Your SlideShare is downloading. ×
Analisis Novel Perempuan Kembang Jepun
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Analisis Novel Perempuan Kembang Jepun

4,066
views

Published on


0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,066
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
92
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. KETIMPANGAN JENDER DALAM NOVEL “PEREMPUAN KEMBANG JEPUN “ KARYA LAN FANG : KAJIAN SASTRA FEMINIS Oleh : 1. Eva Nurchurifiani 2. Hani Atus Solikhah 3. Ledy Nur Lely Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta 2010 1
  • 2. DAFTAR ISICover ......................................................................................................... 1Daftar Isi ................................................................................................... 2Kata Pengantar ......................................................................................... 3BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 4 1.1 Latar Belakang ....................................................................... 4 1.2 Permasalahan ......................................................................... 7 1.3 Landasan Teori ...................................................................... 7 1.3.1 Kajian Struktural .................................................... 7 1.3.2 Kajian Kritik Sastra Feminis .................................. 9 1.3.2.1 Teori Kritik Sastra Feminis ...................... 9 1.3.2.2 Ketimpangan Jender ................................. 12 1.4 Metode Penelitian ................................................................... 15BAB II GAMBARAN UMUM ................................................................ 18BAB III PEMBAHASAN ......................................................................... 24 3.1 Kajian Struktural .................................................................... 24 3.2 Kajian Feminisme ................................................................... 30BAB IV KESIMPULAN ........................................................................... 40DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 41LAMPIRAN I ........................................................................................... 44 Riwayat Hidup Pengarang ........................................................... 44LAMPIRAN II .......................................................................................... 46 Sinopsis Novel ............................................................................... 46 2
  • 3. KATA PENGANTAR Segala puji hanya tercurahkan kepada Allah SWT yang telahmenganugerahkan begitu banyak limpahan nikmat sehingga penulis dapatmenyelesaikan makalah ini secara maksimal dan optimal. Shalawat dan salamsemoga senantiasa tersampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAWyang telah begitu banyak mengajarkan kebijakan dan menyebarkan ilmunya padasemua umatnya. Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada Dr. NoviAnoegrajekti, M.Hum. dan Dr. Kinayati Djoyosuroto, M.Pd. yang telahmemberikan bimbingan sehingga makalah ini dapat penulis selesaikan denganbaik . Selain itu, terimakasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan dansemua pihak yang telah memberikan kontribusi dan motivasi dalammenyelesaikan makalah ini. Berkat bantuan dan dorongan tersebut, penulis dapatmenyelesaikan tugas ini secara lancar dan optimal. Akhirnya, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagisemua pembaca, khusunya dalam pengajaran bidang studi Pendidikan Bahasa dansastra di dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Jakarta, Oktober 2010 Penulis 3
  • 4. BAB I PENDAHULUANI.1 Latar Belakang Sastra adalah suatu objek kajian yang menarik dan tidak akan adahabisnya. Hal ini disebabkan sastra adalah sesuatu bagian yang sangat penting dantidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sastra sendiri dapat diartikansebagai suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalahmanusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya(Semi, 1993:8). Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segalamacam segi kehidupannya, maka sastra tidak saja adalah suatu media untukmenyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir manusia. Sastra dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu bentuk dan isi. Ditinjaudari bentuk, sastra adalah karangan fiksi dan non fiksi. Apabila dikaji melaluibentuk atau cara pengungkapannya, sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itusendiri, yaitu puisi, novel, dan drama. Karya sastra juga digunakan pengaranguntuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang ada dalam realitas yangdihadapinya. Realitas ini adalah salah satu faktor penyebab pengarangmenciptakan karya, di samping unsur imajinasi. Menurut Semi (1993:8), karyasastra adalah karya kreatif sehingga sastra harus mampu melahirkan suatu kreasiyang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Dari segiisi, sastra membahas tentang hal yang terkandung di dalamnya, sedangkan bentuksastra membahas cara penyampaiannya. Selain itu, sastra juga harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ideyang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia.Seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama menyangkut sosialbudaya, kesenian, dan sistem berpikir. Karya sastra menjadi gambaran kehidupanhasil rekaan seseorang yang sering kali karya sastra itu menghadirkan kehidupanyang diwarnai oleh sikap latar belakang dan keyakinan pengarang. Salah satubentuk karya sastra yang dapat diteliti terkait gaya bahasa yang adalah hasil 4
  • 5. pemikiran yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah Novel. Novel sebagaikarya sastra tulis adalah tempat penuangan renungan pengarang terhadapkehidupan karena bahasanya yang diambil dari kehidupan pengarang maupunpengalaman orang lain yang sampai kepada pengarang (Mukmin, 2005:8). Halinilah yang menjadikan novel sangat terkait dengan kehidupan nyata. Sepertihalnya kehidupan yang diceritakan dalam novel yang juga berhubungan denganmasalah kehidupan seperti tingkah laku, sikap, dan etika pergaulan yangditampilkan melalui gaya bahasa yang disampaikan oleh pengarang. Akhirnya,dapat disimpulkan bahwa Karya sastra merupakan sebuah struktur yang tidakstatis, melahirkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung dan dihayatioleh masyarakat (Goldman dalam Faruk, 1994:12) Lebih lanjut, novel tentu tidak hanya berfungsi untuk menghibur, tetapijuga dianggap dapat memberikan manfaat berupa suatu ajaran yang baik bagimasyarakat. Seperti halnya sebuah karya sastra, termasuk novel hendaknyamemiliki manfaat, minimal bagi pembacanya, sesuai dengan ungkapan yangdisampaikan oleh Poe (dalam Wellek dan Warren, 1989:24—25) bahwa sastratidak hanya berfungsi untuk menghibur, tetapi juga sekaligus mengajarkansesuatu. Novel yang dipilih dalam penelitian ini adalah Novel PerempuanKembang Jepun karya Lan Fang. Novel Perempuan Kembang Jepun karya LanFang seperti halnya novel-novel lainnya sebagai salah satu produk sastramemegang peranan penting dalam memberikan pandangan untuk menyikapihidup secara artistik imajinatif. Hal ini dimungkinkan karena persoalan yangdibicarakan dalam novel adalah persoalan tentang manusia dan kemanusiaan.Perkembangan novel di Indonesia cukup pesat. Hal itu terbukti dengan banyaknyanovel-novel baru yang telah diterbitkan. Novel-novel tersebut mempunyaibermacam tema dan isi, antara lain tentang masalah-masalah sosial yang padaumumnya terjadi dalam masyarakat, termasuk yang berhubungan denganperempuan. Sosok perempuan sangat menarik untuk dibicarakan. Perempuan diwilayah publik cenderung dimanfaatkan oleh kaum laki-laki untuk memuaskankoloninya. Perempuan telah menjelma menjadi bahan eksploitasi bisnis dan seks. 5
  • 6. Dengan kata lain, saat ini telah hilang sifat feminis yang dibanggakan dandisanjung bukan saja oleh kaum perempuan, namun juga kaum laki-laki. Tentu,hal ini sangat menyakitkan apabila perempuan hanya menjadi satu segmen bisnisatau pasar (Anshori, 1997:2). Terkait pengarang, Lan Fang adalah penulis muda dalam ranahkesusatraan Indonesia. Novel Perempuan Kembang Jepun adalah salah satu karyaLang Fang yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006.Novel ini mengangkat masalah perempuan pada pusat hiburan Kembang Jepun diSurabaya pada era tahun 1940-an. Jadi novel ini termasuk salah satu novelsejarah. Peristiwa sejarah yang terjadi, yaitu berakhirnya masa penjajahanBelanda di Indonesia dan awal zaman penjajahan Jepang di Indonesia menjadilatar dalam novel ini. Keistimewaan Lan Fang dalam novel Perempuan KembangJepun adalah bahwa tokoh yang terlibat dalam novel tersebut dapat diungkapkandengan cermat dalam jalinan cerita sehingga alur cerita tetap terjaga dari awalsampai akhir, meskipun alur ceritanya adalah alur flash back. Selain itu, Lan Fangmampu menggambarkan kehidupan pada akhir masa penjajahan Belanda dan awaljaman penjajahan Jepang yang serba sulit dan kompleks, terutama ketimpanganjender yang dialami oleh perempuan. Melalui novel ini pembaca dihadapkan pada ketimpangan yang dialamioleh perempuan pada zaman penjajahan Jepang. Karya sastra ini memberikansebuah pencerahan yang dilakukan pengarang kepada pembaca tentangketimpangan yang dialami oleh perempuan pada masa itu tanpa dapat melakukanpembelaan terhadap ketimpangan yang dialami oleh para tokoh perempuan dalamnovel tersebut. Perempuan dijadikan sebagai objek seksual oleh laki-laki tanpadapat memberikan perlawanan sehingga menimbulkan trauma yangberkepanjangan. Ketimpangan yang dialami oleh perempuan juga masih seringterjadi sampai sekarang, baik itu ketimpangan dalam berumah tangga, seksualmaupun ekonomi. Sebagai contoh, ketika seorang isteri yang meminta tanggungjawab suaminya supaya bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidupkeluarganya, tetapi yang diterima adalah makian dan omelan dari suaminya. Halini yang membuat peneliti memilih topik ketimpangan jender terhadap 6
  • 7. perempuan dalam novel Perempuan Kembang Jepun karya Lang Fang. Dalamkajian ini, peneliti menggunakan kajian sastra feminis, denganmempertimbangkan segi-segi feminisme (Djajanegara, 2000:27). Inovasi baruyang menjadi pendorong dalam penelitian ini adalah kajian kritis denganmenggunakan feminisme diharapakan dapat memberikan manfaat dalam duniakesusasteraan. Dengan demikian, hal yang menjadi tujuan utama adalah upayaagar analisis yang lebih jauh tentang kajian feminisme khususnya pada novelPerempuan Kembang Jepun karya Lang Fang dapat diketahui dan dipahami lebihmendalam.I.2 Permasalahan Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanaketimpangan jender dalam novel Perempuan Kembang Jepun pada tokohperempuan yang ada dalam novel tersebut dari aspek sastra feminis, sekaliguskajian struktural singkat pada novel ini.I.3 Landasan Teori1.3.1 Kajian Struktural Kajian struktural sangat penting bagi analisis karya sastra karena di dalamsuatu karya sastra dibangun oleh unsur-unsur yang membentuknya. Analisisstruktural adalah bagian prioritas pertama sebelum diterapkannya analisis yanglain. Tanpa analisis struktural tersebut kebulatan makna intrinsik yang dapat digali dari karya tersebut tidak dapat diketahui. Makna unsur-unsur karya sastrahanya dapat ditangkap, dipahami sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat danfungsi unsur itu di dalam keseluruhan karya sastra (Teeuw dalam Sugihastuti,2002:44). Secara definitif, strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisisunsur-unsur karya sastra. Unsur-unsur karya sastra, terutama prosa di antaranyaadalah tema peristiwa atau kejadian, latar, penokohan atau perwatakan, alur, dansudut pandang (Ratna, 2007: 93). Satu konsep yang menjadi ciri khas teoristruktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam diri karya sastra merupakan 7
