Your SlideShare is downloading. ×
Potensi Industi Kreatif di Gunung Api Batur, Bali
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Potensi Industi Kreatif di Gunung Api Batur, Bali

2,652

Published on

Laporan Hasil Penelitian Pariwisata bidang Industri Kreatif dengan 16 sub sektor. …

Laporan Hasil Penelitian Pariwisata bidang Industri Kreatif dengan 16 sub sektor.
Tim Peneliti terdiri dari 6 orang. Penelitian berlangsung 1 bulan.

Published in: Travel
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,652
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
57
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kondisi aktual Ekonomi Kreatif di Indonesia saat ini telah banyak mengalami kemajuan dibandingkan beberapa tahun silam, seperti yang pertama terbukti dengan adanya beberapa pengakuan-pengakuan dari badan organisasi internasional; Indonesia, dinyatakan sebagai peringkat ke-39 dalam World Cultural Heritage menurut World Economic Forum (WEF), karena memiliki kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi oleh para pelaku Ekonomi Kreatif. Selain itu yang kedua Ekonomi Kreatif dapat tumbuh dengan baik di Indonesia di latar belakangi oleh beberapa faktor-faktor yang mendukung dan berpengaruh seperti keanekaragaman seni budaya yang dimiliki lebih dari 300 suku dan etnis Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memperkaya konten karya para pelaku Ekonomi Kreatif. Selanjutnya yang ketiga adalah keadaan pasar dalam negeri yang sudah mulai tumbuh, terutama untuk subsektor film dan musik yang menjadi salah satu indikator dalam kajian ini. Munculnya industri perfilman mulai dari yang berskala lokal seperti yang terbiasa muncul dalam acara-acara Indie Movie Award, hingga film berskala Internasional seperti The Raid, Laskar Pelangi. Sedangkan industri musik ditandai dengan makin banyaknya penyewaan alat musik, studio, dan lainnya, di setiap daerah hingga pedesaan di Indonesia. Selain itu juga dapat dilihat banyaknya variasi alat musik yang digunakan maupun jenis musik yang mereka 1
  • 2. gunakan, seperti penggunaan bambu sebagai bahan dasar pembuatan alat musik, munculnya Event Organizer yang membuat konser-konser dengan skala Internasional seperti Java Jazz, Jazz Gunung di Gunung Bromo, konser Rihanna, dll. Lalu yang keempat adalah dari sekitar 237 juta jumlah penduduk Indonesia, 40% adalah pemuda dalam usia produktif yang berpotensi untuk mengembangkan Ekonomi Kreatif. Fakta yang kelima adalah Indonesia memiliki lebih dari 17.100 pulau dengan penduduk asli sebagai pemilik talenta kreatif yang berbasis kepada keunikan lokal sehingga dapat mengukuhkan eksistensi Indonesia di dunia. Sebagai gambaran lainnya dari kondisi Ekonomi Kreatif di Indonesia berikut adalah diagram dalam kaitannya peran serta Industri Kreatif bagi kegiatan perekonomian nasional. Gambar 1.1. GAMBARAN KONDISI EKONOMI KREATIF NASIONAL 2010 Sumber: Rencana Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif 2012-2014 2
  • 3. Menurut informasi dari hasil persentase Gambar 1.1. diatas menunjukan bahwa tingkat Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Kreatif terhadap Produk Domestik Bruto nasional (7,29%) lebih unggul dibanding sektor: Listrik, Gas, dan Air Bersih (0,81%); Pengangkutan dan Komunikasi (6,34%); dan Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan (6,16%). Sedangkan untuk hasil persentase mengenai Tingkat partisipasi tenaga kerja Industri Kreatif (7,9 %) lebih unggul dibanding sektor: Pertambangan dan Penggalian (1,16%); Listrik, Gas, dan Air Bersih (0,22%); Konstruksi (5,17%); Pengangkutan dan Komunikasi (5,18%); Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan (1,47%). Untuk hasil persentase Pertumbuhan tenaga kerja Industri Kreatif (4,21%) lebih unggul dibanding sektor: Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan (-0,28%); Konstruksi (1,93%); Perdagangan, Hotel, dan Restoran (2,48%); dan Pengangkutan dan Komunikasi (8,16%). Sedangkan hasil persentase Kontribusi Industri Kreatif terhadap jumlah perusahaan (7,11%) lebih unggul dibanding sektor: Pertambangan dan Penggalian (0,9%); Industri Pengolahan (5,72%); Listrik, Gas, dan Air Bersih (0,06%); Konstruksi (1,88%); Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan (0,41%); dan Jasa Kemasyarakatan (6,28%). Serta hasil persentase untuk Pertumbuhan perusahaan Industri Kreatif (3,89%) lebih unggul dibanding sektor: Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan (-0,28%); Konstruksi (1,93%); Perdagangan, Hotel, dan Restoran (2,48%); dan Pengangkutan dan Komunikasi (-8,16%). Destination Management Organization (DMO) adalah tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis yang mencakup fungsi koordinasi, perencanaan. Implementasi, dan pengendalian destinasi organisasi secara inovatif dan sistemik melalui pemanfaatan jejaring, informasi dan teknologi, yang 3
  • 4. terpimpin secara terpadu dengan peran serta masyarakat, pelaku/ asosiasi, industri, akademisi dan pemerintah yang memiliki tujuan, proses dan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan, volume kunjungan wisata, lama tinggal dan besaran pengeluaran wisatawan serta manfaat bagi masyarakat lokal. Menurut pengertian DMO diatas tim mengkaji potensi Industri Kreatif yang ada di kawasan pariwisata Gunung Batur dengan dasar pengelompokan 15 kategori Industri Kreatif yang dikeluarkan Departemen Perdaganan Republik Indonesia pada tahun 2007 dan diperbaharui dengan melibatkan subsektor “Kuliner” sekaligus menjadi acuan Rencana Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif 20122014 bagi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia tahun 2012. Subsektor yang termasuk kedalam basis kreatif menurut Departemen Perdaganan Republik Indonesia yaitu; (1) Permainan Interaktif; (2) Penelitian dan Pengembangan; (3) Teknologi Informasi dan Piranti Lunak; (4) Arsitektur; (5) Desain; (6) Fesyen; (7) Kerajinan; (8) Pasar Barang Seni; (9) Seni Pertunjukan; (10) Kuliner; (11) Musik; (12) Penerbitan dan Percetakan; (13) TV dan Radio; (14) Video, Film, Fotografi; dan (15) Periklanan. Secara keseluruhan 15 subsektor diatas dibedakan kedalam 4 aspek bedasarkan ciri-ciri setiap subsektor, keempat aspek tersebut ialah; Media, Seni dan Budaya, Desain, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IpTek). Selain itu juga terdapat 2 kategori lain bagi ke 15 subsektor tersebut, pembagian tersebut didasari oleh intensitas kebutuhan subsektor tersebut akan sumber daya yang ada. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan yang dilakukan Singapura oleh Toh, Choo & Ho (2003)24, yang mengelompokkan domain industri kreatifnya pada 3 elemen, yaitu: seni budaya, media dan desain. Elemen iptek tidak 4
  • 5. terdapat dalam studi tersebut, karena Singapura sebagai negara yang tergolong maju dalam pengembangan teknologi yang telah terintegrasi dalam pembangunan, sehingga diasumsikan tidak diperlukan penekanan khusus. Sedangkan dalam konteks Indonesia, masih terdapat kesenjangan yang tinggi dan beragam di berbagai wilayah nusantara dan segmen masyarakat dalam tingkat penguasaan teknologi maju. Atas dasar hal tersebut, maka aspek Iptek memerlukan penekanan khusus sebagai substansi dominan pada industri kreatif tertentu. Industri Kreatif erat kaitannya dengan wirausahaan/ entrepreneurship, karena Industri Kreatif yang dibangkitkan oleh ide-ide yang terletak di persimpangan antara seni (kreativitas artistik), bisnis (entrepreneurship) sehingga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu potensi yang dimiliki suatu kawasan untuk mengembangkan Industri Kreatif tidak hanya terbatas dari ketersediaan hardware seperti restoran, café, tempat belanja, dan tempat hiburan lain. Aspek software juga menjadi daya tarik bagi pengembangan Industri Kreatif seperti warisan seni dan kerajinan lokal, lansekap kawasan, tradisi budaya setempat, keberadaan event seperti festival. Sayangnya meskipun kawasan pariwisata Gunung Api Batur memiliki potensi pengembangan destinasi yang tinggi, didukung dengan keindahan alam yang baik, kondisi aktual di kawasan pariwisata Gunung Api Batur kurang begitu baik, kondisi perindustriannya tumbuh dengan lambat, belum ada pendataan Industri Kreatif secara khusus, sedangkan konsep Industri Kreatif sendiri bermanfaat bagi perekonomian menengah kebawah, dimana pada umumnya industri ini berskala Industri Sedang hingga Industri Kerajinan Rumah Tangga. Berikut data industri yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur: 5
  • 6. Tabel 1.1. TABEL BANYAKNYA PERUSAHAAN INDUSTRI MENURUT KLASIFIKASI PER DESA DI KECAMATAN KINTAMANI TAHUN 2010 Industri Besar Industri Sedang Industri Kecil Industri Kerajinan Rumah Tangga Batur Utara Batur Selatan Batur Tengah Pinggan Kintamani Songan A Songan B - - - 14 28 - Kedisan Buahan Trunyan Suter - - 2 4 16 244 Abang Songan Abang Batudinding - - 6 24 187 Desa/Kelurahan Jumlah 12 Sumber: Kecamatan Kintamani Dalam Angka 2011 513 Berdasarkan Tabel 1.1. diatas diketahui bahwa mayoritas industri yang tumbuh di kawasan pariwisata Gunung Api Batur adalah Industri Kerajinan Rumah Tangga yang di dominasi oleh Desa Suter dan Abang Batudinding dengan jumlah 244 dan 187 wirausahawan yang ada. Sedangkan Industri Kecil masih sangat sedikit yang ada yaitu hanya ada di Desa Abang Batudinding, Suter, dan Buahan. Industri Besar dan Industri Sedang belum ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Berangkat dari data dan persentase diatas, tim peneliti mendapat gambaran bahwa Indonesia memiliki potensi Industri Kreatif di beberapa sektor yang lebih unggul dibandingkan dengan sektor lainnya yang ada di Indonesia. Serta menjadikan hal tersebut sebagai landasan penelitan Industri Kreatif di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. 6
  • 7. Sedangkan kondisi kawasan pariwisata Gunung Api Batur sebagai salah satu ODTW yang telah dikenal sejak dulu karena memiliki keindahan alam yang baik, hawa yang sejuk khas pegunungan, Gunung Api Batur yang menarik untuk diketahui, juga Danau Batur yang memberikan warna kontras terhadap lingkungan sekitarnya. Berbagai Aktivitas Wisata muncul di tempat tersebut, saat ini DMO telah menentukan 15 Desa yang menjadi daerah penyanggah kegiatan pariwisata yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Aktivitas Wisata timbul dengan berbagai macam sebab dan akibat, salah satunya dengan adanya objek wisata, lalu adapula karena tumbuhnya Industri Kreatif maupun sebaliknya, yaitu kegiatan Industri Kreatif yang dipicu oleh adanya Aktivitas Wisata disekitarnya. Dari keseluruhan pembahasan diatas peneliti tertarik untuk mengetahui potensi industri kreatif yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur dengan judul penelitian: “Potensi Industri Kreatif yang Mendukung Kegiatan Pariwisata di Kawasan Gunung Api Batur, Bali”. B. RUMUSAN MASALAH DAN PEMBATASAN MASALAH 1. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang menjadi pembahasan dalam penulisan ini adalah “Sejauhmana Potensi Industri Kreatif yang Mendukung Kegiatan Pariwisata di Kawasan Gunung Batur, Bali”. 2. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, tim peneliti membatasi aspek yang diteliti dari Industri Kreatif yaitu empat aspek utama; Media, Seni Budaya, Desain, dan 7
  • 8. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IpTek) yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Lokasi penelitian Industri Kreatif ini dilaksanakan di 13 (tiga belas) Desa dari 15 (lima belas) Desa yang termasuk dalam kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Hal ini dikarenakan adanya bencana alam dan kendala teknis selama dilapangan, sehingga secara terpaksa tim meniadakan penelitian ke desa-desa tersebut, yaitu Desa Sukawana dan Desa Belandingan. Selain itu tim peneliti membatasi penelitian tentang Aktivitas Wisata di kawasan Gunung Api Batur bedasarkan data temuan tentang Industri Kreatif, yang oleh tim di analisis menjadi beberapa temuan potensi Aktivitas Wisata yang muncul dari kegiatan Industri Kreatif tersebut dengan melakukan pemetaan di 13 Desa. Dalam pengkajian Pengelolaan Industri Kreatif, peneliti hanya menganalisa sudah atau belum dikelolanya Potensi Industri Kreatif yang mendukung kegiatan pariwisata di kawasan Gunung Api Batur. Lalu membandingkan kondisi yang menjadi sasaran dengan kondisi aktual dari peran para stakeholders terkait. 8
  • 9. C. IDENTIFIKASI MASALAH Adapun permasalahan yang tim teliti melalui beberapa identifikasi masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi Potensi Industri Kreatif yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali? 2. Bagaimana kondisi Aktifitas Wisata di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali? 3. Bagaimana kondisi Pengelolaan Industri Kreatif di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali? D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan a. Tujuan Formal: Meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang penelitian pemikiran logis, sistematis dan metodologi, dan juga sebagai pengalaman sebelum men proyek akhir. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan prinsip-prinsip DMO di kawasan Pariwisata Gunung Batur, Bali. b. Tujuan Operasional: 1) Mengetahui potensi Industri Kreatif yang telah ada di kawasan pariwisata Gunung Batur, Bali. 2) Mengetahui Aktivitas Wisata yang dapat dilakukan yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. 9
  • 10. 3) Mengetahui bagaimana Pengelolaan Industri Kreatif yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. 2. Manfaat Penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi para rekan-rekan mahasiswa yang ingin mengetahui bagaimana kondisi aktual, nyata, tentang penelitian di bidang pariwisata khususnya tentang Industri Kreatif, Aktivitas Wisata, dan sudah atau belum dikelolanya di Kawasan Pariwisata Gunung Batur. Sebagai sumber awal untuk perencanaan baik itu pengembangan produk wisata, usaha atau bisnis, pemetaan industri, maupun perencanaan lain yang terkait. Selain itu penulisan ini memberikan informasi dan rekomendasi tentang potensi industri kreatif yang menyokong kegiatan pariwisata di Kawasan Pariwisata Gunung Batur bagi Destination Management Organization (DMO), Masyarakat Bali dan Kecamatan Kintamani khususnya, para pelaku usaha, para pemangku kepentingan, dan Stakeholders lainnya. 10
  • 11. E. LOKASI PENELITIAN Lokasi Penelitian berada di kawasan Pariwisata Gunung Batur, Kabupaten Bangli, Kecamatan Kintamani, Provinsi Bali, Indonesia. Meliputi 13 Desa dari 48 Desa yang secara administrasi terdaftar dalam GAMBAR 1.2. LOGO KAB. BANGLI Sumber: Disparda Kabupaten Bangli 2012 Tabel 1.2. Kecamatan Kintamani. Berikut adalah 13 Desa yang menjadi lokasi penelitian: TABEL DAFTAR DESA YANG MENJADI LOKUS STUDI Wilayah I Wilayah II Wilayah III Wilayah IV Wilayah V Desa Batur Utara Desa Pinggan Desa Songan A Desa Kedisan Desa Suter Desa Batur Selatan Desa Kintamani Desa Songan B Desa Buahan Desa Abang Songan Desa Batur Tengah - - Desa Trunyan Desa Abang Batudinding Sumber: Disparda Kabupaten Bangli 2012 F. KETERBATASAN PENELITIAN Keterbatasan penelitian merujuk kepada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari dalam melakukan suatu penelitian. Adapun keterbatasan tim peneliti dalam penelitian ini adalah: 1. Keterbatasan Informasi Adanya event keagamaan (Hindu) yang berlangsung selama penelitian dilaksanakan, yang menghambat tim peneliti untuk melakukan observasi. Salah satunya disebabkan oleh aktivitas seluruh masyarakat maupun instansi-instansi terkait di Kecamatan Kintamani disibukkan oleh acara tersebut. 11
  • 12. 2. Keterbatasan Data Tim Peneliti mengalami beberapa hambatan dalam pengumpulan data dilapangan karena beberapa kendala teknis di lapangan. G. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL Berdasarkan buku Rencana Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif 2012- 2014 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2012, tim menyimpulkan 2 dimensi yaitu (1) Subtansi Dominan, dan (2) Intensitas Sumber Daya yang masing‐masing dimensi memiliki 3 dan 4 komponen. Substansi dominan pada suatu subsektor industri kreatif, dapat dibedakan menjadi 4 (empat) aspek yang menjadi ciri‐cirinya yaitu: 1. Media Subsektor tersebut menghasilkan barang/jasa yang mengandalkan media yang digunakan untuk menampil kontennya untuk menghasilkan nilai. 2. Seni dan Budaya Subsektor tersebut menghasilkan barang/jasa yang mengandalkan kandungan seni dan budaya yang terdapat di dalamnya untuk menghasilkan nilai. 3. Desain Subsektor tersebut menghasilkan barang/jasa yang mengandalkan aspek perancangan/desain untuk menghasilkan nilai tambah (value‐ added). 12
  • 13. 4. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IpTek) Subsektor tersebut menghasilkan barang/jasa mengandalkan pengunaan teknologi berbasis pengetahuan (knowledge) sebagai sarana penciptaannya untuk menghasilkan nilai tambah (value‐added). Sedangkan Substansi Dominan memiliki komponen Intangible Based, dan Tangible Based yang maksudnya adalah kategori Industri Kreatif yang berbasis sumber daya kasat mata. Dikatakan kasat mata karena melakukan kegiatan produksi yang mengandalkan sumber daya berwujud fisik, dan produk yang dijualnyapun nampak wujud fisiknya. Lalu Intangible Based sendiri merupakan Industri Kreatif yang mengandalkan sepenuhnya kreativitas sebagai sumber daya utama dan dikategorikan sebagai industri yang berbasis sumber daya yang tidak kasat mata. 13
  • 14. H. AGENDA KERJA PENELITIAN Tabel 1.3. No 1 2 3 4 TABEL AGENDA KERJA PENELITIAN Tahapan Kegiatan Durasi Penyusunan Kerangka Acuan Tugas dan Pembahasan Penyusunan Proposal dan Laporan Pendahuluan Seminar Internal Proposal dan Laporan Pendahuluan & Perbaikan Survei dan Observasi Lapangan 5 Penyusunan Laporan Sementara dan Laporan Rancangan Rampung 6 Seminar Internal Laporan Sementara dan Laporan Rancangan Rampung Output 1 Minggu 2 Minggu 3 Hari Penentuan Lokus Penelitian dan Pembagian Kelompok Proposal/ Laporan Pendahuluan 2 Minggu 2 Minggu Data Primer dan Sekunder 1 Hari Materi Presentasi,Revisi, Input Laporan Sementara dan Laporan Rancangan Rampung Materi Presentasi, Input, Revisi Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 I. ORGANISASI PENELITIAN Adapun susunan tim peneliti adalah sebagai berikut: Tabel 1.4. TABEL SUSUNAN TIM PENELITI Susunan Tim Penanggung Jawab Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Seluruh Puket dan Kabag STP Bandung Pengarah Koordinator Penelitian Sekretaris Koordinator Penelitian Pembimbing Penelitian Supervisor Penelitian Kepala Bagian Perencanaan dan Hukum Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata. Faisal, MM.Par Dra. Cucu Kurniati Faisal, MM.Par Ina Veronika Ginting, S.Sos. Drs. Samsudin Sulaiman, Apt. I Nyoman Mertha (Fasilitator DMO Wilayah Bali, Dosen STP Bali) Susunan Tim Peneliti Chandra Daru Nusastiawan Dyar Septiani Noviescha Alvionira Sharon Trifena Tamnge Syarifah Zuhra Yudi Hamdani Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 14
  • 15. J. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan Laporan ini disusun berdasarkan sistematika berikut: Tabel 1.5. No. BAB 1 BAB I Pendahuluan SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN KONTEN Mencakup pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan dan pembatasan masalah, identifikasi masalah, tujuan dan mafaat penelitian, lokasi penelitian, keterbatasan penelitian, organisasi penelitian, agenda kerja penelitian dan sistematika penulisan laporan. BAB II Tinjauan Teori/Konsep Mencakup tinjauan teori/konsep yang digunakan tim peneliti yang terdiri dari telaahan literature, konsep-konsep teoritis yang digunakan sebagai kerangka/landasan/acuan dalam rangka menganalisis serta menjawab pertanyaan dari masalah penelitian yang dibuat sebelumnya. Pada beberapa teori ini dapat berarti membandingkan, menggabungkan, memperjelas serta merumuskan landasan teoritis yang digunakan tim peneliti disertai alasan serta argumentasinya. 3 BAB III Metodologi Penelitian Mencakup metodologi penelitian yang terdiri dari paradigma penelitian, pola pikir penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian, teknik dan alat pengumpulan data, unit analisis, teknik dan alat analisis, serta Matriks Operasional Variable (MOV). 4 BAB IV Tinjauan Umum dan Data Temuan Mencakup tinjauan umum berdasarkan data dari penelitian sebelumnya dan data temuan berdasarkan temuan yang diemukan tim peneliti pada saat di lapangan. Data temuan ini berupa data sekunder dan primer, serta penjabaran hasil wawancara dan checklist. 5 BAB V Pembahasan Berisi pembahasan dari data temuan yang berdasarkan pada teori yang digunakan tim peneliti dalam penelitian. 6 BAB VI Kesimpulan dan Rekomendasi Mencakup kesimpulan dan rekomendasi bagi stakeholders dan DMO. 2 Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 15
  • 16. BAB II. KONSEP TEORI A. EKONOMI KREATIF 1. Defisi Ekonomi “Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa.”. Sumber: id.wikipedia.org. 23 Mei 2012. 2. Definisi Kreativitas “Kreativitas adalah proses dimana ide-ide asli dihasilkan. Namun demikian, karakteristik kreativitas dalam berbagai bidang usaha manusia bisa setidaknya diartikulasikan”. Sumber: UNCTAD, Creative Economy Report (2008:9). 3. Definisi Ekonomi Kreatif “Ekonomi Kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumberdaya manusianya sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya”. Sumber: Kementerian Perdagangan 2009. 16
  • 17. B. INDUSTRI KREATIF 1. Definisi Industri Istilah industri berasal dari bahasa Latin, yaitu industri yang artinya buruh atau tenaga kerja. Dewasa ini, istilah industri sering digunakan secara umum dan luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam rangka mencapai kesejahteraan. Sumber: http:id.wikipedia.org/wiki/ekonomi. 23 Mei 2012. a. Jenis /Macam Industri Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja 1) Industri Rumah Tangga Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang. 2) Industri Kecil Adalah industri yang jumlah karyawan/tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang. 3) Industri Sedang atau Menengah Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang. 4) Industri Besar Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih. 2. Definisi Industri Kreatif Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan 17
  • 18. dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Sumber: Kementerian Perdagangan 2009 United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) mendefinisikan Industri Kreatif; a. Adalah siklus penciptaan, produksi dan distribusi barang dan jasa yang menggunakan kreativitas dan modal intelektual sebagai masukan/modal utama; b. Merupakan serangkaian kegiatan yang didasari pengetahuan, yang berfokus pada seni tetapi tidak terbatas hanya pada seni, berpotensi menghasilkan keuntungan dari perdagangan dan hak kekayaan intelektual; c. Terdiri dari produk berwujud dan tidak berwujud intelektual atau seni jasa dengan konten kreatif, nilai ekonomi dan tujuan pasar; d. Berada di jalan lintas antara, jasa tukang dan industri sektor, dan merupakan sektor dinamis baru dalam perdagangan dunia. Adapun penggolongan komponen Industri Kreatif di Indonesia berikut pengelompokkannya: 18
  • 19. Gambar 2.1. GAMBAR PENGELOMPOKKAN SUBSEKTOR INDUSTRI KREATIF Arsitektur Teknologi Informasi dan Piranti Lunak Intangible TV dan Radio Desain Periklanan Permainan Interaktif Musik Seni Pertunjukan Penerbitan dan Percetakan Tangible Intensitas Sumber Daya Film, Video, Fotografi Riset dan Pengembangan Pasar Barang Seni Fesyen Kuliner Kerajinan Media Seni Budaya Desain Subtansi Dominan IpTek Sumber: Rencana Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif 2012-2014 Berikut ini adalah pengertian dari 15 subsektor yang termasuk ke dalam industri kreatif: Tabel 2.1. No. TABEL DAFTAR DARI 15 SUBSEKTOR DALAM INDUSTRI KREATIF Subsektor 1. Periklanan 2. Arsitektur 3. Pasar Barang Seni Pengertian Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan. Misalnya: Riset pasar, perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, serta penyewaan kolom untuk iklan. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan konstruksi baik secara menyeluruh dari level makro (Town planning, urban design, landscape architecture) sampai dengan level mikro. Misalnya: Detail konstruksi, arsitektur taman, desain interior). Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang‐barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet. Misalnya: Alat musik, percetakan, kerajinan, automobile, film, seni rupa. 19
  • 20. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya. Meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: Batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi massal). Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan. Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen. Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi, distribusi. Termasuk didalamnya pengembangan menu, cita rasa, komposisi, ukuran, Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Subsektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata‐mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten, produksi pertunjukan (misal: pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, opera, termasuk tur musik etnik), desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan. 4. Kerajinan 5. Desain 6. Fesyen 7. Kuliner 8. Video, Film dan Fotografi 9. Permainan Interaktif 10. Musik 11. Seni Pertunjukan 12. Penerbitan dan Percetakan Kegiatan kreatif yang terkait dengan dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita. Subsektor ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas, blanko cek, giro, surat andil, obligasi surat saham, surat berharga lainnya, passport, tiket pesawat terbang, dan terbitan khusus lainnya. Juga mencakup penerbitan foto‐foto, grafir (engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya, termasuk rekaman mikro film. 13. Layanan Komputer dan Piranti Lunak 14. Televisi dan Radio 15. Riset dan Kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengolahan data, pengembangan database, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal termasuk perawatannya. Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio, termasuk kegiatan station relay (pemancar) siaran radio dan televisi. Kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan 20
