5. entomologi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

5. entomologi

on

  • 19,785 views

 

Statistics

Views

Total Views
19,785
Slideshare-icon Views on SlideShare
19,785
Embed Views
0

Actions

Likes
5
Downloads
575
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    5. entomologi 5. entomologi Presentation Transcript

    • ENTOMOLOGI Oleh : By : erfan.syah@ymail.com
      • Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda.
      • Siklus Hidup :
      • Penting dipelajari dalam rangka intervensi pencegahan
      • Mengalami metamorfosis :
        • Metamorfosis sempurna : telur – larva – pupa – dewasa.
        • Metamorfosis tdk sempurna : telur – (larva) – nimfa – dewasa.
      ENTOMOLOGI
    • PERAN ARTHROPODA
      • Vektor dan hospes sementara (menularkan penyakit)
        • Vektor penyakit protozoa : Malaria, Tripanosomiasis, Leismaniasis.
        • Vektor penyakit cacing : Filariasis (Filariasis limfatik & Non limfatik).
        • Vektor penyakit virus, riketsia & bakteri.
        • Vektor mekanik : Musca domestika, Periplaneta.
      • Parasit :
        • Menyebabkan penyakit : skabies, dermodiosis, pedikulosis, ftiriasis, miasis.
      • Menghasilkan toksin :
        • Menimbulkan kelaianan pd tubuh manusia.
        • Kontak : kupu-kupu, tungau debu.
        • Sengatan : lebah, kalajengking.
        • Gigitan : kelabang, laba-laba, tarantula, sengkenit.
    • CARA PENULARAN
      • Penularan secara mekanik
      • Penularan secara biologik
      • Penularan transovarian
    • Arthropoda sebagai Vektor
      • Penularan secara biologik :
        • Propagatif : parasit hanya membelah diri ( Versinia pestis dalam pinjal Xenopsylla cheopis).
        • Sikliko propagatif : parasit berubah bentuk dan membelah diri ( Plasmodium dalam nyamuk Anopheles).
        • Sikliko developmental : parasit hanya berubah bentuk ( Wuchereria bancrofti dalam nyamuk Culex quinquefasiatus).
      • Penularan Mekanik (lalat & kecoa)
      • Penularan secara transovarian (lalat)
    • Arthropoda sebagai Parasit
      • Endoparasit : arthropoda hidup dalam jaringan tubuh host (larva lalat  miasis)
      • Ekstoparasit : arthropoda hidup pada permukaan tubuh host (serangga-serangga penyebab kelainan pada permukaan tubuh host)
      • Parasit permanen : tungau kudis, tuma.
      • Parasit periodik : nyamuk, sengkenit lunak (dari host satu ke host lain).
    • Arthropoda pengandung Toksin
      • Kontak langsung : Ulat
      • Gigitan : Kelabang
      • Sengatan : Kalajengking
      • Tusukan : Triatoma
    • MORFOLOGI NYAMUK
      • VEKTOR MALARIA
      • Anophelini
      • Stadium telur
      • diletakkan satu persatu terpisah diatas permukaan air
      • berbentuk seperti perahu, bagian bawah konveks dan bagian atas konkaf dengan sepasang pelampung
      • Stadium Larva
      • mengapung sejajar permukaan air
        • bagian badan yang khas : spirakel, tergal plate,
        • bulu palma
      • Stadium Pupa
      • tabung pernapasan yang lebar dan pendek
      • Stadium Dewasa
      • Palpus sama panjang dengan probosis
      • Palpus jantan : ujung berbentuk gada
      • Sisik sayap membentuk gambaran hitam putih ; ujung sisik tumpul
      • Posterior abdomen melancip
    • VEKTOR FILARIASIS
      • Anophelini
      • Non Anophelini Culcini : Aedes, Culex,
          • Mansonia, Coquilettidia, Armigeres
      • Stadium Telur (Non Anophelini)
      • - Diletakkan satu persatu di tepi pemukaan air (Aedes)
      • - Diletakkan berkelompok membentuk rakit:
          • Diatas permukaan air (Culex)
          • Dibalik permukaan daun tanaman air (Mansonia)
        • - Bentuk lonjong dengan ujung lancip dengan dinding
        • seperti anyaman kain kasa (Aedes)
        • Bentuk seperti peluru senapan
        • Bentuk seperti duri/sasaran bowling (mansonia)
      • Stadium Larva (Non Anophelini)
      • - Menggantung pada permukaan air
      • - Bagian badan yang khas :
          • Sifon dengan bulu-bulu sifon dan pekten
          • Sisir dengan dengan gigi-gigi sisir
          • Segmen anal dengan pelana
      • Stadium Pupa (Culicini) :
      • - Tabung pernapasan yang sempit dan panjang
      • Stadium dewasa ( Culicini)
      • - Betina : Palpus lebih pendek daripada probosis
      • - Jantan : Palpus lebih panjang daripada probosis
      • - Sisik sayap lebar asimetris (Mansonia)
