Pedoman penulisan karya ilmiah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pedoman penulisan karya ilmiah

on

  • 21,462 views

 

Statistics

Views

Total Views
21,462
Views on SlideShare
21,462
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
479
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Pedoman penulisan karya ilmiah Pedoman penulisan karya ilmiah Document Transcript

    • BAGIAN IPANDUAN DASAR
    • Panduan Penulisan K arya Ilmiah 2
    • 1. PENDAHULUANDalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan pada masalah, baikyang sederhana maupun yang rumit. Bila berhadapan dengan masalahyang rumit, kita bertanya-tanya mengapa terjadi masalah itu, danmengapa masalah itu rumit untuk dipahami. Bila yang berhadapantersebut seorang mahasiswa cerdas dia akan minta bantuan kepadateman sebayanya, kakak kelasnya, dosennya, atau bahkan mungkinprofesornya. Bila salah satu profesornya memberi jawaban berdasarkanteori yang dikembangkan orang lain yang tertulis dalam sebuah buku,dia juga bertanya profesornya menggunakan buku X bukan Y?Mengapa professor X tidak menjawab pertanyaan berdasarkanpenelitiannya sendiri? Seorang peneliti atau pengarang yang cerdas,dan kaya pengalaman kerapkali seperti anak kecil, yang cerdas, dankreatif, selalu bertanya, apa sebab suatu kejadian, peristiwa danmasalah, dan selalu ingin tahu apa jawabannya. Jawaban yangdiinginkan anak tersebut tampaknya bukan sekadar jawaban, melainkanjawaban yang terkait dengan struktur alam pikiran yang dia ketahui, danstruktur sosial-ekonomi di sekitarnya. Untuk anak yang memilikilingkungan ekonomi kuat dan struktur alam pikiran yang cerdas,tampaknya menghendaki jawaban yang lebih didasarkan pada fakta,dan makna sebuah fakta yang dipandang dapat merupakan akar suatumasalah atau landasan pemikiran tertentu.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 3
    • Bagi orang dewasa, jawaban atas keingintahuan tersebut dapatditulis dalam bentuk karangan singkat atau karangan bersambungberdasarkan struktur penalaran logis yang dapat menjadi dasar sebuahtulisan ilmiah. Secara sederhana karya ilmiah dapat dikatakan sebagaitulisan untuk mencari sebab akibat suatu masalah untuk mendapatkanketerangan yang lengkap berdasarkan penalaran, dengan mengunakanmetode yang tepat. Pengetahuan dapat berupa tulisan dari memoriberdasarkan pengalaman, perjalanan, kesaksian suatu peristiwadilukiskan secara cermat, berdasarkan nalar sehat dan logika yang telahmereka miliki.2. PENGETAHUANPengetahuan berbeda dengan ilmu atau karya ilmiah. Pengetahuanadalah semua informasi yang tersusun di dalam memori seseorang, baikyang berasal dari pengamatan indrawi atau dari belajar sendiri, maupunyang berasal dari pengamatan yang dilaksanakan dengan cara yangtidak sintematis, tidak jelas metodenya dan tidak dapat dibuktikankebenarannya. Tulisan yang disusun berdasarkan pengetahuan ataupengalaman pribadi, yang telah mengacu pada teori orang lain kadang-kadang belum dapat memberikan pemecahan yang memuaskan atassuatu masalah, perlu dicarikan jawaban dengan bertanya kepadasejumlah orang yang dipandang memiliki pengalaman aktual,pengetahuan atau perhatian terhadap masalah tersebut. DenganPanduan Penulisan K arya Ilmiah 4
    • demikian, terjadi semacam korenspondensi antara gagasan yang telahdisusun untuk memecahkan masalah tersebut dengan kondisi di tempatmasalah tersebut timbul (lapangan), sehingga tulisan yang disajikantidak bersifat gagasan kosong yang tidak membumi. Karya ilmiah, termasuk penelitian, sekurang-kurangnyamengandungi masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan akal sehat(common sense) atau intuisi, tetapi perlu acuan tertentu yang dapatmembantunya. Acuan tersebut dapat berupa teori yang telahdikembangkan orang lain, temuan orang lain, atau pengalaman oranglain yang dapat diuji keandalannya. Memecahkan masalah dapatdilakukan dengan mengacu kepada teori yang dikembangkan ahli yangterkait, pengalaman, atau hasil penelitian yang telah dilakukan oranglain, dengan metode tertentu. Untuk mendapatkan pengetahuan diperlukan suatu proses:mulai dengan mengenal, memperhatikan, sampai dengan mengetahui.Karena proses untuk mendapatkan pengetahuan berbeda dalam tingkat-tingkat yang ditempuh, pengetahun dapat dibedakan menjadi beberapatingkatan juga, mulai tahu, mengerti, dapat membedakan, dapatmembandingkan, merekonstruksi, mangalisis, dan menilai mana yangbenar dan mana yang tidak benar. Misalnya, pada waktu seorang anak kecil mulai tumbuh, diamenjadi tahu bahwa orang yang selalu dekat dengannya adalah ibunya.Bila seorang anak bertambah penalarannya, dia akan tetap tahu danPanduan Penulisan K arya Ilmiah 5
    • mengenal ibunya meskipun dia berbusana indah. Dalam perkembanganselanjutnya, anak dapat membedakan antara ibunya dan wanita lain,misalnya kakak prempuannya. Jadi, pengetahuan adalah suatu prosesyang berkesinambungan, tidak spontan. Pada tahap sekanjutnya,pengetahuan diperoleh dengan proses yang lebih detail dan lebih telitiakan berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh secara cepat,misalnya lewat pandangan pertama, atau selayang pandang sepertimelihat sesuatu dari atas mobil atau pesawat terbang.3. KONSEP ILMUPenciptaan karya ilmiah menggunakan prosedur yang agak berbedadengan pembuatan tulisan atau laporan biasa. Dalam penelitian,prosedur awalnya sama dengan mencari pemecahan masalah dalampengetahuan, tetapi pada tahap selanjutnya disyaratkan untukmengadakan studi awal untuk melihat latar belakang suatu masalah, dimana posisinya dengan masalah yang lain, baik yang serupa maupunyang berbeda. Bila latar belakang masalah telah dapat digambarkandengan jelas, seorang peneliti bertugas merumuskan masalah secarajelas, sehingga arah pemecahannya cukup terarah. Apabila masalah penelitian telah disusun dengan jelas, langkahselanjutnya adalah menyususn tujuan penelitian. Tujuan ini harus sesuaidengan masalah yang hendak dipecahkan. Dengan demikian, masalahyang ditemukan seorang peneliti atau penulis ilmiah harus dicarikanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 6
    • jawabannya lewat data penelitian di lapangan atau di laboratorium,dengan metode penelitian yang sesuai, alat penelitian yang terujivaiditas dan reliabilitasnya. Untuk mencari dasar masalah yang dirumuskan, peneliti harusmenyusun landasan konseptual atau teoritis yang merujuk kepada teoriyang telah terbukti keunggulannya dan disusun secara deduktif daninduktif. Deduksi dapat diartikan mencari landasan teori dari rumus atauteori besar yang telah menjadi dasar pengembangan ilmu yang terkait,dan juga dari acuan kepada hasil penelitian valid yang dilakukan olehpara peneliti sebelumnya. Dari kajian yang diperoleh, peneliti harusmencoba mengkaitkan masalah yang diteliti dengan situasi, kondisikebudayaan, tempat, kondisi sosial ekonomi, di tempat dia melakanakanpenelitian tersebut. Kaitan antara kajian teori dan masalah yang hendakdipecahkan biasanya dirumuskan dalam suatu kerangka konseptual.Berdasarkan konsep tersebut dirumuskan dugaan atau perkiraan secaranalar berdasarkan deduksi. Penelitian ilmiah berbeda secara mendasar dengan pengeta-huan yang ditulis berdasarkan akal sehat atau common sense. MenurutKerlinger,1 ilmu dan common sense berbeda tajam dalam beberapa hal.Perbedaan tersebut terletak pada sistematika dan cara pengendalian.Ilmu diperoleh mengunakan konsep dan struktur teori yang disusunsecara sistematis dari pendapat orang lain. Akal sehat biasanyadiperoleh menggunakan teori dan konsep, tetapi dalam pengertian yangPanduan Penulisan K arya Ilmiah 7
    • longgar, dan tidak sistematis. Misalnya, menganalisis bencana alamdipandang sebagai peringatan atau hukuman kepada orang yangmenjadi kurbannya. Demikian juga, dalam krisis ekonomi, yangdipersalahkan adalah etnis tertentu; orang tidak mencoba mengkoreksiperilaku kelompok lain, atau perilaku korup dari pengelola birokrasi. Ilmuwan mempunyai pola berpikir tertentu. Mereka mengem-bangkan struktur teori, menguji teori tersebut dengan konsistensiinternal, mempertimbangkan faktor terkait lain yang diperiksa denganmetode yang sahih, dengan uji empiris. Di samping itu, ilmuwan jugamenyadari bahwa konsep yang mereka buat tidak selalu paling tepat.Dengan perkataan lain, nilai ketepatan bersifat relatif. Hardono2, meyebutkan bahwa common sense adalah akal sehatatau pendapat umum. Selanjutnya dikatakan bahwa common sensemerupakan campuran dari insight utama sebagai prinsip nonkontradiktif,melalui banyak keyakinan yang lebih meragukan, sampai pada suatukumpulan pengatahuan mengenai hal-hal yang remeh. Perbedaanantara common sense dan ilmu adalah bahwa common sense tidakberdasarkan penyelidikan atau penelitian yang mempertanyakan apakahapa yang diyakini tersebut terbukti benar atau salah. Dalam memecahkan masalah, ilmuwan merujuk kepada teoriyang relevan dengan masalah dan keadaan, serta perkembangnnya,menguji beberapa teori dan kemudian membuat hipotesis3 atauperkiraan. Orang awam juga menbuat hipotesis, tetapi teori yangPanduan Penulisan K arya Ilmiah 8
    • dipergunakan selektif dengan memilih yang cocok denganpendangannya, serta memilih bukti tertentu yang dapat mendukunghipotesisnya. Dalam mengontrol pendapatnya, peneliti mencoba untuksementara waktu mengabaikan variabel yang tidak terkait langsungdengan masalah, yang mungkin menjadi sebab terjadinya suatumasalah. Yang dikontrol hanya variabel yang memiliki kaitan ataupenyebab langsung dengan masalah yang hendak dipecahkannya. Parapenulis awam kerap kali tidak memberikan penjelasan tentang sebabsuatu kejadian atau masalah secara sistematis berdasarkan phenomenayang mereka amati. Mereka tidak mau memberikan penjelasanmengenai sumber-sumber dari luar yang dipersoalkan. Dalam penelitian,orang awam biasanya cukup puas menerima penjelasan dengankonsepsi yang bias. Misalnya, banyak orang yakin bahwa anak nakalberasal dari kampung kumuh, mereka mengabaikan anak nakal darikawasan gedongan. Dalam kasus kenaikan harga BBM (Oktober 2004),mestinya secara obyektif diteliti akibat kenaikan harga BBM tersebutterhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biayaproduksi yang serentak naik, agar rakyat mengerti dan siapmenghadapinya. Maka, perlu ada penelitian ilmiah yang dapatmemberikan bukti yang valid, agar masyarakat dapat memahamipersoalannya.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 9
    • Ilmuwan terikat terus-menerus secara aktif dan sistematisdengan fenomen-fenomen dan dengan kesadaran yang tinggi sehinggamenemukan hubungan sebab akibat yang jelas dan rasional. Apakahperbedaan antara penalaran sehat dan ilmu terletak pada penjelasanyang berlainan mengenai fenomena yang teramati (Explanation of theobserved phenomena)? Seorang peneliti berusaha menjelaskanhubungan antara data yang diobservasi secara cermat danmengesampingkan apa yang tersirat dalam metaphysical explanationatau proposisi yang tidak dapat diuji. Misalnya, orang miskin karenatakdir, atau orang pandai karena suratan. Proposisi tersebut bersifatmetaphisik dan, karena itu, tidak dapat diuji. Proposisi yang bersifatmetaphisik seperti itu menjadi bagian dari ilmu fisafat, dan bukan lahanilmuwan. Hal ini tidak berarti bahwa ilmuwan tidak perlu memperhatikanproposisi seperti itu. Yang menjadi perhatian ilmuwan peneliti adalahgejala yang dapat diamati. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa adaperbedaan mendasar antara pengetahuan dan ilmu: Pengetahuandiperoleh dan disampaikan menggunakan akal sehat, sedangkan ilmudiperoleh dan disajikan dengan cara yang terikat pada sistem, teori,metode, dan kebenaran ilmiah. Proses dalam mendapatkan ilmu ditempuh dengan penggalian,studi dokumen, eksperimen, pengamatan, dan pengembangan ilmu yangpaling banyak dikerjakan melalui penelitian. Untuk mendapatkan ilmu,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 10
    • diperlukan persyaratan yang harus dipenuhi dengan cara yangsistematis dengan mengikuti metode tertentu dan berdasarkankebenaran. Pengembangan ilmu adalah proses psikis yang menyebab-kan kesadaran manusia memasuki terang ada.4 Selanjutnya menurutHeidegger ilmu yang diperoleh manusia disebut, a-letheia. Artinya, ilmudan pengetahuan adalah pernyataan diri dari ada. Pengetahuan tidakbisa meramalkan bagaimana ada itu dinyatakan, tetapi ilmu dapatmembuat ramalan apabila variabel yang dipelajari diperoleh denganmetode yang benar, alat yang benar, serta kondisinya tidak berubahsecara drastis. Ilmu juga menganjurkan bahwa orang yang mempunyaiperhatian terhadap filsafat ilmu harus memiliki kerendahan hati dalammenghadapi pengalaman dan keterbukaan secara menyeluruh terhadapdunia di sekelilingnya. Filsafat ilmu atau epistemologi5 merupakan bagian dari ilmufilsafat yang mempelajari hakikat dan lingkup pengetahuan dasar danyang pengandaiannya secara umum dapat diandalkan melaluipenegasan yang dinyatakannya. Tradisi epistemologi cenderungmembatasi diri pada ‘persepsi inderawi dan pemahaman intelektual’, dimana pengetahuan tersebut dimengerti secara sempit. Berdasarkanpernyatan tersebut, kaum sophis mempunyai pandangan bahwapengetahaun dalam arti sempit adalah pengetahuan yang dalamkeadaan apa pun tidak dapat salah, tak bisa diperoleh dan karena itutak usah dicari.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 11
    • Epistemologi yang diketengahkan kaum Sophis tersebut adalahepistemologi tradisional, yaitu usaha untuk mencari pembenaran (justify)bahwa pengetahuan itu terkait erat dengan peranan inderawi dan akaldalam pengenalannya. Plato, sebagai perintis epistemologi,mengemukan beberapa pertanyaan yang mendasar tentang epistemo-logi. Pertanyaan yang dimaksud adalah: Apa yang disebutpengetahuan? Di mana pengetahuan biasanya diperoleh? Di manaterdapat masalah yang biasa perlu kita ketahui? Berapa yang benar-benar pengetahuan? Dapatkah indera menghasilkan pengetahuan?Dapatkah akal memberikan pengetahuan? Apakah hubungan antarapengetahuan dan keyakinan yang benar?6 Bertolak dari pertanyaan tersebut, para filsuf sesudah Platoberusaha mengembangkan filsafat ilmu untuk menjelaskan sumber,dasar, dan kepastian ilmu. Konsep yang mereka kembangkanmemberikan sumbangan yang amat berharga bagi perkembangan umatmanusia, sebab mereka menjawab pertanyaan pokok yang mendasariilmu, yang merefleksikan konsep dan pandangan tentang ilmu,mengenai hakikat, ruang lingkup dan syarat umum. Jawaban yangdikemukakan oleh para filsuf atas pertanyaan Plato tersebut ternyataberagam, dan memberi inspirasi kepada beberapa aliran. Aliran terbesaryang berpengaruh adalah skeptisisme, rasionalisme, dan empirisme.3.1 SkeptisismePanduan Penulisan K arya Ilmiah 12
    • Kaum skeptis meragukan kemungkinan menemukan sesuatu yangsungguh benar. Sebaliknya, mereka mengajarkan bagaimana orangdapat maju tanpa ilmu pengetahuan yang pasti. Kaum Skeptisberkeberatan dengan epistemologi, karena dalam kenyataanepistemologi dianggap mengusulkan suatu tujuan khayal sebab kitaharus medemonstrasikan validitas ilmu pengetahuan kita, yang berartikita telah menggunakan ilmu kita, dan akibatnya telah mengandaikanvaliditasnya.7 Hardono menjelasakan bahwa kaum skeptis, sepertiEtienne Gilson, beranggapan bahwa tidak ada masalah mengenai ilmupengetahuan sebab pertanyaan kritis tidak dapat diajukan secarakonsisten. Terhadap keberatan ini ada beberapa jawaban yang terkaitdengan segi positif dari keberatan tersebut. Yang ditekankan adalahkelekatan tanpa syarat antara pikiran dan kenyataan. Adanya ilmumerupakan suatu hal pokok yang dapat direduksi. Pikiran ada danadanya pikiran merupakan kesaksian bagi dirinya sendiri mengenaiketerbukaan terhadap ada. Tidak ada keraguan atau suatupenyangkalan terhadap keterbukaan ini dapat dipertahankan. Dengandemikian, posisi kaum skeptis absolut cukup rapuh.8 Berangkat dari pandangan Plato tentang pengetahuan, sampaisekarang banyak filsuf yang berusaha mengembangkan teori pengeta-huan untuk menjelaskan sumber, dasar, dan kepastian pengetahuanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 13
    • manusia. Hasil yang diperoleh dari studi tentang pengetahuan untukmendukung pendapat Plato tersebut sampai hari ini ternyata beragam.3.2 Rasionalisme dan EmpirismeKonsep pengetahuan seperti yang dikemukan oleh Plato dan Decartesdisebut ‘rasionalisme’ sebab mereka menegaskan bahwa denganmenggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita dapat menemukanpengetahuan dalam arti yang paling ketat, yaitu pengetahuan yangdalam keadaan bagaimanapun tak mungkin salah. Decartesmenggunakan keraguan untuk mengatasi keraguan. Salah satu carauntuk menentukan bahwa sesuatu itu pasti adalah melihat seberapa jauhhal itu bisa diragukan. Bila kita secara sistematis mencoba meragukansebanyak mungkin pengetahuan kita, akhirnya kita akan mencapai titikyang tidak diragukan, sehingga pengetahuan kita dapat dibangun diatas dasar kepastian absolut.9 Prosedur yang disarankan Decartesdisebut ‘keraguan metodis universal’. Keraguan ini disebut universalkarena terentang tanpa batas, sampai keraguan itu sendiri membatasidiri. Bagi Decartes persoalan dasar bagi fisafat pengetahuan bukanbagaimana kita dapat tahu tetapi mengapa kita dapat membuatkekeliruan. Sebagai reaksi terhadap teori rasional tersebut timbul teoriempiris dari Inggris yang dipelopori oleh John Locke, Thomas Hobbesdan David Hume10. Mereka berusaha menemukan basis pengetahuanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 14
    • dari pengalaman inderawi. Dari pengalaman inderawi merekamendapatkan informasi tentang dunia yang sangat kurang daripadaharapan mereka. Hume menunjukkan bahwa dari penelitian yangdibuatnya, apapun yang diketahui tentang pengalaman inderawi, yangdihasilkan adalah skeptivisme yang sangat menyedihkan tentangpengetahuan sejati. Menurut Hume, pandangan mengenai apa yangterjadi di sekitar kita semata-mata diakibatkan oleh kerja psikologis yanganeh dari manusia. Apa yang menurut pendapat kita merupakanpengetahuan tak lain hanyalah suatu cara pengaturan pengalaman yangmasuk ke dalam memori kita. Perkembangan filsafat Inggris yang dimulaidari John Lock dan Hume pada abad 18 telah mengilhami aliran ilmupengetahuan yaitu: teori empiris.4. KEBENARANIlmu selalu dihubungkan dengan kenyataan dari pernyataan ataupenyangkalan, atau ‘kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan’.Jika saya menyatakan sesuatu, dan ternyata sesuatu yang sayanyatakan tersebut sesuai dengan apa adanya, disebut benar karenasesuai dengan lenyataan. Misalnya, saya menyatakan benda ituberwarna hijau, pemahaman saya terhadap benda itu tidak terpisah darikenyataan, dan itu adalah benar hijau. Epistemologi terkait erat dengan pernyataan benar danpertimbangan yang diberikannya. Di samping, itu epistemologi jugaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 15
