Your SlideShare is downloading. ×
Buku e jurnal vol 1
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Buku e jurnal vol 1

4,227
views

Published on


0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,227
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
104
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. ISSN 2089-4554 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik e- JURNAL Vol. 1 No. I Hlm. Gresik ISSNPENDIDIKAN 1-66 Juni - Nopember
  • 2. e- JURNAL JENDELA PENDIDIKAN JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Di Terbitkan oleh : Ketua Penyuting Rektor Universitas Gresik Wakil Penyuting Dekan FKIP Penyuting Pelaksana Dra. Eka Sri Rahayu, M.Pd Dra. Adrijanti, M.Pd Etiyasningsih, S.Pd., M.Pd Sri Sundari, S.Pd.,M.Pd Drs. Agus Tri Sulaksono, M.Pd Penyuting Ahli Prof. Dr. H. Sukiyat.SH.,M.Si Dra. Hj. Bariroh, M.Pd Drs. Syaiful Khafid, M.Pd Mitra Bestari Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Universitas Islam Jakarta) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (Universitas Negeri Malang) Prof. Dr. H. Sukiyat, SH.,M.Si (Universitas Gresik ) Pelaksana Ahmad Faizin, SS Alamat Penerbit/Redaksi Kampus Universitas Gresik Jl. Arif Rahman Hakim No. 2B Gresik Telp /Fax (031) 3978628Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Nopember . Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan KATA PENGANTAR
  • 3. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat danhidayah, sehingga Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik bisa hadir di kalanganpendidikan.Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik ( e-Journal) akan mendampingi Jurnal JendelaPendidikan versi cetak yang lebih dulu hadir, Jurnal Jendela Pendidikan ini berisi tentangsejumlah artikel penelitian baik artikel bersifat empiris atau laporan penelitian maupunartikel yang bersifat kajian teori atau artikel konseptual. Penulis artikel berasal dari kalanganakademisi atau dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik yangakan dipublish pada para pemangku pendidikan dan masyarakat luas khususnya parapemerhati pendidikan. Hal ini sesuai dengan misi utama keberadaan e-Journal Pendidikansebagai media komunikasi dan informasi yang bersifat ilmiah. Kami berharap partisipasi berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, maupunbirokrasi untuk menulis dalam jurnal ini, sehingga berbagai temuan, pemikiran dan ide sertagagasan dapat terkomunikasi dalam jurnal ini semoga terbitan pertama Jurnal JendelaPendidikan versi elektronik bermanfaat bagi kita semua. Gresik, Desember 2011 Tim Redaksi ISSN 2089-4554
  • 4. DAFTAR ARTIKEL SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU 1 - 09 Rochmanu Fauzi PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI SDN BANGSAL SURABAYA 10 - 18 Etiyasningsih PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN GAYA KOGNITIFTERHADAP PEMAHAMAN UNIFLYING GEOGRAPHY19-29 Syaiful Khafid IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL FUTUHIYAH GENDONGKULON BABAT LAMONGAN 30-38 Sri Sundari PENDIDIKAN KARAKTER : WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA 39 - 59 Soesetijo PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI SISWA DI SDN BANJARSARI GRESIK 60 - 78 Etiyasningsih STUDI TENTANG PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO SURABAYA 79 - 87 Sri Sundari TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL)DALAMKONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN88 - 106 Soesetijo
  • 5. e-Jurnal Vol. No. Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 01 1-106 Juni - 2089-4554PENDIDIKAN Nopember
  • 6. Supervisi Pengajar an sebagai Pembinaan Profesio nalisme Guru Oleh Rochmanu Fauzi Abstraksupervisi pengajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilanguru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari yaitu mengajar. Ada tigapendekatan dalam supervisi pengajaran, yaitu (1) pendekatan langsung, (2) pende -katan tidak langsung, dan (3) kolaboratif. Teknik-teknik supervisi pengajaran yangpaling bermanfaat adalah kunjungan kelas, pembicaraan individual, Diskusikelompok, demonstrasi mengajar, dan sebagainya. Para guru lebih menghargaisupervisor yang hangat dan menghargai guru. Dalam praktiknya supervisi penga-jaran masih berorientasi pada aspek administratif saja. Berdasarkan uraian tersebutdisarankan para supervisor perlu ada penyegaran secara rutin, dalam pelaksanaansupervisi pengajaran para supervisor sebaiknya menggunakan pendekatan supervisiklinis, perlu ada pertemuan seusai supervisi yang telah dilakukan oleh KepalaSekolah atau Pengawas Sekolah, sebagai upaya untuk tindak lanjut setelahpelaksanaan supervisi dilaksanakan.Kata kunci: mutu pendidikan, supervisi pengajaran.
  • 7. Cara hidup suatu bangsa sangal erat paradigma yang harus ditata secarakaitannya dengan tingkat terus menerus dan berkelanjutan.pendidikannya, Pendidikan bukan Menurut Mastuhu (2003) dalamhanya sekedar melestaiikan pengelolaan suatu unit pendidikan,kebudayaan dan meneruskan dari mutu dapat dilihat dari "masukan",generasi ke generasi. Akan tetapi juga "proses", dan "hasil".diharapkan akan dapat mengubah dan Permasalahan pendidikan yangmengembangkan pengetahuan. diidentifikasi (Depdikbud, 1983), sampai saat ini, formulasinya tetap Sementara itu, salah satu sama, yaitu masalah (1) masalahfenomena di bidang pendidikan yang kuantitatif, (2) masalah kualitatif, (3)banyak disoroti oleh para pemerhati, masalah relevansi, (4) masalahcendekiawan maupun masyarakat pada efisiensi, (5) masalah efektivitas, danumumnya adalah masalah mutu (6) masalah khusus.pendidikan. Membahas masalah mutu Uraian secara singkat masalah-pendidikan, sebenarnya membahas masalah tersebut adalah sebagaimasalah yang sangat kompleks. Oleh berikut ini.karena masalah mutu pendidikanselalu kait-mengkait dengan indikator- 1. Masalah Kuantitatifindikator lainnya. Salah satu Masalah kuantitatif adalahinstrumen yang dianggap cukup efektif masalah yang timbul sebagai akibatuntuk meningkatkan mutu pendidikan hubungan antara pertumbuhan sistemadalah dengan supervisi pengajaran pendidikan pada satu pihak danoleh Kepala Sekolah maupun pertumbuhan penduduk IndonesiaPengawas. pada pihak lain. Untuk mengatasi Untuk itu perlu adanya masalah ini perlu adanya suatu sistempergeseran dari paradigma lama pendidikan nasional yangmenuju ke paradigma yang baru. memungkinkan setiap warga ncgaraParadigma baru manajemen Indonesia memperoleh pendidikanpendidikan tinggi, terdiri dari yang layak sebagai bekal dasarakreditasi, akuntabilitas, evaluasi, kehidupannya sebagai warga negara.otonomi dan mutu. Kelima paradigma Dalam rangka pemerataan pendidikanbaru pendidikan tersebut saling ini, perlu dilaksanakan kewajibanterkait satu sama lain dan seyogyanya belajar dengan segala konsekuensinyaini dijadikan acuan dalam proses dalam bidang pembiayaan, ketenagaan,peningkatan mutu pendidikan. Oleh dan peralatan.karena itu, mutu sebagai salah satu
  • 8. 2. Masalah kualitatif perencanaan dan pelaksanaan Masalah kualitatif adalah pembangunan nasional agarmasalah bagaimana peningkatan pendidikan merupakan wahanakualitas sumber daya manusia penunjang yang efektif bagi prosesIndonesia gara bangsa Indonesia dapat pembangunan dan ketahanan nasional.meinpertahankan eksistcnsinya. Dalam Masalah ini dengan sendirinyamasalah ini tercakup pula masalah mempunyai kaitan pula denganketinggalan bangsa Indonesia dan masalah pokok di dalam pembangunanperkembangan modern. Ditinjau dari nasional, seperti masalah tata nilai,latar bclakang ini, masalah kualitas industri. pembangunan pertanian,pendidikan merupakan masalah yang perencanaan tenaga kerja, danmemprihatinkan dalam rangka pertumbuhan wilayah.kelangsungan hidup bangsa dannegara. Dalam sistem pendidikan ini 4. Masalah efisiensisendiri, masalah kualitas menyangkut Masalah efisiensi pada hakikatnya adalah masalah banyak hal, antara lain kualitas pengelolaan pendidikan nasional.calon anak didik, guru dan tenaga Adanya keterbalasan dana dan dayakependidikan lainnya, prasarana, dan manusia sungguh-sungguhsarana. Penanganan aspek kualitatif ini memerlukan adanya sistemberhubungan erat dengan penanganan pengelolaan efisien dan terpadu.aspek kuantitatif sehingga perlu sekali Keterpaduan pengelolaan tidak hanyaadanya keseimbangan yang dinamis tercermin di dalam hubungan antaradalam proses pengembangan negeri dan swasta, antara pendidikanpendidikan nasional, sehingga sekolah dan pendidikan luar sekolah,peningkatan kualitas tidak sampai antara departemen yang satu danmenghambat peningkatan kuantitas departemen yang lain, di dalamdan sebaliknya. lingkungan jajaran Departemen3. Masalah relev ansi Pendidikan Nasional sendiri, tetapi Masalah relevansi adalah juga di antara semua unsur dan unitmasalah yang timbul dari hubungan lersebut.antara sistem pendidikan dan 5. Masalah efektifitaspembangunan nasional serta antara Masalah efektifitas adalahkepentingan perorangan, keluarga, dan masalah yang menyangkut keampuhanmasyarakat, baik dalam jangka pendek pelaksanaan pendidikan nasional.maupun dalam jangka panjang. Hal ini Dalam hubungan dengan permasalahanmeminta adanya keterpaduan di dalam keseimbangan yang dinamis antara
  • 9. kualitas dan kuantitas, di samping bermutu. Selanjutnya, Mastuhuketerbalasan sumber dana dan tenaga, mengatakan bahwa mutu (quality)efektivitas proses pendidikan amat merupakan suatu istilah yang dinamispenting. Hal ini berkaitan dengan yang turus bergerak; jika bergerakkurikulum, termasuk aspek metodologi maju dikatakan mutunya bertambahdan evaluasi, serta masalah guru, baik, sebaliknya jika bergerak mundurpengawas, dan masukan instrumental dikatakan mutunya merosot. Mutulainnya. dapat berarti superiority atau excellence yaitu melebihi standar6. Masalah khusus umum yang berlaku. Sedangkan Di samping masalah-masalah sesuatu dikatakan bermutu jikaumum yang telah dibicarakan di atas, terdapat kecocokan antara syarat-perlu dibicarakan pula beberapa syarat yang dimiliki oleh benda yangmasalah khusus sebagai berikut. Guru dikehendaki dengan maksud dari orangsebagai pelaksana pendidikan faktor yang menghendakinya (Idrus, dkk.,kunci di dalam pelaksanaan sistem 2002).pendidikan nasional. Masalah guru Dalam pengelolaan suatu unitmenyangkut soal pengadaan di pendidikan, mutu dapat dilihat dari:lembaga-lembaga pendidikan guru, "masukan", "proses", dan "hasil".pembinaan sistem karir dan prestasi Masukan" meliputi: siswa. Tenagakerja, pengangkatan, pemerataan dan pengajar, administrator, dana, sarana,penyebaran menurut wilayah dan prasarana, kurikulum, buku-bukubidang studi, pembinaan karir dan perpustakaan, laboratorium, dan alat-prestasi, status, dan kesejahteraan. alat pembelajaran, baik perangkatMasalah yang kompleks ini keras maupun perangkat lunak.menyangkut banyak lembaga dan unit "Proses" meliputi, pengelolaanserta koordinasi dan kerjasama antara lembaga, pengelolaan program studi,lembaga dan unit tersebut. pengelolaan program studi. Esensi dari permasalahan- pengelolaan kegiatan belajar-permasalahan pendidikan pada mengajar, interaksi akademik antarahakekatnya adalah bermuara pada satu civitas akademika, seminar dialog,istilah yaitu kualitas pendidikan atau penelitian, wisata ilmiah, evaluasi danmutu pendidikan. Mastuhu (2003) akreditasi. Sedangkan "hasil": meliputimengemukakan bahwa kata kunci lulusan. penerbitan-penerbitan,untuk menggambarkan Sistem temuan-temuan ilmiah, dan hasil-hasilPendidikan Nasional yang bagaimana kinerja lainnya.yang diperlukan dalam abad-abadmendatang ialah pendidikan yang
  • 10. Ketiga unsur di atas (input, pendidikan tenaga kependidikan diproses, dan output) terus berproses perguruan tinggi dan pengambilatau berubah-ubah. Oleh karena itu, keputusan dituntut untuk membukapengelola unit pendidikan atau sekolah wacana terhadap studi-studiperlu menetapkan patokan atau internasional.benchmark, yaitu standar target yang KONSEP DASAK SUPERVISIharus dicapai dalam suatu periode PENGAJARAIN DI SEKOLAHwaktu tertentu dan terus berusaha Di antara masalah-masalahmelampuinya. Seperti dikemukakan pendidikan yang sedang mendapatoleh Watson (dalam Taroeratjeka, pcrhatian pemerintuh salah salunya2000) bahwa suatu upaya pencarian adalah puningkatan mutu pendidikanmutu secara terus-menerus demi (Benly, IW2). Dalam PROPENASmendapatkan cara kerja yang lebih (2002) dijelaskan bahwa sampaibaik agar mampu tampil bersaing dengan awal abad ke-21 pembangunanmelampui standar umum. pendidikan masih menghadapi krisis Menurut Supriadi (2000) kita ekonomi berbagai bidang kcliidupan.tidak perlu dipusingkan oleh Walaupun sejak tahun 2000, ekonomipertanyaan-pertanyaan mengenai Indonesia telah mulai tumbuh positifvaliditas metodologisnya atau berusaha (4,8 persen), akibat krisis dalammencari excuse apabila ternyata ada kehidupan sosial, politik danhasil-hasil studi yang tidak sesuai kepercayaan dikawatirkan masih akandengan harapan kita. Sikap optimis memberi yang kurang menguntungkanperlu untuk dikembangkan bagi terutama bagi upaya peningkatanpendidikan di Indonesia, walaupun kualitas SDM. Program peningkatanhasil surveinya tidak menyenangkan mutu pendidikan di sekolah dasarsesuai dengan yang diharapkan. dapat dicapai manakala proses belajarlangkah selanjutnya membuat visi ke mengajar dapat berlangsung dengandepan untuk meningkatkan kualitas baik. berdayaguna dan berhasil guna.manajemen pendidikan. Dalam mengkaji risalah mutu Suatu saran yang dikemukakan pendidikan, tidak dapat lepas darioleh Supriadi dalam menghadapi penyelenggaraan sistem pendidikan.permasalahan rendahnya kualitas Dari berbagai faktor penyebabpendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, ditinjaumemiliki visi global dan kehendak dari aspek manajemen pendidikanuntuk bersaing secara internasional, dapat dikelompokkan ke dalam tigamaka insan pendidikan mulai para faktor, yaitu: (a) faktor instrumentalpengajar dan peneliti di lembaga sistem pendidikan, (b) faktor sistem
  • 11. manajemen pendidikan, termasuk di mengemukakan tujuan supervisi yaitudalamnya sistem pembinaan membantu guru dalam hal (1)profesional guru, dan (c) faktor membimbing pengalaman belajarsubstansi manajemen pendidikan sisvva, (2) menggunakan sumber-(Mantja, 1998). Untuk dapat sumber pengalaman belajar, (3)melaksanakan pembinaan terhadap menggunakan metode-metode yangguru agar lebih profesional, maka baru dan alat-alal pelajaran modern,instrumen yang sangat relevan dan (4) memenuhi kebutuhan belajar paratepat adalah dengan melalui supervisi siswa, (5) menilai proses pembelajaranpengajaran. Oleh karena supervisi dan hasil belajar siswa, (6) mcmbinapengajaran pada hakikatnya adalah reaksi mental atau moral kerja guru-untuk meningkatkan kemampuan dan guru dalam rangka pertumbuhanketerampilan guru dalam pribadi dan jabatan mereka, (7)melaksanakan tugas pokoknya sehari- melihat dengan jelas tujuan-tujuanhari yaitu mengajar para peserta didik pendidikan, dan (8) mengguaakandi kelas. waktu dan tenaga mereka dalam Dari berbagai kajian mengenai pembinaan sekolah. Tujuan supervisirumusan definisi mengenai supervisi, ini pada akhirnya adalah ditujukanMantja (1998) menuliskan formulasi untuk meningkatkan kualitas paratentang supervisi pengajaran adalah siswa. Hal ini sebagaimanasemua usaha yang sifatnya membantu dikemukakan oleh Sergiovanni (1983)guru atau melayani guru agar ia dapat bahwa tujuan supervisi ialah (1) tujuanmemperbaiki, mengembangkan, dan akhir adalah untuk mencapaibahkan meningkatkan pengajarannya, pertumbuhan dan perkembangan paraserta dapat pula menyediakan kondisi siswa (yang bersifat total). Denganbelajar murid yang efekif dan efisien demikian sekaligus akan dapatdemi pertumbuhan jabatannya untuk memperbaiki masyarakat, (2) tujuanmencapai tujuan pendidikan dan kedua ialah membantu kepala sekolahmeningkatkan mutu pendidikan. dalam menyesuaikan programDefinisi yang dirumuskan oleh Mantja pendidikan dari waktu ke waktu secaraini sudah mewakili konsep supervisi kontinyu (dalam rangka menghadapipengajaran. tantangan perubahan zaman), (3) Apabila dikaji dari tujuannya tujuan dekat ialah bekerjasamasupervisi pada hakikatnya adalah mengembangkan proses belajaruntuk membantu guru untuk mengajar yang tepat. Tujuan tersebutmeningkatkan kualitas proses belajar ditambah dengan (4) tujuan perantaramengajarnya. Harsosandjojo (1999) ialah membina guru-guru agar dapat
  • 12. mendidik para siswa dengan baik, atau GBHN. Sedangkan tujuan institusionalmenegakkan disiplin kerja secara dapat dilihat di dalam kurikulum yangmanusiawi. memuat landasan, program dan Dalam kaitannya dengan tugas- pengembangan.tugas supervisor, secara lebih khusus Tujuan umum supervisiNurtain (1989) membagi 10 (sepuluh) pendidikan, adalah membantubidang tugas supervisor yang dirinci memperbaiki dan mengembangkansebagai berikut ini. Tugas administrasi pendidikan. AdministrasiI , pengembangan kurikulum. Tugas 2, yang dimaksud adalah meliputi baikpengorganisasian pengajaran. Tujuan administrasi sebagai substansi3, pengadaan staf. Tugas 4, maupun administrasi sebagai proses.penyediaan fasilitas. Tugas 5, Administrasi sebagai substansipcnycdiaan bahan-bahan. Tugas 6, meliputi hal-hal sebagai berikut: (1)penyusunan penataran pendidikan. administrasi kesiswaan, (2)Tugas 7, pemberian orientasi anggota- administrasi ketenagaan, (3)anggota staf. Tugas 8, berkaitan administrasi kurikulum, (4)dengan pelayanan murid khusus. administrasi keuangan, (5)Tugas 9, pengembangan hubungan administrasi sarana/prasarana, dan (6)masyarakat. Dan yang terakhir tugas administrasi hubungan masyarakat.10, penilaian pengajaran. Sedangkan administrasi sebagai proses Mengkaji tugas-tugas supervisi meliputi hal-hal terkait dengan unsur-pengajaran tersebut di atas, dapat unsur manajemen, antara lain (1)ditelaah dari tujuan supervisi kegiatan perencanaan (planning), (2)pengajaran itu sendiri. Sesuai dengan kegiatan pengorganisasianfungsi pokok supervisi, yaitu (organizing), (3) kegiatan pengarahanmemperbaiki dan mengembangkan (actuating) yang meliputi kegiatansituasi belajar mengajar dalam rangka pengarahan (directing) dan kegiatanmencapai tujuan pendidikan nasional, pengkoordinasian (coordinating), danmaka tujuan supervisi pendidikan (4) kegiatan pengawasan (controlling).mencakup tujuan dasar, tujuan umum Berdasarkan uraian tersebut didan tujuan khusus. atas, dapat dikemukakan bahwa untuk Tujuan dasar supervisi meningkatkan kualitas belajarpendidikan, adalah membantu mengajar, guru adalah faktor sentraltercapainya tujuan pendidikan nasional yang perlu mendapatkan perhatiandan tujuan pendidikan institusional. secara optimal. Media untukTujuan pendidikan nasional secara meningkatkan profesionalisme gururinci dan jelas dirumuskan dalam adalah melalui supervisi pengajaran.
  • 13. Supervisi pengajaran pada hakikatnya suatu kegiatan pelajaran yangadalah ditujukan untuk meningkatkan disediakan untuk membantu para gurukualitas pembelajaran yang dilakukan menjalankan pekerjaan mereka denganoleh guru di kelas, sehingga tujuan lebih baik. Peranan supervisor adalahakhirnya adalah kualitas hash belajar mendukung, membantu, dan membagi,siswa dapat ditingkatkan secara bukan menyuruh. Wiles (1982)optimal. selanjutnya mengatakan bahwa supervisi yang baik hendaknyaSUPERVISI PENGAJARAN mengembangkan kepemimpinan di Dalam pemakaiannya secara dalam kelompok, membangun programumum supervisi diberi arti sama latihan dalam jabatan untukdengan director, manager. Dalam meningkatkan keterampilan guru, danbahasa umum ini ada kecenderungan membantu guru meningkatkanuntuk membatasi pemakaian istilah kemampuannya dalam menilai hasilsupervisor kepada orang-orang yang pekerjaannya.berada dalam kedudukan yang lebihbawah dalam hicrarkhi manajemen. SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI Dalam sistem sekolah, PEMBINAAN PROFESIONAL GURUkhususnya dalam sistem sckolah yang Memperhatikan penting danialah berkembang, situasinya agak lain. peranannya pendidikan dasar danDalam Good (1976) supervisi menengah yang demikian besar, makadidefinisikan sebagai segala usaha dari pendidikan dasar dan menengah haruspara pejabat sekolah yang diangkat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.yang diarahkan kepada penyediaan Oleh karena itu, pembinaan terhadapkepemimpinan bagi para guru dan para guru di sekolah dasar merupakantenaga kependidikan lain dalam suatu kebutuhan yang tidak dapatperbaikan pengajaran, melihat ditunda-tunda lagi. Pembinaanstimulasi pertumbuhan professional terhadap guru sekolah dasar, terutamadan perkembangan dari para guru, diarahkan pada pembinaan prosesseleksi dan revisi tujuan-tujuan belajar mengajar. Pembinaan prosespeudidikan, bahan pengajaran, dan belajar mengajar adalah usahametoda-metoda mengajar, dan evaluasi memberi bantuan pada guru untukpengajaran. memperluas pengetahuan,Wiles (1982) menjelaskan bahwa meningkatkan keterampilan mengajarsupervisi sebagai bantuan dalam dan menumbuhkan sikap profesional,pengembangan situasi belajar- schingga guru menjadi lebih ahli dalammengajar yang lebih baik; ia adalah mengelola KBM untuk membclajarkan
  • 14. anak didik dalam rangka mencapai mengelo la kelas sehingga tercipt atujuan pembelajaran dan tujuan lingkungan belajar yangpendidikan di SD (Depdikbud, menyenangkan, dan (8) menyusun1999/2000). dan mengelola catatan kemajuan Supervisi pendidikan di sekolah anak (record keeping) (Depdikbud,dasar lebih diarahkan untuk 1999/2000).meningkatkan kemampuan guru Menurut Mantja (1990)sekolah dasar dalam rangka supervisi atau pembinaanpeningkatan kualitas proses belajar profesional adalah bantuan ataumengajar. Supervisi ini dapat layanan yang dib erikan kepadadilakukan oleh siapa saja, baik Kepala guru, agar ia belajar b agaimanaSekolah maupun Pengawas Sekolah mengembangkan kemampuannyayang bertugas sebagai supervisor untuk meningkatkan proses belajar -melalui pemberian bantuan yang mengajar di kelas. Supervisor at aubercorak pelayanan dan bimbingan pembina, yaitu Pengawas S ekolah,profesional, sehingga guru dapat Kepala Seko lah, atau semua pejaba tmelaksanakan tugasnya dalam proses yang terlibat dalam layananbelajar mengajar dengan lebih baik supervisi, adalah pihak yang selamadari prestasi sebelumnya. ini dipandang berwewenang, danSupervisi pendidikan di seko lah karena itu pula dianggap palingpada hakekatnya adalah dalam bertanggung jawab dalam kegiatanrangka pembinaan terh adap para supervisi.guru. Adapun sasaran Kilas balik kaji historispembinaannya, ant ara lain (1) supervisi p engajaran, pada awalnyamerencanakan kegiatan belajar istilah yang dimunculk an adalahmengajar s esuai dengan strategi supervisi pendidikan (Kurikulumbelajar aktif, ( 2) mengelola 1975). Kemudian. p ada Kurikulumkegiatan belajar menga jar yang 1984 dan 1994 digunakan istilahmenant ang dan menarik, (3) pembinaan profesio nal guiu at aumenilai kemajuan anak belajar, (4) pembinaan guru untuk jenjangmemberikan umpan balik yang sekolah dasar. Walaupun demikianbermakna, (5) memanfaatkan istilah sup ervisi pendidikan dalamlingkungan seb agai sumber dan Kurikulum SMU 1994 ma sih t etapmedia pengajaran, (6) membimbing digunakan. Dengan demikian dapatdan melayani siswa yang mengalami disimpulkan bah wa kegiat ankesulitan b elajar, terutama bagi supervisi p endidikan maupunanak lamb an dan anak pandai, ( 7) pembinaan profesional merup akan
  • 15. nama layanan yang digunakan BEBERAPA PENDEKATAN DALAMsecara b ergantian dalam praktik SUPERVISI PENDIDIKANpendidikan pada s ekolah -s eko lah di Secara garis besar ada tigaIndones ia. pendekatan dalam supervisi Dengan demikian dapa t pendidikan, yaitu (1) pendekatandikemukakan bah wa sup ervisi langsung (directive approach), (2)(pembinaan profes ional guru ) pendekatan tidak langsung (nondimaksudkan untuk meningkatkan directive approach), dan (3)kemampuan dan ket erampilan guru pendekatan kolaboratifdalam melaks anakan tugas (collaborative approach). Pendekatanpokoknya s ehari -hari yaitu langsung adalah seb uah pendekatanmengelo la proses belajar -mengajar supervisi, di mana dalam up ayadengan s egala asp ek pendukungnya peningkatan kemampuan gurusehingga berjalan dengan b aik peran kepala sekol ah dasar,khususnya dalam kegiat an belajar pengawas TK/SD, dan pembinamengajar, sehingga tujuan lainnya lebih b esar dari pada peranpendidikan dasar dapat t ercap ai guru yang bersangkutan.secara optimal. Pendekatan tidak langsung adalah Pada h akikat nya kegiatan sebuah pendekatan supervisi, dipembinaan menyangkut dua b elah mana dalam upaya peningkat anpihak yaitu pihak yang dilayani atau kemampuan guru peran kepalapihak yang dibina dan pih ak yang sekolah, pengawas TK/SD, danmelayani atau yang membina Pembina lainnya lebih kecil(Ekosusilo, 2003). Baik yang dibina daripada peran guru yangmaupun p embina harus sama -sama bersangkutan. Pendekatanmemiliki kemampuan yang kolaboratif adalah sebuahberkemb ang s ecar a serasi sesuai pendekatan sup ervisi, di manadengan kedudukan dan p eran dalam upaya peningkatanmasing -masing. Oleh sebab itu, kemampuan guru peran kepalasasaran pembinaan profesional ini sekolah, pengawas TK/SD, danadalah kedua belah p ihak yaitu guru pembina lainnya sama besarnyasebagai pihak yang dibina dan dengan p eran guru yangkepala sekolah atau pengawas bersangkutan.sekolah s ebagai pihak yang Penggunaan pendekat anmembina. tersebut disesuaikan dengan dua karakteristik guru yang akan dib eri supervisi, yaitu tingkat abstraks i
  • 16. guru (level of teacher abstraction) supervisi pendidikan yang lazimdan tingkat komitmen guru (level of digunakan dalam pelaksanaanteacher commitment). Daya abstraksi supervisi pengajaran. Ada ters ediaguru bisa tinggi, s edang, dan bisa sejumlah teknik supervisi yangjuga rendah. Demikian pula dengan dipandang b ermanlaat untukkomitmen guru bisa tinggi, sedang, merangsang dan mengarahkandan rendah. Pendekatan supervisi perhatian guru -guru terhadapyang digunakan har us disesuaikan kurikulum dan pengajaran, untukdengan tinggi -r endahnya daya mengidentifikasi masalah -mas alahabstraksi dan komit men guru yang yang b ertalian dengan mengajar dandisupervisi. belajar, dan untuk menganalisis1. Guru yang memil iki daya kondisi -kondisi yang mengelilingi abstraksi dan komitmm yang mengajar dan belajar. Yang b erikut rendah sebaiknya disupervisi ini pada umumnya dipandang dengan pendekat an langsung. teknik yang paling bermanfaat bagi2. Guru yang memiliki daya supervisi. abstraksi yang r endah, tetapi komitmennya tinggi, seb aiknya 1. Kunjungan kolas. disupervisi dengan pendekatan Kunjungan kelas (sering kolaboiat if. disebut kunjungan supervisi) yang3. Guru yang memiliki daya dilakukan kep ala sekolah (at au abstraksi yang tinggi tetapi pengawas/penilik) adalah teknik komitmennya r endah, sebaiknya paling efektif untuk mengamati disupervisi dengan pendekatan guru bekerja, alat, metode, dan kolaboratif. teknik mengajar tertentu yang4. Guru yang memiliki daya dipakainya, dan untuk mem -pelajari abstraksi dan komitmen yang situasi belajar secara keseluruhan tinggi s ebaiknya disupervisi dengan memperh atikan s emua dengan pendekat an tidak faktor yang mempengaruhi langsung (Bafadal, 2003). pertumbuhan murid. Dengan menggunakan h asil anali sis observasinya, ia bersama denganTEKNIK-TEKNIK SUPERVISI guru dapat menyusun suatu Bagaimana Kepala Sekolah program yang baik untukdalam mensup ervisi para guru ?. memperbaiki ko ndisi yangDalam kont eks ini, maka Kepala melingkari mengajar -belajar diSekolah p erlu mengenal dan kelas tertentu. Sudan tentu,memprakt ekkan teknik -teknik
  • 17. kunjungan kelas, agar efektif, kelompok) dimaksud sualu kegiatanhendaknya dipersiapkan dengan dimana sekelompok orang berkumpulteliti dan dilaks anakan dengan dalam situasi bcrlatap muka dansangat berhati -hati dengan disertai melalui interaksi lisan bertukarbudi bahasa yang baik pula. informasi atau berusaha untukPada umumnya kunjungan kelas mencapai suatu keputusan tentanghendaknya diikuti oleh pembicaraan masalah-masalah bersama. Kegiatanindividual antara kepada sekolah diskusi ini dapal mengambil beberapadengan guru. bentuk pertemuan staf pengajar, seperti: diskusi panel, seminar,2. Pembicaraan individual lokakarya, konperensi, kelompok studi, Pembicaraan individual pekerjaan komisi, dan kegiatan lainmerupakan teknik supervisi yang yang bertujuan untuk bersama-samasangat penting karena kesempatan membicarakan dan menilai masalah-yang diciptakannya bagi kepala sekolah masalah tentang pendidikan dan(pengawas/penilik) untuk bekerja pengajaran. Pertemuan-pertemuansecara individual dengan guru serupa ini dipadang suatu kegiatansehubungan dengan masalah-masalah yang begitu penting dalam programprofesional pribadinya. Masalah- supervisi modern, sehingga gurumasalah yang mungkin dipecahkan sebenarnya hidup dalam suasanamelalui pembicaraan individual bisa pelbagai jenis pertemuan kelompok.macam-macam: masalah-masalah yangbertalian dengan mengajar, dengan 4. Demonstrasi mengajarkebutuhan yang dirasakan oleh guru, Demonstrasi mengajardengan pilihan dan pemakaian alat merupakan teknik yang berharga pula.pengajaran, teknik dan prosedur, atau Rencana demonstrasi yang telahbahkan masalah-masalah yang oleh disusun dengan teliti dan dicetak lebihkepala sekolah dipandang perlu untuk dulu, dengan menekankan pada hal-haldimintakan pendapat guru. Apapun yang dianggap penting atau pada nilaiyang dijadikan pokok pembicaraan, ia teknik mengajarmewakili teknik yang sangat baik untuk tertentu, akan sangat membantu.membantu guru mengembangkan arah Pembicaraan sehabis demonstrasi bisadiri dan tumbuh dalam pekerjaan. menjelaskan banyak aspek. Suatu analisis observasi adalah perlu.3. Diskusi Kclompok Dengan diskusi kelompok (atau 5. Kunjungan kelas antar gurusering pula disebut pertemuan
  • 18. Sejumlah studi telah mengungkapkan berisi pengumuman-pengumuman,bahwa kunjungan kelas yang dilakukan ikhtisar tentang penelitian-penelitian,guru-guru di antara mereka sendiri analisis presentasi dalam pertemuan-adalah efektif dan disukai. Kunjungan pertemuan organisasi professional, danini biasanya direncanakan atas perkembangan dalam berbagai bidangpermintaan guru-guru. Teknik ini akan studi.lebih efektif lagi jika tiap observasidiikuti oleh suatu analisis yangberhati-hati. 7. Perpustakaan Profesional Perpustakaan professional6. Pengembangan kurikulum sekolah merupakan sumber informasi Perencanaan penyesuaian dan yang sangat membantu kepadapengembangan kurikulum peitumbuhan professional personilmenyediakan kesempatan yang sangat pengajar di sekolah. Perpustakaanbaik bagi partisipasi guru. Pentingnya professional menyediakan tidak sajarelevansi kurikulum dengan kebutuhan suatu sumber informasi, tapi ia jugamurid dan masyarakat bagi suatu rangsangan bagi kepuasanpemeliharaan dan peningkatan kualitas pribadi. Buku-buku tentang pandanganpendidikan di negara kita diakui. professional, bacaan suplementer yangTetapi dalam prakteknya, sekolah- lebih baru, dan majalah professionalsekolah secara individual tidak banyak yang banyak jumlah-nya itu hendaknyamelakukan usaha untuk menyesuaikan tersedia bagi semua guru. Jugadan mengembangkan kurikulum sumbangan-sumbangan dari gurustandar itu dengan kebutuhan murid dapat menjadi bagian dari "gudang"dan masyarakat terus berubah. informasi ini.Terserah kepada kepala sekolah untukmenciptakan perhatian dan keinginan 8. Lokakaryabagi pekerjaan penting dan terus- Lokakarya menyediakanmenerus itu. Penyesuaian dan kesempatan untuk Kerjasama, untukpengembangan kurikulum dilakukan di memperteukan ide-ide, untuksekolah dengan mengembangkan mendiskusikan masalah-masalahmateri muatan lokal. Muatan lokal ini bersama alau khuais, dan untuksesuai dengan potensi lingkungan pertumbuhan pribadi dan professionalsekitar sekolah. dalam berbagai bidang studi. Ada banyak jenis lokakarya itu. Dalam6. Buletin supervisi lokakarya seni, barangkali sebagian Buletin supervisi merupakan bcsar waktu akan diisi denganalat komunikasi yang efektif. Ia bisa
  • 19. partisipasi sungguh dengan adalah seperti: (1) laporan kepadamempelajari keterampilan dan teknik- orang tua murid, (2) majalah sekolah,teknik kegiatan scni. Dalam lokakarya (3) surat kabar sekolah, (4) pameranmatematika lebih banyak tckanan sekolah, (5) open house, (6) kunjunganmungkin diberikan kepada ke sekolah, (7) kunjungan ke rumahmenganalisis dan memilih pengalaman murid, (8) melalui penjelasan yangbelajar yang sesuai, menemukan bahan diberikan oleh perso nil sekolah, (9)teknologi pengajaran dan metode- gambaran keadaan sekolah melaluimetode presentasi ini, dan menilai murid-murid, (10) melalui radioprogram-program baru. dan televisi, (11) laporan tahunan, (12) organisasi perkumpulan alumni9. Survey sekolah-masyarakat sekolah, (13) melalui kegiatan Suatu studi yang komprehensif ekstra kurikulum, dan (14)tentang masyarakat akan membantu pendekatan secara akrab.guru dan kepala sekolah untukmemahami dengan lebih jelas program RESPON DAN SIKAP GURUsekolah yang akan memenuhi TERHADAP SUPERVISIkebutuhan dan kepentingan murid. PENGAJARAN Sebenarnya ada teknik-teknik Kajian tentang sikap gurulain, tetapi yang diterapkan di atas terhadap supervisi menjadidengan singkat adalah teknik-teknik perhatian Neagley & Evans (dalamyang dalam sejumlah penelitian Mantja, 1998) dengan merujukdipandang telah menunjukkan sejumlah hasil penelitian beb erapamanfaatnya bagi supervisi. Untuk pakar supervisi pengajaran.pembahasan yang lebih terurai Temuan-temuan yang dilaporkan,pembaca disarankan untuk membaca antara lain (1) supervisi yangsumber-sumber lain. efektif harus di dasarkan atas Pada hakekatnya tidak ada satu prinsip-prinsip yang sesuai denganteknik tunggal yang bisa memenuhi perubahan sosial dan dinamikasegala kebutuhan; dan bahwa sualu kelompok, (2) para guruteknik tidaklah baik alau buruk pada mengh endaki sup ervisi dari kepalaumumnya, melainkan dalam kondisi sekolah, seb agaimana yangtertentu. Masalah yang utama adalah seharusnya dikerjakan oleh tenagamenetapkan kebutuhan. Beberapa personel yang berjabat anteknik hubungan antara sekolah supervisor, (3) kepala sekolah tid akdengan masyarakat yang diperkenalkan melakukan sup ervisi dengan baik,oleh Sahertian (1989) antara lain (4) semua guru membutuhkan
  • 20. supervisi dan mengharapkan untuk Krisis Menuju Pembaruan, yangdisupervisi, (5) para guru lebih diikuti para pakar yang kompclen.menghargai dan menilai secara Salali satu rekomendasi daripositif perilaku s upervisi yang konferensi ini, khususnya yang"hangat", s aling mempercayai, berkaitan langsung dengan masalahbersahabat, dan menghargai guru, supervisi dikemukakan sebagai berikut(6) supervisi dianggap bermanfaat ini.bila direncanakan dengan baik, Rekomendasi 23supervisor menunjukkan sifat Fungsi-fungsi pengawasan padamembantu dan menyediakan model - semua jenjang pendidikanmodel pengajaran yang efektif, (7) dioptimalkan seba-gai saranasupervisor memberikan peran serta untuk memacu mutuyang cukup tinggi kep ada guru pendidikan. Pengawasanuntuk p engambilan keputusan dimaksud dengandalam wawancar a supervisi, (8) mengutamakan aspek-aspeksupervisor mengutamakan akademik daripada administratifpengembangan ket er ampilan sebagaimana berlaku selama inihubungan ins ani, seperti h alnya (Jalal & Supriadi, 2001).dengan ket erampilan teknis dan (9) Keefektifan penerapan orientasisupervisor seharus nya menciptakan dan pendekptan supervisi di atas, tidakiklim organis asional yang t erbuka, hanya tergangung pada supervisor saja,yang memungkinkan pemantapan melainkan juga sangat dipengaruhihubungan yang s aling menunjang oleh persepsi, respon, dan sikap guru(supportive). terhadap orientasi dan supervisi yang Dalam praktiknya supervisi dilakukan oleh supervisor. Penelitianpengajaran yang dilaks anakan mengenai sikap guru terhadapselama ini mas ih cenderung supervisi dikemukakan oleh Ekosusiloberorient asi pada administratif (2003) bahwa guru tidak terlalu positifsaja. Walaupun sudah dirumuskan terhadap supervisi yang dilakukandalam kegiat an supervisi bahwa supervisor. Selanjutnya dikemukakanaspek yang disupervisi adalah oleh Ekosusilo dalam simpulanadministr atif dan e dukatif, namun penelitiannya bahwa supervisi yangpada kenyat aannya masih dilakukan supervisor dianggap biasa-cenderung lebih dominan aspek biasa saja dan monoton itu-itu saja,administr atif. Feno mena ini dikaji bahkan nampak diacuhkan. Namunsecara khusus dalam Konferensi guru tidak menampakkan ketidak-Pendidikan di Indo nesia: Mengatasi setujuannya di hadapan supervisor,
  • 21. karena dilandasi rasa hormat sekaligus nampaknya mempunyai kadartidak ingin menimbulkan konflik. transferabilitas yang cukup tinggi,Penelitian yang dilakukan Mantja karena kendala-kendala di jenjang(1989) juga menyimpulkan bahwa pendidikan dasar berkisar padarespon dan sikap guru terhadap permasalahan-permasalahan temuansupervisi ditentukan oleh kemanfaatan, tersebut di atas. Isvanto (1999)data pengamatan yang obyektif, mengemukakan bahwa permasalahankesempatan menanggapi balikan, pendidikan, antara lain adalahperhatian supervisor terhadap gagasan manajemen sekolah yang tidak efektif,guru. Supervisi yang teratur dan dan kemampuan manajemen kepalahubungan yang diciptakan dapal sekolah pada umumnya rendahmengurangi ketegangan emosional terutama di sekolah negeri danguru. Guru lebih menyukai pendekatan pembinaan karier dan kesejahteraansupervisi kolaboratif atau non direktif. guru yang tidak konsisten. Mengkaji perihal kendala- kendala dalam pelaksanaan supervisi,KENDALA-KENDALA PELAKSANAAN temuan Ekosusilo (2003) menarikSUPERVISI PENGAJARAN untuk dikemukakan di sink Temuan Dalam pelaksanaannya, penelitian Ekosusilo tentangsupervisi pengajaran di sekolah banyak pelaksanaan supervisi antara lain: (1)menghadapi kendala. Mantja (1990) supervisor tidak mengkomunikasikandalam temuan disertasinya meuyalakan rencana/program supervisinya kepadabahwa kendala-kendala yang kurang para guru sebagai subyek supervisi, (2)menunjang keefektifan supervisi, fokus supervisi hanya terarah padaantara lain: sikap personil sekolah aspek administrasi, kurang menyentuhyang kurang positif terhadap supervisi pada pengembangan kemampuan gurupengelola teknis edukatif; kurangnya dalam mengelola proses belajarketerampilan supervisi kepala sekolah; mengajar, (3) supervisor tidakpengendalian emosional supervisor melaksanakan kunjungan kelas secaradalam menerima respons guru; kepala serius, (4) supervisor mendominasisekolah yang karena kurangnya tenaga pembicaraan dan berjalan satu arah,guru haras memegang kelas atau (5) tidak ada penilaian umpan balik,bidang studi tertentu, sehingga dan (6) supervisor tidak pernahsupervisi menjadi kurang efektif; dan meminta pada guru untuk memintaadanya guru yang tingkat pada guru untuk memberikanpendidikannya lebih tinggi dari kepala komentar maupun penilaian terhadapsekolahnya. Temuan Mantja ini, supervisi yang telah dilaksanakan.