  • 8. suatu struktur yang otonom, yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yangbulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan (Pradopo dalamJabrohim, 2001: 55). Sedangkan Stanton (2007: 22-71) menyebutkan unsur novelterdiri atas fakta-fakta cerita, alur, karakter, latar, tema, sarana-sarana sastra,judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme, dan ironi. Selanjutnya, melalui pendekatan struktural dapat dilakukan denganmenggunakan langkah-langkah berikut. 1) Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra secara lengkap dan jelas, nama tema, dan nama tokohnya. 2) Mengkaji unsur-unsur yang telah diidentifikasi sehingga diketahui bagaimana tema, alur, dan latar dari sebuah karya sastra. 3) Mengidentifikasikan fungsi masing-masing unsur sehingga diketahui fungsi alur, latar, dan penokohan dari sebuah karya sastra. 4) Menghubungkan masing-masing unsur sehingga diketahui tema, alur, latar, penokohan dalam sebuah karya sastra. Salah satu bagian terpenting dalam sebuah pendekatan dalam karya sastraadalah analisis. Analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendataunsur tertentu dari karya fiksi, misal peristiwa, alur, latar, tokoh dan lainsebagainya. Akan tetapi, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimanahubungan antar unsur dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetikadan seluruh makna yang ingin dicapai. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwakarya sastra merupakan salah satu factor yang membedakan antara karya sastrasatu dengan karya sastra yang lain. Sebagaimana diketahui bahwa analisisstruktural adalah analisis mengenai karya sastra itu sendiri tanpa melihatkaitannya dengan data di luar karya sastra tersebut. Pada taraf ini belum sampaipada pertimbangan berdasarkan hal-hal di luar karya sastra. Hal ini diungkapkanAtmazaki (1990:57), bahwa teori sastra struktural melepaskan kaitan karya sastradengan aspek ekstrinsik. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa analisisstruktural berusaha memaparkan dan menunjukkan unsur-unsur intrinsik yang 8
  • 9. membangun karya sastra serta menjelaskan interaksi antar unsur-unsur dalammembentuk makna yang utuh. Analisis yang tampak menghiraukan hubunganantar unsur-unsur intrinsik kurang berfungsi tanpa adanya interaksi tersebut.Analisis struktural dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, danmendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan.1.3.2 Kajian Kritik Sastra Feminis 1.3.2.1 Teori Kritik Sastra Feminis Kritik sastra feminis adalah salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahirsebagai respon atas berkembangnya feminisme di berbagai penjuru dunia. Kritiksastra feminisme adalah aliran baru dalam sosiologi sastra. Lahirnya bersamaandengan kesadaran perempuan akan haknya. Inti tujuan feminisme adalahmeningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengankedudukan serta derajat lakilaki. Perjuangan serta usaha feminisme untukmencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalahmemperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki. Berkaitandengan itu, maka muncullah istilah equal rights movement atau gerakanpersamaan hak. Cara lain adalah membebaskan perempuan dari ikatan lingkungandomestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga. Cara ini sering dinamakanwomens liberation movement, disingkat womens lib atau womens emancipationmovement, yaitu gerakan pembebasan perempuan (Saraswati, 2003:156). Kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminis untuk mengkajikarya penulis-penulis perempuan di masa silam dan untuk menunjukkan citraperempuan dalam karya penulis-penulis laki-laki yang menampilkan perempuansebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalah tafsirkan, sertadisepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan (Djajanegara, 2000:27). Keduahasrat tersebut menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Misalnya, dalam meneliti citra perempuan dalam karya sastrapenulis perempuan, perhatian dipusatkan pada cara-cara yang mengungkapkantekanan-tekanan yang diderita tokoh perempuan. Oleh karena telah menyerapnilai-nilai patriarkal, mungkin saja seorang penulis perempuan menciptakan 9
  • 10. tokoh-tokoh perempuan dengan stereotip yang memenuhi persyaratan masyarakatpatiarkal. Sebaliknya, kajian tentang perempuan dalam tulisan penulis laki-lakidapat saja menunjukkan tokoh-tokoh perempuan yang kuat dan mungkin sekalijustru mendukung nilai-nilai feminis. Di samping itu, kedua hasrat pengkritiksastra feminis memiliki kesamaan dalam hal kanon sastra. Kedua-duanyamenyangsikan keabsahan kanon sastra lama, bukan saja karena menyajikan tokoh-tokoh perempuan stereotip dan menunjukkan rasa benci dan curiga terhadapperempuan, tetapi juga karena diabaikannya tulisan-tulisan mereka. Kajian sastra feminis mempunyai dua fokus. Pertama, menggali, mengkajiserta menilai karya penulis-penulis perempuan dari masa silam. Hal yangdipertanyakan adalah tolok ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulusehingga kanon sastra didominasi penulis laki-laki. Tujuan kedua mengkaji karya-karya tersebut dengan pendekatan feminis. Ketiga, pengkritik sastra feministerutama berhasrat mengetahui bagaimana cara menerapkan penilaian estetik, dimana letak nilai estetiknya serta apakah nilai estetik yang telah dilakukan sah.Singkatnya menilai tolok ukur yang digunakan untuk menentukan cara-carapenilaian lama. Berdasarkan ketiga tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa apayang dikehendaki pengkritik sastra feminis adalah hak yang sama untukmengungkapkan makna-makna baru yang mungkin berbeda dari teks-teks lama. Pendekatan feminisme mengkaji khusus terhadap karya sastra denganfokus perhatian pada relasi jender yang timpang dan mempromosikan pada tataranyang seimbang antar laki-laki dan perempuan (Djajanegara, 2000:27). Feminismeadalah pemberontakan kaum perempuan kepada laki-laki, upaya melawan pranatasosial, seperti institusi rumah tangga dan perkawinan atau pandangan upayaperempuan untuk mengingkari kodratnya, melainkan lebih sebagai upaya untukmengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan (Fakih, 2000:5). Feminisme muncul akibat dari adanya prasangka jender yangmenomorduakan perempuan. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbedadengan perempuan mengakibatkan perempuan dinomorduakan. Perbedaantersebut tidak hanya pada kriteria sosial budaya. Asumsi tersebut membuat kaumfeminis memperjuangkan hak-hak perempuan di semua aspek kehidupan dengan 10
  • 11. tujuan agar kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sederajat dengankaum laki-laki. Lebih khusus, Teeuw (dalam Ratna, 2007:183—184), adabeberapa hal yang memicu lahirnya feminism antara lain: 1) berkembangnya teknik kontrasepsi 2) radikalisme politik 3) lahirnya gerakan pembebasan dari ikatan-ikatan tradisional 4) sekularisasi 5) perkembangan pendidikan 6) rekaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial 7) ketidakpuasan terhadap ideology Marxis orthodox Selanjutnya, Kritik sastra feminis terbagi dalam berbagai macam. Jenis-jenis kritik sastra feminis yang berkembang di masyarakat adalah : 1) Kritik Ideologis Kritik sastra feminis ini melibatkan perempuan, khususnya kaum feminis,sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian pembaca adalah citra sertastereotipe seorang perempuan dalam karya sastra. Kritik ini juga menelitikesalahpahaman tentang perempuan dan sebab-sebab mengapa perempuan seringtidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan. 2) Kritik feminis lesbian Jenis ini hanya meneliti penulis dan tokoh perempuan saja. Ragam kritikini masih sangat terbatas karena beberapa faktor, yaitu kaum feminis kurangmenyukai kelompok perempuan homoseksual, kurangnya jurnal-jurnal perempuanyang menulis lesbianisme, kaum lesbian sendiri belum mencapai kesepakatantentang definisi lesbianisme, kaum lesbian banyak menggunakan bahasaterselubung. Pada intinya tujuan kritik sastra feminis-lesbian adalah pertama-tamamengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian. Kemudianpengkritik sastra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkanpada diri penulis atau pada teks karyanya. 11
  • 12. 3) Kritik sastra feminis sosialis Kritik ini meneliti tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sosialis,yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwakaum perempuan adalah kelas masyarakat yang tertindas. 4) Kritik sastra feminis-psikoanalistik Kritik ini diterapkan pada tulisan-tulisan perempuan, karena para feminispercaya bahwa pembaca perempuan biasanya mengidentifikasikan dirinya denganatau menempatkan dirinya pada si tokoh perempuan, sedang tokoh perempuantersebut pada umumnya adalah cermin penciptanya. 5) Kritik feminis ras atau etnik Kritik feminis ini berusaha mendapatkan pengakuan bagi penulis etnik dankaryanya, baik dalam kajian perempuan maupun dalam kanon sastra tradisionaldan sastra feminis. Kritik ini beranjak dari diskriminasi ras yang dialami kaumperempuan yang berkulit selain putih di Amerika (Saraswati, 2003:156) 6) Kritik yang mengkaji penulis-penulis perempuan Dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastraperempuan, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur penulis perempuan. Disamping itu, dikaji juga kreativitas penulis perempuan, profesi penulis perempuansebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulisperempuan. 1.3.2.2 Ketimpangan Jender Jender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yangdibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir beberapaanggapan tentang peran sosial budaya laki-laki dan perempuan. Bentuk sosialperempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, emosional, dankeibuan. Adapun laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sifat-sifatitu dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu. Pemahaman konsep jender sesungguhnya dalam rangka menjelaskanmasalah hubungan kemanusiaan (Fakih, 2000:6). Adapun jender sifat yang 12