    • memberi dasar pertimbangan yang paling mendasar kepada pernyataanyang diberikannya. Keakuratan kebenaran harus diputuskanberdasarkan bukti (evident), sesuai dengan keadaan yangsesungguhnya. Ini merupakan tugas utama epistemologi. Denganmengarahkan pertahatian kepada evidence, seorang epistomolog dapatmelepaskan diri dari perhatian dan keadaan yang terlalu sempit karenabatas inderawi, tetapi dapat mengabstraksinya sebagai hal yang bersifatkognitif. Bahasa lain yang dikemukakan oleh Popper, mereka yangmeragukan kemungkinan menemukan sesuatu yang sungguh benar,mengajarkan cara orang dapat maju di dunia tanpa pengetahuan yangpasti.11 Orang dapat menang dalam debat dengan bicara sangatmeyakinkan, seperti apa yang diucapkan seorang Shophis terkemuka,Protagoras, bahwa ‘manusia merupakan ukuran segalanya’, sementaraseorang sophis lain Gorgias mencanangkan: “Tak suatupun ada, dankalau ada, tak seorangpun dapat mengetahuinya, dan kalau merekamengetahuinya, mereka tak dapat mengomunikasikannya”.12 Dalam sejarah Barat, kita mengenal zaman yang palingberpengaruh terhadap dunia modern sekarang ini, yaitu Renaissancedan Humanisme,13 yaitu aliran yang menonjolkan kemampuan manusiasebagai pribadi yang dapat mempelajari pengetahuan, setelah merekaberhasil mempelajari naskah yang ditulis dalam bahasa Yunani dandapat mengembangkan pribadi sesuai dengan pengetahuan yangmereka miliki.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 16
    • Dengan mempelajari naskah Yunani kuno dan menerjemahkannaskah tersebut ke dalam bahasa Jerman, kaum intelektual pada waktuitu memperoleh kesempatan untuk mendalami aliran pemikiran, filsafat,filsafat ilmu, budaya, sistem pemerintahan, dan teknologi yang ada padazaman Yunani Kuno, dan dampaknya segera berkembang aliranHumanisme dan Renaisance. Perkembangan filsafat ilmu dimulai sejak zaman Renaissancedan Humanisme, yang pada dekade berikutnya diikuti dengan zamanrasionalisme. Berkaitan dengan filsafat ilmu tersebut berkembang jugapaham tentang benar, dan tepat menurut beberapa cabang ilmu.4.1 Kebenaran Menurut Ilmu EmpirisIstilah benar umumnya menyangkut isi ilmu itu sendiri, dan tepat bilailmu dilihat dari sudut proses mendapatkannya atau yang biasa disebutmetode, ataupun cara kerja ilmu tersebut. Ada beberapa macam carakerja ilmu atau jalan yang ditempuh untuk mencapai pengetahuan yangbenar, antara lain: proses pembentukan ilmu, hasil yang dicapai, metodedan sistem yang dipergunakan. Dalam ilmu alam atau fisika, kimia danbiologi dipergunakn serangkaian percobaan sehingga dapat ditemukanperkiraan atau hipotesis. Hipotesis diuji berkali-kali dalam beberapatemperatur udara, atau dipanasi dengan sengaja agar mendapatkanbentuk atau warna tertentu. Percobaan tersebut, setelah dianalisismenghasilkan simpulan yang disebut induksi. 14Panduan Penulisan K arya Ilmiah 17
    • Setelah diperoleh simpulan dari beberapa percobaan dapatdirumuskan dalil tertentu, misalnya: “air bila dipanasi terus menerusdapat menguap, besi apabila dipanasi terus menerus dapat meleleh”.Dalil yang dirumuskan mungkin bersifat sementara sebelum diuji cobadalam berbagai temperatur. Setelah diuji dalam berbagai temperaturdihasilkan simpulan yang lebih kurang sama, dalil tersebut sudahdianggap baku. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dapatdipergunakan sebagai acuan pada percobaan berikut untuk benda atautumbuhan yang sama. Langkah ini disebut deduksi. Dengan demikianproses deduksi - induksi merupakan cara untuk mendapatkan ketepatandan sekaligus kebenaran. Pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu kemanusian,kondisinya berbeda karena pada waktu diberi perlakuan atau pertanyaanmanusia memberikan reaksi yang berbada-beda antara manusia yangsatu dengan yang lain. Di dalam ilmu kemanusiaan ada dialektika antarasubyek dengan obyek. Dalam mementukan ‘benar’ ada perbedaan yang mendasar antarailmu empiris dan ilmu kemanusiaan. Sampai dengan abad 19 di antarapandangan ilmuwan ditemukan pandangan dasar, yang mementingkanobyek yang diketahui serta bagaimana berlangsungnya pengetahuantersebut. Kebenaran diartikan sebgai kesesuaian antara pengenal denganapa yang dikenal (Corspondence theory of truth,) dan teori tentangkebenaran sebagai keteguhan (cohenrence theory of truth). 15Panduan Penulisan K arya Ilmiah 18
    • Problema kebenaran, dipihak lain dapat dideskripsikan jugasebagai kesuaian antara pernyataan dengan eviden yang ada. Contoh, bilakita mengatakan bahwa pesawat ‘Lion Air’ yang jatuh di bandaraAdisumarma Surakarta, bulan Desember 2004, disebabkan oleh anginkencang dan landasan yang licin, serta banyak orang yang meninggal.Kejadian ini dianggap sesuatu yang benar. Tetapi kebenaran tersebuttidak dirinci secara baik, mungkin ada sesuatu yang kurang dijelaskansiapa saja yang meninggal, dan berapa orang, dari mana asalnya. Jadiproblema kebenaran bukanlah sesuatu yang tanpa syarat. Kebenaranharus didukung dengan kriterium dan eviden. Eviden yang baik terdiri dariberbagai fakta tersebut harus dapat dicek keadaannya sesuai denganketerangan yang dinyatakan. Kebenaran adalah kesuaian antarapernyataan atau berita dengan keadaan yang disebutkan. Kebenaran menurut ilmu Pasti agak dekat dengan kebenaran yangdikemukakan ilmu-ilmu empiris, yaitu sebagai suatu keteguhan yang agakdekat antara pernyataan dengan keadaan atau even yang tersedia.4. 2 Kebenaran Menurut FilsafatIlmu selalu dihubungkan dengan kenyataan dari pernyataan ataupenyangkalan, atau ‘kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan’. Jikasaya menyatakan sesuatu, dan ternyata sesuatu yang saya nyatakantersebut sesuai dengan apa adanya, disebut benar, karena sesuai dengankenyataan. Misalnya saya menyatakan benda itu berwarna hijau,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 19
    • pemahaman saya terhadap benda itu tidak terpisah dari kenyataan, karenabenda tersebut benar hijau. Tahapi teori tentang kebenaran dinyatakan sebagai penyesuaianantara si pengenal dengan apa yang dikenal. Karena pengetahuan itudisadari yang benar, jelaslah bahwa dalam anggapan Aristoteles mengenaikebenaran. Misalnya: pernyataan bahwa orang-orang ‘Akit’ (salah satu sukuterasing di Pulau Rupat, Kabupaten Kepulauan Riau), adalah bagian sukuMelayu. Keterangan lain seorang antropolog mengatakan bahwa orang Akitbukan bagian dari suku Melayu. Yang dijelaskan di dalam kalimat–kalimattersebut adalah apa yang mereka tegaskan, dan apa yang mereka ungkiri.Ilmu itu disadari sebagai subyek yang mengenal obyek dengan baik danbenar. Yang mengenal dengan yang dikenal itu identik satu sama laindalam ilmu yang sempurna. Sementara itu menurut Decartes, mengatakan bahwa ada tidaknyakebenaran tergantung pada ada tidaknya idea yang jelas, dan terpilah-pilahmengenai sesuatu (idea clara et idea) 16. Jadi kebenaran adalahkesesuaian antara idea dengan kenyataan. Manurut Kant, kebenaranadalah apa yang ada pada pihak pengenal saja, sebagai akibat kesan-kesan yang masuk lewat indera, diterima dalam susunan apriori ruang danwaktu si pengenal, dan dilanjutkan kepada kategori akal budi. SedangkanHegel menyebutkan kebenaran adalah keseluruhan, sebagai keteguhanyang sudah kita lihat. 17Panduan Penulisan K arya Ilmiah 20
    • Pertanyaan selanjutnya menyangkut apa yang disebut ‘kebenaranakal’ (truths of reason). Beberapa filsuf mengatakan bahwa teoripengetahuan yang memuaskan harus sesuai dengan kenyataan bahwabeberapa di antara kebenaran akal atau logika dan matematika. Tetapibebrapa filsuf lain merumuskan kriteria pengetahuan begitu rupa sehinggakatanya kebenaran akan tidak termasuk hal-hal yang kita ketahui. Di pihaklain ada yang mengtatakan bahwa kebenaran akal itu hanyalah cara orangberpikir atau cara penggunaan bahasa.5. PERSOALAN EPISTEMOLOGIRefleksi atas hakekat pengenalan membangkitkan sejumlah persoalanfilosofis yang membingungkan, yang disebut problema epistemologi.Problema tersebut pada garis besarnya telah dikemukakan olehRoderick M. Chisholm dalam Theory of Knowledge,18 dalam AlfonsTaryadi, dan ditangkap penelis, sebagai berikut.5.1 Perbedaan antara Ilmu dan OpiniDalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam pertemuan antara parasarjana. Seorang sarjana yang kebetulan pandai bicara mempunyaidugaan kebetulan tepat, tetapi sebenarnya dia tidak mempunyai bukti.Seorang yang lain mengetahui tetapi tidak mau mengatakan bahwa ia tahu,dia tidak mau menduga-duga. Mungkin apa yang dimiliki oleh orang keduatidak dimiliki oleh orang pertama? Mungkin orang akan berkata bahwaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 21
    • orang kedua memiliki evidensi, sedang orang pertama tidak memilikinya.Apa arti memiliki eviden, dan bagaimana dia memutuskan bahwa diamemiliki eviden atau tidak? Orang pertama menyampaikan pendapat atauopini, sedangkan orang kedua lebih berhati-hati dalam menyampaikanpernyataan karena dia tidak yakin akan ilmunya dengan eviden yang diamiliki. (1) Bagaimana Mencari Pembenaran (justifikasi) atas Pertanyaan bahwa Kita Mengetahui Sesuatu? Pengetahuan kita tentang sesuatu masalah harus berdasar padafakta yang benar tentang masalah tersebut, atau masalah lain yangberbeda tetapi masih ada kaitannya. Ini menimbulkan pertanyaan apakahada sesuatu yang nyata. dan kita ketahui secara langsung, sementaramasalah lain kita ketahui secara tidak langsung, misalnya dari berita yangditulis orang lain. (2) Haruskah Kita Mengatakan bahwa Seluruh yang Kita Ketahui pada waktu Tertentu, Merupakan ‘Struktur’ yang Mempunyai Dasar pada ‘eviden’ yang Kita Ketahu Secara Langsung Pada Waktu itu? Hal ini dipertanyakan sebab masalah-masalah yang kita ketahuibiasanya bukanlah masalah yang mempunyai eviden secara langsung,tetapi dalam usaha untuk mencari pembenaran atas pernyataan bahwa kitamengetahui secara khusus masalah itu, kita mudah digiring kepadaberbagai hal yang eviden secara langsung. Lalu dapat dipertanyakanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 22
    • apakah hubungan antara hal yang eviden sebagai dasar terhadap strukturtersebut bersifat defensif atau induktif, dan kalau tidak demikian apakahaturan yang dipergunakannya?5.2 Permasalahan MetafisisPenampakan benda-benda itu cederung bersifat subyektif, tergantung padakeadaan pemikiran si pelaku. Jadi penampakan benda-benda luarmerupakan duplikat dari benda-benda itu. Misalnya orang tidak pernahmelihat gajah tidak dapat mengatakan bahwa gajah itu besar, dan apabiladia tidak pernah melihat akibat dari suatu bajir bandang tsunami di Acehtidak dapat mengatakan bahwa banjir itu mengerikan.6. METODE ILMIAHDalam pemahaman tentang epistemologi dan logika, dan juga keterkaitanantara ilmu dengan filsafat. Ilmu adalah pengetahuan yang disusunberdasarkan sistem dan metodologi tertentu untuk memperoleh kebenaran.Pengetahuan yang diperoleh dengan pengamatan inderawi atau dialektikaantara subyek dengan obyek belum tentu merupakan ilmu, tetapi dapatmemberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu apabila pengamatanyang dipergunakan atau dialektika yang dikerjakan sesuai dengan metodetertentu yang dapat memberi eviden atau bukti nyata idea yang ada padapengenal (subjek).Panduan Penulisan K arya Ilmiah 23
    • 6.1 Metode InduksiPengertian ilmu seperti yang di kemukakan di atas diperoleh setelah’Revolusi Ilmiah’ yang terjadi pada abad 17, yang dipelopori olehKopernikus, Galileo dan Newton. Terdorong oleh pengalaman ekspirimenGalileo tersebut, filsuf Francis Bacon dan rekan-rekannya menganjurkanpada waktu itu bahwa ‘apabila kita hendak memahami alam, seharusnyakita berkonsultasi bukan dengan tulisan-tulisan Aristoteles.’ Bacon dankawan-kawan, yang ditulis J.J. Davies19 mereka berkesimpulan bahwa “Ilmuadalah suatu struktur yang dibangun di atas fakta-fakta”. Perintisan ekspirimen yang dikerjakan oleh Galileo, merubah sikapbahwa fakta-fakta yang dujicobakan adalah fakta yang obyektif dan tidakada sangkut pautnya dengan ide subyektif, seperti pendapat sebelumnya.Dari fakta-fakta tersebut, kemudian dapat dibangun sebuah teori.20Sebelum zamani Humanisme, ilmu mengikuti konsep-konsep Aristoteles,berdasarkan akal budi yang menelurkan dugaan-dugaan yang lebih lebihdihormati daripada pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindera.21Pengetauan lewat akal budi ini selanjutnya ditentang oleh para ahli pikiryang cenderung memandang pengetahuan lewat pancaindra, berdasarkanpengalaman, pengamatan, dan aroma lebih dapat memberikan penjelasanrasional, karena dalam mengamati dengan pancaindera, si pengamat jugatelah mempergunakan pengertian, pemahaman, yang merupakan bagiandari akal budi atau rasio. Bila kita melihat seekor ular, pancaindera kitamelakukan proses pengamatan. Proses menghubungkan antara memoriPanduan Penulisan K arya Ilmiah 24
    • tentang binatang merayap, dan berbisa yang tidak berkaki, telahmempergunakan rasio, jadi akal dan budi telah bekerja. Dalam membangun sebuah teori, bukan hanya akal budi atau rasioyang membayangkan sesuatu, tetapi akal budi tersebut berkerja denganmendapat rangsangan dari benda-benda, keadaan, dan masalah yangdipelajari sehingga membentuk struktur dalam rasio kita. Metode ini disebutinduksi naïf. 22 Untuk melakukan pengamatan seorang peneliti harusmemiliki organ-organ indera yang normal dan sehat, jujur, obyektif, telitidalam kondisi bagaimana fakta tersebut diamati.6.2 Metode DeduksiMetode deduksi dimaksudkan untuk menemukan hubungan logis yang adadi antara teori-teori yang diajukan. Untuk mengkaji teori-teori tersebutmenurut Popper ada beberapa syarat, antara lain:23 Pertama, terdapat hubungan logis antara simpulan-simpulan itusendiri. Dengan membandingkan simpulan-simpulan tersebut, diuji apakahsistem yang disodorkan tadi mempunyai konsistensi internal. Kedua,apakah teori yang diajukan tersebut memiliki sifat empiris, atau ilmiah.Ketiga, perbandingan dengan teori-teori lain, terutama dengan maksuduntuk menentukan apakah teori yang bersangkutan akan membawa suatukemajuan ilmiah seandainya tetap tidak gugur oleh hasil ujian. Danpengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris simpulan-simpulanyang ditarik dari teori tersebut, menjadi lebih jelas. Dengan demikian ujiPanduan Penulisan K arya Ilmiah 25
    • deduktif mempunyai tujuan praktis yang diakibatkan oleh teori-teori yangdihasilkan dari ekpirimen ilmiah maupun oleh teknologi secara praktis.Prosedur pengujian ini bersifat deduktif. Sudut pandang lain, dikemukakanoleh Verhaak dan Haryono, mengatakan bahwa deduksi adalah caramenarik simpulan secara logis, dari masalah yang umum atau general kemasalah khusus. Berangkat dari temuan Galileo bahwa semua planet bergerakmengikuti garis elips dan mengitari matahari, dapat diketahui dandisimpulkan bahwa planet Mercurius, mengikuti hukum yang sama.Demikian juga bila ditemukan suatu hasil ekspirimen yang membuktikanbahwa besi bila dipanasi sampai suhu tertentu memuai, bentangan relkereta api dari Anyer sampai Banyuwangi, bila dipasang rapat tidak adacelah antara sambungan satu dengan yang lain, pada waktu kena panas,akan melengkung. Kedudukan logika dalam dalam semua sistem logika proposisiamat penting untuk mengamati ilmu-ilmu empiris. Logika proposisi bertitikpangkal pada proposisi, yaitu ungkapan yang berdiri sendiri dalam suatusistem S. Misalnya variabel p, q, r, s. Di samping itu ada variabel konstanyang ada hubunganya dengan veriabel, diberi simbul dengan huruf besar,seperti N. Yang dimasud logika proposisi dalam logika formal modernadalah suatu ungkapan yang tidak mengandung “arti”, namun merupakansuatu variabel. 24Panduan Penulisan K arya Ilmiah 26
    • Pokok logika proposisi dalam bentuknya yang paling sederhanadidasarkan pada anggapan bahwa setiap proposisi entah tunggal (p, q, r, s)atau (Apqr, Npqr) atau konstan punyai nilai kebenaran. Umumnya nilaibenar diberi angka 1 dan salah diberi nilai 0. Bila seorang peneliti mengambil keputusan bersyarat, diamempergunakan silogisme hipotetis. Misalnya, apabila p terjadi q, atauapabila hujan turun, udara menjadi sejuk. Hurup p dan q merupakanproposisi. Di sini ada yang disebut primus ‘mayor’, yaitu p dan primus‘minor’ q. Dalam hubungan antara primus mayor dan minor di sini dapatterjadi empat bentuk. Keempat bentuk tersebut adalah: Simbul p, artinya “terjadilah”, dan (2) “bukan p”, artinya p ”tidakterjadi”. (3) “Dan q”, (4) dan “bukan q”. artinya “tidak terjadi”. Bentuk satudua, tidak dapat ditarik simpulan, demikian juga bentuk satu tiga, dan duaempat. Yang dapat ditarik simpulan hanyah bentuk satu dan empat. Artinyabila terjadi p, tidak trjadi q. Simpulan tersebut tentu saja dapat dibalik:“apabila tidak terjadi p” “tidak terjadi q”. Untuk terjadi q diperlukan syarattertentu. Pernyataan atau primus mayor dan primus minor keduanya harusmasuk akal, dapat terjadi hukum logis. Misalnya primus mayor tidak logisprimus minor tentu tidak logis, sebaliknya primus mayor logis, belum tentuprimus minor logis. Misalnya, bila semua orang berbulu tebal keturunan kera, Si Baduberbulu tebal, jadi Badu keturunan kera. Empat bentuk atau modelsilogisme hipotesis, menurut Verhaak diberi nama: Bentuk (1) diberi namaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 27
