• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
A
 

A

on

  • 291 views

 

Statistics

Views

Total Views
291
Views on SlideShare
291
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
2
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    A A Document Transcript

    • A. Pengertian Limfadenopati adalah suatu tanda dari infeksi berat dan terlokalisasi (Tambayong, 2000; 52). Limfadenopati adalah digunakan untuk menggambarkan setiap kelainan kelenjar limfe (Price, 1995; 40). Limfadenopati adalah pembengkakan kelenjar limfe (Harrison, 1999; 370). Dari pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Limfadenopati adalah kelainan dan pembengkakan kelenjar limfe sebagai tanda dari infeksi berat dan terlokalisasi. B. Etiologi 1. Peningkatan jumlah limfosit makrofag jinak selama reaksi terhadap antigen. 2. infiltrasi oleh sel radang pada infeksi yang menyerang kelenjar limfe. 3. Proliferasi in situ dari limfosit maligna atau makrofag. 4. infiltrasi kelenjar oleh sel ganas metastatik. 5. Infiltrasi kelenjar limfe oleh makrofag yang mengandung metabolit dalam penyakit cadangan lipid. (Harrison, 1999; 370) . C. Patofisiologi Sistem limfatik berperan pada reaksi peradangan sejajar dengan sistem vaskular darah. Biasanya ada penembusan lambat cairan interstisial kedalam saluran limfe jaringan, dan limfe yang terbentuk dibawa kesentral dalam badan dan akhirnya bergabung kembali kedarah vena. Bila daerah terkena radang, biasanya terjadi kenaikan yang menyolok pada aliran limfe dari daerah itu. Telah diketahui bahwa dalam perjalanan peradangan akut, lapisan pembatas pembuluh limfe yang terkecil agak meregang, sama seperti yang terjadi pada venula, dengan demikian memungkinkan lebih banyak bahan interstisial yang masuk kedalam pembuluh limfe. Bagaimanapun juga, selama peradangan akut tidak hanya aliran limfe yang bertambah , tetapi kandungan protein dan sel dari cairan limfe juga bertambah dengan cara yang sama. Sebaliknya, bertambahnya aliran bahan-bahan melalui pembuluh limfe menguntungkan karena cenderung mengurangi pembengkakan jaringan yang meradang dengan mengosongkan sebagian dari eksudat. Sebaliknya, agen-agen yang dapat menimbulkan cedera dapat dibawa oleh pembuluh limfe dari tempat peradangan primer ketempat yang jauh dalam tubuh. Dengan cara ini, misalnya, agen-agen yang menular dapat menyebar. Penyebaran sering dibatasi oleh penyaringan yang dilakukan oleh kelenjar limfe regional yang dilalui oleh cairan limfe yang bergerak menuju kedalam tubuh, tetapi agen atau bahan yang terbawa oleh cairan limfe mungkin masih dapat melewati kelenjar dan akhirnya
    • mencapai aliran darah. (Price, 1995; 39 - 40). Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis dapat menghasilkan petunjuk tentang kemungkinan diagnosis ini dan evaluasi lebih lanjut secara langsung ( misalnya hitung darah lengap, biakan darah, foto rontgen, serologi, uji kulit). Jika adenopati sistemik tetap terjadi tanpa penyebab yang jelas tanpa diketahui, biopsi kelenjar limfe dianjurkan. (Harrison, 1999; 372). Biopsi sayatan: Sebagian kecil jaringan tumur mame diamdil melalui operasi dengan anestesi umum jaringan tumor itu dikeluarkan, lalu secepatnya dikirim kelaborat untuk diperriksa. Biasanya biopsi ini dilakukan untuk pemastian diagnosis setelah operasi. ( Oswari, 2000; 240 ). Anestesi umum menyebabkan mati rasa karena obat ini masuk kejaringan otak dengan tekanan setempat yang tinngi. ( Oswari, 2000; 34 ). Pada awal pembiusan ukuran pupil masih biasa, reflek pupil masih kuat, pernafasan tidak teratur, nadi tidak teratur, sedangkan tekanan darah tidak berubah, seperti biasa. (Oswari, 2000; 35). D. Manifestasi klinis Kelenjar limfoma cenerung teraba kenyal, seperti karet, saling berhubungan, dan tanpa nyeri. Kelenjar pada karsinoma metastatik biasanya keras, dan terfiksasi pada jaringan dibawahnya. Pada infeksi akut teraba lunak, membengkak secara asimetrik, dan saling berhubungan, serta kulit di atasnya tampak erimatosa. (Harrison, 1999; 370). E. Pemeriksaan penunjang 1. Hitung darah lengkap. 2. Biakan darah. 3. Foto rontgen. 4. Serologi. 5. Uji kulit. (Harrison, 1999; 372). F. Penatalaksanaan medis dan bedah Biopsi kelejar limfe. (Harrison, 1999; 372). G. Dasar data pengkajian Pasien Aktivitas / istirahat Gejala : Kelelahan, kelemahan, atau malaise umum. Kehilangan produktivitas dan penurunan toleransi latihan. Kebutuhan tidur dan dan istirahat lebih banyak. Tanda : Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban, dan tanda lain yang
    • menunjukkan kelelahan. Sirkulasi Gejala : Palpitasi, angina / nyeri dada. Tanda : Takikardia, disrutmia. Sianosis wajah dan leher (obstruksi drainase vena karena pembesaran nodus limfa adalah kejadian yang jarang). Ikterus sklera dan ikterik umum sehubungan dengan kerusakan hati dan obstruksi duktus empedu oleh pembesan nodus limfe (mungkin tanda lanjut). Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam. Integritas ego Gejala : Faktor stres, mis ; sekolah, pekerjaan, keluarga. Takut/ansietas sehubungan dengan diagnosis dan kemungkinan takut mati. Anseitas/takut sehubungan dengan tes diagnostik dan modalitas pengobatan (kemoterapi dan terapi radiasi) Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan mahal, takut kehilangan pekerjaan sehubungan dengan kehilangan waktu bekerja. Status hubungan : takut dan ansietas sehubungan dengan menjadi orang yang tergantung pada keluarga. Tanda : berbagai perilaku, mis ; marah, menarik diri, pasif. Eliminasi Gejala : Perubahan karakteristik urine dan/ atau feses. Riwayat obstruksi usus, contoh intususepsi, atau sindrom malabsorpsi (infiltrasi dari nudos limfa retroperitonial). Tanda : Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran kanan atas dan pembesaran pada palpasi (hematomegali). Nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan pembesaran pada palpasi (splenomegali). Penurunan haluaran urine, urine gelap/pekat, anuria (obstruksi uretral/ gagal ginjal). Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi batang spinal terjadi lebih lanjut). Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia/kehilangan nafsu makan. Disfagia ( tekanan pada esofagus ) Adanya penurunan berat badan yang tak dapat tak dapat dijelaskan sama dengan 10% atau lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet. Tanda : pembengkakan pada wajah, leher, rahang, atau tangan kanan ( sekunder terhadap kompresi vena kava superioroleh pembesaran nodus limfe). Ekstrimitas: edema ekstrimitas bawah sehubungan dengan obstruksi vena kava inferior dari pembesaran nodus limfe intraabdominal ( non-Hodgkin). Asites ( obstruksi vena kava inferior sehubungan dengan pembesaran nodus limfa intraab- dominal). Neurosensori Gejala : Nyeri syaraf ( neuralgia ) menunjukkan kompresi akar saraf oleh pembesaran nodus