  • 21. Pengembangan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar; termasuk yang berkaitan dengan humaniora seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra, dan seni; serta jasa konsultansi bisnis dan manajemen. Sumber: Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 C. PARIWISATA 1. Definisi Pariwisata Pariwisata juga didefinisikan oleh beberapa tokoh lain di Indonesia. Seperti menurut Nyoman S. Pendit (2003:32), “Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga merealisi idustri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri.” Dengan berbagai definisi mengenai pariwisata, maka pemerintah menetapkan definisi pariwisata itu sebagai “Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.”. Sumber: Undang-Undang No. 10 Tahun 2009. Suwardjoko P. Warpani, Indira P. Warpani (2007:5-6) kemudian mengemukakan empat faktor yang menjadi dasar pengertian pariwisata yang murni, yaitu: 21
  • 22. a. Perjalanan dilakukan untuk sementara waktu, sekurangkurangnya 24 jam dan kurang dari 1 tahun. b. Perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain. c. Apapun bentuknya, perjalanan harus selalu dikaitkan dengan pertamasyaan atau rekreasi. d. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan semata-mata menjadi konsumen di tempat tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia juga menetapkan angka lama perjalan untuk kunjungan wisata yaitu tidak lebih dari 6 bulan dengan jarak tempuh paling sedikit 100 km. Sumber: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003:1 – 6). D. PARIWISATA KREATIF Menurut Ohriska-Olson 2010 dalam buku “Creative Tourism Business Model and Its Application in Bulgaria” oleh Rossitza Ohridska-Olson and Stanislav Ivanov Pariwisata kreatif adalah bentuk budaya pariwisata. Sedangkan UNESCO menjabarkan bahwa “Perjalanan yang diarahkan kepada penyatuan pengalaman nyata, dengan pembelajaran yang partisipatif di bidang seni, warisan budaya, atau karakteristik khusus dari suatu tempat, dan menciptakan suatu hubungan dengan mereka yang tinggal di tempat ini, serta menciptakannya budaya yang hidup”. Teori lain mengatakan; "Creative Tourism is tourism related to community development for a sustainable way of life. The activities provided had to be 22
  • 23. harmonious and connected to history, culture, and way of life in terms of learning and experience. Tourists gain experience and knowledge from the real life of the communities they visit.”. Sumber: http://www.creativetourism.com/en/c_main/about.html. UNESCO juga mendefinisikan arti pariwisata kreatif itu kedalam hal pengorganisiran kegiatan belajar dari pengalaman langsung seperti berpartisipasi dalam kegiatan dan berinteraksi dengan orang lokal. Tujuannya agar wisatawan pengunjung tidak hanya pasif, tetapi mereka menjadi anggota aktif dari masyarakat lokal. Pariwisata kreatif adalah cara baru untuk bepergian. Pariwisata kreatif dapat lebih berarti dari sekedar menghabiskan waktu santai, atau hanya berjalan-jalan mengunjungi museum, wisata alam dan situs sejarah. E. AKTIVITAS WISATA Menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan Bab I Pasal 1; dinyatakan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Pengertian wisata itu mengandung unsur yaitu: (1) Kegiatan perjalanan; (2) Dilakukan secara sukarela; (3) Bersifat sementara; (4) Perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Menurut Drs. Oka A. Yoeti (1996: 178), hal yang terpenting agar usaha pengembangan sekaligus pengelolaan obyek dan daya tarik wisata dapat menarik dan memotivasi untuk berkunjung adalah dengan terpenuhinya tiga syarat utama yang harus dimiliki objek wisata, yaitu: 23
  • 24. 1. Something to do, yaitu sesuatu kegiatan yang dapat dilakukan. 2. Something to see, yaitu sesuatu hal yang dapat dilihat. 3. Something to buy, yaitu sesuatu yang dapat dibeli. Unsur yang sangat menentukan berkembangnya industri pariwisata adalah objek wisata dan atraksi wisata. Kedua unsur ini merupakan salah satu alasan pengunjung melakukan perjalanan. Atau dalam arti lain objek wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisatawan. Secara pintas produk wisata memiliki arti yang sama, namun sebenarnya berbeda secara prinsipil. Objek wisata adalah semua hal yang menarik untuk dilihat dan dirasakan oleh wisatawan yang bersumber pada alam, sedangkan atraksi wisata adalah sesuati yang menarik untuk dilihat, dinikmati dan dirasakan oleh wisatawan yang dibuat oleh manusia yang memerlukan persiapan terlebih dahulu. Dalam pengertian secara lengkap, objek wisata dan atraksi wisata merupakan segala sesuatu yang terdapat di Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang merupakan daya tarik agar orang datang ke tempat tersebut. Daya tarik wisata disebut juga sebagai objek wisata yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke daerah tujuan wisata. Karena kedudukannya yang sangat menentukan, maka daya tarik wisata harus dirancang dan dikelola secara profesional dan sedemikian rupa berdasarkan kriteria tertentu sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Aktivitas Wisata adalah suatu perjalanan satu atau sekelompok orang ke tempat yang bukan tempat tinggal atau tempat kerjanya dengan maksud untuk mencari kesenangan dan bukan dengan tujuan melaksanakan pekerjaan (Mill & Morrison, 1985 dalam Tussyadiah, 2002). Sumber http://eprints.undip.ac.id/9462/ 24
  • 25. Batasan pariwisata menurut Suwardjoko P. Warpani dan Indira P. Warpani (2007:13-14) sangat luas dan sesuai dengan maksud berwisata atau kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan, maka pariwisata dikategorikan menjadi: 1. Wisata Agro; dapat dikatakan sebagai ragam pariwisata baru yang dikaitkan dengan kegiatan industri pertanian, misalnya wisata durian pada musim buah durian, atau wisata tani, yakni para wisatawan turut terjun aktif menanam padi. 2. Wisata Belanja; dilakukan karena kekhasan barang yang ditawarkan atau bagian dari jenis pariwisata lain, misalnya Kota Bandung dengan Pusat Jeans di Jl. Cihampelas, Sidoarjo dengan pusat Tas di Tanggulangin. 3. Wisata Budaya; berkaitan dengan ritual budaya yang sudah menjadi tradisi, misalnya; mudik lebaran setahun sekali. Atau ada peristiwa budaya yang digelar pada saat-saat tertentu, misalnya: Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta, Ngaben di Bali, Labuhan di Cilacap, pemakaman jenazah di Tanah Toraja. Tidak jarang wisatawan mempelajari budaya setempat, mengunjungi situs bersejarah, dan sebagainya. 4. Wisata Iklim; bagi negara beriklim empat, pada saat tertentu benarbenar dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan mengunjungi tempattempat lain hanya untuk ’berburu’ panas sinar matahari. Bagi masyarakat tropis seperti Indonesia, kunjungan ke suatu tempat berkaitan dengan maksud mencari perubahan iklim setempat. Misalnya: penduduk pantai berwisata ke pegunungan, dan sebaliknya. 25
  • 26. 5. Wisata Karya; kunjungan kerja, yaitu jenis pariwisata yang para wisatawannya berkunjung dengan maskud kedatangan seseorang atau sejumlah orang di suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) memang untuk melaksanakan tugas profesi/pekerjaannya, namun dalam waktu senggang, atau sengaja diacarakan, mereka melakukan rekreasi atau kunjungan wisata ke beberapa objek. Misalnya: peninjauan/inspeksi daerah, sigi lapangan. 6. Wisata Kesehatan; berhubungan dengan maksud penyembuhan suatu penyakit. Wisatawan mengunjungi suatu tempat karena keberadaan penyembuh, misalnya kunjungan ke Krakal di Kebumen dengan maksud berendam di air belerang untuk menyembuhkan penyakit kulit; mengunjungi dan tinggal untuk sementara di sanotarium yang beriklim sejuk; berkunjung ke Singapura atau Cina untuk berobat. 7. Wisata Konvensi/Seminar; dilakukan dengan sengaja memilih salah satu daerah tujuan wisata sebagai tempat penyelenggaraan seminar dikaitkan dengan upaya pengembangan daerah tujuan wisata yang bersangkutan. Penentuan lokasi tempat penyelenggaraan suatu konvensi, baik nasional maupun internasional, sering dikaitkan dengan kebijakan pemerintah mempromosikan suatu daerah tujuan wisata. Kebijakan pemilihan lokasi penyelengaraan konvensi sangat jelas diwarnai oleh kepentingan pariwisata. 8. Wisata Niaga; berkaitan dengan kepentingan perniagaan (usaha perdagangan). Wisatawan datang karena ada urusan perniagaan di tempat tersebut, misalnya mata niaga atau tempat perundingan niaga 26
  • 27. ada di sana. Seperti halnya wisata dinas, para pengusaha/niagawan datang dengan maksud utama melakukan kegiatan perniagaan namun pada waktu luang pada umumnya berwisata. Bahkan menjadi kebiasaan usaha bahwa berwisata digunakan sebagai media berniaga mengadakan pertemuan, perundingan, dan transaksi niaga. 9. Wisata Olahraga; yakni mengunjungi peristiwa penting di dunia olahraga, misalnya pertandingan perebutan kejuaraan, Pekan Olahraga Nasional, Asean Games, Olimpiade, atau sekadar pertandingan persahabatan. Para wisatawan adalah para 10. Wisata Pelancongan/pesiar/pelesir/rekreasi; dilakukan untuk berlibur, mencari suasana baru, memuaskan rasa ingin tahu, melihat sesuatu yang baru, menikmati keindahan alam, melepaskan ketegangan (lepas dari kesibukan rutin). Maksudnya adalah memulihkan kesegaran dan kebugaran jasmani dan rohani setelah berwisata. Biasanya mencari atau mengunjungi tempat yang beriklim berbeda dengan iklim tempat tinggalnya, atau setidak-tidaknya memiliki suasana khas yang diinginkannya. Ragam wisata rekreasi lebih kurang sama dengan wisata santai, yakni bepergian mengunjungi suatu tempat untuk memuaskan hasrat ”ingin tahu”, baik objek itu berupa keindahan alam, peningalan bersejarah, atau budaya masyarakat. 11. Wisata Petualangan; dilakukan lebih ke arah olahraga yang sifatnya menantang kekuatan fisik dan mental para wisatawan. Termasuk dalam jenis wisata petualangan adalah kegiatan pelatihan (kepemimpinan) di alam terbuka dengan berbagai atraksi yang menantang dan kadang- 27
  • 28. kadang mengundang risiko. Terbang layang, arung jeram, panjat tebing, terjun gantung (buggy jump), menyelam, susur gua (menyusuri lorong-lorong gua menikmati pemandangan stalagtit-stalagmit) adalah beberapa contoh wisata petualangan. 12. Wisata Ziarah; dalam kaitan dengan agama atau budaya. Mengunjungi tempat ibadah atau tempat ziarah pada waktu tertentu, misalnya: Waisak di kompleks Candi Borobudur-Magelang, menyepi di Pantai Parangkusumo- Yogyakarta, mengunjungi tempat yang dianggap keramat, ziarah ke makam tokoh-tokoh masyarakat atau pahlawan bangsa. 13. Darmawisata; perjalanan beramai-ramai untuk bersenang-senang, atau berkaitan dengan pelaksanaan darma di luar ruangan, atau ekskursi; atau melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di luar waktu kerja sehari- hari. 14. Widiawisata (pendidikan); Perjalanan ke luar (daerah, kampung, dsb) dalam rangka kunjungan studi; dilakukan untuk mempelajari senibudaya rakyat, mengunjungi dan meneliti cagar alam dan atau budaya, atau untuk kepentingan menuntut ilmu selama waktu tertentu, misalnya: tugas belajar. 28
  • 29. F. PENGELOLAAN INDUSTRI KREATIF 1. Prinsip Dasar Pengelolaan Industri Kreatif Pengelolaan (manajemen), menurut Leiper (1990;246), merujuk kepada seperangkat peranan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang, atau bisa juga merujuk kepada fungsi-fungsi yang melekat pada peran tersebut. Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah sebagai berikut: a. b. Directing (mengarahkan) c. Organizing (termasuk coordinating) d. 2. Planning (perencanaan) Controlling (pengawasan) Aktor Utama Model Pengembangan Industri Kreatif Bangunan industri kreatif ini dipayungi oleh hubungan antara Cendekiawan (Intellectuals), Bisnis (Business) dan pemerintah (Government) yang disebut sebagai sistem ‘triple helix’ yang merupakan aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital bagi tumbuhnya industri kreatif. Hubungan yang erat, saling menunjang dan bersimbiosis mutualisme antara ke‐3 aktor tersebut dalam kaitannya dengan landasan dan pilar‐pilar model Industri Kreatif akan menghasilkan Industri Kreatif yang berdiri kokoh dan berkesinambungan. 29
  • 30. a. Intellectuals (Cendekiawan) Cendekiawan adalah orang‐orang yang dalam perhatian utamanya mencari kepuasan dalam mengolah seni, ilmu pengetahuan atas renungan metafisika, dan bukan hendak mencari tujuan‐tujuan praktis, serta para moralis yang dalam sikap pandang dan kegiatannya merupakan perlawanan terhadap realisme massa. Mereka adalah para ilmuwan, filsuf, seniman, ahli metafisika yang menemukan kepuasan dalam penerapan ilmu (bukan dalam penerapan hasil‐hasilnya). Akan tetapi, dari definisi di atas, kecendekiawanan itu juga ditentukan dari keinginan menerapkan ilmu, dan menularkannya. Dalam konteks industri kreatif, cendekiawan mencakup budayawan, seniman, punakawan, begawan, para pendidik di lembaga‐lembaga pendidikan, para pelopor di paguyuban, padepokan, sanggar budaya dan seni, individu atau kelompok studi dan peneliti, penulis, dan tokoh‐ tokoh lainnya di bidang seni, budaya (nilai, filsafat) dan ilmu pengetahuan yang terkait dengan pengembangan Industri Kreatif. Nama‐nama besar di Indonesia terdapat beberapa nama seperti Nurcholish Madjid, Emha A. Najib, Romo Mangun, Harry Roesli, Jakob Soemardjo, Rendra, Iwan Fals, Sujiwo Tedjo, Ki Manteb, dan lain‐lain. Menilik kembali landasan Industri Kreatif yaitu sumber daya insani (people), dapat dikenali bahwa salah satu anggota pekerja berstrata inti super kreatif adalah pekerjaan dari para cendekiawan. Cendekiawan memiliki kapasitas yang sangat besar dalam memperkuat 30
  • 31. basis‐basis formal dan informal dari inovasi, dan memiliki kemampuan untuk mematangkan konsep‐konsep inovasi dan juga memiliki kapasitas mendiseminasi informasi dengan jejaring. b. Business (Bisnis) Bila ditilik secara ekonomi, bisnis (disebut juga perusahaan) adalah suatu entitas organisasi yang dikenali secara legal, dan sengaja diciptakan untuk menyediakan barang‐barang baik berupa produk dan jasa kepada konsumen. Bisnis pada umumnya dimiliki oleh swasta dan dibentuk untuk menghasilkan profit dan meningkatkan kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator bisnis bertujuan memperoleh keuntungan finansial sebagai hasil kerjanya dan tantangan resiko yang ia hadapi. Ketataniagaan bisnis diatur oleh hukum disuatu negara dimana bisnis itu berada. Bentuk‐bentuk bisnis adalah: kepemilikan tunggal, kemitraan, korporasi dan koperasi. Bisnis bisa berbasis manufaktur, jasa, eceran dan distribusi, pertanian, mineral, finansial, informasi, real estat, transportasi, dan utility seperti listrik, pengairan yang biasanya terkait dengan badan‐badan kepemerintahan. Di dalam organisasinya, bisnis memiliki pengelompokan pekerjaan seperti pemasaran, penjualan, produksi, teknologi informasi, riset dan pengembangan. Manajemen berfungsi menerapkan operasional yang efisien dan efektif terhadap suatu bisnis. Pada saat‐saat tertentu, bisnis juga membutuhkan modal tambahan (capital), yang didapat dari pinjaman bank atau pinjaman 31
  • 32. informal atau investor baru. Bisnis juga harus dilengkapi dengan proteksi agar menghalangi kompetitor untuk menyaingi bisnis tersebut. Proteksi tersebut bisa dalam bentuk HKI yang terdiri dari paten, hakcipta, merek dagang dan desain. Setiap bisnis pasti memiliki nama, logo dan teknik‐teknik pencitraan. Karena aspek kompetisi maka bisnis perlu mendaftarkan HKI di setiap daerah atau negara dimana terdapat kompetitor‐kompetitor. Banyak negara telah menandatangani perjanjian internasional tentang HKI, dan setiap perusahaan yang terdaftar di negara‐negara ini harus mentaati hukum negara yang telah terikat dengan perjanjian internasional ini. Bisnis bisa juga dijual dan dibeli. Pemilik bisnis menyebut ini sebagai exit‐plan. Exit‐plan yang lazim dikenali adalah seperti IPO atau merger dan akuisisi. c. Government (Pemerintah) Pemerintah didefinisikan sebagai sebuah organisasi yang memiliki otoritas untuk mengelola suatu negara, sebagai sebuah kesatuan politik, atau aparat/alat negara yang memiliki badan yang mampu memfungsikan dan menggunakan otoritas/kekuasaan. Dengan ini, pemerintah memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang‐undang di wilayah tertentu. Pemerintah yang dimaksud dalam studi rencana pengembangan Ekonomi Kreatif ini adalah pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terkait dengan pengembangan Ekonomi Kreatif, baik keterkaitan dalam substansi, maupun keterkaitan administrasi. Pemerintah pusat meliputi departemen‐departemen dan badan‐badan. Pemerintah daerah 32
  • 33. meliputi pemerintah daerah tingkat I, pemerintah daerah tingkat II, sampai kepada hirarki terendah pemerintahan daerah. Sinergi antar departemen dan badan di pemerintah pusat, dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, sangat diperlukan untuk dapat mencapai visi, misi dan sasaran pengembangan Industri Kreatif ini. Hal ini disebabkan karena pengembangan Ekonomi Kreatif bukan hanya pembangunan industri, tetapi juga meliputi pembangunan ideologi, politik, sosial dan budaya. Menurut Pitan dan Diarta (2009:86), tujuan dari pengelolaan atau manajemen pariwisata adalah untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan pendapatan ekonomi dengan pelayanan kepada wisatawan serta perlindungan terhadap lingkungan dan pelestarian keberagaman budaya. Menurut Cox dalam Dowling dan Fannel (2003:2), pengelolaan pariwisata harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut: 1) Pembangunan dan pengembangan pariwisata haruslah didasarkan pada kearifan lokal dan special local sense yang merefleksikan keunikan dan peninggalan budaya dan keunikan lingkungan. 2) Preservasi, proteksi dan peningkatan kualitas sumber daya yang menjadi basis pengembangan pariwisata. 3) Pengembangan atraksi wisata tambahan yang mengakar pada khasanah budaya lokal. 33
  • 34. 4) Pelayanan kepada wisatawan yang berbasis keunikan dan budaya lokal. 5) Memberikan dukungan dan legimitasi pada pembangunan pariwisata jika terbukti memberikan manfaat positif, tetapi sebaliknya mengendalikan dan/ atau menghentikan aktivitas menghentikan aktivitas pariwisata tersebut jika melampaui ambang batas (carryng capacity) lingkungan alam atau akseptabilitas sosial walaupun di sisi lain mampu meningkatkan kepadatan masyarakat. Untuk mencapai tujuan pariwisata yang bekelanjutan baik secara ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan yanng efektif, pengelola wajib melakukan manajemen sumber daya yang efektif. Manajemen sumber daya ditujukan untuk menjamin perlindungan terhadap ekosistem dan mencegah degradasi kualitas lingkungan. Dalam hal penyusunan kebijakan akan menjadi tuntutan bagi pelaku pariwisata dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan pariwisata. Dalam pembentukan agen, bertujuan menghasilkan rencana strategi sebagai panduan dalam pemasaran dan pengembangan fisik di daerah tujuan wisata. Dalam hal penyediaan fasilitas dan operasi, pemerintah berperan dalam memberi modal usaha, pemberian subsidi kepada fasilitas, dan pelayanan yang vital. Penyelesaian konflik merupakan peran yang sangat penting dalam era dimana isu lingkungan dan konservasi sumber daya menjadi isu penting. 34
  • 35. 3. Pelaku Kepariwisataan (Stakeholders) Pariwisata tidak bisa lepas dari komponen pedukung atau yang disebut dengan pelaku wisata (tourism stakeholders). Menurut Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011, “Kelembagaan kepariwisataan adalah kesatuan unsur beserta jaringannya yang dikembangkan secara terorganisasi, meliputi pemerintah, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat, sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional, yang secara berkesinambungan guna menghasilkan perubahan ke arah pencapaian tujuan di bidang kepariwisataan”. Para pelaku pariwisata ini saling terkait baik itu sebagai pengelola, pemangku kebijakan, pihak yang menyediakan produk pariwisata, orang yang melakukan kegiatan pariwisata hingga pihak yang terkena dampak pariwisatanya dan yang menjadi daya tarik dari pariwisata tersebut. 4. Pola Hubungan Stakeholders Kepariwisataan Berikutnya yang paling pokok adalah bahwa pariwisata tidak bisa lepas dari komponen pedukung atau yang disebut dengan “tourism stakeholders” yang saling berinteraksi, sebagaiman yang disebut oleh Bahar (1995) sebagai pola hubungan stakeholders kepariwisataan sebagaimana gambar berikut ini: 35
  • 36. Gambar 2.2. POLA HUBUNGAN STAKEHOLDERS KEPARIWISATAAN PEMERINTAH WISATAWAN SWASTA MASYARAKAT Sumber: Bahar, 1995 36
  • 37. BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. PARADIGMA PENELITIAN Menurut Sambas Ali (2010:22) “Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perilaku peneliti terhadap ilmu atau teori, yang dikontruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.” Mengacu pada pengertian di atas dalam penyusunan laporan ini paradigma penelitian berdasarkan pada teori-teori sebagai berikut: Gambar 3.1. TABEL PARADIGMA PENELITIAN GRAND THEORY Teori Ekonomi Kreatif MIDDLE THEORY Teori Industri Kreatif Teori Pariwisata OPERATIONAL THEORY Teori Industri Teori Produk Wisata Teori Pemetaan Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 37
  • 38. B. POLA PIKIR PENELITIAN Berikut ini adalah gambaran pola pemikiran penelitian: Gambar 3.2. GAMBAR POLA PENELITIAN (X₁) POTENSI INDUSTRI (X₂) AKTIVITAS WISATA INDUSTRI KREATIF (X₃) PENGELOLAAN INDUSTRI KREATIF Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 Dalam penelitian ini tim menetukan tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan Industri Kreatif sebagai input data, yakni; (1) Potensi Industri Kreatif, (2) Aktivitas Wisata, dan (3) Pengelolaan Industri Kreatif. 38
  • 39. C. ALUR PENELITIAN Adapun alur penelitian ini sebagai berikut: Gambar 3.3. GAMBAR POLA PENELITIAN LATAR BELAKANG Diterapkannya konsep ekonomi kreatif di Indonesia, Khususnya kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai acuan pengembangan desinasi pariwisata Kawasan pariwisata gunung batur memiliki banyak objek pariwisata yang berpotensi tinggi, tanpa dukungan kegiatan perekonomian yang bak bagi komunikasi lokal RUMUSAN MASALAH Sejauh mana potensi industri kreatif yang mendukung kegiatan pariwisata di kawasan gunung api batur, Bali IDENTIFIKASI MASALAH Bagaimana kondisi industri kreatif yang terdapat di kawasan gunung api Batur, Bali.? Bagaimana kondisi aktifitas wisata di kawasan gunung api batur Bali ? Bagaimana pengelolaan industri kreatif dikawasan gunung api Batur , Bali ? TEORI Industri Pariwisata Pengelolaan ANALISIS Potensi Industri Kreatif Aktivitas Wisata Pengelolaan Industri Kreatif KONSEP PENELITIAN Potensi Industri Kreatif Aktifitas Wisata Pengelolaan Industri KESIMPULAN METODE PENELITIAN Paradigma Penelitian Alur Penelitian Metode Penelitian Teknik Dan Alat Pengumpulan Data Unit Analisis REKOMENDASI Bagi: Pemerintah Daerah Kab. Bangli Masyarakat Daerah Kab. Bangli DMO Sumber: Tim Peneliti DMO-PIP Gunung Batur, Bali 2012 39
  • 40. D. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif (Ulber Silalahi, 2009 : 62) yang meliputi pengumpulan data agar dapat menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan mengenai status terakhir baik karakteristik ataupun frekuensi dengan atau yang mempertanyakan status satu gejala atau variabel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989:581, metode deskriptif memiliki pengertian yaitu “Cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu hasil atau maksud, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”. Adapun tujuan dari penggunaan metode deskriptif analisis untuk mengungkap suatu gejala yang aktual, mengumpulkan data, menganalisanya dan membandingkan dengan teori-teori yang ada. E. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA 1. Teknik Kumpul Data Beberapa teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh tim peneliti, yaitu; a. Observasi Langsung ke Lapangan Menurut Para Ahli Teknik Observasi mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi Observasi. Menurut Nasution (Sugiyono, 2009:64) b. Wawancara Menurut Sainuddin, S.Sos (2009) wawancara merupakan kegiatan pencarian informasi dengan cara menanyakan secara mendetail dan mendalam; memancing dengan pernyataan maupun 40
  • 41. mengkonfirmasi suatu hal, agar dapat diperoleh gambaran yang utuh tentang narasumber atau peristiwa maupun isu tertentu. Dalam pengertian jurnalistik, wawancara adalah suatu percakapan terpimpin dan tercatat atau suatu percakapan secara tatap mula dimana seseorang mendapat informasi dari orang lain. Pengertian lain wawancara adalah merupakan suatu hubungan antar manusia dimana kedua pihak bersikap sama derajat selama pertemuanpertemuan berlangsung. Tipe wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur, dimana tim peneliti mengetahui secara jelas dan terperinci apa informasi yang dibutuhkan dan memiliki satu daftar pertanyaan yang sudah ditentukan atau disusun sebelumnya yang akan disampaikan kepada responden. Pewawancara memiliki sejumlah pertanyaan yang telah disusun dan mengadakan wawancara atas dasar atau panduan pertanyaan tersebut. c. Basis Data Menurut Date, database dapat dianggap sebagai tempat sekumpulan berkas dan terkomputerisasi, yang tujuan utamanya adalah melakukan pemeliharaan terhadap informasi dan membuat informasi tersebut tersedia saat dibutuhkan. Sumber:(http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-mediastudies/2068236-pengertian-database-menurut-paraahli/#ixzz1pxBaFRGG) 41
