K3
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

K3

on

  • 12,067 views

 

Statistics

Views

Total Views
12,067
Views on SlideShare
12,065
Embed Views
2

Actions

Likes
5
Downloads
473
Comments
2

2 Embeds 2

http://www.slideshare.net 1
http://www.facebook.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Sangat bermanfaat matur nuwun
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Matur sembah nuwun file presentasinipun, mugi dados amal kesaenan panjenengan..... amin...
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

K3 Document Transcript

  • 1. TUGAS KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)<br /> <br />center184038<br />Oleh:<br />Dinar Resita C (0932010027)<br />Paralel B<br />Jurusan Teknik Industri<br />Fakultas Teknologi Industri<br />Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur<br />2010<br />
    • Teknik Pencegahan Kecelakaan KerjaKesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
    • 2. TEKNIK PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA
    Didekati dengan 2 aspek:<br />
    • Aspek perangkat keras (peralatan, perlengkapan)
    • 3. Aspek perangkat lunak (manusia)
    • 4. Aspek perangkat keras (peralatan, perlengkapan)
    • 5. Bekerja di ketinggian
    Kontrol yang berkaitan dengan bekerja di ketinggian atau pada ruang tertutup/confined space (mis. ijin kerja, penilaian resiko pekerjaan) akan efektif untuk mengurangi cidera dengan meningkatkan kesadaran akan bahaya, menjamin diterapkannya metode kerja yang benar dan pastikan bahwa peringatan yang sesuai telah dikomunikasikan. Penggunaan wajib dari berbagai peralatan keselamatan (harness, safety nets) yang dipastikan untuk melindungi pekerja dari kemungkinan terjatuh, meminta perijinan dan inspeksi secara rutin di tempat kerja biasanya merupakan metoda yang umum dipergunakan ( lihat appendix untuk datasheet Working at height)<br />Tangga<br />
    • Tangga utama hanya untuk akses
    • 6. Sebelum dipergunakan, pastikan apakah tangga dalam kondisi baik
    • 7. Tangga harus terikat dan berpijak pada alasnya
    • 8. Tangga harus diperpanjang1 (satu) meter di atas platform sebagai pegangan tangan saat naik/turun.
    • 9. Sebagai pemandu sudut, tangga harus “one out every four up”.
    Scaffolding/perancah<br />
    • Semua perancah harus didirikan, diubah atau dibongkar oleh ahli perancah yang terlatih , kompeten dan mempunyai sertifikat.
    • 10. Peralatan pelindung jatuh (fall arrest) harus dipergunakan oleh ahli perancah. jika bekerja di atas 4 meter dengan sisi yang tidak terlindung (untuk pekerja lain, batas ini biasanya hanya 2 meter)
    • 11. Perancah harus diinspeksi oleh orang yang kompeten dan pelaporan hasil inspeksi terdata pada buku log perancah.
    • 12. Sebelum penggunaan pertama
    • 13. Setelah perubahan yang substansial
    • 14. Setelah angin besar atau tumbukan
    • 15. Jangka tertentu yang tidak melebihi 7 (tujuh) hari.
    • 16. Jangan pergunakan dan bekerja dengan perancah kecuali luas platform perancah tersebut minimal 4 board, dilengkapi dengan handrail, intermediate rail dan toe board .
    • 17. Pekerjaan ringan dapat dilakukan tanpa handrail tetapi diperlukan penggunaan full harness yang dapat dikaitkan pada anchor
    • 18. Akses harus dilengkapi dengan tangga yang aman
    • 19. Jangan memindahkan board perancah, handrail atau anchor untuk menjalankan kegiatan.
    Perubahan hanya dibuat oleh scaffolder yang mempunyai kompetensi.<br />Perancah Bergerak (Mobile scafoold tower)<br />
    • Dioperasikan oleh tenaga yang terlatih, kompeten, dan mempunyai sertifikat yang sesuai.
    • 20. Dioperasikan di landasan tanah yang rata dan kuat, terbebas dari adanya pekerjaan di bawah tanah.
    • 21. Area kerja di bawah – sekitarnya ditandai dengan lingkaran atau alat/tanda yang sesuai.
    • 22. Platform dilengkapi dengan handrail, intermediate rail dan toeboard.
    • 23. Akses menuju platform harus malalui tangga internal.
    • 24. Bekerja pada Permukaan Tambang
    Driller dan tenaga pembuat lubang ledakan (loading shotholes) bekerja berdekatan dengan sisi permukaan tambang, walaupun mereka telah bertindak secara hati-hati saat berada di lokasi, suatu bentuk perlindungan sisi permukaan tambang tetap diperlukan. Sistem yang direkomendasikan seperti penggunaan strapping/pengikat antara tiang alumninium yang terikat secara kuat, tiang galah dan pengikatnya juga dapat dipergunakan untuk menangani situasi di mana seseorang mungkin harus mendekat ke arah barrier. Standar kerja aman, untuk menggabungkan semua kegiatan harus tersedia untuk tim pekerja/pengawas keselamatan. Setiap pekerja mungkin perlu menggunakan harness dan harus dilatih untuk penggunaannya.<br />Penggunaan Safety harneses<br />5334120015<br />Semua safety harnesses (termasuk yang digunakan oleh kontraktor) harus dicek sebelum dipergunakan untuk item berikut:<br />
    • Terdapat label yang dapat dilacak dan dilekatkan sesuai keperluan pada alat tsb.
    • 25. Pengecekan jaring dan tali temali :
    • 26. Kemungkinan adanya lubang atau sobekan
    • 27. Dipergunakan secara berlebihan
    • 28. Terbakar atau terkena zat kimia
    • 29. Serat telah mengeras/kaku
    • 30. Bagian jahitan terbebas dari lubang.
    • 31. Pengecekan fitting logam :
    • 32. Adanya sisi yang tajam
    • 33. Cara penggunaan yang berlebihan
    • 34. Pengoperasian yang kurang benar
    • 35. Adanya distorsi/kerusakan
    • 36. Jangan gunakan peralatan ini untuk aktifitas yang akan merusaknya mis. Jangan mematahkan lanyard.