  • 13. melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosialmaupun kultural (Fakih, 2000:8). Konsep jender sesungguhnya berkaitan denganbudaya. Keterkaitan itu menyebabkan wacana jender menjadi sebuah fenomenayang melintas batas-batas budaya. Jender muncul karena perkembangan pola pikirmanusia mengenai kedudukan perempuan bersama laki-laki dalam kehidupanbermasyarakat. Dalam jender dikenal sistem hirarki yang menciptakan kelompok-kelompok yang bersifat operasional, kelompok tersebut saling bergantung ataubahkan bersaing untuk mempertahankan kekuasaan masing-masing (Moore dalamAbdullah, 1997:87). Ann Oakley menyatakan bahwa hubungan yang berdasarkanjender adalah: 1) hubungan antara manusia yang berjenis kelamin berbeda dan itu adalah hubungan hirarki yang menimbulkan masalah sosial. 2) Jender adalah konsep yang cenderung deskriptif daripada eksplanatoris tentang tingkah laku kedudukan sosial dan pengalaman antara laki-laki dengan perempuan. 3) Jender memformulasikan bahwa hubungan asimetris laki-laki dan perempuan sebagian order atau normal (Abdullah, 1997:284). Ketimpangan jender terbentuk tidak serta merta dalam suatu masyarakat.Berbagai faktor penyebab adanya ketimpangan jender adalah: 1) Adanya organisasi laki-laki yang sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berkembang secara maksimal. 2) Laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. 3) Kultur yang selalu memenangkan laki-laki telah mengakar di masyarakat. 4) Norma hukum dan kebijakan politik yang diskriminatif. 5) Perempuan sangat rawan pemerkosaan dan pelecehan seksual dan bila ini terjadi akan merusak citra keluarga dan masyarakat (Fakih, 2001:12). Dalam karya sastra, permasalahan mengenai jender merupakan bentukandari kebudayaan khusus bentukan budaya patriarki yang mendudukan posisiperempuan sebagai inferior sedangkan laki-laki sebagai superior. Berarti jender 13
  • 14. itu menggambarkan tentang perbedaan status sosial antara laki-laki danperempuan. Hal ini menunjukkan bahwa jender dan jenis kelamin yaitu feminin-maskulin ditentukan secara kultural, sebagai hasil pengaturan kembaliinfrastruktur material dan superstruktur ideologis. Oleh karena itu, feminitasmengandung pengertian psikologis kultural seseorang tidak dilahirkan ”sebagai”perempuan, melainkan ”menjadi” perempuan (Ratna, 2004: 184-185). Jender merupakan konstruksi sosial yang oleh masyarakat tradisional-patriarki dibentuk untuk membedakan laki-laki dan perempuan. Munculnya istilah”jender ” digunakan untuk mereduksi feminitas dan maskulinitas sebagai batasanyang sama dengan suatu jenis kelamin pada individu. Peran jender adalah peranyang dibuat oleh masyarakat untuk laki-laki dan perempuan. Jender ini lebihbersifat performatif, berarti identitas jender seseorang yang dihasilkan melaluipenampilan (performance) dan permainan peran (role-playing) (Judith Butlerdalam Cavallaro, 2004: 196). Selden (1996: 137) memberikan gambaran bahwa perempuan terlihatdalam suatu hubungan berat sebelah dengan laki-laki. Laki-laki adalah yang satu.Dan perempuan adalah yang lain. De Beauvoir (Selden, 1996: 137)mendokumentasikan bahwa wanita telah dibuat lebih rendah dan dalam tekananini menjadi berlipat ganda oleh keyakinan para laki-laki bahwa perempuan adalahlebih rendah kodratnya. Hal ini menandakan bahwa jender menempatkan posisiperempuan berada di bawah laki-laki. Laki-laki menduduki peran superioritas danperempuan hanya berperan sebagai inferioritas. Istilah patriarki sendiri oleh Milletdalam Selden (1996: 139) mengartikan sebagai ”pemerintahan ayah” untukmenguraikan sebab penindasan wanita. Patriarki meletakkan perempuan di bawahlaki-laki atau memperlakukan perempuan sebagai inferioritas. Sistem patriarkiyang telah mengakar dalam budaya masyarakat tradisional ini yang ingindidekonstruksi oleh kaum feminis. Ketimpangan jender ini secara teratur membentuk emansipasi wanita.Ketidakadilan ini membangkitkan kaum perempuan untuk menuntut persamaanhak dengan lelaki. Emansipasi sendri berasal dari kata ”emancipacio” (latin), yangartinya persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan (Ratna, 2005: 224). 14
  • 15. Dalam hal ini, emansipasi lebih banyak dikaitkan dengan gerakan perempuandalam menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Awal mula emansipasi inidimulai oleh revolusi Amerika (1776) dan revolusi Perancis (1789) terhadapperjuangan perempuan yang menentang subordinasi intelektual perempuan danmenuntut keadilan antara perempuan dan laki-laki di lingkungan pendidikan(Cavallaro, 2004: 201). Gerakan emansipasi ini kerap diartikulasikan melaluirepresentasi-representasi, citra-citra dan simbol-simbol kultural yangmemasukkan khayalan dan cita-cita yang berlainan.I.4 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji novel PerempuanKembang Jepun karya Lan Fang adalah deskriptif kualitatif. Metode deskriptifadalah metode yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secarasisitematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubunganantar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1988:63). Analisis secara kualitatifdifokuskan pada penunjukkan makna, demakalah, penjernihan dan penempatandata pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalambentuk kata-kata (2007:257). Pengkajian ini bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasikualitatif dengan pendemakalahan yang teliti dan penuh nuansa untukmenggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (individu atau kelompok),keadaan fenomena, dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputianalisis dan interpretasi (Sutopo, 2002:8-10). Pengkajian deskriptif menyarankanpada pengkajian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta ataufenomena yang secara empiris hidup pada penuturnya (sastrawan). Artinya, yangdicatat dan dianalisis adalah unsur-unsur dalam karya sastra seperti apa adanya. Dalam penelitian ini penulis mengungkapkan data-data yang berupa kata,frase, dan kalimat yang ada dalam novel Perempuan Kembang Jepun karya LanFang. Permasalahan-permasalahannya dianalisis dengan menggunakan teorifeminisme. 15
  • 16. Selanjutnya, teknik pengumpulan data diperoleh melalui studi pustaka.Tekni yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat(Subroto dalam Imron, 2003). Teknik simak adalah dengan membaca karya sastratersebut kemudian dianalisis. Sedangkan teknik catat adalah teknik yangdigunakan untuk mengumpulkan data yang terdapat dalam sebuah karya sastratersebut kemudian ditulis dalam bentuk catatan. Data yang berhasil digali,dikumpulkan, dan dicatat dalam kegiatan penelitian harus diusahakan kemantapandan kebenarannya. Oleh karena itu, setiap penelitian harus memilih danmenentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yangdiperoleh. Pengumpulan data dengan benar-benar diperlukan oleh peneliti(Sutopo, 2002:78). Sumber-sumber tertulis yang digunakan dipilih sesuai denganmasalah dan tujuan pengkajian sastra, dalam hal ini ditinjau dari segi sastrafeminis. Teknik simak dan catat adalah instrumen kunci dalam melakukanpenyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data yaitu karyasastra sebagai sasaran penelitian yang berupa teks novel Perempuan KembangJepun untuk memperoleh data yang diinginkan. Teknik yang dilakukan setelah mengadakan pengumpulan data adalahanalisis data. Analisis data adalah faktor yang penting dalam menentukan kualitasdari hasil penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka datayang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif pula. Menurut Sutopo(2002:95), analisis kualitatif dapat digolongkan ke dalam metode deskriptif yangpenerapannya bersifat menuturkan, memaparkan, memberikan, menganalisis, danmenafsirkan. Sebagai kajian struktural analisis yang digunakan dalam penelitian inimenggunakan teknik pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffateredalam Imron, 1995: 42). Pada tahap ini, pembaca menemukan arti (meaning)secara linguistik (Abdullah dalam Imron, 1995: 43). Realisasi dari pembacaanheuristik ini dapat berupa sinopsis (Riffaterre dalam Imron, 1995: 43). Denganmempergunakan teknik pembacaan heuristik, pembaca melakukan interpretasisecara referensial melalui tanda linguistik. Dalam tahap ini pembaca mampumemberi arti bentuk linguistik yang mungkin saja tidak gramatikal. Pembacaan 16
  • 17. ini berasumsi bahwa bahasa bersifat referensial, dalam arti bahasa harusdihubungkan dengan hal-hal yang nyata. Selanjutnya teknik pembacaan hermeneutika yang pada dasarnya suatumetode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yangdiperlukan sebagai teks tersebut untuk mencari arti dan maknanya. Metode inimengisyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan keadaan masa lampauyang tidak dialaminya dan kemudian dibawa pada keadaan masa sekarang.Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika tidak hanya memandang teksdan berusaha menyelami kandungan makna literal. Akan tetapi lebih dari itu,hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison-horison yang melingkupi teks tersebut. Horison yang dimaksud dalam hal iniadalah horison teks maupun horizon pengarang. Oleh karena itu, diharapkanadanya suatu upaya pemahaman atau penafsiran yang menjadi kegiatanrekontruksi dan reproduksi makna teks. Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika memperhatikan tiga halsebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran, yaitu teks, konteks,kemudianmelakukan upaya kontekstual (Fais, 2002: 11-12). Hubungan antara heuristik danhermeneutik dapat dipandang sebagai hubungan yang bersifat gradasi, sebabkegiatan pembacaan dan kerja hermeneutik yang oleh Riffaterre juga sebagaipembaca retroaktif yang memerlukan pembacaan berkali-kali dan kritis(Nurgiyantoro, 1995: 35). Terkait novel perempuan Kembang Jepun, dengan pembacaan heuristikdan hermeneutik nantinya dapat menghidupkan dan mengkonstruksikan sebuahteks dalam jaringan interaksi antara pembicara, pendengar, dan kondisi batin sertasosial yang melingkupinya agar sebuah pertanyaan tidak mengalami alienasi danmenyesatkan pembaca. 17
