Your SlideShare is downloading. ×
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Tugas belajar n pembelajaran
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Tugas belajar n pembelajaran

116

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
116
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangDalam suatu lingkup pendidikan diperlukan suatu proses belajar mengajaryang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadapperkembangan belajar siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk menguasai 3aspek dalam belajar yakni psikomotor, afektif, dan kognitif. Di sisi lain siswa jugadiharapkan mampu menguasai semua materi pelajaran yang diberikan oleh guru,dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang guru ikut terlibat di dalammengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Di era sekarang ini telahditrepkan "Mastery Learning" untuk belajar tuntas. Tujuan diadakannya sistempembelajaran tuntas tersebut diharapkan terciptanya suatu tujuan pendidikan.Oleh sebab itu makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang belajar tuntas"Mastery Learning".1.2.Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:1.Bagaimana sikap guru menghadapi Murid pandai dan murid bodoh?2. Apakah pengertian dari belajar tuntas (Mastery learning)?3.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pengusaan penuh?4.Apa saja usaha untuk mencapai penguasaan penuh?5.Apa saja syarat dan prasyarat belajar tuntas?6.Apa hasil dari belajar tuntas?
  • 2. 21.3.Tujuan Masalah1.Untuk mengetahui sikap guru menghadapi Murid pandai dan murid bodoh2. Untuk mengetahui tentang pengertian dari belajar tuntas (Mastery learning)3.Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengusaan penuh4.Untuk mengetahui usaha untuk mencapai pengusaan penuh5.Untuk mengetahui syarat dan prasyarat belajar tuntas6.Untuk mengetahui hasil dari belajar tuntas
  • 3. 3BAB IIPEMBAHASAN2.1.Murid Pandai dan Murid BodohTiap guru yang menghadapi kelas baru,lebih dahulu sudahmenerima,berdasarkan pengalamannya bahwa murid-murid dalam kelas itu tidaksama pandainya.Seperempat atau sepertiga termasuk golongan anak pandai,danseperempat sampai sepertiga termasuk golongan anak yang bodoh.Dalam pendirian guru untuk murid untuk membagi murid-murid dalamkelas menurut kategori pandai,sedang,dan bodoh.Guru itu di dukung olehdistribusi intelegensi menurut kurva normal menurut statistik.Kurva normal telahcukup terkenal dan kita percaya akan kebenarannya,juga dalam distribusi angka-angka untuk setiap mata pelajaran.Berdasarkan distribusi intelegensi menurutkurva normal,guru menganggap angka-angka wajar bila hanya sebagian kecil darimurid-murid memperoleh angka yang baik.Menurut skala sepuluh angka yang dapat diberikan adalah adalah angka 1sampai 10.Dalam praktek angka tertinggi biasanya angka 8,walaupun seringkaliada guru yang memberikan angka 9,sedangkan angka 10 hampir tak pernahkelihatn daalm buku raport seseorang.Dalam hal ini guru-guru kita sekarangmasih terpengaruh oleh ucapan guru zaman kolonial bahwa angka 10 untukTuhan,anga 9 untuk guru dan anga tertinggi bag murid adalah angka 8.Pada umumnya distribusi angka yang diberikan oleh guru berlatarbelakang prinsip kurva normal yaitu angka terendah bisa diberi 4 atau 5sedangkan angka tertinggi di beri 7 atau 8.Tiap guru mempertahankan distribusiangka tersebut.Walaupun distribusi angka tidak di tentukan suatuperaturan,namun distribusi tersebut sudah menjadi kebiasaan dan akhirnyadianggap wajar,jadi diharapkan akan didapati dalam setiap kelompok murid.Gurumenganggapnya wajar,demikian pula murid dan orangtua dan juga pihak inspeksi.
