• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Kampung kuta dalam teropong antropologi kesehatan
 

Kampung kuta dalam teropong antropologi kesehatan

on

  • 3,028 views

jurnal penelitian antropologi kesehatan

jurnal penelitian antropologi kesehatan

Statistics

Views

Total Views
3,028
Views on SlideShare
3,028
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
52
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Kampung kuta dalam teropong antropologi kesehatan Kampung kuta dalam teropong antropologi kesehatan Document Transcript

    • KAMPUNG KUTA DALAM TEROPONG ANTROPOLOGI KESEHATANDisusun sebagai Laporan Hasil Observasi Kampung Kuta tanggal 11-13 Mei 2010 Oleh : Rahmad Efendi 170510080013 Dwi Rahma Safitri 170510080033 Januar Firmansyah 170510080010 Tuflicatul Ilmiyah 170510080006 M. Arij Syauqi 170510080025 JURUSAN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UN IVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010
    • BAB I PENDAHULUAN Masyarakat Kampung Kuta dikenal sebagai masyarakat yang menjagatradisi yang diamanahkan leluhur mereka. Berdasarkan penjelasan dariKetua Adat Kampung Kuta, tradisi yang dipegang erat tersebut merupakansuatu tradisi yang mengatur hubungan antara masyarakat Kampung Kutadan lingkungan alamnya, yang di dalamnya terkandung segala peraturanagar masyarakat Kampung Kuta senantiasa mau menjaga alamlingkungannya. Tradisi-tradisi tersebut saat ini telah melekat dalam diritiap-tiap masyarakat Kampung Kuta, yang membuat tiap orang di KampungKuta begitu welas asih terhadap alam sekitarnya. Menurut masyarakat Kampung Kuta, alam yang mereka jaga tersebutmerupakan sesuatu yang sangat penting bagi mereka, terutama hutanlarangan yang luasnya lebih dari setengah luas seluruh wilayah KampungKuta sendiri. Masyarakat Kampung Kuta memang membutuhkan hutantersebut demi ketersediaan sumber daya air untuk mereka. Oleh karenaitulah para leluhur memberkan amanat agar generasi penerus selalumenjaga alam kampung Kuta dan hutan keramat tersebut. Akan tetapi, ada suatu hal yang menarik jika kita melihat kondisimasyarakat Kampung Kuta saat ini. Berdasarkan pengakuan Kepala Dusun,selaku pemegang jabatan administratif tertinggi di Kampung Kuta, saat inimasyarakat Kampung Kuta sedang mengalami penurunan jumlah pendudukyang cukup tajam. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Faktor apakah yangmempengaruhinya? Apakah ada hubungan antara amanah-amanah leluhuryang menjadi pedoman bagi kebuduyaan masyarakat kampung Kuta denganfenomena penurunan jumlah penduduk tersebut. untuk menemukanjawaban dari persoalan tersebut, maka dari itu kami mencoba untukmenerangkannya dalam laporan penelitian ini.
    • Bab II Hasil Observasi2.1. Gambaran Lingkungan Alam Kampung Kuta Kampung Kuta merupakan salah satu Kampung adat yang secara administratifberada di wilayah desa Karangpaninggal, kecamatan Tambaksari, kabupaten Ciamis,provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kampung Kuta terletak di bagian timur lautkabupaten Ciamis, berada di lembah yang dikelilingi oleh tebing curam setinggi 30-60meter dengan Ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut. Adapun jarak pusatpemerintahan ke Kampung Kuta sebagai berikut : a. Dari desa Karangpaninggal : 1 km b. Dari pusat pemerintahan kecamatan Tambaksari : 4 km c. Dari ibukota kabupaten/kota Ciamis : 45 km d. Dari ibukota provinsi Jawa Barat (Bandung ) : 179 km e. Dari ibu kota Negara ( Jakarta ) : 578 kmDengan batas wilayah, yaitu: Utara : dusun Margamulya Selatan : desa Bangunhardja Barat : dusun Ciloa Timur : sungai Cijolang/perbatasan dengan kecamatan Dayeuhluhur kabupaten Cilacap, Jateng Luas keseluruhan Kampung Kuta adalah 97 hektar yang terdiri dari 40 hektarmerupakan tanah larangan dalam bentuk hutan keramat dan 57 hektar lagi merupakanlahan pertanian dan perumahan penduduk. Perumahan penduduk di Kampung Kutaterdiri dari 2 RW dan 4 RT.
