• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Asas Asas Hukum Pidana
 

Asas Asas Hukum Pidana

on

  • 14,382 views

Bahan Kuliah Hukum Pidana

Bahan Kuliah Hukum Pidana

Statistics

Views

Total Views
14,382
Views on SlideShare
14,382
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
276
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Asas Asas Hukum Pidana Asas Asas Hukum Pidana Presentation Transcript

    • Curicullum Vitae Name : Eddy O.S. Hiariej Place Of Birth : Ambon, 10 April 1973 Education & Foreign Experience :1. Sarjana Hukum UGM 1998, Master Hukum UGM 2004 & Doktor 2009 & Profesor/Guru Besar Hukum Pidana 2010.2. Comparative Study ke International Court of Justice United Nations Organization Den Haag, Belanda.3. Human Rights Short Course & Human Rights Teaching in Strasbourg, Perancis, 2001.4. Foreign Observer, General Election in Filipina, 2001.5. Dialog East Asia Common Space In South Korea, 1 – 8 Agustus 2004
    • Perbuatan Pidana &Beberapa Asas Hukum Pidana eddy o.s hiariej
    • ReFeReNsI1. G.A. van Hamel, 1913, Inleiding Tot De Studie Van Het Nederlansche Strafrecht, Derde Druk, De Erven F. Bohn Haarlem & Gebr. Belinfante ’s-Gravenhage.2. D. Simons, 1937, Leerboek Van Het Nederlandsche Strafrecht , Eerste Deel, Zesde Druk, P. Noordhoof, N.V. – Groningen – Batavia.3. D. Simons, 1937, Leerboek Van Het Nederlandsche Strafrecht , Tweede Deel, Zesde Druk, P. Noordhoof, N.V. – Groningen – Batavia.4. J.E. Jonkers, 1946, Handboek Van Het Nederlansch – Indische Strafrecht, E.J. Brill, Leiden.5. T.J. Noyon & G.E. Langemeijer, 1947, Het Wetboek Van Strafrecht , Vijfde Druk, Eerste Deel Inleiding Boek I, S. Gouda Quint – D. Brouwer En Zoon, Uitgevers Het Huis De Grabbe – Arnhem.6. T.J. Noyon & G.E. Langemeijer, 1947, Het Wetboek Van Strafrecht , Vijfde Druk, Tweede Deel Inleiding Boek II, S. Gouda Quint – D. Brouwer En Zoon, Uitgevers Het Huis De Grabbe – Arnhem.7. T.J. Noyon & G.E. Langemeijer, 1947, Het Wetboek Van Strafrecht , Vijfde Druk, Derde Deel Inleiding Boek III, S. Gouda Quint – D. Brouwer En Zoon, Uitgevers Het Huis De Grabbe – Arnhem.
    • ReFeReNsI8. H.B. Vos, 1950, Leerboek Van Nederlands Strafrecht, Derde Herziene Druk, H.D.Tjeenk Willink & Zoon N.V. – Haarlem.9. D. Hazewinkel Suringa, 1953, Inleiding Tot De Studie Van Het Nederlandse Strafrecht, H.D. Tjeenk Willink & Zoon N.V. – Haarlem.10. J.M. van Bemmelen En W.F.C. van Hattum, 1953, Hand En Leerboek Van Het Nederlandse Strafrecht, S. Gouda Quint – D. Brouwer En Zoon, Arnhem.11. J.M. van Bemmelen En H. Burgersdijk, 1955, Arresten Over Strafrecht, Vijfde Druk, H.D.Tjeenk Willink & Zoon N.V. – Haarlem.12. W.P.J Pompe, 1959, Hanboek Van Het Nederlandse Strafrecht, Vijfde Herziene Druk, N.V. Uitgevers – Maatschappij W.E.J.Tjeenk Willink, Zwolle.13. Ch.J. Enschede, 2002, Beginselen van Strafrecht, 10e druk, Kluwer Deventer.14. Moeljatno, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka.15. Moeljatno, 1955, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawab Dalam Hukum Pidana, Pidato Diesnatalis Ke IV Universitas Gadjah Mada, Sitihinggil.16. Moeljatno, 1985, Percobaan dan Penyertaan, Bina Aksara, Jakarta.17. Moeljatno, 2001, Ktab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta.
    • ReFeReNsI18. Bambang Poernomo, 1982, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta.19. D.Schaffmeister, N.Keijzer, E.P.H. Sutorius, 1995, Hukum Pidana, diterjemahkan oleh J.E. Sahetapy Liberty, Yogyakarta.20. Komariah Emong Sapardjaja, 2002, Ajaran Sifat Melawan Hukum Matrial Dalam Hukum Pidana Di Indonesia , Alumni Bandung.21. E. Utrecht, 1960, Hukum Pidana, Jilid I Penerbitan Universitas, Bandung.22. E. Utrecht, 1960, Hukum Pidana, Jilid II Penerbitan Universitas, Bandung.23. Jan Remmelink, 2003, Hukum Pidana, Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Belanda Dan Padanannya Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.24. Ruslan Saleh,1981, Perbuatan Pidana Dan Pertanggung Jawab Pidana, Penerbit Aksara Baru, Jakarta.25. Fraser Sampson, 2001, Blackstone’s Ploice Manual Crime, Blackstone Press Limited.26. Machteld Boot, 2001, Nullum Crimen Sine Lege and the Subject Matter Jurisdiction of the International Criminal Court : Genocide, Crimes Against Humanity, War Crimes , Intersentia, Antwerpen – Oxford – New York27. Paul Bergman & Sara J. Berman – Barret, 2003, The Crimnal Law Handbook, 5th edition, Nolo Law for All
    • Perbuatan Pidana Dan BeberapaAsas Hukum Pidana1. Istilah ‘Perbuatan Pidana’2. Istilah ‘Strafbaar Feit’3. Asas Legalitas4. Asas Geen straf zonder schuld5. Asas Teritorial, Pengecualian Asas Teritorial dan Perluasan Asas Teritorial6. Ne bis in idem7. Melawan hukum
    • Dalam hukum pidana di Indonesia PerbuatanPidana dan Per tanggung JawabanPidana DIPISAH secara tegas. Perbuatanpidana hanya mencakup dilarangnya suatuperbuatan, sedangkan pertanggung jawabpidana mencakup dapat – tidaknya dipidanasipembuat / sipelaku. Dasar dari perbuatanpidana adalah ASAS LEGALITAS , sementaradasar dari pertanggung jawaban pidanaadalah TIDAK ADA PIDANA TANPAKESALAHAN atau Geen Straf ZonderSchuld . Hal ini merupakan perbedaanmendasar dengan hukum pidana Belandayang TIDAK MEMISAHKAN antarastrafbaar van het feit dan strafbaar vande dader .
    • Istilah ‘Perbuatan Pidana’Perbuatan Pidana : (1) b1. Perbuatan yang dilarang2. Larangan dalam undang-undang3. Ada ancaman bagi barang siapa yang melanggarPerbuatan :1. Kelakuan (handeling)2. Akibat (gevolg)
    • Strafbaar Feit• Jonkers : ”De korte definitie luidt : een strafbaar feit is een feit, dat door de wet is strafbaar gesteld. Een langere en ook beteekenisvollere definitie is : een strafbaar feit is een feit met opzet of schuld in verband staande onrechtmatig (wederechtelijke) gedraging begaan door een toerekenisvatbaar persoon” (Defenisi singkat : Perbuatan pidana adalah suatu perbuatan yang menurut undang-undang dapat dijatuhi pidana. Defenisi panjang dan juga defenisi pengertian keseluruhan : Perbuatan pidana adalah suatu perbuatan dengan sengaja atau alpa yang dilakukan dengan melawan hukum oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan).