  • 22. Kendala-kendala inilah yang di kelas; (3) supervisor atau pembina,mengakibatkan supervisi pengajaran yaitu Pengawas Sekolah, Kepalayang dilaksanakan oleh Pengawas Sekolah, atau semua pejabat yangSekolah di sekolah dasar tidak dapat terlibat dalam layanan supervisi,optimal, sehingga tujuan pokok adalah pihak yang dianggap palingpelaksanaan supervisi untuk bertanggung jawab dalam kegiatanmeningkatkan kualitas kegiatan belajar supervisi; (4) ada tiga pendekatanmengajar tidak dapat tercapai. Temuan dalam supervisi pengajaran, yaitu (a)Ekosusilo (2003) ini memberikan pendekatan langsung, (b) pendekatangambaran bahwa pembinaan tidak langsung, dan (c) pendekatanprofesional guru masih perlu kolaboratif; (5) teknik-teknik supervisiditingkatkan lebih lanjut. pendidikan yang paling bermanfaat bagi supervisi antara lain adalah: (a) kunjungan kelas, (b) pembicaraan individual, (c) diskusi kelompok, (d) demonstrasi mengajar, (e) kunjungan kelas antar guru, (1) pengembangan kurikulum, (g) bulletin supervisi, (h) perpustakaan profcsioml, (i) lokakarya, (j) survey sekolah-masyarakat; (6) paraSIMPULAN DAN SARAN guru lebih menghargai dan menilaiSimpulan secara positif perilaku supervisi yang Berdasarkan uraian tentang "hangat", saling mempercayai,peningkatan mutu pendidikan melalui bersahabat, dan menghargai guru; dansupervisi pengajaran di atas, maka (7) dalam praktiknya supervisidapatlah disimpulkan hal-hal sebagai pengajaran yang dilaksanakan selamaberikut: (1) masalah-masalah dalam ini masih cenderung berorientasi padabidang pendidikan adalah (a) masalah administratif saja.kuantitatif, (b) masalah kualitatif, (e) Saran-saranmasalah relevansi, (d) masalah Berdasarkan simpulan di atas,efisiensi, (e) masalah efektivitas, dan maka dapatlah dikemukakan saran-(f) masalah khusus; (2) supervisi saran sebagai berikut: (1) untukpengajaran pada hakikatnya adalah meningkatkan kemampuan supervisor,untuk meningkatkan kemampuan dan maka perlu secara rutin ada programketerampilan guru dalam penyegaran bagi para supervisor,melaksanakan tugas pokoknya sehari- sehingga dalam melaksanakanhari yaitu mengajar para peserta didik tugasnya sesuai dengan tujuau
  • 23. supervisi dan sesuai dengan keinginan guru di sekolah; (3) dalam pelaksanaanpara guru; (2) arah supervisi perlu supervisi di sekolah, para supervisordifokuskan/ditekankan kepada aspek perlu membekali format dokumen yangakademik tanpa mengabaikan faktor dapat merekam dan mencatat kegiatanadministratif sebagai pelengkap guru dalam melaksanakan tugas-pelaksanaan supervisi tcrhadap para tugasnya di sekolah; (4) dalammelaksanakan supervisi pengajarandisarankan untuk menggunakanprosedur supervisi klinis, dan (5) perluada pertemuan sesuai supervisi untukmendiskusikan hasil supervisi yangtelah dilakukan oleh Kepala Sekolahatau Pengawas Sekolah, sebagai upayatindak lanjut setelah pelaksanaansupervisi dilaksanakan.
  • 24. DAFTAR RUJUKANBafadal, I. 2003. S eri Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Seko lah, Peningkat an Profes ionalisme Guru Sekolah Dasar, Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.Benty, D.D.N. 1992. Kemampuan Kepila S ekolah Dasar Membantu Guru dalam Mengembangkan Pengajaran Menurut Persepsi Guru -Guru SD Negeri di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malnng. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasa Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan Malang.Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Dasar 1975, Garis -Garis Besar Program Pengajaran Buku III D Pedoman Administrasi dan Sup ervisi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdikbud. 1994/1995. Pedoman Kerja Pelaksanaan Sup ervisi. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SD, TK dan SLB, Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menenga,., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdikbud. 1995. Pedoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdiknas. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis S ekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.Ekosusilo, M. 2003. Iiasil Penelitian Kualitatif, Sup ervisi Pengajaran Dalam Latar Budaya Jawa, Studi Kasus Pembinaan Guru SD di Kralon Surakart a. Sukoharjo: Penerbit Uvitet Bantara Press.Indrafachrudi, S.(Koordinator). 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: Penerbit IKIP Malang.Idrus, N., dkk. 2000. Quality Assurance, Handbook. 3 -Edition. Jakarta: Engineering Education Development Project, Du Malcomlm Jones (ed)., Director General of Higher Education.Iswanto, B. 1999. Olonomi Daerah: Imp likasi bagi Pengelo laan Pendidikan. Makalah disajikan dalam seminar nasional Formula Manajemen Pendidikan dalam Kerangka Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan pada tanggal 23 Aeustus 1999 di Universitas Neseri Malane.Jalal, F. & Supriadi, D. 2001. Reformasi Penclidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Depdiknas -Bappenas-Adicita Karya Nusa.
  • 25. Mantja, W. 1998. Manajemen Pembinaan Profesional Guru Berwawasan Pengembangan Sumber Daya Manusia: Suatu Kajian Ko.tseptual -historik dan Empirik. Pidalo Pengukuhan Guru Besar [KIP Malang. Making: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 s Century). Yogyakarta: Safiria Insania Press bekerjasama dengan Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (MSI UII).Sahertian, P.A. & Mataheru, F. 1982. Prinsip & Tehnik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Pendidikan, Dasar dan Menengah: Rujukan Bagi Penetapan Kebijakan Pendidikan Pada Era Otonomi dan Manajemen Berbasi s Sekolah. Bandung: PT Lemadja Rosdakarya.
  • 26. PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJARSISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD TUNAS BANGSA KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA Etiyasningsih*)Abstrak, Bahasa Indonesia dipakai di sekolah dari tingkat paling rendah sampai perguruantinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk kehakiman pengadilan,serta di segala bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari segi ilmiah dapat dijadikan kunciuntuk membuka pintu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, dengan pertimbangantersebut maka yang perlu diperjatikan adalah bimbingan orang tua dalam menunjangprestasi anak di sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua,guru dan masyarakat. Namun berperan serta orang tua dan masyarakat dalam menunjangprestasi belajar anaknya belum tampak menggembirakan, apabila status pendidikan orangtuanya atau masyarakat pada umumnya masih rendah, maka semata-mata pendidikananaknya diserahkan kepada guru di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran BahasaIndonesia. Penelitian dilakukan di SD Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. Populasisebanyak 34 anak dan orang tua. Sampel diambil dengan teknik total sampling diperoleh 34responden anak dan orang tua siswa. Pengumpulan data dengan dokumentasi dan kuesioner,selanjutnya dilakukan uji regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh bimbingan orangtua terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 16,995 > Ftabel = 4,17. Oleh karena Fhitung >Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbinganorang tua terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan orang tua lebih banyak memberikanbimbingan kepada anaknya terutama dalam belajar bahasa Indonesia, bimbingan di keluargahendaknya mencakup bantuan belajar, pengawasan, pengaturan waktu belajar danketeladanan yang ditunjukkan secara rutin, dan orang tua wali murid selalu mengawasi carabelajar anaknya dan selalu berkonsultasi dengan guru atau orang lain. Pihak sekolahdiharapkan dapat sering mengadakan hubungan dan konsultasi mengenai perkembanganbelajar anak dan juga memecahkan kesulitan yang timbul dalam bimbingan belajar anakdengan wali murid atau orang tua siswa
  • 27. Kata Kunci : Bimbingan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar SiswaPendidikan yang berlangsung seumur suatu pendidikan itu ditentukan oleh tigahidup dan dilaksanakan sedini mungkin komponen, yaitu orang tua (keluarga),merupakan tanggung jawab keluarga, guru (pemerintah), dan masyarakatmasyarakat dan pemerintah. Banyak (lingkungan).orang tua berpendapat bahwa tugasmencerdaskan anak adalah tugas guru dan Dalam mendidik seseorang anak tidakinstitusi pendidikan, sementara mereka akan berhasil tanpa ada kerjasama yangselaku orang tua asyik dengan profesinya baik antara orang tua yang mendidik disendiri, implikasi dari pendapat semacam rumah, dengan guru yang mendidik diini adalah memunculkan ketidakpedulian sekolah. Demikian juga denganorang tua terhadap spiritual, intelektual lingkungan di sekitarnya juga menunjang.dan moral anaknya sendiri. Masih banyak Antara orang tua, guru dan lingkungandi antara orang tua yang lalai akan dalam menangani anak harus adatugasnya dalam membantu perkembangan kerjasama yang baik sehingga merupakandan pemahaman diri putra putrinya, tri tunggal yang tidak dapat dipisahkan.mereka menyibukkan dirinya dengan Sehubungan dengan hal tersebut, jikaurusan masing-masing. ditinjau ari segi waktu belajar antara pendidikan sekolah dan ada dirumah, Bagi orang tua yang taraf ekonominya maka waktu belajar tersebut lebih banyakkuat, waktunya banyak digunakan untuk dirumah. Oleh sebab itu sebagai orang tuaacara-acara yang dianggap sesuai dengan harus benar-benar dapat membantu danmartabat sosialnya, sementara bagi orang mengarahkan putra putrinya, memahamitua yang taraf ekonominya lemah, lebih jauh dan mendalam tentang pola danwaktunya banyak digunakan kegiatan upaya mencerdaskan. Orang tua harusuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. mengerti tentang dasar-dasar pendidikan,Sehingga dengan keadaan ini timbulah psikologi perkembangan, proses belajarberbagai kesulitan yang dihadapi oleh mengajar dan pengetahuan lain gunaanak terutama kesulitan alam belajar yang mencapai tujuan yang sesuai denganmengakibatkan prestasi belajar mereka harapan dan cita-citanya.semakin menurun. Negara Indonesia merupakan Negara Ketika anaknya gagal memenuhi yang sedang berkembang, dan sedangharapannya, pihak pertama yang dituding getol-getolnya membangun, seiringadalah guru dan institusi pendidikan, dengan pembangunan itu, maka di segalakalau kita renungkan anggapan orang tua bidang harus dikembangkan pemerintah.bahwa pencapaian itu hanyalah Di dalam persiapan pembangunan yangtergantung pada lembaga sekolah, siap dipakai perlu sumber daya manusiapendapat seperti ini kurang tepat, dan yang handal, maka pemerintahakan merugikan diri sendiri. menggalakkan pembangunan di bidangBagaimanapun guru, sekolah, dan institusi pendidikan.pendidikan yang lainnya hanyalah pihakyang membantu mencerdaskan peserta Maka tidaklah mengherankan apabiladidik. Sedangkan keberhasilan dalam pemerintah selalu berusaha dengan getol untuk meningkatkan pendidikan baik
  • 28. secara kuantitatif maupun kualitatif, guna terpelihara rasa persatuan dan kesatuanmempercepat tercapainya tujuan bangsa. Berkomunikasi antara suku kitapendidikan yang telah ditetapkan. Untuk harus menggunakan bahasa Indonesiaitu di dalam merealisir tujuan pendidikan yang baik dan benar. Dalam hal iniitu, maka diseluruh jalur, jenis dan jenjang termuat dalam dokumen resmi Negara,pandidikan baik dengan jalur formal seperti : Sumpah Pemuda dan dalammaupun non formal berkewajiban untuk Undang-undang Dasar 1945, Bab XV pasalsegera mendukung dan mewujudkannya. 36 : Bahasa Negara adalah bahasaBahkan dilingkungan keluargapun di Indonesia.harapkan peran serta aktifnya, karenasuatu program akan berhasil dengan baik Bahasa Indonesia dipakai di sekolahapabila aktifitas di dukung oleh semua dari tingkat paling rendah sampaipihak. perguruan tinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk Di dalam Undang-undang pendidikan kehakiman pengadilan, serta di segalaNomor 2 tahun 1989, disebutkan bahwa bentuk komunikasi tingkat nasional. Daritujuan pendidikan di Indonesia adalah segi ilmiah dapat dijadikan kunci untuksebagai berikut : ―Pendidikan nasional membuka pintu untuk mempelajari ilmu-bertujuan mencerdaskan kehidupan ilmu yang lainnya, dengan pertimbanganbangsa dan mengembangkan manusia tersebut maka yang perlu diperjatikanyang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan adalah bimbingan orang tua dalamYang Maha Esa dan berbudi pekerti yang menunjang prestasi anak disekolah.luhur, memiliki pengetahuan dan Pendidikan merupakan tanggung jawabketrampilan, kesehatan jasmani dan bersama antara orang tua, guru danrohani, kepribadian yang mantap dan masyarakat. Namun berperan serta orangmandiri serta rasa tanggung jawab tua dan masyarakat dalam menunjangkemasyarakatan dan kebangsaan‖. prestasi belajar anaknya belum tampakPendidikan Nasional harus juga menggembirakan, apabila statusmenumbuhkan jiwa patriotic dan pendidikan orang tuanya atau masyarakatmempertebal rasa cinta tanah air, pada umumnya masih rendah, makameningkatkan semangat kebangsaan dan semata-mata pendidikan anaknyakesetiakawanan social serta kesadaran diserahkan kepada guru di sekolah.pendidikan sejarah perjuangan bangsadan sikap menghargai jasa para pahlawan Kesadaran bahwa tugas utamaserta berorientasi ke masa depan. Iklim memberi bimbingan anak adalah tugasbelajar mengajar yang dapat orang tua, maka akan memberikanmenumbuhkan rasa percaya diri dan pengaruh positif dalam pembentukanbudaya belajar di lingkungan masyarakat, tanggung jawab dan mendorong motivasiterus juga di kembangkan agar tumbuh belajar, mempermudah proses belajarsikap dan perilaku yang kreatif, dan pada anak dan pengkoordinasianberkeinginan untuk maju. lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak cerdas dan berprestasi Dan sebagai bangsa Indonesia harus terutama pada bidang studi bahasaberkomunikasi di antara suku satu dengan Indonesia. Pemikiran inilah yangsuku yang lainnya dengan baik, agar tetap menjadikan penulis mengangkat judul
  • 29. skripsi ini dengan harapan dapat Y = a + bXmengetahui pengaruh bimbingan orangtua terhadap prestasi belajar siswa pada Y = Prestasi Belajar Bahasa IndonesiaBidang Studi Bahasa Indonesia di SD X = Bimbingan Orang TuaTunas Bangsa Kecamatan WonokromoSurabaya. a = Nilai konstanta b = Nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilaiMETODE PENELITIAN peningkatan (+) atau nilai penurunan (–) variabel Y. Penelitian ini dilakukan denganmengambil populasi seluruh siswa kelasIV SD Tunas Bangsa KecamatanWonokromo Surabaya. Sampel diambil HASIL PENELITIANdengan teknik total sampling diperolehresponden sebanyak 34 siswa. Variabel bebas (X) dalam penelitian Hasil Pengujian Validitasini yakni bimbingan orang tua, yang Validitas menunjukkan sejauhdimaksud bimbingan orang tua adalah mana alat ukur yang digunakan mengukursuatu proses pemberi bentuan secara terus apa yang diinginkan dan mengungkapmenerus dan sistematik dari pembimbing data dari variabel yang diteliti secarakepada peserta bimbingan agar tercapai tepat. Instrument valid berarti alat ukurpemahaman dari penerima diri, yang digunakan untuk mendapat data itupengarahan diri dan perwujudan diri valid. Dalam uji validitas ini suatu butirdalam mencapai tingkat perkembangan pernyataan dikatakan valid jika correctedyang optimal sehingga dapat item total correlation lebih besar darimenyesuaikan diri dengan lingkungan dan 0,339 (untuk jumlah responden 34 orang)memperoleh kebahagian hidup. Variabel sebagaimana tabel r produk momenprestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) yaitu terlampir. Hasil pengujian validitassuatu suatu hasil yang teah dicapai setelah terhadap variabel bimbingan orang tua (X)kegiatan belajar mengajar Bahasa dan Prestasi Belajar Siswa (Y) dapatIndonesia. Dalam penelitian ini, indikator dilihat sebagai berikut :yang digunakan adalah nilai ulangan mata Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabelpelajaran Bahasa Indonesia. Prestasi Belajar Siswa (X) Data yang telah terkumpul kemudian Pernya- Corrected item Ketdilakukan analisis. Uji hipotesis dilakukan taan total correlationuntuk menjawab hipotesa yang telah 1 0,843 Validdiajukan sebelumnya. Uji yang digunakan 2 0,372 Validdalam penelitian ini adalah uji Regresi 3 0,638 ValidSederhana dengan rumus persamaan 4 0,601 Validregresi sederhana : 5 0,540 Valid
  • 30. Pernya- Corrected item Ket sehingga dapat diputuskan bahwa item taan total correlation kuesioner telah reliabel. 6 0,541 Valid 7 0,767 Valid 8 0,476 Valid 9 0,642 Valid Uji Asumsi Klasik 10 0,620 Valid 11 0,686 Valid Uji normalitas 12 0,355 Valid 13 0,677 Valid Dalam penelitian ini uji normalitas 14 0,793 Valid kriterianya adalah jika distribusi data 15 0,543 Valid adalah normal, maka garis yang 16 0,439 Valid menggambarkan data sesungguhnya akan 17 0,354 Valid mengikuti garis diagonalnya. 18 0,495 Valid Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual 19 0,535 Valid 20 0,651 Valid Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa 1,0Sumber : Hasil Olah Data SPSS ,8 Dari tabel di atas dapat diketahuibahwa untuk item pernyataan variabel Expected Cum Prob ,5bimbingan orang tua, corrected item totalcorrelation yang diperoleh untuk seluruh ,3item pernyataan adalah lebih besar dari0,339 (untuk jumlah responden 34 orang), 0,0hal tersebut berarti bahwa secara 0,0 ,3 ,5 ,8 1,0keseluruhan item pernyataan mengenai Observ ed Cum Probbimbingan orang tua adalah valid.Hasil Uji Reliabilitas Gambar 1 Grafik Normalitas Standar Residual Regresi Suatu alat ukur dikatakan reliabelatau handal, jika alat itu dalam mengukursuatu gejala pada waktu yang berbedasenantiasa menunjukkan hasil yang relatif Sesuai kriterianya grafik normal plotsama. Untuk menguji reliabilitas suatu di atas terlihat titik-titik menyebar diinstrument dapat digunakan uji statistic sekitar garis diagonalnya, sertaCronbach Alpha (α), dimana suatu alat penyebarannya mengikuti arah garisukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach diagonal. Dengan demikian menunjukkanAlpha lebih besar dari 0,60. Hasil bahwa model regresi layak dipakai karenapengujian reliabilitas terhadap variabel memenuhi asumsi normalitas.bimbingan orang tua (X) diperoleh alphasebesar 0,7483 lebih besar dari 0,6 Uji Heteroskedastisitas
  • 31. Indikator uji ini adalah melihat grafik Dimana :Scatterplot, jika titik-titik menyebar secaraacak serta tersebar di atas maupun di Y = Prestasi Belajar Siswabawah angka 0 pada suhu Y, maka tidak X = Bimbingan Orang Tuaterjadi heteroskedastisitas. b3 = Koefisien regresi X Scatterplot Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa Output perhitungan dengan program 2,0 SPSS for Windows seperti terlihat dalam 1,5 gambar berikut. 1,0 ANOVAb ,5 Sum of 0,0 Model Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 151,891 1 151,891 16,995 ,000 a -,5 Residual 285,991 32 8,937 -1,0 Total 437,882 33 a. Predictors: (Constant), Bimbingan Orang Tua -1,5 b. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a -2,0 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted Value Gambar 3 Uji F Gambar 2 Grafik Scatterplot Gambar 3 di atas menunjukkan hasil uji F dengan program SPSS for Windows, Dari grafik scatterplot di atas terlihat dengan Fhitung sebesar 16,995. Angka inititik menyebar secara acak dan tersebar di selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel dfatas maupun di bawah angka 0 pada suhu = 32 sebagaimana Tabel F pada lampiranY, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak (Critical Values for the F Distributionterjadi heteroskedastisitas pada model α=0,05). Tabel F dengan df = 32 dan n =1regresi sehingga model regresi layak diperoleh Ftabel = 4,17. Sehingga Fhitung =dipakai untuk mengetahui pengaruh 16,995 > Ftabel = 4,17.bimbingan orang tua terhadap prestasi Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Habelajar siswa. diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbinganHasil Pengujian Regresi Linier orang tua terhadap prestasi belajar siswa.Sederhana Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000 jauh di bawah 0,05, yang Untuk mengetahui ada atau tidaknya menandakan pengaruh yang signifikan.pergaruh antara variabel bebas bimbingan Selain adanya pengaruh yangorang tua terhadap variabel terikat yang signifikan, pada uji korelasi juga terlihatdalam hal ini adalah prestasi belajar siswa adanya korelasi positif antar kedua(Y), maka digunakan analisis model agresi variabel yang diperoleh Pearsonlinier sederhana dengan model persamaan Correlation sebesar 0,589 lebih dari rtabelsebagai berikut : sebesar 0,339 (Sebagaimana r tabel Product Moment pada df = 32 terlampir). Y = α + bX1
  • 32. Cor relations Selanjutnya berdasarkan persamaan Prestas i Belajar Sis w a Bimbingan Orang Tua di atas deskripsi pengaruh bimbingan Pearson Correlation Prestas i Belajar Sisw a Bimbingan Orang Tua 1,000 ,589 ,589 1,000 orang tua terhadap prestasi belajar siswa Sig. (1-tailed) Prestas i Belajar Sisw a , ,000 berdasarkan unstandarized coeffisients Bimbingan Orang Tua ,000 , N Prestas i Belajar Sisw a 34 34 beta adalah sebagai berikut: Bimbingan Orang Tua 1) Konstanta sebesar 35,537 menyatakan 34 34 bahwa jika variabel tingkat pendidikan Gambar Pearson Correlations dianggap konstan (tidak ada upaya membimbing), maka prestasi belajar Besarnya pengaruh atau kontribusi siswa sebesar 35,537 point.tingkat pendidikan terhadap 2) Koefisien regresi tingkat pendidikanperkembangan perusahaan dapat dilihat sebesar 0,190 menyatakan bahwapada gambar Uji t berikut ini. setiap peningkatan 1 poin bimbingan orang tua akan meningkatkan prestasi belajar siswa sebesar 0,190 poin. Jika a Coe fficients angka tersebut dikalikan 1000, Unstandardized StandardizedModel B Coefficients Std. Error Coefficients Beta t Sig. Zero-order Correlations Partial Part deskripsinya menjadi setiap ada upaya1 (Constant) Bimbingan Orang Tua 35,537 ,190 3,292 ,046 ,589 10,797 4,123 ,000 ,000 ,589 ,589 ,589 bimbingan orang tua sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a prestasi belajar siswa sebesar 190 Gambar 4 Uji t point. Sebagaimana Uji F di atas yangmenunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga INTERPRETASIseperti pada Gambar 4.5 memperlihatkanthitung sebesar 4,123 > ttabel sebesar 2,042 Bimbingan orang tua sangat(sebagaimana Critical Value for the t berpengaruh terhadap prestasi belajarDistribution terlampir) artinya terdapat siswa. Memang bimbingan orang tu sangatpengaruh bimbingan orang tua terhadap diperlukan oleh siswa mengingat belajar diprestasi belajar siswa. sekolah tanpa diulang di rumah Untuk menunjukkan besarnya kemungkinan lupa atau kurangpengaruh atau kontribusi tingkat memahami. Jika orang tua mau danpendidikan terhadap perkembangan mampu membimbing anaknya maka anakperusahaan dapat dilihat koefisien regresi akan lebih mengingat dan memahami(standarized coefficients Beta) pada pelajaran yang diberikan oleh guru digambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya sekolah.sesuai dengan rumus regresi sederhana Secara umum hal ini sesuai dengandapat dimasukkan angka-angka tersebut Ketut Sukardi bahwa bimbingan adalahsebagai berikut : suatu proses bantuan yang diberikan pada seseorang agar mengembangkan potensi- Y = a + bX potensi yang dimiliki, mengenali dirinya = 35,537 + 0,190 sendiri, mengatasi persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan
  • 33. hidupnya, secara bertanggung jawab tanpa perencanaan dan pemikiran yang ilmiah,bergantung pada seseorang atau orang (3) Pertolongan yang proses pemecahanlain. Selain itu bimbingan merupakan dari persoalan yang membutuhkansuatu proses pemberi bantuan yang terus aktivitas dan tanggung jawab bersamamenerus dan sistematis terhadap individu antara yang menolong dan yang ditolong,dalam memecahkan masalah yang (4) Pertolongan yang isi, bentuk dandihadapi agar tercapai kemampuan untuk caranya disesuaikan kebutuhan tiap-tiapmemahami dirinya (self undertanding), kasus.kemampuan untuk menerima dirinya (selfaceptaince), kemampuan untuk Secara spesifik tujuan bimbinganmencurahkan dirinya (self direction), oleh orang tua ataupun pihak tertentusesuai dengan potensi atau kemampuan adalah dapat mengetahui keadaan pribadidalam mencapai penyesuaian diri dengan siswa untuk membantu kesulitan belajarlingkungan, baik keluarga, sekolah yang mungkin dihadapi. Tujuanmaupun masyarakat. Bantuan yang bimbingan belajar yang dimaksudkandiberikan orang-orang yang memiliki adalah untuk memperoleh tingkatkeahlian dan pengalaman khusus dalam perkembangan belajar yang optimal bagibidang tertentu yaitu bidang pendidikan. setiap siswa sesuai dengan Bimbingan mencakup pertolongan kemampuannya agar dapat menyesuaikanyang diberikan seseorang dengan tujuan diri terhadap lingkungannya.untuk menolong orang itu kemana ia ingin Selain itu bimbingan bertujuanatau harus pergi, apa yang ia inginkan untuk membantu siswa agar mencapaidilakukan dan bagaimana cara yang perkembangan yang optimal yaitu siswasebaik-baiknya tersebut memecahkan dapat menemukan dirinya sendiri,masalah yang timbul dalam kehidupan. mengenal lingkungan, dan merencanakanDari uraian diatas maka dapat masa depan sehingga dapat mewujudkandisimpulkan mengenai bimbingan, yaitu: dirinya sebagai pribadi yang mandiri danBimbingan ialah suatu proses pemberi bertanggung jawab, pelajar yang kreatifbentuan secara terus menerus dan dan pekerja yang produktif. Drs. Bimosistematik dari pembimbing kepada Walgito menyatakan bahwa tujuan utamapeserta bimbingan agar tercapai bimbingan belajar agar masing-masingpemahaman dari penerima diri, siswa dapat mengembangkan kemampuanpengarahan diri dan perwujudan diri yang ada pada mereka sehingga tercapaidalam mencapai tingkat perkembangan prestasi yang optimal.yang optimal sehingga dapatmenyesuaikan diri dengan lingkungan dan Dengan demikian jelaslah bahwamemperoleh kebahagian hidup (Totok tujuan belajar adalah untuk mengenaliSantoso, 1986:25). kemampuan-kemampuan yang terendam dalam diri anak sehingga dapat Pertolongan dalam bimbingan diharapkan anak tersebut dapatmenurut Slamet (1989:25) antara lain (1) mengembangkan bakat atau kemampuanPertolongan di arahkan peningkatan yang terpendam, jadi bimbingan belajarkemampuan dalam menghadapi hidup sangat penting untuk keberhasilan siswa.dengan segala persoalan, (2) Pertolonganyang kontinyu yang diberikan atas dasar
  • 34. Tujuan bimbingan orang tua Suhartini Arikunto. 1981. Prosedurterhadap anaknya antara lain (1) Untuk Penelitian , Rineka Cipta Jakarta.mengetahui keadaan pribadi anak yangdianggap mempunyai masalah, (2) Untuk Siti Rahaju Hadi Noto, 1982. Prinsip-memahami jenis atau sifat kesulitan prinsip Bimbingan dan Penyuluhan.belajar yang dihadapi, (3) Untuk Yayasan Penerbit Fakultas Psikologimengetahui faktor penyebab kesulitan UGM Yogyakarta.anak dalam pelajaran, (4) Untukmengetahui baik secara kuratif Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research(penyembuhan) maupun secara prefentif I dan II, Fakultas Psikologi UGM(pencegahan) kelemahan-kelemahan Yogyakarta.belajar yang dihadapi oleh anak. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Winamo Surahmad, Drs. Msc. 1976. Pengantar Penyelidikan Ilmiah. CV.DAFTAR PUSTAKA Jenmars Bandung. Wjs. Poerwodarminto, 1961. KamusDrs. Bimo Walgito. 1982. Bimbingan dan Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Penyuluhan Sekolah. Yayasan Pustaka Jakarta. penerbit Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.Dep. Dik. Bud. 1984. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta Jakarta.Dewa Ketut Sukerdi, Drs . 1983 . Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Penerbit Indonesia.GBHN, Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1008, Bima Pustaka Surabaya.I. Djumhur dan Moh. Surya. 1975 Bimbingan dan Penyulahan di Sekolah (Guiedence Counseling). Penerbit CV. Ilmu Bandung.Ngalim Purwanto MP, Drs. 1997. Psikologi Pendidikan. Remaja Resdakarya Bandung.
