PANDUAN MENGHADAPI MUSIM HUJAN
By. Drh. Henri Eko Prasetyo
Musim hujan telah tiba, biasanya terjadi pada akhir tahun. Menu...
Dengan adanya perbaikan peforma yang sangat signifikan mengakibatkan ayam
mudah stres karena dipacu untuk tumbuh lebih opt...
Panduan Pemeliharaan Menghadapi Musim Penghujan
Menghadapi musim penghujan dimana terjadi perubahan iklim lingkungan yang
...
4. Stres Perlakuan : Penanganan ayam terlalu kasar, program pemberian, pakan yang
sering diubah, transfer kandang pemberia...
Efek suhu dan kelembapan pada tingkat laku fisiologis ayam :
Temperatur (ºC)

Kelembapan Relatif

Respon pada Ayam

20 – 2...
Kontrol lalu lintas kandang
Untuk meminimalkan masuknya bibit penyakit dari luar, operator kandang, supervisor
kandang, va...
Seng

5 mg/I

Fluorida

0,06 mg/I

Merkuri

0,002 mg/I

Timah

0,05 mg/I

Faecal Coliform

0

Sumber : Cobb Broiler Manage...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Cara Jitu Manajemen Peternakan Ayam saat Musim Hujan

14,254

Published on

Published in: Education, Technology, Business
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
14,254
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
207
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Cara Jitu Manajemen Peternakan Ayam saat Musim Hujan