  • 18. BAB II GAMBARAN UMUM Kisah pada novel Perempuan Kembang Jepun sangat berhubungandengan masyarakat dan kehidupan yang melingkupi tokoh-tokoh yang terdapat didalamnya. Kehidupan yang digambarkan di dalam novel adalah kehidupan sosialdi Kota Surabaya pada tahun 1941-1942, khususnya di Jalan Kembang Jepun. Haltersebut digambarkan dalam suasana kelab-kelab hiburan yang ada di sekitar jalanKembang Jepun. Berikut cuplikannya. ”Tentara-tentara Jepang juga langsung merayakan kemenangan dengan berpesta pora di kelab-kelab hiburan. Menenggak sake sampai mabuk, lalu mencari kehangatan tubuh perempuan yang bisa menyuntik mereka dengan semangat baru” (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 113). Selain itu, dalam novel juga diceritakan pada saat terjadi pertempuran disekitar Kembang Jepun. Hal tersebut dapat dilihat dalam cuplikan sebagai berikut. Beberapa hari ini Kembang Jepun yang biasanya selalu ramai menjadi lengang. Toko-toko Cina, restoran, dan kelab-kelab hiburan menutup diri. Jalan sepi. Tidak tampak sepeda, pedati, dokar, atau becak lalu-lalang seperti biasanya. Juga tidak kelihatan serdadu-serdadu Belanda yang biasanya melakukan patroli. Keadaan menjadi tegang. Terompet dan peluit bergantian menjerit. Bunyi senapan mesin berat dan ringan menderu-deru membelah udara. Dengung pesawat terbang dan tank membuat jalanan bergetar. Suara ledakan di mana-mana. Lalu bau mesiu menyeruak di antara jeritan kepanikan. Udara menjadi anyir dengan bau darah orang terluka dan mayat bergelimpangan. Suasana terasa mencekam dan menakutkan” (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 108). Terkait cerita, bagian awal dari Novel ini adalah prolog yang merupakanpembuka awal dari seluruh cerita. Selain prolog, novel ini juga diakhiri denganepilog. Jika dilihat dari dua bagian ini, jelas tokoh Lestari memegang perananpenting karena ia yang menghubungkan dari beberapa tokoh yang ada disekitarnya. Selanjutnya, lebih khusus pengarang menceritakan secara terperinciberdasarkan tokohnya yang dibagi dalam beberapa bagian. Pertama, tokoh Sulis 18
  • 19. (aku). Pada awal bagian pertama ini memperlihatkan si aku (Sulis) sebagai sosokistri yang setia pada suami pada kondisi apapun. Hal ini terlihat pada kutipanberikut. Aku berkali-kali menoleh ke pintu dengan pandangan gelisah. Jarum jam beker usang peninggalan si mbah telah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi mas Sujono – suamiku – belum pulang juga. Belakangan ini ia memang sering pulang larut malam. Bahkan terkadang sampai pukul dua dini hari (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 35). Sekilas, Sulis memang tampak setia. Namun kesetiaan dan kesabarantersebut berubah seperti yang terlihat pada kutipan berikut. Tapi sekarang aku tidak pernah melakukan hal itu lagi. Bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk merawatnya seperti dulu. Aku biarkan, ia muntah tanpa memijitinya. Aku bahkan membiarkannya tidur dengan pakaian kotor berdebu bercampur basah keringat dan bekas muntahan tuak (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 35-36). Permulaan konflik dalam cerita adalah ketika terjadi pertengkaran antaraSulis dengan Sujono (suaminya). Pertengkaran terjadi karena Sujono sebagaiseorang suami tidak bertanggung jawab untuk menghidupi anak dan istrinya.Selain itu, Sulis merasakan ada sesuatu yang mencurigakan. Berikut kutipannya : Tetapi ini... dalam tiga bulan ia baru melakukannya dua kali! Itupun dalam keadaan mabuk sambil memanggil sebuah nama: ”Matsumi...” Matsumi?! Bukan nama Indonesia apalagi nama Jawa. Siapakah dia...? Pertanyaan- pertanyaan itu terus mengusikku (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 83). Selanjutnya, peningkatan konflik terjadi ketika Matsumi alias Tjoa KimHwa, seorang geisha, mulai jatuh cinta, sesuatu yang seharusnya dihindari olehperempuan yang berprofesi sebagai geisha. Hal ini dapat dilihat pada kutipanberikut. Aku berciuman! Kusadari........ aku sudah terlibat perasaan dengan Sujono. Sujono membuat dunia berbeda di mataku. Ia memujaku, Ia mencintaiku. Ia ingin memilikiku. Ia begitu menyukaiku. Sujono seperti sake. Ia manis. Ia memabukkan. Ia melambungkan. Ia adalah mimpi. Sejak remaja aku sudah dipulas menjadi Geisha. Aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta, mencintai, ataupun dicintai. Aku tidak pernah dicumbu dengan mesra. Aku 19
  • 20. hanya merasa mempunyai kewajiban memberikan kepuasan kepada semua lelaki yang meniduriku (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 137). Kisah selanjutnya, Matsumi merasa kecewa dengan keputusannya hidupbersama Sujono. Namun ternyata keputusannya untuk jatuh cinta pada Sujono,lelaki beristri dan beranak dan mengandung anak dari benih Sujono adalah awalpetaka dalam kehidupan Matsumi. Cinta yang semula madu akhirnya berubahmenjadi racun. Akhirnya Matsumi menyadari bahwa ia hanya diperalat secaraekonomi dan seksual oleh Sujono, lelaki yang semula sangat dicintai. Berikutkutipannya. Sujono selalu pulang ke rumahnya sendiri setelah mengakhiri permainan ranjang. Bukan itu saja. Ia juga semakin tergantung secara ekonomi kepadaku untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Ia sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Semakin lama aku tidak bisa menipu perasaanku sendiri. Kenyataan membuka mataku bahwa hidup tidak cukup dilakoni hanya dengan cinta dan gairah. Aku merasa ia hanya membutuhkan uang dan kenikmatan ranjang semata dariku. Aku merasa ia mempergunakanku (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 146). Jelas pada bagian ini Matsumi mengungkapkan kekecewaannya terhadapSujono. Lelaki yang telah dipilihnya diantara sekian banyak pria yangmengaguminya, lelaki yang ia harapkan bisa membawa kebahagiaan ternyatajustru membuatnya merasakan penyesalan bahkan trauma untuk berhubungandengan pria lain. Penderitaan Matsumi semakin menjadi-jadi setelah kelahiran anakperempuannya yang kemudian diberi nama Kaguya (kelak namanya diubahdengan nama Lestari). Kelakuan Sujono semakin menjadi-jadi ketika Matsumimengutarakan niatnya untuk kembali bekerja sebagai Geisha di kelab hiburanHanada-san, sesuatu yang ditentang oleh Sujono. Bukan larangan Sujono yangmembuat harga diri Matsumi sebagai manusia berada pada titik terendah, tapihujatan, hinaan, dan makian dari Sujono. Hal ini dapat dilihat pada kutipanberikut. 20
  • 21. Aku menahan perih di hatiku mendengar hujatannya. Aku tidak tahu apakah itu hinaan, makian, atau bentuk kecemburuan. Tetapi apapun itu, ia melukai harga diriku. Aku memang seorang Geisha. Aku seorang penghibur. Aku seniwati. Aku menikmati kehidupanku sebagai Geisha karena dunia itu telah menjadikan aku seorang putri di dalam istana pasirku (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 151). Matsumi merasakan sebuah Penderitaan yang berkepanjangan. Lebihmendalam, ia merasakan kesadaran bahwa selama ini hanya menjadi pemuasnafsu dan diperalat secara ekonomi, ditambah dengan kehilangan harga diri telahmembangkitkan kesadaran dirinya. Mabuk ternyata hanya sementara. Ketika aku sadar dari mabukku, aku menemukan Sujono tidak lebih seperti ular. Ia berbisa. Ia pahit. Ia tuba. Ia racun Ia rendah… … Akhirnya cinta berubah menjadi kebencian. Ia menyakitiku! Aku benci sekali padanya (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 152). Puncak kebencian Matsumi mulai berakhir dengan keputusannya untukmeninggalkan Indonesia dan kembali ke Jepang. Pada puncak penderitaannya ini,Matsumi membuat keputusan yang tersulit dalam kehidupannya, yaknimeninggalkan Sujono. Terlebih meninggalkan Kaguya anak perempuannyakarena keadaan saat itu tidak memungkinkan dia membawanya serta kembali kenegaranya, Jepang. Sempat ada keraguan dalam diri Matsumi dalam membuatkeputusan, karena menyangkut diri Kaguya, anak perempuan satu-satunya yangsangat dicintainya. Berikut kutipannya. Aku tergugu. Bingung sekali rasanya. Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain yang lebih baik. Dadaku bergemuruh karena jutaan rasa yang tidak bisa kuungkapkan. Apakah memang tidak ada jalan lain untuk anakku? Kenapa begitu sulit membuat keputusan? Seumur hidup aku tidak pernah membuat keputusan. Dan ketika aku belajar untuk memutuskan apa yang kulakoni dalam hidup, ternyata keputusanku salah besar. Keputusanku justru menjadi malapetaka besar bagi hidupku. Ini membuatku takut untuk membuat keputusan lagi. (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 160). 21
  • 22. Setelah melewati perjalanan kisah yang panjang, Novel PerempuanKembang Jepun ini berakhir dengan kebahagiaan. Hal ini ditandai denganpertemuan antara Lestari (Kaguya) dengan ibu kandungnya (Matsumi) yang telahterpisah selama lebih dari 50 tahun (1945-2003). Sebuah pertemuan yang tidakpernah dibayangkan baik oleh Lestari maupun Matsumi, seperti terlihat padakutipan berikut. ”Sujono...?! Wajah perempuan itu pucat pasi, kemudian ia melanjutkan, ”Saya Matsumi...” Suaranya hanya gumam pelan, tapi bagaikan petir menyambar ulu hati Lestari! Lestari merasa bumi yang dipijaknya berputar sepuluh kali lebih cepat (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 32). Pada awalnya pertemuan tersebut sempat menimbulkan rasa canggungatau tidak enak diantara keduanya (Lestari dan Matsumi). Lestari merasakanbahwa Matsumi sangat membenci dan menyalahkan Sujono (ayah Lestari)sehingga mereka terpisah sekian waktu. Padahal di mata Lestari, Sujono adalahpahlawan yang selama ini membesarkan dan melindunginya dengan kasih sayang.Lestari merasa kurang senang dan tidak nyaman ketika Matsumi meluapkankebenciannya kepada Sujono. Perasaan yang muncul semacam pembelaan dirinyaterhadap sang ayah itu, bahkan secara tersirat, Lestari sempat menyesalkankepergian Matsumi meninggalkan dirinya, yang ini dijadikan alasannya untuklebih memihak kepada Sujono, ayahnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipanberikut. Sebetulnya aku tidak suka mendengar ceritanya. Okasan bercerita tentang keburukan Ayah. Padahal Ayah sangat mencintainya, Aku ingin membela Ayah, tapi aku tidak bisa mengucapkannya (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 241). ”Tidak apa-apa, Okasan. Ayah sangat baik dan menyayangiku...”, akhirnya aku menjawab dengan gamang dan terdengar sumbang. Tetapi suaraku parau menahan tangis. Aku mencoba menahan gelombang yang tengah membadai di dadaku. Sebuah jawaban klise dan sangat memihak pada Ayah, bukan? Seakan-akan aku masih ingin menghukum Okasan. Bukankah aku sudah tahu bagaimana ia sangat membenci Ayah? Tetapi aku masih berdiri di pihak Ayah. Kurasa wajar saja dan sudah seharusnya begitu, bukahkah Okasan meninggalkanku? Bukankah Ayah yang selama ini bersamaku? (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 243). 22
  • 23. Namun akhirnya semua kebekuan menjadi cair karena bagaimanapunmereka dihubungkan oleh ikatan cinta kasih antara ibu dan anak. Dua kalimatyang berbeda, diucapkan oleh dua orang yang berbeda, tapi mempunyai inti yangsama-sama cinta. Cinta anak kepada ibu, cinta ibu kepada anak. Terasa begitumanis dan indah. Memang begitu adanya. Hanya cinta ibu dan anak yang palingmanis dan indah. Sebuah kebahagiaan yang sama-sama telah diimpikan begitulama oleh Matsumi dan Lestari. 23
