1
SKRIPSI
ANALISIS PENGGUNAAN UNSUR TINDAK TUTUR
PERLOKUSI DALAM NOVEL “LASKAR PELANGI”
(Studi pada Materi Pokok Kelarutan...
2
ABSTRACT
Armil Haryadi, 2009. Implementation of Cooperative Learning Type NHT for
Increasing the Study Results of the St...
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HAL...
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya merupakan aspek pengembangan dan
peningkatan sumber daya ma...
5
Upaya yang dapat ditempuh untuk mengejawantahkan maksud KTSP adalah
dengan mengoptimalkan pembelajaran di depan kelas. S...
6
metode mengajar yang biasanya dipakai selama ini adalah ceramah bermakna
yaitu guru memberikan materi pelajaran serta te...
7
pokok yang dipilih dalam penelitian ini adalah kelarutan dan hasil kali kelarutan
yang sebagian besar terdiri dari perhi...
8
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar
Studi pada Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Ke...
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Model pembelajaran kooperatif
a. Pengertian pembelajaran kooperatif
Coopera...
10
4) Kompetisi tim, yaitu : sarana untuk memotivasi siswa untuk bekerja sama
dengan anggota timnya.
5) Spesialisasi tugas...
11
d. Keterampilan kooperatif
Lundgren mengemukakan tiga tingkatan dalam keterampilan-keterampilan
kooperatif (Wartono, 20...
12
Tabel 1 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa....
13
2) Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membandingkannya den...
14
kelompok sengaja diberi nomor untuk memudahkan kinerja kelompok, mengubah
posisi kelompok, menyusun materi, mempresenta...
15
siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang
dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari la...
16
percaya diri sendiri, 5) kesadaran akan adanya kelompok menimbulkan rasa
kompetitif yang sehat sehingga membangkitkan k...
17
lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan
hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan....
18
perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru
untuk menciptakan kondisi yang memungkin...
19
c. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi...
20
Dewasa ini matra kognitiflah yang dominan dalam proses penilaian siswa
yang dilakukan oleh guru di sekolah. Dalam prose...
21
f. Evaluasi (C6), mempunyai kata kerja diantaranya: menilai, membandingkan,
menyimpulkan, mempertentangkan, memutuskan,...
22
h. Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp.
Dalam mempelajari materi pokok kelarutan dan hasil kali ke...
23
Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif
tipe NHT. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT ...
24
pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3
Makassar.
Pembelajaran dengan model kooperatif t...
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Variabel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroo...
26
Gambar 3.1: Desain penelitian tindakan kelas menurut Kemmis & Mc
Taggart (Wartono, 2004 :7)
D. Prosedur Penelitian
1. S...
27
2) Melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran kimia tentang kurikulum kimia
yang berkaitan dengan materi pokok yang a...
28
setiap siswa mengetahui jawaban dari semua soal yang diberikan, bukan
hanya soal yang sesuai dengan nomor urutnya dalam...
29
d. Tahap refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan
dianalisis dengan menggunakan ...
30
F. Teknik Analisis Data
Data tentang aktivitas siswa dianalisis secara kualitatif, sedangkan data hasil
belajar dianali...
31
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Analisis tes hasil belajar siswa dan analisis observasi pada...
32
69, maka diperoleh distribusi frekuensi hasil belajar yang ditunjukkan pada
Tabel 4.
Tabel 4 Distribusi ketuntasan bela...
33
Tabel 5 Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I
No Aspek yang Diamati
Siklus I Rata-
rata1 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Si...
34
Partisipasi siswa dalam diskusi kelompok pada pertemuan I kurang optimal.
Hal ini terjadi karena siswa yang berkemampua...
35
materi yang telah dibahas pada pertemuan siklus I sebelumnya. Dalam
pelaksanaannya berlangsung tertib dan lancar, walau...
36
Tabel 7 Distribusi ketuntasan belajar siswa kelas XI IPA3 pada siklus II
berdasarkan KKM SMA Negeri 3 Makassar
No
Kateg...
37
c. Refleksi siklus II
Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran
tindakan yang akan dilaks...
38
Pelaksanaan tindakan sebagai perbaikan dari pelaksanaan siklus I
memberikan dampak yang positif terhadap aktivitas sisw...
39
Selain itu, meningkatnya frekuensi siswa yang ingin mempresentasekan jawaban
LKS kelompoknya yang telah siswa kerjakan....
40
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis kualitatif mengenai aktivitas siswa pada siklus I
dan siklus II, terlihat mode...
41
mendapatkan respon dari siswa. Setiap kelompok berusaha untuk menunjukkan
bahwa kelompok merekalah yang terbaik. Diskus...
42
kreativitas dan melancarkan hubungan kerja sehingga hasil belajar yang
diharapkan dapat tercapai secara maksimal.
Berda...
43
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah langkah-langkah
yang ...
44
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Djamarah, S.B. 1996. Strategi Belajar Me...
45
Wartono. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Sains. Bagian Proyek
Pengembangan Sistem dan Pengendalian Program DIRJEN
D...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Analisis Penggunaan Unsur Tindak Tutur Perlokusi dalam Novel Laskar Pelangi

5,540

Published on

5 BESAR SKRIPSI SASTRA TERBAIK KEMENDIKNAS 2011

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,540
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
191
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analisis Penggunaan Unsur Tindak Tutur Perlokusi dalam Novel Laskar Pelangi

  1. 1. 1 SKRIPSI ANALISIS PENGGUNAAN UNSUR TINDAK TUTUR PERLOKUSI DALAM NOVEL “LASKAR PELANGI” (Studi pada Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan) Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sastra Indonesia ARMIL HARYADI 031304070 FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2011
  2. 2. 2 ABSTRACT Armil Haryadi, 2009. Implementation of Cooperative Learning Type NHT for Increasing the Study Results of the Student Class XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar (Study on Main Subject Solubility and Constante of Solubility ). Thesis. Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Sciences. State University of Makassar (supervised by Sudding and Eda Lolo Allo). This Classroom Action Research aim eat to increase the study results of student class XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar, 2th semester academic year 2008/2009 by cooperative learning with type NHT. The research hypothesis is if the cooperative learning model steps with type NHT was applied, the study results of student class XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar of main subject solubility and constante of solubility can be increasing. The subject research is student of class XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar with 36 students. The research was done in two cycles that consist of four components are: planning, action, observation, and reflecting. The first and the second cycle was done about 3 meetings respectively. By implementation of cooperative learning with type NHT steps including : (1) Presentation of the subject matter in breafly and asking to the students, (2) Grouping the students in small group consist of 6 students and each student was given the number 1,2,3,4,5 and 6, (3) Giving LKS to each group, (4) Giving a chance to student for working the LKS, (5) The students presentation the answer of the LKS and was discussed in classroom, (6) Giving a reward to the exelent group therefore increasing the study results from 25 % before implementation of cooperative learning type NHT to 61,11 % after implementation of cooverative learning type NHT cycle I and increasing cycle II to 86,11 %. Keyword : Research of Class Action, Cooperative Learning of Type NHT, study results.
