Pelestarian Orang Utan Secara Exsitu di Wildlife Rescue Centre Yogyakarta

1,480 views

Published on

Studi Kasus Hukum Kelestarian Lingkungan

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,480
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
35
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pelestarian Orang Utan Secara Exsitu di Wildlife Rescue Centre Yogyakarta

  1. 1. KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM PELESTARIAN ORANGUTAN SECARA EX-SITU DI WILDLIFE RESCUE CENTRE YOGYAKARTA Disusun Oleh :ANDRE BUDIMAN PANJAITAN 10/299097/HK/18432BILAWAL ALHARIRI ANWAR 10/298962/HK/18419BENNY WIJAYA 10/299080/HK/18430CHANDRA PURNAMA PUTRA 10/298854/HK/18403RIZKI AGUNG SAPUTRA 10/305005/HK/18579 YOGYAKARTA 2012
  2. 2. LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yangtinggi. Keanekaragaman hayati ini didukung oleh Indonesia yang merupakan negara tropis.Sebagai negara tropis Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkankeberadaan jumlah hutan yang sangat sangat banyak. Hutan di Indonesia tersebar hampir diseluruh pulau Indonesia, utamanya di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Keberadaan hutantersebut membentuk suatu ekosistem ideal baik bagi hewan maupun tumbuhan. Di Sumatera danKalimantan hutan dihuni oleh banyak tumbuhan dan hewan eksotis. Salah satunya adalahOrangutan Sumatera (Pongo Abelii) dan Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmeus) Dibandingkan dengan kerabatnya di Kalimantan, Orangutan Sumatera menempati daerahsebaran yang lebih sempit. Orangutan Sumatera di Sumatera hanya menempati bagian utarapulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.Sementara itu, di Kalimantan orangutan dapatditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruhhutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam. Populasi orangutan di habitatnya saat ini mengalami penurunan drastis, diperkirakan dalamkurun waktu 10 tahun terakhir populasi tersebut telah menyusut 30-50%. Penurunan populasi itukarena habitatnya telah rusak oleh penebangan liar, kebakaran hutan, tingginya perburuan liarserta perluasan lahan perkebunan (Meijaard, 2001). Manusia dalam melakukan aktivitasnya tidakmemperdulikan keberlangsungan lingkungan sekitar. Dalam kasus perkebunan sawit misalnya,baik di Sumatera maupun di Kalimantan manusia melakukan pembukaan lahan tanpa sesuaiketentuan yang berlaku. Perbuatan manusia yang semata-mata demi keuntungan harusmengorbankan habitat Orangutan. Dengan begitu Orangutan semakin lama semakin terdesak oleh keberadaan manusia. Bahkan,manusia banyak yang menganggap Orangutan sebagai hama pengganggu yang perludimusnahkan. Tren lain yang berkembang di masyarakat adalah menjadikan Orangutan sebagai
  3. 3. hewan peliharaan. Orangutan dianggap binatang eksotis sehingga dapat meningkatkan prestiseterhadap pemiliknya. Fenomena tersebut menyebabkan perburuan dan perdagangan orangutanmarak karena orangutan dianggap komoditas yang menguntungkan. Sebagai satwa asli Indonesia, keberadaan Orangutan dijamin oleh pemerintah. Orangutantermasuk dalam Appendix I CITES yang artinya diakui sebagai satwa langka yang ternacampunah sehingga perlu dilindungi. CITES ini telah diratifikasi oleh Pemerintah RepublikIndonesia dengan Undang-Undang No 43 Tahun 1978 Tentang ratifikasi CITES. Selain ituOrangutan juga dilindungi dengan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang KonservasiSumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Untuk menjaga kelestariannya tetap berjalan serta berkesinambungan, maka diperlukanupaya konservasi satwa dengan langkah-langkah yang benar. Upaya pelaksanaan konservasisatwa meliputi juga unsur lingkungan atau ekosistem satwanya. Ekosistem ini memiliki fungsiyang sangat penting sebagai unsur pembentuk lingkungan satwa, yang kehadirannya tidak dapatdiganti, harus disesuaikan dengan batas-batas daya dukung alam untuk terjaminnya keserasian,keselarasan dan keseimbangan ekosistem satwa (Kuncoro : 2004) Konservasi yang dilakukan dapat berupa konservasi ex-situ maupun in-situ. Konservasi in-situ (dalam kawasan) adalah perlindungan populasi dan komunitas alami. Konservasi ex-situadalah kegiatan konservasi di luar habitat aslinya, dimana fauna tersebut diambil, dipelihara padasuatu tempat tertentu yang dijaga keamanannya maupun kesesuaian ekologinya. Konservasi ex-situ tersebut dilakukan dalam upaya pengelolaan jenis satwa yang memerlukan perlindungan danpelestarian (Johnson 2007). Tujuan dari perlindungan dan pelestarian alam tidak hanya unruk menyelamatkan jenistumbuhan dan binatang dari ancaman kepunahan, akan tetapi mengusahakan terjaminnyakeanekaragaman hayati dan keseimbangan unsur-unsur ekosistem yang telah mengalamigangguan akibat meningkatnya aktivitas manusia yang merambah kawasan hutan alam. Kawasankonservasi ex-situ sama pentingnya dengan kawasan konservasi insitu dan mempunyai peranyang saling melengkapi (Kuncoro, 2004)
  4. 4. Orangutan pada umumnya lebih senang tinggal di hutan hujan tropis dataran rendah sebagaitempat hidupnya, sehingga perlindungan ekosistem tersebut sangat penting untuk menjaminkelangsungan hidup satwa itu. Meskipun Pemerintah telah membangun sistem kawasankonservasi seluas 6,5 juta hektar di Sumatera bagian utara dan Kalimantan Barat, KalimantanTengah, Kalimantan Timur, upaya pengelolaan kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan diluar taman nasional dan cagar alam tidak kalah pentingnya. Di Daerah Istimewa Yogjakarta sendiri lembaga konservasi exsitu yaitu Wildlife RescueCentre Yogyakarta (WRC Yogyakarta). Program utama WRC Yogyakarta adalah rehabilitasidan pemeliharaan satwa terutama orangutan dengan program pendukung yakni pendidikankonservasi, pengembangan ilmu pengetahuan dan kampanye konservasi satwa Indonesia. Sebagai lembaga konservasi satwa maka WRC Yogyakarta mau tidak mau harusmemperhatikan peraturan perundang-undangan terkait konservasi satwa. Undang-undangtersebut antara lain Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya AlamHayati dan Ekosisitemnya, Peraturan Perundang-Undangan (PP) No 7 tahun 1999 tentangPengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Peraturan Perundang-Undangan (PP) No 8 tahun1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar serta serta Peraturan MenteriKehutanan (Permenhut) P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservasi.
