• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
skripsi BaB I
 

skripsi BaB I

on

  • 14,686 views

model pembelajaran inquiry

model pembelajaran inquiry

Statistics

Views

Total Views
14,686
Views on SlideShare
14,686
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
184
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    skripsi BaB I skripsi BaB I Document Transcript

    • BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu system yang saling berkaitan.Sistaem tersebut terdiri dari komponen – komponen antara lain : Guru, Siswa, dan Fasilitas belajar.Tanpa adanya komponen – komponen tersebut, proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik. Guru sebagai tenaga pengajar, berusaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan agar mudah di terima oleh siswa.Untuk itu guru memerlukan strategi mengajar melalui model pembelajaran yang tepat sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.Keberhasilan seorang guru dapat diukur melalui nilai prestasi siswa yang meningkat setelah proses pembelajaran. Rendahnya prestasi belajar siswa di pengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah cara mengajar guru dengan hanya menggunakan metode ceramah. Metode ceramah yang digunakan secara terus menerus tanpa menggunakan alat bantumengajar seperti media pengajaranakan mengakibatkan siswa merasa bosan pada mata pelajaran yang bersangkutan.Hal itu di karenakan kemampuan siswa dalam menerima materi yang tidak sama dalam satu kelas.Informasi akan menarik jika guru menggunakan model pembelajaran Inquiry, karena dalam pembelajaran Inquiry guru betugas sebagai Konselor dalam proses belajar mengajar, serta siswa beerusaha mengoptimalisasikan kemampuannya untuk belajar mandiri dalam mencari informasi untuk memecahkan permasalahan yang ada. Berdasarkan informasi dari kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki kecamatan Besuki kabupaten Situbondo, bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran Biologi masih rendah sehingga terjadi kesalahan – kesalahandalam mengerjakan soal – soal.Kesalahanyang dilakukan siswa dalam menjawab soal merupakan indikator kesulitan siswa, kemungkinan juga dari model atau metode pembelajaran yang digunakan guru selama ini dengan metode ceramah tidak mampu meningkatkan aktivitas siswa sehingga 1
    • siswa cenderung pasif dan hanya bergantung pada penjelasan guru.Dari pengalaman belajar siswa yang cenderung pasif mengakibatkan kemampuan kognitif siswa sangat rendah sehingga hasil belajar siswa tidak mencapai ketentuan belajar. Hasil observasi yang dilakukan pada guru kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki, bahwa guru dalam menyajikan materi, guru masih menggunakan metode ceramah dan guru memegang kendali penuh, kurang adanya komunikasi antara guru dan siswa sehingga keaktifan siswa sangat kurang. Untuk itu dalam penelitian ini digunakan model pembelajaran Inquiry yang mana dalam proses pembelajaran Inquiry siswa dapat mengembangkan ke kreatifannya untuk mencari informasi melalui penelitian dan percobaan dalam memecahkan permasalahan dalam materi pembelajaran biologi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mencoba mengangkat penelitian yang di fokuskan pada model pembelajaran Inquiry pada mata pelajaran biologi kelas VII pokok bahasan “EKOSISTEM” tahun pelajaran 2011 – 2012 dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka agar penelitian ini lebih terarah, terlabih dahulu akan merumuskan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini, masalah adalah sesuatu yang masih berupa problema yang perlu dicari pemecahannya yakni sevagai berikut : 1. Bagaimana penerapan model pembelajaran inquiry terbimbing dalam proses pembelajaran biologi kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki pokok bahasan “ EKOSISTEM “ tahun pelajaran 2011 – 2012. 2. Adakah pengaruh model pembelajaran Inquiry terbimbing terhadap aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Biologi kelas VII MTs. AL – HIKMAH Besuki pokok bahasan “ EKOSISTEM “ tahun pelajaran 2011 – 2012. 2
    • 3. Adakah pengaruh pembelajaran Inquiry terbimbing terhadap hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran biologi kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki pada pokok bahasan “ EKOSISTEM “ tahun pelajaran 2011 – 2012.1.3 Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel adalah definisi tentang variabel maupun konsep – konsep secara spesifik sehingga definisi tersebut dapat diamati oleh si peneliti maupun orang lainyang ingin menguji kembali. Dengan demikian definisi operasional variabel berfungsi untuk menghindari salah penafsiran dan perbedaan pendapat tentang judul Skripsi. Dalam penelitian ini, ada tiga variabel yang akan diteliti yaitu : 1. Model pembelajaran inquiry terbimbing 2. Aktivitas belajar 3. Hasil belajar 1.3.1 Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Inquiry terbimbing merupakan model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa yang mana dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk lebih aktif dalam memecahkan permasalahan yang telah ditentukan oleh guru dalam pembelajaran inquiry terbimbing ini guru berpegang penuh dalam membimbing proses pembelajaran dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. 1.3.2 Aktivitas Belajar Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Kegiatan atau aktivitas yang diteliti yaitu membaca, menulis, mendengarkan , bertanya, merespon. 1.3.3 Hasil Belajar Hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai berkat usaha yang di tunjukkan dengan adanya perubahan yang mengarah pada penguasaan, pengeluaran, kecakapan dan kebiasaan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif berkat pengalaman dan latihan. 3
    • Dalam penelitian ini yang dimaksud nilai adalah ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dapat diukur dengan Kriteria ketuntasan Minimal ( KKM ) yang mana dalam penelitian ini KKM yang ditentukan adalah 70 Model pembelajaran Inquiry dikatakan mampu meningkatkan aktiviatas dan hasil belajar siswa apabila dalam penelitian tindakan kelas, pada kelas VII MTS. AL – Hikmah Besuki pokok bahasan “ EKOSISTEM “ siswa mapu memperoleh nilai diatas KKM yang sudah ditentukan oleh guru.1.4 Tujuan Penelitian Dalam suatu penelitian ada maksud dan tujuan tertentu dimana tujuan itulah terfokus dalam suatu penelitian. Menurut Kartini Kartono berpendapat bahwa penelitian bertujuan untuk menentukan, mengembangkan dan mengakaji kebenaran suatu penelitian ( 1996 ; 20 ) Sesuai dengan permasalahan yang ada maka menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah : 1. Ingin mengetahui bagaimana model pembelajaran Inquiry terbimbing pada mata pelajaran biologi materi pokok “ EKOSISTEM “ kelas VII MTs. AL – HIKMAH Besuki tahun ajaran 2011 – 2012. 2. Ingin mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Inquiry terbimbing terhadap aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran biologi materi pokok “ EKSISTEM “ kelas VII MTs. AL – HIKMAH Besuki tahun ajaran 2011 – 2012. 3. Ingin mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Inquiry terbimbing terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi materi pokok “ EKOSISTEM “ MT. Al – HIKMAH Besuki tahun ajaran 2011 – 2012.1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah : 4