  3. 3. 3 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................... iii PUBLIKASI ...................................................................................................... iv ABSTRAK …………………………………………………………………… vi ABSTRACT....................................................................................................... vii KATA PENGANTAR....................................................................................... viii DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1 A. Latar Belakang ............................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah......................................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA …................................................................ 6 A. Kajian Pustaka ........................................................................….................. 6 B. Kerangka Pikir .............................................................................................. 19 C. Hipotesis Tindakan ....................................................................................... 21 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 22 A. Jenis dan Variabel Penelitian ...................................................................... 22 B. Subjek Penelitian .......................................................................................... 22 C. Desain Penelitian .......................................................................................... 22 D. Prosedur Penelitian ..................................................................................... 23 E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 26 F. Teknik Analisis Data ................................................................................... 27 G. Indikator Keberhasilan ................................................................................ 27 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 28 A. Hasil Penelitian ……………………………………………………........... 28 B. Pembahasan ................................................................................................. 37 BAB V SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 40 A. Simpulan ...................................................................................................... 40 B. Saran ............................................................................................................ 40 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 41
  4. 4. 4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan aspek pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia. Melalui pendidikan, akan dihasilkan manusia-manusia berkualitas seperti yang dikehendaki dalam tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Sadar akan hal tersebut, maka sektor pendidikan harus dijadikan sebagai prioritas utama baik oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas maka harus ditopang oleh anggaran pendidikan yang memadai, kurikulum pendidikan yang berkualitas, sarana dan prasarana yang lengkap serta tenaga pengajar yang juga berkualitas. Kualitas tenaga pengajar yang dimaksud diantaranya adalah kemampuan menciptakan maupun menerapkan metode-metode pembelajaran yang mampu mendorong peserta didik lebih menguasai mata pelajaran, khususnya bidang sains. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu hasil pembelajaran di sekolah misalnya penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penerapan KTSP mengacu pada standar kompetensi siswa yang merupakan langkah konkret dalam rangka memenuhi tuntutan pembaruan pendidikan nasional. Konsekuensinya, semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pendidikan harus mampu menyiasati dan mengaplikasikan dalam tugasnya masing-masing (Masnur M, 2007:4).
  5. 5. 5 Upaya yang dapat ditempuh untuk mengejawantahkan maksud KTSP adalah dengan mengoptimalkan pembelajaran di depan kelas. Salah satunya adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif. Secara sederhana pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berusaha untuk mengaktifkan siswa dengan membaginya ke dalam kelompok-kelompok diskusi. Menurut Wartono (2004:12) bahwa dalam pembelajaran kooperatif peserta didik tidak hanya diorientasikan untuk mempelajari materi semata, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Berdasarkan hasil observasi penulis pada saat melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 3 Makassar, hanya sebagian kecil siswa yang melibatkan diri secara aktif dalam proses pembelajaran, yaitu hanya siswa yang memiliki prestasi akademik yang tinggi saja, sedangkan siswa lain yang memiliki prestasi akademik rendah hanya mengikuti pembelajaran dengan pasif. Disamping itu, siswa yang kemampuannya kurang, jarang bertanya atau berdiskusi dengan siswa yang kemampuannya lebih tinggi. Berdasarkan keterangan dari guru kimianya bahwa untuk mengantisipasi kurangnya perhatian siswa pada saat pelajaran berlangsung maka dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya harus melibatkan siswa pada saat pelajaran berlangsung dengan memberikan contoh soal untuk dikerjakan serta memberikan tugas dan melakukan tanya jawab dengan siswa pada saat pelajaran berlangsung, oleh karena itu guru kimia pada SMA Negeri 3 Makassar khususnya pada kelas XI IPA3 menggunakan
  6. 6. 6 metode mengajar yang biasanya dipakai selama ini adalah ceramah bermakna yaitu guru memberikan materi pelajaran serta tetap melibatkan siswa melalui tanya jawab dan pemberian tugas mengenai materi pelajaran. Model pembelajaran yang dapat membuat siswa terlibat dalam pelajaran serta memberikan suasana yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan selama pelajaran berlangsung, maka dapat diterapkan suatu model pembelajaran yaitu pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang dimulai dengan mengorganisasikan siswa ke dalam beberapa kelompok dan setiap siswa diberi nomor. Selanjutnya, siswa dengan nomor tertentu harus menguasai jawaban soal yang sama dengan nomornya. Selain itu, siswa juga harus memahami jawaban soal nomor lain melalui diskusi kelompok. Dari gambaran tersebut, terlihat beberapa kelebihan pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu siswa mudah memahami materi pelajaran, suasana proses belajar mengajar bebas tidak ada rasa tertekan, siswa menjadi bertanggung jawab secara sosial, serta menumbuhkan rasa kerjasama dan rasa persahabatan antar teman. Beberapa penelitian yang mendasari penelitian pembelajaran kooperatif tipe NHT antara lain Nasriati (2008:32-33) pada materi pokok Ikatan Kimia menunjukkan bahwa persentase hasil belajar siswa yang tuntas adalah 63,41% dan Suryanti (2007:42) pada materi pokok Kimia Karbon menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengalami peningkatan dengan skor rata-rata dari 6,69 menjadi 7,79. Atas dasar inilah penulis mencoba melakukan sebuah penelitian dengan objek dan materi pokok yang berbeda yakni materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. Materi
  7. 7. 7 pokok yang dipilih dalam penelitian ini adalah kelarutan dan hasil kali kelarutan yang sebagian besar terdiri dari perhitungan dan menuntut untuk banyak berlatih menyelesaikan soal-soal secara bersama sehingga perlu adanya suatu sistem pembelajaran yang berusaha mengaktifkan seluruh siswa. Siswa saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan soal yang diberikan serta berbagi informasi tentang materi yang sedang dibahas. SMA Negeri 3 Makassar dengan standar kompetensi kelulusan 69 telah menerapkan KTSP yang dimulai pada siswa kelas X Tahun Ajaran 2007/2008, dengan harapan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang tertera dalam UU RI No. 20 Tahun 2003. Oleh karena itu, para pendidik di sekolah ini dituntut untuk lebih menguasai spesialisasi ilmunya serta inovasi-inovasi baik dalam model pembelajaran maupun metodenya dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum tersebut. Ketuntasan kelas pada SMA Negeri 3 Makassar adalah 85%, namun pada kenyataannya ketuntasan kelas tidak mencapai standar yang ditentukan pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar Tahun Ajaran 2007/2008 hanya 25% yang mencapai standar kompetensi dan selebihnya belum berhasil. Sehingga untuk mencapai hal tersebut biasanya dilakukan remedial. Bertolak dari keadaan tersebut perlu dicari alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemahaman konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Untuk
  8. 8. 8 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar Studi pada Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan ”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan ? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa Diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar kimia dan keaktifan belajar siswa dalam proses belajar mengajar. 2. Bagi guru Diharapkan dapat menjadikan sebagai bahan masukan tentang suatu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengajarkan mata pelajaran kimia sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
  9. 9. 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Model pembelajaran kooperatif a. Pengertian pembelajaran kooperatif Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Kauchak dan Eggen belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan untuk membantu siswa satu dengan siswa yang lain dalam mempelajari sesuatu (Lie, 1999:129-130). Lebih lanjut, (Wina S, 2006:240) mengungkapkan bahwa : Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda/heterogen. b. Karakteristik pembelajaran kooperatif (Slavin, 2008:26-28) adalah sebagai berikut : 1) Tujuan kelompok, yaitu : kelompok merupakan tujuan, sehingga kelompok harus mampu membuat setiap siswa belajar. 2) Tanggung jawab individual, yaitu : menjadikan setiap anggota kelompoknya menjadi lebih kuat pribadinya. 3) Kesempatan sukses yang sama, yaitu : semua siswa mendapat kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam timnya.