  1. 1. PANDUAN MENGHADAPI MUSIM HUJAN By. Drh. Henri Eko Prasetyo Musim hujan telah tiba, biasanya terjadi pada akhir tahun. Menurut badan meteorologi tahun ini hujan akan dimulai pada bulan Oktober hingga awal tahun depan. Curah Hujan yang tinggi akan mempengaruhi kualitas air, misalnya pada air sungai, danau, dan sumber mata air lainnya. Tingkat curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan terjadi penurunan kualitas air dari sumber-sumbernya. Terangkatnya air tanah karena derasnya aliran air mengakibatkan bakteri-bakteri yang ada di dalam tanah ikut terangkat dan terdistribusikan dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sehingga bakteri seperti Eschericia coli penyebab penyakit kolibasilosis dan penyakit ngorok ( CRD Komplex) sering terjadi pada musim penghujan. Pada musim penghujan mengakibatkan tingkat stress ayam meningkat, hal ini dikarenakan suhu yang cukup ekstrim pada kandang. Pada musim penghujan tingkat kelembapan meningkat dan terjadi perbedaan suhu pada saat siang dan malam sekitar 4ºC. Ayam merupakan golongan Aves (Burung), dimana pada golongan burung tidak memiliki organ yang berfungsi sebagai termoregulator. Sehingga tingkat kepekaan terhadap perubahan suhu akan semakin tinggi. Pada saat panas, ayam akan cenderung panting dan pada saat dingin ayam cenderung bergerombol. Dengan adanya perbedaan yang drastis ini mengakibatkan tingkat stress ayam akan meningkat. Dalam kondisi yang stress kekebalan tubuh ayam akan cenderung menurun, sehingga bibit penyakit akan mudah masuk. Selain itu pada tingkat stress ayam yang tinggi, program vaksinasi tidak berjalan dengan optimal karena kemampuan ayam untuk menghasilkan antibodi menurun. Pada muism penghujan hal yang pertama diperhatikan adalah kualitas litter / sekam, dalam kadar kelembapan dan suhu yang tinggi litter akan cenderung basah. Kondisi suhu dan kelembapan yang tinggi akan mengakibatkan ayam cenderung banyak minum, alhasil feses ayam akan cenderung lebih encer karena konsumsi air minum yang tinggi. Dengan keadaan litter yang basah, akan mengakibatkan kadar amoniak dalam kandang akan meningkat. Kondisi suhu yang tinggi mengakibatkan feses mudah pecah sehingga kadar amoniak semakin tinggi. Pada musim penghujan dengan infeksi kuman penyakit sedikit saja sudah mengakibatkan ayam terinfeksi penyakit. Paling tidak ada enam penyakit yang sering berjangkit ketika musim penghujan, yakni penyakit ngorok (CRD), aspergilosis, ND, IB, Koksidiosis dan Collibacilosis. Ayam Modern Lebih Rentan Penyakit Mudahnya ayam mengalami stres lingkungan disebabkan karena karakter ayam modern yang memang sangat peka terhadap setiap perubahan yang muncul. Dahulu pada ayam broiler untuk mencapai bobot 1,6 kg dibutuhkan waktu 11 minggu, saat ini hanya dalm waktu 4-5 minggu. Demikian juga untuk ayam petelur saat ini seekor ras ayam petelur mampu untuk menghasilkan telur 329 telur / tahun. Bahkan bobot telur bertambah dari 52-58 saat ini 58-62 gram/butir.
  2. 2. Dengan adanya perbaikan peforma yang sangat signifikan mengakibatkan ayam mudah stres karena dipacu untuk tumbuh lebih optimal dan efisien dari sebelumnya. Hal ini mengharuskan manajemen untuk menyediakan pakan, program kesehatan yang baik untuk memacu pertumbuhan ayam agar lebih optimal. Manajemen pemerliharaan ayam juga harus melakukan perbaikan, terkait dengan suhu, kelembapan, program ventilasi dan hal-hal terkait dengan periode pemeliharaan ayam. Waspadai Udara Dingin Pada peternakan yang masih memanfaatkan ventilasi tradisional berupa celah-celah pada sekitar kandang mengakibatkan ayam cenderung kedinginan dan bergerombol. Hal ini dikaitakan pada musim penghujan dimana angin cenderung lebih kencang dan udara cenderung lebih dingin, apalagi arah angin pada ventilasi tradisional tidak beraturan sehingga bila arah angin berubah-ubah makan angin yang masuk dalam kandang juga akan berubah. Hal ini akan mengakibatkan tingkat stres ayam akan meningkat. Udara dingin yang masuk dalam kandang tidak mampu untuk menyapu amoniak yang ada di permukaan lantai kandang sehingga pada keadaan ini kadar amoniak akan meningkat. Berikut beberapa perlakuan pada broiler yang menybabkan stress Umur (hari) Faktor Stress 1 Penanganan