  • 42. d. Studi Kepustakaan Tim peneliti juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan untuk membandingkan kondisi aktual yang terjadi dengan kondisi ideal secara teoritis, mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi guna mendapatkan landasan teori sebagai data pendukung dalam penulisan Laporan Rampung Penelitian Bisnis Industri ini. 2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data yang akan digunakan oleh tim peneliti pada saat berada di lapangan adalah sebagai berikut: a. Pedoman wawancara, berisikan mengenai pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber oleh tim peneliti yang akan disusun secara sistematis dan terorganisir guna untuk mendapatkan sejumlah informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.Tim peneliti sebagai pewawancara akan melakukan wawancara dengan sejumlah informan yaitu para pelaku industri ekonomi kreatif dan juga pengurus desa setempat sebagai narasumber Hasil percakapan tersebut akan dicatat atau direkam oleh tim peniliti. b. Check-list (Daftar Periksa), merupakan daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis. Daftar periksa ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai dengan tujuan observasi. Daftar periksa merupakan panduan tim 42
  • 43. c. Peneliti dalam mengumpulkan basis data sesuai dengan indikator yang telah dibuat dalam matriks operasional variabel. F. UNIT ANALISIS Menurut Ulber Silalahi (1999:194) unit analisis dalam penelitian adalah unit atau elemen yang dianalisis atau dipelajari yang darinya ingin diketahui satu atau sejumlah hal. Berikut pihak-pihak yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu: 1. Pemerintah Dinas Pariwisata Daerah Bangli Bali. 2. Pihak Pelaku Industri Ekonomi Kreatif di kawasan kaldera Gunung Batur Bali. 3. Pihak dari 13 desa yang terdapat di kawasan kaldera Gunung Api Batur, diantaranya: a. Desa Buahan h. Desa Batur Selatan b. Desa Kedisan i. Desa Batur Utara c. Desa Terunyan j. Desa Kintamani d. Abang Batudinding k. Desa Pinggan e. Desa Abang Songan l. Desa Songan A f. Desa Suter m. Desa Songan B g. Desa Batur Tengah 43
  • 44. G. TEKNIK DAN ALAT ANALISIS Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Melleyong 2002:103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola dalam, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975:79) mendevinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Dalam menganalisis penelitian ini tim peneliti menggunakan sebagai berikut: 1. SWOT Analysis Merupakan suatu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisa SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT. Hasil analisa SWOT dapat dilihat melalui tabel IFAS dan EFAS. Datadata diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan checklist. Menurut Rangkuti (2006) penjumlahan pada tabel IFAS jumlah bobot antara kekuatan dan kelemahan tidak boleh lebih dari 1.00 begitu juga jumlah bobot antara peluang dan ancaman yang juga tidak boleh lebih dari 1.00 ketentuan dalam 44
  • 45. pemberian bobot kekuatan pada tabel IFAS serta peluang pada tabel EFAS menurut Rangkuti (2006) adalah sebagai berikut: bobot tertinggi (0.20) untuk masalah sangat penting,bobot (0,15) untuk masalah yang penting,bobot (0,10) untuk masalah yang cukup penting,dan bobot terendah (0.02) untuk masalah yang kurang penting. Sedangkan untuk pemberian bobot ancaman pada EFAS dan kelemahan pada tabel IFAS adalah sebaliknya: bobot (0.01) untuk masalah yang sangat penting, bobot (0.02) untuk masalah yang penting, bobot (0.03) untuk masalah yang cukup penting, dan bobot (0.05) untuk masalah yang kurang penting. Kemudian pemberian rating pada masing-masing faktor yaitu dengan memberikan rating mulai dari 1 (sangat kurang) sampai dengan 4 (sangat tinggi) berdasarkan pengaruh faktor terhadap industri kreatif subsektor kerajinan sulaman/bordiran,sulaman benang emas dan tenunan. Pemberian nilai untuk kekuatan dan peluang bersifat positif (misalnya +4) sedangkan untuk kelemahan dan ancaman adalah negatif atau sebaliknya (misalnya -1). Variabel yang bersifat positif, yaitu semua variabel yang termasuk ke dalam kekuatan, diberi nilai +1 sampai dengan +4 (sangat baik). Sedangkan variabel yang bersifat negatif adalah kondisi kebalikannya. 45
  • 46. Tabel 4.1. TABEL MATRIKS OPERASIONAL VARIABEL (MOV) KONSEP TEORI VARIABLE DIMENSI SUBDIMENSI 1 (Substansi Dominan) SUBDIMENSI 2 (Intensitas Sumberdaya) Tangible/ Intangible Media Intangible Tangible Potensi Industri Kreatif Industri Kreatif; “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.” Sumber: Kementerian Perdagangan 2009 Seni Budaya Tangible/ Intangible (X₁) Industri Kreatif Intangible Tangible Desain IpTek Tangible/ Intangible Intangible Tangible/ Intangible Intangible INSTRUMEN SUMBER DATA Film, Video, Fotografi Televisi dan Radio Periklanan Musik Kerajinan Kuliner Fesyen Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi Pasar Barang Seni Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi INDIKATOR Penerbitan dan Percetakan Musik Seni Pertunjukan Arsitektur Desain Arsitektur Desain Permainan Interaktif Penelitian dan Pengembangan Fesyen Penelitian Pengembangan Teknologi Informasi dan Piranti Lunak Permainan Interaktif
  • 47. (X₂) Aktivitas Wisata Something to do Aktivitas Wisata yang Dilakukan Something to see Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi Pedoman Wawancara dan Check-list Interview Dan Observasi Something to buy Planning (X₃) Pengelolaan Industri Kreatif Directing Peran Seseorang atau Kelompok Organizing Controlling Planning Sumber: Tim DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012
  • 48. BAB IV. TINJAUAN UMUM DAN DATA HASIL TEMUAN A. KONDISI UMUM INDUSTRI KREATIF 1. Industri dan Organisasi di 13 Desa Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur, Bali Bedasarkan data-data sekunder yang di dapat dilapangan berikut gambaran nyata tentang keadaan Industri Kreatif di kawasan pariwisata Gunung Api Batur yang tim sajikan dalam bentuk bagan-bagan dibawah ini: Tabel 4.1. Desa/Kelurahan Batur Utara Batur Selatan Batur Tengah Pinggan Kintamani Songan A Songan B Kedisan Buahan Trunyan Suter Abang Songan Abang Batudinding Jumlah BANYAKNYA TENAGA KERJA PERUSAHAAN DI RINCI PER DESA KEC.KINTAMANI TAHUN 2010 Industri Besar Industri Sedang Industri Kecil Industri Kerajinan Rumah Tangga - - 6 18 32 14 39 20 283 32 280 - - 56 668 Sumber: Kintamani Dalam Angka 2011 Bedasarkan Tabel 4.1. diatas diketahui bahwa mayoritas industri yang tumbuh di kawasan pariwisata Gunung Api Batur adalah Industri Kerajinan Rumah Tangga yang di dominasi oleh Desa Suter dan Abang Batudinding dengan jumlah 283 dan 280 wirausaha yang ada. Sedangkan Industri Kecil masih sangat sedikit yang ada yaitu 48
  • 49. hanya ada di Desa Abang Batudinding, Suter, dan Buahan. Industri Besar dan Industri Sedang belum ada sama sekali di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Sebagai kawasan pariwisata Gunung Api Batur, daerah ini juga memiliki kekayaan alam berupa sumber daya hewani yaitu Ikan Tawar, yang sumber utamanya dihasilkan dari Danau Batur. Berikut rincian datanya: Tabel 4.2. PRODUKSI IKAN MENURUT JENISNYA PER DESA/KELURAHAN DI KECAMATAN KINTAMANI TAHUN 2010 Desa/Kelurahan Buahan Suter Abang Batudinding Abang Songan Trunyan Songan B Songan A Batur Selatan Batur Tengah Batur Utara Kintamani Pinggan Kedisan Jumlah Ikan Air Tawar (Kg) Jumlah (Kg) 14600 4500 4300 4200 3700 31300 14600 4500 4300 4200 3700 31300 Sumber: Pengolahan Data Kintamani Dalam Angka 2011 Bedasarkan data dari Tabel 4.2. diatas dapat diketahui bahwa jumlah ikan tawar yang sebagian berasal dari Danau Batur berjumlah cukup banyak dihasilkan dalam satu tahun, dimana mayoritas peternak ikan tawar berasal dari Desa Abang Batudinding, Desa Songan A, Desa Songan B, Desa Batur Tengah, dan Desa Kedisan dimana memang letak desa ini sebagian besar berada di sekitar tepian Danau Batur . Selain kegiatan industri adapun beberapa organisasi milik masyarakat setempat yang didirikan dengan tujuan mempertahankan budaya dan mengembangkan seni budaya yang mereka memiliki berikut penjabarannya: 49
  • 50. Tabel 4.3. JUMLAH ORGANISASI BERDASARKAN JENIS KESENIAN YANG ADA DI 13 DESA KAWASAN PARIWISATA GUNUNG API BATUR, BALI 2011 Jenis Kesenian Desa/Kelurahan Batur Utara Batur Selatan Batur Tengah Pinggan Kintamani Songan A Songan B Kedisan Buahan Trunyan Suter Abang Songan Abang Batudinding Jumlah Barong 1 1 1 1 1 - Gong Kebyar 1 1 1 1 9 1 20 1 1 1 8 8 9 Legong 1 1 1 3 1 1 1 2 3 1 Topeng 1 1 Lainnya 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 5 62 15 2 22 Sumber: Pengolahan Data “Kecamatan Kintamani Dalam Angka 2011” Berdasarkan Tabel 4.3. diketahui bahwa kegiatan kesenian di kawasan pariwisata Gunung Api Batur tumbuh dengan baik terutama di Desa Songan B dan Abang Batudinding memiliki potensi kesenian yang baik pula, dimana jenis kesenian Gong Kebyar menjadi jenis kesenian yang paling banyak diminati. B. KONDISI UMUM AKTIVITAS WISATA 1. Pengunjung ke Kabupaten Bangli Kabupaten Bangli merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Bali, Kabupaten Bangli memiliki jumlah daya tarik wisata di Kabupaten Bangli sebanyak 38 buah, dengan rincian 5 DTW sudah berkembang, 9 DTW sedang dikembangkan dan 24 DTW yang akan dikembangkan (Disbudpar Kab. Bangli, 2010). Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bangli pada tahun 2005 tercatat sejumlah 350.596 wisatawan, tahun 2006 (259.344 wisatawan), tahun 2007 50
  • 51. (352.775), tahun 2008 (437.207 wisatawan), dan tahun 2009 (526.706 wisatawan). Sedangkan tahun 2010 berjumlah 418.143 orang. Tabel 4.4. DATA PERBANDINGAN ANTARA JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN YANG DATANG KE BALI DAN KINTAMANI Tahun Bali Kintamani % 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1.386.449 1.250.317 1.664.854 1.968.892 2.384.819 2.546.023 320.596 259.344 352.775 437.207 526.706 418.143 23,12 18,89 19,46 22,21 22,09 16,42 Sumber: Statistik Bangli Dalam Angka 2011. Bedasarkan Tabel 4.4. diatas jumlah wisatawan tidak stabil dan menurun pada tahun 2006, 2007, 2009, dan 2010. Adapun jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangli berdasarkan daerah asal wisatawan. Berikut adalah datanya: Tabel 4.5. DATA KUNJUNGAN WISATAWAN KE KINTAMANI KABUPATEN BANGLI TAHUN 2010 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Negara Eropa Amerika Australia Jepang China Taiwan Indonesia Lainnya Jumlah Jumlah 145.927 33.869 25.088 19.234 30.942 33.441 91.593 38.049 418.143 % 34,9 8,1 6,0 4,6 7,4 8,0 21,9 9,1 100.0 Sumber: Disbudpar Kabupaten Bangli, 2010. Bedasarkan Tabel 4.5. diatas dapat dilihat bahwa profil wisatawan asing yang datang pada tahun 2010 lalu adalah Eropa, Amerika, dan Taiwan. Sedangkan jumlah wisatawan domestik sendiri berjumlah lebih sedikit dari wisatawan asing yang datang berkunjung ke kawasan pariwisata Gunung Api Batur. 51
  • 52. Tabel 4.6. KONTRIBUSI SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PAD KABUPATEN BANGLI TAHUN 2005 - 2010 Tahun 2005 2006 2007 PAD 7.692.953.476,86 9.718.077.898,00 9.167.944.594,00 RETRIBUSI 1.070.790.000,00 794.910.500,00 1.079.615.000,00 % 13,92 8,18 11,77 2008 2009 2010 12.633.751.193,09 15.179.545.573,00 17.191.454.000,00 1.352.466.500,00 1.624.045.500,00 1.813.462.500,00 10,68 10,69 11,66 Sumber: Dispenda Kabupaten Bangli, 2010. Bedasarkan Tabel 4.6. diatas pasokan yang cukup besar dari sektor pariwisata di Kabupaten Bangli yang berkisar ±11% per tahun dari 5 tahun terakhir. 2. Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) di Kabupaten Bangli Adapun beberapa objek pariwisata yang ada di Kabupaten Bangli, yaitu: a. Pura Kehen Pura Kehen yang terletak di Desa Cempaga, Bangli, memiliki banyak keunikan. Selain letaknya yang strategis, pada pintu masuk pura tidak menggunakan Candi Bentar seperti pada Pura Kahyangan Jagat umumnya. Pintu masuk Pura Kehen memang agak berbeda, yakni menggunakan Candi Kurung. Disamping itu, keberadaan Bale Kulkul pada batang pohon Beringin turut memberi warna lain bagi Pura Kehen yang menjadi salah satu objek pariwisata unggulan Kota Bangli. Meski telah ditemukan tiga prasasti tentang Pura Kehen, namun belum dapat dipastikan kapan sejatinya pura tersebut didirikan, dan apa yang menjadi asal-usul nama Kehen itu sendiri. Berdasarkan prasasti ketiga yang berangka tahun 1204 Masehi disebutkan beberapa pura yang mempunyai hubungan kesatuan meliputi Pura Hyang Hatu, Hyang Kedaton, Hyang Daha Bangli, Hyang Pande, Hyang Wukir, Hyang Tegal, Hyang Waringin, Hyang Pahumbukan, Hyang Buhitan, Hyang Peken Lor, Hyang Peken Kidul dan Hyang 52
  • 53. Kehen. Kehen sendiri diperkirakan berasal dari kata keren (tempat api), bila dihubungkan dengan prasasti pertama yang berbahasa Sansekerta– namun tidak berangka tahun,di mana di dalamnya menyebutkan kata-kata Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda serta nama-nama biksu. Jro Pasek Pura Kehen sebagai salah satu Dangka di Pura Kehen mengaku pernah mendengar dari cerita orangtua akan keunikan atau kejadian mistis yang pernah terjadi di Kehen. Seperti halnya munculnya ula (ular) duwe pada tahun 1960 pagi, saat itu masyarakat setempat yang baru saja selesai menyapu di jaba pura menyaksikan secara langsung munculnya ular duwe tersebut. Selain itu, masyarakat setempat sangat percaya jika patahnya pohon beringin yang terdapat di pura sebagai pertanda grubug (musibah). Hal tersebut disimpulkan dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi secara turun temurun. Gambar 4.1. GERBANG PURA KEHEN Sumber: www.banglikab.go.id. (edited) Mei 2012. Tidak hanya itu, letak bagian yang patah juga diyakini sebagai pertanda musibah tersebut akan melanda orang tertentu. Misalnya pada saat raja Bangli meninggal dunia, dahan pohon beringin yang letaknya di Kaja Kangin (UtaraTimur) patah. Kemudian jika ada pendeta yang meninggal, maka dahan pohon beringin sebelah Kaja Kauh (Barat Daya) patah. Sedangkan jika bagian yang 53
  • 54. patah letaknya Kelod Kangin (Timur Lau) dan Kelod Kauh (Tenggara) maka diyakini akan ada musibah yang menimpa masyarakat. Terkait upacara, karya di Pura Kehen Bangli berlangsung setiap enam bulan sekali tepatnya pada Hari Raya Pagerwesi yakni setiap Buda Kliwon Wuku Sinta. Namun, upacara besarnya yaitu Ngusaba Dewa atau biasa disebut Karya Agung Bhatara Turun Kabeh berlangsung setiap tiga tahun sekali, tepatnya Purnama Kalima, Saniscara Pon Wuku Sinta. Selain itu desa yang tergabung dalam Gebog (tatanan masyarakat) Domas (800) dan Bebanuan Pura Kehen memiliki peran masing-masing, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan dalam suatu acara. Pembagian tugas tersebut dilakukan berdasarkan dresta dan sukat yang telah dilaksankan dari tahun-ketahun dan tidak akan pernah diubah atau ditukar-tukar. Selain sebagai bentuk pertanggung jawaban atas tugas masing-masing, juga memunculkan semangat kebersamaan dan saling memiliki terhadap karya yang berlangsung di Pura Kehen. Pemangku di Pura Kehen berjumlah 33 orang yang terbagi atas dua golongan, yakni Dangka dan Pemaksan. Dangka terdiri dari 16 orang pemangku yang bertugas sebagai pangempon khusus perampean atau pelinggih-pelinggih di jeroan. Sedangkan Pemaksan yang terdiri dari 17 orang bertugas sebagai pembantu Dangka. Sumber: www.banglikab.go.id. 28 Mei 2012. b. Desa Panglipuran Panorama dan budaya unik seperti Desa Adat Penglipuran adalah daya tarik tersendiri. Desa ini terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, sekitar 45 Km dari Kota Denpasar. Begitu memasuki areal desa tersebut, mata sudah pasti akan bertemu arsitektur rumah yang hampir semuanya mirip. Kemiripan bangunan rumah itu antara lain bentuk gerbang yang sama dengan sedikit atap dari bambu, pintu pun hanya selebar orang 54
  • 55. dewasa berkacak pinggang dengan tinggi sekitar dua setengah meter yang biasa disebut angkul-angkul, dan cat rumah menggunakan dari tanah, bukan cat tembok. Itu keunikan awal perjumpaan. Kesamaan lainnya juga terdapat pada pembagian bangunan di dalam rumah, seperti bale, kamar, dan dapur. Hampir semuanya juga menggunakan bahan baku bambu. Sejak 1995, Pemerintah Provinsi Bali dan Kabupaten Bangli menetapkan desa ini menjadi salah satu obyek wisata unggulan Pulau Dewata. Desa ini memiliki panorama, kesejukan, kenyamanan, keheningan, kedamaian, dan keunikan dengan bentuk atau arsitektur bangunan berbeda serta kerapian zonasi desanya. Tak kalah menarik, warganya pun sadar lingkungan serta berswasembada air dengan manajemen mirip dengan perusahaan daerah air minum. Gambar 4.2. DESA PANGLIPURAN Sumber: www.banglikab.go.id. (edited) 28 Mei 2012 Daya tarik yang kuat dari Desa Adat Penglipuran ini masih berupaya mempertahankan zonasi hunian yang mirip pembagian tubuh manusia. Zona ini terbagi tiga bagian, yaitu zona parahyangan (hulu/kepala), zona pawongan (badan), dan zona palemahan (kaki). Zona parahyangan merupakan daerah suci dan paling tinggi dibandingkan zona lainnya dengan ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut dan merupakan wilayah sembahyang bersama 55
  • 56. bernama Pura Penataran. Menuruni beberapa anak tangga dari Pura Penataran, pengunjung memasuki zona pawongan, yang terdiri atas rumah tinggal di bagian barat (kauh) dan timur (kangin). Kedua bagian kauh dan kangin dipisahkan oleh rurung gede yang berupa jalan sekitar tiga meter yang membujur dari utara menurun ke selatan. Pada wilayah pawongan dihuni 226 kepala keluarga. Penduduknya rata-rata bermata pencarian petani, peternak, dan perajin bambu. Nenek moyang mereka mengajarkan agar ramah lingkungan. Karena itu, luas tanah tinggal 112 hektar itu hampir 40% adalah hutan bambu. Bahkan, menebang bambu pun tak bisa sembarangan tebang. Harus izin dan mendapat izin dari pemangku adat setempat. Gambar 4.3. BAMBOO FOREST Sumber: Dokumentasi Tim. (edited) Mei 2012. Budayawan Katut Sumarta, mengatakan, kekhasan keturunan Bali Aga di antaranya adalah sangat memuja dan menghormati perempuan, selain menjunjung tinggi keharmonisan alam, manusia, dan Tuhan (konsep Tri Hita Karana). Wujud hormat kepada perempuan itu dituangkan ke dalam awig-awig 56
  • 57. (semacam kesepakatan bersama dan biasanya berkaitan dengan pelanggaran), termasuk di Desa Penglipuran. Dalam awig-awig, siapa pun laki-laki di desa itu hanya diizinkan menikah dengan satu perempuan. Tidak dibenarkan adanya poligami. Jika laki-laki itu ketahuan melakukan poligami atas sepengetahuan istri pertama atau tidak, ia tetap harus mendapatkan hukuman. Hukuman yang dijatuhkan adalah dikucilkan. Laki-laki itu tak boleh tinggal serumah dengan istri pertamanya selamanya. Parahnya, ia juga tak boleh menginjakkan kaki dan bersembahyang di pura. Intinya, ia dikucilkan baik batin maupun secara sosial. Di Desa Penglipuran, tempat pengucilan itu pun dinamai Karang Memadu. Luas tanahnya hanya sepetak. Sejarah ratusan tahun lalu hingga sekarang, Karang Memadu belum pernah ditempati sehingga masih berupa tanah tanpa bangunan.Sekitar 1994, warga sempat terpikir untuk mengubahnya, tetapi batal. Selain dilarang menduakan istri, warga juga enggan melakukan kesalahan lainnya, seperti mencuri. Jika ketahuan melakukan kejahatan, hukumannya juga berat karena harus memberikan sesaji sedikitnya lima ekor ayam berbagai warna ke masing-masing empat pura leluhur mereka. Jadi, pasti semua warga akan tahu siapa yang melakukan kejahatan dengan adanya upacara itu. Sementara zona palemahan adalah zona untuk setra atau orang yang sudah meninggal. Karena secara budaya, warga Hindu Bali di Penglipuran tidak menganut budaya Ngaben. Jenazah hanya dikubur tanpa dibakar. Alasannya, pembakaran bisa menjadikan pencemaran untuk lingkungan. Satu lagi yang khas dari desa adat ini, minuman asli loloh cemceman. Rasanya seperti air tape atau es rujak di Pulau Jawa. Namun, warnanya kehijauan karena berasal dari daun cem-ceman yang diperas, di beri air kelapa serta garam, dan direbus. Sumber: www.banglikab.go.id. 28 Mei 2012. 57
  • 58. 3. Paket Wisata yang Ditawarkan Kawasan pariwisata Gunung Api Batur memiliki sejumlah destinasi pariwisata yang sangat layak dijual kepada wisatawan baik itu asing maupun domestik. Berikut ini adalah beberapa ringkasan paket wisata yang dijual oleh travel-travel agent atau biro perjalanan sebagai tujuan wisata bagi konsumen/wisatawan yang tim kelompokkan berdasarkan kategori/jenis aktivitas wisata yang dilakukan. Penjabaran data temuan mengenai aktivitas wisata di Gunung Api Batur dapat dilihat di halaman selanjutnya. 58
  • 59. Tabel 4.7. TABEL CHECKLIST AKTIVITAS WISATA DI KAWASAN PARIWISATA GUNUNG API BATUR Aktivitas Wisata di Kawasan Pariwisata Gunung Batur No ODTW Jarak (Waktu/K m) 1. Pura Ulun Danu ± 45 Menit Ibadah, melihat upacara adat 2. Danau Batur ± 60 Menit Mancing, sarana transportasi, sight seeing dan photography 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Restoran Apung Kedisan (Desa Kedisan) Trunyan (Desa Trunyan) Pura Pancering Jagat (Desa Trunyan) Panelokan (Desa Batur selatan) Museum Gunung Api Batur (Desa Batur Selatan) Toya Bungkah (Desa Batur Selatan) Gunung Api Batur ± 60 Menit ± 160 Menit ± 120 Menit Jenis Kegiatan yang dilakukan Menikmati santapan khas yaitu ikan tawar, sambil melihat keindahan danau batur dan gunung batur Melihat keunikan kuburan warga desa trunyan Menyaksikan upacara adat Kategori Kegiatan Wisata Wisata Budaya dan Ziarah Wisata Rekreasi Wisata Rekreasi dan Kuliner Wisata Budaya Wisata Budaya ± 10 Menit Melihat keindahan alam gunung batur dan photography Wisata Rekreasi ± 5 Menit Memperkaya pengetahuan masyarakat akan gunung Batur Widiawisata ± 75 Menit Berendam air panas ± 3 Jam Sumber: Checklist 2012 Tracking, hiking, sightseeing, dan photography Wisata Kesehatan Wisata Petualangan, Wisata Rekreasi Keterangan Upacara di pura ini dirayakan setiap tahun, dan dinamakan Ngusaba Kedasa. Syarat masuk dengan menggunakan kain selendang. Selain menyediakan menu yang lezat, di restoran terapung danau Batur ini juga menyediakan aktivitas watersport seperti jetski dan juga memancing Desa trunyan memeiliki tiga jenis kuburan yang diperuntukan untuk tiga jenis kematian yang berbeda-beda Barong Brutuk hanya diadakan beberapa kali setahun, setiap diadakan upacara Terdapat restoran-restoran dan penjualan souvenir di sekitar panelokan Buka pada hari kerja dan tiket masuknya gratis Masyarakat sekitar percaya bahwa air panas tersebut dapat menyembuhkan penyakit, fasilitas lain; adalah hotel dan restoran serta aula untuk mementaskan tarian tradisional maupun modern Terdapat guide lokal dan pelayan wisatawan disana
  • 60. C. KONDISI PENGELOLA INDUSTRI KREATIF 1. Fungsi dan Tujuan Dentination Management Organization (DMO) Peran serta DMO dalam mengembangkan kawasan pariwisata Gunung Api Batur memerlukan fungsi dan tujuan yang tepat guna, berikut ini adalah hasil analisa checklist mengenai Fungsi dan Tujuan DMO di dalam mengembangkan kawasan pariwisata Gunung Api Batur: Tabel 4.8. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. TABEL FUNGSI DAN TUJUAN DMO Fungsi & Tujuan DMO Melakukan Koordinasi, Kemitraan dan Jejaring Melakukan Konsultasi dan Advokasi Pembenahan Fasilitas Standar Pelayanan Melakukan Penelitian Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat Menyelenggarakan Pemasaran Melakukan Promosi Investasi Monitoring dan Evaluasi Melakukan Survey Kualitas Pelayanan Penyusunan Programprogram Inovasi tentang Destinasi/Program Manajer/Event Generator Menerapkan Krisis Manajemen Kondisi Aktual Koordinasi ke berbagai pemangku kepentingan telah dilakukan, namun untuk kemitraan dan jejaring kerjasama antar pemangku kepentingan dengan masyarakat lokal masih belum terjalin dengan baik. Koordinasi dengan masyarakat lokal masih belum optimal ditandai dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk turut serta dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Fasilitas standar pelayanan belum sepenuhnya terbenahi. Belum banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan industri kreatif yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Sudah terdapat perencanaan program pengembangan dan kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal, namun belum terlaksana, dikarenakan masih banyak masyarakat lokal yang belum terkoordinir dengan baik. Penyusunan program kegiatan pemasaran sudah dilakukan, namun belum terlihat pelaksanaannya. Kegiatan promosi investasi di daerah gunung batur masih belum optimal ditandai dengan masih banyaknya kawasan yang belum terkelola dengan baik. (Belum Diketahui) (Belum Diketahui) Penyusunan program-program inovasi tentang destinasi/program manajer/event generator belum terlihat, dikarenakan aktivitas wisatawan di kawasan Gunung Api Batur selama ini sangat monoton, sebagian besar wisatawan hanya sekedar datang untuk berkunjung saja. Rencana tindakan yang bersifat proaktif dan efektif terhadap dampak krisis yang ditimbulkan sudah ada, namun untuk saat ini kondisi lingkungan baik fisik maupun non fisik (sosial budaya dan kesehatan) masih dalam tahap yang wajar, sehingga penerapan krisis manajemen untuk saat ini belum begitu terlihat. Kesesuaian Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Belum Sesuai Sumber: Tim Peneliti DMO Gunung Api Batur 2012 60
