Transisi Demografi F E- Universitas Darma Persada Jakarta,  25 April  2005 Drs. H. Dadang Solihin, MA
Transisi Demografi <ul><li>Transisi demografi   (demographic transition)  adalah sebuah konsep mengenai proses penurunan t...
Tahap I <ul><li>Sebelum melangsungkan modernisasi ekonomi, negara-negara ini selama berabad-abad mempunyai laju pertambaha...
Tahap II <ul><li>Tahapan yang kedua segera berlangsung setelah adanya modernisasi yang kemudian menghasilkan berbagai meto...
Lanjutan… <ul><li>Sebagai akibatnya, maka laju pertumbuhan penduduk justru mengalami peningkatan tajam bila dibandingkan d...
Tahap III <ul><li>T ahapan ketiga segera berlangsung dengan munculnya berbagai macam dorongan dan pengaruh positif yang be...
 
T iga Tahap Transisi Demografi  di  Eropa Barat <ul><li>Tahap  Pertama   </li></ul><ul><li>Sebelum abad  19 , angka kelahi...
Lanjutan… <ul><li>Tahap  Kedua   </li></ul><ul><li>M ulai berlangsung sekitar kuartal pertama abad  19  yang ditandai deng...
Lanjutan… <ul><li>Tahap  Ketiga   </li></ul><ul><li>T ingkat kelahiran tidak terlalu tinggi  karena  relatif tingginya usi...
 
T iga Tahap Transisi Demografi  di  Dunia Ketiga   <ul><li>Tahap  Pertama   </li></ul><ul><li>Tingkat kelahiran di banyak ...
Lanjutan… <ul><li>Tahap  Kedua   </li></ul><ul><li>B erlangsung di hampir semua negara­negara Dunia Ketiga sejak tahun 194...
Lanjutan… <ul><li>Tahap  Ketiga   </li></ul><ul><li>P ola umum kependudukan di negara-negara Dunia Ketiga nampak terpecah ...
Lanjutan… <ul><li>Prestasi kependudukan ini diraih oleh sejumlah negara-negara Dunia Ketiga seperti Taiwan, Korea Selatan,...
Kelompok Negara “Gagal” <ul><li>N egara-negara Dunia Ketiga  yang  termasuk dalam kelompok &quot;gagal&quot; seperti diper...
<ul><li>Terima Kasih </li></ul>
Dadang holds a MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Transisi Demografi

31,034 views

Published on

Konsep mengenai proses penurunan tingkat fertilitas sampai terciptanya tingkat populasi yang stabil.

Published in: Health & Medicine, Technology
0 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
31,034
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
151
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transisi Demografi