  • 35. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dan Gaya Kognitif terhadap Pemahaman Uniflying Geography Syaiful Khafid Email: syaiful.khafid@yahoo.co.idAbstract: Penelitian ini dilaksanakan untuk membandingkanpemaha-man ‗uniflying geography‘ antara siswa yang diajar denganmenggu-nakan pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang diajarsecara konvensional, dan antara siswa bergaya kognitif fieldindependent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent yangmenggunakan desain kuasi eksperimental. Penelitian ini menunjukkanbahwa siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran berbasismasalah mempe-roleh skor signifikan lebih tinggi dalam bidanggeografi dari siswa yang diajar secara konvensional. Lagi pula, siswadengan gaya field inde-pendent ternyata memperoleh skor signifikanlebih tinggi daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent, Akantetapi, penelitian tersebut tidak menunjukkan pengaruh interaksionaldari model pembe-lajaran dan gaya kognitif terhadap pemahaman‗uniflying geography‘ siswa.Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, gaya kognitif, pemahaman geografi 1
  • 36. Geografi sebagai mata pelajaran ‗uniflying geography‘ yang dilakukanformal pertama yang membawa guru geografi di kelas hanyasiswa kontak dengan realitas menekankan ranah kognitif dankehidupan seharusnya dapat hafalan serta kurang mendorongmenjadi satu mata pelajaran yang siswa berpikir kritis dan kreatifcukup menarik. Bahkan arti penting (Khafid, 2008:19) Menurutgeografi bagi kehidupan diakui juga penilaian Sudradjat (dalamoleh tokoh atau pejabat dari Daldjoeni, 1997:129) permasalahankalangan ketentaraan maupun yang menonjol adalah rendahnyapemerintahan. Kalau dalam partisipasi siswa dalam mempelajarikenyataan geografi menjadi kurang geografi baik secara intelektualmenarik sebagian besar siswa tentu maupun emosional. Pertanyaan yangada faktor-faktor penyebab yang berasal dari siswa yang berupamenjadikan demikian (Suharyono gagasan atau sanggahan jarangdan Amien, 1994) sehingga muncul. Jikapun ada yangberakibat rendahnya pemahaman berpendapat jarang diikuti olehgeografi (Khafid, 2010). gagasan lain, sehingga sebagian siswa merasakan bahwa Rendahnya pemahaman pembelajaran geografi‗uniflying geography‘ disebabkan membosankan, kering, tidak jelas,paradigma pendidikan konvensional dan sulit dipahami.yang menggunakan metodepembelajaran klasikal dan ceramah, Ada lima faktor penyebabtanpa diselingi aneka metode rendahnya kualitas pemahamanpembelajaran inovatif, termasuk ‗uniflying geography‘, yaitu: (1) siswaadanya penyekat ruang struktural belum mampu menerapkan objekantara guru dan siswa. Pembelajaran formal studi geografi ketika 1
  • 37. mengkaji fenomena geosfer (objek memperhatikan gaya kognitif belajarmaterial studi geografi), (2) siswa siswa.kurang memiliki kemampuan untuk Untuk meningkatkanmerumuskan gagasan sendiri, (3) pemahaman ‗uniflying geography‘siswa kurang memiliki keberanian diperlukan perubahan paradigmauntuk menyampaikan pendapat yang digunakan sebagai landasankepada orang lain, (4) siswa belumterbiasa menggunakan media peta dalam pembelajaran. Perubahanketika belajar geografi. dan (5) siswa paradigma perlu memikirkanbelum terbiasa bersaing bagaimana siswa belajar danmenyampaikan pendapat dengan bagaimana guru mengelolateman yang lain (Khafid, 2008:19). pembelajaran, bukan hanyaDi samping itu, ada tiga faktor yang berfokus pada hasil belajar.mempengaruhi hasil belajar siswa, Menurut Degeng (2001a) tujuanyaitu: (a) faktor endogen, berasal utama pembelajaran adalahdari siswa, (b) faktor eksogen, mengembangkan kemampuanberasal dari lingkungan, dan (c) mental yang memungkinkanfaktor jenis gaya kognitif yang seseorang dapat belajar. Riyantodigunakan siswa (Syah, 2001:130).Hasil belajar geografi yang rendah (2005:98) mengatakan bahwatersebut bukan hanya dibebankan peran guru adalah memberikankepada siswa, melainkan yang kemudahan kepada siswa untukpertama bertanggung jawab adalah membangun sendiri pengetahuanguru geografi. Karena itu, guru perlu dalam benaknya. Guru memberimerefleksi model pembelajaran yang siswa anak tangga yangpernah diterapkan untuk mengubah membawa siswa ke pemahamanparadigma pembelajaran dengan 2
  • 38. yang lebih tinggi dengan catatan fasilitas yang diperlukan siswa.siswa sendiri harus memanjat Selain itu, guru memberikananak tangga tersebut. Jadi, dukungan dalam upayabelajar itu sendirilah yang meningkatkan temuan danmenjadi tujuan pembelajaran. perkembangan intelektual siswa.Keaktifan siswa menjadi unsur Beberapa kelebihanyang sangat penting dalam penerapan pembelajaran berbasismenentukan kesuksesan belajar. masalah di antaranya: (1) siswaSebenarnya target yang harus lebih memahami konsep yangdipenuhi guru adalah siswa diajarkan sebab mereka sendirimampu merekonstruksi sebuah yang menemukan konsepkejadian yang Model tersebut, (2) melibatkan secarapembelajaran berbasis masalah aktif memecahkan masalah danmenurut Mustaji (2004:73) menuntut keterampilan berikirpenggunaannya di dalam siswa yang lebih tinggi, (3)pengembangan tingkat berpikir pengetahuan tertanamyang lebih tinggi dalam situasi berdasarkan skemata yangyang berorientasi pada masalah, dimiliki siswa sehinggatermasuk pembelajaran pembelajaran lebih bermakna,bagaimana belajar. Pada (4) siswa dapat merasakanpembelajaran ini, guru bereran manfaat pembelajaran sebabmengajukan permasalahan atau masalah-masalah yangpertanyaan, memberikan diselesaikan langsung dikaitkandorongan, memotivasi dan dengan kehidupan nyata, hal inimenyediakan bahan ajar, dan dapat meningkatkan motivasi 3
  • 39. dan ketertarikan siswa terhadap dideskripsikan sebagai carabahan yang dipela-jari, (5) bagaimana seseorang siswamenjadikan siswa lebih mandiri mengolah informasi,dan lebih dewasa, mampu sehingga ia dapat mencapai prestasimemberi aspirasi dan menerima belajar yang maksimal (Degeng,pendapat orang lain, 2001b:1).menanamkan sikap sosial yang Pendapat Atkinson sebagaimanapositif di antara siswa, dan (6) dikutip Lamba (2006:124)pengondisian siswa dalam belajar membedakan gaya kognitif, yaitukelompok yang saling gaya kognitif field independentberinteraksi terhadap guru dan (articulated) dan field dependent (global). Siswa yang bergaya kognitiftemannya sehingga pencapaian field independent mempunyaiketuntasan belajar siswa dapat kecenderungan untuk mencapaidiharapkan. prestasi lebih tinggi daripada Gaya kognitif dapat kecenderungannya menghindaridikonsepsikan sebagai sikap, pilihan kegagalan. Mereka selalu optimisatau strategi yang secara stabil akan berhasil dan cenderung akanmenemukan cara-cara siswa yang mencapai prestasi yang maksimal.khas dalam menerima, mengingat, Pendapat Witkin sebagaimanaberpikir, dan memecahkan masalah. dikutip Degeng (2001b:3) siswa yangMenurut Slameto (2003:162) gaya bergaya kognitif field independentkognitif adalah ‖variabel penting cenderung melakukan analisis dandalam pilihan-pilihan yang dibuat sintesis terhadap informasi yangoleh siswa dalam sejumlah hal dipelajari. Sebaliknya, siswa yangberhubungan dengan perkembangan bergaya kognitif field dependentakademik‖. Jadi, gaya kognitif 4
  • 40. lebih cenderung mengantisipasi tantangan, kegairahan, dan kerjakegagalan dengan memilih tugas- keras.tugas yang mudah dan sifatnya Kemungkinan berhasil atauharus banyak bimbingan, serta gagal dalam konsep gaya kognitifkurang mampu memisahkan hal-hal ada dua kecenderungan yaituyang relevan dan tidak relevan kecenderungan mendekatidalam suatu situasi. Individu yang keberhasilan dan kecenderunganmempunyai gaya kognitif field menjauhi kegagalan. Gaya kognitifindependent jika dihadapkan pada sebagai gaya usaha untuk berhasiltugas-tugas yang kompleks dan dan menganggapnya sebagaibersifat analisis cenderung dorongan dengan kecenderunganmelakukannya dengan baik, dan mendekati suatu keberhasilan atauapabila berhasil, antusias untuk suatu yang berkaitan denganmelakukan tugas-tugas yang lebih prestasi. Gaya kognitif seseorangberat lebih baik lagi dan mereka individu ditentukan oleh kedualebih senang untuk bekerja secara kecenderungan tersebut.mandiri. Gaya kognitif sebagaikeinginan untuk mengalami Gaya kognitif memiliki landasankeberhasilan dan peran serta dalam teoretik dan empirik yang kokoh.kegiatan di mana keberhasilan Perilaku ini telah banyak diamatibergantung pada upaya dan pada bidang bisnis, pendidikan, dankemampuan seseorang (Slavin, latar lainnya. Kajian Heller (1992)1995). Gaya kognitif seseorang dapat menyimpulkan ada enamdilihat dari sikap dan perilaku, karakteristik gaya kognitif yangmisalnya keuletan, ketekunan, daya konsisten ditemukan dalam kontekstahan, keberanian menghadapi sekolah yaitu: (1) siswa yang bergaya kognitif field independent lebih 5
  • 41. menyukai terlibat dalam situasi ada Kajian tingkat gaya kognitifrisiko kegagalan. Sebaliknya, siswa dalam penelitian ini terbatas padayang bergaya kognitif field tingkat gaya kognitif yang dapatdependent cenderung memilih dilihat dari perilaku subjek.tugas-tugas mudah, (2) faktor kunci Misalnya, siswa mudah dipengaruhiyang memotivasi siswa bergaya oleh lingkungannya ataupun sulitkognitif field independent adalah dipengaruhi oleh lingkungan dikepuasan intrinsik dari keberhasilan mana siswa itu berada, harapanitu sendiri, bukan pada ganjaran untuk sukses, bekerja keras,ekstrinsik, seperti uang atau kekhawatiran akan gagal, danprestise. Siswa yang bergaya kognitif keinginan memperoleh nilai yangfield independent akan bekerja keras tinggi (Lamba, 2006)agar berhasil, (3) cenderung Mata pelajaran geografimembuat pilihan atau tindakan yang membangun dan mengembangkanrealistis, dalam menilai pemahaman siswa tentang variasikemampuannya dengan tugas-tugas dan organisasi spasial masyarakat,yang dikerjakan, (4) siswa yang tempat, dan lingkungan dibergaya kognitif field independent permukaan bumi. Denganmenyukai situasi yang dapat menilai karakteristik yang kompleks inisendiri kemajuan dan pencapaian merupakan tantangan bagi siswa,tujuannya, (5) siswa yang bergaya sehingga siswa yang bergaya kognitifkognitif field independent perspektif field independent akan lebih tekunwaktu jauh ke depan, dan (6) siswa belajar, bekerja keras, berusahayang bergaya kognitif field semaksimal mungkin, dan tidakindependent tidak selalu membuang-buang waktu karenamenunjukkan rata-rata nilai yang merasa tertantang, mereka ingintinggi di sekolah. 6
  • 42. berprestasi. Siswa yang bergayakognitif field dependent tidak begiturela untuk melibatkan dirisepenuhnya dalam mengerjakantugas-tugas yang kompleks, karenatakut gagal tidak mau menanggungrisiko. Untuk menjadi geografi terpadu(unifying geography) perluditegaskan komponen inti geografi.Matthews dan Herbert (2004:379) Gambar 1. Konsep ‗Uniflyingmengusulkan empat komponen inti Geography‘geografi, yaitu: (1) ruang (space), Berdasarkan uraian di atas,tempat (place), lingkungan permasalahan penelitian ini dapat(environment), dan peta (maps). dirumuskan sebagai berikut: (1)Ruang, tempat, lingkungan, dan peta adakah perbedaan pemahamanmenjadi label geografi. Keempat ‗uniflying geography‘ secarakomponen tersebut mempunyai signifikan antara pembelajarankedudukan yang sama dalam kajian berbasis masalah dan pembelajarangeografi, baik kajian geografi fisik konvensional?, (2) adakahmaupun geografi manusia. Demikian perbedaan pemahaman ‗uniflyingjuga dapat menjadi dasar konsep geography‘ secara signifikan antarauntuk disiplin geografi terpadu. siswa yang bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent?, dan (3) adakah interaksi antara metode 7
  • 43. pembelajaran dan gaya kognitif pembelajaran berbasis masalah danterhadap pemahaman ‗uniflying pembelajaran konvensional, (2)geography‘? variabel moderator yaitu gaya kognitif yang dikategorikan atas gaya Penelitian ini bertujuan untuk kognitif field independent dan gaya(1) menguji signifikansi pemahaman kognitif field dependent, dan (3)‗uniflying geography‘ yang berbeda variabel terikat yaitu pemahamanantara pembelajaran berbasis ‗uniflying geography‘. Populasimasalah dan pembelajaran penelitian ini adalah siswa kelas Xkonvensional, (2) menguji SMAN 1 Sidayu semester genapperbedaan pemahaman ‗uniflying tahun pelajaran 2010/2011 dengangeography‘ secara signifikan antara jumlah siswa 280 orang. Sampelsiswa yang bergaya kognitif field penelitian berjumlah 64 siswaindependent dan siswa yang bergaya diambil dengan teknik random yangkognitif field dependent, dan (3) terdiri atas 32 siswa yang bergayamenguji interaksi antara metode kognitif field independent dan 32pembelajaran dan gaya kognitif siswa yang bergaya kognitif fieldterhadap pemahaman ‗uniflying dependent.geography‘ Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan dataMETODE terdiri atas dua yaitu (a) tes gaya Jenis penelitian ini adalah kognitif, dan (b) tes pemahamanpenelitian kuasi eksperimental geografi. Instrumen gaya kognitifdengan desain faktorial 2 x 2. terdiri dari 20 soal yang berbentukVariabel-variabel yang diteliti adalah gambar-gambar yang rumit. Dalam(1) variabel bebas yaitu metode gambar-gambar yang rumit itupembelajaran yang terdiri atas 8
  • 44. ditempatkan gambar yang Analisis data dalam penelitian inisederhana. Sebagai jawabannya menggunakan teknik analisissiswa disuruh mencari gambar yang kovarian (anakova).sederhana itu di dalam gambar yangrumit dengan jalan menebalkan HASIL DAN PEMBAHASANgambar yang sederhana tersebut. Hasil analisis dan pengujianTes gaya kognitif dilaksanakan pada hipotesis menunjukkan bahwa adaminggu pertama bulan Januari 2011. perbedaan pemahaman ‗uniflying Tes pemahaman ‗uniflying geography‘ secara signifikan antarageography‘ dengan menggunakan 40 pembelajaran berbasis masalah dansoal pilihan ganda yang setelah pembelajaran konvensional. Temuandiujicobakan diperoleh soal yang ini membuktikan bahwa hipotesismemenuhi syarat valid dan reliabel yang diajukan dalam penelitian inisebanyak 35 soal untuk setiap soal yaitu ada perbedaan pemahamanterdapat lima kemungkinan ‗uniflying geography‘secarajawaban. Sebelum dilakukan signifikan antara pembelajaranpengujian hipotesis, terhadap semua berbasis masalah dan pembelajarandata dilakukan uji prasyarat dengan konvensional siswa kelas X SMAN 1uji normalitas dan uji homogenitas. Sidayu. Jadi, hipotesis yang diajukanUji normalitas digunakan uji dalam penelitian ini diterima.Kolmogorov-Smirnov. Uji Maksudnya, metode pembelajaranhomogenitas menggunakan berbasis masalah lebih unggulperangkat analisis Levene Statistic. daripada metode pembelajaranDari pengujian ternyata bahwa konvensional dalam mempengaruhisemua kelompok data memenuhi pemahaman ‗uniflying geography‘.asumsi normalitas dan homogenitas. 9
  • 45. geography‘. Jadi, hipotesis yang diajukan dalam penelitian yaitu ada interaksi antara metode Hasil analisis dan pengujian pembelajaran dan gaya kognitifhipotesis menunjukkan bahwa ada terhadap pemahaman ‗uniflyingperbedaan pemahaman ‗uniflying geography‘ siswa kelas X SMAN 1geography‘ secara signifikan antara Sidayu ditolak.siswa yang bergaya kognitif fieldindependent dan siswa yang bergaya Pengaruh Metodekognitif field dependent siswa kelas Pembelajaran terhadapX SMAN 1 Sidayu. Temuan ini Pemahaman „Uniflyingmenunjukkan bahwa siswa yang Geography‟bergaya kognitif field independentrerata hasil belajarnya lebih tinggi Hasil analisis dan pengujiandaripada siswa yang bergaya kognitif hipotesis menunjukkan bahwa adafield dependent. Jadi, hipotesis yang perbedaan pemahaman ‗uniflyingdiajukan dalam penelitian ini grography‘ secara signifikan antaraditerima. Maksudnya, siswa yang metode pembelajaran berbasisbergaya kognitif field independent masalah dan metode pembelajaranlebih baik pemahaman geografinya konvensional. Temuan inidaripada siswa yang bergaya kognitif membuktikan bahwa hipotesis yangfield dependent. diajukan dalam penelitian ini yaitu ada perbedaan pemahaman Hasil analisis dan pengujian .uniflying geography‘ siswa kelas Xhipotesis menunjukkan bahwa tidak SMAN 1 Sidayu.ada interaksi antara metodepembelajaran dan gaya kognitif Geografi merupakan ilmuterhadap pemahaman ‗uniflying integratif yang mempelajari 10
  • 46. fenomena geografis mencakupdimensi fisik dan sosial dipermukaan bumi dalam perspektifkeruangan untuk pembangunanwilayah supaya manusia hidupsejahtera. Geografi sebagai disiplinilmu dan mata pelajaran dengankajian fenomena geografis yangcukup luas, kompleks, dan sulitsehingga menuntut kemampuansiswa memecahkan masalah untukdapat memahami fenomena fisik Gambar 2. Geografi dan bidang-dan sosial secara komprehensif bidang ilmu bantunya (Haggett,dengan pendekatan spasial maka 2001:766).guru geografi harus melakukan Geografi dan bidang-bidang ilmupembelajaran berbasis masalah bantunya dapat dikuasai oleh siswa,dengan melibatkan siswa secara antara lain jika digunakan metodeaktif. Untuk dapat memahami pembelajaran berbasis masalah. Halfenomena fisik dan sosial di ini menurut Khafid (2010:77) karenapermukaan bumi dalam perspektif siswa akan lebih banyak kesempatanspasial maka siswa perlu mendalami untuk berpartisipasi, memberi danilmu geografi dan ilmu bantu menerima bantuan dalamgeografi dengan bimbingan guru menjelaskan dan meningkatkanmelalui kajian Gambar 2. belajar dalam kelompok, meningkatkan motivasi untuk sukses karena sukses tidak hanya untuk 11
  • 47. dirinya sendiri tetapi juga untuk Pengaruh Gaya Kognitifkelompoknya. Motivasi yang baik terhadap ‟Uniflying Geography‟dalam mengerjakan tugas akan Hasil analisis dan pengujianmembantu perkembangan belajar, hipotesis menunjukkan adasiswa tidak terisolasi, siswa diberi perbedaan pemahaman ‘uniflyinglebih banyak tanggung jawab. geography‘ secara signifikan antara Metode pembelajaran berbasis siswa yang bergaya kognitif fieldmasalah menggunakan level yang independent dan siswa yang bergayalebih tinggi dalam berpikir. kognitif field dependent. Temuan iniBerinteraksi dengan teman atau menunjukkan bahwa siswa yangorang lain mendorong orang untuk bergaya kognitif field independentmembangun kembali pikiran mereka rerata hasil belajarnya lebih tinggiseperti merangkum, menguraikan, daripada siswa yang bergaya kognitifdan menjelaskan. Ketidaksetujuan, field dependent. Jadi, hipotesis yangjika ditangani dengan baik akan diajukan dalam penelitian inimembantu dalam kejernihan diterima dan siswa yang bergayaberpikir dan meningkatkan untuk kognitif field independent lebih baikmembangun kembali pengetahuan pemahaman geografinya daripadayang baru. Mendengarkan perspektif siswa yang bergaya kognitif fieldorang lain, terutama dalam dependent. Temuan ini memperkuatkelompok yang heterogen, penelitian McCelland (dalammeningkatkan kesadaran bahwa Slameto, 2003) yang menyatakanbanyak cara pandang, menghargai bahwa seorang yang bergaya kognitifkeberagaman sebagaimana tuntutan field independent lebih baik hasilstudi geografi. belajarnya (pemahaman geografi) 12
  • 48. dibandingkan dengan yang bergaya tidak begitu rela untuk melibatkankognitif field dependent. diri sepenuhnya dalam mengerjakan tugas belajar yang dihadapinya. Dalam rangka belajar di sekolah Pada siswa yang bergaya kognitifgaya kognitif terwujud sebagai daya field independent berusaha secarapenggerak siswa, sikap, dan perilaku maksimal, ukuran mengenai prestasiuntuk mengusahakan kemajuan banyak ditentukan oleh usahabelajar dan berprestasi yang mereka sendiri ataupun belajarmaksimal. Siswa yang bergaya dengan teman-teman. Siswa yangkognitif field independent keinginan bergaya kognitif field dependentuntuk sukses benar-benar berasal dengan mudah dipengaruhi olehdari dalam diri sendiri. Siswa ini lingkungannya, baik lingkungantetap bekerja keras baik dalam belajar maupun lingkungansituasi bersaing dengan orang lain, hidupnya. Ia ingin menghindarimaupun dalam bekerja sendiri. kegagalan dan bersamaan dengan ituSiswa yang bergaya kognitif field memiliki aspirasi yang tidakindependent untuk memperoleh realistis, menentukan target yangprestasi baik, dia mencapai sesuai sebenarnya terlalu rendah ataudengan taraf kemampuannya. Untuk terlalu tinggi untuk mencari jaminanitu, lebih tekun belajar, bekerja tidak akan mengalami kegagalan.keras, ingin berkompetisi sehingga Siswa yang bergaya kognitif fieldtidak pernah membuang-buang independent memiliki harapanwaktu. Pengalamannya bersukses untuk sukses dan bekerja secarameningkatkan usaha untuk sukses mandiri. Mereka tidak mudahlagi dikemudian hari. Sebaliknya, dipengaruhi oleh lingkungannyasiswa yang bergaya kognitif field sehingga selalu mau belajar terusdependent untuk berprestasi baik sepanjang hayat. 13
  • 49. lainnya. Dalam penelitian iniInteraksi Metode Pembelajaran terungkap bahwa tidak ada interaksi,dan Gaya Kognitif terhadap ini berarti bahwa metodePemahaman „Uniflying pembelajaran bekerja sendiri-sendiriGeography‟ memengaruhi pemahaman belajar geografi, demikian juga dengan gaya Hasil analisis dan pengujian kognitif bekerja sendiri-sendirihipotesis menunjukkan bahwa tidak terhadap pemahaman belajarada interaksi antara metode geografi. Atau dengan kata lainpembelajaran dan gaya kognitif metode pembelajaran berbasisterhadap pemahaman ‗uniflying masalah dan metode pembelajarangeography‘. Jadi, hipotesis yang konvensional membawa suatu akibatdiajukan dalam penelitian yaitu ada terhadap hasil belajar geografi siswainteraksi antara metode kelas X SMAN 1 Sidayu apapun jugapembelajaran dan gaya kognitif tingkat gaya kognitifnya. Demikianterhadap pemahaman ‗uniflying dengan gaya kognitif, gaya kognitifgeography‘ siswa kelas X SMAN 1 field independent dan gaya kognitifSidayu terbukti tidak ada interaksi. field dependent membawa suatu Interaksi dalam penelitian ini akibat terhadap pemahamandiartikan kerja sama dua variabel ‗uniflying geography‘ siswa kelas Xbebas atau lebih dalam SMAN 1 Sidayu apapun juga metodemempengaruhi suatu variabel pembelajarannya.terikat. Interaksi terjadi manakala Belajar adalah penyusunansuatu variabel bebas memiliki efek- pengetahuan dari pengalamanefek yang berbeda terhadap suatu konkrit, aktivitas kolaborasi, refleksi,variabel terikat pada berbagai dan interpretasi. Aktivitas belajartingkat dari suatu variabel bebas 14
  • 50. lebih banyak didasarkan data primer mata pelajaran tertentu dalamdan bahan manipulatif dengan pembelajaran, sehingga tujuanpenekanan pada keterampilan pembelajaran dapat tercapai. Prosesberpikir kritis dan kompleks. belajar itu sendiri merupakan suatuKarakteristik siswa begitu sangat sistem pembelajaran yang secarakompleks meliputi antara lain otomatis terjadi dalam diriintelegensia, sikap, gaya belajar, seseorang. Tugas pendidik adalahgaya kognitif, gaya berpikir, dan bagaimana membelajarkan pesertamotivasi. didik di sekolah supaya mereka memiliki kecakapan hidup dan Gaya kognitif hanyalah salah berkembang kecerdasansatu bagian dari sekian banyak majemuknya.karakter sehingga kalau interaksibelum tampak dalam penelitian ini,hal itu dapat dimaklumi, masih SIMPULAN DAN SARANmemerlukan pengkajian lebih Ada perbedaan pemahamanmendalam dengan memasukkan ‗uniflying geography‘ secaravariabel-variabel lain sebagai signifikan antara pembelajaranvariabel kovarian atau berbasis masalah dan pembelajaranmengeliminasi variabel-variabel konvensional siswa kelas X SMAN 1tersebut dalam penelitian. Demikian Sidayu. Motode pembelajaranjuga metode pembelajaran, begitu berbasis masalah lebih unggulbanyaknya model-model daripada metode pembelajaranpembelajaran dan memang harus konvensional dalam mempengaruhidiakui bahwa tidak ada ketentuan pemahaman ‗uniflying geography‘.yang pasti mengenai metode Ada pemahaman ‗uniflyingpembelajaran yang cocok untuk satu geography‘ yang berbeda secara 15
  • 51. signifikan antara siswa yang bergaya dependent) membawa suatu akibatkognitif field independent dan siswa terhadap pemahaman ‗uniflyingyang bergaya kognitif field geography‘ apapun juga metodedependent di kelas X SMAN 1 pembelajarannya.Sidayu. Siswa yang bergaya kognitif Pembelajaran berbasis masalahfield independent pemahaman adalah salah satu modelbelajar geografinya lebih tinggi pembelajaran yang dapatdaripada siswa yang bergaya kognitif meningkatkan prestasi akademik,field dependent. kecakapan sosial, dan kecakapan Tidak ada interaksi antara komunikasi, siswa menjadi lebihmetode pembelajaran (metode aktif, aktivitas belajarpembelajaran berbasis masalah dan menyenangkan, dan menggairahkan.metode pembelajaran konvensional) Guru geografi disarankan untukdan gaya kognitif (gaya kognitif field memulai dengan modelindependent dan gaya kognitif field pembelajaran berbasis masalah,dependent) terhadap pemahaman karena model pembelajaran ini‗uniflying geography‘ siswa kelas X adalah sebagai salah satu metodeSMAN 1 Sidayu. Metode yang mampu memahami konseppembelajaran (metode pembelajaran esensial geografi dan memecahkanberbasis masalah dan metode permasalahan spasial global.pembelajaran konvensional) Gaya kognitif adalah salah satumembawa suatu akibat terhadap karakteristik siswa yang perlupemahaman belajar geografi apapun mendapat perhatian guru di sekolah.juga tingkat gaya kognitif siswa. Siswa yang bergaya kognitif fieldGaya kognitif (gaya kognitif field independent berikanlah tugas-tugasindependent dan gaya kognitif field yang menantang namun 16
  • 52. memungkinkan untuk sukses, mencoba berbagai metodemulailah dengan tugas-tugas yang pembelajaran inovatifsedang. Sebaliknya, siswa yangbergaya kognitif field dependentberikanlah motivasi terutama dalamhal tujuan belajar di sekolah,mulailah dengan tugas-tugas yangmudah. Peningkatan kualitas belajarbukan merupakan kegiatan yanginsidental, melainkan harusmerupakan suatu proses yangberkelanjutan. Tidak ada ketentuan yang pastimengenai metode pembelajaranyang paling tepat digunakan. Tepattidaknya suatu metode baru terbuktidari hasil belajar siswa melaluievaluasi yang berkelanjutan danberagam yang mampu memahamikonsep geografi yang satu (uniflyinggeography) dan fenomena geosferatau masalah kegeografian melaluipendekatan spasial dengan sudutpandang ekologi manusia danregional. Guru geografi disarankanmelakukan penelitian dengan 17
  • 53. DAFTAR RUJUKANDaldjoeni, N. 1997. Pengantar Geografi untuk Mahasiswa dan Guru Sekolah Bandung: Alumni.Degeng, I.N.S. 2001a. Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: LP3 UM.Degeng, I.N.S. 2001b. Karakteristik Belajar Mahasiswa: Kajian Temuan Peneli- Tian dan Terapannya dalam Rancangan Pembelajaran. Malang: LP3 UM.Heller, P.1992. Teaching Problem Solving Through Cooperative Grouping, Part I: Group versus Individual Problem Solving. New York: McGraw-Hill.Haggett, P. 2001. Geography A Global Synthesis. London: Prentice Hall.Khafid, S. 2003. Pengembangan Rancangan Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivistik pada Mata Pelajaran Geografi. Tesis tidak diterbitkan. Sura- baya: PPS Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.Khafid, S. 2007. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dan Gaya Kognitif terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas X SMAN 1 Sidayu. Jurnal Forum Pendidikan & Ilmu Pengetahuan, II (04): 31-40.Khafid, S. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Geografi melalui Implementasi Ayat-Ayat Pembelajaran Kontekstual Siswa SMAN 1 Sidayu. Jurnal Kajian Teori dan Praktik Kependidikan, 35 (1): 17-28.Khafid, S. 2010. Pembelajaran Kooperatif Model Investigasi Kelompok, Gaya Kognitif, dan Hasil Belajar Geografi. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17 (1): 73-78.Lamba, H.A. 2006. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Gaya Kognitif terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan, 13 (2): 122-128.Matthews, J.A. and Herbert, D.T. 2004. Unifying Geography Common Heritage, Shared Future. London: Routledge.Mustaji. 2004. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik. Surabaya: Unesa Univer- sity Press.Nur, M. dan Wikandari, P.R. 1999. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan 18
  • 54. Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Unesa University Press.Riyanto, Y. 2005. Paradigma Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press.Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning Research, Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon.Suharyono dan Amien, M. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: Dirjen. Dikti. Depdikbud.Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.Syah, M. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL-FUTUHIYAH GENDONGKULON-BABAT LAMONGAN 19
  • 55. Sri Sundari *)Abstrak, Iklim kerja yang kondusif adalah suatu kondisi, keadaan atau suasana kerja yangdirasakan menyenangkan oleh setiap individu yang ada dalam lembaga sehingga orang-orang di dalamnya selalu terdorong untuk terlibat secara produktif guna mencapai tujuanyang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Lembaga penyelenggara pendidikan salahsatunya memiliki fungsi dalam usaha-usaha mengembangkan pendidikan dalam rangka ikutdalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeadaan iklim kerja di Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan fokus penelitian adalah iklim kerja diPondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Data dikumpulkan dengankuesioner selanjutnya data ditampilkan dengan tabel dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim kerja organisasi yang meliputi, suasanakerja, orientasi nilai, citra diri, gaya kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, dan sistemganjaran dirasakan nyaman, kondusif, penuh keakraban dan kekeluargaan, salingmenghargai oleh pegawainya, dan terlaksananya kepemimpinan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pimpinan pesantren dapat mempertahankandan meningkatkan iklim kerja yang ada khususnya suasana kerja, orientasi nilai, gayakepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, ganjaran dan meningkatkan citra diri orgaisasidi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.Kata Kunci : Iklim KerjaPENDAHULUAN dengan baik, apabila setiap personil yang ada baik pimpinan maupun staf Peningkatan prestasi kerja dalam mempunyai pandangan bahwasuatu lembaga merupakan tujuan yang ―Keseluruhan lebih berarti dan bagian‖.diinginkan oleh lembaga. Sebagai satu Sebagai faktor utama dalam lembaga,kesatuan yang kompleks dimana di kelangsungan hidup dan keberhasilandalamnya terdapat sekelompok manusia lembaga bergantung pada manusia yangyang memiliki kesamaan tujuan dan berperan dibalik alat-alat ataupunkepentingan, mereka kurang bekerja sumber-sumber daya lainnya. Oleh sebabsecara produktif jika tidak disertai dengan itu, seharusnyalah lembaga sebagai wadahadanya iklim kerja yang menyenangkan. manusia beraktifitas mempunyaiLembaga sebagai suatu proses, di tanggungjawab penuh untukdalamnya terdapat kerjasama antara mengembangkan kualitas sumber dayapimpinan dan pegawai dalam pencapaian manusia yang dimiliki serta selalutujuan lembaga. Kerjasama dapat tercipta menciptakan iklim kerja yang kondusif 20
