvolume larutan (Martin, 1990).G. Tekanan Uap Larutan Suatu larutan terjadi, maka sifat-sifat fisiknya tidak lagi sama dengan sifatfisik solven atau solutnya, tapi tergantung pada konsentrasi komponen-komponenyang membentuk campuran tersebut. Satu sifatnya yaitu tekanan uap dari larutan. Untuk suatu larutan di mana solut, yang tidak mudah menguap dan tidakterdisosiasi, terlarut dalam solven (berarti solut sendiri mempunyaikecenderungan sedikit sekali untuk berdisosiasi atau lepas dari larutan dan 6
  • 5. memasuki fase gas), maka tekanan uapnya hanya ditimbulkan oleh solven larutan.Tekanan uap tersebut diberikan oleh hukum Raoult, yang menyatakan bahwatekanan uap dari larutan pada temperatur tertentu sama dengan fraksi molar darisolven dalam fase cair dikalikan dengan tekanan uap dari solven murni padatemperatur yang sama atau Plarutan = Xsolven P°solven Suatu larutan yang mengandung 95 mol % air dan 5 mol % solut yang tidakmenguap seperti gula, akan mempunyai suatu tekanan uap hanya 95% daritekanan uap murni air. Kalau dinyatakan secara kualitatif, maka tekanan uap darilarutan diturunkan oleh penambahan solut yang tidak mudah menguap. Besarnya tekanan uap keseimbangan ditentukan oleh kecepatan penguapandari permukaan zat cair. Jika kecepatannya tinggi, molekul dalam konsentrasibesar harus ada dalam uap pada keadaan setimbang sedemikian rupa hinggakecepatan kembalinya ke dalam zat cair juga tinggi. Sebaliknya jika kecepatanpenguapan rendah, maka konsentrasi molekul juga rendah dalam fase uap. Karenakecepatan penguapan dari larutan lebih rendah daripada solven murni. Olehkarena itu, tekanan uap kesetimbangannya lebih rendah untuk larutan daripadasolven murni. Karena hanya solven yang dapat menguap, maka fraksi molekul padapermukaan larutan yang dapat meninggalkan zat cair tergantung pada fraksi darisemua molekul pada permukaan, yaitu molekul-molekul solven, yang merupakanratio dari jumlah mol dari partikel-partikel yang ada di permukaan. Ratio inimerupakan fraksi molar dari solven. Jika larutan terdiri dari 95 mol % solven,maka kecepatan penguapan dari larutan hanya dilakukan oleh 95% dari solvensendiri. Karena itu tekanan uap kesetimbangan berkurang menjadi 95% daritekanan uap untuk solven murni. Hasil ini sama dengan jika kita peroleh denganmenggunakan hukum Raoult (Moechtar,1989).H. Sifat Koligatif Larutan Sifat larutan tergantung pada jumlah partikel solutnya tetapi tidaktergantung pada sifat kimiawi solutnya yang dinamakan solut koligatif. Sifat-sifat 7
  • 6. koligatif saling berhubungan antara satu sama lain. Termasuk di dalamnyapenurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekananosmotik. Tekanan osmotik adalah suatu sifat koligatif yang diasosiasikan dengankompaktibilitas fisiologik dari larutan-larutan hidung (tetes hidung), mata (tetesmata) dan parenteral. Karena tekanan osmotik tidak mudah diukur, makamengukurnya sering sifat-sifat koligatif lainnya yang ditentukan selamapembuatan sediaan obat. Dari sifat-sifat tersebut secara tidak langsung tekananosmotiknya dapat diperhitungkan.I. Proses Larut Suatu kelarutan zat itu pasti berbeda-beda dalam bermacam-macam solven.Misalnya saja minyak dan air pasti tidak dapat bercampur, dan apabila untukmenghilangkan bercak-bercak minyak dari pakaian harus digunakan solvenseperti naptha. NaCl pun akan larut dalam air tapi tidak dalam minyak tanah.Semua hal ini terjadi karena apabila suatu zat larut dalam zat lain, maka partikel-partikel dari solut yang berupa molekul atau ion tersebar/terbagi-bagi dalamsolven dan partikel-pertikel solut tersebut di dalam larutan menempati posisi-posisi yang dalam keadaan normal ditempati oleh molekul-molekul solven. Dalamsuatu zat cair molekul-molekulnya tersusun sangat dekat dengan molekulsebelahnya. Kemungkinan suatu partikel