    • limfa pada brakial, lumbar, dan, pleksus sakral. Kelamahan otot, parestesia Tanda : Status mental: letargi, menarik diri, kurang minum terhadap sekitar. Paraplegia ( kompresi batang spinal dari tubuh vetebral, keterlibatan diskus pada kompresi/ degenerasi, atau kompresi suplai darah terhadap batang spinal). Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri tekan / nyeri pada nodus limfa yang terkena, mis; pada sekitar mediastinum, nyeri dada, nyeri punggung ( kompresi vertebral ) ; nyeri tulang umum ( keterlibatan tulamg limfomatus ) Nyeri segera pada area yang terkena setelah minum alkohol. Tanda : Fokus pada diri sendiri; perilaku berhati – hati. Pernafasan Gejala : Dispnea pada kerja atau istirahat; nyeri dada. Tanda : Dispnea; takikardia Batuk kering non-produktif. Tanda distres pernafasan, contoh peningkatan frekuensi pernapasan dan kedalaman, penggunaan otot bantu, stridor, sianosis. Parau/ paralisis laringeal(tekanan dari pembesaran nodus pada saraf laringeal). Keamanan Gejala : Riwayat sering/adanya infeksi ( abnormalitas imunitas seluler pencetus untuk infeksi virus herpes sismetik, TB, toksoplasmosis, atau infeksi bakterial ). Riwayat mononukleus ( resiko tinggi penyakit hodgkin pada pasien dengan titer tringgi virus Espstien – Barr ). Riwayat ulkus / perforasi perdarahan gaster. Pola sabit adalah peningkatan suhu malam hari berakhir sampai beberapa minggu ( demam pel – Ebstain ) diikuti oleh periode demam; keringat malam tanpa mengigil. Kemerahan/ pruritus umum. Tanda : Demam menetap tak dapat dijelaskan dan lebih tinggi dari 380 C tanpa gejala infeksi. Nodus limfe simetris, tak nyeri, membenkak / membesar ( nodus servikal paling umum terkena, lebih pada sisi kiri daripada kanan kanan; kemudian nudos aksila dan mediastinal ) Nudus dapat terasa kenyal dan keras, diskret dan dapat digerakkan. Pembesaran tonsil. Pruritus umum. Sebagian area kehilangan pigmentasi melanin ( vitiligo ) Seksualitas Gejala : Masalah tentang fertilitas / kehamilan ( sementara penyakit tidak mempengaruhi ). Tetapi penurunan libido. Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Faktor resiko keluarga ( lebih tinggi insiden diantara keluarga pasien Hodgkin dari pada populasi umum ). Pekerjaan terpajan pada herbisida ( pekerja katu / kimia ). Pertimbangan DRG
    • menunjukkan rerata lama dirawat 3,9 hari, dengan intervensi bedah, 10,1 hari. Rencana pemulangan : Dapat memerlukan bantuan terapi medik / suplai, aktivitas perawat diri dan/atau pekerjaan rumah / transportasi, belanja. ( Doengos,1999; 605-607 ) H. Pathway dan masalah keperawatannya Peradangan ↓ Pembuluh darah ↓ Cairan iterstisial ke saluran limfe jaringan ↓ Peningkatan pada aliran limfe ↓ Lapisan sel pembatas meregang ↓ Kelenjar limfe membesar ↓ Bahan interstisial yang masuk lebih banyak ↓ Agen penyebab cidera terbawa cairan limfe ↓ Pembuluh darah ↓ Keseluruh tubuh ↓ Penyebaran agen yang menular Operasi/biopsi Intoleransi aktifitas ↓ Pembiusan biopsi Pernafasan tidak teratur Mati rasa Kelemahan umum Nyeri Neuromuskular Dilakukan sayatan
    • Pembuluh darah Kulit terbuka Resiko kekurangan volume cairan Pola nafas tidak efektif Resiko infeksi Oeswari, 2000 Price, 1995 Harrison, 1999 I. Fokus intervensi. 1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif Tujuan: Mencapai penyembuhan tepat waktu,bebas drenase purulen atau eritema dan tidak demam ( doengos, 1999; 796 – 797 ) Interensi : - Tingkatkan cuci tangan yang baik pada setaf dan pasien. - Gunakan aseptik atau kebersinan yang ketet sesuai indikasi untuk menguatkan atau menganti balutan dan bila menangani drain.insruksian pasien tidak untuk menyentuh atau menggaruk insisi - Kaji kulit atau warna insisi. Suhu dan integrits: perhatikan adanya eritema /inflamasi kehilangan penyatuan luka. - Awasi suhu.adanya menggigil. - Dorong pemasukan cairan,diey tinggi protein dengan bentuk makanan kasar. - Kolaborasi berikan antibiotik sesuai indikasi Rasional : - Menurunkan resiko kontaminasi silang. - Mencegah kotaminasi dan resiko infeki luka,dimana dapat memerlukan post prostese. - Memberikan informasi trenteng status proses penyembuhan dan mewaspadakan staf terhadap dini infeksi. - Meskipun umumnya suhu meningkatpdad fase dini pasca operasi dan/atua adanya menggigil biasanya mengindikasikan terjadinya infeksi memerlukan inetrvensi untuk mencegah komplikasi lebih serius. - Mempertahankan keseimbangan cairan dan nutrisi untuk mendukung perfusi jaringan dan memberikan nutrisi yang perlu untuk regenerasi selular dan penyembuhan jaringan. - Mungkin berguna secara profilaktik untuk mencegah infeksi. 2. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas otot. Tujuan: mengatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol / hilang. ( doengos, 1999; 915 – 917 ) Intervensi : - Evaluasi rasa sakit secara regular (mis, setiap 2 jam x 12 ), catat karakteristik, lokasi n
    • intensitas ( skala 0-10 ). - Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi. - Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesui kebutuhan - Lakukan reposisi sesui petunjuk, misalnya semi - fowler; miring. - Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya latihan napas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi. - Berikan perwatan oral reguler. Rasional: - Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi. Catatan: sakit kepala frontal dan / atau oksipital mungkin berekembang dalam 24-72 jam yang mengikuti anestesi spinal, mengharuskan posisi terlentang, peningkatan pemasukan cairan, dan pemberitahuan ahli anestesi. - Ketidaknyamanan mungkin disebabkan / diperburuk dengan penekanan pada kateter indwelling yang tidak tetap, selang NG, jalur parenteral ( sakit kandung kemih, akumulasi cairan dan gas gaster, dan infiltrasi cairan IV/ medikasi. - Pahami penyebab ketidaknyamanan ( misalnya sakit otot dari