    • Pembagian fungsi tanah di Kampung Kuta, yakni : - Tanah larangan : berupa hutan keramat yang tidak boleh diganggu - Tanah milik warga : lahan persawahan, perkebunan dan perumahan milik warga - Tanah desa : lahan yang dimiliki desa namun boleh diolah untuk kepentingan warga tapi tidak untuk dimiliki perseorangan Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala dusun, ketua adat dan ketua RW,dijelaskan bahwa lahan yang bisa dimiliki warga sebenarnya terbatas, pembagian lahandiupayakan sama rata. Jika ada warga yang menjual lahannya, baru warga yang lainbisa menambah luas lahannya dengan jalan membeli lahan yang dijual tersebut.Berikut ini adalah alokasi penggunaan lahan, dengan pembagian tanah milik wargaberdasarkan perhitungan luas rata-rata tiap keluarga. - Hutan : 40 ha - Tanah desa : 4 ha - perumahan : 1,5 ha : 112 KK = 133,92 m 2 = 0,13 ha - Kolam : 10 ha : 112 KK = 89,28 m 2 = 0,09 ha - Lahan persawahan : 17 ha : 112 KK = 152,78 m 2 = 0,15 ha - Kebun : 24,5 ha + : 112 KK = 218,75 m 2 = 0,22 ha + 97 ha 0,58 ha /Keluarga
    • Kolam/ Hutan Perkebunan balong Keramat 25% 10% 41% Persawahan 18% Tanah Perumahan Desa 2% 4% Gambar 1 : Alokasi Lahan Di Kampung KutaKeterangan : a. Hutan larangan di Kampung Kuta ini merupakan hutan lindung dengan flora dan fauna yang tetap terjaga keasliannya. Dalam hutan lindung itu masih dijumpai pohon-pohon keras yang berumur puluhan atau mungkin ratusan tahun yang dibiarkan tumbuh subur tanpa diganggu siapapun. selain itu di hutan tersebut juga menyimpan banyak tanaman obatan. Di dalam hutan tersebut juga terdapat banyak mata air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Kuta. Hutan larangan tersebut dijaga secara bersama-sama oleh masyarakat Kuta dengan landasan sebagai bentuk kepatuhan kepada amanah leluhur. Banyak pantangan-pantangan yang mengatur interaksi antara masyarakat dengan hutan ini, termasuk diantaranya tidak boleh sama sekali merusak dengan cara mengambil apapun -selain air/cai karamat- dari hutan. b. Perkebunan di Kampung Kuta memiliki potensi tanaman aren yang sangat besar. Hal inilah yang membuat para pedagang asal Kampung Kuta terkenal dengan produksi gula arennya. Komoditi inilah yang menjadi andalan perekonomian mereka sejak bertahun-tahun silam. Kemudian tanaman yang dikembangkan masyarakat Kampung Kuta antara lain adalah jagung, kacang
    • dan lainnya. Selain itu, tanaman sayuran juga banyak yang dikembangkan dalam lahan perkebunan ini.c. Persawahan di Kampung Kuta memakai sistem pengairan yang berasal dari mata air sekitar Kampung Kuta. Saat ini, pertanian di Kampung Kuta masih mengandalkan bibit padi, racun hama dan pupuk yang dibeli dari luar. Berdasarkan keterangan dari kepala dusun, saat ini produktifitas pertanian di Kampung Kuta telah mengalami penurunan dibandingkan pada waktu dulu. Hal ini menurut beliau terjadi karena lahan ertanian di Kampung Kuta sudah ketergantungan terhadap pupuk, racun dan bibit yang dibeli dari toko tani.d. Kolam ikan/ balong sangat mudah ditemui di Kampung Kuta. Banyak balong- balong yang tersebar di sekitar rumah penduduk. Selain untuk tempat beternak ikan, balong tersebut juga digunakan sebagai tempat mandi, cuci dan kakus (mck) bagi sebagian besar penduduk Kampung Kuta. Pemandian umum dan jamban terletak di atas kolam ikan sehingga rantai kehidupan berjalan baik. Oleh karena itu, di setiap balong biasanya dilengkapi dengan satu unit kamar mandi yang berbentuk bilik bambu di atas balong tersebut, ditambah dengan adanya satu sumber air bersih yang mengalir sepanjang hari. Sumber air bersih di Kampung Kuta berasal dari empat sumber mata air, yaitu Cibanguara, Ciasihan, Cinangka dan Cipanyipuhan, yang dialirkan dengan selang plastik dan bambu ke tempat pemandian umum. Masyarakat hanya memanfaatkan sumber mata air ini untuk semua kebutuhan hidup sehari-hari dan dilarang untuk menggali sumur sendiri. Pelarangan penggalian sumur ini untuk menjaga kondisi air bawah tanah agar selalu baik, bersih dan untuk menjaga tanah yang kondisinya sangat labil. Untuk menjaga kesucian tanah pulalah maka dilarang/tabu melakukan penguburan jenazah di Dusun ini. Untuk penguburan jenazah dilakukan di pemakaman umum Dusun Cibodas, sama seperti Ki Bumi yang juga dikuburkan disana.e. Tanah desa ini disebut warga Kampung Kuta sebagai lahan rambu-rambu. Lahan ini tidak boleh dimiliki orang-perorangan, melainkan dimiliki oleh seluruh warga Kampung Kuta yang digunakan untuk kepentingan mereka. Masyarakat boleh berusaha di lahan tersebut, tapi tidak boleh memilikinya.
    • f. Perumahan masyarakat Kampung Kuta bersifat seperti komplek perumahan. Rumah warga berdekatan dan berkumpul pada satu kawasan saja. tiap rumah biasanya dilengkapi juga dengan halaman yang cukup luas untuk tempat menanam bunga dan tanaman obat.2.2. Gambaran Masyarakat Kampung Kuta Masyarakat Kampung Kuta merupakan salah satu masyarakat adat yang masihteguh memegang dan menjalankan tradisinya yang mematuhi amanat leluhur denganpengawasan kuncen dan ketua adat. Meski demikian, penduduk Kampung Kutamengaku sebagai pemeluk agama Islam yang taat, akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya, ekpresi religi mereka masih diwarnai oleh kepercayaan-kepercayaan bersifatmitos dan animisme. Secara umum, masyarakat Kampung Kuta adalah masyarakat etnis sunda, namunada juga sebagian kecil yang berasal dari etnis jawa, terutama yang datang keKampung Kuta akibat perkawinan dengan warga Kampung Kuta. System perkawinanpada masyarakat Kuta bersifat bebas, boleh endogami dan juga boleh eksogami. Olehkarena itu, ada orang luar yang bisa menetap dan menyatu dengan masyarakat Kuta.Selain itu, menurut ketua adat Kampung Kuta, syarat untuk menjadi warga Kutasebenarnya mudah, cukup dengan menetap selama tiga bulan di Kampung Kutadengan mengikuti semua aturan adat Kuta. Menurut kepala dusun Kampung Kuta, masyarakat Kampung Kuta mengalamipenurunan jumlah penduduk yang cukup besar beberapa waktu belakangan ini.Terhitung sejak tahun 2002 sampai 2010 penduduk yang tinggal di Kuta berkuranghingga 31 jiwa. Dimana pada tahun 2002 warga Kuta berjumlah 358 orang ( dariLaporan Akhir Studi Kehidupan Sosial Budaya Dan Lingkungan, 2002), namunpada tahun 2010 ini hanya tersisa 327 orang ( dari data ketua RW ). Saat ini warga Kutaterdiri dari 112 KK, dengan rincian 185 laki-laki dan 142 perempuan, 327 : 112 = rata-rata 3 orang tiap keluarga.