solut dapat mengganti tempat suatumolekul solven tergantung pada gaya tarik-menarik relatif dari molekul-molekulsolven satu sama lain dan kekuatan interaksi dari solut solven. Sebagai contoh, didalam suatu larutan yang terbentuk benzena (C6H6) dan karbontetraklorida(CaCl4), kedua zat tersebut bersifat non polar dan hanya mengalami gaya Londonyang relatif lemah. Apabila ini terjadi, kekuatan gaya tarik-menarik antaramolekul-molekul benzena dan antara molekul-molekul karbontetrakloridabesarnya hampir sama dengan gaya tarik-menarik antara molekul benzena danmolekul karbontetraklorida. Dengan alasan ini, molekul benzena dapat menggantitempat molekul CCl4 dalam larutan dengan mudah. Sebagai akibatnya kedua zattersebut campur sempurna atau larut dalam semua perbandingan (Moechtar,1989). 8
  • 7. Apabila dua zat yang bersifat polar seperti etanol dan air dicampurkan,maka gaya tarik-menarik solut-solut sebanding dengan gaya tarik-menarik solven-solven dan di mana molekul-molekul solut dan molekul-molekul solvenberinteraksi dengan kuat satu sama lain. Dengan hal ini dapat dilihat bahwapartikel-partikel solut dapat cepat menduduki partikel-partikel solven sehingga airdan etanol dapat bercampur. Apabila suatu zat padat larut dalam zat cair, beberapa faktor harusdiperhatikan. Di dalam zat padat molekul-molekul atau ion-ion tersusun dalampola yang sangat teratur dan gaya tarik-menariknya maksimum. Agar partikel-partikel solut dapat masuk ke dalam larutan, gaya tarik-menarik solut-solvenharus cukup besar untuk dapat mengatasi gaya tarik-menarik yang menahanpartikel-partikel zat padat tetap di tempat. Di dalam kristal-kristal molekular gayatarik-menarik ini relatif lemah, berupa tipe dipol-pol atau tipe gaya London yangagak mudak diatasi. Zat-zat yang kristalnya didukung oleh gaya London, akanmelarut cukup besar dalam solven yang polar dengan alasan yang sama dengankeadaan bahwa zat cair yang non polar tidak larut dalam solven yang polar.Molekul-molekul solven yang polar saling tarik-menarik sedemikian kuatsehingga tidak dapat diganti tempatnya oleh molekul-molekul yang hanyamempunyai gaya tarik-menarik yang lemah. Sebagai contoh, iodin padat yangtersusun dari molekul-molekul I2 yang non polar, larut cukup besar dalam CCl4(memberi warna larutan violet yang bagus), tapi hanya sedikit larut dalam air (dimana ia menghasilkan larutan kuning coklat pucat). Di sini dapat dikatakan bahwa solut yang sangat polar dan zat padat ioniktidak larut dalam solven yang non polar. Interaksi solut-solven yang lemah,dibanding dengan gaya tarik-menarik antara partikel-partikel solut, tidak cukupkuat untuk memecah kisi.J. Panas Pelarutan Proses larut hampir selalu terjadi baik dengan mengadsorbsi energi ataudengan melepaskan energi. Sebagai contoh, jika kalium iodida dilarutkan dalamair maka campurannya akan menjadi dingin yang menunjukkan bahwa proses 9
  • 8. larutnya kalium iodida bersifat endotermik. Sebaliknya, jika litium kloridadilarutkan dalam air maka campurannya akan menjadi panas yang menunjukkanbahwa proses larutnya bersifat eksotermik. Jumlah energi yang diabsorbsi ataudilepaskan apabila suat zat memasuki larutan dinamakan panas pelarutan dandinyatakan dengan symbol ∆Hpelarutan. Seperti halnya definisi dari panas penguapandan panas peleburan, panas pelarutan menyatakan suatu selisih antara energi yangdimiliki oleh larutan sesudah dia terbentuk dengan energi dari komponen-komponen larutan tersebut sebelum mereka dicampurkan, dinyatakan denganpersamaan : ∆Hpelarutan = Hlarutan – Hkomponen Baik Hpelarutan maupun Hkomponen tidak dapat diukur, tapi selisihnya, yaitu Hpelarutan dapat diukur. Apabila energi dilepaskan selama proses larut, maka larutanyang dihasilkan akan mempunyai energi lebih kecil daripada komponen-komponen pembuatnya. Selisihnya yang dinyatakan sebagai ∆Hpelarutan merupakanbilangan negatif. Sebaliknya, proses larut endotermik (mengadsorbsi energi) akanmempunyai Hpelarutan positif (Moechtar,1989).K. Kelarutan Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zatterlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatifdidefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentukdispersi molekuler homogen. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarutdan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan danuntuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut U.SPharmacopeia dan National Formulary, kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut dimana akan larut dalam 1 gram zat terlarut. Kelarutan dinyatakan dalam jumlahmaksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut denganperbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam 10
  • 9. air. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murniataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat.Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut,seperti perak klorida dalam air. Istilah “tak larut” (insoluble) sering diterapkanpada senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikitkasus yang benar-benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi,titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutanyang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang menstabil (Martin,1990).L. Prinsip Umum• Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut).• Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu.• Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.M. Interaksi Pelarut-Zat Terlarut Ahli farmasi mengetahui bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam,gula dan senyawa sejenis, sedang minyak mineral dan benzena biasanya hanyasedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini disimpulkan dalam pernyataan : likedissolves like. PELARUT POLAR. Kelarutan obat sebagian besar disebabkan olehpolaritas dari pelarut, yaitu oleh dipol momennya. Pelarut polar melarutkan zatterlarut ionik dan zat polar lain. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkoholdalam segala perbandingan dan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi yanglain. Hilderband telah membuktikan bahwa pertimbangan tentang dipol momensaja tidak cukup untuk menerangkan kelarutan zat polar dalam air. Kemampuan 11
  • 10. zat terlarut membentuk ikatan hidrogen lebih merupakan faktor yang jauh lebihberpengaruh dibandingkan dengan polaritas yang direfleksikan dalam dipolmomen yang tinggi. Air melarutkan fenol, alkohol, aldehid, keton, amina dan senyawa lain yangmengandung oksigen dan nitrogen, yang dapat membentuk ikatan hidrogen dalamair. Kelarutan zat bergantung pada gambaran stuktur seperti perbandingan guguspolar terhadap gugus nonpolar dari molekul. Apabila panjang rantai nonpolar darialkohol alifatik bertambah, kelarutan senyawa tersebut dalam air akan berkurang.Rantai lurus alkohol monohidroksi, aldehida, keton dan asam yang mengandunglebih dari 4 atau 5 karbon, tidak dapat memasuki struktur ikatan hidrogen dari airdan oleh karena itu propilena glikol, gliserin, dan asam tartrat, kelarutan dalamair naik banyak. Percabangan pada rantai mengurangi efek nonpolar danmenyebabkan kenaikan kelarutan dalam air. Pelarut polar seperti air bertindaksebagai pelarut menurut mekanisme di bawah ini :•Disebabkan karena tingginya tetapan dielektrik yaitu sekitar 80 untuk air, pelarutpolar mengurangi gaya tarik-menarik antara ion dalam kristal yang bermuatanberlawanan seperti natrium klorida. Kloroform mempunyai tetapan dielektrik 5dan benzena sekitar 1 atau 2, oleh karena itu senyawa ionis praktis tidak larutdalam pelarut ini.•Pelarut polar memecahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi asambasa karena pelarut ini amfiprotik. Sebagai contoh, air menyebabkan ionisasi HCLsebagai berikut : HCL + H2O H3O + Cl- Asam organik lemah kelihatannya tidak akan terionisasi oleh air, di sini dikenal dengan istilah kelarutan parsial, sebagai pengganti pembentukan ion hidrogen dengan air. Tetapi fenol dan asam karboksilat mudah larut dalam larutan basa kuat. O R C OH + H2O dapat diabaikan 12
