1



            LAPORAN PRAKTEK MAGANG



TEHNIK PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DI
 BALAI BENIH IKAN SENTRAL ...
2




                LAPORAN PRAKTEK MAGANG


TEKNIK PEMBENIHANIKAN BAUNG (mystus nemurus C.V) DI
 BALAI BENIH IKAN SENTR...
3



                       RIWAYAT HIDUP PENULIS


                       Penulis dilahirkan di kabupaten kampar pada tan...
4




                                    RINGKASAN

Marsidi Sabar (0604131403) Tehnik Pembenihan Ikan Baung (Mystus
nemur...
5



induk jantan penyuntikan dilakukan hanya satu kali saja yaitu pada waktu

penyuntikan kedua induk betina.

       Tip...
6



                            KATA PENGANTAR

       Alhamdulillah rabbal alamin, segala puji hanya untuk allah SWT ber...
7



   6. Terimakasih kepada Hadra Fi Ahlina, Murita Ria Pratiwi, Parmin Sos,

       Nana samudara aris BSc, Afrianto dn...
8



                                                 DAFTAR ISI
Isi                                                      ...
9



                                   DAFTAR TABEL


Tabel                                                              ...
10



                                   DAFTAR GAMBAR


Gambar                                                           ...
11



                              I. PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

       Usaha pembenihan merupakan usaha yang sa...
12



kecil tidak saja dapat dilakukan oleh pemerintah tapi juga pihak swasta (Dahril

dalam Sarisman, 2002)

       Benih...
13




                          II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Biologi dan Ekologi Ikan Baung (Mystus nemurus CV)

       S...
14



2.2. Pemijahan Ikan Baung (Mystus nemurus CV)

         Ciri-ciri ikan baung jantan adalah lubang genital agak meman...
15



Terjadinya pemijahan ditandai dengan kejar mengejar sepasang induk, kemudian

seperti berpelukan dan saat itulah tel...
16



2.3. Penetasan dan Pendederan

       Nuraini (2001) menyatakan bahwa proses penutupan blastopor kemudian

masuk kep...
17



ppm)atau dapat juga dilakukan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan

senyawa chlorine yang banyak dijual toko ki...
18



2.4. Makanan

         Vitamin E mempunyai peranan yang sangat penting dalam fisiologi

reproduksi ikan. Telah diuji...
19



(Puntius sp), dan selais (Siluroides sp), disamping itu ikan baung juga memakan

cacing air (Tubifex sp), udang (Mac...
20



Kualitas air memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap survival dan

pertumbuhan larva. Menurut Sulistidjo, Nont...
21




                         III. BAHAN DAN METODE



3. 1. Waktu dan Tempat

       Praktek magang ini dilaksanakan pa...
22



sebelumnya. Fasilitas dan bahan-bahan ini telah tersedia dalam panti benih

sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pemb...
23



dimasukkan ke dalam akuarium terlebih dahulu akuarium dilakukan penyiponan

untuk membuang telur yang tidak terbuahi...
24



sebelum induk dipijahkan. Sebelum digunakan fiber dibersihkan terlebih

dahulu kemudian diisi air, lalu diberi aeras...
25



ada pada tubuh induk ikan yang dapat mengganggu proses keluarnya telur pada

saat proses striping. Selain itu berfun...
26



berkisar antara 6-8 jam setelah penyuntikan ke II. Dosis hormon yang di

gunakan yaitu 0,7 cc/kg induk ikan betina d...
27



sebagai penyebab kematian ikan. Oleh karena itu dalam pemeliharaan larva

lebih membutuhkan perhatian yang intensif....
28



                       IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1. Keadaan Umum

4.1.1. Sejarah Balai Benih Ikan Sentral (BBIS)...
29



       Iklim di daerah Kabupaten Kampar hampir sama dengan daerah lain di

Provinsi Riau yang secara keseluruhan dip...
30



   a. Pengembangan SDM aparatur pemerintahan bidang perikanan

   b. Pengadaan sarana dan prasarana

   c. Rekayasa ...
31



4.2. Struktur Organisasi


                                 KEPALA BALAI



      BAGIAN LAYANAN                    ...
32



4.2.1. Sumberdaya Manusia

          Sumberdaya manusia sebagai tenaga pelaksana sangat berpengaruh

terhadap kerber...
33



masih membutuh banyak tenaga kerja agar mampu memproduksi serta

melestarikan berbagai spesies ikan yang memiliki ni...
34



4.3. Sarana dan Prasarana

       Untuk mendukung kegiatan Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar

secara keseluruha...
35



       Sarana penunjang dalam suatu usaha budidaya merupakan hal yang

sangat mempengaruhi proses produksi. Dari Tab...
36



d. Sumber Air

       Air merupakan komponen utama dalam kegiatan pembenihan ikan.

Sumber air untuk kegiatan pemben...
37



4.4. Teknik Pemeliharaan Induk Ikan Baung

4.4.1. Pemeliharaan induk

       Proses pemijahan tidak terlepas dari pe...
38



Ikan Sentral Sei Tibun Kab Kampar dalam mengatasi pemberian pakan ikan

baung yang bersifat nocturnal.

Table 5. Kan...
39



untuk mengeluarkan sperma saat melakukan pemijahan. Sedangkan pada ikan

betina, lubang genital bulat berwarna kemer...
40



       Dari Tabel 6 diketahui ada 2 kriteria warna telur ikan baung yaitu kuning

kecoklatan dan kecoklatan, sedangk...
41



untuk induk jantan penyuntikan dilakukan hanya satu kali saja yaitu pada waktu

penyuntikan kedua induk betina.




...
42




       Gambar 3. Proses Striping Induk Ikan Baung Yang Siap Ovulasi

       Proses pengeluaran semen dari induk jan...
43



       Fertilisasi dilakukan dengan cara mencampurkan sperma yang diperoleh

dari induk baung jantan dengan telur ya...
44



secara bertahap pada satu kali periode pemijahan, dalam proses pemijahannya

telur ikan tidak dikeluarkan semua seca...
45



       Tang (2000), menyatakan suhu 270C (suhu kamar) memberikan hasil

terbaik bagi kelangsungan hidup larva ikan b...
46



tidak termanfaatkan secara baik oleh induk ikan, dan berdampak pada proses

pematangan gonad.

       Telur ikan bau...
47



Sedangkan cacing tubifek diberikan pada umur tiga hari hingga usia sepuluh hari,

namun dari hasil pengamatan yang d...
48



pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan

pakan dari luar (exogenous feeding).

   ...
49



4.4.6. Kualitas Air

        Salah satu faktor yang penting dalam pemeliharaan larva ikan adalah

kualitas air, kare...
50



mengendap di dasar akuarium. Penyiponan dilakukan 1 kali sehari, pada pagi hari

sebelum pemberian pakan.

4.4.7. Ha...
51




                       V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

       Pemijahan ikan baung (Mysrus nemurus) yang ...
52




                             DAFTAR PUSTAKA



Adelina,      2000. Pengaruh Pekan Dengan Kadar Protein Yang Berbeda...
53



Hutapea, S., 2001. Biologi Reproduksi Dan Penegendalian Dalam Upaya
             Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemur...
54



Sumantadinata, K. 1993. Pengembangbiakan Ikan-ikan Pemeliharaan di Indonesia
             Sastra Budaya, Bogor. 132 ...
55




LAMPIRAN
56



Lampiran 1. Dokumentasi Praktek Magang




                     Bak Pengendapan Air Pembenihan




                 ...
57




Larva Ikan Baung Hasil Penetasan




       Kolam Pendederan
58



Peta Kabupaten Kampar
59
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Marsidi laporan

12,550

Published on

Secara taksonomi ikan baung diklasifikasikan kedalam filum Chordata, kelas Pisces, Sub kelas teleostei, Ordo Silunformes, Sub ordo Siluroidae, Famili Bragridae, Genus Mystus dan spesies mistus nemurus CV.

Published in: Technology
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
12,550
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
210
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Marsidi laporan"