    • Berdasarkan informasi dari Kepala Dusun, tercatat 301 orang warga Kampung Kutayang telah terdaftar usianya di database kantor Dusun. Dengan gambarannya datanyaadalah sebagai berikut: 55 keatas 75 Jumlah orang 50 s/d 54 52 45 s/d 49 30 40 s/d 44 24 34 s/d 39 10 30 s/d 34 24 25 s/d 29 14 20 s/d 24 21 15 s/d 19 9 10 s/d 14 24 5 s/d 9 8 10 0 20 40 60 80 Gambar 2: Piramida Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok Umur Total : 301 Orang Dari data di atas, meski belum mencakup untuk semua penduduk serta belumdipisahkan antara laki-laki dan perempuan, namun gambaran data di atas telahmenunjukkan bahwa saat ini masyarakat Kampung Kuta sedang mengalamikekurangan generasi penerus. Terlihat bahwa jumlah penduduk yang berumuran mudajauh lebih sedikit dibandingkan penduduk yang sudah tua. Piramida penduduk di atasmasuk pada kategori piramida terbalik yang berarti menunjukkan pertumbuhanpenduduk menurun.
    • Kemudian berikut ini adalah presentase jumlah penduduk berdasarkan kelompokumur (di baca searah putaran jarum). 3% 3% 8% umur 0 s/d 4 3% 25% 5 s/d 9 10 s/d 14 7% 15 s/d 19 20 s/d 24 5% 25 s/d 29 30 s/d 34 17% 8% 34 s/d 39 3% 40 s/d 44 8% 45 s/d 49 10% 50 s/d 54 55 keatas Gambar 3 : Persentase Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok UmurDari data tersebut dapat dilihat bahwa perbandingan antara penduduk usia muda(non-produktif), usia dewasa (produktif) dan usia tua (non-produktif) adalah sebagaiberikut:Usia muda (0-19) : 17 %Usia dewasa (20-49) : 51 %Usia tua ( 50 ke atas) : 42 %Kemudian terdapat juga keterangan tentang perubahan penduduk dalam dua tahunbelakangan ini. Berdasarkan informasi dari perangkat Kampung, masyarakat Kuta daritahun 2008 – 2010 juga mengalami penurunan penduduk. Berikut ini adalah tabel daridata yang kami dapatkan. No Kasus Jumlah Keterangan 1 Mortalitas/Kematian 5 orang 2 orang Jatuh dari pohon 3 orang Sudah lanjut usia, menderita darah tinggi dan
    • penyakit lambung 2 Natalitas/Kalahiran 2 orang 3 Emigrasi/keluar dari 5 orang 1 orang, Mengikuti suami Kampung Kuta 1 orang, Setelah menikah Mengikuti istri 2 orang ( sepasang ), Setelah menikah Pindah ke Jakarta 4 Imigrasi/masuk - - ke Kampung KutaDari sajian data diatas kita dapat menyimpulkan bahwa dari tahun 2008 hingga 2010ini penduduk Kampung Kuta mengalami pengurangan tujuh orang penduduk, yaknidari perhitungan mortalitas+emigrasi dikurangi kelahiran+imigrasi (5+4-2+0= 7).2.3. Gambaran tentang aspek Kesehatan dan Reproduksi pada masyarakat Kampung Kuta2.3.1. Pengetahuan Masyarakat Kuta mengenai aspek Kesehatan Umum2.3.1.1. Pengetahuan masyarakat Kampung Kuta tentang penyakit Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat yang masih menganutkepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan dari makhluk gaib dan arwah para leluhur.Oleh karena itu, keseharian hidup mereka juga ikut dipengaruhi oleh segala larangpantang yang mereka yakini berasal dari para leluhur. Maski tidak mematuhi secaratotal, akan tetapi sebagian besar dari kepercayaan-kepercayaan tersebut masih dijagadan dipatuhi oleh masyarakat Kampung Kuta. Adapun beberapa pengetahuan yangmenyangkut aspek kesehatan dan reproduksi antara lain. Dalam kepercayaan masyarakat Kuta, penyakit muncul karena melanggartabu/pantangan adat yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan hubungan antaramanusia dengan alam. seperti contohnya kalau melanggar pantangan berkeliaran padasenja hari, akan terkena panyekit dari makhluk halus. Alasannya karena Pada
    • pergantian waktu ( siang-malam), adalah waktunya sanekala/makhluk halus keluar danmereka akan menghukumi orang-orang yang masih berkeliaran. Begitu juga halnyapada waktu pergantian waktu ditengah hari. Masyarakat Kuta percaya bahwa leluhur yang membangun Kampung Kutamemunyai kekuatan magis yang masih menjaga setiap penjuru Kampung Kuta.Kekuatan gaib itu terwujud dalam bentuk makhluk gaib yang mereka sebut ambu,rama, raksa dan bima kalijaga. Mereka dipercaya bisa melakukan hal-hal yang tidakdapat dilakukan manusia, seperti contoh membuat orang kesambet, menjalankankutuk bala penyakit dan sebagainya bagi orang-orang yang melanggar tabu/pantanganadat. Kemudian ada tokoh yang meraka sucikan yakni Reksabhumi/Aki Bumi. Akibumi dipercaya sebagai salah satu tokoh sacral yang menjaga ketuguhan adatKampung Kuta. Jika ada yang melanggar, beliau tak segan-segan menegur, baikterhadap pelaku maupun seluruh masyarakat, misalnya dengan memberi penyakityang sulit disembuhkan atau membuat orang tersebut jadi gila. Upaya penyembuhanharus diweruhkan ( diperlihatkan ) berupa permintaan maaf kepada makhluk gaibtersebut. Selain menyakini penyakit yang bersifat gaib, masyarakat Kuta juga menyakiniadanya berbagai penyakit yang diakibatkan karena faktor makanan, lingkungan,musim dan aktivitas harian. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit-penyakityang sudah dikenal secara umum. Beberapa penyakit yang diderita oleh masyarakatKuta, yaitu: 1. Muntaber Dulu sering kali diderita oleh warga adat Kampung Kuta, dan diobati dengan ramuan tumbuh-tumbuhan. Karena keseluruhan warga Kampung adat Kuta yang mengandalkan sumber mata air dari pegunungan setempat ini menjadi suatu indikasi penyakit muntaber itu timbul karena belum ada uji klinis yang menyatakan bahwa air yang dikonsumsi dari pegunungan itu bersih, bisa saja di dalam air tersebut terkandung bakteri Escherichia Coli ( E-coli). Penyakit muntaber ini tidak menjadi wabah hanya sesekali saja menjangkit warga
