Makalah Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, dan Kebudayaan “ Mengintip Tabiat Midodareni “

  • 2,637 views
Uploaded on

Makalah Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, dan Kebudayaan “ Mengintip Tabiat Midodareni “. Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Sosiologi SMA Kelas X …

Makalah Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, dan Kebudayaan “ Mengintip Tabiat Midodareni “. Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Sosiologi SMA Kelas X

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,637
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
18
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . i Makalah Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, dan Kebudayaan “ Mengintip Tabiat Midodareni “ Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Sosiologi Disusun oleh Denti Agustina Damayanti ( 08 ) Dewani Prita Sumbadra ( 09 ) Farah Nurjannah ( 13 ) Ria Andini Saputri ( 26 ) Yuanita Arizona ( 33 ) SMA 1 WONOSOBO Jalan Tumenggung Jogonegoro Km. 02 Wonosobo 2011
  • 2. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ii Halaman Pengesahan Makalah dengan judul “Mengintip Tabiat Midodareni ” telah disahkan pada : hari : tanggal : Yang mengesahkan, Ruri Purnamawati, S.Pd NIP. 9870410 201001 2 019
  • 3. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iii Kata Pengantar Puji syukur kami penjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang bertemakan Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, Kebudayaan yang berjudul “Mengintip Tabiat Midodareni”. Penulisan makalah ini guna memenuhi tugas mata pelajaran sosiologi. Selain itu, sebagai wujud apresiasi Hubungan Sosialisasi, Kepribadian, dan Kebudayaan yang diwujudkan dalam Makalah Midodareni. Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan- kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan artikel ini. Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada : 1. Bapak Drs. Danang Kusumanto, M.Si selaku Kepala Sekolah SMA 1 Wonosobo serta segenap jajarannya yang telah memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril maupun materil. 2. Bapak Karyono selaku Wali Kelas X.5 SMA 1 Wonosobo. 3. Ibu Ruri purnamawati, S.Pd selaku Guru Mata Pelajaran yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini 4. Rekan-rekan semua di Kelas X SMA 1 Wonosobo. 5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam pembuatan makalah ini. Wonosobo, 03 Februari 2011 Penulis,
  • 4. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iv Daftar Isi Halaman Judul ...................................................................................................................................... i Halaman Pengesahan ......................................................................................................................... ii Kata Pengantar ..................................................................................................................................... iii Daftar Isi.................................................................................................................................................. iv Bab I Pendahuluan ........................................................................................................................ v A. Latar Belakang Masalah............................................................................................ B. Rumusan masalah....................................................................................................... C. Tujuan penulisan......................................................................................................... Bab II Pembahasan......................................................................................................................... vi Bab III Penutup.................................................................................................................................. xi A. Kesimpulan.................................................................................................................... B. Saran ................................................................................................................................ Daftar Pustaka....................................................................................................................................... xii Lampiran................................................................................................................................................. xiii
  • 5. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . v Bab I Pendahuluan A. Latar belakang masalah Sesuai Sunnah Rosul yaitu membentuk sebuah keluarga yang Barokah , Sakinah, Mawadah, warahmah, untuk membimbing dan menuntun insan manusia menuju jalan yang di Ridhoi Allah maka dilaksanakan pernikahan. Midodareni menjadi salah satu tradisi dalam proses pernikahan. Karena dengan adanya upacara midodareni diharapakan berkah tuhan Yang Maha Esa agar memberikan keselamatan kepada pemangku hajat pada perhelatan hari berikutnya dan memharap turunnya wahyu kecantikan bagi calon pengantin wanita sehingga kecantikannya diibaratkan bidadari. Tradisi midodareni dilaksanakan secara turun tenurun oleh masyarakat jawa sesuai dengan adat istiadat di daerah masing–masing. Midodareni dilaksanakan denagan serangkaian prosesi dan ubo rampenya yang akan dijelaskan lebih lanjut di Bab pembahasan. B. Rumusan masalah 1. Apa pengertian midodareni? 2. Siapa saja yang terlibat dalam prosesi midodareni? 3. Bagaimana prosesi midodareni? 4. Ubo rampe dalam prosesi midodareni? 5. Manfaat midodareni? 6. Tujuan midodareni? C. Tujuan penulisan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas sosiologi semester 1. Selain itu juga sebagai bentuk apresiasi kami terhadap hubungan sosialisasi, kepribadian, dan kebudayaan khususnya kebudayaan jawa yaitu prosesi midodareni dalam upacara pernikahan.