  10. 10. 10 4) Kompetisi tim, yaitu : sarana untuk memotivasi siswa untuk bekerja sama dengan anggota timnya. 5) Spesialisasi tugas, yaitu : tiap siswa diberikan tanggung jawab khusus untuk sebagian tugas kelompok. 6) Adaptasi terhadap kebutuhan kelompok, yaitu : kebanyakan pembelajaran kooperatif menggunakan pengajaran yang mempercepat langkah kelompok dan mengadaptasi pengajaran terhadap kebutuhan individual. c. Prinsip pembelajaran kooperatif (Wina S, 2006:244-245) adalah sebagai berikut : 1) Prinsip ketergantungan positif, yaitu : keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota, sehingga semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan. 2) Tanggung jawab perseorangan, yaitu : keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. 3) Interaksi tatap muka, yaitu : memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka, saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. 4) Partisipasi dan komunikasi, yaitu : melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak.
  11. 11. 11 d. Keterampilan kooperatif Lundgren mengemukakan tiga tingkatan dalam keterampilan-keterampilan kooperatif (Wartono, 2004:13) adalah sebagai berikut : 1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, meliputi : menggunakan kesepakatan, menghargai kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam kelompok, berada dalam tugas, mendorong partisipasi, mengundang orang lain untuk berbicara, menyelesaikan tugas pada waktunya, dan menghormati perbedaan individu. 2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah, meliputi : menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir, menerima tanggung jawab, dan mengurangi ketegangan. 3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir, meliputi : mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan dan berkompromi. e. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Ibrahim menjelaskan enam langkah utama atau tahapan dalam pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007:48-49) seperti pada Tabel 1.
  12. 12. 12 Tabel 1 Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Fase Tingkah Laku Guru Fase-1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Fase-2 Menyajikan informasi. Fase-3 Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar. Fase-4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar. Fase-5 Evaluasi. Fase-6 Memberikan penghargaan. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. f. Keunggulan pembelajaran kooperatif Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran (Wina S, 2006:247-248) adalah sebagai berikut : 1) Siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa yang lain.
  13. 13. 13 2) Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain. 3) Membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan. 4) Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar. 5) Merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilalan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah. 6) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. 7) Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata. 8) Meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir, hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang. 2. Pembelajaran kooperatif tipe NHT NHT merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Model pembelajaran ini lebih mengedepankan aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akan dipresentasikan di depan kelas. Model pembelajaran ini selalu diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Masing-masing siswa dalam
  14. 14. 14 kelompok sengaja diberi nomor untuk memudahkan kinerja kelompok, mengubah posisi kelompok, menyusun materi, mempresentasikan, dan mendapat tanggapan dari kelompok lain. Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Wartono, 2004:18) adalah sebagai berikut: a. Penomoran, yaitu : membagi siswa dalam tim yang beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5. b. Mengajukan pertanyaan, yaitu : pertanyaan dapat bervariasi dan pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau berbentuk arahan. c. Berpikir bersama, yaitu : siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu. d. Menjawab, yaitu : memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Langkah-langkah pembelajaran tersebut dapat dikembangkan menjadi enam langkah sebagai berikut : a. Persiapan, yaitu : guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. b. Pembentukan kelompok, yaitu : disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap
  15. 15. 15 siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. c. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan, yaitu : agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. d. Diskusi masalah, yaitu : guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. e. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban, yaitu : guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. f. Memberi kesimpulan, yaitu : guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan (Erman S, 2008). Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT. Kelebihannya terdiri atas : 1) lebih melibatkan siswa secara langsung aktif dalam proses belajar mengajar, 2) semua siswa menjadi siap, 3) siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai, 4) mengembangkan sikap demokratif, tanggung jawab, menghargai pendapat orang lain dan memupuk rasa
  16. 16. 16 percaya diri sendiri, 5) kesadaran akan adanya kelompok menimbulkan rasa kompetitif yang sehat sehingga membangkitkan kemauan belajar dengan sungguh-sungguh. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe NHT juga mempunyai kekurangan yang terdiri atas: 1) sulit untuk membuat kelompok yang heterogen, mulai dari tingkat intelegensi, bakat dan minat, atau daerah tempat tinggal. Walaupun sudah terbentuk kadang-kadang ada yang merasa tidak cocok dengan anggota kelompoknya, 2) kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru, 3) tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. 3. Hasil belajar Belajar adalah berubahnya kemampuan seseorang untuk melihat, berfikir, merasakan, mengerjakan sesuatu, melalui berbagai pengalaman-pengalaman yang sebagiannya bersifat perseptual, sebagiannya bersifat intelektual, emosional maupun motorik. Dengan demikian, belajar akan berarti sebagai suatu perubahan dalam cara melihat, merasakan, berfikir, dan mengerjakan sesuatu dengan menggunakan dan berdasarkan konsep, persepsi, sikap, dan keterampilan yang telah dipelajari dan dimiliki sebelumnya (Tadjab, 1994:46-47). Selanjutnya, Oemar H (2005:36-37) menguraikan pengertian belajar menjadi dua, yaitu : a. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi
  17. 17. 17 lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. b. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks (Dimyati, 1999:10). Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Tumbuhnya kapabilitas itu disebabkan oleh stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi menjadi kapabilitas baru. Lebih lanjut, Djamarah S.B (1996:11) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkah laku sebelum kegiatan belajar mengajar di kelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan
  18. 18. 18 perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai strategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal. Setiap kegiatan yang berlangsung pada akhirnya kita ingin mengetahui hasilnya, demikian pula dengan pembelajaran. Untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran, harus dilakukan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah suatu usaha untuk mengetahui sesuatu seperti apa adanya, sedangkan penilaian adalah usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi. Dengan demikian pengukuran hasil belajar adalah suatu usaha untuk mengetahui kondisi status kompetensi dengan menggunakan alat ukur sesuai dengan apa yang diukur, sedangkan penilaian adalah usaha untuk membandingkan hasil pengukuran dengaan patokan yang ditetapkan. Menurut Gagne terdapat lima hasil belajar yang merupakan kapabilitas siswa (Dimyati, 1999:11-12) : a. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. b. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup sertya mempresentasikan konsep dan lambang.