    • • Pompe :”..... theoretische uiteenzettingen ..... strafbare feit definieren als de normovertreding, waaraan de overtreder schuld heeft en waarvan de bestraffing dienstig is voor de handhaving der rechtsorde en de behartiging van het algemeen welzijn..... Het strafbare feit ..... een gedraging zijn met drie algemene eigenschapen...... wederrechtelijk, aan schuld te wijten en strafbaar..... Volgens ons positieve recht is het strafbare feit niets aanders dan een feit, dat in een wettelijke bepaling las strafbaar is omschreven..... (..... gambaran teoretis ...... perbuatan pidana didefinisikan sebagai pelanggaran norma yang diadakan karena pelanggar bersalah dan harus dihukum untuk menegakkan aturan hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum......Perbuatan pidana ..... suatu kelakuan dengan tiga hal sebagai suatu kesatuan..... melawan hukum, kesalahan yang dapat dicela dan dapat dipidana......Menurut hukum positif, perbuatan pidana tidak lain dari suatu perbuatan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai suatu peristiwa yang menyebabkan dijatuhi hukuman......)
    • • Simons : Strafbaar feit“ omschrijven als eene strafbaar gestelde, onrechtmatige, met schuld in verband staande handeling van een toerekeningsvat baar persoon. Perbuatan yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentangan dengan hukum, dilakukan oleh seorang yang bersalah dan orang tersebut dianggap bertanggung jawab atas perbuatannya. Sedangkan• van Bemmelen dan van Hattum : .....Strafbaar feit betekent feit terzake waarvan een persoon strafbaar is..... dat feit en persoon in het strafrecht onafscheidelijk zijn..... dat altijd een persoon slechts strafbaar kan zijn terzake van een feit, hetwelk hij zelf heeft begaan.... ......Perbuatan pidana berarti perbuatan yang menyebabkan seseorang dapat dihukum..... perbuatan dan orang dalam hukum pidana tidaklah dapat dipisahkan.....seseorang hanya dapat dihukum karena sutau perbuatan yang ia sendiri lakukan.....
    • • Ch.J. Enschede : “een menselijke gedraging die valt binnen de grenzen van delictsomschrijving, wederrechtelijk is en aan schuld te wijten”. Kelakuan manusia yang memenuhi rumusan delik, melawan hukum dan dapat dicela. (1)a• Vos : “een menselijke gedraging, waarop door wet straf is gesteld” Perbuatan pidana adalah kelakuan manusia yang oleh undang-undang pidana diberi hukuman.
    • Strafbaar Feit dan Perbuatan PidanaX (2)bStrafbaar Feit TIDAK SAMA DENGANPerbuatan Pidana. Feit hanya diartikansebagai kelakuan semata sedangkanPerbuatan diartikan sebagai kelakuan danakibat. Strafbaar Feit memadukanperbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana, sedangkan perbuatanpidana tidak mengandung pertanggungjawaban pidana.
    • Elemen-Elemen Perbuatan Pidana 2(a)• D.Schaffmeister, N.Keijzer, E.P.H. Sutorius :1. Memenuhi unsur delik2. Melawan Hukum3. Dapat dicela
    • • Moeljatno (3) b1. Kelakuan dan akibat  Perbuatan2. Hal ikhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan3. Keadaan tambahan yang memberatkan pidana4. Obyektief onrechtselement5. Subyektif onrechtselement
    • Sejarah Asas Legalitas Tujuan Hukum Pidana menurut Aliran Klasik  Melindungi anggota masyarakat dari tindakan yang sewenang-wenang Markies van Becaria  “Dei delitte edelle pene” Kasus Jean Calas te Toulouse terhadap anaknya Mauriac Antonie Calas Voltaire mengecam putusan tersebut  C.S.B.D. Montesquieu (1748) & J.J. Rosseau (1762) menuntut raja dibatasi dengan hukum tertulis. Article 8 Declaration des droits de L’homme et du citoyen (1789)  nul ne peut etre puni, qu’en vertu d’une loi etabile et promulguee, anterieurement au delit et legalement appliquee.
    • Anselm von Feuerbach Lehrbuch des peinlichen Recht Nulla poena sine lege; Nulla poena sine crimine; Nullum crimen sine poena legali Article 4 Code Penal Perancis oleh Napoleon Bonaparte 1801” “Nulle contravention, nul delit, nul crime, ne peuvent etre punis de peines, qui n’ etaient pas prononcees par la loi, avant qu’ils fussent commis” Pasal 1 WvS Belanda : Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan voorafgegane wettelijke strafbepaling Pasal 1 ayat (1) KUHP : “Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan”
    • Principle Legality Machteld Boot  The formulation of the Gesetzlichkeitsprinzip in Article 1 StGb (Eine tat kann nur bestraft werden, wenn die strafbarkeit geseztlich bestimmt war, bevor die Tat begangen wurde) is generally considered to include four separate requirements. First, conduct can only be punished if the punishability as well as the accompanying penalty had been determined before the offence was committed ( nullum crimen, noela poena sine lege praevia ). Furthermore, these determinations have to be included in statutes (Gesetze) : nullum crimen, noela poena sine lege scripta . These statutes have to be definite (bestimmt) : nullum crimen, noela poena sine lege certa . Lastly, these statutes may not be applied by analogy which is reflected in the axiom nullum crimen, noela poena sine lege stricta .
    •  Moeljatno  Pertama , tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. Kedua , Dalam menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. Ketiga , aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut. Groenhuijsen  , makna asas legalitas (4) b1. Pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan suatu ketentuan pidana berlaku mundur.2. Semua perbuatan yang dilarang harus dimuat dalam rumusan delik yang sejelas-jelasnya.3. Hakim dilarang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan pidana didasarkan pada hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan.4. Terhadap peraturan hukum pidana dilarang diterapkan analogi.
    • Schaffmeister, de Keijzer & Sutorius • Tidak ada pidana kecuali berdasarkan ketentuan pidana menurut UU.• Tidak boleh beranalogi• Tidak ada pidana hanya kebiasaan• Lex Certa• Tidak berlaku surut = ex post facto, non retroaktif = lex praevia.• Tidak ada pidana lain selain dalam UU• Penuntutan pidana hanya menurut cara sesuai UU.
    • Fungsi Asas Legalitas :1. Instrumental (3) a2. Melindungi HARAP DIBEDAKAN DENGAN FUNGSI INSTRUMENT & FUNGSI MELINDUNGI DARI HUKUM PIDANA InstrumenDalam batas tertentu pelaksanaan kekuasaan pemerintah dibolehkan. MelindungiPelaksanaan kekuasaan tanpa batas terhadap rakyat oleh negara.
    • Perkembangan Asas Legalitas1. Titik berat pada individu  G.W.Paton Nulla Poena Sine Lege2. Titik berat pada dasar dan tujuan pemidanaan Anslem von Feuerbach Generale Preventie psychologische zwang. (4) a3. Titik berat pada kedua unsur yang sangat penting yaitu agar orang menghindari perbuatan pidana dan pemerintah tidak sewenang-wenang van Der Donk4. Titik berat pada perlindungan hukum kepada negara dan masyrakat G.W.PatonNullum crimen sine poena legali a crime is a socially dangerous act of commission or ommission as prescribed in a criminal law.