  • 61. Peran Serta, Kepentingan, dan Tugas dari Stakeholders Industri 2. Kreatif Beberapa Stakeholders yang terkait secara langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect) di dalam pengelolaan Industri kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Berikut hasil penjabaranya: Tabel 4.9. TABEL STAKEHOLDER YANG TERKAIT DALAM PENGELOLAAN INDUSTRI KREATIF DI GUNUNG API BATUR No. 1. Stakeholder Pemerintah Daerah Peran Perencanaan, Pembangunan, Pengeluaran kebijakan, Pembuatan dan penegakan peraturan. Kepentingan Membuat konsep (master plan) tentang pengelolaan industri kreatif di Gunung Api Batur, Bali - - - 2. Pelaku Industri Pelaksana program pemerintah dalam pengelolaan industri kreatif. 3. Masyarakat Lokal Pendukung program pemerintah dan pelaku industri kreatif. Mengembangkan industri kreatif di Gunung Api Batur, Bali dan sebagai penyedia produk industri kreatif di Gunung Api Batur, Bali Dalam hal ini, masyarakat lokal hanya perlu menjalankan rutinitas keseharian mereka yang memiliki ciri khas dan keunikan yang tidak dimiliki oleh masyarakat daerah lain. Tugas Merencanakan program kerja Melaksanakan pembangunan daerah yang berhubungan dengan industri kreatif yang telah direncanakan sebelumnya Mengeluarkan kebijakan terhadap pelaku-pelaku industri kreatif Membuat peraturan yang terkait dengan pengelolaan industri kreatif yang ada di Gunung Api Batur, Bali Menciptakan produk industri kreatif Memasarkan hasil industri kreatif Mempromosikan hasil produk industri kreatif yang ada di Gunung Api Batur, Bali _ Sumber: Tim Peneliti DMO Gunung Api Batur 2012 61
  • 62. 3. Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli Tentang Kepariwisataan Dalam kegiatan kepariwisataan di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli memiliki sejumlah kebijakan mengenai program pengembangan pariwisata di Daerah Kabupaten Bangli berikut: Tabel 4.10. No. 1. TABEL KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH KAB. BANGLI TENTANG KEPARIWISATAAN Kebijakan Pengembangan Daya Tarik a. dan Atraksi Wisata di Kab. Bangli b. c. d. 2. Pengurangan Kesenjangan Ekonomi dan Sosial dalam Pembangunan Kepariwisataan di Kab. Bangli a. b. c. 3. Peningkatan Keamanan, Kenyamanan dan Aspek Kesehatan Kepariwisataan a. b. c. d. 4. Peningkatan Sumber Daya Manusia Kepariwisataan a. b. c. d. Deskripsi Mengidentifikasi obyek, daya tarik dan atraksi wisata yang sudah, sedang dan belum berkembang sesuai dengan jenisnya (alam, budaya dan minat khusus). Meningkatkan kualitas obyek, daya tarik dan atraksi wisata sesuai dengan potensi dan keunikannya melalui peningkatkan sarana, prasarana serta upaya pembinaan dan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia). Meningkatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengembangan obyek, daya tarik dan atraksi wisata dengan melibatkan seluruh komponen yang bergerak di sub sektor pariwisata. Menjaga kelestarian daerah tujuan wisata dalam rangka pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui pemeliharaan secara berkala. Memeratakan pembangunan kepariwisataan di daerah Bangli sesuai dengan potensi dan kemampuan masingmasing. Mengembangkan pariwisata kerakyatan (pengembangan desa wisata, eko wisata dan agro wisata). Mengembangkan pola kemitraan dalam pengembangan pariwisata terutama antara swasta dan masyarakat. Menciptakan keamanan daerah tujuan wisata dengan melibatkan desa adat dan aparat keamanan. Melaksanakan pembangunan kepariwisataan dengan memperhati-kan aspek kelestarian lingkungan. Mengupayakan pengelolaan limbah industri pariwisata, Menjaga hygines dan sanitasi makanan dan minuman yang disajikan kepada wisatawan. Melaksanakan pendidikan dan latihan kepada aparat pariwisata. Melaksanakan pendidikan dan latihan kepada pengelola daerah tujuan wisata. Memberikan pembinaan kepada masyarakat dan swasta yang bergerak di bidang pariwisata. Melaksanakan studi banding ke daerah-daerah yang pembangunan kepariwisataannya lebih maju. Sumber: Assessment Baseline DMO Cluster Bali 2011 62
  • 63. D. DATA SEKUNDER 1. Kabupaten Bangli Kabupaten Bangli merupakan bagian dari Provinsi Bali bagian Utara, dengan luas wilayah 520,81 Km² atau 9,25 % dari seluruh wilayah Provinsi Bali. Secara administratif sendiri Kabupaten Bangli terbagi menjadi 4 Kecamatan dan 72 Desa yaitu: a. Kecamatan Bangli, dengan luas 56,3 Km², terdiri dari 9 desa atau kelurahan; b. Kecamatan Susut dengan luas 49,3 Km², terdiri dari 9 desa; c. Kecamatan Tembuku dengan luas 48,3 Km², terdiri dari 6 desa; dan d. Kecamatan Kintamani dengan luas 366,9 Km², terdiri dari 48 desa. Kecamatan Kintamani yang menjadi fokus penilitian kami merupakan salah satu dataran tinggi yang ada di Pulau Bali dengan kemiringan lereng antara 30 – 70% dan merupakan daerah pegunungan yang berelief kasar. Kondisi geologi dan litologi kawasan tersebut berupa endapan vulkanologi muda dan tua. Namun kawasan Kecamatan Kintamani pada umumnya berhawa sejuk dengan temperatur udara berkisar antara 18ºC - 23ºC dengan curah hujan tahunan 1.840 mm/th. Wilayah Kecamatan Kintamani juga memiliki hutan negara sekitar 6.399,60 ha (35,72%) dan kebun seluas 1.350,10 Ha (7,53%) (RT/RW ODTWK Kintamani, 2007). Dari 48 Desa yang ada dalam wilayah administrasi Kecamatan Kintamani, telah dibagi 63
  • 64. kembali menjadi 15 Desa yang merupakan daerah kawasan wisata. Letak 15 Desa tersebut berada di sekitaran Gunung Api Batur dan Danau Batur. Gunung Api Batur merupakan salah satu gunung merapi dari sekian ratus gunung merapi yang masih aktif di Indonesia, terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Terletak di barat laut Gunung Agung. Gunung ini memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 Km² dan merupakan salah satu yang terbesar dan terindah di dunia (Van Bemmelen, 1949). Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1267 m- 2152 m (puncak Gunung Abang). Kaldera Gunung Api Batur diperkirakan terbentuk akibat dua letusan besar 29.300 dan 20.150 tahun yang lalu. Gunung Api Batur terdiri dari tiga kerucut gunung api dengan masing-masing kawahnya; Batur I, Batur II, dan Batur III. Kawasan pariwisata Gunung Api Batur secara geografis terletak pada koordinat 08˚3’40” - 08˚50’48” LS dan 114˚25’53” - 115˚42’40” BT, dan dibatasi oleh: Tabel 4.11. BATAS WILAYAH KABUPATEN BANGLI Utara Timur •Kab.Buleleng •Kawasan Kaledra Gunung Api Batur •Kab. Karangasem Selatan •Kab.Klungkung •Kab. Gianyar Barat •Kab. Gianyar •Kab. Badung •Kab.Buleleng Sumber: Disparda Kabupaten Bangli, Bali 2012. 64
  • 65. 2. Visi-Misi Kabuaten Bangli Sebagai salah satu sektor pembangunan Kabupaten Bangli, visi dan misi pengembangan pariwisata Kabupaten Bangli khususnya pada wilayah hinterland Kaldera Gunung Api Batur harus mengacu kepada visi pembangunan Kabupaten Bangli, “Terwujudnya Masyarakat Bangli yang Sejahtera, Mandiri, Terdidik dan Siap Mengabdi (sewyakirti) berdasarkan Tri Hita Karana”. Selain itu, beberapa isu strategis utama pembangunan Kabupaten Bangli juga bisa menjadi landasan pengembangan pariwisata pada wilayah hinterland Kaldera Gunung Api Batur di Kabupaten Bangli. Isu-isu strategis utama pembangunan Kabupaten Bangli Tersebut adalah: a. Mewujudkan masyarakat Bangli yang tangguh dan unggul; b. Melestarikan kebudayaan Bali; c. Mewujudkan ketertiban dan keamanan masyarakat Bangli yang berkeadilan dan demokratis; d. Mewujudkan masyarakat Bangli yang sejahtera dan mandiri; e. Mewujudkan Bangli yang asri dan lestari. Sumber: Bali Assessment 2011. 65
  • 66. 3. Kecamatan Kintamani Terletak di dataran tinggi bagian utara Provinsi Bali, berjarak ±2 jam dari Kota Denpasar. secara administrasi Kecamatan Kintamani terdiri dari 48 Desa, yaitu: Tabel 4.12. DAFTAR 48 DESA YANG MENJADI BAGIAN DARI KEC. KINTAMANI No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Kode Pos 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 Desa/ Kelurahan Abang Songan* Abuan Awan Bantang Banua Batu Dinding* Batukaang Batur Selatan* Batur Tengah* Batur Utara* Bayungcerik Bayunggede Belancan Belandingan Belanga Belantih Binyan Bonyoh Buahan* Bunutin Catur Daup Dausa Gunungbau Katung Kedisan* Kintamani* Kutuh Langgahan Lembean Mangguh Manikliyu Mengani Pengejaran Pinggan* Satra Sekaan Sekardadi Selulung Serahi Siyakin Kecamatan Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani DT2 Kota, Kabupaten DT2 Kota, Kabupaten Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Provinsi Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali 66
  • 67. 42 43 44 45 46 47 48 80652 80652 80652 80652 80652 80652 80652 Songan A* Songan B* Subaya Sukawana Suter* Terunyan* Ulian Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kintamani Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bangli Bali Bali Bali Bali Bali Bali Bali Sumber: Pengolahan Data dari “Kintamani Dalam Angka 2011 Tabel 4.13. JUMLAH PENDUDUK PER DESA/KELURAHAN BEDASARKAN JENIS KELAMIN DI 13 DESA KAWASAN PARIWISATA GUNUNG API BATUR TAHUN 2010 Nama Desa Batur Utara Batur Selatan Batur Tengah Pinggan Kintamani Songan A Songan B Kedisan Buahan Trunyan Suter Abang Songan Abang Batudinding Jumlah Laki-Laki Jenis Kelamin Perempuan Jumlah 873 2479 1254 861 2704 2742 3568 858 903 1344 878 579 1139 20182 877 2700 1245 812 2721 2630 3484 882 819 1294 881 597 1246 20188 1750 5179 2499 1673 5425 5372 7052 1740 1722 2638 1759 1176 2385 40370 Sumber: Pengolahan Data dari “Kintamani Dalam Angka 2011” 4. Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur Kawasan pariwisata Gunung Api Batur telah menjadi objek wisata dunia sejak lama dimulai ketika masa penjajahan Belanda, pada masa ini kawasan pariwisata Gunung Api Batur dikelompokkan menjadi 15 Desa yang menjadi kawasan penyanggah kaldera Gunung Api Batur (Sumber: DMO Bali Assesment 2010). Dari 15 Desa tersebut merupakan bagian dari Kecamatan Kintamani yang sering disebut kawasan pariwisata Kintamani atau kawasan pariwisata Gunung Batur berikut desa-desa tersebut: Batur Utara, Batur Selatan, Batur Tengah, Kintamani, Sukawana, Pinggan, Belandingan, Songan A, Songan B, Trunyan, Kedisan, Buahan, Abang 67
  • 68. Songan, Suter, dan Desa Abang Batu Dinding. Namun pada penelitian kali ini Desa Sukawana dan Desa Belandingan tidak dapat dilakukan penelitian mendalam berkaitan dengan bencana alam yang tengah dialami warga Desa Belandingan, dan permasalahan teknis selama penelitian di Desa Sukawana. Sehingga penelitian kali ini hanya melibatkan 13 Desa lainnya. 5. Peraturan Daerah Kabupaten Bangli Untuk memberikan arah kebijakan yang jelas dan panduan terhadap pengembangan pariwisata di Kintamani dan Kabupaten Bangli pada umumnya maka dipedomani berbagai peraturan dan perundang-undangan yang berhubungan dengan bidang kepaariwisataan serta diterbitkan berbagai peraturan daerah dan peraturan teknis lainnya. Beberapa peraturan dan perundang-undangan tesebut diantaranya: a. Undang-undang No 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan b. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.8597/HK501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Pariwisata c. PERDA Provinsi Daerah Tk I Bali Nomor 14 Tahun 1989 tentang Penyerahan sebagian urusan pemerintah propinsi daerah TK I Bali di Bidang Kepariwisataan Kepada Daerah Tk II d. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah e. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah TK II Bangli Nomor 4 Tahun 1990 tentang Retribusi Obyek Wisata f. Peraturan Bupati Bangli Nomor 14 Tahun 2007 tentang pemberian izin pelayanan jasa pemanduan pendakian gununga batur kintamani g. Keputusan Bupati Kepala Daerah Tk II Bangli Nomor 171 Tahun 1990 tentang penetapan obyek-obyek wisata 68
  • 69. h. Keputusan Bupati Kepala Daerah Tk. II Bangli Nomor 172 Tahun 1990 Tentang Retribusi Obyek wisata. i. Keputusan Bupati Kepala Daerah Tk. II Bangli Nomor 173 Tahun 1990 Tentang Penunjukan Dinas Pariwisata untuk melaksanakan pungutan Retribusi Obyek wisata. j. Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Bangli Nomor 263 Tahun 1991 tentang penunjukkan Yayasan Tampuryang Batur dan Yayasan Bintang Danu sebagai Petugas Pungutan Retribusi Obyek Wisata k. Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Bangli Nomor 387 Tahun 1991 Tentang Penunjukan Panitia Pura Penulisan sebagai Petugas Pungut Obyek Wisata Kawasan Penulisan. l. Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Bangli Nomor 405 Tahun 1992 Tentang Pungutan Retribusi obyek Wisata Di Kabupaten Daerah TK II Bangli m. Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Bangli Nor 258 Tahun 1999 tentang penetapan tariff angkutan wisata motor boat di Danau Batur n. Keputusan Bupati Kepala Daerah II Bangli Nomor 377 Tahun 1999 tentang pemberian Ijin Pengelolaan Pendakian Gunung Batur Kintamani o. Keputusan Bupati Kepala Daerah II Bangli Nomor 377 A Tahun 1999 tentang Ijin Pelayanan Jasa Pemanduan Pendakian Gunung Batur Kintamani p. Keputusan Bupati Kepala Daerah II Bangli Nomor 378 Tahun 1999 tentang penetapan tarif Jasa Pemandu Pendakian Gunung Batur Kintamani q. Keputusan Bupati Bangli Nomor 232 Tahun 2001 tentang perubahan ketiga atas keputusan bupati kepala daerah Tk II Bangli Nomor 258 tahun 1999 tentang penetapan tarif angkutan wisata motor boat di danau batur 69
  • 70. r. Keputusan Bupati Bangli Nomor 556.05/171/2001 tentang penunjukan petugas pengelola dan daya Tarik Wisata di Kabupaten Bangli s. Kesempatan Bersama Pemerintah Kabupaten Bangli dengan Universitas Udayana Nomor 3 Tahun 2007, Nomor 1959/J14/Kl 04.01/2007 tentang implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Bangli. t. Keputusan Bupati Bangli Nomor 556.05/96/2009 tentang Pembentukkan Panitia pelaksana Pembentukan Kelembagaan Pengelola Kepariwisataan di Kabupaten Bangli. u. Keputusan Bupati Bangli Nomor 660/130/2010 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Kawasan Geopark Gunungapi Batur Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. v. Peraturan Daerah Kabupaten Bangli Nomor 7 Tahun 2010 tentang Retribusi Tempat rekreasi dan Olah Raga. w. Keputusan Bupati Bangli Nomor 556/134/2010 tentang Penunjukkan Petugas Pungut Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga. 70
  • 71. E. DATA PRIMER: Resume Wawancara 13 Desa Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur Data primer kami yang pertama berupa hasil wawancara dengan beberapa Informan yang berfokus pada pedoman wawancara tentang Potensi Industri Kreatif, berikut penjabarannya: 1. Desa Batur Utara Bedasarkan data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Perbekel dari Desa Batur Utara terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Desa Batur Utara. Desa Batur Utara Mayoritas sumber mata pencaharian desa 5% bergerak sebagai Petani, 5% sebagai Buruh, 20% sebagai Pegawai dan 70% sebagai Wirausaha. Hasil pertaniannya yaitu Jeruk, Kopi, Sayur-Sayuran, Terong Belanda. Sebagian besar dari warga desa Batur Utara menjadi Wirausaha, seperti berjualan didaerah kawasan wisata seperti Panelokan dan Daerah Pura Ulun Danu. Dari Hasil wawancara dengan perbekel di Desa Batur Utara Memiliki Beberapa Sumber Daya Alam yang Dapat di jadikan suatu Potensi Industri Kreatif yaitu Pengembangan terong belanda, Terong Belanda merupakan sejenis sayuran yang bisa tumbuh di kawasan dataran tinggi vulkano. Sayuran ini sangat baik untuk diolah jadi lauk-pauk, beberapa Restoran Lokal di kawasan Pariwisata Gunung Api Batur menyediakan menu ini, meskipun saat ini terong belanda ini cukup langka pertumbuhannya. Beberapa tahun yang lalu Desa ini juga diakui telah mendapatkan bantuan dalam Bentuk Mesin untuk pengolahan Terong Belanda menjadi sauce, dan makanan olahan lain berbahan Terong Belanda untuk dikembangkan. Selain Pengembangan 71
  • 72. Terong Belanda Desa Batur Utara Terdapat Pengembangan Ikan Mujair, Ikan Mujair di Desa Batur sendiri memiliki keunikan didalam pengolahannya, karena di dalam bumbu yang dipakai untuk mengolah Ikan Mujair Tersebut menggunakan Umbi-Umbian yang menjadi suatu ciri khas Kuliner dari Desa Batur Utara. Selain memiliki Sumber Daya Alam, Desa Batur Utara juga memiliki banyak kesenian yang sering ditampilkan di Pura Ulun Danu, terutama ketika acara-acara keagamaan umat Hindu. Mereka memiliki sanggar tersendiri yang berada tepat dibelakang kantor Perbekel/Desa Batur Utara yang bisa dijadikan sebagai daya tarik untuk menarik perhatian wisatawan. Desa Batur Utara Terdapat wisata spiritual di Pura Ulun Danu, dan pernah didatangi oleh orang-orang penting seperti, Presiden Soekarno, Soeharto, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berkunjung ke Pura Ulun Danu untuk berwisata spiritual disana. Adanya Aktifitas Pasar yang menjadi ciri khas desa Batur Utara, seperti adanya Pasar Besar yang diadakan setiap 3 hari sekali. Dari Informasi Wawancara dari Perbekel bahwa terdapat kendala dengan Kondisi Aktual di Desa Batur Utara yaitu untuk pengolahan terong belanda memiliki kendala di dalam proses pengolahannya di karenakan didalam produksi untuk mengolah terong belanda memerlukan biaya operasional yang besar untuk mengoperasikan Kapasitas mesin Tersebut, sedangkan Hasil Panen dari Terong Belanda Kurang Dari standar Kapasitas Mesin. 72
  • 73. Kurangnya dari pemasaran menjadi kendala di dalam pengembangan Industri yang terdapat di Desa Batur Utara. Kurangnya dari Minat Masyarakat Desa Batur Utara di dalam pengembangan potensi Industri, di karenakan pemasaran yang Minim Untuk memperkenalkan potensi-potensi yang terdapat didaerah Desa Batur Utara. Desa Batur Utara Sebagian besar lahan hanya dipakai sebagai tempat tinggal penduduk saja, belum banyaknya Investor yang masuk untuk mengembangkan potensi Desa tersebut sehingga nilai dari lahan masih tergolong belum Komersil. Desa Batur Utara Tidak Memiliki Sarana Penginapan bagi Wisatawan yang ingin menginap di Desa Batur Utara. Rekomendasi dari Pihak Perbekel Desa Batur Utara kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli harus memperhatikan pengelolaan untuk pengembangan Odtw yang terdapat di Desa Batur Utara. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli harus lebih memperhatikan terhadap segi pemasaran untuk memperkenalkan Potensi Industri yang dimiliki Desa Batur Utara. 2. Desa Batur Tengah Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Pihak Sekretaris Desa Batur Tengah terdapat beberapa informasi mengenai kondisi desa Batur Tengah. Penduduk Desa Batur Tengah memiliki mayoritas pekerjaan sebagai Petani dan Pedagang yang terdapat di tempat wisata seperti Pura Ulun Danu, Danau Batur. Sedangkan hasil Industri yang di hasilkan paling banyak adalah 73
  • 74. Jeruk Siam, Kopi, Umbi-umbian, Cabai. Desa Batur Tengah memiliki beberapa Objek Wisata yang terdapat di Desa Batur Tengah yaitu Objek Wisata Gunung Batur, Danau Batur, Pura Ulun Danu, dan Air Terjun Yeh Mampeh. Rekomendasi Dari Pihak Sekretaris Desa Batur Tengah terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Pemerintah harus memperhatikan pengelolaan untuk pengembangan ODTW yang terdapat di Desa Batur Tengah. Pemerinah harus lebih memperhatikan terhadap pemasaran untuk memperkenalkan keunikan yang dimiliki Desa Batur Tengah. 3. Desa Batur Selatan Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan pihak Perbekel Desa Batur Selatan terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Desa Batur Selatan. Penduduk Desa Batur Selatan memiliki mayoritas pekerjaan sebagai Petani dan Pedagang di tempat-tempat wisata seperti Pura Ulun Danu, Danau Batur. Sedangkan hasil industri yang paling banyak adalah Jeruk Siam, Kopi, Umbi-Umbian, Cabai. Desa Batur Selatan memiliki beberapa objek wisata diantaranya Gunung Batur, Danau Batur, Pura Ulun Danu, Air Terjun Tirta Tuye Mampeh. Rekomendasi dari Perbekel dari untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu pemerintah harus memperhatikan pengelolaan untuk pengembangan ODTW yang terdapat di Desa Batur Selatan. Selain itu 74
  • 75. Pemerintah harus lebih memperhatikan terhadap pemasaran untuk memperkenalkan keunikan yang dimiliki Desa Batur Selatan. 4. Desa Kintamani Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan pihak Perbekel Desa Kintamani terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif Di Desa Kintamani. Desa Kintamani mayoritas sumber pendapatan sebagai Petani Jeruk, Kopi, Labuh Jepang (80%), Wiraswasta (20%). Desa Kintamani memiliki beragam Kerajinan Tangan seperti Kerajinan Perak yang menghasilkan Cincin,Gelang, dan Kalung yang terdapat di Dusun Gelaga Lingga.Kerajinan ukir kayu Dikenal dengan Souvenir Ukiran Hewan Jerapah yaitu ukiran patung yang terbuat dari bahan dasar kayu yang terdapat di Dusun Wanagiri. Kerajinan Bambu yang berupa Keranjang, dan Anyaman. Selain itu terdapat Pandai Besi di desa Kintamani yang menghasilkan Alat perkakas Rumah Tangga Dari segi Warisan Budaya, Desa Kintamani memiliki ciri khas tersendiri dari desa yang lain yang terdapat di sekitar Gunung Batur. Terdapat tarian-tarian sakral seperti Baris Gede, Omang, Juntal, Rejang (Tarian Adat), Seresi. Salah satu tarian sakral yang menjadi ciri khas Desa Kintamani disebut dengan Tarian Sangiang Dedari, tarian tersebut dilakukan oleh sepasang anak yang belum remaja yang dimana salah satu anak berada diatas pundak temannya dan mereka menari-nari sambil berjalan diatas api. 75
  • 76. Tarian tersebut hanya dilakukan pada saat upacara adat yang dilakukan hanya di Pura Kayu Kapas. Semua Tarian Sakral tersebut hanya dilakukan pada saat upacara adat berlangsung, dan termasuk dalam rangkaian upacara adat. seluruh tarian tersebut dapat di nikmati oleh para wisatawan yang sedang berkunjung pada saat upacara adat tersebut dilaksanakan, jika upacara adat tersebut sedang tidak dilaksanakan, acara tarian sakral tersebuat tidak dapat dilaksanakan. Desa Kintamani hanya menggunakan fasilitas GOR (Gandaraia Manik Winangun) untuk melakukan seluruh kegiatan kesenian, seperti latihan Tari, Musik traditional Bali, dan pelatihan-pelatihan lainnya yang dibutuhkan untuk kegiatan upacara adat tersebut. Fasilitas seperti perpustakaan desa yang dimiliki di Desa Kintamani terdapat di dalam Kantor kelurahan Desa Kintamani, perpustakaan Desa Kintamani dibuka saat jam kerja saja. Terdapat Batu Meteor yang terletak di Pura Alas Bintang dan di Pura Pusa Belebu yang terdapat di daerah Banjar Wanagiri yang dapat di lihat bagi wisatawan yang berkunjung kesana. Salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Kintamani adalah pemandu wisata. Tetapi masyarakat Desa Kintamani yang berprofesi sebagai tour guide/pemandu wisata melakukan pekerjaanya di perkotaan seperti daerah Kuta, Denpasar, Sanur, dan Nusa Dua. 76
  • 77. 5. Desa Pinggan Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan kantor Perbekel/Desa Pinggan terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif di Desa Pinggan. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Pinggan adalah petani Agro Bisnis yang cukup berhasil dan berkembang, Desa Pinggan tidak memiliki keterampilan yang baik dalam menghasilkan karya seni, tetapi Desa Pinggan sangat dikenal dalam kepiawaiannya mengolah tanah didesa mereka. Hasil pertanian/perkebunan mereka jual kepada pedagang sampai ke pengusaha besar. Desa Pinggan terletak di kawasan yang memiliki daya tarik wisata, karena dari Desa Pinggan wisatawan dapat melihat Gunung Rinjani dan pemandangan yang sangat indah dari Bukit Teja Taki, Di Desa Pinggan wisatawan dapat melakukan berbagai kegiatan wisata seperti camping, tracking, sight seeing dan kawasan Desa Pinggan belum di kelola serius oleh pemerintah daerah. Desa Pinggan terdapat temuan baru yang berupa goa yang dijadikan tempat suci yang termasuk dalam Geosite yang diberi nama Pura Goa. Desa Pinggan memiliki tempat peribadatan yang sudah cukup dikenal dan menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan yang berkunjung ke desa pinggan ini, pura tersebut bernama pura Dalam Belingkang yang terkenal dengan sejarah ceritanya. 77
  • 78. Selain itu Desa Pinggan memiliki keunikan dalam segi Arsitektur bangunannya seperti rumah adat mereka memiliki ciri khas yaitu, Rumah Saka Roras (Tiang 12), letak ruangan harus berada di setiap mata angin seperti: Barat Daya : Tempat Suci Tenggara : Dapur Timur Laut : Kamar Tidur Timur : Kamar Meninggal Utara : Kamar Tamu Desa Pinggan juga memiliki kesenian traditional yang berupa Alat musik yg bersuara khas yang bernama Grantang, alat musik ini terbuat dari bambu yang dimainkan oleh para remaja untuk mengiringi tarian pergaulan. Tarian-tarian yang berasal dari Desa Pinggan adalah Tarian Rindik, Tari Jojor, Tari Baris: Tombak, Dadap, Polisi, Rejang Pendet. Tari Baris dapat ditemukan di setiap desa, tetapi yang membedakan dengan desa lain adalah Tarian Baris di Desa Pinggan memiliki gerakan yang berbeda, lebih sakral, dan sebelum tarian ini dilakukan, ada doa-doa tertentu untuk melakukan tarian ini. Rekomendasi dari pihak Kantor Perbekel Desa Pinggan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu, Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli memberikan bantuan dari segi permodalan khususnya bagi para Petani di Desa Pinggan. Selain Itu Aksesbilitas Di Desa Pinggan perlu diperbaiki karena untuk memudahkan aktifitas usaha dari masyrakat Desa Pinggan. 78
  • 79. 6. Desa Songan A Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan pihak Sekretaris Desa Songan A terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif di Desa Songan A. Mayoritas sumber mata pencaharian Desa Songan A 99% adalah sebagai Petani, karena sebagian besar masyarakat desa ini masih bersifat Agraris, namun ada juga sebagian penduduknya bemata pencaharian sebagai Pedagang dengan membuka warung-warung kecil di sebagian desanya dengan menjual berbagai keperluan sehari-hari, selain sebagai pedagang ada juga yang bekerja sebagai pemandu wisata yang telah bergabung dalam HPGB (Himpunan Pemandu Wisata Gunung Batur) yang didalamnya memang penduduk Songan A semua. Terdapat Rumah Traditional khas Desa Songan A yaitu rumah Sekeroras (terdiri dari 12 tiang yang khas) & Rumah Sekenem. Upacara khas Desa Songan yaitu Upacara Makendal (upacara setelah pernikahan) & Metlah / Mapowinten (upacara pengangkatan Mangku). Terdapat Pura Uludanu yang terdapat Goa di dalamnya yang biasa di lakukan untuk melakukan perayaan keagamaan bagi masyarakat Desa Songan A. Rekomendasi Dari Pihak Sekretaris Songan A Terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Perlu adanya Sosialisasi kepada masyarakat Desa Songan A mengenai pengembangan Pariwisata. 79