    • 1. Bagi Peneliti a. Menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya masalah pendidikan. b. Menerapkan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah.2. Bagi Lembaga Sekolah / Guru. a. Guru dapat memperbaiki cara mengajar dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry yang mampu menarik motivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. b. Hasil penelitian dapat di jadikan sarana untuk menyusun kebijaksanaan baru dalam strategi belajar mengajar di masa yang akan datang. c. Merangsang motivasi guru untuk lebih menekankan keberhasilan proses pembelajaran dari pada hanya sekedar nilai akhir belajar siswa tanpa di sertai pencapaiankompetensi dasar yang seharusnya di kuasai.3. Bagi Siswa a. Siswa lebih tertarik pada materi pelajaran yang di sampaikan guru. b. Langkah – langkah pembelajaran yang di terapkan dapat mendorong penguasaan kompetensi belajar siswa meningkat. c. Presentasi keberhasilan belajar siswa meningkat.4. Bagi Institusi a. Program peningkatan kualitas kinerja guru. b. Program meningkatkan mutu pendidikan yang selaras denagn misi – misi sekolah.5. Bagi masyarakat / Pendidikan Secara Umum a. Hasil penelitian ini sebagai sarana umtuk memberikan dorongan bagi putra bagi putra – putrinya agar lebih giat belajar untuk mencapai hasil yang lebih baik. b. Hasil penelitian ini dapat diajadikan acuan dalam memecahkan problema pendidikan. 5
    • BAB II KAJIAN PUSTAKA2.1 Pengertian Teori Teori merupakan hal yang mutlak di perlukan dalam setiap penelitian, sebab dengan mendasarkan diri pada teori yang konkrit dan relevan dalam masalah penelitian, maka unsur – unsur penelitian dapat diuraikandengan jelas sehingga akan memudahkan dalam pembuktian hipotesisnya. Selain itu pemakaian teori akan dapat memberikan petunjuk dalam pelaksanaan kerjasama dan yang dimaksud teori adalah suatu konsep dan definisi yang saling berhubungan dan dapat digunakan sebagai daar untuk menjelaskan dan meramalkan kejadian – kejadian atas peristiwa yang saling berhubungan. 2.2.1 Pengertian Pembelajaran Contextual Teaching And Learning ( CTL ) 2.2.1.1 Pengertian CTL Pembelajaran kontextual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi dengan keadaan dunia nyata. Dengan model pembelajaran ini diterapkan dapat meningkatkan memotivasi siswa dalam belajar. Hal ini karena siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang di peroleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat, dan nantinya sebagai tenaga kerja ( Suyanto, 2002 ; 2 ). Landasan filosofi pengembangan CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontrusikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Hal ini dilandasi filosofi bahwa pengetahuan tidak dapat di pisah – pisahkan menjadi fakta – fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang 6
    • di gagas oleh jhon dewey pada awal abad 20 yang lalu ( Nurhadi, 2002 ; 26 ). Pembelajaran konstektual dalam terjemahan dari contextual teaching and learning ( CTL ) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofipendidikan dan sebagai rangkaian kesatuan strategi pendidikan. Bowling Green University, Johnson ( 2002 ) menjelaskan bahwa “ CTL adalah sistem yang holistik, yang terdiri dari interrelasi bagian – bagian yang memberikan dampak pada di terima suatu bagian yang mendalam ( Jhonson, 2002 ; 24 ). Penerapan CTL dalam pembelajaran dilaksanakan dengan siswa belajar dan memahami konsep – konsep pelajaran melalui masalah ( problem ) yang disajikan melalui alat peraga, memahami konsepnya kemudian mengaplikasikannya.2.2.1.2 Karakteristik dan Komponen CTL Nurhadi ( 2002 : 20 ) menjelaskan bahwa karakteristik pembelajaran berbasis CTL adalah : ( 1 ) kerjasama, ( 2 ) saling menunjang , ( 3 ) menyenangkan tidak membosankan, ( 4 ) belajar dengan bergairah, ( 5 ) pembelajaran terintegrasi ( 6 ) menggunakan berbagai sumber ( 7 ) siswa aktif ( 8 ) sharing dengan teman, ( 9 ) siswa kritis dan guru kreatif, ( 10 ) dinding kelas dan lorong – lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta – peta, gambar, artikel, humor dan lain sebagainya, ( 11 ) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, dan karangan siswa dan lain – lain. Karakteristik pembelajaran konstektual adalah : 1. Pembelajaran bermakna 2. Adanya keterkaitan yang kuat antar materi yang di pelajari dengan dunia nyata. 3. Siswa bersikap kritis dan guru kreatif dan inovatif, dan 4. Penilaian menggunakan authentic assessment. 7
    • Secara khusus, Nurhadi, ( 2002 ; 10 ) menyatakan bahwa ada tujuan komponen utama CTL, yaitu : a. Kontruktivisme ( contructivism ) b. Menemukan ( Inquiry ) c. Bertanya ( Questioning ) d. Masyarakat belajar ( Learning Community ) e. Pemodelan ( Modeling ) f. Refleksi ( Reflection ) g. Penilaian yang sebenarnya ( Aunthentic Assessment )2.2.1.3 Penerapan CTL dalam pembelajaran Dalam pembelajaran kontextual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajaryang penting, yaitu mengaitkan ( relating ), mengalami ( exprinencing ), menerapkan ( applaying ), bekerjasama ( cooperating ), dan mentransfer ( transferring ). 1. Mengaitkan adalah Strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstrutivisme. Guru menggunakan konsep ini ketika ia mengaitkan konsep materi baru dengan materi yang sudah di kenal siswa. 2. Mengalami. Merupakan inti belajar kontektual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun dengan pengetahuan sebelumnya. 3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi dengan memberikan latihan yang realistic dan relevan. 4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan signifikan. Sebaliknya siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. 8
    • 5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam – macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hafalan.2.2.1.4 Kelebihan dan Kelemahan CTL (Contextual Teaching and Learning) 1. Kelebihan CTL a. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa di tuntut untuk dapat menagkap hubungan antara penaglaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dalam kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsioanal, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan. b. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aluran konstruktivisme, dimana seorang siswa di tuntun uentuk menemukan pengetahuannya sendiri. 2. Kelemahan CTL a. Guru lebih intensif dalam membimbing, karena dalam model pembelajaran CTL guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Dalam pembelajaran ini, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “ Penguasa “ yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap berkembangnya. 9
    • b. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar menyadari dengan sadar menggunakan strategi – strategi mereka sndiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang di terapkannya.2.2 Dasar Pandangan Teori Tentang Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing 2.2.2 Pengertian Pembelajaran Inquiry Terbimbing Sejak manusia lahir kedunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar disekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir kedunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segal sesuatu melalui indra penglihatan, pendengaran, pengecapan dan indra – indra lainnya. Hingga dewasa keingin tahuan manusia secara terus – menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna ( meaning full ) manakala didasari oleh keingin tahuan itu. Didasari inilah suatu strategi pembelajaran yang dikenal dengan model pembelajaran Inquiry dikembangkan Inquiry secara harfiah berarti penyelidikan. Carind dan Sund ( Mulyase, E., 2005 ; 108 ) meyatakan bahwa “ Inquiry Is The Process Of Muestigi Ting a Probleme “ artinya bahwa Inquiry adalah proses penyelidikan suatu masalah. Menurut Kuslan dan Stone ( Wartono, 1996 ; 29 ) mendefinisikan Inquiry sebagai pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari peristiwa. Peristiwa ilmiah dengan pendekatan jiwa para ilmuwan. Sanjaya ( 2008 ; 196 ) menyatakan Inquiry berasal dari kata To Inquire yang berarti ikut 10
    • serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan – pertanyaan. Mencari informasi dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa Inquiry ini bertujuan untuk memberi cara bagi siswa untuk mwmbangun kecakapan – kecakapan intelektual ( kecakpan berfikir ) terkait dengan proses – proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara – cara untuk menbantu individu untuk membangun kemampuan itu. Pembelajaran inquiry terbimbing adalah model pembelajaran dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarah pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap – tahap pemecahannyadengan pembelajaran inquiry terbimbing ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru sehingga siswa dapat lebih memahami konsep – konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas – tugas yang relevan untuk diselesaikan baik diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.2.2.2.1 Ciri – cirri Model Pembelajaran Inquiry Terbimbing Selanjutnya Sanjaya ( 2008 ; 19 ) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi cirri utama model pembelajaran Inquiry, yaitu: 1. Model pembelajaran Inquiry terbimbing ini menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan masalah. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukam sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri 11
    • 2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang di pertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri ( self blief ). 3. Tujuan penggunaan model Inquiry adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran Inquiry siswa tidak hanya di tuntut untuk menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang di milikinya.2.2.2.2 Langkah – langkah Pembelajaran Inquiry Terbimbing Sanjaya ( 2008 ; 202 ) menyatakan bahwa pembelajaran Inquiry mengikuti langkah – langkah sebagai berikut : 2.2.2.2.1 Orientasi Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang di lakukan dalam orientasi ini adalah : 1. Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang di harapkan dapat di capai oleh siswa. 2. Menjelaskan pokok – pokok kegiatan yang harus di lakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. 3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini di lakukan dalam rangka memberikan memotivasi belajar siswa. 2.2.2.2.2 Merumuskan Masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka – teki. Persoalan yang di sajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka – teki itu. Teka – teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabanya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran Inquiry, 12
    • oleh karna itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.2.2.2.2.3 Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang tepat di lakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak ( berhipotesis ) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang di kaji.2.2.2.2.4 Mengumpulkan Data Mengumpulkan data adalah aktivitas menyaring informasi yang di butuhkan untuk menguji hipotesis yang di ajukan. Dalam pembelajaran Inquiry, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berfikirnya.2.2.2.2.5 Menguji Hipotesis atau melakukan pengamatan Menguji hipotesis menentukan jawaban yang di anggap di terima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan datanya. Menguji hipotesis juga mengembangkan kemampuan berfikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang di berikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertanggung jawabkan. 13
    • 2.2.2.2.6 Merumuskan Kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang di peroleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan. Dalam mengembangkan sikap Inquiry di kelas guru mempunyaiperanan sebagai konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapatmembimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga tahapyaitu :1.) Tahap problem solving atau tugas ; 2.) Tahap pengeluaran kelompok ; 3.)Tahap pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagaiinstruk dapat memberikan kemudahan dalam bekerja kelompok, melakukanintervensi dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.2.2.3 Macam – Macam / Tingakatan Inquiry Model pembelajaran inquiry terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang di berikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis pembelajaran tersebut adalah : 2.2.3.1 Inquiry Terbimbing ( Guided Inquiry Approuch ) Pembelajaran inquiry terbimbing adalah model pembelajaran dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarah pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap – tahap pemecahannyadengan pembelajaran inquiry terbimbing ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru sehingga siswa dapat lebih memahami konsep – konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas – tugas yang relevan untuk diselesaikan baik diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu 14
    • menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. 2.2.3.2 Inquiry Bebas ( free inquiry approach ) Pada umumnya pembelajaran inquiry bebas ini di gunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pembelajaran inquiry. Karena dalam inquiry bebas ini menempatkan siswa seolah – olah ilmuwan sungguhan. Siswa di beri kebebasan menentukan permasalahan untuk di selidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah – langkah yang di perlukan. 2.2.3.3 Inquiry Bebas Yang Di modifikasikan ( modified free inquiry approach ) Dalam pembelajaran inquiry jenis ini membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat di berikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh – contoh yang relevan dengan permasalahan yang di hadapi, atau melalui siswa dengan kelompok lain.2.2.4 Tujuan pembelajaran Inquiry Terbimbing Metode pembelajaran inquiry disamping mengantarkan siswa pada tujuan intruksional tingkat tinggi, tetapi dapat juga memberikan tujuan ringan ( nutrunan effect ) sebagai berikut : 1) Memperoleh keterampilan untuk memperoses secara ilmiah. 2) Lebih berkembangnya daya kreaktifitas anak 3) Belajar secara mandiri 4) Perolehan sikap ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang menerimanya secara sensitif ( Gulo, 2002 ;101 ) 5) Lebih memahami hal – hal yang mendua 15
    • 2.2.5 Peranan Pembelajaran Inquiry Terbimbing Pelaksanaan penggunaan model pembelajaran inquiry mempunyai peranan penting baik bagi guru maupun para siswa antara lain sebagai berikut : 1) Menekankan kepada proses perolehan informasi oleh siswa 2) Membuat konsep dari siswa bertambah dengan penemuan – penemuan yang di perolehnya 3) Memilki kemampuan untuk memperbaiki dan memperluas penguasaan keterampilan dalam proses memperoleh kognitif para siswa. 4) Penemuan – penemuan yang di peroleh siswa dapat menjamin kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya. 5) Tidak menjadikan guru satu – satunya sebagai sumber belajar.2.2.6 Syarat kegiatan Pembelajaran Inquiry Kondisi – kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inquiry adalah : 1) Aspek social didalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi. 2) Berfokus pada hipotesis 3) Penggunaan fakta sebagai evidensi2.2.7 Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Inquiry Terbimbing Pembelajaran inquiry merupakan pembelajaran yang banyak di anjurkan, karena memilki keunggulan di antaranya ; 1. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang sehingga pembelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna. 2. Pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. 3. Pembelajaran ini merupakan strategi yang di anggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang 16
    • menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkata adanya pengalaman. 4. Keuntungan lain adalah dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata – rata. Disamping memilki keunggulan, pembelajaran ini memiliki kelemahan diantaranya : 1. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. 2. Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. 3. Kadang – kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyelesaikannya dengan waktu yang di tentukan. 4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi ini tampaknya akan sulit di implementasikan.2.3 Dasar Pandangan Teori Tentang Aktivitas Belajar 2.3.1 Aktivitas Menurut Anton M. Mulyono ( 2001 ; 26 ), aktivitas artinya “ kegiatan atau keaktifan “ jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan – kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik merupakan suatu aktivitas. Menurut Sriyono aktivitas adalah segala kegiata yang di lakukan baik secara jasmani dan rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan slah satu indicator adanya keinginan siswa untuk belajar. 2.3.2 Aktivitas Belajar Aktifitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi ( guru dan siswa ) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang di maksudkan disni penerapannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dlam proses 17
    • pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif. Seperti yang dikemukakan oleh Rochman Nata Wijaya dalam Depdiknas ( 2005 ; 31 ), belajar aktif adalah keaktivan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Trinandita ( 1984 ) menyatakan bahwa “ hal yang paling mendasar yang di tuntut dalam proses pembelajaran adalah keaktivan siswa “. Keaktivan siswa dalam proses belajar akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing – masing siswa dapat melibatkan kemampuan semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.2.4 Dasar Pandangan Teori Tentang Mata Pelajaran Biologi 2.4.1 Pengertian Biologi 2.4.1.1 Pengertian Ilmu Biologi Berdasarkan etimologi biologi berasal dari dua kata yaitu bios artinya hidup dan logos artinya ilmu dari dua kata tersebut pengertian biologi yaitu “ biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang semua makhluk hidup di muka bumi ( manusia, hewan, tumbuhan, jamur, ganggang / alga, bakteri, dan virus “. Dari pendapat diatas dapat penulis simpilkan bahwa mata pelajaran biologi adalah mata pelajaran yang di ajarkan untuk sekolah dasar atau sekolah lanjutan atas dimana pada dasarnya pelajaran biologi berupaya untuk membekali siswa dengan berbagai kemampuan tentang cara “ mengetahui “ dan cara “ mengerjakan “ yang dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara mendalam. 18
    • 2.4.1.2 Tujuan Pengajaran biologi mempunyai tujuan dalam proses pembelajaran bagis siswa yaitu : 1. Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan. 2. Kebanggaan nasional dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. 3. Memahami konsep – konsep biologi dan saling keterkaitan. 4. Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari – hari. 5. Mengembangkan keterampilan dasar biologi untuk memperolehkonsep – konsep biologi dan menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah. 6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya tecknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. 2.4.1.3 Fungsi Pengajaran biologi berfungsi menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah serta menguasai konsep biologi untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.2.4.2 Materi Pokok EKOSISTEM Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oelh hubungan timbale balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan penggabungan dari stiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbale balik antara organisme 19
    • dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatustruktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antaraorganisme dan an organisme. 2.4.2.1 Komponen Pembentuk Ekosistem Komponen – komponen pembentuk Ekosistem adalah : 1. Abiotik Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa an organik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme yaitu : 1. Suhu. Proses biologi di pengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperature dan tubuhnya. 2. Air. Ketersediaan air mempengaruhi distribusi organism 3. Garam. Konsentrasi garam mempengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis 4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya mempengaruhi fotosintesis. 5. Tanah dan Batu. Beberapa karakteristiktanah yang meliputi struktur fisik, PH, dan komposisi mineral penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makananya di tanah. 6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. 2. Biotik 20
    • Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup ( organisme ). Komponen biotic adalah suatu komponen yang menyusu suatu ekosistem selain komponen abiotik ( tidak bernyawa ). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup di bedakan menjadi tiga macam yaitu : 1. Heterotof / konsumen Komponen heterotof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan – bahan organic yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Yang tergolong heterotof adalah manusia hewan, jamur, dan mikroba. 2. Pengurai / decomposer Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati.2.4.2.2 Ketergantungan Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antara komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik. 1. Antar komponen biotik a. Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui rantai makanan b. Jaring – jaring makanan yaitu raintai – rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jaring – jaring2.4.2.3 Antar komponen biotik dan abiotik Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dpat terjadi melalui siklus materi. Seperti 1. Siklus karbon 21
    • 2. Siklus air 3. Siklus nitrogen 4. Siklus sulfur2.4.3 Dasar Pandangan Teori Tentang Hasil Belajar Asal kata hasil usaha adalah dari prestasi yang menurut Ws. Wingkel adalah : “ bukti usaha yang di capai karena adanya pengalaman dan latihan “ ( 1994 ; 161 ). Sedangkan pengertian belajar menurut James Whi Haber yang kemudian dikutip Wasty Soetomo adalah “ proses dimana tingkah laku yang timbul atau mengalami perubahan karena adanya latihan atau pengalaman “ ( 1991 ; 99 ). Dari pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah hasil dari bukti usaha seseorang dalam proses pembelajaran baik berupa latihan ataupun pengalaman. 2.4.3.1 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Hasil belajar yang di capai oleh siswa merupakan interaksi dari berbagai factor yang saling mempengaruhi baik dari dalam ( faktor internal ) dari siswa itu. Wasty Soemanto, mengemukakan pendapatnya faktor – faktor prestasi belajar dapat di golongkan menjadi tiga macam yaitu : a. Faktor – faktor stimulasi belajar adalah hal diluar individu yang merangsang individu untuk menyadarkan reaksi atau perubahan belajar b. Faktor – faktor metode belajar adalah metode belajar yang dipakai oleh pelajar karena di pengaruhi oleh metode mengajar yang digunakan guru c. Faktor – faktor individu meliputi : “ Kematangan usia, jenis kelamin, pengalaman kapasitas mental, kondisi kesehatan 22
    • jasmani dan rohani, serta motivasi ( 1990 ; 107-115 ).2.4.3.2 Penilaian Hasil Belajar Penilaian adalah belajar penting dalam proses belajar mengajar dan merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah program kegiatan belajar mengajar yang di rencanakan dan di laksanakan itu sudah berhasil atau tidak. Dalam pelaksanaan penelitian itu tentu di perlukan informasi atau data kuantitatif yang di peroleh melalui kegiatan yang disebut pengukuran dengan menggunakan alat ukur, seperti : Tes tulis, tes lisan atau tes perbuatan Dalam bukunya Suhartini Ari Kunto menjelaskan sebagai berikut : “ penilaian pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan tempat penilaian di sekolah. Guru ataupun pengelola pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud usaha yang di lakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan. Apabila sekolah di umpamakan sebagai tempat mengelola sesuatu dan calon siswa di umpamakan sebagai bahan mentah maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil bahan yang sudah siap digunakan. Dalam motivasi yang menggunakan teckhnologi maka tempat pengelolaan itu disebut informasi, jika di gambarkan dalam bentuk diagram akan terliahat sebagai berikut : Input transformasi output Umpan balik 23