    • mungkin karena arus yang terbawa dari pegunungan tersebut dan tidak ada catatan kematian yang disebabkan oleh penyakit muntaber ini.2. Panas dalam Panas dalam juga di alami oleh warga Kampung adat Kuta karena pada asupan makan mereka yang kurang mengandung B12 dan zat besi ini bisa dilihat dari keseharian mereka yang hanya makan nasi tahu, tempe dan lalap mereka juga jarang mengkonsumsi buah-buahan.3. Rematik Rematik menyerang warga Kampung adat Kuta karena kebiasaan atau pola hidup mereka yang setelah melakukan aktivitas-aktivitas berat, seperti bekerja keras di sawah, mengambil air nira dan lainnya hingga larut malam lantas langsung mandi malam dengan air dingin. Selain itu disebabkan juga karena masyarakat Kuta terlalu banyak mengkonsumsi sayuran hijau yang memicu bangkitnya asam urat.4. Maag Akibat pola makan yang tidak teratur yang selalu melewat kan jam makan. Kesibukan bekerja para pria Kampung adat Kuta inilah yang menyebabkan pola makan yang tidak teratur sehingga terkena penyakit maag.5. Penyakit Panas Pencetus penyakit ini memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat pada Kampung adat Kuta , polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Udara atau suhu yang dingin pada malam hari malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung mampet, sehingga ia bernafas lewat mulut.6. Chikungunya Penyakit ini pernah menjadi wabah di Kuta, mungkin di sebabkan oleh virus yang di bawa oleh warga pendatang atau wisatawan lokal. Secara medis Chikungunya merupakan sejenis penyakit atau sejenis demam virus yang disebabkan oleh alphavirus dari keluarga Togaviridae. Penyakit ini disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.7. Stroke Penyakit ini disebabkan oleh pola hidup mastarakat adat Kuta yang kurang sehat dan asupan makanan yang kurang bergizi . Stroke merupakan penyakit
    • neurologi yang utama. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker), namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak.2.3.1.2. Pengetahuan masyarakat Kampung Kuta tentang tanaman obat Nama tanaman ManfaatnyaKaca piring, untuk menurunkan panas dan sakit lambungDaun hanteup menbobati sakit pinggang, mulesBrotowali mengobati penyakit dalamPecah beling mengobati penyakit ginjalJambu batu mengobati penyakit mencretNira menyegarkan badanCikur mengobati penyakit batukPenisilin (getah) mengobati luka luarDaun tara obat keseleo, sakir perut, pinggang sakitDaun sirih obat penyakit panasDaun cabeling (pecah beling) mengobati penyakit kencing batuDaun alpukat dan pandan mengobati penyakit darah tinggiDaun pancasona/cingcau mengobati penyakit pinggangDaun kapuk dan daun kaca piring mengobati perut kambung atau penyakit lambungDaun sirih (pucuknya) mengobati penyakit mataDaun kiampet dan daun jambu mengobati penyakit mencret-mencretbijiCangkudu mengobati penyakit stroke, darah tinggiSalihara obat lukaKikoneng mengobati penyakit kuning,Kibangkong, mengobati penyakit batuk keringDaun sembung mengobati penyakit perutujung daun Salak obat batuk
    • 2.3.1.3. Perilaku dalam mengatasi kondisi sakit Dalam kesehariaannya, masyarakat Kuta telah memunyai mekanisme sendiridalam mengatasi kondisi sakit yang sedang mereka hadapi. Pada tahap awal perilakusakit, biasanya masyarakat Kuta mencoba mengobati sendiri dulu sakit yang dirasakan,sakit yang dirasakan biasanya batuk, sakit kepala, sakit gigi, demam panas dan masukangin. Berbekal pengetahuan pribadi dan informasi dari tetangga ataupun kerabat,mereka akan mencari tanaman obat yang kira-kira berguna untuk mengobati penyakittersebut. Jika tanaman obat tidak memberikan perubahan dan sakit terus berlanjut,biasanya kerabat terdekat akan menghadap pada kokolot untuk dimintaipenyembuhannya. Kemudian Kokolot biasanya mendiagnosis penyakit pasiennyadengan menggunakan dua cara, yakni berdasarkan keterangan dari kerabat, ataumelihat langsung kondisi pasien. Setelah diagnosis, kokolot akan menerangkan apapenyakitnya dan apa sebabnya. Untuk sakit yang disebabkan makhluk halus, pasienbiasanya dijampe dan di suruh untuk membayar kesalahan yang mungkin menjadisebab marahnya makhluk halus tersebut. atau untuk penyakit yang disebabkan karenamelanggar pantangan, kesalahan harus melakukan ritual tertentu untuk membeyarkesalahan tersebut. sementara itu jika penyakitnya alami karena factor kondisilingkungan ataupun kesalahan makan, biasanya kokolot akan menyebutkan tanamanapa saja yang harus dikumpulkan untuk kemudian dijampe, diracik dan diberikanpada pasien. Kebanyakan dari proses pengobatan berhenti pada tahap ini, karenaberdasarkan pengakuan warga, setelah diobati kokolot biasanya pasien sembuh lagi.Akan tetapi pada beberapa kasus, pengobatan dilanjutkan ke pengobatan modern dipuskesmas kecamatan. Seperti pada kasus merebaknya chikungunya pada beberapawaktu lampau. Namun pada keadaan yang biasa, masyarakat Kuta jarang mau kepuskesmas ini, alasannya mereka tidak terbiasa dengan pengobatan seperti itu, danbiayanya mahal. Namun pada beberapa kasus, proses pengobatan bahkan sampai ketingkat rumah sakit, biasanya terjadi pada kondisi darurat yang tidak bisa lagiditangani oleh puskesmas. Seperti contoh etika anak pak Udin kecelakaan parah akibatjatuh dari motor, mereka mengobatinya sampai di rumah sakit di kota Bandung.