  5. 5. RUMUSAN MASALAHBerdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah ditentukan sebagai berikut : 1. Apakah WRC Yogyakarta sudah memadai sebagai lembaga konservasi ditinjau dari Peraturan Menteri Kehutanan P.53/Menhut-II/2006 Tentang Lembaga Konservasi? 2. Bagaimanakah proses pemeliharaan Orangutan di WRC Yogyakarta? 3. Apakah kendala yang dialami oleh WRC Yogyakarta serta bagaiman cara mengatasinya?
  6. 6. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Konservasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa konservasi adalah pemeliharaandan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan denganjalan mengawetkan. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiriatas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upayamemelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use).Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertamayang mengemukakan tentang konsep konservasi. 1 Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kulturaldimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Konservasi jugadapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berartimencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi,konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.2 Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan,sebagai berikut :1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalamjumlah yang besar dalam waktu yang lama.2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial.3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasukmanusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalamkegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatandan latihan.31 http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/konservasi-lahan.html diakses pada tanggal 27 November 2012pukul 20.56 WIB2 http://diandaningeyil.blogspot.com/2011/07/konservasi-lahan.html diakses pada tanggal 27 November 2012pukul 10.58 WIB3 ibid
  7. 7. 4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikanatau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yangakan datang. Pengertian konservasi sumber daya alam hayati menurut pasal 1 ayat (2) UU No 5 Tahun1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dirumuskan bahwa”pengelolalaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatanya dilakukan secara bijaksana untukmenjamin kesinambungan persediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitaskeanekaragaman dan nilainya”. Dengan demikian konservasi dalam undang-undang inimencakup pengelolaan sumber alam hayati, yang termasuk didalamnya hutan. B. Tujuan Konservasi Sasaran konservasi yang ingin dicapai menurut UU No. 5 Tahun 1990, yaitu:1. Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagikelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyanggakehidupan);2. Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnyasehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yangmemungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayatibagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah);3. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjaminkelestariannya. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana, belumharmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasisecara optimal, baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosigenetik, polusi, dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari.
  8. 8. C. Kegiatan-Kegiatan Konservasi Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menurut UU no.5 Tahun 1990dilakukan melalui kegiatan: 1. Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan; Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologisyang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat danmutu kehidupan manusia.Untuk melaksanakan perlindungan sistem penyangga kehidupan , makaPemerintah menetapkan:- wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;- pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;-pengaturan cara pemanfaatan wilayah pelindungan sistem penyangga kehidupan. 2. Pengawetan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan dan Satwa Beserta Ekosistemnya; Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakanmelalui kegiatan:- pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;-pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa bertujuan untuk:a. menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan;b. menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa;c. memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada; Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilakukan melalui upaya:a. penetapan dan penggolongan yang dilindungi dan tidak dilindungi;b. pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta habitatnya;c. pemeliharaan dan pengembangbiakan.
  9. 9. 3. Pemanfaatan Secara Lestari Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.D. Pengertian Lembaga Konservasi Menurut PP no. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa , PengertianKonservasi adalah lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan atau satwa di luarhabitatnya (ex situ), baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah.Lembaga Konservasi mempunyai fungsi utama yaitu pengembangbiakan dan atau penyelamatantumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Disamping mempunyaifungsi utama diatas Lembaga Konservasi juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, peragaandan penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan. Bentuk Lembaga Konservasi ada beberapa macam bentuknya dan kepentingan apa yang adadidalamnya. Menurut PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor :P.31/Menhut-II/2012 TENTANG LEMBAGA KONSERVASI , Lembaga Konservasi dapatberbentuk : Kebun Binatang Kebun binatang adalah tempat pemeliharaan satwa sekurang-kurangnya 3 (tiga) kelas taksa pada areal dengan luasan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) hektar dan pengunjung tidak menggunakan kendaraan bermotor (motor atau mobil). Taman Safari, Taman safari adalah tempat pemeliharaan satwa sekurang-kurangnya 3 (tiga) kelas taksa pada areal terbuka dengan luasan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) hektar, yang bisa dikunjungi dengan menggunakan kendaraan roda empat (mobil) pribadi dan/atau kendaraan roda empat (mobil) yang disediakan pengelola yang aman dari jangkauan satwa. Taman Satwa, Taman satwa adalah tempat pemeliharaan satwa sekurang-kurangnya 2 (dua) kelas taksa pada areal dengan luasan sekurang-kurangnya 2 (dua) hektar.
