Membangun keluarga
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Membangun keluarga

on

  • 13,135 views

ini tugas kuliah yang bikin pusing.

ini tugas kuliah yang bikin pusing.
Belum berumah tangga tapi harus bikin tugas kaya begini.

Statistics

Views

Total Views
13,135
Views on SlideShare
13,135
Embed Views
0

Actions

Likes
4
Downloads
276
Comments
2

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Membangun keluarga Membangun keluarga Document Transcript

  • MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA MEMBANGUN KELUARGA Disusun oleh : Indah Purwanti 11090083 Lusiana 11090674 Sarah Teflaka 11090527SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA JL. KAYU JATI RAYA NO. 11 A RAWAMANGUN JAKARTA TIMUR Page 1
  • KATA PENGANTAR Dengan dibuatnya makalah mengenai “MEMBANGUN KELUARGA” ini,kamiberharap para pembaca dapat mengetahui bagaimana,kenapa dan apa itu keluarga sesuaiagama yang ada di Indonesia. Bukan hanya pengertian keluarga yang terdiri dari ayah,ibu dan anak – anak.Tapikami mencoba untuk membahas lebih luas lagi tentang keluarga.Baik dalam perkawinandan pernikahan dalam sudut pandang masing – masing agama,maupun di zaman modernsekarang ini. Bagaimana juga keluarga ini berbaur,dan akhirnya menciptakan bentukmasyarakat dalam bentukan kecil. Demikianlah makalah ini kami buat,kami berharap dapat menambah wawasanmengenai membangun keluarga yang sesuai dengan agama sekaligus dapat bersosialisasidengan masyarakat. Jakarta , Desember 2009 Indah Purwanti Lusiana Sarah Teflaka Page 2
  • Daftar isi :1. Pengertian membangun keluarga hal.1 Fungsi ayah,ibu dan anak-anak Kewajiban dan hak-hak suami isti2. Membangun keluarga Islam hal 63. Visi misi keluarga muslim hal 124. Kriteria memilih pasangan hidup hal 135. Manajemen keluarga menurut agama,masyarakat dan kehidupan modern hal 196. Budha hal 22 Perkawinan menurut agama Budha7. Perkawinan menurut agama Hindu hal 238. Perkawinan menurut agama Islam hal 259. Pernikahan menurut agama Kristen hal 2710.Pernikahan beda agama hal 3111.Menikah dengan beda agama hal 3412. Poligami hal 3613.Syarat-syarat poligami hal 3814.Dampak poligami terhadap perempuan di Indonesia hal44 Page 3
  • Membangun Keluarga Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga "kulawarga" yangberarti "anggota" "kelompok kerabat". Keluarga adalah lingkungan di mana beberapaorang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.Keluarga inti ("nuclear family") terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak mereka Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepalakeluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatuatap dalam keadaan saling ketergantungan.(Menurut Departemen Kesehatan RI (1998).Kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasaberdiri sebagai satu gabungan yang hakiki,esensial, enak dan berkehendak bersama-samamemperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya. (Ki HajarDewantara) Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karenahubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalamsuatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masingdan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.(Menurut Salvicion dan AraCelis). Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah : - Unitterkecil dari masyarakat - Terdiri atas 2 orang atau lebih - Adanya ikatan perkawinan ataupertalian darah - Hidup dalam satu rumah tangga - Di bawah asuhan seseorang kepalarumah tangga - Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga - Setiap anggota keluargamempunyai peran masing-masing - Diciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Perananindividu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompokdan masyarakat. Page 4
  • Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : 1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagaipencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga,sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnyaserta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. 2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai perananuntuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindungdan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakatdari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkahtambahan dalam keluarganya. 3. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkatperkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. Tugas-tugas Keluarga Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokoksebagai berikut : 1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya. 2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga. 3.Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing. 4. Sosialisasi antar anggota keluarga. 5. Pengaturan jumlah anggota keluarga. 6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga. 7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas. 8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.Fungsi Keluarga Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, sebagai berikut :1. Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkananak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.2. Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalahbagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.3. Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak daritindakan-tindakan yang tidak baik sehingga anggota keluarga merasa terlindung danmerasa aman.4. Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitifmerasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi danberinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama laindalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.5. Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan danmengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas Page 5
  • kepala keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan lain yang mengaturkehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.6. Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber-sumberkehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerjauntuk mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian rupa sehingga dapatmemenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.7. Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ketempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yangmenyenangkan dalam keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara nontonTV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dsb.8. Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah untuk meneruskanketurunan sebagai generasi penerus.9. Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membinapendewasaan kepribadian anggota keluarga Nilai Keluarga adalah salah satu dari lima nilai Moral Islam. Setiap anak manusiaberhak untuk lahir dan tumbuh dalam keluarga secara terhormat. Untuk menjagakehormatan keluarga, dan pada akhirnya kehormatan anak manusia, manusia sewajarnyamenghormati ibu-bapak, menjauhi aborsi dan perbuatan yang memalukan semacamhomoseks, seks di luar pernikahan, dan pernikahan dengan keluarga (incest).http://dunia.web.id/keluarga.php?note=1422&title=MEMBANGUN-KELUARGA-ISLAMI Page 6
  • MEMBANGUN KELUARGA ISLAMIOleh : kholix / 13-Apr-2009 15:48:16 Nikah merupakan sunnah Rasul yang sangat sakral, karenanya nikah juga merupakan ikatan yang sangat kuat yang dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan miytsaqon ghaliyzho (QS 4:21) yang kata ini digunakan juga untuk menyebut perjanjian antara para Nabi dengan Allah Swt dalam mengemban perjuangan da’wah (QS 33:7). Oleh karena itu pernikahan dan walimatul arusy harus dilaksanakan yang sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu pernikahan jangan sampai dinodai dengan hal-hal yang bernilai maksiat. Sesudah pernikahan berlangsung, kehidupan berumah tanggapun harus dijalani dengan sebaik-baiknya meskipun tantangan dan godaan menjalani kehidupan rumah tangga yang Islami sangat banyak. Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang islami, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian suami dan isteri. 1. Memperkokoh Rasa Cinta. Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian. Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya. Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai, kondisi di kapal masih tenang karena disamping penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam kondisi seperti itu saling mengokohkan rasa cinta antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan dengan Page 7
  • maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat hubungan suami isteri dapatmemperoleh ketenangan dan rasa cinta. Allah berfirman yang artinya: Dan diantaratanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismusendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nyadiantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21).2. Saling Hormat Menghormati.Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan saling hormat menghormati,suami hormat kepada isteri dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadaphal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga dengan isteri terhadap suaminyadengan menerima apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak banyak.Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa romantis yang segalanyaindah, bahkan adanya kelemahan dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan,romantisme memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan isteri terhadapsuaminya menjadi sangat subyektif. Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakinlama mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti suami menilai isteri atauisteri menilai suami apa adanya. Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu dipersoalkan, tapi sekarangkekurangan yang tidak prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti itulahdiperlukan konsolidasi hubungan antara suami dan isteri hingga masing-masingmenyadari bahwa memang kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akanadanya kelebihan.Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau telah mencontohkan kepadakita betapa beliau berlaku baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliaubersabda: Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dengankeluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku (HR. Thabrani).3. Saling Menutupi Kekurangan.Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak kekurangan, tidak hanya kekurangan darisegi fisik, tapi juga dari sifat-sifat. Oleh karena itu suami isteri yang baik tentu sajamenutupi kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka diceriterakan kepadaorang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri.Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan perbaikan atas persoalankeluarga kepada orang yang sangat dipercaya, maka seseorang boleh sajamengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau isteri.4. Kerjasama Dalam Keluarga.Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja banyak beban yang harusdiatasi, misalnya beban ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan isteriharus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya dalam arti untuk membeli hal-halyang baik dan tidak boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap pendidikan Page 8
  • anak yang dalam kaitan ini diperlukan kerjasama yang baik antara suami dan isteridalam menghasilkan anak-anak yang shaleh. Kerjasama yang baik dalam mendidikanak itu antara lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan dirinyasebagai orang tua karena mendidik anak itu harus dengan keteladanan yang baik,juga tidak ada kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam mendidik anak dansebagainya. Keharusan kita bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allahyang artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dantakwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS 5:2).5. Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal.Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan memfungsikan keluarga seoptimalmungkin sehingga rumah tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal dalamarti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar untuk singgah sebagaimanaterminal, tapi semestinya rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali gunamenghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri dari pengaruh yang tidak baik sertamemperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga.Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya seperti masjid dalam artirumah difungsikan juga sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan AllahSwt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa dihindari sikap individual antarsesama anggota keluarga.Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti madrasah yang anggotakeluarganya harus memperoleh ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami danisteri diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya yang memberikan ilmudan keteladanan yang baik.Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang adalahmemfungsikan keluarga seperti benteng pertahanan yang memberikan kekuatanpertahanan aqidah dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan kehidupanyang semakin banyak menjerumuskan manusia ke lembah kehidupan yang bernilaimaksiat dalam pandangan Allah dan rasul-Nya.Mewujudkan rumah tangga yang Islami merupakan sesuatu yang tidak mudah,banyak sekali kendala, baik internal maupun eksternal yang harus dihadapi. Namunharus diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan berarti mewujudkanrumah tangga yang Islam tidak bisa, setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisamembentuk rumah tangga yang Islami, kalau kita sudah yakin, maka kita dituntutmembuktikan keyakinan itu dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakanajaran Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang bahagia, ada baiknya kitatelaah hadits Rasul saw berikut ini:Empat perkara yang merupakan dari kebahagian seseorang, yaitu: mempunyai isteriyang shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh danmencari rizki di negerinya sendiri (HR. Dailami dari Ali ra) Page 9
  • Drs. H. Ahmad Yanihttp://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg16112.html Sebagai pengantar untuk membangun keluarga sakinah baiklah kita pelajari Hakdan kewajiban yang buat oleh Allah dan Rasul-Nya, antara lain:Hak-hak Suami1. Suami adalah pemimpin rumah tangga"Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkansebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain(wanita).."(An-Nisa: 34)2. Suami dipatuhi dan tidak boleh ditentang3. Tanpa izin suami, isteri tidak boleh mensedekahkan harta suami, dan tidak bolehberpuasa sunnah.4. Suami harus dilayani oleh isteri dalam hubungan badan kecuali uzur, dan isteri tidakboleh keluar rumah tanpa izinnya. Rasulullahsaw bersabda:"Isteri harus patuh dan tidak menentangnya. Tidak mensedekahkan apapun yang ada dirumah suami tanpa izin sang suami. Tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izinsuami. Tidak boleh menolak jika suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedangdalam kesulitan. Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami." (Al-Faqih, 3:277)5. Menyalakan lampu dan menyambut suami di pintu6. Menyajikan makanan yang baik untuk suami7. Membawakan untuk suami bejana dan kain sapu tangan untuk mencuci tangan danmukanya8. Tidak menolak keinginan suami hubungan badan kecuali dalam keadaan sakitRasulullah saw juga bersabda:"Hak suami atas isteri adalah isteri hendaknya menyalakan lampu untuknya, memasakkanmakanan, menyambutnya di pintu rumah saat ia datang, membawakan untuknya bejanaair dan kain sapu tangan lalu mencuci tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saatsuami menginginkan dirinya kecuali ia sedang sakit." (Makarim Al-Akhlaq: 215)Rasulullah saw juga bersabda:"(Ketahuilah) bahwa wanita tidak pernah akan dikatakan telahmenunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikankewajibannya kepada suami." (Makarim Al-Akhlaq:215) Page 10
  • Hak-Hak Isteri1. Isteri sebagai sumber sakinah, cinta dan kasih sayang. Suami harus menjagakesuciannya. (QS Ar-Rum: 21)2. Isteri harus mendapat perlakukan yang baik"Ciptakan hubungan yang baik dengan isterimu." ( Al-Nisa :19)3. Mendapat nafkah dari suami4. Mendapatkan pakaian dari suami5. Suami tidak boleh menyakiti dan membentaknya Pada suatu hari Khaulah binti Aswad mendatangi Rasulullah saw dan bertanyatentang hak seorang isteri. Beliau menjawab:"Hak-hakmu atas suamimu adalah ia harus memberimu makan dengankwalitas makanan yang ia makan dan memberimu pakaian sepertikualitas yang ia pakai, tidak menampar wajahmu, dan tidakmembentakmu" (Makarim Al-Akhlaq:218)Rasulullah saw juga bersabda:"Orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya sama dengan orangyang pergi berperang di jalan Allah.". (Makarim Al-Akhlaq:218)"Terkutuklah! Terkutuklah orang yang tidak memberi nafkah kepadamereka yang menjadi tanggung jawabnya." (Makarim Al-Akhlaq:218)6. Suami harus memuliakan dan bersikap lemah lembut7. Suami harus memaafkan kesalahannyaCucu Rasulullah saw Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:"Adapun hak isteri, ketahuilah sesungguhnya Allah Azza wa Jallatelah menjadikan untukmu dia sebagai sumber sakinah dan kasihsayang. Maka, hendaknya kau sadari hal itu sebagai nikmat dari Allahyang harus kau muliakan dan bersikap lembut padanya, walaupun hakmuatasnya lebih wajib baginya. Karena ia adalah keluargamu Engkauwajib menyayanginya, memberi makan, memberi pakaian, dan memaafkankesalahannya." Page 11
  • Menghindari PertikaianRasulullah saw bersabda:"Laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindaskeluarganya, menyayangi dan tidak berlaku zalim pada mereka."(Makarim Al-Akhlaq:216-217)"Barangsiapa yang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allahakan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub(a.s) yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat.(Makarim Al-Akhlaq:213)"Barangsiapa yang menampar pipi isterinya satu kali, Allah akanmemerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itudengan tujuh puluh kali tamparan di neraka jahanam." (Mustadrak Al- Wasail 2:550)Isteri tidak boleh memancing emosi suaminya, Rasulullah saw bersabda:"Isteri yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar bataskemampuannya, tidak akan diterima Allah swt amal perbuatannya sampaiia bertaubat dan meminta nafkah semampu suaminya." (Makarim Al- Akhlaq: 202) Page 12
  • Visi dan Misi Keluarga MuslimVisi keluarga kita:Tidak ada satu pun anggota keluarga tersentuh api neraka َ ‫الــــ ّا ِ َ َابـَ ِــــ َا‬ ‫ـ ن ر عذ ـ ق ن و‬Misi keluarga kita:Mencapai derajat takwa yang sebenarnya ‫ُـ َـا ِه َ ّ ال ّق َى‬ ‫ت ق ت حق ت ْو‬Memperoleh hidup mulia atau mati syahid ْ‫َ ِيْد ُتْ أوْ َ ِيْ ًا َيْش‬ ‫شه م َ كر م ع‬Strategi untuk mencapai visi dan misi keluarga kita:1. Setiap anggota keluarga mengikuti tarbiyah (pendidikan) dalam bentuk tilawah AlQur’an, ada proses tazkiyah (pembersihan diri), dan taklim .2. Setiap anggota keluarga menjalankan ibadah sampai derajat ihsan.3. Setiap anggota keluarga berdakwah dan berjihad fii sabilillah.4. Ada anggota keluarga yang menjadi pemimpin masyarakat (istikhlafu fiil ardhi).Arah kebijakan keluarga kita:1. Semua anggota keluarga kita harus tertarbiyah.2. Setiap anggota keluarga harus memiliki jadwal ibadah unggulan pribadi, baik secararitual maupun sosial.3. Secara jama’i (bersama-sama), keluarga harus punya jadwal ibadah unggulan, baikritual maupun sosial.4. Harus memiliki agenda dakwah di dalam keluarga. Page 13