  • 6. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . vi Bab II Pembahasan 1. Pengertian Midodareni Midodareni adalah upacara untuk mengharap berkah Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan keselamatan kepada pemangku hajat pada perhelatan hari berikutnya. Secara khusus, pemangku hajat mengharap turunnya wahyu kecantikan bagi calon pengantin wanita sehingga kecantikannya diibaratkan secantik bidadari. Ada pula yang mengartikan midodareni berasal dari kata “widada” dan “areni”. Widada artinya selamat, areni = ari + n i= hari ini. Jadi midodareni adalah pemanjatan doa (harapan) keselamatan (Soegijarto, 2002:45). Jadi midodareni merupakan acara yang cukup sakral. Pada siang harinya kedua calon pengantin telah disirami, suci jiwa dan raga. Malam harinya siap untuk menerima anugerah wahyu jodoh, dan memprsiapkan keesokan harinya untuk dinikahkan. Pada malam itu juga dilaksanakan acara permohonan (doa) dengan tirakatan. Tirakat merupakan cara berdoa menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Pada akhir tirakatan midodareni ini, ada upacara wilujengan (upacara keselamatan). 2. Yang Terlibat Dalam Proses Midodareni Jadi yang terlibat dalam proses midodareni antara lain: a. mempelai wanita b. keluarga dari mempelai wanita, yaitu: i. orang tua mempelai wanita ii. keluarga besar atau sanak saudara c. pengatur prosesi yaitu juru rias pengantin d. mempelai pria (tidak diharuskan)
  • 7. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . vii 3. Proses Midodareni Jonggolan / Nyantri adalah sowannya calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita untuk beremu dengan orang tua dari calon mempelai wanita yang kelak akan menjadi mertuanya. Jonggolan sendiri berasal dari kata njonggol yang berarti menampakan diri. Mendapakan diri ini untuk menunjukkan kepada calon mertuanya bahwa sampai saat menjelang detik-detik akad nikah calon mempelai pria dalam keadaan sehat wal afiat dan telah mempunyai kemantapan hati untuk menikahi putrinya. Pada acara jonggolan ini calon mempelai pria tidak datang beserta orang tuanya melainkan hanya didampingi oleh wakil dari keluarganya yang telah ditunjuk oleh keluarganya. Dalam jonggolan ini calon mempelai pria datang dengan membawa sebuah bingkisan yang berisi segala keperluan sehari-hari calon mempelai wanita yang di sebut dengan seserahan. Yang unik dari seserahan ini adalah segala yang diberikan kepada calon istrinya semuanya berjumlah ganjil. Dan uniknya lagi pada saat acara jonggolan ini sang calon mempelai pria yang datang ke rumah calon mempelai wanitanya hanya diperbolehkan sampai di beranda rumahnya dan diberi jamuan hanya berupa segelas air putih saja tanpa diperbolehkan sma sekali untu bertemu calon istrinya. Tantingan Setelah calon pengantin pria datang menunjukkan kemantapan hatinya dan diterima niatnya oleh keluarga calon pengantin wanita saatnya calon pengantin wanita (sekali lagi) ditanya oleh kedua orang tuanya tentang kemantapan hatinya. Pada malam midodareni calon pengantin wanita hanya diperbolehkan berada di dalam kamar pengantin. Dan yang dapat melihat hanya saudara dan tamu yang wanita saja. Para Gadis dan Ibu-ibu.Kedua orangtua mendatangi calon pengantin wanita di dalam kamar, menanyakan kemantapan hatinya untuk berumah tangga. Maka calon pengantin wanita akan menyatakan ikhlas menyerahkan sepenuhnya kepada orangtua.