pemberian suksinilkolin dapat bertahan sampai 48 jam pasca operasi, sakit kepala sinus yang disosialisasikan dengan nitrus oksida dan sakit tenggorok dan sediakan jaminan emosional. Catatan: peristasia bagian-bagian tubuh dapat menyebabkan cedera saraf. Gejala – gejala mungkin bertahan sampai berjam-jam atau bahkan berbulan – bulan dan membutuhkan wevaluasi tambahan. - Mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi – Fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan oto punggung artritis, sewdangkan miring mengurangi tekanan dorsal. - Lepaskan tegangan emosional dan otot; tingkatkan perasaan kontrol yang mungkin dapat meningkatkan kemam puan koping. - Mengurangi ketidaknyamanan yang di hubungkan dangan membaran mukosa yang kering pada zat – zat anestesi, restriksi oral. 3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan neouromuskular, ketidak imbangan persptual. Tujuan: Menetapkan pola nafas normal / efektif dan bebas dari sianosis dan tanda – tanda hipoksai lain. ( doengos, 1999; 911 – 912 ) Intervensi: - Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hipereksentensi rahang, aliran udara feringeal oral. - Obserefasi dan kedalamam pernafasan, pemakaian otot – otot bantu pernafasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernafasan cuping hidung, warna kulit dan aliran udara. - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernafasan dan jenis pembedahan. - Observasi pengembalian fungsi otot terutama otot pernafasan. - Lakukan penghisapan lendir jika perlu.
    • - Kaloborasi: berikan tambahan oksigen sesui kebutuhan. Rasional: - Mencegah obstruksi jalan nafas. - Dilakukan untuk memastikan efektivitas pernafasan sehingga upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan. - Elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aspirasi dari muntah, posisi yang benar akan mendoromg ventilasi pada lobus paru bagian bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma. - Setekah pemberian obat – obat relaksasi otot selama masa intra operatif pengembalian fungsi otot pertama kali terjadi pada difragma, otot – otot interkostal, dan laring yang akan diikuti dengan relaksasi dengan relaksasi kelompok otot – otot utma seperti leher, bahu, dan otot – otot abdominal, selanjutnya diikuti oleh otot – otot berukuran sedang seperti lidah, paring, otot – otot ekstensi dan fleksi dan diakhiri oleh mata, mulut, wajah dan jari – jari tangan. - Obstruksi jalan nafas dapat terjadi karena danya darah atau mukus dalam tenggorok atau trakea. - Dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan oksigen yang akan diikat oleh Hb yang mengantikan tempat gas anestesi dan mendorng pengeluaran gas tersebut melalui zat – zat inhalasi. 4. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah. Tujuan: Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat, sebagaimana ditunjukkan dengan tanda – tanda vital yang stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, dan pengeluaran urine yang sesui. . ( doengos, 1999; 913 – 915 ) Intervensi: - Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran ( termasuk pengeluaran gastrointestinal ). - Kaji pengeluaran urinarus, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan. - Berikan bantuan pengukuran berkemih sesuai kebutuhan. Misalnya privasi, posisi duduk, air yang mengalir dalam bak, mengalirkan air hamgat diatas perineum. - Catat munculnya mual/muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan. - Periksa pembalut, alat drein pada intrval reguler. Kaji luka untuk terjadinya pembengkakan. - Kalaborasi: Berikan cairan pariental, pruduksi darah dean / atau plasma ekspander sesuai petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperlukan. Rasional: - Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan/ kebutuhan pemggantian dan pilihan – pilihan yang mempengaruhi intervensi. - Mungkin akan terjadi penurunan ataupun penghilangan setelah prosedur pada sistem genitourinarius dan / atau struktur yang berdekatan.
    • - Meningkatkan relaksasi otot perineal dan memudahkan upaya pengosongan. - Wanita, pasien dengan obesitas, dan mereka yang memiliki kecenderungan mabuk perjalanan penyakit memiliki resiko mual/ muntah yang lebih tinggi pada masa pasca operasi. Selain itu, semakin lama durasi anestesi, semakin resiko untuk mual, catatan: Mual yang terjadi selama 12 –24 jam pasca operasi umumnya dibangunkan dengan anestesi( termasuk anestesi regional ),. Mual yang bertahan lebih dari 3 hari pasca operasi mungkin dihubungkan dengan pilihan narkotik untuk mengontrol rasa sakit atau tr erap oabt – abatan lainnya. - Perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada hipovolemia / hemoragi. Pembengkakan lokal mungkin mengindikasikan formasi hematoma/ perdarahan. - Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Catat waktu penggantian volume sirkulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi, misalnya ketidak seimbangan. 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum; penurunan kekuatan / ketahanan; nyeri. Tujuan: Menunjukkan teknik / perilaku yang mampu memampukan kembali melakukan aktivitas. . ( doengos, 1999;536 – 537 ) Intervensi: - Tingkatkan tirah baring / duduk. Berikan linkungan tenang; batasi pengunjung sesui keperluan. - Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik. - Tingkatkan aktivitas sesui toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sensipasi/ aktif. - Dorong penggunaan teknik menejemen stres. Contoh relaksasi progresif, vissualisasi bimbing imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton Tv, radio, dan membaca. - Berikan obat sesui indikasi, Sedatif, agen antiansietas, contoh Diazepam ( valium ), Lorazepam ( ativam ). Rasional: - Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyipan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktivitas dengan posisi duduk tegak diyakini menurunkan aliran darah kaki yang mencegah sirkulasi optimal kesel hati. - Meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan. - Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat. - Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan meningkatkan koping. - Membantu dalam menejemen kebutuhan tidur, catatan: Penggunaan Barbiturat dan
    • Tranguilizer seperti Compazine dan Thorazine, dikontra indikasikan sehubungan dengan efek hepatotoksik.