    Jika peralatan dalam kondisi basah-lembab , keringkan di lokasi dengan ventilasi yang baik dan jauhkan dari sumber panas secara langsung.<br />
    • Aspek perangkat lunak (manusia)
    • 37. Keselamatan Mengemudi
    Golden Rule :<br />Semua kategori kendaraan, termasuk self propelled mobile plant, tidak boleh<br />dioperasikan kecuali :<br />
    • Kendaraan sesuai dengan tujuannya, dilakukan inspeksi dan konfirmasi sesuai dengan standar kerja yang aman (SOP).
    • 38. Jumlah penumpang tidak boleh melebihi spesifikasi desain pabrik kendaraan tersebut.
    • 39. Muatan aman dan tidak melebihi spesifikasi desain pabrik atau batas legal untuk kendaraan
    • 40. Sabuk pengaman dipasang dan dipergunakan oleh semua penumpang.
    • 41. Helm keselamatan (safety helmet) dipakai oleh pengendara dan penumpang sepeda motor, sepeda, quad, snow-mobile dan kendaraan yang sejenis
    Pengemudi tidak diberi wewenang untuk mengoperasikan kendaraan kecuali :<br />
    • Mereka sudah terlatih, mempunyai sertifikat dan secara medis sehat untuk mengoperasikan kendaraan
    • 42. Mereka tidak di bawah pengaruh alkohol, obat-obatan , atau menderita kelelahan/fatigue
    • 43. Mereka tidak menggunakan handphone atau radio saat mengemudi (praktek terbaik adalah dengan mematikan semua telpon dan radio 2(dua) arah saat mengemudi)
    Selalu mengemudi secara waspada<br />Beberapa pengemudi kendaraan berpikir bahwa dengan mengetahui tehnik mengemudi dasar seperti mengubah gear, mengerem dan berputar sudah cukup untuk dipertimbangkan sebagai pengemudi yang baik. Hal ini salah karena untuk menjadi pengemudi yang aman, anda memerlukan bukan hanya tehnik tetapi juga tanggung jawab dan sikap profesional berhubungan dengan apapun yang terjadi saat mengemudi; apakah ini berhubungan dengan kita sendiri, dengan kondisi jalan, pengemudi lain, pejalan kaki dan kondisi cuaca ( lihat appendix untuk datasheet Safe Driving).<br />Pengemudi yang baik<br />Beberapa aktifitas guna mendorong anda mengemudi secara benar adalah :<br />Perhatian :<br />Ini berarti selalu waspada pada apa yang tejadi atau dapat terjadi, bukan hanya apa yang anda lakukan, tetapi juga apa yang dilakukan pengemudi lain atau orang lain di sekitarnya.<br />Akuntabilitas : bertanggung jawab untuk konsekuensi yang mungkin terjadi dari tiap tindakan atau kejadian, ini berarti mengambil keputusan yang benar dan tepat waktu, sesuai dengan situasi yang ada.<br />Tetap tenang :<br />Tetap tenang dan kalem , bahkan saat berada di bawah provokasi eksternal. Jangan melarikan diri.<br />Peringatan : Cintalah kehidupan, kehidupan kita dan kehidupan orang lain, hal ini akan mengarahkan kita untuk mengemudi dengan hati-hati, memberikan hak pejalan kaki, kendaraan emergensi , dll.<br />Taati rambu-rambu di jalan :<br />Mengetahui dan selalu mentaati rambu-rambu jalan, bahkan jika tidak ada kendaraan lain di dekat kita. Ini akan mencegah kecelakaan yang mungkin saja terjadi . Operasikan dan pelihara kendaraan anda dengan benar; kegagalan tehnik apapun akan menghabiskan waktu dan uang. Cidera yang diakibatkan oleh kegagalan mekanis dapat mengarah pada resiko yang bersifat fatal.<br />
    • Tergelincir, Tersandung dan Jatuh (slips, trips, and falls)
    Tergelincir, tersandung dan terjatuh adalah penyebab umum yang lain dari cidera dalam industri, hal ini dapat terjadi di/dari permukaan yang tidak rata pada lokasi penambangan dan jalan atau adanya masalah dengan housekeeping yang kurang baik di area kerja. Sebagaimana hasil dari analisa kecelakaan, tergelincir, tersandung dan terjatuh menyebabkan hampir 30% dari cidera (lihat catatan untuk slips, trips and falls prevention policy). Kemungkinan tergelincir, tersandung dan terjatuh dapat dikurangi melalui prosedur housekeeping sederhana sebagai berikut:<br />
    • Jaga tempat kerja agar selalu tetap rapi
    • 44. Pergunakan tempat pembuangan scrap dan sampah yang tersedia.
    • 45. Tata letak dan tata ruang yang rapi dapat menghindarkan kemungkinan cidera
    • 46. Pekerjaan tidak dapat dianggap selesai sampai Anda selesai merapikannya.
    • 47. Housekeeping yang baik mengarah pada keselamatan secara lebih luas.
    • 48. Tumpuk dan tatalah material pada posisi yang stabil dan kokoh
    • 49. Letakkan alat dan peralatan lain untuk menghindari terjatuh atau menjatuhi orang di bawahnya
    • 50. Pasang rambu-rambu dengan jelas di pagar atau penutup lubang di lantai, atap atau tanah.
    • 51. Rapikan dan bersihkan gang, jalan setapak, jalan dan tangga dari penghalang.
    • 52. Setiap pekerjaan penggalian di area kerja harus diberi tanda/dikelilingi dengan handrail.
    • 53. Menyediakan toeboard dan railing pada semua perancah dan platform.
    • 54. Saat bekerja di ketinggian singkirkan semua material yang dapat terlepas seperti baut, mur, pearalatantools, kayu-kayu,dll jika pekerjaan telah selesai.
    • 55. Jangan pernah melemparkan alat atau material, pastikan disampaikan dari tangan ke tangan
    • 56. INGAT, sebuah mur atau baut yang terjatuh dari ketinggian dapat membunuh seseorang.
    • 57. Manual Handling
    Karena sifat suatu tugas yang kadang berulang terkait dengan produksi semen, penting untuk menjamin bahwa telah diberikan pelatihan yang benar pada karyawan mengenai manual handling ( lihat appendix untuk Manual Handling procedure).<br />
    • Pertama kenali pekerjaan, jika anda pikir beban tersebut terlalu berat mintalah bantuan atau gunakan keran (crane) atau forklift.
    • 58. Perhatikan sisi yang tajam, pecahan atau paku
    • 59. Lepaskan atau tekan paku yang ada sebelum anda melewati material tersebut atau membuangnya.