    • Pembatasan Asas LegalitasPembatasan asas legalitas ataupembatasan terhadap asas lex termporisdelicti terdapat dalam Pasal 1 ayat (2)KUHP Indonesia berbunyi, “Jika sesudahperbuatan dilakukan ada perubahandalam perundang-undangan, dipakaiaturan yang paling ringan bagi terdakwa .”
    • Verandering in de Wetgeving(Perubahan Perundang-Undangan)1. Formele leer  Simons perubahan hanya mencakup undang-undang pidana semata2. Beperkte materiil leer  van Geuns  perubahan di luar undang-undang pidana tetapi mempengaruhi secara tidak langsung undang-undang pidana. (5) a3. Onbeperkte materiil leer  perubahan di luar undang- undang pidana termasuk perubahan undang-undang yang hanya dimasudkan berlaku untuk sementara waktu  Tidak termausk Pasal 1 ayat (2) KUHP
    • Gunstigste bepalingen(Aturan yang paling meringankan) Tidak hanya menyangkut sanksi pidana semata tetapi juga menyangkut penilaian keseluruhan terhadap suatu delik. Simons & Jonkers  tidak hanya menyangkut sanksi pidana semata tetapi juga menyangkut dapat – tidak dituntutnya suatu perbuatan.
    • Pembatasan Lex Termporis Delicti di Inggris & Swedia Inggris  Jika terjadi perubahan perundang-undangan, terdakwa diadili dengan menggunakan aturan hukum yang lama (6) a Swedia Jika terjadi perubahan perundang-undangan, terdakwa diadili dengan menggunakan aturan hukum yang baru
    • Asas Teritorial1. Asas Teritorial = Hukum Pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di Indonesia  Pasal 2 KUHP2. Pengecualian atas asas teritorial dapat terhadap :a. Orang : (5) b1) Kepala Negara Par in parem in hebet in perium2) Duta Besar dan Konsul serta diplomat3) Petugas lembaga internasionalb. Tempat1) Wilayah Kedutaan Besar2) Wilayah Angkatan Bersenjata3) Kapal berbendera negara asing (7) a
    • Perluasan Asas Teritorial1. Perluasan teknis2. Perluasan berdasarkan kewarganegaraan3. Perluasan berdasarkan prinsip proteksi4. Perluasan berdasarkan prinsip universal
    • Perluasan Teknis1. Perluasan teknis subyektif  Hukum Pidana Indonesia berlaku atas perbuatan yang mulai dilakukan di Indonesia tetapi berakhir atau menimbulkan akibat di wilayah negara lain2. Perluasan teknis obyektif  Hukum Pidana Indonesia berlaku atas perbuatan yang mulai dilakukan di negara lain tetapi berakhir atau menimbulkan akibat di Indonesia
    • Perluasan Berdasarkan kewarganegaraan1. Kewarganegaraan aktif = Asas Personal = Asas Nasional Aktif  Hukum Pidana Indonesia berlaku bagi WNI di mana pun berada  Pasal 5 ke-2 KUHP2. Kewarganegaraan pasif = Asas Nasional Pasif  Hukum pidana Indonesia berlaku atas orang yang melakukan kejahatan di wilayah negara lain yang akibatnya menimpa WNI (8)a
    • Perluasan Berdasarkan Prinsip ProteksiHukum pidana Indonesia berlaku atasperbuatan pidana yang melanggarkeamanan dan integritas ataukepentingan vital ekonomi ataukepentingan lainnya yang hendakdilindungi yang dilakukan di luar wilayahIndonesia  Pasal 4 ke-1, ke-2 dan ke-3KUHP
    • Perluasan Berdasarkan Prinsip UniversalHukum pidana Indonesia berlaku atasperbuatan pidana yang melanggarkepentingan masyarakat internasional.Perbuatan tersebut dikualifikasikansebagai kejahatan internasional ataudelicta jure gentium atau delit droit degens  Pasal 4 ke 4 KUHP (9) a
    • Ne Bis In Idem Ne bis in idem atau double jeopardy = seseorang tidak dapat dituntut lebih dari satu kali di depan pengadilan dengan perkara yang sama  untuk menjamin kepastian hukum, melindungi hak asasi manusia dan mejaga keluhuran martabat hakim.(6) b
    • Geen straf zonder schuld ‘Schuld’ mengandung 3 elemen :1. Kemampuan bertanggung jawab dari si pembuat.2. Keadaan batin tertentu dari si pembuat yang dihubungkan dengan kejadian.3. Tidak dapat dipertanggungjawabkan suatu kejadian oleh si pembuat karena ada alasan penghapus pertanggungjawaban Pompe  ”..... dat geen straf wordt toegepast, tenzij er een wederrechtelijke schuld te wijten gedraging is. Daar in ons recht geen schuld bestaat zonder wederrechtelijkheid, kan men de kern der theorie dus kor formuleren als : geen starf zonder schuld” (..... tidak ada pidana yang diterapkan, kecuali suatu kelakuan yang melawan hukum dan kesalahan yang dapat dicela. Menurut hukum kita tidak ada kesalahan tanpa melawan hukum, teori ini kemudian diformulasikan sebagai : tiada pidana tanpa kesalahan) Schuld is niet te begrijpen zonder wederrechtelijkheid (Kesalahan tidak ada artinya tanpa sifat melawan hukum)
    • Wederrechtelijk Leer (Ajaran Melawan Hukum) Ajaran Melawan Hukum meliputi :1. Wederrechtelijk element (unsur melawan hukum)2. Wederrechtelijk begrijp (pengertian melawan hukum)3. Wederrechtelijk heid (sifat melawan hukum)
    • Unsur Melawan HukumPandangan Formil  Merupakan unsur delik apabila disebut secara tegas  Pompe& Simons  “Wederrechtelijkheid is dus in het algemeen geen bestandeel van hetstrafbare feit, tenzij uitdrukkelijk in de wettelijke omschrijving opgenomen”(Melawan hukum bukanlah unsur umum dari perbuatan pidana keccuali jikadinyatakan dengan tegas dalam rumusan delik)Pandangan Materiil  Merupakan unsur mutlak (konstitutif) setiap perbuatan pidana Moeljatno & Vos (7) bPandangan tengah Merupakan unsur yang konstan dan permanen  Suringa “Opmerkelijk is, dat deze definities niet slechts de wederechtelijkheid als constant enpermanent element van ieder strafbaar feit noemen....., De wederechtelijkheid isslechts daar, waar wet haar noemt elementen verder allen maar het kenmerk vanieder delict …”(Sifat melawan hukum adalah unsur konstan dan permanen selama disenut dalamrumusan delik, jika tidak, melawan hukum hanya merupakan tanda dari suatu delik...)