  1. 1. Transisi Demografi F E- Universitas Darma Persada Jakarta, 25 April 2005 Drs. H. Dadang Solihin, MA
  2. 2. Transisi Demografi <ul><li>Transisi demografi (demographic transition) adalah sebuah konsep mengenai proses penurunan tingkat fertilitas sampai terciptanya tingkat populasi yang stabil </li></ul><ul><li>K onsep ini mencoba menerangkan mengapa hampir semua negara yang kini tergolong sebagai negara-negara maju sama-sama melewati sejarah populasi modern yang terdiri dari tiga tahapan besar : </li></ul><ul><ul><li>Tahap I: high birthrates and death rates </li></ul></ul><ul><ul><li>Tahap II: continued high birthrates, declining death rates </li></ul></ul><ul><ul><li>Tahap III: falling birthrates and death rates, eventually stabilizing </li></ul></ul>
  3. 3. Tahap I <ul><li>Sebelum melangsungkan modernisasi ekonomi, negara-negara ini selama berabad-abad mempunyai laju pertambahan penduduk yang stabil atau sangat lambat. </li></ul><ul><li>Penyebabnya, meskipun angka kelahiran mereka sangat tinggi, angka kematian mereka juga sangat tinggi, bahkan hampir sama tingginya dengan angka kelahiran. </li></ul>
  4. 4. Tahap II <ul><li>Tahapan yang kedua segera berlangsung setelah adanya modernisasi yang kemudian menghasilkan berbagai metode penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik, makanan yang lebih bergizi, pendapatan yang lebih tinggi, dan berbagai bentuk perbaikan hidup lainnya, sehingga secara perlahan-lahan usia harapan hidup ( life expectancy ) penduduk di negara­negara yang kini maju itu meningkat dari rata-rata 40 tahun menjadi lebih dari 60 tahun. </li></ul><ul><li>Dengan demikian, angka kematian mengalami penurunan yang cukup berarti. Akan tetapi, penu ru an angka mortalitas tersebut tidak segera diimbangi oleh turunnya tingkat fertilitas. </li></ul>
  5. 5. Lanjutan… <ul><li>Sebagai akibatnya, maka laju pertumbuhan penduduk justru mengalami peningkatan tajam bila dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Jumlah total penduduk melonjak secara drastis akibat meningkatnya selisih antara angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang mulai rendah, cenderung menurun. </li></ul><ul><li>Dengan demikian, tahapan kedua ini menandai awal dari suatu proses transisi demografi, yaitu masa transisi dari keadaan stabil atau laju pertambahan penduduk yang rendah ke laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, sebelum pada akhirnya kembali ke laju pertambahan penduduk yang kecil. </li></ul>
  6. 6. Tahap III <ul><li>T ahapan ketiga segera berlangsung dengan munculnya berbagai macam dorongan dan pengaruh positif yang bersumber dari upaya-upaya modernisasi serta pembangunan yang menyebabkan turunnya tingkat fertilitas. </li></ul><ul><li>Di ujung tahapan yang ketiga ini , tingkat kelahiran berhasil diturunkan cukup tajam sampai sama rendahnya dengan tingkat kematian, sehingga secara neto laju pertumbuhan penduduk menjadi sangat rendah atau bahkan nol. </li></ul>
  7. 8. T iga Tahap Transisi Demografi di Eropa Barat <ul><li>Tahap Pertama </li></ul><ul><li>Sebelum abad 19 , angka kelahiran berhasil ditekan menjadi sekitar 35 per 1.000 orang penduduk, dan angka kematian berfluktuasi sekitar 30 per 1.000 jiwa. </li></ul><ul><li>Dengan demikian laju pertumbuhan penduduk hanya berkisar 5 orang per 1.000 penduduk atau lebih kecil dari 0,5 % per tahun. </li></ul>
  8. 9. Lanjutan… <ul><li>Tahap Kedua </li></ul><ul><li>M ulai berlangsung sekitar kuartal pertama abad 19 yang ditandai dengan mulai menurunnya tingkat kematian secara perlahan-lahan sebagai hasil perbaikan dari kondisi ekonomi dan semakin membaiknya metode pengendalian penyakit dan sumber kematian lainnya berkat perkembangan teknologi medis modern dan pelayanan kesehatan masyarakat. </li></ul>
  9. 10. Lanjutan… <ul><li>Tahap Ketiga </li></ul><ul><li>T ingkat kelahiran tidak terlalu tinggi karena relatif tingginya usia nikah dan adanya pola hidup membujang yang diterima sebagai suatu hal yang wajar oleh masyarakat setempat . </li></ul><ul><li>T ingkat pertumbuhan penduduk di Eropa Barat maksimum hanya berkisar 1 % . </li></ul><ul><li>Menjelang saat berakhirnya masa transisi demografi di Eropa Barat pada paruh kedua abad 20 , bentuk hubungan antara angka kelahiran dan angka kematian pada awal tahun 1800-an telah berbalik. </li></ul><ul><li>Sekarang yang mengalami fluktuasi justru angka kelahiran, sedangkan angka kematian tetap stabil atau kalaupun meningkat sedikit sekali. </li></ul><ul><li>Fenomena yang terakhir ini secara jelas terlihat dari begitu besa rn ya proporsi kaum lanjut usia pada distribusi penduduk menurut usia di Eropa sekarang ini. </li></ul>