    • “modus ponendo ponen”, (penegasan sesuatu yaitu q, karena lebihdulu memberi penegasan sesuatu yang lain yaitu p ) hampir merupakantautology saja, yakni mengulangi apa yang sudah ditegaskan. Bentuk (2)dan (3) tidak syah tidak diberi nama. Bentuk (4) diberi nama “modustollendo tollen” ( mengungkiri sesustu, p berdasarkan kemungknan lainyang lebih dulu yaitu q). 25 Bentuk (1) dan (4) merupakan bentuk deduksi, seperti halnyasilogisme kategoris yang salah satu bentuknya adalah: M – P, S – M, S – P.Selain itu perlu diingat bahwa simpulan deduksi berlaku dimana-manasecara mutlak dan niscaya.Catatan :1 Fred N. Kerlinger, Faundation of Behavioral Reseach, New York: Holt Renehart and Winston, Inc. hlm. 3. “…Common sense may often be bad master for the evaluation of knowledge. But how are science and common sense alike and how are they different? From one vieuwpoint, science and common sense are alike. The view would say that science is a systematic and controlled extention of commen sence…”2 Hardono Hadi, P. Epistemologi, Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm.183 Fred N. Kerlinger, Ibid. hlm. 18. “A Hypthesis is a conjectictural statement between two variables or more variables, Hypotesis are always in declarative sentence form, and they related,either generally or specifically variables to variables”Panduan Penulisan K arya Ilmiah 28
    • 4 Hardono Hadi, P. Ibid. hlm. 25.5 Roderick Firth, dalam International Encyclopedia, Lexicon Publication Inc., 1977, hlm. 500 – 2. “Epistimology from the Greek term meaning Knowledge, a major branch of philoshophy devote primarily to the achievement of better understanding of consept of knowledge. It Also concerns itself with other closely related consepts, such as those of bilief, truth, faith, meaning, certainty, confirmation, justification, and rationality. To Say that some of our true conviction are genuine knowledge (as appost to lucky guinesses or matter of faith) seem to imply that these convictions are capable of justification, and for this reason the history of epistimology is in large part of attempt to specify the condition under which we can maintain that various of kind of conviction ( since, ethic and religious)”6 Hardono Hadi, P. Ibid. hlm. 6.7 Hardono Hadi, P. Ibid. hlm. 19.8 Hardono Hadi, P. Ibid.9 Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1992. hlm. 70. “Decartes menolak dalil-dalil filsafat sebelumnya yang didasarkan pada pengandaian-pengandaian, apa yang dianjurkan hanyalah langkah demi langkah dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu hanya satu cara untuk menjamin keradikalan filsafat, yaitu kesangsian. Pada fakta dia sedang menyangsikan segala- galanya. Dan kalau pasti bahwa saya berpikir, ada lagi yang pasti dan tidak dapat diragukan yaitu bahwa saya sendiri ada: cogito ergo sum!”10 Franz Magnis Suseno, Opcit. hlm. 73.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 29
    • 11 Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah, Jakarta: PT Gramedia, 1991, hlm. 68.12 Alfons Taryadi, Ibid. hlm. 3.13 Louis Gottschalk, Et.All. History of Mankind Cultural and Science Development, Great Britain, 1989. hlm.233. “Many humanists in Germany and abroad among them Crotus Rubeanus, Hutten, Johannes Occolampadiu, Martin Bucer, and, most important of all, young Philipp Melnchthon, was at twinty one professor of greek at wittenburg, was Luther’s trusted surrogate in Watemberg. … assisted him in translating the Bible and organizing the reform, and published the firt systematic summary of reform theology…”14 Thomas S.Kuhn. The Strusture of Scientific Revolution, Chicago: University of Chicago Press, 1970, hlm. 23.15 C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama, 1991, hlm. 122.16 C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Ibid. hlm. 129.17 C. Verhaak dan R. Haryono Imam. Ibid. hlm. 13018 Roderick M. Chisholm, Theory of Knowledge, Prinice Hall Inc. Englewood Cliff N.J., 1966.19 J.J.Davies, On The Scientific Method, London: Longman, hlm. 820 H. D. Amthony, dalam A.F. Calmers. Apa itu yang disebut Ilmu? Jakarta: Hasta Mitra, 1983.21 C.A. van Peursen. Orientasi di Alam Pemikiran Filsafat (terjemanhan Dick Hartoko), Jakarta: PT Gramedia Jakarta, 1979, hlm. 19. ”DalamPanduan Penulisan K arya Ilmiah 30
    • sejarah filsafat, cepat juga dua macam bentuk pengetahuan menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahaun lewat pancaindra dan pengatahuan lewat akal budi. Oleh ahli-ahli pkir Yunani pengetahuan yang diperoleh lewat pancaindera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu, bahkan yang menyesatkan, sedangkan pengetahuan berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahaun sejati”.22 A.F. Calmers. Apa itu yang disebut Ilmu? Jakarta: Hasta Mitra, 1983. hlm. 2.23 Alfons Taryadi, Ibid. hlm. 23.24 C. Verhaak dan R. Haryono, Ibid. hlm. 18. “Selain proposisi variabel itu juga ditandai dengan cara tertentu, yang menyatakan sesuatu yang konstan, mempunyai arti tetap dalam sistem S. Dalam banyak sistem logika proposisi modern digunakan tanda-tanda matematika “25 Ibid, hlm. 25 “Bentuk ini termasyur dan berperan penting dalam cara kerja ilmu empiris, merupakan azas filsafat.”Panduan Penulisan K arya Ilmiah 31
    • BAGIAN II PANDUAN UMUM PENULISAN KARYA ILMIAHPanduan Penulisan K arya Ilmiah 32
    • Panduan Penulisan K arya Ilmiah 33
    • 1. HAKIKAT DAN KEDUDUKAN KARYA ILMIAH Sebagaimana di Perguruan Tinggi pada umumnya, secaraoperasional kegiatan intrakurikuler, mahasiswa mau tidak mau harusmenghasilkan karya ilmiah, baik berupa tugas akhir, skripsi atau setaraskripsi (Proyek Studi), tesis, disertasi. Karya ilmiah merupakan bagian darikebutuhan formal akademik di setiap perguruan tinggi, tidak terkecualiUniversitas Negeri Semarang (Unnes). Karya ilmiah adalah suatu karangan yang mengandung ilmupengetahuan dan kebenaran ilmiah yang menyajikan fakta dan disusunsecara sistematis menurut metode penulisan dengan menggunakan bahasaragam ilmiah. Secara ringkas dapat diartikan bahwa pada dasarnya karyailmiah merupakan laporan ilmiah. Laporan yang dimaksud dapat berupalaporan kegiatan ilmiah, kegiatan kajian, dan kegiatan penelitian, baikpenelitian lapangan, laboratorium, maupun kepustakaan. Karya ilmiahsebagai laporan kegiatan ilmiah memiliki berbagai jenis, yaitu: makalah,artikel, laporan buku/bab, karya tulis ilmiah, tugas akhir, skripsi, tesis,disertasi, dan buku. Jenis karya ilmiah berdasarkan tujuanya dapat diklasifikasikasimenjadi dua. Pertama, karya ilmiah yang bertujuan untuk memenuhi tugas-tugas perkuliahan. Bentuk karya ilmiah ini yaitu: makalah, laporanbuku/bab, dan karya tulis ilmiah. Sebagai bagian dari tugas perkuliahan,karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari sistem Satuan Kridit Semester(SKS) yang merupakan komponen tugas terstruktur yang harus dipenuhioleh mahasiswa di luar perkuliahan.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 34
    • Kedua, karya ilmiah yang bertujuan untuk memenuhi persyaratanmenyelesaikan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa. Bentuk karyailmiah ini yaitu: tugas akhir (TA) untuk jenjang Diploma, skripsi untuk jenjangStrata 1 (S-1), tesis untuk jenjang Strata 2 (S-2), dan disertasi untuk jenjangStrata 3 (S-3). Tugas akhir wajib disusun oleh mahasiswa program ahlimadya,. Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik mahaisswa dalampenelitian yang berhubungan denghan masalah yang sesuai dengan bidangstudinya untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelas Sarjana.Kemudian, tesis wajib disusun oleh mahasiswa program Magister (S-2) dandisertasi wajib disusun oleh mahasiswa program Doktor (S-3) dalam rangkamenyelesaikan studinya. Berdasarkan fungsinya, karya ilmiah terdiri atas: (1) karya ilmiahakademis dan (2) karya ilmiah profesional. Karya ilmiah akademismerupakan karya ilmiah yang dibuat untuk kepentingan akademis denganbimbingan dan tanggung jawab orang yang lebih profesional, tidakdipublikasikan dengan lebih menekankan pada proses bukan pada hasilyang memerlukan pengujian untuk menentukan kualitas karya tersebut.Bentuk karya ilmiah akademis adalah (1) paper, (2) skripsi, (3) tesis, dan(4) disertasi. Karya ilmiah yang berbentuk paper sering juga disebutmakalah atau karya tulis ilmiah. Karya ilmiah yang berbentuk skripsi, tesisdan disertasi adalah karya ilmiah yang dibuat untuk memenuhi persyaratandalam pencapaian gelar sarjana (untuk skripsi), magister (untuk tesis), dandoktor (untuk disertasi). Karya ilmiah profesional yaitu karya ilmiah yang dibuat untukpengembangan profesi bagi para profesional dengan tujuan untukmenyebarluaskan informasi akademis dengan proses penulisan tidakmemerlukan bimbingan, tetapi tetap memerlukan pengujian dan lebihmenekankan pada hasil. Bentuk karya ilmiah profesional adalah (1) buku,(2) makalah, (3) kertas kerja, (4) artikel, dan (5) laporan penelitian. Karya ilmiah yang berbentuk buku adalah buku yang berisi faktaumum ilmiah dan ditulis dengan sistem penulisan yang standar. Makalahadalah karya ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannyaberdasarkan data di lapangan yang bersifat objektif. Kertas kerja adalahPanduan Penulisan K arya Ilmiah 35
    • karya ilmiah yang berisi analisis terhadap fakta secara objektif,perbedaannya dengan makalah adalah analisis yang lebih mendalamdaripada analisis data dalam makalah. Artikel adalah karya ilmiah yangditerbitkan di jurnal ilmiah. Kemudian, laporan penelitian adalah karya ilmiahyang menyajikan data dan analisis suatu penelitian. Dari paparan di atas, karya ilmiah di Universitas Negeri Semarang,memunyai kedudukan: (1) wahana bagi mahasiswa untuk menyajikan nilai-nilai teoretis maupun praktis secara objektif dan sistematis yang merupakanproduk atas dasar pengetahuan dan menurut metode penulisan denganmenggunakan bahasa ragam ilmiah. (2) wahana bagi civitas akedemika untuk memberikan kontribusidalam perkembanngan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.2. BAGIAN KARYA ILMIAH Dalam penulisannya karya ilmiah harus sesuai dengan sistematikadan metode penulisan yang tepat. Sistematika penulisan dalam karya ilmiahterdiri atas bagian-bagian yang berurutan. Secara umum, pola dasar karyailmiah paling tidak berisikan bagian-bagian yang sudah baku, yaitu bagianpengenalan, batang tubuh, dan kepustakaan. Bagian pengenalan dalam karya ilmiah merupakan bagian awalyang berisi hal-hal yang bersifat informatif tentang karya ilmiah tersebut.Dalam bagian pengenalan ada dua jenis pengenalan, yaitu bagianpengenalan yang bersifat umum dan bagian pengenalan yang bersifatkhusus. Bagian pengenalan dalam masing-masing bentuk karya ilmiahadalah tidak sama. Bagian pengenalan pada jenis karya ilmiah yangberbentuk buku berbeda dengan bagian pengenalan bentuk makalah,kertas kerja, artikel, skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Beberapabutir pada bagian pengenalan yang terdapat dalam semua jenis karyailmiah yaitu judul dan kepemilikan karya ilmiah atau nama penulis. Judul adalah identitas tulisan yang merupakan kepala karangan.Syarat judul yang baik adalah mencerminkan isi karangan, berupaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 36
    • pernyataan, bersifat singkat dan jelas serta menarik. Dalam bariskepemilikan biasanya dituliskan nama penulis beserta lembaganya. Namapenulis hendaknya tidak menyertakan gelar atau pangkat, jika penulis lebihdari satu harus dicantumkan semua. Pangkat dan gelar dapat dicantumkanpada bagian biografi pengarang jika ada. Butir yang lain dalam bagian pengenalan adalah abstrak. Abstrakadalah ringkasan tulisan. Dalam abstrak tercakupi seluruh bagian isikarangan, dari pendahuluan sampai penutup. Kata kunci adalah kata-kataatau istilah yang dianggap penting dan mutlak harus diketahui pembacadalam sebuah karya ilmiah. Kemudian, terdapat pula prakata dan katapengantar. Keduanya merupakan istilah yang berbeda, pengantar adalahtulisan awal yang ditulis oleh penulisnya sendiri, sedangkan kata pengantaradalah tulisan awal yang ditulis oleh orang lain yang menguasai karyailmiah yang bersangkutan. Bagian kedua dalam penulisan karya ilmiah adalah batang tubuh.Batang tubuh adalah isi karya ilmiah yang sebenarnya. Secara umumbatang tubuh terbagi menjadi tiga, yaitu pendahuluan, isi dan penutup.Bagian pendahuluan dalam karya ilmiah setidaknya berisi latar belakang,masalah, dan rumusan masalah. Untuk karya ilmiah yang berbentuk skripsi,tesis, disertasi dan laporan penelitian bagian pendahuluan berisi latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat. Bagian keduadalam batang tubuh adalah bagian isi. Untuk karya ilmiah yang berbentukbuku, makalah, artikel dan kertas kerja berisi persoalan-persoalan inti ataumateri inti yang disajikan. Untuk karya ilmiah yang berbentuk artikel, skripsi,tesis, disertasi, dan laporan penelitian bagian isi berupa landasan teoretis,metode, dan hasil, serta pembahasan. Bagian akhir dalam batang tubuhadalah bagian penutup yang berisi simpulan dan saran. Bagian terakhir dalam penulisan karya ilmiah adalah bagiankepustakaan. Bagian kepustakaan mencakup daftar pustaka dan lampiran-lampiran, seperti indeks dan biografi pengarang. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwabagian-bagian karya ilmiah pada intinya terbagi menjadi 3 bagian pokok,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 37
    • yaitu bagian pengenalan, batang tubuh dan bagian penutup. Bagianpengenalan berisi hal-hal yang bersifat informatif yang menunjukkanidentitas karya ilmiah, yaitu judul, nama penulis, pengantar dan atau katapengantar dan abstrak bagi karya ilmiah yang bersifat laporan penelitian.Bagian batang tubuh merupakan bagian inti dalam karya ilmiah. Padabagian batang tubuh terdapat tiga bagian unsur, yaitu pendahuluan,isi/pembahasan, dan penutup. Pada bagian pendahuluan berisi latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat. Bagianisi/pembahasan memuat landasan teoretis, metodologi penelitian danpembahasan hasil penelitian. Pada bagian penutup berisi simpulan dansaran. Bagian terakhir dalam karya ilmiah adalah kepustakaan, berisi daftarpustaka dan lampiran.3. KARAKTERISTIK KARYA ILMIAH3.1 Makalah Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu topiktertentu yang tercakup dalam suatu mata kuliah. Makalah merupakan salahsatu persyaratan untuk memenuhi tugas atau menyelesaikan suatuperkuliahan, baik mahasiswa program Diploma, Strata 1 (S-1), Strata 2 (S-2), dan Strata 3 (S-3). Makalah memiliki karakteristik sebagai berikut. (1) menyajikan hasil kajian literatur yang berkaitan dengan topik atau cakupan permasalahan; (2) menerapkan pemahaman tentang teori, prinsip, atau metode tertentu yang berkaitan dengan materi perkuliahan; (3) menerapkan kemampuan mengemas berbagai sumber informasi dalam satu pembahasan yang utuh.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 38
    • 3.2 Laporan Buku/Bab/Artikel Ilmiah Laporan buku/bab/artikel ilmiah merupakan karya tulis ilmiah yangmenyajikan pemahaman mahasiswa terhadap isi buku/bab/artikel ilmiahyang disertai dengan ulasan atau pandangan penulis. Selain itu, laporanbuku/bab/artikel ilmiah juga dapat menyajikan analisis, kritik, justifikasiterhadap isi buku/bab/artikel ilmiah. SEbagai bagian dari tugas perkuliahan,buku/bab/artikel ilmiah yang dilaporkan ditentukan oleh dosen atau dapatpula diusulkan oleh mahasiswa setelah mendapat persetujuan dosen yangbersangkutan. Laporan buku/bab/artikel ilmiah bertujuan untuk memperdalam danmemperluas wawasan dan pemahaman mahasiswa tentang topik yangdisajikan atau dibahas dalam suatu mata kuliah yang ditempuhnya. Untukitu, laporan buku/bab/artikel ilmiah memiliki kriteria sebagai berikut. (1) Buku/bab/artikel ilmiah yang dilaporkan harus aktual, minimal terbitan lima tahun terakhir. (2) Buku/bab/artikel ilmiah yang dilaporkan memunyai kualitas isi yang baik. (3) Buku/bab/artikel ilmiah yang dilaporkan memberikan kontribusi bagi mahasiswa untuk memperdalam topik yang dibahas dalam mata kuliah.3.3 Skripsi Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun dandipertahankan sebagai persyaratan untuk mencapai gelar SarjanaPendidikan atau Sarjana Non-Pendidikan. Skripsi merupakan buktikemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungandengan masalah yang sesuai dengan bidang keahlian atau bidang studinya.Untuk itu, skripsi memunyai criteria sebagai berikut:Panduan Penulisan K arya Ilmiah 39
    • (1) Topik skripsi dapat bersumber dari permasalahan- permasalahan yang sesuai dengan bidang studi atau bidang keahlian mahasiswa. (2) Skripsi ditulis atas dasar hasil pengamatan dan observasi lapangan dan/atau penelaahan pustaka yang relevan. (3) Skripsi ditulis sendiri oleh mahasiswa dengan bimbingan dosen yang sesuai dengan bidang keahlianya dan telah ditetapkan oleh surat tugas dekan. (4) Skripsi ditulis daalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk program studi atau jurusan tertentu skripsi dapat ditulis dalam bahasa minat (bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, bahasa asing lainnya), dengan menuliskan abstrak dalam bahasa minat (bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, bahasa asing lainnya) dan bahasa Indonesia. (5) Skripsi dipertahankan sendiri oleh mahasiswa di hadapan tim penguji yang ditetapkan dengan surat tugas Dekan.3.4 Tesis Tesis merupakan karya tulis ilmiah yang disusun dan dipertahankansebagai persyaratan untuk menyelesaikan program Magister (S-2). Tesismerupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian danpengembangan keilmuwan pada salah satu bidang keilmuwan yang sedangditempuh oleh mahasiswa. Tesis disusun untuk meraih gelar MagisterPendidikan (M.Pd), Magister Manajemen Pendidikan (MP). Tesis memilikikarakteristik sebagai berikut ini.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 40
    • (1) Topik tesis berfokus pada kajian yang aktual yang tercakup dalam salah satu disiplin ilmu, sesuai dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa. (2) Tesis ditulis atas dasar pengujian empirik terahadap teori tertentu dalam disiplin ilmu yang dipelajari. (3) Tesis ---untuk penelitian lapangan--- menggunakan data primer (data yang dikumpulkan dari lapangan) yang dapat ditunjang oleh data sekunder. Untuk penelitian bibliografi digunakan sumber-sumber yang otentik. (4) Tesis ditulis sendiri oleh mahasiswa dengan bimbingan dosen yang sesuai dengan bidang keahlianya dan telah ditetapkan oleh surat tugas Direktur Program Pascasarjana. (5) Tesis ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan menuliskan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Untuk program studi atau jurusan tertentu, tesis dapat ditulis dalam bahasa minat (bahasa Inggris). (6) Tesis dipertahankan sendiri oleh mahasiswa yang bersangkutan di hadapan tim penguji yang ditetapkan dengan surat tugas Direktur Program Pascasarjana.3.5 Disertasi Disertasi merupakan karya tulis ilmiah yang disusun dandipertahankan sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program DoktorPanduan Penulisan K arya Ilmiah 41