  19. 19. 19 c. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. d. Keterampilan motorik adalah kemampuan untuk melakukan serangkaian gerak jasmani dalam usaha dan koordinaasi, sehingga terwujud otomatisme gerakan jasmani. e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. Selanjutnya, Syah mengemukakan bahwa hasil belajar dapat dilihat dari tiga aspek adalah sebagai berikut (Patta B, 2007:15) : a. Aspek kuantitatif, yaitu: menekankan pada pengisian dan pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta-fakta yang berarti. b. Aspek institusional atau kelembagaan, yaitu : menekankan pada ukuran seberapa baik perolehan belajar siswa yang dinyatakan dalam angka-angka. c. Aspek kualitatif, yaitu : menekankan pada seberapa baik pemahaman dan penafsiran siswa terhadap lingkungan disekitarnya sehingga dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Bloom secara garis besar membagi hasil belajar menjadi tiga matra (Oemar H, 2005:80-81) : a. Matra kognitif yang berkaitan dengan kemampuan intelektual siswa. b. Matra Afektif yang berhubungan dengan sikap dan nilai. c. Matra Psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan, keterampilan, bertindak, dan berprilaku.
  20. 20. 20 Dewasa ini matra kognitiflah yang dominan dalam proses penilaian siswa yang dilakukan oleh guru di sekolah. Dalam proses penilaian pada matra kognitif diukur dengan memberikan tes hasil belajar. Hasil pengukuran tes hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan yang dicapai oleh siswa dalam proses pembelajaran pada matra kognitif (penguasaan intelektual) yang meliputi: a. Pengetahuan atau ingatan (C1), mempunyai kata kerja diantaranya: mendefenisikan, mendeskripsikan, mengidentifikasikan, mendaftarkan, menjodohkan, menyebutkan, menyatakan, dan mereproduksi. b. Pemahaman (C2), mempunyai kata kerja diantaranya: mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberi contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. c. Penerapan atau aplikasi (C3), mempunyai kata kerja diantaranya: mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, menemukan, memanipulasikan, memodifikasi, mengoperasikan, meramalkan, menyiapkan, menghasilkan, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan, dan menggunakan. d. Analisis (C4), mempunyai kata kerja diantaranya: merinci, menyusun diagram, membedakan, mengidentifikasikan, mengilustrasikan, menyimpulkan, menunjukkan, menghubungkan, memilih, memisahkan, dan membagi. e. Sintesis (C5), mempunyai kata kerja diantaranya: mengkategorikan, mengkombinasikan, mengarang, menciptakan, membuat desain, menjelaskan, dan memodifikasi.
  21. 21. 21 f. Evaluasi (C6), mempunyai kata kerja diantaranya: menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, memutuskan, dan menafsirkan. Dari pengertian di atas dapat dituliskan bahwa hasil belajar sebagai muara kegiatan belajar, merupakan cerminan dari tingkat penguasaan dan pengetahuan serta keterampilan peserta didik yang terwujud berupa angka dan nilai yang diperoleh dari matra kognitif. 4. Tinjauan materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan Adapun materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan diajarkan di kelas XI pada semester genap dengan alokasi waktu sebanyak 12 jam pelajaran. Standar kompetensi dari materi pokok ini yaitu memahami sifat-sifat larutan, asam-basa, metode pengukuran dan terapannya. Sedangkan kompetensi dasar dari materi pokok ini yaitu memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan. Indikator yang terdapat dalam materi pokok ini yaitu : a. Menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam yang sukar larut. b. Menghubungkan tetapan hasil kali kelarutan dengan tingkat kelarutan. c. Menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut dalam air. d. Menghitung kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp atau sebaliknya. e. Menjelaskan pengaruh penambahan ion senama dalam larutan. f. Menjelaskan pengaruh pH terhadap kelarutan berbagai jenis zat. g. Menjelaskan hubungan Ksp dengan pH.
  22. 22. 22 h. Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp. Dalam mempelajari materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan, terlebih dahulu siswa harus menguasai materi prasyarat yaitu larutan asam-basa dan elektrolit untuk memudahkan nantinya dalam mempelajari materi pokok tersebut. Pada umumnya materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan yang didalamya terdiri dari perhitungan berkaitan erat dengan zat elektrolit khususnya elektrolit yang sukar larut dalam air, seperti dalam menyelesaikan persamaan hasil kali kelarutan (Ksp) dan menentukan pengaruh ion senama serta hubungan antara kelarutan dan hasil kali kelarutan itu sendiri. Hal itu dapat terlihat pada larutan, baik larutan kurang jenuh, tepat jenuh, maupun lewat jenuh. B. Kerangka Pikir Salah satu masalah pembelajaran di sekolah adalah banyaknya siswa yang memperoleh hasil belajar rendah. Hal ini membuktikan bahwa tujuan pembelajaran tidak tercapai. Untuk mencapai tujuan tersebut maka guru harus berusaha meningkatkan aktivitas, minat dan perhatian siswa dalam belajar. Berdasarkan tuntutan tersebut, seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi dimana sebagian besar terdiri dari perhitungan sehingga perlu adanya suatu sistem pembelajaran yang berusaha mengaktifkan seluruh siswa. Siswa saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan soal yang diberikan dan berbagi informasi tentang materi yang sedang dibahas serta dibutuhkan untuk banyak berlatih menyelesaikan soal-soal secara bersama.
