Your SlideShare is downloading. ×
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Bab iv hasil dan pembahasan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab iv hasil dan pembahasan

5,058

Published on

2 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • zenislev13000@yahoo.com.au
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • assalamualaikum pak..boleh kami meminta alamat email bapak?
    terkait dengan makalah yang bapak upload yang sangat membantu saya dalam perkuliahan

    terimakasih
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
5,058
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
2
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Deskripsi Desa Sarimukti Berdasarkan Data Profil Desa Sarimukti Tahun 2011, Desa Sarimukti memiliki empat batas wilayah yang meliputi Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy sebagai batas wilayah utara; Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat sebagai batas wilayah selatan; Desa Kertamukti, Kecamatan Cipatat sebagai batas timur; dan Sungai Citarum, Kecamatan Cianjur sebagai batas wilayah sebelah barat. Topografi Desa Sarimukti terdiri atas dataran rendah 478 ha dan perbukitan 445 ha. Total luas wilayah Desa Sarimukti mencapai ± 923 ha yang didominasi oleh hutan produksi milik Perhutani seluas 445 ha. Curah hujan harian yang terdapat di Desa Sarimukti saat dilakukan penelitian (akhir September – akhir Oktober) terdiri atas curah hujan harian rata-rata sekitar 1500- 2500 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 30 hari, kelembaban rata-rata 6 % dan suhu rata-rata harian 23,3 o C. Desa Sarimukti berada pada ketinggian 319 m di atas permukaan laut (dpl). Jumlah Penduduk terdiri atas 4.994 orang yang terdiri atas 1.505 kepala keluarga (KK) dengan persentase perkembangan sebesar 3,3% (pada tahun 2011-2012) dan memiliki 13 unit organisasi rukun warga (RW) dan 40 unit organisasi rukun tetangga (RT). Desa Sarimukti memiliki lokasi bersinggungan langsung dengan TPAS Sarimukti yang tepatnya di kawasan RW 2 Desa Sarimukti, yaitu berada pada kawasan batas wilayah utara desa.
  • 2. 37 2. Deskripsi TPAS Sarimukti TPAS Sarimukti secara administrasi berada di di Blok Gedig, Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang berada pada ketinggian rata-rata 316 m dpl. Luas lahan TPAS Sarimukti ± 25 ha, terdiri atas ± 23 ha milik Perhutani dan ± 2 ha milik Pemerintah Kota Bandung. Secara garis besar penggunaan lahan di TPAS Sarimukti adalah 17 ha untuk lahan penimbunan dengan sistem controlled landfill, 3.750 m2 digunakan sebagai tempat pengolahan kompos, 5 ha untuk jalan dan drainase, 2 ha untuk sarana dan prasarana penunjang dan sisanya sebagai lahan pengembangan landfills. Lahan penimbunan sampah dibagi dalam 5 zona penimbunan (lahan kerja), 2 zona telah dilakukan pengurugan, sedangkan sisanya masih dilakukan kegiatan penimbunan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan terhadap sampah yang terdapat di pasar oleh pihak pengelola (yaitu BPSR) diperoleh komposisi dari jenis sampah tersebut, yaitu 80% sampah organik, 8% sampah kertas, 6% sampah plastik, 4% sampah logam dan 2% sampah lainnya, sehingga komposisi dan berat sampah yang masuk ke TPAS Sarimukti dengan volume 120 m3 /hari adalah terdiri dari 96 m3 sampah organik, 8,6 m3 sampah kertas, 7,2 m3 sampah plastik, 4,8 m3 sampah logam dan 2,4 m3 sampah lainnya. Iklim TPAS Sarimukti berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun BMG Wilayah II (dalam AMDAL TPAS Sarimukti 2011) terlihat bahwa suhu udara rata-rata bulanan terukur 16,7-32,3 C, kelembaban udara terukur antara 64-86%, dengan curah hujan menunjukkan nilai antara 10-526 mm per bulan.
  • 3. 38 Daerah studi TPAS Sarimukti memiliki 2 satuan geomorfologi yaitu perbukitan bergelombang (agak curam) dengan kemiringan 15-25% dan satuan geomorfologi curam dengan kemiringan 25-40% (data geomorfologi dalam AMDAL TPAS Sarimukti 2011). Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03 - 3241 - 1994 bahwa pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah tidak boleh mempunyai kemiringan lereng melebihi 20%. Apabila merujuk jangkauan optimum sudut lereng untuk pemanfaatan lahan maka pemanfaatan lahan untuk TPAS berdasarkan kondisi geomorfologi adalah kurang tepat karena dengan kemiringan lereng yang relatif bergelombang (agak curam) dan curam akan memudahkan terjadinya longsoran atau pergerakan dari material sampah ataupun massa batuan sebagai dasar dari penimbunan sampah, terutama menuju pemukiman warga Desa Sarimukti yang bersinggungan dengan tempat kegiatan TPAS, yaitu pemukiman rukun warga (RW) 2 Desa Sarimukti. B. Kualitas Air Sungai Berkaitan dengan Keberadaan TPAS Sarimukti Pengukuran parameter kualitas air dilakukan terhadap parameter bau, warna, rasa, padatan total terlarut (TDS), pH, BOD, COD, DO, Fecal Coliform dan Total Coliform. Hasil rata-rata pengukuran kualitas air pada seluruh stasiun penelitian ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa keberadaan TPAS Sarimukti mengakibatkan bau pada Stasiun II yang merupakan outlet pembuangan lindi dan Stasiun III yang berjarak ± 1,5 km setelah outlet tersebut.