      • - Sisik sayap sempit dan panjang (Aedes, Culex)
      • - Pada Aedes, sisik sayap membentuk kelompok sisik yang sewarna sehingga tampak bintik-bintik putih-kuning/putih-coklat/putih-hitam
      • - Ujung abdomen Aedes lancip
      • - Ujung abdomen Mansonia tumpul dan terpancung
    • VEKTOR PENYAKIT PROTOZOA
      • VEKTOR MALARIA
      • Nyamuk Anopheles : dari 2000 spesies Anopheles, terdapat 60 spesies yang merupakan vektor malaria
      • DAUR HIDUP
      • Mengalami metamorfosis sempurna selama 2-5 mg bergantung pada spesies, makanan yang tersedia, suhu udara
      • TEMPAT PERINDUKAN
      • Bergantung pada spesies, terdiri atas
      • tiga kawasan :
      • Pantai : An.sundaicus, An.subpictus
      • Pedalaman : An. aconitus, An. Barbirostris
      • Kaki gunung & gunung : An. Balabacencis,
      • An maculatus
    • PERILAKU
      • Aktivitas dipengaruhi oleh kelembaban udara dan suhu
      • Umumnya aktif mengisap darah pada malam hari atau sejak senja sampai dini hari ( = night-biters)
      • Jarak terbang 0,5 – 3 km, dipengaruhi oleh transportasibdan kecepatan angin
      • Kesukaan bervariasi : zoofilik, antropofilik, dst
      • Tempat istirahat bervariasi : eksofilik, endofilik
      • Aktivitas menggigit bervariasi : eksofilik, endofagik
    • EPIDEMIOLOGI
      • Penentuan vektor malaria didasarkan atas penemuan sporozoid malaria di kelenjar liur nyamuk yang hidup di alam bebas ( dengan membedah nyamuk betina)
      • Faktor yang perlu diketahui dalam menentukan vektor di suatu daerah endemi malaria :
        • Kebiasaan nyamuk mengisap darah manusia
        • Lama hidup nyamuk betina dewasa yang lebih dari 10 hari
        • Nyamuk Anopheles dengan kepadatan yang tinggi & dominan
        • Hasil infeksi percobaan di Lab yang menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan Plasmodium menjadi stadium sporozoid
      • Prevalens kasus malaria tidak sama di antara daerah endemi malaria, bergantung pada perilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor, misalnya :
        • Di daerah Cilacap (vektor malaria: An.sundacus ) kasus malaria di temukan lebih banyak pada musim kemarau, karena pembentukan tempat perindukan di muara sungai untuk nyamuk tsb meningkat
        • Di daerah jawa barat (vektor malaria: An. Aconitus ) kasus malaria lebih banyak pada musim hujan, karena di sawah banyak terbentuk perindukan untuk nyamuk tsb.
    • Pemberantasan Malaria :
      • Pengobatan Penderita
      • Pencegahan kontak antara nyamuk & manusia
      • Penyuluhan sanitasi
    • 2. VEKTOR PENYAKIT CACING (FILARIASIS)
      • 2.1. VEKTOR FILARIASIS LIMFATIK (NYAMUK)
      • Nyamuk Anophelini ( Tribus Anopheles ) dan Non Anophelini (TribusCulicini, terdiri atas genus Culex, Aedes,Mansonia,Coquilettidia; dan Tribus Taxorhytini, terdiri atas genus Taxorhynchites)
      • Di Indonesia ditemukan 3 jenis parasit nematoda penyebab filariasis limfatik pada manusia, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori
      • Parasit-parasit tersebut disebarkan di seluruh kepulauan Indonesia oleh berbagai spesies nyamuk Aedes, Anopheles, Culex, Mansonia, Coquilettida dan Armigeres
      • Vektor utama filariasis bancrofti di perkotaan adalah Culex quinquefasciatus , sedangkan di pedesaan adalah berbagai spesies Anopheles, Aedes kochi, Cx. Bitaeniorrhynchuss, Cx. Annulirostris dan Armigeres obsturbans
      • Vektor utama filariasis malayi adalah berbagai spesies Anopheles, Mansonia dan Coquilettidia
      • Vektor utama filariasis timori adalah Anopheles barbirotris
    • DAUR HIDUP
      • Metamorfosis sempurna selama 1–2 minggu
      • Tempat perindukan :
        • Nyamuk Anophelini : kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan gunung
        • Nyamuk Non anophelini : Tempat ber air jernih ataupun keruh (polluted): Permukaan air dapat ditumbuhi bermacam-macam tanaman air
    • PERILAKU
      • Nyamuk Non Anophelini mempunyai kebiasaan mengisap darah hospes yang berbeda-beda, yaitu :
        • Culex : malam hari saja
        • Mansonia : Siang dan malam hari
        • Aedes : Siang hari saja
      • Jarak terbang bervariasi :
        • Culicini : biasanya pendek (rata-rata beberapa puluh meter)
        • Aedes vexans +/- 30 km
      • Umur Nyamuk dewasa (di alam/di Lab):+/- 2 mg
    • EPIDEMIOLOGI