  • 8. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . viii Pembacaan dan Penyerahan Catur Wedha Pembacaan catur wedha adalah pembacaan empat wejangan untuk mengarungi rumah tangga yang di bacakan oleh ayah dan ibu mempelai wanita kepada calon mempelai pria. Wilujengan Majemukan Setelah acara Pembacaan Catur Wedha selesai maka kemudian acara midodareni pun ditutup dengan acara Wilujengan Majemukan yaitu acara bertemunya kedua orang tua calon pengantin yang bermakna kerelaan keduanya untuk saling berbesanan. Dan barulah kemudian menjelang kepulangan calon mempelai pria beserta keluarganya sang ibu dari calon mempelai wanita ini menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang kepada keluarga calon mempelai pria. Dan untuk mempelai prianya sendiri orang tua ini memberikan : 1. Kancing gelung Kancing Gelung adalah sebutan untuk seperangkat pakaian yang harus dikenakan pada upacara panggih nanti 2. Sebuah pusaka berbentuk dhuwung atau keris Pusaka ini sendiri diserahkan kepada calon mempelai pria agar kelak ketika mereka telah resmi menjadi suami istri mampu untuk melindungi keluarga dan rumah tangganya. 3. Ubo rampe dalam proses midodareni 1. Kembar mayang yaitu sepasang bunga yang bentuknya sama khusus untuk upacara pengantin,kecuali pada upacara pengantin yang tidak menggunakan kembar mayang. Kembar mayang mempunyai sebuah arti yaitu kembar= sama dan mayang =bunga.  Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kembar mayang adalah : a. daun-daunan b. pecut-pecutan c. keris-kerisan
  • 9. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ix d. paying-payungan e. walang-walangan f. manuk-manukan g. gedebog h. sepasang kelapa muda 2. Dlingo bengle jenis empon-empon dan bumbu dapur 3. Klemuk (bejana yang terbuat dari tanah liat) yang ditutup dengan kain motif bangun tulak dan gadhung melati. 4. Dua kendi (diisi dengan bumbu, jamu, beras, kacang, dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. 5. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. 6. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. 7. Suruh Ayu (daun betel). 8. Kacang Areca. 9. Tujuh macam kain dengan corak letrek. 10. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Di kamar lain, keluarga dan teman dekat dari calon pengantin wanita bertemu dan beramah tamah dengan keluarga dari calon pengantin laki-laki.
  • 10. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . x 4. Manfaat Midodareni Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mempercantik pengantin wanita 5. Tujuan Midodareni Tujuan midodareni antara lain:  Menunjukkan tekad bulat dan suci untuk siap menjalankan pernikahan.  Pernyataan syukur kepada Tuhan karena sang putri siap untuk dinikahkan.  Pernikahan anak merupakan kebahagiaan tak terhingga bagi orang tua.  Permohonan kepada Tuhan agar pelaksanaan acar berikutnya berjalan lancar dan selamat.  Sebagai sarana menjalin kekerabatan , kerukunan, kekompakan bersama antar pemangku hajat, pini sepuh, sesepuh, dan kerabat tetangga.  Meminta doa restu para hadirin agar perhelatan berjalan lancar.  Mempersiapkan berbagai kebutuhan dan hari berikutnya. Acara hari berikutnya merupakan acara inti, sakral, dan agung (yaitu pernikahan dan upacara panggih, resepsi). Pada malam itu, panitia dapat saling berkoordinasi, saling menanyakan kesiapan setiap seksi. Apabila ada yang dirasa kurang, masih ada waktu
  • 11. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . xi Bab III Penutup A. Simpulan Jadi, midodareni merupakan salah satu wujud sosialisasi karena dalam prosesinya terdapat tahap-tahap belajar sebagai manusia yang menginjak kedewasaan, untuk menyambut hidup barunya dengan berkeluarga. Sosialisasi itupun terwujud dalam hajatan yang dilakukan oleh orang tu para mempelai yang mengundang kerabat dekat mereka. Juga terdapat unsur kepribadian di dalamnya, karena tujuan dari midodareni itu sendiri adalah mengharap berkah kecantikan kepada mempelai wanita dan orang-orang yang terlibatpun dapat berinteraksi dengan serangkaian situasi. Kebudayaan dalam prosesi midodareni sangat jelas karena tradisi midodareni merupakan upacara yang cukup sakral dan sebagai warisan budaya yang turun temurun yang lahir, tumbuh, dan berkembang di daerah tertentu. Dengan demikian dalam prosesi midodareni terdapat hubungan antara sosialisasi, kepribadian, dan kebudayaan. B. Saran Midodareni sebagai serangkaian prosesi upacara yang cukup sakral dalam pernikahan, merupakan adat turun-temurun dari nenek moyang yang harus selalu dilaksanakan oleh masyarakat Jawa karena itu adalah warisan budaya yang harus dilestarikan dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya.
  • 12. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . xii Daftar Pustaka  Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Soemodidjoyo, Solo, 1991.  Wawancara dengan Ibu Ngatini
  • 13. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . xiii Lampiran  Hasil Wawancara Pewawancara: “ Bu, apa pengertian midodareni?” Narasumber : “Midodareni yaitu acara pra resepsi, dimana pengantin wanita, dimandikan oleh orangtuanya dan keluarganya (siraman) menggunakan bunga. Pewawancara: “ Bagaimana prosesinya Bu?” Narasumber :“Selesai proses mandi, pengantin putri dimasukkan ke ruang khusus, agar tidak bertemu pengantin pria ataupun banyak orang lainnya, prosesi ini diatur oleh juru rias pengantin”. Pewawancara: “ Apa tujuan prosesi midodareni ini?” Narasumber : “Tujuannya agar pada saat pelaminan nanti, pengantin wanita mirip dengan bidadari (artinya secantik bidadari)”. Pewawancara: “Kapan mempelai wanita dipertemukan dengan mempelai laki- laki?” Narasumber : “Mempelai wanita baru boleh dipertemukan dengan mempelai pria saat pelaksanaan resepsi (melempar daun sirih).”