  • 80. 7. Desa Songan B Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Sekretaris Desa Songan B terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif di DesaSongan B. Mayoritas penduduk Desa Songan B bekerja dibidang pertanian,hampir 90% masyarakat desa ini bekerja sebagai petani.Pelaku industri yang sekarang berada didesa ini sebanyak ±200 kk dan kebanyakan dan hampir semua para pelaku yang ada didesa ini yaitu masyarakat asli dari Songan. Namun untuk saat ini kerajinan tangan yang ada disekitar Desa Songan ini kebanyakan itu didatangkan dari luar Desa Songan. Potensi Industri Kreatif yang dimiliki oleh Desa Songan B diantaranya Pembuatan jajanan makanan yang terbuat dari tepung yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.Kerajinan tangan yang bahan dasarnya terbuat dari daun lontar. Pembuatan/produksi gula aren di Desa Songan B. Pembuatan Saos tomat yang terdapat di Desa Songan B. Industri yang memungkinkan dan antusias tinggi dari masyarakat Desa Songan B diantaranya Tata rias, dan Perbengkelan. Kendala yang biasanya ditemukan oleh pihak desa Songan B yaitu SDM di Songan B lebih cenderung bekerja dalam bidang pertanian daripada bidang lainnya, namun masyarakat sekitar setuju jika Desa Songan B ini dijadikan sebagai desa wisata yang memiliki potensi industri kreatif yang cukup baik. Permodalan menjadi kendala di dalam pengembangan potensi Desa Songan B. 80
  • 81. Banyak potensi yang dimiliki oleh Desa Songan B, namun belum ada pengorganisasian serta pengelolaan yang baik dari pihak Desa Songan B Kebanyakan mereka melakukan industri ini hanya dengan mengelolanya sendiri. Sempat ada pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan industri yang cukup berpotensi ini, namun tidak bertahan lama, karena SDM-nya sendiri tidak begitu antusias atas adanya pelatihan yang telah dilakukan. 8. Desa Kedisan Mayoritas penduduk desa kedisan itu paling banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, pertanian dan mengelola sapi. Di Desa Kedisan ini tidak memiliki potensi untuk aspek dari kerajinan tangan, karena hampir seluruh masyarakat desa kedisan ini mencari mata pencahariannya itu di Gianyar maupun di Denpasar. Mereka hanya menujukan hasil kerajinan tangan yang diproduksi oleh desa lain ataupun kota lain. Kerajinan yang dijual itu semacam gelang, kalung, sendok sayur maupun kerajinan tangan lainnya. Dalam Desa Kedisan juga terdapat Dermaga yang berfungsi sebagai alat transportasi bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Desa Trunyan, kondisi di dermaga sudah terdapat fasilitas bagi wisatawan seperti terdapat ruko-ruko yang menjual hasil dari kerajinan souvenir, minuman khas yaitu rujak cem-cem dan masakan khas bali, selain itu di ruko tersebut terdapat penjual voucher pulsa dan toilet umum bagi wisatawan. Para penjual souvenir di dermaga sudah diatur dan memiliki ID card dengan tujuan agar para 81
  • 82. penjual tertib dan tidak memaksa wisatawan untuk membeli barang jualan mereka sehingga para wisatawan merasa nyaman dengan situasi di dermaga. Souvenir yang di jual bukan hasil dari kerajinan Desa Kedisan melainkan diproduksi oleh desa lain ataupun kota lain. Kerajinan yang dijual itu semacam gelang, kalung, sendok sayur maupun kerajinan tangan lainnya. Desa Kedisan terdapat seni pertunjukan berupa tarian yaitu tari baris dan tari jojor yang biasa di mainkan oleh truna dan truni.tarian ini biasa di pertunjukan apabila Desa Buahan sedang mengadakan kegiatan upacara adat. 9. Desa Buahan Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Pihak Perbekel Desa Buahan terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif Di Desa Buahan. Masyarakat Desa Buahan hampir 90% masyarakat di Desa Buahan Mata pencaharian sebagai Petani. 5% masyarakat Desa Buahan ini juga sudah mulai bergerak dibidang pariwisata. Desa Buahan Sering di jadikan Tempat Untuk Dijadikan Sebagai Periklanan Media TV, seperti Iklan Sepeda Motor Yamaha MIO dan Iklan Makanan Waffer Tanggo. Desa Buahan Terdapat beberapa Tarian dan Wayang Kulit, tarian tersebut diantaranya Tari Baris Gede, Tari Kidang. Desa Buahan juga Terdapat peninggalan Barang Antik Berupa Keris Yang terdapat di suatu Pura dan Keris tersebut sakral dan tidak untuk diperlihatkan untuk mayarakat umum. 82
  • 83. Potensi Industri Kreatif yang dimiliki oleh Desa Buahan ini diantaranya Shock bamboo (untuk sesajen), Pembuatan perhiasan dari perak seperti pembuatan cincin, Desa Buahan terdapat pengrajin lukisan, pembuat patung-patung yang terbuat dari kayu, anyaman bambu bedeng yang merupakan ciri khas kerajinan anyaman di Desa Buahan. Selain terdapatnya beberapa potensi Industri Desa Buahan terdapat semacam situs arkeologi yaitu berupa Goa Batu. 10. Desa Trunyan Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan pihak perbekel/Desa Trunyan terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Potensi Industri Kreatif di Desa Trunyan. Di Desa ini terdapat beberapa kesenian berupa tarian-tarian, yaitu; Tari Barong Bruduk,Tarian Barong Bruduk ini hanya diperlihatkan setiap upacara besar, yang dilakukan hanya 1 kali dalam satu tahun. Tari Baris Jojor, Tarian Baris Jojor ini ditarikan oleh sekelompok penari dengan membawa senjata Jojor (tombak bertangkai panjang) terdapat dalam upacara Dewa Yad-nya. Tari Janger, Tarian Ini Merupakan jenis tarian pergaulan, terutama bagi muda mudi, yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahutsahutan. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender 83
  • 84. wayang. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX, merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria, sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita.Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha, Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali, masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. Tari Rejang, Tarian ini Merupakan tarian yang memiliki gerak tari yang sederhana dan lemah gemulai, ditarikan oleh penari putri (pilihan maupun campuran dari berbagai usia) yang dilakukan secara berkelompok atau massal di halaman pura pada saat berlangsungnya suatu upacara. Bisa diiringi dengan gamelan Gong Kebyar atau Gong Gede. Tari Rejang ini, oleh masyarakat Bali dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan status sosial penarinya (Rejang Deha: ditarikan oleh remaja putri), cara menarikannya (Rejang Renteng: ditarikan dengan saling memegang selendang), tema dan perlengkapan tarinya terutama hiasan kepalanya (Rejang Oyopadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa dll). Di Desa Terunyan Tidak terdapat suatu hasil kerajinan tangan dikarenakan penduduk Desa ini belum memiliki keterampilan dan sebagian besar penduduk masih bersifat agraris dan lebih banyak bekerja dalam bidang pertanian. Terdapat berbagai Perayaan di Desa Terunyan Perayaan ini berupa upacara, yaitu diantaranya; Upacara Mepekandal, Upacara Ini meruapakan Upacara penyempurnaan tahapan-tahapan perkawinan secara keseluruhan. 84
  • 85. Setelah rampung upacara pemesrah dengan segala tahapannya itulah sebuah perkawinan di Trunyan dikatakan resmi. Maka, menjadi pemandangan yang biasa pula, dalam upacara pemesrah pasangan pengantin sudah memiliki sejumlah anak karena jarak antara upacara dan pernikahan begitu panjang. Cara perkawinan yang lain di Trunyan adalah Melegandang, melarikan secara paksa. Upacara Saba Gede, Upacara Ini Merupakan upacara besar, yang dilakukan setiap tahun, untuk memperingati sekaligus menghormati dewa tertinggi Trunyan. Upacara Malik Sumpah, Upacara Ini merupakan Upacara untuk mengingat kahyangan jagad. upacara ini diadakan agar masyarakat Desa Terunyan selalu ingat, untuk tidak bertengkar dengan sesama karena semuanya akan menjadi rusak, akan tetapi kerusakan itu adalah bergantinya zaman (maksudnya: gempa bumi tidak berkeputusan setiap hari, gunung meletus tidak henti-hentinya, bumi belah karena panas yang tak tertahankan, atau hujan tidak berkeputusan, segala yang ditanam mati semuanya, paceklik, kurus kering menunggu ajal. Upacara Nglungang, Upacara pembakaran rumah yang dipercaya untuk menghormati kedatangan Dewa Trunyan. Namun dewasa ini penduduk Trunyan tidak diketahui apakah mereka masih melakukan ritual ini. Upacara Nyimpen, Upacara ini mengembalikan peralatan upacara yang berupa lambang-lambang suci para dewa ke dalam pelinggih (tempat persemayaman para dewa). Upacara ini dilakukan setelah upacara Nglunggang. 85
  • 86. Upacara Penguburan, Upacara dilangsungkan untuk membayar utang jasa anak terhadap orang tuanya. Utang itu dibayarkan melalui dua tahap, tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian. Upacara Perkawinan, Upacara perkawinan terdiri dari beberapa tahapan, yaitu; tahap pertama Upacara Ngerorot yang artinya melarikan diri. Pada upacara ini calon pengantin wanita "melarikan diri" dan bersembunyi dirumah salah seorang keluarga si lelaki. Dari sini dikirim utusan untuk melakukan Mepejati untuk memberi laporan ke rumah orangtua si gadis dan ke rumah kepala desa, kepala kampung, dan ke rumah ketua adat desa. Khusus ke rumah orangtua si gadis, mereka bukan cuma melapor, melainkan juga minta persetujuan, dengan membawa buah base1 yaitu persembahan berupa pinang, kapur, serta tembakau yang ditata dalam bokor perunggu. Tugas mepejati boleh berlangsung sampai tiga kali. Terutama jika, pada kesempatan pertama, keluarga si gadis tidak langsung setuju. Tetapi kesempatan ber-mepejati terbatas cuma enam hari. Selama enam hari tersebut, pasangan muda-mudi yang melakukan ngerorot tadi tidak boleh menampakkan diri apalagi kepada orangtua si gadis. Jika keluarga si gadis tak menyetujuinya tidak jadi soal. Sebab, yang paling pokok dalam perkawinan orang Trunyan adalah rasa saling mencintai antara kedua mudamudi itu. Kalau sudah begini, pihak orangtua biasanya tak banyak ikut bicara. Kedua belah pihak biasanya tinggal membicarakan kapan akan dilakukan Upacara Pemesrah, upacara perkawinan yang sebenarnya menurut adat dan 86
  • 87. persyaratan desa. Upacara pemesrah menjadi keharusan, karena hanya dengan itu pasangan ini diakui sebagai anggota desa adat. Upacara pemesrah inilah yang dikatakan mahal karena upacara ini masih harus melalui empat tahapan lagi: Upacara Mabiekaon, upacara pembersihan diri dari segala sebel, lantaran telah melakukan persetubuhan ketika ngerorot. Upacara ini juga melalui berbagai tahapan yang rumit, yang juga menghabiskan banyak biaya biasanya ditanggung pihak laki-laki. Lalu, upacara Mekala-kalan, upacara untuk membersihkan diri dari kekuatan jahat Bhuta kala. Biaya yang juga besar jumlahnya itu kali ini ditanggung pihak wanita. Pelaksanaannya juga rumit. Kemudian ada lagi upacara Bakti Pesaren, yaitu upacara yang bertujuan melaporkan dan minta maaf kepada dewa-dewa dalam Kuil Ratu Pancering jagat bahwa pasangan tadi telah salah melakukan persetubuhan. Tahap yang terakhir adalah upacara Mepekandal, yaitu upacara penyempurnaan tahapan-tahapan perkawinan secara keseluruhan. Setelah rampung upacara pemesrah dengan segala tahapannya itulah sebuah perkawinan di Trunyan dikatakan resmi. Seluruh kegiatan upacara di desa ini dapat dikatakan memiliki kondisi yang baik karena kegiatan ini (upacara adat) diadakan rutin oleh penduduk desa. Selain kaya dengan Upacara Adat Desa Terunyan Juga sering di jadikan tempat dari industri perfilman seperti pembuatan Film FTV SCTV. Rekomendasi yang di harapkan dari Pihak Perbekel Desa Terunyan Terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Pemberian pembinaan terhadap Masyarakat Desa Terunyan Di dalam Pengembangan Industri 87
  • 88. khususnya di bidang kerajinan karena kurangnya keterampilan di dalam pembuatan kerajinan. 11. Desa Suter Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan Sekretatis Desa terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Desa Suter. Desa ini terbagi menjadi dua wilayah, yang satu berada di atas kaldera dan bagian lainnya berada di tepian danau batur. Mayoritas sumber mata pencaharian masyarakat Desa Suter yaitu di Bidang Perkebunan seperti perkebunan cabai, sayur-mayur, kopi, dan lainlain. Pengrajin Kayu merupakan mayoritas mata pencaharian lain di bidang kerajinan/kesenian. Mereka mengakui pernah mendapatkan bantuan untuk pertanian dari Dinas P3 dalam pengembangan pertanian warganya. Menurutnya Desa ini memiliki potensi yang cukup besar selain lokasinya yang cukup strategis karena memiliki kondisi geografis yang cukup baik dimana jalur menuju pusat desa ini kita dapat melihat panorama danau batur dan gunung api batur yang indah dan masih asli dari atas. Hal-hal yang berkaitan dengan industri beliau menceritakan bahwa dahulu sebelum krisis ekonomi 1998 Wilayah 1 (Desa Suter, Abang Songan, dan Abang Batudinding) memiliki banyak seniman atau pengerajin kayu. Namun diperkirakan dengan persaingan bisnis kerajinan tersebut juga makin menipisnya bahan baku berupa kayu dari pohon-pohon tertentu seperti albasia, mahoni, dan lain-lain. 88
  • 89. Beliau mengarahkan peneliti ke seseorang pria pengerajin kayu yang bisnisnya masih bertahan yang bernama I Wayan Ratih untuk mendapatkann informasi yang lebih mendalam. Harapan dan rekomendasi berupa pembenahan kawasan hutan pinus yang mulai ramai disinggahi wisatawan lokal, dan pedagang kaki lima. Menurutnya penataan sejak dini akan mencegah kesemerawutan yang mungkin timbul dari kegiatan wisata di lokasi tersebut. 12. Desa Abang Songan Bedasarkan data hasil wawancara dengan Pihak Perbekel Desa Abang Songan terdapat beberapa informasi mengenai kondisi Desa Abang Songan. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Abang Songan yaitu sebagai Petani, Peternak Sapi dan Pengrajin Kayu. Hasil perkebunan mereka adalah Jeruk Siam. Mereka menyalurkan hasil dari pertaniannya ke wilayah lain. Sebagian besar lahan di Desa Abang Songan ini merupakan lahan pertanian. Di Desa Abang Songan terdapat Pengembangan peternakan Ikan Mujair yang terletak di Danau Batur. Desa Abang Songan terdapat pengrajin kerapu yang di buat oleh masyarakat Desa Abang Songan yang dijual ke desa-desa lain. Terdapat Tarian Khas Desa Abang Songan seperti Tari Sangiang dan Tari Gandrung Yang Diadakan Setahun Sekali Di dalam Upacara Adat. Desa Abang Songan Terdapat kerajinan berupa pengrajin patung yang terbuat dari kayu, dan berbagai peralatan furniture yang berbahan utamakan kayu. 89
  • 90. Rekomendasi yang di harapkan dari Pihak Perbekel Desa Abang Songan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli memperhatikan dari segi aksesbilitas di Desa Abang Songan karena Kurangnya sarana Angkutan Umum yang terdapat di Desa Abang Songan. Masyarakat di Desa Abang Songan Kesulitan mendapatkan Air Bersih, karena struktur Tanah di daerah Desa Abang Songan mengandung Pasir. 13. Desa Abang Batu Dinding Dari data hasil wawancara yang telah kami lakukan kepada pihak Sekretaris Desa terdapat beberapa informasi mengenai kondisi desa Abang Batu Dinding. Mayoritas pendidikan masyarakat Desa Abang Batu Dinding yaitu lulusan tingkat pendidikan SD dan SMP. Rata-rata mata pencaharian masyarakat Desa Abang Batu Dinding yaitu sebagai Petani dan Pengrajin Kayu. Hasil Pertanian mereka yaitu Kopi, Kayu Albasiah dan sayur-sayuran. Di desa ini ini juga menghasilkan kerapu, kerapu adalah box-box yang terbuat dari kayu untuk hasil pertanian yang di jual ke masyarakat desa sekitar. Di Desa Abang Batu Dinding terdapat Banyaknya peternakan sapi, sebagian besar masyarakat memiliki ternak sapi. di segi perkebunan Desa Abang Batu Dinding mengembangkan Perkebunan jeruk. Pengembangan Peternakan mujair yang terletak di Danau Batur. Rekomendasi yang di harapkan dari pihak Sekretaris Desa Terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten 90
  • 91. Bangli turut membantu khususnya di dalam perkembangan segi perternakan dan perkebunan yang terdapat di Desa Abang Batu Dinding,Masyarakat Desa Abang Batu Dinding Sangat Antusias di dalam sektor pengembangan Pertenakan dan perkebunan, karena dari segi permodalan masyarakat Desa Abang Batu Dinding masih Mengalami kendala di dalam pengembangan perkebunan dan perternakan yang masyarakat kelola. 91
  • 92. F. DATA PRIMER: Checklist Potensi Industri Kreatif di 13 Desa Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur Data checklist ini kami sajikan dalam konteks per wilayah yang dalam kondisi aktual maupun dari DMO telah dibagi menjadi 5 wilayah yang terbagi berdasarkan letak geografisnya. Rinciannya adalah sebagai berikut: 1. Desa Batur Utara (Wilayah 1) Tabel 4.14. No Indikator TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA BATUR UTARA Ada /Tidak Penerbitan dan Percetakan Film, Video, 2. Fotografi Ada 3. Televisi dan Radio Ada Ada 1. 4. Periklanan 5. Musik Ada Ada 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan Fesyen Desain Arsitektur TI dan Piranti Lunak Permainan Interaktif Penelitian dan 15. Pengembangan 10. 11. 12. 13. 14. - Ada Ada Ada Ada - Kondisi Total SB B CB KB TB Percetakan - √ 4 Advertising Jenis Industri Iklan Media Televisi Angklung Terong Belanda Teater - √ √ - - - 4 4 - √ - √ - - 4 3 - √ - - - 4 Lukisan Kesenian, Fotografi Sablon - - √ √ - - - 4 4 - √ - - - - Keterangan 4 - Tarian: barong Lukisan kaca Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.14. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Batur Utara ialah Penerbitan dan Percetakan, Televisi dan Radio, Periklanan, Musik, Kuliner, Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, dan Fesyen. 92
  • 93. 2. Desa Batur Tengah (Wilayah 1) Tabel 4.15. No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA BATUR TENGAH Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - √ - - - - 5 - √ √ - - - 4 4 - √ - - - 4 - √ - - - 4 - √ - - - 4 - - - - - - 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan Ada 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan Ada Ada 10. Fesyen Ada 11. Desain Ada 12. Arsitektur Ada 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Kondisi Ada /Tidak - Teater, Tarian, Wayang, Festival Lukisan dan Patung kayu Industri Sablon Rumah Adat Bangunan Rumah dan Taman - SB B CB KB TB - Total Keterangan - Teater comedian Festival seni selama 1 tahun sekali Pembuatan sablon baju Pembuatan bubung dan soka Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.15. diatas diketahui bahwa kelompok industri kreatif yang terdapat di Desa Batur Tengah ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, Fesyen, Desain, dan Arsitektur. 93
  • 94. 3. Desa Batur Selatan (Wilayah 1) Tabel 4.16. No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA BATUR SELATAN Kondisi Ada /Tidak Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - SB B CB KB TB Total 5. Musik Ada - √ - - - 4 - 6. Kuliner Live Musik - - - - - - Keterangan Pertunjukan angklung yang diadakan saat upacara adat, mengiringi tarian - 7. Seni Pertunjukan Tarian Dan Wayang √ - - - - 5 - √ - - - 4 Ada Lukisan Dan Patung - √ - - - 4 - - - - - - - - Ada Perhiasan - √ - - - 4 14. Permainan Interaktif - - - - - - - - 15. Penelitian dan Pengembangan - - - - - - - Tarian genjer dan sekeh ditampilkan pada saat acara pernikahan - Ada 8. Pasar Barang Seni Ada 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak Lukisan kanvas dan patung kayu cincin dan gelang perak Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.16. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Batur Selatan ialah Musik, Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, dan Desain. 94
  • 95. 4. Desa Pinggan (Wilayah 2) Tabel 4.17. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA PINGGAN Kondisi Total SB B CB KB TB 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tarian Gerantang - √ - - - 4 Ada Indikator Ada /Tidak Ada No Barang Antik - √ - - - 4 - - - - - - - - - Pembuatan Rumah Adat (Sekeroras) - - - - - - - √ - - - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - Ada Pengembangan Pura Dalem Balengkang - - √ - - 3 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur Ada 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Keterangan (tari pergaulan remaja) Bendabenda pusaka Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.17. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Pinggan ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Arsitektur, serta Penelitian dan Pengembangan. 95
  • 96. 5. Kintamani (Wilayah 2) Tabel 4.18. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA KINTAMANI Kondisi Total SB B CB KB TB 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ada Tarian dan Opera - √ - - - 4 Perhiasan - - - √ - 2 Ada Indikator Ada /Tidak Ada No Kerajinan Tangan √ - - - - 5 - - - - - - - - - - - - - - - - 8. Pasar Barang Seni - 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Keterangan Perhiasan yang terbuat dari perak Kerajinan Besi, kayu dan anyaman di Banjar Wanagiri Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.18. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Kintamani ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, dan Kerajinan. 96
  • 97. 6. Songan A (Wilayah 3) Tabel 4.19. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA SONGAN A Kondisi Ada /Tidak Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - Ada Televisi - - √ - - 3 4. Periklanan - - - - 6. Kuliner - - - - - - - 5. Musik - Ada Tarian dan wayang - √ - - - 4 Ada Lukisan dan barang antik - √ - - - 4 Ada Kerajinan tangan √ - - - - 5 10. Fesyen - - - 11. Desain - - - 12. Arsitektur - - - - 14. Permainan Interaktif - - - - 13. TI dan Piranti Lunak - - - - 15. Penelitian dan Pengembangan - - - - - - - No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 7. Seni Pertunjukan SB B CB KB TB Total - 9. Kerajinan - Di Banjar Serongga - 8. Pasar Barang Seni - Keterangan Tarian baris dan wayang kulit Lukisan dari kanvas Barang antik merupakan benda sakral Pembuatan kerajinan dari Daun lontar di jadikan kulit ketupat - - Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.19. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Songan A ialah Televisi dan Radio, Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, Desain, Arsitektur dan Permainan Interaktif. 97
  • 98. 7. Songan B (Wilayah 3) Tabel 4.20. No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA SONGAN B Kondisi Total SB B CB KB TB Ada /Tidak Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - Stasiun TV lokal Media Internet - - √ - - 3 Bali TV - √ - - - 4 Promosi bali - √ - - - 4 Prasida band Ada Ada 5. Musik Ada Musik Bali 6. Kuliner - - Ada Tarian dan wayang - √ - - - 4 Ada Lukisan dan barang antik - √ - - - 4 Ada Kerajinan tangan √ - - - - 5 - - 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan - - - - - - - Pembuatan perhiasan - - √ - - 3 - - - - - - - - - - - - - - - - 11. Desain 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Tarian baris jojor dan Wayang kulit Segala macam lukisan (kaca, kanvas, dll) Kerajinan daun lontar - Ada 10. Fesyen Keterangan Bahan baku pembuatan perhiasan Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.20. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Songan B ialah Televisi dan Radio, Periklanan, Musik, Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, dan Desain. 98
  • 99. 8. Kedisan (Wilayah 4) Tabel 4.21. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA KEDISAN Kondisi Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ada Indikator Ada /Tidak Minuman Khas - √ - - - - Ada No Tarian - - √ - - 3 - - - - - - - - - - - - - - - - - 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner SB B CB KB TB Total 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan - Keterangan Rujak Cemcem Tari Baris dan Tari Jojor bagi truna truni Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.21. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Kedisan hanyalah Kuliner dan Seni Pertunjukan. 99
  • 100. 9. Buahan (Wilayah 4) Tabel 4.22. No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA BUAHAN Kondisi Ada /Tidak Jenis Industri Ada Percetakan - √ - - - - - - - - √ Ada Tv Lokal Total Keterangan - 4 Buku press dan tabloid - - - - - - 4 Bali TV SB B CB KB TB Ada - √ - - - - 5 Iklan Mio, tanggo 5. Musik Ada Musik pop √ - - - - - 4 - Mary Bali 6. Kuliner - 7. Seni Pertunjukan Ada 8. Pasar Barang Seni Ada Tarian, wayang dan perayaan Barang antik, patung - - √ - - - 4 - √ - - - 4 9. Kerajinan Ada Kerajinan tangan Tari Gede. Tari kidang Wayang kulit √ - - - - 5 - - - - - - - - Ada Pembuatan perhiasan - - √ - - 3 Ada Bangunan - √ - - - 4 13. TI dan Piranti Lunak - - 14. Permainan Interaktif - - - - - - - - - - √ - - 3 Anyaman bambu, bedeng dan bakul sajen 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur 15. Penelitian dan Pengembangan Ada Budidaya Pembuatan cincin perak rumah dan taman Tanaman Balengkeng Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.22. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Buahan ialah Penerbitan dan Percetakan, Televisi dan Radio, Periklanan, Musik, Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, Desain, Arsitektur, danPenelitian dan Pengembangan. 100
  • 101. 10. Trunyan (Wilayah 4) Tabel 4.23. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA TRUNYAN Kondisi 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - TV swasta dan lokal - - √ - - 3 - - - - - - - - Ada Indikator Ada /Tidak Ada No Tarian - √ - - - 4 - - - - - - - - SB B CB KB TB Total Ada - √ - - - 4 Ada Industri Sablon - - √ - - 3 Ada 10. Fesyen Patung Perhiasan - - √ - - 3 - - - - - - - 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan - - - - - - - Pembuatan FTV, SCTV dan Bali TV Barong Bruduk / ratu bruduk Patung Datonta yang hanya terdapat 1 buah di hutan Pembuatan baju sablon Bahan pembuatan perhiasan - 11. Desain 12. Arsitektur Keterangan Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.23. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Trunyan ialah Televisi dan Radio, Seni Pertunjukan, Kerajinan, Fesyen, dan Desain. 101