  1. 1. 1 LAPORAN PRAKTEK MAGANG TEHNIK PEMBENIHAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DI BALAI BENIH IKAN SENTRAL SEI TIBUN DESA PADANG MUTUNG KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU OLEH MARSIDI SABAR S FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010
  2. 2. 2 LAPORAN PRAKTEK MAGANG TEKNIK PEMBENIHANIKAN BAUNG (mystus nemurus C.V) DI BALAI BENIH IKAN SENTRAL SEI TIBUN DESA PADANG MUTUNG KABUPATEN KAMPAR PROVPINSI RIAU Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Ahli Madya perikanan Pada Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan Universitas Riau OLEH : MARSIDI SABAR S PROGRAM STUDI DIPLOMA III BUDIDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010
  3. 3. 3 RIWAYAT HIDUP PENULIS Penulis dilahirkan di kabupaten kampar pada tanggal 22 maret 1987 sebagai anak ketiga dari pasangan Bapak Jainal ST dan Ibu Hellen Tina. Penulis menyelesaikan pendidikan di SDN 026 Desa pandau jaya tahun 2000, kemudian SMPN pada tahun 2003 masing-masing di Kabupaten kampar dan pada tahun 2006 menyelesaikan pedidikan tingkat SLTA di Sekolah Usaha Perikan Menengah (SUPM) Internasional di Dumai dengan jurusan Budidaya Perikanan. Melalaui jalur ujian lokal (Non Reguler) masuk perguruan tinggi negeri, penulis diterima di Fakultas Perikanan Universitas Riau Pada program Studi Budidaya Perairan D3. Diselala-sela kesibukannya sebagai mahasiswa penulis juga aktif melakukan beberapa kegiatan budidaya ikan dengan berbagai jenis ikan air tawar, selain itu juga aktif di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai tenaga penyuluh perikanan. Pada tanggal 27 Maret 2009 penulis melaksanakan Praktek Magang di Desa Padang Mutung Kabupaten Kampar Provinsi Riau dengan judul “Teknik Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus CV)” dan Pada tanggal 30 maret 2010 diyatakan lulus ujian praktek magang di bawah bimbingan Ir. Nuraini, MS.
  4. 4. 4 RINGKASAN Marsidi Sabar (0604131403) Tehnik Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus CV) Di Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun Desa Padang Mutung Kabupaten Kampar Provinsi Riau. (Dibawah Bimbingan Ir. Nuraini, MS.) Secara taksonomi ikan baung diklasifikasikan kedalam filum Chordata, kelas Pisces, Sub kelas teleostei, Ordo Silunformes, Sub ordo Siluroidae, Famili Bragridae, Genus Mystus dan spesies mistus nemurus CV. Pemeliharaan induk ikan baung dilakukan di kolam penampungan dengan menggunakan keramba ukuran 5 x 2 m. Dengan kedalaman 1,5 m padat tebar 230 ekor dengan bobot 400- 900 gr/ ekor. Kualitas air kolam induk adalah: pH 6,8 suhu 28-31 ºC. Kolam pemeliharaan dilengkapi dengan sirkulasi air yang berguna untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air. Untuk mengetahui induk ikan baung betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perutnya yang relatip membesar dan permukaan kulit lembut dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut bila telur yang keluar sewaktu pengurutan berbentuk bulat penuh, berwarna agak kecoklatan maka induk dalam kondisi siap pijah. Untuk mengetahui kematangan gonad ikan jantan dapat dilihat papilanya yang terletak dibelakang anus mendakati sirip anus, bila pipilnya dibagian ujung berwarna merah dan menyebar ke arah pangkal, maka ikan tersebut telah matang kelamin. Hormon yang digunakan yaitu Ovaprim dengan dosis 0,7 ml/kg pada induk betina dan 0,5 ml/kg induk jantan. Penyuntikan Induk betina dilakukan sebanyak dua kali, Penyuntikan pertama dilakukan setengah dosis, dan penyuntikan kedua juga setengah dosis. Ponyuntikan kedua dilakukan 6 jam setelah penyuntikan pertama. Sedangkan
  5. 5. 5 induk jantan penyuntikan dilakukan hanya satu kali saja yaitu pada waktu penyuntikan kedua induk betina. Tipe pemijahan pada ikan baung bersifat Partial spawning yaitu spesies ikan yang mengeluarkan telur matang secara bertahap pada satu kali periode pemijahan, dalam proses pemijahannya telur ikan tidak dikeluarkan semua secara serentak tetapi hanya mengeluarkan telur TKG V Telur sisa merupakan telur yang berkembang kemudian menjadi besar dan apabila tidak dipijahkan akan diserap kembali (atresia). Penetasan telur ikan baung yang telah difertilisasi dilakukan dengan sistem air tenang dalam wadah berupa aquarium berukuran 80 x 60 x 40 sebanyak tiga buah aquarim, dalam keadaan steril. Suhu air sangat berpengaruh terhadap lamanya penetasan, telur ikan baung yang telah terbuahi akan mengalami perkembangan embryogenesis, pada suhu 27-31 ºC, pH 6,5-7,5 telur menetas dalam waktu 24 jam. Pada hari kedua dan ketiga baru diberi pakan tambahan berupa nauplius artemia selanjutnya pada hari ke 3 hingga hari ke 10 larva diberi pakan berupa cacing tubifek dengan metode pemberian pakan adbilitum, frekwensi pemberian pakan di lakukan 3 kali perhari yaitu pada pukul 07.30 pukul 12.00 dan pada pukul 16.30 WIB. Larva baung mempunyai kebiasaan menyebar pada malam hari dan hidup berkelompok serta membentuk gumpalan terutama pada Siang hari, sehingga dapat menyebabkan kematian larva yang berada di bagian dalam karena kekurangan oksigen. Karena itu sistem aerasi harus selalu diperhatikan agar kandungan oksigen terlarut di dalam air akuarium pemeliharaan larva tetap tinggi.
  6. 6. 6 KATA PENGANTAR Alhamdulillah rabbal alamin, segala puji hanya untuk allah SWT berkat rahamat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktek magang ini dengan judul “Teknik Pembenihan IKan Baung ( mystus nemurus ) Di Balai Benih Ikan Sentral Sungai Tibun Desa Padang Mutung Kabupaten Kampar. Dalam penyusunan laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan, dorongan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapakan rasa terima kasih kepada: 1. Ayahanda, Jainal ST dan Ibunda Hellen Tinna beserta Kakaku Dewi mariana, dan seluruh keluarga besarku yang telah memeberikan kasih sayang dorongan do’a yang tiada henti. 2. Bapak Prof. Dr. Bustari Hasan Selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 3. Ibu Ir. Hj. Nuraini, MS Selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis. 4. Bapak Soloan ringo-ringo SE di jaya pura (papua) terimakasih yang sebesar-besarnya atas kritik, saran, motivasi dan dukungannya selama penyusunan laporan ini. 5. Terimakasih kepada rekan-rekan D3 06 yang memberikan petunjuk dan arahan.
  7. 7. 7 6. Terimakasih kepada Hadra Fi Ahlina, Murita Ria Pratiwi, Parmin Sos, Nana samudara aris BSc, Afrianto dn, fatma yani, Awang, beserta seluruh teman-teman alumnni SUPP-SUPM Dumai Internasional domisili pekanbaru. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah penulis harapkan untuk mencapai kesempurnaan laporan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih. Pekanbaru, Maret 2010 MARSIDI SABAR. S
  8. 8. 8 DAFTAR ISI Isi Halaman KATA PENGANTAR ................................................................................. i DAFTAR ISI ............................................................................................... ii DAFTAR TABEL ........................................................................................ iii DAFTAR GAMBAR ................................................................................... iv LEMBARAN PENGESAHAN ................................................................... v I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1 1.2. Tujuan dan Manfaat ......................................................................... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA III. BAHAN DAN METODE ..................................................................... 11 3.1. Waktu dan Tempat .......................................................................... 11 3.2. Alat dan Bahan ................................................................................ 11 3.3. Metode Praktek ............................................................................... 12 3.4. Prosedur Magang ............................................................................. 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum ............................................................................... 18 4.1.1. Sejarah Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar ................... 18 4.1.2. Posisi dan Keadaan Iklim ........................................................ 18 4.1.3. Tugas dan Fungsi Balai ........................................................... 19 4.2. Struktur Organisasi .......................................................................... 21 4.2.1. Sumberdaya Manusia .............................................................. 22 4.2.2. Fasilitas Bangunan Balai Benih Ikan Sentral Kampar .............. 23 4.3. Sarana dan Prasarana ....................................................................... 24 4.3.1. Panti Benih (Hatchery) ............................................................ 24 4.4. Teknik Pemeliharaan Induk Ikan Baung .......................................... 27 4.4.1. Pemeliharaan Induk ................................................................ 27 4.4.2. Seleksi Induk .......................................................................... 28 4.4.3. Teknik Pemijahan ................................................................... 30 4.4.4. Penetasan Telur ....................................................................... 34 4.4.5. Perawatan Larva ..................................................................... 36 4.4.6. Kualitas Air ............................................................................ 39 4.4.7. Hama dan Penyakit ................................................................. 40 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ..................................................................................... 41 5.2. Saran ................................................................................................ 41 DAFTAR PUSTAKA