    • 60. Jangan mencoba membawa beban yang anda tidak dapat memikulnya dan singkirkan dahulu penghalang yang ada sebelum mengangkat barang tersebut.
    • 61. Tumpuk barang dengan hati-hati dan rapi di truk atau trailer
    • 62. Saat mengangkat beban yang berat, pergunakan kaki anda sebanyak mungkin untuk menopang otot punggung anda.
    • 63. Pastikan ada pegangan yang cukup kuat untuk bahan tertentu.
    • 64. Jaga punggung anda tetap lurus dan menghadap ke depan
    • 65. Lenturkan dan tekuk lutut anda
    • 66. Ambil posisi yang stabil, angkat dengan kokoh dan jangan memelintirkan badan anda.
    • 67. Saat mengangkat atau membawa suatu peralatan, perhatikan titik beban.
    • 68. Manajemen KesehatanKesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
    2. MANAJEMEN KESEHATAN<br />2.1 Issue Kesehatan<br />Bahaya kesehatan penting yang mungkin memiliki dampak kesehatan, terkait dengan industri dan kegiatan lain dari aktivitas industri yang khas :<br />
    • Debu yang berada dan melayang di udara
    • 69. Kebisingan dan getaran
    • 70. Atmosfir yang berbahaya
    • 71. Radiasi
    • 72. Penanganan bahan bakar alternatif
    Beberapa isu kesehatan lain yang juga mungkin dihadapi, tapi tidak secara langsung terkait dengan aktivitas industri adalah :<br />
    • Kebiasaan merokok dan ketergantungan alcohol/obat terlarang
    • 73. Penyakit tekanan darah tinggi
    • 74. Diabetes / kencing manis
    • 75. Asupan makanan dan kegemukan/obesitas
    • 76. Stres dan kesehatan mental
    • 77. Heat stress atau cold stress
    • 78. Penyakit jantung
    • 79. Penyakit lain seperti HIV/AIDS, tipus, malaria
    2.2 Panduan isu Kesehatan Kerja yang spesifik<br />2.2.1 Debu di udara<br />Produksi semen memungkinkan untuk menghasilkan debu, yang bila tanpa kontrol yang kuat dapat menimbulkan penyakit saluran napas. Penelitian yang dilakukan oleh HSE di Inggris (1994) dan INRS di Norwegia ( 2002) tidak menemukan bukti yang mendukung adanya hubungan sebab akibat antara pajanan debu semen dengan timbulnya kanker pada para pekerja semen, walaupun ada beberapa indikasi terjadi Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Jelaslah bahwa merupakan hal yang baik untuk membatasi tingkat debu dan pajanan terhadap karyawan, baik dengan istilah kesehatan kerja ataupun housekeeping yang baik. Pelindung pernapasan yang memadai harus dipergunakan di mana pekerjaan harus<br />dilakukan di lokasi yang berdebu di pabrik.<br />2.2.2. Kebisingan dan getaran<br />Sumber utama kebisingan adalah lokasi penggilingan. Deflektor kebisingan dan peredam suara saat ini dapat dipergunakan untuk mengurangi tingkat kebisingan, penting untuk diingat bahwa pekerja di bagian pemeliharaan dan petugas kebersihanlah yang paling banyak mendapat resiko dari pajanan ini. Alat pelindung diri (APD) dari pajanan di atas yang disempurnakan dapat membantu mengurangi efeknya. Getaran yang diterima tubuh secara menyeluruh (whole body vibration) adalah isu lain yang juga dibicarakan dalam agenda keselamatan. Pekerja yang mengemudikan peralatan berat yang tua dapat terpajan oleh getaran, tetapi resikonya lebih kecil dibandingkan dengan industri lain seperti pertambangan atau kegiatan konstruksi, dimana peralatan yang menimbulkan getaran ( mis. jack-hammer) umum dipergunakan. Peralatan bergerak (mobile equipment) yang modern mengkombinasikan vibrasi dengan dudukan dan kabin penyekat untuk mengurangi resiko. Batas kebisingan dan getaran sesuai rekomendasi dari EU telah direvisi untuk mengurangi pajanan dari getaran badan secara keseluruhan (whole body vibration) di lokasi kerja dan dari peralatan yang digunakan. Parlemen Eropa memberikan suara pada Physical Agents ( for vibration) Directive dan amandemennya mengusulkan batas eksposure 0.8 metre/sec/sec telah diterima, di mana hal ini akan membatasi lamanya pekerja untuk dapat mengoperasikan mesin. Tingkat desibel yang diijinkan juga sedang dievaluasi; APD akan dipersyaratkan untuk digunakan pada tingkat kebisingan di atas 80 dB(A) dan 112 Pa, bandingkan dengan tingkat sebelumnya yaitu 85 dB(A) dan 200Pa. (lihat appendix untuk tabel dari semua tingkat kebisingan).<br />Guna perlindungan dari kebisingan, adalah perlu bila tingkat kebisingan melebihi yang ditentukan untuk memberikan dan menggunakan pelindung pendengaran yang sesuai bagi pekerja. Kegagalan untuk melakukan perlindungan, akan menyebabkan berkurangnya pendengaran secara bertahap. (lihat apendik untuk kebijakan APD untuk kebisingan). Banyak Perusahaan secara rutin melakukan monitoring fungsi pendengaran karyawan untuk menjamin penurunan yang terjadi tidak melebihi penurunan yang seharusnya terjadi karena proses usia yang alamiah. <br />2.2.3. Atmosfir-udara yang berbahaya<br />Dalam kasus industri semen, hal ini dapat timbul pada :<br />
    • Area batubara dan petroleum coke mill, dimana partikel halus yang terbawa ke udara dapat menimbulkan bahaya ledakan.
    • 80. Kiln dan siklon raw mill serta ducting dimana gas yang dihasilkan selama proses yang tidak dapat keluar bisa menyebabkan berkurangnya oksigen selama pekerjaan pemeliharaan dilakukan.
    Bekerja di area proses batubara atau petroleum coke :<br />
    • Kuantitas batubara atau petroleum coke memungkinkan proses yang dapat menyala sendiri, dengan resiko terjadinya kemungkinan ledakan - hindari ceceran dan jika mungkin- bersihkan ceceran secepatnya
    • 81. Campuran debu batubara atau debu arang serta udara, berpotensi untuk meledak dan membawa kemungkinan terjadi ledakan hebat - hindari terbentuknya awan debu - jauhkan sumber api seperti batubara yang menyala, bunga api, pengelasan, listrik statis, merokok, dll.
