Alih Fungsi Lahan Terbuka Hijau menjadi Perumahan pada Kawasan Padang Bulan/Selayang
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Alih Fungsi Lahan Terbuka Hijau menjadi Perumahan pada Kawasan Padang Bulan/Selayang

on

  • 18,600 views

Belakangan ini kita sering melihat banyak lahan terbuka hijau yang dibangun menjadi sebuah perumahan atau area usaha. Lahan yang tentunya telah dimiliki pengembang tersebut sudah siap dikonversi jadi ...

Belakangan ini kita sering melihat banyak lahan terbuka hijau yang dibangun menjadi sebuah perumahan atau area usaha. Lahan yang tentunya telah dimiliki pengembang tersebut sudah siap dikonversi jadi perumahan, baik perumahan kelas menengah atau perumahan mewah. Salah satunya daerah persawahan di kawasan Padang Bulan yang memiliki potensi untuk dibangunan suatu perumahan. Peraturan perkawasan di Kota Medan harus lebih diperjelas dan dipertegas.

Statistics

Views

Total Views
18,600
Views on SlideShare
18,595
Embed Views
5

Actions

Likes
3
Downloads
388
Comments
0

1 Embed 5

http://www.slashdocs.com 5

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Alih Fungsi Lahan Terbuka Hijau menjadi Perumahan pada Kawasan Padang Bulan/Selayang Alih Fungsi Lahan Terbuka Hijau menjadi Perumahan pada Kawasan Padang Bulan/Selayang Document Transcript