  10. 10. Taman Satwa Khusus,Taman satwa khusus adalah tempat pemeliharaan jenis satwa tertentu atau kelas taksa satwatertentu pada areal sekurang-kurangnya 2 (dua) hektar Pusat Latihan Satwa Khusus,Pusat latihan satwa khusus adalah tempat melatih satwa khusus spesies gajah agar menjaditerampil sehingga dapat dimanfaatkan antara lain untuk kegiatan peragaan di dalam arealpusat latihan gajah, patroli pengamanan kawasan hutan, sumber satwa bagi lembagakonservasi lainnya dan/atau membantu kegiatan kemanusiaan dan pendidikan Pusat Penyelamatan Satwa,Pusat penyelamatan satwa adalah tempat untuk melakukan kegiatan pemeliharaan satwa hasilsitaan atau temuan atau penyerahan dari masyarakat yang pengelolaannya bersifat sementarasebelum adanya penetapan penyaluran satwa (animal disposal) lebih lanjut oleh Pemerintah. Pusat Rehabilitasi Satwa,Pusat rehabilitasi satwa adalah tempat untuk melakukan proses rehabilitasi, adaptasi satwadan pelepasliaran ke habitat alaminya Museum Zoologi,Museum zoologi adalah tempat koleksi berbagai spesimen satwa dalam keadaan mati, untukkepentingan pendidikan dan penelitian. Kebun Botani,Kebun botani adalah lokasi pemeliharaan berbagai jenis tumbuhan tertentu, untukdimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian dan pengembangan bioteknologi,rekreasi dan budidaya Taman Tumbuhan Khusus,Taman tumbuhan khusus adalah tempat pemeliharaan jenis tumbuhan liar tertentu atau kelastaksa tumbuhan liar tertentu, untuk kepentingan sebagai sumber cadangan genetik,pendidikan, budidaya, penelitian dan pengembangan bioteknologi HerbariumHerbarium adalah tempat koleksi berbagai spesimen tumbuhan dalam keadaan mati untukkepentingan pendidikan dan penelitian
  11. 11. Suatu pendirian Lembaga Konsevasi harus meminta Izin dari kementerian Kehutanan. Adapun Izin Lembaga Konservasi dapat diberikan kepada : Lembaga Pemerintah : Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang konservasi, Badan Usaha Milik Daerah yang bergerak di bidang konservasi, Lembaga Penelitian yang kegiatannya meliputi penelitian tumbuhan dan satwa, dan Lembaga Pendidikan Formal. Lembaga Non Pemerintah : Koperasi, Badan Usaha Milik Swasta yang bergerak di bidang konservasi, Badan Usaha Milik Perorangan yang bergerak di bidang konservasi, dan Yayasan Lembaga Konservasi dapat memperoleh spesimen jenis tumbuhan dan satwa untuk koleksinya, dari : -Hasil sitaan atau penyerahan dari pemerintah atau penyerahan dari masyarakat, -Hibah atau pemberian atau sumbangan dari Lembaga Konservasi lainnya, -Tukar menukar, -Pembelian untuk jenis-jenis yang tidak dilindungi, -Pengambilan atau penangkapan dari alam.4 Lembaga Konservasi sangatlah penting perannya dalam mealakukan upaya pengawetan jenistumbuhan dan hewan sebagaimana yang diamanatkan dalam PP No.7 Tahun 1999 . LembagaKonservasi merupakan suatu langkah konservasi Sumber Daya Hayati yang konkrit danlangsung.E. Pengertian Orang Utan Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar denganlengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan4 http://bksdadiy.dephut.go.id/isi.php?top=3&id=13&ver= diakses pada tanggal 27 November 2012 Pukul 21.00
  12. 12. Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera. 5 Istilah "orang utan" diambil dari katadalam bahasa Indonesia, yaitu orang yang berarti manusia dan utan yang berarti hutan. Orang utan mencakup dua spesies, yaitu orang utan sumatera (Pongo Abelii) dan orang utankalimantan (Borneo) (Pongo Pygmaeus). Yang unik adalah orang utan memiliki kekerabatandekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkatkesamaan DNA sebesar 96.4%. 6 Ciri-ciri orang utan antara lain :1. Memiliki tubuh yang gemuk dan besar,2. Berleher besar,3. Lengan yang panjang dan kuat,4. Kaki yang pendek dan tertunduk,5. Tidak mempunyai ekor.6. Memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter.7. Tubuh orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan.8. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi9. Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun besar, rambut menjadi panjang dan janggut disekitar wajah.10.Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.11. Berat orangutan jantan sekitar 90 kg, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 60 kg.12. Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari.13. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia. Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse.Golongankera besar masuk dalam klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yangmengarah kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman.5 http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 21.03 WIB6 Ibid
  13. 13. Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu Orangutan Kalimantan / Borneo (Pongo pygmaeus) dan 7Orangutan Sumatra (Pongo abelii). Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis AsiaTenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia.Mereka biasa tinggal di pohon yang lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan dan rantingyang ada di pohon itu.Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan kering,perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanahkering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan.7 http://www.seaworld.org/animal- diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 21.09 WIB
