Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut

on

  • 39,060 views

Memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga.

Memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga.

Statistics

Views

Total Views
39,060
Views on SlideShare
38,871
Embed Views
189

Actions

Likes
4
Downloads
299
Comments
2

6 Embeds 189

http://www.slideshare.net 128
http://psmktsukabumi.blogspot.com 45
http://profiles.friendster.com 7
http://kulon.undip.ac.id 7
http://www.friendster.com 1
http://64.233.189.132 1

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • @Veny....Tidak Mungkin akan bisa mengurangi kemiskinan dengan menghilangkan pajak masy miskin apalagi mendapatkan subsidi......dan yang akan terjadi jumlah masy miskin akan meningkat secara signifikan......karena banyak yang akan berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi masy miskin.....truely.........mungkin bisa dicoba pemberdayaan karakter .....
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • kalo adanya kebijakan pemerintah untuk menghilangkan pajak bagi orang miskin,, dan sebagai gantinya mereka di berikan subsidi dan sarana pelatihan agar mereka lebih di berdayakan,,,apakah akan mengurangi kemiskinan secara keseluruhan???
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut Presentation Transcript

  • Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut F E- Universitas Darma Persada Jakarta, 18 April 2005 Drs. H. Dadang Solihin, MA
  • D istribusi P endapatan
    • P ersentase pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing kelompok masyarakat yang tinggal di 15 negara berkembang , memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga.
    • P embagian pendapatan untuk masing-masing kelompok masyarakat di 15 negara tersebut masih relatif sangat timpang.
    • Porsi pendapatan yang diterima oleh 20% penduduk yang paling miskin hanya berkisar 5,2 % dari total pendapatan, sedangkan 10% serta 20% kelompok penduduk yang paling kaya masing-masing menerima 36,0% dan 51,8% dari pendapatan nasional.
    • Bandingkanlah dengan negara-negara industri maju. Jepang, 20% penduduknya yang paling miskin menerima 8,7% dari keseluruhan pendapatan nasional, sedangkan 10% dan 20% penduduk terkaya hanya menerima 22,4% dan 37,5% dari pendapatan nasional.
  • Lanjutan…
    • Apakah peningkatan pendapatan per kapita cenderung memperparah, atau sebaliknya memperbaiki ketimpangan tersebut?
    • Ataukah memang tidak ada suatu korelasi yang jelas dan baku antara kedua variabel itu?
    • D istribusi pendapatan diukur dalam tiga cara yang berbeda:
      • sebagai persentase atau porsi pendapatan 40% penduduk termiskin terhadap pendapatan nasional
      • sebagai rasio porsi pendapatan 20% penduduk terkaya dibagi dengan porsi pendapatan 20% penduduk termiskin; serta
      • sebagai koefisien Gini. Urut-urutan negara dalam tabel tersebut diatur menurut besar-kecilnya tingkat pendapatan per kapita mereka.
    • D i berbagai negara berkembang tidak terdapat hubungan yang jelas dan baku antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan.
    • Sebagai contoh, pendapatan per kapita Sri Lanka hanya 1/6 pendapatan per kapita Brasil, akan tetapi ketimpangan pendapatan di Brasil (berdasarkan ketiga cara tersebut di atas) ternyata lebih buruk atau lebih parah daripada yang ada di Sri Lanka.
    • Angka koefisien G ini Sri Lanka adalah 0,30 sedangkan Brasil sebesar 0,60 yang menunjukkan ketimpangan pendapatan yang sangat besar jika diukur dari koefisien G ini normal.
    • Paraguay dengan pendapatan 70 kali pendapatan Bangladesh memiliki ketidakmerataan yang lebih besar.
    • Sebaliknya, Malaysia dengan pendapatan per kapita tahun 1996 sebesar 65% lebih tinggi dari pendapatan per kapita Kosta Rika, memiliki ketimpangan pendapatan yang tidak begitu besar. Akan tetapi, tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di ketiga negara tersebut kurang lebih sama.
    Lanjutan…
  • Ketimpangan Pendapatan di Dunia Ketiga (Prof. Irma Adelman)
    • Antara 1960 dan 1980 tingkat ketimpangan pendapatan melonjak, dan hal ini ternyata terjadi di semua negara-negara Dunia Ketiga nonkomunis.
    • Koefisien Gini meningkat dari 0,544 menjadi 0,602 (kecenderungan ini adalah kecenderungan keseluruhan, artinya penjumlahan seluruh koefisien Gini dari setiap negara-negara berkembang tersebut).
    • Meskipun demikian, peningkatan pemerataan pendapatan terjadi di sejumlah negara berkembang berpenghasilan menengah yang bukan merupakan pengekspor minyak.
    • Sedangkan distribusi pendapatan di negara berkembang berpenghasilan rendah dan kelompok pengekspor minyak semakin timpang.