di hatchery dan transportasi ke kandang 4-5 Vaksinasi ND/IB 14-16 Vaksinasi IBD, kandang terlalu padat, ventilasi buruk 18-21 Vaksinasi ND, ventilasi kurang, kandang terlalu padat, perubahan pakan 28 Kandang terlalu padat, ventilasi kurang, kualitas litter buruk Info. Majalah poultry Secara normal dalam tubuh ayam terdapat populasi Mycoplasma sp. Dalam jumlah yang terkendali. Kondisi ini dapat dipertahankan bila tidak terjadi stres. Vaksinasi Laryngo Tracheitis (ILT) sering memicu pertambahan jumlah Mycoplasma sp sehingga mengakibatkan munculnya Chronic Respiratory Disease (CRD). Apabila diikuti infeksi sekunder, misalnya E.coli akan terjadi CRD Kompleks, hal-hal ini dipicu oleh faktor stres (lihat tabel). Sedangkan pada Aspergilosis, kasus ini dipicu oleh jamur Aspegillus niger atau Aspergillus fumigatus. Penyakit ini semakin nyata bila dipicu oleh stres. Habitat jamur ini biasanya di jerami padi, tebu dan padang ilalang. Dengan suhu dan kelembapan yang cocok jamur ini akan tumbuh dengan baik dan spora akan terbang kemana-mana karena hembusan angin. Maka penyakit pada ayam sering terjadi bila kandang berdekatan dengan area ladang tebu dan padang ilalang. Pada penyakit ND dan IBD (Gumboro) , sering terjadi hampir seluruh peternakan di Indinesia. Penyakit dapat cepat menginfeksi bila ayam dalam kondisi stres, selain itu kondisi stres dapat memudahkan infeksi bakteri seperti E.colo dan Clostridium. Pada Colobacillosis mengakibatkan : kematian embrio, omphalitis, ooforitis, kilogranuloma dan arthritis.
  3. 3. Panduan Pemeliharaan Menghadapi Musim Penghujan Menghadapi musim penghujan dimana terjadi perubahan iklim lingkungan yang drastis, peternak harus meningkatkan kewaspadaan tinggi. Untuk mengatisipasinya, peternak harus memperhatikan faktor-faktor bisekuriti, kontrol lalu lintas areal farm, pengaturan alas kandang, penyemprotan kandang dan lingkungan sekitarnya, mengurangi beberapa penyebab stres, manajemen air minum sehat, program vaksinasi yang benar, dan upaya meningkatkan sistem kekebalan ayam. Berikut cara menghadapi musim penghujan ; 1. Hindari kelmbapan tinggi untuk meminimalkan kemunculan amoniak yang berpotensi menimbulkan koksidiosis (berak darah). Wapadai pula asites, aspergillus, collibacillosis, dan CRD yang sering merebak di musim hujan. 2. Kelembapan udara yang tinggi menyebabkan litter basah, ganti litter basah dengan yang kering, bersih dan tidak berbau. Ketebalan litter 5-8 cm. 3. Tambahkan pemanas pada brooding yang suhunya belum sesuai standart. Pasang tirai dalam agar temperatur brooding lebih hangat. 4. Perbaiki atap yang bocor untuk menghindari air hujan masuk ke kandang. Perhatikan ventilasi agar pengeluaran gas-gas yang merugikan tidak terganggu. Memperketat Biosekuriti Program biosekuriti adalah usaha membebaskan adanya penyakit-penyakit tertentu, memberikan lingkungan yang layak bagi kehidupan ayam, mengamankan keadaan produk yang dihasilkan, mengamankan resiko bagi konsumen, dan resiko bagi karyawan yang terlibat dalam tata laksana usaha peternakan ayam.Melalui langkah biosekuriti maka berbagai kuman berbahaya baik virus, bakteri, fungi maupun parasit dapat ditekan hingga pada tingkat yang membahayakan. Meminimalkan Stress Berikut beberapa perlakuan pada ayam yang bisa menyebabkan Stres : 1. Stres Sosial : Kandang terlalu padat, perubahan populasi karena seleksi atau grading, pencampuran ayam pada saat dewasa kelamin (khususnya ayam bibit) 2. Stres Lingkungan : Ventilasi yang jelek, kandang berdebu, kadar amoniak yang tinggi, suhu brooder terlalu rendah, lingkungan yang tidak tenang, kelembapan yang tinggi (>60%), fluktuasi suhu yang sangat tajam (>4ºC selama 24 jam ) suhu yang terlalu ekstrim 3. Stres Biologis : Pemuasaan, kualitas pakan yang berubah-ubah, dehidrasi, tantangan kuman lingkungan yang tinggi, pertumbuhan ayam yang terlalu cepat, produksi telur yang tinggi, siklus hormonal.