  9. 9. 9 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Jumlah Pegawai Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Profesi ........................................ 22 2. Alat Penunjang Yang Digunakan Untuk Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus C.V) di BBIS Sei Tibun Kab. Kampar ............... 24 3. Jumlah Luas dan Jenis Kolam di BBIS Kampar........................................... 25 4. Kisaran Kualitas Air Pembenihan Ikan Baung di BBBIS Kampar................ 26 5. Kandungan Nutrisi Pakan Induk Ikan Baung ............................................... 28 6. Data Hasil Seleksi Induk Ikan Baung Betina BBIS Kampar......................... 29 7. Dosis Hormon, Waktu Penyuntikan dan Striping .......................................... 30 7. Fersentase Pembuahan Telur Ikan Baung .................................................... 33 8. Hasil Perhitungan Penetasan Telur Ikan Baung ........................................... 35 9. Tingkat Kelulushidupan Larva Ikan Baung Setelah 15 Hari......................... 37 10. Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Larva Ikan Baung ............................ 39
  10. 10. 10 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Bagan Organisasi Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar ...................... 21 2. Penyuntikan Induk Ikan Baung Matang Gonad.......................................... 31 3. Proses Striping Induk Ikan Baung Yang Siap Ovulasi .............................. 32 4. Fertilisasi Telur Induk Ikan Baung YangTelah Ovulasi ............................. 32 5. Akuarium Sebagai Wadah Penetasan Telur Induk Ikan Baung .................. 34 6. Larva Ikan Baung Setelah 15 Hari Penetasan ............................................ 38
  11. 11. 11 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha pembenihan merupakan usaha yang sangat penting pada sektor budidaya perikanan, karena dalam faktor penyediaan benih adalah mutlak. Kekurangan benih ikan adalah kendala bagi peningkatan produksi. Secara umum dapat dikemukakan bahwa kelemahan kegiatan pembenihan terletak pada rendahnya kelangsungan hidup yang biasanya disebabkan oleh kekurangan makanan, adanya perubahan suhu yang besar, faktor cahaya, salinitas, dan kadar oksigen terlarut. Salah satu faktor yang juga merupakan kelemahan dalam pembenihan adalah besarnya kisaran temperatur antara siang dan malam hari. Kegiatan yang benar-benar terkontrol tidak boleh lebih dari 32˚C. Persiapan pembenihan merupakan langkah awal pendukung tercapainya peningkatan suatu usaha perikanan. Sesuai dengan tuntutannya upaya yang dilakukan untuk mempersiapkan pembenihan sangat erat kaitanya dengan penyediaan induk ikan, bahan penempel telur dan wadah pemijahan. Penyedian benih ikan dalam kualitas yang memadai merupakan salah satu syarat mutlak yang dapat menentukan suatu keberhasilan usaha pembenihan (Rohadi, 1996) Pengelolaan usaha pembenihan meliputi beberapa kegiatan yaitu; seleksi induk, pemijahan, penetasan, perawatan larva, dan pendederan (Pribadi et., al dalam Miswanto, 2002). Dalam pembangunan usaha budidaya perikanan, maka penyedian benih yang bermutu tinggi dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau oleh petani ikan sangat diperlukan, karena itu mendirikan balai benih ikan dalam skala
  12. 12. 12 kecil tidak saja dapat dilakukan oleh pemerintah tapi juga pihak swasta (Dahril dalam Sarisman, 2002) Benih ikan yang diperoleh dengan cara pembenihan tradisional, tingkat keberhasilan masih sangat terbatas (rendah), dimana kemampuan petani masih terbatas. Untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam usaha budidaya ikan, pengolahannya perlu ditingkatkan dengan cara memijahkan induk secara buatan dan telur yang diperoleh ditetaskan secara terkontrol untuk mendapatkan benih yang lebih banyak dan berkualitas baik. Menurut Susanto (1996) upaya menunjang keberhasilan usaha ikan baung, salah satu faktor yang menentukan adalah ketersediaan benih yang memenuhi syarat baik kualitas, kuantitas maupun kontiniutasnya. Dengan demikian ketersediaan benih merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya air tawar. 1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari praktek magang ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pembenihan ikan baung (Mystus nemurus CV) secara buatan di Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun Desa Padang Mutung Kabupaten Kampar. Selain itu menemukan permasalahan yang ada dan mencari alternatif pemecahan masalah tersebut. Dari hasil praktek magang ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, sehingga ilmu yang diperoleh bisa dijadikan bekal ke masyarakat dalam menyongsong dunia kerja.
  13. 13. 13 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biologi dan Ekologi Ikan Baung (Mystus nemurus CV) Secara taksonomi ikan baung diklasifikasikan kedalam filum Chordata, kelas Pisces, Sub kelas teleostei, Ordo Silunformes, Sub ordo Siluroidae, Famili Bragridae, Genus Mystus dan spesies Mistus nemurus CV ( Kottelat et,al., 1996). Ciri morfologi ikan baung menurut Djuanda (1981), adalah mempunyai empat sungut peraba, sepasang diantaranya panjang sekali dan terletak di sudut rahang atas dan mencapai dubur. Sirip punggung mempunyai dua buah jari-jari keras dan runcing menjadi patil. Kepala besar dengan warna tubuh abu-abu kehitaman, pungggung lebih gelap dan perut lebih cerah serta panjang tubuhnya dapat mencapai 50 cm. Calon induk untuk ikan baung mempunyai kisaran berat antara 200 -750 gr memerlukan waktu 2-3 tahun dengan ciri-ciri yaitu untuk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perutnya yang relatif membesar dan permukaan kulit lembut dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut, bila telur yang keluar sewaktu pengurutan berbentuk bulat penuh, berwarna agak kecoklatan maka induk dalam kondisi siap pijah. Untuk mengetahui kematangan gonad ikan jantan dapat dilihat papilanya yang terletak di belakang anus mendekati sirip anus, bila pipilnya di bagian ujung berwarna merah dan menyebar ke arah pangkal, maka ikan tersebut telah matang kelamin.
  14. 14. 14 2.2. Pemijahan Ikan Baung (Mystus nemurus CV) Ciri-ciri ikan baung jantan adalah lubang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang agak meruncing ke arah ekor. Alat ini mungkin sebagai alat bantu dalam mentransfer sperma saat melakukan pemijahan, sedangkan pada ikan betina lubang genital berbentuk bulat. Lubang ini akan bewarna kemerahan bila mengandung telur yang telah matang (Alawi et al., 1990). Dalam hal reproduksi dan perkembangannya, ikan baung (Mystus nemurus CV) tergolong phytopil, telur-telur yang bersifat adhesive melekat pada tumbuhan perairan atau benda lainnya. Memiliki dinding telur yang relatif tebal dan rongga perivifellin yang relatif sempit. Embrio yang baru menetas melekatkan diri pada tanaman dan menggunakan kelenjar tertentu. ikan baung (Mystus nemurus CV) melakukan pembuahan diluar tubuh (external spawning). Telur ikan baung (Mystus nemurus CV) yang telah dibuahi oleh sperma akan bewarna jernih dengan kisaran garis tengah 1,4-2,04 mm (Hoda dan Tsukahara, dalam Widiyati, 1983). Bila telur tidak dibuahi akan bewarna putih keruh karena kuning telur pecah dan menutupi ruang perivitellin akhirnya telur tersebut akan mati. Kematian telur atau embrio selain disebabkan tidak terbuahi juga karena adanya serangan jamur, bakteri, dimakan predator atau karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan berkembangnya telur. Telur yang mati segera akan ditumbuhi jamur yang dapat membahayakan telur yang masih hidup (Woynarovich dan Horvath, 1984). Setelah kolam pemijahan disiapkan dan diberi kakaban yang diletakkan melayang di dalam kolam yang telah diseleksi dengan perbandingan 1 : 1.
  15. 15. 15 Terjadinya pemijahan ditandai dengan kejar mengejar sepasang induk, kemudian seperti berpelukan dan saat itulah telur dan sperma dikeluarkan oleh masing- masing induk. Proses pemijahan berlangsung 10-15 kali dengan waktu 3-6 jam. Setelah telur kelihatan menempel di kababan induk-induk ikan tersebut dipindahkan (Susanto,1992). Waktu yang paling tepat untuk pembuahan telur ikan adalah segera setelah sel telur keluar dari alat kelamin betina dan dinyatakan pula bahwa telur yang sudah matang tiba di air, telur segera mengembang karena masuknya air. Kemudian mikropil akan terbuka jika sperma yang aktif. Bagian kepala sperma akan masuk sedangkan bagian ekornya akan lepas. Setelah sperma melebur dengan inti sel telur protoplasma akan mengalir ke tempat spermatozoa masuk, kemudian akan terjadi pembelahan sel (Effendie, 1997). Hardjamulia et al,. (1982), menyatakan bahwa kecuali faktor lingkungan, kematian telur ikan baung juga disebabkan oleh sifat adhesif dari telur tersebut. Sering dijumpai telur ikan baung satu sama lainnya melekat dan membentuk gumpalan yang dapat mengurangi daya tetas telur. Gumpalan tersebut mengganggu perkembangan telur dengan baik sehinga sukar untuk mendapatkan oksigen yang cukup. Keadaan ini yang menyebabkan telur tersebut mati,sehingga telur yang menetas sedikit. Jhingran dan Pullin (1988) menyatakan bahwa sifat adhesive ini dapat dihilangkan dengan menggunakan larutan 30 gr Urea ditambah 40 gr NaCL dalam 10 liter air selama 0,5 jam dan setiap 5 menit dilakukan pergantian larutan pencuci.
  16. 16. 16 2.3. Penetasan dan Pendederan Nuraini (2001) menyatakan bahwa proses penutupan blastopor kemudian masuk kepada fase perkembangan embrio. Tanda-tanda aktifitas embrio ikan terlihat dari pergerakan dan sering kali merupakan bagian yang penting dalam proses penetasan. Proses ini terlihat bila embrio telah lebih panjang dari lingkaran kuning telur. Selama penetasan, larva bergerak-gerak sampai lepas dari kapsul telur, dan membutuhkan suhu yang cocok dan suplai oksigen yang cukup. Penetasan telur merupakan proses pemisahan larva ikan dari cangkangnya yang sering terjadi pada waktu yang sama dan dipengaruhi oleh keberadaan oksigen, cangkang telur yang dapat menghambat filter penyakit, kualitas air dan sifat alami larva yang berenang secara aktif dan tidak aktif. Selanjutnya larva berkembang, dimana saat menetas tidak memiliki mulut, gelembung renang belum terisi, alat pencernaan belum sempurna dan ukuran yolk berpacu pada perkembangannya, serta selalu tanpa figmentasi. Setelah larva berkembang disiapkan fasilitas penampungan larva seperti aquarium, bak, happa, incubator besar, dan kolam kecil serta lingkungan harus kaya oksigen, bersih, bebas dari predator, serta temperatur stabil (Alawi, 1995). Arie (1996) menyatakan wadah penetasan untuk menetaskan telur dan perawatan larva dalam aquarium. Aquarium ini berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 50 cm. sebelum digunakan aquarium dibersihkan dan diisi air bersih setinggi 30 cm, diberi aerasi dan pemanas air. Menurut Afrianto dan Liviawaty (1992), aquarium tersebut dapat dibersihkan dengan menggunakan larutan Kalium Permanganat (PK) dosis (3-20
