Your SlideShare is downloading. ×
Letak kerajaan banten
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Letak kerajaan banten

16,163
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
16,163
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
99
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Letak Kerajaan Banten Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di propinsi Banten. Wilayah kekuasaan Banten meliputi bagian barat Pulau Jawa, seluruh wilayah Lampung, dan sebagian wilayah selatan Jawa Barat. Situs peninggalan Kerajaan Banten tersebar di beberapa kota seperti Tangerang, Serang, Cilegon, dan Pandeglang. Pada mulanya, wilayah Kesultanan Banten termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Kerajaan Banten menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan yang melalui Selat Sunda. Dengan posisi yang strategis ini Kerajaan Banten berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa dan bahkan menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia. VOC merupakan perserikatan dagang yang dibuat oleh kolonial Belanda di wilayah kepulauan Nusantara. Kehidupan Politik Kerajaan Banten Pada awal berkembangnya masyarakat pantai Banten, Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Namun pada tahun 1524 wilayah Banten berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah. Pada waktu Demak terjadi perebutan kekuasaan, Banten melepaskan diri dan tumbuh menjadi kerajaan besar. Setelah itu, kekuasaan Banten diserahkan kepada Sultan Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah. Sultan Hasanudin dianggap sebagai peletak dasar Kerajaan Banten. Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini:1. Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.2. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah sebagai berikut:
  • 2. 1. Memajukan wilayah perdagangan. Wilayah perdagangan Banten berkembang sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten.4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel. Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita saksikan hingga sekarang di wilayah Pantai Teluk Banten.5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi Banten didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari kerajaan lain di Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa. Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja yang gigih menentang pendudukan VOC di Indonesia. Kekuatan politik dan angkatan perang Banten maju pesat di bawah kepemimpinannya. Namun akhirnya VOC menjalankan politik adu domba antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Berkat politik adu domba tersebut Sultan Ageng Tirtayasa kemudian berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1629 Masehi. Berikut ini daftar penguasa Kesultanan Banten menurut catatan sejarah Wikipedia: 1. Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin memerintah pada tahun 1552 – 1570 2. Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan memerintah pada tahun 1570 – 1585 3. Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana memerintah pada tahun 1585 – 1596 4. Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Pangeran Ratu memerintah pada tahun 1596 – 1647 5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad memerintah pada tahun 1647 – 1651 6. Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah memerintah pada tahun 1651-1682 7. Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar memerintah pada tahun 1683 – 1687 8. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya memerintah pada tahun 1687 – 1690 9. Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin memerintah pada tahun 1690 – 1733 10. Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin memerintah pada tahun 1733 – 1747 11. Ratu Syarifah Fatimah memerintah pada tahun 1747 – 1750 12. Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri memerintah pada tahun 1753 – 1773 13. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin memerintah pada tahun 1773 – 1799 14. Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1799 – 1803 15. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin memerintah pada tahun 1803 – 1808 16. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1809 – 1813 Kehidupan Sosial Kesultanan Banten
  • 3. Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa selain Kerajaan Demak,Kasepuhan Cirebon, Giri Kedaton, dan Mataram Islam. Kehidupan sosial rakyat Banten berlandaskanajaran-ajaran yang berlaku dalam agama Islam. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa,kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena sultan memperhatikankesejahteraan rakyatnya. Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah menerapkan sistemperdagangan bebas dan mengusir VOC dari Batavia.Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehinggaagama Islam benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhisebagian besar kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan praktektoleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuahklenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673.Kehidupan Budaya Kesultanan BantenMasyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada diNusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebutmemberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agamaIslam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangunpada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura padaIstana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agamaIslam. Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarahyang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.
  • 4. Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiridiProvinsi Banten, Indonesia. Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluaspengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasanpelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan.Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati[2] berperan dalam penaklukan tersebut. Setelahpenaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mendirikan benteng pertahanan yangdinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadikesultanan yang berdiri sendiri.Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luarbiasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkanpengaruhnya. Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumberdaya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoniKesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhir runtuh padatahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intandihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintanannya, para Sultan Banten tidak lebih dari rajabawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.