  • 4. 39 Tabel 1. Hasil Analisis Kualitas Air di Seluruh Stasiun Penelitian Parameter Baku Mutu STASIUN I II III IV V VI Bau - Tidak Berbau Berbau Berbau Tidak Berbau Tidak Berbau Tidak Berbau Rasa - Tidak Berasa Berasa Berasa Tidak Berasa Tidak Berasa Tidak Berasa Warna* - 91,67 ± 14,43 4291,67 ± 72,17 2391,67 ± 1942,35 50 ± 25 91,67 ± 28,87 83,33 ± 38,19 TDS (Total Dissolved Solid)** 1000 290 ± 5,20 15223,33 ± 2053,44 7501 ± 4680,04 180,33 ± 8,08 565,33 ± 251,98 277,67 ± 74,89 pH 6-9 8,23 ± 0,10 8,14 ± 0,06 8,11 ± 0,14 7,38 ± 0,02 7,92 ± 0,32 7,92 ± 0,12 Fecal Coliform*** 1000 29633,33 ± 22558,89 57800 ± 80387,31 142000 ± 97015,46 101533,33 ± 83956,73 57000 ± 48445,85 16933,33 ± 25172,47 Total Coliform*** 5000 29633,33 ± 22558,89 57800 ± 80387,31 256666,67 ± 125830,57 101533,33 ± 83946,73 57000 ± 48445,85 17666,67 ± 24562,03 Oksigen Terlarut (DO)** 4 7,36 ± 0,69 0,13 ± 0,01 1,57 ± 2,45 7,31 ± 0,84 6,33 ± 2 7,05 ± 0,87 BOD** 3 9,93 ± 5,66 11746,67 ± 787,99 2746,67 ± 220,30 8,17 ± 1,89 234 ± 334,62 27,33 ± 7,37 COD** 25 19,93 ± 10 17273,33 ± 1106,41 4151,67 ± 262,69 16,60 ± 5,72 376,53 ± 540,53 46,53 ± 6 Timbal (Pb)** 0,03 0,01 0,27 ± 0,23 0,12 ± 0,20 0,01 0,10 ± 0,16 0,07 ± 0,10 Keterangan: * = dalam kolori ; ** = dalam mg/l; *** = dalam MPN/100ml
  • 5. 40 Stasiun I yang merupakan stasiun kontrol dan berada sebelum pembuangan lindi tidak dihasilkan bau. Stasiun IV yang berada pada Sungai Cipicung diperoleh hasil yang tidak berbau, hal tersebut dikarenakan tidak langsung terkena pembuangan lindi meskipun berlokasi di sekitar TPAS Sarimukti. Pengaruh pembuangan lindi tidak nampak pada Stasiun V dan VI dikarenakan terjadi pengenceran dari Sungai Cipicung dan Sungai Cimeta. Daryanto (2009) mengemukakan bahwa kualitas bau air bergantung pada sumber airnya ataupun masukan yang terintroduksi pada badan sungai melalui aliran air tanah maupun air permukaan. Darmono (2001) mengemukakan pula bahwa bau air dapat pula disebabkan oleh beberapa faktor seperti mikroorganisme akuatik perairan, effluent rumah tangga, industri maupun tempat pengelolaan sampah. Bau yang dijumpai pada Stasiun II dan III diindikasikan oleh karena adanya pengaruh aliran permukaan yang mengandung lindi, yang masuk ke Sungai Cilimus dari TPAS melalui outlet kolam pegelolaan lindi. Hasil pengukuran parameter rasa menunjukkan hasil yang selaras dengan parameter bau, dimana Stasiun II dan III menimbulkan rasa dalam air yang diukur. Stasiun I dan IV sebagai kontrol diperoleh hasil yang tidak berasa, lalu pada Stasiun V dan VI diperoleh hasil yang tidak berasa pula. Air yang normal seharusnya tidak memiliki rasa, air yang berasa dapat terjadi dikarenakan terdapat penyimpangan yang diakibatkan oleh adanya introduksi bahan asing atau kontaminan. Fardiaz (1992) dan Wardhana (2001) mengemukakan bahwa air yang tidak normal umumnya memiliki rasa yang tidak normal dan bau yang
  • 6. 41 tidak normal pula selain itu air yang digunakan untuk kehidupan seharusnya tidak berasa, berbau, dan berwarna. Hasil pengukuran parameter warna (Gambar 3) dengan indikator Platinum Cobalt (Pt.Co) menunjukkan bahwa terdapat perubahan warna sungai pada Stasiun II dengan nilai warna air sebesar 4291,67 kolori dan Stasiun III sebesar 2391,67 kolori, dimana secara kasat mata ditunjukkan dengan warna hitam pekat. Perubahan warna air pada dua stasiun tersebut dikarenakan terdapat pengaruh masukkan lindi dari outlet TPAS Sarimukti. Gambar 3. Warna pada Seluruh Stasiun Pengamatan Harrison (1994) menyatakan bahwa tingginya nilai kolori pada perairan yang dikarenakan adanya introduksi lindi terdiri atas berbagai macam bahan seperti senyawa organik, anorganik, logam berat dan mikroorganisme berkonsentrasi tinggi pada lindi. Manahan (1984) menyatakan pula bahwa warna 0.00 500.00 1000.00 1500.00 2000.00 2500.00 3000.00 3500.00 4000.00 4500.00 5000.00 I II III IV V VI Warna(Kolori) Stasiun Pengamatan