    • (S-3). Disertasi merupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalammelakukan penelitian yang berkaitan temuan baru pada salah satu disiplinilmu yang sedang ditempuh oleh mahasiswa. Disertasi disusun dandipertahankan untuk meraih derajat gelar Doktor. Disertasi memilikikarakteristik sebagai berikut ini. (1) Topik disertasi berfokus pada kajian mengenai salah satu disiplin ilmu yang sesuai dengan bidang yang dipelajari oleh mahasiswa. (2) Disertasi ditulis atas temuan sesuatu yang baru dalam disiplin ilmu yang dikaji secara mendalam, baik berupa pengujian terhadap teori-teori yang ada, pengembangan teori dan prinsip- prinsip baru, tau pengembangan suatu model baru yang diuji di lapangan. (3) Disertasi menggunakan data primer (data yang dikumpulkan dari lapangan) yang dapat ditunjang pula oleh data sekunder. (4) Disertasi ditulis sendiri oleh mahasiswa dengan bimbingan dosen, yaitu: promotor, ko-promotor, dan anggota yang sesuai dengan bidang keahlianya dan telah ditetapkan oleh surat tugas Direktur Program Pascasarjana. (5) Disertasi ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan menuliskan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Untuk program studi atau jurusan tertentu disertasi dapat ditulis dalam bahasa minat (bahasa Inggris),Panduan Penulisan K arya Ilmiah 42
    • dengan menuliskan abstrak dalam bahasa minat (bahasa Inggris) dan bahasa Indonesia. (6) Disertasi dipertahankan sendiri oleh mahasiswa yang bersangkutan di hadapan tim penguji yang ditetapkan dengan surat tugas Direktur Program Pascasarjana.4. BAGIAN-BAGIAN SKRIPSI, TESIS, DAN DISERTASI Sosok skripsi, tesis dan disertasi terdiri atas tiga bagian, yaknibagian awal, bagian pokok, dan bagian akhir. Bagian awal adalah bagianmulai dari sampul sampai dengan bagian sebelum bab pendahuluan. Mulaibab pendahuluan sampai dengan penutup merupakan bagian pokok,sedangkan bagian sesudah itu merupakan bagian akhir.4.1 Bagian Awal Bagian awal skripsi terdiri atas sampul, lembar kosong berlogoUniversitas Negeri Semarang bergaris tengah 13 cm, lembar judul, lembarpengesahan, lembar pernyataan, lembar motto dan peruntukan, lembarabstrak (khusus untuk tesis dan disertai ditambah abstrak berbahasainggris), kata pengantar, daftar isi, daftar singkatan dan tanda teknis (kalauada), daftar tabel (kalau ada), daftar gambar (kalau ada), dan daftarlampiran (kalau ada). Lembar bagian awal ini diberi nomor halaman dengan hurufRomawi kecil, ditaruh di kaki halaman bagian tengah. Penomoran halamanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 43
    • dimulai dari lembar judul (bukan sampul) sampai dengan lembar sebelumbab pendahuluan.4.1.1 Sampul Pada sampul bagian tengah atas terdapat logo Universitas NegeriSemarang, bergaris tengah 3 cm. Di bawahnya dituliskan judul denganhuruf kapital tebal berukuran 15-16. Di bawahnya tertulis kata“SKRIPSI/TESIS/DISERTASI” (dipilih salah satu) yang dicetak dengan hurufkapital tebal berukuran 14, diikuti pada baris berikutnya kalimat denganhuruf kapital tebal juga dengan ukuran 12, yang berbunyi “Untukmemperoleh gelar sarjana.../magister.../doktor “...(dipilih salah satu; diisibidang studi yang ditempuh) pada Universitas Negeri Semarang. Di bawahnya dituliskan dengan huruf berukuran 12 kata “oleh”(tanpa tanda titik dua), di bawahnya lagi dituliskan nama, dan di bawahnyalagi NIM ... (diisi angkanya). Pada kaki halaman dituliskan dengan hurufkapital tebal berukuran 14-15 nama Fakultas, Jurusan dan atau ProgramStudi, dan di bawahnya lagi tahun ujian skripsi/tesis/disertasi. Semuanya itudicetak dengan huruf Roman tegak, diatur secara simetris dengankomposisi yang serasi. Sampul dibuat dari bahan tebal. Di punggungsampul dibubuhkan logo (berdiri), nama (memanjang, dengan huruf biasaberukuran 12), judul (memanjang, dengan huruf kapital berukuran 14),skripsi/tesis/disertasi, dan tahun. Contoh sampul lihat lampiran 1.4.1.2 Lembar BerlogoPanduan Penulisan K arya Ilmiah 44
    • Lembar kosong berlogo merupakan pembatas antara sampul danlembar judul.4.1.3 Judul Lembar judul bunyinya sama dengan yang terdapat pada sampul,hanya saja dicetak pada kertas hvs putih dengan bobot terendah 70 gr.4.1.4 Pengesahan Kelulusan Lembar ini berisi pernyataan berikut: Skripsi/Tesis/Disertasi ini(dipilih salah satu) telah dipertahankan di hadapan Panitia Peng-ujiSkripsi/Tesis/Disertasi (dipilih salah satu) Fakultas/ProgramPascasarjana/Universitas Negeri Semarang pada hari..., tanggal...(bulandan tahun). Untuk skripsi panitianya panitia fakultas, untuk tesis panitiaProgram Pascasarjana, dan untuk disertasi panitia Universitas. Selanjutnya dicantumkan Ketua, Sekretaris, dan Anggota panitiapenguji, yang masing-masing disertai tempat pembubuhan tanda tanganbeserta nama lengkap dan NIP-nya. Contoh lembar Persetujuan Pengujilihat lampiran 3.4.1.5 Pernyataan Lembar ini diberi judul PERNYATAAN, ditulis di tengah atas. Isipernyataan itu ialah bahwa skripsi/tesis/disertasi ini hasil karya (penelitiandan tulisan) sendiri, bukan buatan orang lain, dan tidak menjiplak karyaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 45
    • ilmiah orang lain, baik seluruhnya maupun sebagian. Contoh LembarPernyataan lihat lampiran 4.4.1.6 Motto dan Peruntukan Lembar ini boleh ada, boleh tidak. Motto adalah ungkapan bijakuntuk kehidupan, yang dipilih berkaitan dengan judul skripsi/tesis/disertasi.Peruntukan adalah pernyataan bahwa karya ilmiah itu diperuntukkankepada orang atau lembaga tertentu. Contoh lembar motto danpersembahan lihat lampiran 5.4.1.7 Kata Pengantar Lembar kata pengantar diberi judul ”KATA PENGANTAR” yangdiletakkan di tengah atas. Dalam kata pengantar boleh dikemukakanungkapan puji syukur, namun yang pokok adalah ucapan terima kasihsecara jujur dan wajar kepada orang-orang, lembaga, atau lainnya yanglangsung membantu pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi, tesis,disertasi. Dalam kata pengantar tidak boleh ada pernyataan bahwa penulisyakin akan adanya banyak kesalahan atau kekurangan dalam skripsi, tesis,atau disertasinya dan atas dasar itu penulis minta maaf, sertamengharapkan kritik dari pembaca. Kalau penulis yakin bahwa dalamskripsi, tesis, atau disertasinya itu masih banyak kesalahan ataukekurangan, skripsi, tesis, atau disertasi itu harus diperbaiki dulu sebelumPanduan Penulisan K arya Ilmiah 46
    • ujian karena kesalahan ilmiah tidak dapat diselesaikan dengan permintaanmaaf. Lagipula harapan kritik itu tidak diperlukan sebab skripsi, tesis, ataudisertasi adalah karya ilmiah untuk diuji. Baru kalau nantinya naskah skripsi,tesis, atau disertasi itu akan diterbitkan, permintaan kritik itu dinyatakan.Teks kata pengantar diketik dengan spasi dua, seperti halnya naskahbagian utama, tidak boleh lebih dari dua halaman. Pada akhir teks katapengantar dicantumkan kata Penulis, tanpa disertai nama, diletakkan dipojok kanan bawah.4.1.8 Abstrak Abstrak ditulis pada lembar baru, diberi judul ”ABSTRAK”, ditulis ditengah atas, dicetak dengan huruf kapital. Di bawahnya, dengan jarak duaspasi dicantumkan nama akhir penulis, diikuti tanda koma, lalu nama depandan tengah (kalau ada), diikuti tanda titik, lalu tahun lulus ujian, diikuti tandatitik; diikuti judul skripsi, tesis, atau disertasi. Selanjutnya dicantumkan kataSkripsi Jurusan/Program...Universitas Negeri Semarang diakhiri tanda titik,disusul dengan pencantuman nama-nama pembimbing. Pada baris baru berikutnya dicantumkan Kata-kata kunci: ...,berkisar dari tiga sampai dengan lima kata. Pada baris berikutnya, dengan jarak dua spasi ditulis teks abstrakdengan spasi satu. Isi abstrak meliputi latar belakang masalah, rumusanmasalah, pendekatan dan metode yang digunakan, hasil yang diperoleh,dan saran yang diajukan. Butir-butir ini hendaklah ditulis dalam paragrafPanduan Penulisan K arya Ilmiah 47
    • yang berbeda, dengan tidak menolak kemungkinan untuk memecah butirtertentu untuk dituangkan dalam paragraf yang berbeda kalau diperlukan.Keseluruhan teks abstrak tidak boleh lebih dari satu halaman kuarto.Contoh abstrak lihat lampiran 6. Khusus untuk tesis dan disertasi, abstrak berbahasa Inggerisdengan judul ”ABSTRACT” wajib disertakan pada lembar terpisah setelahabstrak berbahasa Indonesia.4.1.9 Daftar Isi Dalam daftar isi dimuat judul-judul yang terdapat pada bagian awalskripsi, tesis, atau disertasi, mulai dari abstrak, judul-judul bab besertasubbab dan anak subbabnya masing-masing, dan judul-judul pada bagianakhir. Kecuali judul subbab dan anak subbab, semuanya diketik denganhuruf kapital.4.1.10 Daftar Singkatan dan Tanda Teknis Daftar ini memuat singkatan teknis beserta kepanjangannya dantanda teknis beserta makna atau penggunaannya. Singkatan dan tandateknis jangan dicampur, tetapi bisa diketik dalam satu halaman saja karenakeduanya mempunyai fungsi teknis yang sama, yakni untuk kemudahanpemberian.3.1.11 Daftar TabelPanduan Penulisan K arya Ilmiah 48
    • Daftar tabel memuat nomor dan judul tabel, diikuti titik-titik sepertipada daftar isi, lalu disusul nomor halaman tempat tabel terdapat dalamteks. Judul tabel yang lebih dari satu halaman ditik dengan spasi satu. Jarakantara judul tabel yang satu dengan yang lain dalam daftar itu satusetengah spasi.4.1.12 Daftar Gambar Cara membuat daftar gambar sama dengan cara membuat daftartabel.4.1.13 Daftar Lampiran Cara membuat daftar lampiran sama juga dengan cara membuatdaftar tabel.4.2 Bagian Pokok Bagian pokok skripsi,tesis,atau disertai terdiri atas babpendahuluan,teori yang digunakan untuk landasan penelitian,metodepenelitian,hasil penelitian,dan penutup.hasil penelitian tidak harus hanyadisajikan dalam satu bab,bergantung pada banyaknya materi yang akandisajikan dan perlunya pemilahan materi itu menjadi unit-unit tertentu.4.2.1 PendahuluanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 49
    • Bagian ini adalah bab pertama skripsi,tesis,atau disertai yangmengantarkan pembaca untuk mengetahui apa yang diteliti,mengapa danuntuk apa penelitian dilakukan.Oleh karena itu,bab pendahuluan memuaturaian tentang (1) latar belakang masalah penelitian, (2) rumusan masalah,(3) identifikasi masalah, (4) tujuan penelitian, (5) kegunaan penelitian, (6)pembatasan masalah (1) Latar Belakang Bagian ini pada dasarnya menerangkan keternalaran (kerasionalan)mengapa topik yang dinyatakan pada judul skripsi,tesis,atau disertai ituditeliti.Untuk menerengkan keternalaran tersebut perlu dijelaskan dulupengertian rumusan topik yang dipilih untuk diteliti.Baru kemudianditerangkan argumen yang melatarbelakangi pemilihan topik itu dilihat dariposisi substansi topik itu dalam keseluruhan sisitem substansi yangmelingkupi substansi topik itu.Dalam hal ini dapat dikemukakanmisalnya,adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan,antara teoridan praktek. Setelah itu,diterangkan ketenalaran pemilihan topik itu dilihat dariparadigma penelitian sejenis.Untuk itu perlu dilakukan kajian pustaka yangmemuat hasil-hasil penelitian tentang topik yang dipilih itu. Dengan melihathasil yang diperoleh dalam penelitian sebelumnya, dapat ditunjukkanapakah topik yang dipilih itu memang masih layak untuk diteliti.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 50
    • Topik yang pernah diteliti boleh saja diteliti,asal penelitian yang baruitu dapat menghasilkan sesuatu yang baru,yang berbeda darisebelumnya,yang bisa mengatasi kekurangan hasil penelitian itu,atau dalampenelitian yang bari itu digunakan teori lain atau metode lain yang didugadapat menghasilkan temuan yang lain dari sebelumnya. Dalam tesis dan disertai,kajian pustaka untuk mengemukakanketernalaran (kerasionalan) pemilihan topik penelitin itu bisa ditaruh dibawah judul tersendiri, misalnya Hasil Penelitian Sebelum ini.Dalam kajianpustaka itu pembicaraan dilakukan secara kronologis.Dengandemikian,diketahui kemajuan penelitian yang dilakukan para peneliti selamaini dan diketahui pula posisi peneliti sekarang dalam deretan penelitiansejenis. (2) Rumusan Masalah Rumusan masalah adalah rumusan persoalan yang perludipecahkan atau pertanyaan yang perlu dijawab denganpenelitian.Rumusan itu tidak harus sdalam bentuk kalimat tanya,tetapihendaklah mengandung kata-kata yang menyatakan persoalan ataupertanyaan,yakni apa, siapa, berapa, seberapa, sejauh mana,bagaimana(bisa tentang cara atau wujud/keadaan),di mana,ke mana,darimana,mengapa,dan sebagainya. Rumusan masalah harus diturunkan dari rumusan topik,tidak bolehkeluar dari lingkup topik.Oleh karena itu,rumusan masalah hendaklahPanduan Penulisan K arya Ilmiah 51
    • mencakupi semua variabel yang tergambarkan dalam rumusan topik.Kalauada variabel umum dan khusus, hendaklah dirumuskan masalah pokokbeserta sub-submasalah-nya.Jadi,rumusan masalah harus terinci danterurai dengan jelas agar dapat dipecahkan dan dicarikan datanya untukpemecahannya. Rumusan masalah yang baik harus memungkinkan untukmenentukan metode pemecahannya dan mencarikan datanya.Untukmasalah-masalah perlu diidentifikasi dengan baik. Identifikasi masalah bisa ditaruh di bawah judul tersendiri,tetapiyang penting bukan judulnya,melainkan materi identifikasinya itusendiri.Dengan identifikasi masalah itu,permasalahan perumusan masalahmenjadi operasional; maksudnya masalah-masalahnya dapatdipecahkan,karena variabel atau wujud data yang diperlukan dan teknikpemerolehannya dapat diprakirakan. Kalau terdapat banyak masalah,tetapi yang akan diteliti hanyamasalah-masalah tertentu,perlu ada pembatasan masalah disertaiketerangan mengapa masalah yang diteliti dibatasi.Pembatasan masalah inibisa dicantumkan di bawah judul tersendiri.Akan tetapi, kalau memang tidakada pembatasan,tidak perlu ada sub-judul Pembatasan Masalah. (3) Tujuan Penelitian Tujuan penalitian mengungkapkan apa yang ingin dicapai dalampenelitian. Rumusan sejajar dengan rumusan masalah.Misalnya,kalauPanduan Penulisan K arya Ilmiah 52
    • masalahnya apakah ada pengaruhnya pendiskusian topik karangan dalamproses belajar mengajar mengarang pada keberhasilan siswa mengarangdan jika ada,berapa besar peranannya,rumusan tujuannya dalam penelitianini ialah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pendiskusian topikkarangan dalam proses belajar mengajar mengarang pada keberhasilansiswa mengarang,dan jika ada berapa besar peranannya. (4) Kegunaan Penelitian Yang diuraikan di sini ialah kegunaan atau pentingnya penelitiandilakukan,baik bagi pengembangan ilmu maupun bagi kepentinganpraktik.Adanya uraian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa masalahyang dipilih memang layak untuk diteliti.4.2.2 Teori yang Digunakan untuk Landasan Penelitian Dalam penelitian diperlukan dua landasan,yakni landasan teoretisdan landasan faktual.Landasan teoretis ialah teori yang digunakan untuklandasan kerja penelitian tentang topik yang diambil untuk diteliti.Landasanfaktual ialah data tentang topik yang diteliti.Keduanya diuraikan dalam duabagian tesis yang berbeda,tetapi berturutan. Landasan teoretis diuraikanpada bab II,sedangkan landasan faktual diuraikan pada bab III. Dalam landasan teoretis dinyatakan teori apa yang digunakan untuklandasan kerja penelitian.Teori itu bisa disusun sendiri secara eklektik,bisaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 53
    • juga berupa teori yang digunakan oleh seorang ahlu.Namun,teori apapunyang digunakan harus dipertanggung Jawabkan melalui kajian sejumlah pustaka yang memuat hasilpenelitian dalam lingkup penelitian yang menggunakan teori yangberbeda.Teori itu dikaji secara kronologis,dari yang lama sampai denganyang mutakhir untuk menunjukkan kemajuan hasil penelitian sejalan denganperkembangan teori.Dengan cara itu,di antara sederet teori,keunggulanteori yang dipilih sebagai landasan kerja penelitian menjadi tampak. Pustaka yang dikaji itu bisa berupa buku atau artikel dalam jurnalilmiah,makalah, skripsi,tesis,disertai,laporan penelitian. Namun, semua ituharus relevan dengan topik penelitian.Lagi pula,kajian itu dilakukan dalamrangka pemilihan teori yang dipandang tepat untuk landasan kerjapenelitian.Kajian pustaka untuk menentukan apakah topik yang diteliti ituatau yang berkaitan dengan topik itu mungkin sudah pernah diteliti oranglain sudah diuraikan di bagian pendahuluan. Penyebutan nama teori saja tidaklah cukup.Prinsip-prinsip teori ituperlu diuraikan.Termasuk pendekatan dan metode kerja teori itu.Variabel-variabel pembangun topik penelitian juga perlu diterangkan menurutpandangan teori yang dipilih itu. Dengan uraian tentang teori itu hakikat topik penelitian menjadijelas.Variabel- variabel,masalah,dan tujuannya terperikan secaraoperasional.Data pun dapat diidentifikasi,sedangkan lahan pengambilandapat ditentukan.Dengan demikian,teknik pengumpulan,pengolahan,danPanduan Penulisan K arya Ilmiah 54
    • analisis data dapat dirancang.Jadi,landasan teoretis tidak hanya melandasiidentifikasi sasaran,tetapi juga melandasi metode penelitian. Dalam penelitian kuantitatif jenis tertentu,uraian tentang teori yangdipakai sebagai landasan penelitian diikuti uraian tentang kerangka berpikirdan rumusan hipotesis.Kerangka berpikir menggambarkan pola hubunganlogis antar variabel dalam pemecahan masalah yang diteliti,sedangkanhipotesis menyatakan dugaan atau ramalan tentang hasil pemecahanmasalah atas dasar kerangka berpikir.4.2.3 Metode Penelitian Uraian tentang metode penelitian dimuat dalam bab tersendiri,yaknibab III. Tentang metode penelitian terdapat perbedaan antara metodepenelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif,khususnya penelitian bahasadan sastra.Akan tetapi,prosedurnya sama:dimulai dari pengumpulandata,dilanjutkan dengan pengolahan data,lalu dilakukan analisis data. Yang perlu diuraikan dalam penelitian kuantitatif adalah (1) jenisdan desain penelitian, (2) variabel penelitian yang dirumuskan secaraoperasional, (3) populasi, sampel ,dan teknik pengambilan sampelpenelitian, (4) instrumen penelitian disertai penentuan validitas danreliabitasnya, (5) teknik pengumpulan data, (6) teknik pengolahan dananalisis data. Dalam penelitian kualitatif,butir (2) diganti dengan uraian tentangwujud data, butir (3) diganti dengan sumber data.Khusus dalam penelitianPanduan Penulisan K arya Ilmiah 55