      • Faktor-faktor yang menentukan penyebarluasan filariasis dan timbulnya daerah-daeah endemi filariasis, yaitu :
        • Derajat infeksi alami hasil pembedahan nyamuk alam/liar yang tinggi
        • Sifat antropofilik dan zoofilik yang meningkatkan jumlah sumber infeksi
        • Umur nyamuk yang panjang sehingga mampu mengembangkan pertumbuhan larva mencapai stadium infektif untuk disebarkan/ditularkan
        • Dominasi terhadap spesies nyamuk lainnya yang ditunjukkan dengan kepadatan yang tinggi di daerah endemi
        • Mudahnya menggunakan tempat-tempat penampung air sebagai tempat perindukan yang sesuai
    • EPIDEMIOLOGI (Lanjutan)
      • Pemberantasan :
        • Pengobatan semua penderita filariasis
        • Upaya pengendalian vektor dengan cara yang mudah dan biaya rendah
        • Perlindungan/pencegahan terhadap gigitan vektor
        • Meningkatkan pengetahuan penduduk mengenai filariasis dan penularannya
        • partisipasi dalam pemberantasan
    • 2.2. VEKTOR FILARIASIS NON LIMFATIK ( LALAT )
      • Lalat dari genus simulium ( Black fly ) dan Chrysops ( Horse Flyl Deer fly )
      • Yang mengisap darah biasanya hanya lalat betina, aktif pada pagi dan sore hari
      • Simulium damnosum adalah vektor Onchocerca volvulus di Afrika : Simulium metalicum, S.ochraceum dan S. callidium adalah vektor Onchocerca volvulus di Amerika
      • Chrysops silacea dan C. dimidiata adalah vektor
      • Loa-loa di Afrika
    • HOSPES PERANTARA
      • Adalah jasad tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang dapat ditularkan kepada hospesnya (misalnya manusia)
        • Cyclops dan Diaptomus
        • Adalah hospes perantara cacing Diphyllobathrium latum
        • Potamon dan Combarus
        • Adalah hospes perantara cacing paragonimus westermani
    • 3. VEKTOR PENYAKIT VIRUS, RIKETSIA, DAN BAKTERI
      • 3.1. VEKTOR PENYAKIT VIRUS
      • 3.1.1. Penyakit Demam Berdarah Dengue
      • (DHF= Dengue Hemorrhagic Fever)
          • Merupakan penyakit virus yang sangat berbahaya
          • Sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
          • Vektor utama adalah nyamuk kebun ( Aedes aegypti ), vektor potensial adalah Aedes albapictus
    • DAUR HIDUP
      • Metamorfosis sempurna selama 9 hari
      • Tempat perindukan : tempat-tempat berisi air bersih yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (tidak lebih dari 500 m), meliputi tempat perindukan buatan manusia dan tempat perindukan alamiah
    • PERILAKU
      • Nyamuk dewasa betina mengisap darah manusia pada siang hari (dari pagi hingga petang) dengan waktu puncak setelah matahari terbit(8.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00-17.00)
      • Pengisapan darah dilakukan didalam dan diluar rumah
      • Tempat istirahat :
        • Semak-semak/tanaman rendah dan rerumputan di halaman rumah atau kebun
        • Benda-benda yang tergantung didalam rumah
      • Umur Nyamuk betina dewasa dialam: 10 hari ,di Lab: 2 bln
      • Jarak terbang +/- 40 m ; mampu terbang 2 km
    • EPIDEMIOLOGI
      • Ae aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia
      • Ae aegypti ditemukan di kota-kota pelabuhan padat penduduk, juga di temukan di pedesaan sekitar kota pelabuhan
      • Penyebarab Ae. Aegypti dari pelabuhan ke desa dikarenakan larva yang terbawa melalui transportasi yang mengangkut benda-benda berisi air hujan
    • EPIDEMIOLOGI (Lanjutan)
      • Pengendalian
        • Perlindungan perorangan dari gigitan nyamuk (kawat kasa, kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida, penggunaan repellent saat berkebun)
        • Pembuangan atau mengubur benda-benda yang dapat menampung air hujan
        • Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air seminggu sekali
        • Abatisasi
        • Fogging dengan malathion minimal dua kali dengan jarak 10 hari di daerah yang terkena wabah
        • Pendidikan Kesehatan Masyarakat
        • Memonitor kepadatan populasi Ae aegypti penting dalam upaya mengevaluasi adanya ancaman DHF dan untuk meningkatkan tindakan pengendalian vektor
        • Pengukuran kepadatan populasi nyamuk yang belum dewasa : memeriksa tempat-tempat perindukan di dalam dan di luar rumah (sebanyak 100 rumah di daerah pemeriksaan)
    • EPIDEMIOLOGI (Lanjutan)
      • Angka indeks yang perlu diketahui :
        • Angka rumah ( house index ): persentase rumah yang positif larva Ae. Aegypti