  17. 17. 17 ppm)atau dapat juga dilakukan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan senyawa chlorine yang banyak dijual toko kimia. Susanto dan Amri (2001) menyatakan telur disebarkan di dalam aquarium yang disiapkan sebelumnya, yang diberi air bersih dan diaerasi. Selanjutnya diusahakan telur ikan jangan sampai menumpuk karena berakibat telur akan membusuk, oleh karena itu telur disebarkan dengan menggunakan bulu ayam agar telur tidak pecah. Menurut Susanto (1996), untuk mengatur suhu tempat penetasan agar tetap konstan dapat digunakan heater dan thermostat pada tempat penetasan atau dapat juga dilakukan dengan cara memasukkan air segar ketempat penetasan sehingga akan menstabilkan suhu air. Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan larva ikan baung umur 10 hari sampai ukuran benih yang siap untuk disebarkan. Kegiatan pendederan meliputi persiapan kolam, penebaran benih, pengelola rutin dan pemanenan (Arie, 1996). Pemeliharaan di kolam pendederan berlangsung selama 14 hari, kemudian dipanen dengan cara menyurutkan air kolam secara perlahan-lahan sampai batas ketinggian tertentu. Benih diambil sedikit dan ditampung di bak. Benih yang berukuran 1-2 inchi (Pittaros dan Sitasit, 1976).
  18. 18. 18 2.4. Makanan Vitamin E mempunyai peranan yang sangat penting dalam fisiologi reproduksi ikan. Telah diuji pengaruh pakan yang mengandung vitamin E terhadap kandungan vitamin E dalam tubuh, pemijahan, daya tetas telur dan mortalitas larva yang menetas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada kelompok ikan yang diberi pakan yang mengandung vitamin E yang rendah, sepertiga dari jumlah induk ikan betina tidak memijah sedangkan yang lainnya memijah secara keseluruhan. Vitamin E yang berasal dari pakan, dibawa dan akan diakumulasikan ditelur dan sangat membantu kelangsungan hidup larva (Tang, 2000). Makanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ikan. Untuk merangsang pertumbuhan, diperlukan jumlah dan mutu makanan yang tersedia dalam keadaan cukup serta sesuai dengan kondisi perairan (Asmawi, 1986). Makanan yang didapat oleh ikan digunakan untuk kelangsungan hidup, kelebihannya baru untuk pertumbuhan. Jadi kalau menginginkan pertumbuhan yang baik maka yang diperhatikan sejumlah makanan yang melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuh (Jangkaru, 1974). Ikan baung tergolong kepada ikan pemakan segala (omnivore), tetapi lebih cenderung suka kepada jenis insekta air dan ikan mengarah kepada pemakan daging (karnivora). Hal ini juga terlihat besarnya mulut ikan baung yang merupakan ciri-ciri dari ikan pemangsa atau predator. Insekta air yang banyak dimakan oleh ikan baung adalah family cyprinidae yaitu insekta air sejenis kumbang yang hidup di perairan tenang atau ikan motan (Tynnichthys sp), kapiek
  19. 19. 19 (Puntius sp), dan selais (Siluroides sp), disamping itu ikan baung juga memakan cacing air (Tubifex sp), udang (Macrobranchium sp), lipas air dan detritus (Alawi et. al, 1990). 2.5. Kualitas Air Menurut Tang (2000), suhu 270C (suhu kamar) memberikan hasil terbaik bagi kelangsungan larva ikan baung. Hasil ini memberikan harapan bagi kegiatan pembenihan skala rumah tangga, karena tidak diperlukan alat khusus untuk meningkatkan suhu air. Demikian juga dengan salinitas kisaran optimal ialah 0-3 ppt. Air sebagai media hidup haruslah diperoleh dengan mudah dan mengalir dalam sejumlah yang cukup sepanjang tahun dengan kualitas yang baik, namun jumlah tidak boleh berlebihan yang dapat mengakibatkan banjir (Suseno,1977). Menurut Lesmana (2001), gas yang dapat larut dalam air ada berbagai macam, yaitu oksigen (02), karbondioksida atau asam arang (CO2), nitrat (NO3), nitrit (NH3), ammonium (NH4) dan asam sulfide (H2S). Menurut Susanto (1996), batas toleransi berbagai parameter kualitas air yang tidak membahayakan untuk ikan-ikan yang berada di daerah tropis adalah suhu air yang optimum berkisar antara 25-300C, sedangkan perbedaan siang dan malam hari tidak boleh lebih dari 50C. pH air yang optimum 6-8,6 atau berkisar antara 4-9, oksigen terlarut berkisar antara 5-6 ppm, phospat lebih kecil dari 0,02 ppm dan mengandung Nitrogen dalan NH3 kurang dari 1,5 ppm.
  20. 20. 20 Kualitas air memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap survival dan pertumbuhan larva. Menurut Sulistidjo, Nontji dan Soergiarto (1980), rendahnya reproduksi benih ikan karena sifat fisika dan kimia air yang digunakan pada tempat pembenihan kurang baik. Beberapa parameter fisika dan kimia perairan yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan adalah suhu, konsentrasi oksigen terlarut, karbondioksida, amoniak, pH, alkalinitas dan kekeruhan. 2.6. Hama Dan Penyakit Sunyoto (1994) menyatakan bahwa penyakit didefinisikan sebagai gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh. Penyakit dapat menyebabkan kematian, kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konfersi makanan pada padat penebaran yang lebih rendah dan hilangnya atau menurunnya produksi. Suyatno (1983) dalam Rita (2003), menyatakan telur ikan sangat mudah terserang jamur. Pencegahanya dapat dilakukan dengan menggunakan Malachite Green yaitu setelah pemijahan, kakaban yang telah dilekati telur-telur ikan dipindahkan dari tempat pemijahan, kemudian direndam dalam larutan Malachite green. Waktu perendaman 0,5-1 jam dengan dosis 1 gram serbuk Malachite Green yang dilarutkan dalam 1,5 liter air.
  21. 21. 21 III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Waktu dan Tempat Praktek magang ini dilaksanakan pada tanggal 27 Maret hingga 27 Juni 2009 bertempat di Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Sungai Tibun Desa Padang Mutung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 3.2. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktek magang pembenihan ikan Baung di Balai Benih Ikan Sungai Tibun, Padang Mutung Kabupaten Kampar meliputi: a). Peralatan pemijahan, seperti : alat suntik, baki, timbangan, baskom, ember, kain lap, gelas ukur, gunting, bulu ayam, serokan, jaring, bak fiber, akuarium, blower, dan pompa air. b). Peralatan panen, seperti : ember, hapa, serokan, jaring, cangkul, saringan, dan skop net. c). Peralatan pengepakan, seperti : plastik, karet gelang, dan tabung oksigen. d). Peralatan penunjang, seperti : Termometer, dan heater. Bahan yang digunakan untuk proses pemijahan adalah: Induk ikan Baung (Mystus nemurus C.V), Zat perangsang (ovaprim), Larutan fisiologis (NaCL 0,9%), Pelet dan pakan hidup. Peralatan ini sebelum dan sesudah digunakan terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan air bersih, dikeringkan dan disimpan pada tempat yang kering, terutama peralatan pemijahan tcrlebih dahulu disterilkan untuk menghindari adanya bibit penyakit. Peralatan dan bahan ini dipersiapkan untuk membantu memperlancar kegunaan pemijahan yang telah dipersiapkan
  22. 22. 22 sebelumnya. Fasilitas dan bahan-bahan ini telah tersedia dalam panti benih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pembenihan Baung tersebut. 3. 3. Metode Praktek Metode praktek yang digunakan adalah metode survei dan praktek langsung, dimana pengamatan, pelaksanaan praktek dan pengambilan data dilakukan secara langsung di lapangan. Teknik pembenihan pada ikan Baung ini meliputi pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, dan perawatan benih. Selain itu juga melakukan wawancara dengan petugas lapangan berdasarkan daftar kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dimana metode tersebut termasuk kedalam data primer. Perhitungan persentase telur terbuahi dilakukan dengan metode sampling yaitu dengan cara akuarium yang telah dipersiapkan untuk tempat menebar telur yang telah dibuahi pada bagian bawahnya dibagi kolom sebanyak 10 kolom dengan menggunakan spidol berwarna hitarn, setelah dilakukan penebaran telur kemudian dihitung pada 5 bagian kolom saja kemudian dikali dengan banyaknya kolum. Telur ikan Baung menetas lebih kurang 25 jam. Setelah telur menetas, panen larva dilakukan dengan cara menyipon larva dari akuarium ke dalam baskom penampungan dan dipisahkan dari telur yang tidak menetas. Agar larva tidak stres panen dilakukan secara perlahan dan baskom tempat penampungan larva diberikan aerasi agar larva tidak kekurangan oksigen. Larva yang telah ditampung ke dalam baskom penampungan, dihitung dan selanjutnya dimasukkan kedalam akuarium pemeliharaan yang berukuran 80 x 60 x 40 cm, sebelum
  23. 23. 23 dimasukkan ke dalam akuarium terlebih dahulu akuarium dilakukan penyiponan untuk membuang telur yang tidak terbuahi dan dilakukan juga penggantian air. Metode yang digunakan dalam perhitungan kelulusan hidup larva ikan Baung adalah dengan metode sensus yaitu perhitungan dilakukan secara satu persatu dari larva. Untuk menghitung persentase pernbuahan, penetasan telur dan kelulusan hidup larva dihitung berdasarkan rumus yang dikemukanan Alawi (1994) yaitu : a. Fertilisasi Rate (FR) Jlh Telur yang Terbuahi FR (%) = x 100 % Jlh Telur Sampel b. Hatching Rate (FR) Jlh Telur Menetas HR (%) = x 100% Jlh Telur Terbuahi c. Survival Rate (SR) Nt SR (%) = x 100 % No Keterangan : SR = Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah larva akhir pengamatan (ekor) No = Jumlah larva awal pengamatan (ekor 3. 4. Prosedur Magang 3.4.1. Bak Penampungan Bak penampungan berupa fiber bulat berdiameter 1,5 m dengan volume air 1000 liter air yang digunakan untuk menampung induk sementara