  23. 23. 23 Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini dibagi dalam empat tahap, yaitu tahap penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama dan menjawab. Dalam tahap penomoran, guru membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 3-6 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 6 yang bertujuan untuk memudahkan kinerja kelompok, mengubah posisi kelompok, dan mendapat tanggapan dari kelompok lain. Tahap mengajukan pertanyaan, menyampaikan materi-materi pokok dan mengajukan sebuah pertanyaan atau masalah kepada siswa. Untuk memudahkan siswa dalam menyelesaikan masalah yang diberikan, maka tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan. Dalam tahap berpikir bersama, siswa berpikir bersama melalui kerja kelompok dan menyatukan pendapatnya serta meyakinkan tiap anggota kelompoknya mengetahui dan mengerti permasalahan yang diberikan. Tahap menjawab, memanggil suatu nomor tertentu untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dan siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama menyiapkan tanggapannya. Beberapa penelitian yang mendasari penelitian pembelajaran kooperatif tipe NHT antara lain Nasriati (2008:32-33) pada materi pokok Ikatan Kimia menunjukkan bahwa persentase hasil belajar siswa yang tuntas adalah 63,41% dan Suryanti (2007:42) pada materi pokok Kimia Karbon menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengalami peningkatan dengan skor rata-rata dari 6,69 menjadi 7,79. Hasil penelitian tersebut sebagai bahan informasi bagi penulis untuk menerapkan model
  24. 24. 24 pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar. Pembelajaran dengan model kooperatif tipe NHT lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran dan guru sebagai fasilitator bertugas memberikan kemudahan belajar kepada siswa agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, penuh semangat, bebas, tidak ada rasa tertekan dan penuh percaya diri untuk meraih prestasi. Selain itu, siswa menjadi bertanggung jawab secara sosial, serta menumbuhkan rasa kerjasama dan rasa persahabatan antar teman. Oleh karena itu, melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan suatu hipotesis penelitian ini, sebagai berikut: “Langkah-langkah pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab diterapkan, maka hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkat”.
  25. 25. 25 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Variabel Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi. Variabel penelitian ini yaitu pembelajaran kooperatif tipe NHT dan hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar. B. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar yang berjumlah 36 orang. C. Desain Penelitian Desain penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga langkah utama yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi. Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran siklus pertama, sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran siklus kedua, hanya refleksi terhadap setiap siklus berbeda tergantung dari fakta dan interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi yang dijumpai di lokasi penelitian. Hal ini dilakukan agar diperoleh proses yang maksimal mengenai cara penggunaan model pembelajaran kooperatif. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap dalam penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
  26. 26. 26 Gambar 3.1: Desain penelitian tindakan kelas menurut Kemmis & Mc Taggart (Wartono, 2004 :7) D. Prosedur Penelitian 1. Siklus I Siklus I dilaksanakan 3 kali pertemuan masing-masing 2 x 45 menit dengan tahapan sebagai berikut: a. Tahap perencanaan 1) Menelaah kurikulum SMA kelas XI mata pelajaran kimia. SIKLUS I Rencana Awal Observasi dan Evaluasi Refleksi Rencana yang Direvisi Observasi dan Evaluasi Pelaksanaan Refleksi Hasil SIKLUS II Pelaksanaan
  27. 27. 27 2) Melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran kimia tentang kurikulum kimia yang berkaitan dengan materi pokok yang akan diteliti. 3) Menyiapkan sumber pembelajaran yang dibutuhkan yang meliputi pengembangan silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 4) Membuat dan mengembangkan skenario pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT. 5) Menyiapkan lembar observasi keaktifan siswa tiap pertemuan untuk memantau kegiatan siswa selama proses pembelajaran. 6) Merancang dan membuat Lembar Kegiatan Siswa (LKS). 7) Membuat dan menyusun alat evaluasi yang akan diberikan pada akhir siklus I. b. Tahap tindakan Gambaran umum kegiatan yang dilakukan sebagai berikut : 1) Membagi siswa ke dalam kelompok yang heterogen (tingkat kemampuan kognitif) yang jumlahnya 6 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberikan nomor antara 1 sampai 6. 2) Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah mempelajari materi itu. Selanjutnya, menyajikan materi pelajaran secara klasikal yaitu menjelaskan materi pokok yang akan diajarkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti. 3) Menyuruh siswa mendiskusikan dan mengerjakan soal yang ada pada LKS yang telah dibagikan. Menekankan kepada ketua kelompok agar lebih memperhatikan dan membimbing teman kelompoknya saat diskusi sehingga
  28. 28. 28 setiap siswa mengetahui jawaban dari semua soal yang diberikan, bukan hanya soal yang sesuai dengan nomor urutnya dalam kelompok. 4) Mengundi kelompok yang akan mengerjakan soal, nomor soal juga diundi sehingga tidak hanya satu soal yang dipersiapkan oleh siswa tetapi semuanya. Selain itu, kelompok yang nomor undiannya sudah naik dikembalikan lagi ke tempat undian sehingga masih mempunyai peluang untuk mengerjakan soal yang lain. 5) Memberikan sanksi kepada siswa yang menyontek jawaban dari kelompok lain berupa pengurangan skor untuk kelompok mereka. Begitu pula dengan kelompok yang memberikan jawaban agar setiap siswa bertanggung jawab terhadap kelompoknya. 6) Mengerjakan soal di depan kelas, dalam hal ini siswa tidak boleh membawa buku catatan. 7) Memberikan pujian kepada kelompok yang kerjasama timnya bagus dan yang memperoleh nilai tertinggi. c. Tahap observasi dan evaluasi Pada tahap observasi, peneliti dan observer melakukan observasi terhadap perilaku (keaktifan) siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi. Observasi dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung yang dilakukan selama dua kali pertemuan untuk siklus I. Sedangkan evaluasi berupa pemberian tes pada akhir siklus. Data dari evaluasi ini digunakan untuk menyusun refleksi dalam rangka persiapan perencanaan tindakan pada siklus II.
  29. 29. 29 d. Tahap refleksi Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil analisis yang diperoleh peneliti akan merefleksi diri dengan melihat data observasi, apakah kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Akhir dari proses pembelajaran dapat dianalisis dari hasil tes belajar siswa. Hasil analisis data yang dilaksanakan pada siklus ini digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan siklus selanjutnya. 2. Siklus II Pada prinsipnya kegiatan dalam siklus II ini adalah pengulangan langkah kerja siklus sebelumnya yang telah mengalami perbaikan dan pengembangan yang disesuaikan dengan hasil refleksi dari siklus I, yang berlangsung selama 3 kali pertemuan, dengan rincian : pertemuan pertama dan kedua berupa penyajian materi, dan pada pertemuan ketiga dilakukan tes akhir siklus. E. Teknik Pengumpulan Data 1. Data tentang aktivitas siswa selama tindakan, diperoleh dengan menggunakan lembar observasi. 2. Data tentang hasil belajar kimia yang diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus yang berupa pilihan ganda sebanyak 20 item soal.