    • Arti ‘recht’ dalam ‘wederrechtelijk’(Pengertian Melawan Hukum)(8)b Dalam MvT= memorie van toelichting TIDAK DITEMUKAN apa arti recht dalam wederrechtelijk  Muncul beberapa pendapat :1. Recht = objectief recht  Simons2. Recht = subjectief recht  Noyon3. Recht = tanpa kekuasaan  Putusan HR 18 Januari 19114. Recht = hukum tertulis & hukum tidak tertulis  Pompe, van Hattum, van Bemmelen & Moeljatno Wederrechtelijk betekent : in strijd met het recht, hetgeen ruimer is dan : in strij met de wet. Behalve wettelijke voorschriften komen hier ongeschreven regelen in aanmerking (Melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum : Tidak hanya sebatas bertentangan dengan undang-undang tetapi juga bertentangan dengan aturan-aturan yang tidak tertulis)
    • Sifat Melawan Hukum1. Generale Wederrechtelijkheid2. Specilae Wederrechtelijkheid3. Formal Wederrechtelijkheid4. Matrial Wederrechtelijkheid
    • Generale WederrechtelijkheidSifat melawan hukum umum  syarat umum dapat dipidananya suatuperbuatan. Ajaran ini berasal dari Hukum Pidana Belanda yang menyatakanperbuatan pidana adalah yang melawan hukumDoor een bepaald feit strafbaar te stellen geeft de wetgever uit den aard derzaak te kennen dat hij het als wderechtelijk beschouwt of voorstaan alszoodaning beschouwd wil zien.  Noyon & Langemeijer(Dengan menyatakan sesuatu perbuatan dapat dipidana maka pembentukundang-undang memberitahukan bahwa ia memandang perbuatan itusebagai bersifat melawan hukum atau selanjutnya akan dipandangdemikian. Dpidananya sesuatu yang tidak bersifat melawan hukum tidakada artinya)”..... een gedraging zijn met drie algemene eigenschapen : wederrechtelijk,aan schuld te wijten en strafbaar...”  Pompe(Perbuatan pidana ..... suatu kelakuan dengan tiga hal sebagai suatukesatuan..... melawan hukum, kesalahan yang dapat dicela dan dapatdipidana)
    • Speciale Wederrechtelijkheid(10a)Sifat melawan hukum khusus  Kata “melawanhukum” dicantumkan dalam rumusan delik. Dengandemikian sifat melawan hukum merupakan syarat tertulisuntuk dapat dipidananya suatu perbuatan. Sebenarnyapenyebutan kata ”melawan hukum” secara eksplisitdalam rumusan delik merujuk pada ilmu hukum Jermanyang diajarkan sejumlah pakar antara lain,Zevenbergen dan pengikutnya di Belanda, Simon.Menurut pandangan ini, melawan hukum hanyamerupakan unsur delik sepanjang disebutkan dengantegas dalam peraturan perundang-undangan.
    • Formal WederrechtelijkheidSifat melawan hukum formal  semuabagian (unsur-unsur) dari rumusan delik telahdipenuhi.“...... Di samping lapangan formil, kita harusmeninjau pula lapangan materiil, sehingga dariperpaduan antara dua segi ini, tertentulah isiatau makna perbuatan pidana...... tinjauan darisegi formil ini perlu, berhubung dengan asaslegalitet.....”  Moeljatno
    • Matrial Wederrechtelijkheid Sifat melawan hukum material secara garis besar dibagi atas :1. Sifat melawan hukum material dilihat dari sudut perbuatannya  perbuatan yang melanggar atau membahayakan kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh pembuat undang-undang dalam rumusan delik tertentu.2. Sifat melawan hukum material dilihat dari sudut sumber hukumnya  bertentangan dengan hukum tidak tertulis atau hukum yang hidup dalam masyarakat, asas-asas kepatutan atau nilai-nilai keadilan dan kehidupan sosial dalam masyarakat
    • Sifat melawan hukum materialdilihat dari sudut sumber hukumnya1. Sifat melawan hukum material dalam fungsinya yang negatif  meskipun perbuatan memenuhi unsur delik tetapi tidak bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat, maka perbuatan tersebut tidak dipidana.2. Sifat melawan hukum material dalam fungsinya yang positif  meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun jika perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana.
    • Pertanggung Jawaban Pidana Dipidananya seseorg tidaklah cukup apabila org telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau melawan hukum. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan, dengan kata lain orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.
    •  Dalam Hukum Pidana berlaku asas “Tiada Pidana tanpa kesalahan” (Geen straf zonder schuld/ Keine Strafe Ohne Schuld) Asas Geen straf zonder schuld memp sejarahnya sendiri:  Pertama hukum pidana hanya melihat pada perbuatan dan akibatnya saja  Tatstrafrecht  Perkembangan berikutnya mulai memperhatikan pada orangnya/ pembuat  Taterstrafrecht tanpa meninggalkan Tatstrafrecht.  Hukum pidana pada saat ini berorientasi pada perbuatan, akibat dan pembuatnya/ orang  Tat- Taterstrafrecht / Daad-Daderstrafrecht
    • Beberapa Pendapat Tentang Kesalahan. Mezger : Keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku. Simons : Sebagai dasar untuk pertanggung jawaban dalam hukum pidana berupa keadaan psychis dari si pembuat dan hubungan dengan perbuatannya dan dalam arti bahwa berdasarkan keadaan psychis (jiwa) itu perbuatannya dapat dicelakan kepada si pelaku. Van Hamel: Kesalahan dalam suatu delik adalah pengertian psychologis. Hubungan antara keadaa jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbtn-nya.
    •  Van Hattum: Pengertian kesalahan yang paling luas memuat semua unsur yang mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum, meliputi semua hal, yg bersifat psychis yang terdapat dalam keseluruhan berupa strafbaarfeit termasuk si pelaku. Pompe : Tidak merumuskan kesalahan, tetapi menjelaskan bahwa pada pelanggaran norma yang dilakukan karena kesalahannya, melawan hukum merupakan hal yang tampak keluar, sedangkan yang ada di dalam adalah kesalahan berupa kehendak dari si pembuat.
    • Apa yang terkandung dalam kesalahan ? Vos :  Kemampuan bertanggungjawab  Hubungan batin pelaku terhadap perbuatan dalam bentuk kesengajaan atau kealpaan;  Tidak terdapat alasan yang menghapus pertanggujngjawaban pelaku Mezger :  Kemampuan bertanggungjawab;  Adanya bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan;  Tak ada alasan penghapus kesalahan. Pompe :  Menambah adanya unsur pencelaan
    • Masalah kesalahan dapat – tidaknya pelakudipertanggungjawabkan berhubungan dengan kebebasankehendak Aliran indeterminis (penganut indeterminisme): manusia mempunyai kehendak bebas dan ini merupakan sebab dari segala keputusan kehendak; tanpa ada kebebasan kehendak, maka tidak ada kesalahan; jika tidak ada kesalahan, maka tidak ada pencelaan sehigga tidak ada pemidanaan. Aliran determinis (penganut determinisme): manusia tidak mempunyai kehendak bebas. Keputusan berbuat sesuatu di dasarkan pada watak / nafsu yang datang dari luar. Namun meskipun tidak mempunyai kehendak bebas, tidak berarti orang yang melakukan perbuatan pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan. Justru karena tidak adanya kehendak bebas maka ada pertanggungjawaban dari seseorg atas perbuatannya, hanya saja reaksi terhadap pperbuatan berupa tindakan untuk ketertiban, dan bukannya pidana dalam arti “penderitaan sabagai buah hasil dari kesalahan pelaku” Adanya kesalahan tidak perlu dihubungkan dengan ada / tidak adanya kehendak bebas. Hubungan itu tidak relevan.
    • Kemampuan Bertanggungjawab Dalam KUHP tidak ada satu pasal pun yang memberi pengertian mengenai kemampuan bertanggungjawab. Pasal 44  Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu jiwanya karena penyakit, tidak dipidana.  Perlu konstatasi keadaan jiwa cacat/ tadak dapt dipertanggungjawabkan oleh psychiater;  Perlu ada hubungan kausal antara perbuatan dengan keadaan jiwa cacat  ditetapkan oleh hakim.