  • 7. 42 sungai yang terkontaminasi lindi umumnya berwarna hitam karena ikatan timbal dengan -Fe(OH)2 2- , -MnO2- ataupun dengan -CO2 2- yang terlarut serta terabsorbsi pada koloid di dalam perairan. Stasiun I yang memiliki nilai warna air sebesar 91,67 kolori merupakan stasiun kontrol yang berada kurang lebih 1 km sebelum outlet TPAS, sedangkan pada Stasiun IV yang berada di Sungai Cipicung (namun masih berada di sekitar TPAS Sarimukti) juga merupakan stasiun kontrol diperoleh nilai warna air sebesar 50 kolori. Effendi (2003) menyatakan bahwa perairan alami tidak berwarna atau memiliki nilai warna lebih kecil 10 kolori, perairan memiliki warna kuning kecoklatan seperti daerah rawa-rawa dan umumnya memiliki rentang nilai warna perairan pada 200 - 300 kolori. Nilai warna air pada Stasiun V dan VI kembali menyerupai pada Stasiun I yang merupakan kontrol, hal tersebut dikarenakan telah terjadi degradasi konsentrasi lindi akibat proses pengenceran yang berasal dari Sungai Cipicung dan Sungai Cimeta. Hasil pengukuran parameter kualitas air selanjutnya yaitu TDS (Total Dissolved Solid). Gambar 4 menunjukkan nilai TDS yang tinggi pada Stasiun II yaitu 15223,33 mg/l dan Stasiun III 7501 mg/l, dimana jumlah tersebut melampaui baku mutu yang ditentukan yaitu 1000 mg/l berdasarkan PP No.82 Tahun 2001. Sedangkan pada stasiun I, IV, V dan VI diperoleh nilai masing- masing yaitu 290 mg/l, 180,33 mg/l, 565,33 mg/l dan 277,67 mg/l. Nilai TDS yang tinggi pada Stasiun II dan III selaras dengan hasil bau dan warna yang diperoleh karena dipengaruhi oleh lindi yang berasal dari TPAS Sarimukti. Fardiaz (1992) menyatakan bahwa peningkatan nilai TDS pada
  • 8. 43 perairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan tanah, dan pengaruh antropogenik (limbah domestik). Gambar 4. Residu Terlarut (TDS) pada Seluruh Stasiun Pengamatan Rendahnya nilai TDS pada stasiun I dan IV dikarenakan kedua stasiun tersebut belum dipengaruhi oleh keberadaan buangan lindi dari TPAS tersebut. Sedangkan rendahnya nilai TDS pada stasiun V dan VI dikarenakan terjadi degradasi konsentrasi lindi akibat proses pengenceran dari Sungai Cipicung dan Sungai Cimeta. Hasil pengukuran parameter pH menujukkan derajat kemasaman yang relatif basa di seluruh stasiun penelitian (Gambar 5), namun pada Stasiun IV diperoleh nilai pH yang relatif lebih masam jika dibandingkan yang lainnya yaitu sebesar 7, 38. Stasiun IV belum terintroduksi oleh lindi yang berasal dari TPAS Sarimukti. Rendahnya nilai pH menunjukkan bahwa aktivitas domestik seperti contohnya kegiatan pertanian mempengaruhi derajat kemasaman dan 0.00 2000.00 4000.00 6000.00 8000.00 10000.00 12000.00 14000.00 16000.00 18000.00 20000.00 I II III IV V VI KonsentrasiTDS(mg/l) Stasiun Pengamatan
  • 9. 44 konsentrasi ion hidrogen dalam perairan (Khalil et al., 2011). Wardhana (2001) menyatakan bahwa perairan yang baik bagi kehidupan yaitu yang memiliki pH berkisar 6 – 7,5, sedangkan menurut Effendi (2003), perairan yang cocok bagi kehidupan biota akuatik yaitu yang memiliki kisaran pH 7 – 8,5. Berdasarkan Wardhana (2001) maka pH di lokasi penelitian berada pada batas yang baik bagi pertumbuhan biota akuatik. Berdasarkan Effendi (2003) maka pH di lokasi penelitian cocok bagi kehidupan biota akuatik. Gambar 5. pH pada Seluruh Stasiun Pengamatan Baku Mutu Air Kelas II yang terdapat pada PP No.82 Tahun 2001 menentukan Konsentrasi toleransi terhadap pH untuk peruntukkannya yaitu pada rentang 6 – 9. Derajat kemasaman pada seluruh stasiun penelitian berdasarkan PP No.82 Tahun 2001 dapat dinyatakan masih dalam batas toleransi sesuai peruntukkannya. Hasil pengukuran parameter oksigen terlarut (DO) pada Gambar 6 menunjukkan bahwa pada Stasiun II dan III yang terkena masukkan lindi 7.20 7.40 7.60 7.80 8.00 8.20 8.40 I II III IV V VI pH(unit) Stasiun Pengamatan
  • 10. 45 didapatkan oksigen terlarut yang rendah yaitu sebesar 0,13 mg/l dan 1,57 mg/l. Penurunan oksigen terlarut dikarenakan oleh proses dekomposisi (Ayala et al., 2009). Menurut pendapat Effendi (2003), penurunan oksigen terlarut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kenaikan pH (basa), tingginya dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik. Stasiun kontrol (Stasiun I dan IV) diperoleh oksigen terlarut yang tinggi. Stasiun V dan VI didapatkan oksigen terlarut yang meningkat.Tingginya oksigen terlarut pada Stasiun V dan VI tersebut menunjukkan pengaruh lindi telah berkurang secara gradual karena pengenceran dari Sungai Cipicung dan Sungai Cimeta. Gambar 6. Oksigen Terlarut (DO) pada Seluruh Stasiun Pengamatan Hasil pengukuran parameter BOD dan COD (Gambar 7) menunjukkan terjadi peningkatan nilai BOD dan COD (Stasiun II dan Stasiun III). Konsentrasi BOD dan COD pada Stasiun I masing-masing 9,93 mg/l dan 19,93 mg/l. Peningkatan konsentrasi BOD dan COD yang signifikan terjadi pada Stasiun II masing-masing 11746,67 mg/l dan 17273,33 mg/l. Konsentrasi BOD yang tinggi tersebut menunjukkan tingginya bahan organik yang harus di dekomposisi oleh 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 I II III IV V VI KonsentrasiDO(mg/l) Stasiun Pengamatan