    • 82. Merokok sangat dilarang di seluruh area pemrosesan batubara.
    • 83. Menjamin bahwa pembumian ke tanah yang diperlukan telah tersedia sebelum mengoperasikan vacuum cleaning.
    2.2.4. Bahaya radiasi<br />Dapat timbul jika dipergunakan peralatan nuklir tingkat rendah seperti indikator level silo atau hopper.<br />Panduan berikut ini wajib diterapkan :<br />
    • Tidak ada seorangpun, kecuali seprti yang telah dijelaskan setiap saat oleh Petugas Proteksi Radiasi (PPR), dapat mendekat ke garis lingkar sekitar sumber radioakatif.
    • 84. Tidak seorangpun boleh memasuki vessel di mana terpasang sumber radioaktif. Jika diperlukan untuk masuk ke dalam vessel tsb. seseorang harus menunggu sampai PPR menyatakan bahwa sumber tersebut telah diamankan.
    • 85. Hanya pemasok yang khusus, diperbolehkan untuk memindahkan atau melengkapi kembali suatu sumber radioaktif dan PPR harus mendapat informasikan sebelum pemasok melakukan kegiatan tersebut.
    2.2.5. Kesehatan Lingkungan<br />Bahan mentah yang ada dalam industri, mungkin mengandung sejumlah elemen berbahaya seperti merkuri, thallium, yodium, kadmium dan logam berat lainnya. Emisicerobong asap perlu dimonitor jika terdapat elemen ini; umumnya terindikasi hasil yang sangat rendah (referensi standard WHO) dan karenanya dianggap tidak menimbulkan bahaya kesehatan bagi karyawan atau penduduk di sekitar pabrik<br />2.2.6. Penanganan Bahan Bakar Alternatif<br />Pencegahan spesifik yang berkaitan dengan berbagai jenis bahan bakar alternatif adalah sebagai berikut :<br />Plastik : daur ulang plastik, secara normal dilakukan dalam bentuk potongan dan<br />menggunakan sistem pengiriman secara pneumatik. Perlu dipertimbangkan kaitannya dengan debu dimana diperlukan pelindung mata, masker dan juga pakaian yang menutup sekujur tubuh ; silo logam dan penghubung (duct) memerlukan pembumian elektrik untuk mencegah terjadinya bahaya ledakan.<br />Upaya perlindungan dari kebakaran juga diperlukan, yang dilengkapi dengan prosedur evakuasi dalam kasus kebakaran, karena uap asap yang dihasilkan dapat bersifat racun.<br />Solvent : daur ulang pelarut, contoh perlu diteliti terutama saat pengambilan karena komposisi kimia dan fisikanya sangat bervariasi, hal ini penting untuk menentukan jenis pencegahan efek kesehatan yang mungkin terajdi. Umumnya pelarut bersifat racun dan mudah terbakar oleh karenanya pencegahan dari efek kesehatan harus diberlakukan sama dengan apa yang digunakan di industri lain seperti kimia atau farmasi. Transportasi ke dalam pabrik dan penyimpanan harus dirancang untuk memastikan keamanan, penanganan secara otomatis, pelindung dari ceceran, api atau ledakan, dan rencana penanganan keadaan darurat yang terkait. Prosedur kesehatan kerja mensyaratkan tersedianya pelindung mata, masker pernapasan dan pakaian pelindung untuk sekujur tubuh.<br />Oli Bekas : kandungan PCB pada penggunaan oli bekas perlu dicek untuk menentukan dengan tepat pencegahan yang diperlukan. Persyaratan umum lainnya, sama dengan persyaratan untuk pelarut-pelarut di atas diikuti dengan cara pencegahan kesehatannya.<br />Limbah Fotografi : limbah cair fotografi kadangkala digunakan untuk mengurangi NOx melalui SNCR (Selective Non-Catalytic Reduction). Masalah kesehatan yang utama adalah terhadap kulit dan mata, karenanya peringatan yang diutamakan adalah penggunaan pelindung mata dan sarung tangan.<br />Emulsi Oli : secara umum persyaratan sama halnya dengan oli.<br />Endapan kotoran : endapan kotoran umumnya diolah terlebih dulu dengan<br />kemungkinan adanya infeksi yang bersifat biologis, perlu penekanan guna pencegahan terhadap adanya kontak kulit dan penggunaan pelindung kulit (sarung tangan dan pakaian yang sesuai), diikuti oleh peningkatan higiene karyawan. Perlu diwaspadai adanya resiko kebakaran.<br />Lemak Binatang : lemak binatang perlu diolah terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan resiko infeksi CJD (turunan dari Mad Cow disease). Sama halnya seperti untuk endapan kotoran , pencegahan utama meliputi pencegahan terhadap kontak kulit dan peningkatan higiene karyawan.<br />Bubuk berasal dari daging dan tulang : diperlukan penanganan yang sama dengan lemak binatang, rekomendasi tambahan guna meminimalkan terjadinya resiko infeksi yaitu dengan selalu menjaga material dalam kondisi kering.<br />Panduan umum lain adalah :<br />Semua pekerja operasional wajib memiliki pengetahuan yang menyeluruh mengenai tatacara pengoperasian yang sesuai dan kompeten dalam penggunaan AFR untuk kondisi operasi normal, startup, shutdown dan situasi darurat.<br />Pekerja tersebut wajib mendapat pemberitahuan mengenai bahaya, bagaimana prosedur yang benar, efeknya bagi kesehatan dan rekomendasi untuk penanganan keadaan darurat.<br />Monitoring kesehatan yang spesifik, dan penelitian lebih detail (mis. pembiakan) jika diperlukan harus dipertimbangkan. Lembar Keselamatan (Material Safety Datasheet = MSDS) harus tersedia di area.<br />
    • Analisis Kecelakaan dalam PerusahaanKesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
    • 86. ANALISIS KECELAKAAN DALAM PERUSAHAAN
    • 87. Perkebunan
    • 88. Hasil studi ini  menunjukkan bahwa kecelakaan kerja diperkebunan terkait dengan bentuk operasi kerja di perkebunan mulai dari proses replanting, penanaman, pemeliharaan tanaman  sampai proses produksi. Temuan penting menunjukkan bidang kerja yang paling rentan terhadap resiko kecelakaan  adalah buruh bagian pemanen, bagian penyemprotan hama dan pemupukan.
