• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Ilmu dakwah.
 

Ilmu dakwah.

on

  • 4,277 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,277
Views on SlideShare
4,277
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
71
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Ilmu dakwah. Ilmu dakwah. Document Transcript

    • BAB II PEMBAHASAN A. Perkembangan Ilmu Dakwah Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa ”dakwah adalah fenomena sosial yang dirangsang keberadaannya oleh nash-nash agama Islam. Fakta-fakta sosial tersebut dapat di kaji secara empiris terutama pada aspek proses penyampaian dakwah serta internalisasi nilai agama bagi penerima dakwah”.1 Dakwah yang demikian itu baik yang dilakukan secara perorangan atau kelompok ataupun lembaga yang di lakukan dengan berbagai media atau pendek kata dakwah dengan segala problematikanya adalah merupakan kenyataan sosial yang dapat di amati sehingga merupakan pengetahuan. Pengetahuan yang dalam bahasa inggrisnya knowledge adalah gambaran atau kesan yang terdapat dalam fikiran manusia tentang suatu hal baik mengenai sesuatu yang konkret maupun abstrak sebagai hasil dari penangkapan beberapa inderanya.Pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang digunakan orang terutama untuk kehidupanya sehari-hari tanpa disertai penyelidikan lebih lanjut dengan lebih intensif tentang seluk beluk sebab dan akibatnya. Sedangkan pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang tidak sekedar ilmu semata-mata, tetapi pengetahuan yang disertai dengan penyelidikan yang mendalam sehingga dapat diyakini kebenaranya serta diketahui apa sebabnya demikian, dan mengapa harus demikiam.2 Pengetahuan mengenai dakwah seperti diterangkan diatas adalahmerupakan pengetahuan biasa karena pengetahuan ini hanya sekedar tahu tentang dakwah tanpa adanya penyelidikan dan analisis lebih lanjut.tentu saja untuk menjadikan ilmu dakeah menjadi sebuah ilmu pengetahuan memerlukan persyaratan. B. Eksistensi dan Objek Studi Ilmu Dakwah Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek studi adapun syarat-syaratnya yakni: Objektif, telah memiliki objek studi dan diterangkan secara objektif Universal, merupakan pengetahuan dakwah yang telah diketahui kebenarannya secara umum oleh masyarakat dan dapat terbuka dan teruji oleh setiap orang. Metodik, telah Menggunakan metode yang tepat dalam memahami objek studinya. Sistematik, pengetahuan dakwah itu telah tersusun secara menyeluruh yang bagian-bagiannya memiliki kolerasi antara satu dengan yang lainnya. Agar lebih dapat memahami tingkat keilmuan ilmu dakwah sajuh ini perlu dianalisis denagn tiga landasan, yaitu: 1 Jalaluddin Rahmat, Ilmu Dakwah dan Kaitannya dengan Ilmu-ilmu Lain, (Semarang, Seminar, 1990), h. 4. 2 Poeradisastro, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan Modern, (Jakarta, Giri Mukti Pusaka, 1981), h. 23-24.