  • 5. Pembentukan awal [3]De Stad Bantam, lukisan cukilan lempeng logam (engraving) karya François Valentijn, Amsterdam, 1726Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dariKerajaanSunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana Hasanuddinke kawasantersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwahIslam. Kemudian dipicuoleh adanya kerjasama Sunda-Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapatmembahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan merekamengusir Portugal dari Melaka tahun1513. Atas perintah Trenggana, bersamadenganFatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun1527,yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda.[4]Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkanperluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam dikawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang denganraja Malangkabu(Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dandianugerahi keris oleh raja tersebut.[5]Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Trenggana,[6] Banten yangsebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yangmandiri. Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570[7]melanjutkanekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan PakuanPajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mencobamenguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempitgerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut.[8]Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja pertama di PulauJawa yang mengambil gelar "Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir MahmudAbdulkadir. Pada masa ini Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasidengan kekuatan lain yang ada pada waktu itu, salah satu diketahui surat Sultan Bantenkepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I.[1]
  • 6. [Puncak kejayaanKesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopangperekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Bantensekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salahsatu pusat niaga yang penting pada masa itu.[9] Perdagangan laut berkembang ke seluruhNusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris,Denmark dan Tionghoa,Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cinadan Jepang.[10]Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaanBanten.[11] Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contohEropa,serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten.[12] Dalam mengamankanjalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atauKerajaanTanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661.[13] Pada masa iniBanten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telahmelakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.[12][sunting]Perang saudaraSekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan danpertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkanoleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji,sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, SultanHaji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya,menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuanpersenjataan.[1] Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah kekawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasaioleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain PangeranPurbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda. Namun pada 14Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia.Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masihberada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOCmengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung denganpasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan danDayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka berhasil menawan SyekhYusuf.[14] Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri.Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya,dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukanVOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya
  • 7. pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapatibeserta pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7Februari1684 sampai di Batavia.[15][sunting]PenurunanBantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasikepada VOC di antaranya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, sepertitertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOCdi Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjiantanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada diLampung.[16] Selain itu berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga mestimengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC.[17]Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya diKesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuandari Gubernur Jendral Hindia-Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkatmengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan olehsaudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dankemudian dikenal juga dengan gelarKang Sinuhun ing Nagari Banten.Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masaberikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten[18] maupun gejolak ketidakpuasan masyarakatBanten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncakpada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranyaperlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Bantenkembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehinggasejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC.[13]Penghapusan kesultanan
  • 8. Reruntuhan Kraton Sultan di tahun 1859 (gambar oleh C. Buddingh dari Geschiedenis van Nederlandsch Indië atau"Sejarah Hindia Belanda")Reruntuhan Kraton Kaibon, bekas istana kediaman Ibu Suri Sultan Banten, di tahun 1933Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810,memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari seranganInggris.[19] Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer danmenyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangundi Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkanpenyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganyadisekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. SultanAbul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah KesultananBanten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.[20]Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris.[21]Pada tahunitu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahtaoleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiririwayat Kesultanan Banten.[sunting]
  • 9. AgamaLukisan litograf Masjid Agung Banten pada kurun 1882-1889.Berdasarkan data arkeologis, masa awal masyarakat Banten dipengaruhi oleh beberapa kerajaanyang membawa keyakinan Hindu-Budha, seperti Tarumanagara,Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.Dalam Babad Banten menceritakan bagaimana Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin,melakukan penyebaran agama Islam secara intensif kepada penguasaBanten Girang besertapenduduknya. Beberapa cerita mistis juga mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk ketikapada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah kepada penduduk pedalaman Sunda, yangditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran.Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk memiliki silsilah sampaikepada Nabi Muhammad, dan menempatkan para ulama memiliki pengaruh yang besar dalamkehidupan masyarakatnya, seiring itu tarekat maupuntasawuf juga berkembang di Banten.Sementara budaya masyarakat menyerap Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Beberapatradisi yang ada dipengaruhi oleh perkembangan Islam di masyarakat, seperti terlihat pada kesenianbela diri Debus.Kadi memainkan peranan penting dalam pemerintahan Kesultanan Banten, selainbertanggungjawab dalam penyelesaian sengketa rakyat di pengadilan agama, juga dalampenegakan hukum Islam seperti hudud.[22]Toleransi umat beragama di Banten, berkembang dengan baik. Walau didominasi olehmuslim,namun komunitas tertentu diperkenankan membangun sarana peribadatan mereka, di mana sekitartahun 1673 telah berdiri beberapa klenteng pada kawasan sekitar pelabuhan Banten.[sunting]