  • ALIH FUNGSI LAHAN TERBUKA HIJAU MENJADI PERUMAHAN PADA KAWASAN PADANG BULAN/SELAYANG
    Oleh :
    Bane Doli Simanjuntak
    Syahril Donal Hutasuhut
    Universitas Sumatera Utara (USU)
    Jl. Dr. Mansyur No.1, Padang Bulan, Medan
    Abstrak
    Belakangan ini kita sering melihat banyak lahan terbuka hijau yang dibangun menjadi sebuah perumahan atau area usaha. Lahan yang tentunya telah dimiliki pengembang tersebut sudah siap dikonversi jadi perumahan, baik perumahan kelas menengah atau perumahan mewah. Salah satunya daerah persawahan di kawasan Padang Bulan yang memiliki potensi untuk dibangunan suatu perumahan. Peraturan perkawasan di Kota Medan harus lebih diperjelas dan dipertegas.
    Kata Kunci: Lahan terbuka hijau, perumahan, peraturan, Padang Bulan.
    PENDAHULUAN
    Perkembangan kawasan perkotaan mempunyai ciri–ciri dengan adanya ketidakseimbangan perkembangan antar kawasan dan tidak meratanya pusat-pusat pelayanan untuk masyarakat, sehingga muncul permasalahan sebagai berikut : Kecenderungan pemusatan kegiatan (over concentration) pada kawasan-kawasan tertentu; Perkembangan penggunaan lahan yang bercampur (mixed use); Terjadinya alih fungsi lahan (land conversion) dari ruang terbuka, lahan konservasi, atau ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun intensif (permukiman, industri, perkantoran, prasarana). Terjadinya pembangunan fisik secara terpencar (urban sprawl) di wilayah sub urban. Banyaknya lahan tidur di wilayah sub urban dan wilayah transisi.
    Pembangunan lahan – lahan yang akan digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan wilayah sub urban dan wilayah transisi. Yang menjadi persoalan apakah pemenuhan tersebut sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan pemerintah setempat dan akan membawa dampak positif baik bagi masyarakat sosial maupun bagi lingkungannya.
    PENDEKATAN TEORITIK
    Lahan Terbuka Hijau
    Lahan/Ruang terbuka hijau adalah daerah terbuka dalam suatu kota yang lebih menekankan pada fungsi lansekapnya. Lahan terbuka hijau diperlukan dalam sebuah struktur tata ruang sebuah kota, tanpa terkecuali Kota Medan. Pada sebuah kota idealnya memiliki 20% lahan terbuka hijau dari luas kota tersebut. Dalam kondisi saat ini banyak lahan terbuka yang dialihfungksikan.
    Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau
    Menurut Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Dinas Pertamanan mengklasifikasikan ruang terbuka hijau berdasarkan pada kepentingan pengelolaannya adalah sebagai berikut :
    Pertama, Kawasan Hijau Pertamanan Kota, berupa sebidang tanah yang sekelilingnya ditata secara teratur dan artistik, ditanami pohon pelindung, semak/perdu, tanaman penutup tanah serta memiliki fungsi relaksasi.
    Kedua, Kawasan Hijau Hutan Kota, yaitu ruang terbuka hijau dengan fungsi utama sebagai hutan raya.
    Ketiga, Kawasan Hijau Rekreasi Kota, sebagai sarana rekreasi dalam kota yang memanfaatkan ruang terbuka hijau.
    Keempat, Kawasan Hijau kegiatan Olahraga, tergolong ruang terbuka hijau area lapangan, yaitu lapangan, lahan datar atau pelataran yang cukup luas. Bentuk dari ruang terbuka ini yaitu lapangan olahraga, stadion, lintasan lari atau lapangan golf.
    Kelima, Kawasan Hijau Pemakaman.
    Keenam, Kawasan Hijau Pertanian, tergolong ruang terbuka hijau areal produktif, yaitu lahan sawah dan tegalan yang masih ada di kota yang menghasilkan padi, sayuran, palawija, tanaman hias dan buah-buahan.
    Ketujuh, Kawasan Jalur Hijau, yang terdiri dari jalur hijau sepanjang jalan, taman di persimpangan jalan, taman pulau jalan dan sejenisnya.
    Kedelapan, Kawasan Hijau Pekarangan, yaitu halaman rumah di kawasan perumahan, perkantoran, perdagangan dan kawasan industri.
    Sementara itu, klasifikasi RTH menurut Instruksi mendagri No.14 tahun 1988, yaitu: taman kota, lapangan O.R, kawasan hutan kota, jalur hijau kota, perkuburan, pekarangan, dan RTH produktif.
    Bentuk RTH yang memiliki fungsi paling penting bagi perkotaan saat ini adalah kawasan hijau taman kota dan kawasan hijau lapangan olah raga. Taman kota dibutuhkan karena memiliki hampir semua fungsi RTH, sedangkan lapangan olah raga hijau memiliki fungsi sebagai sarana untuk menciptakan kesehatan masyarakat selain itu bisa difungsikan sebagian dari fungsi RTH lainnya.