    • Para pelayan kesehatan di Kampung KutaDalam mengatasi masalah kesehatan, Kampung Kuta punya beberapa orangpenyembuh utama yang mereka panggil dengan sebutan para kokolot Kampung,diantaranya adalah : - Kuncen, pak Maryono dan wakil ketua adat, yakni pak Warja. - Pak Maryono sendiri, selaku kuncen memang sering diminta tolong untuk memohon kesembuhan kepada para leluhur dengan memberi jampe kepada orang yang sakit. Biasanya pak kuncen cukup memberi air putih yang sudah dijampe saja. - Kemudian ada juga tukang urut yang terkenal yaitu pak Dasman dan pak Udin. - Selain para penyembuh/tabib, Kampung Kuta juga memiliki seorang dukun beranak (paraji) yang mereka kenal sebagai seorang wanita yang bernama Tarsih.2.3.2. Pengetahuan Masyarakat Kuta mengenai aspek Kesehatan Reproduksi2.3.2.1. Amanah leluhur yang mengatur masalah reproduksia. pada saat upacara akad nikah, biasanya ada petuah-petuah dari ketua adat yang merupakan amanah dari para leluhur. Petuah tersebut menekankan bagaimana pasangan muda tersebut bisa memanejemen keluarganya dengan baik. Termasuk diantaranya mengatur jumlah anak dan waktu untuk memiliki anak. Adapun bentuk aturan tentang hal itu, yakni: - Kewajiban bagi suami adalah menafkahi keluarganya. Oleh akrena itu suami harus rajin bekerja untuk mendapatkan reski yang layak bagi keuarganya. - Anak adalah amanah dari Allah SWT, karena itu tidak boleh dizalimi karena tidak tercukupkan nafkahnya. Oleh karena itu, jika belum mempunyai reski yang cukup, janganlah dulu memounyai anak. Tunggu reski mencukupi, barulah punya anak. - Anak tidak usah banyak-banyak, cukup satu atau dua saja.
    • b. Bagi wanita yang baru melahirkan atau yang belum ingin punya anak, dianjurkan untuk meminum ramuan untuk mengeringkan peranakan, yakni : Kunir putih, diparut diperas sarinya, Brotowali, teh pahit juga, dan lainnya.2.3.2.2. Paraji di Kampung Kuta, pengetahuan dan perannya Sebagaimana yang dikatakan oleh Foster/Anderson dalam bukunya ‘AntropologiKesehatan’ bahwa para ahli kesehatan pada masyarakat tradisional memperolehkererampilan dan pengetahuan dalam hal pengobatan dari kerabat dekat mereka.Dengan pengetahuan tersebut, mereka dapat mencatat pengaruh makanan dan ramu-ramuan pada para pasien dan saling menukar informasi dengan orang-orang lain yangmemiliki keterampilan serupa; dengan cara ini mereka dapat membangun reputasimereka sebagai penyembuh. Keterampilan dan pengetahuan local tentang kesehatan pada masyarakat Kutajuga kami dapatkan dari seorang wanita berumur 42 tahun bernama Tarsih.Keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh Tarsih bergerak di bidang kehamilandan kelahiran diturunkan oleh neneknya yang dulunya berprofesi sebagai dukun bayi.Orang-orang sekitar memanggilnya dengan sebutan paraji. Walaupun Tarsih bukanorang asli dari Kampung Kuta, tetapi ia tidak segan untuk membagi dan mengabdikandirinya dengan ilmu yang ia miliki di desa yang telah ditempatinya selama 27 tahun.Walaupun umur Tarsih masih terhitung muda, tetapi warga setempat pun percayabahwa Tarsih adalah seorang paraji yang baik di Kampung mereka. Pemerintah daerah Ciamis menetapkan satu bentuk peraturan bahwa Bidan danParaji harus bekerjasama dalam proses kelahiran. Adanya kerjasama yang sinergisantara paraji dan Bidan, tentunya membentuk hubungan yang lebih baik antara paraji,bidan, dan ibu yang melahirkan. Transformasi ilmu pun dapat terjadi diantara dua ahlitersebut. Dalam proses melahirkan, bidan dan paraji memiliki batasanya masing-masing. Biasanya paraji lebih berperan dalam hal kebatinan sedangkan bidan berperanpenting dalam proses kelahiran. Berbagai ritual dilakukan oleh paraji pada ibu yang sedang mengandung. Ritualitu antara lain :
    • 1. Pembacaan sahadat sebanyak tiga kali di detik-detik kelahiran bayi.2. Pembuatan jimat kecil yang berisi bawang putih, kemenyan, rempe,panglai (lengkuas), dan jaringau. Kemudian diselipkan dipakaian dalam sang ibu dengan pembacaan beberapa baris mantra untuk menghindari sang ibu dan anaknya dari gangguan ‘setan kunti’ begitu sebutan yang diberikan oleh Tarsih. Jimat itu digunakan oleh sang ibu seja umur kandungan menginjak usia empat bulan.3. Membiasakan para ibu hamil untuk mengkonsumsi rutin ramuan kunyit, madu, gula, minyak kelapa, dan telur yang di campur selama tiga kali di setiap harinya sebelum makan. Hal ini dilakukan agar diberi kemudahan dalam proses kelahiran.4. Paraji juga melarang para ibu hamil untuk minum minuman yang hangat dan mengkonsumsi obat-obatan baik ringan apalagi keras. Menurutnya ibu hamil harus bersih dari unsure-unsur kimia agar bayinya tumbuh sehat.5. Rajin mengkonsumsi makanan-makanan berserat seperti bayam, katuk , kangkung, dan sayuran hijau lainnya yang diakhiri dengan segelas air kunyit.6. Mengkonsumsi air kelapa hijau agar bayi lahir dalam keadaan bersih.7. Hindari makanan goreng-gorengan. Paraji selanjutnya mengatakan bahwa ibu hamil akan lebih sehat jika mengkonsumsi makanan yang dikukus dan direbus.8. Bagi para ibu yang biasa melakukan ‘nyirih’ saat hamil, kegiatan itu dilarang. Hal itu dilakukan agar nafsu makan ibu tetap terjaga.9. Pembacaan surat Ayat Kursi dan Yasin setiap hari Jumat agar ketenanan selalu menyertai ibu hamil.10. Pengambilan air wudhu yang dilakukan oleh paraji sebelum membantu ibu hamil melahirkan. Perawatan yang dilakukan oleh paraji tidak hanya terhenti setelah proseskelahiran dilaksanaan. Setelah selesai proses kelahiran, paraji biasanya tetapmembantu para ibu untuk memulihkan kondisinya. Paraji biasanya mencatat waktukelahiran bayi lalu menyerahkan catatan tersebut pada bidan untuk pembuatanakte kelahiran. Beberapa hal yang disarankan oleh paraji bagi ibu yang telahmelahirkan adalah : 1. Pembuangan ari-ari bayi ke aliran sungai yang lurus agar kelak anaknya menjadi anak yang panjang umur dan mudah di setiap langkahnya. 2. Penguburan Bali dengan pembacaan beberapa mantera untuk kesempurnaan sang bayi.