    • linguistik dan penelitian sastra,butir (1) diganti dengan sasaran danancangan penelitian. Dalam uraian tentang metode penelitian itu tidak cukup hanyadisebut istilah- istilah,misalnya digunakan teknik wawancara.Prosedurpelaksanaan metode atau teknik itu perlu diterangkan.Kalau dalampenelitian digunakan beberapa teknik pengumpulan atau analisisdata,kegunaannya masing-masing perlu diterangkan. Sebaliknya dalam uraian itu tidak perlu didefinisikan pengertianpopulasi,sampel, dan sebagainya seperti dalam pelajaran metodologipenelitian.Yang diuraikan adalah populasinya siapa atau apa,dan darijumlah sampel itu diambil sampel berapa,dan seterusnya.4.2.4 Hasil Penelitian Hasil penelitian dimuat dalam bab tersendiri,tetapi tidak harusdalam satu bab. Bisa dua bab atau lebih,bergantung kepada organisasitemuannya dalam pemecahan masalah.Yang penting adalah semuamasalah harus ada jawabannya.Jawaban atas masalah yang dirumuskan dibab pendahuluan harus diuraikan dengan jelas,sistematis, dan tuntas. Bab inti ini memang berisi hasil penelitian besertapenjelasannya.Akan tetapi, tidak tidak berarti bahwa judul bab ini HasilPenelitian dan Pembahasan.Judul hendaknya dirumuskan sesuai dengantopik (judul) skripsi,tesis,atau disertai.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 56
    • Dalam penelitian kualitatif,temuan (hasil) penelitian itu berupasistem yang mungkin tersusun dari sub-subsistem.Bangunan sistem ituhanya bisa dipahami dalam keseluruhannya.Oleh karena itu,temuan (hasil)penelitian dan pembahasannya tidak dapat dipisahkan. Pemisahan itu dimungkinkan dalam penelitian kuantitatif karenapemisahan temuan (hasil) penelitian dari penjelasannya tidak akan merusakorganisasi substansi temuan (hasil) penelitian.Temuan (hasil) penelitiankuantitatif yang dinyatakan dengan angka harus ditafsirkan dengan kata-kata,dan tafsiran itu perlu dijelaskan dan dibahas lebih lanjut.4.2.5 Penutup Bab penutup merupakan bab terakhir skripsi,tesis,ataudisertai.Isinya adalah simpulan dan saran.Dengan demikian,bab ini bisadibagi dua subbab. Penyajian simpulan hendaklah sejalan dengan penyajianmasalah,tujuan,dan uraian tentang hasil penelitian.Dengandemikian,masalah yang dikemukakan di bagian pendahuluan semuanyaterjawab dan dengan jawaban itu semua tujuan telah tercapai. Lagi pulauraian atau pembahasan masalah yang dilakukan secara panjang lebardalam bab sebelumnya semuanya ada simpulannya. Penyajian saran harus sejalan dan didasarkan pada simpulan atautemuan.Saran hendaklah disertai dengan argumentasinya.Kalau mungkainjuga disertai jalan keluarnya.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 57
    • Saran dapat bersifat praktis atau pragmatis,dapat juga bersifatteoretis.Termasuk saran yang berharga adalah saran tentang perlunyadilakukan penelitian lanjutan, mengingat bahwa belum tentu semuamasalah dapat dipecahkan secara tuntas dalam penelitian sekarang atausetelah selesainya penelitian sekarang ini timbul masalah lain yang terkait.4.3 Bagian Akhir Bagian akhir terdiri atas daftar pustaka, lampiran (kalau ada),penjurus atau indeks (kalau ada), dan takarir atau daftar katakunci/istilah(kalau ada). Keberadaan daftar pustaka adalah wajib, artinyahanya pustaka yang dirujuk dalam teks skripsi, tesis dan disertasi yangharus ditulis dalam daftar pustaka. Daftar pustaka ditulis sesuai dengan kaidah penulisan daftarpustaka. Perlu pula diperhatikan kemutakhirannya dan diusahakan juga darihasil-hasil penelitian dan jurnal ilmiah yang relevan dengan topik skripsi,tesis dan disertasi. Daftar pustaka ditulis langsung setelah teks berakhir pada halamanbaru dengan judul ”DAFTAR PUSTAKA”. Judul tersebut dicetak tebaldengan huruf tegak, kapital semua, berukuran 12, ditulis mulai dari pias kiri.Jarak dengan teks di atasnya empat spasi.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 58
    • Artikel ilmiah ialah karangan yang dihasilkan melalui prosespenelitian lapangan atau pemikiran konseptual yang berlandaskan kajiankepustakaan dan diterbitkan di dalam jurnal ilmiah. Artikel hasil penelitianditulis berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di lapangan dandilaporkan kembali dalam bentuk yang lebih padat, lugas, jelas, dansederhana, dan dimuat di dalam jurnal agar dibaca oleh kalangan yanglebih luas. Artikel konseptual ditulis berdasarkan pemikiran atau perenunganyang mendalam terhadap objek atau fenomena tertentu berlandaskanacuan kepada teori yang diperoleh melalui kajian pustaka (library research)untuk tujuan yang serupa dengan tujuan penulisan artikel hasil penelitian.Untuk itu, bab ini menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan penulisan (1)artikel hasil penelitian dan (2) artikel konseptual. 5.1 Artikel Hasil Penelitian Artikel hasil penelitian ialah artikel ilmiah yang disajikan sebagaihasil penelitian lapangan yang yang dilandasi dengan kajian teoretisterhadap hasil penelitian terdahulu. Arikel jenis ini dapat berdasarkan hasilpenelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif. Artikel hasil penelitianterdiri atas (1) judul, (2) nama penulis dan lembaga asal, (3) abstrak dankata kunci, (4) pendahuluan, (5) metodologi, (6) hasil, (7) bahasan, (8)simpulan, (9) catatan akhir, dan (10) daftar rujukan.5.1.1 JudulPanduan Penulisan K arya Ilmiah 59
    • Judul (title) artikel hasil penelitian hendaknya informatif, lengkap,tidak terlalu panjang, yaitu antara 5 sampai dengan 15 kata. Judul artikelhasil penelitian memuat variabel yang diteliti atau kata kunci yangmenggambarkan masalah yang diteliti. Judul artikel yang berbahasa Indonesia diikuti denganterjemahannya dalam bahasa Inggris, yang ditulis tepat di baris setelahjudul yang berbahasa Indonesia. B. KENDALA SOSIAL BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT PEDESAAN (Socio-Cultural Constraints in Developing Rural Comunities)5.1.2 Nama Penulis dan Lembaga Asal Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelarlain apapun. Nama lembaga tempat bekerja penulis dicantumkan sebagaicatatan kaki di halaman pertama artikel. Jika artikel ditulis oleh dua orangatau lebih, semua ditulis secara berurutan mulai dengan penulis utama.Apabila semua penulis berasal dari lembaga yang sama, nama lembagaasal hanya ditulis sekali. Namun, apabila penulis berasal dari lembaga yangberlainan, semua nama lembaga asal penulis harus dicantumkan sebagaiPanduan Penulisan K arya Ilmiah 60
    • catatan kaki, mulai dengan lembaga asal penulis utama dengan penandabintang (*).5.1.3 Abstrak dan Kata Kunci Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat tentang gagasanterpenting di dalam artikel. Gagasan itu antara lain mencakupi masalah,tujuan, prosedur penelitian (untuk penelitian kualitatif termasuk deskripsitentang subjek yang diteliti), dan ringkasan hasil penelitian sebagaitekanannya. Abstrak yang mendahului artikel berbahasa Indonesia hendaknyaditulis dalam bahasa inggris, sedangkan untuk artikel yang berbahasaInggris dilengkapi dengan abstrak berbahasa Indonesia. Panjang abstrak antara 50 sampai dengan 75 kata dan ditulis dalamsatu paragraf. Dengan ketikan berspasi tunggal menggunakan format yanglebih sempit daripada teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk1,2 cm). Abstrak diikuti dengan Kata Kunci (Key Words) yang merupakankata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau istilahyang menggambarkan gagasa pokok artikel. Kata kunci dapat berupa katatunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci dalam artikel ilmiah antara 3sampai dengan 5 buah. Kata ini diperlukan untuk penelusuran lebih lanjutPanduan Penulisan K arya Ilmiah 61
    • ke dalam sistem informasi dan telekomunikasi menggunakan teknologiinternet.5.1.4 Pendahuluan Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah kata kunci.Bagian ini menyajikan gagasan pokok yang paling sedikit terdiri atas empatbagian: (1) latar belakang penulisan artikel, (2) masalah , (3) tujuanpenelitian, dan (4) sistematika artikel. Keempat gagasan tersebut ditulisdalam bentuk paragraf yang memperlihatkan adanya koherensi antaragagasan satu dengan gagasan yang lain. Karena pendahuluan memuat gagasan teoretis mengenai suatuperkara, kajian pustaka dibutuhkan untuk mendukung penyampaiangagasan tadi. Sebab itu, bagian ini harus disertai dengan rujukan kepadaberbagai sumber yang terpercaya. Jumlah rujukan harus proporsional (tidakterlalu sedikit dan tidak terlalu banyak). Gagasan teoretis harus disajikansecara ringkas, padat, dan langsung mengenai masalah yang diteliti. Aspekyang dibahas dapat mencakupi aspek histories, landasan teori atau aspeklain. Gagasan teoretis mengarahkan pembaca ke rumusan masalah yangdilengkapi dengan rencana pemecahannya dan rumusan tujuan.5.1.5 Metodologi Metodologi diartikan sebagai kumpulan metode yang digunakanuntuk membuat desain penelitian, menentukan jenis dan jumlah sample,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 62
    • menarik data, dan mengolah atau menganalisis data. Dalam rangkapenulisan artikel, pada dasarnya, bagian ini menyajikan cara pelaksanaanpenelitian. Uraian disajikan dalam beberapa paragraf tanpa sub-bagian,atau pemilahan ke dalam sub-bagian. Bagian ini hanya memuat hal yangpokok saja; uraian rinci tentang rancangan penelitian tidak perlu disajikan didalam artikel ilmiah. Materi pokok bagian metodologi adalah cara pengumpulan data,sumber data, cara analisis data. Dengan perkataan lain, bagian ini antaralain berisi keterangan tentang populasi dan sampel (atau subjek), instrumenpengumpul data, rancangan penelitian (terutama jika digunakan raancanganyang cukup kompleks seperti rancangan eksperimental), dan teknik analisisdata. Penelitian yang mendasari penulisan artikel menggunakan alat danbahan perlu dilengkapi dengan sajian tentang spesifikasi alat dan bahan.Spesifikasi alat menggambarkan tingkat kecanggihan alat, sedangkanspesifikasi bahan juga perlu diberikan karena penelitian ulang dapatberbeda dengan penelitian terdahulu apabila spesifikasi bahan yangdigunakan berbeda. Untuk penelitian kualitatif perlu ditambahkan uraian mengenaikehadiran peneliti, subjek penelitian, keterangan tentang informan, caramenggali data penelitian, lokasi penelitian, dan lama penelitian. Perlu puladisajikan uraian mengenai pengecekan keabsahan hasil penelitian.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 63
    • 5.1.6 Hasil Hasil adalah bagian utama artikel ilmiah. Karena itu, bagian inibiasanya merupakan bagian terpanjang. Bagian ini menyajikan hasil analisisdata yang dilaporkan secara bersih. Untuk artikel hasil penelitian kuantitatif, proses analisis data (sepertiperhitungan statistik, tabel yang panjang, sampel yang berlebihan, dansebagainya) tidak perlu disajikan. Proses pengujian hipotesis pun tidakperlu disajikan, termasuk pembandingan antara koefisien yang ditemukandalam analisis dengan koefisien dalam tabel statistik. Dengan perkataanlain, yang dimuat di dalam artikel hanya hasil analisis dan hasil pengujianhipotesis. Hasil analisis boleh disajikan dengan tabel atau grafik asalkandalam bentuk yang ringkas, jelas dan tidak mengganggu alur piker di dalamteks. Jika ke dalam sajiak disertakan tabel dan/atau grafik untukmemperjelas sajian verbal, keduanya harus diberi judul dengan komentaryang memadai walaupun komentar tersebut tidak harus dilakukan per tabelatau grafik. Apabila hasil yang disajikan cukup panjang, penyajian bisadilakukan dengan memilah bagian ini menjadi subbagian sesuai denganpenjabaran masalah penelitian. Sebaliknya, apabila bagian ini pendek,semua sajian bisa berupa gabungan pembahasan.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 64
    • Untuk artikel hasil penelitian kualitatif, bagian hasil memuatdeskripsi, eksplanasi, analisis, sintesis, diskusi, perbandingan dansebagainya yang tersaji rinci dalam bentuk subtopik yang masing-masingberkaitan langsung dengan fokus penelitian.5.1.7 Bahasan Bagian ini adalah bagian terpenting dari keseluruhan isi artikelilmiah. Tujuan bahasan: (1) memecahkan masalah penelitian ataumenunjukkan pencapaian tujuan penelitian, (2) menafsirkan temuan danmenarik inferensi berdasarkan temuan itu, (3) mengintegrasikan temuanpenelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan, dan (4)menyusun teori baru atau memodifikasi teori yang saudah ada. Untuk menunjukkan terjadinya pemecahan masalah ataupencapaian tujuan penelitian, harus hasil penelitian disimpulkan secaraeksplisit. Misalnya, jika dinyatakan bahwa penelitian bertujuan mengetahuiperbedaan penggunaan antara satu strategi dan stgrategi lain dalampembelajaran bahasa asing, dalam bagian pembahasan perbedaan ituharuslah diuraikan secara rinci dengan bukti yang memadai. Penafsiran terhadap temuan dilakukan dengan menggunakanlogika dan teori yang ada. Misalnya ditemukan adanya hubungan antarastrategi pembelajaran dan prestasi siswa, dapat ditafsirkan bahwa strategidapat berpengaruh besar terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 65
    • Temuan diintegrasikan ke dalam kumpulan pengetahuan yangsudah ada dengan jalan membandingkan temuan itu dengan temuanpenelitian sebelumnya, dengan teori yang sudah ada, atau dengankenyataan di lapangan. Pembandingan harus disertai rujukan yang sesuai. Jika penelitian yang menjadi dasar penulisan artikel berupa telaahteori (penelitian dasar), teori yang lama bisa dikonfirmasi atau ditolak,sebagian atau seluruhnya. Penolakan teori harus disertai dengan modifikasiatau rumusan teori baru. Untuk penelitian kualitatif, bagian ini dapat pula memuat gagasanpeneliti, kaitan antarkategori dan antardimensi, dan posisi temuan ataupenelitian terhadap temuan dan teori sebelumnya.5.1.8 Simpulan Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian yang disajikan padabagian hasil dan pembahasan. Berdasarkan uraian pada kedua bagian itu,dikembangkan pokok pikiran yang merupakan esensi dari uraian tersebut.Simpulan disajikan dalam bentuk deskripsi verbal, dan bukan dalam bentukangka. Simpulan dapat diikuti dengan saran yang disusun berdasarkansimpulan. Saran bisa merujuk kepada tindakan praktis, pengembanganteoritis, dan penelitian lanjutan. Simpulan dan saran dapat pula disebutbagian penutup.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 66
    • 5.1.9 Catatan Akhir Pada dasarnya, catatan akhir dalam artikel ilmiah berupaketerangan tambahan yang diberikan kepada istilah khusus, nama tokoh,nama lembaga, tahun tertentu, simbol, dan sebagainya yang termuat didalam artikel. Pencantuman catatan akhir ini dilakukan dengan alasanbahwa walaupun dibutuhkan dan dianggap penting, cacatan tambahandapat dianggap mengganggu tampilan nas pokok jika disisipkan kedalamnya.5.1.10 Daftar Rujukan Daftar rujukan (references) harus lengkap dan sesuai denganrujukan yang disajikan dalam nas artikel ilmiah. Bahan pustaka yangdimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam nas.Demikian pula semua rujukan yang disebutkan dalam nas harus disajikandalam daftar rujukan. Tata cara penulisan daftar rujukan dapat dilihat padaBab 6, Tata Tulis. 5.2 Artikel Konseptual Artikel konseptual ialah artikel ilmiah yang dihasilkan olehpenulisnya melalui proses pemikiran yang mendalam terhadap suatu gejalayang muncul di dalam ranah ilmu tertentu. Proses pemikiran itu didukungdengan rujukan kepada teori tertentu yang sudah dikemukakan pakarmelalui karangannya dalam bahan rujukan tertentu. Dengan demikian,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 67
    • dapat dikatakan bahwa artikel konseptual merupakan laporan hasilpemikiran yang dilandasi oleh kajian kepustakaan. Artikel konseptual terdiri atas (1) judul, (2) nama penulis danlembaga asal, (3) abstrak dan kata kunci, (4) pendahuluan, (5) nas, (6)penutup atau simpulan, (7) catatan akhir, dan (7) Daftar rujujukan.5.2.1 Judul Judul dalam artikel konseptual berfungsi sebagai label yangmencerminkan secara tepat intisari yang terkandung dalam artikel. Sebabitu, pemilihan kata yang dipakai di dalam judul hendaknya dilakukan secaracermat. Di samping aspek ketepatannya, pemilihan kata untuk judul perlujuga mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tarik judul bagipembaca. Judul artikel sebaiknya terdiri atas 5-15 kata.5.2.2 Nama Penulis dan Lembaga Asal Seperti pada penulisan nama dan asal lembaga pada artikel hasilpenelitian, penulisan nama pengarang pada artikel konseptual dilakukantanpa disertai gelar akademik atau gelar lain apapun. Nama lembagatempat bekerja penulis dicantumkan sebagai catatan kaki di halamanpertama artikel. Jika artikel ditulis oleh dua orang atau lebih, semua ditulissecara berurutan mulai dengan penulis utama. Apabila semua penulisberasal dari lembaga yang sama, nama lembaga asal hanya ditulis sekali.Namun, apabila penulis berasal dari lembaga yang berlainan, semua namaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 68
    • lembaga asal penulis harus dicantumkan pada catatan kaki, mulai denganlembaga asal penulis utama dengan penanda angka 1, 2, 3, dan seterusnyadengan format supercscript.5.2.3 Abstrak dan kata Kunci Untuk artikel hasil pemikiran konseptual, abstrak berisi ringkasan isiartikel yang dituangkan secara padat. Abstrak untuk artikel jenis inibukanlah komentar atau pengantar dari penyunting atau redaksi. Abstrakberisi pernyataan ringkas dan padat tentang gagasan terpenting di dalamartikel. Gagasan itu antara lain mencakupi masalah, tujuan, dan ringkasanhasil pemikiran sebagai tekanannya. Abstrak yang mendahului artikel berbahasa Indonesia hendaknyaditulis dalam bahasa inggris, sedangkan untuk artikel yang berbahasaInggris dilengkapi dengan abstrak berbahasa Indonesia. Panjang abstrak antara 50 sampai dengan 75 kata dan ditulis dalamsatu paragraf. Dengan ketikan berspasi tunggal menggunakan format yanglebih sempit daripada teks utama (margin kanan dan kiri menjorok masuk1,2 cm). Abstrak diikuti dengan Kata Kunci (Key Words) yang merupakankata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang diteliti atau istilahyang menggambarkan gagasa pokok artikel. Kata kunci dapat berupa katatunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci dalam artikel ilmiah antara 3Panduan Penulisan K arya Ilmiah 69