    • a. Input adalah siswa yang belum memasuki sekolah di nilai lebih dahulu kemampuannya untuk mengetahui apakah ia mampu mengikuti pelajaran selamjutnya.b. Transformasi adalah sekolah yang bertugas mengolah bahan mentah ( calon siswa ) menjadi bahan jadi ( lulusan yang memiliki unsur – unsur antara lain : Guru dan personal lainnya Bahan pelajaran Metode mengajar dan system evaluasi Sarana penunjang Sistem administrasic. Out put adalah lulusan dari sekolah itu yang sebelumnya mengalami penilaian untuk dapat lulus atau tidak.d. Umpan balik adalah senjata informasi yang dapat di pakai sebagai acuan untuk memperbaiki keadaan selanjutnya. Penilaian adalah serangakaian kegiatan untukmemperoleh menganalisis dan menafsirkan data tentangproses dan hasil belajar siswa yang di lakukan sistematisdan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yangbermakna dalam pengambilan keputusan ( Direktorat Dikmenum, 1994 ; 2 ). Penilaian sebaiknya bersifat relatif artinyadiantara siswa yang ada didalam kelas. Siapakah yangtelah berhasil menyerap paling banyak pengetahuan yangdi ajarkan oleh guru dan siapa yang terampil berfikirdidalam memutuskan masalah biologi atau ilmiah. Didalam penilaian guru sudah memberikan standart KriteriaKetuntasan Minimal ( KKM ) yang mana KKM tersebut 24
    • dijadikan acuan dalam proses penilaian hasil belajar siswa.2.4.3.3 KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) adalah criteria paling rendah untuk menyatakanpeserta didik mencapai ketuntasan. KKM harus di tetapkan diawal tahun ajaran oleh satuan pendidikan berdasrkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hamper sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM.2.4.3.4 Fungsi KKM Di dalam penilaian KKM memiliki beberapa fungsi untuk pemberian kriteria ketuntasan belajar siswa, agar dalam penilaian mudah bagi guru untuk menentukan siswa yang sudah mencapai indikator belajar atau tidak . Fungsi tersebut antara lain : 1. Sebagai acuan bagi seorang guru untuk menilai kompetensi peserta didik sesuai dengan Kompetensi Dasar ( KD ) suatu mata pelajaran atau Standart Kompetensi ( SK ) 2. Sebagai acuan peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti pembelajaran 3. Sebagai target pencapaian penguasaan materi sesuai dengan SK / KD – nya 4. Sebagai slah satu instrumen dalam melakukan evaluasi belajar 25
    • 5. Sebagai kontrak peda gogik anatara pendidik peserta didik dan masyarakat ( khususnya orang tua dan wali murid ) 2.4.3.5 Tahapan Penetapan KKM Seperti pada uraian diatas bahwa penetapan KKM di lakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Adapun langkah dan penetapan KKM antara lain : 1. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangakan tiga aspek criteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, intake peserta didik. Hasil penetapan KKM indicator berlanjut pada KD, SK hingga KKM mata pelajaran. 2. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran di sahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru didalam penilaian 3. KKM yang ditetapkan di sosialisasikan kepada pihak – pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua dan dinas pendidikan 4. KKM dicantumkan dalam laporan hasil belajar atau rapor pada saat hasil penilaian di alporkan kepada orang / wali peserta didik.2.5 Keterkaitan Antara Model Pembelajaran Inquiry Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar siswa Mata Pelajaran Biologi. Telah diketahui bahwa model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada aktivtas siswa secara maksimal untuk mencari menemukan, artinya pendekatan inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam pembelajaran inquiry siswa di ajarkan untuk mandiri dan siswa di latih untuk aktif mengikuti proses pembelajaran. 26
    • Trinandita ( 1984 ) menyatakan bahwa “ hal yang paling mendasar yang di tuntut dalam proses pembelajaran inquiry akan menyebabkan interaksi tinggi antara guru dengan siswa ataupun siwa itu sendiri. Hal ini mangakibatkan suasan kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing – masing siswa dapat melibatkannya semaksimal mungkin. Sanjaya ( 2008 ; 196 ) menyatakan bahwa “ seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang di pertanyakan, sehingga di harapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri ( self belief ) Berdasarkan pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa pengaruh model pembelajaran inquiry terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa adalah sebagai berikut : “ Semakin kreatif guru mata pelajaran biologi dalam memberikan pertanyaan atau permasalahan yang harus di pecahkan siswa dalam proses pembelajaran maka semakin baik pula aktivitas dan hasil belajar siswa “. Dalam materi pokok Ekosistem siswa memerlukan pengetahuan dan pengalaman dalam mengenali atau mengetahui ekosistem dan kegiatan – kegiatannya. Maka dengan pembelajaran inquiry guru harus memberikan kebebasan siswa untuk mencari informasi, menemukan dan memecahkan permasalahan atau pertanyaan dari guru sehingga terciptalah suasana belajar yang aktif sehingga siswa lebih memahami konsep pembelajaran ini dan siswa lebih memahami konsep pembelajaran ini dan siswa mencapai hasil belajar yang lebih efektif.2.6 Hipotesa Penelitian Hipotesa sangat perlu yaitu memberi arah bagi peneliti dan merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang ada sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dalam suatu penelitian hipotesa haruslah di rumuskan dengan jelas sesuai dengan syarat – syarat tertentu. Winarno Surahmad menyatakan “ hipotesa adalah sebuah kesimpulan sementara yang belum final dan untuk mencapai kesimpulan diadakan 27
    • penggolongan secara cermat, maka akan didapatkan suatu kesimpulan yangmenerima atau menolak suatau hipotesa yang telah di ajukan Berdasarkan tinjauan pustaka diatas hipotesis tindakan dari penelitianini adalah sebagai berikut : 1. Model pembelajaran inquiry mampu meningkatkan aktivitas belajar pada siswa kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki mata pelajaran biologi poko bahasan “ EKOSISTEM “ tahun pelajaran 2011 / 2012. 2. Model pembelajaran inquiry mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VII MTS. AL – HIKMAH Besuki Materi pelajaran Biologi pokok bahasan “ EKOSISTEM “ tahun pelajaran 2011 / 2012. 28
    • BAB III MODEL PENELITIAN3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalahpendekatankualitatif. Adapun ciri – ciri pendekatan kualitatif menurut Sudjana (dalamWahyuningsih, 2006.20 ) yaitu : ( 1 ) menggunakan lingkungan alamiyah sumberdata langsung ; ( 2 ) bersikap deskriptif analitis ; ( 3 ) lebih menekankan prosesdaripada hasil ; ( 4 ) analisa data bersifat induktif , karena penelitian tidak dimulaidari deduktif teori tetapi dari lapangan yakni fakta empiris ; ( 5) menggu nakanmakna. Ciri tersebut diperkuat oleh oleh pendapat Meong( dalam Fahmi, 2006 :27 ) bahwa penelitian ini juga sesuai dengan karakteristik penelitian kuali tatif.Karakteristik yang dimaksud adalah : ( 1 ) menggunakan latar belakang ala miahseperti apa adanya di lapangan; ( 2 ) penelitian sebagai instrumen utama,maksudnya disamping pengumpulan data dan menganalisis data, peneliti terlibatlangsung dalam proses penelitian ; ( 3 ) hasil penelitian bersifat deskriptif ; ( 4 )desain bersifat sementara ; serta ( 5 ) batas permasalahan ditentukan fokus penelitian. Rancangan penelitian yang dipandang sesuai dengan tujuan penelitian adalah rancangan penelitian tindakan kelas ( PTK ). Karena menurut Hobri (2006 ) penelitian tindakan kelas adalah penelitian atau kajian secara sistematisdan terencana dilakukan oleh oleh peniliti dan praktis ( dalam hal ini guru ) untukmemperbaiki penbelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahandan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Jenis penelitian tindakan ini termasuk penelitian tindakan kelas .Penelitian ini dikatakan penelitian tindakan kelas dari awal sampai berakhirnyapenelitian. Rancangan pembelajaran yang digunakan berdasarkan dari model penelitian Hopkins, yaitu penelitian tindakan kelas yang digambarkan dalam bentukspiral yang terdiri dari empat fase ( PGSM , 1998 : 8 ) yaitu fase perencanaan (planning ) ; tindakan ( action ) ; pengamatan ( observation ) ; dan refleksi ( reflection ) ; Penelitian ini berorientasi pada pengkajian masalah – masalah praktis yang 29