  • 11. O O R C OH + NaOH R C O-Na•Akhirnya pelarut polar mampu mengsolvasi molekul dan ion dengan adanyagaya interaksi dipol, terutama pembentukan ion hidrogen, yang menyebabkankelarutan dari senyawa tersebut. Zat terlarut harus bersifat polar karena seringkaliharus bersaing untuk mendapatkan tempat dalam struktur pelarut apabila ikatandalam molekul pelarut tersebut telah berasosiasi. PELARUT NONPOLAR. Aksi pelarut dari cairan nonpolar, sepertihidrokarbon, berbeda dengan zat polar. Pelarut nonpolar tidak dapat mengurangigaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapandielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatankovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non polar termasukdalam golongan pelarut aprotik, dan tidak dapat memnbentuk jembatan hidrogendengan nonelektrolit. Pelarut aprotik adalah seperti hidrokarbon, tidak menerimajuga tidak memberi proton dan dalam keadaan ini menjadi netral, sehinggaberguna untuk mempelajari reaksi asam basa yang bebas dari pengaruh pelarut.Oleh karena itu zat terlarut ionik dan polar tidak larut atau hanya dapat larutsedikit dalam pelarut non polar. Tetapi senyawa nonpolar dapat melarutkan zat terlarut nonpolar dengantekanan dalam yang sama melalui interaksi dipol induksi. Molekul zat terlaruttetap berada dalam larutan dengan adanya sejenis gaya Van Deer Waals - Londonyang lemah. Maka, minyak dan lemak larut dalam karbon tetraklorida, benzenadan minyak mineral. Alkaloida basa dan asam lemak larut dalam pelarut nonpolar. PELARUT SEMIPOLAR. Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapatmenginduksi suatu derajat polaritas tertentu dalam molekul pelarut nonpolar,sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol, contohnya benzena yang mudahdapat dipolarisasikan. Kenyataannya, senyawa semipolar dapat bertindak sebagaipelarut perantara yang dapat menyebabkan bercampurnya cairan polar dannonpolar. Sesuai dengan itu, aseton menaikkan kelarutan eter dalam air. 13
  • 12. Peribahasa sederhana like dissolves like sekarang dapat disusun kembalidengan menyatakan bahwa kelarutan suatu zat pada umumnya dapat diperkirakanhanya dalam cara kualitatif, setelah mempertimbangkan hal-hal seperti polaritas,tetapan dielektrik, asosiasi, solvasi, tekanan dalam, reaksi asam-basa, dan faktor-faktor lainnya. Singkatnya, kelarutan bergantung pada pengaruh kimia, listrik,stuktur yang menyebabkan interaksi timbal balik antara zat terlarut dan pelarut(Martin,1990).N. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan•Sifat dari solut dan solven Solut yang polar akan larut dalam solven yang polar pula. Misalnya garam- garam anorganik larut dalam air. Solut yang nonpolar larut dalam solven yang nonpolar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam kloroform.•Kosolvensi Kosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air dan gliserin atau solutio petit.•Kelarutan Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah :  Dapat larut dalam air : Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam nitrat larut kecuali nitrat basa. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.  Tidak larut dalam air : Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2, semua garam fosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.•Temperatur 14