    • 89. Bentuk kecelakaan kerja di perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet adalah tertimpa pelepah dan buah, mata terkena kotoran dan tatal (getah) bagi buruh bagian panen dan pembersihan lahan.Terkena tetesan gromoxone, roun-dup dan terhirup racun pestisida, fungisida dan insektisida terutama pekerjaan yang berhubungan dengan penyemprotan.
    • 90. Bentuk kecelakaan kerja tersebut berdampak pada resiko cacad anggota tubuh seperti mata buta bagi pemanen buah sawit dan penderes karet, cacad kelahiran terutama bagi wanita penyemprot, bahkan menumui ajal ketika tertimpa  tandan buah sawit (TBS).
    • 91. Kerakteristik penyebab umum kecelakaan antara lain tempat kerja (ancak) yang tidak rata (berbukit), pohon sawit/karet yang bengkok, pohon karet/sawit yang relatif tinggi, bersemak lebat, ancak berlobang dapat dikategorikan lingkungan kerja yang tidak aman dalam arti resiko tinggi terhadap kecelakaan.
    • 92. Penyebab terperinci, berdasarkan analisis kronologis diakibatkan oleh kelalaian buruh, kekurang terampilan, alat kerja serta pelindung kerja yang tidak cukup dan mandor pengawas tidak punya standart operasi pengawasan, serta tidak ada pengawasan  sewaktu buruh bekerja  dapat dikategorikan perilaku yang tidak aman.
    • 93. Penyebab pokok adalah perusahaan mengabaikan tanggung jawab K-3;tidak mensosialisasikan keselamatan kerja kepada buruh menyebabkan rendahnya kesadaran buruh atas keselamatan kerja, tidak pernah melatih pekerja terampil manjaga keselamatan kerja, upah yang rendah, pekerja memacu kerja demi premi sehingga mengabaikan aspek keselamatan kerja, serta target kerja (beban kerja) tinggi tidak diimbangi oleh pola makan (gizi) yang cukup.
    • 94. Fakta dilapangan dari 6 perkebunan besar disumatera utara, ditemukan 47 kasus kecelakaan terindentifikasi selama 4 bulan terakhir (Jan  sampai April 2008). 47 kasus tersebut, 32 (68,08%) korban diantaranya dikategorikan kecelakaan ringan seperti tertusuk duri sawit, ketimpa pelepah, gigitan serangga berbisa dan keseleo akibat jalan licin. 11 (23,40%) cacat  kebanyakan cacat mata (mengecil, mengalami rabun bahkan buta)   kena tatal (getah karet) yang sudah terkontaminasi dengan zat kimiawi, kotoran berondolan sawit dan tertimpa tandan buah segar, tubuh terkena bahan (TBS) kimiawi beracun akibat tingginya interaksi pada saat penyemprotan   dan 2 orang buruh (4,25)  jiwanya melayang, 1 orang  kena sengatan listrik dan 1 orang lagi tertimpa tandan buah segar waktu memanen.
    • 95. Perusahaan Batubara
    Salah satu kecelakaan yang terjadi di cina adalah kecelakaan yang terjadi pada sabtu malam pukul 20.03 waktu cina di salah satu tambang batubara di provinsi Shaanxi yaitu tambang batubara Xio Nan Gou. Kecelakaan ini bukanlah kecelakaan satu-satunya yang terjadi di Cina pada tahun ini namun merupakan kecelakaan puluhan kalinya. Tercatat ahad paginya sudah terjadi lagi kecelakaan tambang di tempat yang lain. Kecelakaan tambang batubara Xio Nan Gou menewaskan 28 pekerja tambang. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kecelakaan yang terjadi di tambang Haujin Cooking Coal yang menewaskan 161 pekerja tambang. Tentu ini sungguh ironis bagi dunia pertambangan cina. Saat ini dunia telah mengecam bahwa dunia pertambangan cina merupakan pertambangan dengan resiko yang tinggi. Maka dari pada itu penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini. Penulis akan mencoba menganalisis factor-faktor penyebab kecelakaan yang terjadi tambang batubara Xio Nan Gou sebagai objek untuk mengetahui kesalahan-kesalahan di dunia pertambangan cina. Penulis akan menguraikan factor-faktor penyebab kecelakaan di tambang batubara Xio Nan Gou kedalam empat factor yaitu factor manusia, peralatan, material, dan SOP. Sehingga dengan analisis empat factor ini kita bisa mengetahui dimana letak permasalahan di dunia pertambangan cina. Berikut ini analisis empat factor diatas:<br />1.   Manusia<br />Manusia merupakan subjek sekaligus objek dalam kecelakaan tambang batubara Xio Nan Gou. Dikatakan subjek karena manusia merupakan pelaku dalam kecelakaan tersebut dikatakan objek karena manusia sebagai korbab dalam kecelakaan tersebut. Manusia sebagai subjek dalam analisis ini tidak hanya sebatas pekerja namun juga kelompok yaitu manusia di dalam perusahaan tersebut meliputi manajer, direktur, dll. Karena seluruh pekerja dan karyawan perusahaan tambang Xio Nan Gou adalah orang cina maka sifat dan watak orang cina juga dijadikan sebagai subjek analisis kecelakaan ini. <br />28 orang yang menjadi korban kecelakaan tambang batubara Xio Nan Gou tewas akibat kebakaran yang terjadi di tambang bawah tanah akibat terbakarnya kabel-kabel di terowongan. Manusia berpengaruh dalam kecelakaan ini karena yang seharusnya memelihara seluruh perlengkapan dalam tambang adalah manusia. Karena mengabaikan factor keamanan maka pengecekan terhadap peralatan tambang tidak dilakukan sehingga secara terus menerus menimbulkan bencana. Ini juga dipengaruhi oleh factor keterampilan atau tingkat pendidikan pekerja. Pekerja tambang di Xio Nan Gou adalah buruh dengan pelatihan yang terbatas.<br />Seringnya pekerja tambang mengabaikan factor keselamatan membuat faktro manusia berpengaruh besar dalam kecelakaan yang terjadi di tambang Xio Nan Gou dan secara umum di dunia pertambangan cina. Jika cina ingin mencapai target yang besar terhadap batu bara tidak seharusnya mengorbankan nyawa sampa ribuan orang mati karena target ini. Bahkan pada tahun 2009 tercata setiap harinya 7 orang meninggal di lokasi pertambangan batubara ini sungguh ironis. Sifat dan watak orang cina yang suka dengan resiko tinggi, mengejar keuntungan yang besar serta persaingan membawa pengaruh besar terhadap rentetan kecelakaan tambang yang terjadi di cina.<br />2.    