    • 3. Pembuatan ramuan Jahe dan Cabai kebun/hutan yang ditumbuk kemudian dimasukan kepada alat kelamin ibu. Ini dimaksudkan agar luka kelahiran cepat terobati. 4. Tidak melakukan hubungan suami istri selama 40 hari. 5. Ibu yang telah melahirkan pun disarankan untuk selalu dalam posisi ‘duduk nyanda’ ketika duduk. Agar struktur rahim kembali seperti semula. Pada praktiknya, dalam membantu proses kelahiran parajilah yang berkunjungke rumah pasiennya. Terkadang jarak bidan yang jauh, menuntut paraji melakukanproses kelahiran seorang diri. Ketika menghadapi proses kelahiran yang sulit, parajipun segera menghubungi bidan untuk membantunya. Alat kelahiran yang dimiliki olehparaji hanya sebuah gunting untuk memotong ari-ari. Berbeda dengan bidan memilikialat-alat yang lebih memadai. Dengan alat-alat dan pengetahuan formal tentangkandungan yang cukup, tentunya bidan dapat menyelesaikan situasi menegangkanyang sedang terjadi. Tarsih pun mempunyai cara yang unik dalam menebak jenis kelamin dari anakyang berada didalam perut ibu. Biasanya ia akan meminta ibu hamil untuk duduk,selanjutnya penebakan jenis kelamin ia lihat dari tegangan bayi pada posisi ibu saatduduk. Jika tegangan itu lebih condong ke kiri, maka anak yang dikandung tersebutberkelamin laki-laki. Sebaliknya, jika tegangan lebih condong ke kanan, maka anakyang dikandung berkelamin perempuan. Sejauh ini Tarsih mengaku bahwa tebakannyaselalu tepat. Paraji tidak mengenal suntik perangsang yang biasanya diberikan oleh bidanpada ibu hamil untuk mempercepat proses kelahiran. Paraji masih memegang teguhbahwa proses kelahiran yang terjadi secara alami akan lebih baik hasilnya. Ketikaproses melahirkan berhasil dilakukan, tetapi ada kejanggalan yang terjadi pada tubuhbayi, tarsih biasanya mengoleskan ramuan jeruk nipis, daun kunir, cikur hangat, dantumbukan beras pada tubuh bayi. Hal lain yang kami rasa sangat menarik adalah cara ampuh yang dilakukanparaji untuk mengatasi bayi yang selalu menangis. Paraji biasanya menggunakan buaharen yang telah dimakan musang lalu dibungkus dalam satu kantong kosongselajutnya diletakkan disamping bayi.
    • 2.3.3. Makanan di Kampung Kuta2.3.3.1. Makanan sehari-hari Makanan sehari-hari masyarakat Kampung Kuta adalah sayur mayur yangbiasanya dikonsumsi dalam bentuk lalapan dan sop sayur. Lalapan yang seringdikonsumsi seperti : Kacang panjang dengan daunnya, Timun, Daun Jintan, Dauncikur, Sampeg ( daun singkong), Surawangi ( kemangi ), Pete dan batang bambu muda.Sedangkan untuk sop mereka sering memasak nangka muda, sukun, kangkung, lobakkol dan sape, terong, melinjo, dan jamur. Kemudian kami juga menemukan bahwamasyarakat Kuta sangat jarang mengkonsumsi daging ikan ataupun ayam. Daripengakuan mereka, meski banyak kolam ikan dan ternak ayam di sekitar rumah, akantetapi ternak tersebut bukanlah untuk konsumsi sehari-hari, melainkan suatu bentuksimpanan yang berguna untuk acara-acara khusus, selain untuk dijual nantinya2.3.3.2. Makanan Sakral Kemudian masyarakat Kampung Kuta juga mempunyai makanan yang khususmereka hidangkan pada acara ritual-ritual tertentu. Mereka menyebutnya makanansajen, adapun jenis-jenis makanannya adalah sebagai berikut : - Kupat lepet ( kupat selamat segi lima ) - Tang-tang angin ( kupat segi tiga dari bambu) - Cai beureum ( teh ) - Cai bodas ( air putih ) - Cai herang/bening ( air mentah ) - Ci kupi pait dan Cikupi manis ( air kopi pahit dan manis) - Bubur beureum (bubur nasi pakai gula merah) - Bubur bodas (bubur nasi pakai gula putih) - Cohok ( nasi dari ujung hasupan/periuk ) - Congcot ( sama dengan cohok ) - Ndog ( telur ) ayam Kampung - Rujakan ( cong, roti, kalapa, cawu raja ) - Supaheun sakumplitna ( cengkeh, apu, gambir, jambe, lemo ) - Tangkueh gula batu ( menyan, siong/rokok bau menyan, sulutu/rokok item )
    • BAB III PEMBAHASAN Para ahli antropologi kesehatan, yang dari definisinya dapat disebutkanberorientasi ke ekologi, menaruh perhatiannya pada hubungan timbal–balik antaramanusia dan lingkungan alamnya, tingkahlakunya, penyakit-penyakiitnya, dan cara-cara dimana tingkahlaku dan penyakit-penyakitnya mempengaruhi evolusi darikebudayaannya melaui proses umpan-balik ( Foster/Anderson, 1999: 14) Sebagaimana fokus penelitian kami sejak awal adalah mencoba untuk melihatbagaimana kondisi lingkungan Kampung Kuta mempengaruhi system budaya yangdibagun oleh masyarakat Kampung Kuta, terutama kebudayaan dalam aspekkesehatan dan reproduksi. Kami ingin melihat bagaimana kerangka determinismeinfrastructure dalam teori cultural materialism Marvin Harris berlaku pada kebudayaanmasyarakat Kampung Kuta. Sejalan dengan