Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pembangunan

Loading...

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

6 comments

Comments 1 - 6 of 6 previous next Post a comment

  • + VB_FKM_UI VB_FKM_UI 7 months ago
    assalamualaikum...Pak Dadang yg sy hormati...kiranya Bapak dapat mengirimkan materi tentang Monotoring dan Evaluasi dan Pertanyaan-pertanyaan dalam evaluasi.
    Trima kasih sebelumnya.
  • + DadangSolihin Dadang SOLIHIN 11 months ago
    Untuk download slides silahkan klik http://www.docstoc.com/profile/DadangSolihin
  • + guest4958d044 guest4958d044 2 years ago
    Pak Dadang, bolehkah saya mendapatkan slides presentation itu, sangat berguna bagi saya di daerah.
    Nazamuddin-nazambs@yahoo.com
  • + guesta14e6 guesta14e6 2 years ago
    salam pak>>>>>>>>>>>

    boleh g saya minta materi tentang evaluasi n monitoring perencanaan

    trima kasih.............

    patman_nebo.co.id
  • + guest4a35e0 guest4a35e0 2 years ago
    terima kasih atas kebaikannya

    pa dadang boleh saya download meminta materi monitoring dan evaluasi peren Pemb, peren dan pelaku pemb. serta materi2 yang mengenai peren pembangunan

    terima kasih bapak

    asterix_qh@yahoo.co.id
  • + guest785d67 guest785d67 2 years ago
    Semoga bapak Dadang mendapatkan pahala yang tak terhingga dari Allah SWT atas budi baik bapak sharing materi/slidenya...
    boleh dong saya dikirimkan materi tentang perencanaan pembangunan dan kebijakannya...terima kasih...
    super_fate@yahoo.com
Post a comment
Embed Video
Edit your comment Cancel

3 Favorites

Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pembangunan - Presentation Transcript

