Ikterus
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Ikterus

on

  • 1,980 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,980
Views on SlideShare
1,980
Embed Views
0

Actions

Likes
3
Downloads
30
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Ikterus Presentation Transcript

  • 1. IKTERUS KELOMPOK 1 DINI HARIANTI INE SILVANI SARI MOZHA DESRI LIA SARI SRI ANDRIANI YULIANTI YUFITA
  • 2. Pengertian • Ikterus atau Hiperbilirubinemia pada BBL adalah meningginya kadar bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning • Ikterus pada bayi baru lahir merupakan suatu gejala fisiologis atau dapat merupakan hal patologis. Ikterus atau warna kuning pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari ke 2-3 dan menghilang pada hari ke-10.
  • 3. Ikterik neonatorum dikelompokkan menjadi dua yaitu : • Ikterus Fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama kehidupannya • Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 57, kemudian akan menurun pada hari ke 1014, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/dl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl pada bayi prematur. • Ikterus Patologis, adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis dengan kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia
  • 4. Faktor penyebab ikterus • 1. Prahepatik (ikterus hemolitik), Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada proses hemolisis sel darah merah (ikterus hemolitik) • 2. Pascahepatik (obstruktif), Adanya obstruksi pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin konjungasi akan kembali lagi ke dalam sel hati dan masuk ke dalam aliran darah, kemudian sebagian masuk dalam ginjal dan diekskresikan dalam urine, sebagian lagi tertimbun dalam tubuh sehingga kulit dan sklera berwarna kuning kehijauan serta gatal • 3. Hepatoseluler (ikterus hepatik), Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati, apabila sel hati mengalami kerusakan maka secara otomatis akan mengganggu proses konjugasi bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam aliran darah
  • 5. • • • • • • • • • • • • • • • • Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum Faktor Maternal : Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani) Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh) Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik. ASI Faktor Perinatal : Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis) Infeksi (bakteri, virus, protozoa) Faktor Neonatus : Prematuritas Faktor genetik : Polisitemia Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol) Rendahnya asupan ASI Hipoglikemia Hipoalbuminemia
  • 6. Tanda dan Gejala • Ikterus fisiologi • Timbul pada hari kedua dan ketiga setelah bayi lahir. • Kadar bilirubin inderect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan. • Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg% per hari. • Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg% • Ikterus menghilang pada 10 hari pertama • Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis
  • 7. • Ikterus patologis memiliki tanda dan gejala sebagai berikut: • Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama • Kadar bilirubin inderect melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan. • Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg% per hari. • Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama • Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg% • Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik
  • 8. Pengamatan Ikterus Daerah Luas Ikterus Kadar Bilirubin (mg%) 1 Kepala dan leher 5 2 Daerah 1 + badan bagian atas 9 3 Daerah 1,2 + badan bagian bawah dan tungkai 11 4 Daerah 1, 2, 3 + lengan dan kaki d bawah tungkai 12 5 Daerah 1, 2, 3, 4 + tangan dan kaki 16
  • 9. Pencegahan • Pengawasan ANC yang baik • Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti sulfanamida dan lain-lain • Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding) – Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan glukosa yang terdapat dalam ASI – Pengeluaran bilirubin
  • 10. Penanganan ikterus fisiologis • • • • • • • • • Lakukan perawatan seperti bayi baru lahir normal lainnya Lakukan perawatan bayi sehari-hari, seperti: Memandikan Melakukan perawatan tali pusat Membersihkan jalan nafas Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi, kurang lebih 30 menit Jelaskan pentingnya hal-hal seperti : Memberikan ASI sedini dan sesering mungkin Menjemur bayi di bawah sinar matahari dengan kondisi telanjang selama 30menit,15menit dalam posisi terlentang, dan 15 menit sisanya dalam posisi tengkurap. • Memberikan asupan makanan bergizi tinggi bagi ibu, • Menganjurkan ibu untuk tidak minum jamu • Apabila ada tanda ikterus yang lebih parah (misalnya feses berwarna putih keabu-abuan dan liat seperti dempul), anjurkan ibu untuk segera membawa bayinya ke puskesmas. Anjurkan ibu untuk kontrol setelah 2 hari
  • 11. Penanganan Hiperbilirubinemia sedang • Berikan ASI secara adekuat • Lakukan pencegahan hipotermi • Letakkan bayi di tempat yang cukup sinar matahari ± 30 menit, selama 3-4 hari • Lakukan pemeriksaan ulang 2 hari kemudian • Anjurkan ibu dan keluarga untuk segera merujuk bayinya jika keadaan bayi bertambah parah serta mengeluarkan feses bewarna putih keabu-abuan dan liat seperti dempul
  • 12. Penanganan Hiperbilirubenemia berat • Berikan informer consent pada keluarga untuk segera merujuk bayinya • Selama persiapan merujuk, berikan ASI secara adekuat • Lakukan pencegahan hipotermi • Bila mungkin, ambil contoh darah ibu sebanyak 2,5 ml
  • 13. Bentuk Terapi • • • • • Terapi sinar (fototerapi) Terapi Transfusi Terapi Obat-obatan Menyusui Bayi dengan ASI Terapi Sinar Matahari
  • 14. TERIMAKASIH