    • 1. Ontologi Ilmu Dakwah Agar mencapai status ilmiah yang sah setiap disiplin ilmu harus memiliki sifat yang rasional dan teruji dalam wilayah publik ilmu dan pengetahuan untuk mendapatkan status ontologis yang jelas dan di akui maka dari itu hakikat sebuah ilmu sangat penting sebagai basis klasifakasi ilmu, ini menyatakan bahwa tingkat kebenarannya adalah tingkat kebeneran ilmu dan bukan tingkat kebenaran agama, perlu di bedakan bahwa wilayah kajian agama adalah persoalan metafisika yang membutuhkan keyakinan dan tidak semua bisa di perdebatkan sedangkan wilayah kajian ilmu memerlukan verifikasi sebelum di manfaatkan manusia. Adapun Ilmu Dakwah adalah proses membicarakan tentang aktifitas pengetahuan yang berasal dari Allah SWT lalu di kembangkan umat islam dalam susunan sistematis dan terorganisir serta prosedur ilmu dakwah sebagai metode ilmiah yang menjelaskan tentang pengetahuan bagaimana mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada yang benar sesuai dengan perintah Allah untuk kemaslahatan dan kebahagian mereka di dunia dan di akhirat, sehingga produk Ilmu Dakwah sebagai pengetahuan sistematik menjadi media yang terbuka bagi terlaksananya komunikasi mengajak dan memanggil umat manusia kepada agama islam yang memberikan informasi mengenai amar ma’ruf nahi mungkar agar dapat menggapai kebahagian di dunia dan akhirat, seperti firman Allah yang artinya : “Ajaklah kepada jalan tuhanmu jalan hikmah (bijaksana) dan dengan ajaran –ajaran yang baik sesungguhnya tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalannya dan lebih mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. An-Nahl 125). Pada hakikatnya ilmu dakwah adalah ajaran yang berisi pesan dan pendidikan agama islam untuk membangun dan mengembalikan manusia pada fitrahnya, meluruskan tujuan manusia, meneguhkan fungsi manusia sebagai khalifah dan pengemban risallah serta sebagai upaya manisfestasi darirahmatan lil’alamin 2. Epistemologi Ilmu Dakwah Berbicara tentang teori pengetahuan ilmu dakwah meliputi pembahasan yang berkaitan dengan seluk beluk pengatahuan Ilmu Dakwah mulai dari ma’rifat, asal-asul Ilmu Dakwah dan landasan atau sumber, unsur-unsur serta metode membangun Ilmu Dakwah. Sumber pengetahuan ilmu dakwah di dapat dari Nash atau teks Al-Qur’an di jadikan acuan utama dan sekaligus sebagai titik tolak keilmuan dakwah, selanjutnya teks hadist menempati sumber kedua di ikuti realitas sosial dan humanitas yang menyertainya, maka dari itu asal-usul segala ilmu dakwah hanya dari Allah dan manusia menjadi perumus teori-teori menurut wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan sunatullah ( hukum Allah yang berlaku pada alam semesta ). Adapun bagaimana ilmu dakwah di peroleh menurut Muhammad ‘Abid Al-Jabiri cara memperoleh pengatahuan ada tiga metode, pertamacara berpengetahuan bayani yang memiliki
    • arti secara bahasa penjelasan, pernyataan, ketetapan sedangkan sacara istilah berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma dan ijtihad yaitu menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran yang mutlak sedangkan akal menempati tingkat kedua dan sifatnya menjelaskan teks yang dalam dakwah islam adalah nash Al-Qur’an khususnya yang merupakan sumber utama yang dijadikan sebagai tolak ukur dan titik tolak dari seluruh kegiatan dakwah islam, yang keduacara berpengetahuan irfanai secara bahasa berakar dari kata irfan yang berarti al-ma’rifah, al-alim, al-hikmah, epeistemologi irfani berpangkal pada intuisi yang merupakan perluasan dari pandangan iluminasi dan berakar pada tradisi hermes dan cara