  30. 30. 30 F. Teknik Analisis Data Data tentang aktivitas siswa dianalisis secara kualitatif, sedangkan data hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa digunakan acuan nilai ketuntasan belajar yang ditetapkan di SMA Negeri 3 Makassar seperti pada Tabel 2. Tabel 2 Kriteria ketuntasan belajar siswa SMA Negeri 3 Makassar Nilai Kategori 0 – 68 Tidak Tuntas 69 –100 Tuntas G. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. Menurut ketuntasan sekolah, apabila terdapat 85% siswa yang mencapai nilai minimal 69 maka kelas dianggap tuntas.
  31. 31. 31 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Analisis tes hasil belajar siswa dan analisis observasi pada pelaksanaan tindakan setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Hasil pelaksanaan siklus I a. Hasil belajar siswa pada siklus I Analisis statistik deskriptif hasil belajar siswa pada siklus I setelah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Hasil analisis statistik deskriptif dari pemberian tes hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar pada siklus I Statistik Nilai Statistik Ukuran sampel Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata Standar deviasi 36 100 70 40 60,69 11,85 Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif pada Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar setelah dilakukan tindakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 60,69 dan standar deviasi 11,85. Artinya kecenderungan variasi penyimpangan nilai siswa sebesar 11,85 dari nilai rata-rata. Bila nilai statitistik tersebut di atas didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) belajar SMA Negeri 3 Makassar berdasarkan ketuntasan yaitu
  32. 32. 32 69, maka diperoleh distribusi frekuensi hasil belajar yang ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4 Distribusi ketuntasan belajar siswa kelas XI IPA3 pada siklus I berdasarkan KKM SMA Negeri 3 Makassar No Kategori Ketuntasan Belajar Siklus I Frekuensi (%) 1. 2. Tuntas Tidak tuntas 22 14 61,11 38,89 Jumlah 36 100 % Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa siswa yang mencapai KKM yaitu sebesar 61,11 % atau sebanyak 22 orang dari jumlah siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar yang mengikuti tes hasil belajar siklus I, sedangkan yang belum mencapai KKM yaitu sebesar 38,89 % atau sebanyak 14 orang. Hasil penelitian ini dilanjutkan pada siklus II karena KKM yang diperoleh masih di bawah 85 % dari ketuntasan kelas yang ditentukan sekolah. b. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan observasi untuk memperoleh data tentang indikator yang telah ditentukan dengan bantuan seorang teman sebagai observer. Pada setiap pertemuan dicatat atau dilakukan pemantauan terhadap segala aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung yang dapat dilihat pada Tabel 5.
  33. 33. 33 Tabel 5 Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I No Aspek yang Diamati Siklus I Rata- rata1 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat pembelajaran. Siswa yang tidak mengerjakan soal yang diberikan berdasarkan nomornya dalam kelompok. Siswa yang mendapat undian nomor untuk mengerjakan soal, tetapi tidak mengerjakan di papan tulis. Siswa yang mengajukan pertanyaan dan tanggapan kepada kelompok lain. Siswa yang melakukan kegiatan lain baik dalam proses pemberian materi pelajaran maupun disaat mengerjakan tugas serta tes akhir siklus (main-main, keluar masuk kelas, ribut, mencari jawaban pada kelompok lain, dan mengerjakan tugas mata pelajaran lain). 2 3 6 5 2 6 4 4 5 4 3 4 3 3,5 5,5 4,5 2,5 5 c. Refleksi siklus I Pada siklus I, peneliti membentuk kelompok secara heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 6 orang dimana masing-masing anggota kelompok diberi nomor 1,2,3,4,5 dan 6, sehingga dari 36 orang siswa tersebut, diperoleh 6 kelompok belajar. Kemudian menyampaikan tujuan dan memberikan motivasi kepada siswa untuk terus belajar dan memperhatikan pelajaran yang diberikan. Selain itu, peneliti juga menyampaikan bahwa pada pelajaran kali ini akan diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Peneliti menginformasikan bahwa dalam pembelajaran ini, siswa diharapkan bekerja dalam kelompok- kelompok kooperatif dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah serta saling memotivasi untuk berprestasi.
  34. 34. 34 Partisipasi siswa dalam diskusi kelompok pada pertemuan I kurang optimal. Hal ini terjadi karena siswa yang berkemampuan akademik tinggi lebih mendominasi aktivitas dalam kelompok sehingga hanya sebagian siswa saja yang aktif. Ini terlihat ketika siswa yang mendapat undian nomor untuk mengerjakan soal tetapi tidak mengerjakan di papan tulis, sehingga digantikan oleh teman kelompoknya yang berkemampuan akademik tinggi. Terlihat juga siswa mencari jawaban di kelompok lain yang sesuai dengan nomor yang dikerjakan sehingga suasana kelas menjadi ribut yang dapat dilihat pada Tabel 5 No. 6. Hal ini terjadi karena siswa lebih senang berkeliling ke kelompok lain mencari jawaban dari pada mendiskusikannya dengan teman kelompoknya atau bertanya langsung kepada guru. Meskipun sudah ditegur beberapa kali, namun setelah mereka ditinggalkan siswa kembali melakukan hal yang sama. Respon yang kurang antusias juga diperlihatkan ketika siswa yang bernomor sama diminta untuk mengajukan pertanyaan atau menanggapi jawaban dari soal yang sedang dikerjakan oleh kelompok yang lain sebagaimana hasil pengamatan pada Tabel 5 No.5 . Sementara itu, adapula siswa yang nomornya berbeda terlihat tidak memperhatikan jawaban tersebut, bahkan ada siswa yang tidak mengerjakan soal yang diberikan berdasarkan nomornya dalam kelompok tersebut yang dapat dilihat pada Tabel 5 No. 3, walaupun sudah ditekankan bahwa tidak hanya satu soal yang harus dipersiapkan oleh siswa tetapi semuanya. Berdasarkan hasil observasi dari awal sampai akhir pertemuan siklus I, terlihat adanya peningkatan keaktifan siswa, meskipun demikian masih perlu ditingkatkan lagi. Pada pertemuan akhir siklus I, siswa diberi tes untuk menguji kemampuan mereka atas
  35. 35. 35 materi yang telah dibahas pada pertemuan siklus I sebelumnya. Dalam pelaksanaannya berlangsung tertib dan lancar, walaupun masih ada siswa yang meniru jawaban temannya sebagaimana hasil pengamatan pada Tabel 5 No. 6. Hal ini terjadi karena jarak bangku siswa yang saling berdekatan. 2. Hasil pelaksanaan siklus II a. Hasil belajar siswa pada siklus II Analisis statistik deskriptif hasil belajar siswa pada siklus II setelah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Hasil analisis statistik deskriptif dari pemberian tes hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar pada siklus II Statistik Nilai Statistik Ukuran sampel Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata Standar deviasi 36 100 85 40 70,97 11,54 Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif pada Tabel 6 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar setelah dilakukan tindakan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 70,97 dan standar deviasi 11,54. Artinya kecenderungan variasi penyimpangan nilai siswa sebesar 11,54 dari nilai rata-rata. Bila nilai statitistik tersebut di atas didasarkan pada KKM belajar SMA Negeri 3 Makassar berdasarkan ketuntasan yaitu 69, maka diperoleh distribusi frekuensi hasil belajar yang ditunjukkan pada Tabel 7.