        • Angka tempat perindukan ( container Index ): persentase tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti
        • Angka Breteau ( Breteau Index ): jumlah tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti dalam tiap 100 rumah
    • 3.1.2 PENYAKIT JAPANESE B. ENCEPHALITIS
      • Di temukan di Asia Tenggara (Filipina, Kamboja, Muangthai, Malaysia, Singapura)
      • Di Indonesia penyakit tersebut belum banyak di pelajari, tetapi kemungkinan besar penyakit tsb juga ada di Indonesia karena :
        • Banyak kasus meninggal dengan gejala klinis yang sama dengan Jap. B. encephalitis
        • Kepadatan nyamuk vektor cukup tinggi dan telah dapat di isolasi virus Jap.B.encephalitis dari tubuh nyamuk yang di tangkap di sekitar Jakarta
      • Gejala Klinis : demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, malaise, mental disorientation. Kematian terjadi 2-4 hari setelah terinfeksi virus
      • Vektor : Culex tritaeniorhynchus & Cx. Gelidus
      • Tempat peristirahatan : dekat kandang ternak (kerbau, sapi, babi)
      • Mengisap darah manusia dan darah binatang (kerbau, sapi,babi,burung, bebek) pada malam hari di dalam atau luar rumah
    • 3.1.3. PENYAKIT CHIKUNGUYA
      • Belum banyak dipelajari di indonesia, namun kemungkinan besar ditemukan penyakit tsb di Indonesia, karena virus Chikunguya telah dapat diisolasi dari nyamuk liar Ae. Aegypti di Jakarta
      • Gejala klinis mirip Jap. B. encephalitis
      • Vektor : Ae aegypti
    • 3.1.4. PENYAKIT DEMAM KUNING
      • Vektor : Ae aegypti
      • Belum pernah dilaporkan di Indonesia walaupun vektornya tersebar di seluruh Indonesia
      • Di Amerika Selatan dan Afrika Selatan penyakit tsb dilaporkan ada sejak puluhan tahun
      • Gejala Klinis : pusing, sakit punggung, demam, muntah. Kematian terjadi 5-8 hari setelah terinfeksi
    • 3.2. VEKTOR PENYAKIT RIKETSIA
      • 3.2.1. Penyakit Demam Semak
      • Demam semak = Scrub typhus, tsutsugamushi disease, Delikoorts
      • Di temukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irja
      • Penyebab penyakit : Rikettsia tsutsugamushi
      • Gejala klinis : kepala pusing, apati, malaise, limfodenitis, adanya escar.
      • Angka kematian berkisar 1 - 60%
      • Vektor : Leptotrombidium akamusi, L. deliensis, L. fletsheri
    • DAUR HIDUP
      • Metamorfosis tak sempurna (telur-larva-nimfa-dewasa)
      • selama 1 – 2 bulan
      • Stadium larva mengisap darah manusia dan binatang mamalia
      • Penularan transovarian : sejak larva Leptotrombidium
      • mendapatkan infeksi Rickettsia sampai menjadi larva generasi berikutnya masih tetap infektif
    • EPIDEMIOLOGI
      • R. tsutsugamushi biasanya hidup sebagai parasit tikus ladang
      • Pencegahan Penularan :
        • Menghindari kontak dengan tungau saat bekerja di ladang/hutan di daerah endemi, yaitu membedaki kaos kaki dan sepatu yang dipakai dengan serbuk DDT 10%
        • Menelan kloramfenikol 500 mg sehari selama 10 hari selama bertugas di ladang/hutan
    • 3.3. VEKTOR PENYAKIT BAKTERI
      • 3.3.1. Vektor Penyakit Sampar
      • Pernah di temukan secara endemi di Jawa Tengah Tahun 1968 terjadi epidemi di Boyolali dengan banyak kematian
      • Di sebabkan oleh bakteri Yersinia pestis
      • Vektor : Pinjal Xenopsylla cheopis, Stivalius cognatus, Neopsylla sondaica
      • Manusia terinfeksi melalui gigitan pinjal atau tinja pinjal yang mengandung Y. pestis
      • Gejala Klinis : peradangan dan pembesaran kelenjar limfe terbentuk benjolan/bubo (disebut pes bubo/bubonic plague) Y. pestis masuk ke dalam peredaran darah (disebut pes septikimia/septichemic plague) masuk kedalam paru (disebut pes paru/pulmonic plague). Penderita dapat meninggal dalam 2-3 hari setelah terinfeksi
      • Cara penularan : Propagatif
    • DAUR HIDUP
      • Pinjal hidup sebagai parasit tikus ladang dan bersarang di antara bulu tikus
      • Mengalami metamorfosis sempurna selama 18 hari
    • EPIDEMIOLOGI
      • Penyakit pes sebenarnya adalah penyakit tikus (zoonosis)
      • Pemberantasan:
        • Menangkap tikus dengan perangkap dan membunuhnya
        • Memberantas tikus dengan insektisida DDT dan BHC (bensin heksaklorida)
      • Upaya pemberantasan tsb berbahaya, yaitu bila pinjal kehilangan hospesnya (tikus), pinjal mencari hospes baru.