hal tersebut, kami juga menggunakanpendekatan ekologis dari para ahli antropologi kesehatan untuk mengupas persoalantesebut. Harris dalam bukunya, Cultural Materialism, 1979, berusaha menjelaskan aspek-aspek pengorganisasian politik dan ekonomi (structure) dan simbol dan ideologi(superstructrure) sebagai akibat kombinasi berbagai variabel yang berkaitan denganpemenuhan kebutuhan bio-psikologi (modes of production and reproduction) dalaminfrastructure . Cultural materialism ini melihat bahwa kelangsungan hidup dari suatupopulasi manusia tergantung kepada bagaimana mereka berinteraksi denganlingkungan alamnya. Dalam proses interaksi tersebut, factor determinan adalahinfrastructure , diatur dalam system social sebagai structure, dan dikuatkan sebagaibentuk keyakinan di dalam suprastucture. Hasil dari proses Interaksi terhadap alaminilah yang melahirkan suatu bentuk kebudayaan mereka, yang diwariskan kepadagenerasi penerus. Sebagai factor determinan, infrastructure mempunyai dua komponen, yakni(1)Mode of production: mencakup teknologi dan aktivitas yang dilakukan untukmengendalikan produksi kebutuhan dasar (produksi bahan subsisten) dan (2)Mode ofreproduction: mencakup teknologi dan aktivitas untuk mengendalikan ukuranpopulasi. Kedua komponen ini dipengaruhi dan ditentukan oleh kombinasi varibel-variabel ekologi, teknologi, dan demografi. Mengapa masyarakat Kuta tidak berani mengganggu hutan yang ada di dekatmereka. Kalau dari jawaban warga Kuta sendiri hal tersebut adalah aturan adat yangmerupakan amanah dari para leluhur yang masih menjaga Kampung Kuta itu. Dari halini terlihat, bagaimana struktur adat telah bermain untuk mengendalikan
    • masyarakatnya untuk tidak mengganggu hutan dengan menggunakan instrumenkepercayaan pada leluhur sebagai penguat. Berdasarkan hasil observasi kami mengenai variabel-variabel ekologi diKampung Kuta, seperti hutan karamat, lahan perkebunan, lahan persawahan,lahankolam, dan lahan perumahan penduduk. Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan lahanuntuk pengembangan kebutuhan warga Kuta hanyalah 49% dari luas lahan tersebut,yakni seluas 57 ha dari 97 ha. Jika dibagi kepada 112 keluarga di Kampung Kuta,masing-masingnya hanya mendapatkan jatah ± 0,5 ha. Keterbatasan ini tentunyaberpengaruh terhadap eksistensi masyarakat Kuta sendiri. Akibat dari keterbatasanlahan inilah yang menjadi tolak ukur masyarakat Kampung Kuta ketika berusahamengendalikan jumlah penduduknya. Di dasarkan pada amanah leluhur, yang merekatakuti sebagai suatu ancaman yang bersifat gaib. Berbagai cara mereka lakukan untukpengendalian jumlah penduduk tersebut, seperti beberapa cara yang telah kamijelaskan pada bahasan bab II. Perilaku-perilaku mereka dalam upaya pengedalian jumlah populasi, sepertipenangguhan waktu memiliki anak, meminum ramuan-ramuan pahit yang berefeknegative terhadap kesehatan reproduksi mereka sendiri. Sehingga pada akhirnyasecara medis, mereka bisa tidak subur lagi untuk bereproduksi. Jika dilihat daripendekatan mode of reproduction, hal tersebut terjadi karena masyarakat Kutaberusaha untuk melakukan pengendalian jumlah populasi. Karena ditakutkan, jikapenduduk semakin banyak, tentu akan membutuhkan banyak sumber daya lahanuntuk keberlangsungan hidup. Oleh karena itu, mereka membuat aturan agar janganmemiliki anak banyak untuk mengurangi persaingan hidup antar-mereka. Namun jika hanya masalah ketersediaan lahan, mengapa mereka tidakmenggunakan lahan hutan yang masih luas? Mengapa mereka malah mengorbankankeinginan-keinginan untuk memiliki keturunan yang banyak, daripada mengolah lahanyang masih tersedia? Mungkin jawabannya adalah mereka sendiri mau tidak mau, sukaatau tidak suka, benar-benar membutuhkan hutan tersebut sebagai sumber kehidupanmereka yang krusial, yakni ketersediaan sumber daya air. Memang tidak salah jika mereka benar-benar mengikuti amanah leluhur yangmereka akui sangat cerdas tersebut. Alasanya memang masuk akal, karena menjagakelestarian hutan sama artinya menjaga kelestarian masyarakat Kuta itu sendiri. Paralelhur Kampung Kuta, sebagai pionir yang membangun Kampung Kuta tersebut,mungkin telah menyadari bahwa alam sekitar Kampung Kuta memang benar-benarbergantung pada ketersediaan air di hutan tersebut. Oleh karena itu, mungkin merekasengaja membuat sebentuk model adaptasi dengan lingkungan dengan caramengendalikan jumlah populasi dan berusaha keras untuk tetap menjaga keberadaanhutan tersebut. Sebagaimana pendekatan Harris, hasil dari proses interaksi itulah yangmenjadi kebudayaan masyarakat Kampung Kuta hingga saat ini, karena selaludiwariskan turun teumurun.