    • dihadapi guru dalam kelas, dan hasilnya dapat diaplikasikan oleh guru sendiridalam rangka memperbaiki pemanfaatan belajar mengajar yang dihadapi.3.2 Lokasi penelitian Lokasi penelitian adalah lokasi yang dijadikan tempat untuk dilaksanakannya penelitian. Sebagai mana dikatakan Hadi ( dalam fFahmi, 2006 : 28 )bahwa daerah penelitian merupakan suatu tempat atau lokasi objek penelitian dilakukan . Model penentuan lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling area , yaitu menentukan dengan sengaja daerah ataulokasi penelitian yang didasarkan pada pertimbangan tertentu . Adapun lokasiyangditentukan adalah dalam penelitian dalah MTs. AL – HIKMAH yang berlo kasi dijalan Adipodai No.36 Besuki Kabupaten Situbondo. Pertimbangan yang didasaripeneliti memilih tempat penelitian tersebut karena selama ini sekolah ter sebuthanya terpaku pada proses pembelajarn dengan model ceramah yang mana guruyang berperan aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa sulit untukmencapai indikator pembelajaran serta sekolah tersebut masih belum pernah diadakan penelitian tentang tentang model pembelajaran inquiry dalam rangka peningkatan mutu belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran biologi.3.3 Kehadiran Peneliti Konsekuensi dari pemilihan jenis penelitian tindakan kelas denganpendekatan kualitatif dalam penelitian ini memuat kehadiran peneliti di lokasipenelitian mutlak diperlukan. Menurut Nasution ( dalam Sugiyono , 2005 : 60 )menyatakan bahwa :“ Dalam penelitian kualitatif , tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusiasebagai instrumen penelitian utama. Alasan ialah bahwa; segala sesuatunya belummempunyai bentuk yang pasti masalah, fokus, prosedur penelitian, hipotesis yangdigunakan itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti, Segala sesuatu perludikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang tidak pasti dan tidakjelas, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu – satunya yang dapat mencapai “ . 30
    • Penelitian bertindak sebagai instrumen utama dan pemberi tindakan di lapangan. Peneliti sebagai instrumen dimaksudkan sebagai pewawancaradan pengamat. Sebagai pewawancara peneliti mewawancarai subjek penelitidengan berpedoman pada hasil pekerjaan siswa . Peneliti sebagi pengamat yaitumeneliti mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya kegiatan pembelajaranKedudukan pemberi tindakan, peneliti bertindak sebagai pengajar yang membuatdan menyajikan bahan jar serta motivator kegiatan pembelajaran selama penelitian dilakukan , serta pada pembelajaran model inquiry penilit bertindak sebagikonselor dalam proses diskusi yang dilakukan siswa. Disamping pembentukantindakan, peneliti juga bertindak sebagai pengamat, pengumpul data, penganalisisdata dan sekaligus pelapor hasil penelitian. Kehadirabn peneliti dilokasi sebnyaktiga kali secara terbuka, maksudnya statussebagai peneliti dantujuan kegiatan peneliti diketahui oleh siswa.3.4 Data dan Sumber Data Data yangdiperlukan dalampenelitian ini terdiridari dua macamdata yaitu : 1. Data berupa dokumen , meliputi : a. Jawaban siswa dalam menyelesaikan soal b. Respon siswa untuk masing – masing penyelesaian tugas atau konsep yang diberikan dalam model pembelajaran . 2. Data berupa non dokumenter, meliputi : a. Hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah an guru mata pelajaran. b. Hasil wawancara peneliti dengan siswa yang menjadi subjek penelitian. c. Hasil observasi dan mengenai kegiatan pembelajaran baik berkenaan dengan peneliti maupun yang berkenaan dengan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sumber data dan subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa 31
    • kelas VII MTs. AL – HIKMAH Besuki Tahun ajaran 2011 / 2012. Model yang digunakan untuk menentukan subjek alat penlitian ini adalah dengan menggunakan tekhnik penelitian sample. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII MTs. AL –HIKMAH Besuki, salah satu pertimbangannya adalah siswa kelas tersebut mempunyai rata – rata tingkat kemampuan afektif, kognitif , dan psikomotor yang tidak jauh berbeda.3.5 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dimaksud untuk memperoleh bahan – bahan yang relevan dan akurat, dimana model yang digunakan memiliki ciri yang bebeda –beda . Menurut Arikunto ( dalam Wahyuningsih, 2006 : 22 ), model pengumpulandata adalah cara yang diguanakan peneliti untuk mengumpulkan data. Adapun model yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3.5.1 Metode Test Model test adalah satu cara pengumpulan data yang berupa angka atau nilai hasil belajar dengan tekhnik pengukuran. Pada penelitian ini tekhnik pengukuran yang dilakukan adalah dengan mengunakan test. Seperti yang dikemukakn oleh Abdul ( 2003 : 09 ) yaitu dalam proses hasil belajar siswa kita menggunakan tekhnik atau model test, oleh karena itu dalam penelitian menngunakan alat penialain yang berupa test. Adapun jenis test digolongkan menjadi dua yaitu tes tulis dan test lisan.Test tulis terdiri dari test pilihan ganda dan tes uraian. Definisi tes pilihan gandan dan uraian adalah sebagai berikut : 1. Pilihan ganda adalah test yang terdiri dari beberapa soal yang dapat dijawab dengan memilih salah satu alternatif jawaban uyang tersedia atau dengan mengisi jawaban yang benar 2. Uraian merupakan bentuk test yang terdiri dari suatu pertanyaan atau perintah yang memrlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata – kata yang relatif panjang . 32
    • Test ini diberikan apada siswa dengan maksud mengukur sejauhmana hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran inquiry.Test yang dilakukan Setelah kegiatan pemeblajaran, dengan menggunakansoal test obyektif ( pilihan ganda ) dan essay ( uraian ), serta di konsultasikan dengan guru bidang studi. Sehingga dapat menunjukkan tingkat ketercapaian tujuan tujuan pemeblajaran. Hasil dari test tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam mewawancarai subyek penelitian.3.5.2 Metode Wawancara Menurut Arikunto ( dalam Wahyuningsih , 2006 : 22 ) menyatakanbahwa wawancara atau interview dalam sebuah dialog yang dilakukanolehpewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara . Dalam pelaksanaannya wawancara dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : 1. Wawancara bebas, dimana wawancara bebas menyatakan apa saja tetapi juga mengikat akan data yang dikumpulkan. 2. Wawancara terpimpin , dimana wawncara dilakukan pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam wawncara terstruktur. 3. Wawancara bebas terpimpin, yang merupakan kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin. Sanapiah faisal ( DALAM Sugiyono, 2005 : 76 ) mengemukakanada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkandata dalam penelitian kualitatif yaitu : 1. Menetapkan kepada siap wawancara itu akan dilakukan 2. Menyiapkan pokok – pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan 3. Mengawali atau membuka alur wawancara 4. Melangsungkan alur wawancara 33
    • 5. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya 6. Menuliskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan 7. Mengidentifikasi hasil tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh Jenis wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalahwawancara bebas terpimpin , karena pewawancara membawa pedomandan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung.Wawancaradilaksanakan setelahdiadakan test. Wawancara dilakukan dengan pedomanpada pekerjaan siswa yang berupa tugas pengajuan soal dan test hasilbelajar. Data yang akan diperoleh ada lah data tanggapan guru dan siswatentang proses dan hasil pembelajaran yang te lah dilak sanakan.3.5.3 Metode Observasi Model observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatanpemusatanperhatian terhadap suatu objek menggunakan alat indera yaitupengamatan secara langsung . Observasi dapat dilakukan dengan dua carayaitu : 1. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan instrument pengamatan. 2. Observasi non sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan pedoman instrument pengamatan. Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi sistematis dengan pedoman yang sudah disiapkan ( lampiran ). Untuk mempermudah mengumpulkan data , penelitian ini akan dibantu oleh se orang observasi yang sudah mendapat kepercayaan dari peneliti dan guru pada saat pengambilan data. Pedoman yang akan digunakan pada saat ob servasi antara lain : 34