  • 102. 11. Suter (Wilayah 5) Tabel 4.24. No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA SUTER Kondisi Total SB B CB KB TB Ada /Tidak Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - √ - - - 4 - √ - - - 4 Patung √ - - - - 5 - - - - - - - Ada Ada Tarian,opera dan wayang Patung dan barang antik 9. Kerajinan Ada 10. Fesyen 11. Desain Ada Rumah Adat - - √ - - 3 Ada Rumah Adat - - √ - - 3 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Pembuatan bubung dan soka (12 tiang) Pembuatan soka (12 tiang) - - Tari Baris Wayang kulit Barang antik sakral Patung kayu didistribusikan ke daerah lain, seperti Kuta dan Ubud - - 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Keterangan Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.24. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Suter ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, Desain, dan Arsitektur. 102
  • 103. 12. Abang Songan (Wilayah 5) Tabel 4.25. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA ABANG SONGAN Kondisi 6. Kuliner 7. Seni Pertunjukan 8. Pasar Barang Seni - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Ada Tarian - √ - - - 4 Patung - √ - - - 4 Patung - √ - - - 4 - - - - - - - - Ada 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik Jenis Industri Ada Indikator Ada /Tidak Ada No Bangunan Warisan, Benda Antik - √ - - - 4 - - - - - - - - - - - - - - - - SB B CB KB TB Total 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain 12. Arsitektur 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Keterangan Patung yang terbuat dari kayu Patung dari kayu Furniture kayu Pura dukuh, peninggalan candi yang dimiliki oleh wilayah 1 Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.25. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Abang Songan ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Kerajinan, dan Arsitektur.. 103
  • 104. 13. Abang Batudinding (Wilayah 5) Tabel 4.26. TABEL CHECKLIST POTENSI INDUSTRI DESA ABANG BATUDINDING No Indikator 1. Penerbitan dan Percetakan 2. Film, Video, Fotografi 3. Televisi dan Radio 4. Periklanan 5. Musik 6. Kuliner Kondisi Ada /Tidak Jenis Industri - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - SB B CB KB TB Total 7. Seni Pertunjukan Keterangan Ada Tarian dan wayang - √ - - - 4 Tari Baris,tari jejer Wayang kulit Ada Patung dan barang antik - √ - - - 4 barang antik sakral - - - - - - - - 8. Pasar Barang Seni 9. Kerajinan 10. Fesyen 11. Desain Ada 12. Arsitektur Rumah Adat - - √ - - 3 Ada 13. TI dan Piranti Lunak 14. Permainan Interaktif 15. Penelitian dan Pengembangan Rumah Adat - - √ - - 3 - - - - - - - - - - - - - - - Pembuatan bubung dan soka (12 tiang) Pembuatan soka (12 tiang) - Sumber: Checklist 2012 Berdasarkan Tabel 4.26. diatas diketahui bahwa kelompok Industri Kreatif yang terdapat di Desa Abang Batudinding ialah Seni Pertunjukan, Pasar Barang Seni, Desain, dan Arsitektur. 104
  • 105. BAB V. PEMBAHASAN A. ANALISIS POTENSI INDUSTRI KREATIF Berdasarkan hasil resume wawancara, basis data, dan observasi tim melakukan penjabaran hasil olah data-data tersebut. Dalam pembahasan ini tim berfokus pada potensi industri kreatif yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur yang di identisifikasi berdasarkan temuan industri yang ada di setiap desa dari total keseluruhan 13 desa yang menjadi fokus kajian. Dalam pembahasan ini tim melakukan pendekatan dari pelaksanaan riset DMO yang sudah berjalan salah satunya pembagian kawasan pariwisata Gunung Api Batur menjadi lima wilayah yang dibagi berdasarkan letak geografis, maupun kemiripan karakteristik desa-desa tersebut yang di dalam setiap wilayah terdiri atas tiga desa. 105
  • 106. WILAYAH I 1. a. Desa Batur Utara Berdasarkan hasil penelitian, Potensi Industri Kreatif yang berada di Desa Batur Utara ditemukan 10 jenis Industri Kreatif dengan rincian sebagai berikut: Bobot Penilaian Gambar 5.1. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA BATUR UTARA 5 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan keterangan Gambar 5.1. diatas didapatkan hasil berupa jenis Industri Kreatif (1) Percetakan Advertising dengan kondisi “Baik”, dilihat dari kegiatan industri tersebut sudah berjalan secara berkala, Percetakan Advertising yang terdapat di Desa Batur Utara menghasilkan berupa buletin desa yang di edarkan disekitar Desa Batur Utara, info tersebut di dapat dari hasil wawancara dengan pihak perbekel Desa Batur Utara. Selain itu terdapat industri dibidang (2) Periklanan, khususnya periklanan untuk media televisi swasta tingkat nasional, hal ini terkait dengan sering digunakannya beberapa tempat tertentu dari Desa Batur Utara yang dijadikan sebagai lokasi pembuatan iklan yang bersifat komersial. Beberapa iklan yang diketahui pernah memproduksi periklanan untuk ditayangkan di 106
  • 107. televisi; motor Yamaha Mio J (2012), Indosat im3 (2012), mobil Daihatsu (2012). (3) Adapun kesenian, kerajinan, berupa Angklung Bali dalam kondisi “Baik” dimana penilaian ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti bahan pembuatan angklung bali yang mudah didapat di sekitar Kecamatan Kintamani dimana bahan utamanya ialah bambu, selain daripada itu sumber daya manusia sebagai para pemain angklung bali ini. Sedangkan angklung Bali ini biasa di tampilkan di acara-acara keagamaan, adat, festival maupun pesanan dari pihak lain di sekitar Kecamatan Kintamani (Perbekel Batu Utara). Dalam bidang kuliner terdapat (4) Terong Belanda yang termasuk kedalam salah satu produk unggulan Desa Batur Utara, terong belanda ini merupakan produk yang terhenti kegiatan produksinya saat ini, mesin-mesin untuk keperluan produksi tidak digunakan dan cendrung terlihat usang. Karenanya industri ini dikatakan “Cukup”. Kurang diketahui pasti apa penyebab terhentinya kegiatan industri, namun menurut perbekel Batur Utara selaku informan kami, kegiatan industri yang dikelola oleh desa dan ibu PKK desa batur ini dihentikan sementara hingga waktu yang tak ditentukan, karena kendala teknis seperti mesin yang berkapasitas terlalu besar dan tidak sebanding dengan pasokan terong belanda yang cukup langka. Mesin-mesin pengolah terong belanda menjadi sambal/sauce itu diakui di dapat dari dana bantuan Kementrian Pariwisata dan Budaya Bali, bahkan pernah dilakukan pelatihan keterampilan untuk keperluan usaha terong 107
  • 108. belanda ini bagi warga Desa Batur Utara yang terkait. Terong Belanda dikatakan dapat tumbuh di daerah gunung berapi yang sejuk, maka dari itu terong sejenis ini di budidayakan pula di Lembang-Bandung dan Medan. Terong Belanda biasa digunakan untuk lauk pauk seperti sayuran, selain itu terong jenis ini dapat diolah menjadi sambal yang disukai baik oleh warga lokal, maupun wisatawan asing terutama wisman asal Belanda (Perbekel Batur Utara). Selain itu kulitnya dapat diolah menjadi cream untuk lulur. Banyaknya manfaat yang dapat digunakan dari terong belanda ini menjadikan jenis makanan ini salah satu potensi Industri Kreatif yang ada di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Dalam bidang kesenian lainnya terdapat temuan berupa (5) Tarian Legong Barong yang biasa ditampilkan bersama dengan angklung bali sebagai pengiring musiknya, selain itu tarian ini biasa ditampilkan dalam acara-acara adat, keagamaan, permintaan khusus lainnya. Tarian ini dinyatakan dalam kondisi “Baik”. 108
  • 109. Gambar 5.2. POHON TERONG BELANDA DAN MESIN PENGOLAHNYA Sumber: Hasil penelitian DMO Gunung Api Batur 2012 Selain tari legong barong kesenian lainnya ialah berupa lukisan, di Desa Batur terdapat sejumlah warganya yang membuka usaha berupa penjualan karya seni berupa (6) Lukisan yang mereka lukis sendiri dan bukan hanya sekedar menjadi penjual lukisan, meskipun industri ini dinyatakan dalam skala “Baik” namun sulit untuk dikatakan berpotensi sebab dari jenis, keunikan dan ciri khas tertentu yang dapat meningkatkan value dari industri tersebut. (7) Kesenian yang ada di Desa Batur Utara adalah beberapa kesenian hasil budaya seperti barong dan musik tradisional Bali yang berkondisi “Baik”, hal ini terlihat dari kondisi tempat latihan pada waktu kunjungan, kesenian yang dimainkan oleh truna-truni di Desa Batur ini sering menampilkan bakatnya dalam acara adat, keagamaan, dan pemesanan dari kawasan Kabupaten Bangli. Perlunya pengalaman 109
  • 110. yang lebih bagi para pemain diakui menjadi salah satu kendala yang ada (perbekel Batur Utara). Selanjutnya ialah potensi di bidang film, video, fotografi. Dalam hal ini khususnya ialah (8) Fotografi, adanya beberapa warga Desa Batur Utara yang berprofesi sebagai juru potret di beberapa objek wisata di gunung api batur seperti panelokan dan pura Ulun Danu. Fenomena maraknya pengguna kamera digital pada saat ini menurunkan jumlah konsumen dari usaha ini. Perlunya kreatifitas yang tinggi untuk meneruskan industri di bidang ini, tentunya kebutuhan permodalan juga dibutuhkan untuk pengembangan usaha ini kedepannya. (9) Industri Sablon, industri ini adalah industri tingkat menengah, dimana industri rumahan ini memproduksi sejumlah pakaian khususnya baju/kaos khas Bali, tidak ada keunikan khusus pada saat kami melakukan peninjauan ke salah satu tokonya yang berada di pusat kawasan pariwisata ini. Tidak adanya simbol yang jelas dan kuat dari kawasan pariwisata ini dirasa menjadi kekurangan dalam keperluan pengembangan usaha ini kedepannya. Selain itu industri ini hanya melakukan pengolahaan baju/kain yang sudah siap pakai dari daerah lain, lalu diolah kembali menjadi pakaian yang memiliki icon gunung api batur sebagai main product mereka. 110
  • 111. Desa Batur Tengah b. Bobot Penilaian Gambar 5.3. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA BATUR TENGAH 5 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Bedasarkan Gambar 5.3. diatas dapat diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan dari Desa Batur Tengah, beberapa industri yang berbeda yang tim temukan di Desa Batur Tengah berupa (1) Teater Comedian dimana menurut hasil wawancara dengan perbekel Batur Tengah grup teater ini sering menampilkan performance-nya dalam acara-acara lokal. Grup ini diakui oleh perbekel batur tengah cukup digemari oleh penduduk lokal. Dalam beberapa kesempatan grup ini juga pernah tampil di depan sejumlah wisatawan asing. Indikasi tersebut memberikan penilaian yang “Sangat Baik” bagi kategori industri ini, meskipun belum cukup berpotensi karena peruntukkanya lebih kearah penduduk lokal dan Bali, dimana bahasa pengantar yang digunakan cenderung bahasa daerah. (2) Tarian Puspan Jali dan (3) Tarian legong barong, tarian adat khas batur tengah ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di desa batur utara, biasa ditampilkan dalam acara-acara adat dan keagamaan. 111
  • 112. (4) Lukisan dan (5) Pembuatan patung kayu merupakan jenis industri kerajinan yang ada di desa batur tengah, dengan keadaan “Cukup Baik”. Lukisan dari media kaca ini cukup berpotensi namun variasi produknya sendiri kalah bersaing dengan daerah-daerah wisata lain seperti Ubud atau Kuta. 112
  • 113. c. Desa Batur Selatan Gambar 5.4. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA BATUR SELATAN Bobot Penilaian 5 4 3 2 1 0 Live Musik Angklung Tarian Genjer Tarian Sekeh Lukisan Pembuatan Perhiasan Patung Kayu Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan Gambar 5.4. diketahui bahwa industry yang ada adalah sebagai berikut; (1) Live Music Angklung, jenis industri seni pertunjukkan ini memiliki keunikan tersendiri yaitu angklung yang dipakai berukuran lebih besar daripada ukuran angklung di pulau jawa, khususnya Jawa Barat, fungsi besarnya ukuran alat musik tradisional ini ialah untuk menghasilkan suara yang lebih nyaring. Alat musik ini terbuat dari bambu pilihan yang sumber dayanya banyak terdapat di banyak tempat seperti Songan A. (2) Tarian Genjer dan (3) Tarian Sekeh merupakan tarian adat khas batur selatan sama seperti tarian-tarian di desa lain tarian ini dimainkan oleh truna-truni dari desa tersebut. (4) Lukisan dan (5) Pembuatan patung kayu menjadi jenis industri dengan kategori kerajinan di desa Batur Selatan. 113
  • 114. WILAYAH II a. Desa Pinggan Gambar 5.5. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA PINGGAN 5 4 3 2 1 0 Bobot Penilaian 2. Tari Gerantang Barang Antik Pembuatan Rumah Adat (Sekeroras) Pengembangan Pura dalam Balengkang Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan keterangan Gambar 5.5. diatas didapatkan hasil berupa jenis Industri Kreatif (1) Alat Musik Gerantang dengan kondisi “Baik” karena secara terus menerus diproduksi dari jaman dahulu hingga saat ini. Kemudian alat musik tidak hanya untuk dipasarkan saja, namun juga dimanfaatkan sebagai alat musik pengisi acara tari pergaulan yang dilakukan oleh anak-anak muda Desa Pinggan. (2) Barang Antik dengan kondisi “Baik” karena barang antik merupakan peninggalan sejarah milik putri kerajaan Cina Desa Pinggan pada zaman dahulu. Barang antik masih dirawat dengan baik dan dapat dilihat oleh para wisatawan. Kemudian terdapat (3) Pembuatan Rumah Adat (Sekeroras) yang dapat dikatakan dengan kondisi “Cukup Baik” karena industri arsitektur berjalan secara terus menerus (selalu ada peminatnya), hanya saja peminatnya tersebut rata-rata berasal dari daerah kawasan Gunung Api Batur, bukan dari luar daerah. Lalu untuk 114
  • 115. (4) Pengembangan Pura Dalam Balengkang juga dengan kondisi yang “Baik” dikarenakan pengembangannya terus berjalan yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. 115
  • 116. Desa Kintamani b. Berdasarkan dari hasil Penelitan, Potensi Industri Kreatif yang berada di Desa Kintamani ditemukan 6 jenis Industri Kreatif dengan rincian sebagai berikut: Gambar 5.6. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA KINTAMANI Bobot Penilaian 5 4 3 2 1 0 Tarian Baris Gede Tarian Rejang Perhiasan Kerajinan dari Perak Besi Jenis Industri Kerajinan Kayu Anyaman Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan keterangan Gambar 5.6. diatas bahwa ditemukan beberapa jenis Industri Kreatif yang terdapat di Desa Kintamani berupa (1) Tarian Baris Gede dan (2) Tarian Rejang dapat dikatakan dengan kondisi “Baik” karena telah dikelola dengan baik, memiliki sanggar tari dan GOR untuk para penari berlatih dan tampil. Tarian diadakan setiap upacara dan dapat ditonton secara umum untuk wisatawan. (3) Perhiasan Perak dapat dikatakan “Kurang Baik” karena perhiasan perak yang dihasilkan kurang memiliki kreasi dalam penciptaan modelnya. Kemudian produksinya masih dalam jumlah yang kecil dikarenakan permintaan yang semakin menurun. Pembuatan perhiasan perak hanya dibuat oleh beberapa warga desa saja, dan tidak menjadi suatu industri yang khusus bagi warga tersebut. Warga hanya membuat perhiasan perak tersebut ketika mereka ingin membuatnya saja. (4) 116
  • 117. Kerajinan Besi dan (5) Kerajinan Kayu dikatakan dengan kondisi yang “Baik” karena untuk kerajinan besi telah menjadi sebuah industri yang terus berjalan hingga saat ini, ada tempat/rumah khusus untuk pembuatannya. Dan untuk kerajinan kayu juga dapat dikatakan “baik” karena kerajinan tersebut sudah menjadi suatu produk souvenir khas yang dimiliki desa ini. Produksinya dibuat secara berskala dan terus berlangsung hingga saat ini. Kemudian (6) Anyaman berupa keranjang dapat dikatakan “Baik” karena masyarakat desa selalu memproduksi anyaman ini secara terus-menerus dan selalu ada permintaan untuk anyaman ini baik untuk warga daerah sekitar maupun dari wisatawan. 117
  • 118. WILAYAH III a. Desa Songan A Untuk Desa Songan A maupun Desa Songan B karakterisktik dari kegiatan aktivitas masyarakat dari kedua Desa tersebut hampir sama, karena Untuk Desa Songan A dan Desa Songan B tidak memiliki perbatasan wilayah yang jelas. Hanya saja dalam sistem administratif pembagian jumlah penduduk saja yang di pisahkan menjadi Desa Songan A dan Songan B. Berdasarkan dari hasil Penelitan, potensi Industri Kreatif yang berada di Desa Songan A ditemukan 7 jenis Industri Kreatif dengan rincian sebagai berikut: Gambar 5.7. Bobot Penilaian 3. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA SONGAN A 5 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 (1) Stasiun Televisi Lokal dengan Kondisi “Cukup Baik” dikarenakan Desa Songan B cukup sering diliput oleh media Tv Swasta Seperti Tv Bali yang pernah meliput tentang Aktifitas masyarakat di Desa Songan B. (2) Tarian Baris dengan Kondisi “Baik” di karenakan karena Tarian Baris Tersebut sudah di kelola Oleh sanggar tari yang terdapat 118
  • 119. di Desa Batur Utara berdasarkan informasi dari Pihak Sekdes Desa Songan A. (3) Wayang Kulit dengan Kondisi “Baik” di karenakan sudah sering di adakan pementasan wayang kulit di Desa Batur Utara dan Pementasan wayang kulit tersebut juga sering di adakan di luar Desa Songan A. (4) Lukisan dengan Kondisi “Baik” di karenakan Desa Batur Utara terdapat seorang Pelukis yang bernama Jero Mangku Kuat dan sudah memiliki galeri yang terdapat di Pura Ulundanu Banjar Serongga, hasil Lukisan tersebut biasanya di Jual ketika sedang di adakan perayaan keagamaan. (5) Barang Antik dengan Kondisi “Cukup Baik” dikarenakan barang Antik yang terdapat di Pura Ulun Danu masih terawat dengan baik oleh masyarakat Desa Songan B, namun barang antik yang terdapat di Pura ini bersifat sakral sehingga masyarakat umum khususnya wisatawan tidak bisa untuk melihat barang sakral tersebut. (6) Kerajinan Daun Lontar dengan Kondisi “Sangat Baik” dikarenakan Desa Songan A memiliki perkebunan Lontar yang cukup Luas yang terdapat di balik bukit Desa Songan A tepatnya di Banjar Pradi .Tetapi dengan sumber daya alam yang mendukung masyarakat Desa Songan A tidak mampu mengolah secara maksimal. Di karenakan keterbatasan keterampilan Sumber Daya Manusia yang terdapat di Desa Songan A. Hasil kerajinan Daun Lontar yang terdapat di Songan A hanya berupa peralatan untuk kegiatan peribadatan. 119
  • 120. b. Desa Songan B Bobot Penilaian Gambar 5.8. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA SONGAN B 5 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan keterangan Gambar 5.8. di atas bahwa ditemukan beberapa jenis Industri Kreatif yang terdapat di Desa Songan B berupa: (1) Stasiun Televisi Lokal dengan Kondisi “Cukup Baik” dikarenakan Desa Songan B cukup sering diliput oleh media Tv Swasta Seperti Tv Bali yang pernah meliput tentang aktifitas masyarakat di Desa Songan B. (2) Media Internet dengan Kondisi “Baik” di karenakan Desa Songan B sudah mendapatkan Jaringan Internet dan terdapat Kegiatan Usaha dari jasa jaringan Internet di Desa Songan B. Adanya fasilitas “Warung Internet, dan Game Online yang terdapat di Desa Songan B. (3) Musik Bali dengan Kondisi “Baik” di karenakan Desa Songan B sudah memiliki suatu Band Musik yang bernama “Prasida Band”. Band Tersebut merupakan Band dengan personil asli dari kalangan muda Desa Songan B. Prasida Band biasa melakukan 120
  • 121. pementasan ketika Desa Songan B melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. (4) Tarian Baris dengan Kondisi “Cukup Baik” di karenakan Tarian Baris yang terdapat di Desa Songan B sudah berkembang, namun di dalam pelestariannya masih kurang baik di karenakan di Desa Songan B belum Memiliki Sanggar Tari untuk mengembangkan tarian tersebut. Tari Baris ini di dalam pengembangannya masih dari turun temurun dari keluarga yang berprofesi sebagai penari, Desa Songan B pernah memiliki suatu pelatihan tari. Namun kegiatan pelatihan tersebut berhenti di karenakan minat masyarakat Desa Songan B yang kurang begitu antusias dan juga pelatih tari memiliki kebutuhan keluarga yang harus di perhatikan. (5) Tarian Jojor dengan Kondisi “Cukup Baik” di karenakan Tarian Jojor yang terdapat di Desa Songan B sudah berkembang, namun di dalam pelestariannya masih kurang baik di karenakan di Desa Songan B belum Memiliki Sanggar Tari untuk mengembangkan tarian tersebut. Tari Jojor ini di dalam pengembangannya masih dari turun temurun dari keluarga yang berprofesi sebagai penari, Desa Songan B pernah memiliki suatu pelatihan tari. Namun kegiatan pelatihan tersebut berhenti di karenakan minat masyarakat Desa Songan B yang kurang begitu antusias dan juga pelatih tari memiliki kebutuhan keluarga yang harus diperhatikan. (6) Wayang Kulit dengan Kondisi “Sangat Baik” di karenakan Desa Songan B sudah memiliki perkumpulan Grup Wayang Kulit yang 121
  • 122. bernama Grup Wayang Bengklok dengan Dalang yang bernama Jero Budi. Grup Wayang Ini sering Mengisi Kegiatan acara di Desa Songan B maupun pementasan di Desa Lainnya. (7) Lukisan dengan Kondisi “Baik” di karenakan Desa Songan B terdapat seorang Pelukis yang bernama Jero Mangku Kuat dan sudah memiliki galeri yang terdapat di Pura Ulundanu Banjar Serongga, hasil Lukisan tersebut biasanya di Jual ketika sedang di adakan perayaan keagamaan. (8) Barang Antik dengan Kondisi “Cukup Baik” di karenakan Desa Songan B barang Antik yang terdapat di Pura Ulundanu masih terawatt dengan baik oleh masyarakat Desa Songan B, Namun Barang Antik yang terdapat di Pura ini bersifat sakral sehingga masyarakat umum khususnya wisatawan tidak bisa untuk melihat barang sakral tersebut. (9) Kerajinan Daun Lontar dengan Kondisi “Sangat Baik” memiliki perkebunan Lontar yang cukup Luas yang terdapat di balik bukit Desa Songan B tepatnya di Banjar Pradi. Tetapi dengan sumber daya Alam yang mendukung untuk di jadikan industri kreatif masyarakat di Desa Songan B tidak mampu mengolah secara maksimal. Dikarenakan keterbatasan keterampilan Sumber Daya Manusia yang terdapat di Desa Songan B. Hasil kerajinan daun lontar yang terdapat di Songan B hanya berupa peralatan untuk kegiatan peribadatan. 122
  • 123. WILAYAH IV a. Desa Buahan Gambar 5.9. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA BUAHAN 5 Bobot Penilaian 4. 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan Gambar 5.9. diatas dapat diketahui sejumlah 10 jenis industri yang tim temukan melalui wawancara, basis data, dan observasi berikut penjabarannya; (1) Percetakan, dengan kondisi “Baik” dikarenakan di Desa Buahan terdapat buletin Desa mengenai informasi kegiatan dari masyarakat Desa Buahan, buletin tersebut biasa 4diterbitkan ketika masyrakat Desa Buahan mengadakan suatu acara kegiatan dan informasi tersebut di jadikan bahan Buletin Desa. (2) TV lokal Bali TV, dengan kondisi “Baik” dikarenakan di Desa Buahan cukup sering di liput oleh Media Televisi Lokal seperti Bali TV. Bali TV biasa meliput Desa Buahan ketika mengadakan Upacara Adat, Karena setiap tahunnya Desa Buahan mengadakan Upacara Adat. (3) Periklanan Berupa Iklan Mio dan Iklan Tanggo, dengan Kondisi “Sangat Baik” karena dengan adanya hasil dari 123
  • 124. Selain itu terdapat pula (4) Musik Band Pop, dengan Kondisi “Baik” karena Desa Buahan memiliki Band Lokal yang cukup terkenal dengan berGenre Musik Pop. Nama Band Tersebut yaitu Mary Bali. Personil band tersebut merupakan penduduk lokal dari Desa Buahan. Mary Bali biasa mengisi kegiatan acara di Desa Buahan, Selain tampil di Desa Buahan Mary Bali juga sering mengisi acara di Desa – desa lainnya di sekitar Kintamani. (5) Tari Baris Gede dan (6) Tari Kidang merupakan tarian tradisional khas desa Buahan dimana tarian ini biasa dimainkan dalam kegiatan adat maupun keagamaan sebgai salah satu wujud pengabdian pada Pura maupun Masyarakat. Tarian ini biasa dimainkan oleh truna-truni dari Desa Buahan. Jumlah penari biasanya disesuaikan dengan acara yang diselenggarakan. Kondisi kesenian ini terbilang “Cukup Baik” karena berdasarkan hasil wawancara diakui bahwa kegiatan ini dilaksanakan rutin. Waktu latihan disesuaikan dengan kegiatan masing-masing anggota. Melatih dan membiasakan para truna-truninya untuk berlatih dan mementaskan diri mereka di muka umum untuk melatih kepercayaan diri dan berbakti pada Desanya. Selain itu terdapat industri di bidang kerajinan diantaranya (7) Wayang Kulit, (8) Pembuat Patung dari kayu, (9) Anyaman Bambu, dan (10) Pembuat Perhiasan. 124
  • 125. b. Desa Trunyan Gambar 5.10. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA TRUNYAN Bobot Penilaian 4 3 2 1 0 TV Swasta Lokal Tarian Barong Bruduk Patung Industri Sablon Perhiasan Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan keterangan Gambar 5.10. diatas bahwa ditemukan beberapa jenis Industri Kreatif yang terdapat di Desa Trunyan berupa (1) TV Swasta Lokal dengan kondisi “Cukup Baik” dikarenakan di Desa Trunyan cukup sering di jadikan tempat suatu perfilman seperti pembuatan film FTV yang bertayangkan di stasiun TV SCTV. Selain itu TV swasta lokal juga sering meliput aktivitas yang ada di Desa Trunyan Seperti Bali TV cukup sering meliput keadaan Desa Trunyan apabila Desa Trunyan sedang mengadakan suatu upacara Adat terutama kegiatan upacara pemakaman. (2) Tarian Barong Bruduk dengan kondisi “Baik” dikarenakan Tarian ini merupakan tarian khas Desa Trunyan dengan menampilkan suatu tarian yang dilakukan apabila sedang mengadakan upacara besar. (3) Industri Sablon dengan kondisi “Cukup Baik” dikarenakan di desa ini industri sablon sendiri sudah berjalan dengan cukup baik di dalam proses pembuatannya. (4) Perhiasan dengan Kondisi “Cukup Baik” di karenakan Desa Trunyan Memiliki Bahan Baku dari 125
  • 126. Pembuatan Perhiasan. Terdapat permasalahan yaitu dari segi permodalan dan pemasaran sehingga industri sablon tersebut mengalami kendala di dalam kegiatan usahanya. 126
  • 127. c. Desa Kedisan Bobot Penilaian Gambar 5.11. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA KEDISAN 4 3 2 1 0 Tari Baris Tari Jorjor Rujak Cem-cem Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Dari keterangan Gambar 5.11. diatas bahwa Desa Kedisan sedikit memiliki potensi, karena Desa Kedisan mayoritas penduduk mereka bermata pencaharian sebagai Petani, terdapat 3 jenis Industri Kreatif di Desa Kedisan yaitu: Terdapat (1) Tari Baris dan (2) Tari Jojor dengan Kondisi “Cukup Baik” karena di Desa Kedisan Tari Baris belum memiliki sanggar tari untuk mengembangkan tarian Baris ini, akan tetapi Tari Baris yang terdapat di Desa Kedisan cukup sering mengisi acara kegiatan ketika Desa Kedisan mengadakan Upacara Adat. Selain itu ada (3) Minuman Rujak Cemcem dengan Kondisi “Baik” karena minuman ini memiliki rasa yang unik dan lumayan enak untuk di konsumsi. Penjualan rujak Cencem ini terdapat di salah satu Ruko di Dermaga dengan harga Rp. 3000,-/botol. Rujak cencem ini berasal dari pengolahan daun cencem dan di kemas di dalam botol. Dalam pengemasan rujak cencem ini kurang begitu menarik karena kemasan botol rujak cemcem ini menggunakan kemasan dari botol air mineral bekas. 127