  • 11. 46 mikroorganisme dalam perairan tersebut, termasuk lindi yang berasal dari TPAS Sarimukti. Effendi (2003) menyatakan bahwa secara tidak langsung BOD merupakan gambaran banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Gambar 7. BOD dan COD pada Seluruh Stasiun Pengamatan Tingginya konsentrasi COD pada Stasiun II dan III menunjukkan bahwa terdapat bahan organik yang sukar untuk didegragasikan secara biologis pada perairan sungai tersebut. Menurut Wardhana (2001) dan Effendi (2003) COD, jumlah bahan organik yang teroksidasi tinggi secara kimiawi terdiri dari bahan organik dapat terdegradasi secara biologis (biodegradable) dan yang sukar terdegradasi secara biologi (non-biodegradable) menjadi CO2 dan H2O (dalam fasa gas). 0.00 2000.00 4000.00 6000.00 8000.00 10000.00 12000.00 14000.00 16000.00 18000.00 20000.00 I II III IV V VI KonsentrasiBODdanCOD(mg/l) Satsiun Pengamatan BOD COD
  • 12. 47 Hasil analisis konsentrasi BOD dan COD di seluruh stasiun penelitian jika dibandingkan dengan Baku Mutu Air Kelas II dalam PP No.82 Tahun 2001 telah melampaui Konsentrasi maksimum yang ditentukan sesuai peruntukannya. Sesuai pernyataan Effendi (2003) bahwa perairan yang memiliki konsentrasi BOD dan COD tinggi sebaiknya tidak dipergunakan bagi kepentingan perikanan dan pertanian ataupun pemanfaatan lainnya seperti MCK. Hasil BOD dan COD di Stasiun I dan IV sebagai stasiun kontrol didapatkan hasil yang tidak memenuhi baku mutu. Hal ini karena bahan organik yang berasal dari aktivitas domestik di sekitarnya. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa parameter timbal (Pb) mengalami peningkatan signifikan terutama pada Stasiun II dengan konsentrasi sebesar 0,27 mg/l kemudian juga pada Stasiun III sebesar 0,12 mg/l (Gambar 8). Gambar 8. Timbal (Pb) pada Seluruh Stasiun Pengamatan Konsentrasi kelarutan timbal yang didapatkan pada Stasiun II dan III dikarenakan lindi yang berasal dari TPAS Sarimukti. Hal ini didukung dengan 0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 I II III IV V VI KonsentrasiPb(mg/l) Stasiun Pengamatan
  • 13. 48 hasil analisa logam pada kolam pengelolaan lindi TPAS Sarimukti yang diperoleh hasil analisa timbal yang tinggi pula yaitu 0,206 mg/l (Lampiran III). Keberadaan timbal yang tinggi di TPAS dikarenakan karakteristik sampah yang mengandung baterai, bahan pelapis kabel, kaleng wadah makanan (yang mengandung glaze), sisa cat dan sisa oli kendaraan bermotor (Ball, 2003 dan Environmental European Commission, 2002). Effendi (2003) menyatakan pula bahwa umumnya Konsentrasi timbal di perairan relatif kecil karena kelarutannya yang rendah dan ditemukan dalam bentuk tersuspensi, namun toksisitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah konsentrasinya, kadar oksigen dan pH. Degradasi konsentrasi lindi dan konsentrasi Pb yang berasal dari TPAS Sarimukti selanjutnya terjadi secara gradual pada Stasiun V dan VI dikarenakan proses pengendapan maupun pengenceran dari Sungai Cipicung dan Cimeta. Konsentrasi timbal pada Stasiun II, III, V dan Stasiun VI berada pada batas yang telah melampaui baku mutu. Baku Mutu Air Kelas II dalam PP No.82 Tahun 2001 bahwa Konsentrasi maksimum timbal (Pb) yaitu tidak >0,01 mg/l, sedangkan hasil pada stasiun penelitian tersebut sangat jauh melampaui Konsentrasi maksimum yang telah ditentukan. Oleh karena hal tersebut, air pada stasiun-stasiun tersebut masih dianggap terkontaminasi dan tidak memenuhi syarat untuk dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sarimukti yang berada dekat TPAS dan dilalui Sungai Cilimus (Stasiun II dan III) dan Sungai Cipicung (Stasiun V), serta Sungai Cimeta (Stasiun VI).