  • 14. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ii  Asal-Usul Midodareni Cerita Jaka Tarub Pada suatu masa, para bidadari di kayangan, merasa ingin bercengkrama ke dunia. Para bidadari terbang. Ketika sampai di atas sendang, para bidadari merasa ingin mandi. Air sendang di tengah hutan itu sungguh memikat hati. Airnya jernih sekali hingga ikan- ikan tampak menari di dalam air. Ketika mereka sedang mandi bersuka-ria, ternyata ada seorang pemuda yang mengintip dari balik pohon yang besar. Pemuda itu bernama Jaka Tarub (seorang perjaka dari desa tarub). Jaka Tarub sangat terpesona dengan kecantikan bidadari sehingga tertarik untuk memilikinya. Jaka tarub tahu bahwa bidadari itu tidak busa terbang ke khayangan apabila tidak mengenakan pakaian bidadari. Maka salah satu baju bidadari dicuri oleh Jaka Tarub. Ketika para bidadari selesai mandi, salah satu bidadari kehilangan pakaiannya sehingga tidak bisa terbang. Bidadari itu bernama dewi Nawangwulan. Perasaan malu, takut, kalut, khawatir dsb, menyulut rasa bersumpah: “Barang siapa bisa memberikan pakaian kalau pria aku bersedia menjadi istrinya, jika wanita aku bersedia menjadi saudaranya.” Maka, keluarlah Jaka Tarub dengan memberikan pakaian wanita desa. Akhirnya, Jaka Tarub berhasil mempersunting dewi Nawangwulan. Perkawinan mereka dikaruniai seorang anak putrid yang cantik karena anak bidadari. Anak itu diberi nama dewi Nawangsih. Pada suatu pagi, sebagai seorang istri, dewi Nawangwulan bertugas mencuci pakaian suami dan anaknya, dewi Nawangwulan member pesan kepada suaminya : “Jangan sekali-kali membuka tutup dandang ketika sedang menanak nasi,”Jaka tarub sanggup. Akan tetapi, ketika putrinya menanmgis, merengek-rengek, Jaka Tarub mulai gusar hatinya. Dia bingung apa yang harus diperbuat untuk menghentikan tangisan putrinya. Jaka Tarub mondar-mandir. Dalam hati, ia berkata baranga kali bayinya lapar. Maka dicarinya makanan, tetapi tidak ditemukan, akhirnya, Jaka tarub memberanikan diri untuk melihat nasi yang ditanak istrinya. Ia ragu teringat pesan istrinya, namun, tangis putrinya seakan mendesak dirinya untuk mencarikan makan untuk membuka dandang.
  • 15. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iii Jaka Tarub sangat terkejut ketika yang di tanak hanya seuntai padi, dalam ahti ia berkata, “Kalau begitu wajar, hasil panen saya seakan tak pernah habis, Nawangwulan hanya menanak seuntai padi, itu karena kesaktiannya sebagai bidadari. Jaka Tarub segera mengembalikan tutup dandang itu. Dewi Nawangwulan pulang dan segera menimang putrinya yang sedang menangis. Smbil menimang putrinya, Nawang wulan membuka tutup dandang. Nawang wulan terkejut tapi belum jadi nasi. Segera dipanggilnya suaminya, Jaka Tarub. Ketika bertnaya”apakah kakang Jaka Trub membuka tutup dandang? Jaka Tarub mengiyakan karena hatinya tidak tahan, sangat haru dan tidak tega karena anaknya menangis tanpa henti. Jaka Tarub tidak tahu bahwa padi tidak dapat menjadi nasi untuk di makan. Dewi Nawangwulan tidak dapat menyalahkan suaminya. Semua itu justru karena kasih saying Jaka Tarub kepada putrinya, namun perbuatan itu mengandung resiko, Jaka Tarub pun mau menanggung resiko, Jaka Tarub harus membuat lesung dan alu untuk menumbuk padi menjadi beras. Setelah menjadi beras, baru dapat di tanak. Beras yang di tanak sekarang menjadi lebih banyak sehingga padi di lumbungnya pun mulai berkurang terus sehingga akhirnya habis. Ketika itu, Dewi Nawang Wulan pakaiannya ( pakaian bidadari ) di lumbung yang ditutupi padi. Dalam hatinya dia berkata, “ o…. kalau begitu kakang Jaka Tarub yang mencuri pakaian ku. Tidak mengapa. Mungkin ini sudah kehendak dewa. “kemudian, Dewi Nawang Wulan segera mengenakan pakaiannya itu dan menemui Jaka Trub dan terjadi percakapan