    Ketersediaan ruang terbuka kota sangat penting dalam perencanaan kota. Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk kota, ketersediaan lahan untuk permukiman masyarakat semakin sempit, sehingga penyediaan ruang terbuka dalam suatu lingkungan terkadang diabaikan. Faktor penting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia. Pertambahan jumlah penduduk merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pemukiman dan kebutuhan prasarana/sarana perkotaan.
    Dampak kepadatan penduduk ini lebih dirasakan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di tepi pantai dan bantaran sungai, sehingga terbentuk suatu kawasan yang kumuh. Dampak lingkungan yang mangakibatkan kurangnya ruang terbuka bagi masyarakat didalam lingkungan yang berfungsi sebagai wadah interaksi sosial, ruang terbuka hijau yang berfungsi ekologis, ditambah lagi dengan tindakan masyarakat yang menimbulkan perubahan langsung terhadap sifat-sifat fisik atau hayati lingkungan, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.
    Saat ini hampir di setiap kawasan permukiman padat diperkotaan tidak terdapat lahan terbuka, karena dipenuhi oleh perumahan. Hal tersebut terjadi hampir di semua kota-kota besar di Indonesia. Dengan persoalan yang sama, yaitu menurunnya luas dan kualitas ruang terbuka. Upaya nyata untuk menanggulangi permasalahan ini belum ada, meski sudah berlangsung secara terus menerus. Dalam sebuah kota menjadi akar dari permasalahan tersebut adalah buruknya pengelolaan dan tata ruang, misalnya banyak jalur hijau yang sudah beralih fungsi.
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    Ruang terbuka hijau sangat penting pada tata ruang suatu kota. Kawasan terbuka hijau ialah sebuah kawasan yang difungsikan untuk ditanami tumbuh-tumbuhan. Kawasan terbuka hijau dapat berupa taman, hutan kota, trotoar jalan yang ditanami pohon, areal sawah atau perkebunan.
    Kawasan terbuka hijau, disamping mempunyai fungsi penghasil komoditi (buah, daun, batang dan lain-lain) juga mempunyai fungsi non komoditi (misalnya Pencegah banjir, Penyedia gas oksigen, dan lain-lain). Fungsi komoditi kawasan terbuka hijau ada dengan sendirinya akibat wujudnya kawasan tersebut. Produk komoditi akan diperoleh dengan membayar sejumlah uang, tetapi fungsi bukan komoditi akan diperoleh secara gratis walaupun ianya mempunyai nilai ekonomi. Nilai ekonomi kawasan terbuka hijau adalah hasil dari penghasil komoditi dan non komoditi.
    Fungsi-fungsi kawasan terbuka hijau non komoditi adalah :
    Pertama, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai pencegah banjir. Sebagian kawasan terbuka hijau ( perkebunan dan sawah) berada di kawasan pergunungan dari waktu ke waktu dapat menyimpan air ketika hujan lebat dan melepaskannya sedikit demi sedikit ke sungai atau kawasan lain di sekitarnya. Ini berarti dapat mencegah atau mengurangkan kerusakan yang dimungkinkan oleh adanya banjir.
    Kawasan terbuka hijau bahagian atas akan menyimpan air hujan pada rongga-rongga tanah yang terbentuk masa menanam, mencegah run- off secara tiba-tiba dan mencegah banjir (Yoshida 2001).
    Keizrul (2005) mengatakan fungsi pematang pada sawah sama dengan fungsi batas pada waduk (dam). Sawah padi dikelilingi oleh pematang yang dapat menyimpan dan mengatur keluarnya air semasa hujan lebat, misalnya rerata tinggi pematang sawah padi 30 cm, kedalaman air untuk tumbuhnya padi 4.5 cm, koefisien resapan air 1.5 mm/hari dan rerata masa banjir 3 hari maka jumlah air yang dapat ditahan adalah 3000 meterkubik per hektar.
    Kedua, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai pemelihara sumber air. Air yang datang dari sungai untuk mengairi kawasan terbuka hijau masuk ke dalam pori-pori tanah dan pada akhirnya akan kembali ke sungai.
    Ketiga, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai pencegah erosi tanah. Proses penanaman merupakan proses perbaikan dan penambahan zat-zat organik pada tanah. Proses ini mengakibatkan peningkatan kepadatan tanah sehingga permukaan tanah secara perlahan menjadi lebih lembut dan datar.
    Keempat, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai tempat rekreasi. Kawasan terbuka hijau terutamanya yang terdapat di kawasan bukit tidak hanya member pemandangan yang indah, tetapi juga menciptakan alam yang natural.
    Kelima, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai pembersih udara. Pohon-pohon yang tumbuh di kawasan terbuka hijau dapat membersihkan udara dengan menyerap gas-gas penyebab polusi seperti SO2 dan NO2.