    • Memburuknya (peningkatan angka) koefisien Gini pada dua kelompok negara ini mencerminkan telah memburuknya distribusi pendapatan antara satu negara dibandingkan dengan negara-negara lain dan, tentu saja, memburuknya distribusi pendapatan di masing-masing negara berkembang itu sendiri.
    • Adelman menyimpulkan bahwa "pengurangan atau pemberantasan atas salah satu sumber ketimpangan itu (ketimpangan anta rn egara atau ketimpangan dalam masing-masing negara) sangatlah penting demi teratasinya kemiskinan".
    • Namun, dalam kenyataannya tingkat ketimpangan pendapatan tersebut justru terus memburuk di sebagian besar negara berkembang selama dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, terutama sekali di negara-negara di kawasan Afrika sub-Sahara dan Amerika Latin.
    Lanjutan…
  • Kemiskinan Absolut
    • Kemiskinan absolut mengacu kepada sejumlah penduduk yang hidup di bawah "garis kemiskinan internasional" atau yang kurang dari tingkat pendapatan minimum tertentu.
    • Garis tersebut tidak mengenal tapal batas antarnegara dan tidak ada hubungannya dengan tingkat pendapatan per kapita di suatu negara, dan perbedaan tingkat harga per hari dalam PPP dolar hingga kurang lebih US$1 mengakibatkan jumlah kemiskinan pada kehidupan masing-masing individu.
    • Kemiskinan absolut dapat saja terjadi di New York maupun Kalkuta, Kairo, Lagos atau Bogota, walaupun kadarnya jauh berbeda, baik dalam jumlah total maupun dalam persentase terhadap jumlah penduduk.
  • Lanjutan…
    • Bank Dunia menetapkan dua garis kemiskinan global untuk tahun 1985. Setiap rumah tangga yang pendapatan tahunannya (dihitung berdasarkan daya beli US$1 pada tahun 1985) $370 digolongkan "miskin" (poor).
    • P ada tahun 1987, terdapat sekitar 1,2 miliar manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini merupakan 30,1 % dari total populasi penduduk negara-negara Dunia Ketiga.
    • Meskipun tingkat kemiskinan keseluruhan ini (yang disebut sebagai headcount index) mengalami sedikit penurunan di negara-negara berkembang dan negara-negara yang sedang mengalami transisi antara tahun 1987 dan tahun 1993 (dari 30,1 % menjadi 29,4 %), jumlah tingkat kemiskinan absolut meningkat sebesar 80 juta orang, yaitu dari 1,23 miliar menjadi 1,31 miliar.
    • Di negara-negara berkembang saja, jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 74 juta. Peningkatan kemiskinan, baik dalam angka persentase maupun absolut, terjadi di negara-negara Amerika Latin dan Afrika sub-Sahara. Penurunan jumlah kemiskinan hanya terjadi di Cina, Asia Timur, dan Pasifik. Pada ketiga wilayah tersebut, sekitar 16 juta orang dikelompokkan miskin secara absolut.
    Lanjutan…
    • Hampir 80 % penduduk miskin di dunia pada tahun 1993 berasal dari 12 negara.
    • Meskipun indeks poverty headcount (yaitu, tingkat kemiskinan) bisa saja lebih tinggi di beberapa negara sedang berkembang lainnya, 12 negara dengan jumlah penduduk besar inilah yang memberikan kontribusi paling besar terhadap total tingkat kemiskinan secara global.
    • D engan peningkatan populasi penduduk negara-negara berkembang yang begitu cepat, jika tingkat kemiskinan tahun 1993 tetap tidak berubah di negara-negara tersebut, maka jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 1997 akan mendekati 1 miliar.
    • S eperti diasumsikan oleh banyak ekonom, meskipun tingkat kemiskinan menurun di satu atau lebih dari negara-negara yang paling banyak penduduknya ini (misalnya, Cina), jumlah penduduk miskin tetap dan kemungkinan akan terus meningkat.
    Lanjutan…
  • Indikator Jurang Kemiskinan (Poverty Gap)
    • Dalam banyak hal, metode dan pelaksanaan perhitungan jumlah penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan itu sendiri memang masih mengandung banyak keterbatasan.
    • Sebagai contoh, seandainya saja garis kemiskinan itu dinaikkan pada angka US$360 maka hasilnya akan jauh berbeda mengingat banyak penduduk miskin yang hanya berpenghasilan US$350, atau bahkan US$300 per tahun.
    • Kedua kelompok pendapatan ini akan tercatat dalam bobot yang sama atau dalam proporsi penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
    • B eberapa ekonom mencoba mengkalkulasikan indikator jurang kemiskinan (poverty gap) yang mengukur total pendapatan yang diperlukan untuk mengangkat mereka yang masih di bawah garis kemiskinan ke atas garis itu.
    • Meskipun negara A dan B itu sama-sama memiliki 50 % penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan, namun jumlahnya yang terdapat di negara A ternyata lebih besar daripada yang ada di negara B.
    • Dengan demikian, negara A harus berusaha lebih keras guna memerangi kemiskinan penduduknya.