  4. 4. 4. Stres Perlakuan : Penanganan ayam terlalu kasar, program pemberian, pakan yang sering diubah, transfer kandang pemberian vaksinasi, potong paruh, transportasi, program medikasi (pengobatan) Maangatur Kualitas Udara Proses mengaturan kualitas udara dilakukan untuk monitoring kualitas udara, dengan mengukur variasi harga beberapa elemen kualitas udara, seperti kadar amoniak dan karbondioksida. Kelembapan relatif ( RH, relative humidity ) paralel dengan variasi kadar amoniak dan tingkat CO2 dalam kandang, makan RH dapat digunakan sebagai tolak ukur kualitas udara. - Ventilasi Kurang → Kadar NH3 , CO2 dan RH → Tinggi - Ventilasi cukup → Kdar NH3 , CO2 → Rendah Ventilasi, sistem pendingin, dan isolator adalah cara-cara penting untuk mengatasi efek udara panas dan dingin. Sedangkan organisme patogen dapat di kontrol melalui sanitasi yang baik dan program vaksinasi yang memadai. Pada kelembapan dibawah 50%, kandang akan berdebu sehingga memperberat kinerja saluran pernafasan. Kelembapan yang baik adalah antara 45-65%. Diatas angka itu, yakni antara 70-80% kurang optimal bagi ayam. Kelembapan diatas 80% berakibat sangat buruk terhadap ayam, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit pernafasan pada ayam. Semakin tinggi kelembapan makan akan semakin tinggi pula kadar amoniak dalam kandang, sehingga mengingkatkan ancaman penyakit kuman E.coli. kadar amoniak yang aman untuk ayam adalah 10 ppm. Kadar amoniak yang tinggi menyababkan kualitas udara juga akan menurun. Program pengawasan kualitas sekam harus terus dipantau bila sudah terdapat banyak kotoran yang ada di sekam, maka harus segera dikeluarkan dari kandang dan diganti yang baru. Kondisi sekam / litter yang basah bisa juga disebabkan karena kecerobohan petugas kandang saat pemberian air minum, jika menggunakan nipple amati kondisinya jangan sampai membiarkan ada kebocoran pada instalasi air minum karena akan berakibat fatal terhadap kualitas sekam. Sekam yang basah juga bisa disebabkan karena kebocoran kandang dan ayam dalam kondisi sakit atau mencret ( wet dropping ). Beberapa level amoniak yang harus diperhatikan : Level amoniak yang disarankan Terdeteksi manusia Terjadi kerusakan pada saluran pernafasan Pertambahan erat badan terganggu, FCR naik Kerusakan mata dan terjadi dehidrasi Sumber : Cobb Broiler Management Guide (2004) < 10 ppm  5 ppm 20 ppm 25 – 51 ppm 46-102 ppm
  5. 5. Efek suhu dan kelembapan pada tingkat laku fisiologis ayam : Temperatur (ºC) Kelembapan Relatif Respon pada Ayam 20 – 25 75 % Dingin, Nyaman 25 – 30 100 % Nyaman 30 – 35 100 % Kurang nyaman 35 – 40 100 % Sangat kurang nyaman 40 – 45 100 % Sama sekali tidak nyaman 45 - 50 100 % Berbahaya, kematian karena gagal jantung Sumber : Qureshi (2001) Standart kualitas udara yang disarankan Oksigen  19,6 % Karbondioksida < 0,3 % Karbon monoksida < 10 ppm Amoniak < 10 ppm Kelembapan relative (RH) 45 – 65 % Inspirable dust < 3,4 mg / m3 Sumber : Cobb Broiler Management Guide (2004) Lakukan Penyemprotan Rutin Pada program penyemprotan rutin sebaiknya dilakukan 4-7 hari sekali, penyemprotan ini dilakukan pada area luar dan dalam kandang. Fungsi penyemprotan desinfektan ini adalah untuk membasmi kuman yang sudah terlanjur ada di dalam kandang dan menurunkan derajat keganasan kuman yang ada. Dalam proses penyemprotan desinfektan bila di dalam kandang terdapat ayam gunakan desinfektan yang tidak mengakibatkan iritasi misal desinfektan yang mengandung gluteraldehid dan formalin. Bila kondisi kosong kandang dapat menggunakan formalin dengan dosis perbandingan dengan air 1 : 20. Pada proses desinfeksi gunakan cara rolling desinfektam agar kuman tidak resisten terhadap desinfektan. Selain kandang, kendaraan yang masuk areal farm tanpa terkecuali harus di semprot. Mobil pengankut pakan, pengangkut telur, pengangkut kotoran maupun pengangkut ayam afkir harus didesinfeksi. Yang sering dilupakan petugas adalah penyemprotan pada ban mobil, pada ban mobil biasanya membawa tanah yang terinfeksi kuman penyakit dari farm lain, berpotensi menbawa bibit penyakit. Khusus untuk kendaraan afkir, sebaiknya kendaraan tersebut tidak masuk ke lokasi farm. Petugas lebih baik mengantarkan ayam afkirannya ke pintu gerbang depan sehingga tidak ada kontak langsung antara karyawan farm dengan pengikut kendaraan afkiran. Ini dilakukan untuk menjaga jangan sampai bibit penyakit dari lokasi lain masuk.