    • 1. Pedoman observasi yaitu berisikan tentang peraturan atau tata tertib dalam melaksanakan observasi. 2. Panduan pengamatan yaitu berisikan tentang tata cara pemberian nilai terntum dalam criteria atau kategori penilaian. 3. Lembar pengamatan. 3.5.4. Metode Dokumentasi Dokumentasi merupakan model penunjang dari model observasi dan wawancara. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku (sugiyono,2005:82). Dokumentasibiasanya berbentuk tulisan,gambar,atau karya-karya monumental dari seseorang. teknik pe ngumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang dipe roleh melalui dokumen-dokumen. Jadi dengan model documenter kita dapat mengumpulkan data dengan melihat beberapa dokumen sebagai bahan informasi tamba han atau bukti otentik sebagai penunjang dalam pengumpulan data sebu ah penelitian. Adapun data dokumen – dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah keadaan siswa MTs. AL- HIKMAH , keadaan fisik dan fasilitas MTs. AL – HIKMAH dan data lain yang berhubungan deng an objek yang diteliti.3.6 Tekhnik Analisis Data Data penelitian terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data penelitian terkumpul terdiri dari test, hasil wawan cara, hasil observasi dan dokumentasi. Sedangkan data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah : 35
    • 1. persentasi ketuntasan belajar siswa dalam proses pembelajaran dicari dengan rumus. n P= x 100 % N keterangan: p= persentase ketuntasan hasil belajar siswa n= jumlah siswa yang tuntas belajar N= jumlah seluruh siswa2. Hasil analisis data digunakan untuk menentukan langkah-langkah penelitian berikutnya. Jika test siswa tidak mencapai ketetapan klasikal ( nilai test merupakan hasil evaluasi akhir atau test akhir dari bahan ajar yang diberikan ), maka penelitian akan dilanjutkan atau diteruskan ke siklus kedua dengan materi atau bahan ajar yang sejenis. jika pada siklus kedua hasil test siswa tidak mencapai ketuntasan klasikal, maka penelitian akan masuk pada siklus ketiga dan begitu seterusnya sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan klasikal. 1. Kriteria ketuntasan belajar dinyatakan sebagai berikut: a. daya serap individual, seorang siswa dinyatakan tuntas belajar apabila telah mencapai skor 70 dari skor maksimal 100 b. Daya serap klasikal jika satu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat skor minimal mencapai 85 % siswa yang telah mencapai skor dari atau sama dengan 70 dari skor maksimal. Langkah analisis hasil observasi diawali dengan menghitung jumlah skor hasil observasi pada masing-masing siswa, kemudian menggolongkan kedalam kategorisasi yang telah ditentukan, untuk menghitung jumlah skor digunakan pedoman sebagai berikut : n P= x 100 % M 36
    • Keterangan : P = Presentase skor yang di capai n = Skor yang diperoleh peserta didik m = Skor maksimal Pengelompokan kategori aktivitas belajar siswa secaraindividu menggunakan kriteria pengelompokan menurut Sukandi ( 199 :100 ) adalah sebagai berikut :Tabel Kategori Penilaian Kreativitas Siswa Presantase Kriteria Pa 80 Sangat aktif 70 ≤ Pa < 80 Aktif 60 ≤ Pa < 70 Cukup aktif Pa < 60 Tidak aktif Observasi terhadap kegiatan guru berupaya memberikanpemafaatan mengenai kemampuan guru dalam menerapkan setiaplangkah dalam penerapan pembelajaran inquiry. Lembar observasi yangdigunakan dijabarkan pada tampilan. Hasil observasi tidak dianalisamelainkan hanya untuk mengetahui langkah pembelajaran yangdilakukan oleh guru. Dengan pengelompokan kategori menurut ( Sukardi , 1999: 100 ) adalah sebagai berikut : Tabel 1 Kategori Penialain Kreativitas Siswa Presantase Kriteria P 90 % sangat aktif 80 % ≤ P < 90 % aktif 65 % ≤ P < 80% cukup aktif 50% ≤ P < 65% kurang P < 50% sangat kurang 37
    • Data hasil test yang dianalisis secara statistic deskriptif, dengan pengujian menggunakan table distribusi frekuensi. Hasil dari statistik deskriptif kemudian dideskripsikan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang menyeluruh mengenai hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa berupa aspek kognitif.3.7 Pengecakan Keabsahan Data Menurut Sugiono ( 2005 : 121 ) dalam uji keabsahan dalam penelitian kualitatifmeliputi : ( 1 ) uji kredibilitas data ; ( 2 ) uji transferability ; ( 3 ) uji depenabiliti; ( 4 ) uji konfermabiliti. Agar diperoleh temuan dan interprestasi yang abashmaka perlu diuji kredibilitas data atau kepercayaan kepada data. Menurut Sugiono( 2005 : 22 ) dalam menguji sebuah keabsahan sebuah penelitian kualitatif dapatdilakukan dengan cara : 1. Perpanjangan pengamatan Dengan perpanjangan pengamatn berarti berarti peneliti kembali kelapangan melakukan pengamatan, mengobservasi kembali dengan sumber data yang telah ditemui maupun degan yang baru. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti apabila dalam pelaksanaan tindakan pada siklus satu tidak tercapai sehingga sehingga diperlukan perbaikan yang menuntut peneliti untuk hadir kembali pada siklus II. 2. Meningkatkan Ketekunan Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan uraian peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. 3. Triangulasi Triangulasi merupakan pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat tiga cara tringulasi yatu : 38
    • a. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui dari beberapa sumber. Data yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut tidak dapat disamaratakan seperti didalam penelitian kuantitatif tetapi dideskripsikan , Maka pandangan yang sama dan yang berbeda terhadap data yang dianilisis oleh peneliti sehingga menhasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesempatan ( member chek ) dari berbagai sumber data.b. Triangulasi Data Triangulasi data berfungsi untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumberyang sam dengan tekhnik berbeda. Triangulasi data ini bertujuan untuk mencari kebenaran data dari berbagai sumber yang memiliki perbedaan pendapat sehingga dapat disimpulkan informasi yang benar.c. Triangulasi Waktu Waktu yang sering mempengaruhi kredibilitas data. Dalam rangka pengujian kredibilitas dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara , observasi, atau tekhnik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda.d. Menggunakan Bahan Referensi Bahan referensi merupakan adanya pendukung untuk membuktikan data yang diperoleh oleh peneliti yang merupakan salah satu pendukung yang akan digunakan oleh peneliti dalam proses pembelajaran yang didukung oleh foto atau dokumentasi. 39
    • e. Member Chek Member chek merupakan proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data . Member chek bertujuan untuk mengetahui sumber data seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.3.8 Tahap – Tahap Penelitian Seperti yang telah dijelaskan pada pemapatran sebelumnya bahwa penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Langkah – langkah dan prosedur penelitian ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart ( dalam Fahmi , 2006 : 32 ) berupa suatu siklus spiral yang meliputi kegiatan perencanaan ( planning ); pemberian tindakan ( action ); pengamatan ( observation ); dan refleksi ( reflection ) yang membentuk siklus demi siklus sampai tuntas penelitian, sehingga dapat diperoleh data yang dapt disimpulkan sebagai jawaban dari permasalahan peneliti. Pada penelitian ini direncanakan menggunakan satu siklus dengan rincian dua kali pertemuan , jika pertemuan pertama dan kedua sudah mencapai ketuntasan maka pelaksanaan siklus dihentikan, jika sebaliknya maka penelitian ini akan dilanjutkan pada siklus berikutnya. 3.8.1 Tindakan Pendahuluan atau Pra Siklus Sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan siklus terlebih dahulu dilakukan tindakan pra siklus atau tindakan pendahuluan agar peneliti dapat mengetahui kemampuan siswa serta mencapai hasil penelitian yang maksimal. Tindakan pendahuluan atau pra siklus dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut : 1. Meminta izin kepada kepala sekolah untuk meneliti atau mengadakan penelitian di kelas VII MTs. AL – HIKMAH Besuki Kabupaten Situbondo. 40