    • Mampu Bertanggungjawab Van Hamel: 1. Bahwa orang mampu menginsyafi arti perbuatannya (makna dan akibatnya). 2. Orang mampu menginsyafi perbuatannya bertentangan dengan ketertiban masyarakat. 3. Bahwa orang mampu menentukan kehendaknya terhadap perbuatannya itu. Simons : 1. Orang mampu menginsyafi perbuatannya yang bersifat melawan hukum. 2. Sesuai dengan penginsyafan itu dapat menentukan kehendaknya. MvT (menentukan secar negatif): Tidak mampu bertanggungjawab adalah : 1. Dalam hal orang tidak diberi kebebasan memilih antara berbuat atau tadak berbuat apa yg oleh undang-undang dilarang atau diperintahkan. 2. Dalam hal orang ada dalam keadaan tertentu sehingga tidak dapat menginsyafi perbuatannya bertentangan dengan hukum, dan tidak mengerti akibat perbuatannya.
    • Metode Menentukan Tidak Mampu Bertanggung Jawab1. Metode biologis  jika psichiater telah menyatakan seseorang sakit jiwa, maka ia tidak dapat dipidana.2. Metode phisikologis  menunjukkan hubungan antara keadaan jiwa yang abnormal dengan perbuatannya. Metode ini mementingkan akibat jiwa terhadap perbuatannya sehingga dapat dikatakan tidak mampu bertanggungjawab dan tidak dapat dipidana.3. Metode biologis-phisikologis  di samping memperhatikan keadaan jiwanya, kemudian keadaan jiwa ini dipernilai dengan perbuatannya untuk dinyatakan tidak mampu bertanggungjawab.
    • Tidak mampu bertanggung jawab sebagian Ada penyakit jiwa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk sebagian;  Chleptomania  penyakit jiwa yang berwujud dorongan yang kuat dan tak tertahan untuk mengambil barang milik orang lain  Pyromania  penyakit jiwa berupa kesukaan membakar sesuatu tanpa alasan;  Clausthropobie  penyakit jiwa berupa ketakutan berada di ruang yang sempit;  Waham Kebesaran  penyakit jiwa merasa dirinya sebagai orang yang besar atau mempunyai kedudukan tinggi
    • Keragu-raguan menentukan mampubertanggung jawabAda dua Pendapat: Terdakwa tetap dipidana .  Kemampuan bertanggungjawab harus selalu dianggap ada pada setiap orang, kecuali terbukti sebaliknya (pendirian Pompe) Terdakwa tidak dipidana  Dalam hal ada keragu-raguan,harus diambil keputusan yang menguntungkan terdakwa (asas in dubio proreo).
    • Kesengajaan dan Kealpaan Unsur kedua dari kesalahan adalah hubungan batin antara si pembuat terhadap perbuatan yang dapat berupa sengaja atau alpa.
    • Kesengajaan Apa yg dimaksud dengan sengaja KUHP tidak memberi definisi. MvT mengartikan kesengajaan sebagai “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens) Berhubungan dengan keadaan batin orang yang berbuat dengan sengaja berisi menghendaki dan mengetahui itu, dalam ilmu pengatahuan. timbul dua teori:
    • 1. Teori Kehendak (wilstheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang2. Teori Pengetahuan/ membayangkan (voorstellings- theorie). Sengaja berarti membayangkan akan menimbulkan akibat dari perbutannya; orang tidak bisa menghendaki akibat, melainkan hanya dapat membayangkannya. Teori ini menitikberatkan pada apa yg dibayangkan oleh pelaku. Terhadap perbuatan yang dilakukan pelaku kedua teori ini tidak ada perbedaan, keduanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat.
    • Corak kesengajaan.1. Maksud  Orang menghendaki perbuatan beserta akibatnya. Contoh : menempeleng seseorang agar orang itu sakit sehingga tidak berbohong.2. Kepastian  perbuatan mempunyai 2 akibat yaitu akibat yang memang dituju oleh si pembuat dan akibat yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan. Contoh: kasus Thomas Alexander Keith mengirim barang melalui kapal dari Bremerhaven ke New York yang dipasang Bom Waktu dengan harapan memperoleh asuransi.3. Kemungkinan  dalam hal ada keadaan tertentu yang semula mungkin akan terjadi, kemudian ternyata benar-benar terjadi. Contoh : mengirim kue taart yang diberi racun, tetapi yang memakan bukan orang yang dituju.
    • Kesengajaan yang diobjektifkan Dalam keadaan konkrit sangat sulit bagi hakim untuk menentukan sikap batin terdakwa berupa kesengajaan atau kealpaan ada pada pelaku. Jika orang menerangkan dengan jujur sikap batinnya, maka tidak akan menemui kesulitan, tetapi jika terdakwa tidak jujur, maka sikap batinnya harus disimpulkan dari keadaan lahir yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim harus mengobjektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh: menembakkan pistol dalam jarak 2 meter. Tidak mungkin penembak menyatakan hanya ingin melukai . Di sini perbuatan diobjektifkan berupa kesengajaan untuk membunuh.
    • Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna(kleurloos).Persoalan: Apakah untuk adanya kesengajaan itu si pembuat harus menyadari bahwa perbuatannya itu bersifat melawan hukum ? Mengenai hal ini ada dua pendapat:1. Sifat kesengajaan itu berwarna : adanya kesengajaan diperlukan syarat bahwa pelaku menyadari perbuatannya itu dilarang kesengajaan senantiasa berhubungan dengan dolus malus (dalam kesengajaan tersimpul adanya kesadaran mengenai sifat melawan hukumnya perbuatan)2. Tidak berwarna : adanya kesengajaan cukup bahwa pelaku menghendaki perbuatan itu. Di sini tidak diperlukan apakah ia tahu bahwa perbuatan itu dilarang.
    • Jenis kesengajaan Dolus generalis  kesengajaan yang ditujukan kepada orang banyak. Dolus indirectus melakukan perbuatan yang dilarang, tetapi muncul akibat lain yang tidak dikehendaki. Dolus determinatus  kesengajaan yang ditujukan pada tujuan tertentu. Dolus indeterminatus  kesengajaan yang ditujukan kepada sembarang orang Dolus alternativus  kesengajaan yang dilakukan seseorang dengan menghendaki akibat yang muncul adalah salah satu dari beberapa kemungkinan. Dolus premiditatus  kesengajaan yang telah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Dolus repentinus  kesengajaan dengan sekonyong-konyong.
    • Dwaling Suatu kesengajaan dapat terjadi karena salah faham atau kekeliruan (melakukan perbuatan pidana dengan sengaja karena kekeliruan). Bentuk dari kekeliruan ini ada beberapa macam:1. Feitelijke dwaling : Suatu kekeliruan yang dilakukan dengan tidak sengaja yang tertuju pada salah satu unsur perbuatan pidana. Lihat Pasal 406 KUHP.2. Rechts dwaling : Melakukan suatu perbuatan dengan perkiraan hal itu tidak dilarang oleh undang-undang. Dibedakan menjadi kekeliruan yang dapat dimengerti dan kekeliruan yang tidak dapat dimengerti3. Eror in persona : kekeliruan mengenai orang yang hendak menjadi tujuan dari perbuatan pidana.4. Eror in objecto : kekeliruan mengenai objek yang hendak menjadi tujuan dari perbuatan pidana.5. Aberratio actus : Kekeliruan yang timbul disebabkan karena berbagai sebab, sehingga akibat yang timbul berbeda/ berlainan dari yang dikehendaki
    • Kealpaan Di samping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. Akibat ini timbul karena seseorang alpa, sembrono, teledor, berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga- duga. Perbedaannya dengan kesengajaan ialah bahwa ancaman pidana pada delik-delik kesengajaan lebih berat. Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan, tetapi bukan kesengajaan yang ringan.