      • Jalan keluar:
        • Tikus yang tertangkap dibersihkan pinjalnya kemudian dilepas dan ditangkap kembali pada penangkapan berikutnya
        • Mempertahan populasi tikus di daerah endemi pada jumlah minimal ttt dan di pantau dengan indeks pinjal
    • 4. VEKTOR MEKANIK
      • 4.1. MUSCA
      • Musca domestika (lalat rumah) berperan sebagai vektor mekanik amebiasis, disentri basilaris dan penyakit cacing usus di Indonesia
      • Mudah berkembang biak
      • Tempat perindukan : timbunan sampah sekitar rumah, tinja manusia dan binatang
      • Jarak terbang : 10 km
      • Umur lalat dewasa: 2-4 minggu
      • Mengurangi populasi lalat:
        • Membersihkan rumah dan pekarangan dari sampah
        • Memasang kawat kasa
        • Menutup makanan
        • Mengadakan samijaga
    • PENGENDALIAN VEKTOR
      • Pengendalian vektor terdiri atas :
      • Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor
      • Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia, yaitu :
        • Pengendalian lingkungan ( enviromental control ) terdiri atas :
          • Modifikasi lingkungan ( environmental modification )
          • Manipulasi lingkungan ( environmental manipulation )
    • PENGENDALIAN VEKTOR (Lanjutan)
      • Pengendalian Kimiawi : menggunakan bahan kimia pembunuh serangga (insektisida) ataupun penghalau serangga (repellent)
      • Pengendalian Mekanik
      • Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap atau menghalau, menyisir, mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh
      • Pengendalian Fisik
      • Meliputi pemanasan, pembekuan, hembusan angin,penyinaran
      • Tujuan: mengganggukehidupan serangga
      • Pengendalian Biologik
      • Menggunakan pemangsa dan parasit sebagai musuh alami serangga
      • Pengendalian Genetika
      • Bertujuan mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan, melalui pengubahan kemampuan reproduksi dengan cara memandulkan serangga jantan
      • Pengendalian Legislatif
      • Tujuan mencagah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia
    • ANTROPODA PENYEBAB ALERGI DAN REAKSI TOKSIK
      • KONTAK
      • 1.1. Kupu-kupu
        • Larva kupu-kupu (ulat bulu) mengandung toksin, bila kontak dengan manusia kelainan erusisme (urtikaria, nyeri,gatal)
        • Kontak dengan bulu pada abdomen kupukupu dewasa Lepidopterisme (dermatitis mirip giant urticaria )
        • Epidemiologi : Terdapatnya kasus di suatu daerah dipengaruhi oleh spesies kupu-kupu, keadaan daerah dan kebiasaan masyarakat sebagai petani/pekerja kebun
    • 1.2. Tungau Debu ( Dematophagoides pteronyssimus )
      • Ditemukan pada debu rumah di tempat tidur,karpet,lantai dan luar rumah seperti sarang burung dan permukaan kulit binatang
      • Penyebab asma alergi karena seluruh tubuh tungau mengandung alergen
      • Epidemiologi : Populasi tungau debu dalam rumah tergantung pada :
        • Ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut
        • Iklim
        • Binatang yang ada dalam rumah
        • Sanitasi
        • Suhu dan kelembaban udara
    • 2. SENGATAN
      • 2.1. Lebah
        • Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin
        • Akibat sengatan : ringan (nyeri,gatal) dan berat (mual,demam,sesak napas,kolaps)
      • 2.2. Kalajengking
        • Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin
        • Akibat sengatan:nyeri, dapat menimbulkan keracunan sistemik kematian karna syok dan paralisis pernapasan
    • 3. GIGITAN
      • 3.1. Kelabang
        • Menimbulkan nyeri dan eritema karena toksin yang keluar
      • 3.2. Laba-laba
        • Menyebabkan kelainan yang disebut araknidisme (arachnidisme) ; menurut sifat toksinnya terdiri atas araknidisme nekrotik dan araknidisme sistemik
      • 3.3. Sengkenit
        • Mengandung toksin yang dapat menyebabkan paralisis
        • Epidemiologi : Di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, banyak terdapat peternakan sapi dapat ditemukan kasus paralisis karena sengkenit
    • ANTROPODA PENYEBAB PENYAKIT
      • SKABIES
        • Adalah penyakit kudis, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis
        • Gejala klinis; gatal-gatal terutama pada malam hari (pruritus nokturna) didahului dengan timbulnya bintik-bintik merah (rash)
        • Tungau hidup dalam terowongan kulit (berwarna putih abu) di jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, pada bayi menyerang telapak tangan dan kaki