  • 56. dalam pencapaian tujuan yang telah kondusif telah dikemukakan oleh Stonerditetapkan. (dalam Mulyono, 1993:67) yang mana iklim kerja yang permisifdan kreatifakan Lingkungan tempat bekerja terpupuk apabila para individumerupakan faktor penting yang dapat mempunyai kesempatan untukmempengaruhi kinerja pegawai di berinteraksi dengan para anggotadalamnya, walaupun ada faktor-faktor lain kelompoknya sendiri maupun denganyang menentukan maupun kelompok-kelompok kerja lainnya.mempengaruhinya. Orang-orang yang Interaksi semacam ini mendorongberada di dalam lembaga, tempat bekerja terjadinya pertukaran informasi yangharuslah mampu menciptakan iklim kerja bermanfaat, arus gagasan yang bebas danyang memberikan rasa aman, pengakuan perspektif yang sehat mengenai masalahdan penghargaan serta menjanjikan yang ada.kepuasan kerja kepada anggotanyasehingga nanti pada akhirnya mampu Berkenaan dengan iklim kerjaberkinerja dengan baik. Iklim lembaga lembaga menurut Stoner (1982) ada duayang menyenangkan akan tercipta, golongan yang mempengaruhi situasibilamana hubungan antar manusia pekerjaan, yaitu lingkungan kerja(human relationship) berkembang dengan langsung di dalamnya termasuk sistemharmonis. Lingkungan kerja yang imbalan lembaga dan kebijakan sertaharmonis yang mendukung lembaga tindakan lembaga. Sedangkan Cribbin,dibutuhkan oleh orang-orang dalam (1981) menjelaskan salah satu unsur iklimlembaga baik atasan maupun bawahan. kerja lembaga yang kondusif adalah gayaHal ini sejalan dengan pemikiran Stoner kepemimpinan. Dengan demikian iklimdalam Mulyono (1993:88) iklim kerja / kerja yang kondusif adalah suatu kondisi,suasana lembaga (work situation keadaan atau suasana kerja yangcharacteristic) adalah faktor lingkungan dirasakan menyenangkan oleh setiapkerja individu. Di dalam lembaga individu yang ada dalam lembaga sehinggahendaknya timbul dinamika kerjasama. orang-orang di dalamnya selalu terdorongKerja sama ini adalah bagian yang vital untuk terlibat secara produktif gunadalam kehidupan berlembaga. Adanya mencapai tujuan yang telah ditetapkaninteraksi dan proses kerja sama anggota secara efektif dan efisien.satu dengan anggota lainnya, antarabagian satu dengan bagian yang lainnya Sebagai lembaga penyelenggaramaupun antara atasan dan pegawainya pendidikan, Pondok Pesantren Al-akan menimbulkan pemahaman terhadap Futuhiyah Gendongkulon-Babatsuatu kondisi dan lingkungan kerja Lamongan memiliki fungsi yang urgensehingga mudah untuk mencrima dalam usaha-usaha mengembangkaninformasi dan arus gagasan (ide) dalam pendidikan di daerah dalam rangka ikutmelakukan kerjasama guna mencapai dalam meningkatkan pendidikan daerah.tujuan. Secara keseluruhan keadaan iklim kerja di lingkungan Pondok Pesantren Al- Pentingnya kebebasan berinteraksi Futuhiyah Gendongkulon-Babatdan menjalin hubungan dalam lembaga Lamongan dapat dikatakan kondusif. Haluntuk menciptakan iklim kerja yang ini bisa dilihat bagaimana masing-masing 21
  • 57. unit kerja begitu berhati-hati dalam lalu dan sekarang dengan melihat variabelmenjalankan tugas dan wewenang yang yang ada.diberikan oleh. Contohnya, informasiinternal lembaga benar-benar dijaga Penelitian ini berupa penelitiankerahasiaannya, meskipun berusaha deskriptif karena penelitian ini bertujuanmendapatkannya dengan prosedur yang untuk mencatat, mendeskripsikan,benar. Setiap unit menjalankan tugasnya menganalisis dan menginterpretasikandengan sistem birokrasi lembaga yang keadaan-keadaan yang ada tentang objekbaik sesuai dengan fungsi tiap-tiap yang akan diteliti (Mardalis, 1990: 26).unit/bagian yang terdapat pada struktur Dengan melihat variabel yang ada dilembaga. Dengan kata lain tiap-tiap dalam penelitian ini, penelitian iniunit/bagian bekerja benar-benar merupakan penelitian deskriptif denganmengikuti aturan sistem ―pintu ke pintu‖ menggunakan pendekatan kuantitatif.(door to door). Begitu juga hubunganantar rekan kerjanya yang terjalin denganbaik antara satu dengan yang lain, Populasi dan Sampel Penelitianmeskipun masih terdapat hubungan yangkurang baik. Populasi Populasi sebagai ―keseluruhan subjek yang diteliti yang didapat dan suatuMETODE PENELITIAN informasi tentang masalah penelitian yang akan dilakukan‖ (Arikunto. 1992:102). Latunussa (1988:11) menjelaskan ―Rancangan Penelitian populasi adalah sekumpulan objek yang diteliti‖. Dalam penelitian ini, yang Rancangan penelitian pada dasarnya menjadi populasi adalah seluruh staf dimerupakan keseluruhan proses dan Pondok Pesantren Al-Futuhiyahpenentuan secara matang hal-hal yang Gendongkulon-Babat Lamongan yangdilakukan untuk dijadikan pedoman berjumlah 67 orang. Lebih jelasnya dapatselama pelaksanaan penelitian. Suatu dilihat pada tabel berikut.penelitian diselenggarakan untukmencapai tujuan yang telah dirumuskan.Untuk mencapai tujuan tersebut, Tabel 1diperlukan metode penelitian yang sesuai.Berkaitan dengan metode penelitian, Jumlah Staf Pondok Pesantren Al-Surakhmad (1982: 131) mengemukakan Futuhiyah Gendongkulon-Babattiga macam metode penelitian yaitu : Lamonganhistoris, deskriptif dan eksperimen.Ditinjau dan masalah dan tujuan No Sub. Bagian Jumlahpenelitian, maka penelitian inimenggunakan rancangan penelitian 1. Penasehat 4 2. Penanggungjawab 1deskriptif yang bertujuan untuk 3. Pimpinan 4mendeskripsikan kejadian-kejadian masa 4. Staf Pengajar 25 5. Tata Usaha 5 22
  • 58. 6. Dewan Pengurus 10 Dengan melihat penjelasan di atas 7. Bendahara 2 untuk mendapatkan sampel yang 8. Sekretaris 2 representatif maka sampel yang 9. Pegawai 8 digunakan dalam penelitian ini adalah Jumlah 67 sampel total. Dengan kata lain semuaSumber Pondok Pesantren AI-Futuhiyah populasi akan menjadi subjek penelitian.Gendongkulon Babat LamonganSampel Penelitian Tujuan pengambilan sampel Instrumen Penelitianpenelitian dimaksudkan untuk mengatasi Instrumen penelitian adalah alatketerbatasan tenaga, waktu dan biaya, yang digunakan oleh seorang penelitinamun sampel harus mewakili atau dalam pengumpulan data. Instrumenmencerminkan seluruh populasi yang penelitian yang digunakan untukmenjadi objek penelitian. menyimpulkan data dari lapangan untuk Definisi sampel penelitian banyak variabel iklim kerja lembaga adalahdikemukakan oleh para ahli, Arikunto angket. Alasan menggunakan angket(1996:117) menjelaskan sampel adalah adalah karena pertimbangan keterbatasan―Sebagian atau wakil populasi yang waktu, tenaga dan biaya.diteliti‖. Sedangkan Hadi (1997:21)mengemukakan bahwa sampel adalah―Sejumlah penduduk yang jumlahnya Prosedur Pengembangan Instrumenkurang dari populasi‖. Sampel penelitianini diambil acuan sebagai wakil populasi Berkaitan dengan pengembanganyang representatif. Ukuran besarnya instrumen, maka langkah berikutnya yaitusampel yang pasti memang tidak ada, menyusun instrumen masing-masingnamun untuk menjaga validitas data variabel yang berpedoman pada indikatorpenelitian harus mempunyai pedoman yang disajikan pada jabaran-jabaran.tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Kemudian jabaran masing-masingArikunto (1996: 120) ―Apabila subjeknya variabel ditetapkan dan disajikan dalamkurang dari 100, lebih baik diambil bentuk matrik jabaran variabel, subseluruhnya, sehingga merupakan variabel dan indikator penelitian. Sebaranpenelitian populasi, selanjutnya jika nomer item instrumen penelitian ini dapatjumlah subjeknya besar dapat diambil dilihat pada tabel 2 berikut.antara 10-15% atau 20-50 atau lebih‖. 23
  • 59. Tabel 2 Jabaran variabel, sub variabel, indikator penelitian san nomor item dalam instrumen penelitian (sebelum uji coba)Variabel Sub Variabel Indikator No. ItemIklim kerja a. Suasana kerja a. Suasana kerja yang hangat, ramah, santai dan penuh 1,2,3lembaga kesungguhan b. Saling menghargai 4 c. Saling menolong 5 d. Terbuka terhadap gagasan baru 6 b. Orientasi a. Mengerjakan yang baik-baik 7 nilai b. Kerjasama dengan orang lain 8 c. Perlakuan etis 9 d. Memperbaiki prestasi 10 e. Memutuskan tujuan unit atau lembaga 11 c. Citra diri a. Cakap 12 b. Percaya diri 13 c. Sangat konservatif dan hati-hati 14 d. Gaya a. Konsultatif dan partisipatif 15,16 kepemimpina b. Berorientasi pada pemecahan masalah bersama 17 n c. Memberikan pengarahan dan pengendalian 18 d. Berorientasi pada manusia 19 e. Banyak membantu dan memudahkan 20 f. Adil 21 g. Inovatif 22 h. Berorientasi pada kebaikan dan terpusat pada perspektif 23,24 jangka pendek dan jangka panjang 25,26,27,28 e. Daya tolak a. Tumbuh sesuai rencana 29 atau daya b. Mempertahankan kedudukan 30 dorong c. Menekan inovasi dan teknologi 31,32,33 d. Menekannkan sumber daya manusia dan manajemen 34,35 f. Daya tangkap a. Kecepatan lembaga yang tinggi 36 b. Tidak tergesa-gesa 37 c. Direncanakan 38 g. Ganjaran a. Ganjaran materi 1. Gaji 39 2. Tunjangan 40,41,42,43 b. Ganjaran psikologis 1. Pengakuhan dan penghargaan 44 2. Perhatian dan tanggung jawab 45 24
  • 60. Analisis Data Analisis data merupakan bagian Banyaknya interval/kategori kelas dalammetode penelitian yang sangat penting penelitian ini ditetapkan berjumlah 4dalam mencari makna data untuk yaitu:memecahkan masalah penelitian. Adabeberapa teknik yang dapat digunakan Tabel 3dalam penelitian ini. Untuk menentukanteknik analisis yang tepat, maka harus Kategori dan Penafsiran Skala Sikapmemperhatikan tujuan penelitian dan data Katagori Penafsiranyang tersedia. Skor interval kelas skala sikap Sangat tinggi Selalu 3,24 – 4 Teknik analisis data yang digunakan Tinggi Sering 2,6 – 3,25dalam penelitian ini adalah teknik analisis Cukup Kadang- 1,76 – 2,5deskriptif. Teknik ini digunakan untuk kadangmendeskripsikan atau menggambarkan Kurang Tidak pernah 1 – 1,75kondisi yang ada/tingkat iklim kerjalembaga yang dirasakan oleh pegawai di Menentukan besarnya persentaseLingkungan Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Untuk menyatakan kondisi masing-Lamongan (tujuan umum) serta masing variabel dengan rumus :keadaan/tingkat lingkungan kerjalangsung, orientasi nilai, citra diri, gaya %=kepemimpinan, daya dorong, dayatanggap dan pemberian kompensasi Keterangan : f = Frekuensi N = Jumlahpegawai di Lingkungan Pondok Pesantren subyekAl-Futuhiyah Gendongkulon-BabatLamongan (tujuan khusus). Adapunlangkah-langkah yang perlu dilaksanakan HASIL PENELITIANadalah : Tabel 4Menentukan kualifikasi Deskripsi Data Variabel Iklim Kerja Langkah ini dilakukan untuk Lembagamenentukan kualifikasi penilaian terhadapvariabel penelitian, yang harus ditentukan B. Kelas No. Kualifikasi f %terlebih dahulu lebar kelas intervalnya. intervalSedangkan untuk menentukan lebar kelas 1. Sangat tinggi 131 – 160 25 37,31 2. Tinggi 101 – 130 39 58,20interval (i) adalah rentang (R)= skor 3. Cukup 71 – 100 3 4,47tertinggi dikurangi dengan skor terendah, 4. Kurang 40 – 70 - -dibagi dengan banyaknya interval (k). Total 67 100Dengan demikian rumus untukmenentukan panjang interval (i) adalah : 25
  • 61. Berdasar hasil pengolahan data sponden dengan persentase 11,95%variabel iklim kerja lembaga di Pondok menyatakan bahwa suasana kerja diPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- Pondok Pesantren Al-FutuhiyahBabat Lamongan menunjukkan bahwa Gendongkulon-Babat Lamongan beradasecara umum berada pada kategori tinggi dalam kategori sangat tinggi dan 8 orangyaitu sebesar 58,20% atau sebanyak 39 reponden lainnya dengan persentasedari 67 responden menyatakan bahwa sebesar 11,95% menyatakan bahwaiklim kerja lembaga di Pondok Pesantren suasana kerja di Pondok Pesantren Al-Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Futuhiyah Gendongkulon BabatLamongan berada dalam kategori tinggi. Lamongan berada dalam kategori cukup.Hal ini sesuai dengan pendapat Kossen(1986) menjelaskan bahwa hubunganmanusiawi merupakan tanggungjawab Tabel 6setiap orang dalam lembaga. Manajermempunyai tanggung jawab utarna untuk Deskripsi Data untuk Sub Variabelmenegakkan iklim hubungan manusiawi Orientasi Nilaiyang menyenangkan, demikian pula paraanggota (sub ordinal) dan para karyawan D. Kelas No. Kualifikasi f % intervaloperasional lembaga juga mempunyai 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 12 17,91pengaruh terhadap iklim dan seyogyanya 2. Tinggi 12,51 – 16,25 43 64,17berbagi tanggungjawab. 3. Cukup 8,76 – 12,50 12 17,91 4. Kurang 5 – 8,75 - - Total 67 100 Hasil pengolahan data untuk sub Tabel 5 variabel orientasi nilai dengan Deskripsi Data untuk Sub Variabel menggunakan teknik persentase Suasana Kerja menunjukkan bahwa secara umum orientasi nilai di Pondok Pesantren Al- C. Kelas Futuhiyah Gendongkulon-BabatNo. Kualifikasi f % interval Lamongan berada pada kategori tinggi 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 8 11,95 yaitu sebesar 64,17% atau sebanyak 43dari 2. Tinggi 12,51 – 16,25 51 76,12 67 responden menyatakan bahwa orientasi 3. Cukup 8,76 – 12,50 8 11,95 4. Kurang 5 – 8,75 - - nilai pegawai di Pondok Pesantren Al- Total 67 100 Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan berada dalam kategori tinggi. Sedangkan masing-masing 15 responden Tabel 5 menunjukkan bahwa secara dengan persentase sebesar 17,91%umum suasana kerja di Pondok Pesantren menyatakan bahwa orientasi nilai diAl-Futuhiyah Gendongkulon-Babat kantor Dinas Pendidikan KabupatenLamongan berada pada kategori tinggi Lamongan berada dalam kategori sangatyaitu sebesar 76,12% atau sebanyak 51 dan tinggi dan kategori cukup67 responden menyatakan bahwa suasanakerja di Pondok Pesantren Al-FutuhiyahGendongkulon-Babat Lamongan beradadalam kategori tinggi. Sedangkan 8 Tabel 7 26
  • 62. Deskripsi Data untuk Sub Variabel Citra Diri Tabel 8 menunjukkan bahwa secara umum gaya kepemimpinan di pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- E. Kelas Babat Lamongan berada pada kategori No. Kualifikasi f % interval sangat tinggi dengan persentase 53,73% 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 17 25,37 2. Tinggi 7,51 – 9,75 10 14,93 atau sebanyak 36 dari 67 responden 3. Cukup 5,26 – 7,50 30 44,78 menyatakan bahwa gaya kepemimpinan di 4. Kurang 3 – 5,25 10 14,93 kantor Dinas Penididikan Kabupaten Total 67 100 Situbondo berada dalam kategori sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa paraTabel 7 menunjukkan bahwa secara umum pegawai merasa puas dengan gayacitra diri di Pondok Pesantren Al- pemimpinan atasannya, mereka merasaFutuhiyah Gendongkulon-Babat diperhatikan, diarahkan dan dilibatkanLamongan berada pada kategori cukup dalam setiap pemecahan masalah di dalamdengan persentase sebesar 44,80% atau lembaga, selain itu mereka merasa30 dari 67 responden menyatakan bahwa dimudahkan dan dibantu oleh atasan.citra din lembaga di Pondok Pesantren Al- Sedangkan 23 responden denganFutuhiyah Gendongkulon-Babat persentase sebesar 34,32% menyatakanLamongan berada dalam kategori cukup. bahwa gaya kepemimpinan atasan beradaSedangkan 17 responden dengan dalam kategori tinggi dan 8 respondenpersentase sebesar 23,90% menyatakan dengan prentase sebesar 11,94%bahwa citra diri lembaga berada dalam menyatakan dalam kategori cukup.kategori sangat tinggi, 10 responden Semakin efektif gaya kepemimpinan yangdengan persentase sebesar 14,92% dilakukan maka akan mempermudahmenyatakan berada dalam kategori tinggi pencapaian tujuan lembaga yangdan 10 responden dengan persentase yang ditetapkan.sama sebesar 14.92% menyatakan beradapada kategori kurang Tabel 8 Deskripsi Data untuk Sub Variabel Gaya Kepemimpinan F. Kelas Tabel 9 No. Kualifikasi f % interval 1. Sangat tinggi 40 – 48 36 53,73 Deskripsi Data untuk Sub Variabel 2. Tinggi 31 – 39 23 34,33 Daya Dorong 3. Cukup 22 – 30 8 11,94 4. Kurang 12 – 21 - - Total 67 100 27
  • 63. G. Kelas 85,07% atau 57 dari 67 respondenNo. Kualifikasi f % interval menyatakan bahwa daya tanggap lembaga 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 37 55,22 berada dalam kategori sangat tinggi. 2. Tinggi 15,01 – 19,50 23 34,33 Sedangkan 9 responden dengan 3. Cukup 10,51 – 15,00 7 10,45 4. Kurang 6 – 10,50 - - persentase sebesar 13,43% menyatakan Total 67 100 bahwa daya tanggap lembaga berada dalam kategori tinggi dan 1 responden dengan persentase sebesar 1,50% Tabel 9 menunjukkan bahwa secara menyatakan berada pada kategori cukup.umum daya dorong di Pondok PesantrenAl-Futuhiyah Gendongkulon-BabatLamongan berada pada kategori sangattinggi dengan persentase sebesar 55,22% Tabel 4.11atau 37dari 67 responden menyatakan Deskripsi Data untuk Sub Variabelbahwa daya dorong lembaga di Pondok GanjaranPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan berada dalam kategorisangat tinggi. Sedangkan 23 respondendengan persentase sebesar 34,32% I. Kelas No. Kualifikasi f %menyatakan bahwa daya dorong lembaga interval 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 31 46,27berada dalam kategori tinggi dan 7 2. Tinggi 15,01 – 19,50 21 31,34responden dengan persentase 10,44% 3. Cukup 10,51 – 15,00 15 22,39menyatakan bahwa daya dorong lembaga 4. Kurang 6 – 10,50 - -berada dalam kategori cukup. Total 67 100 Tabel 10 Tabel 4.11 menunjukkan bahwa secara umum pemberian ganjaran di Pondok Deskripsi Data untuk Sub Variabel Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- Daya Tanggap Babat Lamongan berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 46,27% atau sebanyak 31 dan 67 H. Kelas responden menyatakan bahwa pemberianNo. Kualifikasi f % ganjaran di Pondok Pesantren Al- interval 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 57 85,07 Futuhiyah Gendongkulon-Babat 2. Tinggi 7,51 – 9,75 9 13,43 Lamongan berada dalam kategori sangat 3. Cukup 5,26 – 7,50 1 1,50 tinggi. Sedangkan 21 reponden dengan 4. Kurang 3 – 5,25 - - Total 67 100 persentse sebesar 31,34% menyatakan pemberian ganjaran/kompensasi berada dalam kategori tinggi dan 15 responden Tabel 10 menunjukkan bahwa secara dengan persentase 22,39% menyatakanumum daya tanggap lembaga di Pondok pemberian ganjaran berada dalamPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- kategori cukup.Babat Lamongan berada pada kategorisangat tinggi dengan persentase sebesar 28
  • 64. Adair, J. 1993. Membina Colon Pimpinan (Sepuluh Prinsip Pokok). Jakarta :KESIMPULAN Bumi Aksara. Albert. K. 1983. Pengemhangan Organisasi. Bandung : PT. Angkasa.1. Iklim kerja organisasi di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulo Anwar. 1985. Pengembangan Organisasi. Babat Lamongan para pegawainya Bandung : PT. Angkasa. merasa nyaman dengan suasana kerja, kepemimpinan dan ganjaran. Arikunto, S. 1992. Prosedur Penelitian,2. Suasana kerja di kantor menunjukkan Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : para pegawainya benar-benar Rineka Cipta. merasakan adanya suasana kerja yang penuh keakraban, saling menghargai, Arikunto, S. 1996. Prosedur Penelitian, saling menolong dan penuh Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : kekeluargaan. Rineka Cipta.3. Orientasi nilai menunjukkan bahwa Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian, para pegawai memiliki rasa tanggungjawab, disiplin, berusaha Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : meningkatkan prestasi kerja dan loyal. Rineka Cipta.4. Citra diri menunjukkan bahwa Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi kurangnya kecakapan pegawai dalam bekerjasama dengan orang dan luar Manajemen dan Kepemimpinan organisasi. Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.5. Gaya kepemimpinan menunjukkan Cribbin, J.J. 1981. Kepemimpinan bahwa pegawainya merasa pimpinan Strategi Mengefektifkan Organisasi. telah melaksanakan kepemimpinan dengan baik. Jakarta : Pustaka Binaman6. Daya dorong menunjukkan bahwa Pressindo. pegawai dalam menjalankan Faisal, S. 1981. Dasar dan Teknik tanggungjawabnya penuh dengan perencanaan, dapat memanfaatkan Menyusun Angket. Surabaya : Usaha teknologi dengan baik dan mau Nasional. mengikuti peraturan. Furchan. 1982. Pengantar Penelitian7. Daya tanggap menunjukkan para dalam Pendidikan. Surabaya : pegawainya bekerja sesuai dengan perintah atasan tanpa cenderung Usaha Nasional. menunda pekerjaan. Hadi, S. 1997. Statistik Jilid I. Yogyakarta :8. Sistem menunjukkan para pegawai Andi Offset. diperhatikan dan diberi kemudahan untuk kesejahteraannya. Hakim. 1994. Pengantar Sederhana Penelitian Pendidikan. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.DAFTAR PUSTAKA Hamzah, R. 1990. Kepemimpinan Strategi Mengefektifkan Organisasi. Jakarta : Gramedia. 29
  • 65. Handoko. 1987. Manajemen Personalia Santoso. 2001. Latihan SPSS Statistik dan Sumber Daya Manusia Jilid 2. Parametrik. Jakarta : PT. Elex Yogyakarta : BPFE. Media KomputindoIndrawijaya. 1986. Pertumbuhan dan Sari, D.N. 2003. Gaya Kepemimpinan Pengembangan Organisasi. Kepala Sekolah Dalam Rangka Bandung : Sinar Baru. Penciptaan lklim Kerja Organisasi Di Sekolah Dasar Negeri Se-Kamalluddin. 1982. Manajemen. Jakarta : Kecamatan Sukun Kota Malang. Dirjen Dikti P2LPTK. Skripsi tidak diterbitkan.Kossen, S. 1986. Aspek Manusia Dalam Sari, L. 2000. Iklim Organisiasi Organisasi. Bandung : Rineka Cipta. Hubungannya Dengan Unjuk KerjaLatif, A.G. 1988. Memberikan Pimpinan Dosen Dalam Mengajar Di IKIP dengan Kerja Sama. Jakarta : UI Budi Utomo Malang. Tesis tidak Press. diterbitkan.Latunussa. 1988. Penelitian Pendidikan, Soepardi. 1988. Dasar-DasarAdministrasi Suntu Pengantar. Jakarta : P2LPTK. Pendidikan. Jakarta : Dirjen DiktiMardalis. 1990. Mefodologi Penelitian P2LPTK. Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : Bumi Aksara.Marzuki. 1989. Metodologi Penelitian. Jakarta : Militon.Muhyadi. 1989. Organisasi Teori, Struktur dan Proses. Jakarta : Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.Mulyono, M. 1993. Penerapan Produktivitas dalam Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara - UI.Owens. 1981. Organizational Behaviour in Education. Boston : Allyn Bacon.Prayitno. 2003. Korelasi Antara lklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Unjuk Kerja Guru Pada Sekolah Menengah Umum Negeri Di Kabupaten Pasuruan. Tesis tidak diterbitkan.Purwanto, N. 1988. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : CV. RemajaKarya. 30
  • 66. 1
  • 67. PENDIDIKAN KARAKTER: WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA Soesetijo *)Abstrak: pendidikan karakter menjadi perhatian serius untuk diimplementa-sikan di sekolah. Fenomena menunjukkan bahwa banyak keluhan masyarakattentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas siswa, karenamelemah-nya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Sebagai langkah awalpendidikan karakter harus dimulai sejak dini, yakni pada jenjang pendidikansekolah da-sar. Pada jenjang sekolah dasar, ini porsinya mencapai 60 persendibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurut Wamendiknastelah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangatlekat dengan tujuan pembentukan karakter. Kelekatan inilah yang menjadidasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. Pendidikanbudaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnyabukan pada teori. Pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulumyang tersembunyi. Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapimenjadi penguat kuri-kulum yang sudah ada, yaitu denganmengimplementasikanya dalam mata pelajaran dan keseharian peserta didik.Permasalahannya, mayoritas guru be-lum punya kemauan untukmelaksanakan. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksinyata. Oleh karena itu diperlukan buku pinter se-bagai acuan untukimplementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan, mulai dari sekolahdasar sampai dengan perguruan tinggi serta perlu segera disosialisasikangrand design pendidikan karakter.Kata-kata kunci: pendidikan karakter, wacana konsep, implementasi 2
  • 68. Indonesia memerlukan sumberdaya tujuan pendidikan nasional tersebut dimanusia dalam jumlah dan mutu yang atas. Hal tersebut berkaitan denganmemadai sebagai pendukung utama pembentukan karakter peserta didikdalam pembangunan. Untuk sehingga mampu bersaing, beretika,memenuhi sumberdaya manusia bermoral, sopan santun dantersebut, pendidikan memiliki peran berinteraksi dengan masyarakat.yang sangat penting. Hal ini sesuai Berdasarkan penelitian di Harvarddengan UU No. 20 Tahun 2003 University Amerika Serikat (Alitentang Sistem Pendidikan Nasional Ibrahim Akbar, 2000 dalampada Pasal 3 yang menyebutkan Mendiknas, 2010) ternyata kesuksesanbahwa pendidikan nasional berfungsi seseorang tidak ditentukan semata-mengembangkan kemampuan dan mata oleh kemampuan mengelola dirimembentuk karakter serta dan orang lain (soft skills). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanyaperadaban bangsa yang bermartabat ditentukan sekitar 20 persen oleh harddalam rangka mencerdaskan skills dan sisanya 80 persen soft skills.kehidupan bangsa. Pendidikan Bahkan orang-orang tersukses di duniaNasional bertujuan untuk bisa berhasil dikarenakan lebih banyakberkembangnya potensi peserta didik didukung kemampuan soft skillsagar menjadi manusia yang beriman daripada hard skills. Hal inidan bertakwa kepada Tuhan Yang mengisyaratkan bahwa mutuMaha Esa, berakhlak mulia, sehat, pendidikan karakter peserta didikberilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan sangat penting untuk ditingkatkan.menjadi warga Negara yang Oleh karena itu, Kementeriandemokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan Nasional (Kemendiknas)*)Soesetijo, staf pengajar Universitas telah menyusun grand design Gresik. pendidikan karakter bangsa. Berdasarkan fungsi dan tujuan Ditargetkan, seluruh satuanpendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan telah mengembangkannyapendidikan di setiap jenjang pada tahun 2014.(Mediapendidikan selalu mengacu pada Indonesia.com, 15-9-2010). 3
  • 69. Data dan fakta menunjukkan,bahwa dari hasil penelitian psikologisosial menun-jukkan bahwa orangyang sukses di dunia ditentukan oleh Konsep Pendidikanperanan ilmu sebesar 18%. Sisanya, Karakter82% dijelaskan oleh keterampilanemosional, soft skills dan Karakter adalah ―cara berpikirsejenisnya.(Elfindri, 2010). Ini dan berperilaku yang menjadi ciri khasmenunjukkan bahwa soft skills setiap individu untuk hidup danmemberikan kontribusi bagi bekerjasama, baik dalam lingkupkeberhasilan karir seseorang. kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.(Suparlan, 2010). Wacana pendidikan karakterpada akhir-akhir ini memperoleh Pendidikan karakter meliputi 9perhatian yang cukup intens dari (sembilan) pilar yang saling kaitpemerhati pendidikan. Pemerintah mengkait, yaitu: (1) responsibilitymenyatakan, bahwa pendidikan (tanggung jawab), (2) respect (rasabudaya dan karakter bangsa selama ini hormat), (3) fairness (keadilan), (4)telah diterapkan dan menjadi kesatuan courage (keberanian), (5) honestydengan kurikulum pendidikan yang (kejujuran), (6) citizenshipsesungguhnya telah dipraktekkan (kewarganegaraan), (7) self-disciplinedalam kegiatan belajar mengajar di (disiplin diri), (8) caring (peduli), dansekolah. Menurut Direktur (9) perseverance (ketekunan).Pembinanan SMP, Ditjen Manajemen Penyelenggaraan pendidikanPendidikan Dasar dan Menengah, nasional tidak semata mentransferDidik Suhardi (KOMPAS.Com, Jumat, ilmu dan pengetahuan serta teknologi15 Januari 2010) pendidikan budaya kepada peserta didik. Lebih dari itu,dan karakter bangsa ini memang harus pendidikan harus bisa menumbuhkandipraktekkan, titik beratnya bukan semangat kebangsaan sebagai wargapada teori. Pendidikan budaya dan bangsa dengan karakter ke-Indonesia-karakter bangsa seperti kurikulum an.(Rumapea, 2010).yang tersembunyi. 4
  • 70. Karakter merupakan nilai-nilai kerja seluruh warga dan lingkunganperilaku manusia yang berhubungan sekolah.dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri Terlepas dari berbagaisendiri, sesama manusia, lingkungan, kekurangan dalam praktik pendidikandan kebangsaan yang terwujud dalam di Indonesia, apabila dilihat daripikiran, sikap, perasaan, perkataan, standar nasional pendidikan yangdan perbuatan berdsarkan norma- menjadi acuan pengembangannorma agama, hukum, tata krama, kurikulum (KTSP), dan implementasibudaya, dan adat istiadat. pembelajaran dan penilaian di sekolah, Pendidikan karakter adalah tujuan di lembaga pendidikansuatu sistem penanaman nilai-nilai sebenarnya dapat dicapai dengan baik.karakter kepada warga sekolah yang Pembinaan karakter juga termasukmeliputi komponen pengetahuan, dalam materi yang harus diajarkan dankesadaran atau kemauan, dan tindakan dikuasai serta direalisasikan olehuntuk melaksanakan nilai-nilai peserta didik dalam kehidupan sehari-tersebut, baik terhadap Tuhan Yang hari. Menurut Dr. Anita Lie (2010)Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, syarat menghadirkan pendidikanlingkungan, maupun kebangsaan karakter dan budaya di sekolah harussehingga menjadi manusia insan dilakukan secara holistik.kamil. Dalam pendidikan karakter di Sebagai upaya untuksekolah, semua komponen meningkatkan kesesuaian dan mutu(stakeholders) harus dilibatkan, pendidikan karakter, Kementeriantermasuk komponen-komponen Pendidikan Nasional mengembangkanpendidikan itu sendiri, yaitu isi grand design pendidikan karakterkurikulum, proses pembelajaran dan untuk setiap jalur, jenjang, dan jenispenilaian, kualitas hubungan, satuan pendidikan. Grand designpenanganan atau pengelolaan mata menjadi rujukan konseptual danpelajaran, pengelolaan sekolah, operasional pengembangan,pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko- pelaksanaan, dan penilaian pada setiapkurikuler, pemberdayaan sarana jalur dan jenjang pendidikan.prasarana, pembiayaan, dan ethos 5