  • 5. Harus memiliki agenda dakwah untuk masyarakat sekitar.6. Menghadirkan suasana keluarga yang mendukung tercapainya visi dan misi keluarga.7. Mendidik setiap anggota keluarga untuk mencapai kualitas keluarga sebagai pemimpinumat.8. Menyediakan sarana dan prasarana pendukung tercapainya visi dan misi keluarga.Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menentukan Kriteria Dalam menentukan kriteria calon pasangan, Islam memberikan dua sisi yang perlu diperhatikan. Pertama, sisi yang terkait dengan agama, nasab, harta maupun kecantikan. Kedua, sisi lain yang lebih terkait dengan selera pribadi, seperti masalah suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, serta hal-hal yang terkait dengan masalah pisik termasuk masalah kesehatan dan seterusnya. a. Masalah yang pertama Masalah yang pertama adalah masalah yang terkait dengan standar umum. Yaitu masalah agama, keturunan, harta dan kecantikan. Masalah ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW dalam haditsnya yang cukup masyhur. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (HR. Bukhari, Muslim) Khusus masalah agama, Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri yang kemampuan agamanya masih setengah- setengah. Sebab dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih. Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus `menyekolahkan` kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik. Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT. Secara rinci bisa dicontohkan antara lain : • Aqidahnya kuat • Ibadahnya rajin Page 14
  • • Akhlaqnya mulia • Pakaiannya dan dandanannya memenuhi standar busana muslimah • Menjaga kohormatan dirinya dengan tidak bercampur baur dan ikhtilath dengan lawan jenis yang bukan mahram • Tidak bepergian tanpa mahram atau pulang larut • Fasih membaca Al-Quran Al-Kariem • Ilmu pengetahuan agamanya mendalam • Aktifitas hariannya mencerminkan wanita shalilhah • Berbakti kepada orang tuanya serta rukun dengan saudaranya • Pandai menjaga lisannya • Pandai mengatur waktunya serta selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya • Selalu menjaga diri dari dosa-dosa meskipun kecil • Pemahaman syariahnya tidak terbata-bata • Berhusnuzhan kepada orang lain, ramah dan simpatikLima Prinsip Membangun Keluarga BahagiaOleh: KH. Abdul Hasib Hasan, Lc.Al Quran adalah petunjuk bagi seluruh Ummat manusia, yang mengatur seluruhperadaban. Menjadi pencerah bagi seluruh mahluk dan didalamnya terdapat segala macampelajaran, hukum, dan aturan-aturan yang akan membawa manusia ke derajat yang mulia.Tak hanya mengatur masalah–masalah ibadah namun juga mengatur bagaiamanamembangun peradaban dari unit terkecil yaitu keluarga.Lalu, seperti apakah prinsip dan kunci-kunci sukses yang di berikan Allah untukmembentuk keluarga bahagia menurut Al Quran..?Ada 5 prinsip membangun keluarga bahagia berdasarkan Surat Ar Ruum: 21. Ayat iniidentik dengan pernikahan dan segala pernak perniknya."Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteridari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dandijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itubenar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Ruum : 21).Ada 5 prinsip yang harus dilakukan untuk mencapai rasa tenteram, kasih dan sayangdalam rumah tangga: Page 15
  • 1. Sikap yang santun dan bijak (Mu’asyarah bil Ma’ruf)Merawat cinta kasih dalam keluarga ibaratnya seperti merawat tanaman, maka pernikahandan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, diantaranya denganmu’asyarah bil ma’ruf. Rasulullah saw menyatakan bahwa : “Sebaik-baik orang diantarakamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah orangyang paling baik terhadap isteriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi)2. Saling mengingatkan dalam kebaikanDi antara bentuk ketakwaan suami istri dalam mempererat serta mengokohkan rumahtangga adalah dengan saling nasehat menasehati untuk menjalankan sunnah Nabi. Lihatdan renungkanlah betapa indah dan harmonisnya rumah tangga yang dibangun di atas Al-Qur’an dan sunnah serta metode para sahabat yang telah digambarkan oleh Nabi dalamhaditsnya, "Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untukmelaksanakan shalat (malam/tahajjud) lalu dia juga membangunkan istrinya hinggashalat. Jika istrinya enggan untuk bangun dia percikan air kewajahnya. Dan Allahmerahmati seorang istri yang bangun dimalam hari untuk melaksanakan shalat(malam/tahajjud) lalu dia membangunkan suaminya hingga shalat. Jika suaminya engganuntuk bangun dia percikan air kewajahnya." HR. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah danderajatnya hasan shohih).3. Lebih mengutamakan untuk melaksanakan kewajiban, daripada menuntut hakDalam membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yangsaling sinergi satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiapindividu lebih mengedepankan kewajiban daripada hak. Hal ini akan menumbuhkan sikapsaling pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan2 yang muncul dalamkehidupan rumahtangga dapat menyulut api perpecahan diantara pasangan suami-istri.4. Saling menutupi kekurangan pasangannyaSetiap suami pasti memiliki kekurangan, begitu juga dengan sang istri. Kekurangan2 tsbsangat mungkin baru diketahui oleh pasangan masing2 setelah menikah. Dengan salingmenutupi kekurangan diri masing2, harmonisasi dalam rumahtangga akan terjaga. Tidakseperti seleb yang saling mengungkapkan aib pasangannya ke pihak lain, yang kemudianberakhir dengan perceraian. Prinsip saling menutupi ini didasari oleh Surat Al Baqarahayat 187, "..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..".Fungsi pakaian adalah menutup aurat, sehingga dapat dipahami bahwa suami-istri Page 16
  • hendaknya saling menutupi kekurangannya satu sama lain.5. Saling tolong menolongTolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka.Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasatanggung jawab, istrinya mampu menjaga kehormatan diri dan pandai menempatkan diri.(mys)sumber: http://www.alhikmah-online.com/http://www.akupercaya.com/forums/renungan-harian/1274-kumpulan-renungan-keluarga.htmlBagaimana Keluarga Dimulai“ Tuhan Allah berfirman :’ Tidak baik, kalau manusiaitu seorang diri saja. Aku akanmenjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” [ Kejadian 2:18 ].Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan Allah sendiri.Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan Allahmembentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalamhidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan sendirilah yangberfirman, “…tidak baik, kalau manusia ituseorang diri saja…”.Ia sendiri yang mengambil “ salah satu rusuk “ dari manusia itu, dan dari “ rusuk “ itudibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian “ rusuk “ disini adalah ruang [chamber].Jadi ketika Tuhan Allah mengambil “ruang” dari manusia itu, maka manusia itu menjadi“tidak lengkap” lagi tanpa seorang perempuan. Tanpa seorang perempuan, manusia itutidak dapat memultiplikasikan dan memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanyaperempuan [ womb-man = manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anakkepadanya. Tanpa seorang perempuan, maka manusia itu kehilangan “sebagian dirinya”,yang membuatnya “tidak utuh”. Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.Demikianlah Tuhan Allah menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagaipenolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga.Kejadian pasal 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan Allah sendiri membangun keluargapertama di muka bumi ini. Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orangmencoba membangun keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancurberantakan dan tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidakbercerai, kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi. Masing-masing anggota keluarga sudah berjalansendiri-sendiri. Suami, istri dan anak-anak Page 17
  • mempunyaitujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup satu rumah, tidak ada lagikesatuan seperti yang direncanakan Allah semula bagi suatu keluarga. Ini bukan sajaterjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalamkeluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firmanTuhan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orangmembangunnya…”. Jika bukan Tuhan yang membangun keluarga, sia-sialah usaha orangmembangunnya, baik itu orang-orang pada umumnya maupun orang Kristen. Saudarasaudari keluarga adalah rancangan dan ciptaan Allah sendiri. tak ada seorangpun yangdapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan diamembangunkeluarga kita sendiri. Amin. Resume "Manajemen Konflik dalam Keluarga"Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap keluarga berharap keluarga yang mereka binamenjadi keluaraga yang sakinah, mawadah dan warahmah. tetapi adakalanyapermasalahan-permasalahan yang hadir dalam kehidupan berkeluarga membutuhkansebuah manejemen yang baik agar permasalah yang hadir dapat segera diatasi dan tidakmengganggu hubungan keharmonisan di dalam kehidupan berkeluarga. ternyatamanajemen Konflik di dalam kehidupan berumah tangga sudah diaturoleh islam di dalamAl-Quran.Dalam kehidupan berkeluaraga pasti terdapat konflik-konflik dan promblematika yangharus dihadapi dan harus diselesaikan dengan cara yang paling tepat. Alangkah baiknyajika permasalah-permasalahan yang ada diselesaikan dengan cara yang benar dan islami.Permasalahan yang terjadi biasanya menyangkut:1. Permasalahan ekonomi.Hal ini biasanya terkait dengan masalah pendapatan yangdidapatkan oleh sang istri jauh lebih besar dari pendapatan sang suami.Adakalanyasuperioritas suami sedikit terganggu dalam situasi seperti di contohkan di atas.2. Perbedaan pendapat dan prinsip3. Permasalahan dengan keluarga besar. Permasalahan terjadi disebebkan karenakeluarga besar terlalu mencampuri urusan internal keluarga4. perkembangan psikologis atau kepribadian masing-masing pasanganPemecahan dari permasalahan-permasalahan di atas adalah dengan:1.Jalan komunikasi dan meningkatakan pemahaman masing-masing pasangan.2. Saling memahami dan mengetahui kondisi psikologis pasangan masing-masing Page 18