  1. Monitoring dan Evaluasi Perencanaan Pembangunan Drs. H. Dadang Solihin, MA Direktur Sistem dan Pelaporan Evaluasi Kinerja Pembangunan-Bappenas Bimbingan Teknis Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah Sanur-Bali, 26 April 2008 BAPPENAS
  2. Materi
    • Perencanaan
    • Menggabungkan M&E ke dalam Siklus Manajemen
    • Gambaran Sistem Evaluasi Kinerja Pembangunan (Sekarang dan Akan Datang)
    • Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Tahunan
    • Rencana 2008
    • Harapan ke Depan
  3. Perencanaan
    • Proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia
  4. Tahapan Perencanaan
    • Penetapan Rencana
      • RPJP Nas dgn UU dan RPJP Daerah dgn Perda
      • RPJM dengan Peraturan Presiden / Kepala Daerah
      • RKP / RKPD dengan Peraturan Presiden / Kepala Daerah
    • Penyusunan Rencana
      • Rancangan Rencana Pembangunan Nasional / Daerah
      • Rancangan Rencana Kerja Dep/Lembaga / SKPD
      • Musyawarah Perencanaan Pembangunan
      • Rancangan Akhir Rencana Pembangunan
  5. Tahapan Perencanaan
    • Evaluasi Pelaksanaan Rencana
      • Kepala SKPD melakukan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan SKPD periode sebelumnya.
      • Kepala Bappeda menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pimpinan SKPD.
      • Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana pembangunan daerah untuk periode berikutnya.
    • Pengendalian Pelaksanaan Rencana
      • D ilakukan oleh masing-masing pimpinan SKPD .
      • Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya.
  6. Syarat Perencanaan
    • H arus memiliki, mengetahui , dan memperhitungkan :
    • Tujuan akhir yang dikehendaki .
    • Sasaran-sasaran dan prioritas untuk mewujudkannya (yang mencerminkan pemilihan dari berbagai alternatif) .
    • Jangka waktu mencapai sasaran-sasaran tersebut .
    • Masalah-masalah yang dihadapi .
    • Modal atau sumber daya yang akan digunakan serta pengalokasiannya .
    • kebijakan-kebijakan untuk melaksanakannya .
    • Orang, organisasi, atau badan pelaksananya .
    • Mekanisme pemantauan, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaannya.
  7. Syarat Perencanaan . . .
    • Faktual dan Realistis
    • Logis dan Rasional
    • Fleksibel
    • Komitmen
    • Komprehensif atau menyeluruh
  8. Fungsi / Manfaat Perencanaan
    • Sebagai penuntun arah
    • Minimalisasi k etidakpastian
    • Minimalisasi inefisiensi sumber daya
    • Penetapan s tandar dalam p engawasan k ualitas
  9. Kegagalan Perencanaan (1)
    • Penyusunan perencanaan tidak tepat, mungkin karena:
    • informasinya kurang lengkap,
    • metodologinya belum dikuasai,
    • perencanaannya tidak realistis sehingga tidak mungkin pernah bisa terlaksana
    • pengaruh politis terlalu besar sehingga pertimbangan-pertimbangan teknis perencanaan diabaikan.
  10. Kegagalan Perencanaan (2)
    • Perencanaannya mungkin baik, tetapi pelaksanaannya tidak seperti seharusnya.
      • kegagalan terjadi karena tidak berkaitnya perencanaan dengan pelaksanaannya.
      • aparat pelaksana tidak siap atau tidak kompeten,
      • masyarakat tidak punya kesempatan berpartisipasi sehingga tidak mendukungnya.
  11. Kegagalan Perencanaan (3)
    • Perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar negara berkembang.
    • Misalnya, orientasi semata-mata pada pertumbuhan yang menyebabkan makin melebarnya kesenjangan.
    • Dengan demikian, yang keliru bukan semata-mata perencanaannya, tetapi falsafah atau konsep di balik perencanaan itu.
  12. Kegagalan Perencanaan (4)
    • Karena perencanaan diartikan sebagai pengaturan total kehidupan manusia sampai yang paling kecil sekalipun.
      • Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan berkembangnya prakarsa individu dan pengembangan kapasitas serta potensi masyarakat secara penuh.
      • Sistem ini bertentangan dengan hukum penawaran dan permintaan karena pemerintah mengatur semuanya.
      • Perencanaan seperti inilah yang disebut sebagai sistem perencanaan terpusat (centrally planned system).
  13. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (1)
    • Bias pertama
    • A danya kecenderungan berpikir bahwa :
      • dimensi rasional dari pembangunan lebih penting dari dimensi moralnya,
      • dimensi material lebih penting daripada dimensi kelembagaannya, dan
      • dimensi ekonomi lebih penting dari dimensi sosialnya.
    • Akibat dari anggapan itu ialah alokasi sumber daya pembangunan diprioritaskan menurut jalan pikiran yang demikian.
  14. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (2)
    • Bias kedua
    • P endekatan pembangunan yang berasal dari atas lebih sempurna daripada pengalaman dan aspirasi pembangunan di tingkat bawah ( grass-root ).