    •  Apakah alasan pembentuk Undang-undang mengancam pidana perbuatan yang mengandung unsur kealpaan di samping unsur kesengajaan ? Menurut M.v.T. adalah sebagai berikut : "ada keadaan, yang sedemikian membahayakan keamanan orang atau barang, atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi, sehingga Undang-undang juga bertindak terhadap kekurangan penghati-hati, sikap sembrono (teledor).
    • Pengertian Kealpaan.Hazewinkel Suringa IImu pengetahuan hukumk dan jurisprudensi mengartikan schuld (kealpaan), sebagai : 1. kekurangan penduga-duga atau 2. kekurangan penghati-hati.Van Hamel Kealpaan mengandung dua syarat : 1. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum  pelaku berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena perbuatannya, padahal ternyata salah (bewuste culpa) ATAU pelaku sama sekali tidak mempunyai pikiran bahwa akibat yang dilarang mungkin timbul karena perbuatannya (onbewuste culpa) 2. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum.Simons :Pada umumnya "schuld" (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. tidak adanya penghati-hati. 2. dapat diduganya akibat.Pompe : Ada 3 macam yang masuk kealpaan (onachtzaamheid) : 1. dapat mengirakan (kunnen verwachten) timbulnya akibat. 2. mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid). 3. dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid).
    • Cara Menentukan Kealpaan 1. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif, dan tidak secara fisik atau psychis. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguhnya, maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umumnya apabila ada dalam situasi yang sama dengan pelaku. 2. "Orang pada umumnya" ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat, paling hati-hati, paling ahli dan sebagainya. Ia harus orang biasa/ seorang ahli biasa. Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar, jadi harus ada culpa lata dan bukannya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). 3. Untuk menentukan kekurangan penghati-hati dari pelaku dapat digunakan ukuran apakah ia "ada kewajiban untuk berbuat lain". 4. Kewajiban ini dapat diambil dari ketentuan Undang-undang atau dari luar Undang- undang, ialah dengan memperhatikan segala keadaan apakah yang seharusnya dilakukan olehnya. Kalau ia tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, maka hal tersebut menjadi dasar untuk dapat mengatakan bahwa ia alpa. Undang-undang mewajibkan seorang untuk melakukan sesuatu atau untuk tidak melakukan sesuatu. Misalnya, dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa "di persimpangan jalan, apabila datangnya bersamaan waktu, maka kendaraan dari kiri harus didahulukan".
    • Hubungan Sebab – Akibat De leer van de causaliteit Sangat penting untuk delik materiil dalam menentukan pertanggungjawaban :1. Teori Mutlak  Conditio Sine Quanon  von Buri  Setiap perbuatan adalah sebab dari akibat yang timbul dan setiap sebab mempunyai nilai yang sama.2. Teori Traeger  Hanya mencari satu saja dari sekian banyak sebab yaitu perbuatan manakah yang menimbulkan akibat yang dilarang.
    • Teori Traeger1. Teori Generalisasi  Melihat sebab in abstracto. Menurut perhitungan yang layak, yang akan menimbulkan akibat.2. Teori Individualisir  Melihat sebab in concreto (post factum). Hal yang khusus diukur menurut pandangan individuil
    • Teori Generalisir Teori Adequat  von Kries  Perbuatan harus seimbang dengan akibat yang timbul :1. Teori subjektif  von Kries  Keadaan yang harus diketahui oleh pelaku.2. Teori objektif  Rumelin  Keadaan yang diketahui oleh umum3. Teori Gabungan  Simons  Kedaan yang diketahui oleh pelaku dan diketahui oleh umum
    • Teori Individualisir1. Teori Binding  Syarat negatif  mencegah timbulnya suatu akibat dan syarat positif  benar-benar menentukan suatu akibat.2. Teori Birckmayer  Dipilih faktor mana yang paling menentukan. Sebab adalah syarat yang paling kuat.3. Teori Kohler  Dipilih yang paling memberi ketentuan bagi timbulnya sesuatu.
    • Percobaan Artikel 53 WvS : “ Poging tot misdrijf is strafbaar wanner voornemen des daders zich door en begin van uitvoering heeft geopenbaard en de uitvoering aleen tengevolge van omstandigheden van zijnen wil onafhankelijk niet is voltooid.” Pasal 53 KUHP : “Percobaan melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah nyata dari adanya permulaan pelaksanaan dan tidak selesainya pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan kehendaknya sendiri”
    • Unsur-Unsur Percobaan Dalam Rumusan Delik1. Voornemen = Niat2. Begin van uitvoering = Permulaan pelaksanaan Di Luar Rumusan DelikPerbuatan tersebut bersifat melawan hukumDelic Manque & Delic TentativeCatatan : Tidak selesainya pelaksanaan bukan semata- mata disebabkan kehendaknya sendiri  BUKAN UNSUR PECOBAAN TETAPI ALASAN PENGHAPUS PENUNTUTAN
    • Niat Niat atau Voornemen :1. Subjektif  sikap batin memberi arah tertentu kepada perbuatan2. Objektif  sikap batin dilihat oleh orang lain dengan adanya perbuatan yang merupakan pelaksanaan terhadap niat dan nyata-nyata ditujukan untuk melakukan perbuatan yang diniati Simons, van Hamel, van Hattum, Jonkers & Suringa  Niat = kesengajaan Moeljatno  Niat tidak dapat disamakan dengan kesengajaan tetapi bisa berubah menjadi kesengajaan bila sudah ada perbuatan yang dituju. Jika niat belum berubah menjadi suatu perbuatan  Subjectief onrecthselement.
    • Permulaan Pelaksanaan Syarat Permulaan Pelaksanaan (Begin van uitvoering) :1. Secara subjektif  niat tidak boleh diragukan lagi menuju delik yang dimaksud.2. Secara objektif  perbuatan harus mengandung potensi mendekati delik yang dituju.
    • Beberapa Catatan TentangPercobaan Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dapat dikurangi sepertiga. Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pidana tambahan bagi percobaan adalah sama dengan kejahatan selesai. Mencoba melakukan pelanggaran tidak dpidana.
    • Makar Artikel 87 WvS : “Aanslag tot een feit bestaat, zoodra het voornemen des daders zich door een begin van uitvoering in den zin van artikel 53, heeft geopenbaard” Pasal 87 KUHP : “ Makar untuk melakukan suatu perbuatan jika niat pelaku telah nyata dari adanya permulaan pelaksanaan seperti yang dimasud dalam Pasal 53.”
    • Kejahatan Makar Kejahatan terhadap kemanan negara  Misdrijven tegen de veligheid den staat Usur Makar1. Niat atau voornemen.2. Permulaan pelaksanaan atau begin van uitvoering. Objek Makar1. Presiden dan atau wakil presiden2. Kedaulatan negara3. Pemerintah
    • Pasal-Pasal Makar1. Pasal 104  Membunuh presiden dan atau wakil presiden, merampas kemerdekaan atau menjadikannya tidak cakap memerintah.2. Pasal 106  Menaklukan sebagian atau seluruh daerah negara kepada pemerintah negara asing atau memisahkan sebagian dari daerah negara untuk dijadikan negara sendiri.3. Pasal 107  Omwenteling  Menggulingkan pemerintahan yang sah.4. Pasal 108  Melawan dengan senjata kepada pemerintahan yang sah.5. Pasal 110  Samenspaning  Permufakatan jahat untuk melakukan makar.