Peralatan<br />Kecelakaan tambang batubara di Xio Nan Gou merupakan kecelakaan tambang bawah tanah berupa terbakarnya kabel-kabel listrik  di terowongan sehingga para pekerja teperangkap dan terbakar oleh gas yang mudah terbakar oleh api seperti metana, oksigen, dan sulfur. Salah satu peralatan yang berpengaruh terhadap kecelakaan ini adalah kabel listrik. Kebakaran yang terjadi di kabel listrik sering diakibatkan oleh konsleting atau arus pendek, dan terlepasnya pembungkus kabel tersebut yang menyebabkan terjadinya reaksi api jika bersingungan dengan gas berbahaya. Dirumah-rumah dan perkotaan sering kita lihat kabel listrik dan sangat jaran kabel listrik dirumah mengalami kebakaran ini dikarenakan perawatannya yang baik dan menggunakannya sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Namun apa yang terjadi di Xio Nan Gou adalah kebalikannya sudah tentu resiko terjadinya kecelakaan tinggi di tambang bawah tanah dan peralatan yang digunakan pun bisa menimbulkan bahaya namun perawatannya lebih rendah dibandingkan kabel listrik diperumahan ini dikarenakan sifat rakus perusahaan yang ingin mencapai targer besar tanpa mempedulikan peralatan yang menimbulkan bahaya bagi pekerja. <br />Peralatan seharusnya tidak bisa dikambinghitamkan dalam masalah ini yang seharus dipersalahkan adalah manusianya. Perusahaan tambang seharusnya tidak hanya berisi teknisi tambang namun juga teknisi-teknis lain seperti listrik, kimia, dan fisika yang membantu kelancaran dalam proses produksi. <br />Jika meninjau dari peralatan safety maka kecelakaan tambang Xio Nan Gou ini tidak memiliki safty yang lengkap sebagaimana seharusnya di tambang bawah tanah yang sangat berbahaya. Tidak ada ruangan pelindung sebagai tempat isolasi pekerja dari kecelakaan yang terjadi dan sebagai pelindung dari kecelakaan. Dan tidak adanya gas pemadam kebakaran.<br />Dengan semua fakta di atas dapat dikatakan peralatan yang digunakan dan ditempatkan dalam tambang bawah tanah Xio Nan Gou mempengaruhi timbunya kecelakaan tersebut.<br />3.    Material<br />Faktor material berkaitan dengan kondisi lingkungan tambang yang terjadi kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi di tambang Xio Nan Gou merupakan tambang bawah tanah. Kita mengetahui tambang bawah tanah sangat berbahaya dan memiliki resiko yang tinggi ini dikarenakan banyaknya gas-gas yang berbahaya dan beracun bagi tubuh manusia. Kecelakaan yang terjadi di tambang batubara bawah tanah Xio Nan Gou merupakan kebakaran di terowongan dan menjalarke seluruh tambang bawah tanah hingga menewaskan 28 pekerja. System penyanggaan terowongan yang menggunakan kayu memudahkan api untuk menjalar dan ditambah dengan kehadiran gas-gas yang mudah terbakar seperti metana, oksigen, dan sulfur memperburuk keadaan dalam kecelakaan tersebut.<br />Kecelakaan ini tidak terjadi ledakan ini menandakan kadar gas metan dalam tambang bawah tanah ini tidak terlalu besar. Kecelakaan hanya terjadi berupa kebakaran terhadap seluruh peralatan yang ada pada tambang. Dengan ini dapat dikatakan material sedikit berpengaruh dalam kecelakaan ini. Karena penyebab utamanya adalah peralatan yaitu berupa api dari listrik dan memakan system penyanggaan kayu terowongan.<br />4.    SOP<br />Perusahaan batubara Xio Nan Gou sebenarnya sudah memiliki SOP yang jelas dalam proses penambangannya namun kesalahan-kesalahan teknis selalu muncul hal ini diakibatkan oleh kelalaian dari pekerja dalam mematuhi SOP perusahaan ini. Selain itu manajer dan pengawas pertambangan tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjalankan dan mensosialisasikan SOP tersebut hal ini terbukti dengan dikeluarkannya peraturan baru di cina yaitu berupa Manajer perusahaan tambang harus berada di tempat penambangan di saat proses penambangan dilakukan hal ini agar SOP benar-benar di jalankan. Namun berbagai surat kabar melangsirkan banyak pekerja kuli tambang di angkat menjadi manajer hal ini hanya digunakan untuk memenuhi syarat undang-undang yang ditetapkan oleh permerintah. Dari hal ini sudah dapat kita mengambil kesimpulan factor SOP tidak banyak berpengaruh namun orang yang menjalankan SOP tersebut itu lah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.<br />
    • Dampak Lingkungan PerusahaaanKesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
    • 96. DAMPAK LINGKUNGAN PERUSAHAAN
    Perusahaan dan masyarakat yang bermukim di sekitarnya merupakan dua komponen yang saling mempengaruhi. Aktivitas perusahaan tidak dapat dipungkiri memiliki dampak terhadap masyarakat sekitarnya. Dampak tersebut dapat berupa dampak positif (seperti antara lain penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan ekonomi), maupun dampak negatif (seperti antara lain penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat). <br />Masyarakat memiliki cara pandang tersendiri mengenai perusahaan. Cara masyarakat sekitar memandang perusahaan tersebut dapat diartikan sebagai persepsi. Leavitt (1978) menyatakan bahwa persepsi (perception) adalah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Menurut Ambadar (2008), paradigma perusahaan yang hanya berorientasi memperoleh laba (profit) sebesar-besarnya sudah mulai bergeser dan mulai berupaya memberikan dampak positif keberadaannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. <br />Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan salah satu upaya perusahaan untuk membina hubungan baik dengan masyarakat. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan oleh perusahaan melalui kegiatan tanggung jawab perusahaan sebagai upaya pengembangan masyarakat berdasarkan hasil penelitian Herlin (2008) adalah untuk mempublikasikan keberadaannya sehingga hubungan yang baik dengan stakeholder (dalam hal ini masyarakat) dapat terwujud dan membina hubungan baik dengan masyarakat sehingga tidak pernah terjadi konflik.<br />Upaya perusahaan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat lainnya adalah melalui komunikasi publik perusahaan. Menurut Hadi (2001) hubungan perusahaan dengan komunitas merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan perusahaan untuk memelihara dan membina hubungan dengan lingkungannya melalui komunikasi yang saling menguntungkan. Sejauhmana upaya perusahaan tersebut dapat mempengaruhi persepsi masyarakat sekitar terhadap aktivitas perusahaan merupakan hal yang menarik peneliti untuk melaksanakan penelitian ini. <br />Kartono (2002) mengungkapkan dampak hadirnya industri terhadap masyarakat umum (di luar pekerja), antara lain konsumen dapat menikmati bermacam-macam hasil produksi pabrik dan perusahaan swasta maupun layanan pemerintah. Oleh karena itu, banyak dirasakan peningkatan kesejahteraan dan peningkatan standar manusia pada umumnya, yang disebabkan oleh banyaknya fasilitas dan kesenangan yang bisa dinikmati manusia dengan adanya macam-macam produk budaya industri pada masa mutakhir ini. <br />Menurut Kartono (2002) selain dampak positif yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula dampak detrimental (merugikan dan merusak) yang dihasilkan oleh adanya industri. Contohnya, sebagai akibat dari proses overproduksi antara lain timbul gejala-gejala:<br />
    • Nafsu-nafsu yang kuat pada kaum industrialis untuk melakukan ekspansi kekuasaan, memperluas daerah pemasaran dan daerah jajahan, yang mengakibatkan berkembangnya persaingan global, monopoli, ekspansionisme, imperialisme, kolonialisme, perang, dan penjajahan.