  • 24. BAB III PEMBAHASAN3.1 Kajian Struktural Novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang mengangkat temapencarian cinta sejati. Dalam kehidupan manusia, cinta memiliki sebuah arti yangpenting, karena ada cinta yang layak untuk dipertahankan, ada cinta yang harusdiperjuangkan, ada cinta yang harus dilupakan. Jadi, tema dalam novelPerempuan Kembang Jepun adalah tentang pencarian cinta sejati.Misalnya, dalam kutipan ini, ”Ia selalu merindukan Matsumi. Sampai menjelangakhir hayatnya, cuma nama Matsumi yang selalu disebutnya. Ia selalu inginbertemu kembali dengan Matsumi. Tetapi, keinginannya tidak pernah terwujud”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:260). Novel ini secara jelas menceritakan pula tentang Matsumi yang jugaberusaha untuk melupakan cintanya kepada laki-laki yang telah memberinya anak,yaitu Sujono karena telah meninggalkan luka mendalam bagi dirinya. Misalnyapada kutipan berikut ini, Aku sangat membenci Sujono! Ia membuatku begitu tidak berharga... begitu rendah... begitu hina... karena aku menjadi ibu yang tidak bertanggung jawab...Aku menyumpahinya sampai ke seluruh denyut nadiku. Dalam tiap hembusan napasku, aku cuma meniupkan kebencian pada Sujono. Aku bukan mencari kambing hitam atau melemparkan semua kesalahan kepada Sujono. Bukan. Tapi aku benci telah jatuh cinta padanya! Aku benci mempercayainya! Aku benci melahirkan anaknya! Aku benci pengorbananku tidak ada artinya! Aku benci ketololanku! Aku benci diriku sendiri! (Perempuan Kembang Jepun, 2006:263). Dapat disimpulkan tema umum yang diangkat dalam novel PerempuanKembang Jepun adalah tentang pencarian cinta sejati antara seorang laki-lakidengan seorang perempuan maupun sebaliknya yaitu pencarian cinta sejati antaraseorang perempuan terhadap laki-laki. Seberapun terkenal seseorang tetapmembutuhkan cinta dan kebersamaan. Secara umum, alur dalam Novel Perempuan Kembang Jepun karya LanFang terdiri atas lima (5) bagian dengan prolog dan epilog, setiap bagian bertanda 24
  • 25. tahun, demikian pula prolog dan epilognya. Adapun urutan isi novel itu adalah:prolog (Surabaya, Oktober 2003), Bagian I (Sulis, Surabaya 1941-1942), BagianII (Tjoa Kim Hwa, Surabaya, 1942), Bagian III ( Matsumi, Surabaya 1942-1945),Bagian IV (Sujono, Surabaya 1943-1945), Bagian V (Lestari, Kyoto, Desember2003), dan Epilog (Februari, 2004). Novel yang mengambil latar sosial yang digambarkan adalah kehidupansosial di Kota Surabaya pada tahun 1941-1942, khususnya di Jalan KembangJepun. Hal tersebut digambarkan dalam suasana tempat-tempat hiburan yang adadi sekitar Jalan Kembang Jepun. Berikut kutipannya, ”Tentara-tentara Jepang jugalangsung merayakan kemenangan dengan berpesta pora di kelab-kelab hiburan.Menenggak sake sampai mabuk, lalu mencari kehangatan tubuh perempuan yangbisa menyuntik mereka dengan semangat baru” (Perempuan Kembang Jepun,2006:113). Latar tempat yang digunakan dalam Novel Perempuan Kembang Jepunadalah kota Surabaya. Latar tempat yang digunakan dalam novel ini digambarkansebagai berikut, ”Langit tampak kusam dan awan kelihatan pucat ketika akumenginjakkan kaki di Surabaya. Aku sendiri merasa selusuh angin yang terasagaring menerpa kulit wajahku. Turun dari kapal di pelabuhan Tanjung Perak, akumerasa lega, setidaknya aku tidak terombang-ambing di lautan lagi” (PerempuanKembang Jepun, 2006:87). Selain Surabaya, latar tempat dalam novel PerempuanKembang Jepun adalah Kyoto. Hal tersebut dapat diketahui dari kutipan sebagaiberikut, ”Aku mengenalnya di Kyoto, di tempat hiburan aku bekerja sebagaigeisha. Ia salah satu tamu penting kami. Dan Yuriko-san, pemilik tempat hiburanitu, selalu menyuruhku untuk melayani dan menemani Shosho Kobayashi”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:97). Adapun Latar waktu dalam novel Perempuan Kembang Jepun ini dimulaitahun 1941 (terdapat pada bagian I, hal. 33) sampai dengan bulan Februari 2004(Epilog, hal. 280). Penggambaran waktu adalah ketika angkatan perang Jepangmulai memasuki kota Bandung. Berikut kutipannya, Saat ini semua kekuatan angkatan darat, laut, dan angkatan udara Jepang sudah tidak terbendung lagi. Kudengar kabar, dua hari yang lalu Lapangan Udara Kalijati yang berada empat puluh kilometer dari Bandung sudah 25
  • 26. dikuasai Jepang. Semua pesawat dan perbekalan tentara Belanda dan Inggris di sana sudah dihancurkan. Tentara Jepang sudah memasuki kota Bandung dan telah mencapai Jakarta dan Bogor (Perempuan Kembang Jepun, 2006:109). Selanjutnya terkait tokoh, tokoh-tokoh yang diceritakan pada novel ini diantaranya:1) Matsumi (Tjoa Kim Hwa). Tjoa Kim Hwa adalah nama samaran Matsumi ketika ia baru saja tiba diSurabaya. Pada saat itu situasi sedang genting. Orang-orang Cina sangatmembenci Jepang dan melakukan gerakan anti Jepang mengingat Jepang telahmenjajah Cina dan meninggalkan penderitaan yang dalam. Matsumi diubahnamanya menjadi bermarga Cina. Terlebih lagi karena profesi Matsumi sebagaiseorang geisha. Geisha hanya terdapat di Jepang, sehingga jika ada perempuanJepang menjadi penghibur di luar Jepang, itu akan merendahkan martabat bangsaJepang. Matsumi digambarkan sebagai perempuan yang cantik berkulit putih danbermata sipit. ”Awalnya pengurus kelenteng dan pengungsi lainnya tidak tahubahwa aku dan Kaguya orang Jepang karena aku seputih dan sesipit orang Cina”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:123). Contoh lain, ”Perempuan tua yangmasih terlihat cantik itu diam sejenak sebelum meneruskan ceritanya”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:123). Secara sosiologis, Matsumi berprofesi sebagai geisha dan berkebangsaanJepang. ”Selama aku menjadi geisha, segala teori dan pelajaran yang kudapat dariGion ataupun petunjuk dari Yuriko kulaksanakan untuk menyenangkan laki-laki”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:131). Contoh lain, ”Yuriko pernah berkata,”Tugas seorang geisha hanyalah menghibur. Menyenangkan laki-laki.Memberikan kepuasan sempurna. Bukan ikut terlibat secara perasaan”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:131). Secara psikologis, Matsumi adalah seorang perempuan yang diliputi olehrasa ketakutan dan kegelisahan. Hal tersebut dikarenakan selama ini Matsumimenyamar sebagai perempuan Cina dengan nama Tjoa Kim Hwa. Seperti dalamkutipan berikut, ”Para perempuan itu mencurigaiku sebagai perempuan Jepang, 26
  • 27. tapi tidak bisa membuktikan karena di kelab itu kami semua memang diharuskanberbahasa Jepang dan memakai kimono” (Perempuan Kembang Jepun,2006:133). Selain itu, Matsumi memiliki sifat menghargai terhadap laki-lakisebagaimana layaknya perempuan Jepang. Berikut kutipannya, ”Aku selalumelayaninya sepenuh hati. Bukan sekedar di atas futon, tapi dalam segala hal.Kupersembahkan diriku sebagai perempuan Jepang yang sangat menghargai laki-laki. Walaupun kami punya seorang pembantu, semua kebutuhan Sujono selaluaku yang menyiapkan, aku yang melayaninya” (Perempuan Kembang Jepun,2006:145).2) Lestari Tokoh Lestari, meskipun peranannya tidak terlalu menonjol dalam novelini tetapi mempunyai keterkaitan dengan tokoh utama perempuan. Kemunculantokoh Lestari dalam novel Perempuan Kembang Jepun pada awal dan akhir cerita.Jadi, tokoh Lestari tidak muncul dalam keseluruhan. Tokoh Lestari digambarkansebagai pengelola panti asuhan di Surabaya yang merawat bayi-bayi terlantaryang tidak mempunyai orang tua. Secara fisiologis, Lestari digambarkan sebagaiperempuan yang sudah tua, berusia enam puluh tahun tetapi masih kelihatancantik diusia senjanya. Selain itu, Lestari memiliki mata bulat indah dengansepasang alis tebal dan bulu mata lentik, kulit kuning halus, hidung mancung, danbibir tipis. Misalanya, pada kutipan ini, ”Usianya enam puluh tahun. Tetapi usiasenjanya tidak bisa menyembunyikan bayang-bayang kecantikan masa lalu yangterpeta di wajahnya. Matanya bulat indah dengan sepasang alis tebal dan bulumata lentik, kulitnya kuning halus, hidungnya mancung, bibir tipisnya penuhlekukan yang dalam” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:14). Secara sosiologis, Lestari digambarkan sebagai perempuan yang tidakmenikah dan mengelola sebuah panti asuhan di Surabaya. Selain itu, Lestarimemiliki seorang anak angkat perempuan bernama Maya. Berikut kutipannya,”Lestari tidak menikah. Karena itu banyak orang heran kenapa ia tidak menikah,atau tepatnya tidak mau menikah”. ”Ia memiliki seorang anak angkat perempuan 27
  • 28. bernama Maya yang dulunya juga anak jalanan yang ditinggalkan begitu saja dipanti asuhannya oleh seorang pengemis” (Perempuan Kembang Jepun,2006:15).3) Sulis Sulis adalah tokoh tambahan dalam novel Perempuan Kembang Jepun.Meskipun hanya tokoh tambahan dalam novel tetapi tetap mempunyai keterkaitandengan jalan cerita dalam novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang.Secara fisiologis, Sulis digambarkan sebagai perempuan yang tidak terlalu cantikdan berkulit sawo matang dengan bentuk wajah persegi dengan kedua rahangyang kokoh serta bermata besar. Hal ini dapat diketahui dalam kutipan sebagaiberikut, ”Memang aku tidak terlalu cantik. Itu kusadari benar. Kulitku sawomatang terbakar matahari. Telapak tanganku kasar dan besar. Sedangkan ujungtumitku pecah-pecah. Wajahku tidak bulat telur dan njawani seperti Yu Sih,malah persegi dengan kedua rahang yang kokoh. Mataku juga tidak sayu danredup seperti Yu Ning. Mataku besar, dengan bola mata yang nyalang. Aku kerapmenyumpahi wajahku yang buruk, sehingga tidak mendapat banyak pelangganseperti Yu Ning dan Yu Sih” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:43). Secara sosiologis, Sulis bekerja sebagai penjual jamu gendong dan sudahmenikah. Berikut kutipan ”Awalnya, aku hanya menawarkan jamu gendongberkeliling kepada perempuan-perempuan yang berada di balik temaram lamputeplok kamar-kamar bordil itu. Perempuan-perempuan yang nyalang di waktumalam dan memejamkan mata di waktu siang. Bakul yang ku gendong berisibotol-botol jamu yang terbuat dari ramuan cabe lempuyang, beras kencur, daunsirih, galian singset, dan sinom. Semuanya ramuan untuk perempuan”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:41). Secara psikologis, Sulis adalah perempuan yang pemberani tetapi selaludihantui oleh rasa takut dan cemas menghadapi masa depannya. Hal tersebutdapat dilihat dalam kutipan berikut ini:”Terus terang semakin lama aku semakinberani padanya. Menurut Mas Sujono, aku semakin kurang ajar. Ia paling tidaksuka bila aku mendelik dan melotot kepadanya. Menurutnya, tidak pantas seorangistri berlaku demikian terhadap suami” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:78). 28
  • 29. 4) Sujono Sujono, secara fisiologis digambarkan sebagai sosok laki-laki yang melikitubuh tinggi dan kurus kerempeng dengan bahu sempit dan menurun. Cekungmatanya dalam dengan lipatan yang lebar serta hidung tinggi dan bibir yang tipis.Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini. ”Tubuh Mas Sujono tinggidan kurus kerempeng. Bahunya sempit dan menurun. Dadanya tipis. Cekungmatanya dalam dengan lipatan yang lebar. Hidungnya tinggi dan bibirnya sangattipis” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:36). Secara sosiologis, Sujono adalah seorang kuli di toko kain Babah Oen dansudah menikah. Berikut kutipannya, ”Mas Sujono adalah kuli di toko kain BabahOen—orang Cina terkaya di sepanjang Jalan Coklat” (Perempuan KembangJepun, 2006:46). Secara psikologis, Sujono memiliki sifat kasar dan jahat baik perkataanmaupun perbuatan. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan sebagai berikut : Dan, seketika itu juga, tangannya melayang meninju mataku! ”Kamu jangan melotot padaku!” sentaknya. Aku sempoyongan, terhuyung, dan terlempar, sambil menutup mataku yang sakit karena linangan air mata. Tetapi perih di hatiku lebih tak terkatakan. Perihnya tidak bisa dibasuh dengan cucuran air mata. Aku terjerambap di lantai. Terletang dengan punggung terasa nyeri karena terempas begitu keras. (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 78). Selain kasar dan jahat, Sujono juga sosok lelaki yang kurang bertanggungjawab terhadap keluarga. Berikut kutipannya. Kupikir ia laki-laki yang bisa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak istri. Laki-laki yang mau membanting tulang untuk kehidupan keluarga. Aku tidak bermimpi muluk ingin hidup mewah seperti kaum priyayi yang bisa memakai kebaya wangi. Atau ingin menjadi seperti istri wedana yang selalu mengenakan kain-kain baru. (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 67).Juga terdapat dalam kutipan sebagai berikut. Sementara itu Mas Sujono memang masih bekerja di toko Babah Oen sebagai kuli angkat kain dengan upah bulanan, tapi upah yang didapatnya tidak pernah sampai ke tanganku karena habis dipakainya sendiri untuk membeli rokok, tuak untuk bermabuk-mabukan di ujung gang, dan berjudi” (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 65). 29