    • Penambahan Pasal-PasalMakar Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1999  Menghapus Undang-Undang Subversi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999  Menambah 6 ketentuan baru dalam Pasal 107 KUHP sehingga menjadi :1. Pasal 107 a  Larangan menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudannya.2. Pasal 107 b  Berusaha menggantikan Pancasila sebagai dasar negara yang berakibat timbulnya kerusuhan.
    • 3. Pasal 107 c  Menyebarluaskan atau mengembangkan Komunisme/Marxisme-Leninisme sehingga timbul kerusuhan.4. Pasal 107 d  Menyebarluaskan atau mengembangkan Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.5. Pasal 107 e  Mendirikan organisasi yang menganut Komunisme/Marxisme-Leninisme dan mengadakan hubungan atau memberi bantuan kepada organisasi yang menganut Komunisme/Marxisme-Leninisme.6. Pasal 107 f  Merusak, menghancurkan atau memusnahkan instalasi negara atau militer serta menggagalkan distribusi bahan pokok yang menguasai hajat hidup orang banyak.
    • Peristiwa Cikini 1957 30 November 1957 di Sekolah Rakyat Cikini Jakarta, Jusuf Ismail, Sa’adon, Tasrif dan Tasin berusaha membunuh Presiden dengan melemparkan granat tangan ke arah Bung Karno yang menghadiri acara bazar di sekolah tersebut. Terdakwa 1,2 dan 3 menurut Pengadilan Tinggi Tentara, Jakarta, terbukti melanggar Pasal 104, Pasal 107 dan UU Nomor 12 tahun 1951  “ Makar dengan maksud membunuh presiden, untuk menggulingkan pemerintah dilakukan dengan permufakatan jahat”. Putusan Majelis sama dengan requisitor Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa 1, 2, dan 3 dipidana mati. Sedangkan terdakwa ke-4 menurut majelis terbukti melanggar Pasal 110 ayat (2) sub.3 KUHP jo. Pasal 104, Pasal 107 KUHP tentang permufakatan jahat. Terdakwa ke-4 dijatuhi pidana 20 tahun.
    • Contoh KasusA. A, dan B yang sedang bersepeda santai di Bunderan UGM tiba-tiba diserang dan dianiaya oleh C, D, E dan F. Kemudian datang X dan Y mengambil sepeda A dan B dengan maksud agar A & B tidak melarikan diri. C, D, E , F, X dan Y kemudian diproses secara hukum. Pasal apakah yang dapat digunakan untuk menjerat mereka ?
    • B. A adalah pembantu rumah tangga dari Keluarga B. Setelah larut malam sekitar pukul 1 dini hari Si A bangun dan sengaja membuka pintu dapur untuk memudahkan C dan D yang hendak mencuri di rumah Keluarga B. Sekitar jam 2 dini hari, C dan D melakukan aksinya dengan mencuri barang-barang berharga.1. Pasal apakah yang digunakan untuk menjerat si A ?2. Bagimanakan dakwaan jaksa penuntut umum terhadap C dan D untuk menyatukan unsur subjektif dan objektif turut serta melakukan ?
    • C. Si A meminta kepada temannya B yang mengalami gangguan saraf untuk mencuri sepeda motor si C dengan diiming-imingi sejumlah uang. Perbuatan tersebut dilakukan oleh si B.1. Dalam delik penyertaan, apakah kualifikasi bagi si A dan apakah kualifikasi bagi si B ?2. Dapatkah si B yang ternyata menderita gangguan saraf permanen dimintai pertanggungjawaban pidana ? Jika ya apa alasannya dan jika tidak alasan penghapus pidana apakah yang lebih tepat bagi si B ?3. Dapatkah si A dimintai pertanggungjawaban pidana ?
    • D. Komandan Detasemen 88 memerintahkan A dan B (gegana) untuk mengejar teroris yang berboncengan. Instruksi Komandan berdasarkan perintah undang- undang jika ada perlawanan, maka lakukan tembak di tempat. A yang mengendarai sepeda motor membonceng B dengan senapan yang siap ditembakkan dan terpaksa menembak kedua teroris yang melakukan perlawanan. Keluarga korban (teroris) memproses secara hukum.1. Dalam delik penyertaan, apakah kualifikasi bagi Komandan, kualifikasi bagi si A dan kualifikasi bagi si B ?2. Dapatkah si B dimintai pertanggungjawaban pidana ? Jika ya apa alasannya dan jika tidak alasan penghapus pidana apakah yang lebih tepat bagi si B ?3. Dapatkah Komandan dan si A dimintai pertanggungjawaban pidana ?
    • Penyertaan Penyertaan dalam melakukan perbuatan pidana  Deelneming aan strafbaar feiten Artikel/Pasal 55  Als daders van een strafbaar feit worden gestraft  Golongan Pembuat (Dader)1. Plegen  Pelaku (pelaku di sini tidak sendirian tetapi dengan pelaku lain)2. Doenplegen  Menyuruh lakukan3. Medeplegen  Turut serta melakukan : Berpedoman secara subjektif dan objektif.Catatan : Moeljatno tidak menggunakan istilah doenplegen tetapi uitlokken yang berarti menganjurkan atau menggerakan. Orang yang menganjurkan atau menggerakan disebut uitlokker.
    •  Artikel/Pasal 56  Als medeplichtigen aan een misdrijf worden gestraft  Golongan Pembantu (medeplichtige) :1. Memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan2. Memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan Pasal 57 :1. Dalam hal pembantuan maksimal pidana pokok terhadap kejahatan dikurangi sepertiga.2. Jika diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.3. Pidana tambahan bagi pembantuan sama dengan kejahatannya sendiri.4. Dalam hal menentukan pidana bagi pembantu, yang diperhitungkan hanya perbuatan yang sengaja dipermudah atau diperlancar olehnya beserta akibat-akibatnya.
    • Hubungan Penyertaan Dan AlasanPenghapus Pidana Jika seorang pelaku peserta tidak dipidana karena alasan pembenar, maka sudah pasti semua pelaku peserta lainnya tidak dapat juga dipidana. Jika seorang pelaku peserta tidak dipidana karena alasan pemaaf, maka belum tentu pelaku peserta lainnya tidak dapat juga dipidana.
    • Kasus Menteri Kehakiman RI Menteri kehakiman RI pada tahun 1954 bersama dua orang temannya se partai memberikan izin tinggal kepada warga negara asing keturunan Cina untuk tetap tinggal di Indonesia, padahal orang tersebut telah di- persona non grata. Kedua temannya separtai telah menerim suap dari seorang Cina sementara sang menteri tidak menikmati uang suap tersebut. Dapatkah Mneteri tersebut dimintai pertanggung jawaban secara pidana ? Van Hattum  Pandangan Penyertaan Restriktif  Setiap peserta dalam pelaku peserta harus melakukan perbuatan yang sama Pompe, Langemejer, Moeljatno  Pandangan Penyertaan Ekstensif  Para peserta bentuk peyertaan turut serta melakukan tidak perlu melakukan perbuatan yang sama dan tidak perlu punya sifat pribadi yang sama dengan pelaku (dader) tersebut rumusan delik Putusan MA dalam Forum Prevelegiatum 23 Desember 1955 No.1/1955/MA Pid. Menjatuhkan pidana penjara 6 bulan  Pasal 418 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
    • Baca Pasal 1 ayat (2) KUHP1. A memalsukan surat pada Desember 2008 dengan ancaman pidana 3 tahun penjara. Januari 2009 terdapat aturan baru yang menyatakan memalsukan surat dikenai pidana 2 tahun penjara. A diadili Februari 2009. Aturan mana yang digunakan ?2. B mengeluarkan cek kosong pada Juli 2008 dan diancam pidana 1 tahun penjara. September 2008 ada undang-undang baru yang menyatakan bahwa mengeluarkan cek kosong bukan perbuatan pidana. B diadili pada Oktober 2008. Dapatkah B dijatuhi pidana ?3. C mencemarkan nama baik D April 2008 diancam pidana 6 bulan kurungan. Jangka waktu pengaduan terhadap delik pencemaran nama baik adalah 6 bulan. Pada Agustus 2008 ada undang- undang baru yang menyatakan bahwa jangka waktu pengaduan terhadap delik pencemaran nama baik adalah 3 bulan dengan ancaman pidana 5 bulan. D mengadukan C ke Polisi pada bulan September 2008. Dapatkah C diproses oleh Polisi ?