  36. 36. 36 Tabel 7 Distribusi ketuntasan belajar siswa kelas XI IPA3 pada siklus II berdasarkan KKM SMA Negeri 3 Makassar No Kategori Ketuntasan Belajar Siklus I Frekuensi (%) 1. 2. Tuntas Tidak tuntas 31 5 86,11 13,89 Jumlah 36 100 % Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 5 orang atau 13,89 % dan siswa yang berhasil mencapai ketuntasan belajar berdasarkan KKM yaitu sebanyak 31 orang atau 86,11 % dari jumlah siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar yang mengikuti tes hasil belajar siklus II. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. b. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II Tabel 8 Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II No Aspek yang Diamati Siklus II Rata- rata1 2 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat pembelajaran. Siswa yang tidak mengerjakan soal yang diberikan berdasarkan nomornya dalam kelompok. Siswa yang mendapat undian nomor untuk mengerjakan soal, tetapi tidak mengerjakan di papan tulis. Siswa yang mengajukan pertanyaan dan tanggapan kepada kelompok lain. Siswa yang melakukan kegiatan lain baik dalam proses pemberian materi pelajaran maupun disaat mengerjakan tugas serta tes akhir siklus (main-main, keluar masuk kelas, ribut, mencari jawaban pada kelompok lain, dan mengerjakan tugas mata pelajaran lain). 6 5 3 2 5 3 7 7 2 - 6 1 6,5 6 2,5 1 5,5 2
  37. 37. 37 c. Refleksi siklus II Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II, sebagai perbaikan dari tindakan yang telah dilakukan pada siklus I. Adapun tindakan yang dilakukan antara lain: 1) Membentuk kelompok pasangan secara heterogen, dimana siswa yang memperoleh nilai tuntas dipasangkan dengan siswa yang nilainya belum tuntas. Berdasarkan nilai hasil belajar siklus I, jumlah siswa yang memiliki nilai ketuntasan lebih besar dari pada jumlah siswa yang tidak tuntas, sehingga dalam pembentukan kelompoknya, peneliti juga menjadikan aktivitas siswa yang diamati dalam lembar observasi sebagai bahan pertimbangan dalam pembentukan kelompoknya pada siklus II. 2) Memberikan motivasi kepada siswa dengan memberitahukan tujuan yang akan dicapai setelah mempelajari materi itu. Kemudian membahas materi pokok secara klasikal yaitu menjelaskan materi pokok yang akan diajarkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti. 3) Menekankan kepada siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi untuk membimbing teman kelompoknya saat mendiskusikan LKS tersebut dan lebih memperketat pengawasan kepada siswa yang sering melakukan kegiatan yang kurang positif di dalam kelas. 4) Memanggil siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas tanpa memberitahukan terlebih dahulu nomor soal yang akan dikerjakan, sehingga siswa harus siap dan mengerti semua soal yang ada dalam LKS.
  38. 38. 38 Pelaksanaan tindakan sebagai perbaikan dari pelaksanaan siklus I memberikan dampak yang positif terhadap aktivitas siswa. Pertemuan pertama pelaksanaan tindakan siklus II, yaitu memberikan motivasi dan memberitahukan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar serta memberikan tugas kepada siswa. Pada umumnya nampak masih sama dengan kegiatan sebelumnya yaitu masih banyaknya siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung seperti keluar masuk kelas seperti terlihat pada Tabel 8 No. 6. Namun demikian sudah ada kelompok yang mulai bersaing dan kelihatan bahwa sudah mulai muncul rasa ingin tahu siswa mengenai materi yang dibahas. Siswa yang dulunya hanya meniru pada temannya pada saat mengerjakan LKS sudah mulai ingin tahu bagaimana cara penyelesaian soal yang diberikan. Selain itu perhatian dan motivasi siswa semakin meningkat, ini dapat terlihat pada banyaknya siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan sebagaimana yang terdapat pada Tabel 8 No. 1, hal ini menandakan bahwa ada kesungguhan siswa untuk belajar. Memasuki pertemuan terakhir penelitian, terlihat bahwa proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT telah sesuai dengan yang diharapkan. Setiap siswa mulai terbiasa dengan kegiatan yang dilakukan, yaitu setelah guru memberikan informasi tentang materi secara garis besar, siswa mulai membahas materi dan segera mengerjakan LKS. Materi yang diberikan dan kurang dimengerti oleh siswa, umumnya siswa lebih sering bertanya pada teman kelompok atau daripada bertanya langsung kepada guru.
  39. 39. 39 Selain itu, meningkatnya frekuensi siswa yang ingin mempresentasekan jawaban LKS kelompoknya yang telah siswa kerjakan. Hasil yang dicapai pada siklus II ini mulai mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari siswa tadinya suka meniru pada siswa yang lain sudah mulai berusaha menyelesaikan sendiri soal yang ada dalam LKS. Setelah diberi tes untuk menguji kemampuan mereka atas materi yang telah dibahas pada siklus II ini, dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh siswa mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tes yang dilaksanakan pada pertemuan akhir siklus I, hal ini menandakan bahwa kesungguhan belajar dari siswa tergambar dari hasil tes siklus yang diberikan meskipun diantara siswa tersebut masih ada beberapa yang belum mencapai standar ketuntasan belajar. Hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa aktivitas siswa telah meningkat dibandingkan pada siklus I, hal ini dapat dilihat dari rata-rata setiap indikator yang diamati pada lembar observasi aktivitas siswa, begitu pula dengan hasil belajar siswa. Siswa terlihat mulai terbiasa belajar kelompok sehingga rasa kekeluargaan antara mereka semakin meningkat dan sifat individualisme semakin berkurang, selain itu siswa mulai berani untuk mengemukakan pendapatnya pada saat diskusi dan jumlah siswa yang meniru jawaban dari kelompok lain juga mulai berkurang sebagaimana terlihat pada Tabel 8 No. 6. Hal ini terjadi karena kesadaran dalam diri siswa lebih meningkat sehingga hasil pekerjaan mereka juga sangat memuaskan.