  • 3. Memperhatikan perasaan pasangan masing-masing atau meningkatkan perasaanempati kita terhadap pasangan.Jadi secara garis besarnya konflik keluarga di dalam islam diatur penyelesaiannyasebagai berikut1. Menasehati jika istri atau pasangan melakukan kesalahan2. Tinggalkanlah atau pisah ranjang3. Jika perlu pukulah mereka (dalam tahap ini jika sudah tidak ada jalan yang lain)4. Memanggil juru damai dari kedua belah pihak . Dalam kehidupan berumah tangga diperlukan rasa saling sayang dan memahami.Dan juga harus diperhatikan juga hal-hal kecil dari pasangan-pasangan kita. Semisalsuami harus bisa memahami kondisi istri dan juga sebaliknya. Diperlukan juga adanyawaktu refresh bersama-sama . Dan yang penting adalah jika ada permasalahan, akansangat baik jika dibicarakan bersama dan dikomunikasikan.Hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah:1. memberikan perhatian baik simpati ataupun empati yang tulus2. memberikan masukan yang jujur dan tulus3. memberikan panggilan yang baik kepada pasangan4. menjadi pendengar yang baik5. membuka pembicaraan dengan hal-hal dan topik-topik yang menarik danmenggembirakan.6. menunjukkan kepada pasangan kita bahwa dialah yang terpenting, jadi memberikanperhatian yang khusus pada pasangan kita. Page 19
  • Manajemen Keluarga Menurut Agama,Masyarakat dan Kehidupan Modern Manajemen keluarga, diartikan sebagai suatu proses atau kegiatan orang-orang dalamkeluarga untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama dengan memanfaatkansumber daya, dana dan prasarana yang tersedia. Dalam mencapai tujuan keluarga ada duajenis sumber daya yang harus dikelola, yaitu manusia yang mencakup seluruh anggotakeluarga dan non manusia yang meliputi seluruh fasilitas, dana, peralatan dan perangkatyang diperlukan dalam proses kerjasama.Selain itu,komunikasi juga memegang peranan yang sangat penting dalam keluarga.Adanya komunikasi antar anggota dalam keluarga yang terjadi dengan penuh kasihsayang, persahabatan, kerjasama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan. Page 20
  • Budha Jika dalam agama Islam, Kristen, Hindu, pernikahan dianggap sakral, di dalamagama Budha tidak. Dalam Budha, ordo apapun, perkawinan semata-mata dianggapurusan duniawi. Oleh karena itu tidak ada sanksi religius di dalam hubungan suami istri.Jadi kalau laki-laki dan perempuan merasa cocok, maka tinggal masalah komitmen saja.Meskipun Sang Budha tidak banyak berbicara masalah perkawinan, tetapi Sang Budhajuga mengajarkan hubungan keluarga, tentang suami istri yang penuh kasih sayang danmsetara. Namun dalam Budhisme, dalam hubungan keluarga ini yang diteklankan adalahmasalah kewajiban saja, bukan hak dan kewajiban. Hal ini dikarenakan adanya doktrinAn Ata, tidak ada aku, tidak ada aku yang berdiri sendiri. Jadi dalam tubuh manusia tidakada yang disebut se3bagai aku, melainkan hanya elemen.Perkawinan menurut Agama Buddha. Buddha tidak pernah mengajarkan keharusan atau larangan khususnya dalamperkawinan dan berdasarkan ajaran kebebasan itulah maka penganut Buddhadiperbolehkan atau tidak dilarang seorang pria Buddha mengikat perkawinan denganwanita non Buddhis, demikian juga dengan wanita Buddhis diperbolehkan atau tidakdilarang mengikat perkawinan dengan pria non Buddha. Bukan hanya kebebasan berpikir, tetapi juga toleransi yang diajarkan Buddhakepada murid-muridnya maka penganut Buddha bebas memilih pasangan hidupnyadalam suatu ikatan perkawinan tanpa memandang agamanya. Page 21
  • Meskipun bebas berpikir tetapi Buddha mengajarkan hubungan antara suami-istrimerupakan hubungan yang suci dan keramat atau penghidupan keluarga yang keramatatau Sadara-Brahma-cariya, tekanan diberikan kepada istilah “Brahma” merupakanpenghormatan tertinggi diberikan kepada hubungan suami-istri, karena suami istri harussetia, saling mencintai, saling berbakti dan mempunyai kewajiban tertentu terhadap satudengan yang lain.Suami harus selalu menghormati istrinya dan menjaga jangan sampai kekurangan apa-apa. Ia harus mencintainya dan setia kepadanya, harus memberikan kedudukan dankesenangan kepada istrinya dan harus memberikan pakaian dan perhiasan.Sebaliknya istri juga harus mengawasi dan mengurus rumah tangga, harus menjamusahabat-sahabat, tamu-tamu, keluarga dan pegawai suami, harus mencintai dan setiakepada suaminya, harus melindungi pencaharian suami, serta harus pintar dan rajin dalamsemua pekerjaannya. Page 22
  • Perkawinan Menurut Agama HinduArtikel ini terjemahan dari The Wedding in Hindu (Balinese) Religion yang ditulis olehBhagawan Dwija .By : Bhagawan Dwija Weda mengatakan bahwa pernikahan dalam Hindu adalah suatu perbuatan suci.Ada dua maksud utama di dalamnya. Pertama, Tuhan memberkati lelaki dan perempuanuntuk saling mencintai sebagaimana Dewa Smara (sama seperti dengan Adam) dan DewiRatih (sama seperti Hawa). Kedua, manusia diberi kesempatan untuk bereinkarnasimelalui keturunan yang dihasilkan oleh sepasang lelaki dan perempuan. Itulah sebabnyamengapa melahirkan keturunan masuk dalam prioritas bagi masyarakatHindu di Bali. Seorang anak, terutama anak laki-laki mempunyai peran penting dalam keluarga.Dialah yang akan merawat orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah meninggal.Roh dari orang tua yang sudah meninggal akan diantarkan kepada Tuhan oleh anaknyadalam sebuah upacara Ngaben. Karena pernikahan itu suci, maka juga disebut sebagaiperbuatan dharma. Lawan kata dari adharma yang bermakna dosa. Masyarakat balisangat menghindari perceraian, kecuali untuk alas an yang prinsip, misalnya tidak bisamendapat keturunan. Seks sebelum pernikahan juga sebuah dosa. Jadi dengan kata lain,seks menjadi hal kedua setelah pernikahan, lalu diikuti oleh kewajiban istri terhadapkeluarga suami. Ia meninggalkan rumah keluarga untuk bergabung dalam keluargabarunya. Sekarang ia tidak hanya mencintai dan merawat suami dan anak, namun jugaharus mencintai dan merawat keluarga suami terutama kedua orang tua. Dalam filosofiBali kuno, istri hampir sama kedudukannya dengan pelayan, namun pada jamansekarang, suami dan istri mempunyai kedudukan yang setara dan seimbang.Perayaan pernikahan diadakan sebagaimana mestinya seperti daerah lain, terkadangmereka yang mampu boleh juga mengadakan pernikahan yang meriah dan mengeluarkanbanyak uang. Namun suatu pernikahan tidak tergantung pada besar kecilnya pesta atauperayaan. Hal terpenting dari suatu pernikahan meliputi tiga aspek, yaitu Bhuta Saksi,Dwa Saksi, dan Manusa Saksi. Butha Saksi adalah bagian dari ritual pernikahan untukmewujudkan pernikahan suci dan sacral. Dewa Saksi adalah permohonan dan do’a untukberkat dari Tuhan atas mempelai berdua pernikahan yang dilangsungkan. SedangkanManusa Saksi lebih mengacu pada pemberitahuan pada masyarakat sekitar bahwa telah Page 23
  • berlangsung pernikahan antara sepasang mempelai tersebut. Sebagaimana tercantum jugadalam undang-undang perkawinan No.1/1974. Acara Pernikahan tersusun atas tiga bagian yaitu keluarga kedua belah pihakmempelai, orang-orang yang membuat perlengkapan dan kebutuhan upacara (banten),serta pendeta. Pendeta yang memimpin semua ritual dan bertanggung jawab atas jalannyaupacara. Pendeta adalah seorang yang sudah terlatih dan diberkati, dia memiliki otoritasdari guru yang biasa disebut Nabe, untuk memimpin suatu upacara. Seseorang dapatmenjadi pendeta setelah belajar segala sesuatu tentang Weda dan menjalani kehidupanbaru di ‘Jalan Tuhan’ barulah dia dapat memimpin pengikutnya untuk menuju kehidupanyang lebih baik (suci).Pendeta tidak hanya memimpin apacara namun juga harus aktif dalam mengarahkanorang-orang untuk menjadi seorang Hindu yang baik. Orang yang membuat perlengkapandan kebutuhan upacara atau banten biasanya adalah para perempuan, terkadang dipimpinoleh istri pendeta. Bantenmenjadi media yang digunakan oleh Pendeta dalam do’a-do’anya, terdiri dari daun-daunan, berbagai macam bunga, babi, ayam, buah-buahan, dsb.Selain itu juga dimaksudkan sebagai persembahan suci dan iklas dari lubuk hati umatHindu. Page 24
  • Pernikahan Secara IslamAgama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Taala cocokdengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Taala menyuruh manusiamenghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan danpenyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas fithrahnya.Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuknikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bilagharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akanmencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.Firman Allah Taala."Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapikebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-Ruum : 30).A. Islam Menganjurkan NikahIslam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusiayang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. PenghargaanIslam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkansebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata :"Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :"Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya.Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi".(Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).B. Islam Tidak Menyukai Membujang Page 25
  • Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah danmelarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata : "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami untuknikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras". Dan beliaubersabda :"Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akanberbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat".(Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabishallallahu alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelahditerangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salahseorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yanglain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawinselamanya .... Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliaukeluar seraya bersabda :"Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah,sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi akuberpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawiniperempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidaktermasuk golonganku". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinyake jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain MuhammadYusuf : "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidupyang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dariberbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoismedan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab".Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Merekamembujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurniansemangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakanmelawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namunpergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkaniman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya kelembah kenistaan. Page 26
  • Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka merekaitu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka ituadalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenanganbersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskindari karunia Allah.Trilogi Perkawinan KristianiPenulis : Eka DarmaputeraPembicaraan mengenai Hukum ke-7 Dasa Titah, "JANGAN BERZINAH", membawakita pada masalah PERKAWINAN. Tidak dapat tidak! Pemahaman orang tentang apa itu"berzinah", sangat tergantung pada pemahaman yang bersangkutan tentang apa itu"perkawinan". Tidak ada perkawinan, tidak ada perzinahan. Contohnya, ayam. Ayambiasa bertukar-tukar pasangan. Entah berapa kali sehari. Tapi berzinahkah ia?Menurut ajaran Reformasi, lembaga "perkawinan" terletak pada ranah (= realm) "OrdePenciptaan" (= Order of Creation). Apa artinya? Artinya, pertama, ialah, bahwa"perkawinan" itu diciptakan dan dikehendaki Allah, sejak awalnya Ia sudah ada dalamrancang-bangun penciptaan Allah, sejak "dari sono-nya".Ini berbeda dengan, misalnya, lembaga manusiawi lain yang disebut "negara". MenurutAlkitab, "negara" baru direstui Allah setelah dosa dan karena dosa ( Bnd. 1 Samuel8:1-9). Mengatakan bahwa "perkawinan" termasuk dalam "orde penciptaan", berartimengatakan bahwa - apa pun yang kemudian terjadi -- perkawinan itu pada hakikatnyabaik, suci, diberkati.Kedua, mengatakan bahwa "perkawinan" termasuk dalam "orde penciptaan" , juga berartimengatakan, bahwa ia diciptakan dan dikehendaki Allah bagi semua. Semua orangciptaan-Nya. Tidak hanya bagi sekelompok orang tertentu.Implikasi teologisnya adalah, tidak hanya pernikahan orang-orang Protestan, dan yangdilakukan di gereja-gereja Protestan saja, yang bisa disebut sebagai "perkawinan".Ghozali tidak boleh dicap "berzinah" dengan Chotimah, hanya karena perkawinanmereka dilangsungkan di KUA. Ong Bun Teng tidak boleh dianggap "kumpul kebo"dengan Tjhie Sam Sioe, hanya sebab mereka menikah di kelenteng, tidak di gereja.***Sebuah perkawinan adalah "sah", bila ia "sah" menurut hukum. Gereja tidakmengesahkan perkawinan. Gereja hanya "sekadar" memberkati serta meneguhkanpernikahan warganya, yang terlebih dahulu telah disahkan oleh negara.Konon, untuk menyungguhkan ajarannya yang terkesan "menentang arus" ini, MartinLuther dengan sengaja. hanya menikah di depan pejabat negara. Dengan itu, ia seolah- Page 27
  • olah ingin mempermaklumkan, " Dengan ini, pernikahanku toh tidak jadi berkurangkeabsahannya. Baik di hadapan Tuhan, maupun di depan manusia".Untuk pengetahuan Anda, keyakinan itulah yang membuat gereja-gereja Protestan diIndonesia sebenarnya mengalami kesulitan mendasar, sehubungan dengan ketentuan UUPerkawinan yang berlaku di negara kita, -- yang nota bene memang sudah kontroversialsejak awal kelahirannya. Mengapa?Sebab, di satu pihak, UU Perkawinan menetapkan, bahwa perkawinan harus "sah"terlebih dahulu secara agama, baru kemudian bisa "dicatat" oleh negara. Di lain pihak,ajaran Protestan mengatakan yang sebaliknya: bahwa perkawinan mesti "sah" dulu didepan negara, baru gereja dapat merestui serta meneguhkannya.Sebab bagaimana mungkin gereja "memberkati" sebuah perkawinan yang belum sah?Atau "meneguhkan" sebuah perkawinan yang secara resmi belum ada?Sedang mengabsahkannya? Ini lebih mustahil lagi! Sebab "gereja" bukanlah sebuahlembaga hukum. "Gereja" juga bukan sebuah lembaga negara. "Gereja" adalah sebuahlembaga keagamaan. Mengesahkan sebuah perkawinan, berarti merampas apa-apa yangmerupakan "hak" dan "otoritas" lembaga lain, d.h.i. "negara". Dan urusan pun akan jadilebih pelik, bila sebagai konsekuensinya, "gereja" yang harus mengabsahkan"perkawinan", harus juga menentukan keabsahan "perceraian".***Tetapi walaupun, seperti diuraikan di atas, "perkawinan" bersifat universal, ini samasekali tidak berarti bahwa yang disebut "perkawinan kristiani" itu tidak ada. PerkawinanYohanes dengan Maria bisa saja sama sahnya dengan perkawinan antara Wayan danKetut. Tapi juga amat berbeda!Perbedaan itu terletak pada asas-asasnya. Sebuah "perkawinan kristiani" bukanlahsekadar perkawinan antara dua orang kristen. Melainkan sebuah perkawinan yangdilandasi oleh prinsip-prinsip kristen. Perkawinan Yohanes dan Maria tidak serta mertaadalah sebuah "perkawinan kristen". Baru bisa disebut begitu, apabila Yohanes dan Mariabenar-benar menjalankan hidup bersama mereka berdasarkan "asas-asas perkawinankristen". Karena itu penting sekali kita mengetahui karakteristik asas-asas tersebut.Mengenai ini, perkenankanlah saya hanya berbicara mengenai apa-apa yang saya anggappaling pokok saja. Yaitu bahwa, ibarat bemo atau bajaj yang memiliki tiga roda, sebuahperkawinan kristen juga punya tiga (= trilogi) asas pokok. Tiga asas tersebut adalah: (a) asas monogami; (b) asas kesetiaan ( = fidelitas); dan (c) asas seumur hidup (= indisolubilitas).Sebuah perkawinan kristen adalah perkawinan antara seorang suami dengan seorang istri,yang untuk seumur hidup mereka, saling mengikatkan diri dalam ikatan kasih-setia. Page 28
  • Yang perlu saya tekankan adalah, bahwa yang terpenting dari karakteristik ini bukanlahmasing-masing asas itu secara individual, melainkan bahwa tiga asas tersebut merupakansatu kesatuan yang tak terpisahkan.Ini penting saya kemukakan, karena ada orang yang dengan "licik"nya membenarkan diridengan memanfaatkan asas-asas itu, sekali pun perbuatannya jelas-jelas merupakanpelanggaran.Misalnya, kasus pak Sastro Kempul. Dengan bangganya ia selalu mengatakan, betapadengan segenap hati ia menjunjung tinggi asas monogami. "Saya tidak pernah punya istrilebih dari satu orang", katanya.Tapi apa yang ia lakukan? Setiap kali ia jatuh hati kepada perempuan lain, makadiceraikannyalah istri yang "satu-satu"nya itu, untuk digantikan kedudukannya oleh istriyang baru, yang juga "satu-satu"nya. Pak Kempul menjalankan asas "monogami" tapimelanggar asas "kesetiaan" dan "asas seumur hidup".Pak Joni Kemplu lain lagi. Ia mengklaim diri sebagai penganut prinsip "monogami" danjuga pembela asas "seumur hidup". Karena itu, katanya, "Seumur hidup saya, saya tidakakan pernah menceraikan istri saya yang satu-satunya! Swear!". Tapi ia bermain "gelap-gelapan" dengan entah berapa banyak perempuan lain.. Pak Kemplu tidak lulus tes asasyang kedua, yaitu asas "kesetiaan".***ADA lagi tiga komponen yang juga amat erat saling terkait, di mana "perkawinan" adalahsalah satu komponennya. Inilah TRILOGI yang kedua: saling keterkaitan antara CINTA,SEKS, dan PERKAWINAN.Asas ini, saya akui, kini telah dianggap usang. Tak sesuai lagi dengan gaya hidupmoderen. Sebab orang moderen justru cenderung memisahkan ketiganya. "Seks",misalnya, dianggap sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri. Boleh dinikmati sebagai"seks".Tanpa perlu dikait-kaitkan dengan "cinta". Dan tanpa perlu harus dihubung-hubungkandengan "perkawinan". "Seks untuk seks".Di mata orang moderen, "perkawinan" juga begitu. Tidak hina, ganjil atau nista, bilaseorang Hasoloan "menikah" dengan Tarida, tapi "cinta"nya untuk Kemala, sedang"seks"nya dinikmati bersama dengan Tuti dan Rini dan Evi dan Sandra.Lalu "cinta"? "Cinta" tentu masih ada. Lihat saja sinetron-sinetron kita - entah berapabanyak yang bertemakan "cinta"! Tapi tunggu dulu. Bila orang-orang muda sekarangberbicara tentang "cinta" - apa sebenarnya maksud mereka? Menurut kesan saya,sekarang ini padanan kata untuk "cinta" adalah: "tertarik" atau "terpikat" atau "timbul Page 29