berikut : Dewi Nawang Wulan : “ kakang Jaka Tarub, ini sudah kehendak dewa, saya sudah menemukan pakaian bidadari saya. Maka, ijinkan saya ubntuk kembali ke alam bidadari. Jaka Tarub : “ iya nimas. Memang dulu saya yang mengambil bajumu itu. Maafkanlah kakang. Kalau nimas kembali ke kahyangan bagaiman dengan putrimu yang masih bayi ini.” Dewi Nawang Wulan : “Tidak mengapa kakang saya akan terus mencintai dan menyayanginya, bahkan hati saya pun sangat berat meninggalkannya. Tetapi saya akan tetap mengunjunginya setiap saat.syaratnya bakarlah seuntai tangkai padi ( jawa: merang gaharu rasamala) di halaman. Ketika itu saya akan datang. Besuk kalau sudah dewasa, ketika akan menjadi pengantin, saya sendiri yang akan merias. Syaratnnya,
  • 16. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iv buatkanlah saya kembar mayang yang terbuat dari daun-daunan, pecut-pecutan, dan burung-burungan dari janur.” Setelah itu Dewi Nawang Wulan terbang ke angkasa dengan diiringi derai air mata Jaka Tarub, tetapi putrinya justru tersenyum. Karena masih suci hatinya, belum tercemar dosa, mungkin putrinya itu merasakan adanya kehendak dewa.  Cerita Pengalaman Tentang Midodareni Pada saat malam midodareni, layout teras dirubah. Kursi-kursi di buat berhadapan dibatasi oleh meja kecil. Tujuannya untuk memberi batas antara keluarga si mas dan aku. Agar pada saat perkenalan keluarga dapat saling melihat dengan jelas. Yang harus disiapkan sih yaitu teks catur wedha (yang aku edit sendiri uhuuuy), kancing gelung, angsul-angsul dan gelas air putih. Gelas air putihnya itu dihias sendiri sama si mama. Kreatif banget deeh.. Sebenarnya pada malam midodareni itu ada 3 acara utama. Yaitu jonggolan, tantingan dan wilujengan majemukan. Jonggolan adalah datanganya calon pengantin pria ke tempat calon mertua. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan selamat, dan hatinya telah mantab menikahkan putri mereka. Pada saat jonggolan ini, calon pengantin pria tidak boleh di dampingi oleh kedua orang tuanya. Jadi hanya ditemani oleh perwakilan keluarga dan anggota keluarga lainnya. Waktu itu si mas sudah sampai di rumah singgah sebelum maghrib. Jadi si mas sekeluarga datang ke rumah ku tepat waktu sekali. Jam 7 malam, sudah masuk ke halaman rumah ku. Karena malam midodareni ini tradisi Jawa. Jadi yang datang kebanyakan keluarga si mas dari pihak si mama (yups, manggilnya sudah mama sekarang). Mama itu asli Gombong. Jadi si mas sendiri ditemani oleh wakil keluarga Pakde Anto (kakaknya mama) dan adik eyangnya si Mas yang di Gombong. Setelah itu langsung dimulai deh acara. Diawali dengan imbal wacana dari kedua wakil keluarga (menyampaikan maksud tujuan kedatangan dari keluarga CPP, dan sambutan penerimaan dari keluarga CPW). Kemudian langsung di lanjutkan dengan pemberian seserahan, yang ternyata membengkak menjadi 23 boks. Eh buseeeett.. Bulekku yang
  • 17. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ii jadi PIC seserahan sampai sutris karena jadi banyak banget. Mangkanya pas estafet ke kamar pengantin jadi rada heboh. Hihihihi.. Kemudian setelah serah-serahan selesai, saatnya tantingan deeh. Mama papa mendatangi aku ke dalam kamar dan menanyakan kemantapan hati aku untuk rumah tangga dengan si mas. Pas bagian ini lucu bangeet. Waktu aku mengiyakan pertanyaan papa tentang kemantapan hati aku untuk menikah dengan si mas. Itu keluarganya si mas langsung bersorak kenceng banget. Sampai kedengaran dari kamarku. Huekekekeke.. Geliii deeh.. Pasti si mas abis di ceng -in deh di depan sana. Naah setelah acara tantingan selesai, dilanjutkan dengan pembacaan catur wedha oleh papa ku untuk si mas. Catur Wedha ini adalah wejangan kepada calon menantu yang berupa empat pedoman hidup. Naskah catur wedha ini kemudian