        • Epidemiologi : Penyakit ini dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan, bahkan bisa terjadi di seluruh kampung
    • 2. DEMODIASIS
      • Infestasi oleh tungau folikel rambut (Demodex follicularum)
      • Hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama disekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen, kadang-kadang ditemukan dikulit kepala
      • Menyebabkan kelainan:blefaritis,akne rosasea,impetigo kontangiosa disertai gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder
      • Epidemiologi: bersifat kosmopolit dan tidak berbahaya
    • 3. PEDIKULOSIS
      • Adalah gangguan yang disebabkan infestasi tuma, misalnya gangguan pada rambut kepala disebabkan oleh tuma kepala (pediculus humanus var.capitis)
      • Menimbulkan papula merah dan rasa gatal karena air liur tuma
      • Epidemiologi :
        • Infestasi mudah terjadi dengan kontak langsung
        • Pencegahan : Menjaga kebersihan kulit kepala
        • Pemberantasan : Menggunakan tangan,sisir serit, insektisida golongan klorin (benzen heksa klorida)
    • 4. FTIARIASIS
      • Ftiariasis (pedikulosis pubis) adalah gangguan pada daerah pubis disebabkan oleh infestasi tuma phtirus pubis
      • Gangguan utama adalah rasa gatal didaerah pubis
      • Epidemiologi : Penularan dapat terjadi bila ada kontak langsung, terutama pada waktu hubungan seksual
    • 5. MIASIS
      • Adalah infestasi larva lalat ke dalam jaringan atau alat tubuh manusia
      • Merupakan penyakit yang biasanya dianggap sebagai kontaminasi larva lalat ke dalam luka
      • Secara klinis miasis dibagi menjadi :
        • Miasis Kulit/subkutis : larva diletakkan pada kulit utuh atau luka dan membuat terowongan berkelok-kelok sehingga terbentuk ulkus yang luas
        • Miasis Nasofaring : Terjadi pada anak dan bayi, khususnya yang mengeluarkan sekret dari hidungnya dan yang tidur tanpa kelambu larva yang diletakkan mampu menembus kulit lunak bayi dan membuat ulkus
    • 5. MIASIS (Lanjutan)
        • Miasis Intestinal ; terjadi secara kebetulan karena menelan makanan yang terkontaminasi telur atau larva lalat, Lalat menetas di lambung dan menyebabkan mual, muntah, diare, spasme abdomen, dapat pula menimbulkan luka pada dinding usus
        • Miasis Urogenital ; Larva lalat ditemukan pada vagina dan urine. Menyebabkan piuria, uretritis, sistitis
        • Miasis Mata (oftalmomiasis) : Belum banyak di temukan di Indonesia
      • Pencegahan : menghindari kontak dengan lalat; memusnahkan tempat perindukan lalat; menutup makanan dengan baik
    • MORFOLOGI UMUM ANTROPODA
      • Antopoda mempunyai 4 tanda morfologi yang jelas :
      • Badan beruas-ruas
      • Umbai-umbai; beruas-ruas; tumbuh menurut fungsinya,
      • - Pada kepala antena dan mandibula
      • - Pada Toraks kaki dan sayap
      • - Pada abdomen kaki pengayuh
      • Eksoskelet : sebagai penguat tubuh, pelindung alat dalam, tempat melekat otot, pengatur penguapan air, penerus rangsang yang berasal dari luar badan
      • Bentuk badan simetris bilateral
    • NYAMUK
      • Morfologi
      • Berukuran kecil (4-13 mm) dan rapuh
      • Kepala memiliki probosis halus dan panjang: pada betina berfungsi sebagai alat penghisap darah, pada jantan sebagai alat penghisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan keringat
      • Di kiri kanan probosis terdapat palpus (5ruas) dan antena (15 ruas)
      • Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada betina berambut jarang (pilose)
      • Sebagian besar toraks yang tampak (mesonatum) dilputi bulu halus, berwarna putih/kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masing-masing spesies
      • Memiliki 3 pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks
    • Daur Hidup
      • Mengalami metamorfosis sempurna: telur – larva – pupa – dewasa; stadium telu-larva-pupa hidup dalam air, stadium dewasa hidup beterbangan
      • Nyamuk dewasa mengisap darah manusia dan binatang untuk pembentukan telur
      • Telur diletakkan diatas permukaan air (Anopheles,Aedes,Culex) atau dibalik permukaan daun tumbuh-tmbuhan air (Mansonia)
      • Tempat perindukan (breeding place); tempat nyamuk meletakkan telur-telurnya untuk kemudian telur-telur tsb menetas menjadi larva pupa dewasa
      • Tempat perindukan untuk masing-masing spesies berlainan
    • Perilaku
      • Umur nyamuk tidak sama; betina hidup lebih lama daripada jantan. Biasanya umur nyamuk sekitar 2 minggu, namun ada yang dapat hidup hingga 2-3 bulan ( Anopheles punctipennis )