  • 128. 5. WILAYAH V Desa Suter a. Bobot Penilaian Gambar 5.12. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA SUTER 5 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Pada desa ini terdapat 6 industri dimana yang pertama ialah (1) Tari baris yang dimainkan oleh truna-truni asal desa Suter, biasa dimainkan dalam acara adat di banjar-banjar sekitar maupun acara keagamaan seperti di Pura yang terletak persis di samping Kantor perbekel Desa Suter. Selain itu ada besberapa produksi kerajinan tangan seperti (2) Wayang Kulit, (3) Patung Kayu, (4) Barang Antik berupa cincin yang terbuat dari perak dan batuan unik, adapula (5) Pembuatan Bubung dan (6) Soka. Khusus untuk patung kayu tim berhasil menemukan salah seorang pengerajin yang masih bertahan hingga saat ini. Berlokasi di jalan menuju arah pura besakih, sekitar 2 km dari kantor Desa Suter atau 20 menit dari gerbang utama Gunung Api Batur (Museum Gunung Api Batur) kondisi industri ini sangat baik dimana usaha ini sudah 128
  • 129. berjalan lebih dari 10 tahun. Menurut penuturan pelaku industri ini, dahulu daerah Suter terkenal dengan banyaknya pengerajin patung kayu yang biasa dipasarkan ke daerah-daerah perbelanjaan bagi wisatawan seperti Ubud, Sukawati, Kuta, dll. Namun kini hanya kurang dari 5 pemilik usaha yang masih bertahan. Menurut hasil wawancara, krisis moneter pada tahun 1999 menyebabkan banyaknya pelaku industry yang bangkrut, berkurangnya daya beli masyarakat dan permintaan pasar pada saat itu memicu kebangkrutan usaha ini. Makin sulitnya bahan baku yang berkualitas menjadi kendala lain. Jumlah karyawan yang dimiliki 2 sampai dengan 12 orang yang seluruhnya masih berstatus kerabat yang dipanggil sesuai kebutuhan produksi. Diakui pula rata-rata pengerajin kayu di daerah ini memulai usaha dengan modal mandiri, diakui pula tidak ada bantuan modal maupun dukungan lain dari pemerintah setempat (Perbekel, Kecamatan, Dinas Perdagangan). Kendala yang dihadapi saat ini adalah persaingan pasar yang makin tinggi, rendahnya harga jual patung ke pasaran yaitu dimulai dari harga Rp. 2.000,- untuk patung kayu berukuran sekitar 10x3 Cm hingga patung seharga Rp. 25.000,- untuk patung berukuran besar atau ukiran meja. Harga tersebut terbilang sangat rendah bila diukur dengan harga setelah tiba di pasar seperti pasar Ubud yang menjual patung kecil mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. 129
  • 130. Gambar 5.13. CONTOH HASIL PRODUKSI INDUSTRI PERAK DAN EMAS Sumber: Hasil penelitian DMO Gunung Api Batur 2012 Sedangkan untuk industri pengerajin barang antik berupa cincin batuan unik, perak, dan emas. Industri ini pada umumnya merupakan bisnis turun menurun dalam satu keluarga, biasanya keluarga pengerajin perak bermarga Pande, yakni marga/ keluarga yang secara turun temurun berprofesi sebagai tukang emas, perak, membuat pisau, cangkul, keris, dan peralatan logam lainnya. Menurut sejarah, seperti kebanyakan orang Bali lainnya Warga Pande adalah penduduk dari Jawa yang berpindah tempat pada jaman Majapahit. 130
  • 131. Desa Abang Songan b. Bobot Penilaian Gambar 5.14. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA ABANG SONGAN 5 4 3 2 1 0 Tari Sangiang Tari Gandrung Kerajinan Berupa Patung Bangunan Warisan Berupa Pura Dukuh Benda Antik Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan hasil wawancara dan peninjauan lapangan belum banyak ditemukannya potensi industri kreatif di Desa ini, hanya ditemukan beberapa tarian yang tidak bersifat sakral namun tidak di komersialisasikan. Tarian-tarian seperti (1) Tari Sangiang dan (2) Tari Gandrung hanya menjadi konsumsi penduduk desa Abang Songan dan sekitarnya seperti Desa Suter dan Abang Batudinding. Meskipun sulit untuk menjadikan tarian ini sebagai daya tarik bagi wisatawan karena selain kurangnya promosi, desa abang songan juga bukan desa yang menjadi tujuan wisata. Daya tarik dari desa ini adalah Bangunan Warisan Budaya yaitu (3) Pura Dukuh yang terletak di tepian danau batur bagian barat, atau jalur darat menuju Desa Trunyan, sayangnya tim tidak mendapatkan informan yang baik untuk menguraikan sejarah Pura ini, namun menurut hasil wawancara singkat dengan Sekertaris Desa Abang Songan, pura ini tidak digunakan lagi sejak terendam banjir besar beberapa puluh tahun silam. Saat ini pura dukuh terkadang menjadi 131
  • 132. tempat atau objek penelitian yang berkaitan tentang sejarah dan budaya. Letak pura dukuh yang berada diantara tepian danau Batur dan lereng tinggi yang curam di belakangnya memberikan nilai “Sangat Baik” terhadap kategori riset dan pengembangan ini. Gambar 5.15. FOTO PURA DUKUH TAMPAK DEPAN Sumber: Hasil penelitian DMO Gunung Api Batur 2012 Kendala yang terlihat adalah kurangnya perawatan terhadap pura tersebut, hal ini terlihat dari banyaknya rumput liar yang tumbuh di sekitar pura dukuh, selain itu lahan kosong sekitarnya digunakan sebagai sarana olah raga oleh penduduk sekitar. Akses jalan yang sempit, berlubang, dan rawan longsor dianggap menjadi kendala lain. Untuk mencapai pura dukuh dapat menggunakan kendaraan pribadi dengan kondisi baik, karena rutenya cukup sulit. Kelebihannya adalah berupa pemandangan sepanjang jalan dari desa Kedisan menuju Desa Abang Songan bagian bawah berupa pemandangan Danau Batur, Gunung Api Batur. Selain itu kita dapat melihat aktivitas penduduk sekitar yang mayoritas adalah petani sayuran dan umbi-umbian juga nelayan. 132
  • 133. Desa Abang Batu Dinding c. Bobot Penilaian Gambar 5.16. POTENSI INDUSTRI KREATIF DESA ABANG BATUDINDING 4 3 2 1 0 Jenis Industri Sumber: Hasil Olahan Data Cheklist DMO Gunung Api Batur, Bali. 2012 Berdasarkan hasil wawancara dan peninjauan lapangan ditemukannya potensi industri kreatif di Desa ini yaitu berupa (1) Tari Baris dan (2) Tari Jejer merupakan tarian adat khas desa abanf Batu dinding yang biasa dilakukan oleh truna-truni (pemuda-pemudi) desa ini. Selain tarian desa ini memiliki beberapa kerajinan seperti wayang kulit, patung kayu, barang antik berupa cincin, dan pembuatan soka. Secara umum kendala dari para pengusaha kerajinan tersebut ialah sulitnya distribusi, promosi, dan permodalan. 133
  • 134. B. ANALISIS POTENSI INDUSTRI KREATIF Selanjutnya Tim Peneliti melakukan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai kekuatan, kelemahan, kesempatan/ peluang dan hambatan/ ancaman yang dimiliki dan mempengaruhi Potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur. Hasil analisis SWOT ini kemudian akan digunakan sebagai masukan dalam menganalisis prospek aktifitas pariwisata. Dalam upaya memperkirakan prospek Potensi Industri Kreatif di Kawasan Kaldera Gunung Api Batur sebagai aktifitas wisata, perlu dirumuskan kondisi internal yang meliputi elemen kekuatan (strengths) dan elemen kelemahan (weaknesses). Penilaian dalam analisis SWOT ini diperoleh dari pemberian bobot dan nilai terhadap masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan yang berupa pernyataan. Pemberian bobot ini berdasarkan tingkat penting atau tidaknya faktor yang bersangkutan. Sedangkan pemberian nilai berdasarkan pada tingkat besar atau kecilnya faktor yang bersangkutan terhadap elemen kekuatan dan kelemahan. 1. Analisis Faktor Internal Faktor internal yang merupakan kekuatan kondisi dari Potensi Industri Kreatif dapat diidentifikasi sebanyak 3 faktor, yaitu: a. Sumber Daya Alam yang mendukung kegiatan Industri Kreatif. b. Kreatifitas Dari Sumber Daya Manusia Kintamani. c. Keunikan dari jenis Produk Industri Kreatif. 134
  • 135. Sedangkan faktor internal yang merupakan kelemahan Kondisi dari Potensi Industri Kreatif dapat di identifikasi sebanyak 4 faktor, yaitu: a. Permodalan untuk memulai dan menjalankan kegiatan Industri Kreatif. b. Promosi di dalam kegiatan Industri Kreatif. c. Aksesbilitas menuju kawasan Kawasan Kaldera Gunung Batur Bali di dalam Kegiatan Industri Kreatif. Tabel 5.1. INTERNAL STRATEGY FACTOR ANALYSIS SUMMARY Faktor Strategis Internal Kekuatan Bobot 1) Sumber Daya Alam yang mendukung kegiatan Industri Kreatif 2) Kreatifitas Dari Sumber Daya Manusia Kintamani 3) Keunikan dari jenis Produk Industri Kreatif 4) Daya Tarik wisata sebagai penunjang Kegiatan Industri Rating Skor 0,20 3 0,60 0,20 0,20 0,20 2 1 3 0,40 0,20 0,60 0,05 3 0,10 0,02 4 0,08 0,05 2 0,15 0,03 1 0,12 0,05 2 0,15 Kelemahan 1) Permodalan untuk memulai dan menjalankan kegiatan Industri Kreatif 2) Promosi di dalam kegiatan Industri Kreatif 3) Aksesbilitas menuju kawasan Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur Bali di dalam Kegiatan Industri Kreatif 4) Penerapan Pembatasan Wilayah Administratif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur 5) Kesulitan di dalam perizinan untuk mendirikan kegiatan Usaha TOTAL 1,00 Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 2. 2,34 Analisis Faktor Eksternal Faktor-faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berasal dari lingkungan diluar Potensi Industri Kreatif. Lingkungan eksternal dapat menguntungkan sekaligus dapat menjadi ancaman sehingga perlu diidentifikasi keberadaanya. Dalam penelitian ini tidak semua unsur lingkungan eksternal akan dianalisis, hanya unsur yang diidentifikasi dapat berpengaruh secara langsung terhadap pengembangan produk Industri 135
  • 136. Kreatif sebagai aktifitas wisata. Seperti penilaian pada faktor internal, penilaian dalam faktor eksternal ini diperoleh dari pemberian bobot dan nilai terhadap masing-masing faktor dari peluang dan ancaman. Pemberian bobot ini berdasarkan pada tingkat penting atau tidaknya faktor yang bersangkutan terhadap elemen peluang dan ancaman. Sedangkan pemberian nilai berdasarkan pada tingkat besar atau kecilnya pengaruh faktor yang bersangkutan terhadap elemen peluang dan ancaman. Faktor eksternal yang berupa peluang dapat diidentifikasi menjadi 4 faktor, yaitu: a. Mendatangkan Investor untuk Berinvestasi terhadap kegiatan Industri Kreatif. b. Bertambah kunjungan wisatawan ke Kawasan Kaldera Gunung Api Batur. c. Menciptakan lapangan kerja dari kegiatan Industri Kreatif. d. Memberikan pendapatan kepada masyarakat Kawasan Kaldera Gunung Api Batur. Adapun faktor eksternal yang merupakan ancaman dapat diidentifikasi menjadi 2 faktor, yaitu: a. Maraknya Pembajakan dari suatu hasil Ide Kreatifitas seseorang. b. Persaingan tidak sehat sesama pelaku usaha Industri Kreatif. 136
  • 137. Tabel 5.2. INTERNAL STRATEGY FACTOR ANALYSIS SUMMARY Faktor Strategis Eksternal Peluang Bobot Rating Skor 1) Mendatangkan Investor untuk Berinvestasi terhadap kegiatan Industri Kreatif 2) Bertambahnya kunjungan wisatawan ke Kawasan Kaldera Gunung Api Batur 3) Menciptakan lapangan kerja dari kegiatan Industri Kreatif 4) Memberikan pendapatan kepada masyarakat Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur 0.20 3 0.60 0.20 3 0.60 0.20 4 0.80 0.20 4 0.80 0.05 1 0.05 0.05 1 0.05 0.05 0.05 1.00 1 1 0.05 0.05 3.00 Ancaman 1) Maraknya Pembajakan dari suatu hasil Ide Kreatifitas seseorang. 2) Persaingan tidak sehat sesama pelaku usaha Industri Kreatif. 3) Penggunaan Sumber daya Alam yang berlebihan 4) Kebutuhan Konsumen yang semakin Variatif TOTAL Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 3. Hasil Analisis SWOT dan Strategi Pengembangan Hasil Analisis SWOT dengan Internal – Eksternal Matrik a. Untuk dapat mangukur tingkat atau posisi dalam analsis SWOT dari faktor internal maupun eksternal dalam penelitian ini menggunakan pedoman angka-angka sebagai berikut: 4 Sangat baik 3 Diatas rata-rata 2 Rata-rata 1 Dibawah rata-rata Berdasarkan analisis lingkungan internal akan dirumuskan variable kekuatan dan kelemahan, sedangkan berdasarkan analisisi lingkungan eksternal akan dirumuskan variable peluang dan ancaman. Selanjutnya hal tersebut dapat digambarkan dalam Internal-Eksternal Matrik yang menunjukan potensi dan daya dukung dalam Potensi Industri Kreatif sebagai Aktifitas wisata sebagai berikut: 137
  • 138. Gambar 5.17. INTERNAL – EKSTERNAL MATRIK Total Skor Faktor Strategi Eksternal Total Skor Faktor Strategi Internal Baik Sedang Buruk 4.0 Tinggi 3.0 2.34 2.0 1.0 Diteruskan Diteruskan Pemilihan Proiritas kegiatan Stabil Diteruskan Stabil Peninjauan Kembali Pemilihan Prioritas Kegiatan Peninjauan Kembali Program Dihentikan 3.0 Menengah 2.0 Rendah 1.0 Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 Gambar 5.17. diatas menunjukan hasil Internal-Eksternal Matrik berada pada posisi sedang dan menengah, sehinnga mendukung Pengembangan Potensi Industri Kreatif yang berarti dapat diteruskan karena termasuk kedalam kotak tengah, yaitu kotak stabil dan diteruskan tanpa merubah arah strategi yang ditetapkan. Dengan kata lain, Industri Kreatif akan stabil dengan keadaan yang sudah ada. b. Hasil Analisis SWOT dengan Matrik Space Analysis Guna memberikan gambaran analisis yang lebih jelas tentang potensi Industri Kreatif, dibawah ini disajikan matrik space analysis yang dilanjutkan dengan penghitungan dalam kuadran yang dapat membantu sebelum disimpulkan hasilnya. Sehingga dapat diketahui titik koordinat letak dari hasil analisis SWOT yang dngin diketahui untuk dilakukan pengolahan selanjutnya. 138
  • 139. Tabel 5.3. Posisi Faktor Strategi Internal MATRIK SPACE ANALYSIS Rating Kekuatan (KK) Posisi Faktor Strategi Eksternal Peluang (PL) Rating 1) Sumber Daya Alam yang mendukung kegiatan Industri Kreatif. 3 1) Mendatangkan Investor untuk Berinvestasi terhadap kegiatan Industri Kreatif. 3 2) Kreatifitas Dari Sumber Daya Manusia Kintamani. 2 2) Bertambahnya kunjungan wisatawan ke Kawasan Kaldera Gunung Api Batur. 3 3) Keunikan dari jenis Produk Industri Kreatif 1 3) Menciptakan lapangan kerja dari kegiatan Industri Kreatif 4 4) Daya Tarik wisata sebagai penunjang Kegiatan Industri 3 4) Memberikan pendapatan kepada masyarakat Kawasan Kaldera Gunung Api Batur. 4 8 Kelemahan (KL) 14 Ancaman (AN) 1) Permodalan untuk memulai dan menjalankan kegiatan Industri Kreatif. -3 1) Maraknya Pembajakan dari suatu hasil Ide Kreatifitas seseorang. -1 2) Promosi di dalam kegiatan Industri Kreatif 4 2) Persaingan tidak sehat sesama pelaku usaha Industri Kreatif. -1 3) Aksesbilitas menuju Kawasan Kaldera Gunung Api Batur di dalam Kegiatan Industri Kreatif -2 3) Penggunaan Sumber daya Alam yang berlebihan -1 4) Penerapan Pembatasan Wilayah Administratif di Kawasan Kaldera Gunung Api Batur -1 4) Kebutuhan Konsumen yang semakin Variatif -1 5) Kesulitan di dalam perizinan untuk mendirikan kegiatan Usaha. -2 -12 -4 KK : 8/4 = 2 PL : 14/4 = 3,5 KL : -12/5 = -2,4 AN : -4/4 = -1 Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 Pada Tabel 5.3. dapat diketahui bahwa total rating dari Kekuatan (KK) ialah 2, Sedangkal Kelemahan (KL) adalah -2,4. Lalu Peluang (PL) dengan Rating 3,5 dan Ancaman (AN) -1. Lalu selanjutnya tim peneliti melakukan perhitungan dari hasil rating dengan melakukan penjumlahan hasil dari rating Kekuatan (KK) dengan Ancaman (AN) 139
  • 140. yang menghasilkan Y axis, dan Kelemahan (KL) dijumlahkan dengan Peluang (PL) untuk mendapatkan koordinat X axis. Dengan menggunakan matrik diatas, maka dapat digambarkan posisi kuadran sebagai: KK + AN = 2 + (-1) = 1 KL + PL = (-2,4) + 3,5 = 1,1 Gambar 5.18. KUADRAN Kekuatan KW III KW I 1 Ancaman Peluang 1,1 KW IV KW II Kelemahan Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 Gambar 5.18. diatas menunjukan hasil perhitungan dari matrik space analisis terletak pada posisi kuadran I, yaitu dengan nilai positif pada titik 1 dan 1,1 Hal ini merupakan posisi yang masih menguntungkan dimana terdapat sedikit selisih namun cukup signifikan dalam perbedaan nilai antara kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. 140
  • 141. Kuadran I merupakan Kotak Mobilization dimana kotak ini mempertemukan interaksi antara ancaman/tantangan dari luar yang diidentifikasikan dengan potensi internal sumber daya. Disini para perencana dituntut untuk memberikan keputusan untuk menggali sumber-sumber daya yang dapat dimobilisasikan untuk memperlunak ancaman/tantangan dari luar tersebut dan sedapat mungkin merubahnya menjadi sebuah peluang bagi pengembangan selanjutnya. Dapat diasumsikan bahwa dengan menekan kelemahan dan membuat ancaman menjadi potensi yang harus diatasi maka akan membuat perimbangan posisi tersebut menjadi lebih positif dan mantap C. ANALISIS AKTIVITAS WISATA Berdasarkan teori Drs. Oka A. Yoeti (1996: 178) tentang daya tarik yang harus dimiliki suatu destinasi pariwisata dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan serta teori Suwardjoko P. Warpani dan Indira P. Warpani (2007:13-14) tentang pengkategorian aktivitas wisata menjadi 14 kategori, tim menganalisa beberapa aktivitas wisata yang teridintifikasi selama penelitian berlangsung sebagai penajaman analisis industri kreatif dari perspektif aktivitas wisata. Tujuannya guna mengetahui kegiatan wisata seperti apakah yang sudah tersedia di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, lalu industri apakah yang dapat diidentifikasi muncul setelah adanya aktivitas wisata disekitarnya ataupun sebaliknya. Dengan harapan dapat menghasilkan arahan, ide atau gagasan kreatif tentang kemungkinan munculnya beberapa aktivitas wisata baru di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. 141
  • 142. Secara umum dari 13 Desa yang ada di kawasan Pariwisata Gunung Api Batur kondisi pariwisata Gunung Batur terbilang baik hal ini terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan asing yang datang berkunjung ke Kintamani sekitar ±1.200 orang/hari, seperti yang telah dijabarkan dalam Tabel 6.2. (Hal. 134) yaitu tabel checklist aktivitas wisata di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, dapat kita ketahui ada 9 ODTW yang ditemukan oleh tim telah menghasilkan berbagai aktivitas wisata seperti; (1) Pura Ulun Danu, Pura yang saat ini terletak di pusat kecamatan Kintamani tepatnya di Desa Batur Selatan. Pura ini dahulu berada di tepian Danau Batur namun adanya musibah banjir besar lokasi pura ini dipindahkan keatas lereng bersamaan dengan berpindahnya penduduk desa. Saat ini Pura Ulun Danu juga dijadikan salah satu Pura yang wajib dikunjungi selain Pura Besakih pada acara keagamaan Hindu. Dari munculnya kegiatan masyarakat Kecamatan Kintamani dan Bali pada umumnya mulailah timbul beberapa puluh pertokoan di sepanjang jalan sekitar Pura. Toko-toko yang menjual aneka barang dari aksesoris seperti kacamata, masakan, jajanan, dll. Hal ini diakui salah satu pedagang yang berjualan persis di sebrang gerbang Pura Ulun Danu. Selain itu dengan adanya aktivitas masyarakat Bali lokal memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Bagi para wisatawan kegiatan yang dapat mereka lakukan ialah hal-hal yang berkaitan seperti melihat dan mempelajari umat Hindu Bali beribadah, melihat upacara adat yang dilaksanakan secara berkala, fotografi baik itu berupa fotografi tentang arsitektur bangunan pura, aktivitas orang-orang, maupun landscape sekitar pura. Lalu selain Pura Ulun Danu adapula (2) Danau Batur yang menjadi salah satu daya tarik utama di kawasan pariwisata Gunung Api Batur termasuk 142
  • 143. Kabupaten Bangli. Aktivitas yang dapat dilakukan oleh wisatawan yaitu Memancing, Sight Seeing, secara landscape danau ini sangat baik untuk melakukan kegiatan fotografi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya Wedding Organizer lokal maupun daerah luar melakukan photo shoot di kawasan ini. Sebagai gambaran lain daerah Danau Batur pernah menjadi lokasi sejumlah iklan merek-merek ternama seperti iklan Yamaha Mio J pada tahun 2012, Indosat Im3 tahun 2012. Danau Batur juga menjadi salah satu lokasi syuting Eat Pray Love 2011 yang menjuarai beberapa Penghargaan Internasional dibidang perfilman. Selanjutnya ada restaurant Apung dan beberapa restaurant seafood lainnya yang berada di sekitar kaldera gunung api Batur. Restaurant apung adalah salah satu restaurant yang telah cukup lama berdiri di sekitar danau batur, tepatnya di desa Kedisan, dimana restaurant ini tidak hanya menyajikan masakan khas Bali, eropa yang segar namun juga menyajikan pemandangan lepas keseluruh danau dan gunung batur, pada sore hari kita dapat melihat matahari tenggelam. Meskipun secara teori restaurant ini sangat mengganggu ekosistem alami sekitarnya seperti pertumbuhan ikan, pencemaran air dan tanah. Namun daya tarik bagi pariwisata masih terbilang tinggi. Masalah aksesbilitas yang dipengaruhi oleh kondisi jalan yang terganggu oleh adanya kendaraan proyek Galian C sehingga jalan cenderung lebih rentan rusak, berpasir, dan rawan kecelakaan. Masalah lingkungan seperti kurangnya kesadaran akan kebersihan daerah wisata menjadi ancaman tersendiri bagi para pelaku usaha. Selanjutnya adalah (4) Desa Trunyan yang tersohor dengan ciri khas cara pemakaman mereka. Selain education tentang budaya, wisatawan juga dapat melihat bagaimana keseharian orang-orang disana. 143
  • 144. Adapun (5) Panelokan sebuah tikungan yang dianggap strategis untuk melihat pemandangan Gunung Api Batur, Danau Batur, dan sekitarnya secara keseluruhan. Disini wisatawan dapat berfoto, berbelanja souvenir, mencari tempat penginapan, wisata kuliner, dll. Kendala dan permasalahan di ODTW ini salah satunya ialah sejumlah oknum pedagang yang berperilaku berbelebihan dalam menawarkan barang/jasa yang mereka miliki. Meskipun sudah ada pengawasan, namun kondisi nyata menyatakan pengawasan tersebut tidak memberikan pengaruh yang berarti. Bila beberapa waktu yang silam permasalah seperti ini juga terjadi di daerah dermaga dan kawasan perairan Danau Batur, kini bedasarkan hasil observasi hal tersebut tidak lagi terjadi. Adanya pengelolaan oleh pihak Pemda untuk mengambil alih pengurusan dermaga dan pedagang yang terlibat sehingga pendisiplinan dapat dilakukan. Selanjutnya tidak jauh dari lokasi panelokan terdapat Museum Gunung Api Batur yang belum lama ini berdiri. Bangunan dengan gaya modern dan campuran tradisional Bali ini memfasilitasi wisatawan lokal maupun asing tentang hal-hal yang terkait dengan Gunung Api Batur, selain itu tempat ini juga melakukan pengawasan secara rutin terhadap aktivitas Gunung Api Batur. Pusat pengelolaan, riset, dan pengembangannya sendiri berasal dari Kota Bandung tepatnya Museum Geologi Bandung. Aktivitas yang dapat dilakukan wisatawan adalah mempelajari tentang kawasan Gunung Api Batur khususnya vulkanologi. Berikutnya (7) Toya Bungkah, sebuah pemandian air panas alami yang akan terasa sangat cocok untuk kawasan Gunung Api Batur yang merupakan dataran tinggi yang memiliki suhu cukup rendah pada malam hari. Berada di sekitaran Danau Batur tepatnya Desa Batur Selatan. Disini wisatawan dapa 144
  • 145. merasakan air panas alami yang bisa memberikan efek relaksasi, selain itu adanya manfaat bagi kesehatan terutama kulit memberikan variasi wisata kesehatan, dengan variasi harga Rp. 40.000,- sampai dengan Rp. 150.000,- /orang. Untuk mencapai lokasi pemandian ini hanya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tidak ada transportasi umum yang melewati rute ini. Kekurangannya ialah kebersihan lingkungan sekitar pemandian yang cenderung terlihat gersang, kumuh, dan kotor pada siang hari. Lalu yang terakhir ialah (8) Gunung Api Batur itu sendiri dimana gunung api yang masih tetap aktiv ini menjadi salah satu gunung yang ada di Pulau Bali. Aktivitas wisatawan untuk tempat ini ialah wisata olahraga, rekreasi, dan adventure dimana wisatawan dapat melakukan tracking ke beberapa rute yang telah dibuat oleh organisasi tracking yang ada di kawasan tersebut, cukup banyak travel agent yang membuat produk wisata dengan melibatkan Gunung api batur sebagai salah satu tempat kegiatan wisata bagi tamunya. Biasanya wisatawan diajak menggunakan sepeda dari tempatnya menginap menuju Gunung Api Batur kemudian ada yang diajak untuk makan siang di beberapa restaurant ternama adapula yang diajak tracking/menyebrang ke Desa Trunyan. Dalam perkembanganya kawasan pariwisata Gunung Api Batur diakui kurang dalam segi promosi, hal ini dijabarkan melalui hasil wawancara dan berdasarkan hasil observasi minimnya media promosi yang digunakan untuk mempromosikan kawasan tersebut kepada wisatawan. Menurut disparda Kab. Bangli keperluan promosi hanya dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Bali. Namun penilaian kami terhadap media promosi terutama brosur yang dimiliki disparda Kab. Bangli sangat rendah, hal ini dinilai 145
  • 146. dari jumlah yang minim informasi yang kurang efektif, kualitas brosur yang kurang menarik untuk dilihat, informasinya cenderung sudah lama tidak diperbaharui, ukuran brosur yang kurang sesuai dengan isi yang disampaikan adanya peta wilayah yang jelas mengenai perwilayahan kawasan pariwisata Gunung Api Batur. D. ANALISIS PENGELOLAAN PARIWISATA Pengelolaan industri kreatif di kawasan pariwisataGunung Api Batur, Bali membutuhkan proses yang cukup panjang dan akan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yang tercakup dalam stakeholder kepariwisataan kawasan Gunung Api Batur, Bali. Stakeholder yang termasuk di dalamnya adalah masyarakat setempat, pelaku industri, akademisi, lembaga pengelola, dan pemerintah. 1. Peran Masyarakat Setempat Masyarakat setempat belum berperan secara aktif dalam mendukung kegiatan industri kreatif di kawasan Gunung Api Batur. Masyarakat belum memiliki keinginan untuk membangun industri sendiri dikarenakan tidak adanya keyakinan akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik lagi dibandingkan dengan pekerjaan yang telah mereka jalani. Selain itu kendala lainnya adalah wawasan dan kreatifitas yang dimiliki masyarakat untuk mengelola suatu industri masih sangat minim. Masyarakat juga tidak tanggap terhadap potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi produk industri kreatif yang pada kenyataannya ada dimiliki oleh desanya sendiri. Kemudian masyarakat menemukan lagi masalah untuk permodalan membuat industri sendiri. 146