    • 4. E, seorang pemilik tempat prostitusi resmi memperkejakan F, wanita berusia 17 tahun sebagai PSK pada November 2008.Perbuatan E diancam pidana 5 tahun penjara karena memperkerjakan anak di bawa umur sebagai PSK. Pada Desember 2008 ada undang-undang baru yang menyatakan anak di bawah umur adalah di bawah 15 tahun. Januari 2009 E diadili oleh PN Yogya. Dapat E dipidana ?5. Pada waktu Aceh dinyatakan keadaan darurat militer, G membawa masuk – keluar sembako tanpa izin penguasa darurat militer dan tindakan G diancam pidana 2 tahun penjara. Pada waktu G diadili, keadaan darurat militer telah dicabut dan membawa masuk – ke luar sembako tanpa izin dalam keadaan normal bukan merupakan perbuatan pidana. Dapatkah G dijatuhi pidana ?
    • 1. Seorang WN Italia menjambret sebuah tas milik WN India di Malioboro Mall, Yogyakarta. WN Italia tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?2. Seorang WNI berada di Nunukan, Kalimantan Timur menembak seorang WN Singapura yang sedang berada di wilayah teritorial Malaysia.WNI tersebut diadili dengan meggunakan hukum mana?3. WN Indonesia menganiaya seorang WN Maroko di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. WN Indonesia tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?4. Kapal berbendera Mongolia sedang berada di dermaga Tanjung Perak Surabaya. Di atas kapal tersebut terjadi pemerkosaan seorang wanita Jepang oleh WN Indonesia. WN Indonesia diadili dengan menggunakan hukum mana ?5. Di atas laut bebas dalam pesawat terbang KLM, terjadi pembunuhan WN Indonesia terhadap WN Amerika. WN Indonesia tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?6. KRI Dewaruci sedang rapat di dermaga Montevideo. Di atas kapal tersebut terjadi penganiayaan WN Afganistan terhadap WN Kenya. WN Afganistan tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?
    • 7. Pesawat Garuda terbang di atas Buenos Aires. Dalam pesawat tersebut, seorang WN Somalia mencuri dompet milik WN Indonesia. WN Somalia tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?8. WN Inggris menghamili seorang wanita berkebangsaan Indonesia. Kedua pasangan tersebut kemudian berpergian ke Stotcholm dan menggugurkan kandungan di sana karena di Swedia, aborsi bukan merupakan perbuatan pidana. Setelah aborsi mereka berdua kembali ke Indonesia. Karena ketahuan melakukan aborsi di Stotcholm, mereka dilaporkan ke polisi. Mereka berdua diadili dengan menggunakan hukum mana ?9. WN Philipina bersama beberapa WN Venezuela mengedarkan uang palsu Rupiah di Caracas dalam penjualan minyak bumi di sana. Hukum mana yang digunakan untuk mengadili mereka ?10. Presiden RI berkunjung ke Kedutaan Israel yang berada di Bucares. Seoarang penembak jitu berkebangsaan Iran berada di gedung Kedutaan Cuba dan menembak Presiden RI dari sana. Hukum mana yang akan dipakai untuk mengadili WN Iran tersebut ? Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Iran tidak punya hubungan diplomatik dengan Cuba.11. Presiden RI berada di Kedutaan Besar Chili di Kopenhagen. Dengan menggunakan pistol pengawal kepresidenan, Presiden RI menembak seorang WN Mesir yang hendak menyerangnya. Presiden RI diadili dengan menggunakan hukum mana ?12. Beberapa WN Laos melakukan penyelundupan heroin kepada temannya WN Kamboja di kedutaan besar Thailand di Jakarta. Para WN Laos tersebut diadili dengan menggunakan hukum mana ?
    • Hak Menuntut Gugur KarenaDaluwarsa1. Semua pelanggaran & kejahatan percetakan  1 tahun2. Kejahatan yang hanya diancam denda, kurungan atau penjara yang tidak lebih dari 3 tahun  6 tahun3. Kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun  12 tahun4. Kejahatan yang diancam pidana seumur hidup atau pidana mati  18 tahun5. Jika si Pelaku pada saat melakukan perbuatan itu belum cukup 18 tahun dikurangi sehingga menjadi 1/3.
    • Kapan Waktu GugurnyaPenuntutan ? Waktu gugurnya penuntutan mulai dihitung sejak keesokan harinya setelah perbuatan dilakukan, kecuali :1. Perkara memalsu atau merusak uang  sejak keesokan harinya setelah orang memakai benda atau uang yang dipalsukan2. Perakara dalam Pasal 328, 329, 330 & 333  sejak keesokan harinya setelah orang dilepaskan atau setelah matinya orang akibat perbuatan itu.
    • Khusus Delik Aduan1. Pengaduan hanya dapat dilakukan dalam waktu 6 bulan sesudah orang yang berhak mengadu mengetahui perbuatan yang dilakukan itu dan bediam di Indonesia.2. Pengaduan hanya dapat dilakukan dalam waktu 9 bulan sesudah orang yang berhak mengadu mengetahui perbuatan yang dilakukan itu dan bediam di luar Indonesia.3. Pengaduan boleh dicabut hanya dalam waktu 3 bulan setelah yang berhak mengadu memasukkan pengaduan tersebut.4. Pengaduan bisa dipisah
    • Perizinahan (Pasal 284 KUHP)1. Laki-laki beristri berbuat zina sedang diketahuinya bahwa Pasal 27 KUHPerdata berlaku padanya.2. Perempuan bersuami berbuat zina.3. Laki-laki yang turut melakukan perbuatan itu sedang diketahuinya bahwa kawannya bersuami.4. Perempuan yang tiada bersuami yang turut melakukan perbuatan itu sedang diketahuinya bahwa kawannya beristri dan kawannya itu tunduk pada Pasal 27 KUHPerdata5. Delik aduan absolut6. Dalam waktu 3 bulan setelah pengaduan diikuti permintaan bercerai
    • Pemerkosaan (Pasal 285 KUHP)1. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengannya.2. Pemerkosaan adalah ekspresi seksual dari kekerasan dan bukan ekpresi kekerasan dari seksual3. Alat bukti yang cukup kuat adalah visum et repertum
    • Motivasi Pemerkosaan1. Motivasi seksual2. Motivasi keuasaan3. Motivasi balas dendam4. Motivasi kekerasan5. Motivasi sosialCatatan1. Salah satu karakteristik pemerkosaan di Indonesia adalah rape relate magic2. victim participation  life style3. Statutory rape