  40. 40. 40 B. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis kualitatif mengenai aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II, terlihat model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat mengubah kebiasaan siswa seperti malu bertanya kepada siswa yang kemampuannya tinggi, kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas, bahkan rasa tidak percaya diri untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan sehingga timbul kebiasaan untuk mengharapkan bantuan jawaban dari teman. Hal ini terjadi karena NHT merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa serta model pembelajaran ini lebih mengedepankan aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber. Hasil analisis data observasi aktivitas siklus I pada Tabel 5 memperlihatkan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih rendah, ini terlihat dari banyaknya siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat proses pembelajaran berlangsung, serta siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi kurang membimbing teman kelompoknya. Keaktifan siswa yang rendah akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar mereka. Pada saat diadakan tes siklus I, banyak dari siswa yang hanya mengharap jawaban dari temannya. Hasilnya hanya 22 orang yang tuntas atau sebesar 61,11% yaitu berada di atas 25% dari ketuntasan belajar yang terdahulu sebelum diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe NHT, namun belum mencapai standar ketuntasan kelas yang ditentukan sekolah yaitu 85%. Beberapa masalah yang muncul pada siklus I, kemudian diusahakan perbaikannya pada siklus II. Tindakan perbaikan yang dilakukan tersebut akhirnya
  41. 41. 41 mendapatkan respon dari siswa. Setiap kelompok berusaha untuk menunjukkan bahwa kelompok merekalah yang terbaik. Diskusi dalam kelompok berlangsung dengan tenang, meskipun masih agak ribut namun itu terjadi karena siswa memang membicarakan jawaban LKS yang sedang mereka kerjakan. Rata-rata dari setiap indikator pada lembar observasi aktivitas siswa mulai mengalami peningkatan. Siswa terlihat lebih bergairah belajar terutama dalam mengerjakan LKS. Hampir semua siswa memperlihatkan keseriusan mereka dalam belajar. LKS yang mereka kerjakan juga dapat terselesaikan dengan benar. Keaktifan siswa yang meningkat ternyata mampu mendorong motivasi siswa dalam belajar. Hal tersebut dapat dilihat pada data kuantitatif siswa, yaitu nilai rata-rata yang didapat oleh siswa pada hasil tes siklus I adalah 60,69 dan mengalami peningkatan menjadi 70,97. Meskipun untuk perolehan nilai masing- masing siswa ada yang menurun dan ada juga yang meningkat. Melihat rata-rata nilai pada siklus II yang tergolong tinggi menandakan bahwa ada kesungguhan siswa untuk belajar dan tidak mengharapkan remedial untuk perbaikan nilai yang selama ini diterapkan di sekolah tersebut. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, selain meningkatkan hasil belajar siswa juga mengembangkan keterampilan sosial yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu dan kesempatan yang sama untuk berhasil. Oleh karena itu siswa yang telah memiliki keterampilan kooperatif seperti menggunakan kesepakatan, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam kelompok, menyelesaikan tugas dalam waktunya, serta menghormati perbedaan inividu dapat mengaktifkan proses pembelajaran, mengembangkan
  42. 42. 42 kreativitas dan melancarkan hubungan kerja sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, pada umumnya aktivitas siswa mengalami peningkatan sampai pada pertemuan terakhir. Pada pertemuan terakhir kembali diadakan tes, siswa terlihat lebih percaya pada kemampuannya dan berusaha untuk mengerjakan soal sendiri. Jumlah siswa yang memenuhi standar ketuntasan juga mengalami peningkatan yaitu 31 orang atau sebesar 86,11%. Aktivitas dan hasil belajar siswa yang diperoleh setelah siswa belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah meningkat. Nilai rata-rata persentase peningkatan ketuntasan kelas yang dicapai siswa sebelum penerapan kooperatif tipe NHT dan setelah penerapan kooperatif tipe NHT pada siklus I dan II berturut-turut 25% ; 61,11% ; dan 86,11% dengan persentase peningkatan ketuntasan kelas sebelum penerapan kooperatif tipe NHT dan setelah penerapan kooperatif tipe NHT pada siklus I sebesar 36,11%, sedangkan dari siklus I ke siklus II sebesar 25%. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa setelah melalui beberapa tahap perbaikan langkah-langkah pembelajaran, penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar kimia pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. Adapun yang menjadi kekurangan dalam penelitian ini adalah kurangnya waktu yang tersedia dalam penelitian mengakibatkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini hanya dilaksanakan 2 kali pertemuan untuk penyajian materi tiap siklus, sehingga diharapkan untuk penelitian selanjutnya bisa menambah jumlah pertemuan tiap siklus dengan tetap melanjutkan materi pokok setelah materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan.
  43. 43. 43 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah : (1) Penyajian materi secara singkat dan mengajukan pertanyaan kepada siswa, (2) Membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 6 orang dan masing-masing anggota kelompok di beri nomor 1,2,3,4,5 dan 6, (3) Membagikan LKS kepada setiap kelompok, (4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS, (5) Siswa menyampaikan jawabannya di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lain, (6) Memberikan pujian kepada kelompok yang kerjasamanya bagus dan nilainya tinggi. Hasil belajar siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 3 Makassar meningkat dari 25 % sebelum penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT menjadi 61,11 % pada siklus I setelah penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan meningkat pada siklus II sebesar 86,11 %. B. Saran Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka diharapkan kepada guru mata pelajaran kimia agar dapat menerapkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa sebagai variasi dalam pengajaran kimia. Untuk calon peneliti selanjutnya, agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan pengkajian yang lebih dalam dan bisa dipadukan dengan model pembelajaran yang lain.
  44. 44. 44 DAFTAR PUSTAKA Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta. Djamarah, S.B. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Banjarmasin. Erman, S. 2008. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Jurnal Pendidikan. http://educare.e-fkipunla.net. diakses 2 Desember 2008. Johari. 2004. Kimia SMA Untuk Kelas XI. Esis. Jakarta. Lie. 1999. Metode Pembelajaran Gotong Royong. Citra Media. Surabaya. Masnur, M. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bumi Aksara. Malang. Nasriati. 2008. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 11 Makassar (Studi pada Materi Pokok Ikatan Kimia). Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA UNM. Makassar. Oemar, H. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara. Bandung. Patta, B. 2007. Konsep Dasar IPA 1 Teori dan Praktik. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Purba, M. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Erlangga. Jakarta. Slavin, R. 2008. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Nusa Media. Bandung. Subana, M. 2000. Statistik Pendidikan. Pustaka Setia. Bandung. Suryanti. 2007. Peningkatan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together pada Pokok Bahasan Kimia Karbon. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA UNM. Makassar. Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Karya Abditama. Surabaya. Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka Publiser. Jakarta.
  45. 45. 45 Wartono. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Sains. Bagian Proyek Pengembangan Sistem dan Pengendalian Program DIRJEN DIKDASMEN. Jakarta. Wina, S. 2006. Strategi Pembelajaran. Kencana Prenada Media. Jakarta.

×