    • ASKEP LIMFADENOPATI SKENARIO 2 Tn. A dirawat di RSUD XX diruang hematologi dengan keluhan mual, muntah, tidak nafsu makan dan serig keringat malam. Tn. A mengatakan sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu sebelum masuk RS pertama kali disadari dileher kiri ada benjolan berukuran sebesar telur ayam, padat kenyal dan makin lama makin membesar, mula-mula benjolan tidak nyeri tekan, tetapi sejak 2 bulan yang lalu pada benjolan timbul luka-luka kemerahan bila ditekan ada kemerahan bila terasa nyeri, nyeri dirasakan saat benjolan ditekan dan tidak menyebar. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan didapatkan limfadenepati, anorexsia, anemi, dan palpitasi. Advise dokter mengatakan Tn. A disarankan untuk untuk dilakukan pemeriksaan Biopsi dan pemeriksaan lain untuk mendapatkan diagnose medis. Langkah 1 : klarifikasi istilah dan konsep 1. Palpitasi adalah jantung yang kuat dan cepat disadari pasien. 2. Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah, pembentuknya dan bentuk – bentuk darah 3. Pemeriksaan biopsy adalah eksisi jaringan dari tubuh yang hidup untuk pembentukan microscopy guna meningkatkan diagnosa 4. Limfadenospati adalah suatu keadaan hyperplasia kelenjar getah bening. 5. Anorexsia adalah tidak nafsu makan.
    • Langkah 2 : menetapkan / mendefinisi masalah Dari scenario diatas dilihat dari tanda dan gejala, maka masalah yang timbul ada :  Dileher kiri Tn A ada benjolan sebesar telur ayam, yang mula – mula tidak nyeri tekan.  Tn A mengalami kelainan limfa yang berhubungan dengan system getah bening.  Dileher kiri Tn A yang merupakan tanda penyakit limfadenopati penyebab dari hyperplasia. Dan dapat diambil Diagnosa medis dan Diagnosa keperawatan sebagai berikut : Diagnose medis Diagnose keperawatan LIMFOMA  Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasit.  Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas.  Pola nafas tidak efetif berhubungan dengan neouromuscular, ketidak imbangan persptual.  Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah. Langkah 3 : Analisa masalah (Curah pendapat) 1. Bagaimana penatalaksanaan limfadenopati ?  Penata laksanaannya adalah kemoterapi dan terapi radiasi. 2. Bagaimana mekanisme terjadinya limfadenopati ?  Mekanisme terjadinya limfadenopati adalah terjadi karena beberapa sebab otot yaitu peningkatan jumlah limfosit makrofat jinak selama reaksi terhadap antigen. 3. Bagaimana proses pembentukan kelenjar getah bening dan dimana saja kelenjar getah bening tersebut ?  Kelenjar getah bening adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya didaerah submandibular (bagian bawah rahang bawah; sub: bawah;mandibula:rahang bawah), ketiak atau lipat paha yang teraba normal pada orang sehat. Terbungkus kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-sel pembentuk pertahanan tubuh dan merupakan
    • tempat penyaringan antigen (protein asing) dari pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya. Pembuluh-pembuluh limfe akan mengalir ke KGB sehingga dari lokasi KGB akan diketahui aliran pembuluh limfe yang melewatinya. 4. Bagaimana tanda dan gejala limfadenopati ?  ditandai pembengkakan pada satu atau lebih kelenjar getah bening, biasanya di leher dan ketiak, tetapi kadang kala di tempat lain. Gejala ini biasanya cepat hilang tanpa diobati. 5. Kenapa bisa terjadi benjolan dileher kiri Tn A ?  karena dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang dapat membawa antigen (mikroba, zat asing) dan memiliki sel pertahanan tubuh maka apabila ada antigen yang menginfeksi maka kelenjar getah bening dapat menghasilkan sel-sel pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk mengatasi antigen tersebut sehingga kelenjar getah bening membesar. 6. Bagaimana keterkaitan kelenjar limfa dengan system imunitas ?  Hubungan antara kelenjar limfa dengan sistem imunitas adalah kelenjar limfa juuga termasuk dalam pertahanan tubuh. Kelenjar limfa memiliki sel pertahanan tubuh, jika ada antigen yang menginfeksi maka kelenjar limfa dapat menghasilkan sel – sel pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk mengatasi antigen tersebut. Langkah 4 (menginventarisasi secara sistematis berbagai penjelasan yang telah didapatkan kelompok pada langkah 3)  Ada hubungan antara benjolan sebesar telur ayam dileher Tn A dengan limfadenopati.  Ada hubungan antara limfadenopati dan system hematologis.  Ada hubngan antara tanda dan gejala yang dialami Tn A dengan penyakit yang dideritanya. Langkah 5 (merumuskan sasaran pembelajaran)  Limfoma. Hitung Darah Lengkap Denga diferensial dan hitung Trombosit Darah sering diperiksa untuk mengetahui keadekuatan jumlah sel dan fungsinya. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah hitung darah lengkap, yang memberi informasi jumlah, konsentrasi, dan karakter fisil sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang ada didalam sampel darah vena. Hitung darah lengkap diferensial bergantung usia dan pada tingkat