  • 30. Selain itu, secara psikologis Sujono juga memiliki sifat cemburu danegois dengan tingkat keprotektifan yang begitu tinggi. Terlihat dari keegoisannyauntuk memiliki dan hanya ia yang berhak memiliki Matsumi. Berikut kutipannya : ”Aku mencintainya setengah mati. Aku tergila-gila padanya. Aku cemburu dan tidak rela melihat ia melayani tamu-tamu. Aku marah mencium bau laki-laki lain di tubuhnya. Aku tersiksa membayangkan keringat laki-laki lain menetes di kulitnya” (Perempuan Kembang Jepun, 2006: 181).3.2 Kajian Feminisme Wanita dianggap sebagai berlian dengan faktor sosial budaya pembacanyadan dalam hal ini sikap baca menjadi faktor yang penting. Peran pembaca dengansendirinya tidak dapat dilepaskan dari sikap bacanya. Citra wanita dalam karya ituterkonkretkan dan mendapat makna penuh dengan latar belakang keseluruhansistem komunikasi sastra, yaitu penyair, teks, dan pembaca. Pembaca yang“membaca sebagai wanita” dipertimbangkan dalam kritik sastra feminis(Sugihastuti, 2000: 38-39). Sebagai sebuah karya imajiner, novel ini menawarkan berbagaipermasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarangmenghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yangkemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya.Fiksi adalah karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab darisegi kreativitas sebagai karya seni (Nurgiyantoro, 2007:2-3). Novel lazimmenceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya denganlingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya denganTuhan. Konsep jender, menurut Fakih (2001:8) adalah suatu sifat yang melekatpada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupunkultural. Adapun pengertian jender menurut Demartoto (2005:8) adalahpembagian peran dan tanggung jawab baik perempuan maupun laki-laki yangditetapkan secara sosial dan kultural. Widanti (2005:8) mengemukakan bahwajender adalah interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin dalam 30
  • 31. hubungan antara laki-laki dan perempuan. Jender sebagai konstrkusi sosialmembentuk identitas serta pola-pola perilaku dan kegiatan laki-laki danperempuan. Sejak manusia lahir, konstruksi sosial ikut pula dilekatkan bersamaandengan jenis kelamin yang dimilikinya. Seakan-akan perbedaan peran jendermemang sudah ada dan adalah kodrat manusia, ditambah dengan prosessosialisasi jender yang sudah sangat lama yang didukung dengan adanya legitiasiagama dan budaya, maka semakin kuat interpretasi seseorang bahwa perbedaanperan, posisi, serta sifat perempuan dan laki-laki adalah adalah kodrat. Padahalbaik peran, posisi dan sifat ini adalah bentukan sosial dan budaya yang disebutsebagai jender. Novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang yang dianalisismenggambarkan bagaimana fenomena ini terjadi melalui realitas sastra. Adapunfenomena ketimpangan yang terjadi meliputi hal berikut. 1) Marginalisasi Perempuan Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan,tetapi juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat, atau kultur dan bahkannegara. Marginalisasi perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalambentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat-istiadat maupun tafsir agama.Proses marginalisasi yang mengakibatkan ketimpangan sebenarnya banyak terjadidalam masyarakat dan negara. Menimpa pada kaum laki-laki maupun kaumperempuan yang disebabkan oleh berbagai kejadian, misalnya penggusuran,proses eksploitasi, dan sebagainya. Namun demikian, terdapat salah satu bentukketimpangan atas satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh jender. Haltersebut dapat diketahui dalam kutipan berikut, ”Cinta?! Tidak pernah ada kata cinta dalam kamus hidup seorang geisha. Geisha adalah boneka porselen cantik yang tidak boleh retak. Cinta membuat boneka porselen itu bukan sekedar retak, tapi hancur berkeping- keping! Kau benar-benar perempuan tidak tahu diri! Tidak tahu untung! Tidak tahu membalas budi! Bisa-bisanya kau menghancurkan hidup dan masa depanmu sendiri. Perempuan bodoh! Keparat! Bakayaro! Hanada- san menempelengi wajahku berulang-ulang sambil memaki panjang-lebar. Kubiarkan Hanada-san melampiaskan marah sepuas hatinya. Ia bukan saja 31
  • 32. menempelengi dan menjambakku, tapi juga menendang dan menginjak kepalaku. Setelah merasa cukup menghukumku, ia berdiri, memandangku dengan sorot mata yang tidak bisa kulerai maknanya. Dengan suara sedingin es yang bisa membuat gigi gemelutuk, ia berkata, ”Pergilah... jangan pernah kembali lagi ke sini...” Setelah meludahi wajahku, ia pergi tanpa menoleh lagi kepadaku. Aku tersaruk sendiri di lantai, tapi aku tetap tidak menangis (Perempuan Kembang Jepun, 2006:142-143). Pada bagian ini, terlihat dengan jelas ketidakadilan jender yang menimpaperempuan yang tergambarkan pada tokoh Matsumi. Berawal dari cinta, yangdianggap tidak ada hak untuk mencintai ataupun dicintai. Hal ini menunjukkanketimpangan jender yang jelas sangat mendiskriminasikan si tokoh terutama jikadibandingkan manusia pada umumnya yang berhak dicintai dan mencintai lawanjenisnya. Lebih tragis, ketimpangan terlihat pada kekerasan yang dialami si tokohyang jelas dilakukan oleh tokoh laki-laki, yang menunjukkan ketidakberdayaanwanita dalam menghadapi laki-laki. 2) Subordinasi Perempuan Istilah subordinasi mengacu pada peran dan posisi perempuan yang lebihrendah dibandingkan peran dan posisi laki-laki. Subordinasi perempuan berawaldari pembagian kerja berdasarkan jender dan dihubungkan dengan fungsiperempuan sebagai ibu. Kemampuan perempuan ini digunakan sebagai alasanuntuk membatasi perannya hanya pada peran domestik dan pemeliharaan anak,jenis pekerjaan yang tidak mendatangkan penghasilan yang secara berangsurmengantarkan perempuan sebagai tenaga kerja yang tidak produktif dan tidakmenyumbang kepada proses pembangunan. Misalnya pada kutipan berikut, Bertahun-tahun dalam perkawinan kami, aku merasa cuma sebagai babu yang dibutuhkan untuk mencuci, memasak, membuat kopi, dan selalu meributkan uang belanja yang kurang. (Perempuan Kembang Jepun, 2006:79). Dari contoh kutipan ini, pandangan jender ternyata banyak menimbulkansubordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atauemosional sehingga perempuan tidak dapat tampil memimpin, berakibatmunculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. 32
  • 33. Subordinasi karena jender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yangberbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. 3) Stereotipe Perempuan Stereotipe jender adalah citra baku tentang individu atau kelompok yangtidak sesuai dengan kenyataan empirik yang ada. Pemikiran stereotipe tentangciri-ciri laki-laki dan perempuan biasanya dikaitkan dengan peran jender. Citrabaku yang ada pada laki-laki adalah kecakapan, keberanian, pantang menangis,agresif, dan sebagainya yang berkaitan dengan peran jender ini yaitu sebagaipencari nafkah utama dan pemimpin keluarga. Citra baku yang ada padaperempuan adalah memiliki rasa kasih sayang, kemampuan mengasuh,kehangatan, lembut, pemalu, cengeng. Dalam kenyataan empirik, citra tersebutseringkali tidak sesuai. Perempuan juga memiliki kecakapan, keberanian, pantangmenangis, agresif, dan sebagainya. Sebaliknya, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga cengeng, lembut, kasih sayang, pemalu, mampu melakukan pengasuhandan sebagainya. Misalnya pada kutipan berikut, Terus terang, semakin lama aku semakin berani padanya. Menurut Mas Sujono, aku semakin kurang ajar. Ia paling tidak suka bila aku mendelik dan melotot kepadanya. Menurutnya, tidak pantas seorang istri berlaku demikian terhadap suami. Tetapi aku merasa pantas saja berlaku seperti itu. Semakin hari ia sama sekali tidak kelihatan seperti kepala keluarga yang bertanggung jawab! Aku semakin tidak menghargainya (Perempuan Kembang Jepun, 2006:78). Kondisi terbalik saat laki-laki justru bersifat yang cenderung diidentikkansebagai sifat-sifat yang dimiliki perempuan. Misalnya,gambaran bahwa laki-lakijuga mempunyaeni sifat cengeng, perhatian,lembut serta kasih sayang dan mampumelakukan pengasuhan dapat diketahui dari kutipan sebagai berikut, Aku tahu keadaan Lestari, maka kasihku kepadanya semakin besar. Aku bangun lebih pagi supaya bisa memandikan dan menyuapi Lestari lebih dulu sebelum bekerja ke pelabuhan. Aku tidak mau Lestari tampak kotor dan kelaparan.” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:226). Sekilas, stereotipe tampak seperti pelabelan atau penandaan terhadap satukelompok tertentu. Namun demikian, stereotipe selalu merugikan dan 33
  • 34. menimbulkan ketimpangan . Salah satu jenis stereotipe itu adalah yang bersumberdari penandaan (stereotipe) yang dilekatkan pada mereka. Misalnya, penandaanyang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek adalah dalam rangkamemancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan ataupelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe ini. 4) Kekerasan terhadap Perempuan Permasalahan ketidaksetaraan jender ada kalanya sangat merugikan kaumperempuan. Ketidaksetaraan inilah yang melahirkan kekerasan yang dilakukanlelaki terhadap perempuan. Misalnya, salah satu kekerasan terhadap satu jeniskelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan jender. Kekerasan yangdisebabkan oleh jender ini disebut jender -related violence. Pada dasarnya,kekerasan jender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalammasyarakat. Banyak macam dan bentuk kejahatan yang dapat dikategorikansebagai kekerasan jender, di antaranya : a) Perkosaan dalam perkawinan Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk dapatpelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Lebih tragis, jika kasuspemerkosaan ini dianggap sebagai suatu hal yang lazim, bukan sebuah kesalahan.Misalnya, jika ada kasus pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakatcenderung menyalahkan korbannya. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugasutama kaum perempuan adalah melayani suami. Ketidakrelaan ini seringkalitidak dapat terekspresi disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya ketakutan, malu,keterpaksaan baik ekonomi, sosial maupun kultural, serta tidak ada pilihan lain. Belum tuntas rasa sakitku, belum sempurna kesadaranku, Mas Sujono bagaikan banjir banding, bagaikan harimau kelaparan, datang menerpa, menggulung, menindihiku! Ia mengangkat kedua pahaku tinggi-tinggi, melipatnya sampai ke atas dada, mendorong kepalaku sampai membentur dinding kamar. Aku merintih kesakitan. Air mataku membanjir, tapi ia tidak peduli. Ia menyetubuhiku sekali lagi dengan kasar dan lama sampai keringatnya bercucuran bagaikan curahan gerimis. Sampai akhirnya ia 34
