Teori behavioristik545

544
-1

Published on

Teori behavioristik

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
544
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Teori behavioristik545

  1. 1. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK Oleh : SOFIA ILMA NAFI’A
  2. 2. Rangkuman Belajar Behavioristik A. Teori belajar classic conditioning Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme dan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Teori classic conditioning adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
  3. 3. Contoh : Percobaan Pavlov mengenai fungsinya kelenjar ludah pada anjing merupakan contoh klasik bagaimana perilaku tertentu dapat dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi lingkungan. Proses pembentukan perilaku semacam itu di sebut proses pensyarata (Conditioning prosess). Air liur anjing yang secara alami banyak hanya keluar jika ada makanan, pada akhirnya dengan proses persyaratan air liur dapat keluar sekalipun tidak ada makanan. Berikut ini adalah percobaan Pavlov beserta dengan langkah-langkahnya : Pertama anjing disajikan tepung daging (US), menimbulkan respon anjing berliur(UR). Pada situasi lain disajikan cahaya lampu (CS), ternyata tidak menghasilkan respon keluarnya air liur, anjing hanya memperhatikan lampu. Hal ini merupakan keadaan prabelajar. Selanjutnya tepung daging disajikan hampir bersamaan dengan cahaya lampu secara berulangan-ulang (US + CS yang menghasilkan UR + CR). Hal ini merupakan proses pembelajarannya:
  4. 4. 1. US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral Stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk mengeluarkan air liur. 2. UR (unconditioned respons): perilaku responden (respondent behavior) respon tak bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, seperti air liur anjing keluar karena anjing melihat daging. 3. CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan air liur jika selalu dipasangkan dengan daging. 4. CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya CS. Misalnya dengan air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
  5. 5. Akhirnya anjing mengeluarkan air liur (UR) ketika disajikan cahaya (CS) sekalipun tidak diikuti penyajian tepung daging. Keluarnya air liur sebagai respon terhadap stimulus cahaya ini disebut perilaku hasil belajar atau hasil pengkondisian. Apabila ada dua hal yang prosedural yang harus dipenuhi dalam percobaan ini yaitu : 1. Penyajian CS itu segera diikuti oleh US 2. Hal yang demikian itu dilakukan berulang-ulang sampai CR terbentuk
  6. 6. Dalam percobaan yang lain cahaya itu diganti dengan bunyi bel sebelum diberikan makanan kepada anjing dibunyikan bel, setelah hal yang demikian itu diulang-ulang secukupnya, maka dengan mendengar bunyi bel saja anjing telah mengeluarkan air liur. Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengetahui apakah respon bersyarat yang telah terbentuk itu dapat dihilangkan. Dengan menggunakan prosedur, perangsang bersyarat yang telah menimbulkan respon bersyarat disajikan berulang-ulang tanpa diikuti perangsang tak bersyarat. Mula-mula anjing mengeluarkan air liur, lama kelamaan dia tidak lagi mengeluarkan air liur, sekalipun menyaksikan perangsang bersyarat.
  7. 7. Kesimpulannya, dalam percobaan-percobaan ini anjing belajar bahwa cahaya lampu ataupun bunyi bel itu mula-mula sebagai datangnya makanan (pembentukan CR), kemudian ia belajar bahwa cahaya lampu atau bunyi bel sebagai pertanda tidak ada makanan (penghilang CR). * Prinsip Classical Conditioning Penguasaan (akuisisi) : Penguasaan atau bagaimana organisme mempelajari sesuatu respon baru berlaku beberapa tingkatan. * Stimulus Classical Conditioning 1. Generalisasi (generalitation) 2. Diskriminasi (Discrimination) 3. Penghapusan (Extinction)
  8. 8. B. Teori Belajar Operant Conditioning Teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) ini diciptakan oleh Burrhus Frederic Skinner. Operant adalah sejumlah perilaku/respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Reber, 1988). Respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforces. Reinforces adalah stimulus yang menimbulkan sejumlah respon tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainya seperti dalam “classical respondent conditioning”.
  9. 9. Pada awal penelitian mengenai operant conditioning dilakukan oleh E.I.Thorndike. Namun penelitian yang dilakukan oleh Skinner lebih sederhana dan lebih tepat dapat diterima secara luas. Percobaan yang dilakukan oleh Skinner, dilakukan pada seekor tikus yang dimasukan dalam boxes, yang disebut “Skinner box”. Skinner mengungkapkan bahwa konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi. Konsekuensi imbalan/hukuman bersifat sementara