  • 4. 4Fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah suatu tujuan yangkita nilai tinggi.Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawasemua anak didik kepada tujuan itu.Apa yang diajarkan hendaknya dipahamisepenuhnya oleh semua anak.Tujuan guru mengajar adalah agar bahan yang disampaikan dikuasaisepenuhnya oleh semua murid,bukan hanya oleh beberapa orang saja yangdiberikan angka tinggi.Pemahaman harus penuh,bukan tiga seperempat,setengahatau seperempat saja.Jika didasarkan hasil pelajaran pada kurv normal berartibahwa hanya sebagian kecil saja dari anak-anak yang kita harapkan dapatmemahami pelajaran kita sepenuhnya.Sebagian besar sesungguhnya tidakmenguasainya.Hasil belajar menurut kurva normal sesungguhnya menunjukkan suatukegagalan,karena sebagian besar anak-anak tidak mengerti betul apa yang diajarkan.Guru yang baik harus meninggalkan dan menanggalkan kurva normalsebagai ukuran keberhasilan proses mengajar-belajar.Meninggalkan patokan ituakan membuka jalan baru ke arah prestasi yang lebih tinggi yang mendorong guruuntuk mencari macam-macam usaha-usaha untuk membantu murid-murid secaraindividul.Murid-murid berbeda secara individual dalam caranya belajar.Perbedaanindividual ini harus dipertimbangkan dalam strategi mengajar agar setiap anakdapat berkembang sepenuhnya serta menguasai bahan pelajaran secaratuntas.Bahwa tujuan ini tidak mudah dan dapat dipahami.Namun ini merupakansuatu tantangan bagi setiap guru yang ingin pekerjaannya benar-benar sebagaisuatu profesi.2.2.Belajar TuntasTujuan proses mengajar-belajar secara ideal adalah agar bahan yangdipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid.Ini disebut “mastery learning” ataubelajar tuntas,artinya penguasaan penuh.Cita-cita ini hanya dapat dijadikan tujuanapabila guru meninggalkan kurva normal sebagai patokan keberhasilan mengajar.
  • 5. 5PRINSIP-PRINSIP BELAJAR TUNTASPara pengembang konseb belajar tuntas mendasarkan pengembanganpengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapatmenguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Menurut konsep di luar belajartuntas, penyebaran siswa dalam kelas mengikuti kurva normal, yaitu sebagiankecil siswa (sekitar 17%) menguasai sebagian kecil bahan ajaran, sebagiam besarsiswa (sekitar 66%) menguasai sebagian besar bahan, dan sebagian kecil lagisiswa (sekitar 17%) menguasai hampir seluruh bahan, menjadi tugas guru untukmerancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapatmenguasai hampir seluruh bahan ajaran2. Guru menyusun strategi pengajaran tuntan mulai dengan merumuskan tujuankhusus yang hendak dikuasai oleh siswa. Guru juga menetapakan tingkatpenguasaan yang harus dicapai siswa.3. Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadisatuan-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompoktujuan tersebut. Berdasarkan tingkat penguasaan siswa dalam satuan pelajarantersebut, maka dapat pindah dari satu satuan pelajaran ke satuan berikutnya.4. selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusunbahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntassangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakanacuan patokan. Acuan norma menggunakan pegangan penguasaan rata-rata kelas,jadi bersifat relatif, sedang acuan patokan berpegang pada sesuatu yang telahditetapkan, umpamanya menguasai 80% atau 85% dari tujuan belajar.6. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaanindividual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitusiswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran
  • 6. 6berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyakatau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.Konsep belajar tuntas adalah dapat dilaksanakan dengan beberapa modelpengajaran, tetapi yang paling tepat adalah dengan model-model sisteminstruksional seperti pengajaran berprogram, pengajaran modul, paket belajar,model satuan pelajaran, pengajaran dengan bantuan komputer dan sejenisnya.Model-model pengajaran tersebut cocok untuk menerapkan konsep belajar tuntas,karena memiliki dasar-dasar pemikiran yang sesuai. Bertolak dari konsepbehaviorisme, berpegang pada model pengajaran sebagai sistem atau sisteminstruksional. Yang paling penting adalah dapat diselenggarakan secaraindividual, sehingga hampir seluruh prinsip belajar tuntas yang disebutkan di atasdapat dilaksanakan.Undang-undang Dasar 1945 menginginkan agar setiap warganegaramendapat kesempatan belajar seluas-luasnya.Kemajuan suatu bangsa dapat dilihatdapat di lihat dari perluasan pendidikannya. KPPN atau komisi pembaharuanpendidikan nasional mengemukakan agar pendidikan kita bersifat semesta,menyeluruh,dan terpadu, semesta berarti bahwa pendidikan dinikmati oleh seluruhwarga negara, menyeluruh maksudnya agar ada mobilitis antara lain antarapendidikan formal dan nonformal, sehingga terbuka pendidikan seumur hidupbagi seluruh warga negara.Memberi kesempatan belajar saja belum memadai bila jumlah yangtinggal kelas dan putus sekolah makin tinggi, masih perlu dipikirkan jalan agarsetiap murid mendapat bimbingan agar berhasil menyelesaikan pelajarannyadengan baik, jadi masalah yang sangat penting kita hadapi adalah bagaimanausaha agar sebagian besar dari murid-murid dapat belajar dengan efektif danmenguasai bahan pelajaran dan keterampilan yang dianggap esensial bagiperkembangannya. Selanjutnya dalam masyarakat yang kian hari kian kompleks.Bila kita ingin agar seseorang mau belajar terus sepanjang hidupnya,makapelajaran di sekolah harus merupakan pengalaman yang dapat menyenangkan
  • 7. 7baginya.Murid yang sering frustasi karena mendapat angka yang rendah disamping teguran,kecaman,dan celaan akan benci terhadap segala bentuk pelajaranformal dan tidak mempunyai cukup motivasi untuk melanjutkan pelajarannya.Danselama angka-angka yang baik hanya diberikan kepada sejumlah kecil saja darimurid-murid,maka sebagian besar yang mendapat angka rendah dan mengalamifrustasi akan berhenti belajar dan tidak mengembangkan bakat yang dapatdisumbangkannya kepada masyarakat.Bila kita dapat membimbing anak-anaksehingga semua atau hampir semua berhasil,maka ini akan membawa keuntunganbesar bagi murid,orangtua maupun negara.Ide-ide tentang mastery learning atau belajar tuntas telah dikemukakanoleh tokoh-tokoh seperti H.C. Morrison (1926),B.F. Skinner (1954),J.I. Goodladdan R.H. Anderson (1959),John Carrol (1963),Jerome Bruner (1966),P. Suppes(1966),dan R. Glaser (1968).Di Indonesia mastery learning atau belajar tuntas dipopukerkan oleh BP3K(Badan Pengembangan dan Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan) yangdikaitkan dengan pembaharuan kurikulum (Kurikulum 1975,PPSP atau ProyekPerintis Sekolah Pembangunan dengan pengajaran modulnya).Menurut Penelitian,bila semua anak-anak yang bermacam-macambakatnya itu diberi pengajaran yang sama,maka hasilnya akan berbeda menurutbakat mereka.Ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasilbelajar.Akan tetapi jika diberi metode pengajaran yang lebih bermutu yangdisesuaikan dengan kebutuhan setiap anak serta waktu belajar yang lebihbanyak,maka dapat dicapai keberhasilan penuh bagi setiap anak dalam tiap bidangstudi.Maka koelasi antara bakat dengan tingkat keberhasilan anak dalam pelajarandapat dilenyapkan.
  • 8. 82.3.Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh, yakni:1. Bakat untuk mempelajari sesuatuBakat misalnya intelegensi, mempengaruhi prestasi belajar"John Carroll" mengemukakan pendirian yang radikal. Ia mengakui adanyaperbedaan bakat, akan tetapi ia memandang bakat tidak menentukan tingkatpenguasaan atau untuk menguasai sesuatu. Jadi setiap orang dapat mempelajaribidang studi apapun sehingga batas yang tinggi asal diberi waktu yang cukupdisamping syarat-syarat lain. Ada kemungkinan seorang murid menguasai bahanmatematika tertentu dalam waktu satu semester, sedangkan murid lain hanyadapat menguasainya dalam beberapa tahun, namun tingkat penguasaannya sama.2. Mutu pengajaranSejak pestalozzi pengajaran klasikal menjadi populer sebagai penggantipengajaran individual dari seorang tutor, pengajaran klasikal merupakankeharusan dalam menghadapi jumlah murid yang membanjiri sekolah sebagaiakibat demokrasi, industrialisasi, pemerataan pendidikan atau kewajiban belajar.Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah pusat sama bagi semua dan biladiizinkan buku-buku lain maka dasarnya adalah dari pemerintah pusat, yaknikurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah walaupun pengajaran klasikalsekarang sangat umum dijalankan ini tidak berarti bahwa perbedaan individualdapat diabaikan. Justru karena pengajaran kita bersifat lebih klasikal harus lebihdiperhatikan perbedaan individual, atau dengan perkataan lain dengan adanyapengajaran klasikal guru harus dengan sengaja memaksa dirinya memberiperhatian kapada setiap anak secara individual.3. Kesanggupan untuk memahami pengajaranKalau murid tidak dapat memahami apa yang dikatakan guru, atau bila guru tidakdapat berkomunikasi dengan murid, maka besar kemungkinan murid tidak dapatmenguasai mata pelajaran yang diajarkan. Kemampuan murid untuk menguasaisuatu bidang studi biasanya bergantung pada kemampuannya untuk memahami
  • 9. 9ucapan guru. Sebaliknya guru yang tidak sanggup menyatakan buah pikirannyadengan jelas sehingga ia difahami oleh murid, juga tidak dapat mencapaipenguasaan penuh oleh murid atas bahan pelajaran yang disampaikannya.Agar pelajaran dapat di pahami,gru sendiri hars fasih berbahasa dan mampumenyesuaikan bahasanya dengan kemampuan murid sehingga murid-murid dapatmemahami bahan yang di sampaikannya.Untuk memperluas komunikasi dapat dijalankan berbagai usaha,antara lainBelajar kelompok,belajar bersama atau saling membantu dalam pelajaran.Bantuan Tutor,yaitu orang yang dapat membantu murid secar individual.Buku Pelajarn,Tak semua sama baiknya hendaknya ada beberapa bukuyang berlainan tentang bidang studi yang sama.Bahan yang kurang jelasdalam buku yang satu mungkin lebih mudah dipahami dalam buku lain.Buku Kerja.Di samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantumurid menangkap dan mengolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran.Pelajaran berprograma.Ini juga merupakan bantuan agar murid menguasaibahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek,tanpa bantuan guru.Alat audio-visual.Alat audio-visual dapat membantu anak-anak belajardengan menyajikannya dalam bentuk yang konkrit.Film,film strip,model-model,dan lain-lain mempermudah pengertian tentang konsep dan proses-proses tertentu.4. KetekunanKetekunan belajar ini tampaknya bertalian dengan sikap dan minat terhadappelajaran. Bila suatu pelajaran karena suatu hal tidak menarik minatnya, maka iasegera mengenyampingkannya bila menemui kesulitan. Ketekunan itu nyata darijumlah waktu yang diberikan oleh murid untuk belajar sesuatu memerlukanjumlah waktu tertentu.
  • 10. 105. Waktu yang tersedia untuk belajarBahwa faktor waktu sangat esensial untuk menguasai bahan pelajaran tertentusepenuhnya. Dengan mengizinkan waktu secukupnya setiap murid dapatmenguasai bahan pelajaran, jika waktunya sama bagi semua murid, maka tingkatpenguasaan ditentukan oleh bakat muridnya.2.4.Usaha mencapai penguasaan penuhBermacam-macam usaha yang dapat dijalankan yang pada pokoknyaberkisar pada usaha untuk memberi bantuan individual menurut kebutuhan danperbedaan masinh-masing.Dalam usaha itu harus turut diperhatikan kelima faktoryang telah dikemukakan sebelumnya yakni (1) Bakat anak (2) Mutu pengajaran(3) Kemampuan memahami pengajaran (4) Ketekunan belajar dan (5) Jumlahwaktu yang disediakan.Menurut Bloom beberapa implikasi belajar tuntas dapat disebutkansebagai berikut:Dengan kondisi optimal, sebagian besar siswa dapat menguasai materipelajaran secara tuntas (mastery learning). Tugas guru adalah mengusahakansetipa kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang optimal, meliputi waktu,metode, media, dan umpan yang baik bagi siswa. Yang dihadapi guru adalahsiswa-siswi yang mempunya aneka ragam individual. Karena itu kondisi optimalmereka juga beraneka ragam. Perumusan tujuan instruksional khusus sebagaisatuan pelajaran mutlak diperhatikan, agar para siswa mengerti hakikat tujuanproses belajar. Cara yang paling efektif untuk diterapkannya belajar tuntas adalahadanya "tutor" untuk setiap anak yang dapat memberi bantuan menurut kebutuhananak.Cara lain adalah dengan menghapus batas-batas kelas seperti dilakukanpada apa yang disebut "Non Graded School", yaitu sekolah tanpa tingkat kelas.Sistem ini memungkinkan anak untuk maju menurut kecepatan masing-masing.