irfani juga dapat dimengerti sebagai cara “empati” yang memanfaatkan media zauq atau emotiif untuk memahami obyek dakwah sehingga dengan cara ini dapat langsung merasakan persoalan-persoalan masyarakat, dan yang ketiga cara berpengetahuan burhani secara bahasa berarti argumentasi yang jelas dan menurut istilah logika bahwa untuk mengukur benar atau tidaknya sesuatu dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiyah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci atau membangun pengetahuan dan visinya atas dasar potensi bawaan manusia yaitu kemampuan melakukan proses pengindraan, eksperimentasi dan konseptualisasi. Dan teoritik metode, proses dan prosedur keilmuan dakwah yaitu ijtihadiayah, istinbatiyah, qiyas dan abstraksi sehingga keilmuan dakwah lebih bersifat dinamik yang menggunakan akal untuk membumikan teks-teks yang menjadi sumber pengetahuan maka dalam konteks ilmu dakwah membutuhkan ilmu-ilmu bantu seperti psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi, sejarah peradaban modern dan kontemporer serta filsafat karana ini mempunyai andil besar dalam setaip kajian riset maupun literaturnya, dan untuk membangun ilmu dakwah harus memiliki prinsip-prisip dasar ilmu dakwah yakni analogi deduktif dan induktif, qiyas dan prinsip kausalitas artinya selain menempatkan Al-Qur’an dan Hadist khususnya sebagai prinsip mutlak juga tidak terlepas dari kenyataan yang melatari keterkaitan erat antara relasi data dan fakta; sebab-akibat dan teks dengan konteks. Dengan demikian dapat dipahami bahwa eksistensi ilmu dakwah dalam islam berdasarkan intelek yang mengarahkan rasio membentuk ilmu yang bertumpang pada kesadaran dan keimanan terhadap Kekuasaan Allah inilah ilmu yang menjadi petunjuk (Hidayah) suatu ilmu yang mengemban misi kesejahteraan hidup manusia dunia maupun akhirat. 3. Aksiologi Ilmu Dakwah Dalam konteks keilmuan dakwah titik tolak aksiologis bertumpu pada upaya mengajak umat manusia untuk sungguh-sungguh beriman kepada zat yang maha tinggi yaitu Allah SWT, dalam aspek nilai inilah Ilmu Dakwah memiliki cita-cita masyarakat islami maka kembali pada landasan aksiologi untuk menyampaikan kebenaran yang harus di bahasakan dan di komunikasikan dengan prinsip-prinsip kebeneran yang berupa kaidah konsistensi, koherensi dan korespondensi dapat di pakai sebagai perangkat normatif nilai pengetahuan baik dakwah sebagai ilmu maupun sebagai objek kajian ini menyatakan bahwa begitu tinggi nilai pengetahuan pada kehidupan manusia yang mana dengan ilmu dan pengetahuannya manusia menyingkapkan tabir yang menutupi kebenaran dakwah baik sumber normatif dari Al-Qur’an dan hadist maupun historis yang di gali dari realitas sosial, budaya dan agama seluruhnya perlu diaktualisasikan kedalam bentuk amal karena aspek amaliah menempati posisi yang cukup dalam dakwah islam yang
    • mana amal merupakan kelanjutan dari bangunan visi yang disandarkan pada tauhid sebagai tolak ukur dalam bertindak dengan demikian aktualisasi diri manusia muslim seseungguhnya bersifat inheren terhadap visi ketauhidannya oleh karena itu unsur kreatif-dinamis menjadi syarat mutlak bagi dikembangkannya nilai-nilai keilmuan dakwah beserta aplikasi terapannya. Kebenaran ilmu dakwah maupun kebenaran dakwah sebagai objek kajian keilmuan pada dasarnya terlihat konsistensi dan besifat khas maka dakwah senantiasa menuntut ketegasan tentang kebenaran dari orang yang percaya atas kebenaran teologis tertentu apalagi bermaksud menyampaikannya kepada orang lain maka harus ditunujukan secara konsisten dalam menjalani ritual dengan Allah sebagai puncak