  • 13. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut, zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm, karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. Beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan, misalnya : Zat-zat yang atsiri, contohnya : etanol dan minyak atsiri. Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas. Saturatio Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : aqua calsis.•Salting Out Salting Out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila ke dalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.•Salting In Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solven menjadi lebih besar. Contohnya : riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamida.•Pembentukan Kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.•Kecepatan Kelarutan Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel : makin halus solut, makin kecil ukuran partikel; makin luas permukaan solut yang kontak dengan solven, solut makin cepat larut.  Suhu : umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelarutan solut.  Pengadukan (Martin, 1990). 15
  • 14. O. Kelarutan Cairan dalam Cairan Sering kali satu atau lebih cairan dicampurkan bersama-sama dalampembuatan larutan farmasetik. Sebagai contoh, alkohol ditambahkan dalam airmembentuk larutan hidroalkohol dengan berbagai konsentrasi; minyak menguapdicampur dengan air membentuk larutan encer yang dikenal dengan air beraroma;minyak menguap ditambahkan ke dalam alkohol untuk mendapatkan spirit daneliksir; eter dan alkohol digabungkan dalam “collodion”; dan berbagai minyaktetap (fixed oil) dicampur menjadi lotion, spray dan minyak obat.P. Kelarutan Zat Padat dalam Cairan Sistem padatan dalam cairan termasuk salah satu yang paling sering ditemuidan mungkin merupakan tipe larutan farmasetik yang paling penting. Kelarutanpadatan dalam cairan tidak dapat diramalkan dengan cara yang sangatmemuaskan, kecuali mungkin untuk larutan ideal, karena faktor-faktor rumit yangharus dipertimbangkan. Larutan farmasetik terdiri dari berbagai variasi zat terlarutdan pelarut (Martin,1990).Q. Kelarutan dan Temperatur Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang dibutuhkanuntuk menghasilkan suatu larutan jenuh dalam sejumlah tertentu solven. Padasuatu temperatur tertentu suatu larutan jenuh yang bercampur dengan solut yangtidak terlarut merupakan contoh lain dari keadaan kesetimbangan dinamik.Partikel-partikel dari solut secara tetap bergerak melalui larutan dan pada waktuyang bersamaan partikel-partikel solut yang telah berada dalam larutan secarakontinu bertabrakan dengan dan melekat pada solut yang tak terlarut. Meskipunhal ini ditunjukkan kesetimbangan tersebut unttuk zat padat yang larut dalam zatcair, konsep yang sama dapat diterapkan pada setiap tipe larutan, kecuali gaskarena semua gas dapat bercampur sempurna. Karena suatu larutan jenuh yang berhubungan dengan kelebihan solutmembentuk kesetimbangan dinamik, maka apabila sistem tersebut diganggu, efek 16
  • 15. gangguan tersebut dapat diramalkan berdasarkan kaidah Le Chatelier. Perubahantemperatur merupakan salah satu gangguan. Kita tahu bahwa kenaikan temperaturdapat menyebabkan posisi kesetimbangan bergeser ke arah yang akanmengadsorbsi panas. Karena, kalau solut tambahan yang ingin melarut dalamlarutan jenuh harus mengadsorbsi energi, maka kelarutan zat tersebut akanbertambah jika temperatur dinaikkan. Sebaliknya, jika solut tambahan yangdimasukkan ke dalam larutan jenuh menimbulkan proses eksotermik, maka solutakan menjadi kurang larut jika temperatur dinaikkan. Pada umumnya, kelarutan kebanyakan zat padat dan zat cair dalam solvencair bertambah dengan naiknya temperatur. Untuk gas dalam zat cair, kelakuanyang sebaliknya terjadi. Proses larut untuk gas dalam zat cair hampir selalubersifat eksotermik, sebab partikel-partikel solut telah terpisah satu sama