  24. 24. 24 sebelum induk dipijahkan. Sebelum digunakan fiber dibersihkan terlebih dahulu kemudian diisi air, lalu diberi aerasi selama 1 hari. 3.4.2. Akuarium Akuarium digunakan sebagai tempat penetasan telur. Sebelum digunakan akuarium terlebih dahulu dibersihkan kemudian diisi air, diberikan aerasi selama 1 hari. Akuarium yang digunakan terbuat dari kaca dengan ukuran (80 x 60 x 40) cm³. 3.4.3. Pengelolaan Induk Proses pemijahan tidak terlepas dari persedian induk, dimana dalam pembenihan ketersedian induk yang baik dan sehat akan menghasilkan benih yang baik pula. Induk yang dipijahkan dalam praktek magang ini berasal dari koleksi induk yang ada di Balai Benih ikan Padang Sentral Sei Tibun Mutung Kab. Kampar. Pemeliharaan induk ikan baung dilakukan di kolam penampungan dengan menggunakan keramba ukuran 5 x 2 x 1,5 m3. Kolam pemeliharaan dilengkapi dengan sirkulasi air yang berguna untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air. Selama pemeliharaan induk ikan diberi pakan buatan berupa pelet tengggelam mengandung kadar protein 29-30 %, sebanyak 3-5 % dari total biomasa dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yakni pada pagi hari pukul 08.00 WIB. 3.4.4. Seleksi Induk Matang Gonad Kegiatan seleksi induk adalah memilih induk yang baik dan siap untuk dipijahkan untuk mendapatkan induk yang benar-benar siap dipijahkan perlu dilakukan pemberokan hal ini bertujuan untuk mengurangi kandungan lemak yang
  25. 25. 25 ada pada tubuh induk ikan yang dapat mengganggu proses keluarnya telur pada saat proses striping. Selain itu berfungsi juga untuk mengetahui induk yang benar- benar matang gonad atau hanya kekenyangan sehingga bagian perut membesar. Selama proses pemberokan induk ikan tidak diberi makan atau dipuasakan selama 3 hari, setelah pemberokan induk yang buncit lantaran kekenyangan bakal mengempis perutnya, sedangkan induk yang benar-benar siap memijah tetap membesar. Perbedaan antara ikan baung jantan dan ikan baung betina dapat diketahui dengan cara; pada ikan baung jantan lubang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang meruncing ke arah caudal, organ ini berperan sebagai alat bantu untuk mengeluarkan sperma saat melakukan pemijahan. Sedangkan pada ikan betina, lubang genital bulat berwarna kemerahan bila ikan tersebut telah mengandung telur pada tingkat kematangan gonad IV ( Alawi et al., 1992). Lebih jelasnya lagi untuk mengetahui tanda kematangan gonad induk ikan baung dapat dilihat dengan adanya bagian perut relatif membesar, ikan betina yang matang gonad bila diurut telur yang keluar bulat sempurna berwarna kecoklatan, sedangkan pada ikan jantan yang matang gonad papilanya berwarna merah, tidak selalu mengeluarkan sperma apabila diurut. 4.4.5. Pemijahan Induk yang telah ditangkap dan diseleksi diadaptasikan terlebih dahulu di dalam bak fiber sebelum dilakukan pemijahan, sedangkan hormon yang digunakan pada pemijahan ini yaitu dengan menggunakan hormon ovaprim. Dilakukan dua kali penyuntikan yaitu Penyuntikan I pada pukul 21.00 malam dan penyuntikan II dilakukan pada pukul 03.00 subuh. Waktu ovulasi terjadi
  26. 26. 26 berkisar antara 6-8 jam setelah penyuntikan ke II. Dosis hormon yang di gunakan yaitu 0,7 cc/kg induk ikan betina dan 0,5 cc/kg ikan jantan. 3.4.6. Penetasan telur Penetasan telur merupakan proses pemisahan larva ikan dari cangkangnya yang sering terjadi pada waktu yang sama dan dipengaruhi oleh keberadaan oksigen, cangkang telur yang dapat menghambat filter penyakit, kualitas air dan sifat alami larva yang berenang secara aktif dan tidak aktif. Selanjutnya larva berkembang, dimana saat menetas tidak ada mulut, gelembung renang belum terisi, alat pencernaan belum sempurna dan ukuran yolk berpacu pada perkembangannya, serta selalu tanpa figmentasi. Setelah larva berkembang disiapkan fasilitas penampungan larva seperti aquarium, bak, happa, inkubator besar, dan kolam kecil serta lingkungan harus kaya oksigen, bersih, bebas dari predator, serta temperatur stabil (Alawi, 1995). Pada saat kemampuan larva masih sangat terbatas ternyata kuning telur merupakan sumber nutrien dan energi utama bagi larva. Oleh karena itu volume kuning telur, ukuran tubuh dapat menunjukkan keberhasilan larva melewati fase kritis dalam siklus hidupnya (Tang, 2000). 3.4.7. Pemeliharaan larva Pemeliharaan larva dilakukan dalam akuarium. Larva berusia dua hari diberi pakan berupa pakan alami yaitu artemia, dan pada usia tiga hari diberi pakan berupa Tubifek selama sepuluh hari, dosis pemberian pakan 0,5 % dari berat tubuh, dengan frekwuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari. Kekurangan pakan selama pemeliharaan diketahui
  27. 27. 27 sebagai penyebab kematian ikan. Oleh karena itu dalam pemeliharaan larva lebih membutuhkan perhatian yang intensif. 3.4.8. Kualitas Air Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara melakukan penyiponan sekali dalam sehari yaitu setiap pagi hari sebelum diberi pakan dan pengontrolan suhu air antara 28-31°C yang dilakukan setiap saat dan pH 6,5- 7. 3.4. 9 Analisa Data Data yang diperoleh dari hasil magang ditabulasi dalam bentuk tabel, kemudian dianalisa secara deskridtif untuk memberikan gambaran tentang tehnik pembenihan, Kemudian dicari pemecahan terhadap permasalahan yang ditemui serta dibahas sesuai dengan permasalahan yang ada.
  28. 28. 28 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum 4.1.1. Sejarah Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar Balai Benih Ikan Sentral Sungai Tibun Secara struktural berada dibawah Balai benih Perikanan (BBIP) terbentuk berdasarakan peraturan daerah (PERDA) No. 12 Tahun 2001 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau yang berada di daerah Sungai Tibun Desa Padang Mutung Kabupaten Kampar. 4.1.2. Posisi dan keadaan Iklim Secara geografis daerah kabupaten kampar terletak pada bahagian tengah, memanjang dari punggung Bukit Barisan sebelah Barat sampai ke Pantai Timur pulau Sumatera, mengikuti aliran Sungai Kampar dengan posisi berada antara 1º 25’ LU dan 02’ LS serta 100º 42’ dan 103º 28 BT. Batas admistratif daerah Kampar adalah.  Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Sumatera Barat  Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Riau  Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis  Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hilir. Pusat pemerintahan kabupaten Kampar adalah Bangkinang yang berjarak 64 km dari ibu kota Provinsi Riau Pekanbaru. Daerah ini terdiri dari 19 kecamatan dan 384 desa/kelurahan, dengan luas daerah keseluruhannya sekitar 30.563,79 km² atau sekitar 29 % dari luas Provinsi Riau.
  29. 29. 29 Iklim di daerah Kabupaten Kampar hampir sama dengan daerah lain di Provinsi Riau yang secara keseluruhan dipengaruhi oleh angin musim, dimana pada bulan Desember sampai bulan Maret bertiup angin laut, sedangkan pada bulan Mei sampai Bulan Oktober bertiup angin Barat Daya. Rata-rata cuaca hujan hanya sebanyak 2.868,7 mm pertahun dengan curah hujan tertinggi terjadi di daerah bukit barisan dan semakin menurun ke arah pantai. Kabupaten Kampar merupakan daerah yang sebahagian besar wilayah adalah daratan Rendah 75% yang membentang sepanjang aliran Sungai Kampar, sedangkan sisanya 25% merupakan daratan tinggi yang terletak di daerah bahagian barat berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat. Di kabupaten ini ditemukan tiga buah sungai yang tergolong besar yaitu: Sungai Rokan (Rokan Kiri dan Rokan Kanan), sungai kampar (Kampar Kiri dan Kampar Kanan) serta Sungai tapung yang merupakan bagian hulu dari Sungai Siak, dan banyak sekali anak-anak sungai yang bermuara pada Sungai besar tersebut. Disamping itu terdapat juga sejumlah danau tapak kuda dan genangan air yang terbentuk sebagai akibat dari bendungan irigasi. Diperkirakan areal yang tergenang secara periodik adalah 291.482 Ha dan tergenang secara terus menerus 1.938 Ha. 4.1.3. Tugas dan Fungsi Balai Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun sebagai unit peleksana Dinas Perikanan dan Kelautan mempunyai Tugas pokok; melaksanakan penerapan teknik pembudidayaan ikan air tawar, pelestarian sumberdaya induk dan benih ikan serta lingkungan. Dalam melaksanakan tugas BBIS kampar menyelenggarakan Fungsi:
  30. 30. 30 a. Pengembangan SDM aparatur pemerintahan bidang perikanan b. Pengadaan sarana dan prasarana c. Rekayasa teknologi pembenihan ikan d. Penyediaan induk dan benih ikan air tawar yang berkualitas e. Pengembangan sertifikat benih ikan air tawar f. Pengembangan system informasi perikanan khususnya untuk para pembenih g. Penerapan teknologi pembenihan ikan yang ramah lingkungan h. Kerja sama dengan stakehorder i. Peningkatan penerimaan Negara Bukan Pajak Disamping adanya kepala balai benih dan seksi-seksi diatas, tenaga pelaksana juga berperan penting dan sangat dibutuhkan demi kelancaran serta kemudahan dalam menjalakan tugas. Di Balai Benih Ikan Kampar jumlah tenaga pelaksana berjumlah sepuluh orang orang. Tenaga tersebut kurang mencukupi jumlahnya bila dibandingkan dengan banyaknya kegiatan yang ada sehingga masih membutuh banyak tenaga.
  31. 31. 31 4.2. Struktur Organisasi KEPALA BALAI BAGIAN LAYANAN BAGIAN TATA TEKNIK USAHA Gambar 1. Bagan Organisasi Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar Secara struktur organisasi Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Sei Tibun berada di bawah Balai Benih Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, terdiri dari kepala balai, tata usaha, dan bagian pelayanan teknik. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Benih Ikan Sei Tibun memiliki susunan organisasi agar dapat berjalan dengan lancar. Organisasi tersebut di pimpin oleh bapak Ir. Masril M.Si selaku kepala balai dan dibantu oleh seksi- seksi, sub bagian tata usaha, dan bagian pelayanan teknik. a.Tata Usaha Bagian tata usaha mempunyai tugas melaksanankan penyusunan rencana program dan angaran, pengolahan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan dan pengaturan penggunaan barang milik negara. b. Bagian pelayanan teknik Bagian pelayanan teknik mempunyai tugas melaksanakan penyiapan standar teknik, alat dan mesin pembenihan, pembudidayaan, pengendalian hama dan penyakit ikan air tawar, pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk dan benih ikan air tawar, kegiatan pengkajian, penerapan teknik dan pemantauan, serta pengawasan pembenihan dan pembudidayaan ikan air tawar.