  • 14. 49 Hasil pengukuran parameter Fecal Coliform dan Total Coliform ditujukkan pada Gambar 9. Jumlah Fecal Coliform dan Total Coliform pada stasiun kontrol (Stasiun I dan IV) diperoleh hasil yang tinggi. Lalu mengalami peningkatan pada Stasiun II dan III kemudian terjadi penurunan di Stasiun V dan VI. Gambar 9. Fecal Coliform dan Total Coliform pada Seluruh Stasiun Pengamatan Tingginya Fecal Coliform dan Total Coliform pada stasiun kontrol tersebut karena adanya aktivitas domestik, pertanian maupun peternakan disekitarnya (Dimambro et al., 2007). Stasiun II dan III terjadi peningkatan karena berdekatan dan terkena langsung masukkan lindi dari TPAS. Penurunan pada Stasiun V dan VI terjadi karena jumlah limbah yang mulai berkurang akibat pengeceran dan jarak tempat tinggal masyarakat yang jauh dengan kedua stasiun tersebut. 0.00 50000.00 100000.00 150000.00 200000.00 250000.00 300000.00 350000.00 400000.00 450000.00 I II III IV V VI FecalColiformdanTotalColiform(MPN/100ml) Stasiun Pengamatan Fecal Coliform Total Coliform
  • 15. 50 Menurut Fardiaz (1992) dan Yu (2000), jumlah Fecal Coliform dan Total Coliform yang tinggi dapat terjadi akibat tingginya kontaminasi bakteria patogenik yang berasal dari saluran pencernaan manusia maupun hewan dan agen patogenik lainnya yang berasal dari bahan limbah pencemar seperti limbah pembuangan sampah. Menurut Baku Mutu Air Kelas II pada PP No.82 Tahun 2001, batas jumlah maksimum yang diperbolehkan terkandung dalam perairan yaitu 1000/100 ml untuk Fecal Coliform dan 5000/100 ml untuk Total Coliform, sehingga jumlah bakteri patogen pada stasiun tersebut melampaui ketentuan yang dipersyaratkan dan telah mengalami kontaminasi mikroorganisme patogenik. Hasil pengukuran parameter kualitas air Sungai Cilimus. Cipicung dan Sungai Cimeta dapat pula ditentukan status mutunya dengan menggunakan Metode Storet. Metode ini digunakan untuk mengetahui parameter-parameter yang telah memenuhi ataupun yang melampaui baku mutu air yang telah ditentukan oleh peraturan yang berlaku. Prinsip dasar dari Metode Storet adalah dengan membandingkan antara data kualitas air yang ditentukan sesuai dengan peruntukkannya (Baku Mutu Air Kelas II dalam PP No.82 Tahun 2001). Penilaian dilakukan berdasarkan sistem nilai dari US EPA (United States Environmental Protection Agency) dengan diklasifikasikan atas 4 kelas, yaitu : 1) Kelas A : baik sekali, skor = 0 → memenuhi baku mutu 2) Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10 → cemar ringan 3) Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30 → cemar sedang 4) Kelas D : buruk, skor >= -31 → cemar berat
  • 16. 51 Berdasarkan hasil perhitungan dengan Metode Storet terhadap keenam stasiun penelitian tersebut (Lampiran IX) diperoleh hasil skor pada setiap stasiun yaitu : Stasiun I = -42 (Cemar Berat); Stasiun II = -70 (Cemar Berat); Stasiun III = -71 (Cemar Berat); Stasiun IV = - 37 (Cemar Berat); Stasiun V = -57 (Cemar Berat); dan Stasiun VI = -55 (Cemar Berat). Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara umum perairan Sungai Cilimus, Cipicung dan Sungai Cimeta telah mengalami pencemaran yang terlampau tinggi, terutama pada Stasiun II dan III yang terintroduksi langsung bahan pencemar lindi. Pencemaran pada Stasiun I yang tinggi merupakan hulu sungai diakibatkan oleh tingginya aktivitas manusia pada kawasan tersebut sebagaimana yang terjadi pada Stasiun IV. Sedangkan pada Stasiun V dan VI memiliki tingkat cemaran yang tinggi meskipun tidak setinggi pada Stasiun II dan III dikarenakan kelarutan bahan pencemar telah mengalami degradasi dan pengenceran secara gradual dari Sungai Cipicung (Stasiun V) dan Sungai Cimeta (Stasiun VI). C. Perilaku Kesehatan Masyarakat Berkaitan dengan Keberadaan TPAS Sarimukti a. Pengetahuan Pengetahuan yang rendah berkenaan dengan pengetahuan tentang kesehatan terhadap keberadaan TPAS Sarimukti diperoleh bahwa sebesar 63% responden memiliki pengetahuan yang rendah dan hanya 37% responden yang memiliki pengetahuan sedang (Lampiran VI dan Gambar 10). Rendah dan sedangnya pengetahuan responden menunjukkan pula bahwa sebagian besar
  • 17. 52 masyarakat Desa Sarimukti yang berada di dekat TPAS dan yang memanfaatkan air sungai yang terkontaminasi memiliki pengetahuan yang rendah mengenai kesehatan dan sampah yang masih pada tingkat tahu (know) (Notoatmodjo, 2003), tetapi belum menuju pada kesadaran (awareness) dalam mengadopsi perilaku baru untuk memperbaiki maupun meningkatkan kondisi yang berkaitan dengan kesehatan mereka yang berkenaan dengan keberadaan TPAS Sarimukti. Sedangkan tidak diperoleh hasil reponden yang memiliki pengetahuan tinggi atau 0%, dimana hal ini dikarenakan bahwa berdasarkan hasil data umum pada kuesioner mengenai pendidikan responden diperoleh bahwa umumnya merupakan lulusan Sekolah Dasar. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu bahwa masyarakat tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai dampak negatif yang mungkin di alami oleh warga yang bertempat tinggal di sekitar TPAS baik itu mengenai dampak sampah itu sendiri ataupun penyakit dan kondisi sosial ekonomi dari pihak yang terkait. Gambar 10. Pengetahuan Masyarakat Desa Sarimukti Terhadap Keberadaan TPAS Sarimukti 63 37 0 10 20 30 40 50 60 70 Rendah Sedang Tinggi Persentase(%) Pengetahuan Rendah Sedang Tinggi