  • 71. Konfigurasi karakter dalam konteks berkontribusi hanya sebesar 30%totalitas proses psikologis dan social- terhadap hasil pendidikan pesertakultural tersebut dikelompokkan didik.dalam: Olah Hati (Spiritual and Selama ini, pendidikan informalemotional development), Olah Pikir terutama dalam lingkungan keluarga(intellectual development), Olah Raga belum memberikan kontribusi berartidan Kinestetik (Physical and kinestetic dalam mendukung pencapaiandevelopment), dan Olah Rasa dan kompetensi dan pembentukan karakterKarsa (Affective and Creativity peserta didik. Kesibukan dan aktivitasdevelopment). Pengembangan kerja orang tua yang relative tinggi,danimplementasi pendidikan karakter kurangnya pemahaman orang tuaperlu dilakukan dengan mengacu pada dalam mendidik anak di lingkungangrand design tersebut. keluarga, pengaruh pergaulan di Menurut UU No. 20 Tahun lingkungan sekitar dan pengaruh2003 tentang Sistem Pendidikan media elektronik ditengarai bisaNasional pada 13 ayat 1 menyebutkan berpengaruh negatif terhadapbahwa jalur pendidikan terdiri dari perkembangan dan pencapaian hasilatas pendidikan formal, nonformal, belajar peserta didik. Salah satudan informal yang saling melengkapi alternatif untuk mengatasaidan memperkaya. Pendidikan informal permasalahan tersebut adalah melaluiadalah jalur pendidikan keluarga dan pendidikan karakter terpadu, yaitulingkungan. Pendidikan informal memadukan dan mengoptimalkansesungguhnya memiliki peran dan kegiatan pendidikan informalkontribusi yang sangat besar dalam lingkungan keluarga dengankeberhasilan pendidikan. Peserta didik pendidikan formal di sekolah. Dalammengikuti pendidikan di sekolah hanya hal ini, waktu belajar peserta didik disekitar 7 jam per hari, atau kurang dari sekolah perlu dioptimalkan agar30%. Selebihnya (70%), peserta didik peningkatan mutu hasil belajar dapatberada dalam keluarga dan lingkungan dicapai, terutama dalam pembentukansekitarnya. Jika dilihat dari aspek karakter peserta didik.kuantitas waktu, pendidikan di sekolah 6
  • 72. Pendidikan karakter dapat yang dimaksud adalah bagaimanadiintegrasikan dalam pembelajaran pendidikan karakter direncanakan,pada setiap mata pelajaran. Materi dilaksanaan dan dikendalikan dalampembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pendidikan dinorma atau nilai-nilai pada setiap mata sekolah secara memadai. Pengelolaanpelajaran perlu dikembangkan, tersebut antara lain mengikuti, nilai-dieksplisitkan, dikaitkan dengan nilai yang perlu ditanamkan, muatankonteks kehidupan sehati-hari. Dengan kurikulum, pembelajaran, penilaian,demikian, pembelajaran nilai-nilai pendidik dan tenaga kependidikan,karakter tidak hanya pada tataran dan komponen terkait lainnya. Dengankognitif, tetapi menyentuh pada demikian, manajemen sekolahinternalisasi, dan pengalaman nyata merupakan salah satu media yangdalam kehidupan peserta didik sehari- efektif dalam pendidikan karakter dihari di masyarakat. sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler yangselama ini diselenggarakan sekolah Pendidikan Karakter yangmerupakan salah satu media yang Efektifpotensial untuk pembinaan karakterdan peningkatan mutu akademik Menurut Lickona, dkk. (2007)peserta didik. Kegiatan ekstra terdapat 11 pinsip agar pendidikankurikuler merupakan kegiatan karakter dapat berjalan efektif: (1)pendidikan di luar mata pelajaran kembangkan nilai-nilai etika inti danuntuk membantu pengembangan nilai-nilai kinerja pendukungnyapeserta didik sesuai dengan sebagai fondasi karakter yang baik, (2)kebutuhan, potensi, bakat, dan minat definisikan ‗karakter‘ secaramereka melalui kegiatan yang secara komprehensif yang mencakup pikiran,khusus perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, Pendidikan karakter di sekolah disengaja, dan proaktif dalamjuga sangat terkait dengan manajemen pengembangan karakter, (4) ciptakanatau pengelolaan sekolah. Pengelolaan komunitas sekolah yang penuh 7
  • 73. perhatian, (5) beri siswa kesempatan kerja pendukungnya sepertiuntuk melakukan tindakan moral, (6) ketekunan, etos kerja yang tinggi, danbuat kurikulum akademik yang kegigihan—sebagai basis karakter yangbermakna dan menantang yang baik. Sekolah harus berkomitmenmenghormati semua peserta didik, untuk mengembangkan karaktermengembangkan karakter, dan peserta didik berdasarkan nilai-nilaimembantu siswa untuk berhasil, (7) dimaksud mendefinisikan-nya dalamusahakan mendorong motivasi diri bentuk perilaku yang dapat diamatisiswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai dalam kehidupan sekolah sehari-hari,komunitas pembelajaran dan moral men-contohkan nilai-nilai itu,yang berbagi tanggung jawab dalam mengkaji dan mendiskusikannya,pendidikan karakter dan upaya untuk menggunakannya sebagai dasar dalammematuhi nilai-nilai inti yang sama hubungan antarmanusia, danyang membimbing pendidikan siswa, mengapresiasi manifestasi nilai-nilai(9) tumbuhkan kebersamaan dalam tersebut di sekolah dan masyarakat.kepemimpinan moral dan dukungan Yang terpenting, semua komponenjangka panjangbagi inisiatif sekolah bertanggung jawab terhadappendidikan karakter, (10) libatkan standar-standar perilaku yangkeluarga dan anggota masyarakat konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.sebagai mitra dalam upaya Karakter yang baik mencakuppembangunan karakter, (11) evaluasi pengertian, kepedulian, dan tindakankarakter sekolah, fungsi staf sekolah berdasarkan nilai-nilai etika inti.sebagai pendidik karakter, dan sejauh Karenanya, pendekatan holistik dalammana siswa memanifestasikan pendidikan karakter berupaya untukkarakter yang baik. mengembangkan keseluruhan aspek Dalam pendidikan karakter kognitif, emosional, dan perilaku daripenting sekal dikembangkan nilai-nilai kehidupan moral. Siswa memahamietika inti seperti kepedulian, nilai-nilai inti dengan mempelajari dankejujuran, keadilan, tanggung jawab, mendiskusikannya, mengamatidan rasa hormat terhadap diri dan perilaku model, dan mempraktekkanorang lain bersama dengan nilai-nilai pemecahan masalah yang melibatkan 8
  • 74. nilai-nilai. Siswa belajar peduli inti, termasuk kurikulum kesehatanterhadap nilai-nilai inti dengan jasmani), dan program-programmengembangkan keteram-pilan ekstrakurikuler, extracurricularempati, membentuk hubungan yang programs (tim olahraga, klub, proyekpenuh perhatian, membantu pelayanan, dan kegiatan-kegiatanmenciptakan komunitas bermoral, setelah jam sekolah).mendengar cerita ilustratif dan Di samping itu, sekolah daninspiratif, dan merefleksikan keluarga perlu meningkatkanpengalaman hidup. efektivitas kemitraan dengan merekrut Sekolah yang telah bantuan dan komunitas yang lebih luasberkomitmen untuk mengembangkan (bisnis, organisasi pemuda, lembagakarakter melihat diri mereka sendiri keagamaan, pemerintah, dan media)melalui lensa moral, untuk menilai dalam mempromosikan pembangunanapakah segala sesuatu yang karakter. Kemitraan sekolah-orang tuaberlangsung di sekolah mempengaruhi ini dalam banyak hal seringkali tidakperkembangan karakter siswa. dapat berjalan dengan baik karenaPendekatan yang komprehensif terlalu banyak menekankan padamenggunakan semua aspek penggalangan dukungan financial,persekolahan sebagai peluang untuk bukan pada dukungan program.pengembangan karakter. Ini mencakup Berbagai pertemuan yang dilakukanapa yang sering disebut dengan istilah tidak jarang terjebak kepada tawarkurikulum tersembunyi, hidden menawar sumbangan, bukancurriculum (upacara dan prosedur bagaimana sebaiknya pendidikansekolah; keteladanan guru; hubungan karakter dilakukan bersama antarasiswa dengan guru, staf sekola lainnya, keluarga dan sekolah.dan sesama mereka sendiri; proses Pendidikan karakter yang efektifpengajaran; keanekaragaman siswa; harus menyertakan usaha untukpenilaian pembelajaran; pengelolaan menilai kemajuan. Terdapat tiga hallingkungan sekolah; kebijakan penting yang perlu mendapatdisiplin); kurikulum akademik, perhatian: (1) karakter sekolah: sampaiacademic curriculum (mata pelajaran 9
  • 75. sejauh mana sekolah menjadi di dalam kelas. Konteks pendidikankomunitas yang lebih peduli dan saling karakter adalah proses relasionalmenghargai?, (2) pertumbuhan staf komunitas kelas dalam kontekssekolah sebagai pendidik karakter: pembelajaran. Relasi guru-pembelajarsampai sejauh mana staf sekolah bukan monolog, melainkan dialogmengembangkan pemahaman tentang dengan banyak arah sebab komunitasapa yang dapat mereka lakukan untuk kelas terdiri dari guru dan siswa yangmendorong pengembangan karakter?, sama-sama berinteraksi dengan(3) Karakter siswa: sejauh mana siswa materi. Memberikan pemahaman danmemanifestasikan pemahaman, pengertian akan keutamaan yangkomitmen, dan tindakan atas nilai- benar terjadi dalam konteksnilai etis inti? Hal seperti itu dapat pengajaran ini, termasuk di dalamnyadilakukan di awal pelaksanaan pula adalah ranah noninstruksional,pendidikan karakter untuk seperti manajemen kelas, konsensusmendapatkan baseline dan diulang lagi kelas, dan lain-lain, yang membantudi kemudian hari untuk menilai terciptanya suasana belajar yangkemajuan.(http://www.mediaindonesi nyaman.a.com, diakses tanggal 14 September Kedua, desain pendidikan2010). karakter berbasis kultur sekolah. Menurut Doni Koesoemo A Desain ini mencoba membangun(2010) pendidikan karakter jika ingin kultur sekolah yang mampuefektif dan utuh mesti menyertakan membentuk karakter anak didiktiga basis desain dalam dengan bantuan pranata sosial sekolahpemrogramannya. Tanpa tiga basis itu, agar nilai tertentu terbentuk danprogram pendidikan karakter di terbatinkan dalam diri siswa. Untuksekolah hanya menjadi wacana semata. menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan Pertama, desain pendidikan pesan-pesan modal kepada anak didik.karakter berbasis kelas. Desain ini Pesan moral ini mesti diperkuatberbasis pada relasi guru sebagai dengan penciptaan kultur kejujuranpendidik dan siswa sebagai pembelajar melalui pembuatan tata peraturan 10
  • 76. sekolah yang tegas dan konsisten Implementasi Pendidikanterhadap setiap perilaku Karakter di Lembagaketidakjujuran. Pendidikan Ketiga, desain pendidikan Pendidikan karakter yang bakalkarakter berbasis komunitas. Dalam diterapkan di sekolah-sekolah tidakmendidik, komunitas sekolah tidak diajarkan dalam mata pelajaranhanya berjuang sendirian. Masyarakat khusus. Namun, pendidikan karakterdi luar lembaga pendidikan, seperti tersebut akan diintegrasikan dengankeluarga, masyarakat umum, dan mata pelajaran yang sudah ada sertaNegara, juga memiliki tanggung jawab melalui keseharian pembelajaran dimoral untuk mengintegrasikan sekolah. Menurut Wakil Menteripembentukan karakter dalam konteks Pendidikan Nasional, Fasli Jalal,kehidupan mereka. Ketika lembaga dikemukakan bahwa pendidikanNegara lemah dalam penegakan karakter yang didorong pemerintahhukum, ketika mereka yang bersalah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolahtidak pernah mendapatkan sanksi yang tidak akan membebani guru dan siswa.setimpal, Negara telah mendidik Sebab, hal-hal yang terkandung dalammasyarakatnya untuk menjadi pendidikan karakter sebenarnya sudahmanusia yang tidak menghargai makna ada dalam kurikulum, tetapi selama initatanan sosial bersama. tidak dikedepankan dan diajarkan Pendidikan karakter hanya secaraakan bisa efektif jika tiga desain tersurat.(http://bukuohbuku.wordprespendidikan karakter ini dilaksanakan s.com, 1 September 2010).secara simultan dan sinergis.Tanpanya, pendidikan kita hanya akan Beberapa Upaya Pencarian Softbersifat parsial, inkonsisten dan tidak Skills di Beberapa Negaraefektif. Upaya di berbagai Negara mengenai pentingnya solft skills juga beragam. Dari berbagai liteatur yang 11
  • 77. disarikan dalam modul bahan ajar oleh adalah dengan mengimplementasikansuatu Tim di Dirjen Dikti (2008) telah aturan di sekolah sebagai caradiupayakan di berbagai negara seperti meningkatkan nilai-nilai moral danTaiwan, Korea Selatan, Jepang, etika. Taiwan menyadari bahwaAustralia, dan Indonesia. berpikir kritis adalah penting maka arah pengembangan ditujukan pada ranah ini, termasuk kewarganegaraan,1. Pengalaman di Taiwan dan nilai-nilai sosial. Taiwan sebagai salah satuNegara yang memandang kemajuanpembangunan Ilmu Pengetahuan dan 2. Pengalaman di Korea SelatanTeknologi hasilnya dirasakan tanpa Di Korea Selatan, sebagai salahmeningkatkan harkat dan martabat satu Negara yang juga mengalamidari manusia. Moral menjadi salah kemajuan kemajuan yang pesatsatu tuntutan yang ingin dilengkapi pendidikannya, juga sadar akanseiring dengan kemajuan dari ranah pentingnya soft skills. Inipengetahuan. dikembangkan dengan seperangkat upaya. Secara makro, meningkatkan Upaya ini dilakukan melalui anggaran pendidikan danberbagai pendekatan, diantaranya mempertahankan kebijakan komitmenadalah dengan membentuk komite yang tinggi semenjak tahun 1945.disiplin dan moral di bawah Semangat dan komitmen ini dilahirkanKementerian Pendidikan. Komite sebagai akibat dari Korea Selatan jugadisiplin kemudian mencoba ingin me-nyaingi perkembanganmenetapkan berbagai standar etika kemajuan ilmu dan teknologi yangyang mesti diterapkan di masing- dihasilkan oleh Jepang, sebagai sebuahmasing satuan pendidikan, termasuk Negara tetangga yang lebih dulumemonitor implementasinya. berhasil. Kemudian mengembangkan Diantaranya adalah dengankurikukum moral dan etika yang mengupayakan perbaikan metodenantinya diterapkan dalam system pengajaran dan pe-nyampaian materipembelajaran. Tahap selanjutnya 12
  • 78. ajar, misalnya dengan menekankan Scribner (2007) dalam Tim Diktikesadaran guru akan pentingnya ka- (2008) untuk memenuhi aspek softrakter; mulai dari suasana, skills, dimasukkan ke dalam kegiatan-kemampuan, dan fasilitas yang kegiatan ko-kurikuler di sekolah dan dimengarah kepada pembentukan rumah.karakter. Anak-anak Jepang diberi rasa tanggungjawab yang tinggi dalam Hasil dari upaya ini telah mengembangkan fungsinya kepadamenyebabkan Korea Selatan tampil adik-adik sewilayahnya, dimulaisebagai salah satu Negara yang dengan proses datang ke sekolah,memiliki karakter khas, untuk tampil metode belajar di sekolah sampai padamenyaingi Jepang. Dengan karakter menanamkan rasa kemandirian yangkerja keras, salah satunya, telah pula tinggi dan semangat untuk menang.menghasilkan produk manufaktur Kemudian terbiasa untukyang mampu masuk ke kancah mengembangkan kreativitas di dalaminternasional. kelas, Sudah menjadi motto bagi anak Sebagai catatan tambahan, didik Jepang, bahwa kerja kelompokKorea Selatan tercatat sebagai salah menjadi salah satu yang perlusatu Negara dimana tingkat akses dibiasakan.masyarakat mudanya terhadap Karakter kerja keras danpendidikan tinggi termasuk tertinggi di mandiri yang dibangun dalam prinsipdunia. Memulai kerja kerasnya bushido, menyebabkan bangsa Jepangsemenjak tahun 1945. Sekarang menghasilkan generasi yang sanggupkomitmen anggaran dan dukungan menguasai berbagai iptek untukmasyarakat adalah sangat besar dalam berbagai bidang dan prosesmemajukan pendidikan. industrialisasi. Sayang sekali, Jepang dalam membangun karakter bangsa masih3. Pengalaman di Jepang dibatasi oleh berbagai kendala. Merespons akan tuntutan Dimana kendala utama dari prosespentingnya membangun karakter pembangunan manusia di Jepanganak, maka di Jepang menurut 13
  • 79. masih belum sanggup mengkikis hak dan tanggungjawabnya.kebiasaan ―bunuh diri‖ dari sebagian Termasuk share bekerja dan hidupdari mereka yang frustasi. berkelompok. Itulah pemandangan pada sekolah-sekolah dasar sampai menengah yang dikembangkan.4. Pengalaman di Australia Sementara di Australia,pengembangan soft skills dilakukan 5. Pengalaman di Indonesiasemenjak usia dini, melalui system Kesadaran akan soft kills jugapenyampaian dan desain berkembang di Indonesia, namunpemebelajaran. Desain pembelajaran dalam waktu yang terlalu lama danyang menyebabkan unsur-unsur soft metode yang tidak tepat. Upayaskills terintegrasi dalam setiap proses menekankan pentingnya pendidikan P-pembelajaran. 4 sewaktu zaman Presiden Suharto Di Australia pembentukan telah didesain kegiatan-kegiatan yangkepercayaan diri anak-anak mulai lebih terpusat. Oleh karena penekananpada pra sekolah. Pembiasaan anak- hanya kepada civic education, atauanak untuk mengisi masa akhir pendidikan civic, maka hasil dariminggu dengan orang tua, baik untuk usaha P-4 hanya sebatas bagaimanakepentingan olah raga dan rekreasi. hidup bermasyarakat dan bernegara saja. Anak-anak Australia terbiasa Kelemahan utama yangpercaya diri. Karena setiap minggu dirasakan bahwa pengembangan softmereka didorong untuk sanggup skills lebih bersifat indoktrinasi.menyampaikan pengalaman kepada Dengan kata lain upaya Indonesiateman se kelasnya. Dan model seperti dalam mendorong soft skills selamaini dilaksanakan secara terus berpuluh-puluh tahun melaluimenerus. penataran P-4 dianggap gagal, Guru sangat berperan dalam mengingat model itu saat sekarangmengkomunikasikan soft skills di sudah tidak dipakai lagi. Bahkansekolah. Anak-anak diajarkan akan dianggap kegiatan P-4 dapat saja 14
  • 80. menyimpang dari yang dipahami oleh di berbagai Negara ? Negara maju Asiakebanyakan para ilmuwan. Timur serta Indonesia ? Maka upayaDiantaranya bahkan yang diberikan untuk mengembangkan karakter masihlebih kepada ilmuwan, bukanlah dalam batas keterbasan. Keterbatasanbagaimana membentuk keterampilan terutama masih menganggap bahwaperangkat lunak warga Negara. Selain taksonomi ranah keilmuan menjadidari itu para instruktur banyak yang menonjol.tidak terbekali dengan baik. Sehingga Sekalipun ada upaya untukkegatan soft skills semacam itu lebih meningkatkan ranah soft skills, namundiartikan kepada proyek-proyek juga kelihatannya sangat beragamkegiatan oleh mereka yang berkuasa. dalam melihat komponen- Akselerasi adat juga merupakan komponennya. Diantaranya, masihupaya-upaya untuk mempertahankan luputnya memasukkan unsursoft skills, mengingat kandungan bagaimana anak didik kita semakinbudaya lokal adalah menuntun soft berilmu dia sadar semakin sadar akanskills. Misalnya bagaimana budaya eksistensinya, posisinya dengan Sangdalam bertutur kata sepantasnya. Pencipta. Hal inilah yangMaka proses tutur kata masyarakat menyebabkan bahwa dimensiadat mesti dipertahankan. Upaya ini trancedental skills menjadi bahandilakukan oleh kaum adat. Namun hal yang mesti disadari penting masukini belum terlalu baik diupayakan sebagai salah satu taksonomi softdalam mendiseminasikan soft skills. skills.(Elfindri, dkk, 2010). Demikian juga, bagaimanakehidupan bergotong-royong Penerapan Pendidikan Karakterdiupayakan masih eksis. Sayang sekali Dimulai SDkehidupan yang semacam itu semakin Pendidikan karakter yangsirna. Singkat kata soft skills belum dicanangkan Kementerian Pendidikansecara konsisten untuk digarap dan Nasional (Kemendiknas) akandipelajari. diterapkan pada semua jenjang Apa yang dapat dimaknai dari pendidikan, namun porsinya akansegala upaya untuk mencari solf skills lebih besar diberikan pada Sekolah 15
  • 81. Dasar (SD). Menurut Menteri Pertimbangan yang rasionalPendidikan Nasional (Mendiknas) tentang mengapa penerapanMuhammad Nuh, mengatakan pendidikan karakter harus dimulaipendidikan karakter harus dimulai pada siswa SD, karena siswa SD masihsejak dini yakni dari jenjang belum terkontaminasi dengan sifatpendidikan sekolah dasar SD). Pada yang kurang baik sangatjenjang SD ini porsinya mencapai 60 memungkinkan untuk ditanamkanpersen dibandingkan dengan jenjang sifat-sifat atau karakter untukpendidikan lainnya. Hal ini agar lebih membangun bangsa. Oleh karena itu,mudah diajarkan dan melekat di jiwa selain orang tua, guru SD jugaanak-anak itu hingga kelak ia dewasa. mempunyai peranan yang sangat vitalPendidikan karakter harus dimulai untuk menempuh karakter siswa.dari SD karena jika karakter tidak Pembinaan karakter yang termudahterbentuk sejak dini maka akan susah di-lakukan adalah ketika anak-anakuntuk merubah karakter seseorang. masih di bangku SD. Itulah sebabnyaPendidikan karakter tidak kita memprioritas-kan pendidikanmendapatkan porsi yang besar pada karakter di tingkat SD. Bukan berartitingkat Taman Kanak-Kanak (TK) atau pada jenjang pendidikan lainnya tidaksejenisnya karena TK bukan mendapat perhatian namun porsinyamerupakan sekolah tetapi taman saja yang berbeda.bermain. TK itu taman bermain untuk Dengan demikian makamerangsang kreativitas anak, bukan diharapkan dunia pendidikan dapattempat belajar. Oleh karena itu, jika sebagai motor pengge-rak untukada guru yang memberikan tugas atau memfasilitasi peserta didik menjadiPR maka guru tersebut tidak cerdas, juga mempunyai budi pekertimemahami tugasnya. Sedangkan dan sopan santun sehinggadalam menanamkan karakter pada keberadaannya sebagai anggotaseseorang yang paling penting adalah masyarakat menjadi bermakna baikkejujuran, karena kejujuran bersifat bagi dirinya maupun orang lain.universal. Esensinya pembinaan karakter harus dilakukan pada semua tingkat 16
  • 82. pendidikan hinga Perguruan Tinggi terpadu, dan seimbang, sesuai standar(PT) karena PT harus mampu berperan kompetensi lulusan. Melaluisebagai mesin informasi yang pendidikan karakter diharapkanmembawa bangsa ini menjadi bangsa peserta didik SMP mampu secarayang cerdas, sejahtera dan bermanfaat mandiri meningkatkan danserta mampu bersaing dengan bangsa menggunakan pengetahuannya,manapun. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujudModel Pendidikan Karakter di dalam perilaku sehari-hari.Sekolah Menengah Pertama(SMP) Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada Menurut Mochtar Buchori pembentukan budaya sekolah, yaitu(2007) dalam Kemendiknas (2010) nilai-nilai yang melandasi perilaku,―Pembinaan Karakter di Sekolah tradisi, kebiasaan keseharian, danMenengah Pertama‖, bahwa simbol-simbol yang dipratikkan olehpendidikan karakter seharusnya semua warga sekolah, dan masyarakatmembawa peserta didik ke pengenalan sekitar sekolah. Budaya sekolahnilai secara kognitif, penghayatan nilai merupakan ciri khas, karakter atausecara afektif, dan akhirnya ke watak, dan citra sekolah tersebut dipengamalan nilai secara nyata. mata masyarakat luas.Permasalahan pendidikan karakteryang selama ini ada di SMP perlu Sasaran pendidikan karaktersegera lebih operasional sehingga adalah seluruh Sekolah Menengahmudah diimplementasikan di sekolah. Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, Pendidikan karakter bertujuan meliputi para peserta didik, guru,untuk meningkatkan mutu karyawan administrasi, dan pimpinanpenyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah menjadi sasaran program ini.di sekolah yang mengarah pada Sekolah-sekolah yang selama ini telahpencapaian pembentukan katakter dan berhasil melaksanakan pendidikanakhlak mulia peserta didik secara utuh, 17
  • 83. karakter dengan baik dijadikan sebagai 4. Mematuhi aturan-aturanbest practices, yang menjadi contoh social yang berlaku dalamuntuk disebarluaskan ke sekolah- lingkungan yang lebih luas;sekolah lainnya. 5. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, Memalui program ini dan golongan social ekonomidiharapkan lulusan SMP memiliki dalam lingkup nasional;keimanan dan ketaqwaan kepada 6. Mencari dan menerapkanTuhan Yang Maha Esa, berakhlak informasi dari lingkunganmulia, berkarakter mulia, kompetensi sekitar dan sumber-sumberakademik yang utuh dan terpadu, lain secara logis, kritis dansekaligus memiliki kepribadian yang kreatif;baik sesuai norma-norma dan budaya 7. Menunjukkan kemampuanIndonesia. Pada tataran yang lebih berpikir logis, kritis, kreatif,luas, pendidikan karakter nantinya dan inovatif;diharapkan menjadi budaya sekolah. 8. Menunjukkan kemampuan Keberhasilan program belajar secara mandiri sesuaipendidikan karakter dapat diketahui dengan potensi yangmelalui pencapaian indicator oleh dimilikinya;peserta didik sebagaimana tercantum 9. Menunjukkan kemampuandalam Standar Kompetensi Lulusan menganalisis danSMP, yang antara lain meliputi sebagai memecahkan masalah dalamberikut : kehidupan sehari-hari; 10. Mendeskripsikan gejala alam 1. Mengamalkan ajaran agama dan social; yang dianut sesuai dengan 11. Memanfaatkan lingkungan tahap perkembangan secara bertanggung jawab; remaja; 12. Menerapkan nilai-nilai 2. Memahami kekurangan dan kebersamaan dalam kelebihan diri sendiri; kehidupan bermasyarakat, 3. Menunjukkan sikap percaya berbangsa, dan bernegara diri; 18
  • 84. demi terwujudnya persatuan mengikuti pendidikan dalam Negara kesatuan menengah; Republik Indonesia; 21. Memiliki jiwa13. Menghargai karya seni dan kewirausahaan. budaya nasional; Pada tataran sekolah, kriteria14. Menghargai tugas pekerjaan pencapaian pendidikan karakter dan memiliki kemampuan adalah terbentuknya budaya sekolah untuk berkarya; yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan15. Menerapkan hidup bersih, keseharian, dan simbol-simbol yang sehat, bugar, aman, dan dipratikkan oleh semua warga sekolah, memanfaatkan waktu luang dan masyarakat sekitar sekolah harus dengan baik; berlandaskan nilai-nilai16. Berkomunikasi dan tersebut.(Kemendiknas, 2010). berinteraksi secara efektif Penyelenggaraan pendidikan dan santun; nasional tidak semata mentransfer17. Memahami hak dan ilmu dan pengetahuan serta teknologi kewajiban diri dan orang lain kepada peserta didik. Lebih dari itu, dalam pergaulan di pendidikan harus bisa menumbuhkan masyarakat; menghargai semangat kebangsaan sebagai warga adanya perbedaan pendapat; bangsa dengan karakter ke-Indonesia-18. Menunjukkan kegemaran an. Bangsa ini harus kembali kepada membaca dan menulis bangsa yang berbudi. Mampu memiliki naskah pendek sederhana; budi pekerti yang luhur yang diajarkan19. Menunjukkan keterampilan oleh para leluhur bangsa. Caranya, menyimak, berbicara, dengan mengajarkan pendidikan membaca, dan menulis karakter kepada anak-anak mulai dari dalam bahasa Indonesia dan bangku sekolah. Memberikan mereka bahasa Inggris sederhana; pemahaman yang jelas tentang20. Menguasai pengetahuan karakter yang harus dimiliki manusia yang diperlukan untuk Indonesia di masa depan. 19
  • 85. Dengan olah raga, olah raga, bersifat kontraproduktif bagidan olah jiwa sekolah kami terus pembentukan karakter anak didik.menerus menanamkan nilai-nilai luhur Pendekatan parsial yang tidakyang harus dimiliki manusia didasari pendekatan pedagogi yangIndonesia. Oleh karena itu, kami kokoh alih-alih menanamkan nilai-mengemasnya dalam berbagai bentuk nilai keutamaan dalam diri anak,kegiatan kesiswaan yang dimulai dari malah menjerumuskan mereka padasaat siswa pertama kali masuk sekolah perilaku kurang bermoral. Selama ini,sampai keluar (lulus) dari sekolah. jika kita berbicara tentang pendidikan Pembangunan karakter dan karakter, yang kita bicarakanpendidikan karakter menjadi suatu sesungguhnya adalah sebuah proseskeharusan, karena pendidikan tidak penanaman nilai yang seringkalihanya menjadikan peserta didik dipahami secara sempit, hanyamenjadi cerdas, tetapi juga terbatas pada ruang kelas, danmempunyai budi pekerti dan sopan seringkali pendekatan ini tidaksantun, sehingga keberadaannya didasari prinsip pedagogi pendidikansebagai anggota masyarakat menjadi yang kokoh.bermakna baik bagi dirinya maupun Sebagai contoh, untukorang lain. Menanamkan karaker pada menanamkan nilai kejujuran, banyakseseorang yang paling penting adalah skolah beramai-ramai membuat kantinkejujuran, karena kejujuran bersifat kejujuran. Di sini, anak diajak untukuniversal. (Mahatma, 2010). jujur dalam membeli dan membayar barang yang dibeli tanpa ada yangPendidikan Karakter Integral mengontrolnya. Dengan praksis ini Pendidikan karakter hanya akan diharapkan anak-anak kita akanmenjadi sekadar wacana jika tidak menghayati nilai kejujuran dalamdipahami secara lebih utuh dan hidup mereka. Namun, sayang,menyeluruh dalam konteks pendidikan gagasan yang tampaknya relevannasional kita. Bahkan, pendidikan dalam mengembangkan nilai kejujurankarakter yang dipahami secara parsial ini mengabaikan prinsip dasardan tidak tepat sasaran justru malah pedagogi pendidikan berupa 20
  • 86. kedisiplinan sosial yang mampu berfungsi, sebab anak malah tergodamengarahkan dan membentuk pribadi menjadi pencuri. Kegagalan kantinanak didik. kejujuran adalah sebuah indikasi, Alih-alih mendidik anak bahwa para pendidik memilikimenjadi jujur, dibanyak tempat anak kesalahan pemahaman tentang maknayang baik malah tergoda menjadi kejujuran dalam konteks pendidikan.pencuri dan kantin kejujuran malah Mereka tidak mampu melihatbangkrut. Ini terjadi karena kultur persoalan yang lebih mendalam yangkejujuran yang ingin dibentuk tidak menggerogoti sendi pendidikandisertai dengan pemangunan kita.(Doni Koesoema A, 2010).perangkat sosial yang dibutuhkan Sementara itu, untukdalam kehidupan bersama. Tiap orang mengembangkan pendidikan karakterbisa tergoda menjadi pencuri jika ada di sekolah, Kementerian Pendidikankesempatan. Nasional (Kemendiknas) memberikan Masifnya perilaku bantuan kepada sekolah-sekolah yangketidakjujuran itu telah menyerambah ditunjuk sebagai percontohan. Sebagaidalam diri para pendidik, siswa dan contoh sebanyak 10 sekolah di semuaanggota komunitas sekolah lain. Untuk jenjang pendidikan di Nusa Tenggaraitu, pendekatan yang lebih utuh dan Barat mendapatkan bantuan dariintegrallah yang dibutuhkan untuk Kementerian Pendidikan Nasionalmelawan budaya tidak jujur ini. untuk mengembangkan pendidikan Pendidikan karakter semestinya karakter. Setiap sekolah yangterarah pada pengembangan kultur mendapatkan percontohan menerimaedukatif yang mengarahkan anak didik bantuan sebesar Rp. 10.000.000,00untuk menjadi pribadi yang integral. untuk menerapkan dan membinaAdanya bantuan sosial untuk pengembangan pendidikanmengembangkan keutamaan karakter.(http://www.antaranews.commerupakan ciri sebuah lembaga , diakses tanggal 7 September 2010).pendidikan. Sementara itu, Mendiknas, Dalam konteks kantin Muhammad Nuh mengemukakankejujuran, bantuan sosial ini tidak bahwa intinya pembinaan karakter 21
  • 87. harus dilakukan pada semua tingkat dilaksanakan pada semua tingkatpendidikan hingga Perguruan Tinggi pendidikan hingga Perguruan Tinggi(PT) karena PT harus mampu berperan (PT), (4) pembangunan karakter dansebagai mesin informasi yang pendidikan karakter menjadi suatumembawa bangsa ini menjadi bangsa keharusan karena pendidikan tidakyang cerdas, santun, sejahtera dan hanya menjadikan peserta didikbermartabat serta mampu bersaing menjadi cerdas, juga mempunyai budidengan bangsa manapun. pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggotaSimpulan dan Saran masyarakat menjadi bermakna baikSimpulan bagi dirinya maupun orang lain, (5) Berdasarkan pemaparan pendidikan karakter yang didalamnyatersebut di atas, maka dapatlah ada akhlak mulia akan menjadi jati diridikemukakan beberapa simpulan bangsa untuk mencapai kejayaan dansebagai berikut: (1) karakter adalah kemajuan di dunia internasional, (6)cara berpikir dan berperilaku yang pendidikan budaya dan karaktermenjadi ciri khas setiap individu untuk bangsa harus dipraktekkan, titikhidup dan bekerjasama, baik dalam beratnya bukan teori, (7)lingkup kehidupan keluarga, menghadirkan pendidikan karaktermasyarakat, bangsa dan Negara; (2) dan budaya di sekolah harus dilakukanPendidikan karakter meliputi 9 secara holistik, karena tidak bisa(sembilan) pilar yang saling kait terpisah dengan pendidikan sifatnyamengkait, yaitu: (a) responsibility kognitif atau akademik, (8)(tanggung jawab), (b) respect (rasa permasalahannya, mayoritas guruhormat), (c) fairness (keadilan), (d) belum punya kemauan untukcourage (keberanian), (e) honesty melaksanakan pendidikan karakter,(kejujuran), (f) citizenship kesadaran sudah ada hanya saja belum(kewarganegaraan), (g) self-discipline menjadi sebuah aksi nyata, (9) grand(disiplin diri), (h) caring (peduli), dan design tentang pendidikan karakter(i) perseverance (ketekunan); (3) sudah tersusun, hanya belumpembinaan karakter harus disosialisasikan ke seluruh pelosok 22