  • berahi", atau macam-macam lagi. Tapi yang pasti, tidak perlu terarah ke "perkawinan".Mungkin terarah ke "seks", tapi "seks" tak selalu mesti ekspresi "cinta".***Dalam perspektif kristiani, tiga komponen tersebut tidak boleh dipisah-pisah ataudipiliah-pilah. "Seks" dalam pandangan kristen bukanlah sesuatu yang tabu, hina dankotor.Kenikmatan seksual adalah anugerah Tuhan - bahkan salah satu anugerah Tuhan yangterbesar, yang - meniru bunyi sebuah iklan -- "membuat hidup benar-benar hidup"!Ya! Tapi di mana letak kenikmatan seksual yang paling puncak, dan daya tarik seksualyang paling indah? Jawabnya: ketika kegiatan seksual merupakan ekspresi "cinta" dandilaksanakan oleh suami - istri dalam konteks "perkawinan" yang berbahagia. Ini,saudara, yang benar-benar ruaaarr biasa!"Seks" tanpa "cinta" tentu saja bisa tetap menyenangkan dan memberi kenikmatantersendiri.. Tapi kesenangan dan kenikmatan yang cuma menyentuh permukaan. Tidakmemberi kepuasan yang mendalam."Seks" di luar konteks "perkawinan" amat boleh jadi mampu memberikan suasanapetualangan yang nikmat dan menegangkan. Tapi percayalah, ia pasti tidak memberiketentraman jiwa.Bahkan yang lebih sering, ia melahirkan rasa bersalah yang mengganggu sertapenyesalan yang panjang.Karena trilogi tersebut, kita menolak ide "hidup bersama" di luar pernikahan. Gaya hidupini memisahkan "seks" dan "cinta" dari "perkawinan". Dan sebaliknya, juga karena trilogitersebut, kita menolak dilaksanakannya "perkawinan" dengan motivasi-motivasi lain diluar cinta yang murni dan "seksualitas" yang benar. Misalnya memaksakan perkawinanuntuk menutup aib atau untuk memperoleh keuntungan.Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadtril.html Page 30
  • Pernikahan Beda AgamaDitulis oleh Komaruddin HidyatJumat, 01 Mei 2009 14:46Tulisan ini tidak hendak memasuki perdebatan teologis, apakah pernikahan beda agamadiperbolehkan ataukah tidak, melainkan sekadar menyajikan catatan psikologis problemyang muncul dari pasangan suami-istri yang berbeda agama.Berulang kali saya kedatangan tamu yang sekadar berkonsultasi mengenai kehidupanrumah tangga mereka yang menghadapi problem akibat perbedaan keyakinan agama,yangkemudian berimbas kepada anakanak mereka.Ada juga yang datang dengan status masihberpacaran dan bersiap memasuki jenjang pernikahan.Di antara kasus itu adalah memudarnya rumah tangga yang telah dibina belasan tahun,namun semakin hari serasa semakin kering, akibat perbedaan agama. Pada mulanya,terutama sewaktu masih pacaran, perbedaan itu dianggap sepele, bisa diatasi oleh cinta.Tetapi lama-kelamaan ternyata jarak itu tetap saja menganga.Bayangkan saja, ketika seorang suami (yang beragama Islam) pergi umrah atau haji, adalahsuatu kebahagiaan jika istri dan anakanaknya bisa ikut bersamanya. Tetapi alangkahsedihnya ketika istri dan anak-anaknya lebih memilih pergi ke gereja. Salah satukebahagiaan seorang ayah muslim adalah menjadi imam salat berjamaah bersama anakistri.Begitu pun ketika Ramadhan tiba,suasana ibadah puasa menjadi perekat batin kehidupankeluarga. Tetapi keinginan itu sulit terpenuhi ketika pasangannya berbeda agama. Di sisiistrinya, yang kebetulan beragama Kristen misalnya, pasti akan merasakan hal yangsama,betapa indahnya melakukan kebaktikan di gereja bersanding dengan suami.Namun ituhanya keinginan belaka.Ada seorang ibu yang merasa beruntung karena anak-anaknya ikut agama ibunya.Kondisiini membuat ayahnya merasa kesepian ketika ingin berbagi pengetahuan dan pengalamanberagama. Di zaman yang semakin plural ini pernikahan beda agama kelihatannya semakin Page 31
  • bertambah. Terlepas dari persoalan teologis dan keyakinan agama, perlu diingat bahwatujuan berumah tangga itu untuk meraih kebahagiaan. Untuk itu kecocokan dan salingpengertian sangat penting terpelihara dan tumbuh.Bahwa karakter suami dan istri masing-masing berbeda, itu suatu keniscayaan.Misalnyasaja perbedaan usia, perbedaan kelas sosial, perbedaan pendidikan, semuanya itu hal yangwajar selama keduanya saling menerima dan saling melengkapi.Namun, untuk kehidupan keluarga di Indonesia, perbedaan agama menjadi krusial karenaperistiwa akad nikah tidak saja mempertemukan suami-istri, melainkan juga keluargabesarnya. Jadi perlu dipikirkan matangmatang ketika perbedaan itu mengenai keyakinanagama.Problem itu semakin terasa terutama ketika sebuah pasangan beda agama telahmemiliki anak.Orang tua biasanya berebut pengaruh agar anaknya mengikuti agama yang diyakininya.Kalau ayahnya Islam, dia ingin anaknya menjadi muslim. Kalau ibunya Kristen dia inginanaknya memeluk Kristen.Anak yang mestinya menjadi perekat orang tua sebagai suami-isteri, kadang kala menjadi sumber perselisihan. Orang tua saling berebut menanamkanpengaruh masing-masing. Mengapa agama menjadi persoalan?Karena agama ibarat pakaian yang digunakan seumur hidup. Spirit,keyakinan,dan tradisiagama senantiasa melekat pada setiap individu yang beragama,termasuk dalam kehidupanrumah tangga.Di sana terdapat ritual-ritual keagamaan yang idealnya dijaga dandilaksanakan secara kolektif dalam kehidupan rumah tangga. Contohnya pelaksanaan salatberjamaah dalam keluarga muslim, atau ritual berpuasa.Semua ini akan terasa indah dannyaman ketika dilakukan secara kompak oleh seluruh keluarga.Setelah salat berjamaah, seorang ayah yang bertindak sebagai imam lalu menyampaikankultum dan dialog, tukar-menukar pengalaman untuk memaknai hidup. Suasana yangbegitu indah dan religius itu sulit diwujudkan ketika pasangan hidupnya berbedaagama.Kenikmatan berkeluarga ada yang hilang. Jadi, sepanjang pengamatan saya, secarapsikologis pernikahan beda agama menyimpan masalah yang bisa menggerogotikebahagiaan. Ini tidak berarti pernikahan satu agama akan terbebas dari masalah.Namun perbedaan agama bagi kehidupan rumah tangga di Indonesia selalu dipandangserius. Ada suatu kompetisi antara ayah dan ibu untuk memengaruhi anak-anak sehinggaanak jadi bingung. Namun ada juga yang malah menjadi lebih dewasa dan kritis.Pasangan yang berbeda agama masing-masing akan berharap dan yakin suatu saatpasangannya akan berpindah agama. Seorang teman bercerita, ada seorang suami yang rajinsalat, puasa, dan senantiasa berdoa agar istrinya yang beragama Katolik mendapat hidayahsehingga menjadi muslim.Dengan segala kesabarannya sampai dikaruniai dua anak, istrinya masih tetap kokohdengan keyakinan agamanya.Tapi harapannya belum juga terwujud dan bahkanperselisihan demi perselisihan muncul. Akhirnya suami dan istri tadi masing-masing Page 32
  • merasa kesepian di tengah keluarga. Ada suatu kehangatan dan keintiman yang kian redupdan perlahan menghilang.Ketika semakin menapaki usia lanjut, kebahagiaan yang dicari tidak lagi materi, melainkanbersifat psikologis-spiritual yang sumbernya dari keharmonisan keluarga yang diikat olehiman dan tradisi keagamaan. Ketika itu tak ada, maka rasa sepi kian terasa. Cerita di atastentu saja merupakan kasus, tidak bijak dibuat generalisasi. Namun pantas menjadipelajaran.Ketika masih berpacaran lalu menikah dan belum punya anak,cinta mungkin diyakini bisamengatasi semua perbedaan. Tetapi setelah punya anak berbagai masalah baru akanbermunculan. Memang ada satu dua pernikahan pasangan berbeda agama yangkelihatannya baik-baik saja. Cuma kebetulan yang datang pada saya yang bermasalah.Bayangkan, bagi seorang muslim, ketika usia semakin lanjut, tak ada yang diharapkankecuali untaian doa dari anaknya. Dan mereka yakin doa yang dikabulkan adalah yangdatang dari keluarga yang seiman. Dampak psikologis orang tua yang berbeda agama jugaakan sangat dirasakan oleh anak -anaknya.Mereka bingung siapa yang harus diikuti keyakinannya. Terlebih fase anak yang tengahmemasuki masa pembentukan dan perkembangan kepribadian di mana nilai-nilai agamasangat berperan. Kalau agama malah menjadi sumber konflik, tentulah kurang bagus bagianak.(*)Tulisan ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, Jumat 1 Mei 2009 Page 33
  • Menikah Dengan Beda AgamaAda 4 kasus, Yaitu:1. Kasus PertamaPria Muslim, Menikah dengan wanita ahli kitab (Yakni Yahudi dan nashoro, tidakselainnya) Kasus ini dibolehkan menurut syara, berdasarkan firman Allah dalamAlquran: "Dan wanita baik(Almaidah: 5)2. Kasus KeduaPria Muslim menikah dengan wanita musyrik (majusi, Budha, HIndu, dll selain Yahudidan Nashrani)Kasus ini, maka haram hukumnya menikah dengan wanita musyrik,berdasarkan firman Allah:"Jangan kamu menikah dengan wanita musyrik, sampai (kecuali) mereka beriman."(Albaqoroh: 221)Jika ada yang bertanya, mengapa menikah dengan wanita ahli kitab dibolehkan padahalharam hukumnya menikah dengan wanita musyrik, bukankah ahli kitab juga berbuatsyirik dengan menyekutukan Allah dengan nabi-Nya? maka syubhat ini dijawab:(1). Bahwa Allah sendiri membedakan bahwa orang kafir itu ada 2,yakni ahli kitab dan MusyrikinFirman-Nya: "Dan sesungguhnya orang-orang Kafir dari golongan Ahli kitab danmusyrikin, mereka kekal di neraka Jahannam, mereka adalah seburu-buruk makhluk"(albayyinah: 6)(2). Bahwa Walaupun kaum Ahli Kitab itu juga berbuat syirik, namun mereka tidakdinisbatkan dengan kemusyrikannya, akan tetapi dinisbatkan dengan Kitab Allah yangditurunkan kepada mereka, meskipun kitab tersebut mereka ubah.Oleh karena itu, Allah mengharamkan menikah dengan wanita musyrik, namun Diamenghalalkan menikah dengan wanita ahli kitab. ini adalah Syariat min robbil alamin,yang tentunya sesuai dengan hikmah-Nya. Page 34