  14. 14. Kasus PosisiLagi, Orangutan diselamatkan dari pemeliharaan ilegal8Rabu, 24 November 2010, oleh Gloria Samantha Tim dari International Animal Rescue (IAR) menyelamatkan seekor orangutan berumur13 tahun yang hidup dalam kandang di rumah seorang warga di Kalimantan Barat pada Jumat(19/11). Inilah penyelamatan berikutnya setelah pada akhir Oktober lalu, IAR menyelamatkanorangutan betina bernama Mely. Orangutan bernama Monte itu menjalani hidup dalam kandang selama 12 tahun.Walaupun kandang itu cukup besar agar ia bisa berdiri, Monte tetap dirantai. Pemiliknyakhawatir Monte, yang semakin dewasa, semakin kuat untuk mendobrak pagar kandang. Orangyang memelihara Monte mengaku mendapatkannya dari seorang pemburu liar 12 tahun yanglalu. Ia kini sudah berada di pusat rehabilitasi IAR di Ketapang, Kalimantan Barat, bersamadengan 17 ekor orangutan lain. Mereka ditempatkan pada pusat transit sebelum dibawa ke lokasibaru, tempat mereka akan direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan ke habitat alaminya. Menurut Direktur Veteriner IAR Indonesia dr. Karmele Sanchez, Monte menderitamalnutrisi. "Saat tiba di Ketapang, untuk berjalan dan memanjat tali dalam kandang saja kakinyabahkan gemetar," papar dr. Karmele. Memelihara orangutan merupakan tindakan melanggar hukum. Menurut Undang-UndangRepublik Indonesia nomor 5 tahun 1990, orangutan adalah salah satu jenis satwa yangdilindungi, dilarang untuk ditangkap, dilukai, disimpan, dipelihara, atau diangkut. Namun tetapsaja orangutan ditangkapi dari hutan. Argitoe Ranting dari tim rescue IAR mengatakan, "Kita harus lebih konsentrasi dalampenegakan hukum." dr. Karmele mengajak LSM serta pemerintah Indonesia untuk bekerja samamenjalankan penegakan hukum. "Kalau tidak, kita akan melihat orangutan habis dari hutanKalimantan," imbuhnya8 Sumber National Geographic Indonesia. “Lagi, orangutan diselamatkan dari pemeliharaan ilegal.http://nationalgeographic.co.id/berita/2010/11/lagi-orangutan-diselamatkan-dari-pemeliharaan-ilegal diaksespada tanggal 28 November 2012 Pukul 22.20
  15. 15. Populasi orangutan di Kalimantan diperkirakan berkurang 50 persen dalam 10 tahunterakhir. Sementara menurut data Juni 2009 dari Yayasan Titian, jumlah orangutan liar yangmasih tersisa di Kalimantan Barat diperkirakan ada 6.675 individu dengan dua spesies utamaPongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii. Hidup mereka sangat terancamdengan semakin luasnya area hutan yang dibabat untuk perkebunan kelapa sawit dan industrikayu.Penyelamatan Hari Jumat tanggal 19 november, satu tim berangkat dari Pontianak bersama satu timBKSDA Pontianak dan Singkawang, menuju ke lokasi Monte dipelihara, di Desa Monterado,Kecamatan Monterado Kabupaten Bengkayan. Sebelum tim melakukan evakuasi, semuadokumen penyitaan legal telah disiapkan. Dokter Karmele membius Monte agar dapatdimasukkan ke dalam kandang transportasi untuk dibawa ke Pontianak. Monte tiba di Pontianakpada malam hari sekitar pukul 20.00. Esoknya, Monte dibawa ke kargo Kalstar di BandaraSupadio Pontianak dengan didampingi oleh dr. Karmele dan Taufik, polisi hutan dariSingkawang. Mote tiba di Ketapang pukul 8 pagi dan langsung dibawa ke kandang transit IAR diKetapang. Untuk menangkap anak orangutan, pemburunya harus membunuh induknya lebih dulu.Monte dibeli ketika masih bayi. Saat masih kecil, Monte masih bebas di rumah Pak Cembe tapisejak 5 tahun yang lalu, orangutan ini menjadi besar dan kuat, sehingga harus dikurung dikandang.
  16. 16. Analisis Orang Utan adalah salah satu satwa liar yang dilindungi pemerintah. Hal ini termaktub didalam Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan JenisTumbuhan dan Satwa. Orang Utan yang bernama latin Pongo Pygmaeus (Orang UtanKalimantan) dan/atau Pongo Abelii (Orang Utan Sumatera) ini adalah satwa yang hampir habispopulasinya di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kehutanan pada Februari 2012,populasi Orang Utan diperkirakan tinggal 51.300 ekor.9 Dalam status konservasi, Orang Utan termasuk binatang yang terancam dalam artianpopulasinya hampir habis alias punah. Dalam kasus diatas, Orang Utan yang menjadi objeksitaan adalah Orang Utan yang dipelihara secara pribadi oleh masyarakat. Dalam hal ini,masyarakat tidak bisa disalahkan secara penuh karena memelihara Orang Utan yang notabenemerupakan satwa liar yang terancam punah dan dilindungi dengan Undang-Undang. Masyarakatyang memelihara juga tidak bisa di generalisasi sebagai orang yang ikut mereduksi jumlah OrangUtan menjadi sekarang ini. Dalam kasus di atas, Orang Utan yang didapatkan oleh penduduk merupakan hasiltangkapan dari pemburu dari hutan. Sehingga dalam hal ini edukasi dari Kementerian terkaitsebenarnya masih sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat terhadap pentingnyamenjaga sumber daya alam hayati, khususnya Orang Utan. Undang-undang yang dibuat untukmelindungi Orang Utan sebenarnya sudah cukup mumpuni dan mampu mengakomodirpenyelamatannya dari kepunahan. Akan tetapi dalam hal ini terlihat sanksi yang ada masihbelum bisa mengurangi angka penurunan jumlah Orang Utan. Padahal di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati dan Ekosistemnya memiliki sanksi tegas terhadap perniagaan satwa liar daripidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda hingga Rp 100.000.000 (Seratus JutaRupiah). Terhadap sanksi memang seharusnya lebih ditekankan penerapannya, hal inidikarenakan masih banyak pemelihara dan pemburu satwa liar yang dilindungi yang masih lolosdari jeratan hukum. Pemelihara satwa yang dilindungi juga masih jarang terkena sanksi pidana9 Orang Utan terancam Punah. http://metrotvnews.com/read/news/2012/02/20/82511/Orang-Utan-Terancam-Punah/6 Diakses pada tanggal 28 November 2012 Pukul 22.36