  • 18. 53 b. Sikap Sikap masyarakat Desa Sarimukti secara umum yaitu bersikap netral berkenaan dengan sikap tentang kesehatan terhadap keberadaan TPAS Sarimukti dimana diperoleh hasil kuesioner sebesar 74% responden bersikap netral dan hanya 26% responden yang bersikap positif (Lampiran VI dan Gambar 11). Sikap netral yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sarimukti terhadap keberadaan TPAS Sarimukti cenderung dikarenakan masyarakat tidak menginginkan terjadi masalah sosial diantara mereka dengan pihak pemerintah setempat, pemerintah daerah, pengelola TPAS, kepolisian dan media, meskipun dalam internal activity seperti berfikir, persepsi dan emosi tidak menyetujui keberadaan dari TPAS tersebut. Pengetahuan dalam perilaku pada hakikatnya adalah suatu aktivitas daripada manusia itu sendiri dalam mencari informasi atau sekedar tahu sehingga memiliki bentangan yang luas hingga pada kegiatan internal seperti berfikir, persepsi dan emosi (Notoatmodjo, 2003). Gambar 11. Sikap Masyarakat Desa Sarimukti Terhadap Keberadaan TPAS Sarimukti 74 26 0 10 20 30 40 50 60 70 80 Negatif Netral Positif Persentase(%) Sikap Negatif Netral Positif
  • 19. 54 Netralitas masyarakat tersebut pada kenyataannya dipengaruhi pula oleh rendahnya pengetahuan yang dimiliki sehingga masyarakat tersebut berkecenderungan terdapat keterbatasan dalam mengungkapkan pernyataan dan persepsi yang mereka miliki. Sedangkan, sikap positif yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Sarimukti menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat berkeinginan untuk menerima dan merespon hal-hal yang dapat meningkatkan ataupun memperbaiki kondisi kesehatan mereka, keinginan tersebut di dorong oleh faktor sosial ekonomi dan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan akibat dampak yang dialami dengan keberadaan TPAS Sarimukti. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa menerima dan kemudian merespon dari adanya stimulus ataupun objek yang mempengaruhi merupakan indikasi dari adanya sikap, meskipun bentuk dari respon tersebut baik ataupun salah. Sikap negatif responden tidak didapatkan karena merupakan sikap yang tidak merespon ataupun yang paling dasar yaitu tidak menerima keberadaan TPAS Sarimukti sedangkan pada kenyataannya mereka memberikan suatu respon terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan keberadaan TPAS. Sebagaimana yag dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa menerima yang merupakan tingkatan awal dari suatu sikap dipengaruhi oleh bentuk emosi untuk mau dan memperhatikan terhadap adanya suatu stimulus. Selaras itu dinyatakan oleh Allport (1954) dalam Notoatmodjo bahwa, sikap yang utuh ditentukan oleh keyakinan, berpikir, pengetahuan dan emosi serta kecenderungan untuk bertindak. Maka sikap negatif merupakan sikap yang diawali oleh tidak menerima sesuatu hal karena didasarkan oleh emosi, keyakinan dan kecenderungan untuk bertindak
  • 20. 55 yang tidak sesuai mengenai suatu stimulus ataupun objek yang mempengaruhi pembentukan sikap mereka. c. Tindakan Tindakan masyarakat Desa Sarimukti umumnya bertindak netral berkenaan dengan tindakan tentang peningkatan dan perbaikan kesehatan terhadap keberadaan TPAS Sarimukti, dimana diperoleh hasil kuesioner sebesar 94% responden bertindak netral dan hanya 6% responden yang bertindak aktif (Lampiran VI dan Gambar 12). Hal ini dikarenakan masyarakat Desa Sarimukti yang berada disekitar TPAS Sarimukti cenderung kurang melakukan tindakan dalam peningkatan maupun perbaikan kondisi keehatannya karena kurang tersedianya sarana untuk memotivasi terhadap kondisi kesehatan, fasilitas dan pelayanan berkenaan dengan keberadaan TPAS Sarimukti meskipun secara persepsi, motivasi dan emosi tidak menginginkan dampak negatif yang telah dialami dan akan terjadi dikemudian hari. Gambar 12. Tindakan Masyarakat Desa Sarimukti Terhadap Keberadaan TPAS Sarimukti 94 6 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Pasif Netral Aktif Persentase(%) Tindakan Pasif Netral Aktif