  • 88. nusantara, terutama ke lembaga- konteks pembelajaran di kelas ataulembaga pendidikan, dan (10) program ruang kuliah, pendidikan karakterpendidikan karakter tidak hanya dapat diintegrasikan pada matadilakukan satu sampai dua tahun, pelajaran atau mata kuliah yangnamun secara berkesinambungan relevan, (4) agar tenaga kependidikanhingga 2025. (guru dan dosen) mempunyai acuan yang baku tentang penerapanSaran pendidikan karakter, maka perlu Berdasarkan butir-butir segera disosialisasikan grand designsimpulan di atasa, maka untuk tentang pendidikan karakter, (5)mengimplemetasikan pendidikan pendidikan karakter harus diwujudkankarakter di lembaga pendidikan untuk kepentingan anak-anakdikemukakan saran sebagai berikut : Indonesia dalam konteks kehidupan(1) untuk implementasikan pendidikan social dan buaya masyarakat, (6) perlukarakter di sekolah dasar (SD), sebagai diadakan TOT (Training of Trainer)porsi yang cukup besar (60%), maka untuk pendidikan karakter bagiperlu disusun buku petunjuk seluruh tenaga tenaga kependidikan,pelaksanaan (juklak) yang dapat baik guru maupun dosen, (7)digunakan sebagai acuan para tenaga pelaksanaan pendidikan karakter dikependidikan pada jenjang pendidikan sekolah jangan hanya bersifat instan,dasar, (2) sebagaimana telah karena pemerintah saat ini sedangdikemukakan di atas, bahwa intens dengan soal ini, tantangannyapenerapan pendidikan karakter dapat justru bagaimana pendidikan didiimplementasikan mulai pada jenjang sekolah itu berjalan seimbang antarapendidikan dasar sampai dengan penguasaan pengetahuan danpendidikan tinggi. Oleh karena itu, pembentukan karakter siswa, dan (8)untuk mempersiapkan semuanya perlu segera disosialisiasikannya grandsecara cermat, perlu diterbitkan buku design pendidikan karakter di lembagapinter yang memberikan acuan kepada pendidikan mulai jenjang pendidikanguru dan dosen agar pendidikan Taman Kanak-Kanak sampai dengankarakter dapat diterapkan sesuai perguruan tinggi.dengan yang diharapkan, (3) dalam 23
  • 89. PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA24
  • 90. DI SDN BANJARSARI CERME diikutkan adalah guru komputer, GRESIK diperoleh responden sebanyak 19 orang. Data dikumpulkan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara dengan instrumen check list. Selanjutnya untuk Etiyasningsih*) mengetahui pengaruh disiplin guru terhadap prestasi belajar digunakan uji regresi linier berganda.Abstrak, Disiplin merupakan salah satufaktor yang sangat penting. Agar guru Hasil penelitian menunjukkandapat berhasil dalam melaksanakan tugas Fhitung = 6,171. > Ftabel = 4,45. Oleh karenadan kewajibannya, maka guru tersebut Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Hoharus mentaati dan menyadari akan ditolak yang berarti terdapat pengaruhpentingnya kedisiplinan. Kedisiplinan signifikan disiplin guru terhadap prestasiguru tentunya akan berimbas kepada para belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasilsiswa, guru yang tidak atau kurang hitung αhitung = 0,024 jauh di bahwa 0,05,disiplin, siswanya pun akan cenderung yang menandakan pengaruh yangtidak displin dan sebaliknya. Kedisplinan signifikan.tidak hanya pada kehadiran guru semata, Berdasarkan hasil penelitiannamun lebih dari itu disiplin dalam diharapkan para guru dapat menjalankanmelaksanakan proses belajar mengajar.Dalam hal ini misalnya guru disiplin tugas dengan penuh rasa tanggung jawab, disiplin, jujur, dan penuh didekasi, karenadalam membuat persiapan mengajar, dengan sikap-sikap tersebut sangatSilabus, RPP, menyiapkan buku-buku membantu dalam tercapainya prestasipaket penunjang, alat peraga dan lain-lain. belajar siswa, selain itu hendaknya jugaDengan kedisiplinan guru yang tinggi lebih memperhatikan kehadiran,siswa akan lebih semangat belajar dan persiapan mengajar dan proses kegiatanmendapatkan urutan materi pelajaran belajar mengajar. Bagi kepala sekolahyang sistematis, hal ini akan dapat memberi motivasi agar para gurumeningkatkan prestasi belajarnya.Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih disiplin dengan memberi stimulus yang proporsional.pengaruh disiplin guru terhadap prestasibelajar. Penelitian ini merupakan jenis Kata Kunci : Disiplin Guru, Prestasiregresional. Populasinya adalah seluruh Belajar Siswaguru di SDN Banjarsari Cerme Gresikberjumlah 20 orang. Sampel diambildengan teknik purposive sampling yaitusesuai dengan kebutuhan dan yang tidakPENDAHULUAN Sebenarnya telah banyak usaha pemerintah, dan aspek pendukung, guna Kita semua menyadari bahwa untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut.mencapai tujuan pendidikan sangatlahberat, lebih-lebih pada saat sekarang ini. 25
  • 91. Untuk mewujudkan tujuan berhasil dalam melaksanakan tugas danpendidikan tersebut pemerintah berusaha kewajibannya, maka guru tersebut harusmelak-sanakan kegiatan antara lain, (1) mentaati dan menyadari akan pentingnyaMenyempurnakan sistem pendidikan, (2) kedisiplinan. Karena gurulah yang ikutMemperluas kesempatan untuk mem- bertanggung jawab dalam keberhasilanperoleh pendidikan, (3) Sarana dan penyelenggaraan kegiatan belajarprasarana pendidikan terus mengajar di sekolah, agar selalu berupayadisempurnakan dan ditingkatkan serta untuk meningkatkan keberhasilan prestasilebih didayagu-nakan, (4) Meningkatkan belajar siswa. Selain itu para gurujumlah guru dan mutunya, baik formal hendaknya selalu memberikan bimbinganmaupun non formal serta terus dan pengajaran secara baik dengan selaluditingkatkan pengembangan karier dan berpedoman pada petunjuk dankesejahteraannya. peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Mengelola pendidikan tidak semudah Departemen Pendidikan Nasional.yang kita bayangkan selama ini, sebabpendidikan berperan penting sebagai alat Kedisiplinan guru tentunya akanatai tempat untuk membentuk manusia berimbas kepada para siswa, guru yangIndonesia dan sebagai warga masyarakat tidak atau kurang disiplin, siswanya punsekaligus sebagai warga Negara yang akan cenderung tidak displin danberbudi pekerti luhur, beriman dan taqwa sebaliknya. Kedisplinan tidak hanya padaterhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta kehadiran guru semata, namun lebih dariberkemampuan dan mempunyai itu disiplin dalam melaksanakan prosesketrampilan dasar untuk bekal pendidikan belajar mengajar. Dalam hal ini misalnyaselanjutnya dan bekal hidup di guru disiplin dalam membuat persiapanmasyarakat. mengajar, Silabus, RPP, menyiapkan buku-buku paket penunjang, alat peraga Guru kelas sebagai administrator dan lain-lain. Dengan kedisiplinan gurumenempati posisi yang sangat penting yang tinggi siswa akan lebih semangatkarena memikul tanggung jawab untuk belajar dan mendapatkan urutan materimeningkatkan dan mengembangkan pelajaran yang sistematis, hal ini akankemajuan sekolah secara keseluruhan. meningkatkan prestasi belajarnya.Sedangkan murid dan guru yang menjadikomponen penggerak aktifitas kelas harusdidayagunakan secara maksimal agardapat tercapai suatu kesatuan yang METODE PENELITIANdinamis di dalam organisasi sekolah. Pada dasarnya sekarang ini banyak Deskripsi Populasipara guru yang kurang siap dalammengajar, dikarenakan guru tersebut Arikunto (2002) menyatakan bahwabelum membuat persiapan mengajar, dan populasi adalah obyek yang akan ditelitijuga melanggar tata tertib. hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku untuk seluruh Disiplin merupakan salah satu faktor populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskanyang sangat penting. Agar guru dapat 26
  • 92. popupasi adalah totalitas semua nilai yang 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%,mungkin, hasil menghitung atau 10%pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampelmengenai karateristik tertentu dari semuaanggota kumpulan yang lengkap dan jenisyang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Namun dari rumus tersebut telah Penelitian ini dilakukan dengan dihitung untuk populasi-populasi denganmengambil populasi seluruh guru di SDN jumlah tertentu mulai 10 hinggaBanjarsari Cerme Gresik berjumlah 20 1.000.000 oleh Sugiono (2009:126)orang. sebagaimana tabel terlampir. Untuk jumlah populasi 20 orang dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyakPenentuan Sampel 19 orang. Oleh karena itu dalam penelitian Pengambilan sampel ini didasari ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknikpendapat Arikunto (1998:120-121) berikut purposive sampling yaitu sesuai dengan: ―Untuk sekedar ancer-ancer maka kebutuhan dan yang tidak diikutkanapabila subjeknya kurang dari 100, lebih adalah guru komputer.baik diambil semua sehinggapenelitiannya merupakan penelitian Definisi Operasional Variabelpopulasi. Selanjutnya jika jumlahsubyeknya besar dapat diambil antara 10- Agar tujuan penelitian dapat tercapai15% atau lebih tergantung setidak- maka variabel harus didefinisikan dengantidaknya dari : a) kemampuan peneliti dari jelas dan menyebutkan indikator-waktu, tenaga dan dana, b) Sempit luasnya dindikatornya, cara pengukurannya, danwilayah pengamatan dari setiap subyek, skala atau kategori penilaian yangkarena hal ini menyangkut banyak digunakan. Berikut ini adalah definisisedikitnya data, c) Besar kecilnya risiko operasional masing-masing variabel.yang ditanggung oleh peneliti. Untuk 1. Variabel bebas (X) yakni disiplinpenelitian yang risikonya besar, tentu saja guru adalah suatu sikap mental seoangjika sampel besar, hasilnya akan lebih guru yang mengandung kesadaran danbaik.‖ kerelaan untuk mematuhi semua Sugiyono (2009:124) menyatakan ketentuan, peraturan dan norma yangjumlah sampel tergantung dari tingkat berlaku dalam menunaikan tugas danketelitian atau kesalahan yang tanggung jawab. Disiplin guru tersebutdikehendaki, misalnya tingat kesalahan diukur dengan indikator-indikator1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar sebagai berikut :tingkat kesalahan makin kecil sampel. a. Kehadiran di sekolahRumus untuk menghitung ukuran sampel b. Ketepatan waktu mengajardari populasi yang diketahui jumlahnya c. Persiapan mengajar yaitu silabus,adalah : RPP d. Kegiatan belajar mengajar antara s = lain alat peraga, buku penunjang, buku absen siswa, daftar nilai, dan lain-lain. 27
  • 93. 2. Variabel terikat prestasi belajar (Y) Pengumpulan data yang yaitu suatu suatu hasil yang teah dilakukan dengan wawancara adalah dicapai setelah kegiatan belajar meyakinkan hasil observasi tentang mengajar. Dalam penelitian ini, disiplin guru. Wawancara dilakukan indikator yang digunakan adalah nilai kepada masing-masing guru yang rata-rata hasil ulangan tiap mata bersangkutan dan kepala sekolah. pelajaran bagi guru mata pelajaran dan tiap kelas pada guru kelas.Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Adapun proses pengumpulan data Data yang telah terkumpuldalam penelitian ini dilakukan dengan kemudian dilakukan analisis denganprosedur sebagai berikut : urutan analisa sebagai berikut :1. Survey Pendahuluan Dalam kegiatan ini, penelitian 1. Coding, adalah memberi kode pada dilakukan dengan mengumpulkan lembar check list sesuai dengan data-data intern perusahaan di kategori yang telah ditentukan. antaranya adalah profil SDN 2. Tabulating, adalah mentabulasi Banjarsari Cerme Gresik. seluruh data hasil chek list ke dalam2. Dokumentasi tabel-tabel yang diperlukan sehingga Teknik dokumentasi adalah mudah dibaca. mencari data mengenai hal-hal atau 3. Skoring, adalah memberi skor dari variabel yang berupa catatan, kategori-kategori tersebut sesuai skor transkrip, buku, surat kabar, majalah, yang telah ditentukan. Disiplin guru prasasti, notulen rapat, legger, agenda diberi skor tinggi, sedang dan rendah. dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : Skor tinggi jika penjumlahan dari hasil 236). penilaian mencapai >75%, skor sedang Dalam penelitian ini teknik jika penjumlahan dari hasil penilaian dokumentasi digunakan untuk mencapai 56-75%, dan rendah jika memperoleh data nilai siswa. Dalam penjumlahan dari hasil penilaian data sekunder yang diperoleh dengan <56%. teknik dokumentasi ini, peneliti juga 4. Uji Hipotesis menggunakan lembar cek list untuk Uji hipotesis berfungsi untuk menjawab mencatat indikator disiplin guru. hipotesa yang telah diajukan sebelumnya.3. Wawancara Uji ini sekaligus juga menjawab rumusan Wawancara atau interview masalah yang telah ditulis pada Bab I. Uji adalah suatu metode yang tujuannya yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data evaluasi, adalah uji Regresi Sederhana dengan secara berhadapan muka dengan rumus persamaan regresi sederhana : secara individu, orang yang Y = a + bX diinterview memberikan informasi- Y = Prestasi siswa informasi yang diperlukan secara X = Disiplin guru ilmiah dalam suatu relasi face to face‖ a = Nilai konstanta (Drs. Amatembun MA, supervise b = Nilai arah sebagai penentu ramalan Pendidikan, 1975:191). (prediksi) yang menunjukkan nilai 28
  • 94. peningkatan (+) atau nilai 1 Kurang 1 5,2 penurunan (–) variabel Y. 2 Cukup 4 21,1 3 Baik 14 73,7Dalam penelitian ini perhitungan regresi Jumlah 19 100dilakukan dengan bantuan program SPSSfor Windows. Langkah menguji hipotesis : Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa1) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk disiplin guru dalam melaksanakan kalimat : tugasnya sebagian besar (73,7%) baik, Ha : Terdapat pengaruh disiplin 21,1% cukup, dan 5,2% kurang. guru dengan prestasi siswa Ho : Tidak terdapat pengaruh disiplin guru dengan prestasi siswa Sedangkan Prestasi belajar siswa2) Kaidah pengujian signifikansi : diukur dari nilai rata-rata mata pelajaran Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha dari guru yang bersangkutan jika guru diterima dan Ho ditolak artinya tersebut adalah guru mata pelajaran, dan terdapat pengaruh disiplin guru nilai rata-rata kelas jika guru yang dengan prestasi siswa. bersangkutan adalah guru kelas. Nilai Jika Fhitung < Ftabel maka Ha tersebut diperoleh selama 6 kali evaluasi ditolak dan Ho diterima artinya tidak terakhir yang datanya diperoleh dari terdapat pengaruh disiplin guru dokumentasi pada guru mata pelajaran dengan prestasi siswa. atau guru kelas masing-masing.HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2 Nilai Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai Rata-rata Mata Pelajaran (6 x evaluasi terakhir) Terdapat 8 indikator dalammenjelaskan disiplin guru yang diperolehdatanya melalui observasi dan Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilaidokumentasi yaitu, kehadiran, ketepatan Rata-rata Mata Pelajaranwaktu mengajar, silabus, RPP, alat peraga, No Resp (6 x evaluasi terakhir)buku, absensi murid, buku penunjang,daftar nilai. . Rata 1 2 3 4 5 6 - RataTabel 1 Disiplin Guru di Sekolah Dasar 1 7,60 7,90 7,95 8,10 8,20 8,64 8,07Negeri Banjarsari Kec. Cerme KabupatenGresik 2 6,54 5,95 7,00 7,10 6,52 6,43 6,59 3 8,00 8,50 7,93 7,87 8,30 8,00 8,10 Persentase 4 8,20 7,50 7,90 7,60 7,90 7,42 7,75 No Daftar Nilai Jumlah (%) 29
  • 95. Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai pada lampiran. Pada analisa data ini akan Rata-rata Mata Pelajaran dipaparkan uji hipotesis dengan regresi No linier sederhana. Output perhitunganResp (6 x evaluasi terakhir) dengan program SPSS for Windows . seperti terlihat dalam gambar berikut. Rata 1 2 3 4 5 6 - Rata ANOVAb Sum of 5 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 Model 1 Regression Squares 1,918 df 1 Mean Square 1,918 F 6,171 Sig. ,024 a Residual 5,282 17 ,311 6 7,20 7,56 7,85 7,98 8,20 8,20 7,83 Total 7,200 a. Predictors: (Constant), Disiplin Guru 18 b. Dependent Variable: Prestas i Sisw a 7 8,60 8,40 8,00 8,21 7,58 7,49 8,05 Gambar 1 Uji F 8 7,98 7,12 7,59 7,87 8,67 8,12 7,89 9 7,90 7,92 8,00 8,20 8,40 8,50 8,15 Gambar 4.2 di atas menunjukkan 10 6,90 6,90 6,65 6,00 7,15 7,26 6,81 hasil uji F dengan program SPSS for 11 6,70 6,80 6,90 6,23 6,50 6,21 6,56 Windows, dengan Fhitung sebesar 6,171. Angka ini selanjutnya dibandingkan 12 8,00 8,50 8,50 8,00 7,90 9,40 8,38 dengan Ftabel pada df = 17 sebagaimana Tabel F pada lampiran (Critical Values for 13 7,50 7,60 7,70 7,54 7,80 8,00 7,69 the F Distribution α=0,05). Tabel F dengan df = 13 dan n =1 diperoleh Ftabel = 14 6,10 6,00 6,58 6,98 7,16 7,90 6,79 4,45. Sehingga Fhitung = 6,171 > Ftabel = 4,45. 15 8,20 8,00 8,10 8,23 8,21 8,60 8,22 Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha 16 7,59 8,00 8,10 8,20 8,50 8,42 8,14 diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan disiplin guru 17 8,50 8,40 8,60 8,21 8,24 8,21 8,36 terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,024 18 6,80 7,10 6,85 6,98 6,85 6,20 6,80 jauh di bahwa 0,05, yang menandakan 19 7,23 8,00 8,00 8,20 8,10 8,65 8,03 pengaruh yang signifikan. Selain adanya pengaruh yang signifikan, pada uji korelasi juga terlihat adanya korelasi positif (Gambar 4.3) antar kedua variabel yang diperoleh PearsonUji Regresi Linier Sederhana Correlation sebesar 0,516 lebih dari rtabel Data yang terkumpul sebagaimana sebesar 0,456 (Sebagaimana r tabelpaparan sebelumnya selanjutnya dianalisis Product Moment pada df = 17 terlampir).untuk mengetahui pengaruh disiplin gurudengan prestasi belajar siswa. Koding, skoring, dan tabulating telahdilaksanakan peneliti yang hasilnya tertera 30
  • 96. Cor relations = 6,191 + 0,560 Prestasi Sisw a Disiplin Guru Selanjutnya berdasarkan persamaan Pearson Correlation Prestasi Sisw a 1,000 ,516 di atas deskripsi pengaruh tingkat Disiplin Guru ,516 1,000 Sig. (1-tailed) Prestasi Sisw a , ,012 pendidikan terhadap perkembangan Disiplin Guru ,012 , perusahaan berdasarkan unstandarized N Prestasi Sisw a 19 19 Disiplin Guru 19 19 coeffisients beta adalah sebagai berikut: 1) Konstanta sebesar 6,191 menyatakan Gambar 2 Uji Korelasi bahwa jika variabel disiplin guru dianggap konstan (tidak ada upaya meningkatkan disiplin guru), maka prestasi belajar siswa sebesar Besarnya pengaruh atau kontribusi 6,191point.disiplin guru terhadap prestasi belajar 2) Koefisien regresi disiplin guru sebesarsiswa dapat dilihat pada gambar Uji t 0,560 menyatakan bahwa setiapberikut ini. peningkatan 1 poin tingkat disiplin guru akan meningkatkan a Coe fficients perkembangan perusahaan sebesar Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Correlations 0,560 poin. Jika angka tersebut Model 1 (Constant) B 6,191 Std. Error ,619 Beta t 10,003 Sig. ,000 Zero-order Partial Part dikalikan 1000, deskripsinya menjadi Disiplin Guru ,560 a. Dependent Variable: Prestasi Sisw a ,226 ,516 2,484 ,024 ,516 ,516 ,516 setiap ada upaya peningkatan disiplin guru sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa Gambar 3 Uji t sebesar 560 point. Sebagaimana Uji F di atas yangmenunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga PEMBAHASANseperti pada Gambar 4.4 memperlihatkanthitung sebesar 2,484 > ttabel sebesar 2,110(sebagaimana Critical Value for the tDistribution terlampir untuk df = 17) Hasil penelitian menunjukkan disiplinartinya terdapat pengaruh disiplin guru guru dipengaruhi oleh tanggung jawabterhadap prestasi belajar siswa. yang dibebankan kepadanya. Tanggung jawab tersebut berasal dari pemerintah Untuk menunjukkan besarnya karena para guru adalah Pegawai Negeripengaruh atau kontribusi disiplin guru Sipil yang mempunyai tugas pokok danterhadap prestasi belajar siswa dapat fungsi yang jelas.dilihat koefisien regresi (unstandarizedcoefficients Beta) pada gambar 4.4 di atas Selain itu para guru juga bertanggungsebesar 0,560. Selanjutnya sesuai dengan jawab atas prestasi belajar para siswanya.rumus regresi sederhana dapat Guru cera umum akan merasa banggadimasukkan angka-angka tersebut sebagai apabila siswanya dapat berprestasi danberikut : memiliki kemampuan yang baik. Y = a + bX Disebutkan bahwa faktor-faktor kesehatan jasmani dan rohani, ekonomi, 31
  • 97. status sosial, kepemimpinan dan karena mereka menyadari bahwa guruperaturan dan tata tertib juga berpengaruh memegang peranan penting dalamterhadap disiplin guru. pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan, karena pendidikan akan Kesehatan seluruh guru secara umum berjalan lancar dan berkembang baikterlihat sehat jasmani maupun rohaninya. apabila guru secara aktif ikut memajukanDikatakan bahwa kesehatan seorang guru pendidikan di dalam masyarakat.mempengaruhi terhadap tugas sehari-hari.Sudah sewajarnyalah bila setiap guru Faktor kepemimpinan merupakanmenginginkan rasa aman dalam faktor penting dalam membentuk disiplinkehidupannya sehingga akan terhindar para guru. Kepemimpinan yang dimaksuddari segala gangguan kesehatan. Sehingga ini adalah kepemimpinan kepala sekolah.ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya Dikatakan bahwa kepala sekolah, jikadengan yang akhirnya dapat membawa kepemimpinannya efektif, maka guru-hasil yang baik pula. guru akan memperoleh sumbangan yang berharga dalam merumuskan tujuan- Selanjutnya masalah ekonomi secara tujuan pendidikan, berlangsungumum Pegawai Negeri Sipil telah pengajaran yang efektif, terciptanyamendapatkan penghasilan yang cukup suasana yang kondusif (berguna) sehinggauntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. hal demikian itu akan mendukungPemerintah melalui Presiden terciptanya kedisiplinan guru yang baik.Abdurrahman Wahid pada tahun 2001 Dengan demikian maka factormenaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil kepemimpinan dapat mempengaruhimencapai 200% atau dua kali lipat, kedisiplinan guru. Di SDN Banjarsari Kecsehingga jika dibandingkan dengan Cerme Kabupaten Gresik, kepemimpinanpenghasilan rata-rata penduduk di kepala sekolah sukup baik, danIndonesia Pegawai Negeri Sipil sudah komunikasi kepala sekolah dengan paracukup baik. Memang masalah ekonomi guru juga berlangsung dengan baik.sangat penting terhadap disiplin guru.Dikatakan bahwa faktor ekonomi Tidak kalah penting adalah peraturanmenambah beban bagi guru-guru dan dan tata tertib sekolah yangmenjadi persoalan pribadi yang dapat mempengaruhi disiplin guru. Disiplinmemungkinkan terganggunya tugas-tugas guru dan tata tertib sekolah merupakandi sekolah. Padahal guru-guru dua hal yang saling terkait. Artinyamenginginkan rasa aman, tentram dalam disiplin guru tidak akan tercapai bila tidakkehidupannya yang antara lain yaitu ada peraturan atau ketentuan-ketentuanpenerimaan gaji lancar, segala haknya yang mengikat, sehingga menyebabkandapat diterima dengan baik dan tepat pada guru untuk berbuat semaunya sendiri yangwaktunya, juga memiliki tempat tinggal mengarah terciptanya sekolah yang tidakuntuk keluarganya dan lain-lain. teratur/tertib. Tata tertib yang ada di SDN Banjarsari sudah cukup baik dan tercatat Kemudian tentang status sosial guru dan ditempatkan di posisi yang mudahdi dalam masyarakat mempunyai status dilihat.yang cukup baik. Masyarakat memandangguru sebagai orang yang patut dihargai, 32
  • 98. Hasil uji menunjukkan pengaruh yangsignifikan disiplin guru terhadap prestasibelajar siswa. DAFTAR PUSTAKAKetika belajar di sekolah, faktor guru dancara mengajarkannya merupakan faktor Ametembun, Drs.M.A, “Supervisiyang paling penting pula. Bagaimana sikap Pendidikan”, Penerbit IKIPdan kepribadiannya guru, disiplinnya, Bandung, 1975tinggi rendahnya pengetahuan yangdimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu Ametembun, Drs.M.A, “Manajemenmengajarkan pengetahuan kepada anak Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbitdidiknya, turut menentukan bagaimana IKIP Bandung, 1981hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik Penilaian Pendidikan”, PenerbitKesimpulan IKIP Bandung, 1984 Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., “Administrasi Pendidikan Dasar”,1. Disiplin guru di SDN Banjarsari Penerbit Departemen Pendidikan Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik dan Kebudayaan, 1976 sebagian besar baik.2. Terdapat pengaruh positif disiplin M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi guru terhadap prestasi belajar siswa di Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda SDN Banjarsari Kecamatan Cerme Karya Bandung 1990 Kabupaten Gresik. M. Dimyati Mahmud, “Psykologi Pendidikan”, Suatu PendekatanSaran-saran Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta1. Para guru diharapkan agar dapat menjalankan tugas dengan penuh rasa Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi tanggung jawab, disiplin, jujur, dan Reseach”, Jilid II Penerbit FKP penuh didekasi, karena dengan sikap- IKIP Yogyakarta 1967 sikap tersebut sangat membantu dalam tercapainya prestasi belajar Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs siswa. “Supervisi Pendidikan”, Dalam2. Para guru hendaknya juga lebih Rangka Program Insenvice memperhatikan kehadiran, persiapan Education, Penerbit IKIP Malang mengajar dan proses kegiatan belajar 1971 mengajar.3. Bagi kepala sekolah dapat memberi S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan motivasi agar para guru lebih disiplin Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit dengan memberi stimulus yang Jemara Bandung 1989 proporsional. 33
  • 99. Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka Surabaya 1989 34
  • 100. PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO II/397 KECAMATAN WONOKROMO KOTA SURABAYA Sri Sundari *) Abstrak, Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru juga perlu menaruh perhatianterhadap kemajuan murid di samping evaluasi belajar memecahkan masalah atauproblem yang dihadapi murid dan lain-lainnya. Di dalam memperbaiki danmensukseskan proses belajar mengajar serta memecahkan masalah lain, banyakdipengaruhi oleh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap guru danlingkungan sekolahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru dalampelaksanakan proses belajar mengajar. Penelitian ini merupakan jenis regresional. Populasinya adalah seluruh guru di SDNNgagelrejo II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya berjumlah 18 orang. Sampel diambildengan teknik total sampling diperoleh responden sebanyak 18 orang. Data dikumpulkandengan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruhpelaksanaan supervisi kepala terhadap disiplin guru digunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Oleh karena Fhitung > Ftabelmaka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh pelaksanaan supervisikepala sekolah terhadap disiplin guru. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,026jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan supervisi kepala sekolah dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga lebih meningkatkan disiplin guru. Guru hendaknya ikut mensukseskanpelaksanaan supervisi kepala sekolah agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkatdan bermutu. Bagi pihak-pihak terkait khususnya pemerintah hendaknya memperhatikanpelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu memberikan instrumen yang valid danhandal.Kata Kunci : Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah, Kedisiplinan GuruPENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi meliputi seluruh bidang 35
  • 101. kehidupan, misalnya bidang dijamin haknya untuk mendapatkankomunikasi, transportasi serta pengajaran sebagaimana tercantumpembangunan fisik lainnya. Karena dalam Batang Tubuh UUD 1945 Babperkembangan ilmu pengetahuan dan XIII pasal 31 ayat 1 yang berbunyiteknologi semakin canggih, maka ―Tiap-tiap warga negara berhakhubungan antara negara-negara di mendapatkan pengajaran‖. Untukdunia ini semakin berkembang. Jarak pelaksanaan tersebut diatas, makaantara negara yang satu dengan negara pemerintah berupaya sertayang lainnya seolah-olah semakin mempunyai tanggung jawab dalamdekat. Perkembangan ilmu pendidikan. Hal ini diperkuat denganpengetahuan dan teknologi ayat berikutnya (pasal 31 ayat 2) yangmendekatkan dan menyatukan negara berbunyi : ―Pemerintah mengusahakanyang satu dengan negara yang lain dan menyelenggarakan satu sistemsehingga seolah-olah dunia ini pengajaran nasional yang diatur olehmengglobal. Undang-undang‖. Oleh karena itu, bangsa Indonesia Dengan melihat pernyataan diatas,juga berusaha untuk meningkatkan maka pendidikan mencetuskanilmu pengetahuan dan teknologi agar harapan, karena harapan terletak padasesuai dengan perkembangan jaman. pendidikan, harapan juga menjiwaiHal ini sesuai dengan cita-cita dan perjuangan kemerdekaan. Karena itutujuan negara yang tercantum dalam pendidikan merupakan bagian mutlakUUD 1945 alinea 4 yang berbunyi: dari perjuangan dan merupakan“Mencerdaskan kehidupan bangsa investasi yang paling utama dari setiapdan ikut melaksanakan ketertiban bangsa.dunia berdasarkan kemerdekaan, Oleh karena itu, mutu pendidikanperdamaian abadi dan keadilan lebih banyak cenderung dansosial”. tergantung pada guru dalam Untuk melaksanakan hal tersebut membimbing/mendidik proses belajardiatas, maka salah satu bidang yang mengajar, serta kedisiplinan dalamharus diutamakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan belajar mengajarmeningkatkan kualitas sumber daya di sekolah. Kedisiplinan perlu sekalimanusia adalah dalam bidang ditingkatkan untuk mencapaipendidikan, karena pendidikan modal keberhasilan pendidikan, baik disiplinpaling utama dalam menciptakan waktu maupun tugas.manusia yang cerdas dalam arti Sebagai tenaga pendidik diterampil, dapat berdiri sendiri serta sekolah, guru harus ikut aktif dalambertanggung jawab terhadap bangsa rangka pencapaian tujuan pendidikandan negara. nasional, sebagaimana yang tercantum Dalam pendidikan atau dalam Ketetapan MPR No. 11/83pengajaran, warga negara Indonesia tentang GBHN halaman 93 yang 36