  17. 17. maupun denda sebagaimana di dalam ketentuan Undang-Undang, padahal seharusnya mereka-mereka ini juga harus terkena sanksi pidana maupun denda. Selain itu, hal yang membuat tingginya perburuan orang utan adalah hobi. Di beberapakalangan masyarakat masih beranggapan bahwa memelihara satwa yang langka merupakan suatuprestise atau kebanggaan bagi pemiliknya, sehingga mereka berusaha mencari satwa-satwa unikdan langka diniagakan, salah satunya adalah orang utan. Sesuai dengan teori ekonomi, apabilasemakin tinggi permintaan, maka semakin tinggi penawaran. Hal ini juga yang terjadi denganpopulasi orang utan, akibat tingginya permintaan orang utan sebagai hewan peliharaan, akanmemungkinkan tingginya perburuan untuk diniagakan sebagai binatang peliharaan bak kucingmaupun anjing. Memelihara binatang untuk pemeliharaan untuk kesenangan memang tidak dilarang, halini tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 TentangPemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Pasal 3 huruf h, yakni sebagai salah satu carauntuk pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. Akan tetapi di pasal 37 ayat 2 menyatakanbahwa pemeliharaan untuk kesenangan hanya dapat dilakukan terhadap jenis yang tidakdilindungi. Dalam hal ini, Orang Utan dalam pasal 34 merupakan salah satu fauna yang untukpertukarannya harus dengan persetujuan presiden, dengan logika sempit bisa terlihat bahwaorang utan merupakan satwa yang dilindungi sehingga tidak bisa dipelihara dengan tujuankesenangan oleh perorangan. Satwa liar yang masih bisa dipelihara untuk kesenangan adalahsatwa-satwa liar yang bisa diniagakan dan yang tidak dilindungi sebagaimana pasal 18. Selain hal-hal diatas, orang utan berkurang juga diakibatkan karena berkurangnya jumlahluas habitat mereka, yaitu hutan. Sebaran orang utan di Indonesia adalah di Pulau Kalimantandan Pulau Sumatera, dengan tingginya tingkat alih lahan dan perambahan hutan, membuatberkurangnya tempat orang utan untuk hidup dan bertempat tinggal. Alih lahan hutan menjadilahan kebun kelapa sawit secara besar-besaran diduga menjadi akibatnya. Seperti diketahui,Kelapa Sawit memiliki banyak sekali produk turunan yang hadir di dalam kehidupan manusiasehari-hari. Produk-produk turunan kelapa sawit tadi antara lain adalah minyak goreng, mentega,lemak nabati, sabun, deterjen, sampo, serta kosmetik lainnya yang dengan semakin tingginyajumlah kelahiran dan jumlah manusia di dunia ini membuat kebutuhan akan produk turunansawit tadi tinggi karena memang vital digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tingginya
  18. 18. permintaan minyak sawit dan produk turunannya, membuat kebutuhan akan lahan sawit menjadimeningkat sehingga lahan hutan dialih fungsikan kegunaannya10, termasuk dalam hal ini adalahhutan yang menjadi habitat orang utan. Akibatnya, orang utan keluar dari sarangnya karenamakin sempit lahan habitatnya sehingga masuk ke lahan-lahan yang dimukimi warga. Sepertiyang baru-baru ini terjadi di Kalimantan Barat, dimana seekor orang utan terbakar saat akandiusir dari pohon oleh warga. Pada saat itu, warga takut jika orang utan yang muncul akanmerusak tanaman dan rumah mereka sehingga mengusirnya dengan membakar pohon tempatorang utan bergelantungan.11 Tidak bisa dipungkiri bahwa Kelapa Sawit memberi harapan baru bagi petani-petanirakyat di berbagai wilayah di Indonesia, sehingga pemerintah mendorong peningkatan lahansawit untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Hingga saat ini, minat masyarakat untukmenanam sawit masih cukup tinggi, hal ini didukung dengan tingginya harga sawit danpermintaan12. Dan hal yang dilakukan untuk itu semua adalah dengan alih fungsi lahan hutan13menjadi kebun sawit yang bukan merupakan habitat orang utan. Dalam hal ini, pertumbuhanekonomi berbanding lurus dengan kerusakan alam, dan berkurangnya luas habitat dan jumlahsatwa pada khususnya. Akan tetapi di lain pihak mengatakan tidak melulu kebun sawit merusaklingkungan. Dengan metode yang benar dalam pengelolaan lingkungan, maka sinergi kebunsawit dan alam akan berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan penduduk Dosan, KecamatanPosako, Kabupaten Siak, Riau. 14 Lembaga konservasi dan penyelamatan menjadi elemen penting dalam urusanpenyelamatan satwa di masa sekarang. Dengan munculnya berbagai macam lembaga konservasidan penyelamatan diharapkan turunnya populasi satwa liar yang dilindungi, khususnya orangutan bisa di reduksi karena orang utan merupakan salah satu biodiversity unik yang dimilikiIndonesia sebagai negara tropis dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi. Sehingga10 http://atjehpost.com/read/2012/10/13/24042/8/8/Gawat-90-Perkebunan-Kelapa-Sawit-di-Kalimantan-Mengorbankan-Hutan Diakses pada tanggal 29 November 2012 Pukul 01.1711 http://www.memobee.com/index.php?do=c.every_body_is_journalist&idej=5569 Diakses pada tanggal 29November 2012 Pukul 00.4712 http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/09/30/108004/Minat-Berkebun-Sawit-Picu-Kenaikan-Harga-Lahan/6 Diakses pada tanggal 29 November 2012 Pukul 01.0413 http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=5488&coid=1&caid=23&gid=3 Diakses pada tanggal 29November 2012 Pukul 01.0514 http://www.beritasatu.com/mobile/bisnis/62730-kebun-kelapa-sawit-tak-sepenuhnya-bom-waktu-perusakan-hutan.html diakses pada tanggal 29 November 2012 Pukul 01.11
  19. 19. dalam hal ini dukungan terhadap lembaga konservasi dan penyelamatan harus diberikan secarapenuh karena mereka merupakan organisasi nirlaba yang bekerja tanpa mencari keuntungan. Selain itu, edukasi pada masyarakat juga harus ditekankan dalam hal ini sehinggamasyarakat tidak lagi bertindak terhadap orang utan dengan cara yang kurang benar apabilamakhluk-makhluk tersebut mulai masuk dan mengganggu masyarakat. Hal lain adalah sanksiyang tegas. Jika peraturan dibuat dengan ancaman sanksi tegas namun tidak atau jarangmenjatuhkan sanksi tersebut pada pelanggarnya maka hal yang terjadi adalah pelanggaran yangberulang-ulang, sehingga sanksi tegas seharusnya diberikan secara tanpa pandang bulu sebagaishock theraphy bagi masyarakat yang lain.