  • 21. 56 Notoatmodjo (2006) menjelaskan bahwa tindakan seorang individu maupun kelompok individu tidak akan terjadi jika tidak terdapat dorongan atau motivasi oleh faktor pendorong seperti fasilitas dan sarana yang akan mempengaruhi tindakannya, dalam hal ini promosi kesehatannya. Tindakan dalam upayanya memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kondisi kesehatannya serta memperoleh kesembuhan merupakan suatu bentuk perilaku kesehatan (Sarwono, 2007). Tindakan negatif terhadap keberdaan TPAS Sarimukti tidak diperoleh karena masyarakat berfikir mengenai terlalu tingginya resiko yang akan diterima jika tidak melakukan penentangan terhadap pihak terkait dan juga rendahnya fasilitas komunikasi yang layak bagi kegiatan mediasi antara masyarakat dan pihak terkait tersebut. Perilaku kesehatan masyarakat yang terbentuk diawali oleh upaya memperoleh pengetahuan lalu membentuk suatu sikap dan kemudian jika individu tersebut memiliki motivasi tertentu kemudian menghasilkan tindakan (praktik) yang berasal dari suatu respons masyarakat terhadap stimulus lingkungan yang mempengaruhi kesehatannya. Perilaku kesehatan yang terbentuk dalam masyarakat Desa Sarimukti mengenai keberadaan TPAS Sarimukti berdasarkan hasil crosstabulation atau tabulasi silang (Lampiran X) diperoleh sebanyak 57 orang atau 96,6% responden yang memiliki pengetahuan rendah lebih bertindak netral dan hanya 2 orang atau 3,4% responden berpengetahuan rendah lebih bertindak positif. Sedangkan sebanyak 31 orang atau 88,6% yang memiliki pengetahuan sedang lebih
  • 22. 57 bertindak netral namun hanya 4 orang atau 11,4% responden yang berpengetahuan sedang lebih bertindak positif. Hasil tabulasi silang tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat hanya memiliki pengetahuan yang sebagaian besar berpengetahuan rendah meskipun terdapat beberapa masyarakat yang telah memperoleh sedikit informasi melaui media cetak maupun sarana informasi lainnya terhadap keberadaan TPAS Sarimukti dan cenderung membatasi besarnya pengetahuan, bentuk sikap dan kemudian tindakan mereka sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi kesehatannya, selain itu masyarakat kurang memberikan respon dalam bentuk tindakan (praktik), hal tersebut hanya akan dilakukan jika terdapat stimulus dan motivasi dalam perbaikan kondisi kesehatannya, sebagai contoh yaitu seperti partisipasi mereka dalam penyediaan air bersih dan partisipasi dalam puskesmas gratis yang dilakukan oleh pihak pengelola TPAS, pemerintah daerah dan puskesmas setempat. Berdasarkan pendapat Notoatmodjo (2006), perilaku kesehatan merupakan upaya peningkatan dan perbaikan kondisi kesehatan secara internal maupun eksternal terhadap sakit dan penyakit, kesehatan lingkungannya, dan pelayanan dan fasilitas kesehatan yang mempengaruhinya. Perwujudan perilaku kesehatan dalam bentuk tindakan yang nyata terhadap suatu kondisi tertentu yang dimulai pada tingkatan persepsi dan kemudian memberikan suatu respon terpimpin (Guided Respons) jika terdapat dorongan atau motivasi yang menyertainya. Hasil tabulasi silang antara sikap dengan tindakan (Lampiran X) diperoleh bahwa 66 orang atau 94,3% responden yang memiliki sikap netral akan lebih
  • 23. 58 bertindak netral. Sedangkan 22 orang atau 91,7% responden memiliki sikap positif dan bertindak netral, namun hanya 2 orang atau 8,3% responden yang memiliki sikap positif dengan tindakan yang lebih positif. Sikap netral terhadap keberadaan TPAS Sarimukti dengan tindakannya yang netral tersebut berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa responden tersebut terjadi karena sebagian besar masyarakat merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup secara sosial-ekonomi untuk merubah keadaan yang ada di lingkungan mereka dan sangat mengharapkan terhadap peran dari pihak pemerintah setempat untuk dapat menyalurkan aspirasi mereka dan sangat mengharapkan terhadap peran dari pihak pemerintah setempat untuk dapat menyalurkan aspirasi mereka. Kurang aktif dan interaktifnya pemerintah setempat dengan masyarakat yang dipimpinnya mengakibatkan kurangnya pertukaran informasi dan penyuluhan mengenai kesehatan lingkungan yang ada dengan adanya keberadaan TPAS Sarimukti tersebut. Selain itu, kurangnya motivasi dan ikatan emosional antara pemerintah setempat, pemerintah daerah serta pihak pengelola TPAS Sarimukti dimana kurang perduli dengan keadaan lingkungan yang ada di kawasan tersebut dan hanya sebatas birokrasi serta pemenuhan kompensasi dampak. Pembentukan perilaku kesehatan merupakan suatu respon yang nampak (overt behavior) terhadap faktor yang mempengaruhinya dengan diindikasikan oleh tindakan terhadap perbaikan, penjagaan maupun peningkatan kondisi kesehatannya dengan diawali oleh proses pencarian informasi dan ilmu sebagai proses pengetahuan yang kemudian terbentuk suatu sikap yang terinternalisasi.