  • 35. menghentikannya sendiri tanpa muncratan cairan hangat itu….. Ia memerkosaku!!! (Perempuan Kembang Jepun, 2006:78—79). b) Domestic violence/Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Domestic violence muncul sebagai bagian dari ketidaksetaraan jenderkarena laki-laki dianggap terlalu mendominasi dalam rumah tangga. Konsep yangseringkali keliru adalah bahwa laki-laki memiliki wewenang penuh, termasukdalam mengatur seluruh rumah tangga bahkan pada hal-hal yang seringkal tidakmanusiawi. Sebenarnya, bukan sebuah alasan kuat ketika “kekuasaan dominan”ini dijadikan dalam rumah tangga jika ternyata berimbas pada KDRT. Misalnya,pada novel ini sangat terlihat bentuk dominasi laki-laki atas perempuan yangberimbas pada kekerasan terhadap wanita. Berikut contoh kutipannya. ”Dan, seketika itu juga, tangannya melayang meninju mataku!” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:78).Contoh lain, ”Besoknya, tampaklah gambar biru di sekeliling mataku dan seluruh tulang belulangku seakan remuk sehingga tidak bisa bangun dari tikar. Mataku sembab dan bengkak karena bekas pukulan juga karena menangis semalaman” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:81). Kutipan di atas secara sekilas menggambarkan kekerasan terhadapperempuan yang sering ditemukan pada masyarakat. Peristiwa pemukulan bisajadi adalah hal yang ditemukan pada kasus-kasus KDRT. Namun, pada kutipanberikut, digambarkan secara jelas bentuk penyiksaan yang menunjukkanlemahnya perempuan sebagai istri dan dominasi kekuasaan yang dimiliki olehlaki-laki sebagai suami. ”Kamu yang keluar dari sini!” Ayah melepaskan aku dari seretan Ibu. Ia mendorong Ibu sampai terjerembab. Wajahnya yang bengis mencium lantai. Lalu Ayah menyeretnya ke arah pintu seakan-akan hendak membuang bangkai tikus. Ibu menggeliat-geliat mempertahankan diri agar tidak terlempar keluar. Tangannya menggapai-menggapai apa saja yang bisa dipegang untuk mempertahankan diri, sampai memegangi daun pintu. Ayah kalap. Tubuh Ibu diinjak-injak dan ditendangi. Tetapi Ibu bersikukuh memegangi daun pintu sambil meringkuk. Akhirnya Ayah 35
  • 36. menjambak dan menarik rambut Ibu untuk menariknya keluar. Rambutnya tercabut dari kulit kepala” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:255). c) Pelecehan terhadap perempuan Salah satu bentuk ketimpangan jender pada tokoh perempuan adalahpelecehan seksual. Pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki terhadapperempuan adalah perendahan derajat kaum perempuan. Selain itu, kekerasanjuga adalah suatu bentuk ketimpangan jender yang dialami oleh kaumperempuan. Kekerasan tersebut dapat berupa kekerasan fisik maupun non fisik.Kekerasan fisik berupa pemukulan dan kekerasan non fisik, biasanya dalambentuk makian dengan kata-kata yang kasar. Bentuk pelecehan ini dapatdigambarkan pada contoh kutipan berikut. Karena semua tentara butuh perempuan. Karena itu juga kau berada di sini. Shosho Kobayashi membutuhkan perempuan yang bukan jugun ianfu. Karena itu tidak boleh ada yang tahu kau perempuan Jepang. Tidak ada perempuan Jepang yang menjadi jugun ianfu. Itu akan mempermalukan bangsa Jepang di mata dunia. Tetapi kau juga tidak bisa menjadi geisha di sini, karena geisha hanya ada di Jepang (Perempuan Kembang Jepun, 2006:116). d) Kekerasan terselubung Kekerasan terselubung yang dimaksud adalah memegang atau menyentuhbagian tubuh tertentu dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatantanpa kerelaan si pemilik tubuh. Jenis kekerasan ini sering terjadi tidak hanya ditempat pekerjaan ataupun di tempat umum, tetapi juga dapat terjadi di tempattinggal sendiri. Berikut kutipannya. Sudah tentu aku terkejut. Pertama, karena ia menyelipkan selembar uang. Kedua, karena ia meremas dadaku. Aku cuma bisa diam, tak tahu harus berbuat apa.”(Perempuan Kembang Jepun, 2006:40).Contoh lain juga terdapat dalam kutipan sebagai berikut: Aku sering memergoki Joko melirikku, mencuri-curi kesempatan mengintipku mandi, menelanjangiku dengan pandangan mata nakal, sampai berusaha menggerayangi tubuhku bila Ayah dan Ibu sedang tidak berada di rumah.” (Perempuan Kembang Jepun, 2006:250). 36
  • 37. Tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukanmasyarakat yaitu yang dikenal dengan pelecehan seksual atau sexual andemotional harassment. Bentuk pelecehan yang umum terjadi adalah unwantedattention from men. Dua contoh yang digambarkan pada kutipan di atas adalahbentuk pelecehan terhadap perempuan yang diungkapkan oleh tokoh wanita yangdalam hal ini dapat dikatakan sebagai korban ketidaksetaraan jender. Ternyata,secara langsung bentuk “melecehkan” juga diungkapkan oleh tokoh laki-laki.Berikut contoh kutipannya. Aku suka menggodanya karena ia memberi peluang untuk digoda. Aku memanfaatkannya agar aku bisa minum jamu dengan berutang, yang buntut-buntutnya tidak pernah kubayar. Aku suka menyentuhnya karena ia memberi kesempatan untuk kusentuh. Ia suka memakai kebaya dengan belahan dada rendah. Bahkan terkadang ia seakan sengaja membiarkan sebuah kancing kebayanya terbuka dan menampakkan kutang hitam di dalamnya. Kainnya diangkat tinggi-tinggi seakan sengaja memamerkan betisnya yang tersingkap bila ia berjalan. (Perempuan Kembang Jepun, 2006:183). Argumen yang muncul ada kalanya menganggap bahwa “pelecehan”adalah bukan bagian dari ketidaksamaan jender. Bentuk pembelaan diri bahwapelecehan seksual itu sangat relatif, karena sering terjadi bahwa tindakan tersebutadalah usaha untuk bersahabat. Tentu, pendapat ini sangat tidak benar jikaternyata pelecehan adalah bagian dari “merendahkan” derajat perempuan.Sesungguhnya pelecehan seksual bukanlah usaha untuk bersahabat, karenatindakan tersebut adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bagi perempuan.Pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan adalahperendahan derajat kaum perempuan. Persoalan ini bersumber pada dua hal.Pertama, adanya mitos kecantikan yang melekat pada diri perempuan yangmenempatkan mereka pada posisi tereksploitasi. Kedua, adanya objektivitasperempuan dalam hal seks atau dijadikannya perempuan sebagai objek pelecehanseksual oleh kaum laki-laki. Menurut Fakih (2001:17) mengatakan bahwakekerasan adalah serangan atau intervensi terhadap fisik maupun integritas mentalpsikologis seseorang. Selanjutnya Fakih menyebutkan bahwa kekerasan terhadapjenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, karena perbedaan jender . 37
  • 38. Kekerasan ini mencakup kekerasan fisik seperti pemerkosaan dan pemukulan,sampai kekerasan dalam bentuk yang lebih halus seperti pelecehan dan penciptaanketergantungan. Banyak sekali kekerasan terhadap perempuan yang terjadi karenaadanya stereotipe jender (Fakih, 2001:75). Sebagai makhluk yang distereotipekanlemah, perempuan bukannya dilindungi, tetapi justru diperdayakan karenakelemahannya tersebut, baik oleh laki-laki di dalam rumah maupun olehmasyarakat di luar rumah.5) Bias Jender dalam Beban Kerja Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara danrajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwasemua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaumperempuan. Konsekuensinya, banyak kaum perempuan bekerja keras dan lamauntuk menjaga kebersihan dan kerapihan rumah tangganya, mulai darimembersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air hinggamemelihara anak. Adapun dalam keluarga miskin beban yang sangat berat iniharus ditanggung oleh perempuan sendiri terlebih-lebih jika si perempuan harusbekerja, ia harus memikul beban kerja ganda. Hal ini dapat dicontohkan padakutipan berikut. Tetapi sesampai di rumah pun, setumpuk pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Pakaian kotor, memasak, membersihkan rumah, juga merebus daun sirih, kunyit, sambiloto, gula, garam, yang semuanya harus kuramu untuk dijual esok harinya, sampai… melayani Mas Sujono di atas tikar! (Perempuan Kembang Jepun, 2006:76) Bias jender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali diperkuatdan disebabkan oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwapekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai jenis “pekerjaan perempuan”, sepertisemua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkanpekerjaan yang dianggap sebagai “pekerjaan laki-laki”, serta dikategorikansebagai “bukan produktif” sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonominegara. Sementara itu kaum perempuan, karena anggapan jender ini sejak dinitelah disosialisasikan untuk menekuni peran jender mereka. Sementara di lain 38
  • 39. pihak, kaum laki-laki tidak. Ketidaksetaraan jender juga dapat dilihat dariharapan-harapan perempuan tentang kebahagiaan yang diimpikannya. Berikutcontohnya. Aku ingin melayaninya dengan sepenuh hati dan cinta. Aku rela dan tulus melayaninya. Angan-anganku menggambarkan rumah kecil kami akan ceria bila anak yang kukandung telah lahir. Sujono bekerja dan aku di rumah menunggunya sambil mengurus anak kami. (Perempuan Kembang Jepun, 2006:139). Pada dasarnya bias jender adalah pandangan dan sikap yang lebihmengutamakan salah satu jenis kelamin tertentu, misalnya lebih berpihak kepadalaki-laki daripada kepada perempuan dan sebaliknya. Sebagai contoh, pandanganatau sikap yang terlihat di dalam gagasan-gagasan bahwa laki-laki itu lebihkompeten, lebih mampu, lebih superior daripada perempuan. Berdasarkan hasil analisis feminism pada novel Perempuan KembangJepun karya Lan Fang, dapat disimpulkan bahwa ketimpangan jender yangdialami oleh tokoh-tokoh perempuan begitu terlihat. Sikap superioritas dari laki-laki masih sangat tinggi. Sosok perempuan di mata kaum laki-laki sekedar sebagaiobjek seks semata yang harus mau melayani kemauan dari laki-laki. Perempuandianggap sebagai makhluk yang dapat diatur, dapat diperdaya ataupun dapatdiapakan saja sehingga perempuan seolah-olah memiliki martabat yang rendah.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peran perempuan dapat ditentukan olehlaki-laki apalagi jika laki-laki tersebut adalah seorang suami. Ketimpangan jenderyang sering dialami oleh perempuan adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksualyang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan adalah perendahan derajatkaum perempuan. Selain itu, kekerasan juga adalah suatu bentuk ketimpanganjender yang dialami oleh kaum perempuan. Kekerasan tersebut dapat berupakekerasan fisik maupun non fisik. Kekerasan fisik berupa pemukulan dankekerasan non fisik, biasanya dalam bentuk makian dengan kata-kata yang kasar. 39