  • 11. 11Sistem Dalton oleh Miss Helen Parkhurst juga memiliki kebebasan belajar sesuaidengan kecepatan tiap murid secara individual.Jadi dalam usaha untuk mencapai penguasaan penuh, atau "masterilearning" perlu diselidiki prasyarat bagi penguasaan itu, selanjutnya diusahakanmetode penyampaian atau proses mengajar – belajar yang serasi dan akhirnyaperlu dinilai hasil usaha, hingga manakah usaha ini dapat dilakukan.2.5.Prasyarat-prasyaratSalah satu prasyarat untuk penguasaan penuh atau tuntas adalahmerumuskan secara khusus bahan yang harus dikuasai, prasyarat kedua adalahbahwa tujuan itu harus dituangkan dalam suatu alat evaluasi yang bersifat"sumatif" agar dapat diketahui tingkat keberhasilan murid. Dengan cara mengajaryang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid, usaha guruitu harus dibantu dengan kegiatan tambahan yang terutama terdiri atas:1. "feed back" atau umpan balik yang terperinci kepada guru atau murid2. Sumber dan metode-metode pengajaran tambahan dimana saja diperlukanFeed back diberikan malalui test-test formatif. Mula-mula bahan-bahan pelajarandibagikan satuan pelajaran. Suatu satuanpelajaran misalnya meliputi bahanpelajran satu bab atau bahan yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau duaminggu. Test formatif itu bersifat diagnotis dan serentak menunjukkan kemajuandan keberhasilan anak.(1) Test formatif ini mempercepat anak nelajar dan memberikan motivasi untukbekerja dengan sungguh-sungguh dalam waktu secukupnya.Tes formatifmenjamin bahwa tugas pelajaran tertentu dikuasai sepenuhnya sebalum beralihkepada tugas berikutnya.(2) Tes formatif diberikan untuk menjamin bahwa semua anak menguasaisepenuhnya syarat-syarat atau bahan apersepsi yang diperkukan untuk memahamibahan yang baru.
  • 12. 12(3) Tes formatif juga berguna bagi mereka yang telah memiliki bahan apersepsiyang diperlukan untuk memberi rasa kepastian atas penguasaannya.(4) Bagi murid yang masih kurang menguasai bahan pelajaran tes formatif,merupakan alat untuk mengungkapkan di mana sebetulnya letakkesulitannya.Jadi tes formatif adalah alat untuk mendiagnosiskelemahan,kesalahan dan kekurangan murid sehingga ia dapat memperbaikinya.(5) Tes formatif sebaiknya jangan disertai oleh angka.Tujuan yang harus dicapaiadalah pengusaan penuh.Test formatif dimaksud sebagai alat “asseement” yaitumemperoleh keterangan dengan maksud perbaikan.Karena itu test formatifmerupakan bagian yang intergral dari proses belajar.(6) Test formatif juga memberika umpan balik kepada guru,agar ia mengetahui dimana terdapat kelemahan-kelemahan dalam metode mengajar sehingga ia dapatmemperbaikinya atau mencari metode lain.Metode dan sumber belajar yangberaneka ragam dapat disajikan kepada murid-murid untuk mengusai bahan yangbelum dipahaminya,yang terungkap oelh hasil tes formatif.Selain itu dapatdiberikan bantuan tutorial yaitu bantuan pribadi dari seorang guru atau sebaliknyaorang lain.Cara-cara ini adalah:1. Menyuruh murid membaca kembali dengan cermat halaman-halaman bagiantertentu yang berkenaan dengan kesalahan murid itu.2. Menyuruh murid untuk membaca bagian tertentu dari buku lain yang berbedacara penyajiannya.2.6.HasilnyaDengan diterapkannya "mastery learning" justru mengembangkan minatdan sikap positif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anakitu kelak akan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam duniayang serba cepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubahini dan agar dapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup.
  • 13. 13BAB IIIPENUTUP3.1.Kesimpulan1.Belajar tuntas (mastery learning) adalah belajar mengajar yang bertujuan agarbahan ajaran yang dikuasai secara tuntas (suatu upaya belajar dimana siswadituntut menguasai hampir seluruh bahan ajaran).2. Prinsip-prinsip dari belajar tuntas yaitu:1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapatmenguasai sebagian besar bahan yang diajarkan.2. Guru menyusun strategi pelajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendaknya dikuasai oleh siswa.3. Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar satuan-satuan bahan ajar yang kecil yang mendukung sekelompok tujuan khusus tersebut.3. Tujuan proses belajar-mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajaridikuasai sepenuhnya oleh murid, ini disebut "mastery learning" atau belajartuntas, artinya penguasaan penuh.4. Belajar tuntas "mastery learning" justru mengembangkan minat dan sikappositif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anak itu kelakakan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam dunia yang serbacepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah ini dan agardapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup .

×