  • 24. 59 Berdasarkan hubungan silang antara pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Sarimukti dengan tindakannya terhadap keberadaan TPAS Sarimukti menunjukkan bahwa perilaku masyarakat yang berinteraksi langsung dengan TPAS Sarimukti lebih bertindak netral dikarenakan keterbatasan pengetahuan mereka terhadap upaya penjagaan, perbaikan dan peningkatan kondisi kesehatan mereka akibat keberadaan TPAS Sarimukti. Selaras dengan keterbatasan pengetahuannya tersebut sikap yang terbentuk lebih pada sikap yang netral, berdasarkan hasil wawancara terhadap Ketua RW 2 Desa Sarimukti (Bapak Amad) yang merupakan kawasan terdekat dengan TPAS Sarimukti menyatakan bahwa kegiatan mediasi dan komunikasi antara masyarakat dengan pihak-pihak yang terkait sangat terbatas dan tidak berjalan dengan baik sehingga alur persepsi masyarakat terhadap dampak keberadaan TPAS Sarimukti dengan upaya pengurangan dampak yang dilakukan oleh pihak terkait cenderung tidak efektif. Akibat dari hal tersebut yaitu masyarakat cenderung tidak bersikap negatif untuk tidak menimbulkan masalah dengan pihak terkait namun tidak pula bersikap positif karena dampak yang diterima kenyataannya masih dirasakan oleh mereka terutama kondisi kesehatan mereka akibat dampak yang dihasilkan oleh TPAS Sarimukti tersebut. Hal tersebut selaras dengan pendapat Scott (1989) yang menyatakan bahwa aksioma “dahulukan selamat” merupakan suatu konsekuensi logis dari suatu ketergantungan ekologis masyarakat dengan sosial ekonomi yang rendah dimana mengandung preferensi relatif bagi kepastian subsistensi diatas keadaan ekonomi yang sangat tinggi saat ini. Oleh karena itu, masyarakat Desa Sarimukti
  • 25. 60 cenderung berperilaku netral dengan mencari opsi-opsi yang relevan dengan kondisi mereka meskipun dampak yang dihadapi secara faktual sangat tidak menguntungkan baik dari kondisi kesehatan maupun keberlanjutan keadaan sosial ekonominya dan politik yang mempengaruhi (Beranek, 1992). D. Hubungan antara Kualitas Air Sungai dan Perilaku Kesehatan Masyarakat Berkaitan Keberadaan TPAS Sarimukti Kualitas air pada Sungai Cilimus, Cipicung dan Sungai Cimeta yang tercemar dalam kondisi yang berat dipengaruhi oleh introduksi lindi yang dihasilkan oleh TPAS Sarimukti. Sedangkan pada stasiun kontrol yang berada pada Sungai Cilimus dan Cipicung yang belum terkena masukkan lindi telah mengalami pencemaran karena kegiatan domestik yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sarimukti. Pengetahuan masyarakat yang rendah dan sikapnya yang tidak menolak maupun menerima keberadaan TPAS Sarimukti tersebut berpengaruh pada perilaku kesehatan masyarakat dalam memanfaatkan air sungai yang tercemar berat tersebut. Perilaku kesehatan masyarakat terhadap dampak pencemaran air sungai yang mereka manfaatkan untuk kegiatan MCK sehari-hari cenderung dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan rendahnya pengetahuan mengenai bahaya, dampak serta upaya penjagaan maupun peningkatan kesehatan terhadap keberadaan TPAS. Meskipun sebagian besar masyarakat bersikap tidak menyetujui keberadaan TPAS Sarimukti yang mempengaruhi kualitas air sungai yang mereka manfaatkan namun mereka tidak dapat pula menolak keberadaan TPAS tersebut dikarenakan faktor internal (seperti tingkat pendidikan, jenis
  • 26. 61 pekerjaan, biaya dan waktu) dan faktor eksternal seperti tekanan pihak pengelola, rendahnya proses mediasi dan kurangnya sarana maupun prasarana untuk mengurangi beban dampak yang dihasilkan oleh keberadaan TPAS. Kualitas air sungai yang tercemar berat oleh lindi dan berdampak pada kesehatan masyarakat nampak dengan timbulnya penyakit seperti diare dan dermatitis yang dialami oleh masyarakat Desa Sarimukti (Lampiran II), dimana hal tersebut tidak selaras dengan perilaku masyarakat terhadap penjagaan dan peningkatan kondisi kesehatannya dengan masih memanfaatkan air sungai tersebut untuk kegiatan MCK. Rendahnya ketersediaan air yang memadai untuk memenuhi kegiatan tersebut dan jauhnya jarak lokasi sumber air lain merupakan faktor pendorong lain yang mempengaruhi pemilihan masyarakat dalam memanfaatkan air sungai yang telah tercemar lindi dari TPAS Sarimukti tersebut.

×