  • 10. KependudukanKemajuan Kesultanan Banten ditopang oleh jumlah penduduk yang banyak serta multi-etnis. Mulaidari Jawa, Sunda dan Melayu. Sementara kelompok etnis nusantara lain dengan jumlah signifikanantara lain Makasar, Bugis dan Bali.Dari beberapa sumber Eropa disebutkan sekitar tahun 1672, di Banten diperkirakan terdapat antara100 000 sampai 200 000 orang lelaki yang siap untuk berperang, sumber lain menyebutkan, bahwadi Banten dapat direkrut sebanyak 10 000 orang yang siap memanggul senjata. Namun dari sumberyang paling dapat diandalkan, pada Dagh Register-(16.1.1673) menyebutkan dari sensusyangdilakukan VOC pada tahun 1673, diperkirakan penduduk di kota Banten yang mampumenggunakan tombak atau senapanberjumlah sekita 55 000 orang. Jika keseluruhan pendudukdihitung, apa pun kewarganegaraan mereka, diperkirakan berjumlah sekitar 150 000 penduduk,termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.[23]Sekitar tahun 1676 ribuan masyarakat Cina mencari suaka dan bekerja di Banten. Gelombangmigrasi ini akibat berkecamuknya perang di Fujian serta pada kawasan Cina Selatan lainnya.Masyarakat ini umumnya membangun pemukiman sekitar pinggiran pantai dan sungai sertamemiliki proporsi jumlah yang signifikan dibandingkan masyarakat India dan Arab. Sementara diBanten beberapa kelompok masyarakat Eropaseperti Inggris, Belanda, Perancis, Denmark dan Portugal juga telah membangun pemondokan dangudang di sekitar Ci Banten.[sunting]PerekonomianDalam meletakan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerahpesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai diperkenalkan. Asumsi ini berkembangkarena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman sepertiLebak, perekonomianmasyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran darinaskah sanghyang siksakanda ng karesian yang menceritakan adanyaistilah pahuma (peladang), panggerek (pemburu) dan panyadap (penyadap). Ketiga istilah ini jelaslebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatanyaseperti kujang, patik, baliung, kored dansadap.Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untukmengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakantenaga sebanyak 16 000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 000 ribu hektarsawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-an petani ditempatkan di atastanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yangdidatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng,perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan.[13]
  • 11. Tak dapat dipungkiri sampai pada tahun 1678, Banten telah menjadi kota metropolitan, denganjumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai salah satu kotaterbesar di dunia pada masa tersebut.[23][sunting]PemerintahanBendera Kesultanan Banten, versi pelat Jepang tahun 1876.Setelah Banten muncul sebagai kerajaan yang mandiri, penguasanya menggunakan gelar Sultan,sementara dalam lingkaran istana terdapat gelar Pangeran Ratu, Pangeran Adipati, Pangeran Gusti,dan Pangeran Anom yang disandang oleh para pewaris. Pada pemerintahan Banten terdapatseseorang dengan gelar Mangkubumi, Kadi, Patih serta Syahbandar yang memiliki peran dalamadministrasi pemerintahan. Sementara pada masyarakat Banten terdapatkelompok bangsawan yang digelari dengantubagus (Ratu Bagus), ratu atau sayyid, dan golongankhusus lainya yang mendapat kedudukan istimewa adalah terdiri atas kaum ulama, pamong praja,serta kaum jawara.Pusat pemerintahan Banten berada antara dua buah sungai yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Dikawasan tersebut dahulunya juga didirikan pasar, alun-alun dan Istana Surosowan yang dikelilingioleh tembok beserta parit, sementara disebelah utara dari istana dibangun Masjid AgungBanten dengan menara berbentuk mercusuar yang kemungkinan dahulunya juga berfungsi sebagaimenara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di Banten.Berdasarkan Sejarah Banten, lokasi pasar utama di Banten berada antara Masjid Agung Banten danCi Banten, dan dikenal dengan nama Kapalembangan. Sementara pada kawasan alun-alunterdapat paseban yang digunakan oleh Sultan Banten sebagai tempat untuk menyampaikanmaklumat kepada rakyatnya. Secara keseluruhan rancangan kota Banten berbentuk segi empatyang dpengaruhi oleh konsep Hindu-Budha atau representasi yang dikenal dengannama mandala.[13] Selain itu pada kawasan kota terdapat beberapa kampung yangmewakili etnis tertentu, seperti Kampung Pekojan (Persia) dan Kampung Pecinan.Kesultanan Banten telah menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singah ke Banten, pemungutancukai ini dilakukan oleh Syahbandaryang berada di kawasan yang dinamakan Pabean. Salahseorang syahbandar yang terkenal pada masa Sultan Ageng bernamaSyahbandar Kaytsu.
  • 12. [sunting]Daftar penguasa Banten Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin 1552 - 1570 Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan 1570 - 1585 Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana 1585 - 1596 Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Pangeran Ratu 1596 - 1647 Sultan Abu al-Maali Ahmad 1647 - 1651 Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah 1651-1682 Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar 1683 - 1687 Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya 1687 - 1690 Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin 1690 - 1733 Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin 1733 - 1747 Ratu Syarifah Fatimah 1747 - 1750 Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri 1753 - 1773 Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin 1773 - 1799 Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1799 - 1803 Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin 1803 - 1808 Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1809 - 1813[sunting]Warisan sejarahSetelah dihapuskannya Kesultanan Banten, wilayah Banten menjadi bagian dari kawasankolonialisasi. Pada masa pemerintahanHindia Belanda, tahun 1817 Banten dijadikan keresidenan,dan sejak tahun 1926 wilayah tersebut menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan masa laluKesultanan Banten menginspirasikan masyarakatnya untuk menjadikan kawasan Banten kembalimenjadi satu kawasan otonomi, reformasi pemerintahan Indonesia berperan mendorong kawasanBanten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 23Tahun 2000.Selain itu masyarakat Banten telah menjadi satu kumpulan etnik tersendiri yang diwarnai olehperpaduan antar-etnis yang pernah ada pada masa kejayaan Kesultanan Banten, dan keberagamanini pernah menjadikan masyarakat Banten sebagai salah satu kekuatan yang dominan di Nusantara.