  • 40. BAB IV KESIMPULAN Tema yang diangkat pada novel Perempuan Kembang Jepun adalahtentang pencarian cinta sejati karena seberapapun terkenal atau tenarnya seseorangtetap membutuhkan cinta dan kebersamaann. Latar waktu digambarkan padabergulirnya cerita dimulai pada tahun 1941 sampai dengan Februari 2004. Latartempat ditunjukkan pada nama-nama kota yang di novel tersebut, di antaranyaadalah Surabaya dan Kyoto, Jepang. Novel ini dapat dikategorikan dalam kajian feminism dengan salahsatunya melihat ketimpangan jender yang dialami oleh tokoh perempuan dalamnovel Perempuan Kembang Jepun. Bentuk ketimpangan jender ini diantaranyaadalah marginalisasi perempuan, subordinasi perempuan, stereotipe perempuan,kekerasan terhadap perempuan serta jender dan beban kerja pekerjaan, tetapi jugaterjadi dalam rumah tangga, masyarakat, atau kultur dan bahkan negara. Subordinasi perempuan terjadi karena anggapan bahwa perempuan ituirrasional atau emosional sehingga perempuan tidak dapat tampil memimpin,berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidakpenting. Stereotipe terhadap perempuan karena adanya anggapan bahwa tugasutama kaum perempuan adalah melayani suami. Kekerasan terhadap perempuanterjadi adalah bentuk pemerkosaan terhadap perempuan termasuk pemerkosaandalam perkawinan, tindakan pemukulan atau serangan fisik yang terjadi dalamrumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, dan kekerasan terselubung. Adapun jender dan beban kerja adalah adanya pandangan atau keyakinandi masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai jenis pekerjaanperempuan, seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendahdibandingkan pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, serta 40
  • 41. dikategorikan sebagai bukan produktif sehingga tidak diperhitungkan dalamstatistik ekonomi negara. DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan (Ed). 1997. Sangkan Peran Jender. Yogyakarta :Pustaka.Anshori, Dadang (Ed). 1997. Membincangkan Feminisme (Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Perempuan). Bandung:Pustaka Hidayah.Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang :Angkasa Raya.Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis, Sebuah Pengantar. Jakarta :PT. RajaGrafindo Persada.Demartoto, Argyo. 2005. Menyibak Sensitivitas Jender dalam Keluarga Difabel. Surakarta:Sebelas Maret University Press.Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Fakih, Mansour. 2000. Analisis Jender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset.Fais, Fakhrudin. 2002. Hermeneutika Quran:Antara Teks, Konteks, dan Kontekstuanisasi. Yogyakarta :Qalam.Fang, Lan. 2006. Perempuan Kembang Jepun. Jakarta :PT. Gramedia Pustaka Utama.Fang, Lan. 2008. Menurutku, Semua Bukuku Bagus. www.tabloidparle.com. Diakses tanggal 23 September 2010, pukul 11.10 WIB.Ihromi, Tapi Omas, dkk. 2000. Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan. Bandung :Alumni.Ika Hariani. 2004. Dimensi Jender Novel Jentera Bianglala karya Ahmad Tohari :Tinjauan Sastra Feminis. Makalah. Surakarta :Universitas Muhammadiyah Surakarta.Imron, Ali.1995. Dimensi Sosial-Keagamaan Dalam Keluarga Permana:Analisis Semiotik. Yogyakarta :Universitas Gadjah Mada. 41
  • 42. Imron, Ali. 2003. "Metode Pengkajian Sastra:Teori dan Aplikasinya". Makalah Pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajarannya:Perspektif KBK. Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta.Luhulima, Achie Sudiarti. 2000. Pemahaman Bentuk-Bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya. Bandung :Alumni. 87.Marta, Aroma Elmina. 2003. Perempuan, Kekuasaan dan Hukum, Yogyakarta :UII Press.Muhadjir, Noeng. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif Yogyakarta:RakeSarasih.Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.Poerwandari, Kristi. 2000. Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan. Bandung:Alumni.Purwani. 2004. Citra Perempuan dalam Novel Ca Bau Kan Hanya Sebuah Dosa karya Remy Silado:Sebuah Tinjauan Feminisme. Makalah. Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta.Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka PelajarRetno Tri Wijayanti. 2004. Citra Perempuan dalam novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi karya A.A. Navis :Tinjauan Sastra Feminis. Makalah. Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta.Saraswati, Ekarini. Sosiologi Sastra, Sebuah Pemahaman Awal. Malang:UMM Press.Semi, M. Atar. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta :Angkasa Raya.Soemardjo, J. dan Saini, K.M. 1986. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: GramediaSutopo, HB. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif:Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta :UNS Press.Supriyadi, Wila Chandrawila. 2001. Kumpulan Tulisan Perempuan dan Kekerasan Dalam Perkawinan. Bandung :Mandar Maju.Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik. Yogyakarta :Universitas Gadjah Mada. 42
  • 43. Suroso dan Suwardi. 1998. Pola Pikir Perempuan dalam Novel Modern. Yogyakarta:Lembaga Penelitain IKIP Yogyakarta.Suroto. 1993. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.Sugihastuti. 2002. Perempuan di Mata Perempuan:Perspektif Sajak-Sajak Toeti Heraty. Bandung :Nuansa.Surachmad, Winarno. 1990. Dasar dan Teknik Research:Pengantar dan Metodologi Ilmiah. Bandung :Sinar Harapan.Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.Widanti, Agnes. 2005. Hukum Berkeadilan Jender. Jakarta :Penerbit Buku Kompas-PT Kompas Media Nusantara.88 43
  • 44. Lampiran 1Riwayat Hidup Pengarang Lan Fang dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 5 Maret 1970 daripasangan Jhonny Gautama dan (Alm) Yang Mei Ing. Anak sulung dari duabersaudara. Adiknya bernama Janet Gautama. Lan Fang menyelesaikanpendidikan dasar dan menengahnya di Kota Banjarmasin. Pada tahun 1988, iamenyelesaikan SMA-nya di Banjarmasin. Ia meneruskan dan menyelesaikanstudinya di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA). Sejak muda, LanFang sudah mulai menulis sehingga pekerjaan yang ditekuninya sampai sekarangadalah sebagai seorang pengarang. Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatifdan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lan Fang sudah suka menulis danmembaca sejak usia sekolah dasar. Sebetulnya keinginan Lan Fang untuk menuliscerpen sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepadamajalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Tetapi karenadianggap “ganjil” dan “tidak tertangkap mata” oleh keluarga, tidak ada motivasikuat untuk mempertajam talentanya. Keinginan menulis pun terlupakan begitusaja. Kesukaannya menulis, membuat ia mencoba-coba mengirim cerita pendekpertamanya pada Anita Cemerlang pada tahun 1986 dan langsung dimuat sebagaicerita utama dalam majalah tersebut. Semenjak itu Lan Fang menjadi semakintertarik menulis. Tahun 1988 ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang dimuatdiberbagai majalah seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Adapun sejak tahun1997, Lan Fang mengikuti lomba penulisan yang diadakan majalah Femina. Lan Fang terlahir sebagai keturunan Tionghoa yang konservatif dan lebihberkonsentrasi kepada dunia bisnis. Oleh karena itu, dalam hampir setiapnovelnya tokoh-tokohnya diceritakan sebagai warga keturunan atau peranakanCina. Pada awalnya, Lan Fang sama sekali tidak pernah tertarik dengankepenulisan, meskipun Lan Fang sesungguhnya telah menggemari sastra sejak 44
  • 45. kanak-kanak, seperti dongeng gubahan H.C. Anderson Blyton. Beranjak remaja,ia mulai menggandrungi sajak-sajak cinta Kahlil Gibran. Setelah eksis sebagaipengarang, ia mengagumi karya-karya Budi Darma, Sapardi Djoko Damono sertaSindhunata. Meskipun mengagumi karya para sastrawan besar tersebut, Lan Fangmerasa tidak pernah terpengaruh oleh gaya kepenulisan mereka. Sebagai seorang keturunan Tionghoa, maka Lan Fang selalu memasukkanunsur budaya Cina dalam novel-novelnya. Hampir semua novelnya memakainama Cina, terutama nama tokoh-tokoh dalam novelnya. Oleh karena Lan Fangberdomisili di kota Surabaya, maka karya Lan Fang sebagian besarmenggambarkan Surabaya. Lan Fang, sebagai seorang pengarang telah banyak menghasilkankaryanya. Ciri khas dalam karya Lan Fang adalah temanya seputar cinta.Novelnya selalu menceritakan kisah-kisah romantis (cinta) yang pada umumnyatokoh utamanya wanita. Berikut ini adalah hasil karya-karya Lan Fang dalambentuk Cerpen antara lain, “Dermaga” (Dimuat di Jawa Pos, 01/20/2008), “PokAmi-ami” (Dimuat di Pikiran Rakyat, 01/05/2008), “Pasar Burung” (Dimuat diPikiran Rakyat, 12/01/2007), “Surat untuk Sakai” (Dimuat di Suara Merdeka,11/25/2007), “Tentang Musim” (Dimuat di Jawa Pos, 04/15/2007), “DuaPerempuan” (Dimuat di Suara Merdeka, 11/12/2006), “Rumah tanpa Cermin”(Dimuat di Pikiran Rakyat, 11/04/2006), “Bayi Ke Tujuh” (Dimuat di TabloidNova, 08/07/2006), “Anak Anjing Berkepala Kambing” (Dimuat di PikiranRakyat, 07/22/2006), “Orasis” (Dimuat di Suara Merdeka, 06/25/2006), “Toast”(Dimuat di Jawa Pos, 06/11/2006), “Malam-Malam Nina” (Dimuat di Jawa Pos,01/22/2006), “Ini tidak Gila” (Dimuat di Media Indonesia, 01/22/2006). Selain cerpen, karyanya juga dalam bentuk novel, antara lain Reinkarnasi(PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), Pai Yin (PT Gramedia Pustaka Utama,2004), Kembang Gunung Purei (PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), Laki-lakiyang Salah (PT Gramedia Pustaka Utama, 2006), Perempuan Kembang Jepun(PT Gramedia Pustaka Utama, 2006), Yang Liu (PT Gramedia Pustaka Utama,2006), Kota Tanpa Kelamin (PT Gramedia Pustaka Utama, 2007). 45
  • 46. Sumber: www.tabloidparle.com. Diakses tanggal 23 September 2010, pukul 11.10 WIB.Lampiran 2Sinopsis Novel Novel Perempuan Kembang Jepun mengambil setting suasana hiburanKembang Jepun, Surabaya di era tahun 1940-an dengan tokoh utama Matsumi,seorang perempuan Jepang yang berprofesi sebagai geisha. Matsumi masuk keSurabaya saat Jepang hendak menjajah Indonesia. Ia menyamar sebagai orangCina karena dalam sejarahnya pada waktu itu, tidak ada perempuan Jepang yangmenjadi geisha di luar negaranya. Di Surabaya Matsumi menjalin cinta dengan orang Jawa bernama Sujonoyang kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama Lestari. SetelahJepang kalah, Matsumi kembali ke negaranya dengan meninggalkan anak dansuaminya. Dalam perjalanannya, Lestari menjadi korban perkosaan sehingga iabertekad untuk tidak mau menikah. Karena ditinggalkan oleh ibunya, Lestarikemudian mendirikan panti asuhan yang menampung anak-anak yang kehilanganorang tua. Anak Matsumi dari suaminya di Jepang atau adik dari Lestarikemudian menjalin cinta dengan anak asuh Lestari. Matsumi dengan Lestarikemudian bertemu saat berkunjung ke Kembang Jepun di tahun 2003. 46