  20. 20. PEMBAHASAN A. WRC Yogyakarta Sebagai Lembaga Konservasi Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Rosa dari bagian Public Relations WRC, Ibu Rosamengungkapkan bahwa WRC Yogyakarta merupakan sebuah Lembaga Konservasi, yangkhususnya adalah Taman Satwa. Berdasarkan kriteria taman satwa yang termuat dalam pasal 7Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.53/Menhut-II/2006, kriteria taman satwa meliputi: 1. Koleksi satwa yang dipelihara sekurang-kurangnya 2 (dua) kelas, baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi Undang-Undang dan atau ketentuan Convention Trade on Endangered Spesies of Flora Fauna (CITES); 2. Memiliki lahan sekurang-kurangnya 1 (satu) hektar; 3. Memiliki ketersediaan sumber air dan pakan yang cukup; 4. Memiliki sarana pemeliharaan satwa, antara lain : kandang pemeliharaan, kandang perawatan, kandang karantina, kandang pengembangbiakan/pembesaran dan prasarana pendukung pengelolaan satwa lain; 5. Memiliki kantor pengelola dan sarana pengelolaan pengunjung; 6. Tersedia tenaga kerja sesuai bidang keahliannya antara lain dokter hewan, ahli biologi atau konservasi, perawat, dan tenaga keamanan Berdasarkan hasil penelitian di WRC Yogyakarta, maka WRC Yogyakarta dapatdikategorikan sebagai Taman Satwa. Hal tersebut dikarenakan: 1. WRC Yogyakarta mempunyai kurang lebih 150 satwa liar, baik yang termasuk dilindungi maupun tidak dilindungi. 2. WRC Yogyakarta memiliki lahan seluas 13,9 Hektar. 3. WRC Yogyakarta memiliki ketersediaan sumber air dan pakan yang cukup. 4. WRC Yogyakarta memiliki kandang pemeliharaan, kandang perawatan, kandang karantina, kandang pengembangbiakan/ pembesaran dan prasarana pendukung pengelolaan satwa yang lain yakni ruang otopsi dan krematoir. (Foto Terlampir)
  21. 21. 5. Memiliki kantor pengelola dan sarana pengelolaan pengunjung. 6. WRC Yogyakarta memiliki satu dokter hewan dan satu ahli nutrisi yang mengurusi pakan satwa, serta memiliki 5 orang animal keeper dan satpam. Sebenarnya, jika mengacu pada pasal 10 dan pasal 11 Menteri Kehutanan Nomor:P.53/Menhut-II/2006 WRC Yogyakarta juga dapat dikategorikan sebagai Pusat PenyelamatanSatwa dan Pusat Rehabilitasi Satwa. B. Pelestarian Orang Utan di WRC Yogyakarta Di WRC Yogyakarta saat ini terdapat 5 ekor Orangutan yang semuanya merupakan jenisOrangutan Kalimantan (Pongo Pygmeaus). Mereka adalah : 1. Boni, laki-laki, usia 17 tahun 2. Gogon, laki-laki, usia 15 tahun 3. Dedek, laki-laki, usia 13 tahun 4. Joko, laki-laki, usia 8 tahun 5. Ucok, perempuan, usia 10 tahun Boni didapatkan sekitar 6 tahun dengan cara diselamatkan oleh BKSDA di Muntilandariseorang Kepala Desa. Gogon dan Dedek didapatkan dengan cara diserahkan secara sukarelaoleh pemiliknya, seorang polisi yang berasal dari Semarang. Joko dan Ucok juga didapatkandengan cara yang sama yakni pemiliknya yang merupakan seorang pengusaha restoran di Solo,menyerahkannya secara sukarela. Di WRC Yogyakarta, Untuk pertama kalinya masing-masing Orangutan tersebut dilakukanpendataan atau identifikasi terlebih dahulu. Proses identifikasi ini sangat bergantung kepadakerjasama pemilik sebelumnya. Apabila pemilik mau bekerjasama untuk memberikan data-datayang valid maka proses identifikasi akan menjadi lebih mudah. Akan tetapi apabila pemiliktidak mau bekerjasama maka pihak WRC Yogyakarta melakukan pendataan atau identifikasimandiri. Hal ini seperti pemeriksaan oleh dokter hewan terhadap kondisi Orangutan seperti
  22. 22. pemeriksaan kelengkapan anggota-anggota tubuh. Selain itu juga dilakukan tes darah untukmengetahui apakah Orangutan tersebut mengidap penyakit seperti Hepatitis, Herpes, TBCataupun AIDS. Setelah itu akan dilakukan proses karantina terhadap Orangutan. Lama proses karantina initergantung pada kesiapan masing-masing Orangutan. Tujuannya adalah Orangutan tersebut bisaberadaptasi dengan kondisi lingkungan baru. Setelah dilakukan karantina Orangutan akan ditempatkan di kandang-kandang yang telahdisiapkan untuk proses rehabilitasi. Sebelumnya kandang-kandang ini telah dipersiapkan dengancara memberi fasilitas bagi satwa (enrichment) seperti dahan atau ban bekas untuk bermain.Lama proses rehabilitasi ini tidak dapat ditentukan karena tergantung pada setiap Orangutan.Dari proses rehabilitasi inilah dapat diketahui mana Orangutan yang mempunyai potensi untukdilepas kembali ke alam, menjadi penghuni tetap hingga akhir hayatnya, dan mana yang terpaksaharus dimusnahkan dengan cara disuntik mati (etanasia) Selama dalam proses rehabilitasi kondisi Orangutan sangat diperhatikan. Pemberian makandilakukan dua kali sehari yakni pagi dan siang, dengan menu yang ditentukan oleh dokter nutrisi.Untuk sekali makan Orangutan diberikan porsi sebanyak 10% dari berat tubuhnya. Jadi apabilaOrangutan tersebut beratnya 200 kg maka makanannya sebanyak 20 kg campuran buah-buahan,telu, vitamin ataupun sayur. Pemeriksaan kesehatan terhadap satwa juga dilakukan secara berkala oleh manajemen WRCYogyakarta. Pemeriksaan ini meliputi cek darah ulang ataupun cek kotoran satwa (veses). Darikegiatan inilah kesehatan satwa dapat diketahui secara pasti dan berkala. Kebersihan kandangjuga sangat diperhatikan. Setiap hari akan dilakukan pembersihan kandang seperti membersihkankotoran satwa maupun pembersihan bak air minum. Selama proses rehabilitasi tersebut keseharian perilaku Orangutan juga diamati. Hasilpengamatan terhadap baik itu Orangutan atuaupun satwa lainnya secara 3 bulan sekali akandilaporkan kepada Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Yogyakarta) dan para