    • sampai dengan 5 buah. Kata ini diperlukan untuk penelusuran lebih lanjutke dalam sistem informasi dan telekomunikasi menggunakan teknologiinternet.5.2.4 Pendahuluan Berbeda dengan isi pendahuluan di dalam artikel hasil penelitian,bagian pendahuluan dalam artikel konseptual berisi uraian yangmengantarkan pembaca kepada topik utama yang akan dibahas. Sebab itu,isi bagian pendahuluan menguaraikan berbagai hal yang mampu menarikpembaca untuk mendalami bagian selanjutnya. Selain itu, bagianpendahuluan hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat tentang hal pokokyang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak perlu diberi judul.5.2.5 Nas Nas pada artikel konseptual sangat bervariasi. Bagian ini dapatberupa (1) evaluasi terhadap teori yang ada, yang mencakupi ragam,kelebihan, dan kekurangannya, (2) deskripsi, eksplanasi, analisis, dandiskusi tentang fenomena yang muncul dalam suatu komunitas, (3) strategipengelolaan perkara tertentu, (4) perbandingan antarteori untukmenjembatani kesenjangan di antaranya, (5) kemungkinan penerapan suatuteori di dalam kelompok masyarakat tertentu, (6) telaah terhadap teoritertentu dan kemungkinan replikasinya dalam kondisi dan situasi yangberlainan, dan sebagainya.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 70
    • Walaupun nas jenis artikel ini tidak perlu dibagi menjadi sub-bagian,tiap paragraf harus disusun secara sistematis dengan memperhatikankoherensi antarbagiannya. Teks yang disusun dengan runtut, lugas, padu,dan jelas akan mampu meyakinkan pembacanya untuk mengikuti alur pikeryang hendah disampaikan oleh penulis kepada pembacanya.5.2.6 Penutup Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir artikelkonseptual jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya.Jika uraian pada bagian akhir berisi simpulan hasil pembahasan padabagian sebelumnya, perlu dimasukkan pada bagian kesimpulan.Kebanyakan artikel konseptual membutuhkan simpulan. Beberapa artikal konseptual yang dilengkapi dengan saran. Jikahendak ditampilkan, saran yang mencakupi aspek pengembangan ilmu,penerapan teori, dan aspek lain dapat ditempatkan dalam bagian tersendiri.5.2.7 Catatan Akhir Pada dasarnya, catatan akhir dalam artikel konseptual serupadengan catatan akhir pada artikel ilmiah. Catatan ini berupa keterangantambahan yang diberikan kepada istilah khusus, nama tokoh, namalembaga, tahun tertentu, simbol, dan sebagainya yang termuat di dalamartikel. Pencantuman catatan akhir ini dilakukan dengan alasan bahwaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 71
    • walaupun dibutuhkan dan dianggap penting, cacatan tambahan dapatdianggap mengganggu tampilan nas pokok jika disisipkan ke dalamnya.5.2.8 Daftar Rujukan Seperti pada artikel hasil penelitian, daftar rujukan (references)pada artikel konseptual harus lengkap dan sesuai dengan rujukan yangdisajikan dalam nas artikel. Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftarrujukan harus sudah disebutkan dalam nas. Demikian pula semua rujukanyang disebutkan dalam nas harus disajikan dalam daftar rujukan. Tata carapenulisan daftar rujukan dapat dilihat pada Bab 6, Tata Tulis.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 72
    • BAGIAN III PANDUAN TATA TULIS KARYA ILMIAHPanduan Penulisan K arya Ilmiah 73
    • Panduan Penulisan K arya Ilmiah 74
    • B. PengantarKarya ilmiah yang berupa disertasi, tesis, skripsi, tugas akhir, artikel ilmiah,dan makalah (selanjutnya disebut karya ilmiah) dapat ditulis dalam bahasadaerah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa asing lain. Untukitu, bab ini membahas tata tulis bagian-bagian karya ilmiah dengan contohutama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebab dalam keduabahasa itulah kebanyakan kara akan ditulis. Bagian pertama membahastata cara penulisan bagian-bagian disertasi, tesis, skripsi, dan tugas akhir.Bagian berikutnya membahas tata tulis artikel ilmiah dan makalah. Bagiantiga menyajikan tata cara pengutipan rujukan. Akhirnya, bagian empatmemuat tata tulis daftar pustaka.1. Tata Tulis Karya IlmiahSecara umum disertasi, tesis, skripsi, dan tugas akhir dibagi menjadi tigabagian pokok, yaitu (1) prawacana, (2) nas, dan (3) bagian akhir.1.1 PrawacanaPrawacana terdiri atas judul, halaman kosong, pernyataan keaslian tulisan,pengesahan, persembahan, motto, prakata, abstrak, daftar isi, daftar tabledan daftar lain.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 75
    • JudulJudul terdiri atas (1) logo institusi, (2) judul skripsi, (3) maksud penulisanskripsi, (4) nama dan nomor nomor induk mahasiswa, dan (5) namalembaga termasuk jurusan, fakultas, dan universitas, serta tahun penulisanskripsi.(1) LogoLogo yang dipasang pada halaman judul hendaknya logo institusi yanglazim dipasang pada kepala surat dan yang ukurannya disesuaikan denganluas halaman judul.(2) Judul karya ilmiahJudul ditulis dengan huruf kapital yang besarnya diesuaikan denganpanjang judul. Sebagai ancar-ancar, gunakan font 16 atau 18 cetak tebaluntuk jenis huruf Times New Roman. METAPHORIC USES OF ENGLISH PARTICLES:Panduan Penulisan K arya Ilmiah 76
    • A STUDY OF PHRASAL VERBS FOUND IN J. GRISHAM’S THE PELICAN BRIEF(3) MaksudMaksud penulisan skripsi berupa frase yang ditulis dengan huruf kecil,kecuali nama gelar dan nama bahasa. Bunyi frase tersebut sebagai berikut. Tesis disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesiaatau a final project submitted in partial fulfillment of the requirements for the degree of Sarjana Pendidikan in Englishatau a thesis submitted in partial fulfillment of the requirements for the degree of Magister PendidikanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 77
    • in EnglishPerhatikan bahwa (1) Frase ini ditulis dengan huruf kecil dengan font 12 untuk jenis huruf Times New Roman. (2) Gelar kesarjanaan dan program studi ditulis dengan awalan huruf kapital. Salah : sarjana pendidikan in english Betul : Sarjana Pendidikan in English Betul : Sarjana Sastra in English Betul : Sarjana Pendidikan Program Studi Seni Rupa(4) Nama dan Nomor IndukNama dan nomor induk mahasiswa ditulis dalam dua baris di tengah-tengahhalaman judul, yang didahului dengan preposisi oleh (by) di atasnya. Tidak dianjurkan: By: Name : Agus Ismangun NIM: 222000022Panduan Penulisan K arya Ilmiah 78
    • Tidak dianjurkan: Oleh: Agus Ismangun 222000022 Dianjurkan: by Agus Ismangun 222000022 atau oleh Agus Ismangun 222000022(5) Nama Lembaga dan Tahun PenulisanNama lembaga dan tahun penulisan ditulis dengan font 16 (atau 14)bercetak tebal untuk jenis huruf Times New Roman.Tahun penulisan tesis adalah tahun pada saat pengesahan tesis, yaitusetelah tesis tersebut diuji, diperbaiki, dan diperbanyak.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 79
    • JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2009atau C. D. ENGLISH DEPARTMENT FACULTY OF LANGUAGES AND ARTS SEMARANG STATE UNIVERSITY 2009Halaman KosongHalaman yang kosong dimaksudkan sebagai pelapis agar teks padahalaman berikutnya tidak tembus dan terlihat dari halaman judul.Pada buku yang berhak cipta, biasanya halaman ini digunakan sebagaihalaman hak cipta, yaitu halaman yang memuat catatan hak cipta yangmencakupi tahun penulisan, nama penulis dan peringatan bagi penggunabuku kersebut.Misalnya,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 80
    • Copyright c 2001 by Kate L. Turabian All rights reservedAkan tetapi, dalam skripsi mahasiswa tulisan seperti ini tidak dimunculkan.Pernyataan Keaslian TulisanPernyataan keaslian tulisan (declaration) berisi ungkapan penulisbahwa isi skripsi, tesis, atau disertasi yang ditulisnya bukanmerupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang diakusebagai hasil tulisan atau pemikirannya sendiri. Pengambilalihan karyaorang lain untuk diaku sebagai karya sendiri merupakan tindakkecurangan yang lazim disebut plagiat. Penulis karya ilmiah harusmenghindarkan diri dari tindak kecurangan ini. Contoh pernyataankeaslian tulisan dapat dilihat pada lampiran.PengesahanHalaman Pengesahan (approval) adalah halaman tempat para penguji,pembimbing, dan panitia ujian skripsi, serta pejabat yang berwenangmembubuhkan tanda tangan mereka sebagai tanda bahwa skripsi tersebutdiakui kesahihannya. Halaman ini terdiri atas: (1) Pada bagian atas halaman dapat ditulis kata: PENGESAHAN (APPROVAL)Panduan Penulisan K arya Ilmiah 81
    • (2) Pernyataan: This thesis has been approved by a team examiners on … (3) Nama penguji (examiner), pembimbing (supervisor), dan pejabat yang berwenang, yaitu Ketua Jurusan (Head of the English Department) dan Dekan Fakultas (Dean of FBS). Masing-masing disertai dengan nomor induk pegawai (NIP), dan tugas yang bersangkutan. (4) Apabila terjadi penugasan ganda, misalnya penguji dan pembimbing, keduanya ditulis dengan garis miring sebagai pemisahnya. PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FBS UNNES pada tanggal 30 Agustus 2008. Panitia: Ketua Sekretaris Gunoto, Ph.D Prof. Dr. Marbun 131281777 131282888Panduan Penulisan K arya Ilmiah 82
    • Penguji Penguji Dr. Subchan, M.Ed. Prof. Dr. Maskur, M.A. 130220222 130276999 Penguji/Pembimbing I Penguji/Pembimbing II Drs. Abd. Ali Dr. Raja Ali haji 130450111 130222333 APPROVAL This thesis has been approved by a team of examiners on 30 October 2008 Examiner Examiner Dr. Subchan, M.Ed. Prof. Dr. Maskur, M.A. 130220222 130276999Panduan Penulisan K arya Ilmiah 83
    • Examiner/Adviser I Examiner/Adviser II Drs. Abd. Ali Dr. Raja Ali haji 130450111 130222333 Chairman Secretary Gunoto, Ph.D Prof. Dr. Marbun 131281777 131282888PersembahanPersembahan (dedication) bersifat manasuka. Jika penulis menghendakikemunculan halaman ini, persembahan hendaknya ditulis secara ringkasdan hanya menyebut nama(-nama) yang sangat penting saja. Nama (-nama) tersebut didahului dengan preposisi ‘To’. Teks dapat ditulis di bagianatas, tengah, atau bawah halaman baik di sebelah kiri atau kanan halamantanpa puntuasi apa pun. Misalnya,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 84
    • Tidak dianjurkan : To: Allan Murray Tidak dianjurkan : Dedicated to Allan Murray. Tidak dianjurkan : Dengan penuh kasih, skripsi ini kupersembahkan untuk Ibu Lasmi dan Bapak Astro serta Dinda Sri Harjati. Tidak dianjurkan : This thesis is dedicated to all people who love me including my late father, my mother, my fiance, and all of my former classmates. Dianjurkan : To Allan Murray atau Untuk Sri Haryati atau Untuk Ayah, Ibu, dan Adik-AdikMottoMotto (epigraph) biasanya berupa frase atau kalimat pendek yang dikutipdari suatu sumber. Penempatan motto pada skripsi bersifat manasuka. Jikapenulis menghendaki penempatan motto seperti itu, hendaknya mottotersebut ditulis ringkas dengan jenis huruf yang sama dengan jenis yangdigunakan di dalam nas skripsi, tanpa cetak miring, cetak tebal, garisbawah, dan/atau tanda kutip. Jika motto itu merupakan kutipan dari sumberyang signifikan, nama dan sumber kutipan dapat disertakan di dalam teks.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 85
    • Misalnya,Tidak Dianjurkan : Motto: Ever onward No RetreatTidak Dianjurkan : Moto: Ever onward No Retreat (Written by Bung Karno)Tidak Dianjurkan : Bung Karno: Ever onward no retreat.Dianjurkan : Ever onward no retreat (Bung Karno) atau Your expression is the most important thing you can wear (Sid Ascher) atau Man never made any material as resilient as the human spirit (Bern William)PrakataPrakata (Preface) atau Pengantar berisi penjelasan ringkas oleh penulismengenai latar belakang penulisan skripsi, cakupan penelitian, maksudpenelitian, dan pihak-pihak yang ikut mengambil bagian di dalammendorong serta memberi motivasi kepada penulis sehingga laporanpenelitian itu bisa terwujud.Prakata dapat pula mencakupi penyebutan nama yang baik langsungmaupun tak langsung ikut terlibat di dalam penulisan itu. Misalnya, rektor,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 86
    • dekan, ketua jurusan, pembimbing, penguji, dosen lain, responden, danpihak lain yang cukup signifikan untuk disebut di dalam prakata ini.Penyebutan nama lazimnya diikuti dengan ucapan terima kasih dengankadar yang sesuai dengan keterlibatan masing-masing.AbstrakPada dasarnya, abstrak lazim memuat intisari laporan penelitian yang terdiriatas (1) latar (background), (2) masalah (problem) atau tujuan (purpose)dan lingkup (scope) kajian, (3) metodologi yang digunakan di dalampenelitian, (4) hasil penelitian yang terpenting, dan (5) simpulan(conclusions). Seluruh bagian ini terdiri atas kurang lebih 400 kata yangditulis di dalam dua atau tiga paragraf dengan spasi tunggal.Kata abstrak ditulis ditengah halaman dengan huruf kapital, simetris di batasatas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. Nama penulis diketik denganjarak 2 spasi dari kata abstrak, ditepi kiri dengan urutan : nama akhir diikutikoma, nama awal, nama tengah (jika ada) diakhiri titik. Tahun lulus ditulissetelah nama, diakhiri dengan titik. Judul dicetak miring dan diketik denganhuruf kecil (kecuali huruf-huruf pertama dari setiap kata) dan diakhiri dengantitik. Kata skripsi, tesis, atau disertasi ditulis setelah judul dan diakhiridengan koma, diikuti dengan nama jurusan (tidak boleh disengkat), namafakultas, nama universitas, dan diakhiri dengan titik. Kemudian dicantumkanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 87
    • nama dosen pembimbing I dan II lengkap dengan gelar akademiknya, sertapembimbing III untuk disertasi.Dalam abstrak dicantumkan kata kunci yang ditempatkan di bawahnama dosen pembimbing. Jumlah kata kunci berkisar antara tigasampai lima buah. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sisteminformasi ilmiah.Teks di dalam abstrak diketik dengan spasi tunggal (satu spasi) danpanjangnya tidak lebih dan dua halaman kertas ukuran kuarto.Misalnya,E. Abstract This thesis is based on study which attempted to examine the use of high cognitive questions in non- native student group classroom discussions. The main purpose of the study was to determine if higher frequency of high cognitive questions in NNS group classroom discussions had an effect on foreign language learning. Two groups of non-native Spanish students and four non-native English teachers participated. One of the groups was trained in incorporating hign cognitive questions in student- student discussions; the other group was not providedPanduan Penulisan K arya Ilmiah 88
    • with training. After the training, both groups listened to a narraive told by the non-native teacher, discussed it, and thes summarized the story they had heard. Results indicated that the training group asked more high cognitive questions than the control group. The quantity of verbal interaction was not different between the group, but the understanding and written production of the foreign language was higher in the treatment group than in the control group. The higher achievement in the training group indicates that the use of high cognitive questions, demonstrated and adopted in NNS group classroom discussion, promotes the kind of verbal interaction which facilitates comprehension and written production of the foreign language.Daftar IsiDaftar Isi (Table of Contents) berisi daftar semua bagian tesis kecualihalaman judul, halaman kosong atau halaman hak cipta, halamanpersembahan, dan halaman motto. Halaman-halaman ini tidak diberi nomorhalaman, tetapi keberadaannya tetap dihitung sehingga nomor halamandaftar isi mengikuti jumlah halaman yang ada sebelumnya.F. TABLE OF CONTENTS Page Preface ……………………………..…………..………… vPanduan Penulisan K arya Ilmiah 89
    • Abstract …………………………...…………..………… vi Table of Contents …………….……………….………... vii List of Tables ……………………………..….…………. ix List of Figures ……………………………..……………. x List of Abbreviation …………………….……………… xi Chapter 1. INTRODUCTION 1.1 Background of the Study …………….….……….…. 1 1.2 Reasons for Choosing the Topic …….…..………….. 4 Etc. 2. REVIEW OF THE RELATED LITERATURE 2.1 Review of the Previous Research ……….……..…... 8 2.2. Metaphoric Process in Literature…...………..……. 12 Etc. 3. METHODS OF INVESTIGATION 4. Etc. Appendices ………………………………….…………. 65 References ……………………………….…………….. 72Perhatikan bahwa penomoran dilakukan dengan ketentuan sebagaiberikut. (1) Nomor bagian, sub-bagian, sub-sub-bagian, dan seterusnya ditulis rata kiri,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 90
    • (2) Titik akhir hanya muncul pada nomor bagian. (3) Sub-bagian, sub-sub-bagian ditulis tanpa titik akhir. (4) Nomor hanya diberikan kepada bagian yang berupa frase. (5) Pembagian bagian menjadi sub-bagian hanya dilakukan bila bagian itu terdiri atas sedikitnya dua sub-bagian. (6) Lampiran disusun mendahului daftar pustaka dengan alasan: (1) bila diperlukan segera daftar pustaka lebih mudah ditemukan, (2) diasumsikan bahwa di dalam lampiran dimungkinkan adanya kutipan yang merujuk kepada sumber pustaka yang tentu saja disebut di dalam daftar pustaka. 1. BAGIAN 1.1 Sub-bagian 1.2 Sub-bagian 1.2.1 Sub-sub-bagian 1.2.2 Sub-sub-bagian 1.2.3 Sub-sub-bagian 1.3 Sub-bagian 1.3.1 Sub-sub-bagian 1.3.1.1 Sub-sub-sub-bagian 1.3.1.2 Sub-sub-sub-bagian 1.3.2 Sub-bagianPanduan Penulisan K arya Ilmiah 91
    • Dst.Daftar Tabel, Daftar Bagan, dan Daftar LampiranDaftar table (List of Tables) berupa daftar yang berisi tabel-tabel yangterdapat di dalam nas tesis. Lema di dalam daftar ini diurutkan denganpenomoran dan judul tabel yang sesuai dengan nomor dan judul yangtertulis di dalam nas.G. LIST OF TABLES Table Page 2.1 GPA of the First Year Students ………………. 27 2.2 Number of Annual Dropouts during the 1990’s ……………………………….…… 41 3.1 Inverse Cummulative Normal Distribution ...... 44 4.1 Rank Order of General It…………………..…. 55 4.2 Rank Order of Top Ten Specific Items ..….…. 59 Etc.Perhatikan bahwa angka pertama pada nomor tabel menunjukkan bab ditempat tabel yang bersangkutan tersaji. Misalnya, tabel bernomor 2.1 berartitabel pertama yang terdapat di dalam bab 2.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 92