  • 102. berbunyi : ―Pendidikan nasional sekedar descriptive, sedangkan bentukberdasarkan Pancasila bertujuan untuk penelitian verifikatif menurut Moh. Nazirmeningkatkan ketaqwaan terhadap (1988:63) digunakan untuk menguji―Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan hipotesis yang menggunakan perhitungan- perhitungan statistik.dan ketrampilan, mempertinggi budipekerti, memperkuat kepribadian,mempertebal semangat kebangsaanseta cinta tanah air agar dapat Deskripsi Populasi dan Penentuan Sampelmembangun dirinya sendiri sertabersama-sama bertanggung jawab atas Deskripsi Populasipembangunan bangsa dan negara‖. Arikunto (2002) menyatakan bahwa Untuk mencapai tujuan populasi adalah obyek yang akan ditelitipendidikan tersebut diatas, maka tugas hasilnya, dianalisis, disimpulkan danguru juga perlu menaruh perhatian kesimpulan itu berlaku untuk seluruhterhadap hal-hal lain. Laporan tentang populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskankemajuan murid di samping evaluasi popupasi adalah totalitas semua nilai yangbelajar memecahkan masalah atau mungkin, hasil menghitung atauproblem yang dihadapi murid dan lain- pengukuran, kuantitatif, atau kualitatiflainnya. mengenai karateristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jenis Di dalam memperbaiki dan yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.mensukseskan proses belajar mengajarserta memecahkan masalah lain Penelitian ini dilakukan dengansebagaimana tersebut, banyak dipengaruhi mengambil populasi seluruh guru di SDNoleh pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah Ngagelrejo II Wonokromo Surabayaterhadap guru dan lingkungan sekolahnya. berjumlah 18 orang. Penentuan SampelMETODE PENELITIAN Pengambilan sampel ini didasari pendapat Arikunto (1998:120-121) ―Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baikJenis Penelitian diambil semua sehingga penelitiannya Penelitian ini menggunakan metode merupakan penelitian populasi.penelitian explanatory survey. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besarPendekatan explanatory survey ini, dapat diambil antara 10-15% atau lebihsebagaimana simpulan Cooper dan tergantung setidak-tidaknya dari : a)Pamela (2003:13), Masri Singarimbun dan kemampuan peneliti dari waktu, tenagaSofyan Effendi (1995:3) terbukti mampu dan dana, b) Sempit luasnya wilayahdengan baik menjelaskan hubungan antar pengamatan dari setiap subyek, karena halaspek yang diamati dan bukan hanya ini menyangkut banyak sedikitnya data, c) 37
  • 103. Besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh Agar tujuan penelitian dapat tercapaipeneliti. Untuk penelitian yang risikonya maka variabel harus didefinisikan denganbesar, tentu saja jika sampel besar, jelas dan menyebutkan indikator-hasilnya akan lebih baik.‖ dindikatornya, cara pengukurannya, dan skala atau kategori penilaian yang Sugiyono (2009:124) menyatakan digunakan. Berikut ini adalah definisijumlah sampel tergantung dari tingkat operasional masing-masing variabel.ketelitian atau kesalahan yang 1. Variabel bebas (X) yaknidikehendaki, misalnya tingat kesalahan pelaksanaan supervisi kepala sekolah1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar adalah suatu usaha untuk mewujudkantingkat kesalahan makin kecil sampel. kemajuan sekolah yang bersifat teraturRumus untuk menghitung ukuran sampel dan kontinyu dengan jalan membina,dari populasi yang diketahui jumlahnya memperbaiki, meningkatkanadalah : kedisiplinan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar untuk s = mempertinggi mutu pendidikan yang diberikan kepada siswa. Pelaksanaan 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, supervisi kepala sekolah diukur10% dengan indikator-indikator sebagai berikut :P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampel a. Prinsip konstruktif b. Prinsip kreatifitas Namun dari rumus tersebut telah c. Prinsip kooperatifdihitung untuk populasi-populasi dengan d. Prinsip demokrasijumlah tertentu mulai 10 hingga e. Prinsip kontinyuitas1.000.000 oleh Sugiono (2009:126) f. Prinsip ilmiahsebagaimana tabel terlampir. Untukjumlah populasi 18 orang dengan tarafsignifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak 2. Variabel terikat (Y) yakni disiplin18 orang. Oleh karena itu dalam penelitian guru adalah suatu sikap mental seoangini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik guru yang mengandung kesadaran dantotal sampling yaitu mengambil seluruh kerelaan untuk mematuhisemuaguru menjadi responden. ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Disiplin guru tersebutVariabel Penelitian diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut : Dalam penelitian yang dilakukan ini, a. Kehadiran di sekolahvariabel yang digunakan terdiri dari satu b. Ketepatan waktu mengajarvariabel bebas yaitu disiplin guru dan satu c. Persiapan mengajar yaitu silabus,variabel terikat yaitu prestasi belajar. RPP d. Kegiatan belajar mengajar antara lain alat peraga, buku penunjang,Definisi Operasional Variabel buku absen siswa, daftar nilai, dan lain-lain. 38
  • 104. 1. Coding, adalah memberi kode pada lembar check list sesuai denganTeknik Pengumpulan Data kategori yang telah ditentukan. 2. Tabulating, Tabulating adalah Adapun proses pengumpulan data mentabulasi seluruh data hasil chekdalam penelitian ini dilakukan dengan list ke dalam tabel-tabel yangprosedur sebagai berikut : diperlukan sehingga mudah dibaca.1. Survey Pendahuluan Dalam kegiatan ini, penelitian 3. Skoring, Skoring adalah memberi skor dari kategori-kategori tersebut sesuai dilakukan dengan mengumpulkan skor yang telah ditentukan. data-data intern perusahaan di Pelaksanaan supervisi kepala sekolah antaranya adalah profil SDN dan disiplin guru diberi skor tinggi, Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya. sedang dan rendah. Skor tinggi jika2. Dokumentasi penjumlahan dari hasil penilaian Teknik dokumentasi adalah mencapai >75%, skor sedang jika mencari data mengenai hal-hal atau penjumlahan dari hasil penilaian variabel yang berupa catatan, mencapai 56-75%, dan rendah jika transkrip, buku, surat kabar, majalah, penjumlahan dari hasil penilaian prasasti, notulen rapat, legger, agenda <56%. dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : 4. Uji Hipotesis 236). Uji hipotesis berfungsi untuk Dalam penelitian ini teknik menjawab hipotesa yang telah dokumentasi digunakan untuk diajukan sebelumnya. Uji ini sekaligus mencatat indikator disiplin guru. juga menjawab rumusan masalah yang3. Kuesioner telah ditulis pada Bab I. Uji yang Dalam penelitian ini digunakan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala uji Regresi Sederhana dengan rumus Likert. Menurut Arikunto (1998:151) persamaan regresi sederhana : kuesioner tertutup adalah Y = a + bX kuesioner yang telah disediakan Y = Disiplin guru jawabannya sehingga responden X = Pelaksanaan supervisi kepala tinggal memilih jawaban pada kolom sekolah yang sudah disediakan dengan a = Nilai konstanta memberi tanda cross (x). Dalam b = Nilai arah sebagai penentu penelitian ini kuesioner digunakan untuk megambil data tentang ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan pelaksanaan supervisi kepala sekolah. (+) atau nilai penurunan (–) variabel Y.Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini perhitungan regresi dilakukan dengan bantuan Data yang telah terkumpul program SPSS for Windows.kemudian dilakukan analisis dengan Langkah menguji hipotesis :urutan analisa sebagai berikut : 39
  • 105. a. Membuat Ha dan Ho dalam bentuk pelaksanaan supervisi kepala sekolah kalimat : 72,2% menyatakan cukup, 16,7% Ha : Terdapat pengaruh menyatakan kurang, dan 11,1% masing pelaksanaan supervisi menyatakan baik. kepala sekolah terhadap disiplin guru Ho : Tidak terdapat pengaruh Tabel 2 Disiplin Guru di SDN Ngagelrejo pelaksanaan supervisi II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya kepala sekolah terhadap disiplin guru b. Kaidah pengujian signifikansi : Dis iplin Gur u Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha Frequenc y Percent Valid Percent Cumulativ e Percent diterima dan Ho ditolak artinya Valid Cukup 3 16,7 16,7 16,7 Baik 15 83,3 83,3 100,0 terdapat pengaruh pelaksanaan Total 18 100,0 100,0 supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa Jika Fhitung < Ftabel maka Ha disiplin guru dalam melaksanakan ditolak dan Ho diterima artinya tugasnya sebagian besar (83,3%) baik, dan tidak terdapat pengaruh 16,7% cukup. pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Analisis Data Hasil Pengujian Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan mengukur apa yang diinginkan dan mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.HASIL PENELITIAN Instrument valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapat data itu valid. Dalam uji validitas ini suatu butir Tabel 1 pernyataan dikatakan valid jika corrected item total correlation lebih besar dari Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah 0,468 (untuk jumlah responden 18 orang df = 16) sebagaimana tabel r produk Pelak s anaan Supe rvis i Keps ek momen terlampir. Hasil pengujian Cumulativ e validitas terhadap variabel pelaksanaan Valid Kurang Frequenc y 3 Percent 16,7 Valid Percent 16,7 Percent 16,7 supervisi kepala sekolah dapat dilihat Cuku 13 72,2 72,2 88,9 sebagai berikut : Baik 2 11,1 11,1 100,0 Total 18 100,0 100,0 Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Tabel 1 menunjukkan dari 18 guru Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolahsebagai responden dalam menanggapi 40
  • 106. Corrected terhadap variabel terikat yang dalam hal Pernya- Keterangan item total ini adalah disiplin guru (Y), maka taan correlation digunakan analisis model regresi linier 1 0,720 Valid sederhana dengan model persamaan 2 0,692 Valid sebagai berikut : 3 0,623 Valid 4 0,668 Valid 5 0,612 Valid Y = α + bX1 6 0,622 Valid Dimana :Sumber : Hasil Olah Data SPSS Dari tabel di atas dapat diketahui Y = Disiplin gurubahwa untuk item pernyataan variabelpelaksanaan supervisi kepala sekolah, X = Pelaksanaan supervisi kepalacorrected item total correlation yang sekolahdiperoleh untuk seluruh item pernyataan b = koefisien regresi Xadalah lebih besar dari 0,468 hal tersebutberarti bahwa secara keseluruhan itempernyataan mengenai pelaksanaansupervisi kepala sekolah adalah valid. Output perhitungan dengan program SPSS for Windows seperti terlihat dalam gambar berikut.Hasil Uji Reliabilitas ANOVAb Suatu alat ukur dikatakan reliabel Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.atau handal, jika alat itu dalam mengukur 1 Regression Residual ,680 1,820 1 16 ,680 ,114 5,975 ,026 asuatu gejala pada waktu yang berbeda Total 2,500 17 a. Predictors: (Constant), Pelaksanaan Superv isi Kepseksenantiasa menunjukkan hasil yang relatif b. Dependent Variable: Dis iplin Gurusama. Untuk menguji reliabilitas suatuinstrument dapat digunakan uji statistic Gambar 1 Uji FCronbach Alpha (α), dimana suatu alatukur dikatakan reliabel jika nilai CronbachAlpha lebih besar dari 0,60. Hasil Gambar 4.3 di atas menunjukkanpengujian reliabilitas terhadap variabel hasil uji F dengan program SPSS forpelaksanaan supervisi kepala sekolah Windows, dengan Fhitung sebesar 5,975.diperoleh alpha sebesar 0,8773 lebih besar Angka ini selanjutnya dibandingkandari 0,6 sehingga dapat diputuskan bahwa dengan Ftabel df = 16 sebagaimana Tabel Fitem kuesioner telah reliabel. pada lampiran (Critical Values for the F Distribution α=0,05). Tabel F dengan df = 16 dan n =1 diperoleh Ftabel = 4,49.Hasil Pengujian Regresi Linier Sehingga Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49.Sederhana Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha Untuk mengetahui ada atau tidaknya diterima dan Ho ditolak yang berartipergaruh antara variabel bebas terdapat pengaruh pelaksanaan supervisipelaksanaan supervisi kepala sekolah (X) 41
  • 107. kepala sekolah terhadap disiplin guru. (sebagaimana Critical Value for the tTerlihat pula signifikan hasil hitung αhitung Distribution terlampir) artinya terdapat= 0,026 jauh di bawah 0,05, yang pengaruh pelaksanaan supervisi kepalamenandakan pengaruh yang signifikan. sekolah terhadap disiplin guru. Selain adanya pengaruh yang Untuk menunjukkan besarnyasignifikan, pada uji korelasi juga terlihat pengaruh atau kontribusi pelaksanaanadanya korelasi positif antar kedua supervisi kepala sekolah terhadap disiplinvariabel seperti tampak pada Gambar 4.2. guru dapat dilihat koefisien regresiHasil Pearson Correlation sebesar 0,521 (unstandarized coefficients Beta) padalebih dari rtabel sebesar 0,468 gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya(Sebagaimana r tabel Product Moment sesuai dengan rumus regresi sederhanapada df = 16 terlampir). dapat dimasukkan angka-angka tersebut sebagai berikut : Cor relations Pelaksanaan Y = a + bX Supervis i Disiplin Guru Keps ek Pearson Correlation Disiplin Guru 1,000 ,521 = 2,112 + 0,371 Pelaksanaan ,521 1,000 Supervis i Keps ek Sig. (1-tailed) Disiplin Guru , ,013 Selanjutnya berdasarkan persamaan Pelaksanaan Supervis i Keps ek ,013 , di atas deskripsi pengaruh pelaksanaan N Disiplin Guru Pelaksanaan 18 18 supervisi kepala sekolah terhadap disiplin Supervis i Keps ek 18 18 guru berdasarkan unstandarized coeffisients beta adalah sebagai berikut: Gambar 4.2 Pearson Correlations 1) Konstanta sebesar 2,112 menyatakan bahwa jika variabel pelaksanaan supervisi kepala sekolah dianggap Besarnya pengaruh atau kontribusi konstan (tidak ada upaya supervisi),tingkat pendidikan terhadap maka disiplin guru sebesar 2,112 point.perkembangan perusahaan dapat dilihat 2) Koefisien regresi pelaksanaanpada gambar Uji t berikut ini. supervisi kepala sekolah sebesar 0,371 a Coe fficients menyatakan bahwa setiap peningkatan Unstandardized Standardized 1 poin pelaksanaan supervisi kepala sekolah akan meningkatkan disiplin Coefficients Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) Pelaksanaan 2,112 ,305 6,915 ,000 guru sebesar 0,371 poin. Jika angka ,371 ,152 ,521 2,444 ,026 Supervisi Kepsek a. Dependent Variable: Disiplin Guru tersebut dikalikan 1000, deskripsinya menjadi setiap ada upaya pelaksanaan Gambar 4.3 Uji t supervisi kepala sekolah sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan disiplin guru sebesar 371 point. Sebagaimana Uji F di atas yangmenunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga Hasil uji regresi linier sederhanaseperti pada Gambar 4.3 memperlihatkan menunjukkan adanya pengaruhthitung sebesar 2,444 > ttabel sebesar 2,120 pelaksanaan supervisi kepala sekolah 42
  • 108. terhadap disiplin guru. Adanya pengaruh suatu hal pengetahuan, sikap atau nilaiini menunjukkan betapa pentingnya dan ketrampilan, profesi. Makapelaksanaan supervisi kepala sekolah. maksudnya, supervisor hendaknya menyadari sepenuhnya bahwa setiap guru Dalam kaitan pentingnya pelaksanaan pasti mempunyai kelebihan dansupervisi kepala sekolah terhadap disiplin kekurangan.guru, Soewadji (1980:33) menyatakansupervisi merupakan rangsangan, Prinsip kreativitas juga tidak kalahbimbingan atau bantuan yang diberikan penting, Dolok Saribu dan Berlian T.kepada guru-guru agar kemampuan Simbolon (1984:236) mengemukakanprofesionalnya semakin bertambah, bahwa supervisi hendaknya mendorongsehingga situasi belajar mengajar lebih guru untuk berinisiatif, melalui supervisiefektif dan efisien. Kemampuan hendaknya guru dapat memperolehprofesional tidak lepas dari disiplin guru, pengetahuan, juga berkreasi ataudikatakan profesional berarti seorang guru mencipta dengan sikap atau nilai danjuga bisa melaksanakan disiplin dengan ketrampilan guru atas inisiatif sendiribaik. tidak bergantung kepada kepala sekolah atau pemimpinannya. Baharudun Harahap menjelaskanmasalah supervisi dalam administrasi Sedangkan prinsip kooperatif, jugapendidikan adalah pembinaan telah dikembangkan oleh kepala sekolahadministrasi atau kepegawaian, yaitu yang dilaksanakan atas kerja sama antaramasalah pengaturan, penyusunan dan kepala sekolah dan guru, sehingga terjalinpenyimpanan data sebagai dasar kehamonisan kerja yang baik, salingdukungan keputusan mutasi yang mengisi dan menyadari kekuranganmenyangkut kepentingan pegawai dalam masing-masing. Supervisor tidak dianggapkedudukan sebagai seorang Pegawai momok yang menakut-nakuti, namun diNegeri Sipil. Sedangkan yang dimaksud sini sebagai pemimpin mereka yang harusdata di sini meliputi dokumen perorangan bias membantu kelancaran tugas paramaupun data hasil olahan atau laporan. guru.Laporan yaitu kartu merah, DaftarPenilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Prinsip demokrasi dilaksanakan olehdan selain itu untuk mengetehui kepala sekolah tidak hanya atasbagaimana kenaikan pangkat para guru kemampuannya, tetapi juga ternyata perluatau pegawai dan pembagian tugasnya. mempertimbangkan kemauan/pendapat para guru. Kepala Sekolah sebagai Apalagi jika pelaksanaan supervisi supervisor menghargai kepribadian guru,kepala sekolah yang memenuhi prinsip- dalam pembicaraan bersama ia harusprinsip yang telah ditentukan maka memberi kesempatan kepada guru untuksemakin jelas hasilnya terhadap disiplin mengeluarkan pendapatnya dalamguru. Prinsip konstruktif misalnya, bahwa mengambil keputusan. Keputusan yangpelaksanaan bersifat membangun yaitu diambil hendaknya dengan jalanharus tampak perbedaan antara sebelum musyawarah.diadakan supervisi dengan sesudahsupervisi yaitu makin majunya dalam Prinsip kontinyuitas yaitu melaksanakan terus-menerus secara 43
  • 109. teratur, tidak hanya karena akan adainspeksi atasan, sehingga para guru sudahterbiasa bekerja dengan teratur disertaidengan rasa disiplin dan tanggung jawab. Prinsip ilmiah menurut MadePidharta (1986:39) bahwa supervisidilaksanakan hendaknya dengansistematika, objektif dan berdasarkan dataatau informasi. Dalam hal ini tugassupervisi diharuskan pada pembinaanguru-guru. Supervisi berpegang padatujuan sekolah, koordinasi merode belajar DAFTAR PUSTAKAdan kualifikasi dengan segala aktifitasnyayang sudah ditentukan secara jelas. Ametembun, Drs.M.A, “Supervisi Pendidikan”, Penerbit IKIPSARAN Bandung, 1975 Ametembun, Drs.M.A, “Manajemen Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit1. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah IKIP Bandung, 1981 seyogyanya dilaksanakan sebaik- baiknya sehingga lebih meningkatkan Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis disiplin guru. Multivariate dengan Program2. Guru hendaknya ikut mensukseskan SPSS. Badan Penerbit Undip, pelaksanaan supervisi kepala sekolah Semarang. 2002. agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkat dan bermutu. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik3. Bagi pihak-pihak terkait khususnya Penilaian Pendidikan”, Penerbit pemerintah hendaknya IKIP Bandung, 1984 memperhatikan pelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., memberikan instrumen yang valid dan “Administrasi Pendidikan Dasar”, handal. Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976 M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda Karya Bandung 1990 M. Dimyati Mahmud, “Psykologi Pendidikan”, Suatu Pendekatan Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta 44
  • 110. Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi Reseach”, Jilid II Penerbit FKP IKIP Yogyakarta 1967Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Program Insenvice Education, Penerbit IKIP Malang 1971S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit Jemara Bandung 1989Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia “Kamur Besar Bahasa Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka Surabaya 1989. 45
  • 111. TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL) DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN Soesetijo *)Abstrak: pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber dayamanusia (SDM). Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga Negara Indonesiauntuk mendapatkan pengajaran. Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang menan-datangani “Education for All”. Oleh karena itu, Indonesia mencanang-kan Wajib Belajar 6tahun pada tahun 1984 dan Wajib Belajar 9 tahun pada tahun 1994. Hakikat dari“Pendidikan untuk Semua dan Semua un-tuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiapwarga Negara dapat memenuhi haknya. Untuk mewujudkan program PUS (PendidikanUntuk Semua) tersebut, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warganegara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk barpartisipasi aktif dalam menyukseskanpendidikan untuk semua. Agar program PUS dapat memenuhi target ca-paian sesuai denganyang diharapkan, maka perlu dikelola secara profe-sional. Dalam konteks menejemenpendidikan, secara struktural penge-lolaan PUS perlu ada kosistensi dan komitmen yangsama dalam pelak-sanaannya, terutama dalam penerapannya di lembaga-lembaga pendi-dikan yang terkait. Kata-kata kunci: telaah kritis, pendidikan untuk semua, manajemen pendidikan. 1
  • 112. Manusia membutuhkan “Education for All”. Berkaitan denganpendidikan dalam kehidupannya. deklarasi ini dan sekaligus juga sebagaiPendidikan merupakan usaha agar wujud keseriusan Indonesiamanusia dapat mengembangkan mensukseskannya, maka Indonesiapotensi dirinya melalui proses telah mencanangkan Wajib Belajar 6pembelajaran dan/atau cara lain yang Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahundikenal dan diakui oleh masyarakat. berikutnya, yaitu pada tahun 1994,Undang-Undang Dasar Negara Indonesia mencanangkan WajibRepublik Indonesia Tahun 1945 Pasal Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajar31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap 6 Tahun diharapkan anak-anak usiawarga Negara berhak mendapat Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapatpendidikan, dan ayat (3) menegaskan menikmati layanan pendidikanbahwa Pemerin-tah mengusahakan Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak-dan menyelenggarakan satu sistem anak usia SD dapat menyelesaikanpendidikan nasional yang pendidikan SD. Demikian juga halnyameningkatkan keimanan dan melalui pencanangan Wajib Belajar 9ketakwaan serta akhlak mulia dalam Tahun diharapkan anak-anak usiarangka mencerdaskan SMP (13-15 tahun) dapat menyelesaikan pendidikan SMP.kehidupan bangsa yang diaturdengan undang-undang. Untuk itu, Dalam lingkungan masyarakatseluruh komponen Indonesia yang pluralistis di mana setiap anak yang mengalami berbagai jenis kebudayaan diharapkan belajar*) Soesetijo, staf pengajar Universitas beradaptasi terhadap kebudayaan Gresik. utama Indonesia (mainstream culture), upaya pendekatan belajar bagi setiap anak harus lebih banyak dikaji secara mendalam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zamanbangsa wajib mencerdaskan dan sesuai dengan kebutuhankehidupan bangsa yang merupakan perkembangan anak (Developmentallysalah satu tujuan negara Indonesia. Appropriate Practice, DAP). Sejak Indonesia merupakan salah satu kemerdekaan bangsa ini maka telahNegara yang menandatangi deklarasi 2
  • 113. disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 mendapatkan layanan pendidikanayat 1 bahwa setiap anak Indonesia dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untukberhak untuk belajar. UUD ini dapat mewujudkan ―Pendidikan untukdilandasi oleh filsafat yang serasi Semua dan Semua untuk Pendidikan‖,dengan hak asasi manusia yang semua komponen bangsa, baikmenjaga kedaulatan manusia yang pemerintah, swasta, lembaga-lembagamemiliki hak untuk belajar. sosial kemasyarakatan, maupun warga Negara secara individual, secara Berbagai program yang bersama-sama atau sendiri-sendiri,diarahkan untuk mendukung berkomitmen untuk berpartisipasikeberhasilan pelaksanaan Wajib aktif dalam menyukseskanBelajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah ―Pendidikan untuk Semua dan Semuadilaksanakan secara terencana dan untuk Pendidikan‖ sesuai denganbertahap. Berkaitan dengan hal ini, potensi dan kapasitas masing-masing.satu hal yang menjadi keprihatinan di Sebagai unit organisasi terkecil,berbagai Negara adalah mengenai orang tua dari setiap keluarga tergugahanak-anak yang karena satu dan lain dan ter-panggil untuk setidak-tidaknyahal terpaksa tidak dapat membimbing dan membelajarkanmenyelesaikan pendidikan SD, anak-anaknya, baik melaluisehingga mereka ini menjadi warga pendidikan formal persekolahan,Negara yang buta aksara. Demikian lembaga pendidikan non-formal,juga dengan anak-anak yang terpaksa maupun melalui lembaga pendidikantidak dapat menyelesaikan pendidikan informal. Mengirimkan anak untukSMP, maka mereka akan cenderung belajar melalui lembaga pendidikanmasuk ke dalam kelompok tenaga sekolah sudah jelas yaitu mulai darikerja kasar. Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan pendidikan tinggi.Konsep Pendidikan untuk Semua Apabila karena satu dan lain(PUS) hal, seorang anak tidak Hakekat dari ―Pendidikan untuk memungkinkan untuk mengikutiSemua dan Semua untuk Pendidikan‖ pendidikan persekolahan, maka orangadalah mengupayakan agar setiap tua dapat mengirimkan anaknya untukwarga Negara dapat memenuhi mengikuti kegiatan pembelajaran padahaknya, yaitu setidak-tidaknya untuk pendidikan non-formal, seperti Paket 3
  • 114. A setara SD, Paket B setara SMP, dan terse-but, perlu koalisi yang luas dariPaket C setara SMA. Seandainya pemerintah nasional, masyarakat sipilseorang anak tidak memungkinkan kelompok, dan lembaga pembangunanjuga mengikuti pendidikan melalui seperti UNESCO dan Bank Dunia.pendidikan formal dan non-formal, Mereka berkomitmen untuk mencapaimaka masih ada model pendidikan enam tujuan pendidikan yaitu :alternatif yang dapat ditempuh, yaitu 1. Memperluas dan meningkatkan―Sekolah di Rumah‖ (Home perawatan anak usia dini yangSchooling). Dalam kaitan ini, orang komprehensif dan pendidikan,tua dapat mengidentifikasi lembaga- terutama bagi yang palinglembaga sosial kemasyarakatan atau rentan dan anak-anak yangunit-unit pendidikan prakarsa anggota kurang beruntung.masyarakat yang menyelenggarakan 2. Memastikan bahwa pada 2015Sekolah di Rumah‖ dan kemudian semua anak, khususnya anakmengirimkan anaknya untuk perempuan, yang dalammengikuti pendidikan di lembaga atau keadaan sulit, dan mereka yangunit pendidikan tersebut. Atau, orang termasuk etnik minoritas,tua sendiri dengan latar belakang memiliki akses lengkap danpendidikan dan pengetahuan yang bebas ke wajib pendidikandimiliki, dapat membimbing dan dasar yang berkualitas baik.membelajarkan anak-anaknya 3. Memastikan bahwa kebutuhansehingga pada akhirnya sang anak belajar semua pemuda dandapat mengikuti ujian persamaan dewasa dipenuhi me-lalui akses(Upers), baik pada satuan pendidikan adil untuk pembelajaran yangSD, SMP atau SMA. tepat dan program keterampilan hidup.Pendidikan untuk Semua (PUS) 4. Mencapai 50% peningkatan Pada tanggal 5-9 Maret 1990 di dalam keaksaraan orang dewasaJomtien, Thailand , 115 negara dam pada tahun 2015, khususnya150 organi-sasi saling bertemu dan bagi perempuan, dan akses kemengadakan Konferensi Dunia pendidikan dasar danmembahas Education for All (EFA) pendidikan ber-kelanjutan bagiatau Pendidikan Untuk Semua (PUS). semua orang dewasa secaraDalam rangka mewujudkan tujuan adil. 4
  • 115. 5. Menghilangkan perbedaan pendidikan dasar dan universal serta gender pada pendidikan dasar MDG 3 mengenai kesetaraan jender dan menengah pada tahun dalam pendidikan pada tahun 2015. 2005, dan mencapai kesetaraan Indonesia, sebagai anggota gender dalam pendidikan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan 2015, dengan fokus turut menyepa-kati komitmen dunia pada perempuan bahwa mereka untuk menyelenggarakan program dipastikan mendapat akses Education for All (EFA) atau penuh dan sama ke dalam Pendidikan untuk Semua (PUS). pendidikan dasar dengan Komitmen dunia itu telah kualitas yang baik. dikumandangkan pada kon-ferensi 6. Meningkatkan semua aspek dunia di Jomtien, Thailand, pada kualitas pendidikan dan tahun 1990. Namun baru menjamin semua, sehingga dideklarasikan seba-gai sebuah diakui dan diukur hasil gerakan dunia pada pertemuan di pembelajaran yang dicapai oleh Dakar, Senegal, pada 26-28 April semua, khususnya dalam 2000. The Dakar Framework for keaksaraan, berhitung dan Action berisikan enam tujuan utama: kecakapan hidup yang esensial. 1) memperluas pendi-dikan untuk Setelah satu dekade, karena anak usia dini; 2) menuntaskan wajiblambatnya kemajuan dan banyaknya belajar untuk semu (2015); 3)Negara yang jauh dari keharusan mengembangkan prosesuntuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran/keahlian untuk orangmasyarakat internasonal menegas-kan muda dan dewasa; 4) me-ningkatnyakembali komitmennya terhadap 50% orang dewasa yang melek hurufPendidikan Untuk Semua di Dakar, (2015) khususnya perempuan; 5) me-Senegal, pada 26-28 April 2000 dan ningkatkan mutu pendidikan; dan (6)sekali lagi pada bulan September menghapuskan kesenjangan gender.tahun itu. Pada pertemuan terakhir, Target pencapaian EFA pada189 negara dan mitra mereka 2015 itu kemudian disepakati untukmengadopsi dua dari delapan tujuan dipercepat. Komitmen mempercepatPendidikan Untuk Semua yang dikenal target EFA digaungkan E-9 Ministerialdengan nama Millenium Development Review Meeting on Educationfor AllGoals (MDG) yaitu MDG 2 mengenai atau para menteri pendidikan dari 5
  • 116. Sembilan Negara berpenduduk dijabarkan ke dalam Rancangan Aksiterbesar dunia, pada pertemuan di Daerah Pendidikan Untuk SemuaDenpasar, Bali, 12 Maret 2008. (RAD-PUS) pada semua provinsi danAnggota E-9 adalah Negara dengan sebagian besar kabupaten/kota.jumlah penduduk sekitar 60% Sebagian dari komitmenpopulasi dunia. Selain Indonesia, menjalankan Pendidikan untukanggota E-9 adalah Bangladesh, Brazil, Semua, pemerintah mencanangkanCina, Mesir, India, Meksiko, Nigeria, penuntasan program Wajib Belajardan Pakistan. Pendidikan Dasar 9 Tahun. Wajar Indonesia merasa Dikdas 9 Tahun mencakup jenjangberkepentingan menandatangani pendidikan SD/MI/pendidikan setarakonvensi tersebut untuk memperkuat dan SMP/MTs/ pendidikan setara.komitmen bersama sebagai bangsa Program ini secara resmi dicanangkandalam memenuhi hak-hak setiap anak Presiden Soeharto pada tanggal 2 Meimemperoleh pendidikan. Upaya 1994. Saat itu, Presiden Soehartomencapai target EFA merupakan menargetkan program tersebut tuntasbagian dari upaya pembangunan pada tahun 2004, dengan indikatorpendidikan nasional secara utama berupa angka partisipasi kasarkeseluruhan. Sudah banyak yang dapat (APK) SMP/ MTs/pendidikan setaradica-pai dalam pembangunan minimal 95%. Pada tahun 2004,pendidikan sejak kemerdekaan. Tapi Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MIjuga besar pekerjaan ru-mah dan sebesar 94,12% dan Angka Partisipasitantagan era sekarang dalam rangka Kasar (APK) SMP/MTs 81,22%. Han-menghasilkan sumber daya manusia taman krisis ekonomi yang merangsekyang unggul untuk pembangunan. sejak akhir tahun 1997 itu, membuat Kaitannya dengan Kerangka target dire-visi menjadi akhir tahunAksi Dakar Pendidikan untuk Semua, 2008. Keputusan menjadwal ulang ituseluruh war-ga yang menandatangani dilakukan pada tahun 2000, saatdeklarasi termasuk Indonesia, Abdurrahman Wahib menjadiberupaya memegang komitmen Presiden RI.memperluas dan memperbaiki Landasan Pendidikan Untukpendidikan. Indonesia telah menyusun Semua di IndonesiaRencana Aksi Nasional PendidikanUntuk Semua (RAN-PUS), yang 6