    • yang lebih rendah, bergantung janis kelamin. Latihan atau olahraga,status reproduksi, dan berbagai jenis obat dapat menyebabkan deviasi hasil pemeriksaan. Hitung darah lengkap diferensial digunakan sebagai bagian dari pemeriksaan fisik, untuk penapisan kondisi spesifik, dan untuk menentukan kesehatan praoperatif. Hitung darah lengkap juga digunakan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan terapi. Ukuran sel darah merah ditunjukkan dengan mean corpuscular volume (MCV) atau volume korpuskular rata-rata dan mean corpuscular hemoglobin concretation (MCHC) atau konsentrasi hemoglobin korpuskular rata-rata yang memberi informasi tambahan pada pasien penderita anemia. Sel darah merah juga diperiksa RDW (red cell size distribution width) didalam sampel darah. Jika RDW tinggi, hal ini berarti ada rentang ukuran sel darah merah yang cukup luas di dalam sampel darah. RDW bermanfaat untuk membedakan jenis-jenis anemia yang hampir sama. Sebagai contoh pasien dengan selmikrositik (kecil) yang memiliki RDW normal dapat mengalami abnormalitas hemoglobin seperti talasemia, sementara pasien drngan sel mikrositik yang hampir sama tetapi RDW tinggi lebih tinggi cenderung mengalami defisiensi zat besi. Kombinasi nilai sel darah merah lainnya memberi penanda yang berbeda untuk etiologi gangguan darah. Pemeriksaan darah lainnya adalah golongan darah ABO dan antigen Rh serta pemeriksaan untuk mengidentifikasi adanya mikroorganisme dan titer antibodi. Laju sedimentasi eritrosit (SED) adalah pemeriksaan yang mengevaluasi kecenderungan sel darah merah untuk terpisah dari bagian darah yang tidak membeku dalam satu jam. Pemeriksaan ini berdasarkan fakta bahwa inflamasi dan proses lain yang hampir sama menstimulasi hepar untuk melepaskan sejumlah protein ke dalam darah, yang menyebabkan sel darah beragregasi bersama-sama, menjadi lebih berat dan akhirnya mengendap ke dasar wadah. Karena hal ini, laju SED sering kali meningkat secara tidak spesifik pada penyakit inflamasi. Nilai Hitung Darah Lengkap Dengan differensial Dan Hitung Trombosit (Orang Dewasa)  Hitung sel darah merah: 4,0-5,5 juta/ml darah  Hitung sel darah putih: 5.000-10.000/ml darah  Hitung trombosit: 140.000-40.0000/ml darah  Hematokrit (% sel darah merah): 42-52% untuk pria; 36-48% untuk wanita)  Hemoglobin:14,0-17,5 gram/100 ml untuk pria; 12,0-16,0 gram/100 ml untuk wanita  Neutrofil: 50%-62%  Eosinofil: 0%-3%  Basofil:0%-1%  Limfosit:25%-40%  Monosit:3%-7% Pemeriksaan Ukuran Sel Darah Merah dan Hemoglobin (dewasa)  MCV: 82-98 fL/sel darah  MCHC: 32-36 g/dL  RDW:11,5-14,5 koefisien variasi ukuran sel darah merah Laju Sedimentasi  Laju SED: 0-20 mm/jam Waktu Pembekuan Waktu pembekuan adalah lama waktu pembekuan yang terjadi setelah penusukan luka standart pada kulit. Waktu pembekuan diukur dalam menit dan mengindikasikan status fungsi trombosit,
    • terutama efektifitas sumbatan trombosit. Waktu pembekuan tidak lebih dari 15 menit (normal: 3,0-9,0 menit) untuk penusukan lengan. Masa Troboplastin parsial/protombin PTT (pratial thromboplastin time) dan PT (prothrombin time) mendeteksi defisiensi dalam aktifitas berbagai faktor pembekuan. Kedua pemeriksaan mengevaluasi bekuan dalam sampel darah vena. PTT menunjukkan efektifitas jalur intrinsik koagulasi dan tidak boleh lebih dari 90 detik (normal: 30 sampai 40 detik). Pemeriksaan ini penting dalam menentukan efektifitas dan keamanan terapi herapin. PT mendemonstrasikan efektifitas faktor koagulasi vitamin K-dependen, terutama jalur ekstrinsik dan jalur umumnya koagulasi. PT seharusnya tidak lebih dari 40 detik, atau sampai 2,5 kali level kontrol (normal: 11 sampai 13 detik). PT digunakan untuk menentukan efektifitas terapi warfarin (Coumadin). Langkah 6 (mengumpulkan informasi tambahan diluar waktu diskusi kelompok/belajar mandiri) Langkah 7 (melakukan sintesa dan pengujian informasi yang telah terkumpul) LAPORAN PENDAHULUAN A. Pengertian  Limfadenopati adalah suatu tanda dari infeksi berat dan terlokalisasi (Tambayong, 2000; 52).  Limfadenopati adalah digunakan untuk menggambarkan setiap kelainan kelenjar limfe (Price, 1995; 40).  Limfadenopati adalah pembengkakan kelenjar limfe (Harrison, 1999; 370). Dari pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa  Limfadenopati adalah kelainan dan pembengkakan kelenjar limfe sebagai tanda dari infeksi berat dan terlokalisasi. B. Etiologi  Peningkatan jumlah limfosit makrofag jinak selama reaksi terhadap antigen.  Infiltrasi oleh sel radang pada infeksi yang menyerang kelenjar limfe.  Proliferasi in situ dari limfosit maligna atau makrofag.
    •  Infiltrasi kelenjar oleh sel ganas metastatik.  Infiltrasi kelenjar limfe oleh makrofag yang mengandung metabolit dalam penyakit cadangan lipid. (Harrison, 1999; 370) C. Tanda dan Gejala a. demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38 o C. b. sering keringat malam. c. Kehilangan berat badan lebih dari 10% dalam 6 bulan. d. Timbul benjolan di bagian leher. D. Patofisiologi Sistem limfatik berperan pada reaksi peradangan sejajar dengan sistem vaskular darah. Biasanya ada penembusan lambat cairan interstisial kedalam saluran limfe jaringan, dan limfe yang terbentuk dibawa kesentral dalam badan dan akhirnya bergabung kembali kedarah vena. Bila daerah terkena radang, biasanya terjadi kenaikan yang menyolok pada aliran limfe dari daerah itu. Telah diketahui bahwa dalam perjalanan peradangan akut, lapisan pembatas pembuluh limfe yang terkecil agak meregang, sama seperti yang terjadi pada venula, dengan demikian memungkinkan lebih banyak bahan interstisial yang masuk kedalam pembuluh limfe. Bagaimanapun juga, selama peradangan akut tidak hanya aliran limfe yang bertambah, tetapi kandungan protein dan sel dari cairan limfe juga bertambah dengan cara yang sama. Sebaliknya, bertambahnya aliran bahan-bahan melalui pembuluh limfe menguntungkan karena cenderung mengurangi pembengkakan jaringan yang meradang dengan mengosongkan sebagian dari eksudat. Sebaliknya, agen-agen yang dapat menimbulkan cedera dapat dibawa oleh pembuluh limfe dari tempat peradangan primer ketempat yang jauh dalam tubuh. Dengan cara ini, misalnya, agen-agen yang menular dapat menyebar. Penyebaran sering dibatasi oleh penyaringan yang dilakukan oleh kelenjar limfe regional yang dilalui oleh cairan limfe yang bergerak menuju kedalam tubuh, tetapi agen atau bahan yang terbawa oleh cairan limfe mungkin masih dapat melewati kelenjar dan akhirnya mencapai aliran darah. (Price, 1995; 39 - 40).
    • Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis dapat menghasilkan petunjuk tentang kemungkinan diagnosis ini dan evaluasi lebih lanjut secara langsung ( misalnya hitung darah lengap, biakan darah, foto rontgen, serologi, uji kulit). Jika adenopati sistemik tetap terjadi tanpa penyebab yang jelas tanpa diketahui, biopsi kelenjar limfe dianjurkan. (Harrison, 1999; 372). Biopsi sayatan: Sebagian kecil jaringan tumur mame diamdil melalui operasi dengan anestesi umum jaringan tumor itu dikeluarkan, lalu secepatnya dikirim kelaborat untuk diperriksa. Biasanya biopsi ini dilakukan untuk pemastian diagnosis setelah operasi. ( Oswari, 2000; 240 ). Anestesi umum menyebabkan mati rasa karena obat ini masuk kejaringan otak dengan tekanan setempat yang tinngi. ( Oswari, 2000; 34 ). Pada awal pembiusan ukuran pupil masih biasa, reflek pupil masih kuat, pernafasan tidak teratur, nadi tidak teratur, sedangkan tekanan darah tidak berubah, seperti biasa. (Oswari, 2000; 35). E. Manifestasi Klinis Kelenjar limfoma cenerung teraba kenyal, seperti karet, saling berhubungan, dan tanpa nyeri. Kelenjar pada karsinoma metastatik biasanya keras, dan terfiksasi pada jaringan dibawahnya. Pada infeksi akut teraba lunak, membengkak secara asimetrik, dan saling berhubungan, serta kulit di atasnya tampak erimatosa. (Harrison, 1999; 370). F. Pemeriksaan Penunjang  Hitung darah lengkap.  Biakan darah.  Foto rontgen.  Serologi.  Uji kulit.(Harrison, 1999; 372). G. Penatalaksanaan 1. Therapy Medik Konsultasi dengan ahli onkology medik ( di RS type A dan B) Limfoma non hodkin derajat keganasan rendah (IWF)  Tanpa keluhan : tidak perlu therapy
    •  Bila ada keluhan dapat diberi obat tunggal siklofosfamide dengan dosis permulaan po tiap hari atau 1000 mg/m 2 iv selang 3 – 4 minggu.  Bila resisten dapat diberi kombinasi obat COP, dengan cara pemberian seperti pada LH diatas Limfona non hodgkin derajat keganasan sedang (IWF)  Untuk stadium I B, IIB, IIIA dan B, IIE A da B, terapi medik adalah sebagai terapy utama.  Untuk stadium I A, IE, IIA diberi therapy medik sebagai therapy anjuran Minimal : seperti therapy LH Ideal : Obat kombinasi cyclophospamide, hydrokso – epirubicin, oncovin,prednison (CHOP) dengan dosis : C : Cyclofosfamide 800 mg/m 2 iv hari I H : hydroxo – epirubicin 50 mg/ m 2 iv hari I O : Oncovin 1,4 mg/ m 2 iv hari I P : Prednison 60 mg/m 2 po hari ke 1 – 5 Perkiraan selang waktu pemberian adalah 3 – 4 minggu Lymfoma non – hodgkin derajat keganasan tinggi (IWF)  Stadium IA : kemotherapy diberikan sebagai therapy adjuvant  Untuk stadium lain : kemotherapy diberikan sebagai therapy utama Minimal : kemotherapynya seperti pada LNH derajat keganasan sedang (CHOP) Ideal : diberi Pro MACE – MOPP atau MACOP – B 2. Therapy radiasi dan bedah Konsultasi dengan ahli radiotherapy dan ahli onkology bedah, selanjutnya melalui yim onkology ( di RS type A dan B) H. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien limfadenopati adalah:  Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasit.  Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas.  Pola nafas tidak efetif berhubungan dengan neouromuscular, ketidak imbangan persptual.
    •  Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah. I. Intervensi 1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif Tujuan: Mencapai penyembuhan tepat waktu,bebas drenase purulen atau eritema dan tidak demam ( doengos, 1999; 796 – 797 ) Interensi: - Tingkatkan cuci tangan yang baik pada setaf dan pasien. - Gunakan aseptik atau kebersinan yang ketet sesuai indikasi untuk menguatkan atau menganti balutan dan bila menangani drain.insruksian pasien tidak untuk menyentuh atau menggaruk insisi. - Kaji kulit atau warna insisi. Suhu dan integrits: perhatikan adanya eritema /inflamasi kehilangan penyatuan luka. - Awasi suhu adanya menggigil - Dorong pemasukan cairan,diey tinggi protein dengan bentuk makanan kasar. - Kolaborasi berikan antibiotik sesuai indikasi Rasional : - Menurunkan resiko kontaminasi silang. - Mencegah kotaminasi dan resiko infeki luka,dimana dapat memerlukan post prostese. - Memberikan informasi trenteng status proses penyembuhan dan mewaspadakan staf terhadap dini infeksi. - Meskipun umumnya suhu meningkatpdad fase dini pasca operasi dan/atua adanya menggigil biasanya mengindikasikan terjadinya infeksi memerlukan inetrvensi untuk mencegah komplikasi lebih serius. - Mempertahankan keseimbangan cairan dan nutrisi untuk mendukung perfusi jaringan dan memberikan nutrisi yang perlu untuk regenerasi selular dan penyembuhan jaringan. - Mungkin berguna secara profilaktik untuk mencegah infeksi. 2. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas otot.
    • Tujuan: mengatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol / hilang. ( doengos, 1999; 915 – 917 ) Intervensi : - Evaluasi rasa sakit secara regular (mis, setiap 2 jam x 12 ), catat karakteristik, lokasi n intensitas ( skala 0-10 ). - Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi. - Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesui kebutuhan. - Lakukan reposisi sesui petunjuk, misalnya semi - fowler; miring. - Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya latihan napas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi. - Berikan perwatan oral reguler. Rasional: - Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi. Catatan: sakit kepala frontal dan / atau oksipital mungkin berekembang dalam 24-72 jam yang mengikuti anestesi spinal, mengharuskan posisi terlentang, peningkatan pemasukan cairan, dan pemberitahuan ahli anestesi. - Ketidaknyamanan mungkin disebabkan / diperburuk dengan penekanan pada kateter indwelling yang tidak tetap, selang NG, jalur parenteral ( sakit kandung kemih, akumulasi cairan dan gas gaster, dan infiltrasi cairan IV/ medikasi. - Pahami penyebab ketidaknyamanan ( misalnya sakit otot dari pemberian suksinilkolin dapat bertahan sampai 48 jam pasca operasi, sakit kepala sinus yang disosialisasikan dengan nitrus oksida dan sakit tenggorok dan sediakan jaminan emosional. Catatan: peristasia bagian-bagian tubuh dapat menyebabkan cedera saraf. Gejala – gejala mungkin bertahan sampai berjam-jam atau bahkan berbulan – bulan dan membutuhkan wevaluasi tambahan. - Mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi – Fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan oto punggung artritis, sewdangkan miring mengurangi tekanan dorsal. - Lepaskan tegangan emosional dan otot; tingkatkan perasaan kontrol yang mungkin dapat meningkatkan kemam puan koping.