    • 97. Masyarakat menjadi semakin konsumtif, tidak produktif (one dimensional man, hanya mampu mengkonsumsi/menghabiskan).
    • 98. Orang suka mengejar kemewahan materiil dengan membeli barang-arang mutakhir dan paling baru yang mahal-mahal, sehingga manusia menjadi ”materieel bejacht” atau mengalami haus materiil yang tidak terpuas-puaskan; menjadi boros dan suka menghambur-hamburkan kekayaannya.
    • 99. Manusia menjadi semakin lemah fisik dan mentalnya oleh pemanjaan dengan fasilitas-fasilitas materiil.
    • 100. Masalah polusi (pengotoran, pencemaran) udara, air, sungai, dan tanah atau lahan pertanian yang menjadi semakin parah.
    • 101. Besarnya dampak Eksternalities ini terhadap kehidupan masyarakat yang menginginkan manfaat perusahaan menyebabkan timbulnya keinginan untuk melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh perusahaan secara tersistematis sehingga dampak negatif dari eksternalities ini tidak menjadi semakin besar.
    Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh operasi perusahaan adalah limbah produksi. Dalam UU no. 23 tahun1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, limbah diartikan sebagai sisa suatu usaha dan atau kegiatan produksi, sedangkan pencemaran diartikan sebagai proses masuknya makhluk hidup atau zat, dam energi maupun komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan itu tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Limbah produksi yang dihasilkan oleh operasional perusahaan terdapat kemungkinan bahwa lembah tersebut berbahaya bagi lingkungan sehingga lembah sebagai residu operasional perusahaan memerlukan pengelolaan dan penanganan khusus oleh perusahaan agar tidak menyebabkan dampak negatif yang lebih besar terhadap lingkungan tempat perusahaan beroperasi.<br />
    • Kebijakan K3Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
    • 102. KEBIJAKAN K3
    Sebagai contoh kebijakan K3 secara umum, terlampir yang dipergunakan oleh perusahaan:<br />
    • Mematuhi semua peraturan K3
    • 103. Menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman bagi semua pekerja ( baik
    • 104. pekerja langsung maupun tidak langsung)
    • 105. Secara terus menerus meningkatkan praktek K3 industri yang terbaik
    • 106. Kebijakan K3 group juga mensyaratkan semua pekerja ( baik langsung maupun tidak
    • 107. langsung) untuk :
    • 108. bekerja dengan cara yang aman & sehat sebagaimana disyaratkan oleh hukum
    • 109. dan diperintahkan oleh Manajemen.
    Kebijakan Kesehatan & Keselamatan :<br />Prinsip-prinsip Panduan :<br />Semua orang yang bekerja di lokasi kami mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan/kondisi kerja yang aman dan sehat dan mempunyai kewajiban untuk memberikan kontribusi pada kondisi tersebut dengan berperilaku yang bertanggung jawab. Kami melihat K3 sebagai nilai bisnis utama yang diintregasikan pada seluruh kinerja bisnis. Setiap cidera atau kasus sakit akibat hubungan kerja, dapat dihindari dengan sistem kerja , peralatan , substansi, training dan supervisi yang tepat. Manajemen K3 yang efektif mencakup penilaian resiko dari desain lokasi sejak awal - tahap konstruksi, komisioning dan perencanaan secara keseluruhan dari suatu organisasi dan pemeliharaannya. Semua kegiatan operasinal kami harus secara kontinyu meningkatkan kinerja K3.<br />Peran dan tanggung jawab utama<br />Setiap Manager di semua jenjang, menjamin kesehatan dan keselamatan untuk orangorang yang ada di tempat kerja di bawah tanggung jawabnya. Manager harus menerapkan kebijakan dan sistem dalam area kontrol dan pengaruhnya. Chief Executive officer (CEO) memikul tanggung jawab ini pada level group, ia mendukung dengan tingkat kepedulian yang tinggi untuk menjamin bahwa dalam tiap divisi dan unit bisnis manajemen memiliki otoritas, keahlian dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.<br />Group Executive/Vice President SDM dari Perusahaan bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan mengevaluasi kembali secara keseluruhan kebijakan K3, memberikan rekomendasikan mengenai hal tersebut kepada Komite Eksekutif. Semua karyawan memiliki tanggung jawab untuk kesehatan & keselamatan mereka sendiri dan teman lainnya yang berada dalam lingkup/terpengaruh oleh tindakan mereka.<br />Proses dan Alat Utama pada tingkat Korporasi<br />Divisi memiliki suatu sistem Manajemen K3 untuk memastikan adanya peningkatan kinerja secara berkesinambungan. Hal ini didasarkan pada kebijakan K3 yang merefleksikan kebijakan korporasi dalam hal prinsip-prinsipnya, kerangka kerja, tanggung jawab, koordinasi dan pengawasan, kewajiban ini juga mencakup Unit baru yang bergabung dengan Perusahaan. Sumber daya tertentu seperti manusia, keuangan di dedikasikan dan di identifikasikan guna mencapai target.<br />Analisa Resiko<br />Proses manajemen dipastikan tersedia untuk menjamin resiko telah di identifikasikan secara baik, terkontrol dalam organisasi, dll. Karyawan, kontraktor dan konsumen berhak dan wajib mendapatkan informasi mengenai resiko yang ada dan langkah-langkah yang diambil untuk mengeliminasi atau meminimalkannya. Suatu sistem monitoring dan kesiagaan/alert dipastikan tersedia, yang akan memastikan adanya kontrol pada resiko di tingkat Manajemen sesuai tingkat keseriusannya.