kebenaran dan sekaligus secara konsisten mengaktualisasikannya kedalam hubungan antar makhluk secara harmonis, dari sudut empirik ada dua yang diyakaini sebagai nilai dakwah : a. Nilai Kerisalahan dari aspek risalahan ini dakwah dilihat sebagai penerus, penyamung, dan menjalankan fungsi dan tugas rasul yaitu menyerukan kebenaran, kesadaran, kebebasan dan keselamatan rakyat agar terhindar dari marabahaya dan mengajak mereka menuju kehidupan yang berperadaban seperti di contohkan nabi maka seorang da’i mengemban tugas yang sangat berat sebagai agen pembangunan yang berkewajiban menyampaikan ajaran islam kepada umat manusia dan menjaga umat agar tidak tergelincir dalam jurang bahaya b. Nilai Rahmat dalam dakwah yaitu ajaran islam harus memberikan manfaat bagi kehidupan umat (petunjuk hati, obat spiritual, mengantarkan hidup yang sejahtera lahir batin) atau “memberikan rahmat dalam kehidupan umat” (Q.S. [21] : 107). Berkaitan fungsinya sebagai rahmat adalah sejauh mana konsep-konsep dan teori-teori ilmu dakwah memberikan kontribusi bagi kehidupan manusia. C. Hubungan Ilmu Dakwah dengan Ilmu Lain Berbicara tentang ilmu dakwah berarti harus memenuhi ketiga unsur tersebut. Aspek ontologi berarti berbicara tentang apa ilmu dakwah itu, apa objek kajiannya, objek materi dan objek formalnya. Hal ini, secara fundamental mempunyai banyak kesamaannya dengan keilmuan komunikasi. Berdasarkan hal tersebut, dapat dirumuskan bahwa ilmu dakwah adalah ilmu yang membahas cara berdakwah yang dalam cara kerjanya, sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, melibatkan dan meminjam teori-teori ilmu serumpun. Epistemologi dakwah yaitu metodologi yang dipakai.Dilihat secara konvensional, dimana dakwah selama ini berkembang, ternyata ilmu dakwah sudah ada cekal bakalnya semenjak masa Rasulullah. Karena objek kajiannya adalah manusia, sama dengan komunikasi, maka metodologinya digunakan metode ilmu komunikasi. Berbicara tentang aksiologi, berarti membahas apa kegunaannya ilmu dakwah. Kegunaannya adalah untuk pengembangan syiar agama Islam yang menyangkut seluruh kehidupan manusia. Agak berbeda dengan pendapat Selo Sumardjan yang masih meragukan keilmuan dakwah dalam satu sisi, tetapi dalam aspek lain dakwah termasuk kelompok disiplin ilmu. Menurut Selo Sumardjan dakwah merupakan suatu ilmu dalam pengertian ilmu-kepercayaan, namun dalam pengertian ilmu
    • pengetahuan (ilmu-intelektual) masih diperdebatkan dan perlu bahasan yang lebih cermat .Lebih lanjut dijelaskannya, dakwah dapat saja menjadi suatu ilmu, bila dakwah dapat diatur dan dilakukan secara ilmiah.Artinya dakwah dalam bidang operasionalnya dapat mengikuti sistem yang terbentuk di atas teori-teori suatu ilmu pengetahuan, yaitu khususnya ilmu komunikasi. Ilmu komunikasi yang termasuk ke dalam kelompok ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari cara-cara penyampaian dan penyebaran serta penerimaan informasi dalam arti yang luas, baik secara pribadi dengan pribadi, maupun secara massal, juga cara menyampaikan informasi secara tatap muka dan dalam jarak jauh. Begitu juga penjelasan Andi Faisal Bakti, bahwa dakwah dapat dikatakan sebagai suatu ilmu apabila studi dakwah bisa empiris, antara lain; pertama, dengan cara menggunakan ilmu komunikasi dalam melihat dakwah, kedua, dakwah dilihat sebagai masalah yang bisa dideteksi: pelaku dakwah, institusi atau lembaga dakwah, pelaksanaan dakwah, proses dakwah, dana dakwah (keuangan), interaksi dakwah, evaluasi dan analisa dakwah, ketiga, bukan menyangkut hal transendental, keimanan kepada yang “ghaib” (menurut pengertian