    • - Mengurangi ketidaknyamanan yang di hubungkan dangan membaran mukosa yang kering pada zat – zat anestesi, restriksi oral. 3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan neouromuskular, ketidak imbangan persptual. Tujuan: Menetapkan pola nafas normal / efektif dan bebas dari sianosis dan tanda – tanda hipoksai lain. ( doengos, 1999; 911 – 912 ) Intervensi: - Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hipereksentensi rahang, aliran udara feringeal oral. - Obserefasi dan kedalamam pernafasan, pemakaian otot – otot bantu pernafasan, perluasan rongga dada, retraksi atau pernafasan cuping hidung, warna kulit dan aliran udara. - Letakkan pasien pada posisi yang sesuai, tergantung pada kekuatan pernafasan dan jenis pembedahan. - Observasi pengembalian fungsi otot terutama otot pernafasan. - Lakukan penghisapan lendir jika perlu. - Kaloborasi: berikan tambahan oksigen sesui kebutuhan. Rasional: - Mencegah obstruksi jalan nafas. - Dilakukan untuk memastikan efektivitas pernafasan sehingga upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan. - Elevasi kepala dan posisi miring akan mencegah terjadinya aspirasi dari muntah, posisi yang benar akan mendoromg ventilasi pada lobus paru bagian bawah dan menurunkan tekanan pada diafragma. - Setekah pemberian obat – obat relaksasi otot selama masa intra operatif pengembalian fungsi otot pertama kali terjadi pada difragma, otot – otot interkostal, dan laring yang akan diikuti dengan relaksasi dengan relaksasi kelompok otot – otot utma seperti leher, bahu, dan otot – otot abdominal, selanjutnya diikuti oleh otot – otot berukuran sedang seperti lidah, paring, otot – otot ekstensi dan fleksi dan diakhiri oleh mata, mulut, wajah dan jari – jari tangan. - Obstruksi jalan nafas dapat terjadi karena danya darah atau mukus dalam tenggorok atau trakea.
    • - Dilakukan untuk meningkatkan atau memaksimalkan pengambilan oksigen yang akan diikat oleh Hb yang mengantikan tempat gas anestesi dan mendorng pengeluaran gas tersebut melalui zat – zat inhalasi. 4. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah. Tujuan: Mendemonstrasikan keseimbangan cairan yang adekuat, sebagaimana ditunjukkan dengan tanda – tanda vital yang stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, dan pengeluaran urine yang sesui. ( doengos, 1999; 913 –915) Intervensi: - Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran ( termasuk pengeluaran gastrointestinal ). - Kaji pengeluaran urinarus, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan. - Berikan bantuan pengukuran berkemih sesuai kebutuhan. Misalnya privasi, posisi duduk, air yang mengalir dalam bak, mengalirkan air hamgat diatas perineum. - Catat munculnya mual/muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan. - Periksa pembalut, alat drein pada intrval reguler. Kaji luka untuk terjadinya pembengkakan. - Kalaborasi: Berikan cairan pariental, pruduksi darah dean / atau plasma ekspander sesuai petunjuk. Tingkatkan kecepatan IV jika diperlukan. Rasional: - Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan/ kebutuhan pemggantian dan pilihan – pilihan yang mempengaruhi intervensi. - Mungkin akan terjadi penurunan ataupun penghilangan setelah prosedur pada sistem genitourinarius dan / atau struktur yang berdekatan. - Meningkatkan relaksasi otot perineal dan memudahkan upaya pengosongan. - Wanita, pasien dengan obesitas, dan mereka yang memiliki kecenderungan mabuk perjalanan penyakit memiliki resiko mual/ muntah yang lebih tinggi pada masa pasca operasi. Selain itu, semakin lama durasi anestesi, semakin resiko untuk mual, catatan: Mual yang terjadi selama 12 –24 jam pasca operasi umumnya dibangunkan dengan
    • anestesi( termasuk anestesi regional ),. Mual yang bertahan lebih dari 3 hari pasca operasi mungkin dihubungkan dengan pilihan narkotik untuk mengontrol rasa sakit atau tr erap oabt – abatan lainnya. - Perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada hipovolemia / hemoragi. Pembengkakan lokal mungkin mengindikasikan formasi hematoma/ perdarahan. - Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan. Catat waktu penggantian volume sirkulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi, misalnya ketidak seimbangan. Askep Limfadenopaty 1. Pengkajian a. Identitas pasien Nama : Tn A Umur : 50 tahun Jenis kelamin : laki – laki Agama : islam Alamat : Jl.JA.soeprapto No.25 bogo nganjuk Suku : jawa Mrs : 29 – 09 – 2011 jam 13.00 Pengkajian : 1 – 10 – 2011 2. Riwayat penyakit sekarang Alasan utama MRS : Keluhan utama : Mual muntah, tidak nafsu makan dan sering keringat malam. 3. Riwayat penyakit dahulu Tn. A pernah MRS dengan penyakit Hipertensi. 4. Riwayat penyakit keluarga Tidak mempunyai penyakit 5. Pola – pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Kebiasaan dengan mengkonsumsi 3 bungkus / hari, jamu, olah raga/gerak badan(-).
    • b. Pola nutrisi dan metabolisme Sebelum MRS klien makan 3 x sehari dengan porsi cukup dan suka makan diluar rumah, saat MRS pemenuhan nutrisi bubur kasar 1 porsi habis setiap kali makan. Kesulitan makan tidak ada, keadaan yang mengganggu nutrisi tidak ada, status gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh : postur tubuh tinggi, besar, keadaan rambut bersih.