  23. 23. Orangtua asuh. Dari pengamatan inilah dapat diketahui mana Orangutan yang potensial untukdilepaskan ke alam liar dan mana yang harus menetap hingga akhir hayatnya. Untuk Orangutan di WRC Yogyakarta yakni Boni dan Gogon sudah tidak memungkinkanuntuk dilepas kembali ke alam liar. Hal ini dikarenakan Boni dan Gogon sudah terlalu tuausianya. Untuk Dedek, Joko dan Ucok masih ada potensi untuk dilepas kembali ke alam. Halinilah yang paling baik karena alam adalah habitat terbaik bagi satwa. Akan tetapi ketiadaanlahan hutan yang memadai menjadi kendala utama. Menurut data dari Forest Watch Indonesia, pada rentang waktu 2000 hingga 2009deforestasi hutan di Sumatera mencapai 3.711.797, 45 hektar. Sedangkan untuk di daerahKalimantan pada rentang waktu yang sama telah terjadi deforestasi sebesar 5.505.863,93 hektar.Pada tahun 2008 yang lalu Indonesia di anugerahi Certificate Guinnes World Records sebagaiPerusak Hutan Tercepat di Dunia. Berdasarkan data-data dari Perserikatan Bangsa Bangsa(PBB), tahun 2000 hingga 2005, rata-rata perhari 51,km2 hutan Indonesia hilang (rusak) Denganmenghitung rata-rata kerusakan hutan Indonesia pada tahun 2002. PBB, merilis Hutan Sumateradan Hutan Kalimantan akan punah pada tahun 2032. (Forest Watch Indonesia : 2011) Dari data-data tersebut sangat jelas bahwa ketersediaan hutan untuk pelepasan kembali kealam bagi Orangutan merupakan tantangan yang berat. Menurut keterangan dari Bu Rossnarasumber kami, jumlah Orangutan di Taman Konservasi Orangutan di Kalimantan yang sudahsiap untuk dikembalikan ke alam berjumlah setidaknya 300 ekor. Akan tetapi tidak adanya hutanmenghambat proses tersebut.
  24. 24. C. Kendala Yang Dialami WRC Yogyakarta Kendala yang dialamai oleh WRC Yogyakarta adalah dana. Sebagai lembaga konservasiyang mempunyai luas 13,9 hektar dan memelihara ratusan satwa dana yang dibutuhkan sangatlahbesar. Untuk biaya pakan 150 satwa pihak manejemen harus mengeluarkan dana sebesar 20 jutarupiah perhari. Dana tersebut hanya untuk biaya pakan satwa saja belum termasuk untukpemeriksaan kesehatan satwa, biaya operasional ataupun gaji para karyawan. Banyak cara yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk mengatasi masalah tersebut salahsatunya adalah dengan beternak tikus/mencit sebagai pakan satwa. Peternakan tikus ini mampumenghasilkan sekitar 60 ekor tikus perhari. Sehingga dapat menghemat sejumlah biaya pakan.Tikus-tikus ini biasanya digunakan sebagai pakan burung Elang. Dalam memenuhi kebutuhan operasional harian, WRC Yogyakarta melakukan aktivitaspenggalangan dana baik dari donatur maupun dengan menyediakan fasilitas ruang pertemuan,penginapan, jasa outbound training, serta ekowisata. Fasilitas tersebut diwujudkan denganpemanfaatan lokasi dengan dikembangkannya Penginapan baik berupa hotel maupun Pondokdengan biaya yang terjangkau, Fasilitas camping serta outbond yang didukung dengankelengkapan arena seperti flying fox, serta fasilitas pengenalan satwa yang terdapat Di WRCYogyakarta dengan biaya yang terjangkau yaitu Rp 12.500 perorang. Pemanfaatan fasilitastersebut diwujudkan di dalam 4 kategori paket wisata yaitu Animal care, Detektif Pohon,Detektif Serangga, dan Detektif Air yang dapat dimanfaatkan pengunjung. Selain itu untuk menggalang dana sebagian dari area konservasi digunakan untuk membukafasilitas penginapan dan jasa outbond. Manejemen WRC juga membuka program volunteeryakni mempersilahkan orang untuk mendapatkan pengalaman baru yakni merawat satwa denganmembayar sejumlah uang. Program volunteer ini terhitung masih baru dan menargetkanwisatawan asing, sehingga tarif yang diberlakukan pun dalam kurs dollar. Untuk programvolunteer selama 1 minggu tarif yang dikenakan sebesar 770 USD, sedangkan untuk paketvolunter dengan durasi waktu 8 minggu dikenakan tarif sebesar 2000 USD. Keseluruhan dana
  25. 25. akan digunakan untuk kesejahteraan satwa dan akomodasi volunteer selama programberlangsung. WRC Yogyakarta juga menawarkan program adopsi satwa. Program ini dikhususkan bagimereka yang ingin menjadi orang tua asuh dari satwa yang ada di WRC Yogyakarta. Denganbiaya adopsi sekitar 10 USD perbulan kita bisa membantu menjamin kesejahteraan satwa. Masakontrak program adopsi satwa ini minimal 6 bulan. Kontraprestasi dari program ini adalahsertifikat, laporan periodik 3 bulan sekali dan update foto satwa adopsi. Peran pemerintah dalam hal dukungan dana adalah nihil. Pemerintah baik itu pemerintahpusat ataupun daerah sama sekali tidak memberikan bantuan dana kepada WRC Yogyakarta.Padahal negara juga bertanggung jawab sekaligus berkepentingan untuk menjagakeberlangsungan satwa, utamanya satwa langka semisal Orangutan. Pemerintah dalam hal inihanya membantu urusan legal seperti pengurusan surat-surat dan pengawasan dalam hal ini yangberperan adalah BKSDA Yogyakarta.