  6. 6. Kontrol lalu lintas kandang Untuk meminimalkan masuknya bibit penyakit dari luar, operator kandang, supervisor kandang, vaksinator dan tamu yang akan masuk area farm harus dikontrol dengan cara desinfeksi terlebih dahulu. Oleh karena itu, setiap areal farm harus memiliki ruang khusus berupa tempat yang didesain untuk mensterilkan setiap orang yang masuk farm. Selain itu perlu juga di buat pagar keliling yang baik dan cukup rapat, sehingga hewan seperti ayam kampung, itik, kucing dan anjing tidak dapat masuk area farm. Manajemen Air Minum Pada keadaan normal, ayam akan mengkonsumsi air dua kali lebih banyak dari jumlah ransum yang dimakan. Namun di lapagan, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain suhu lingkungan, suhu tubuh ayam, kandungan mineral air, kekerasan air, keasaman, kekeruhan dan keberadaan bakteri. Suhu air minum tidak boleh diabaikan. Ayam akan mengkonsumsi air secara normal pada suhu berkisar 10 – 20ºC. Jika mendekati titik beku atau malahan terlalu panas pada suhu diatas 30ºC, konsumsi air akan drop yang berarti produksi ayam akan menurun. Pada perinsipnya ayam akan menghindari minum air minum yang suhunya lebih panas 5 ºC dari suhu tubuhnya. Penyediaan air sehat akan meningkatkan produktifitas ayam, sehingga sanitasi air minum dari pencemaran logam berat dan kuman berbahaya harus menjadi mutlak diperhatikan. Adapun beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air minum antara lain Salmonellosis, Kolibasilosis, Aspegillorsis, Avian Influensa dan Egg Drop Syndrome. Program sanitasi air minum dapat dilakukan mulai dari sumber air, misalnya sumur atau tandon-tandon penampungan. Pada kondisi hujan atau terjadi kercunan logam berat pada sumber-sumber air perlu dilakukan pemeriksaan dan pengolahan tertentu. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan bakteriologi ( jumlah bakteri dan keberadaan bakteri E.coli) dan pemeriksaan non bakteri (bau,rasa,warna, kejernihan, pH, klorida, nitrat, nitrit, magnesium, NaCl dan Kesadahan ). Berikut level maksimal mineral dan bakteri pada air minum Total bahan padat terlarut 300 – 500 ppm Khlorida 200 mg/l pH 6,7 – 7,2 Nitrat 45 ppm Sulfat 200 ppm Besi 1 mg/I Kalsium 75 mg /I Tembaga 0,05 mg/I Magnesium 30 mg/I Mangaan 0,05 mg/I
  7. 7. Seng 5 mg/I Fluorida 0,06 mg/I Merkuri 0,002 mg/I Timah 0,05 mg/I Faecal Coliform 0 Sumber : Cobb Broiler Management Guide (2004) Perlakuan sanitasi air dapat digunakan treatment Khlorinasi yaitu dengan kandungan 3-5 ppm atau 100 gr khlorin : 1000 liter air. Disarankan untuk menggunaka nipple drinker untuk mempermudah proses sanitasi intalasi air, dengan flushing minimum 1 minggu. Cek alas kandang Litter atau alas kandang biasanya terbuat dari sekam atau serutan kayu, mendapat perhatian khusus pada saat musim penghujan. Bila terdapat celah atau lubang pada kandang yang mengakibatkan air dapat masuk akan mengakibatkan sekam menjadi basah dan kelembapan kandang meningkat. Basahnya litter juga bisa dikarenakan oleh tumpahnya air minum, sehingga dalam disarankan untuk menggunakan nipple drinker atau membawa tuimba yang berisi air minum kedalam kandang. Litter atau alas kandang sebaiknya dipilih yang kering, tidak berbau, tidak lembab dan tidak terlalu lama berada pada penyimpanan. Sekam yang baik bewarna cokelat kekuningan. Jemur dahulu di bawah sinar matahari sebelum ditebar dikandang. Ketebalan litter dianjurkan 5,8 cm, dengan takaran 2,5 – 4 kg / m3 untuk liiter sekam dan sebanyak 3 – 5 kg / m3 jika menggunakan serutan kayu. Sebaiknya tidak melebihi ketebalan yang ditentukan karena akan mengakibatkan kualitas litter kurang baik. Setelah tebar sekam lebih baik diberikan kapur hidup ( Kapur Tohor ) sebanyak 1 kg per 10 m3 untuk mengurangi kelembapan litter. Ketika ayam berusia 1-14 hari, sebaiknya dilakukan balik sekam setiap hari, dilakukan sebelum pemberian air minum. Dan mengganti sekam yang telah menggumpal pada umur ayam setelah melewati umur 14 hari. Mengendalikan Tikus ( pest control ) Tikus merupakan hama yang erat dengan peternakan selain merusak infrastruktur kandang, ikut makan pakan, tikus merupakan carrier penyakit Kholera dan Salmonellosis, Gumboro (IBD) dan Avien Influensa. Lakukan program pembasmian tikus dapat berupa rodentisida atau menggunakan perangkap tikus. Sumber : Poultry Magz , Cobb Broiler Management Guide (2004) , Research Pribadi

×