    • BAB Frekuensi : 1 x / 3 hari Warna dan bau : bau khas Konsistensi : padat Keluhan : tidak ada BAK Frekuensi : kondom cat Warna dan bau : bau khas urine Keluhan : tidak ada c. Pola tidur dan istirahat Tidur Frekuensi : 2 x sehari Jam tidur siang : 1 – 3 jam / hari Jam tidur malam : 6 – 7 jam / hari Keluhan : tidak ada Istirahat Frekuensi : 4 – 6 x / hari Keluhan : tidak ada d. Pola aktivitas Klien biasanya duduk seharian untuk membuat pola rancangan baju dari pemesanan. Olah raga kadang – kadang seminggu sekali. Jalan – jalan pagi ke alun – alun. e. Pola sensori dan kognitif sensori : daya penciuman, daya rasa, daya raga, daya pendengaran baik. Kognitif : Proses berfikir, isi pikiran, daya ingat baik f. Pola penanggulangan stres Penyebab stres, mekanisme terhadap stres, adaptasi terhadap stres, pertahanan diri sementara biasanya klien meminta bantuan terutama istri.
    • 6. Pemeriksaan fisik a. Pemeriksaan leher : ditemukan benjolan sebesar telur ayam dan tampak kemerahan pada leher kiri. b. Pemeriksaan kulit : 7. Analisa data No. Data Etiologi Masalah 1. DS : pasien mengatakan lemas DO : N : 60 x/menit, TD : 100/60 mmHg - Wajah pucat - Tubuh lemas Anemia, lemah, dan letih. Intoleransi aktifitas 2. DS : pasien mengatakan sesak DO : RR : 30 x/menit, Hb yang mengikat O2 menurun, suplay O2 ke jaringan menurun. Pola nafas tidak efektif 3. DS : pasien mengatakan tidak nafsu makan. DO : BB: 50 kg, LILA : 38 cm, Hb: 12 gram/DI, anorexia Mual, muntah, anorexia, dan anemia. Ketidak seimbangan nutrisi 4. DS : pasien mengatakan nyeri pada leher kiri saat ditekan. DO : - P : benjolan pada leher kiri - Q : berat - R : leher kiri - S : 7 - T : saat tekan Benjolan pada leher kiri bila ditekan. Nyeri 8. Diagnosa Keperawatan
    • a. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia, lemah, dan letih. b. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan palpitasi, suplay O2 kejaringan menurun. c. Ketidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan mual, muntah, anorexia, dan anemia. d. Nyeri berhubungan dengan benjoln pada leher kiri bila ditekan.
    • 9. Intervensi Tanggal No Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional 1 Oktober 2011 1 Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia, lemah, dan letih. Dalam waktu 2 x 24 jam anemia, lemah, letih sudah berkurang dan dapat melakukan aktifitas dengan normal kembali. Secara subyektif pasien mengatakan bahwa lemas sudah berkurang. Secara obyektif didapatkan N : 75 – 100 x/menit, TD : 110 – 120/ 80 – 90 mmHg, wajah sudah tidak tampak pucat, dan tubuh tidak lemas. - Berikan motivasi kepada klien terhadap peningkatan aktivitas - Bantu atau perintahkan klien untuk mengambil nafas dalam agar pasien relaksasi - Kaji respon emosional dan spiritual - Motivasi dapat membantu klien untuk lebih bersemangat dalam melakukan atau menigkatkan aktifitas sehari – harinya - Relaksasi mengurangi resiko kelelahan pada klien - Respon emosional dan spiritual mempengaru hi kondisi pasien dalam melakukan aktifitas sehari – harinya. 2 Pola napas tidak efektif berhubungan dengan palpitasi, suplay O2 Dalam waktu 2x24 jam sesak nafas sudah berkurang, suplay O2 Secara subyektif pasien mengatakan bahwa sesak nafas sudah - Kaji TTV pasien. - Nilai TTV yang tidak normal menujukkan adanya abnormalitas pada bagian kerja organ dalam pada
    • kejaringan menurun. ke jaringan terpenuhi. berkurangdan secara obyektif RR: 18 – 24 x/menit, serta suplay atau asupan O2 ke jaringan terpenuhi. - Berikan terapi oksigen - Latih klien untuk bernafas secara perlahan – lahan, bernafas lebih efektif. - Pertahankan jalan udara pasien dengan memiringkan kepala, hipereksenten si rahang, aliran udara feringeal oral. tubuh klien. - Terapi oksigen dapat membantu pengurangan beban paru - Bernafas perlahan – lahan dapat membantu pola nafas menjadi lebih efektif - Mencegah obstruksi jalan nafas. 3 Ketidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan mual, muntah, anorexia, dan anemia. Dalam waktu 2x24 jam nutrisi pasien dapat terpenuhi dan kondisi tubuh kembali normal. Secara subyektif pasien mengatakan bahwa mul dan muntahnya sudah sembuh dan secara obyektif - Kaji kebiasaan kesulitan makan dan cacat BB dan ukuran tubuh. - Anjurkan agar pasien memakan makanan yang disediakan - Sebagai acuhan pemberian intervensi lanjutan yang lebih efektif. - Untuk menghindari makanan yang dapat
    • anorexia dan anemia sudah teratasi. oleh RS. - Jelaskan manfaat makanan bila dikaitkan dengan kondisi pasien saat ini. - Berikan motivasi dan dukungan psikologis. - Kolaborasi contohnya dengan memberikan multivitamin penambah nafsu makan. mengganggu proses penyembuha n pasien. - Dengan pemahaman pasien akan lebih kooperatif mengiluti aturan. - Meningkatka n dan memotivasi pasian secara psikologis. - Memenuhi asupan vitamin yang kurang dari penurunan asupan nutrisi secara umum dan memperbaiki daya tahan. 4 Nyeri berhubungan dengan benjolan pada Dalam waktu 2x24 jam nyeri sudah Secara subyektif pasien mengatakan - Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lama, penyebab, - Variasi penampilan dan perilaku klien karena
    • leher kiri bila ditekan. berkurang. bahwa nyeri tekan tekan pada leher kirinya sudah berkurang. Secara obyektif skala nyari menjadi 1. dan skala. - Luangkan waktu minimal 10 menit setiap pergantian tugas jaga untuk menizinkan pasien mengungkap kan perasaannya. - Ajarkan pasien tehnik pengendalian nyeri alternatif seperti umpan balik, dan relaksasi. nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian. - Untuk meningkatka n rasa kendalinya, mengurasi isolasi, dan menumbuhk an rasa percaya. - Untuk mengurangi ketergantung an terhadap analgesik. Diposkan oleh askep di 21.51 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)
    • Pengikut Arsip Blog  2011 (5) o Oktober (5)  ASKEP Sindrom Steven Johnson (SSJ)  ASKEP LIMFADENOPATI  ASKEP LIMFADENOPATI  ASKEP INFARK MIOKARD AKUT (IMA)  PROSES SISTEM INPUT DAN OUTPUT Mengenai Saya askep Lihat profil lengkapku Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.