  10. 12. T iga Tahap Transisi Demografi di Dunia Ketiga <ul><li>Tahap Pertama </li></ul><ul><li>Tingkat kelahiran di banyak negara berkembang jauh lebih tinggi daripada tingkat angka kelahiran yang pernah terjadi di negara-negara Eropa Barat sebelum Revolusi Industri. </li></ul><ul><li>Hal ini disebabkan oleh adanya tradisi kaum wanita di negara-negara Dunia Ketiga untuk menikah pada usia yang relatif sangat muda. </li></ul><ul><li>Jadi, meskipun tingkat kelahiran per keluarga berhasil dikurangi, akan tetapi jumlah pasangan siap nikah dan periode- subur untuk bereproduksi menjadi panjang sehingga pada akhirnya tingkat kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk tetap saja tinggi. </li></ul>
  11. 13. Lanjutan… <ul><li>Tahap Kedua </li></ul><ul><li>B erlangsung di hampir semua negara­negara Dunia Ketiga sejak tahun 1940-an, yang kemudian memuncak pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an. </li></ul><ul><li>Penggunaan teknologi pelayanan kesehatan dan pengobatan impor yang modern dan sangat efektif menyebabkan turunnya tingkat kematian secara drastis di banyak negara berkembang. </li></ul><ul><li>Laju penurunan tingkat kematian ini bahkan lebih cepat daripada yang terjadi di Eropa pada abad 19 . </li></ul><ul><li>Sehubungan dengan tetap bertahannya tingkat kelahiran yang tinggi tersebut (di sejumlah negara bahkan mencapai lebih dari 40 kelahiran per 1.000 penduduk per tahun), maka tahapan kedua dari transisi demografi yang berlangsung di negara­negara berkembang dicirikan oleh sedemikian tingginya laju pertumbuhan penduduk yang mencapai sekitar 2 % - 2,5 % per tahunnya. </li></ul>
  12. 14. Lanjutan… <ul><li>Tahap Ketiga </li></ul><ul><li>P ola umum kependudukan di negara-negara Dunia Ketiga nampak terpecah menjadi dua pola besar yang masing-masing terjadi pada dua kelompok negara-negara berkembang. </li></ul><ul><li>Untuk kelompok pertama, yakni kasus A dalam Figur 6-7, aneka metode modern bagi pengendalian dan pengurangan tingkat kematian telah diterapkan bersamaan dengan meningkatnya taraf hidup secara merata sehingga tingkat kematian berhasil diturunkan menjadi 10 kematian per 1.000 penduduk per tahun, dan hal itu pun diikuti oleh penurunan tingkat kelahiran yang cukup drastis, yakni menjadi sekitar 20 hingga 30 kelahiran per 1.000 penduduk per tahun. </li></ul>
  13. 15. Lanjutan… <ul><li>Prestasi kependudukan ini diraih oleh sejumlah negara-negara Dunia Ketiga seperti Taiwan, Korea Selatan, Kosta Rika, RRC, Kuba, Cili, dan Sri Lanka. </li></ul><ul><li>Dengan demikian, negara-negara ini telah beranjak ke tahapan ketiga dari transisi demografinya. Mereka telah berhasil mencapai laju pertumbuhan penduduk secara cepat dan berkesinambungan. </li></ul><ul><li>Pada akhir tahun 1980-an dan tahun 1990-an, beberapa negara berkembang lainnya seperti Kolombia, Indonesia , Republik Dominika, Thailand. Malaysia, Meksiko, Kenya, Afrika Selatan dan Brasil mulai turut bergabung ke dalam kasus A. </li></ul><ul><li>Mereka juga sudah berhasil memasuki periode di mana tingkat fertilitas serta laju pertambahan penduduknya cenderung terus menurun. </li></ul>
  14. 16. Kelompok Negara “Gagal” <ul><li>N egara-negara Dunia Ketiga yang termasuk dalam kelompok &quot;gagal&quot; seperti diperlihatkan oleh kasus B pada Figur 6-7. </li></ul><ul><li>Pada awalnya tingkat kematian di kelompok negara ini berhasil diturunkan, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya penurunan tersebut terhenti sebagai akibat dari tidak kunjung teratasinya kemiskinan absolut dan rendahnya taraf hidup. </li></ul><ul><li>Sementara itu, tingkat kelahiran tetap saja tinggi, juga sebagai akibat dari rendahnya taraf hidup, sehingga laju pertumbuhan penduduknya pun tetap saja tinggi. </li></ul><ul><li>Negar a -negara tersebut (kebanyakan berlokasi di kawasan Afrika sub-Sahara dan Timur Tengah) masih berada dalam tahapan kedua transisi demografi. </li></ul>
  15. 17. <ul><li>Terima Kasih </li></ul>
  16. 18. Dadang holds a MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as Deputy Director for Information of Spatial Planning and Land Use Management at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas). <ul><li>Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asia-Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of Darma Persada, Jakarta, Indonesia. </li></ul><ul><li>He got various training around the globe, included Advanced International Training Programme of Information Technology Management, at Karlstad City, Sweden (2005); the Training Seminar on Land Use and Management, Taiwan (2004); Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He published more than five books regarding local autonomous. </li></ul><ul><li>You can reach Dadang Solihin by email at [email_address] or by his mobile at +62812 932 2202 </li></ul>Dadang Solihin’s Profile

×