  32. 32. 32 4.2.1. Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia sebagai tenaga pelaksana sangat berpengaruh terhadap kerberhasilan usaha budidaya air tawar. Dalam melaksanakan tugas teknik maupun administrasi, Balai Benih Ikan Kampar menggunakan system pemilihan sesuai dengan keahlian dan keterampilan masing-masing karyawan Tingkat pendidikan merupan salah satu faktor penting yang mana sangat menentukan kemampuan seseorang tenaga kerja dalam menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baik itu secara umum maupun secara khusus terutama dalam usaha pembenihan dan budidaya ikan. Tabel 1. Jumlah Pegawai Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Profesi Pendidikan No Status Jumlah S II SI SLTA SMP 1 PNS 1 1 1 - 3 2 Honor - - 7 1 8 Sumher : Laporan Tahunan Balai Benih Ikan Sei Tibun , 2009 Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tenaga kerja di Balai Benih Ikan Sei Tibun Kampar bervariasi, mulai (SMP) sampai Perguruan Tinggi atau Strata 2 (S2). Dilihat dari tingkat pendidikannya pegawai BBIS Kampar ini didominasi oleh Tenaga kerja yang berpendidikan SLTA. Disamping adanya kepala balai benih dan seksi-seksi diatas, tenaga pelaksana juga berperan penting dan sangat dibutuhkan demi kelancaran serta kemudahan dalam menjalankan tugas. Di Balai Benih Ikan Kampar jumlah tenaga pelaksana berjumlah sepuluh orang. Tenaga tersebut kurang mencukupi jumlahnya bila dibandingkan dengan banyaknya kegiatan yang ada sehingga
  33. 33. 33 masih membutuh banyak tenaga kerja agar mampu memproduksi serta melestarikan berbagai spesies ikan yang memiliki nilai ekonomis. 4.2.2. Fasilitas Bangunan Balai Benih Ikan Sentral Kampar Pengadaan barang inventaris di Balai Benih Ikan Sentral Kampar berasal dari dana APBD dan APBN yang dikelola oleh unit Balai Benih Perikanan (BBP) sesuai struktur organisasi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau. Pengelolaan barang inventaris tersebut diserahkan kepada pegawai yang ditunjuk tugasnya menerima, menyimpan, memelihara serta mendistribusian kepada pegawai yang menggunakannya. Balai Benih Ikan Sentral Kampar memiliki fasilitas –fasilitas pendukung kerja seperti: alat transportasi berupa kendaraan roda empat dan roda dua. Kemudian yang dilengkapi dengan penerangan melalui jaringan listrik dan sebagai antisipasi disediakan genset apabila jaringan PLN padam. Fasilitas laboratorium yang dimiliki Balai Benih Ikan Sentral Kampar adalah Laboratorium pakan alami sebagai tempat untuk mengkultur pakan alami, laboratorium parasit dan penyakit ikan sebagai tempat untuk memeriksa hama dan penyakit ikan. Selain itu terdapat fasilitas bangunan sebagai sarana pendukung Kantor, Mess Operator, Gudang pakan, Aula pertemuan, Rumah dinas. Alawi ( 1994), menyatakan bahwa fasilitas pembenihan memerlukan peralatan yang cukup, terutama bangsal heatchery, bak induk, bak pemijahan, bak penetasan, bak pemeliharaan larva, bak makanan aerator, bak pembagian air, bak pengendapan air, heater serta kantor.
  34. 34. 34 4.3. Sarana dan Prasarana Untuk mendukung kegiatan Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Kampar secara keseluruhan, maka BBIS Kampar dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh BBI Kampar sampai tahun 2009 meliputi : 4.3.1. Panti Benih (Hatchery) Pada BBIS Sei Tibun Kampar terdapat satu unit Hatchery dimana sarana ini difungsikan sebagai panti pembenihan untuk semua komunitas perikanan air tawar seperti: ikan baung, ikan patin, dan ikan lele. dengan Fasilitas penunjang yang ada di hatchery adalah sebagai berikut; b. Alat Penunjang Untuk menunjang dalam operasional produksi ikan Baung di Balai Benih Ikan Di desa Padang Mutung diperlukan beberapa alat sebagai sarana tambahan. Sarana tambahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2.Alat Penunjang Yang Digunakan Untuk Pembenihan IkanBaung (Mystus nemurus C.V) di BBIS Sei Tibun Kab. Kampar Keperluan Alat Ukuran Pemindahan benih Scoopnet 450-500 mikron Nampan 40 x 30 cm Sendok plastik 3 buah Pemberian pakan Ember 5 liter Gayung 1 liter Ayakan tepung 450 mikron Gelas ukur 250 ml Alat sipon wadah Selang 0,5; I dan 3 cm Pemindahan air Pompa air 1 buah Pengukur suhu Thermometer Celcius Pembersih wadah Spon 3 buah
  35. 35. 35 Sarana penunjang dalam suatu usaha budidaya merupakan hal yang sangat mempengaruhi proses produksi. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa jumlah sarana yang digunakan sebagai penunjang hatchery di BBIS Kampar cukup memadai atau sudah memenuhi syarat untuk melakukan pembenihan. a. Sistem Aerasi Dalam kegiatan pembenihan ikan Baung diperlukan sistem aerasi untuk menjaga agar kadar oksigen terlarut selalu baik (>1 ppm). Aerasi yang diperoleh berasal dari blower dengan kapasitas 85 watt, dimana penggunaannya dilengkapi pipa PVC berdiameter ½ inch sebagai penyalur yang dihubungkan dengan selang aerasi yang dilengkapi dengan stop kran dan batu aerasi ke setiap wadah budidaya. c. Perkolaman Sedangkan fasilitas perkolaman serta luas kolam di BBIS Sei Tibun Kab. Kampar dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Jumlah, Luas dan Jenis Kolam di BBIS Kampar. No. Macam kolam Satuan Luas Jenis Kolam Jumlah M2 (Unit) 1. Kolam penampungan 4.250 Beton 1 2. Kolam pengendapan 1.400 Beton 1 3. Kolam Pendederan 3/50 Beton 10 4. Kolam induk 4/00 Beton 5 5. Kolam calon induk 4.50 Beton 3 6. Bak Pembenihan 2.18 Beton 6 7. Kolam pembesaran 400 Beton 5 Total Kolam: 31 Unit Sumber : Balai Benih Ikan Sentral Sei. Tibun Padang Mutung Kab. Kampar Berdasarkan tabel 3, jumlah kolam dan macam kolam yang ada di Balai Benih Ikan Sentral Sei Tibun Kabupaten Kampar telah mencukupi dan memenuhi syarat untuk pembenihan ikan.
  36. 36. 36 d. Sumber Air Air merupakan komponen utama dalam kegiatan pembenihan ikan. Sumber air untuk kegiatan pembenihan berasal dari resapan air sungai sekitar Balai Benih Ikan yang ditampung dalam waduk/reservoir melalui beberapa tahapan. Tahap pertama dari sumber air yang kemudian dialirkan ke bak penampungan, lalu ke bak pengendapan berupa bak semen berukuran 1.400 m². Kolam memiliki saluran pemasukan dan pengeluran berupa pipa paralon berdiameter 6 inchi. Saluran keluar diarahkan ke dasar kolam dengan menyambungkan paralon berbentuk huruf L. Air untuk pembenihan digunakan Air jernih kualitas air pembenihan ikan baung di BBIS kampar dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4. Kisaran Kualitas Air Pembenihan Ikan Baung di BBBIS Kampar No. Parameter Air Penetasan Perawatan Larva 1. Suhu 28 - 30 ºC 27-29 ºC 2. Oksigen terlarut 6 – 7 ppm 6 - 7 ppm 3. pH 6,5 - 7 6,5-7,5 Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa kualitas air Pembenihan iakan baung di BBIS sangat mendukung untuk usaha pembenihan, karena hasil pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan setiap harinya hampir sama dengan pendapat Murtidjo et al., dalam Rita. (2003) besarnya pH yang baik untuk kehidupan ikan berkisar 6,5-7.
  37. 37. 37 4.4. Teknik Pemeliharaan Induk Ikan Baung 4.4.1. Pemeliharaan induk Proses pemijahan tidak terlepas dari persedian induk, dimana dalam pembenihan ketersedian induk yang baik dan sehat akan menghasilkan benih yang baik pula. Induk yang dipijahkan dalam praktek magang ini berasal dari koleksi induk yang ada di BBIS Padang Mutung Kab. Kampar. Sebelum induk ikan baung dipijahkan, terlebih dahulu induk tersebut dipelihara dan dirawat sebaik mungkin agar menghasilkan benih yang berkualitas baik. Ikan baung diperkirakan memijah pada sekitar bulan Oktober sampai Desember seperti halnya sebagian ikan memijah diperairan umum pada awal atau sepanjang musim penghujan, misalkan ikan-ikan catfish (Bardach, Ryther dan melamey; (1972) Pemeliharaan induk ikan baung dilakukan di kolam penampungan dengan menggunakan keramba ukuran 5 x 2 m. Dengan kedalaman 1,5 m padat tebar 230 ekor dengan bobot 400-900 gr/ ekor. Kualitas air kolam induk adalah: pH 6,8 suhu 28-31 ºC. Kolam pemeliharaan dilengkapi dengan sirkulasi air yang berguna untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air. Selama pemeliharaan induk ikan diberi pakan buatan berupa pellet tengggelam mengandung kadar protein 29- 30%, sebanyak 3-5 % dari total biomasa dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yakni pada pagi hari pukul 08.00 WIB. Dari hasil pengamatan saat praktek magang, pada waktu pemberian pakan ikan baung akan menyambar setiap makanan yang diberi. Meskipun ikan baung tergolong aktif malam hari (nocturnal), namun telah dibiasakan untuk makan pada pagi hari, sehingga hal ini tidak lagi menjadi masalah bagi pegawai Balai Benih
  38. 38. 38 Ikan Sentral Sei Tibun Kab Kampar dalam mengatasi pemberian pakan ikan baung yang bersifat nocturnal. Table 5. Kandungan Nutrisi Pakan Induk Ikan Baung Komposisi Jumlah (%) Protein 29-30% Lemak -4 % Serat -8% Abu -12% Kadar Air -12% Sumber: Label Kemasan Pakan 888-S PT.Central Proteina Prima 4.4.2. Seleksi Induk Untuk mendapatkan induk yang benar-benar siap dipijahkan perlu dilakukan pemberokan hal ini bertujuan untuk mengurangi kandungan lemak pada induk ikan yang dapat mengganggu proses keluarnya telur saat distriping. Selain itu berfungsi juga untuk mengetahui induk yang benar-benar matang gonad atau hanya kekenyangan sehingga bagian perut membesar. Selama proses pemberokan induk ikan tidak diberi makan atau dipuasakan selama 3 hari, setelah pemberokan induk yang buncit lantaran kekenyangan bakal mengempis perutnya, sedangkan induk yang benar-benar siap memijah tetap buncit Sebelum melakukan penyuntikan, perlu dilakukan penyeleksian terhadap induk yang akan disuntik. Penyeleksian induk ditujukan untuk mendapatkan induk yang telah matang gonad TKG IV dan siap untuk disuntik agar terjadi ovulasi pada ikan betina dan spermiasi pada ikan jantan. Perbedaan antara ikan baung jantan dan ikan baung betina dapat diketahui dengan cara; pada ikan baung jantan lubang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang meruncing ke arah caudal, organ ini berperan sebagai alat bantu
  39. 39. 39 untuk mengeluarkan sperma saat melakukan pemijahan. Sedangkan pada ikan betina, lubang genital bulat berwarna kemerahan bila ikan tersebut telah mengandung telur pada tingkat kematangan gonad IV ( Alawi et al., 1992). Lebih jelasnya lagi untuk mengetahui tanda kematangan gonad induk ikan baung dapat dilihat dengan adanya bagian perut relatip membesar, ikan betina yang matang gonad bila diurut telur yang keluar bulat sempurna berwarna kecoklatan, sedangkan pada ikan jantan yang matang gonad papilanya berwarna merah, tidak selalu mengeluarkan sperma apabila diurut. Menurut Sukendi (2001), ciri-ciri induk Baung yang telah matang gonad adalah: a. Induk Betina, Perut relativ lebih besar dengan permukaan yang lembut, Ujung lubang genital berwarna merah, dan Bila diurut telur akan keluar berwarna agak kecoklatan. B. Induk jantan, Perut lebih langsing, ujung lubang genital meruncing, dan bila diurut akan mengeluarkan cairan semen yang berwarna bening. Setelah dilakukan penyeleksian induk matang gonad, induk-induk ikan tersebut ditimbang untuk menentukan dosis hormon yang digunakan untuk penyuntikan. Induk yang berhasil diseleksi sebanyak tiga ekor induk betina, sedangkan induk jantan sebanyak 7 ekor. Tabel 6. Data Hasil Seleksi Induk Ikan Baung Betina BBIS Kampar No. Uraian Induk 1 (gr) Induk 2(gr) Induk 3 (gr) 1. Berat (gram) 700 700 450 2 Panjang Total (cm) 40 cm 43 cm 40 3. Warna telur Kuning kecoklatan Kecoklatan Kecoklatan 4. Keseragaman telur Tidak seragam Seragam Seragam 5. Keadaan perut Besar Besar Besar