di serahkan kepada si mas, namun sebelumnya sudah di tanda tangani oleh papaku. Dan habis itu acara wilujengan majemukan deeh. Bahasa indonesianya, perkenalan antara kedua keluarga dan dilanjutkan dengan santap malam bersama. Naah disaat kedua keluarga asik makan malam, si mas hanya boleh minum air putih yang disediakan oleh mama ku. Kasiaaan deh kamuu. Aku iseng banget malam itu, menugaskan adikku dan sepupuku untuk makan di sebelah mas. Biar si mas makin mupeeeeng. Huekekekekekeke… Caterindo, sekali lagi performnya bagus. Makanannya cukup (bahkan berlebih) dan rasanya nampol. Banyak yang muji sapo tahu punyanya Caterindo. Soalnya endang jumendang bangeeet.. Thanks yah Caterindo. Pas acara makan malam ini, keluarga si mas diperbolehkan menengok calon pengantin wanita di kamar pengantinnya. Hihihihi.. Seneng deh akhirnya ketemu sama manusia yang lain. Hihihi.. Kenalan sama keluarga mas yang belum pernah aku kenal. Dan gak lupa, foto bersama dunk.. Ketika saatnya acara hampir berakhir, salut buat ibu Hesti yang bisa membuat semua orang kembali duduk ke tempat semua.. Setelah selesai makan malam, keluarga si mas berpamitan. Dan baru deh si mas diberikan kancing gelung oleh papa, angsul-angsul sama mama dan yang paling penting buat mas di malam itu adalah dikasih rantang oleh si mama. Uhuuuyy.. Jadi bisa mam di rumah.. Overall acara berjalan lancar. Alhamdulillah banget. Dan aku cukup puas dengan kerja semua vendor di hari pertama. Terutama Ibu Hesti, Ibu Kiky ,tim Kamaratih dan Payu
  • 18. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iii foto yang super duper sigap.. Beskap-beskap pinjaman Kamaratih terutama. Bagus- bagus banget warnanya. Me like it.. Oh iya, sebenarnya ada sediki masalah teknis waktu menjelang malam midodareni. Lampu neon yang ada di tenda depan garasi mati. Alhasil gelap lah itu area tempat duduk keluarga si mas. Thank God ada tim Payu yang sigap banget , jadinya dipakailah lampu penerangan dr tim Payu punya. Thanks ya guys  Sekilas Tentang Midodareni Malam midodareni adalam malam menjelang ijab kabul dan panggih. Menurut masyarakat Jawa, pada malam midodareni ini para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mempercantik calon pengantin wanita. Untuk riasan pada malam midodareni ini, calon pengantin wanita biasanya tidak di dandani se optimal mungkin. Tetap riasan yang halus, namun sudah memakai konde khas Jawa dan sudah dikerik dan di gambari bentuk paes di dahinya. Ada istilah lainnya, yaitu sudah di bentuk congkorongan atau di alub alub. Waktu Malam midodareni aku kemarin sih, aku beneran bosan. Soalnya yaa disuruh nunggu teruuus dikamar.. Huekekeke.. Sampai saatnya tantingan tiba, abis itu teteuup suruh nunggu di kamar mpe bosen. Untung ada temen-temenku tercinta yang dateng.  Tembang Sekar asmaradana Gegarane wong akrami, Dudu bandha dudu rupa, Amung ati pawitane, Luput pisan kena pisan, Yen gampang luwih gampang, Yen angel-angel kalangkung, Tan kena tinambak harta. Ingkang arsa palakrami, Jalu tanapi wanita, Bagus sulistya warnane, Calon penganten kang priya, Bagus ALE ADRION AJIB ESA*, KLARISA ALRA YUMNA MAHARANI* satuhu, Calon penganten wanita. Ingkang arsa besaneki, Priyagung saking ngayogya, Bapak SUSILO** asmane, Bapak BASUKI SUBOWO**, Ingkang besan nunggal karsa, Samya mantep jroning kalbu, Palakrama ingkang putra. Keterangan : : nama calon pengantin ** : nama yang akan berbesan Sekar maskumambang Madhep mantep manembah Kang Maha Suci, Lelandhesan iman, Tawakal lair lan batin, Mrih gabya mulya uripnya. Golek cukup batuhing donya lan akhir ,