  • 3. Kasus ketigaWanita muslimah menikah dengan Pria Musyrikin hukumnya haram, berdasarkan firmanAllah:"Dan janganlah kamu menikahkan pria musyrik dengan wanita mukmin.."(Albaqoroh: 221)4. Kasus keempatwanita muslimah menikah dengan pria Ahli kitab hukumnya haram, larangannya ialahtercakup dalam kasus ketiga di atas. Hal inikarena Allah tidak membedakan hukum menikah bagi muslimah dengan pria kafir, yaknisama haramnya.Adakah sahabat yang menikah dengan wanita ahli kitab?Dalam tafsir ibnu Katsir tentang Surat Almaidah ayat 6 disebutkan:Berkata Ibnu Abi Hatim: Telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakankepada kami muhammad bin hatim bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami qosimbin malik almuzanni, telah menceritakan kepada kami Ismail bin sami dari abi malikalghifari,ia berkata:".... tatkala turun ayat 6 surat almaidah, maka orang-orang pun menikah dengan wanitaahli kitab, dan sungguh ada banyak (jamaah) sahabat menikah dengan wanita nashrani,dan mereka berpandangan itu tidaklah mengapa,berdasarkan ayat ini."Apakah dijaman sekarang ini dibolehkan?Ust. Abdulhakim ketika ditanya tentang permasalahan ini di Palembang, 22 Juni lalu)menjelaskan, ringkasnya yaitu:bahwa hukum pria menikah dengan wanita ahli kitab itu tetap berlaku, yakni boleh. dania bukanlah suatu anjuran ketika jumlah kaum muslimah itu banyak.Rukshsah ini tentunya akan sangat dirasakan manfaatnya, bagi umat islam yang memangtinggal di negeri-negeri yang jumlah kaum muslimahnya sedikit, seperti di negara-negarabarat.masalah ini sebenarnya pernah di bahas di majalah Assunnah Page 35
  • PoligamiDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasWilayah yang membolehkan poligamiDalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satusuami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatusaat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu suami atauistri pada suatu saat).Terdapat tiga bentuk poligami, yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istrisekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), danpernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage, yaitu kombinasi poligini danpoliandri). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah, namum poliginimerupakan bentuk yang paling umum terjadi.Walaupun diperbolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami ditentang oleh sebagiankalangan. Terutama kaum feminis menentang poligini, karena mereka menganggappoligini sebagai bentuk penindasan kepada kaum wanita.Poligami dan agamaHinduBaik poligini maupun poliandri dilakukan oleh sekalangan masyarakat Hindu pada zamandulu. Hinduisme tidak melarang maupun menyarankan poligami. Pada prakteknya dalamsejarah, hanya raja dan kasta tertentu yang melakukan poligami.Yudaisme Page 36
  • Walaupun kitab-kitab kuna agama Yahudi menandakan bahwa poligami diizinkan,berbagai kalangan Yahudi kini melarang poligami.KristenGereja-gereja Kristen umumnya, (Protestan, Katolik, Ortodoks, dan lain-lain) menentangpraktek poligami. Namun beberapa gereja memperbolehkan poligami berdasarkan kitab-kitab kuna agama Yahudi.Gereja Katolik merevisi pandangannya sejak masa Paus LeoXIII pada tahun 1866 yakni dengan melarang poligami yang berlaku hingga sekarang.MormonismePenganut Mormonisme pimpinan Joseph Smith di Amerika Serikat sejak tahun 1840-anhingga sekarang mempraktikkan, bahkan hampir mewajibkan poligami. Tahun 1882penganut Mormon memprotes keras undang-undang anti-poligami yang dibuatpemerintah Amerika Serikat.Namun praktik ini resmi dihapuskan ketika Utah memilihuntuk bergabung dengan Amerika Serikat. Sejumlah gerakan sempalan Mormon sampaikini masih mempraktekkan poligini.IslamArtikel utama untuk bagian ini adalah: Poligami dalam IslamIslam pada dasarnya memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu (poligami).Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sangsuami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya (Surat an-Nisa ayat 3 4:3).Poligini dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara bervariasidi tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia sendiriterdapat hukum yang memperketat aturan poligini untuk pegawai negeri, dan sedangdalam wacana untuk diberlakukan kepada publik secara umum. Tunisia adalah contohnegara arab dimana poligami tidak diperbolehkan.Film • Berbagi Suami (tahun 2006) • Ayat-Ayat Cinta (tahun 2008) Page 37
  • Syarat – Syarat Poligami dalam Islam Bahwa beberapa ulama, setelah meninjau ayat-ayat tentang poligami, merekatelah menetapkan bahwa menurut asalnya, Islam sebenamya ialah monogami. Terdapatayat yang mengandung gugutan serta peringatan agar tidak disalah gunakan poligami itudi tempat-tempat yang tidak wajar. Ini semua bertujuan supaya tidak terjadinyakezaliman. Tetapi, poligami diperbolehkan dengan syarat ia dilakukan pada masa-masaterdesak untuk mengatasi perkara yang tidak dapat diatasi dengan jalan lain. Atau dengankata lain bahawa poligami itu diperbolehkan oleh Islam dan tidak dilarang kecuali jikalaudikuatirkan bahwa kebaikannya akan dikalahkan oleh keburukannya. Jadi, sebagaimana talaq, begitu jugalah halnya dengan poligami yangdiperbolehkan karena hendak mencari jalan keluar dari kesulitan. Islam memperbolehkanumatnya berpoligami berdasarkan nas-nas syariat serta realiti keadaan masyarakat. Iniberarti ia tidak boleh dilakukan dengan sewenang-wenangnya demi untuk mencapaikesejahteraan masyarakat Islam, demi untuk menjaga ketinggian budi pekerti dan nilaikaum Muslimin.Oleh yang demikian, apabila seorang lelaki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhisyarat-syarat sebagai berikut;1. Membatasi jumlah isteri yang akan dikawininya. Syarat ini telah disebutkan olehAllah (SWT) dengan firman-Nya;"Maka berkawinlah dengan sesiapa yang kamu ber-kenan dari perempuan-perempuan(lain): dua, tiga atau empat." (Al-Quran, Surah an-Nisak ayat 3)Ayat di atas menerangkan dengan jelas bahawa Allah telah menetapkan seseorang ituberkawin tidak boleh lebih dari empat orang isteri. Jadi, Islam membatasi kalau tidakberisteri satu, boleh dua, tiga atau empat saja. Pembatasan ini juga bertujuan membatasi kaum lelaki yang suka denganperempuan agar tidak berbuat sesuka hatinya. Di samping itu, dengan pembatasan empatorang isteri, diharapkan jangan sampai ada lelaki yang tidak menemukan isteri atau adapula wanita yang tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan duaorang isteri saja, maka akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalau pula dibolehkanlebih dari empat, mungkin terjadi banyak lelaki tidak memperolehi isteri. Page 38
  • 2. Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada talipersaudaraan menjadi isterinya. Misalnya, berkawin dengan kakak dan adik, ibu dananaknya, anak saudara dengan ibu saudara baik sebelah ayah maupun ibu.Tujuan pengharaman ini ialah untuk menjaga silaturrahim antara anggota-anggotakeluarga. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya;"Sesungguhnya kalau kamu berbuat yang demikian itu, akibatnya kamu akanmemutuskan silaturrahim di antara sesama kamu." (Hadis riwayat Bukhari & Muslim)Kemudian dalam hadis berikut, Rasulullah (s.a.w.) juga memperkuatkan larangan ini,maksudnya;Bahwa Urnmu Habibah (isteri Rasulullah) mengusulkan agar baginda menikahiadiknya. Maka beliau menjawab; "Sesungguhnya dia tidak halal untukku." (Hadisriwayat Bukhari dan Nasai)Seorang sahabat bernama Fairuz Ad-Dailamy setelah memeluk agama Islam, beliaumemberitahu kepada Rasulullah bahwa beliau mempunyai isteri yang kakak beradik.Maka Rasulullah menyuruhnya memilih salah seorang di antara mereka dan menceraikanyang satunya lagi. Jadi telah disepakati tentang haramnya mengumpulkan kakak beradikini di dalam Islam.3. Disyaratkan pula berlaku adil, sebagaimana yang difirmankan Allah (SWT);"Kemudian jika kamu bimbang tidak dapat berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu),maka (kawinlah dengan) seorang saja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yangkaumiliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidakmelakukan kezaliman." (Al-Quran, Surah an-Nisak ayat 3)Dengan tegas diterangkan serta dituntut agar para suami bersikap adil jika akanberpoligami. Andaikan takut tidak dapat berlaku adil kalau sampai empat orang isteri,cukuplah tiga orang saja. Tetapi kalau itupun masih juga tidak dapat adil, cukuplah duasaja. Dan kalau dua itu pun masih kuatir tidak boleh berlaku adil, maka hendaklahmenikah dengan seorang saja. Para mufassirin berpendapat bahwa berlaku adil itu wajib. Adil di sini bukanlahberarti hanya adil terhadap para isteri saja, tetapi mengandung arti berlaku adil secaramutlak. Oleh karena itu seorang suami hendaklah berlaku adil sebagai berikut:a) Berlaku adil terhadap dirinya sendiri .Seorang suami yang selalu sakit-sakitan dan mengalami kesukaran untuk bekerja mencarirezeki, sudah tentu tidak akan dapat memelihara beberapa orang isteri. Apabila dia tetapberpoligami, ini bearti dia telah menganiayai dirinya sendiri. Sikap yang demikian adalahtidak adil. Page 39
  • b) Adil di antara para isteri.Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya, berupa kemesraanhubungan jiwa, nafkah berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain perkarayang diwajibkan Allah kepada setiap suami.Adil di antara isteri-isteri ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah dalam Surah an-Nisak ayat 3 dan juga sunnah Rasul. Rasulullah (s.a.w.) bersabda, maksudnya;"Barangsiapa yang mempunyai dua isteri, lalu dia cenderung kepada salah seorang diantaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak di hari kiamat diaakan datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir jatuh sebelah." (Hadis riwayatAhmad bin Hanbal)i) Adil memberikan nafkah. Dalam soal adil memberikan nafkah ini, hendaklah si suami tidak menguranginafkah dari salah seorang isterinya dengan alasan bahawa si isteri itu kaya atau adasumber keuangannya, kecuali kalau si isteri itu rela. Suami memang boleh menganjurkanisterinya untuk membantu dalam soal nafkah tetapi tanpa paksaan. Memberi nafkah yanglebih kepada seorang isteri dari yang lain-lainnya diperbolehkan dengan sebab-sebabtertentu. Misalnya, si isteri tersebut sakit dan memerlukan biaya rawatan sebagaitambahan. Prinsip adil ini tidak ada perbedaannya antara gadis dan janda, isteri lama atauisteri baru, isteri yang masih muda atau yang sudah tua, yang cantik atau yang tidakcantik, yang berpendidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin, yang sakit atauyang sehat, yang mandul atau yang dapat melahirkan. Kesemuanya mempunyai hak yangsama sebagai isteri.ii) Adil dalam menyediakan tempat tinggal. Selanjutnya, para ulama telah sepakat mengatakan bahawa suamibertanggungjawab menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap isteriberserta anak-anaknya sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan semata-matauntuk menjaga kesejahteraan isteri-isteri, jangan sampai timbul rasa cemburu ataupertengkaran yang tidak diingini.iii) Adil dalam giliran. Demikian juga, isteri berhak mendapat giliran suaminya menginap di rumahnyasama lamanya dengan waktu menginap di rumah isteri-isteri yang lain. Sekurang-kurangnya si suami mesti menginap di rumah seorang isteri satu malam suntuk tidakboleh kurang. Begitu juga pada isteri-isteri yang lain. Walaupun ada di antara merekayang dalam keadaan haid, nifas atau sakit, suami wajib adil dalam soal ini. Sebab, tujuanperkawinan dalam Islam bukanlah semata-mata untuk mengadakan hubungan seksdengan isteri pada malam giliran itu, tetapi bermaksud untuk menyempurnakankemesraan, kasih sayang dan kerukunan antara suami isteri itu sendiri. Hal iniditerangkan Allah dengan firman-Nya; Page 40