    • 2. Mewawancarai langsung dengan kepala sekolah, TU, guru mata pelajarn biologi serta mengumpulkan data menegnai hasil belajar siswa sebelumnya. 3. Observasi awal kelas dalam hal ini peneliti menyusuri langsung tentang metode atau model pembelajaran yang digunakan selama ini , serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode atau model yang diterapkan guru selama ini. Menurut tim pelatih peroyek PGSM (1999:7), keempat fase dalamsatu siklus sebuah PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK, sepertiditunjukkan pada gambar berikut : 41
    • 3.8.2 Pelaksanaan Siklus Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan dengan satu siklus , jika pada siklus pertam sudah tercapai tujuan penelitian yaitu dalam proses pembelajarn inquiry mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa , maka pelaksanaan siklus dihentikan sampai satu siklus saja.Tetapi jika sebaliknya maka dilakukan siklus selanjutnya dengan mengoptimalkan kerja tim peneliti agar tujuan yang diharapkan tercapai. Silus dalam penelitian ini bersifat fleksibel dan tidak dibatasi , maksudnya dalam pelaksanan siklus akan berakhir jika tujuan sudah tercapai dan jika belu tercapai maka berlaku siklus kedua dan ketiga. 1. Siklus I Tahap – tahap yang akan dilaksanakan pada siklus I dalam penelitian ini mengacu pada skema spiral penelitian tindakan kelas dengan mengunakan empat fase yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi 1. Perencanaan ( planning ) Tahap ini merupakan tahap perecanaan dari segala sesuatu yang akan dilakukan dalam penelitian. Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut : 1. Menyusun silabus dan rencana proses pembelajaran ( RPP ) atas metri yang akan diajarkan menggunakan model pembeljaran Inquiry. 2. Menyiapkan materi plajaran dan hala – hal yang berhubungan dengan tugas – tugas yang harus dilakukan oleh siswa. 3. Menyusun lembar kerja siswa. 4. Menyusun daftar kelompok siswa 42
    • 5. Menyusu pertanyaan atau permasalahan yang akan dikaji oleh siswa dengan kelompok masing – masing. 6. Menyusun soal test uraian yang diberikan pada siswa secara individu di akhir pelaksanaan tindakan untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam memahami materi yang di pelajari. 7. Menyiapkan lembar observasi ang dilakukan pada saat pelaksanaan pembelajarn yaitu pada saat diskusi kelompok . 8. Menyusun jadwal presentasi dari tiap – tiap kelompok yang tersaji dalam lampiran.2. Pelaksanaan atau tindakan ( action ) Pada pelaksanaan tindakan ini , diawali dengan kegiatan belajarn mengajar dengan menyampaikan indicator hasil belajar, memberikan motivasi pada siswa agar mempelajari materi pelajaran lembar kerja siswa yang telah diberikan. Kegiatan selanjutnya guru menerapkan model pembelajaran inquiry . Pada kegiatan ini peneliti menerapkan model pembelajaran contextual teaching and learning tipe inquiry di MTs. AL – HIKMAH Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo dengan langkah – langkah sebagai berikut : 1. Siswa dikelompokkan kedalam lima kelompok dan beranggotakan 6 siswa 2. Masing – masing kelompok diberi tugas untuk berdiskusi tentang materi ekosistem , pada tahap ini siswa ditugaskan untuk 43
    • mengidentifikasi masalah atau pertanyaan dari peneliti.3. Setelah dirasa cukup masing – masing kelompok mendiskusikan untuk membuat hipotesis dari masalah atau pertanyaan yang sudah dibagikan kepada tiap – tiap kelompok dengan cara tiap anggota keompok membuat hipotesis sendiri – sendiri kemudian hipotesis tersebut dikumpulkan kepada kelompok nya .4. Dari hipotesis tersebut , setiap kelompok melakukan penelitian dengan cara mengumpulkan informs baik dari buku , refrensi maupun dari lingkungan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman5. Setelah mendapatkan informasi masing – masing kelompok memberikan hasil dari penelitian tentang hipoesa masalah dan menyimpulkan jawaban dari permasalahan yang diteliti.6. Setiap perwakilah kelompok mengumpulkan lembar penelitian atau jawaban dari permasalahan7. Setiap kelompo maju kedepan untuk mempresentasikan hasil darai peelitian terhadap pemecahan masalah secara bergantian.8. Guru memberikan evaluasi akhirberupa test dengan soal uraian yang di bagikan kepada tiap siswa.9. Peutup atau kesimpulan , guru dan siswa bersama – sama memberikan kesimpulan 44
    • terhadap materi yang telah di pelajari dengan menerapkan model pembelajaran inquiry.3. Pengamatan ( observation ) Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian tindakan. Dalam hal ini yang diamati adalah kgiatan guru ( peneliti ) dan kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam kegiatan pelaksanaan observasi peneliti guru bidang studi dan dua observer yang bertujuan untuk mengamati peneliti . Kegiatan ini dilakukan secara konpherensif dengan memanfaatkan pedoman observasi.4. Refleksi ( reflection ) Refleksi merupaak kegiatan menganalisa, memahami, menjelaskan, menyimpulkan hasil pengamatan kegiatan ini sebagai upaya untuk memahami dan memakai proses dan hasil yang dicapai sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Hasil yan diperoleh dari kegiatan refleksi ini merupakan informasi tantang apa yanga telah terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan perencanaan berikutnya. Hasil dari refleksi digunakan peneliti sebagai diskusi balikan untuk merencanakan mengadakan perbaikan pada pelaksnaan tindakan berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap refleksi ini yaitu menganalisis , menjelaskan dan mengumpulkan hasil – hasil dari observasi danhasil test siswa yang digunakan untuk mengetahui apakah dengan penggunaan model 45
    • pembelajaran inquiry dapat meningkatakan aktivitas dan hasil belajar siswa pad siklus I. Berdasarkan hasil tindakan yang disertai observasi dan refleksi maka peneliti dapat mengetahui kelemahan dan kekuarangan kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus ke II. Tindakan siklus ke II dilakukan apabila dalam siklus I belum terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa yang diharapkan. Tindakan siklus II ini sebagai usaha perbaikan pada siklus I. 5. Pengembangan Desain Pada tahap ini peneliti banyak menjelaskan tentang pendekatan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran penelitian, data dan sumber data yang diinginkan oleh penelitian, pengumpulan data , model analisis data dan pengecekan keabsahan. 6. Penelitian Sebenarnya Dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada penelitian kualitatif deskriptif, karena peneliti harus berusaha mendeskripsikan tentang peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran inquiry dengan rancangan penelitian tindakan kelas.3.9 Jadwal Penelitian Agar pelaksanan penelitian dapa selesai dengan rencana dan waktu yangtelah ditentukan maka peneliti membuat sebuah jadwal penelitian sebagaipedoman dalam penelitian . 46
    • WaktuNo KEGIATAN Agustus September Oktober Nopember Desember. 12 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 41. Pendaftaran Skripsi x x x2. Penentuan Pembimbing x x Bimbingan Pertama (3. x Bab I )4. Bimbingan Bab II & III x Bimbingan Bab I , II,5. x x III dan IP6. Ujian Kompherensip x x7. Penelitian x x x Bimibngan Bab IV dan8. x x V Persiapan Ujian dan9. x Abstrak10. Ujian Akhir Skripsi x x 47
    • 48