  • 19. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ii Iku kudu timbang, Ywa kongsi digawe miring, Yen miring isa anjomplang. Yen lagi ngoyak kabutuhaning lair, Kathenana rasa, Kaya isih arep urip, Urip tekan sewu warsa. Dene lamun ngoyak kebutuhaning batin, Kaya wus rumangsa, Uripe kari sawengi, Mula njur sengkut ngibadah. Dhandhanggula Ratri iki kinayoman mugi, Dadya hayu kalis ing sangsaya , Entek lebur rubedane, Nama wit Kalpataru, Miwah Dewadaru puniki, Antuk karsane sukma, Salugu kagadhuh, Ratu miwah kang akrama, Hingasta pra widadara widadaru, Hander maring buwana. Yekti iki nugrahaning widhi, Aji syarat nambut silakrama, Srana kang kondur bakale, Hamore westri jalu, Dadya tedhak turning wiji, Ilang salwiring godha, Putra tekeng putu, Ucap esthining wong tuwa, Runtut atut tumeka kaki lan nini, Hayem tentrem uripnya. Prajawata miwah widodari, Prapandhita resi myang jejanggan, Samya ngeningken ciptane, Muja-muji rahayu, Dhaupipun penganten kalih, Kalis ing sambekala, Winahyeng Hyang Agung, Kalayan kanthi suka, Kasembadan apa kang sinedyeng kapti, Binerkahan Pangeran Sekar durma Katrima sakehing pangibadahira, Kanthi tulusing ati, Ngibadah karana, Mung Allah kewala, Ingkang suka pepering, Marang kawula, Ingkang saestu nyukuri, Sapa wonge kang padha iman lan takwa, Wus mesthin den paring, Margi ingkang gampang, Sakeh panyuwunan, Kinabulaken yekti, Sakehing donga, Mring Gusti Maha Suci.  Kosa Kata Bahasa jawa Bahasa Indonesia 1. Kembar mayang iku wus ngarani, 1. Kembang mayang yaitu, 2. Kembar padha mayang iku sekar, 2. Kembar sama mayang itu bunga, 3. anenggih sekaring jambe, 3. Yaitu bunga jambe, 4. Rinakit adiluhung, 4. Yang dirangkai indah, 5. Dadya sarananira iki, 5. Sebagai sarana, 6. manten estri lan priya, 6. Pengantin wanita dan pria
  • 20. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . ii 7. Amrih guyup rukun, 7. Agar bahagia rukun, 8. Pinarcahya mring Hyang Sukma 8. Dipercaya oleh Tuhan, 9. Pinaringan momongan jalu lan estri, 9. Untuk diberi anak laki-laki dan perempuan 10. Satemah bagya mulya, 10. Sehingga berbahagia dan mulia, 11. Ana kayu apurwa sawiji, 11. Ada kayu berbatang satu, 12. Wit bawane epang keblat papat, 12. Batang memiliki cabang kiblat empat, 13. Agodhong mega rumembe 13. Berdaun mega rumembe, 14. Apradapa kekuwung 14. Pucuk daun melingkupi, 15. Kembang lintang salaga langit, 15. Bunga lintang salaga langit, 16. Sari sang ndaru-kilat, 16. Sarinya bernama daru dan kilat, 17. Woh surya lan tengsu, 17. Buah matahari dan bulan, 18. Aserat bun lawan udan, 18. Berserat embun dan hujan, 19. Apepucuk akasa bungkah pratiwi, 19. Berpucuk angkasa dan berpangkal bumi, 20. Oyote banyu-bajra. 20. Akarnya bayu bajra.  Siraman Naah karena acara pengajian yang ngaret ituuu, kita dah ketar ketir dunk untuk urusan pengantaran air siram k pihak CPP (Dewo), bayangin ajaa dari kemayoran ke Cirendeu klo ga macet aja bisa sampe 45 menit lamanya, dan ini dah menggunakan tol, bayangin klo di tambah macet, bisa2 2 jam. Dan ternyata sodara-sodaraaa...hal ini bener2 terjadi, tepat setelah pengajian selesai, jam 3an, rombongan pengantar air berangkat, delalaah pas di tol menuju ke Cirendeu, hujan deras pun turun... Trs denger cerita dari para rombongan ini, klo kondisi di jalan tol bener2 macet total, berhenti dan ga jalan sama sekali...Huaaaa dah panik MODE ON dunk, padahal estimasi
  • 21. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iii kita 45 menit- 1jam sampe. padahal acara siraman di rmh gw dah mau mulai, tadinya kita mau barengin siramannya (katanya bagusnya siy gitu, tapi ga mesti). Tapi menurut perias pengantin gw yang sekaligus menjadi dukun siraman di kala itu :D, katanya gpp klo pihak Calon Pengantin Wanita menggelar acara siraman duluan. So, akhirnya jam 3an, setelah rombongan pengantar air pergi, gw pun keluar dari kamar pengantin dengan lengkap berjubah pengantin, sudah di make up dan di sanggul. Awalnya gw bingung aja, kenapa dah