    • Akibatnya kebijakan pembangunan menjadi kurang efektif karena kurang mempertimbangkan kondisi yang nyata dan hidup di masyarakat.
  15. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (3)
    • Bias ketiga
    • P embangunan masyarakat banyak di tingkat bawah lebih memerlukan bantuan material daripada keterampilan teknis dan manajerial.
    • Anggapan ini sering mengakibatkan pemborosan sumber daya dan dana, karena :
      • kurang mempersiapkan keterampilan teknis dan manajerial dalam pengembangan sumber daya manusia, dan
      • mengakibatkan makin tertinggalnya masyarakat di lapisan bawah.
  16. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (4)
    • Bias keempat
    • T eknologi yang diperkenalkan dari atas selalu jauh lebih ampuh daripada teknologi yang berasal dari masyarakat itu sendiri.
    • Anggapan demikian dapat menyebabkan pendekatan pembangunan yang :
      • terlalu memaksa dan menyamaratakan teknologi tertentu untuk seluruh kawasan pembangunan di tanah air yang sangat luas dan beragam tahap perkembangannya ini.
      • pendekatan pembangunan terlalu mengabaikan potensi teknologi tradisional yang dengan sedikit penyempurnaan dan pembaharuan mungkin lebih efisien dan lebih efektif untuk dimanfaatkan dibandingkan dengan teknologi impor.
  17. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (5)
    • Bias kelima
    • L embaga-lembaga yang telah berkembang di kalangan rakyat cenderung tidak efisien dan kurang efektif bahkan menghambat proses pembangunan.
    • Anggapan ini membuat lembaga-lembaga masyarakat di lapisan bawah kurang dimanfaatkan dan kurang ada ikhtiar untuk memperbaharui, memperkuat serta memberdayakannya.
    • Bahkan justru terdapat kecenderungan untuk memperkenalkan lembaga-lembaga baru yang asing dan tidak selalu sejalan dengan nilai dan norma masyarakat.
  18. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (6)
    • Bias keenam
    • M asyarakat di lapisan bawah tidak tahu apa yang diperlukannya atau bagaimana memperbaiki nasibnya.
    • Oleh karena itu, mereka harus dituntun dan diberi petunjuk dan tidak perlu dilibatkan dalam perencanaan meskipun yang menyangkut dirinya sendiri.
    • Akibat dari anggapan ini banyak proyek-proyek pembangunan yang ditujukan untuk rakyat, tetapi salah alamat, tidak memecahkan masalah, dan bahkan merugikan rakyat.
    • Bias ini melihat masyarakat sebagai objek dan bukan subjek pembangunan.
  19. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (7)
    • Bias ketujuh
    • O rang miskin adalah miskin karena bodoh dan malas. Dengan demikian, cara menanganinya haruslah bersifat paternalistik seperti memperlakukan orang bodoh dan malas, dan bukan dengan memberi kepercayaan.
    • Dengan anggapan demikian masalah kemiskinan dipandang lebih sebagai usaha sosial ( charity ) dan bukan usaha penguatan ekonomi.
  20. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (8)
    • Bias kedelapan
    • U kuran efisiensi pembangunan yang salah diterapkan, misalnya ICOR, diartikan bahwa investasi harus selalu diarahkan pada yang segera menghasilkan bagi pertumbuhan.
    • Padahal upaya pemberdayaan masyarakat, akan menghasilkan pertumbuhan, bahkan merupakan sumber pertumbuhan yang lebih lestari ( sustainable ), tetapi umumnya dalam kerangka waktu ( time frame ) yang lebih panjang.
    • Anggapan yang demikian beranjak dari konsep pembangunan yang sangat bersifat teknis dan tidak memahami sisi-sisi sosial budaya dari pembangunan dan potensi yang ada pada rakyat sebagai kekuatan pembangunan.
  21. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (9)
    • Bias kesembilan
    • S ektor pertanian dan perdesaan adalah sektor tradisional, kurang produktif, dan memiliki masa investasi yang panjang, karena itu kurang menarik untuk melakukan investasi modal besar-besaran di sektor itu.
    • Oleh karenanya, bermitra dengan petani dan usaha kecil di sektor pertanian dan perdesaan dipandang tidak menguntungkan dan memiliki risiko tinggi.
    • Anggapan ini juga telah mengakibatkan prasangka dan menghambat upaya untuk secara sungguh-sungguh membangun usaha pertanian dan usaha kecil di perdesaan.
  22. Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan (10)
    • Bias kesepuluh
    • Kegiatan investasi makin cenderung terpusat di perkotaan, di sektor industri yang justru banyak disubsidi dan diproteksi, yang akibatnya juga mendorong urbanisasi.
    • Pengalaman Taiwan dan Jepang menunjukkan bahwa investasi di wilayah perdesaan dapat meningkatkan pertumbuhan dan sekaligus pemerataan yang menyebabkan ekonominya menjadi kukuh.
  23. Sistem Perencanaan yang Berhasil
    • Sistem perencanaan yang mendorong berkembangnya mekanisme pasar dan peran serta masyarakat.
    • Dalam sistem ini perencanaan dilakukan dengan menentukan sasaran-sasaran secara garis besar, baik di bidang sosial maupun ekonomi, dan pelaku utamanya adalah masyarakat dan usaha swasta.