  10. 10. Prinsip-Prinsip Operant Conditioning Penguatan (reinforcement ) : Penguatan adalah proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan dari sebuah perilaku dengan memberikan atau menghilangkan rangsangan. Prinsip penguatan dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Penguatan positif : suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat  karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. 2. Penguatan negatif : peningkatan frekuensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan yang  merugikan (tidak menyenangkan). Hukuman (Punishment) : sebuah konsekuensi untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkian sebuah perilaku akan muncul. Dalam hukuman juga terdapat 2 pembagian, yaitu : 1. Hukuman positif (positive punishment): dimana sebuah perilaku berkurang ketika diikuti dengan rangsangan yang tidak menyenangkan 2. Hukuman negatif (negative punishment): sebuah perilaku akan berkurang ketika sebuah rangsangan positif atau menyenangkan diambil.
  11. 11. Stimulus Operant Conditioning Generalization (Generalisasi) : memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang sama atau mirip. Fokus perhatiannya adalah  tingkat dimana perilaku disamakan dari satu situasi ke situasi yang lain. Discrimination (diskriminasi) : melibatkan perbedaan antara stimulusstimulus dan kejadian-kejadian lingkungan atau dapat diartikan merespon stimulus yang menunjukkan bahwa sebuah perilaku akan atau tidak akan dikuatkan. Extinction (Pelenyapan) : suatu penghentian penguatan, jika dalam suatu kasus dimana pada perilaku sebelumnya individu mendapat penguatan kemudian tidak lagi dikuatkan sehingga akan ada kecenderungan penurunan perilaku, maka hal inilah yang dinamakan munculnya suatu pelenyapan (extinction).
  12. 12. C. Teori Belajar Koneksionisme Teori belajar koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike (1874-1949). Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon. Itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learnin”. Selain itu, teori ini juga dikenal dengan sebutan “Trial and Error Learning”.  Ciri-ciri belajar dengan trial and error : 1. 2. 3. 4. Ada motif pendorong aktivitas Ada berbagai respon terhadap situasi Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu
  13. 13.  Tiga hukum dasar (primer) dari Thorndike 1. Law of readiness 2. Law of exercise 3. Law of effect  Hukum tambahan (subsider) dari Thorndike 1. Law of multiple response (hukum multirespons atau variasi reaksi) 2. Law of attitude (hukum sikap, disposisi, prapenyesuaian diri) 3. Law of partial activity (hukum aktivitas parsial suatu situasi) 4. Law of response by analogy (hukum respon terhadap analogi) 5. Law of associative shifting (hukum perubahan situasi) Menurut Thorndike, cara mengajar yang baik bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang telah diajarkan, tetapi guru harus tahu apa yang hendak diajarkan. Tujuan pendidikan harus masih dalam batas kemampuan belajar peserta didikan.
  14. 14. D. Teori Belajar Social Kognitif Menurut Bandura (dalam Woolfolk, 2009) teori sosial kognitif adalah sebuah teori yang memberikan pemahaman, prediksi, dan perubahan perilaku manusia melalui interaksi antara manusia, perilaku, dan lingkungan. Teori ini didasarkan atas proposisi bahwa baik proses sosial maupun proses kognitif adalah sentral bagi pemahaman mengenai motivasi, emosi, dan tindakan manusia.  Teori sosial kognitif digunakan untuk mengenal, memprediksi perilaku dan mengidentifikasi metode-metode yang tepat untuk mengubah perilaku tersebut. Teori ini menjelaskan bahwa dalam belajar, pengetahuan (knowledge), pengalaman pribadi (personal experience) dan karakteristik individu (personal characteristic) saling berinteraksi.
  15. 15.  Konsep yang dikembangkan Bandura yang berkaitan erat dengan teori sosial kognitif yaitu social learning theor y . Teori ini menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi.  Dalam teori belajar sosial menekankan “obser vational learning” sebagai proses pembelajaran, bentuk pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.  Dalam analisis Bandura, 1986 (dalam Woolfolk, 2004) ada beberapa fase tentang obser vational learning atau modeling yaitu : (NEXT)
  16. 16. Fase Perhatian : Pada fase ini siswa memberikan perhatian pada orang yang ditiru Fase Pengingatan : Begitu guru mendapatkan perhatian dari siswa, inilah saatnya mencontohkan perilaku yang mereka inginkan dan kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktekan dan berlatih. Reproduksi : Selama fase ini siswa mencoba untuk mencocokkan perilaku mereka dengan perilaku orang yang ditiru. Fase Motivasi : Dalam tahap ini siswa akan meniru orang yang akan ditiru karena mereka percaya bahwa tindakan seperti itu akan meningkatkan perluang mereka sendiri dikuatkan
  17. 17.  Dalam teori sosial kognitif, peristiwa di lingkungan fisik dan sosial (sumber daya, konsekuensi tindakan, orang lain, dan setting fisik),faktor-faktor personal (keyakinan, ekspektasi, sikap, dan pengetahuan) dan perilaku (dilihat dari saat saling berinteraksi dalam proses belajar) semuanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi  Bandura menyebutkan interaksi kekuatan-kekuatan tersebut dengan “reciprocal determinism”.
  18. 18. TERIMA KASIH

×