<br />Audit & Inspeksi Keselamatan<br />Audit dan inspeksi direncanakan dan dilakukan secara reguler. Audit & Inspeksi dilaporkan dan digunakan untuk tindakan korektif dan preventif, yang dikelola dengan cara yang sama seperti yang dilakukan saat analisa suatu cidera. Inspeksi dan audit ini dilakukan oleh Manajemen tingkat lini yang dilatih untuk tujuan tersebut, mencakup juga tingkat Management Atas. Personil dilibatkan sebanyak mungkin dalam audit dan inspeksi ini. Sebagai tambahan audit internal ini, diperlukan adanya audit silang antara lokasi kerja yang berbeda, yang menggunakan apa yang disebut tehnik “ fresh view”.<br />Analisa Cidera dan Malfungsi<br />Cidera, kejadian hampir celaka/near-miss atau gangguan fungsi apapun merupakan subyek dari suatu penyelidikan yang mendalam dan metodis, yang dilakukan oleh Manager (di sektor yang menjadi tanggung jawabnya), dengan bantuan dari staff/unit keselamatan dan personil yang terluka atau terlibat. Laporan harus dibuat dan memuat detail apa yang yang terjadi dan tindakan yang diambil ( atau yang dilakukan dan skala waktunya) untuk mencegah terulang kembali, usaha investigasi harus proporsional pada resiko potensial. Pelaporan dan komunikasi mengenai cidera harus sesuai dengan arahan Group dan Divisi.<br />Komite Manajemen K3 wajib secara reguler memeriksa relevansi tindakan yang diambil dan menjamin bahwa tindakan tersebut dilakukan.<br />Pencegahan dan Kontrol Resiko<br />Peralatan Menetap dan Bergerak<br />Instalasi baru didesain dan dibangun dengan mempertimbangkan keamanan operasi dan keamanan personil perawatan. Instalasi dan peralatan yang bergerak harus diperlihara secara efektif, diuji dan dilakukan inspeksi, merupakan subyek untuk dikontrol secara rutin.<br />Alat Pelindung Diri (APD)<br />APD guna keperluan kerja harus diidentifikasi, kondisi di mana APD harus dikenakan harus ditentukan dan direncanakan secara sesuai dan dirancang meliputi training dan pengawasan untuk menjamin APD dikenakan (lihat Appendix data sheet penggunaan APD)<br />Instruksi, peraturan dan prosedur<br />Instruksi, peraturan dan prosedur dibuat sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara aman, tanpa resiko pada kesehatan, dan sesuai dengan penilaian resiko, akan bersifat :<br />
    • Tertulis
    • 110. Selalu disesuaikan / diperbaharui
    • 111. Sesuai dengan peraturan hokum/regulasi
    • 112. Realistik
    • 113. Diketahui dan dimengerti oleh semua pihak yang terlibat
    • 114. Ditindaklanjuti dan dihargai
    Program Tanggap Darurat<br />Semua lokasi kerja harus memiliki rencana tanggap darurat, yang berhubungan dengan sifat operasi mereka dan resiko yang telah dinilai. Rencana ini harus di perbaharui, jika diperlukan dikomunikasikan dan dipraktekan secara rutin. Latihan wajib dilakukan dan dilatih secara rutin mencakup skenario yang direncanakan atas resiko yang berpotensi tinggi. (lihat appendix untuk kebijakan tanggap darurat)<br />Kontraktor<br />Peraturan K3 diterapkan dengan cara sama untuk kontraktor dan karyawan yang bekerja di lokasi, kontrak kerjasama dengan pihak Kontraktor harus menentukan hak dan kewajiban tiap pihak dalam hal K3. Kemampuan pihak yang dikontrak untuk bekerja secara aman menjadi kriteria seleksi yang utama. K3 harus secara efektif dikelola di lokasi kerja. Hal ini harus mencakup audit secara rutin.<br />Kontraktor secara aktif dibantu dalam masalah keselamatan. Indikator kinerja keselamatan untuk Perusahaan dicatat dan dilaporkan dan merupakan alat evaluasi kinerja. Kinerja keselamatan yang buruk tidak akan ditoleransi dan dapat menyebabkan pemberhentian lebih cepat.<br />Pelatihan & Komunikasi<br />Pelatihan<br />Rencana dan program yang sesuai harus dibuat untuk menjamin semua personil memiliki kompetensi dalam bidang K3, ini mencakup tersedianya pelatihan & perlunya pengalaman yang sesuai.<br />Pelatihan Keselamatan meliputi :<br />
    • Pelatihan perilaku selamat dan mengapa K3 merupakan hal yang penting
    • 115. Pelatihan Manajemen K3
    • 116. Pelatihan penilaian resiko
    • 117. Pelatihan mengenai prosedur dan metode
    • 118. Pelatihan penggunaan peralatan kerja
    • 119. Pelatihan guna mendapatkan otorisasi dan lisensi
    Ini menyangkut semua personil seperti :<br />
    • karyawan baru dan karyawan tidak tetap
    • 120. staff yang telah ada (penempatan kembali, promosi, transfer, mutasi)
    • 121. Manajemen ( audit, investigasi, tindakan pencegahan, rapat untuk memfasilitasi, dll)
    • 122. kontraktor sesuai keperluan
    Semua pelatihan keselamatan terdata, khususnya pada file pribadi secara rutin harus dikaji ulang.<br />Komunikasi<br />Komunikasi merupakan suatu faktor penting dari program keselamatan, harus mencakup informasi mengenai program keselamatan khusus setiap lokasi, umpan balik dalam hal kinerja dan tindakan yang diambil, mempelajari hal penting guna mencegah kecelakaan.<br />