    • Akan tetapi, ada hal yang menjadi persoalan dari system kebudayaan seperti itu.Jika memang kebudayaan tersebut dibentuk sebagai upaya adaptif dalammempertahankan keeksistensian masyarakat Kampung Kuta, lantas bagamana jikamasyarakat Kampung Kuta itu sendiri yang pada akhrnya menjadi semakin sedikit dankekurangan generasi penerus. Apakah ke depannya mereka masih tetap bisa eksis? Berdasarkan hasil observasi, demografi Kampung Kuta saat ini berbentukpiramida terbalik, artinya saat ini masyarakat Kampung Kuta sedang mengalami krisisgenerasi penerus. Dari keseluruhan penduduk, hanya 17 persen penduduk usia muda,jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk usia tua yang mencapai 42 persen,selain 51 persen penduduk dewasa yang sebentar lagi juga akan menjadi tua. Jika dilhat dari kajian dinamika populasi penduduk. Secara umum ada tigamodel dinamika populasi penduduk, yaitu (1) apabila fertilitas lebih tinggi darimortalitas, maka populasi penduduk akan naik sepanjang massa;(2) jika mortalitaslebih tinggi daripada fertilitas, maka populasi penduduk akan turun sepanjang masa:dan (3) jika fertilitas hanya sama dengan mortalitas, angka kelahiran akan samadengan angka kematian, maka jumlah pupulasi penduduk akan konstan, terjadidynamic equilibrium (Iskandar, 2009 : 99). Hal ini sejalan dengan pandangan pendukung ekologi kebudayaan, yangmengemukakan bahwa ciri-ciri kebudayaan, seperti halnya ciri-ciri biologi, dapatdianggap adaptif atau mal-adaptif. Banyak kalangan ekologi kebudayaan berasumsibahwa adaptasi kebudayaan melibatkan mekanisme seleksi secara alami. Pada umumnya, masyarakat tersebut lebih sering bertahan ( survive ) danberhasil berproduksi. Hal ini menunjukkan suatu adaptasi yang lebih baik. Dengandemikian, lingkungan termasuk lingkungan fisik dan lingkungan social, mempengaruhiperkembangan dari ciri kebudayaan, dimana, individu atau populasi yang berperilakutertentu memiliki tingkat perbedaan terhadap keberhasilan survival dan perproduksi.Di lain pihak, berbagai perilaku tersebut dapat juga diwariskan dari suatu generasi kegenerasi lainnya ( Iskandar, 2009 : 49). Melihat kenyataan bahwa saat ini angka pertumbuhan penduduk di KampungKuta sangat kecil, angka kematian dan keluar kampung lebih tinggi dari angkakelahiran dan yang masuk ke kampung. Berdasarkan kajian di atas, berarti kedepannya Masyarakat Kampung Kuta akan mengalami penurunan populasisepanjangan masa. Jadi, memang di satu sisi kebudayaan masyarakat Kuta bersifat adaptif denganjalan menjaga kelestarian alam demi ketersediaan sumber daya. Namun pada sisi lainbersifat mal-adaptif bagi masyarakat itu sendiri, karena dari sistem yang merekakembangkan berakibat menurunnya pertumbuhan penduduk mereka. Disadari atautidak, saat ini, jika masyarakat Kampung Kuta tetap saja dalam keadaan seperti ini,mungkin sebentar lagi akan terancam keeksistensiaannya dalam kehidupan ini.
    • Bab IV KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat kami simpulkan bahwa fenomenapenurunan jumlah penduduk Kampung Kuta merupakan masalah kesehatanreproduksi yang ditimbulkan oleh kebudayaan masyarakat Kampung Kuta yangbersifat mal-adaptif. Amanah-manah yang diciptakan oleh para leluhur yang menjadi dasar kebudayaantersebut diikuti saja tanpa melakukan telaah lebih jauh bagaimana efek dari amanahtersebut. memang secara umum amanah-amanah tersebut mempunyai manfaat besardalam upaya pelestarian alam demi kepentingan masyarakat kuta itu sendiri. Namunada beberapa amanah yang sebenarnya mempunyai dampak negatif terhadapeksistensi masyarakat kampung kuta tersebut. Diantaranya adalah amanah yang menganjurkan menunda waktu untuk memilikianak dan amanah yang menganjurkan para wanita mengonsumsi ramuan yang berefeknegatif terhadap kesuburan reproduksi wanita tersebut. karena hal ini telah menjadisuatu kebudayaan dalam masyarakat kuta, akibatnya terjadilah penurunan jumlahpenduduk yang terus-menerus seperti yang terjadi saat ini. Jika hal ini tidak dirubah, maka penduduk kampung kuta akan mengalami krisisgenerasi penerus, yang berarti masalah besar bagi keberlangsungan masyarakatmereka. Jika masyarakat kampung kuta mengaggap hal seperti ini merupakanpersoalan, saran kami adalah masayarakat kampung kuta harus melakukan perubahanbesar dalam cara pandang mereka terhdap kesehatan reproduksi masyarakatnya. Namun, jika masyarakat kampung kuta menganggap hal ini adalah resiko yang mautidak mau harus mereka tanggung demi kepatuhan pada amanah leluhur, mungkintidak harus dipaksakan juga. Karena disadari ataupun tidak, suka atupun tidak,memang sistem budaya seperti ini sengaja di desain sesuai dengan kondisi lingkungankampung kuta itu sendiri dan demi kepentingan masyarakatnya. Memang hal seperti ini akan susah kita temui pada masyarakat lain, karena ada satuhal istimewa dari masyarakat kampung kuta yang membuatnya berbeda denganmasyarakat lainnya, yakni kebersediaan masing-masing warganya untuk menundukkanego pribadinya dibawah kepentingan dan keberlangsungan hidup masyarakatkampung kuta itu sendiri.
    • Daftar PustakaFoster, George M. & Anderson, Barbara Gallatin. 1999. Antropologi Kesehatan. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta.Hidayati, Nuri. 2008. Kontribusi Ustadz Bahrudin dalam Perkembangan Islam di Kampung Adat Kuta Desa Karangpaninggal, Kabupaten Ciamis (1981-1992). Skripsi S1 Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta.Ihromi, T.O. 1980. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.Iskandar, Johan. 2009. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Padjajaran : Bandung.