  24. Perencanaan yang Ideal
    • Prinsip partisipatif: masyarakat yang akan memperoleh manfaat dari perencanaan harus turut serta dalam prosesnya.
    • Prinsip kesinambungan: perencanaan tidak hanya berhenti pada satu tahap; tetapi harus berlanjut sehingga menjamin adanya kemajuan terus-menerus dalam kesejahteraan, dan jangan sampai terjadi kemunduran.
    • Prinsip holistik: masalah dalam perencanaan dan pelaksanaannya tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi (atau sektor) tetapi harus dilihat dari berbagai aspek, dan dalam keutuhan konsep secara keseluruhan.
    • Mengandung sistem yang dapat berkembang (a learning and adaptive system).
    • Terbuka dan demokratis ( a pluralistic social setting).
  25. Menggabungkan M&E ke dalam Siklus Manajemen (4) M & E (1) Planning (2) Budgeting (3) Implementation
  26. Gambaran Sistem Evaluasi Kinerja Pembangunan (Sekarang dan Akan Datang)
    • Satu laporan dapat diakses oleh seluruh institusi (K/L) dan daerah
    • Evaluasi dapat dilakukan secara komprehensif
    • Sistem evaluasi yang baru diharapkan mewujudkan integrasi dan saling keterkaitan yang bersinergi dan mempengaruhi antara hasil evaluasi yang satu dengan yang lainnya
    • Lebih efisien dan biaya rendah
    • Memperkenalkan evaluasi yang terintegrasi, sistem top-down dan bottom-up
    • Evaluasi yang kontinu untuk proses pembelajaran institusi
    • Evaluasi aktif (melibatkan pihak eksternal)
    • Menciptakan sistem insentif-disinsentif dari hasil evaluasi
    • Adanya komunitas evaluator
    • Adanya berbagai macam peraturan yang mengamanatkan agar sektor (K/L) dan daerah menyusun laporan evaluasi kinerja pembangunan
      • Depdagri
      • LAN
      • Menpan
      • Departemen Keuangan
      • Bappenas
      • Setneg
      • K/L terkait
    • Tidak adanya implikasi/dampak dari pelaksanaan kegiatan evaluasi
    • Sangat Mahal (Biaya dan Waktu)
    • Evaluasi top-down
    • Evaluasi fragmentasi 1 waktu
    • Evaluasi pasif
    • Kurangnya penghargaan terhadap hasil evaluasi
    Akan Datang Sekarang
  27. Dari Input sampai Impact Planning Actuating Results
    • Contoh Indikator:
    • Sumberdaya :
    • Pembiayaan.
    • SDM.
    • Rencana Kerja.
    • Contoh Indikator:
    • Pelaksanaan :
    • Sasaran
    • Prosedur
    • Regulasi
    Contoh Indikator: Terbangunnya jaringan air minum di suatu daerah.
    • Contoh Indikator:
    • Pengurangan jumlah penduduk yang terkena penyakit.
    • Meningkatnya kualitas kesehatan.
    Contoh Indikator: Jumlah rumah tangga yang memperoleh akses air minum/air bersih. Input Proses (Aktivitas) Output Outcomes Impacts
  28. Pemantauan
    • Kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin.
  29. Pengendalian
    • Pengendalian adalah serangkaian kegiatan (tindakan) manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
  30. Evaluasi
    • Rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan ( input ), keluaran ( output ), dan hasil ( outcome ) terhadap rencana dan standar yang telah ditetapkan .
  31. Evaluasi Terkait dengan Kebijakan Publik
    • Peraturan/perundang-undangan, regulasi dan berbagai aturan main yang bertujuan untuk menangani permasalahan
      • Regulatory Impact Assessment
      • Cost-benefit Analysis
      • Multi-criteria Analysis
      • dll
  32. Landasan Hukum
    • Undang Undang No 25/2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
    • PP No 39 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.
    • Aturan lain :
      • Depdagri,
      • Departemen Keuangan
      • Menpan,
      • Setneg
  33. Langkah Strategis
    • Membangun sistem monitoring dan evaluasi di masing masing lembaga
    • Menyempurnakan sistem perencanaan dan penganggaran
      • Perencanaan yang siap evaluasi
      • Line item budgeting vs program budgeting
      • Input, output, outcomes, impact
      • Penganggaran yang logis
  34. Pengendalian Internal Pasal 28 UU No. 25/2004 Tentang SPPN :
    • (1) Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan oleh masing-masing Kementerian/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah;
    • (2) Menteri/ Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/ Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya.
  35. Ruang Lingkup Pengendalian
    • Pimpinan Kementerian/Lembaga/SKPD melakukan pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan
    • Merupakan tugas dan fungsi yang melekat pada masing-masing
    • Pimpinan Kementerian/Lembaga melakukan pengendalian pelaksanaan Renja-KL
    • Gubernur melakukan pengendalian pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan
    • Bupati/Walikota melakukan pengendalian pelaksanaan tugas pembantuan