  • "Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-Nya, dan rahmat-Nya, bahwala menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri,supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikan-Nya di antarakamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yangdemikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagiorang-orang yang berfikir." (Al-Quran, Surah ar-Ruum ayat 21)Andaikan suami tidak bersikap adil kepada isteri-isterinya, dia berdosa dan akanmenerima seksaan dari Allah (SWT) pada hari kiamat dengan tanda-tanda berjalan dalamkeadaan pinggangnya miring. Hal ini akan disaksikan oleh seluruh umat manusia sejakNabi Adam sampai ke anak cucunya.Firman Allah (SWT) dalam Surah az-Zalzalah ayat 7 hingga 8;"Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya (dalam suratamalnya)! Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya akan dilihatnya(dalam surat amalnya)."c) Anak-anak juga mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaanserta kasih sayang yang adil dari seorang ayah. Oleh itu, disyaratkan agar setiap suami yang berpoligami tidak membeda-bedakanantara anak si anu dengan anak si anu. Berlaku adil dalam soal nafkah anak-anakmestilah diperhatikan bahwa nafkah anak yang masih kecil berbeda dengan anak yangsudah besar. Anak-anak perempuan berbeda pula dengan anak-anak lelaki. Tidak kiradari ibu yang mana, kesemuanya mereka berhak memiliki kasih sayang serta perhatianyang sama dari bapa mereka. Jangan sampai mereka diterlantarkan karena kecenderungansi bapa pada salah seorang isteri serta anak-anaknya saja. Keadilan juga sangat dituntut oleh Islam agar dengan demikian si suamiterpelihara dari sikap curang yang dapat merusakkan rumah tangganya. Seterusnya,diharapkan pula dapat memelihara dari terjadinya cerai-berai di antara anak-anak sertamenghindarkan rasa dendam di antara sesama isteri.Sesungguhnya kalau diperhatikan tuntutan syarat dalam hal menegakkan keadilan antarapara isteri, nyatalah bahwa sukar sekali didapati orang yang sanggup menegakkankeadilan itu dengan sewajarnya. Bersikap adil dalam hal-hal menzahirkan cinta dan kasih sayang terhadap isteri-isteri, adalah satu tanggungjawab yang sangat berat. Walau bagaimanapun, ia termasukperkara yang berada dalam kemampuan manusia. Lain halnya dengan berlaku adil dalamsoal kasih sayang, kecenderungan hati dan perkara-perkara yang manusia tidakberkesanggupan melakukannya, mengikut tabiat semula jadi manusia. Page 41
  • Hal ini sesuai dengan apa yang telah difirmankan Allah dalam Surah an-Nisak ayat 129yang berbunyi;"Dan kamu tidak sekali-kali akan sanggup berlaku adil di antara isteri-isteri kamusekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamucenderung dengan melampau-lampau (berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi)sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung (di awang-awang)."Selanjutnya Siti Aisyah (r.a.) menerangkan, maksudnya;Bahwa Rasulullah (s.a.w.) selalu berlaku adil dalam mengadakan pembahagian antaraisteri-isterinya. Dan beliau berkata dalam doanya: "Ya Allah, inilah kemampuankumembahagia apa yang ada dalam milikku. Ya Allah, janganlah aku dimarahi dalammembahagia apa yang menjadi milikku dan apa yang bukan milikku." Menurut Prof. Dr. Syeikh Mahmoud Syaltout; "Keadilan yang dijadikan syaratdiperbolehkan poligami berdasarkan ayat 3 Surah an-Nisak. Kemudian pada ayat 129Surah an-Nisak pula menyatakan bahawa keadilan itu tidak mungkin dapat dipenuhi ataudilakukan. Sebenamya yang dimaksudkan oleh kedua ayat di atas ialah keadilan yangdikehendaki itu bukanlah keadilan yang menyempitkan dada kamu sehingga kamumerasakan keberatan yang sangat terhadap poligami yang dihalalkan oleh Allah. Hanyasaja yang dikehendaki ialah jangan sampai kamu cenderung sepenuh-penuhnya kepadasalah seorang sahaja di antara para isteri kamu itu, lalu kamu tinggalkan yang lain sepertitergantung-gantung."Kemudian Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shidieqy pula menerangkan; "Orang yang bolehberisteri dua ialah yang percaya benar akan dirinya dapat berlaku adil, yang sedikit puntidak akan ada keraguannya. Jika dia ragu, cukuplah seorang sahaja.""Adil yang dimaksudkan di sini ialah kecondongan hati. Dan ini tentu amat sulit untukdilakukan, sehingga poligami adalah suatu hal yang sukar untuk dicapai. Jelasnya,poligami itu diperbolehkan secara darurat bagi orang yang benar-benar percaya dapatberlaku adil." Selanjutnya beliau menegaskan, jangan sampai si suami membiarkan salahseorang isterinya terkatung-katung, digantung tak bertali. Hendaklah disingkirkan sikapcondong kepada salah seorang isteri yang menyebabkan seorang lagi kecewa. Adapuncondong yang dimaafkan hanyalah condong yang tidak dapat dilepaskan oleh setiapindividu darinya, iaitu condong hati kepada salah seorangnya yang tidak membawakepada mengurangkan hak yang seorang lagi.Afif Ab. Fattah Tabbarah dalam bukunya Ruhuddinil Islami mengatakan; "Makna adil didalam ayat tersebut ialah persamaan; yang dikehendaki ialah persamaan dalam halpergaulan yang bersifat lahir seperti memberi nafkah, tempat tinggal, tempat tidur, danlayanan yang baik, juga dalam hal menunaikan tanggungjawab sebagai suami isteri." Page 42
  • 4. Tidak menimbulkan huru-hara di kalangan isteri mahupun anak-anak. Jadi,suami mesti yakin bahawa perkahwinannya yang baru ini tidak akan menjejaskan sertamerosakkan kehidupan isteri serta anak-anaknya. Kerana, diperbolehkan poligami dalamIslam adalah untuk menjaga kepentingan semua pihak. Jika kepentingan ini tidak dapatdijaga dengan baik, maka seseorang yang berpoligami pada saat itu adalah berdosa.5. Berkuasa menanggung nafkah. Yang dimaksudkan dengan nafkah di sini ialahnafkah zahir, sebagaimana Rasulullah (s.a.w.) bersabda yang bermaksud;"Wahai sekalian pemuda, sesiapa di antara kamu yang berkuasa mengeluarkan nafkah,maka hendaklah kamu berkahwin. Dan sesiapa yang tidak berkuasa, hendaklahberpuasa."Hadis di atas menunjukkan bahawa Rasulullah (s.a.w.) menyuruh setiap kaum lelakisupaya berkahwin tetapi dengan syarat sanggup mengeluarkan nafkah kepada isterinya.Andaikan mereka tidak berkemampuan, maka tidak digalakkan berkahwin walaupun diaseorang yang sihat zahir serta batinnya. Oleh itu, untuk menahan nafsu seksnya,dianjurkan agar berpuasa. Jadi, kalau seorang isteri saja sudah kepayahan untuk memberinafkah, sudah tentulah Islam melarang orang yang demikian itu berpoligami. Memberinafkah kepada isteri adalah wajib sebaik sahaja berlakunya suatu perkahwinan, ketikasuami telah memiliki isteri secara mutlak. Begitu juga si isteri wajib mematuhi sertamemberikan perkhidmatan yang diperlukan dalam pergaulan sehari-hari. Page 43
  • Dampak poligami terhadap perempuan di IndonesiaDampak yang umum terjadi terhadap istri yang suaminya berpoligami[1] yang terdiri dari2 faktor yaitu: • Faktor Internal 1. Dampak psikologis: perasaan inferior istri dan menyalahkan diri karena merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya. 2. Dampak ekonomi: Ketergantungan secara ekonomi kepada suami. Walaupun ada beberapa suami memang dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, tetapi dalam praktiknya lebih sering ditemukan bahwa suami lebih mementingkan istri muda dan menelantarkan istri dan anak-anaknya terdahulu. Akibatnya istri yang tidak memiliki pekerjaan akan sangat kesulitan menutupi kebutuhan sehari-hari. 3. Dampak hukum: Seringnya terjadi nikah di bawah tangan (perkawinan yang tidak dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama), sehingga perkawinan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Pihak perempuan akan dirugikan karena konsekuensinya suatu perkawinan dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya. 4. Dampak kesehatan: Kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS), bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS. 5. Kekerasan terhadap perempuan, baik kekerasan fisik, ekonomi, seksual maupun psikologis. Hal ini umum terjadi pada rumah tangga poligami, walaupun begitu kekerasan juga terjadi pada rumah tangga yang monogami. • Faktor EksternalKesimpulan dari maksud kemampuan secara zahir ialah;i) Mampu memberi nafkah asas seperti pakaian dan makan minum.ii) Mampu menyediakan tempat tinggal yang wajar. Page 44
  • iii) Mampu menyediakan kemudahan asas yang wajar seperti pendidikan dansebagainya.iv) Sehat tubuh badannya dan tidak berpenyakit yang boleh menyebabkan ia gagalmemenuhi tuntutan nafkah zahir yang lain.v) Mempunyai kemampuan dan keinginan seksual. Page 45