umum). Kecenderungan dakwah dikembangkan saat ini, bukan berdasarkan temuan-temuan empirik hasil pemikiran dan studi/penelitian ilmiah.Ilmu dakwah yang dikembangkn lebih banyak melalui kajian deduktif dan transendental yang diambil secara tekstual dari al-Quran dan Hadis.Dalam hal ini, ilmu dakwah dikategorikan sebagai kajian normatif belaka, sehingga tidak jelas objek formal dan materialnya. Memperhatikan betapa urgen dan sinkronnya antara ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi, maka hal pula menjadi fokus pengembangan Fakultas Dakwah pada Universitas Islam Negeri Jakarta. Sebagai mana dikemukakan oleh Dekan Fakultas Dakwah UIN Jakarta, bahwa pengembangannya terdapat pada setiap jurusan yang ada di FDK, yaitu Jurusan Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, di mana masing masing ilmu tersebut akan membawahi beberapa program studi. Misalnya Ilmu dakwah akan membawahi Manajemen Dakwah, Pengembangan Masyarakat Islam, dan Bimbingan Penyuluhan Islam, sedangkan Ilmu komunikasi akan membawahi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam dan Jurnalistik. Di samping kontribusi ilmu komunikasi bagi ilmu dakwah, juga yang diperlukan adalah bantuan antropologi sebagai pijakan dakwah kultural. Hal ini akan bergerak pada strategi dakwah kultural yaitu gerakan dakwah melalui pendekatan Islam-kultural. Salah satu penyebab keberhasilan para Walisongo di Indonesia menyebarkan agama Islam adalah melalui pendekatan antroposentris, sehingga akulturasi agama Islam dengan budaya masyarakat dapat dikompromikan, walaupun memiliki beberapa kelemahan.Strategi dakwah mengislamisasikan masyarakat ditandai dengan diakomodasinya budaya-budaya masyarkatl yang berarti bukan hanya bersifat teosentris. D. Ilmu-ilmu Bantu Ilmu Dakwah Ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu-ilmu lainnya di dalam memahami objek studi materi dan objek studi formanya. 1. Ilmu Dakwah dan Ilmu-ilmu Agama Islam Ilmu dakwah memiliki kaitan sangat erat dengan ilmu agama islam seperti Tafsir, Fikih, Perbandingan agama, dan sebagainya. Hal ini akan semakin dapat diketahui hal-hal yang
    • berkaitan dengan dakwah baik dengan cara-cara dakwah, pengaruhnya terhadap sikap dan tingkah laku seseorang, media-media dakwah dan masalah-masalah yang lain yang termasuk objek forma ilmu dakwah. Ilmu-ilmu agama juga membutuhkan bantuan ilmu dakwah dalam menyampaikan dirinya kepada umat manusia. Tanpa diterangkan dan disampikan kepada masyarakat, ilmu-ilmu agama tersebut hanya merupakan suatu ide belaka yang tidak bisa terwujud dalam kenyataan serta tidak diketahui orang lain. 2. Ilmu-ilmu Dakwah dengan Ilmu-ilmu Sosial Politiik Ilmu-ilmu Sosial menerangkan berbagai macam segi kehidupan individu dan sosial secara detail dan terperinci. Ilmu ini dapat membantu ilmu dakwah dalam memahami masyarakat tersebut, sebab penyampain ajaran Islam yang menjadi sarana ilmu dakwah sangat komplek yang menyangkut segi struktur sosial, proses sosial, interaksi sosial, dan perubahan sosial seperti yang dibahas dalam sosiologi; maupun tingkah laku manusia sebagai pribadi sosial dan masalah- masalah kejiwaan lainnya seperti yang dikaji dalm ilmu psikologi dn psikologi sosial. 3. Ilmu Dakwah dan Ilmu-ilmu Normatif dan Metodologis Ilmu-ilmu normatif adalah ilmu-ilmu yang membicarakan bagaimana seharusnya sesuatu itu, sebagai kebalikan dari ilmu-ilmu positif yang membicarakan suatu menurut apa adanya. Yang termasuk ilmu normatif adalah: ilmu penelitian (riset), ilmu logika, ilmu bimbingan, dan penyuluhan, retorika, publisistik/komunikasi, dan sebagainya