  36. Mekanisme Pemantauan dan Pelaporan
    • Keterangan: 1 . Gubernur melakukan pemantauan pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya, 2. Bupati/Walikota melakukan pemantauan pelaksanaan tugas pembantuan yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya, 3. Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan dekonsentrasi yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya, 4. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan tugas pembantuan yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya
    Kepala SKPD Provinsi Kepala SKPD Kabupaten/ Kota PPTK Bupati/ Walikota u.p. Bappeda Gubernur u.p. Bappeda
    • Men.PPN
    5 hari setelah triwulan berakhir Presiden RI Form C Form C Menteri/ Ka. Lemb Ka. Unit Kerja K/L Form A Form B 10 hari setelah triwulan berakhir Form C 5 hari setelah triwulan berakhir Form C 5 hari setelah triwulan berakhir 5 hari setelah triwulan berakhir 14 hari setelah triwulan berakhir Form C
    • Men.DN
    Form C 5 hari setelah triwulan berakhir 14 hari setelah triwulan berakhir
    • Men.Keu
    Form C Form C Ka. Unit Org. Form A Form B Ka. Unit Kerja 10 hari setelah triwulan berakhir PPTK Form A Form B Ka. Unit Kerja 5 hari setelah triwulan berakhir Dana Dekonsentrasi Dana Pembantuan
    • Men.PAN
  37. Evaluasi Internal Pasal 29 UU No 25/2004 Tentang SPPN:
    • (1) Pimpinan Kementerian/ Lembaga melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan Kementerian/ Lembaga periode sebelumnya;
    • (2) Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan Satuan Kerja Perangkat Daerah periode sebelumnya;
  38. Proses Evaluasi Pasal 29 UU No 25/2004 Tentang SPPN:
    • (3) Menteri/ Kepala Bappeda menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pimpinan Kementerian/ Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan evaluasi Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
  39. Manfaat Evaluasi Pasal 29 UU No 25/2004 Tentang SPPN:
    • (4) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi bahan bagi penyusunan rencana pembangunan Nasional/ Daerah untuk periode berikutnya.
  40. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Tahunan
    • Masukan Evaluasi : indikator dan sasaran kinerja kegiatan dan/atau program
    Renja-KL Menteri/ Kepala Lembaga Evaluasi Laporan Evaluasi Pelaksanaan Renja-KL Evaluasi 2 Bulan setelah anggaran berakhir RKP Menteri Perencanaan Evaluasi Laporan Evaluasi Pelaksanaan RKP Evaluasi
  41. Rencana 2008
    • Meneruskan Pengelolaan Laporan PP 39
    • Mengintegrasikan dengan laporan sejenis dari Kementerian/Lembaga terkait
      • Departemen Dalam Negeri - EPPD
      • Departemen Keuangan - Data Penyerapan Anggaran
      • Menpan - LAKIP
    • Penyempurnaan Format
    • Memetakan Seluruh Aturan Evaluasi
    • Membangun Komunitas Evaluasi
    • Satu Format untuk seluruh Keperluan
  42. Harapan ke Depan
    • Satu dokumen untuk semua keperluan
    • Laporan siap dievaluasi
    • Terintegrasi dan terkoneksi
    • Efisien dan murah
    • Top down dan bottom up evaluasi
    • Pembelajaran Organisasi .
    • Terbuka dan akutabel
    • Ada Insentive
    • Melibatkan Masyarakat
  43. Terima Kasih
    • Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asia-Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of Darma Persada, Jakarta, Indonesia.
    • He got various training around the globe, included Public Officials Capacity Building Training Program for Government Innovation, Seoul –Korea (2007), Advanced International Training Programme of Information Technology Management, at Karlstad City, Sweden (2005); the Training Seminar on Land Use and Management, Taiwan (2004); Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He published more than five books regarding local autonomous.
    • You can reach Dadang Solihin by email at [email_address] or by his mobile at +62812 932 2202
    Dadang Solihin currently is Director for System and Reporting of Development Performance Evaluation at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas) . He holds MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as Deputy Director for Information of Spatial Planning and Land Use Management at Bappenas. Dadang Solihin’s Profile

+ Dadang SOLIHINDadang SOLIHIN, 2 years ago

custom

8264 views, 3 favs, 0 embeds more stats

Sistem evaluasi yang baru diharapkan mewujudkan int more

More info about this document

© All Rights Reserved

Go to text version

  • Total Views 8264
    • 8264 on SlideShare
    • 0 from embeds
  • Comments 6
  • Favorites 3
  • Downloads 0
Most viewed embeds

more

All embeds

less

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate. If needed, use the feedback form to let us know more details.

Cancel
File a copyright complaint
Having problems? Go to our helpdesk?