    • Perlu diingat bahwa di dalam nas karya tulis nomor dan judul tabel di tulis diatas tabel yang dirujuk. Misalnya, Tabel 2.1. GPA of the First Year StudentsDaftar Bagan (List of Figures) ditulis dengan penomoran dan judul sepertipenulisan daftar tabel.H. LIST OF FIGURES Figure Page 2.1 GPA of the First Year Stude……………………. 27 2.2 Number of Annual Dropouts during the 1990’s ………………………….…… 41 3.1 Inverse Cummulative Normal Distribution ..…... 44 4.1 EtcBerbeda dengan daftar table, di dalam nas nomor dan judul bagan, gambar,atau diagram ditulis di bawah bagan, gambar, atau diagram yang dirujuk.Misalnya,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 93
    • 90 80 70 60 50 East 40 West 30 North 20 10 0 1st Qtr 2nd Qtr 3rd Qtr 4th Qtr Figure 2.1. GPA of the First Year StudeDaftar Lampiranan (List of Appendixes) ditulis dengan penomoran dan judulseperti di dalam contoh berikut. Perhatikan bahwa setiap butir lampiranbernomor, berjudul, dan bernomor halaman.I. LIST OF APPENDICES Appendix Page 1. ANOVA Comparison of Mean Responses to General Items, Overall and Geographical Subgroups with Each Other …………………….. 67 2. Recall Protocols of ESL Students …………….…. 68 3. Passage and Textbase …………..……….………. 69 4. Etc.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 94
    • Daftar Singkatan dan AkronimDaftar singkatan dan akronim (list of abbreviation and acronym)dimunculkan di dalam tesis bilamana tesis itu memuat sejumlahsingkatan dan akronim yang masing-masing disebut berkali-kali didalam nas. Penulisan lema singkatan dan akronim dilakukan denganketentuan sebagai berikut. (1) Lema diurutkan menurut abjad. (2) Setiap huruf atau nomor melambangkan satu hal saja. Misalnya, A melambangkan Adjuct. Sebab itu Adjective, misalnya, harus dilambang-kan dengan huruf selain A, yaitu Adj. (3) Singkatan dan/atau akronim yang dimasukkan ke dalam daftar ini hanya singkatan dan/atau akronim yang berkaitan erat dengan pokok penelitian. Sinmgkatan-singkatan yang berlaku umum seperti etc., e.g., i.e., dan semacamnya tidak perlu dimasukkan ke dalam daftar ini.J. LIST OF ABBREVIATIONS AND ACRONYMS A Adjunct Adj Adjective Adv Adverb Anova Analysis of Variance DSA Directive Speech ActPanduan Penulisan K arya Ilmiah 95
    • EH Ernest Hemingway FA a Farewell to Arms NP Noun Phrase1.2 NasNas suatu laporan penelitian terdiri atas judul bab dan bagian-bagiannya.Secara umum, nas ditulis dengan ketentuan sebagai berikut. (1) Judul bab ditulis dengan huruf kapital berukuran 16 cetak tebal. Judul bab ditulis pada halaman baru. Misalnya, BAB 1 PENDAHULUAN (2) Judul bagian ditulis dengan huruf kecil. Bagian ini didahului dengan huruf kapital dan setiap kelas kata (nomina, verba, ajektiva, dan adverbia) didahului dengan huruf kapital. Huruf berukuran 14 dan dicetak tebal. Misalnya, 1.4 Tujuan PenelitianPanduan Penulisan K arya Ilmiah 96
    • (3) Judul sub-bagian ditulis seperti judul bagian, tetapi berukuran 12. Misalnya, 2.1.1 American Tradition (4) Judul sub-sub-bagian ditulis dengan huruf miring, ukuran 12, dan bercetak tebal. Misalnya, 2.2.2.1 Hatim and Mason’s Concept (5) Judul sub-sub-sub-bagian (kalau masih ada) dicetak seperti sub- bagian tetapi dengan cetak biasa. Misalnya. 2.2.2.1.1 Hatim and Mason’s Concept on TranslationDengan demikian, judul bab dan bagian beserta sub-subnya dapat ditulisdengan rangkuman sebagai berikut. BAB 2TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu … (teks) 2.1.1 Tradisi Endo-EropaPanduan Penulisan K arya Ilmiah 97
    • … (teks) 2.1.2 Tradisi Amerika … (teks) 2.1.2.1 Tradisi Amerika pada Abad ke-20 … (teks) 2.1.2.1.1 Semantik Chomskian … (teks) 2.2 Latar Belakang Teoretis … Dsb.Perhatikan bahwa: (1) Setiap bagian beserta pecahannya ditulis mulai dengan ujung margin kiri. Sub-bagian, misalnya, tidak perlu dimenjorokkan ke kanan. (2) Setiap bagian harus berupa frase yang ditulis tanpa diakhiri dengan tanda titik (.). (3) Teks yang mengikuti setiap bagian dan pecahannya harus berupa paragraf. Setiap paragraf harus berisi sejumlah kalimat, yang sekurang-kurangnya terdiri atas delapan baris. (4) Teks yang berupa butir-butir pernyataan ditulis dengan ketentuan sebagai berikut.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 98
    • Jika pernyataan itu dimasukkan ke dalam paragraf, pernyataan itu diberi nomor bertanda kurung, misalnya (1), dan antara pernyataan satu dengan lainnya diberi tanda koma (,) atau titik-koma (;) bergantung pada panjang pendeknya pernyataan. Misalnya, … kelas kata terdiri atas (1) nomina, (2) verba, (3) ajektiva, dan (4) adverbia. Jika pernyataan berformat paragraf, pernyataan itu ditulis berurutan dengan nomor bertanda kurung, misalnya (1). Setiap butir pernyataan diakhiri dengan tanda titik (.) untuk kalimat, titik koma (;) untuk frase, atau koma (,) untuk kata. Misalnya, … kelas kata terdiri atas (1) nomina, (2) verba, (3) ajektiva, (4) adverbia …Panduan Penulisan K arya Ilmiah 99
    • 1.3 Bagian AkhirBagian akhir karya ilmiah sekurang-kurangnya terdiri atas lampirandan daftar pustaka. Selain itu, dapat puila ditambahkan senarai(indeks) dan riwayat hidup penulis. Berikut disampaikan keempatkomponen bagian akhir itu dengan urutan yang sesuai dengan urutantampilan pada karya ilmiah.LampiranLampiran (appendices) merupakan bagian integral nas tetapidipisahkan dari nas. Karena dianggap terlalu panjang sehingga dapatmengganggu tampilan nas, bagian itu ditampilkan dalam bentuklampiran. Jenis lampiran antara lain tabel, grafik, hitungan statistik,gambar/diagram, rangkuman hasilo analisis, dan contoh data.Lampiran disajikan dengan tata tulis sebagai berikut. (1) Apabila terdapat lebih dari satu lampiran, masing-masing diberi nomor secara berurutan. (2) Tiap lampiran diberi judul sesuai dengan isinya. (3) Jika lampiran ditulis memanjang, kepala halaman berada di bagian dalam halaman laporan. (4) Tiap halaman lampiran diberi nomor halaman dengan urutan meneruskan nomor halaman nas.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 100
    • (5) Walaupun pelaksanaan penelitian membutuhkan kelengkapan administrasi yang berupa surat, kelengkapan administrasi seperti itu tidak perlu ditampilkan di dalam daftar lampiran. (6) Apabila penelitian menggunakan sumber data tertulis dalam jumlah besar, lampiran hanya menyajikan contoh data yang jumlahnya proporsional terhadap nas tetapi tetap mencerminkan homogenitas data.SenaraiSenarai (index) berisi daftar kata kunci yang digunakan oleh peneliti dalammenyampaikan konsep penelitiannya. Di dalam daftar ini dapat puladisisipkan nama pengarang yang disebutkan di dalam nas karya ilmiah.Butir senarai disajikan dengan tata tulis sebagai berikut. (1) Lema (entry) diurutkan secara alfabetis. (2) Istilah utama ditulis dengan pengawalan huruf kapital • Amoeba • Pragmatics (3) Istilah pendukung ditulis dengan huruf kecil. • informasi • skill (4) Nama pengarang ditulis dengan urutan nama keluarga atau nama akhir diikuti dengan singkatan nama pertama dan nama lain. • Arikunto, S.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 101
    • • McNamara, J. • Toer, P.A. • Turabian, L. (5) Judul karangan ditulis mengikuti kelaziman dalam penulisan daftar pustaka. • Badai pasti Berlalu • “Ngeh dalam kepustakaan Jawa” (6) Tiap lema diikuti dengan nomor halaman tempat lema tersebut berada di dalam nas. • Amoeba 13 • Toer, P.A. 879 (7) Apabila lema muncul dalam dua halaman atau lebih secara berturut-turut, nomor halaman ditulis dengan membubuhkan tanda ( - ). • man to man marking 29 –31 • Badai pasti Berlalu 367 – 73 • Phillips, J. 253 – 7. Perhatikan bahwa penghematan menghendaki agar nomor yang kembar hanya ditulis sekali. Halaman 367 sampai dengan 373 hanya ditulis 367 – 73.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 102
    • (8) Apabila, lema muncul dalam dua halaman atau lebih tetapi tidak berurutan, penulisannya dilakukan dengan membubuhkan tanda koma. • Arithmatics 67, 73 • Budaya Jawa 54, 77 – 8, 241 – 50, 301 Perhatikan bahwa nomor halaman ditulis mulai dengan yang paling kecil.Daftar PustakaDaftar pustaka berisi semua bahan kepustakaan yang digunakan sebagairujukan langsung dalam penulisan karya ilmiah. Daftar ini dapat mencakupibuku teks, artikel dalam kumpulan karangan, artikel jurnal, artikel majalahdan koran, petikan dari situs internet, CD Rom, film, drama, dansebagainya.Selama penulisan karya ilmiah pengarang menggunakan kamus, bukumetodologi penelitian, program kompoter, dan peranti lain seperti laptop,LCD, home theatre, dan sebagainya. Namun, semua ini merupakan perantipenelitian, dan bukan sumber rujukan. Oleh sebab itu, bahan seperti initidak perlu disebutkan di dalam daftar pustaka.Karena banyak hal yang perlu dikemukakan, bagian ini disajikan di dalambagian tersendiri dalam panduan ini.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 103
    • Riwayat HidupRiwayat hidup bersifat manasuka dan biasanya hanya ditampilkan di dalamdisertasi atau tesis. Bagian ini dapat terdiri atas riwayat keluarga, riwayatpendidikan, pengalaman kerja, daftar karya ilmiah, prestasi kerja,penghargaan.2. Tata Tulis Pustaka Acuan2.1 Kutipan LangsungYang dimaksud dengan kutipan langsung ialah kutipan yang dibuat persisdengan sumbernya. Pembuatan kutipan seperti ini didasari prinsip sebagaiberikut. (1) Kutipan langsung hanya digunakan apabila perkataan atau ungkapan asli pengarang demikian padat, berbobot, dan meyakinkan. Kutipan seperti ini biasanya menambah daya kepada karya ilmiah. Misalnya, Vini Vidi Vici (2) Kutipan langsung dapat digunakan untuk mendokumentasi argumentasi yang tidak cukup disampaikan dalam bentuk catatan kaki.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 104
    • (3) Kutipan langsung dapat digunakan apabila peneliti hendak memberikan komentar atau membela/menolak/menganalisis gagasan yang disampaikan oleh pengarang. (4) Kutipan langsung dapat digunakan bilamana perubahan (melalui parafrase) dapat menyebabkan salah paham atau salah tafsir. (5) Kutipan langusung dilakukan untuk mengutip rumus-rumus, seperti rumus matematika, kimia, atau rumus ilmiah lain. (6) Pengutipan langsung dari bahan nonkomersial (tanpa hak cipta) dapat dilakukan tanpa izin pengarang. Tata Cara Penulisan Kutipan Langsung Kutipan Pendek Yang dimaksud dengan kutipan pendek ialah kutipan yang panjangnya kurang dari lima baris apabila ditulis di dalam naskah karya ilmiah. Kutipan seperti ini dapat ditulis dengan ketentuan sebagai berikut. (1) Gabungkan kutipan ke dalam kerangka kalimat atau paragraf. (2) Gunakan tanda kutip ganda pada awal dan akhir kutipan. (3) Gunakan spasi spasi ganda. (4) Tulis rujukan kutipan tersebut pada klausa pengantar atau di dalam tanda kurung. Misalnya,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 105
    • Elias-Olivares (1979: 437) states of a Chicago neighbourhood in East Austin, Texas: “to be a bilingual means precisely to be able to switch rapidly from one language tonthe other.” atau This is what has been called “transitional competence” (Corder 1975: 57). atau In Malaysia, for example, English is “used widely on the collocquial level, so much so that it may not be wrong to claim that many Malaysians are no longer able to distinguish clearly between the formal and informal uses of the language,Panduan Penulisan K arya Ilmiah 106
    • possessing and thus using only one variey of the language for all occasions” (Wong 1982:17).Apabila sumber yang dikutip diperkirakan panjang, sumber itu dapatdipotong dengan cara menyisipkan introductory clause. Gumperz and Hernandez (1971:112) suggest that “what seems like random alternation between two languages may be an expression of ambivalent feelings,” and that it occurs “whenever minority language groups come in close contact with majority language groups under conditions of rapid social change.” Kutipan Panjang Kutipan panjang adalah kutipan yang terdiri atas lima baris atau lebih. Kutipan seperti ini dapat ditulis dengan ketentuan sebagai berikut. (1) Tulis kutipan itu di dalam paragraf tersendiri. (2) Jangan gunakan tanda kutip.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 107
    • (3) Gunakan spasi tunggal (4) Beri pengantar kepada kutipan itu seperlunya. (5) Tulis kutipan itu dengan ceruk lima spasi di sebelah kiri dan kanan margin. Johnson makes some reference to this in quoting Alderson (1979:225): The fact that the writer’s overall meaning remains totally obscure doesn’t materially affect the use of this passage as a cloze test, which gives support to the argument that cloze tests focus on relatively low order language skills relating to ‘core proficiency’ rather than higher order skills like reading comprehension. The terminology used seems to be something of a problem here. The “Intermediate Skills” as used in this article covers the same elements of “core proficiency as described by Anderson. atauPanduan Penulisan K arya Ilmiah 108
    • If one one described comprehension in the following terms one would probably come a step nearer to a more adequate definition. To penetrate beyond the verbal and non- verbal forms of the text to the underlying ideas, to compare these with what one already knows and also the ideas with each other, to pick out what is essential and new, and to revise one’s previous conceptions (Lunzer and Gardner 1979:235) The research into this particular area seems to indicate that cloze can only reliably and validly assess …ElipsisUntuk menghindari kutipan yang terlalu panjang dimungkinkan untukmembuang sebagian dari sumber yang panjang itu. Pengutipan seperti inidapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 109
    • (1) Elipsis dilakukan dengan tanda tiga titik dengan spasi di kiri dan kanannya. (2) Elipsis dapat dilakukan pada bagian awal, tengah, atau akhir kutipan. (3) Elipsis tidak boleh mengubah amanat apapun yang terdapat di dalam sumber kutipan. On a passage from a novel, the thought is expressed that “… some very Indian uses of language, which one dares not call mistakes, add to the quaint charm of the language.” atau … Vertical shifts involve the use or non-use of Creole-based forms; horizontal shifts entail the use or non-use of so-called patois speech. InPanduan Penulisan K arya Ilmiah 110
    • either case, problems of intelligibility can be considerable. Many mesolect speakers employ a patois that sometimes appears hardly related to its careful variant, so radically different as to seem a distinct language … completely unintelligible to the listening North American … It should not be assumed that patois style is relatively uniform … (Edwards, Rosberg, and Hoy 1976:312).InterpolasiInterpolasi ialah penjelasan atau pembetulan suatu kutipan yang diselipkanke dalam teks. Interpolasi menuntut perubahan redaksional suatu kutipanlangsung. Perubahan itu ditempatkan di dalam tanda kurung persegi. Jenis-jenis interpolasi yang lazim ialah (1) sic, (2) komentar, dan (3) penyisipananteseden.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 111
    • (1) Tanda [sic] ditempatkan di belakang kutipan yang oleh penulis dianggap merupakan kesalahan. Ini dimaksudkan sebagai catatan bahwa kesalahan yang terdapat di dalam kutipan itu tertulis sebagaimana sumber aslinya. “If it is true that language and context are inextricably linked, any stretch og language should, to a greater or lessen [sic] extent, come trailing clouds of context with it …” (Thomson 1996:10). Di dalam contoh di atas, penyisipan [sic] menunjukkan bahwa penulis menyadari bahwa kata “lessen” tereja salah. Kata itu mestinya tertulis “lesser”. (2) Interpolasi yang berupa komentar pendek dapat disisipkan di dalam suatu kutipan dengan maksud memperjelas suatu butir pernyataan. Komentar ini ditulis di dalam tanda kurung persegi.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 112
    • A theory, sometimes called “The Grammar Expectancy Theory” [“grammar” here is used in the broad sense to include the syntax, sematics and appropriate use] has been proposed by Oller (1979) among others. Di dalam contoh ini, kata “Grammar” yang dikutip dari Oller dijelaskan oleh pengutip dengan menuliskan penjelasan itu di dalam tanda kurung persegi. (3) Anteseden disisipkan ke dalam kutipan langsung bilamana terdapat suatu pronomina di dalam kutipan itu yang tidak jelas perujukannya. He [William Shakespeare] was undoubtedly the greatest dramatist to date. No other dramatist has rivaled his ability to portray characters with such liveliness and colour.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 113
    • Kutipan KhususDalam hal tertentu, dapat muncul masalah khusus yang berkaitan denganpenulisan kutipan. Masalah itu berkaitan, antara lain, dengan (1) kutipan didalam kutipan, (2) pengutipan puisi, (3) pengutipan pidato. (1) Kutipan di dalam kutipan Jika di dalam suatu kutipan langsung terdapat kutipan pendek, kutipan langsung ditulis di dalam tanda kutip ganda (“) sedangkan kutipan pendek di dalamnya ditulis di dalam tanda kutip tunggal (‘). Mehrotra (1983:96) argues that “The usage of terms like ‘acrolect, ‘ ‘mesolect,’ and ‘ basilect’ by sociolinguists implies that these terms have a real meaning when used in connection with particular language designations”.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 114
    • Jika kutipan itu panjang, penulisannya mengikuti cara penulisan kutipan panjang. Kutipan pendek yang terdapat di dalamnya ditulis di antara tanda kutip ganda. Moag (1982:227) writes: The following extreme [but not an atypical] example was overheard from a young female Fiji Indian sales clerk: “Shila account-book use kara, I think” … The female name, Shila, and the verb kara … are the only native items in the sentence. The order of major constituents (subject – object – verb) in the kernel sentence clearly marks it as Hindi, not English. (2) Pengutipan Puisi Cara pengutipan puisi bergantung pada panjang pendeknya bagian puisi yang dikutip.Kutipan pendek, yang hanya terdiri atas sebaris atau kurang dari satu baris, disisipkan ke dalam teks denggunakan tanda kutip ganda.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 115