lain danefek panas yang dominan akan timbul akibat solvasi yang terjadi apabila gas larut.Kaidah Le Chatelier meramalkan bahwa kenaikan temperatur akanmengakibatkan perubahan endotermik, yang untuk gas terjadi apabila iameninggalkan larutan. Oleh karena itu, gas-gas menjadi kurang larut jikatemperatur zat cair di mana gas dilarutkan menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh,mendidihkan air. Gelembung-gelembung kecil tampak pada permukaan pancisebelum pendidihan terjadi. Gelembung-gelembung tersebut mengandung udarayang diusir dari larutan jika air menjadi panas. Kita juga menggunakan kelakuankelarutan gas yang umum ini apabila kita menyimpan botol yang berisi minumanyang menahan CO2 yang terlarut lebih lama apabila tetap dijaga tetap dingin,sebab CO2 lebih larut pada temperatur-temperatur rendah. lain contoh dariphenomenon ini adalah gas-gas yang terlarut dalam air mengalir dalam telaga-telaga dan dalam sungai-sungai. Kadar oksigen yang terlarut, yang merupakankeharusan bagi kehidupan marine, berkurang dalam bulan-bulan di musim panas,dibanding dengan kadar oksigen selama musim dingin (Moechtar,1989).R. Pengaruh Tekanan Pada Kelarutan Pada umumnya, tekanan mempunyai efek sangat kecil terhadap kelarutanzat cair atau zat padat dalam solven zat cair. Tapi, kelarutan gas selalu bertambah 17
  • 16. dengan bertambahnya tekanan. Minuman yang diberi CO2 (effefescens) misalnya,ia dimasukkan ke dalam botol di bawah tekanan untuk meyakinkan adanya CO2dalam konsentrasi yang tinggi. Sekali botol dibuka, minuman tersebut dengancepat akan kehilangan gas-gas CO2nya, kecuali kalau ditutup kembali. Bayangkan apabila suatu zat cair dijenuhi dengan solut dan larutan yangberhubungan dengan gas pada beberapa tekanan tertentu. Di sini didapatkankesetimbangan di mana molekul-molekul solut meninggalkan larutan danmemasuki fase uap dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan molekul gasyang memasuki larutan. Kecepatan molekul memasuki larutan tergantung darijumlah tabrakan per detik yang dialami gas dengan permukaan zat cair dandemikian pula kecepatan molekul solut yang meninggalkan larutan tergantungdari konsentrasinya. Apabila kita tambah tekanan gasnya, molekul-molekulnyaakan lebih didekatkan satu sama lain dalam jumlah tabrakan per detik antaramolekul-molekul gas dengan permukaan zat cair lebih besar. Jika hal ini terjadi,kecepatan molekul solut (gas) memasuki larutan juga menjadi lebih besar, tidaksebanding dengan kecepatannya meninggalkan air. sebagai hasilnya konsentrasidari molekul solut dalam larutan naik sampai kecepatannya memasuki larutan. Hubungan kelarutan gas dengan tekanan juga dapat diterangkan denganmenggunakan kaidah Le Chatelier. Kita dapat menyatakan kesetimbangannyadengan persamaan sebagai berikut : Solut (g) + solven (c) ↔ larutan (c) Menurut kaidah Le Chatelier, suatu kenaikan tekanan pada sistem tersebutpada keadaan kesetimbangannya menyebabkan posisi kesetimbangannyamenggeser ke arah yang menyebabkan penurunan tekanan. Jika reaksiberlangsung kanan maka lebih banyak solut gas yang larut, jumlah solut dalamfase gas akan berkurang. Suatu pengurangan jumlah mol gas yang menyebabkanpenurunan tekanan. Jadi suatu penambahan tekanan dari luar akan menyebabkankenaikan kelarutan gas, dan proses inilah yang menyebabkan tekanan turun kearah harga semula. Secara kuantitatif, pengaruh tekanan pada kelarutan gas diberikan olehhukum Henry, yang menyatakan bahwa konsentrasi solut (gas) dalam larutan Cg, 18
  • 17. adalah berbanding lurus dengan tekanan parsiil dari gas yang berada di ataslarutan, yaitu : Cg = KgPg Dimana Kg adalah tetapan hukum Henry. Hubungan ini memungkinkan kitamenghitung kelarutan gas pada tekanan tertentu, asal kita tahu kelarutannyabeberapa pada tekanan lain (Moechtar,1989). 19