  • 147. 2. Pelaku Industri Pelaku industri di kawasan Gunung Api Batur, Bali cenderung hanya menjalankan industri seperti apa adanya saja tanpa memiliki perencanaan pengembangan industri kedepannya. Pelaku industri belum mampu menggali potensi sumber daya yang ada dan memanfaatkannya dengan menggunakan kreatifitas sehingga menjadi suatu produk baru yang bernilai lebih tinggi. 3. Peran Akademisi Akademisi belum berperan serta dalam mendukung kemajuan pembangunan industri kreatif di kawasan Gunung Api Batur, Bali. Akademisi di kawasan Gunung Api Batur, Bali belum mampu menggali dan memetakan potensi industri kreatif yang ada. Akademisi juga belum dapat melihat manfaat dari adanya industri kreatif bagi sektor pariwisata serta kendala yang akan dihadapi, dan menyusun langkah apa yang akan dilakukan untuk menanggulangi segala resiko atau kendala-kendala yang akan terjadi. 4. Lembaga Pengelola Belum terdapat lembaga pengelola. Sehingga kawasan pariwisata Gunung Api Batur belum mampu membuka peluang dan menangkap peluang potensi industri kreatif yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. 147
  • 148. 5. Peran Pemerintah (Government) Pemerintah bertanggung jawab atas empat hal utama (Subadra, 2006), yaitu; Perencanaan (planning), Pembangunan (development), Pengeluaran kebijakan (policy), dan Pembuatan dan penegakan peraturan (regulation). Dalam kenyataannya, pemerintah belum menaruh perhatian terhadap pentingnya industri kreatif untuk membangun kepariwisataan di kawasan Gunung Api Batur, Bali. Selama ini sebagian besar pengunjung yang datang ke kawasan pariwisata Gunung Api Batur hanya untuk sekedar melihat-lihat (menikmati pemandangan), foto-foto, dan melakukan aktivitas wisata yang sangat biasa. Tidak ada alasan lain selain karena potensi sumber daya alam yang ada (pemandangan dan atmosfer) untuk menjadi daya tarik ataupun daya beli yang cukup menarik bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama dan daya untuk spending money bagi wisatawan di kawasan Gunung Batur masih sangat kecil. Pemerintah belum memiliki perencanaan (planning), pembangunan (development), pengeluaran kebijakan (policy), serta pembuatan dan penegakan peraturan (regulation) untuk pembangunan industri kreatif di kawasan pariwisata Gunung Api Batur Bali. E. ANALISIS PENGELOLAAN OLEH DMO 1. Melakukan Koordinasi, Kemitraan, dan Jejaring; DMO berfungsi untuk mengkoordinasikan berbagai kepentingan diantara pemangku kepentingan dan mengembangkan kegiatan atau program pengembangan jejaring wisatawan. Berdasarkan hasil peninjauan, untuk koordinasi ke berbagai pemangku kepentingan telah dilakukan, namun untuk kemitraan dan jejaring kerjasama 148
  • 149. antar pemangku kepentingan dengan masyarakat lokal masih belum terjalin dengan baik. Dari keadaan aktual tersebut, maka tim peneliti menilai untuk koordinasi, kemitraan dan jejaring antar pihak DMO dan pemangku kepentingan masyarakat belum mencapai kesesuaian. 2. Melakukan Konsultasi dan Advokasi DMO berfungsi untuk merencanakan program strategis yang ditujukan untuk menciptakan kebijakan politik yang bermanfaat bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan merugikan masyarakat. Fungsi advokasi DMO adalah membangun basis dukungan masyarakat lokal bagi penegakan dan penerapan kebijakan pembangunan pariwisata untuk kepentingan publik. Berdasarkan hasil peninjauan, koordinasi dengan masyarakat lokal masih belum optimal ditandai dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk turut serta dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya penjual souvenir di kawasan penelokan yang memaksa wisatawan untuk membeli barang mereka. Kejadian tersebut dapat mengganggu kenyamanan wisatawan yang sedang berkunjung. 3. Melakukan Pembenahan Fasilitas Standar Pelayanan DMO berfungsi untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, untuk itu maka DMO perlu menyusun program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan fasilitas standar pelayanan. Fasilitas yang dimaksudkan 149
  • 150. adalah adanya fasilitas yang berfungsi sebagai pelengkap dan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang bermacam-macam. Berdasarkan hasil peninjauan, pembenahan fasilitas standar pelayanan di kawasan Gunung Api Batur belum sepenuhnya terbenahi ditandai dengan kurangnya brosur, toilet umum, fasilitas telekomunikasi, dan sebagainya. 4. Melakukan Penelitian DMO berfungsi untuk melakukan penelitian-penelitian untuk mengembangkan program dan kegiatan pengembangan produk dan pasar wisata termasuk program dan kegiatan monitoring. Berdasarkan hasil peninjauan, penelitian untuk mengembangkan program dan kegiatan pengembangan produk wisata telah banyak dilakukan, tetapi belum banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan industri kreatif yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali. 5. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat DMO berfungsi untuk mengembangkan program dan kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembangunan dan pengembangan pariwisata setempat. Program atau kegiatan tersebut hendaknya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan wisata. Berdasarkan hasil peninjauan, sudah terdapat perencanaan program pengembangan dan kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal, namun belum terlaksana sepenuhnya, dikarenakan masih banyak masyarakat lokal yang belum terkoordinir dengan baik. 150
  • 151. 6. Menyelenggarakan Pemasaran DMO memiliki ruang lingkup untuk menyusun program dan kegiatan pengembangan produk, pengemasan, dan inovasi produk, promosi dan penjualan, pengembangan kerjasama dan distribusi produk dengan para supplier. Kegiatan pemasaran meliputi identifikasi pasar sasaran, pembentukan citra, segmentasi pasar, pembentukan logo, tema dan kegiatan periklanan. Berdasarkan hasil peninjauan, penyusunan program kegiatan pemasaran sudah dilakukan, namun belum terlihat pelaksanaannya dengan jelas. 7. Melakukan Promosi Investasi DMO bertujuan untuk membuat program dan kegiatan pengembangan investasi dan peningkatan modal keuangan melalui perluasan kerjasama dalam dan luar negeri dalam bentuk pendanaan, pinjaman, pajak, konsesi, dan yang mampu menstimulasikan para investor untuk terlibat dalam implementasi pengembangan destinasi pariwisata sesuai dengan rencana strategis yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil peninjauan, kegiatan promosi investasi di daerah gunung batur masih belum optimal ditandai dengan masih banyaknya kawasan yang belum terkelola dengan baik. 8. Melakukan Penyusunan Program-program Inovasi tentang Destinasi/ Program Manajer/ Event Generator DMO bertujuan untuk mendukung dan mengembangkan program- program pariwisata yang inovatif untuk membangun keunggulan kompetitif 151
  • 152. dalam persaingan global. Program inovatif dapat membangkitkan para pelaku pariwisata untuk terus mengembangkan produk-produk pariwisata yang berpotensi memiliki daya jual tinggi. Berdasarkan hasil peninjauan, penyusunan program-program inovasi tentang destinasi/program manajer/event generator belum terlihat, dikarenakan aktivitas wisatawan di kawasan Gunung Api Batur selama ini sangat monoton, sebagian besar wisatawan hanya sekedar datang untuk berkunjung saja. 9. Menerapkan Krisis Manajemen Program dan kegiatan DMO bertujuan untuk menghasilkan suatu rencana tindakan yang bersifat proaktif dan efektif terhadap dampak krisis yang ditimbulkan dalam upaya efisiensi dan produktivitas pemulihan citra destinasi pariwisata termasuk perbaikan kondisi lingkungan baik fisik maupun non fisik (social budaya dan kesehatan). Berdasarkan hasil peninjauan, rencana tindakan yang bersifat proaktif dan efektif terhadap dampak krisis yang ditimbulkan sudah ada, namun untuk saat ini kondisi lingkungan baik fisik maupun non fisik (sosial budaya dan kesehatan) masih dalam tahap yang wajar, dapat dilihat dari segi sosial budaya dan kesehatan yang ada di kawasan Gunung Api Batur, Bali sampai saat ini masih baik-baik saja. Masyarakat masih tetap menjaga dengan utuh lingkungan sosial dan budayanya, sehingga penerapan krisis manajemen untuk saat ini belum begitu terlihat. 152
  • 153. BAB VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. A. KESIMPULAN 1. Industri Kreatif di Gunung Api Batur Industri Kreatif tidak hanya mengandalkan Sumber Daya Alam sebagai modal utama industri, namun turut serta mengandalkan pemanfaatan dari kreativitas, keterampilan, serta bakat individu sebagai modal utama didalam pelaksanaannya. Oleh karena itu didalam kegiatan Industri Kreatif memerlukan Pekerja Kreatif untuk memanfaatkan Sumber Daya Alam yang terdapat di Kawasan pariwisata Gunung Api Batur secara maksimal guna mendapatkan value lebih dari produksi yang dihasilkan. Kondisi Sumber Daya Alam yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur Industri Kreatif. Sumber Daya Alam yang tersedia berupa hutan pohon siwalan di Desa Songan yang dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan berupa daun lontar, bahan baku perak yang dijadikan perhiasan, panorama alam yang indah yang sering di jadikan sebagai latar dari perfilman maupun periklanan. Masyarakat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur sudah memiliki keterampilan didalam kegiatan Industri Kreatif seperti terdapat penari-penari di dalam pementasan tarian adat, pewayangan, pelukis, pemahat patung, pengerajin perhiasan, pengerajin souvenir, permusikan. 153
  • 154. Mayoritas dominan jenis Industri kreatif yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur berupa kerajinan pembuatan perhiasan yang terbuat dari perak, pembuatan patung yang terbuat dari kayu, pembuatan souvenir, dan seni pertunjukan berupa tarian dan wayang. 154
  • 155. Tabel 6.1. POTENSI INDUSTRI KREATIF DI KAWASAN PARIWISATA GUNUNG API BATUR, BALI Nama Desa Potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur, Bali Dimensi (X₁) Sektor Industri Kreatif Penerbitan dan Percetakan Film, Video, Fotografi TV dan Radio Periklanan Musik Kuliner Seni Pertunjukan Pasar Barang Seni Kerajinan Fesyen Desain Arsitektur TI dan Piranti Lunak Permainan Interaktif Riset dan Pengembangan Total Sektor Industri Kreatif Batur Utara Batur Selatan Batur Tengah Pinggan Kintamani Songan A Songan B Kedisan Trunyan Ada Suter Abang Songan Abang Batudinding Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Buahan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 5 4 4 Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada 8 5 6 4 Ada 3 7 7 2 70 Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 5 10
  • 156. 2. Aktivitas Wisata di Gunung Api Batur Kawasan pariwisata Gunung Api Batur telah memilki aneka ragam aktivitas wisata bagi para wisatawan yang datang berkunjung. Dengan dominasi yaitu Wisata Budaya dan Kuliner. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 6.1. berikut ini: Tabel 6.2. TABEL JUMLAH AKTIVITAS WISATA YANG TELAH BEROPERASI DI KAWASAN PARIWISATA GUNUNG API BATUR, BALI Jenis Wisata Jumlah Wisata Budaya 3 Wisata Kesehatatan 2 Wisata Olahraga 2 Wisata Rekreasi 2 Wisata Petualangan 1 Widiawisata 1 Wisata Kuliner 3 ODTW Lokasi Pura Ulun Danu Pura pancering jagat Makam Trunyan Pura Ulun Danu Toya Bungkah Danau Batur Gunung Api Batur Danau Batur Panelokan Gunung Api Batur Batur Selatan Trunyan Trunyan Batur Selatan Batur Selatan Kecamatan Kintamani Kecamatan Kintamani Kecamatan Kintamani Batur Selatan Kecamatan Kintamani Museum Gunung Api Batur Ikan Mujair Batur Selatan Terong Belanda Kopi Luwak Kopi Agro Wisata 2 Jeruk Siam Sumber: Pengolahan Data DMO Gunung Api Batur 2012 Batur Utara, Tengah, Selatan Kecamatan Kintamani Kecamatan Kintamani Kecamatan Kintamani Kecamatan Kintamani Menurut Suwardjoko P. Warpani dan Indira P. Warpani (2007:13-14) ada 15 kategori wisata, dimana kondisi aktual yang ditemukan dilapangan adalah 8 kategori kegiatan wisata yang telah berjalan di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Dimana aktivitas wisata yang paling banyak terjadi di Desa Batur Selatan dan sekitarnya. Sedangkan untuk kategori wisata yang paling banyak ialah wisata budaya dan wisata kuliner. 156
  • 157. 3. Pengelolaan Industri Kreatif di Kawasan Gunung Api Batur Peran stakeholder dalam membangun sektor Industri Kreatif sangatlah penting. Selama ini sektor Industri Kreatif masih dipandang dengan sebelah mata. Pelaku pengelola ataupun stakeholder seharusnya berperan penting untuk dapat membangun sektor Industri Kreatif di kawasan Gunung Api Batur. Untuk pemerintah sendiri sebagai perencana, pembangun, pengeluar kebijakan, dan pembuat juga penegak peraturan, belum secara maksimal dalam menjalankan fungsinya. Kurangnya antusias dari masyarakat setempat untuk membangun Industri Kreatif di kawasan pariwisata Gunung Api Batur dikarenakan masyarakat belum memiliki kemahiran dan kreatifitas khusus untuk menciptakan industri yang baru. Kemudian masyarakat setempat cenderung takut untuk memulai usaha baru dikarenakan susahnya mendapatkan permodalan dan juga tidak adanya keyakinan dari masyarakat setempat bahwa usaha tersebut akan berhasil. Disini peran akademisi seharusnya dapat mendorong keinginan masyarakat dengan cara memberikan pengarahan berdasarkan pengamatan khusus yang dilakukan sehingga dapat menghasilkan pemetaan yang berfungsi untuk mengetahui potensi apa saja yang dapat digali untuk membangun sektor Industri Kreatif serta memberitahukan manfaat apa yang akan masyarakat dapatkan dari hasil Industri Kreatif, dan memberikan antisipasi apa yang akan dilakukan jika ancaman datang. Kemudian belum terdapat lembaga pengelola yang secara khusus menangani sektor Industri Kreatif. 157
  • 158. B. REKOMENDASI Dalam laporan ini kami sertakan pula hasil analisis yang telah kami rangkum menjadi beberapa rekomendasi yang bersifat konseptual maupun bersifat usulan secara teknis di lapangan. Rekomendasi ataupun saran yang tim sajikan dibagi menjadi 3 kaegori, yaitu: Pengelolaan Industri Kreatif di Gunung Api Batur, Arahan Pengembangan Aktivitas Wisata di Gunung Api Batur, dan Usulan Teknis. Paparannya adalah sebagai berikut: 1. Pengelolaan Industri Kreatif di Gunung Api Batur Dalam pengembangan potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur harus memiliki tiga aktor utama yang bersinergi sebagai penggerak Industri Kreatif yaitu pihak cendekiawan, pemerintah, dan pelaku bisnis. Peran cendekiawan di dalam pengembangan potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur seharusnya memberikan pelatihan kepada masyarakat bagaimana memaksimalkan inovasi dari ide kreatifitas suatu hasil dari jenis industri kreatif yang terdapat di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur agar kualitas dari hasil produk tersebut di minati oleh wisatawan. Peran Pemerintah daerah di dalam pengembangan potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur harus mendukung sebagai katalisator dan Advokasi di dalam kebijakan regulasi kegiatan Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur. Selain itu pemerintah daerah juga harus mendukung dari Aspek penghargaan dari insan kreatif dan 158
  • 159. perlindungan hak cipta dari hasil ide kreativitas yang di hasilkan oleh masyarakat. Peran Pelaku Usaha memberikan lapangan kerja khususnya kepada masyarakat di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur agar dapat meningkatkan kesejahteraan dari kegiatan Industri Kreatif, selain itu Pelaku Usaha sebagai pembentuk dari komunitas dari Industri Kreatif berkeja sama di dalam segi promosi dan distribusi agar pengembangan Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur berjalan dengan baik. Dalam pengelolaan Industri Kreatif diperlukan keterlibatan stakeholders utama di dalam mengembangkan potensi Industri Kreatif di kawasan Gunung Api Batur, Bali. Stakeholders utama yang terlibat di dalam pengelolaan Industri Kreatif di kawasan Gunung Api Batur, yaitu: Pemerintah Daerah Kab.Bangli, Masyarakat, dan DMO. a. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli Peran Pemerintah daerah Kabupaten Bangli di dalam pengembangan potensi Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur harus mendukung sebagai katalisator dan advokasi di dalam kebijakan regulasi kegiatan Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur. Selain itu pemerintah daerah Kabupaten Bangli juga harus mendukung dengan bentuk apresiasi bagi insan-insan kreatif dan memberikan perlindungan hak cipta dari hasil ide kreativitas yang di hasilkan oleh masyarakat atau pelaku Industri Kreatif. 159
  • 160. b. Masyarakat Peran masyarakat sangatlah penting di dalam pengelolaan Industri Kreatif, terutama di dalam menggerakan Industri Kreatif sebagai pelaku usaha. Peran pelaku usaha memberikan lapangan kerja khususnya kepada masyarakat di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur agar dapat meningkatkan kesejahteraan dari kegiatan Industri Kreatif, selain itu Pelaku Usaha sebagai pembentuk dari komunitas dari Industri Kreatif berkeja sama dalam kegiatan promosi dan distribusi agar pengembangan Industri Kreatif di Kawasan Pariwisata Gunung Api Batur berjalan dengan baik. c. DMO Dalam pengelolaan Industri Kreatif peran cendekiawan sangatlah penting untuk pengembangan Industri Kreatif. Terutama di dalam pengembangan inovasi produk Industri Kreatif di perlukan kajian penelitian selanjutnya mengenai diversifikasi produk yang telah teridentifikasi oleh tim peneliti DMO tahun 2012. Selain itu dalam pengelolaan Industri Kreatif kedepan, perlu dibangun suatu kelompok/organisasi pengelola Industri Kreatif yang ada di kawasan Gunung Api Batur, Bali. Pengelolaan (manajemen), menurut Leiper (1990: 256), “merujuk kepada seperangkat peranan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, atau bisa juga merujuk kepada fungsi-fungsi yang 160
  • 161. melekat pada peran tersebut”. Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah sebagai berikut: a. Planning (Perencanaan) Merencanakan pengelolaan industri kreatif yang terdapat di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, Bali dengan melihat segala potensi yang telah ada, dan dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada. b. Directing (Mengarahkan) Memberikan pengarahan dan membuat program pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas masyarakat dalam menciptakan industri-industri baru yang dapat meningkatkan aktivitas pariwisata di kawasan Gunung Api Batur, Bali. c. Organizing (termasuk Coordinating) 1) Menjaga agar semua program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dan dikomunikasikan dengan baik pada seluruh pemangku kepentingan. 2) Meningkatkan kegiatan promosi industri kreatif yang telah ada dengan mengadakan event kepariwisataan. 3) Membentuk kerjasama antar pelaku industri kreatif dengan asosiasi kepariwisataan lainnya. d. Controlling (Pengawasan) 1) Menyusun instrumen controlling dan evaluasi terhadap program penyelarasan baik secara parsial per program maupun secara komprehensif 161
  • 162. 2) Melakukan controlling dan evaluasi terhadap semua program penyelarasan baik secara parsial maupun komprehensif 3) Menyusun laporan hasil controlling dan evaluasi yang memuat rekomendasi perbaikan atas pelaksanaan setiap program 4) Menyusun laporan hasil controlling dan evaluasi terhadap hasil pencapaian kinerja secara komprehensif diseluruh pelaksanaan program penyelarasan. 2. Arahan Pengembangan Aktivitas Wisata Pembenahan kualitas pelayanan para service deliver di kawasan pariwisata Gunung Api Batur, terutama para pedagang asongan yang berada di sekitar Panelokan. Perlu adanya seleksi untuk mendapatkan perijinan dagang di kawasan Panelokan. Dengan penseleksian pedagang secara otomatis terdaftar dan dapat diikat dengan peraturan-peraturan yang dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan, namun tetap dapat memberikan Penegasan dalam tindak disiplin bagi pedagang yang bertindak berlebihan. Meningkatkan kegiatan promosi kawasan pariwisata Gunung Api Batur dengan langkah-langkah; Mengangkat hal-hal positif dan memiliki nilai jual yang baik dimata konsumen, yang pernah terlaksana di kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Sebagai contoh membuat brosur atau media promosi lainnya dengan menyertakan keunggulan destinasi ini kepada wisatawan. 162
  • 163. Melakukan sosialisasi dan himbauan melalui pendekatan secara adat tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Terutama kebersihan di lingkungan wisata, tentunya hal ini didukung dengan fasilitas yang memadai dan mampu mencakupi seluruh kawasan pariwisata Gunung Api Batur. 3. Usulan Teknis Adapun beberapa rekomendasi berupa ide dan gagasan yang dihasilkan berdasarkan hasil wawancara, observasi, basis data, dan diskusi secara produktif perihal aktivitas wisata yang potensial dan aktivitas wisata alternatif terbarukan, yang terangkum sebagai berikut; a. Skala Kecil – Menengah: Membuat atau merekomendasikan kepada Travel Agent yang sering menjual paket kawasan pariwisata Kintamani untuk membuat paket khusus mengunjungi tempat-tempat yang menjadi lokasi syuting film-film ternama paket ini dapat melibatkan daerah lain diluar kawasan pariwisata Gunung Api Batur. Seperti menjual paket khusus untuk mengunjungi lokasi syuting film Eat Pray Love dimana ide ini terinspirasi dari kegiatan wisata yang ada di Korea Selatan. b. Skala Menengah – Besar: Menyediakan sarana secara bertahap untuk keperluan penyelenggaraan event dan MICE berskala sedang dengan kapasitas yang memadai berkisar antara 1.000 s/d 5.000 orang dimana perhitungan ini didasari jumlah wisatawan yang datang berkunjung ke Kintamani dalam kurun waktu satu tahun, yaitu 462.954 orang/tahun 163
  • 164. (2005-2010) yang artinya ada sekitar 1.200 orang berkunjung ke Kintamani setiap harinya. Sarana ini dapat digunakan sebagai galeri hasil kesenian terbaru hasil olahan pengerajin-pengerajin dan seniman yang ada di Kabupaten Bangli pada umumnya dan kawasan pariwisata Gunung Api Batur khususnya (Exhibition). Dengan harapan akan memicu tumbuhnya kreativitas dan nilai jual hasil seni yang dihasilkan. Selain itu akan menarik minat khusus wisatawan terhadap seni. Gambar 6.1. ILUSTRASI DESAIN CONVENTION HALL UNTUK KAWASAN API BATUR (TAMPAK DEPAN) Sumber: Google.com. Diakses Maret 2013 Gambar 6.2. ILUSTRASI DESAIN INTERIOR CONVENTION HALL UNTUK KAWASAN API BATUR Sumber: Google.com. Diakses Maret 2013 164
  • 165. Selain itu kawasan pariwisata Gunung Api Batur dengan panorama dan cuaca yang sejuk cocok untuk melaksanakan pertemuan bisnis (Meeting), Incentive Tour dan Program, penyelenggaraan konser musik seperti yang dilaksanakan di Gunung Bromo (Jazz Gunung Bromo) beberapa waktu silam juga bagus diterapkan di kawasan tersebut. Selain itu kegunaan Hall ini adalah untuk mengembangkan dan menginterpretasikan kesenian seperti seni musik dan tarian-tarian yang ada di masing-masing desa. Seperti musik Angklung Bali yang dapat dikembangkan seperti halnya Saung Angklung Udjo di Bandung, Jawa Barat. Tentunya upaya-upaya ini diutarakan dengan harapan dan tujuan meningkatnya length of stay, aktivitas wisata, juga spend of money dari wisatawan yang datang berkunjung ke kawasan pariwisata Gunung Api Batur, dimana selama ini hanya rata-rata lama kunjungan adalah kurang dari 1 hari. 165
  • 166. DAFTAR PUSTAKA Adams, Kathleen, M. 2006. “Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia”. United State of America (USA): University of Hawai’i Press. Ann Frew, Elspeth. 2000. “Industrial Tourism: A Conceptual and Empirical Analysis” (Tesis). Belanda: Victoria University of Technology. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 2011. “Indeks Rawan Bencana Indonesia”. Jakarta. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangli. 2012. “Kecamatan Kintamani dalam Angka 2011”. Bali, Kabupaten Bangli: Arysta Jaya. ---------------------------------------------------------. “Bangli Dalam Angka 2011”. Bali, Kabupaten Bangli: Arysta Jaya. --------------------------------------------------------. “Bangli Dalam Angka 2012”. Bali: Kabupaten Bangli: Arysta Jaya. Beeton, Sue. 2005. “Film-Induced Tourism”. Toronto: Channel View Publications. Buckley, R. 2001. “Nature-Based Tourism, Environment and Land Management”. London: CABI International Pubishing. Dewi, Cokorda Istri. 2009. “Industri Kreatif Sebagai Stimulus Perekonomian Indonesia” (Slide Show). Yogyakarta. Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata KEMENBUDPAR. 2011. “Masterplan Pengembangan Kawasan Pariwisata Kaldera Gunung Api Batur”. Jakarta. -------------------------------------------------------------------------------------------. 2011. “Pedoman Pembentukkan dan Pengembangan DMO”. Jakarta. Elgar, Edward. 2011. “Entrepreneurship and the Creative Economy”. United Kingdom: Edward Elgar Publishing Limited. Ivanov, Stanislav.& Rossitza Ohridska-Olson. 2010. “Creative Tourism in Bulgaria”. Bulgaria: Bulgaria str. 9300 Dobrich. 166
  • 167. Karya Indonesia “KINA”. 2011. “Industri Kreatif Punya Potensi Besar, Menopang Ekonomi Nasional”, edisi 3-2011. Jakarta: Gedung Kementerian Perindustrian. Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2PAR). 2008. “Industri Kreatif”. Bandung. Pusparini, Hesti. 2011. “Startegi Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat”. Padang: Universitas Andalas Padang. Simatupang, Togar M. 2008. “Industri Kreatif Indonesia” (Slide Show). Bandung. Sulaiman, Samsudin. 2005. “Metodologi Penelitian”. Bandung: Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. UNESCO. 2000. “Understanding Industri Creative”. United State (USA): Global Alliance for Cultural Diversity. http://pariwisatadanteknologi.blogspot.com/2010/06/produk-pariwisata-tourismproduct.html. http://definisipengertian.com/2012/pengertian-definisi-industri-menurut-paraahli.html. http://id.wikipedia.org/wiki/ekonomi. 23 Mei 2012. 167

×