  • 117. Landasan yuridis pelaksanaan yang akan terjadi pada sistempendidikan untuk semua atau peradaban dan budaya (Suyanto,education for all di Indonesia didasari 2006) manusia. Dengan ilustrasi ini,oleh beberapa hal, diantaranya adalah: maka baik pemerintah maupun1. UUD 1945 (amandemen) pasal 31 masyarakat berupaya untuk ayat 1 : ―setiap warga Negara melakukan pendidikan dengan berhak mendapat pendidikan.‖ standar kualitas yang diinginkan2. UU No. 20 tahun 2003 tentang untuk memberdayakan manusia. Sistem Pendidikan Nasional ―Sistem pendidikan yang dibangun (Sisdiknas) : harus disesuaikan dengan tuntutan a) Kewajiban bagi orangtua untuk zamannya, agar pendidikan dapat memberikan pendidikan dasar menghasilkan outcome yang relevan bagi anaknya (pasal 7 ayat 2) dengan tuntutan zaman (Suyanto, b) Kewajiban bagi masyarakat 2006). memberikan dukungan sumber Indonesia, telah memiliki daya dalam penyelenggaraan sebuah sistem pendidikan dan telah pendidikan (pasal 9) dikokohkan dengan UU No. 20 tahun c) Pendanaan pendidikan menjadi 2003. Pembangunan pendidikan di tanggung jawab bersama Indonesia sekurang-kurangnya pemerintah, pemerintah menggunakan empat strategi dasar, daerah, dan masyarakat (pasal yakni; pertama, pemerataan 46 ayat 1). kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansiKebijakan Pendidikan di pendidikan, ketiga, peningkatanIndonesia kualiutas pendidikan, dan keempat, Bangsa yang maju adalah efesiensi pendidikan. Secara umumbangsa yang memperlihatkan strategi itu dapat dibagi menjadi duapendidikan dalam pembangunannya. dimensi yakni peningkatan mutu danKarena pendidikan merupakan proses pemerataan pendidikan. Proses pendidikan merupakan Pembangunan peningkatan mutuupaya sadar manusia yang tidak diharapkan dapat meningkatkanpernah ada hentinya. Sebab, jika efisiensi, efektivitas dan produktivitasmanusia berhenti melakukan pendidikan. Sedangkan kebijkanpendidikan, sulit dibayangkan apa pemerataan pendidikan diharapkan 7
  • 118. dapat memberikan kesempatan yang meningkatkan kemampuansama dalam memperoleh pendidikan masyarakat, sehingga terjadibagi semua usia sekolah (Nana Fatah diversifikasi program pendidikanNatsir, dalam Hujair AH. Sanaky, sesuai dengan sifat multikultural2003). Dari sini, pendidikan bangsa Indonesia, (f) secara bertahapdipandang sebagai katalisator yang mengurangi peran pemerintah menujudapat menunjang faktor-faktor lain. ke peran fasilitator dalamArtinya, pendidikan sebagai upaya implementasi sistem pendidikan, (g)pengembangan sumberdaya manusia Merampingkan birokrasi pendidikan(SDM) menjadi semakin penting sehingga lebih lentur (fleksibel) untukdalam pembangunan suatu bangsa. melakukan penyesuaian terhadap Untuk menjamin kesempatan dinamika perkembangan masyarakatmemperoleh pendidikan yang merata dalam lingkungan global (Kelompokdisemua kelompok strata dan wilayah Kerja Pengkajian, dalam Hujair AH.tanah air sesuai dengan kebutuhan dan Sanaky, 2003).tingkat perkembangannya perlu Empat strategi dasar kebijakanstrategi dan kebijakan pendidikan, pendidikan yang dikemukakan di atasyaitu : (a) menyelenggarakan cukup ideal. Tetapi Muchtar Bukhori,pendidikan yang relevan dan bermutu seorang pakar pendidikan Indonesia,sesuai dengan kebutuhan masyarakat menilai bahwa kebijakan pendidikanIndonesia dalam menghadapi kita tak pernah jelas. Pendidikan kitatantangan global, (b) hanya melanjutkan pendidikan yangmenyelenggarakan pendidikan yang elite dengan kurikulum yang elitisdapat dipertanggungjawabkan yang hanya dapat ditangkap oleh 30(accountasle) kepada masyarakat % anak didik‖, sedangkan 70%sebagai pemilik sumberdaya dan dana lainnya tidak bisa mengikutiserta pengguna hasil pendidikan, (c) (Kompas, 4 September 2004).menyelenggarakan proses pendidikan Dengan demikian, tuntutanyang demokratis secara profesional peningkatan kualitas pendidikan,sehingga tidak mengorbankan mutu relevansi pendidikan, efesiensipendidikan, (d) meningkatkan efisiensi pendidikan, dan pemerataaninternal dan eksternal pada semua kesempatan untuk memperolehjalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (e) pendidikan, belum terjawab dalammemberi peluang yang luas dan kebijakan pendidikan kita. Kondisi ini 8
  • 119. semakin mempersulit mewujudkan menyisihkan kegetiran-kegetiran bagipendidikan yang egalitarian dan rakyat kecil yang tidak mampuSDM yang semakin merata di mengecap pendidikan di sekolah‖berbagai daerah. (Suyanto, 2006). Proses menuju perubahan Pasca Reformasi tahun 1998,sistem pendidikan nasional banyak memang ada perubahan fundamentalmenuai kendala serius. Apalagi ketika dalam sistem pendidikan nasional.membicarakan konteks pendidikan Perubahan sistem pendidikannasional sebagai bagian dari tersebut mengikuti perubahan sistempergumulan ideologi dan politik pemerintah yang sentralistik menujupenguasa. Problem-problem yang desentralistik atau yang lebih dikenaldihadapi seringkali berkaitan dengan dengan otonomi pendidikan dankebijakan-kebijakan (policies) yang kebijakan otonomi nasional itusangat strategis. Maka, dalam mempengaruhi sistem pendidikankonteks kebijakan pendidikan kita (Suyanto, 2006). Sistemnasional, menurut Suyanto, banyak pendidikan kita pun menyesuaikanpakar dan praktisi pendidikan dengan model otonomi. Kebijakanmengkritisi pemerintah, dianggap otonomi di bidang pendidikantidak memiliki komitmen yang kuat (otonomi pendidikan) kemudianuntuk membenahi sistem pendidikan banyak membawa harapan akannasional‖.(Suyanto,2006). Artinya, perbaikan sistem pendidikan kita.kebijakan-kebijakan pendidikan kita, Kebijakan tersebut masih sangatkurang menggambarkan rumusan- baru, maka sudah barang tertenturumusan permasalahan dan banyak kendala yang masih belum―prioritas‖ yang ingin dicapai dalam terselesaikan.jangka waktu tertentu. Hal ini, Otonomi yang didasarkan pada―terutama berkaitan dengan anggaran UU No. 22 tahun 1999, yaitupendidikan nasional yang semestinya memutuskan suatu keputusan dansebesar minimal 20%, daimbil dari atau kebijakan secara mandiri.APBN dan APBD (pasal 31 ayat 4 Otonomi sangat erat kaitanya denganUUD Amandemen keempat). Tetapi, desentralisasi. Dengan dasar ini,sampai sekarang kebijakan strategi maka otonomi yang ideal dapatbelum dapat diwujudkan sepenuhnya, tumbuh dalam suasana bebas,pendidikan nasional masih demokratis, rasional dan sudah 9
  • 120. barang tentu dalam kalangan insan- kualitas lembaga pendidikan yanginsan yang ―berkualitas‖. Oleh karena dikembangkan oleh berbagai pihakitu, rekonstruksi dan reformasi dalam secara efektif dan efisien terutamaSistem Pendidikan Nasional dan dalam pengembangan iptek, seni danRegional, yang tertuang dalam GBHN budaya sehingga membangkitkan1999, juga telah dirumuskan misi semangat yang pro-aktif, kreatif, danpendidikan nasional kita, yaitu selalu reaktif dalam seluruhmewujudkan sistem dan iklim komponen bangsa. (Soedjiarto, 1999).pendidikan nasional yang demokratis Beberapa kalangan pakar dandan bermutu, guna memperteguh praktisi pendidikan, mencermatiakhlak mulia, kreatif, inovatif, kebijakan otonomi pendidikan seringberwawasan kebangsaan, cerdas, dipahami sebagai indikasi kearahsehat, berdisiplin, bertanggung jawab, ―liberalisasi‖ atau lebih parah lagiberketerampilan serta menguasai dikatakan sebagai indikasi kearahiptek dalam rangka mengembangkan ―komersialisasi pendidikan‖. Hal ini,kualitas manusia Indonesia. menurut Suyanto, semakin dikuatkan(Soedjiarto,1999). dengan terbentuknya Badan Hukum Untuk mewujudkan misi Pendidikan (BHP) yang oleh beberapatersebut mesti diterapkan arah pengamat dianggap sebagaikebijakan sebagai berikut, yaitu : (1) pengejawantahan dari sistem yangperluasan dan pemerataan mengarah pada ―liberalisasipendidikan, (2) meningkatkan pendidikan‖ (Suyanto, 2006).kemampuan akademik dan Persoalan sekarang, apakahprofesionalitas serta kesejahteraan sistem pendidikan yang ada saat initenaga kependidikan, (3) melakukan telah efektif untuk mendidik bangsapembaharuan dalam sistem Indonesia menjadi bangsa yangpendidikan nasional termasuk dalam modern, memiliki kemampuan dayabidang kurikulum, (4) saing yang tinggi di tengah-tengahmemberdayakan lembaga pendidikan bangsa lain? Jawabannya tentuformal dan PLS secara luas, (5) dalam belum. Menurut Suyanto, berbicararealisasi pembaharuan pendidikan kemampuan, kita sebagai bangsanasional mesti berdasarkan prinsip nampaknya belum sepenuhnya siapdesentralisasi, otonomi keilmuan, dan benar menghadapi tantanganmanajemen, (6) meningkatkan persaingan (Suyanto, 2006). 10
  • 121. Sementara, disatu sisi, bidang korban dari ketidakberesan sistempendidikan kita menjadi tumpuan pendidikan kita yang masing sedangharapan bagi peningkatan kualitas merangka berbenah. Mungkin saja,Sumber Daya Manusia (SDM) kita sebagai insan yangIndonesia. Tetapi disisi lain, sistem berpendidikan, tentu saja terus ataupendidikan kita masih melahirkan banyakan berharap akan datangnyamismatch terhadap tuntutan dunia perubahan ―fundamental‖ terhadapkerja, baik secara nasional maupun sistem pendidikan (Suyanto, 2006) diregional. (Suyanto, 2006). Indonesia. Berbagai problem fundamental Posisi Indonesia dalam PUSyang dihadapi pendidikan nasional Indonesia merupakan salahsaat ini, yang tercermin dalam satu Negara yang menandatangani―realitas‖ pendidikan yang kita jalan. deklarasi “Education for All.”Seperti persoalan anggaran Berkaitan dengan deklarasi ini danpendidikan, kurikulum, strategi sekaligus juga sebagai wujudpembelajaran, dan persoalan output keseriusan Indonesiapendidikan kita yang masih sangat mensukseskannya, maka Indonesiarendah kualitasnya. Problem- telah mencnangkan Wajib Belajar 9problem pendidikan yang bersifat Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahunmetodik dan strategik yang berikutnya, yaitu pada tahun 1994,membuahkan output yang sangat Indonesia mencanangkan Sekolahmemprihatinkan. Output, pendidikan Dasar (7-12 tahun) dapat menikmatikita memiliki mental yang selalu layanan pendidikan Sekolah Dasartergantung kepada orang lain. Output (SD). Artinya, anak-anak usia SDpendidikan kita tidak memiliki dapat menyelesaikan pendidikan SD.mental yang bersifat mandiri, karena Demikian juga halnya melaluimemang tidak kritis dan kreatif. pencanangan Wajib Belajar 9 TahunAkhirnya, output yang pernah diharapkan anak-anak usia SMP (13-15mengenyam pendidikan, malah Tahun) dapat menyelesaikanmenjadi ―pengangguran terselubung‖. penddikan SMP.Ini artinya, setiap tahunnya, Jalal dan Supriadi (2001)pendidikan nasional kita mengemukakan meskipun strategimemproduksi pengangguran perluasan dan pemerataanterselubung. Mereka itu, adalah 11
  • 122. kesempatan pendidikan terfokus beruntng, termasuk kaumkepada program wajib belajar perempuan;pendidikan dasar sembilan tahun, 3. Mengembangkan layananjenis dan jenjang pendidikan lainnya pendidikan alternatif tanpayang tercakup. Indikator-indikator mengorbankan mutu program;keberhasilannya adalah: (a) mayoritas 4. Menetapkan standar kompetensipenduduk berpendidikan minimal minimal keluaran pendidikan;SMP dan partisipasi pendidikan 5. Melanjutkan program PMTASmeningkat yang ditunjukkan dengan secara terseleksi dan terkendaliAPK-SD 15%, APK SMP mencapai bagi yang benar-benar80%, APK SLTA mencapai 47%, dan memerlukan;APK PT sebesar 12% dengan perluasan 6. Melanjutkan program beasiswaterkendali untuk bidang-bidang bagi kalangan anak-anak miskin;unggulan dan teknologi, (b) 7. Meningkatkan anggaranmeningkatnya budaya belajar di pemerintah untuk pendidikankalangan masyarakat yang secara bertahap dan terencana; danditunjukkan antara lain dengan 8. Meningkatkan partisipasi keluargameningkatnya peserta program dan masyarakat dalam membiayaipendidikan berkelanjutan seperti pendidikan.kursus-kursus, program pendidikan Sebagai wujud komitmenmasyarakat, meningkatnya penduduk pemerintah terhadap pentingnyamelek huruf hingga mencapai 88% program Pendidikan Untuk Semuapada tahun 2005; (c) meningkatnya (Education for All/EFA), Kementerianproporsi penduduk kurang beruntung Pendidikan Nasional menggelaryang memperoleh kesempatan sejumlah kegiatan melalui Pekan Aksipendidikan. Global Pendidikan Untuk Semua 2010. Kebijakan program yang harus Tema aksi tahun ini adalahdilakukan adalah: ―Pembiayaan Pendidikan Bermutu1. Memperluas kesempatan Hak untuk Semua‖. Aksi ini yang pendidikan dengan prioritas pada dipusatkan di tiga kota, yaitu di pendidikan dasar; Jakarta, Bandung, dan Makasar pada2. Meningkatkan layanan pendidikan 19-25 April 2010. kepada kelompok yang kurang Menurut Ela Yulaciawati (2010), aspek pembiayaan dalam 12
  • 123. program Pendidikan untuk Semua mereka bisa mandiri dan sehat di usiacukup problematik. Sejumlah senja, maka biaya hidup me-reka akanpertanyaan muncul menyangkut aspek bisa lebih ditekan. Jadi arahnya untukpembiaya-annya, terutama mengenai efisiensi bagi Negara.standar biaya pendidikan bermutu Dalam waktu yang bersamaanuntuk semua orang. Berapa biaya juga diselenggarakan kegiatanuntuk pendidikan anak-anak yang workshop layanan pendidikan bagiterpinggirkan (marjinal). Kemudian, anak-anak terpinggirkan, yaituapakah pembiayaan itu akan keluarga korban eksploitasi seksualbermanfaat atau malah mubazir? anak (ESA), anak perempuan jalanan,Untuk mendidik anak-anak yang dan anak dari para pekerja rumahmarjinal, pemerintah tidak cukup tangga. Seluruh rangkaian acarahanya memikirkan aspek tersebut merupakan bagian daripendidikannya saja, melainkan juga kampanye tahunan dunia yang dise-memikirkan aspek kebutuhan dasar lenggarakan Kampanye Globalmereka. Campaign for Education, sebuah Dikemukakan lebih lanjut oleh koalisi internasional organisasiEla (2010) tidak semua program nonpemerintah dan serikatpendidikan yang diberikan bagi guru.(http://bataviase.co.id, diakseskelompok marjinal dapat tanggal 16 September 2010).menghasilkan produk pendidikan Identifikasi Kendala-kendalaseperti yang diharapkan. Kegiatan lain Implementasi Progeram PUSdari pecan aksiglobal program Dalam implementasi PUS diPendidikan untuk Semua adalah Indonesia tidak berjalan mulus,workshop layanan pendidikan bagi banyak kendala yang ditemui dipara orang lanjut usia. Masih menurut lapangan. Dari sisi structural birokrasiEla (2010) orang berusia lanjut di Kementerian Pendidikan Nasionalumumnya tidak bisia mandiri, oleh (2007) masih dirasa perlukarena itu perlu ada materi pendidikan dioptimalkan masalah peningkatankecakapan hidup. Pendidikan ini kinerja, peningkatan kerjasama,bertujuan mempersiapkan orang- koordinasi dan komunikasi denganorang menjelang usia lanjut agar bisa berbagai instansi dan unit kerjahidup mandiri dan sehat pada saat terkait, baik di pusat maupun dimereka telah berusia lanjut. Jika 13
  • 124. daerah. Disamping itu masalah lainnya mengatasi permasalahan ini Dinasadalah menyesuaikan jadwal sesuai Pendidikan berupaya untuktarget, memberdayakan dan mengembangkan berbagai kebijakanmengoptimalkan tenaga yang tersedia terkait dengan implementasi Programmelalui pembentukan tim kerja Wajib Belajar Sembilan tahun. Namunsebagai wujud koordinasi fungsional, hal inipun ternyata tidak membawadan mengoptimakan sarana dan perubahan yang signifikan, sebabfasilitas yang ada. dalam pelaksanaannya masih terdapat Temuan lainnya, dapat berbagai penyimpangan. Adapundiidentifikasi dari riset yang dilakukan faktor pendukungnya adalah:oleh Choiri (2006) dalam tersusunnya kurikulum dengan baik,penelitiannya yang berjudul koordinasi yang baik diantara pihak-‗Akuntabilitas Kinerja Dinas pihak yang terlibat, serta partisipasiPendidikan Kabupaten Malang (Studi masyarakat. Sedangkan faktor-faktorKasus tentang Akuntabilitas yang menghambat diantaranya:Adminitrasi Pelaksana Program Wajib kapasitas dan kemampuan tenagaBelajar Pendidikan Dasar Sembilan pelaksana rendah, kemampuan danTahun di Kecamatan Bululawang motivasi tenaga pelaksana rendah,Kabupaten Malang). Berdasarkan dukungan dana operasional rendah,penelitiannya, Choiri (2006) respon orang tua yang belummemaparkan hasil penelitiannya maksimal, sikap moral masyarakatsebagai berikut: alasan perlunya serta lingkungan sosial yang tidakdilakukan akuntabilitas administrasi sehat.oleh Dinas Pendidikan adalah untuk Hasil analisis terhadapmempertanggungjawabkan suatu Pelaksanaan Akuntabilitasprogram/kebijakan baik proses Administrasi adalah sebagai berikut:maupun hasilnya, serta untuk dalam pelaksanaan program wajibmemenuhi standar criteria yang sudah belajar Sembilan tahun di kabupatenditetapkan oleh pemerintah. Namun Malang terlihat bahwa instansidalam pelaksanaan program wajib (sekolah-sekolah) tidak melaksanakanbelajar sembilan tahun di kabupaten akuntabilitas administrasinya. Hal iniMalang terlihat bahwa instansi terlihat misalnya tidak ada laporan(sekolah-sekolah) tidak melaksanakan pemberian beasiswa diberikan.akuntabilitas administrasinya. Untuk Sekolah-sekolah tidak merasa perlu 14
  • 125. memberikan laporan kepada instansi global menjadi sala satu hambatandiatasnya yakni Dinas Pendidikan besar pencapaian target tersebut. HalKabupaten Malang. Mereka justru ini terungkap dalam pembukaan 1sthampir semua membuat kebijakan General Assembly Forum of Asiasendiri terkait dengan penyaluran Pasific Parliamentarians fordana beasiswa yang tidak sesuai Education (FASPED) atau Forumdengan pedoman yang diberikan oleh Parlemen untuk Pendidikan AsiaDinas Pendidiikan. Dilihat dari Pasifik, Selasa (6 Juli 2010). Sidangperspektif empat jenis Akuntabilitas, pertama yang diikuti oleh 26 parlemenbelum satupun jenis akuntabilitas yang dan dua parlemen diwakili olehdapat dipenuhi sesuai standar oleh perwakilannya di Jakarta. DalamDinas Pendidikan Kabupaten Malang, sambutannya, Presiden FASPEDsehingga hal ini perlu mendapatkan Marzuki Alie mengatakan, krisisperhatian dari berbagai pihak yang keuangan global pada 2008terlibat. Sedangkan faktor pendukung merupakan rintangan terbesar untukmaupun penghambat lebih merupakan pencapaian tujuan Education for Allfaktor-faktor yang memberikan (EFA).penekanan. Semuanya justru berada di Dampak krisis finansial globaltangan pada penyelenggara telah mengancam akses pendidikanakuntabilitas sendiri, bagaimana bagi jutaan anak di seluruh dunia. Saatmereka-mereka bisa mengelola potensi ini sekitar 72 juta anak usia sekolahmaupun tantangan yang dihadapinya. dasar belum mendapatkan pendidikan Sementara itu, diprediksikan dasar. Kombinasi kemiskinan,pendidikan untuk semua (PUS) yang lambatnya pembangunan ekonomi,telah dicanangkan oleh pemerintah dan krisis finansial global akan(Kementerian Pendidikan Nasional). menggerogoti pencapaian Negara-Sebagaimana diekspos dalam harian negara pada dekade sebelumnya. HalKompas, Rabu, 7 Juli 2010 bahwa tersebut berarti turut mengganggutarget Pendidikan Untuk Semua target pencapaian Tujuanataupun Education for All, terutama Pembangunan Milineum nomor dua,pendidikan dasar universal, yang indikatornya antara lain angkadikhawatirkan tidak tercapai pada partisipasi dasar angka melek huruftahun 2015 saat tenggat Tujuan umur 15-25 tahun.Pendidikan Milenium. Krisis ekonomi 15
  • 126. Ancaman tentang melesetnya tidak bersekolah. Tahun 2007,pencapaian target terutama terjadi di jumlahnya meningkat menjadi 9 jutaNegara berkembang yang sebagian anak. Sementara sejumlah Negara,besar di kawasan Asia Pasifik. terutama India, mencapai kemajuanMenurut Education for All Global sangat baik. ―Waktu yang tersisaMonitoring Report 2010, target EFA tinggal lima tahun lagi,― katanya.tercancam gagal tercapai di Negara Wakil Menteri Pendidikanberkembang. Resesi ekonomi yang Nasional Fasli Jalal mengatakan,terjadi pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia masih dalam jalurtelah menjerumuskan sekitar 90 juta pencapaian target EFA. Di tengahorang ke dalam kemiskinan ekstrem. krisis ekonomi dunia, Indonesia tetapSaat ini sebagian Negara yang terkena memprioritaskan anggarandampak sangat besar masih dalam pendidikan, bantuan operasionalproses pemulihan dari tingginya harga sekolah guna mengurangi hambatanpangan yang telah mengakibatkan 175 biaya anak ke sekolah, buku pelajaranjuta kasus malnutrisi tahun 2007 dan online, program pendidikan2008. Pendidikan juga tidak kebal dari kesetaraan, dan peningkatanpengaruh-pengaruh tersebut karena kualifikasi guru. Ini merupakanhal-hal itu kemudian rentan beberapa upaya pemerintah yang terusdikebelakangan. dilakukan. Sementara itu anggaran Kekhawatiran serupa juga untuk fungsi pendidikan dalam APBNdiungkapkan Director of UNESCO tahun 2010 telah mencapai sekitar RpBangkok Office, Regional Bureau for 209,5 triliun.Education in The Asia Pasific, Gwang- Marzuki Alie mengatakan, perluJo Kim. ―Kita tetap belum on the track peran aktif anggota parlemen untuk(dalam jalur) untuk memenuhi target ikut aktif dalam proses pembangunanEFA pada tahun 2015. Akan nada 56 pendidikan. Di tengah sulitnyajuta anak di luar sekolah jika kita tidak ekonomi dunia dan berbagai tekanan,melipatgandakan upaya kita, yang pemerintah telah menghadapisebagiannya di wilayah Asia Pasifik.‖ berbagai pilihan kebijakan yang sulit.Ujarnya. Dia mencontohkan, pada Parlemen berkewajiban memintatahun 1999 kawasan Asia Timur dan pemerintah mengalokasikan dana yangPasifik merupakan tempat tinggal 6 cukup untuk pendidikan danjuta anak usia pendidikan dasar yang memonitor pemerintah dalam 16
  • 127. mengimplementasikan tujuan Meskipun demikian, negeri ini masihpembangunan nasional menghadapi masalah pendidikan yangpendidikan.(KOMPAS, Rabu, 7 Juli berkaitan dengan sistem yang tidak2010). efisien dan kualitas yang rendah. Terbukti, misalnya, anak yang putusKontribusi Pemerintah cq sekolah diperkirakan masih ada duaKementerian PendidikanNasional Indonesia dalam juta anak. Indonesia tetap belumProgram PUS berhasil memberikan jaminan hak atas Dalam upayanya mencapai pendidikan bagi semua anak. Apalagi,tujuan ―Pendidikan untuk Semua‖ masih banyak masalah yang haruspada 2015, peme-rintah Indonesia saat dihadapi, seperti misalnya kualifikasiini menekankan pelaksanaan program guru, metode pengajaran yang efektif,wajib belajar sembilan tahun bagi manajemen sekolah dan keterlibatanseluruh anak Indonesia usia 6 sampai masyarakat. Sebagian besar anak usia15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan 3 sampai 6 tahun kurang mendapatUNESCO member dukungan teknis akses aktifitas pengembangan dandan dana. pembelajaran usia dini terutama anak- Bersama dengan pemerintah anak yang tinggal di pedalaman dandaerah, masyarakat dan anak-anak di pedesaan. Anak-anak Indonesia yangdelapan propinsi di Indonesia, berada di daerah tertinggal danUNICEF mendukung program terkena konflik sering harus belajar diMenciptakan Masyarakat Peduli bangunan sekolah yang rusak karenaPendidikan Anak (CLCC). Proyek ini alokasi anggaran dari pemerintahberkembang pesat dari 1.326 sekolah daerah dan pusat yang tidak memadai.pada tahun 2004 menjadi 1.496 pada Metode pengajaran masih berorientasitahun 2005. Kondisi ini membantu pada guru dan anak tidak diberi45.454 guru dan menciptakan kesempatan memahami sendiri.lingkungan belajar yang lebih Metode ini masih mendominasimenantang bagi sekitar 275.078 siswa. sekolah-sekolah di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir Ditambah lagi, anak-anak dariIndonesia telah mengalami kemajuan golongan ekonomi lemah tidakdi bidang pendidikan dasar. Terbukti termotivasi dari pengalamanrasio bersih anak usia 7-12 tahun yang belajarnya di sekolah. Apalagi biayabersekolah mencapai 94 persen. pendidikan sudah relatif tak 17
  • 128. terjangkau bagi mereka.(UNICEF, - Biaya pendidikan yang tinggi.2010). Untuk mencapai Pendidikan Indonesia telah mengalami Untuk Semua, pemerintah Indonesiakemajuan di bidang pendidikan dasar dibantu oleh UNICEF dan UNESCOdalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti melakukan kegiatan-kegiatan antararasio bersih anak usia 7-12 tahun yang lain :bersekolah mencapai 94 persen. Tetapi 1. Sistem Informasi PendidikanIndonesia tetap belum berhasil Berbasis Masyarakatmemberikan jaminan hak atas UNICEF mendukung langkah-pendidikan bagi semua anak. Apalagi, langkah pemerintah Indonesiamasih banyak masalah yang harus untuk meningkatkan aksesdihadapi, masalah tersebut antara lain pendidikan dasar melalui Sistem: Informasi Pendidikan Berbasis- Anak putus sekolah diperkirakan Masyarakat. Dengan system ini masih ada dua juta anak. memungkinkan penelusuran- Kualifikasi guru yang masih semua anak usia dibawah 18 tahun kurang. yang tidak bersekolah.- Metode pengajaran yang tidak 2. Program Wajib Belajar 9 Tahun efektif. Yaitu masih beroientasi Dalam upaya mencapai tujuan kepada guru dan anak didik tidak ―Pendidikan untuk Semua‖ pada diberi kesempatan memahami 2015, pemerintah Indonesia saat sendiri. ini menekankan pelaksanaan- Manajemen sekolah yang buruk. program wajib belajar Sembilan- Kurangnya keterlibatan tahun bagi seluruh anak Indonesia masyarakat. usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal- Kurangnya akses pengembangan ini, UNICEF dan UNESCO member dan pembelajaran usia dini bagi dukungan teknis dan dana. sebagian besar anak usia 3 sampai 3. Program Menciptakan Masyarakat 6 tahun terutama anak-anak yang Peduli Pendidikan Anak (CLCC) tinggal di pedalaman dan Bersama dengan pemerintah pedesaan. daerah, masyarakat dan anak-anak- Alokasi anggaran dari pemerintah di delapan propinsi di Indonesia, daerah dan pusat yang tidak UNICEF mendukung program memadai. Menciptakan Masyarakat Peduli 18
  • 129. Pendidikan Anak (CLCC). Proyek Simpulan dan Saran ini berkembang pesat dari 1.326 Simpulan sekolah pada 2004 menjadi 1.496 Berdasar pemaparan tersebut di pada 2005. Kondisi ini membantu atas, maka dapatlah disimpulkan 45.454 guru dan menciptakan sebagai berikut: (1) hakekat dari lingkungan belajar yang lebih ―Pendidikan untuk Semua dan Semua menantang bagi sekitar 275.078 untuk Pendidikan‖ adalah siswa. mengupayakan agar setiap warga Di samping itu, yang tidak kalah Negara dapat memenuhi haknya, yaitupentingnya adalah peran Kepala setidak-tidaknya untuk mendapatkanSekolah dan Pengawas Sekolah dalam layanan pendidikan dasar (Wajibmenyukseskan program PUS yang Belajar 9 Tahun); (2) masalah yangdicanangkan pemerintah. Hal ini harus dihadapi dalam program PUS,sebagaimana dikemukakan oleh antara lain: (a) anak putus sekolahDirektur Jenderal Peningkatan Mutu diperkirakan masih ada dua juta anak,Pendidik dan tenaga Kependidikan, (b) kualifikasi guru yang masihKementerian Pendidikan Nasional kurang, (c) metode pengajaran yang(Dirjen PMPTK Kemendiknas) tidak efektif itu masih beroientasiBaedhowi yang mengatakan bahwa kepada guru dan anak didik tidakperan Kepala Sekolah dan Pengawas diberi kesempatan memahami sendiri,Sekolah juga sangat penting guna (d) manajemen sekolah yang buruk,meningkatkan kualitas dan pelayanan (e) kurangnya keterlibatanpendidikan saat ini. Apabila masyarakat, (f) kurangnya akseskompetensi Kepala Sekolah baik, maka pengembangan dan pembelajaran usiahubungan yang signifikan terhadap dini bagi sebagian besar anak usia 3peningkatan mutu pendidikan di sampai 6 tahun terutama anak-anaksekolah. Apabila Kepala Sekolahnya yang tinggal di pedalaman danbaik dan memiliki kompetensi bagus, pedesaan, (g) alokasi anggaran darimaka kepala sekolah itu diyakini bisa pemerintah daerah dan pusat yangmelakukan pengelolaan sekolah tidak memadai, dan (h) biayadengan baik pendidikan yang tinggi; (3) untukpula.(http://bataviase.co.id, diakses mencapai Pendidikan Untuk Semua,tanggal 16 September 2010). pemerintah Indonesia dibantu oleh UNICEF dan UNESCO melakukan 19
  • 130. kegiatan-kegiatan antara lain: (a) saran-saran sebagai berikut: (1) dari sisi strukturalSistem Informasi Pendidikan Berbasis birokrasi di KementerianMasyarakat, (b) Program Wajib Belajar Pendidikan Nasional masih dirasa perlu dioptimalkan9 Tahun, dan (c) Program masalah peningkatanMenciptakan Masyarakat Peduli kinerja, peningkatan kerjasama, koordinasi danPendidikan Anak (CLCC); (4) dalam komunikasi dengan berbagai20 tahun terakhir Indonesia telah instansi dan unit kerja terkait, baik di pusatmengalami kemajuan di bidang maupun di daerah, (2) untukpendidikan dasar, terbukti rasio bersih dapat mewujudkan program PUS, semua komponenanak usia 7-12 tahun yang bersekolah bangsa, baik pemerintah,mencapai 94 persen; (5) pembangunan swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan,pendidikan di Indonesia sekurang- maupun warga Negarakurangnya menggunakan empat secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-strategi dasar, yakni; pertama, sendiri, berkomitmen untukpemerataan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan “Pendidikanmemperoleh pendidikan, kedua, untuk Semua dan Semuarelevansi pendidikan, ketiga, untuk Pendidikan” sesuai dengan potensi danpeningkatan kualiutas pendidikan, dan kapasitas masing-masing;keempat, efesiensi pendidikan, (6) (3) pembangunan pendidikan makin disadariIndonesia tetap belum berhasil sebagai sektor yang strategismemberikan jaminan hak atas untuk menunjang pembangunan sektor secarapendidikan bagi semua anak; apalagi, keseluruhan, oleh karena itumasih banyak masalah yang harus pembangunan pendidikan harus sensitif dan tanggapdihadapi, seperti misalnya kualifikasi terhadap dinamikaguru, metode pengajaran yang efektif, pembangunan sektor-sektor lainnya; (4) perlu peranmanajemen sekolah dan keterlibatan aktif anggota parlemenmasyarakat, dan (7) peran Kepala untuk ikut aktif dalam proses pembangunanSekolah dan Pengawas Sekolah sangat pendidikan, parlemenpenting guna meningkatkan kualitas berkewajiban meminta pemerintah mengalokasikandan pelayanan pendidikan. dana yang cukup untuk pendidikan dan memonitorSaran pemerintah dalam mengimplementasikan Berdasarkan butir-butir tujuan pembangunan simpulan di atas, maka nasional pendidikan, dan (5) dapatlah dikemukakan pemerintah (Negara) harus 20
  • 131. menyiapkan seluruh saranadan prasarana dalam rangkamenuntaskan pendidikanSembilan tahun. 21
  • 132. 22