  40. 40. 40 Dari Tabel 6 diketahui ada 2 kriteria warna telur ikan baung yaitu kuning kecoklatan dan kecoklatan, sedangkan warna telur induk ikan baung yang berada pada tingkat kematangan gonad IV yaitu berwarna kecoklatan, dan ukurannya seragam. 4.4.3. Teknik Pemijahan Pemijahan ikan baung di BBIS Kampar dilakukan secara buatan yaitu dengan rangsangan hormon, penyuntikan dilakukan secara intramuscular (Di dalam otot atau daging) yang dilakukan persis di belakang pangkal sirip pungung dengan kemiringan jarum suntik 45º. Hormon yang digunakan yaitu Ovaprim dengan dosis 0,7 ml/kg pada induk betina dan 0,5 ml/kg induk jantan, alasan penggunaan hormon ini yaitu biaya, waktu dan tenaga dapat lebih hemat, hormon ini juga selalu tersedia dalam kemasan yang steril. Tabel 7. Dosis Hormon Waktu Penyuntikan dan Striping Induk Jenis Berat Dosis Hormon dan Waktu Waktu Hormon Induk Penyuntikan (ml) Striping (gr) I Waktu II Wakt (wib) u Betina Ovaprim 700 0,49 21.00 0,49 03.00 09.00 Betina Ovaprim 700 0,49 21.05 0,49 03.07 09.07 Betina Ovaprim 450 O,31 21.11 0,31 03.15 09.17 Jantan Ovaprim 850 - - 0,42 03.00 09.15 Jantan Ovaprim 750 - - 0,37 03.07 09.10 Jantan Ovaprim 900 - - 0,45 03.12 09.00 Jantan Ovaprim 850 - - 0,42 03.15 09.03 Penyuntikan Induk betina dilakukan sebanyak dua kali, Penyuntikan pertama dilakukan setengah dosis, dan penyuntikan kedua juga setengah dosis. Ponyuntikan kedua dilakukan 6 jam setelah penyuntikan pertama. Sedangkan
  41. 41. 41 untuk induk jantan penyuntikan dilakukan hanya satu kali saja yaitu pada waktu penyuntikan kedua induk betina. Gambar 2. Penyuntikan Induk Ikan baung Matang Gonad Penyuntikan dilakukan dengan dua orang, satu orang melakukan penyuntikan satu orang lagi memegang ikan agar tidak terlepas dari jarum suntik. Ikan yang telah disuntik dimasukkan ke dalam happa berukuran 1,5 m x 1 m yang dialiri air mengalir, setelah 6 jam dari penyuntikan ke dua kemudian induk distriping. Induk yang siap distriping menunjukkan tanda-tanda, ikan menjadi kurang aktif berenang, selalu berada di permukaan air. Sebelum melakukan striping terlebih dahulu mengelap air yang ada pada tubuh induk hal ini ditujukan agar tubuh ikan tidak licin. Proses Striping induk betina dilakukan dengan cara pengurutan, dimulai dengan menekan perut ke arah lubang kelamin, dilakukan berulang–ulang hingga telur benar-benar habis. Sebelumnya terlebih dahulu dipersiapkan alat-alatnya seperti, bulu ayam untuk mengaduk telur, mangkok untuk menampung telur yang diovulasi, sebelum alat tersebut digunakan harus dalam keadaan kering dan steril.
  42. 42. 42 Gambar 3. Proses Striping Induk Ikan Baung Yang Siap Ovulasi Proses pengeluaran semen dari induk jantan dilakukan secara bersamaan dengan striping pada induk betina. Cara yang digunakan hampir sama dengan proses pengambilan telur induk betina, induk dipegang oleh dua orang. Seorang memegang di bagian ekor dan seorang lagi di bagian kepala. Sperma dikeluarkan dengan cara memijat bagian perutnya ke arah kelamin (Gambar 3), telur dan sperma ditampung dalam sebuah mangkuk kering dan steril. Setelah telur dan semen diperoleh dengan cara striping, selanjutnya dilakukan Fertilisasi secepatnya. Gambar 4. Fertilisasi Telur Induk Ikan Baung Yang Telah Ovulasi
  43. 43. 43 Fertilisasi dilakukan dengan cara mencampurkan sperma yang diperoleh dari induk baung jantan dengan telur yang diperoleh dari induk baung betina (gambar 4). Pada waktu yang bersamaan dilakukan pengenceran sperma dengan cara penambahan larutan NaCl fisiologis 0,9% sebanyak 100 ml yang bertujuan untuk memperbesar volume sperma, telur diaduk secara berlahan-lahan dengan mengunakan bulu ayam. Selanjutnya telur yang telah dibuahi ditaruh pada media penetasan aquarium berukuran 80 x 60 x 40 penebaran telur dilakukan dengan mengunakan bulu ayam, pada saat penebaran aerasi harus sudah dalam keadaan mati hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penggumpalan telur yang mengakibatkan telur tidak menetas dan membusuk. Tabel 8. Fersentase Pembuahan Telur Ikan Baung No. Jumlah Telur Sample Jmlh Telur Terbuahi Jmlh Tidak Terbuahi FR % 1. 2.815 2015 800 71 % 2. 2.224 1734 543 78 % 3. 1.021 823 198 80 % Dari Tabel 8 dapat dilihat hasil perhitungan jumlah telur yang terbuahi. Pada penghitungan fertilisasi telur ikan baung dilakukan dengan cara menghitung satu persatu, ciri-ciri telur ikan yang terbuahi yaitu; berwarna transparan sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih keruh. Faktor penyebab tidak terbuahinya telur ikan baung pada akuarium I, II dan III diperkirakan disebabkan oleh adanya telur athersia. Bardasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama pegawai balai menjelaskan bahwa, perkembangan gonad ikan baung digolongkan dalam lima tahap yaitu TKG I, II, III, IV, dan V tipe pemijahan pada ikan baung bersifat Partial spawning yaitu spesies ikan yang mengeluarkan telur matang
  44. 44. 44 secara bertahap pada satu kali periode pemijahan, dalam proses pemijahannya telur ikan tidak dikeluarkan semua secara serentak tetapi hanya mengeluarkan telur TKG V Telur sisa merupakan telur yang berkembang kemudian menjadi besar dan apabila tidak dipijahkan akan diserap kembali (atresia). 4.4.4. Penetasan dan perawatan Larva Penetasan telur ikan baung yang telah difertilisasi dilakukan dengan sistem air tenang dalam wadah berupa aquarium berukuran (80 x 60 x 40) m³ sebanyak tiga buah aquarim, dalam keadaan steril (Gambar 5). Menurut Susanto dalam Rita (1996) bahwa syarat utama keberhasilan penetasan telur ikan sangat tergantung pada kualitas air penetasan. Oleh sebab itu selama dalam upaya penetasan telur- telur harus mendapat suplay oksigen yang cukup. Gambar 5. Akuarium Sebagai Wadah Penetasan Telur Induk Ikan Baung Suhu air sangat berpengaruh terhadap lamanya penetasan, telur ikan baung yang telah terbuahi akan mengalami perkembangan embryogenesis, pada suhu 27- 31 ºC, pH 6,5-7,5 telur menetas dalam waktu 24 jam. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu penetasan telur ikan baung di BBIS Kampar yaitu dengan mengunakan thermometer, Untuk menjaga kestabilan air penetasan digunakan alat pemanas heater.
  45. 45. 45 Tang (2000), menyatakan suhu 270C (suhu kamar) memberikan hasil terbaik bagi kelangsungan hidup larva ikan baung. Hasil ini memberikan harapan bagi kegiatan pembenihan skala rumah tangga, karena tidak diperlukan alat khusus untuk meningkatkan suhu air. Telur-telur yang tidak menetas kerap mengeluarkan bau busuk dan mempengaruhi kualitas air. Jika dibiarkan, hal ini akan meningkatkan angka kematian larva. Untuk mencegah hal tersebut telur yang tidak menetas harus segera dikeluarkan dari wadah penetasan. Untuk mengetahui jumlah telur ikan baung yang menetas dilakukan perhitungan satu persatu terhadap larva yang menetas. Hasil perhitungan sample larva dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil Perhitungan Penetasan Telur IKan Baung No. Penetasan Jumlah Telur Terbuahi HR % Media 1 1500 2015 74 % Media 2 973 1734 56 % Media 3 450 823 54 % Dari Tabel 9 dapat dilihat hasil persentase penetasan tertinggi, yaitu pada media pertama sebesar 74 % dari 2.015 telur yang terbuahi, dan penetasan terendah pada media ketiga yakni 54% dari 8.23 telur yang terbuahi rata-rata pentasan 61,3 % . Rendahnya persentase penetasan telur ikan baung di media ke II dan III disebabkan oleh kualitas telur yang kurang baik, kualitas telur yang jelek disebabkan oleh pemberian pakan yang tidak efisien, pakan yang diberikan kepada induk ikan yaitu pakan buatan (Pelet) yang bersifat tenggelam dengan prekuwensi 1 kali sehari pada pagi hari pukul 08.00 WIB. Pakan yang diberikan
  46. 46. 46 tidak termanfaatkan secara baik oleh induk ikan, dan berdampak pada proses pematangan gonad. Telur ikan baung memiliki sifat aldesif dapat melekat pada sesuatu benda, hal ini mempengaruhi keberhasilan penetasan apabila pada saat penebaran telur tidak dilakukan dengan hati-hati. Kegagalan penetasan pada telur ikan baung disebabkan oleh faktor suhu yang tidak stabil, dan adanya penumpukan telur. 4.4.5. Perawatan Larva Pemeliharaan dilakukan setelah panen larva yaitu setelah telur dianggap sudah menetas secara keseluruhan. Panen larva dilakukan dengan mengunakan selang plastik atau serok halus yang ditampung ke dalam baskom selanjutnya dilakukan perhitungan satu persatu. Guna mengetahui jumlah yang menetas, selanjutnya di lakukan penebaran di media pemeliharaan. Larva yang menetas di pelihara dalam akuarium ukuran (80 x 60 x 40) cm³ sebayak 3 unit. Setiap akuarium diisi air bersih dan jernih yang telah diaerasi dengan bantuan blower. Hari pertama penetasan larva tidak diberi makan karena larva yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kuning telur. Pada hari kedua dan ketiga baru diberi pakan tambahan berupa nauplius artemia selanjutnya pada hari ke 3 larva diberi pakan berupa cacing tubifek dengan metode pemberian pakan adbilitum, frekwensi pemberian pakan di lakukan 3 kali perhari yaitu pada pukul 07.30 pukul 12.00 dan pada pukul 16.30 WIB. Menurut pengalaman para staf pembenihan yang ada dibalai Benih Ikan Sentral Sei Tibun, pemberian pakan larva ikan baung setelah tiga hari menetas dapat menimbulkan sifat kanibal, oleh sebab itu untuk mencegah hal tersebut larva diberi pakan perkenalan berupa nauplius artemia pada hari kedua.