      • Hospes yang disukai nyamuk berbeda-beda :
      • - Nyamuk hanya mengisap darah manusia = antropofilik
      • - Nyamuk hanya mengisap darah binatang = zoofilik
      • - Nyamuk lebih suka mengisap darah binatang daripada manusia= Antropopozoofilik
      • Nyamuk istirahat setelah mengisap darah :
      • - Nyamuk lebih suka beristirahat di dalam rumah = endofilik
      • - Nyamuklebih suka beristirahat diluar rumah = eksofilik
    • Perilaku (Lanjutan)
      • Aktivitas menggigit berbeda-beda :
        • Nyamuk menghisap darah pada malam hari : Night- biters
        • Nyamuk menghisap darah pada siang hari : Day-biters
        • Nyamuk menghisap darah didalam rumah : Endofagik
        • Nyamuk menghisap darah diluar rumah : Eksofagik
      • Jarak terbang nyamuk berbeda-beda menurut spesies:
        • Jarak terbang nyamuk betina lebih jauh daripada jantan
        • Aedes aegypti jarak terbangnya pendek : Anopheles dapat terbang sampai 1,6 km, Aedes vexans dapat mencapai 30 km
    • 1.2. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AFRIKA
      • Tripanosomiasis Afrika : Penyakit tidur afrika atau African sleeping sickness
      • Vektor : lalat tse tse (Glossina)
      • Terdapat 2 spesies yang berperan sbg vektor biologik tripanosomiasis ; Glossina morsitans (menularkan Tripanosoma rhodesiense si Afrika bag timur) & Glossina palpalis (menularkan trypanosoma gambiense di Afrika bagian barat)
      • Mengalami metamorfosis sempurna
      • Jantan dan betina menghisap darah terutama pada pagi hari
      • Habitat :
        • Glossina morsitans ; daerah terbuka dengan tanah yang keras
        • Glossina palpalis : daerah berpasir atau tanah disekitar sungai/danau yang banyak ditumbuhi pohon
    • 1.3. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AMERIKA
      • Tripanosomiasis Amerika (penyakit Chagas) disebabkan oleh Tripanosoma cruzi
      • Vektor : Triatoma rubrofasciata & Rhodnius prolixus
      • (vektor biologik
      • Mengalami metamorfosis tidak sempurna (telur-nimfa-dewasa)
      • Stadium telur, nimfa, dewasa berada pada satu habitat yaitu celah-celah dinding rumah yang retak
    • 1.4. VEKTOR LEISMANIASIS
      • Leismaniasis disebabkan oleh Leishmania donovani, Leishmania tropika & Leismania brasiliense
      • Vektor : Phlebotamus longipalpis (lalat pasir= sand fly )
      • Mengalami metamorfosis sempurna
      • Jantan dan betina mengisap darah
    • PENGENDALIAN VEKTOR
      • TUJUAN
      • Mengurangi/menekan populasi vektor serendah-rendahnya
      • Menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan manusia
      • TERDIRI ATAS :
      • Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor
      • Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia yaitu :
        • Pengendalian lingkungan ( environmental control )
        • Pengendalian kimiawi
        • Pengendalian Fisik
        • Pengendalian Biologik
        • Pengendalian Genetik
        • Pengendalian Legislatif
    • PENGENDALIAN SECARA ALAMI
      • Rintangan penyebaran serangga : gunung, lautan, danau, sungai yang luas
      • Daerah ketinggian : ketidakmampuan mempertahankan hidup didaerah ketinggian tertentu
      • Pengaruh cuaca dan iklim :
        • Perubahan musim gangguan pada serangga
        • Iklim panas, udara kering, tanah tandus atau iklim dingin tidak memungkinkan perkembangbiakanserangga
        • Angin besar dan curah hujan yang tinggi mengurangi jumlah populasi serangga
      • Pemangsa serangga : burung, katak, cicak
      • Penyakit serangga
    • PENGENDALIAN LINGKUNGAN
      • Mengelola lingkungan sehingga terbentuk lingkungan yang tidak
      • cocok yang dapat mencegah/membatasi perkembangan vektor
      • Modification Lingkungan
      • Tidak merusak keseimbangan alam, tidak mencemari lingkungan, harus dilakukan terus menerus
          • Pengaturan sistem irigasi
          • Penaganan sampah
          • Pengaliran air tergenang hingga kering
    • B. Manipulasi Lingkungan
      • Pembersihan/pemeliharaan sarana fisik yang telah ada
      • Agar tidak terbentuk perindukan atau peristirahatan
      • Serangga
        • Membersihkan tanaman air
        • Melestarikan tanaman bakau
        • Melancarkan aliran air got
    • PENGENDALIAN KIMIAWI
      • Menggunakan bahan kimia untuk membunuh (insektisida) atau
      • mengusir serangga (repellent).