di sanggul skrg, toh nanti mau basah2an. Tapi ternyata menurut perias gw, katanya lebih mudah di sanggul, supaya lebih rapi dan nantinya gampang di sanggul ulang utk ritual selanjutnya (Dodol dawet dan Tumpeng robyong), jadi ya sudah gw nurut aja. Persiapan menjelang Siraman Keluar dari kamar, gw pun langsung di tuntun dan diarahkan sama perias gw untuk matur (terimakasih) dan sungkeman sama mama papa, lalu duduk dan membaca semacam ucapan terimakasih sama mama dan papa atas semua jerih payahnya selama ini, udah membesarkan gw dari kecil hingga besar. Disini sediiih dan terharuu bangeeet, karena sebentar lg gw akan melangkah ke kehidupan baru, dan orang tua harus merelakan anaknya untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Gw membaca teks itu sambil nangis terharu biru dan terisak2, mama papa jg sama, apalagi di tambah lantunan lagu jawa yang mendayu2 dari Pak Toto, MC adat yang mengiringi ritual siraman di saat itu, huaaa tambah deh sedihnyaa. setelah selesai sungkeman dan matur tadi, akhirnya gw diantar sama mama papa k tempat siraman. Oya, me likey so much lho sama tempat siramannya, coba tengok di bawah ini. So full of flowerrr... Gubuk Siraman Setelah sampai di tempat siraman, mama dan papa bersiap untuk menyiramkan gw. Oya untuk ritual siraman ini, dibutuhkan sekitar 9 orang, jadi 2 orang itu orang tua sendiri, dan 7 orang lainnya, saudara-saudara yang sudah pernah menikahkan dan harus perempuan, karena yang disiramkan adalah perempuan juga, nah klo di tempat dewo kebalikannya, 7 orang yang dibutuhkan selain orang tua, harus laki-laki, tapi juga harus yang sudah pernah menikahkan.
  • 22. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . iv Oya ternyata di balik angka ganjil dan jumlah 9 orang itu ada makna terkandung di dalamnya lho. Jumlah sembilan tersebut menurut budaya Keraton Surakarta untuk mengenang keluhuran Wali Sanga, yang bermakna manunggalnya Jawa dengan Islam. Selain itu angka sembilan juga bermakna ’babahan hawa sanga’ yang harus dikendalikan. Setelah disiramkan, lalu rambut gw pun di potong sedikit (cuma ujungnya aja siy) untuk di tanam di tanah, klo yang ini gw agak lupa maknanya untuk apa :D. Terus setelah rambut dipotong, gw disiram dengan air kendi dan disuruh menjalani ritual wudhu seperti sebelum salat. Dan lalu setelah kelar wudhu, lalu kendi di pecahkan. Lalu setelah itu, gw di gendong sama papa untuk di bawa k ruang rias (kamar pengantin) untuk di dandani kembali. Ritual potong rambut dan gendongan Sambil menunggu gw di make up dan berganti kebaya, mama dan papa jualan melanjutkan ritual lainnya, yaitu jualan dawet (dodol dawet). Dengan menggunakan uang kreweng (dari tanah liat), ibu-ibu harus rela mengantri untuk mendapatkan dodol dawet, konon katanya siy biar anaknya cepat menikah juga :D Dibawah ini makna dari jualan dodol dawet: Jual Dawet diambil makna dari cendol yang berbentuk bundar merupakan lambang kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan anak. Bagi orang yang akan membeli dawet tersebut harus membayar dengan ’kreweng’ (pecahan genting) bukan dengan uang. Hal itu menunjukkan bahwa kehidupan manusia berasal dari bumi. Yang melayani pembeli adalh ibu sedangkan yang menerima pembayaran adalah bapak. Hal ini mengajarkan kepada anak mereka yang akan menikah tentang bagaimana mencari nafkah sebagai suami istri, harus saling membantu. Here's a pic ketika mama dan papa beralih profesi jadi penjual Dawet :D That's all about siraman dan dodol dawet, review selanjutnya "Tumpeng Robyong & Malam Midodareni" Stay tunee :)
  • 23. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . v  Galery
  • 24. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . vi
  • 25. SMA NEGERI 1 WONOSOBO Mengintip Tabiat Midodareni . . . vii