    Keenam, Kawasan terbuka hijau berfungsi sebagai penurun suhu. Akibat dari proses evaporasi dan transpirasi dari pohon-pohon di kawasan terbuka hijaumengakibatkan suhu disekeliling kawasan terbuka hijau akan dingin. Energi diserap selama evaporasi dan transpirasi. Kawasan yang mempunyai kecepatan evapotranspirasi berbeda akan mempunyai suhu yang berbeda. Kawasan terbuka hijau, biasanya mempunyai kecepatan evapotranspirasi yang lebih tinggi dan proses ini menyebabkan suhu udara lebih rendah dan lebih nyaman. Suhu udara di tengah kota lebih tinggi sekitar 0.5 – 1 oC pada tengah hari (Hutchinson & Taylor 1983).
    • Fungsi Persawahan dalam Tata Ruang Kota
    • Sebuah kawasan persawahan memiliki nilai yang penting dalam suatu daerah. Selain fungsi sawah yang sudah dijelaskan di atas, persawahan mempunyai fungsi yang lain.
    • Persawahan sebagai nilai ekonomi. Persawahan dipergunakan masyarakat sekitar untuk melakukan cocok tanam yang merupakan sumber mata pencaharian bagi beberapa masyarakat, khususnya masyarakat kota Medan.
    • Persawahan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Dari pengolahan persawahan ini akan dihasilkan beberapa hasil pertanian, yaitu Padi, Jagung, dll. Maupun hasil perikanan, misalnya ikan mas, ikan jair dan beberapa ikan air tawar. Dari hasil tersebut mampu membantu supply pangan pada suatu daerah.
    • Persawahan sebagai nilai estetika. Padatnya aktivitas maupun kondisi bangunan di kota Medan terkadang membuat manusia yang beraktivitas di dalamnya merasa jenuh. Persawahan mampu membantu masyarakat tersebut sehingga ketika berada di daerah persawahan dapat membantu secara psikologis untuk mendapat ketenangan dan keluasan pandangan.
    • Alih Fungsi Persawahan di Kawasan Padang Bulan
    MEDAN-Tata ruang Kota Medan sudah lama melengceng dari aturan. Hal itu menjadi ancaman kelangsungan hidup di kota seluas 26.500 hektar ini. Suhu udara terus naik, iklim tak menentu, kadar oksigen berkurang sedangkan gas karbondioksida terus meningkat. Ruang terbuka hijau (RTH) yang ditumbuhi pohon besar seharusnya dapat memproduksi oksigen (O2) dan menyerap karbondioksida (CO2). (Harian Sumut Pos).
    Perumahan atau juga sering disebut juga permukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana ligkungannya.
    Perumahan menitiberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human).3 Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya saling melengkapi
    Masalah yang terjadi secara perlahan-lahan tapi pasti terjadi di kawasan Padang Bulan. Dimana banyak lahan terbuka khususnya lahan persawahan yang dialihfungsikan menjadi perumahan. Daerah pesawahan di daerah ini satu demi satu diubah menjadi daerah perumahan dan bangunan komersial.
    Daerah yang menjadi perhatian penulis sendiri adalah di daerah Jalan Abdul Hakim dan Jalan Pembangunan, Padang Bulan, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. Dimana di daerah ini masih terdapat areal persawahan yang cukup luas bagi sebuah kota besar. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Hasil gambar dari google earth yang diambil pada tahun 2003, dimana di daerah Padang Bulan/Selayang, khususnya di sepanjang Jalan Abdul Hakim memiliki wilayah persawahan yang cukup luas.
    Gambar 1 Peta Wilayah Padang Bulan/Selayang
    (Sumber : Google Earth : Image 2003)
    Dari pantauan penulis bahwa pembangunan dilaksanakan secara bertahap. Dimulai dari lahan yang satu dan dilanjutkan dengan lahan yang lain disekitarnya. Walaupun demikian pembangunan perumahan dan permukiman tersebut memiliki pihak pengembang yang berbeda satu dengan yang lainnya.
    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan fungsi ruang terbuka hijau tersebut, antara lain :Terbatasnya lahan yang hendak dibangun pada daerah RTH yang mengalami perubahan; Kebutuhan akan pemenuhan fasilitas yang ingin dibangun untuk melayani penduduk; Kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap perubahan RTH; Tingkat pendapatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan akan RTH; Kondisi perekonomian.
    Daerah Padang Bulan sendiri adalah daerah yang memliki potensi yang besar untuk dijadikan daerah perumahan dan permukiman karena daerah ini memliki kepadatan penduduk yang kecil.
    Berikut adalah beberapa contoh perumahan yang menggantikan persawahan.
    `
    Gambar 2 : Perumahan yang sedang dibangun.
    (Sumber : Dokumentasi, 2009)
    Gambar 3 : Sawah yang sedang dibangun
    (Sumber : Domentasi, 2009)