    • It is easy to feel the mystique of the songs of Ireland through the sound of “thrust, linnet, stare, and wren”. Kutipan yang terdiri atas dua sampai empat baris disisipkan ke dalam teks menggunakan tanda kutip pada awal dan akhir kutipan dan garis miring (/) antar baris. Synge sensed the inevitability of death when he said, “There’ll come a season when you’ll stretch / Black boards to cover me”. Kutipan yang terdiri atas lima baris atau lebih ditulis tanpa tanda kutip. Kutipan tersebut ditulis berspasi tunggal, dengan indent, dan berspasi ganda antar bait.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 116
    • Something of this power can be felt in Synge’s “A Question” where he says: I asked if I got sick and died, would you With my black funeral go walking too, If you’d stand close to hear them talk or pray While I’m let down in that steep bank of clay. And, No, you said, for if you saw a crew Of living idiots pressing round that new Oak coffin – they alive, I dead beneath That broad – you’d rave and rend them withj your teeth. (3) Pengutipan Pidato Pidato dapat dikutip secara langsung menggunakan cara seperti yang disebut di atas. It was stated that “… in Australia, a people oncePanduan Penulisan K arya Ilmiah 117
    • remote and distanced from the world have embraced the future by welcoming into our population five and a half million migrants and regugees in the 50 years since World War II.” (Bolkus in XIV World Congress of the Federation Internationale des Traducteurs (FIT) 1996.)2.2 Kutipan tak Langsung Pengutipan tak langsung terkadang menimbulkan kecurigaan pembaca. Ini sering terjadi bilamana penulis ceroboh atau kurang cermat di dalam menuliskan rujukan kutipan itu. Secara umum hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa: (1) Peneliti membuat catatan dari sumber tertentu, kemudian menyalin dan memasukkannya ke dalam nas tesis tanpa mengingat bahwa catatan itu berasal daru sumber yang berhak cipta. (2) Peneliti menggunakan buku yang mencakupi bidang pengetahuan yang persis sama dengan bidang yang sedang digelutinya.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 118
    • (3) Peneliti mengambil intisari suatu sumber dan merumuskannya menggunakan perhataan sendiri, tetapi tidak menyebutkan sumber kutipan itu. (4) Peneliti mengutip dari catatan-catatan yang dibuat selama perkuliahan tanpa menyadari bahwa catatan-catatan itu dikutip dari sumber tertentu. (5) Peneliti sengaja menggunakan tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Untuk menghindari tuduhan adanya pembajakan (plagiarism) di dalam penulisan tesis dan karya-karya ilmiah pada umumnya, lakukan langkah sebagai berikut.Sumber: In grammar we can see the continuation, in small ways, of the long-term historical trend in English from synthetic to analytic, from a system that relies on inflections to one that relies on word order and grammatical words. An example is the comparison of adjectives. Where more and most are spreading at the expense of the endings –er and –est. At one time, -er and –est were used muct more widely than today. And in Early Modern English you meet forms like ancientest, famousest, patienter, perfecter, and shamefuller. In the first half of the present century, adjectives of morePanduan Penulisan K arya Ilmiah 119
    • than two syllables always had more and most (more notorious, most notorious), while adjectives of one syllable normally had –er and –est. Adjectives of two syllables varied, some being compared one way (more famous, most famous) and some the other (commoner, commonest) … (Barber, C. 1993. The English Language: a Historical Introduction. Cambridge: CUP. p. 274.)Cara pengutipan tak langsung yang dapat dilakukan oleh penulis: (1) Pahami secara umum intisari teks sumber, kemudian buatlah rumusan baru yang berupa pandangan mengenai isi teks dari titik pandang lain: … with the change of time the expression of some comparatives and superlatives has changed. (2) Sajikan fakta sebagaimana yang tertulis di dalam sumber itu dalam bentuk daftar:Panduan Penulisan K arya Ilmiah 120
    • … Until recently, the basic rules were as follows: (1) Polysyllabic adjectives (more than two syllables): add more (comparative) and most (superlative), e.g. more beautiful, most beautiful. (2) Monosyllabic adjectives: add –er (comparative) and –est (superlative), e.g. richer, richest. (3) Disyllabic adjectives could take either form, e.g. most famour, commonest (Barber 1993: 274). (3) Gunakan frase seperti ‘according to Barber’, ‘Barber views that …’, ‘In Barber’s opinion …’ dan sebagainya. According to Barber (1993: 274), a study of the forms used in Early Modern English through the present day indicates that a change has been in progress. By early 20th century the preferences were:Panduan Penulisan K arya Ilmiah 121
    • (1) Polysyllabic adjectives (more than two syllables): add more (comparative) and most (superlative), e.g. more beautiful, most beautiful. (2) Monosyllabic adjectives: add –er (comparative) and –est (superlative), e.g. richer, richest. (3) Disyllabic adjectives could take either form, e.g. most famour, commonest. Barber claims that the transition is now almost complete.3. Teknik Penulisan Daftar Pustaka3.1 Perujukan Kutipan Perujukan dilakukan dengan menyebutkan nama belakang atau keluarga pengarang, tahun penerbitan, dan halaman bagian teks yang dirujuk. Salah : John Grisham, 1994, pp. 78 - 80 Salah : (J. Grisham, 1994: 78 – 80) Benar : (Grisham 1994: 78 – 80) Penulisan dua atau tiga nama adalah sebagai berikut.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 122
    • Salah : (Basil Hatim and Ian Mason, 1990: 78 – 80) Salah : (B. Hatim and I. Mason, 1990: 78 – 80) Benar : (Hatim and Mason 1990: 78 – 80) atau (Hatim, Mason, and Anderson 1991: 78 – 80) Penulisan lebih dari tiga nama adalah sebagai berikut. Salah : (Hatim etc. 1990: 78 – 80) Salah : (Hatim et. Al., 1990: 78 –80) Benar : (Hatim et al. 1990: 78 – 80) Jika nama pengarang disebut oleh penulis sebagai bagian integral di dalam teks, nama itu harus langsung diikuti, di dalam tanda kurung, dengan tahun penerbitan dan halaman bagian teks rujukan. Salah : Accor Benar : Acording to Hatim and Mason (1990: 1), the world of translator is inhabited by an extraordinary number of dichotomies Selanjutnya, nama-nama yang disebut sebagai rujukan kutipan ini harus dimunculkan di dalam Daftar Pustaka(Reference atau Bibliography)3.2 Aturan Umum Tata Tulis Pustaka AcuanPanduan Penulisan K arya Ilmiah 123
    • Pada dasarnya setiap lema di dalam pustaka acuan terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) nama pengarang, (2) judul karangan, dan (3) fakta tentang penerbitannya. (1) Nama pengarang ditulis dengan cara: nama belakang atau nama keluarga mendahului nama pertama atau nama panggilan. Nama pertama ini hanya ditulis inisialnya. Nama yang Sebenarnya Nama di dalam Pustaka Acuan James M. McCrimmon McCrimmon, J. M. Basil Hatim Hatim, B. Kate L. Turabian Turabian, Kate L. Basil Hatim dan Ian Mason Hatim, B. and I. Mason Perhatikan bahwa di dalam pustaka acuan, nama panggilan hanya ditulis inisialnya ( James menjadi J; Ian menjadi I). Nama Kate tidak disingkat untuk memudahkan identifikasi bahwa penulis ini berjenis kelamin perempuan. (2) Jika sumber berupa karya suatu badan, komisi, organisasi, departemen, nama badan itu ditempatkan sebagai nama pengarang. Department of Education Optus The Committee of Poverty AlleviationPanduan Penulisan K arya Ilmiah 124
    • (3) Jika di dalam karangan tidak ditemukan nama pengarangnya, perujukan dimulai dengan judul karangan. Misalnya Extra Work or Extra Payment. Tips for Reading Intensively. (4) Tahun penerbitan buku ditulis mengikuti nama pengarang. Jika di dalam buku disebutkan beberapa tahun – misalnya 1990, 1993, 1995, yang ditulis di dalam pustaka acuan adalah tahun yang terdahulu. Jika disebutkan beberapa tahun dan dilengkapi dengan keterangan bahwa buku yang dimaksud adalah buku edisi tertentu, yang ditulis di dalam pustaka acuan adalah tahun ketika edisi terbit. Tahun terbitan di dalam Penulisan di dalam Pustaka buku Acuan C 1990 1990 C 1990 1990 Third Impression 1991 C 1990 1995 New Edition 1995 (5) Judul karangan yang berbentuk buku ditulis dengan cetak miring. Hal yang sama berlaku pada nama majalah, jurnal, atau koran.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 125
    • Nama Terbitan Nama Pada Pustaka Acuan The Translator as The Translator as Communicator Communicator Journal of Pragmnatics Journal of Pragmnatics TARGET TARGET NEWSWEEK NEWSWEEK The Jakarta Post The Jakarta Post Perhatikan bahwa kata kunci pada judul-judul di atas (yang berupa nomina, verba, ajektiva, atau adverbia) diawali dengan huruf kapital. (6) Fakta penerbitan terdiri atas tempat penerbitan, nama penerbit dan tahun penerbitan. Tempat penerbitan diikuti dengan nama penerbit, sedangkan tahun penerbitan ditempatkan di belakang nama pengarang atau penyunting. London: Routledge. Toronto: Prentice-Hall Canada Inc. Cambridge: Cambridge University Press. (7) Jika terdapat lebih dari satu nama penerbit, nama yang ditulis di dalam pustaka acuan hanya nama penerbit yang disebut pernama kali. Di dalam buku Di dalam Pustaka Acuan London and New York LondonPanduan Penulisan K arya Ilmiah 126
    • London, New York, and London Sydney New York New York, Toronto, Tokyo, and Sydney (8) Jika di dalam buku tidak ditemukan tahun penerbitannya, pada pustaka acuan ditulis n.d. (no date). Lyons, J. n.d. Changing Time Changing Shapes. London: McMillan.3.3 Contoh Penulisan Lema Pustaka Acuan (1) Buku oleh satu pengarang Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Oxford: Oxford University Press. Schiffrin, D. 1994. Approaches to Discourse. Massachusetts: Blackwell Publishers. Grisham, J. 1994. The Pelican Brief. New York: Warner (2) Buku oleh dua atau tiga pengarang Brown, P. dan S.C. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. London: Cambridge University Press.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 127
    • Hewson, L. dan J. Martin. 1991. Redefining Translation: The Variational Approach. London: Routledge. (3) Buku oleh lebih dari tiga Pengarang Alwi, H. et al. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2nd ed.). Jakarta: Depdikbud RI. Radford, A. et al. 1999. Linguistics an Introduction. Cambridge: Cambridge University Press. (4) Buku suntingan satu orang Coulthard, M. (ed). 1992. Advances in Spoken Discourse Analysis. London dan New York: Routledge. Dijk, T.A. van. (ed). 1976. The Pragmatics of Language and Literature. Amsterdam: North Holland. Goody, E. N. (ed). 1978. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Cambridge: Cambridge University Press. (5) Buku suntingan dua orang atau lebih Guenthner, F. dan M. Guenthner-Reutter (eds). 1978. Meaning and Translation: Philosophical and Linguistic Approaches. London: Duckworth. House, J. and S. Blum-Kulka (eds). 1986. Interlingual and Intercultural Communication. Tubingen: Gunter Narr Verlag.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 128
    • Holmes, J.S., F. de Haan, dan A. Popovic (eds). 1970. The Nature of Translation. The Hague: Mouton. Searle, J.R., F. Kiefer, and M. Bierwisch (eds). 1980. Speech Act Theory and Pragmatics. London: D. Riedel Publishing Company. (6) Buku edisi kedua, ketiga, dan seterusnya Bassnett-McGuire, S. 1991. Translation Studies (Revised Ed.). London: Routledge. Turabian, Kate L. 1996. A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and Disertations (6th Ed.). Chicago: The University of Chicago Press. (7) Buku yang terdiri atas dua jilid atau lebih Vanderveken, D. 1990. Meaning and Speech Acts Vol. 1: Principles of Language Use. Cambridge: Cambridge University Press. (8) Buku terjemahan Leech, G. 1982. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Translated by Oka, M.D.D. 1993. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. (9) Karangan (Essay) di dalam buku suntinganPanduan Penulisan K arya Ilmiah 129
    • Broeck, R. van den. 1986. Contrastive discourse analysis as a tool for the interpretation of shifts in translated texts. In J. House and S. Blum- Kulka (eds.). pp. 37 – 49. Brown, P. dan S.C. Levinson. 1978. Universals in language usage: Politeness phenomena. In E. N. Goody (ed.). pp. 56 – 311. Popovic, A. 1970. The concept “shift of expression” in translation analysis. Di dalam J.S. Holmes, F. de Haan, and A. Popovic (eds.). pp. 78 – 90. Drinitrova, B. E. 1996. New methods in translation research: new horizons in translation studies. FIT. Hlm. 856 – 65. Francis, G. dan S. Hunston.1992. Analysing everyday conversation. M.Coulthard (ed.). Hlm.123 – 61. (10) Artikel di dalam Ensiklopedi Macauly, T.B. 1970. Samuel Johnson. Encyclopedia Britanica, 11th ed., XV. pp. 463 – 471. Smith, M.A. Sharwood. 1999. Syntax in second language acquisition. In Concise Encyclopedia of Educational Linguistics. Edited by Bernard Spolsky. Amsterdam: Elsevier. pp.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 130
    • (11) Artikel di dalam jurnal atau majalah Ilmiah Blum-Kulka, S. 1987. Indirectness and politeness in requests: same or different? Journal of Pragmatics. 11: 131 – 46. Blum-Kulka, S. dan E. Olshtain. 1984. Requests and apologies: a cross-cultural study of speech act realization patterns (CCSARP). Applied Linguistics. 5/3: 196 – 213. Doherty, M. 1997. Acceptability and language specific preference in the distribution of information. TARGET, 9/1: 1 – 25. Gu,Y. 1990. Politeness phenomena in modern Chinese. Journal of Pragmatics, 14/2: 237 – 57. (12) Artikel di dalam Koran dan Majalah: Basuki, S. 2005. Novel nonfiksi dan kemungkinannya. Suara Merdeka, 18 Agustus. Hlm. 18. Prasetyo, S. 2005. Lokalisme sebagai Ekses. Tempo, 28 Agustus. Hlm. 64 – 5. Manshur, F. 2005. Bahasa kita: Rusak bahasa, rusaklah pemikiran. Intisari, September. Hlm. 166 – 7. (13) Kumpulan Artikel/Proceeding SeminarPanduan Penulisan K arya Ilmiah 131
    • FIT. 1996. XIV World Congress of the Federation Internationale des Traducteurs (FIT). Proceedings Vol. 2. Melbourne: The Australian Institute of Interpreters and Translators. (14) Tesis, disertasi, dan karangan lain yang tidak diterbitkan secara komersial Gunarwan, A. 1993. The politeness rating of English and Indonesian directive types among Indonesian learners of English: Towards contrastive pragmatics. Paper presented at The Fourth International Pragmatics Conference, Kobe, Japan, 25-30 July. Mujiyanto, Y. 1999. Perbandingan Derajat Kesantunan antara Tindak Tutur Direktif di dalam Novel A Farewell to Arms Karya E. Hemingway dan Terjemahannya. Thesis Magister Humaniora Universitas Indonesia. Rustono. 1998. Implikatur Percakapan sebagai Pengungkap Humor di dalam Wacana Humor Verbal Lisan Berbahasa Indonesia. Disertasi Universitas Indonesia. (14) Bahan yang dipetik dari situs internet Berbentuk buku Ziegler, M. and Durant, C. (2001). Engagement: a necessary ingredient for participation in adult basic education. Online. Available atPanduan Penulisan K arya Ilmiah 132
    • www.edst.educ.ubc.ca/aerc/2001/2001ziegler. htm [accessed 11/11/01] Berbentuk artikel di dalam buku Shohet, Linda. (2001). Adult Learning and Literacy in Canada. In The Annual Review of Adult Learning and Literacy, Vol. 2, Chapter 6. (NCSALL). Available at http://ncsall.gse. harvard.edu/ann_rev/vol2_6.html [accessed 9/23/03). Berbentuk artikel tak bertanggal Rocco, T. S. (n.d) Critical reflection in practice: experiences of a novice teacher. Online www.bsu.edu/teachers/departments/edld/conf/ critical.html [accessed 03/15/00] Berbentuk artikel anonim dan tak bertanggal Self-Evaluation Kit. Online at ww.nald.ca/PROVINCE/SASK/SLM/selfeval/t oc.htm [accessed 06/23/03]3.4 Tata Urut Penulisan Pustaka Acuan Allan, K. 2001. Natural Language Semantics. Oxford: Blackwell Publishers. Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Oxford dan New York: Oxford University Press.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 133
    • Baker, M. 1992. In Other Words: A Coursebook on Translation. London: Routledge. Barthes, R. 1988. The Semiotic Challenge (Fine Ed.). Terjemahan dari Bahasa Perancis oleh R. Howard. New York: Hill and Wang. Bierwisch, M. 1980. Semantic structure and illocutionary forse. In J.R. Searle, F. Kiefer, dan M. Bierwisch (Ed.) Pp. 1 – 36. Bressler, C.E. 1999. Literary Criticism: An Introduction to Theory and Practice (2nd ed.). New Jersey: Prentice Hall. Dingwaney, A. dan C, Maier (eds.). 1995. Between Languages and Cultures: Translation and Cross- Cultural Texts. Pittsburgh dan London: University of Pittsburgh Press. Eagleton, T. 1996. Literary Theory: An Introduction (2nd ed.). Minneapolis: The University of Minnesota Press. Goody, E. N. (ed.) 1978. Questions and Politeness: Strategies in Social Interaction. Cambridge: Cambridge University Press. Gunarwan, A. 1996. Readers’ subjective reactions to original poems and their translation: towards an assessment of dynamic equivalence. Di dalam FIT. Pp. 905 – 920.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 134
    • Halliday, M.A.K. dan R. Hasan. 1985. Language, Context, and Text. Melbourne: Deakin University Press. Hewson, L. dan J. Martin. 1991. Redefining Translation: The Variational Approach. London: Routledge. Koller, W. 1995. The concept of equivalence and the object of translation studies. TARGET, 7. Pp. 191 – 222. Leckie-Tarry, H. 1995. Language and Context a Functional Linguistic Theory of Register. London dan New York: Pinter. Leech, G.N. dan M.H. Short. 1981. Style in Fiction: A Linguistic Introduction to English Fictional Prose. London dan New York: Longman. Machali, R. 1998. Redefining Textual Equivalence in Translation with Special Reference to Indonesian- English. Jakarta: The Translation Center. Pym, A. 1992. The relations between translation and material text transfer. TARGET, 4. Pp. 171 – 89. Rice, P. dan P. Waugh. (ed.). 1996. Modern Literary Theory (3rd ed.). London: Arnold. Saeed, J.I. 1997. Semantics. Oxford dan Massachusetts: Blackwell.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 135
    • Searle, J. R. 1979. The classification of illocutionary acts. Language in Society. 8. Pp. 137 – 51. Simpson, P. 1997. Language through Literature. London dan New York: Routledge.Panduan Penulisan K arya Ilmiah 136
    • Panduan Penulisan K arya Ilmiah 137