      • Keuntungan :
      • Dapat dilakukan segera, meliputi daerah luas, hasil diperoleh
      • dalam waktu singkat
      • Kerugian:
        • Hasil bersifat sementara
        • Potensi mencemari lingkungan
        • Potensi menimbulkan resistensi serangga
        • Dapat membunuh pemangsa serangga
        • Penolakan oleh penduduk
      • Menuangkan solar/minyak tanah pada permukaan tempat perindukan
      • Penggunaan larvisida untuk larva nyamuk; herbisida untuk tanaman air tempat berlindungnya larva nyamuk, insektisida untuk nyamuk dewasa
    • PENGENDALIAN MEKANIK
      • Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap, menghalau atau mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh
      • Baju pelindung, kawat kasa, sisir serit, ovitrap
    • PENGENDALIAN FISIK
      • Pemanasan (suhu 60°C dapat membnuh serangga)
      • Pembekuan (membunuh serangga)
      • Pengadaan hembusan angin keras (mengganggu aktivitas serangga)
      • Penyinaran (membunu atau mengganggu kehidupan serangga; sinar lampu kuning dapat menghalau nyamuk)
    • PENGENDALIAN BIOLOGIK
      • Mengembangbiakkan dan memanfaatkan pemangsa dan parasit sebagai musuh secara alami serangga
      • Pengendali larva nyamuk :
        • Nematoda: Ramanomermis iyengari & Ramanomermis culiciforax menembus tubuh larva dan hidup sebagai parasit sehingga larva mati
        • Bakteri : Bacillus thuringiensis untuk Anopheles
        • Bacillus sphaerincus untuk Cx. quinquefasciatus
        • Protozoa : Pleistophora culicis dan Nosema algerae
        • Jamur : Langenidium giganticum dan Coelomyces
        • stegomydae untuk larva nyamuk
        • Tolypocladium cylindrosporum utk larva nyamuk & larva lalat
        • Virus : Cytoplasmic polyhidrosis untuk larva kupu-kupu
    • PENGENDALIAN BIOLOGIK (Lanjutan)
      • Pengendali nyamuk dewasa :
      • Antropoda Arrenurus madarazzi ( Parasit nyamuk dewasa
      • Predator/pemangsa larva nyamuk:
        • Ikan : Panchax panchax (ikan kepala timah)
        • Lebistus reticularis (Guppy/water ceto)
        • Gambusia affinitis (ikan gabus)
        • Larva nyamuk yang lebih besar : Toxorrhynchites amboinensis, Culex fuscanus
        • Larva capung
        • Crustaceae (udang-udangan) : mesocyclops
    • PENGENDALIAN GENETIKA
      • Tujuan: Mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan
      • Cara :
        • Memandulkan serangga jantan dengan bahan kimia atau radiasi
        • Mengawinkan antara strain nyamuk sehingga sitoplasma telur tidak dapat ditembus sperma
        • Mengawinkan serangga antar spesies terdekat sehingga di dapatkan keturunan jantan yang steril
      • Kekurangan : Pengendalian genetika baru dalam skala laboratorium, belum berhasil baik di lapangan
    • PENGENDALIAN LEGISLATIF
      • Tujuan : Mencegah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah ke daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia
      • Cara : Menegakkan peraturan dengan sanksi pelanggaran oleh pemerintah
      • Contoh :
        • Karantina di pelabuhan laut dan udara untuk mencegah masuknya hama tanaman dan vektor penyakit
        • Penyemprotan insektisida di kapal yang berlabuh atau pesawat yang mendarat
    • INSEKTISIDA
      • Bahan yang mengandung persenyawaan kimia untuk membunuh serangga
      • Syarat inektisida yang baik :
        • Daya bunuh besar dan cepat, namun tidak membahayakan
        • Hewan vertebrata dan manusia
        • Murah dan mudah di dapat
        • Susunan kimia stabil dan tidak mudah terbakar
        • Mdah digunakan dan dapat dicampurkan dengan berbagai pelarut
        • Tidak berwarna dan tidak berbau menyengat
      • Efektivitas insektisida bergantung pada :
        • Bentuk insektisida
        • Cara masuk kedalam badan serangga
        • Jenis kandungan bahan kimia
        • Konsentrasi dan dosis insektisida
      • Faktor yang harus diperhatikan untuk mengendalikan serangga dengan insektisida :
        • Species serangga
        • Ukuran dan susunan badan serangga
        • Stadium serangga
        • Sistem pernapasan dan bentuk mulut
        • Habitat serangga
        • Perilaku serangga termasuk kebiasaan makannya
    • VEKTOR & HOSPES PERANTARA
      • VEKTOR : Suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan. Vektor harus selalu ada dalam rantai penularan penyakit-penyakit tertentu.
      • HOSPES PERANTARA : Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia (hospes).
      • HOSPES : Species yang dihinggapi parasit, yang mungkin menderita berbagai kelainan fungsi organ sehingga menjadi sakit.
    • Terima Kasih Atas Perhatiannya...