    Kawasan yang berdekatan dengan daerah persawahan ini jarang sekali terjadi banjir, hal ini dikarenakan air hujan yang turun diserap oleh daerah persawahan. Pematang sawah mampu menahan jumlah air hujan yang turun. Padahal banyak daerah – daerah lain di kota Medan yang sering mengalami banjir pada musim penghujan baik karena system drainase yang tidak berfungsi atau bahkan tidak adanya daerah resapan air hujan di daerah tersebut. Selain sebagai daerah persawahan ada juga beberapa area sebagai kolam, baik sebagai penampung air maupun pengkaran ikan air tawar.
    Gambar 4 : Kolam di sekitar perumahan.
    (Sumber : Dokumentasi, 2009)
    Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa hampir di setiap kota padat penduduk memiliki ruang terbuka hijau yang sempit. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah baik dari dalam kota itu sendiri maupun urbanisasi penduduk. Hal ini tentu mengkhawatirkan, Kota Medan diprediksi hanya mempunyai 795 hektar ruang terbuka hijau dari total 26.500 hektar luas Kota Medan atau sekitar 3 persen saja.
    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Syaiful Bahri mengatakan, dalam rancangan pembangunan Kota Medan yang tengah disusun, direncanakan ruang terbuka hijau seluas 20 persen. Sedangkan 10 persen lagi dikelola pihak ketiga dan masyarakat atau pekarangan rumah. “Jadi dalam rancangan pembangunan Kota Medan ke depan, kami menyiapkan 20 persen ruang terbuka hijau,” kata Syaiful di Medan kemarin. Ia mengajak warga Kota Medan sama-sama membangun dan menjaga lingkungan, air dan kelestarian kota ini.
    Bagaimana mungkin pencapaian tersebut dapat dicapai apabila daerah persawahan yang merupakan bagian dari Ruang Terbuka Hijau harus digantikan oleh perumahan-perumahan. Walau pemerintah sudah menetapkan beberapa lokasi yang akan dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau, yaitu total luasnya 5560 hektar dengan rincian hutan mangrove Belawan 1029 hektar, kawasan lindung sempadan sungai 666 hektar, sekitar danau (luasnya tak dicantumkan), taman kota dan taman lingkungan 612 hektar termasuk yang ada sekarang 22 hektar (betapa besarnya taman yang harus diadakan), sempadan jalan 3050 hektar (tidak jelas apakah maksudnya lahan pekarangan masyarakat yang dibuat hijau, karena kalau demikian bukan ruang terbuka hijau publik lagi namanya, tapi ruang terbuka privat).
    Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu memperoleh jumlah luas lahan tersebut. Hal ini, berkaitan dengan masyarakat sendiri, dimana tidak semua masyarakat memahami dan mengerti pentingnya ruang terbuka sehingga terkadang mereka menolak untuk menjual lahan mereka atau bahkan menjual dengan harga yang mahal.
    KESIMPULAN
    Perumahan memang hal yang sangat penting bagi kebutuhan masyarakat yang tinggal dalam suatu kota. Perumahan merupakan salah satu aspek yang menjanjikan dalam suatu usaha.
    Persawahan sebagai ruang terbuka hijau juga tidak kalah penting dalam kehidupan suatu kota. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kedua komponen ini dapat saling mendukung satu dengan yang lain. Dimana kedua kebutuhan penting ini dapat saling terpenuhi.
    Dalam hal ini, pemerintah perlu membuat suatu atutan yang jelas dan tegas dalam pengaturan Tata Ruang Kota Medan sendiri. Sejauh ini banyak kejadian atau masalah dari kesimpangsiuran dalam pelaksanaan pembangunan di Kota Medan. Banyak pembangunan yang tidak mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan pada awalnya tapi tetap saja dapat didirikan dan beroperasi.
    Dalam hal ini, Medan sudah memiliki  masterplan (rencana tata ruang wilayah) 2 kali, yaitu 1975-2000 dan 1995-2005. Rencana tata ruang yang sekarang sudah kadaluwarsa dan syukur Pemko Medan telah mempersiapkan gantinya, yaitu masterplan Medan 2016 dan dalam proses pengesahan.
    Jadi, pembangunan perumahan itu memang penting dalam pertumbuhan suatu kota. Tetapi, kembali kepada pemerintah sebagai pemegang perkembangan suatu kota. Kiranya pemerintah semakin bijaksana dan tegas dalam mengerjakan setiap masterplan dan peraturan yang telah ditetapkan.
    DAFTAR PUSTAKA
    Aulia, Dwira N. dkk, 2009, Bahan Ajar Perumahan dan Permukiman.Medan : USU Press.
    http://www.hariansumutpos.com/2009/06/pemko-sedang-tenggelamkan-kota-Medan.html
    http://pkukmweb.ukm.my/~pkaukm/BUKU%201%20&%202/PDF_buku%20/16_Sains%20&%20Tech_Muchlis_Peran%20tak%20tergantikan%20kawasan%20terbuka%20hijau.pdf
    http://zarch.wordpress.com/2008/07/09/ruang-terbuka-publik kota/Sinkronisasi penataan ruang dengan Pembangunan perumahan dan permukiman.
    Wonorahardjo, Surjamanto. Dkk, 2008. Kebijakan pembangunan perumahan dan dampak lingkungan. Bandung: Institut Teknologi Bandiung.