  47. 47. 47 Sedangkan cacing tubifek diberikan pada umur tiga hari hingga usia sepuluh hari, namun dari hasil pengamatan yang dilakukan selama praktek magang larva ikan baung belum dapat memakan cacing secara utuh. Untuk memudahkan dalam proses pencernaan, cacing tubifek terlebih dahulu dicincang hingga halus sebelum diberikan. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan kotoran yang mengendap di dasar wadah pemeliharaan, hal ini dilakukan sebelum pemberian pakan. Tabel 10. Tingkat Kelulushidupan Larva Ikan Baung (Mystus nemurus) Setelah 15 Hari Jumlah Larva Jumlah Larva Awal TingkatKelangsungan Aquarium Akhir pengamatan pengamatan Hidup (%) (ekor) (ekor) I 850 1.500 56,66 II 758 973 77,90 III 400 450 88,88 Dari Tabel 10 dapat dilihat tingkat kelulus hidupan larva ikan baung selama 15 hari pemeliharaan, tingkat kelangsungan hidup tertinggi adalah 88,88%, sedangkan tingkat kelulus hidupan terendah adalah sebesar 56,66 %. Menurut Azhar (2003) tingkat kelulus hipupan larva ikan Baung selama pemeliharaan 15 hari adalah sebesar 65 %. Secara keseluruhan penyebab kematian larva ikan baung selama pemeliharaan disebabkan oleh keterlambatan pemberian pakan sehingga menimbulkan sifat kanibalisme larva. Hal ini terbukti dengan adanya temuan sisa bagian tubuh larva pada saat penyiponan. Selain itu kematian larva yang tinggi dikarenakan pada fase kritis stadia larva, terjadi peralihan
  48. 48. 48 pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan pakan dari luar (exogenous feeding). Pakan mempunyai peranan penting pada pertumbuhan individu, untuk meransang pertumbuhan yang baik dan cepat di perlukan pakan yang cukup, mutu yang baik serta kondisi perairan yang mendukung pertumbuhan ikan, ketersedian gizi dalam pakan seperti protein, karbohidrat, vitamin dan air dalam jumlah yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang baik (Mujiman, 2001). Hutapea (2001) menyatakan bahwa besarnya nilai mortalitas larva ikan baung terjadi saat masa kuning telur habis dan larva mulai mencari makanan dari luar. Jenis makanan yang baik dan pemberian pakan tepat waktu merupakan keberhasilan pembenihan. Gambar 6. Larva Ikan Baung Setelah 15 Hari Penetasan Untuk menghitung tingkat kelangsungan hidup dapat dihitung berdasarkan Rumus yang dikemukakan oleh Alawi (1994) Yaitu: SR (%) Jumlah larva akhir pengamatan x 100 % Jumlah larva Awal Pangamatan
  49. 49. 49 4.4.6. Kualitas Air Salah satu faktor yang penting dalam pemeliharaan larva ikan adalah kualitas air, karena air merupakan media hidup bagi larva yang hidup di dalamya juga terdapat bakteri yang sewakru-waktu dapat menyebabkan penyakit pada larva ikan. Dari hasil pengamatan dilapangan didapatkan bahwa kualitas air pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 11 Tabel 11. Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Larva Ikan Baung Aquarium Parameter I II III Suhu 28-30 C 0 0 28-30 C 28-31 0C pH 6-7 6-7 6-7 Kisaran suhu pada saat pengamatan pada tiap aquarium pemeliharaan larva 0 ikan baung antara 28-30 C, pH 6,5- 7,1. Adanya perubahan suhu yang tidak stabil berpengaruh terhadap kehidupan larva ikan baung, bahkan hal dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian kisaran suhu selama melakukan praktek magang telah memenuhi standar untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhsn ikan. Larva baung mempunyai kebiasaan menyebar pada malam hari dan hidup berkelompok serta membentuk gumpalan terutama pada Siang hari, sehingga dapat menyebabkan kematian larva yang berada di bagian dalam karena kekurangan oksigen. Karena itu sistem aerasi harus selalu diperhatikan agar kandungan oksigen terlarut di dalam air akuarium pemeliharaan larva tetap tinggi. Selain itu, agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang
  50. 50. 50 mengendap di dasar akuarium. Penyiponan dilakukan 1 kali sehari, pada pagi hari sebelum pemberian pakan. 4.4.7. Hama dan Penyakit Salah satu faktor penghambat dalam usaha budidaya adalah hama dan penyakit yang sering kali menyerang ikan sehingga dapat menyebabkan terhentinya usaha budidaya. Menurut Sunyoto (1994) penyakit didefinisikan sebagai gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh. Penyakit dapat menyebabkan kematian, kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konversi makanan pada padat penebaran yang lebih rendah dan hilangnya atau menurunnya produksi. Selama pelaksanaan praktek magang di BBIS Sei Tibun Kampar tidak ditemui adanya penyakit yang menyerang pada larva ikan Baung yang dapat menyebabkan kematian. Kematian larva Baung selama pemeliharaan disebabkan karena sifat kanibalisme ikan, karena pada saat penyiponan ditemukan ikan yang sudah mati dan pada bagian badan tertentu sudah tidak ada seperti bagian ekor yang hilang, atau yang tinggal hanya bagian kepalanya saja. Dari hasil wawancara yang dilakukan bersama petugas balai mengatakan Penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/liter.
  51. 51. 51 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Pemijahan ikan baung (Mysrus nemurus) yang dilakukan di Balai Banih Ikan Sentral Sei Tibun yaitu menerapkan sistem pemijahan secara buatan penyuntikan hormon Ovaprim dengan dosis 0,7 ml/kg induk betina dan 0,5 ml/kg induk jantan, hasil praktek magang menunjukan bahwa hasil rata-rata FR: 76,3 % HR: 61,3 SR 15 hari: 73,6 % pakan yang di berikan pada larva yaitu artemia dan tubifek. 5.2. Saran Disarankan untuk memenuhi kebutuhan pakan alami agar mengkultur pakan alami seperti cacing tubifek, kutu air, dan jentik nyamuk, dan tidak lagi bergantung pada alam disamping itu juga disarankan untuk memberikan pakan tambahan. Agar lebih efisen dalam pemberian pakan sebaiknya Induk ikan baung diberi pakan dengan frekuwensi 3 kali sehari.
  52. 52. 52 DAFTAR PUSTAKA Adelina, 2000. Pengaruh Pekan Dengan Kadar Protein Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Sekresi Amonia Ikan Baung (Mysyus nemurus CV). Lembaga Penelitian Universitas Riau. Pekanbaru. 35 hal (tidak diterbitkan) Afriyanto, E dan Liviawati., 1992. Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan. Penerbitan Kanisius, Yogyakarta, 20 hal. Alawi, H, M. Ahmad., C. Pulungan dan Rusliadi., 1990, Beberapa Aspek Biologi Ikan Baung (Mystus nemurus C.V) Yang Tertangkap di Perairan Kampar. Pusat Penelitian Universitas Riau, Pekanbaru. 30 Hal (tidak diterbitkan). Arie, U. 1996. Teknik Pemijatan Lele Bangkok Alias Sijambal Siam. Koran Pertanian Sinar Tani, nomor 25 17 – tahun XXVI. Hal V. Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Cetakan kedua. PT. Gramedia, Jakarta. 44 hal. Azhar, Al., 2003 Teknologi Pemijahan Dan pemeliharaan Larva Ikan Baung (Mystus nemurusC.V) di Instalasi Riset Plasma Nutfah Air Tawar Cijeruk Jawa Barat. Laporan Praktek Magang. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. Universitas Riau. 41 hal (Tidak diterbitkan) Bardach, J. E., J. H. Ryther and W.O. Mclerney. 1972. Aquculture The Farming and Husbanfry Of Freshwater And Merine Organism. Second Edition. Jhon Willey Son. Ny Cesilia, F. 2002. Pertumbuhan dan Kelulusan Larva Baung Dengan Pakan Artemia. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. Djuanda, T., 1981. Dunia Ikan Armico, Bandung. 130 hal. Efendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Bagian I, Study Natural History. Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 105 hal.
  53. 53. 53 Hutapea, S., 2001. Biologi Reproduksi Dan Penegendalian Dalam Upaya Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurusC.V) Di Perairan Sungai Kampar. Riau. Disertai Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor. 217 hal. Jangkaru, Z. 1974. Makanan Ikan Lembaga Penelitian Perikanan Barat. Direktorat Jenderal Perikanan, Bogor. 49 hal. Jhingran, V. G and R. S. V. Pullin. 1988. A Hatchery Manual For Command, Chinese and Indian Major carp. ICLARM Studie and Reviews 11. Manila. 199 p. Kotellat, M. A. J. Whitten S. N Kartikasar dan. Wirjoatmojo., 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi, Periplus Edition. Bogor. 3 hal. Lagler, K. F. J. E Bardach, R. R Willer and D. R. N Passino. 1977. Lehtylogy Secon Edition. Bogor. 3 hal. Lesmana, S. A dan Dermawan, I., 2001. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Penebar Swadaya. 160 hal Miswanto, 2002. Perbenihan Ikan Mas (Cyprinus Carpo L). Laporan Magang Fakultas Perikanan UNRI. 59 hal (tidak diterbitkan). Mujiman, A ., 2001 . Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. 190 hal. Nuraini, 2001. Penuntun Praktikum Manajemen Produksi Pembenihan Ikan. Pekanbaru. 38 hal. Pittaros, M dan P. Sitasit. 1976. Induced Spawning of Pangasius Sutchii Department of Fisheries Bangkok, Thailang. 14 P Rohadi, 1996. Studi Makan dan Habitat Ikan Baung (Mystus nemurus C.V) di Bandung Kuring Waduk Jati Luhur Kabupaten Karawaci. Skripsi Fakultas Perikanan IPB, Bogor (tidak diterbitkan). Sarwisman, 2002. Pembenihan Ikan Jambal Siam. Laporan Magang Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. 52 hal (tidak diterbitkan). Sulistidjo, A. Nontji dan Soegiarto. 1980. Potensi dan Usaha Pengembangan Bididaya Perairan di Indonesia. Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi. Lembaga Oseanologi Nasional LIPI. Jakarta. 154 hal.
  54. 54. 54 Sumantadinata, K. 1993. Pengembangbiakan Ikan-ikan Pemeliharaan di Indonesia Sastra Budaya, Bogor. 132 hal. Suyatno, R. S. 1983 Parasit Ikan dan Cara-Cara Pemberantasannya. Penebar Swadaya . Jakarta Sunyoto, P. 1994 Pembesaran Kerupu. Penerbit Swadaya. Jakarta. 65 hal. Susanto, H. 1992. Membuat Budidaya Ikan di Pekarangan. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. 88 hal. ____________. 1996. Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. Penebar Swadaya, Jakarta. 45 hal. ____________. dan K, AMRI. 2001 Budidaya Ikan Patin, Penebaran Swadaya, Jakarta. 89 hal. Suseno, S. 1977. Dasar-Dasar Perikanan Umum. CV. Yasaguna, Jakarta. 60 hal. Sutisna, D. H dan R. Sutarmanto. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius, Yogyakarta. 135 hal. Tang U. M. 2000. Teknik Budidaya Ikan Baung (Mystus nemurus C.V). 76 hal.(tidak diterbitkan). Widyati, A. 1983. Pengaruh Waktu Dalam Penyimpanan Telur Ikan Baung (Mystus nemurus C.V) Terhadap Keberhasilan Penetasan dan Kelangsungan Larva. Skripsi Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 45 hal. Woynarrovich, E. and L. Horvath. 1984. The Artificial Propagation of Warm - Water Fin Fish - A Manual for Extenstion. FAO Fish. Tech. Pap. 183 p.
  55. 55. 55 LAMPIRAN
  56. 56. 56 Lampiran 1. Dokumentasi Praktek Magang Bak Pengendapan Air Pembenihan Bak Penetasan Yang Ada di BBIS Kampar
  57. 57. 57 Larva Ikan Baung Hasil Penetasan Kolam Pendederan
  58. 58. 58 Peta Kabupaten Kampar
  59. 59. 59

×