    • M eskipun tingkat kemiskinan di Asia Selatan pada tahun 1993 lebih tinggi (43,1 %) dibandingkan dengan Afrika sub­Sahara (39,1 %), namun kesenjangan kemiskinan (poverty gap) di Afrika lebih tinggi (yaitu, 15,3 %) dibandingkan dengan kesenjangan kemiskinan di Asia Selatan (yaitu, 12,6 %).
    Lanjutan…
    • P endapatan per kapita yang tinggi sama sekali bukan merupakan jaminan tidak adanya kemiskinan absolut dalam jumlah yang besar.
    • Mengingat besar atau kecilnya porsi atau bagian pendapatan yang diterima oleh kelompok-kelompok penduduk yang paling miskin tidak sama untuk masing-masing negara, maka mungkin saja suatu negara dengan GNP atau pendapatan per kapita yang tinggi justru mempunyai persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan internasional yang lebih besar dibandingkan dengan suatu negara yang pendapatan per kapitanya lebih rendah.
    • Sebagai contoh, Afrika Selatan memiliki pendapatan per kapita sebesar US$3.520 pada tahun 1996, tingkat kemiskinan 24 % dan kesenjangan kemiskinan 6,6 %.
    Lanjutan…
    • Sementara Sri Lanka hanya memiliki pendapatan per kapita sebesar US$740 pada tahun 1996, memiliki tingkat kemiskinan 4 % dan kesenjangan kemiskinan 0,7 %.
    • M asalah-masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan tersebut sesungguhnya tidak semata-mata disebabkan oleh proses-proses pertumbuhan ekonomi yang alamiah.
    • Ada faktor-faktor lain yang bermain serta turut mempengaruhinya, yakni seperti jenis pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di negara yang bersangkutan, berbagai pengaturan politik dan kelembagaan yang dalam prakteknya ikut menentukan pola-pola distribusi pendapatan nasional, yang harus sengaja diciptakan sedemikian rupa dalam rangka lebih menyebarluaskan kue atau buah hasil pertumbuhan ekonomi kepada masyarakat luas.
    Lanjutan…
  • Indeks Kemiskinan Manusia
    • Tidak puas dengan ukuran pendapatan dalam dolar per hari yang digunakan oleh Bank Dunia, UNDP berusaha mengganti ukuran kemiskinan "pendapatan" Bank Dunia dengan ukuran kemiskinan "manusia".
    • Lembaga ini selanjutnya membentuk apa yang dinamakan Indeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index-HPI) yang dalam berbagai cara analog dengan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index-HD I yang telah dibuatnya.
    • Dengan keyakinan bahwa kemiskinan manusia harus diukur dalam satuan hilangnya tiga hal utama (three key deprivations), yaitu kehidupan (lebih dari 30 % penduduk negara-negara kurang berkembang tidak mungkin hidup lebih dari 40 tahun), pendidikan dasar (seperti diukur oleh persentase penduduk dewasa yang buta huruf, dengan penekanan pada hilangnya hak pendidikan perempuan), serta keseluruhan ketetapan ekonomi (diukur oleh persentase penduduk yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan air bersih ditambah persentase anak-anak di bawah usia 5 tahun yang kekurangan berat badan).
  • Lanjutan…
    • Dengan menggunakan sebuah rumus yang agak kompleks untuk menghitung HPI 78 negara miskin, laporan mereka tahun 1997 melakukan pemeringkatan negara-negara tersebut dari negara dengan HPI terendah sampai HPI tertinggi.
    • Mereka menemukan bahwa peringkat tersebut berbeda secara substansial dengan peringkat kemiskinan pendapatan Bank Dunia maupun peringkat HDI UNDP sendiri.
    • Oleh karena nilai HPI menunjukkan proporsi penduduk yang secara luas dipengaruhi oleh hilangnya tiga hal utama (daya hidup, ilmu pengetahuan, dan ketetapan ekonomi), angka HPI yang rendah berarti menunjukkan hal yang bagus (yakni, persentase penduduk yang mengalami kehilangan hak yang lebih kecil).
    • Sementara HPI yang lebih tinggi menunjukkan kehilangan yang lebih besar. Sepuluh negara dengan peringkat tertinggi (artinya, memiliki HPI rendah) dan sepuluh negara peringkat paling rendah (artinya, memiliki HPI yang tinggi)
    • Terima Kasih
  • Dadang holds a MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as Deputy Director for Information of Spatial Planning and Land Use Management at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas).
    • Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asia-Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of Darma Persada, Jakarta, Indonesia.
    • He got various training around the globe, included Advanced International Training Programme of Information Technology Management, at Karlstad City, Sweden (2005); the Training Seminar on Land Use and Management, Taiwan (2004); Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He published more than five books regarding local autonomous.
    • You can reach Dadang Solihin by email at [email_address] or by his mobile at +62812 932 2202
    Dadang Solihin’s Profile