  26. 26. KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan : 1. WRC Yogyakarta cukup representatif dalam menjalankan peranannya sebagai lembaga konservasi. Hal tersebut terbukti karena, WRC Yogyakarta telah memenuhi kriteria yang termuat dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.53/Menhut-II/2006. Disamping itu, WRC Yogyakarta juga telah mendapatkan bantuan dari lembaga terkait seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam DIY. 2. Pelestarian Orangutan di WRC Yogyakarta dimulai dengan proses identifikasi. Kemudian dilanjutkan dengan proses rehabilitasi untuk menentukan mana yang potensial untuk dilepaskan kembali kealam dan mana yang haus tetap tinggal di WRC Yogyakarta. 3. Permasalahan yang dihadapi adalah masalah dana. Pihak menejemen berusaha menggalang dana dengan cara menggalang donasi, menyewakan fasilitas, program volunteer dan adopsi satwa. Pemerintah tidak mendukung dari segi dana akan tetapi dari segi perizinan dan persuratanSaran : Seharusnya pemerintah mendukung Lembaga Konservasi seperti WRC Yogyakarta tidaksecara setengah-setengah. Bentuk dukungan harus berupa moriil maupun materiil. Dukunganmateriil yang berupa dana seharusnya juga diberikan oleh pemerintah. Pemerintah sebagai stakeholder yang utama berkepentingan untuk menjaga keberlanjutan satwa utamanya satwa langkayang dilindungi seperti Orangutan.
  27. 27. DAFTAR PUSTAKAForest Watch Indonesia, 2011, Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009Johnson, JR Thorstrom, 2007, Systematics and Conservation of the Hook-Billed Kite including The Island Taxa from Cuba and Grenada. Animal ConservationKuncoro, 2004, Aktivitas Harian Pongo Pygmaeus Rehabilitany di Hutan Lindung Pegunungan Meratu Kalimantan Timur, Skripsi Universitas UdayanaMeijaard, E; HD Rijksen, 2001, Di Ambang Kepunahan! Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke 21. Penyunting SN Kartikasari, The Gibbon Foundation, JakartaUU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan EkosistemnyaPP No 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan SatwaPP No 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa LiarP.53/Menhut-II/2006 Tentang Lembaga Konservasihttp://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/konservasi-lahan.html diakses 27 November 2012http://diandaningeyil.blogspot.com/2011/07/konservasi-lahan.html diakses 27 November 2012http://bksdadiy.dephut.go.id/isi.php?top=3&id=13&ver= diakses 27 November 2012http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan diakses 27 November 2012http://www.seaworld.org/animal- diakses 27 November 2012http://metrotvnews.com/read/news/2012/02/20/82511/Orang-Utan-Terancam-Punah/6 Diakses 28 November 2012http://www.beritasatu.com/mobile/bisnis/62730-kebun-kelapa-sawit-tak-sepenuhnya-bom-waktu- perusakan-hutan.html diakses tanggal 29 November 2012http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/09/30/108004/Minat-Berkebun-Sawit-Picu- Kenaikan-Harga-Lahan/6 Diakses tanggal 29 November 2012http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=5488&coid=1&caid=23&gid=3 Diakses pada tanggal 29 November 2012 Pukul 01.05
  28. 28. LAMPIRANTema Penelitian : Pelestarian Orang Utan Di Luar HabitatTempat Penelitian : Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta DAFTAR PERTANYAAN1. Berapa jumlah Orang Utan yang ada di WRC?2. Apakah ada pendataan bagi setiap Orang Utan yang ada? Seperti apa?3. Bagaimana Orang Utan tersebut didapatkan?4. Bagaimana cara menentukan kriteria Orang Utan yang sehat / bermasalah?5. Masalah apa yang sering ditemukan pada Orang Utan yang dikirim disini?6. Apabila ada Orang Utan yang bermasalah apakah dilakukan rehabilitasi? Seperti apa?7. Berapa lama waktu rehabilitasi yang diperlukan?8. Apakah kendala pada saat rehabilitasi & bagaimana solusinya?9. Apakah Orang Utan akan dikembalikan kembali ke alam atau tetap disini?10. Bagaimana kriteria Orang Utan yang dilepas & yang tetap dipelihara di WRC?11. Apakah tempat WRC sudah representatif untuk konservasi Orang Utan?12. Berapakah jumlah pegawai yang dipunyai WRC (tenaga ahli & relawan)?13. Apakah ada pelatihan khusus bagi para pegawai ?14. Bagaimana proses pemeliharaan Orang Utan di WRC?15. Adakah hal-hal yang harus diperhatikan terkait pemeliharaan Orang Utan?16. Apakah kendala pada pemeliharaan Orang Utan & bagaimana solusinya?17. Bagaimana perlakuan terhadap Orang Utan yang sedang sakit?18. Apakah dilakukan pengembangbiakan pula? Berapa banyak?19. Seperti apa cara pengembangbiakan Orang Utan?20. Apakah di WRC dilakukan penelitian terkait Orang Utan? Bila ya, seperti apa?21. Apa yang dilakukan terhadap hasil penelitian tersebut?22. Apakah WRC melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain terkait Orang Utan?23. Seperti apa bentuk kerjasamanya?24. Bagaimana peran pemerintah (pusat & daerah) terhadap WRC ini?25. Apakah ada program atau kampanye tentang satwa yang dilakukan?26. Bagaimana peran masyarakat terhadap WRC ini?27. Kendala-kendala apa yang dialami WRC selama ini?28. Bagaimana upaya untuk mengatasi kendala tersebutAdakah buku-buku atau jurnal terkait dengan Orang Utan untuk sumber referensi kami? TERIMA KASIH
  29. 29. Foto Bersama Narasumber (Bu Rossa) Animal Keeper Menyiapkan Makan Siang SatwaKandang Orangutan Penjelasan dari Narasumber Terkait Satwa

×